krisis - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/krisis/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Wed, 23 Sep 2020 07:24:06 +0000 id hourly 1 Endgame 2050: Krisis Dunia Beberapa Dekade Ke Depan https://www.greeners.co/gaya-hidup/endgame-2050-krisis-dunia-beberapa-dekade-ke-depan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=endgame-2050-krisis-dunia-beberapa-dekade-ke-depan https://www.greeners.co/gaya-hidup/endgame-2050-krisis-dunia-beberapa-dekade-ke-depan/#respond Wed, 23 Sep 2020 02:18:41 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=28818 Film dokumenter Endgame 2050 ini menceritakan enam permasalahan utama yang akan terjadi pada manusia bila sektor bisnis tetap dilakukan seperti saat ini.]]>

Judul: Endgame 2050

Genre: Dokumenter

Durasi: 1 jam 32 menit

Sumber: Kanal Youtube Resmi Endgame 2050

Endgame 2050 merupakan dokumenter karya Sofia Pineda Ochoa, seorang psikiatris dan co-founder Meat Your Future. Mulanya film ini menceritakan prediksi masalah yang akan terjadi pada manusia bila sektor bisnis tetap dilakukan seperti saat ini.

Dimulai dengan menampilkan proyeksi kehidupan masyarakat di 30 puluh tahun mendatang, Endgame 2050 ini mengangkat enam permasalahan utama. Pertama adalah terjadinya kepunahan massal akibat rusaknya habitat hewan dan tumbuhan yang hidup di Bumi. Topik masalah lain yang dibahas adalah semakin tingginya kadar pH laut akibat pertambahan CO2 sehingga menyebabkan laut menjadi semakin asam.

Di masa mendatang, kemungkinan besar lautan lebih banyak terisi oleh sampah plastik dibandingkan ikan. Plastik merupakan bahan yang dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Namun, seringkali digunakan dalam sekali pakai dan berakhir menjadi sampah yang mencemari lingkungan. Pada akhirnya sampah laut lain, seperti jaring penangkap ikan yang dibuang sembarangan membahayakan dan menjebak biota laut di dalamnya.

Kura-kura terjebak sampah

Salah satu cuplikan film Endgame 2050 yang memperlihatkan seekor penyu terjebak di jaring penangkap ikan. Foto: Kanal Youtube Resmi Endgame 2050.

Isu lain yang disinggung dalam film ini adalah tingginya populasi manusia. Populasi yang semakin tinggi menyebabkan permintaan akan lahan dan makanan juga semakin meningkat. Hal ini membuat Bumi membutuhkan lebih banyak sumber daya untuk menghidupi manusia. Padahal, ukuran planet ini juga tidak bertambah besar.

Pandora yang terakhir dibuka ialah masalah krisis iklim mengenai terlepasnya gas metana dari es di lautan dan semakin lama semakin berkurang. Gas metana sendiri merupakan gas terkuat yang mampu mengikat panas matahari untuk tetap berada di Bumi.

Moby, tokoh utama dalam dokumenter sekaligus seorang musisi dan aktivis lingkungan juga berbagi kisahnya. Ia bercerita mengenai akibat permasalahan lingkungan yang terjadi di Bumi. Misalnya mengenai anomali spesies primata yang tidak berbulu. “Ini mengerikan hingga pada skala yang bahkan tidak bisa kita bayangkan,” ujar Moby dalam dokumenter ini.

Selain Moby, Sofia juga turut menjadi pembawa arus film ini. Ia mengungkapkan dan menjelaskan permasalahan lingkungan yang terjadi secara lebih umum dan diperkuat dengan pendapat ahli dari beragam bidang.

Dokumenter berdurasi satu setengah jam ini membawa penonton masuk ke dalam rangkaian permasalahan lingkungan yang pelik, tetapi dapat dimengerti. Beragam persoalan lingkungan diangkat dalam satu kemasan. Selain itu film ini membuka wawasan penonton terkait masalah lingkungan dan seberapa parah hal itu terjadi.

Informasi yang diberikan dalam film ini cukup jelas dan akurat. Analisisnya juga diperkuat dengan pendapat berbagai narasumber kredibel di bidang isu lingkungan. Masalah-masalah lingkungan yang diungkapkan secara keras membuat penonton merasa tertampar dengan bahaya yang seringkali terabaikan.

Namun, penamparan keras masalah lingkungan ini tidak diimbangi dengan solusi yang memadai. Akan lebih baik bila dokumenter ini menjelaskan juga opsi penyelesaian masalah untuk menghadapi persoalan yang ada secara lebih konkret. Khususnya dalam menanggulangi permasalahan plastik dan gas metana yang terlepas ke Bumi.

Film ini juga sedikit menyinggung tentang bagaimana pola makan sehari-hari dapat berpengaruh positif bagi lingkungan. Gaya hidup vegan dinilai berperan untuk memerangi krisis iklim dan masalah lingkungan lainnya sekaligus membuat masyarakat berkaca diri terhadap kebiasaan yang diakukan selama ini.

Penulis: Ida Ayu Putu Wiena Vedasari

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/endgame-2050-krisis-dunia-beberapa-dekade-ke-depan/feed/ 0
Sumber Mata Air Rusak Secara Sistematis https://www.greeners.co/berita/sumber-mata-air-dirusak-secara-sistematis-2/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sumber-mata-air-dirusak-secara-sistematis-2 https://www.greeners.co/berita/sumber-mata-air-dirusak-secara-sistematis-2/#respond Mon, 10 Nov 2014 10:19:47 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=6382 Batu (Greeners) – Hampir semua sumber mata air di Indonesia mengalami krisis, mulai pulau terkecil hingga terbesar. Air yang menjadi infrastruktur ekologis agar kehidupan tetap berlangsung saat ini menjadi barang […]]]>

Batu (Greeners) – Hampir semua sumber mata air di Indonesia mengalami krisis, mulai pulau terkecil hingga terbesar. Air yang menjadi infrastruktur ekologis agar kehidupan tetap berlangsung saat ini menjadi barang jualan.

Demikian dikatakan Hendro Sangkoyo dari Sekolah Ekonomika Demokratik Jakarta, dalam Sarasehan Pelestarian Lingkungan yang digelar Forum Masyarakat Peduli Mata Air (FMPMA) di Pendopo Dusun Cangar, Desa Bulukerto, sebagai salah satu rangkaian acara Festival Mata Air 2014, Jumat (7/11/2014).

Parahnya lagi, kata Hendro, kompetisi perebutan sumber mata air kian sengit untuk saling memperebutkan siapa yang paling berhak atasnya. Hingga kini, katanya, belum ada proteksi secara makro atau mencakup antar pulau. Ia meminta pemerintah harus mampu menekan krisis air yang semakin parah di beberapa wilayah di Indonesia.

“Kalau pemerintah cerdas, tidak perlu ada konflik sumber mata air seperti di Batu,” kata Yoyok, sapaan akrab Hendro Sangkoyo.

Yoyok juga mengingatkan Pemerintah Kota Batu yang saat ini tengah gencar mempromosikan sebagai Kota Wisata. Menjadikan Kota Batu sebagai Kota Wisata tentu bisa menjadi ancaman bagi kelestarian sumber mata air yang berada di kota ini. Sebab, tumbuhnya perhotelan, tempat-tempat wisata, serta bangunan-bangunan villa tentu membutuhkan air yang tidak sedikit.

Menurut Yoyok, pemerintah harus cerdas dan mampu memberikan keadilan kepada masyarakat terhadap penggunaan sumber mata air. “Meningkatnya industri pariwisata pasti diiringi menurunnya sumber mata air,” kata Yoyok.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu, Budi Santoso, dalam kesempatan tersebut menambahkan, pihaknya saat ini tengah menyusun Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (Ripda) yang menurutnya akan dikoreksi sendiri nanti setelah draftnya selesai. Ia ingin ada konsep optimal dalam pengembangan pariwisata di Kota Batu. “Harus ada target berapa maksimal per tahun jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kota Batu,” ujarnya.

Dari sini, bisa diketahui, kebutuhan hotel, villa, infrastruktur jalan dan fasilaitas lain untuk menunjang jumlah wisatawan yang berkunjung. Kalau sudah ketemu jumlahnya berapa, katanya, penambahan hotel, villa, dan bangunan lainnya terkait pariwisata harus di hentikan kalau sudah optimal.

Budi juga meminta warga mengusulkan peraturan daerah yang melindungi perubahan lahan pertanian terutama yang berada di dekat sumber mata air menjadi perumahan atau hotel dan villa. “Ini juga untuk melindungi sumber mata air yang tersisa saat ini,” katanya.

Sementara itu, Kepala Departemen Advokasi Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Nasional, Nurhidayati, menyampaikan, selama ini tidak ada pembicaraan secara serius antara pemerintah daerah untuk mengatasi persoalan di wilayah DAS Brantas, misalnya.

Sebab, jika data 10 tahun terakhir jumlah sumber mata air menurun 50 persen, maka kalau tidak ada upaya penyelamatan maka 10 tahun kedepan akan habis.“Harus ada kerjasama dari semua pihak di lingkup aliran DAS Brantas mulai dari hulu hingga hilir,” katanya.

(G17)

]]>
https://www.greeners.co/berita/sumber-mata-air-dirusak-secara-sistematis-2/feed/ 0
Visi Misi Capres Belum Sentuh Krisis Ekologi https://www.greeners.co/berita/visi-misi-capres-belum-menjawab-masalah-krisis-ekologi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=visi-misi-capres-belum-menjawab-masalah-krisis-ekologi https://www.greeners.co/berita/visi-misi-capres-belum-menjawab-masalah-krisis-ekologi/#respond Fri, 04 Jul 2014 02:00:26 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=5088 Jakarta (Greeners) – Hiruk pikuk ramainya pesta demokrasi empat tahunan yang akan digelar pada 9 Juli 2014 mendatang membuat sejumlah lembaga pelestari lingkungan hidup menggelar diskusi bertemakan ‘Pasca Pilpres 2014 […]]]>

Jakarta (Greeners) – Hiruk pikuk ramainya pesta demokrasi empat tahunan yang akan digelar pada 9 Juli 2014 mendatang membuat sejumlah lembaga pelestari lingkungan hidup menggelar diskusi bertemakan ‘Pasca Pilpres 2014 : Masa Depan Lingkungan Hidup Indonesia’.

Diskusi yang dihadiri oleh Greenpeace Indonesia, Society of Indonesian Environmental Journalist (SIEJ), dan perwakilan tim sukses dari kedua pasang calon presiden dan wakil presiden ini, membahas tentang posisi kelestarian lingkungan hidup Indonesia dari pandangan kedua capres sesuai dengan visi dan misi yang telah dicanangkan.

“Saya senang bisa hadir di sini karena kami dari kubu pak Jokowi-JK sangat peduli terhadap isu lingkungan dan telah lama melakukan penelitian bersama para praktisi lingkungan hidup,” ujar Wahyu Widodo, perwakilan tim sukses Joko Widodo -Jusuf Kalla saat membuka acara diskusi yang diselenggarakan di Gallery Cafe Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (03/07).

Wahyu mengatakan bahwa kelestarian lingkungan hidup di Indonesia banyak juga dipengaruhi oleh tindakan-tindakan tidak terpuji oleh penghuninya. Seperti korupsi yang dilakukan oleh lapisan pemerintahnya dan mental buruk yang harus direvolusi demi kelestarian lingkungan hidup Indonesia.

Di lain sisi, Syamsul Bahri selaku tim sukses dari Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, mengatakan permasalahan lingkungan yang ada di Indonesia lebih dikarenakan terjadinya degradasi lahan, punahnya plasma nutfah serta kepedulian masyarakat yang semakin menurun terhadap lingkungan.

Syamsul juga menyatakan bahwa pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhaan ekonomi saja cenderung bersifat eksploitatif dan konsekuensi yang dihasilkan pada alam akan berdampak negatif terhadap kualitas sumber daya alam itu sendiri.

“Solusi dari kami, yaitu akan melakukan perbaikan pada 77 hektar hutan Indonesia dan melakukan negosiasi di dalam dan luar negri untuk kepentingan hutan Indonesia,” jelas Syamsul.

Menanggapi pemaparan dari kedua tim sukses tersebut, Kepala Greenpeace Indonesia, Longgena Ginting malah mengaku khawatir karena perlindungan lingkungan nampaknya masih belum menjadi prioritas penting dalam kebijakan pemerintah yang akan datang.

“Kita bisa melihat dengan jelas program dari visi-misi kedua pasangan capres masih akan mengandalkan pengembangan industri ekstraktif dan sumber daya alam untuk menopang pertumbuhan ekonomi kita. Namun, sayang sekali keduanya tidak menyebut-nyebut masalah krisis ekologi yang kita hadapi saat ini,” terang Longgena.

Longgena menjelaskan prinsip-prinsip keberlanjutan dan keadilan lingkungan yang vital dalam strategi pemanfaatan sumber daya alam juga tidak tergambar dengan jelas, baik dari pemaparan kedua tim sukses tersebut maupun dari visi misi kedua capres dan cawapres.

“Dengan kondisi dan kecepatan kerusakan lingkungan hidup kita saat ini, melanjutkan praktek eksploitasi sumberdaya seperti biasa akan membawa kita pada krisis lingkungan yang lebih berat lagi pada masa-masa yang akan datang, dan kita perlu khawatir soal ini,” tutupnya.

(Danny Kosasih)

]]>
https://www.greeners.co/berita/visi-misi-capres-belum-menjawab-masalah-krisis-ekologi/feed/ 0
Fritjof Capra; Titik Balik Peradaban https://www.greeners.co/gaya-hidup/fritjof-capra-titik-balik-peradaban/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=fritjof-capra-titik-balik-peradaban https://www.greeners.co/gaya-hidup/fritjof-capra-titik-balik-peradaban/#respond Mon, 10 Mar 2014 09:55:37 +0000 http://www.greenersmagz.com/?post_type=grn_review&p=4076 Judul Buku    : Titik Balik Peradaban Penulis            : Fritjof Capra Jumlah Hal    : xxii + 571 halaman Penerbit          : Bentang budaya (2002) Buku ini mencoba mengupas fenomena […]]]>

Judul Buku    : Titik Balik Peradaban
Penulis            : Fritjof Capra
Jumlah Hal    : xxii + 571 halaman
Penerbit          : Bentang budaya (2002)

00f8h12oBuku ini mencoba mengupas fenomena perubahan yang tak akan lepas dari segala bentuk kehidupan di bumi. Dengan cara yang khas, Capra, Seorang seintis kenamaan mencoba menelaah dinamika yang mendasari berbagai problem utama yang mendasari zaman kita; semua nya merupakan residu peradaban yang tidak terinduksi oleh suatu system yang kita kenal dengan modernism.

Dalam buku ini penulis mencoba menanamkan dasar pemikiran universal bahwa segala krisis yang menimpa kita sekarang ini bukanlah sekedar krisis individu, pemerintah atau lembaga sosial, melainkan suatu transisi yang berdimensi planet. “Sebagai individu, sebagai masyarakat, sebagai peradaban, dan sebagai ekosistem planet, kini kita tengah mencapai titik balik”(hal 18).

Meski Capra telah lama dikenal dunia sebagai seorang fisikawan modern, namun dalam setiap karyanya ia tidak hanya menelaah berbagai permasalahan yang dialami bumi melalui pendekatan sains saja, melainkan juga dengan pendekatan kearifan filsafat “timur”, inilah yang membedakan Capra dengan sebagian besar Fisikawan lainnya. Untuk memahami proses transisi budaya, misalnya ia mengutip salah satu kitab kearifan tertua dari china (I Ching); “ gerak adalah suatu yang alami, yang muncul secara spontan,karena itu transformasi generasi tua menjadi mudah, yang lama ditinggalkan dan yang baru diperkenalkan. Keduanya sesuai dengan perjalanan waktu”.

Krisis Energi dan ekonomi global, kelaparan, kriminalitas, polusi, perlombaan senjata adalah sebagian dari permasalahan yang diangkat melalui buku ini. Kita sedang berada dizaman yang serba global dan universal, segala krisis dan permasalahan adalah milik kita bersama, buku ini mungkin dapat membantuanda untuk lebih memahami berbagai fenomena yang terjadi dibumi dan memberikan wawasan dan cara berfikir baru yang positif untuk menyongsong perubahan yang telah, sedang dan akan terus terjadi sepanjang zaman.

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/fritjof-capra-titik-balik-peradaban/feed/ 0
Energi Bukan (Hanya) Minyak https://www.greeners.co/berita/energi-bukan-hanya-minyak/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=energi-bukan-hanya-minyak https://www.greeners.co/berita/energi-bukan-hanya-minyak/#comments Wed, 12 Sep 2012 13:14:16 +0000 http://www.greenersmagz.com/?post_type=grn_feature&p=3028 Pada 2019 Kementerian Energi memprediksi Indonesia akan kehabisan cadangan energi dan terpaksa mengimpor 100 persen kebutuhan minyak. Apa akal? Oleh : Veby Mega Indah   Stiker itu ada dua macam. […]]]>

Pada 2019 Kementerian Energi memprediksi Indonesia akan kehabisan cadangan energi dan terpaksa mengimpor 100 persen kebutuhan minyak. Apa akal?

Oleh : Veby Mega Indah

 

Stiker itu ada dua macam. Yang berukuran lebih besar bertuliskan “Mobil ini Tidak Menggunakan BBM* Bersubsidi”  dan yang kecil, “Mobil BBM Non Subsidi”. Warnanya jingga terang untuk ditempel di kaca depan dan belakang mobil. Ada lambang ESDM* di sudut kiri atas. Mustahil rasanya orang alpa melihat jika ia sudah nemplok di kaca mobil. Ia bagai jaminan agar pegawai negeri tidak bandel lagi beli bensin bersubsidi meski bermobil mentereng. Aparat TNI* dan polisi juga kena.

Ini memang ESDM punya gawe.
Sejak Agustus 2012, ESDM ramai-ramai menggelar program hemat energi. Salah satunya, ya, hemat Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk mobil-mobil instansi pemerintah. Selain itu malam-malam hingga subuh puluhan mahasiswa hingga unsur masyarakat lainnya juga berkeliaran di aneka pom bensin dan gedung-gedung pemerintah. Cuma untuk mengamat-amati dan mencatat siapa tahu ada tingkah laku nyeleneh buang-buang energi.  Dosa-dosa itu dicatat lalu dilaporkan lewat surat elektronik ke hematenergi@esdm.go.id. Jadi jangan harap bebas meninggalkan lampu atau pendingin ruangan menyala saat pulang kantor.

Harap maklum. Negeri ini lagi tarik ikat pinggang menghemat konsumsi energi. “Ya kalau kita tidak bisa mengurangi subsidi BBM, konsekuensinya pemakaian BBM yang harus dihemat,” kata Direktur Konservasi Energi Kementerian ESDM, Maryam Ayuni.

Cadangan energi Indonesia memang sudah lampu kuning. Setiap tahun konsumsi energi nasional naik 7 persen sementara cadangan energi fosil berupa minyak, batu bara dan gas semakin menurun dan terus dikeruk. Kalau pun beruntung menemukan cadangan energi fosil baru, proses eksplorasi hingga matang tersedia paling tidak butuh 15 tahun.

ESDM memprediksi tahun 2019 Indonesia akan terpaksa membeli 100 persen kebutuhan energinya dari luar negeri. Sekarang saja, nusantara kudu mengekspor minyak bumi. Produksi dalam negeri kini hanya 800 ribu per barel per hari. Sementara kebutuhan minyak bumi untuk industri, rumah tangga mau pun transportasi sudah 1 juta barel per hari. Belum lagi besok-besok saat masyarakat makin canggih dan butuh semakin banyak energi.  Padahal hingga 2012 baru 70 persen daerah Indonesia yang teraliri listrik.

Buntutnya kini ESDM menggadang program mari berhemat untuk semua instansi pemerintah. Dari pusat sampai ke daerah. Direktur Jenderal Energi  Terbarukan, EBTKE*Kementerian ESDM, Kardaya Warnika menyatakan penghematan ini cara awal dan paling cepat berusaha menyelamatkan Indonesia.

“Indonesia termasuk lebih boros penggunaan energi sekitar 50 persen jika dibandingkan negara-negara lainnya di dunia, jadi ada potensi besar untuk berhemat,” kata Kardaya.

Ini hanya tindakan pertolongan pertama krisis energi, kalau mau jujur.

]]>
https://www.greeners.co/berita/energi-bukan-hanya-minyak/feed/ 1