kualitas air sungai - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/kualitas-air-sungai/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Wed, 27 Jul 2022 05:57:02 +0000 id hourly 1 51 % Sumber Pencemar Sungai Indonesia dari Limbah dan Sampah https://www.greeners.co/berita/51-sumber-pencemar-sungai-indonesia-dari-limbah-dan-sampah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=51-sumber-pencemar-sungai-indonesia-dari-limbah-dan-sampah https://www.greeners.co/berita/51-sumber-pencemar-sungai-indonesia-dari-limbah-dan-sampah/#respond Wed, 27 Jul 2022 05:57:02 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=36860 Jakarta (Greeners) – Hampir 51 % sumber pencemar sungai-sungai besar di Indonesia berasal dari limbah dan sampah. Status mutu sungai tahun 2021 menyebut, kondisi sungai tercemar berat 2,78 %, sungai […]]]>

Jakarta (Greeners) – Hampir 51 % sumber pencemar sungai-sungai besar di Indonesia berasal dari limbah dan sampah. Status mutu sungai tahun 2021 menyebut, kondisi sungai tercemar berat 2,78 %, sungai tercemar sedang yaitu 17,59 %, kondisi sungai tercemar ringan sebesar 59,81 % dan memenuhi sebesar 20,12 %.

Berkaca dari kondisi itu, Direktur Jenderal (Dirjen) Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (KLHK) Sigit Reliantoro menyebut, sungai tercemar berat mengalami penurunan signifikan jika dibandingkan tahun 2019 sebesar 53,28 %. Lalu pada tahun 2020 sungai tercemar berat 59,05 %.

“Kondisi ini disebabkan masih minimnya fasilitas pengelolaan air limbah domestik dan cakupan layanan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) belum merata masyarakat akses,” katanya kepada Greeners, Rabu (27/7).

Fakta kondisi sungai ini menjadi refleksi bersama bertepatan dengan peringatan Hari Sungai Sedunia setiap 27 Juli. Sigit menyatakan, air limbah dan sampah dapat menyebabkan biota-biota aliran sungai mati karena kekurangan oksigen. Padahal sungai memiliki peran vital bagi kehidupan biota di dalamnya.

“Kalau sungainya tercemar bahkan hingga tercemar berat maka kandungan oksigen di dalamnya turut menurun. Ini akan mempengaruhi kehidupan biota di dalamnya,” ujarnya.

Saat ini di 15 Daerah Aliran Sungai (DAS) prioritas di Indonesia, yakni Sungai Ciliwung, Sungai Cisadane, Sungai Citarum, Sungai Bengawan Solo, Sungai Brantas. Juga di Sungai Kapuas, Sungai Siak, Sungai Asahan, Sungai Sekampung, Sungai Serayu, Sungai Saddang, Sungai Musi, Sungai Moyo, serta Sungai Jeneberang pencemaran domestik masih terjadi. Kontribusi pencemaran sektor domestik 51 %, sektor non-point source yaitu 20 %, industri sebesar 15 % dan peternakan 14 %.

Sigit menilai, sungai memiliki peran utamanya sebagai peradaban penting di dunia. Misalnya, peradaban Mesopotamia yang para sejarawan anggap merupakan peradaban tertua di muka bumi sejak evolusi manusia.

Timbulan sampah ilegal ini mencemari tiga sungai di Bengkulu. Foto: Ecoton

Perbaikan Kualitas Air Sungai dari Limbah dan Sampah

Sementara itu, terkait peringatan hari sungai, kondisi sungai-sungai di Indonesia menunjukkan perbaikan kualitas air yang signifikan.

Tahun 2015 kondisi sungai tercemar berat yaitu 79,49 %, lalu pada tahun 2016 yaitu 67,94 %. Selanjutnya pada tahun 2017 yaitu 73,24 % dan tahun 2018 yaitu 58,82%.

“Lalu pada tahun 2019 yaitu 53,28 %. Pada tahun 2020 yaitu 59,05 % dan tahun 2021 hanya 2,78 %. Ini artinya telah terjadi perbaikan kualitas air di Indonesia,” ucapnya.

Sigit menyebut, peningkatan kualitas air karena pemerintah daerah sudah menyadari pencegahan masuknya sampah ke sungai. “Karena sumber pencemar terbesar rata-rata domestik yaitu sampah dan mereka sudah lebih peduli,” imbuhnya.

Berbagai upaya telah KLHK lakukan untuk menjaga dan memastikan agar air sungai tetap dalam kondisi baik. Misalnya, mengendalikan jumlah limbah yang berasal dari sumber pencemar. Termasuk dari pemukiman rumah tangga hingga usaha skala kecil (industri kecil, peternakan, rumah potong hewan).

Selain itu KLHK juga memastikan kestabilan debit air agar tidak terjadi ketimpangan air saat musim hujan dan kemarau. Saat musim hujan, sambung dia kerap terjadi banjir sedangkan saat musim kemarau sering kali terjadi kekeringan.

Ribuan pohon di sepanjang Sungai Ciliwung terlilit sampah plastik. Foto: Ecoton

Sungai-Sungai di Indonesia Tercemar Mikroplastik

Sementara itu, Direktur Eksekutif Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) Prigi Arisandi menegaskan, ancaman utama sungai-sungai di Indonesia adalah mikroplastik.

Berdasarkan temuan Ekspedisi Sungai Nusantara (ESN) sungai tercemar partikel mikroplastik paling berat di Jawa yaitu Sungai Brantas, Ciliwung, Bengawan Solo dan Citarum.

Di samping itu, berdasarkan riset Ecoton kelimpahan rata-rata mikroplastik pada ikan sebesar 20 partikel per ikan (sampel Bengawan Solo), 42 partikel per ikan (sampel Brantas), 68 partikel per ikan (sampel Citarum) dan 167 partikel per ikan (sampel Kepulauan Seribu).

Ecoton menguji 102 sampel tinja manusia dan menemukan mikroplastik dalam 100 % sampel tinja masyarakat dan pemimpin daerah di Jawa dan Bali. Jumlah partikel mikroplastik dalam lambung ikan sangat mengkhawatirkan karena kandungan beracun aditif plasticizer.

Ancam Rantai Makanan di Pulau Jawa

Selain Itu, mikroplastik juga mengikat polutan-polutan dan patogen yang ada dalam media air yang akan ikut terserap masuk ke dalam tubuh ikan yang menelan mikroplastik. Bahan aditif plastik seperti Ftalat, BPA, BPS, PFAS dan Acrylate dalam berbagai produk plastik rumah tangga, terindikasi dapat mengganggu fungsi hormon dan memicu kanker.

“Kontaminasi mikroplastik sudah masuk ke dalam tubuh manusia. Mikroplastik ditemukan ada di dalam tinja manusia, plasenta ibu hamil, paru-paru dan di dalam darah,” ungkapnya.

Prigi juga mengatakan, sumber mikroplastik di sungai berasal dari point source limbah industri tekstil serta industri daur ulang plastik dan kertas. Selain itu, dari non point source yaitu dari timbunan sampah plastik yang tidak terkelola di daratan akhirnya masyarakat buang ke sempadan sungai dan membanjiri sungai.

Sungai Brantas, Bengawan Solo, Citarum dan Ciliwung adalah sungai nasional yang memiliki peran vital bagi Indonesia karena selain sebagai air baku Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

Empat sungai tersebut juga sebagai sumber irigasi area pertanian yang menyuplai lebih dari 50 persen stok pangan nasional. “Jadi saat ini ada ancaman serius berupa mikroplastik yang mencemari sungai-sungai dan rantai makanan di Pulau Jawa,” tandasnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/51-sumber-pencemar-sungai-indonesia-dari-limbah-dan-sampah/feed/ 0
Hari Air Sedunia, WWF: Kondisi Sungai di Indonesia Mengkhawatirkan https://www.greeners.co/berita/hari-air-sedunia-wwf-kondisi-sungai-di-indonesia-mengkhawatirkan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hari-air-sedunia-wwf-kondisi-sungai-di-indonesia-mengkhawatirkan https://www.greeners.co/berita/hari-air-sedunia-wwf-kondisi-sungai-di-indonesia-mengkhawatirkan/#respond Sat, 23 Mar 2019 12:06:31 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=22890 Sungai merupakan salah satu sumber air untuk kebutuhan rumah tangga, pertanian, dan industri. Saat ini keberadaan sungai-sungai tersebut berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan.]]>

Jakarta (Greeners) – Sungai merupakan salah satu sumber air untuk kebutuhan rumah tangga, pertanian, dan industri. Saat ini keberadaan sungai-sungai tersebut berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan.

Director Forestry and Fresh Water World Wildlife Fund for Nature (WWF), Irwan Gunawan mengatakan bahwa data per Desember 2018 menunjukkan dari 82 sungai yang dipantau, 50 sungai kondisinya stabil, 18 sungai membaik, dan 14 sungai dalam keadaan buruk. Data yang disiarkan oleh WWF menunjukkan bahwa total dari 550 sungai yang ada di Indonesia, 82 persennya dalam kondisi rusak.

Untuk memperbaiki kondisi ini, WWF bekerjasama dengan pihak swasta, masyarakat, dan pemangku kepentingan untuk terus menjaga keberlanjutan dari ekosistem air di Indonesia.

“Kita melihat ada beberapa fakta menarik yaitu 25,1% desa di Indonesia sudah tercemar air tanahnya. Oleh karenanya, WWF memiliki program yang fokus mengamankan daerah tangkapan air serta mengajak pihak swasta untuk bekerjasama, karena pihak swasta ini merupakan poluters dan memegang peranan vital dalam konservasi Sumber Daya Air,” ujar Irwan dalam diskusi yang diselenggarakan untuk memperingati Hari Air Sedunia bertajuk “Bersama Menjaga Air Sumber Kehidupan” di Le Meridien, Jakarta, Jumat (22/03/2019).

BACA JUGA: Menteri LHK Tetapkan SK Daya Tampung Beban Pencemaran pada Sungai 

Menurut Irwan, pihak swasta yang baik memiliki kalkulasi konsumsi air yang baik, tidak konsumtif dalam memakai air, dan bersumber dari jaringan perpipaan serta dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini tentunya harus dibarengi dengan kerja pemerintah yang memiliki berbagai program untuk memberikan layanan air bersih untuk masyarakat.

Data Bappenas tahun 2017 menunjukkan indeks kualitas air terendah berada di wilayah provinsi DKI Jakarta sebesar 35% sementara kualitas air tertinggi ada di provinsi Sulawesi Tenggara sebesar 70%.

Direktur Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Air Bappenas, Nur Hygiawati Rahayu mengatakan bahwa ketersedian dan permintaan air di Indonesia belum seimbang. Belum ada ketersediaan air secara berkelanjutan namun dari sisi permintaan terus bertambah sejalan dengan pertumbuhan penduduk.

“Diperkirakan pada tahun 2045, pulau Jawa akan devisit air permukaan dan ini sangat mengkhawatirkan dan menjadi perhatian pemerintah,” kata Nur Hygiawati yang akrab disapa Yuke ini.

BACA JUGA: Kualitas Air di Jakarta Dipertanyakan, Kandungan E-Coli Melebihi Ambang Batas  

Yuke menyatakan bahwa saat ini pemerintah memiliki program perbaikan kualitas dan memperluas layanan air bersih, di antaranya infrastruktur distribusi air, konservasi lingkungan, pemantauan kualitas air, menyusun water safety plan, pemetaan daerah terkait pencemaran air, dan mendorong efisiensi air. Pemerintah juga menyiapkan bantuan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk air minum sebesar Rp782.635.000 untuk 382 daerah di seluruh Indonesia di tahun 2019 ini.

“Berbagai kegiatan dilakukan untuk air bersih ini dan harus ada peran dari pemerintah daerah juga. Kalau kami sebagai pemerintah pusat menyiapkan DAK dan yang akan mengembangkan itu Pemda,” katanya.

Di sisi lain, Direktur Partnership WWF-Indonesia, Ade Swargo Mulyo mengatakan bahwa WWF memiliki komitmen untuk melaksanakan kegiatan revitalisasi daerah tangkapan air dengan fokus utama di 6 wilayah daerah aliran sungai (DAS). Keenam wilayah tersebut yaitu DAS Peusangan Aceh, DAS Kampar-Riau Sumatera Barat, DAS Mahakam Kalimantan Timur, DAS Ciliwung Jawa Barat, DAS Rinjani Lombok, dan DAS Bikuma Papua.

Ade menyatakan kalau revitalisasi DAS ini sebagai Solusi Berbasiskan alam (SBA). Kegiatan revitalisasi tersebut meliputi restorasi hutan dan lahan basah alami, menyambung kembali sungai ke dataran rendah yang kerap digenangi air, dan menciptakan penyangga vegetasi di sepanjang aliran sungai.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/hari-air-sedunia-wwf-kondisi-sungai-di-indonesia-mengkhawatirkan/feed/ 0
Pembersihan Sungai Citarum Kini Fokus pada Warna Air https://www.greeners.co/berita/pembersihan-sungai-citarum-kini-fokus-pada-warna-air/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pembersihan-sungai-citarum-kini-fokus-pada-warna-air https://www.greeners.co/berita/pembersihan-sungai-citarum-kini-fokus-pada-warna-air/#respond Fri, 07 Sep 2018 05:42:39 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=21289 Kemenko Maritim menyatakan sampah domestik di Sungai Citarum sudah 90-95 persen terangkat. Dengan demikian saat ini pembersihan berfokus kepada air sungai Citarum yang hitam.]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Koordinator Kemaritiman melalui Deputi IV Bidang Koordinasi SDM, IPTEK dan Budaya Maritim Safri Burhanuddin menyatakan bahwa sampah domestik di Sungai Citarum sudah 90-95 persen terangkat. Dengan demikian saat ini pembersihan berfokus kepada air sungai Citarum yang hitam dengan cara mengecor saluran pembuangan air limbah industri.

“Di Sungai Citarum 90 sampai 95 persen sampah domestik sudah diangkat, botol-botol plastik, kemasan makanan sudah tidak ada. (Sampah) paling ada setelah hujan datang, itu juga dari sisa-sisa sampah yang ada di darat,” kata Safri kepada Greeners, Jakarta, Kamis (06/09/2018).

Safri mengatakan fokus saat ini pada air sungai Citarum yang masih hitam akibat pembuangan air limbah yang ada di sekitar Sungai Citarum. Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Pandjaitan sebelumnya pernah mengatakan akan menindak tegas para pengusaha dan industri yang mengotori Sungai Citarum. Namun hal ini diakui Safri sangat sulit karena tidak ada industri yang mau mengaku dan mau bertanggung jawab atas pencemaran limbah yang ada di Sungai Citarum.

“Kita lakukan pengecoran terhadap 100 pipa pembuangan pabrik. Hal itu kami lakukan karena tidak ada yang mau mengaku, tapi begitu dicor ketahuan siapa yang punya. Kadang memang tidak semuanya harus memakai hukum tapi tindakan tegas harus maju duluan,” ujarnya sambil tertawa.

BACA JUGA: Menko Luhut Siap Menindak Perusahaan Pencemar Sungai Citarum 

Setelah dilakukan penutupan pipa pembuangan air limbah dengan pengecoran tersebut, ada 70 perusahaan yang mengaku dan melakukan perbaikan air limbahnya agar menjadi jernih. Ke tujuh puluh perusahaan tersebut tidak mendapat sanksi hukum melainkan sebatas penyadaran dan pembinaan.

“Dari 100 yang dicor pipa pembuangan air limbahnya, sudah dibuka 70 pipa industri. Dibuka karena mereka melapor dan mulai memperbaiki limbahnya menjadi jernih serta ada komitmen dari mereka, seperti membangun sistem instalasi air limbahnya dan keluarnya bersih,” jelas Safri.

Safri mengatakan masih tersisa 30 pipa yang masih dalam tahap proses pencarian sumber industrinya. Untuk menampung air limbah industri ke depannya akan dilakukan pembangunan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal untuk untuk setiap industri yang biayanya akan ditanggung sendiri oleh industri tersebut.

BACA JUGA: KLHK Berikan Bantuan Dana 12 Miliar untuk Pengelolaan Sampah Sungai Citarum 

Dalam siaran pers Kemenko Maritim, Menteri Luhut meminta para pengusaha industri untuk membuat IPAL komunal. Gubernur Jawa Barat juga sedang mempertimbangkan untuk melakukan relokasi beberapa industri di wilayahnya ke daerah-daerah yang lebih aman pembuangan limbahnya.

“Saya sudah bertemu dengan para pengusaha, kita harus memenuhi aturan. Dampaknya sudah diperlihatkan tadi oleh Pak Gubernur 340 ribu ton kotoran limbah industri masuk ke Citarum. Itu baru limbah (industri) saja. Ada 30 juta lebih penduduk yang tinggal di bantaran Citarum, mau kemana kita? Keturunannya bisa kena kuntet (kerdil, Red.). Saya baru terima laporan hasil penelitian IPB, semua ikan di sana sudah tidak layak makan,” ujar Luhut.

Asisten Deputi IV Bidang Pendidikan dan Pelatihan Maritim TB Haeru Rahayu mengatakan bahwa sistem IPAL komunal ini dibagi menjadi level atas industri dan level bawah industri. Industri level atas bisa membangun satu IPAL komunal sendiri, sedangkan industri level bawah akan punya satu IPAL komunal untuk lima industri.

“Sejujurnya saat ini hanya ada satu IPAL komunal, itu pun juga tidak berfungsi dengan baik. Jadi dari ribuan industri seharusnya ada kurang lebih lima ratusan IPAL komunal, harus banyak berjuangnya kita ini,” kata Haeru.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/pembersihan-sungai-citarum-kini-fokus-pada-warna-air/feed/ 0
Menteri LHK Resmikan Kawasan Ekoriparian Ciliwung Srengseng Sawah https://www.greeners.co/berita/menteri-lhk-resmikan-kawasan-ekoriparian-ciliwung-srengseng-sawah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=menteri-lhk-resmikan-kawasan-ekoriparian-ciliwung-srengseng-sawah https://www.greeners.co/berita/menteri-lhk-resmikan-kawasan-ekoriparian-ciliwung-srengseng-sawah/#respond Sun, 16 Apr 2017 04:41:24 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=16733 Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Menteri LHK) Siti Nurbaya meresmikan kawasan Ekoriparian Ciliwung Srengseng Sawah dan Stasiun Pemantau Kualitas Air secara Online (Online Monitoring System) di kawasan sungai Ciliwung Srengseng Sawah Jagakarsa. ]]>

Jakarta (Greeners) – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Men LHK) Siti Nurbaya meresmikan kawasan Ekoriparian Ciliwung Srengseng Sawah dan Stasiun Pemantau Kualitas Air secara Online (Online Monitoring System) di kawasan sungai Ciliwung Srengseng Sawah Jagakarsa. Kepada wartawan, Siti mengatakan bahwa pembentukan kawasan ini bertujuan sebagai pengembangan tempat wisata berkonsep edukasi lingkungan.

Bersamaan dengan peresmian kawasan, MenLHK juga meresmikan pembentukan kelembagaan Ekoriparian Srengseng Sawah yang terdiri dari gabungan komunitas peduli sungai dengan warga masyarakat sekitar kawasan Ekoriparian. Lembaga lokal ini diharapkan dapat mendorong perubahan pola pikir masyarakat di sekitar Srengseng Sawah maupun di luar kawasan untuk bisa lebih menjaga sungai dan tidak lagi menjadikan sungai sebagai tempat sampah.

“Nantinya Ekoriparian ini akan membuat sadar masyarakat kalau sungai juga memiliki fungsi ekologi dan ekonomis yang bisa dimanfaatkan oleh mereka selain juga fungsi budayanya,” jelas Siti usai meresmikan Ekoriparian Srengseng Sawah, Jakarta, Sabtu ( 15/04).

ekoriparian

Menteri LHK menandatangani Prasasti Peresmian Kawasan Ekoriparian Ciliwung Srengseng Sawah. Disaksikan Oleh Deputi Gubernur Prov. DKI Jakarta Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup Oswar M. Mungkasa (belakang kanan) dan Dirjen PPKL KLHK MS Karliansyah (belakang kiri). Foto : www.greeners.co/Deny Kuswanto

Pembangunan Ekoriparian ini merupakan kerjasama multipihak antara pemerintah, swasta, komunitas serta masyarakat. Inisiatif pembentukan kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung bernama Ekoriparian Ciliwung Srengseng Sawah ini sendiri datang dari komunitas Mat Peci (Masyarakat Peduli Ciliwung dan Lingkungan Hidup) yang difasilitasi oleh Direktorat Jendral Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK.

Direktur Jendral Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK, MR Karliansyah pada kesempatan yang sama mengutarakan bahwa beberapa fasilitas yang dibangun dalam empat zona di kawasan Ekoriparian Srengseng Sawah ini ditargetkan rampung hingga 2019 dengan bantuan dan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 182 juta rupiah dalam bentuk bantuan inatura atau bantuan berupa bentuk fisik dan bukan uang.

Sedangkan bantuan-bantuan dari perusahaan antara lain pembangunan jalur jogging track dari pemanfaatan limbah tailing PT Antam Pongkor, saung edukasi dan pengolahan air lmbah warga oleh KLHK dan PT Pertamina, saung edukasi pengolahan sampah organik oleh PT Indonesia Power, area tanaman obat keluarga oleh PT Pembangkit Jawa Bali, saung edukasi air oleh PT Palyja, bantuan pembangunan dermaga dan pengadaan perahu dari PT Antam logam Mulia dan bantuan pengadaan semen dari PT Holcim.

“Nantinya Ekoriparian ini juga dapat direplikasi di beberapa segmen di sungai Ciliwung lainnya, sehingga nantinya sungai Ciliwung dapat menjadi salah satu tujuan wisata yang mendatangkan nilai ekonomis. Hingga tahun 2019 pun sudah masuk beberapa inisiatif dari masyarakat di Jawa Barat seperti Citarum atau Cisangkuy yang akan ditindak lanjuti pembentukan ekoriparian ini,” tambahnya.

Direktur Operasi PT Antam Agus Zamzam menyambut baik inisiatif pembangunan Ekoriparian Srengseng Sawah ini. Ia mengatakan kalau PT Antam melihat fungsi sungai sebagai bagian yang sangat penting untuk lingkungan. Oleh karena itu ia mengaku kalau pihaknya merasa wajib untuk ikut berkontribusi dalam pembenahan sungai Ciliwung. “Ini konsep yang menarik untuk membuat kawasan ekowisata di sungai Ciliwung. Antam sampai sekarang sudah membangun jogging track sepanjang 1,6 kilometer dengan target 2,1 kilometer dan ini dibuat dari tailing (limbah bekas tambang emas antam),” tutupnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/menteri-lhk-resmikan-kawasan-ekoriparian-ciliwung-srengseng-sawah/feed/ 0
Gerakan Ciliwung Bersih Evaluasi Kualitas Air Ciliwung di Hari Air Sedunia https://www.greeners.co/aksi/gerakan-ciliwung-bersih-evaluasi-kualitas-air-ciliwung-hari-air-sedunia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=gerakan-ciliwung-bersih-evaluasi-kualitas-air-ciliwung-hari-air-sedunia https://www.greeners.co/aksi/gerakan-ciliwung-bersih-evaluasi-kualitas-air-ciliwung-hari-air-sedunia/#respond Mon, 27 Mar 2017 13:12:24 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=16460 Peringatan Hari Air Sedunia yang dilakukan oleh Komunitas Gerakan Ciliwung Peduli pada Sabtu (25/03/2017) lalu bukan hanya perayaan semata. Momen ini sekaligus mengevaluasi kualitas air di sungai Ciliwung.]]>

Jakarta (Greeners) – Setiap tahunnya sejak tahun 1992, tanggal 22 Maret selalu diperingati sebagai Hari Air Sedunia. Hal tersebut sesuai putusan Sidang Umum PBB ke-42 di Rio de Janeiro, Brasil. Penetapan hari ini juga dimaksudkan sebagai upaya menarik perhatian publik akan pentingnya air bersih dan upaya pengelolaan sumber air bersih yang berkelanjutan. Salah satu komunitas yang juga menggelar perayaan Hari Air Sedunia adalah Gerakan Ciliwung Bersih (GCB). Acara digelar pada Sabtu (25/03/2017) di SPA Krukut PAM Jaya, Cilandak, Jakarta Selatan.

Mengusung tema “Air dan Air Limbah”, peringatan ini bukan hanya melibatkan berbagai kelompok masyarakat yang ada di bantaran Kali Ciliwung yang tergabung dalam GCB namun juga mengajak berbagai instasi pemerintah, swasta dan lembaga pendidikan untuk terlibat. Mulai dari Kementerian Lingkungan Hidup, Kementrian Pekerjaan Umum, PT PAM Jaya, PT Pal Jaya, Aerta, STT PLN dan Universitas Bakrie.

Direktur Utama PT PAM Jaya Erland Hidayat dalam sambutannya menyampaikan bahwa peringatan semacam ini baiknya bukan hanya sekadar memberikan sensasi sesaat, harus ada kesadaran bahwa mengisi Hari Air dengan kegiatan nyata jauh lebih penting dari peringatannya sendiri. “Mesti ada aksi nyata yang kita lakukan. Walau tidak bisa sekaligus, sedikit-sedikit pun tidak apa-apa,” katanya.

gerakan ciliwung bersih

Foto: greeners.co/Arief Tirtana

Sementara itu Direktur Eksekutif GCB Peni Susanti menyatakan, peringatan Hari Air Sedunia yang rutin GCB lakukan sejak tahun 2013 bukan hanya sekadar seremonial semata, namun juga menjadi momen tahunan bagi GCB untuk mengevaluasi kualitas air khususnya yang ada di sungai Ciliwung.

“Tahun ini seperti tahun-tahun sebelumnya juga kita melakukan evaluasi, dan hasilnya dapat dilihat bahwa dibeberapa titik sungai Ciliwung sudah mulai mengalami perbaikan kualitas airnya,” ujar Peni.

Perbaikan yang dimaksud Peni dapat dilihat pada sungai Ciliwung di wilayah Pejaten. Kualitas airnya dinilai semakin baik ditandai dengan mulai munculnya biota air seperti ikan baung, ikan nila, bahkan lobster biru yang kini juga mulai dibudidayakan di aliran Ciliwung. Bahkan karena pinggiran sungainya juga ditanami, hewan-hewan kini mulai dapat ditemui disekitar bantaran Ciliwung seperti luwak, biawak, monyet, dan berbagai jenis burung.

“Setelah tiap tahun kita evaluasi, sejak 2013 sampai 2017 ini kita lihat kondisinya mulai sangat baik. Kita akan buat Ciliwung sebagai benchmark bagi sungai-sungai lain yang ada di Jakarta sehingga kedepannya bukan hanya Gerakan Ciliwung Bersih tapi juga kita mengarah pada Gerakan Teluk Jakarta Bersih,” jelas mantan ketua BPLHD Jakarta ini.

Dalam acara yang juga dihadiri Wakil Walikota Jakarta Selatan ini juga diisi dengan penanaman pohon secara simbolik, talk show, penampilan tari, peragaan busana dan ditutup dengan pemberian penghargaan kepada beberapa komunitas peduli ciliwung (KCP) dan lomba daur ulang sampah. GCB juga secara resmi melakukan penandatanganan kerjasama dengan dua lembaga pendidikan yaitu STT PLN dan Universitas Bakrie. Kerjasama yang dilakukan berupa penerapan penelitian dan analisis pengelolaan air kepada mahasiswa serta pemanfaatan sampah yang ada disungai sebagai bahan baku energi yang ramah lingkungan.

Penulis: AT/G39

]]>
https://www.greeners.co/aksi/gerakan-ciliwung-bersih-evaluasi-kualitas-air-ciliwung-hari-air-sedunia/feed/ 0
KLHK: Kondisi Kualitas Air Sungai di Indonesia Memprihatinkan https://www.greeners.co/berita/klhk-kondisi-kualitas-air-sungai-indonesia-memprihatinkan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=klhk-kondisi-kualitas-air-sungai-indonesia-memprihatinkan https://www.greeners.co/berita/klhk-kondisi-kualitas-air-sungai-indonesia-memprihatinkan/#respond Thu, 16 Jun 2016 06:38:35 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=13993 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengakui bahwa kualitas air sungai di Indonesia dalam kondisi memprihatinkan.]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengakui bahwa kualitas air sungai di Indonesia dalam kondisi memprihatinkan. Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup KLHK Karliansyah mengatakan kalau hal tersebut dapat diketahui berdasarkan pemantauan di 918 titik sampel pada 122 sungai di Indonesia.

Dari pemantauan itu, diketahui kalau 68 persen kondisi air sungai di Indonesia dalam kategori tercemar berat. Parameter penentu status mutu air di sebagian besar sungai di Indonesia antara lain parameter Total Coliform yang diakibat dari aktifitas manusia dan ternak yang mencapai sekitar 70 persen. Ini disebabkan oleh kebanyakan limbah domestik yang dihasilkan belum diolah dan langsung dibuang ke sungai.

“Kami (KLHK) sejak tahun 2015 hingga 2019 telah memiliki sejumlah program terhadap perbaikan kualitas air di 15 sungai prioritas. Program itu antara lain pemasangan sistem online monitoring pada seluruh sungai itu. Kami juga sedang mengembangkan pilot project pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk air limbah domestik dan usaha skala kecil (USK). Tujuannya ialah menurunkan beban pencemaran dari limbah domestik,” katanya, Jakarta, Rabu (15/06).

BACA JUGA: Walhi Sumsel: Laju Industri Ekstraktif Menyebabkan Daerah Serapan Air Rusak

Sedangkan untuk industri jasa seperti hotel dan rumah sakit, lanjutnya, KLHK telah mengembangkan kegiatan PROPER, penilaian kinerja perusahaan dalam pengelolaan lingkungan yang terbukti efektif untuk mendorong industri taat terhadap persyaratan pengelolaan lingkungan dan berupaya menurunkan beban pencemaran.

KLHK, terusnya, juga telah menghitung daya tampung beban pencemaran di Sungai Citarum, Cisadane, dan Ciliwung serta alokasi beban pencemaran yang boleh masuk ke sungai tersebut yang nantinya akan ditetapkan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan sehingga perbaikan kualitas air dapat dicapai.

Karliansyah mengakui bahwa dari sekian banyak yang telah dilaksanakan oleh KLHK, masih sangat kecil nilainya bila dibanding dengan target yang harus dipenuhi untuk memperbaiki kualitas air sungai di Indonesia. Ia memberi contoh, untuk perbaikan kualitas air di Citarum agar memenuhi daya tampung beban pencemaran sebesar 127.500 kilogram per hari, maka beban yang harus diturunkan dari eksiting sebesar 303.500 kilogram per hari karena eksisting beban pencemar yang masuk ke sungai Citarum sebesar 430.996 kilogram per hari.

“Di sinilah kami membutuhkan paran serta seluruh pemangku kepentingan seperti Pemerintah Daerah, pihak Swasta melalui program CSR, dan masyarakat, karena keterlibatan mereka akan sangat berarti dalam perbaikan kualitas air Indonesia,” tambahnya.

BACA JUGA: Masalah Air Bersih, BPPT Rekomendasikan Teknologi Biofiltrasi dan Ultrafiltrasi

Hendri Subagiyo, Direktur Eksekutif Indonesia Center for Environmental Law (ICEL) saat dihubungi oleh Greeners menyatakan, ada dua persoalan terkait dengan air yang sebenarnya bisa dibahas, yaitu kuantitas dan kualitas air. Menurutnya, kualitas air merupakan hal yang sangat memprihatinkan dan telah menjadi persoalan mendasar setiap waktu. Oleh karena itu diperlukan peran regulasi seperti PP82/2001.

“Permasalahan itu sendiri dapat dikaitkan dengan tiga hal, yaitu kepemimpinan pemerintah baik itu Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota, kebijakan atau regulasi, serta penegakan hukum,” jelas Hendri.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/klhk-kondisi-kualitas-air-sungai-indonesia-memprihatinkan/feed/ 0
Limbah Sebabkan Banyak Spesies Ikan di Perairan Sungai Punah https://www.greeners.co/berita/limbah-sebabkan-banyak-spesies-ikan-di-perairan-sungai-punah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=limbah-sebabkan-banyak-spesies-ikan-di-perairan-sungai-punah https://www.greeners.co/berita/limbah-sebabkan-banyak-spesies-ikan-di-perairan-sungai-punah/#respond Tue, 17 Nov 2015 05:04:43 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11921 Jakarta (Greeners) – Dahulu Sungai Ciliwung masih memiliki spesies berang-berang yang lalu lalang dan hidup bersama dengan habitat ikan-ikan sungai lainnya. Namun, begitu masifnya pencemaran yang terjadi membuat banyak dari […]]]>

Jakarta (Greeners) – Dahulu Sungai Ciliwung masih memiliki spesies berang-berang yang lalu lalang dan hidup bersama dengan habitat ikan-ikan sungai lainnya. Namun, begitu masifnya pencemaran yang terjadi membuat banyak dari spesies ikan punah dan hanya beberapa yang berhasil bertahan.

Tatang Mitra Setia dari Fakultas Biologi Universitas Nasional mengatakan bahwa saat ini, kondisi perairan sungai tidak hanya Ciliwung, namun juga di seluruh Indonesia, tengah mengalami penurunan pada kualitas perairannya. Hal ini, jelas Tatang, disebabkan oleh gangguan akibat kegiatan manusia seperti pertambangan, industri dan pertanian.

“Limbah mereka itu jelas dapat mengancam kehidupan di perairan sungai. Limbah rumah tangga pun seringkali dibuangnya ke sungai,” jelas Tatang saat menyampaikan pemaparannya dalam diskusi “Ikan-Ikan di Sungai Kita: Akan Bertahan-kah Kehidupannya” pada pelaksanaan acara Hello Nature 2015 di Jakarta, Sabtu (14/11).

Padahal, lanjutnya, berdasarkan jumlah jenis ikan air tawar, Indonesia berada pada peringkat tiga dunia dengan 1.155 jenis ikan air tawar. Di antara jenis yang dimiliki oleh Indonesia, ada sebanyak 440 ikan air tawar endemik.

Perairan sungai di Indonesia sendiri mempunyai karakter beragam, mulai dari hulu hingga hilir sungai. Salah satu karakter perairan sungai adalah kondisi kecepatan arus, kebeningan air dan kondisi substrat perairan seperti berbatu, berpasir dan berlumpur. Tatang menjelaskan bahwa dengan adanya beragam kondisi dan karakter perairan sungai ini, Indonesia pernah dikenal sebagai negara dengan kekayaan keanekaragaman ikan sungainya.

“Sudah seharusnya kita menjaga habitat flora dan fauna sungai kita karena kondisi perairan sungai di Indonesia sudah sangat memprihatinkan,” pungkasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/limbah-sebabkan-banyak-spesies-ikan-di-perairan-sungai-punah/feed/ 0
Waduk dan Situ di DKI Berstatus Memprihatinkan https://www.greeners.co/berita/waduk-dan-situ-di-dki-berstatus-memprihatinkan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=waduk-dan-situ-di-dki-berstatus-memprihatinkan https://www.greeners.co/berita/waduk-dan-situ-di-dki-berstatus-memprihatinkan/#respond Fri, 17 Jul 2015 10:50:18 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=10363 Jakarta (Greners) – Wilayah DKI Jakarta sesungguhnya memiliki potensi sumber daya air berupa sungai, waduk, danau atau situ dan air tanah yang luar biasa. Namun karena kurangnya kesadaran masyarakat, kondisi […]]]>

Jakarta (Greners) – Wilayah DKI Jakarta sesungguhnya memiliki potensi sumber daya air berupa sungai, waduk, danau atau situ dan air tanah yang luar biasa. Namun karena kurangnya kesadaran masyarakat, kondisi badan air yang awalnya merupakan cadangan air baku di Jakarta menjadi tidak layak lagi untuk dikonsumsi. Oleh karena itu, Pemprov DKI Jakarta gencar melakukan revitalisasi waduk dan situ di Jakarta.

Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta, Gamal Sinurat mengatakan, keberadaan waduk, danau atau situ di Provinsi DKI Jakarta sangat penting artinya bagi kelangsungan kehidupan di perkotaan. Waduk, danau atau situ ini mempunyai fungsi sebagai tempat cadangan air tanah disaat musim kemarau dan berfungsi sebagai pengendali banjir dimusim penghujan maupun pemanfaatan lainnya bagi kesejahteraan warga di sekitar situ.

“Provinsi DKI Jakarta sendiri berdasarkan hasil inventarisasi lapangan memiliki 74 waduk, danau atau situ. Berdasarkan uji kualitas, kondisinya masih memprihatinkan,” jelas Gamal, Jakarta, Selasa (14/07).

Berkurangnya kualitas dan kuantitas air di dalam waduk, danau atau situ sendiri tersebut, lanjut Gamal, dikarenakan kondisinya yang sudah banyak tercemar maupun beralih fungsi dalam pemanfaatannya.

Oleh karena itu, pemantauan kualitas air untuk situ dan waduk merupakan salah satu upaya yang digunakan untuk melihat kondisi kualitas situ dan waduk dari waktu ke waktu, serta menjadi dasar penentuan kebijakan Pemprov DKI Jakarta di dalam pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan situ dan waduk yang ada di DKI Jakarta.

Berdasarkan analisis yang mengacu pada kriteria penilaian kualitas situ dari Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2007, yang meliputi morfologi (penyusutan luasan situ, kedalaman situ, kedalaman muka air situ dan sempadan situ), kualitas air dan gulma air, diperoleh data kualitas situ di DKI Jakarta dengan status kualitas situ terganggu terjadi pada 15 situ. Situ terganggu yaitu kondisi dimana fungsi situ sebagai daerah penampungan aliran permukaan, peresapan air kurang optimal dan kualitas air situ tercemar sehingga tidak sesuai pemanfaatannya.

Di Jakarta Barat, yang termasuk situ terganggu yaitu Situ Bahagia dan Situ Rawa Kepa; di Jakarta Selatan yaitu Situ Rawa Ulujami, Situ Kalibata, Situ MBAU Pancoran, Situ Babakan dan Situ Bon Bin; di Jakarta Timur yaitu Situ Aneka Elok, Situ Kelapa Dua Wetan, Situ Rawa Dongkel, Situ Ria Rio, Situ Cibubur Jambore dan Situ Situ TMII; dan di Jakarta Pusat yaitu Situ Lembang dan Situ Taman Ria Senayan.

“Sedangkan untuk kualitas situ yang rusak terjadi pada tiga situ, yaitu kondisi dimana fungsi situ sebagai daerah penampungan aliran permukaan, peresapan air sudah rusak dan kualitas air situ tercemar berat sehingga tidak sesuai pemanfaatannya,” tukasnya.

Berdasarkan grafik Indeks Pencemaran (IP) Waduk/Situ di DKI Jakarta tahun 2014 yang dikeluarkan oleh BPLHD DKI Jakarta, kondisi kualitas lingkungan air situ di DKI Jakarta secara umum telah tercemar, yaitu dalam kategori tercemar sedang sampai dengan tercemar berat. Indeks Pencemaran terendah berada di Situ Ragunan Pemancingan dengan nilai IP sebesar 5,84 sedangkan nilai IP tertinggi berada di Situ Wijaya Kusuma dengan nilai IP 14,41.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/waduk-dan-situ-di-dki-berstatus-memprihatinkan/feed/ 0
Ratusan Siswa Pantau Kualitas Air Sungai Brantas https://www.greeners.co/berita/ratusan-siswa-pantau-kualitas-air-sungai-brantas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ratusan-siswa-pantau-kualitas-air-sungai-brantas https://www.greeners.co/berita/ratusan-siswa-pantau-kualitas-air-sungai-brantas/#respond Sat, 04 Oct 2014 01:05:07 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=6037 Malang (Greeners) – Sekitar 260 siswa dari 12 sekolah di Kota Malang, dan Kota Batu, memantau kualitas air Sungai Brantas dengan makro invertebrata. Titik pemantauan di lakukan di Sungai Brantas […]]]>

Malang (Greeners) – Sekitar 260 siswa dari 12 sekolah di Kota Malang, dan Kota Batu, memantau kualitas air Sungai Brantas dengan makro invertebrata. Titik pemantauan di lakukan di Sungai Brantas yang berada di belakang Balaikota Malang, JawaTimur, sepanjang sekitar 500 meter. Pemantauan ini dilakukan oleh Jaring-jaring Komunikasi Pemantauan Kualitas Air (JKPKA) Malang yang merupakan binaan Perum Jasa Tirta I.

Menurut Kepala Bagian Lingkungan Perum Jasa Tirta I, Inni Dian Rohani, pemantauan oleh JKPKA pada Jumat (03/10) lalu, serentak dilaksanakan seluruh anggota JKPKA di DAS Brantas dan DAS Bengawan Solo yang berada di tiga kota, yang meliputi Kota Malang, Kabupaten Jombang, dan Madiun.

“Kegiatan ini juga untuk mengenalkan kepada siswa secara langsung kondisi kualitas air di sekitar mereka dengan cara bioassesment,” kata Dian Rohani, di sela-sela kegiatan.

Ia menyebutkan, di Kota Malang banyak sekolah yang dibelakangnya merupakan sungai, sehingga dengan pengenalan ini bisa memberikan pengetahuan kepada mereka bagaimana kondisi air sungai di sekitar mereka. Dan, ketika diketahui bahwa kondisi air sungainya tercemar atau kotor, mereka bisa diajak peduli untuk turut melindungi dan menjaga agar kualitas air tetap bersih dan tidak tercemar.

“Secara umum kondisi hulu DAS Brantas kualitasnya baik, karena oksigen terlarutnya di atas baku mutu,” kata Dian.

Foto: greeners.co

Murid-murid SMA 7, Malang, turun langsung ke sungai untuk memantau pencemaran air melalui hewan-hewan yang hidup di sungai tersebut. Foto: greeners.co

Pihak Jasa Tirta sendiri secara rutin memantau kualitas air sungai di DAS Brantas dan DAS Bengawan Solo. Pemantauan berkala dilakukan mulai hulu, tengah, dan hilir, baik air sungai, air limbah industri, maupun air limbah domestik. Pemantauan air sungai, kata Dian, ada yang dilakukan satu bulan sekali, tiga bulan sekali, dan dua minggu sekali. “Pemantauan dilakukan di tempat-tempat yang sering terjadi pencemaran,” katanya.

Sedangkan pemantauan air limbah industri dan air limbah domestik, seperti rumah sakit, sanitasi dilaksanakan setiap tiga bulan sekali. Pemantauan yang sering dilaksanakan dilakukan di bagian hilir dan tengah karena banyak sekali berdiri industri di kawasan tersebut, terutama di Kali Surabaya.

Salah satu Pembina dari SMA 7, Tipuk Ujianti, menyatakan murid-muridnya diterjunkan ke sungai untuk memantau jenis hewan apa saja yang ditemukan sehingga nanti bisa dikelompokkan lalu diberi skor, kira-kira hewan-hewan tersebut masuk kategori yang sangat sensitif dengan pencemaran atau tidak.

“Siswa juga diminta mewawancarai warga yang tinggal di pinggir sungai mengenai perilaku mereka terhadap air sungai,” katanya.

Salah satu guru MAN 3 Malang, Mimik Sudarwati, menambahkan, selain pemantauan menggunakan makro zoo bentos, pemantauan dengan mengamati daerah bantaran sungai juga bisa dilakukan.

“Jika terlalu dekat dengan sungai dan dibuang ke sungai, jelas pasti tercemar air sungainya,” ujarnya.

Untuk itu, pengenalan pemantauan kualitas air sungai ini memang untuk mengajak para siswa lebih peduli terhadap air karena merupakan sumber daya yang sangat penting bagi manusia. Sejauh ini, kondisi DAS Brantas memang sudah tercemar mulai dari ringan, sedang, hingga berat. Untuk itu, perlu kepedulian semua pihak untuk ikut memperbaiki kualitas air sungai untuk tidak ikut mencemarinya.

(G17)

]]>
https://www.greeners.co/berita/ratusan-siswa-pantau-kualitas-air-sungai-brantas/feed/ 0