less waste event - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/less-waste-event/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 27 Apr 2026 13:14:41 +0000 id hourly 1 Bandung On Bike Kembali Hidupkan Semangat Bersepeda di Kota Bandung https://www.greeners.co/aksi/bandung-on-bike-kembali-hidupkan-semangat-bersepeda-di-kota-bandung/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bandung-on-bike-kembali-hidupkan-semangat-bersepeda-di-kota-bandung https://www.greeners.co/aksi/bandung-on-bike-kembali-hidupkan-semangat-bersepeda-di-kota-bandung/#respond Mon, 27 Apr 2026 13:14:41 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48402 Jakarta (Greeners) – Acara bersepeda Bandung On Bike sukses terselenggara pada Sabtu (25/4) di Balai Kota Bandung. Kegiatan ini menghadirkan pameran, talkshow, serta aktivitas bersepeda, sekaligus menerapkan konsep less waste […]]]>

Jakarta (Greeners) – Acara bersepeda Bandung On Bike sukses terselenggara pada Sabtu (25/4) di Balai Kota Bandung. Kegiatan ini menghadirkan pameran, talkshow, serta aktivitas bersepeda, sekaligus menerapkan konsep less waste event, termasuk penggunaan sistem guna ulang untuk makanan dan minuman.

Bandung On Bike menjadi ajang silaturahmi, edukasi, sekaligus selebrasi untuk menghidupkan kembali semangat bersepeda di Kota Bandung. Kegiatan ini juga membawa misi menciptakan kota yang sehat, masyarakat yang kuat, serta kehidupan yang lebih berkelanjutan.

Acara ini juga mengajak peserta menikmati Kota Bandung dari atas sepeda melalui dua opsi jalur, yakni jalur petualangan (trail adventure) 100 kilometer dan jalur lintas kota (city tour) 60 kilometer. Inisiatif ini juga menjadi bagian dari peringatan Hari Bumi 22 April, dengan mengintegrasikan olahraga bersepeda, upaya pencegahan polusi, serta penerapan konsep acara minim sampah.

Kegiatan ini diinisiasi oleh Bike to Work (B2W) Bandung bersama Greeners, serta didukung berbagai pihak, termasuk Diet Plastik Indonesia yang menerapkan protokol guna ulang tanpa kemasan sekali pakai. Pengelolaan sampah selama acara juga dilakukan bersama Ngadaur dan Plastavfall.

Ketua Pelaksana Bandung on Bike, Moch Andi Nurfauzi, mengatakan bahwa konsep ini diharapkan dapat memberikan dampak yang lebih luas. “Melalui konsep ini, kami berharap kegiatan bersepeda tidak hanya berdampak pada kualitas udara, tetapi juga mendorong pengelolaan sampah yang lebih baik di Kota Bandung,” ujar Andy di Bandung, Sabtu (25/4).

Ia menambahkan, sekitar 70–100 komunitas diundang dalam kegiatan ini, dengan kehadiran awal mencapai 500–600 peserta. Area parkir sepeda yang telah disediakan pun terlihat penuh.

“Hal ini menunjukkan bahwa budaya bersepeda di Bandung masih kuat dan akan terus berkembang menuju kota yang ramah sepeda,” tambahnya.

Bandung On Bike kembali hidupkan semangat bersepeda di Kota Bandung. Foto: Greeners.Co

Bandung On Bike kembali hidupkan semangat bersepeda di Kota Bandung. Foto: Greeners.Co

Perbaikan Infrastruktur

Sementara itu, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan juga mengapresiasi komitmen panitia dalam mengelola sampah secara bertanggung jawab selama acara berlangsung. Ia menyebut bahwa saat ini Kota Bandung masih menghadapi tantangan dalam mengelola sampah.

Di sisi lain, kini Pemerintah Kota Bandung tengah fokus melakukan pembenahan infrastruktur sebagai fondasi kota ramah pejalan kaki dan pesepeda.

“Mulai bulan ini kami akan melakukan perbaikan jalan secara merata untuk memastikan kualitas jalan di seluruh Kota Bandung, termasuk menyelesaikan galian-galian. Setelah itu, trotoar juga akan diperbaiki agar pejalan kaki merasa aman dan nyaman,” kata Farhan.

Menurutnya, prioritas utama pembangunan adalah keselamatan dan kenyamanan pejalan kaki sebagai kelompok paling rentan di jalan. Setelah itu, ia berkomitmen mengembangkan fasilitas yang lebih ramah bagi pesepeda.

Farhan juga mengakui bahwa membangun kota ramah sepeda tidak bisa dilakukan secara instan.  “Mengubah jalan yang sudah ada menjadi ramah pesepeda itu tidak semudah memberi garis hijau. Kami harus membereskan dulu persoalan dasar seperti galian jalan yang menjadi tantangan bagi pesepeda,” jelasnya.

Ia menambahkan, pemerintah membuka ruang dialog dengan komunitas sepeda, termasuk Bike to Work. Ruang dialog ini untuk memberikan masukan teknis terkait pembangunan jalur sepeda yang lebih aman dan terintegrasi.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/bandung-on-bike-kembali-hidupkan-semangat-bersepeda-di-kota-bandung/feed/ 0
Lebih dari Satu Dekade, Java Jazz dan Greeners Kerja Sama Kelola Sampah https://www.greeners.co/aksi/lebih-dari-satu-dekade-java-jazz-dan-greeners-kerja-sama-kelola-sampah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=lebih-dari-satu-dekade-java-jazz-dan-greeners-kerja-sama-kelola-sampah https://www.greeners.co/aksi/lebih-dari-satu-dekade-java-jazz-dan-greeners-kerja-sama-kelola-sampah/#respond Sun, 11 May 2025 03:00:05 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=46565 Jakarta (Greeners) – Di balik gemerlap panggung, dentuman musik, dan ribuan pengunjung yang memadati Java Jazz Festival setiap tahunnya, ada satu cerita menarik. Ini tentang komitmen menjaga lingkungan yang dimulai […]]]>

Jakarta (Greeners) – Di balik gemerlap panggung, dentuman musik, dan ribuan pengunjung yang memadati Java Jazz Festival setiap tahunnya, ada satu cerita menarik. Ini tentang komitmen menjaga lingkungan yang dimulai lebih dari satu dekade lalu bersama Greeners.

Komitmen menjaga lingkungan dengan upaya pengelolaan sampah itu dimulai oleh Greeners—sebuah media yang berfokus pada isu lingkungan dan sosial. Insiatif pengelolaan sampah di acara musik ini bermula pada tahun 2008, tepat saat Indonesia mengesahkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

Kala itu, Greeners mendapat tantangan dari salah satu staf kementerian untuk meneliti bagaimana pengeloaan sampah dalam event-event besar yang mengundang massa dalam jumlah masif.

Java Jazz Festival, yang terkenal sebagai salah satu festival musik terbesar di Indonesia dengan puluhan ribu pengunjung setiap tahunnya, menjadi objek pertama dari riset tersebut.

“Di tahun pertama, kami hanya melakukan observasi dan pembelajaran terhadap bagaimana festival ini beroperasi. Sampah dari acara musik itu timbulannya sangat besar, dan belum banyak yang memikirkan soal penanganannya secara serius,” ujar pelaku Less Waste Event dari Greeners, Syaiful Rochman.

Dari riset awal yang sederhana ini, kolaborasi antara Java Jazz Festival dan Greeners terus berkembang. Tahun demi tahun, pengalaman di lapangan mereka kumpulkan dan analisis. Akhirnya, pada tahun 2016, Greeners bersama Kementerian Lingkungan Hidup menerbitkan buku “Pedoman Pengelolaan Sampah pada Penyelenggaraan Acara”.

Buku ini menjadi referensi pertama di Indonesia yang membahas secara teknis dan praktis bagaimana event-event bisa lebih bertanggung jawab terhadap sampah yang mereka hasilkan.

Tak hanya berhenti di riset dan panduan, praktik pengelolaan sampah pun berlanjut di lapangan. Mulai dari menyediakan tempat sampah terpilah, membuat desain wadah yang edukatif dan menarik, hingga mengedukasi pengunjung lewat video yang tayang di seluruh layar panggung. Semuanya mereka lakukan secara konsisten dari tahun ke tahun.

Di balik gemerlap Java Jazz, ada komitmen lebih dari satu dekade Greeners dalam menjaga lingkungan dan mengelola sampah. Foto: Greeners

Di balik gemerlap Java Jazz, ada komitmen lebih dari satu dekade Greeners dalam menjaga lingkungan dan mengelola sampah. Foto: Greeners

Langkah Nyata Dimulai

Di balik kemeriahan Java Jazz Festival, ada perjalanan panjang mereka untuk berkomitmen mengelola sampah dengan benar di festivalnya.

Sebuah cerita yang berawal dari langkah sederhana di tahun 2009, ketika Greeners pertama kali membawa tempat sampah ke area festival. Jumlahnya belum banyak, namun langkah kecil ini menjadi awal dari gerakan besar yang terus tumbuh hingga hari ini.

Tahun demi tahun, komitmen itu berkembang. Puncaknya terjadi pada 2014, saat kolaborasi antara Greeners dan Java Jazz Festival kembali terjalin dengan lebih serius, berkat dukungan Presiden Direktur Java Festival Production, Dewi Gontha. Di tahun itulah pendekatan pengelolaan sampah mulai berubah. Bahkan, bukan hanya soal menyediakan wadah, tetapi juga soal mengubah cara pandang pengunjung terhadap sampah.

“Bagi kami di Java Jazz Festival, musik selalu menjadi ruang untuk menyatukan, menginspirasi, dan mengedukasi. Namun, kami juga menyadari bahwa penyelenggaraaan event musik tak lepas dari tanggung jawab lingkungan. Oleh karena itu, sejak awal kami berkomitmen untuk tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga edukasi bagi pengunjung festival tentang pentingnya menjaga lingkungan. Greeners hadir dengan semangat perubahan dan konsistensi sejak 2009, dan hal itu sejalan dengan nilai-nilai kami,” ujar Dewi Gontha.

Greeners mulai merancang desain tempat sampah yang unik dan edukatif agar menarik perhatian dan mendorong partisipasi aktif. Tak hanya itu, mereka juga membuat video edukasi tentang pentingnya memilah sampah yang tayang di layar-layar panggung Java Jazz Festival dan dibintangi oleh artis-artis ternama. Edukasi dikemas dengan cara yang seru, relevan, dan mudah dipahami, menjangkau ribuan pasang mata setiap harinya.

Di balik gemerlap Java Jazz, ada komitmen lebih dari satu dekade Greeners dalam menjaga lingkungan dan mengelola sampah. Foto: Greeners

Di balik gemerlap Java Jazz, ada komitmen lebih dari satu dekade Greeners dalam menjaga lingkungan dan mengelola sampah. Foto: Greeners

Pengelolaan Sampah Sistematis

Periode 2014 hingga 2018 menjadi titik penting. Sistem pengelolaan sampah mulai diterapkan secara sistematis. Sampah organik diolah menggunakan komposter menjadi kompos, sementara sampah non-organik disalurkan ke bank sampah atau pengepul. Greeners sebagai pihak yang mengelola sampah ini, memastikan tidak ada sampah hasil pemilahan yang tercampur kembali di belakang panggung.

Namun, perjalanan ini tentu tidak tanpa tantangan. Sebelum tahun 2018, desain tempat sampah kerap berubah, menggunakan bahan kayu, besi, dan lainnya. Karena penggunaannya hanya setahun sekali, banyak yang cepat rusak dan malah menciptakan sampah baru.

Maka dari itu, sejak 2018, Greeners memutuskan menggunakan tempat sampah guna ulang yang seragam berkapasitas 120 liter. Desainnya pun tetap dinamis. Label dan tampilannya berganti setiap tahun. Namun, wadah fisiknya tetap sama.

Seiring waktu, branding kampanye pengelolaan sampah di Java Jazz Festival turut berevolusi. Pada periode 2008–2014, gerakan ini terkenal dengan nama “Zero Waste Event”. Branding ini penting untuk mendorong penonton agar membuang sampah secara terpilah, sekaligus mengenalkan Java Jazz Festival sebagai acara musik yang memiliki komitmen terhadap lingkungan.

Namun, sejak 2014, pendekatannya lebih realistis dan inklusif. Inisiatif ini bernama “Less Waste More Jazz”—sebuah nama yang menggambarkan upaya mengurangi sampah tanpa mengurangi esensi festival itu sendiri.

Lalu, saat Java Jazz Festival mulai menghadirkan lebih banyak genre musik di luar jazz, branding kembali menyesuaikan. Mulai 2023, kampanye ini mengusung nama baru, “Less Waste More Music”, mencerminkan semangat yang lebih luas, inklusif, dan sesuai dengan wajah baru Java Jazz Festival.

Jenis Sampah dan Tantangan Edukasi

Tempat sampah terpilah yang Greeners sediakan pun terus berkembang. Awalnya hanya tersedia tiga jenis, yaitu organik, anorganik, dan residu. Namun, seiring waktu, kategori ini bertambah menjadi empat jenis, dengan penambahan sampah B3 (bahan berbahaya dan beracun) untuk mengakomodasi kebutuhan pengelolaan sampah yang lebih spesifik dan bertanggung jawab.

Syaiful melaporkan bahwa sampah yang paling mendominasi di Java Jazz adalah residu. Terutama dari area food and beverage seperti sedotan, sendok-garpu plastik, dan piring kertas berlapis plastik.

“Maka dari itu, Greeners kini mendorong penggantian material dengan yang lebih ramah lingkungan seperti kayu dan bambu,” ucapnya.

Selain itu, tantangan dalam pengelolaan sampah masih tetap ada. Meskipun tempat sampah yang tersedia sudah informatif dan edukatif, masih ada pengunjung yang membuang sampah tidak sesuai kategorinya.

Banyak pengunjung yang belum terbiasa memilah sampah dengan benar. Karena itu, kampanye dan edukasi terus Greeners gencarkan, terutama menyasar generasi baru pengunjung yang mungkin belum familiar dengan sistem pemilahan ini.

Kemudian, rata-rata volume sampah yang Greeners kelola di Java Jazz Festival ini mencapai 12–14 ton dalam 3 hari acara. Semuanya berhasil ditangani tanpa dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA). Sejak 2020, pengelolaan organik juga mulai melibatkan metode budidaya maggot dengan dukungan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta.

Java Jazz Festival yang berlokasi di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, menjalankan pengelolaan sampah secara kolaboratif. Dalam prosesnya, Greeners tidak bekerja sendiri. Mereka bermitra dengan Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Pusat untuk pengelolaan serta penyaluran sampah ke bank sampah di wilayah tersebut.

Setiap tahun, Greeners mencatat dan menimbang seluruh sampah yang masuk dan keluar dari area festival. Karena pemilahan di depan belum selalu sempurna, Greeners melakukan pemilahan ulang di posko belakang. Meskipun pencatatan masih secara manual, datanya detail dan menjadi dasar evaluasi tahunan dalam upaya perbaikan pengelolaan sampah ke depannya.

Dorong Perubahan Besar 

Direktur Penanganan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup, Novrizal Tahar mengapresiasi langkah Java Jazz bersama Greeners. Menurutnya, konsep less waste event ini adalah sesuatu yang relatif baru dalam pengelolaan sampah di Indonesia. 

“Apa yang sudah Java Jazz dan Greeners lakukan secara konsisten dan terus-menerus ini telah mendorong perubahan-perubahan besar di Indonesia. Memang belum menyeluruh, tapi langkah-langkah tersebut sudah terlihat dan perubahan-perubahan itu nyata terjadi di berbagai tempat, di berbagai event, termasuk juga pada event-event lari dan olahraga lainnya,” kata Novrizal. 

Saat ini, KLH juga sudah memiliki aturan pengelolaan sampah untuk acara-acara besar yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 27 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Sampah Spesifik. Kemudian, saat ini KLH sedang mennyiapkan surat edaran untuk pengelolaan 

“Draft surat edaran itu sudah ada dan sedang dalam proses pematangan. Mudah-mudahan bisa segera kami rilis ke publik. Dengan demikian, ini akan menjadi sebuah kebijakan yang harus dipatuhi oleh setiap penyelenggara event,” 

Novrizal menegaskan bahwa surat edaran ini nantinya bukan sekadar untuk imbauan, tetapi menjadi kewajiban mandatory—bagi para penyelenggara event untuk menerapkan praktik less waste.

Ia juga berharap ke depannya less waste event ini bisa terus meningkat. “Dari pelaksanaan pertama sampai sekarang tentu sudah banyak perubahan besar, dengan dukungan perubahan perilaku masyarakat dan konsumennya. Pesan saya, terus lakukan peningkatan dan inovasi supaya ke depannya bisa menjadi lebih baik lagi,” tambahnya. 

Harapan ke Depan

Selama 15 tahun berkolaborasi, itu bukanlah waktu yang sebentar. Namun, ada perjalanan panjang bagi Java Jazz Festival dan Greeners untuk berupaya bersama melakukan pengelolaan sampah, sebagai tanggung jawab terhadap lingkungan.

Syaiful pun mengapresiasi Java Jazz Festival yang sudah konsisten berkomitmen terhadap pengelolaan sampah dengan bijak ini. Menginjak 10 tahun kolaborasi intensif, Syaiful berharap Java Jazz Festival dan seluruh stakeholder semakin memperkuat komitmen terhadap pengelolaan lingkungan.

Menurut Syaiful, tanggung jawab pengelolaan sampah tidak hanya ada pada panitia penyelenggara, tetapi juga sponsor, tenant, bahkan pengunjung.

“Semua yang mendapatkan keuntungan dari event ini juga punya tanggung jawab menjaga lingkungannya,” ujar Syaiful.

Selama 15 tahun kolaborasi Java Jazz Festival dan Greeners ini telah membuktikan bahwa keberlanjutan bukan sekadar tren, melainkan komitmen jangka panjang. Di tengah hingar-bingar musik dan euforia ribuan pengunjung, mereka terus menunjukkan bahwa sebuah festival bisa tetap seru tanpa meninggalkan jejak lingkungan yang buruk.

Apa yang Java Jazz Festival dan Greeners lakukan menjadi bukti bahwa perubahan bisa kita mulai dari mana saja. Bahkan, dari balik panggung sebuah konser. Semangat ini tak berhenti di Java Jazz Festival saja. Namun, bisa menginspirasi lebih banyak penyelenggara acara di Indonesia untuk ikut bergerak menuju event yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Menurut Dewi, langkah kecil bersama Greeners telah membawa dampak besar bagi Java Jazz Festival. Ia berharap ke depannya pengelolaan lingkungan ini semakin matang, dengan semakin banyak yang dapat ditunjukkan dan dibagikan.

“Namun, perubahan sejati hanya akan tercapai jika ini bukan hanya menjadi tugas penyelenggara, tetapi menjadi tanggung jawab bersama,” tambah Dewi.

Dewi menegaskan bahwa pihaknya akan mengajak semua pihak yang terlibat dalam Java Jazz Festival, mulai dari artis, sponsor, dan partner untuk bersama-sama menjaga lingkungan festival. “Karena pada akhirnya, keberlanjutan bukan hanya tentang apa yang kita lakukan, tetapi apa yang kita hasilkan bersama,” tutup Dewi.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/lebih-dari-satu-dekade-java-jazz-dan-greeners-kerja-sama-kelola-sampah/feed/ 0
Perayaan Natal Nasional 2024 Hasilkan 3 Ton Sampah Terpilah https://www.greeners.co/berita/perayaan-natal-nasional-2024-hasilkan-3-ton-sampah-terpilah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=perayaan-natal-nasional-2024-hasilkan-3-ton-sampah-terpilah https://www.greeners.co/berita/perayaan-natal-nasional-2024-hasilkan-3-ton-sampah-terpilah/#respond Mon, 30 Dec 2024 06:48:43 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=45574 Jakarta (Greeners) – Perayaan Natal Nasional 2024, yang berlangsung pada Sabtu, 28 Desember 2024 di Indonesia Arena, Jakarta Pusat, berhasil menerapkan prinsip less waste event atau upaya minim sampah dengan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Perayaan Natal Nasional 2024, yang berlangsung pada Sabtu, 28 Desember 2024 di Indonesia Arena, Jakarta Pusat, berhasil menerapkan prinsip less waste event atau upaya minim sampah dengan mengimplementasikan sistem pemilahan. Hasil sampah yang terpilah pada acara ini mencapai 3 ton.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 1 ton sampah daur ulang, 280 kilogram sampah organik, dan 1,9 ton sampah residu. Dengan konsep pemilahan ini, acara yang dihadiri oleh 11.000 orang tidak hanya menjadi acara puncak perayaan Natal skala nasional, tetapi juga menunjukkan tanggung jawab sosial dan lingkungan.

Dalam mendorong upaya pemilahan ini, komunitas lingkungan Laudato Si’ Indonesia ikut mendorong upaya pemilahan sampah selama acara berlangsung. Mereka mengedukasi umat untuk membuang sampah sesuai dengan tempat sampah terpilah, serta berkeliling untuk menyadarkan umat akan pentingnya pemilahan sampah.

BACA JUGA: Pengelola Kawasan Perlu Tegas Kelola Sampah Tiap Tahun Baru

Tim Kerja Nasional Laudato Si’ Indonesia, Siska Gunawan, menyampaikan bahwa kehadiran Laudato Si’ untuk menggerakkan peserta acara agar lebih peduli dan sadar dalam memilah sampah.

“Hal itu sebetulnya cukup sederhana karena setiap kali kami hadir di event besar, pasti banyak sekali sampahnya. Maka dari itu, kami ingin mendorong kesadaran hal itu kepada umat,” kata Siska kepada Greeners, Senin (30/12).

Di samping itu, partisipasi Laudato Si’ dalam mendorong pemilahan sampah bukanlah yang pertama kalinya dalam acara besar ini. Sebelumnya, mereka juga turut hadir dalam Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik Nasional III tahun 2023. Bahkan, pada acara Misa bersama Paus Fransiskus, Laudato Si’ juga ikut serta.

Aksi bersih sampah dalam perayaan Natal Nasional 2024. Foto: Dini Jembar Wardani

Aksi bersih sampah dalam perayaan Natal Nasional 2024. Foto: Dini Jembar Wardani

Ratusan Relawan Berpartisipasi

Sebanyak 100 orang relawan dari komunitas ini ikut berpartisipasi. Mereka datang dari berbagai daerah, termasuk Bogor, Jakarta, dan Bandung. Ratusan relawan ini berkeliling sambil membawa trashbag untuk mengumpulkan sampah dari para umat setelah selesai makan. Mereka juga mengedukasi umat untuk menghabiskan makanannya dan membuang sampahnya sesuai dengan tempat sampah terpilah.

Siska mengatakan bahwa sebagian besar relawan yang hadir kali ini—sekitar 75 persen—merupakan teman-teman baru yang ikut serta dalam kegiatan pungut sampah bersama Laudato Si’. Maka dari itu, kegiatan ini sekaligus bisa memberikan pengalaman baru bagi mereka.

BACA JUGA: Tetap Hijau saat Rayakan Malam Tahun Baru

Ia berharap, setelah ratusan relawan ikut mendorong pemilahan sampah ini, mereka dapat terlibat lebih lanjut dan bergerak bersama untuk mendorong budaya pemilahan sampah di mana pun mereka berada.

“Jadi mereka sudah tahu nih, oh kalau misalnya ada sampah dari diri sendiri, sudah siap untuk memilah di kegiatan manapun yang mereka hadiri. Itu sih dari harapan saya, ada kesadaran itu dan bisa mengajak teman-teman mereka yang lain yang tidak terlibat juga menyadari hal itu dan bergerak bersama,” ujar Siska.

Aksi bersih sampah dalam perayaan Natal Nasional 2024. Foto: Dini Jembar Wardani

Aksi bersih sampah dalam perayaan Natal Nasional 2024. Foto: Dini Jembar Wardani

Gelar Aksi Ekologi

Dalam rangkaian Perayaan Natal Nasional 2024, sejumlah kegiatan lingkungan dan sosial telah terlaksana dengan sukses. Ketua Panitia Natal Nasional 2024, Thomas Djiwandono, mengungkapkan bahwa berbagai kegiatan ekologi, bakti sosial, dan seminar keagamaan telah terlaksana sebagai bagian dari perayaan tersebut.

Pada tanggal 15 Desember 2024, panitia menggelar aksi ekologi lintas agama yang melibatkan pemerintah dan masyarakat melalui gerakan Peduli Muara Gembong. Kegiatan ini berlangsung di kawasan pesisir Muara Gembong, Kabupaten Bekasi.

“Kegiatan itu mencakup beberapa aktivitas penting. Seperti penanaman mangrove, aksi bersih pantai, serta pemberian perahu karet untuk membantu masyarakat menghadapi banjir rob,” kata Thomas dalam sambutannya.

Selain itu, terdapat pula kegiatan tukar sampah dengan sembako. Kegiatan ini merupakan program inovatif hasil kerja sama dengan Bank Sampah Bersinar, sebuah lembaga nirlaba yang berbasis di Bandung.

Bagikan Paket Sembako

Pada kegiatan bakti sosial, panitia telah memberikan paket sembako di sejumlah wilayah Indonesia. Di Flores Timur, NTT, mereka memberikan sebanyak 427 paket sembako kepada korban bencana letusan Gunung Lewotobi. Mereka juga memberikan alat bantu disabilitas dan lansia di dua titik penerima manfaat.

Selanjutnya di Kota Manado, sebanyak 300 paket sembako dan 24 alat bantu disabilitas dan lansia disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Di Kabupaten Sukabumi, 150 paket sembako dan enam alat bantu disabilitas diberikan kepada masyarakat yang terdampak bencana. Sementara itu, di Kabupaten Timika dan Keuskupan Agats, Kabupaten Asmat, bantuan berupa 4.400 paket makanan tambahan, 50 kitab suci untuk Keuskupan Agats, dan tujuh alat bantu disabilitas untuk Rumah Sakit L.B. Moerdani di Timika turut disalurkan.

Thomas juga menjelaskan bahwa tema Natal tahun ini dicetuskan oleh Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Tema tersebut mengangkat simbol Betlehem, tempat kelahiran Yesus Kristus, yang mencerminkan kesederhanaan.

“Kesederhanaan menopang suatu harapan baru, harapan yang lebih baik,” ujarnya.

Melalui tema ini, Thomas berharap dapat mengajak umat Kristiani untuk merefleksikan nilai-nilai pengharapan, kesederhanaan, dan inklusivitas dalam kehidupan mereka.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/perayaan-natal-nasional-2024-hasilkan-3-ton-sampah-terpilah/feed/ 0
APMI Bakal Dorong Penyelenggara Acara Kelola Sampah selama Acara https://www.greeners.co/berita/apmi-bakal-dorong-penyelenggara-acara-kelola-sampah-selama-acara/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=apmi-bakal-dorong-penyelenggara-acara-kelola-sampah-selama-acara https://www.greeners.co/berita/apmi-bakal-dorong-penyelenggara-acara-kelola-sampah-selama-acara/#respond Mon, 23 Dec 2024 14:23:56 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=45504 Jakarta (Greeners) – Asosiasi Promotor Musik Indonesia (APMI) berkomitmen untuk mendorong penyelenggara acara mengadopsi pengelolaan sampah selama acara. Isu pengurangan sampah dalam acara musik atau less waste event ini telah […]]]>

Jakarta (Greeners) – Asosiasi Promotor Musik Indonesia (APMI) berkomitmen untuk mendorong penyelenggara acara mengadopsi pengelolaan sampah selama acara. Isu pengurangan sampah dalam acara musik atau less waste event ini telah dibahas bersama penyelenggara acara. Ke depannya, APMI berencana untuk terus mengembangkan prinsip ini.

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 27 tahun 2020 tentang Pengelolaan Sampah Spesifik, sampah hasil dari acara, termasuk sampah yang timbul secara tidak periodik, harus dikelola secara khusus. Sampah tersebut merupakan hasil dari kegiatan manusia yang tidak rutin dan dapat terjadi sewaktu-waktu, seperti pada acara besar. Oleh karena itu, penyelenggara acara wajib mengelola sampah ini dengan baik agar tidak berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Ketua APMI Dino Hamid mengatakan, pihaknya telah bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mengelola sampah acara dengan tujuan agar sampah tersebut dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk yang berguna.

Salah satu langkah dalam upaya pengurangan sampah ini adalah dengan mengelola sampah acara menjadi produk bermanfaat. Misalnya, mendaur ulang sampah dekorasi seperti banner menjadi merchandise guna ulang.

BACA JUGA: Synchronize Festival 2024 Gunakan Maggot untuk Olah Sisa Makanan

“Kami sudah memiliki rencana ke depan untuk terus mengembangkan hal ini. Jadi, kami menyambut baik adanya peraturan ini karena sesuai dengan pandangan kami,” ungkap Dino dalam wawancara dengan Greeners, Senin (23/12).

Dalam beberapa tahun terakhir, promotor musik yang tergabung dalam APMI sudah menerapkan prinsip less waste event di berbagai acara mereka. Misalnya, dengan pemilahan sampah, mengolah sampah menjadi energi, atau produk berbahan material yang bermanfaat. Beberapa acara besar yang terselenggara di bawah naungan APMI, seperti Synchronize Festival, Joyland Festival, dan Java Jazz Festival, sudah mengadopsi pengelolaan sampah yang ramah lingkungan.

APMI berkomitmen untuk mendorong penyelenggara acara mengadopsi pengelolaan sampah selama acara. Foto: Dini Jembar Wardani

APMI berkomitmen untuk mendorong penyelenggara acara mengadopsi pengelolaan sampah selama acara. Foto: Dini Jembar Wardani

Perluas Kolaborasi

Dino menambahkan, kolaborasi dengan berbagai pihak sangat penting untuk memperluas upaya pengelolaan sampah acara ini. Sebab, penyelenggara acara tidak bisa menjalankannya sendiri, mengingat pengelolaan sampah memerlukan investasi dan proses pengolahan yang tidak mudah.

“Proses ini membutuhkan pengembangan dari sampah yang awalnya hanya limbah, menjadi produk yang memiliki nilai dan memerlukan investasi,” jelas Dino

Di sisi lain, pengelolaan sampah event juga berpotensi menambah biaya bagi penyelenggara acara. Namun, Dino percaya bahwa biaya tersebut masih dapat terkelola dengan baik melalui kerja sama yang solid antara semua pihak terkait.

Penyelenggara Wajib Kelola Sampah

Direktur Penanganan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Novrizal Tahar mengungkapkan bahwa volume sampah non-periodik yang timbul dari acara besar cukup signifikan. Hal itu butuh penanganan yang serius.

Sampah yang timbul dari acara berskala besar, seperti acara musik atau olahraga, berpotensi menambah beban TPA karena volume sampah pada acara cukup besar. Apalagi, Indonesia sering menjadi tuan rumah berbagai kegiatan nasional maupun internasional yang berpotensi menghasilkan sampah dalam jumlah besar.

Ia berharap penyelenggara acara dapat mengelola sampah dengan baik untuk mengurangi dampaknya pada lingkungan. Menurutnya, prinsip less waste event ini menjadi solusi untuk mengurangi dampak negatif dari sampah acara.

BACA JUGA: Maggot Lumat 0,5 Ton Sampah Organik Java Jazz Festival 2023

Novrizal menekankan bahwa penyelenggara acara berperan sebagai aktor utama yang bertanggung jawab untuk mengelola sampah yang dihasilkan selama acara berlangsung.

“Penyelenggara acara wajib menerapkan less waste event. Melalui peraturan KLH ini, pengurangan sampah akan menjadi kewajiban bagi penyelenggara acara olahraga, musik, otomotif, dan lainnya,” jelas Novrizal.

Selain itu, Novrizal juga menyarankan penyelenggara acara untuk menggunakan konsep reusable (guna ulang) selama acara. Praktik ini mampu mengurangi jumlah sampah sejak dari sumber.

Namun, penerapan prinsip less waste event ini tidak tanpa tantangan. Dino menyebutkan bahwa mengelola sampah acara begitu kompleks, mulai dari perizinan hingga isu-isu lain yang muncul selama acara berlangsung. Tantangan tersebut memerlukan perhatian besar agar penyelenggara bisa mengelola sampah secara efektif.

Meski begitu, ia mengapresiasi beberapa promotor acara yang telah menerapkan pengelolaan sampah yang baik, meski memerlukan perhatian khusus. Dino berharap praktik baik ini dapat menjadi contoh bagi promotor lainnya untuk mengikuti langkah serupa.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/apmi-bakal-dorong-penyelenggara-acara-kelola-sampah-selama-acara/feed/ 0
Synchronize Festival 2024 Gunakan Maggot untuk Olah Sisa Makanan https://www.greeners.co/aksi/synchronize-festival-kembali-tunjukkan-komitmennya-terhadap-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=synchronize-festival-kembali-tunjukkan-komitmennya-terhadap-lingkungan https://www.greeners.co/aksi/synchronize-festival-kembali-tunjukkan-komitmennya-terhadap-lingkungan/#respond Wed, 28 Aug 2024 06:03:14 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=44599 Jakarta (Greeners) – Tahun ini, Synchronize Festival tidak hanya mempertegas posisinya sebagai etalase spektrum musik Indonesia, tetapi kembali menunjukkan komitmennya terhadap pelestarian lingkungan. Festival musik yang akan berlangsung pada 4, […]]]>

Jakarta (Greeners) – Tahun ini, Synchronize Festival tidak hanya mempertegas posisinya sebagai etalase spektrum musik Indonesia, tetapi kembali menunjukkan komitmennya terhadap pelestarian lingkungan. Festival musik yang akan berlangsung pada 4, 5, dan 6 Oktober di Gambir Expo Kemayoran ini bertekad untuk mengurangi dampak lingkungan dengan menerapkan pengelolaan sampah. Hal itu guna menekan jumlah timbulan sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Salah satu inisiatif penting pada pengelolaan sampah tahun ini adalah penggunaan maggot untuk mengolah sisa-sisa makanan. Dalam upaya ini, Synchronize Fest akan berkolaborasi dengan Greeners. Mereka juga akan menampilkan konsep operasi plastik dari Stuffo yang menjadi bagian dari upaya ini.

BACA JUGA: Maggot, Lihat Lebih Dekat Agar Tahu Khasiatnya

“Penggunaan maggot untuk mengolah sampah adalah langkah konkret dalam mengurangi sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA). Kami juga berencana untuk melakukan upcycling dengan mengubah sisa banner menjadi merchandise,” kata Direktur Festival Synchronize Fest, David Karto pada Press Conference Synchronize Festival 2024 ‘Together Bersama’ di Jakarta, Selasa (27/8).

Berdasarkan laporan pengelolaan sampah dari tahun-tahun sebelumnya, festival ini berhasil mengurangi timbulan sampah sebesar 35% dari tahun 2022 ke 2023. Penggunaan botol plastik kemasan sekali pakai juga mengalami penurunan sebanyak 53%. Pada tahun 2023, Synchronize Fest berhasil menurunkan jumlah sampah residu yang dibuang ke TPA sebanyak 30,58% dibandingkan tahun 2022.

Synchronize Festival berkomitmen menjaga lingkungan. Foto: Dini J. Wardani

Synchronize Festival berkomitmen menjaga lingkungan. Foto: Dini J. Wardani

Mengedepankan Kebersamaan dan Ekspresi Budaya

Sejak pertama kali digagas, festival ini bertujuan untuk membangun kesadaran kolektif dalam merayakan musik Indonesia dan menjadikannya sebagai tuan rumah di negeri sendiri. Pada tahun ini, Synchronize Fest akan membawa tema ‘Together Bersama’.

David mengungkapkan bahwa tema ‘Together Bersama’ di tahun ini merupakan simbol dari upaya bersama dalam mendukung ekosistem kreatif di Indonesia serta masyarakat dunia.

“Tema besar tahun ini menjadi amplifikasi kita semua untuk saling bergandengan tangan dan mendukung ekosistem kreatif di Indonesia,” ujar David.

BACA JUGA: Lalat Tentara Hitam, Prajurit Bersayap Pengolah Sampah Organik

Melalui semangat kebersamaan, Synchronize Fest merayakan dan menerjemahkan relevansi budaya kreatif dan musik Indonesia hari ini dengan menjadi wadah ekspresi yang dapat melebur sesuai zaman.

Artist dan Repertoire Synchronize Fest, David Tarigan menambahkan bahwa salah satu highlight dari festival tahun ini adalah kehadiran musisi-musisi internasional. Musisi tersebut terkenal mengangkat narasi identitas musik Indonesia melalui karya-karyanya.

“Selain menyajikan 14 pertunjukan spesial, kami menghadirkan beberapa musisi luar negeri. Mereka ialah musisi yang selama ini karya-karyanya terkenal yang kental dengan narasi keindonesiaan. Harapannya, kehadiran mereka bisa membawa sudut pandang yang lebih luas. Khususnya tentang musik Indonesia dan bagaimana pengaruhnya pada komunitas musik global,” kata David.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/synchronize-festival-kembali-tunjukkan-komitmennya-terhadap-lingkungan/feed/ 0
Didaur Ulang, Sampah Karton Bekas di Java Jazz Festival Tak Bebani TPA https://www.greeners.co/berita/didaur-ulang-sampah-karton-bekas-di-java-jazz-festival-tak-bebani-tpa/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=didaur-ulang-sampah-karton-bekas-di-java-jazz-festival-tak-bebani-tpa https://www.greeners.co/berita/didaur-ulang-sampah-karton-bekas-di-java-jazz-festival-tak-bebani-tpa/#respond Tue, 06 Jun 2023 06:21:36 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=40338 Jakarta – Perhelatan Java Jazz Festival pada 2-4 Juni 2023 telah usai. Festival musik yang mengusung konsep pemilahan sampah (Less Waste More Jazz) menghasilkan timbulan sampah mencapai 9.051 kg atau […]]]>

Jakarta – Perhelatan Java Jazz Festival pada 2-4 Juni 2023 telah usai. Festival musik yang mengusung konsep pemilahan sampah (Less Waste More Jazz) menghasilkan timbulan sampah mencapai 9.051 kg atau sekitar 9 ton sampah. Di antara berbagai jenis sampah, karton bekas kemasan minuman yang terpilah juga ikut didaur ulang.

Upaya ini menjadi salah satu komitmen produsen, penyelenggara event dan konsumen untuk bersama-sama menjaga Bumi tetap lestari.

Hal ini juga sejalan dengan tema Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 5 Juni 2023, Solusi Untuk Polusi Plastik #BeatPlasticPollution.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menekankan momen ini penting untuk menggugah, menumbuhkan serta meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap pelestarian lingkungan.

Sementara itu, lebih dari 10 tahun, Java Jazz Festival menerapkan less waste berkolaborasi dengan para mitra salah satunya Tetra Pak dan Greeners.

Salah satu tim Less Waste dari Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Rahmat menilai, pemilahan sampah tahun ini semakin baik. Sebaran titik tempat sampah terpilah juga semakin banyak. Apalagi timbulan sampah event tahun ini lebih besar dari pada tahun lalu.

Apresiasi juga datang dari penonton asal Jakarta, Sinta. Menurutnya, dengan adanya tempat sampah terpilah ia merasa terbantu dan teredukasi.

“Pemilahan sampah penting banget agar setelah itu bisa dikelola sesuai jenisnya,” imbuhnya.

Pemilahan Sampah Java Jazz Festival Tak Bebani TPA

Dalam program ini, sampah yang event hasilkan dipilah sehingga bisa didaur ulang dan tidak sepenuhnya membebani tempat pembuangan akhir (TPA). Sebanyak 50 tempat sampah terpilah tersebar di berbagai titik lokasi Java Jazz Festival 2023.

Koordinator Less Waste More Jazz, Reynaldi Sunaryo mengungkapkan, adanya less waste di sebuah event dengan menyediakan tempat sampah terpilah bisa memudahkan pengelolaan sampah selanjutnya, hingga sampah tidak berakhir di TPA.

“Dengan adanya pemilahan sampah di acara besar seperti ini sampah menjadi mudah untuk dikelola lebih lanjut. Misal ada yang kita berikan ke pihak daur ulang dan berpeluang menjadi sirkular ekonomi,” katanya.

Data tim Less Waste More Jazz menunjukkan, total sampah Java Jazz Festival 2023 mencapai 9.051 kg atau sekitar 9 ton. Hari pertama ada 2,2 ton, hari kedua 3,3 ton dan hari ketiga 2,98 ton.

Sampah itu terdiri dari sampah organik, plastik, kertas, residu, botol plastik dan kemasan karton bekas minuman (Tetra Pak). Lalu untuk sampah karton bekas minuman (Tetra Pak) totalnya 3,5 kg. Sementara itu timbulan sampah kertas mencapai 1.014,5 kg atau 1 ton.

Reynaldi mengungkapkan, sampah Tetra Pak ini masuk ke tempat daur ulang. Nantinya produk daur ulangnya ada dua yakni produk kertas daur ulang dan produk aluminium composite.

“Daur ulang akan dilakukan pihak ketiga binaan produsen,” imbuhnya.

Produk hasil daur ulang kemasan pascakonsumsi Tetra Pak. Foto: Tetra Pak

Komitmen Tetra Pak untuk Lingkungan Lestari

Tetra Pak adalah perusahaan global terkemuka yang bergerak di bidang pemrosesan dan pengemasan makanan dan minuman. Mereka bermitra erat dengan pelanggan dan pemasok menyediakan produk yang aman, inovatif, berwawasan lingkungan dan berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan ratusan juta orang di lebih dari 160 negara di seluruh dunia.

Upaya Tetra Pak mendaur ulang sampah kemasan dari event ini juga menjadi salah satu komitmen tersebut. Dari awal proses produksi kemasan, Tetra Pak juga memastikan bahan baku kertas kartonnya berasal dari hutan lestari dan tersertifikasi Forest Stewardship Council® (FSC®).

Tahun 2005 Tetra Pak Indonesia mulai mengembangkan infrastruktur pengumpulan kemasan karton bekas minuman. Sampai dengan tahun 2022, upaya pengumpulan kemasan pascakonsumsi ini telah berkembang dengan bermitra dengan banyak aggregator pengumpul di Jawa dan Bali.

Mereka memastikan kemasan karton pascakonsumsi dari masyarakat dikumpulkan secara terpilah dan dikelola untuk kemudian dikirim ke pabrik daur ulang.

Mitra pabrikan daur ulang sampah kemasan telah berkembang di Tangerang, Mojokerto, Pasuruan dan Kudus yang mendaur ulang kemasan karton bekas minum dari bagian kertasnya dan polimer aluminumnya.

Mereka pun telah berhasil mengedukasi lebih dari 80.000 konsumen tentang pemilahan kemasan bekas sejak dari sumbernya.

Penulis/Editor  : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/didaur-ulang-sampah-karton-bekas-di-java-jazz-festival-tak-bebani-tpa/feed/ 0
Maggot Lumat 0,5 Ton Sampah Organik Java Jazz Festival 2023 https://www.greeners.co/berita/maggot-lumat-05-ton-sampah-organik-java-jazz-festival-2023/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=maggot-lumat-05-ton-sampah-organik-java-jazz-festival-2023 https://www.greeners.co/berita/maggot-lumat-05-ton-sampah-organik-java-jazz-festival-2023/#respond Mon, 05 Jun 2023 06:49:05 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=40317 Jakarta (Greeners) – Ada yang berbeda di program Less Waste More Jazz pada perhelatan Java Jazz Festival 2023. Untuk pertama kalinya, maggot atau belatung mereka libatkan untuk melumat semua sampah […]]]>

Jakarta (Greeners) – Ada yang berbeda di program Less Waste More Jazz pada perhelatan Java Jazz Festival 2023. Untuk pertama kalinya, maggot atau belatung mereka libatkan untuk melumat semua sampah organik yang penonton hasilkan. Sebanyak 521 kg atau 0,521 ton sampah organik sisa makanan maggot “sikat habis”.

Java Jazz Festival 2023 yang berlangsung 2-4 Juni 2023 telah rampung. Total timbulan sampahnya mencapai 9.051 kg atau sekitar 9 ton. Lebih dari 10 tahun, Java Jazz Festival menerapkan less waste berkolaborasi dengan Greeners.

Artinya, ada pemilahan sampah sehingga timbulan sampah yang event ini hasilkan bisa didaur ulang dan tidak sepenuhnya membebani tempat pembuangan akhir (TPA).

Sebanyak 50 tempat sampah terpilah tersebar di berbagai titik lokasi festival musik mereka tahun ini. Menariknya, maggot juga ikut menyukseskan Less Waste More Jazz ini. 

Maggot adalah larva berupa ulat dari lalat tentara hitam atau Black Soldier Fly (BSF). Larva ini dalam siklus hidupnya membutuhkan makanan seperti sampah organik. Dengan cara ini sampah organik tidak menjadi timbulan sampah di TPA yang bisa meningkatkan gas metana dan emisi karbon.

Tim Maggot Dinas Lingkungan Hidup Kemayoran Jakarta, Nur Ahmad mengatakan, maggot ini tentunya menarik. Sebab sebagian orang belum mengetahui peran maggot dalam mengurangi sampah organik hingga dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

“Hal yang menarik pada JJF tahun ini yaitu menampilkan maggot. Ini bisa jadi edukasi buat pengunjung tentang adanya maggot, mereka biar tahu tentang manfaat maggot,” kata Ahmad kepada Greeners baru-baru ini.

Suasana proses pemilahan sampah. Foto: Greeners/Stanly Pondaag

Sukses Terapkan Pemilahan Sampah

Tak banyak berbeda dari tahun sebelumnya, pada tahun ini pemilahan sampah terbagi menjadi lima kategori yaitu organik, recycle, residu, bahan berbahaya beracun (B3), dan kertas. Dalam waktu tiga hari, sampah yang paling banyak terkumpul yaitu jenis sampah residu.

Koordinator Less Waste More Jazz, Reynaldi Sunaryo mengungkapkan, adanya less waste di sebuah event dengan menyediakan tempat sampah terpilah bisa memudahkan pengelolaan sampah selanjutnya, hingga sampah tidak berakhir di TPA.

“Dengan adanya pemilahan sampah di acara besar seperti ini sampah menjadi mudah untuk dikelola lebih lanjut. Misal ada yang kita berikan ke pihak daur ulang dan berpeluang menjadi sirkular ekonomi,” tuturnya.

Data tim Less Waste More Jazz menunjukkan, total sampah Java Jazz Festival 2023 mencapai 9.051 kg atau sekitar 9 ton. Hari pertama ada 2,2 ton, hari kedua 3,3 ton dan hari ketiga 2,98 ton. Sampah itu terdiri dari sampah organik, plastik, kertas, residu, botol plastik dan kemasan karton bekas minuman (Tetra Pak).

Less waste information center. Foto: Greeners/Dwi Herawati

Penonton Java Jazz Festival 2023 Teredukasi 

Dari upaya ini, Java Jazz Festival juga secara tidak langsung telah mengedukasi pengunjung untuk memilah sampah. Salah satu pengunjung, Angel menilai, dengan adanya tempat sampah terpilah dirinya menjadi teredukasi.

“Dengan adanya pemilahan jadi merasa terbantu untuk tahu sampah yang mau dibuang ini masuknya dalam jenis apa. Selain itu juga jadi teredukasi buat diri sendiri dengan melihat informasi atau petunjuk di tempat sampah,” ucap Angel.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/maggot-lumat-05-ton-sampah-organik-java-jazz-festival-2023/feed/ 0
Konser Tak Ramah Lingkungan Tingkatkan Emisi dan Sampah https://www.greeners.co/berita/konser-tak-ramah-lingkungan-tingkatkan-emisi-dan-sampah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=konser-tak-ramah-lingkungan-tingkatkan-emisi-dan-sampah https://www.greeners.co/berita/konser-tak-ramah-lingkungan-tingkatkan-emisi-dan-sampah/#respond Wed, 02 Nov 2022 06:44:45 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=37850 Jakarta (Greeners) – Dua tahun senyap imbas pandemi Covid-19, gelaran konser musik bergeliat lagi. Sayangnya konser yang tidak ramah lingkungan hanya akan meningkatkan timbulan sampah dan emisi karbon. Direktur Eksekutif […]]]>

Jakarta (Greeners) – Dua tahun senyap imbas pandemi Covid-19, gelaran konser musik bergeliat lagi. Sayangnya konser yang tidak ramah lingkungan hanya akan meningkatkan timbulan sampah dan emisi karbon.

Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Safruddin menyatakan, pentingnya konser berkonsep ramah lingkungan untuk menekan dampak lingkungan. Ia menyebut, jumlah emisi (CO2) dan pencemaran udara dari konser sangat besar.

Terutama berasal dari arus lalu lintas pengunjung konser dan penggunaan genset Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) pemasok listrik. “Hingga saat ini tidak ada kesadaran event organizer maupun pemrakarsa penyelenggaraan konser rendah emisi,” katanya kepada Greeners, Selasa (1/11).

Misalnya, melarang pengunjung membawa mobil dan sepeda motor dan menyediakan alternatif penyediaan shuttle bus. Alternatif lain yakni memanfaatkan fasilitas umum dan berjalan kaki serta bersepeda menuju lokasi. Selain itu, penyelenggaraan konser sebaiknya tidak memakai genset, tapi listrik PLN yang berasal dari renewable energy.

Tak hanya soal energi, lelaki yang akrab disapa Puput ini menambahkan, saat ini tidak ada kesadaran event organizer atau pemrakarsa konser maupun pengunjung untuk menjaga kedisiplinan penempatan sampah. Padahal harusnya, event besar seperti konser harus menjadi gerakan konser ramah lingkungan dan menyadarkan banyak lapisan masyarakat.

“Berharap low emission concert, zero emission concert, zero waste concert adalah impossible saat ini. Gerakan konser ramah lingkungan hanya bermakna sebagai ajang kampanye kepedulian lingkungan,” ucap Puput.

Sulit Konser di Indonesia Terapkan

Pandangan senada datang dari pengamat persampahan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Enri Damanhuri. Menurutnya, saat ini banyak kegiatan yang ada di Indonesia yang sudah menerapkan tertib tidak menghasilkan sampah. Seperti misalnya membawa tumbler dan melarang penyediaan air mineral dengan kemasan.

“Akan tetapi hal ini sulit kalau diterapkan dalam konser di Indonesia. Terlebih disertai penonton yang berjubel melebihi kapasitas,” imbuhnya.

Java Jazz Festival (JJF) 2022 yang berlangsung 27-29 Mei 2022 lalu merupakan salah satu konser yang menerapkan konsep less waste. Hal ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah. Dalam UU itu mengatur harus adanya pengelolaan sampah dalam sebuah kegiatan acara.

Tim less waste merampungkan pemilahan sampah dari tempat sampah terpilah di event Java Jazz. Foto: Greeners

Kampanyekan ke Generasi Muda

Menanggapi hal ini, Direktur Penanganan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Novrizal Tahar mengatakan, acara-acara besar kerap kali mengundang pengunjung dan memiliki potensi besar menghasilkan sampah. Bila sampah tak terkelola dengan baik maka berdampak serius pada lingkungan.

“Oleh karena itu, langkah menyuarakan upaya minim sampah dalam masyarakat penting kita lakukan secara konsisten. Misalnya, mendorong belanja tanpa kemasan dan diganti dengan tempat belanja, menghabiskan makanan, serta mengurangi penggunaan barang-barang sekali pakai,” paparnya.

Kedua, persoalan sampah merupakan persoalan serius yang berkaitan dengan kesadaran perilaku publik. KLHK, mewakili pemerintah sambung Novrizal akan terus berkontribusi mendorong kesadaran perilaku minim sampah melalui berbagai acara-acara. Seperti Java Jazz yang lekat dengan generasi milenial.

“Saya berharap apa yang kami kampanyekan, khususnya pada generasi muda di sini akan berdampak luas ke masyarakat,” imbuhnya.

Berdasarkan data Greeners Java Jazz Festival tahun 2020 menghasilkan sampah plastik 1,1 ton dan 3,1 ton untuk jenis sampah daur ulang. Sementara jumlah total JJF 2022 sebanyak 6.250 kg atau hampir 6,25 ton. Sampah tim pilah dan daur ulang.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/konser-tak-ramah-lingkungan-tingkatkan-emisi-dan-sampah/feed/ 0
Java Jazz Festival 2022 Hasilkan 6,25 Ton Sampah Terpilah https://www.greeners.co/berita/java-jazz-festival-2022-hasilkan-625-ton-sampah-terpilah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=java-jazz-festival-2022-hasilkan-625-ton-sampah-terpilah https://www.greeners.co/berita/java-jazz-festival-2022-hasilkan-625-ton-sampah-terpilah/#respond Mon, 30 May 2022 07:58:52 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=36314 Jakarta (Greeners) – Suksesnya ‘Less Waste More Jazz’ dalam Java Jazz Festival 2022 pada 27-29 Mei 2022 patut diapresiasi. Event ini harus menjadi contoh dan menularkan konsep minim sampah di […]]]>

Jakarta (Greeners) – Suksesnya ‘Less Waste More Jazz’ dalam Java Jazz Festival 2022 pada 27-29 Mei 2022 patut diapresiasi. Event ini harus menjadi contoh dan menularkan konsep minim sampah di konser musik dan acara besar lainnya.

Java Jazz Festival menjadi bukti sebuah acara yang tak sekadar mencari keuntungan semata. Akan tetapi punya tanggung jawab secara sosial dan lingkungan.

Penanggungjawab ‘Less Waste More Jazz’ Java Jazz 2022 Syaiful Rochman menyebut, Java Jazz Festival 2022 harus menjadi momentum kebangkitan event yang punya tanggung jawab sosial dan lingkungan.

Melandainya pandemi Covid-19 membuat Java Jazz Festival ibarat oase baru penikmat musik di tanah air. “Seharusnya pandemi Covid-19 lalu memberikan pembelajaran penting, khususnya bagi pembuat event lebih bertanggung jawab,” kata Syaiful di Jakarta, Minggu (29/5).

Ia menjelaskan, pengelolaan sampah tak terpisah dari event. Pasalnya, pengelolaan sampah merupakan bagian dari pengelolaan lingkungan itu sendiri sehingga nantinya berdampak ke lingkungan dan masyarakat sekitar. Hal ini menjadi tanggung jawab pembuat event.

Gerakan less waste atau minim sampah dalam Java Jazz Festival 2022 berkomitmen penuh untuk mengelola sampah yang ajang musik tahunan ini hasilkan. Adapun jumlah total sampah dari 27-29 perhelatan tersebut yaitu sebanyak 6.250 kg atau hampir 6,25 ton.

“Terbukti konsep ini kontribusi mengurangi beban sampah di TPA. Kita bisa mengurangi sampah, khususnya organik dan daur ulang untuk kita salurkan ke pihak-pihak yang berkompeten mengelola itu. Akhirnya kita bisa menyelamatkan dampak lingkungan,” imbuhnya.

Pengelolaan Lingkungan Dalam Sebuah Event Perlu Dapat Prioritas

Menurut Syaiful, pengelolaan lingkungan dalam sebuah event bukan hal baru lagi, utamanya pada gelaran-gelaran berskala internasional. Hanya saja, di Indonesia yang beberapa waktu lalu benar-benar melaksanakan penuh hanya Asian Games.

“Dalam gelaran Asian Games tak hanya sampah yang dipastikan pengelolaannya. Bahkan juga memperhatikan dampak ekologis penyelenggaraan event terhadap situs-situs lokal dan situs alamnya,” papar Syaiful.

Kendati Java Jazz Festival belum menerapkan parameter tersebut secara penuh, tapi perlu komitmen yang kuat agar konsep less waste ini bisa terimplementasi secara berkelanjutan. Ia menyebut, tantangan paling utama justru berada pada kesadaran pihak-pihak penyelenggara event akan dampak lingkungan yang mereka hasilkan.

“Mereka kebanyakan masih berpikir bahwa pengelolaan lingkungan ini menambah beban. Padahal ini tanggung jawab. Artinya tentu saja mereka tak sekadar mampu menyediakan tempat, artis, hingga logistik, tapi juga cost untuk pengelolaan lingkungan itu harusnya ada juga,” ungkapnya.

Penyelenggara event sangat bisa bermitra dengan pihak ketiga untuk memastikan tanggung jawabnya terhadap lingkungan dan sosial.

Tempat sampah terpilah tersedia di sejumlah titik lokasi perhelatan Java Jazz Festival. Foto: Greeners

Tularkan Less Waste Java Jazz Festival 2022 ke Berbagai Event Lainnya

Syaiful pun berharap konsep ‘Less Waste More Jazz’ dalam Java Jazz Festival ini mendorong pengelolaan sampah di berbagai event menerapkan hal serupa.

Dari event Java Jazz itu, tim Less Waste More Jazz memilah sampah yang pengunjung buang di tempat sampah terpilah. Sampah tersebut tim salurkan ke pengelola sampah.

Sementara itu pakar lingkungan dari Universitas Indonesia Mahawan Karuniasa menyebut, sampah sebuah event hasilkan sangat berpotensi menambah jumlah timbulan sampah di TPA. Ia menekankan agar pihak penyelenggara event mampu menerapkan aturan pada pengunjung.

“Misalnya dengan pengetatan aturan agar pengunjung hadir membawa botol minuman sendiri. Lalu tidak boleh bawa tas plastik, hingga dipersilakan membawa tas belanja sendiri untuk bekal makanan. Itu harus ketat dilakukan dalam event-event besar,” katanya.

Hal lain yang tak kalah penting yaitu tata kelola sampah yang event tersebut hasilkan. Ia menyatakan pentingnya tempat sampah terpilah agar pengunjung dapat memilah sampahnya, seperti sampah organik, sampah residu hingga daur ulang.

“Selain itu penyelenggara event juga harus memikirkan untuk memiliki tempat pemrosesan sampah sendiri dalam skala besar sehingga tak menimbulkan beban ke TPA,” tandasnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/java-jazz-festival-2022-hasilkan-625-ton-sampah-terpilah/feed/ 0
Tahura Trail Running Race 2019: Berlari untuk Lingkungan https://www.greeners.co/aksi/tahura-trail-running-race-2019-berlari-untuk-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tahura-trail-running-race-2019-berlari-untuk-lingkungan https://www.greeners.co/aksi/tahura-trail-running-race-2019-berlari-untuk-lingkungan/#respond Sun, 20 Jan 2019 05:14:12 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=22383 Kegiatan tahunan Tahura Trail Running Race kembali diadakan untuk ketujuh kalinya pada tanggal 18-19 Januari 2019. Perlombaan lari bentang alam ini sekaligus juga menjadi pembuka bagi Asian Master Series di tahun 2019.]]>

Bandung (Greeners) – Kegiatan tahunan Tahura Trail Running Race kembali diadakan untuk ketujuh kalinya pada tanggal 18-19 Januari 2019. Perlombaan lari bentang alam ini sekaligus juga menjadi pembuka bagi Asian Master Series di tahun 2019. Tidak jauh berbeda dari tahun lalu, terdapat lima kategori yang dilombakan, yaitu marathon trail 42k, half marathon trail 21k, long course 17k, short course 10k, serta family yang bisa diikuti hingga empat anggota keluarga. Setiap nomor melewati jalur yang berbeda dengan tingkat kesulitan yang bervariasi.

Pada kategori marathon trail 42k, pelari menghadapi tanjakan dengan perbedaan elevasi hingga 1.549 melewati Puncak Bintang. Kategori half-marathon 21k, pelari dimanjakan oleh pemandangan yang indah ketika melewati Tebing Keraton. Pada long course 17k, bersilang jalan dengan para pesepeda di Warung Bandrek dan pada short course 10k, melewati pemukiman warga menikmati keramahan masyarakat Bandung khusus untuk family course, disediakan pos air di beberapa titik.

Muhammad Affindi Bin Nudin, pelari asal Malaysia, berhasil menyelesaikan perlombaan dalam waktu 4 jam 27 menit 40 detik sekaligus meraih podium pertama pada kategori Open 42k marathon course. Tahura Trail Running Race ini adalah kali pertama baginya mengikuti lomba lari bentang alam di Bandung dan ia mengaku menikmati jalur lari yang ditempuh.

Race kali ini cukup seronok (bagus) ya, tanjakan tidak terlalu tinggi namun downhill sangat menantang karena cukup panjang, licin dan banyak terdapat batu-batu besar di trek yang harus dilalui,” terang Taufik.

Meskipun tidak ada perubahan pada jalur dan kategori perlombaan, animo masyarakat terhadap perlombaan ini jauh lebih besar dibanding tahun lalu. Hal ini dikatakan oleh Taufik Hidayat, ketua penyelenggara Tahura Trail Running Race 2019.

“Iya, terjadi peningkatan peserta. Tahun ini peserta mencapai 2.740 orang yang datang dari seluruh Indonesia dan sekitar 26 negara,” ujar Taufik.

tahura trail running race

Foto: greeners.co/Gede Surya Marteda

Kurangi Sampah, Jaga Tahura

Tahura Trail Running Race bukan hanya sekadar ajang berlari sambil menikmati alam karena selalu ada misi yang dibawa disetiap perhelatannya. Selain komitmen menumbuhkan kesadaran untuk menanam pohon dengan kampanye “1 Pelari, 1 Pohon”, tahun ini penyelenggara acara juga mengedukasi peserta dan penonton Tahura Trail Running Race akan pentingnya kesadaran tentang sampah dan kebersihan selama penyelenggaraan kegiatan.

Kegiatan edukasi pemilahan sampah ini merupakan kerjasama bersama Greeners.co untuk mewujudkan kegiatan yang minim sampah (less waste event). Pada saat diwawancarai oleh tim Greeners.co, koordinator program Less Waste Event Aris Yunanto menjelaskan bahwa ini adalah kali pertama Tahura Trail Running Race menerapkan konsep minim sampah.

Ada empat personel yang diturunkan untuk mengelola sampah dan mengedukasi pengunjung. Beberapa area yang dipantau oleh tim Less Waste Event yaitu area panggung, stan produk, pengambilan race pack, stan kuliner, dan gerbang start-finish.

Aris mengatakan, dalam pelaksanaan program Less Waste Event, Less Waste Project bekerjasama dengan Bank Sampah Hijau Lestari untuk mengelola sampah yang bisa didaur ulang. “Potensi sampah yang paling banyak adalah botol plastik sekali pakai dan plastik-plastik bekas kemasan race pack,” jelas Aris.

Menurut data yang dikumpulkan tim Less Waste Event, total sampah yang ditimbulkan selama dua hari pelaksanaan acara mencapai 130 kg dengan 81,72 kg merupakan sampah daur ulang, 13,8 kg sampah sisa makanan dan 34,89 kg sampah residu. Melalui pengelolaan yang baik maka potensi pengurangan sampah yang dibuang ke TPA mencapai 62,6%.

Meskipun pengurangan sampah sudah cukup besar, Aris mengatakan bahwa ke depannya masih bisa lebih baik lagi apabila ada kurasi tenant dan kesepakatan atau aturan untuk menggunakan produk atau kemasan produk yang tidak sekali pakai atau setidaknya dapat didaur ulang sehingga bisa mencegah timbulnya sampah dari awal.

Selain penanaman pohon dan pengurangan sampah, Tahura Trail Running Race 2019 juga berusaha untuk mengurangi kemacetan menuju areal perlombaan dengan menyediakan shuttle untuk para peserta atau pengunjung yang ingin menghadiri acara ini.

Penulis: Gede Surya Marteda

]]>
https://www.greeners.co/aksi/tahura-trail-running-race-2019-berlari-untuk-lingkungan/feed/ 0
Less Waste More Jazz Siapkan Edukator untuk Pengunjung di Java Jazz Festival 2019 https://www.greeners.co/aksi/less-waste-more-jazz-siapkan-edukator-untuk-pengunjung-di-java-jazz-festival-2019/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=less-waste-more-jazz-siapkan-edukator-untuk-pengunjung-di-java-jazz-festival-2019 https://www.greeners.co/aksi/less-waste-more-jazz-siapkan-edukator-untuk-pengunjung-di-java-jazz-festival-2019/#respond Thu, 17 Jan 2019 09:14:07 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=22373 JJF 2019 yang kali ini bertemakan Broadway kembali menerapkan program “Less Waste More Jazz” untuk mengurangi timbulan sampah acara yang di bawa ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).]]>

Jakarta (Greeners) – Jakarta International BNI Java Jazz Festival (JJF) akan kembali di gelar selama tiga hari berturut-turut pada tanggal 1,2 dan 3 Maret 2019 mendatang. JJF 2019 yang kali ini bertemakan Broadway juga kembali menerapkan program “Less Waste More Jazz” untuk mengurangi timbulan sampah acara yang di bawa ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Penerapan program “Less Waste More Jazz” yang meliputi edukasi kepada pengunjung dan pemilahan sampah ini telah diterapkan cukup lama di JJF 2019 oleh Java Festival Production sebagai penyelenggara acara.

“Kami ingin mengedukasi para pengunjung. Kami sudah bekerjasama dengan Greeners.co dalam hal ini sejak 10 tahun lalu. Dari pengunjung yang masih sulit dan belum tahu cara memilah sampah sampai bisa membuang sampah pada tempatnya. Lambat laun dengan kerjasama Less Waste Project ini pengunjung kita semakin pintar dan peduli dengan kebersihan,” ujar Direktur Utama Java Festival Production Dewi Gonta usai konferensi pers Java Jazz Festival 2019 di Jakarta, Rabu (16/01/2019).

Dewi mengatakan bahwa sosialisasi pemilahan sampah akan ditampilkan di seluruh layar multimedia yang berada di panggung JJF 2019. Dengan cara ini diharapkan pengunjung yang ditargetkan sekitar 110.000 hingga 115.000 orang bisa teredukasi dan lebih peduli untuk mengelola sampah mereka.

“Diharapkan dengan adanya Less Waste ini kesadaran pengunjung untuk memilah sampah semakin tinggi dan hal ini akan terus kami terapkan ke depannya,” jelas Dewi.

Sementara itu, Penanggung Jawab Less Waste Project Syaiful Rochman mengatakan bersamaan dengan 15 tahun diselenggarakannya Java Jazz Festival, tahun ini Less Waste Project mempersiapkan banyak hal baru dalam program ini yang akan mengajak pengunjung JJF 2019 berpartisipasi dalam program pengurangan sampah.

“Perbedaan konsep “Less Waste More Jazz” di JJF 2019 dibandingkan dengan JJF tahun-tahun sebelumnya adalah pertama, meningkatkan kualitas pemilahan sampah di sumber; kedua, meningkatkan jumlah sampah yang di daur ulang; dan ketiga, hadirnya edukator pemilah sampah yang akan berjaga di masing-masing tempat sampah. Edukator ini nantinya akan menjelaskan kepada pengunjung untuk memilah sampahnya, mana sampah yang organik dan mana yang anorganik,” ujar Syaiful.

Dalam acara yang sama, Redaktur Senior Greeners.co Renty Hutahaean mengatakan bahwa Greeners.co dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menginisiasi program Less Waste Event pada tahun 2008, bertepatan dengan lahirnya UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Program ini merupakan salah satu bentuk aksi nyata Greeners.co untuk lingkungan.

Program Less Waste Event menargetkan pengurangan sampah pada acara-acara besar. Tujuannya, untuk mengurangi timbulan sampah ke TPA. Sampah yang sudah dipilah akan dikelola lebih lanjut dan disalurkan ke bank sampah di DKI Jakarta melalui kerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta.

“Kami berterima kasih kepada pihak Java Festival Production yang sudah mengizinkan program Less Waste Event ini diterapkan di Java Jazz Festival sehingga berkembang dengan baik sampai sekarang. Hal yang menarik yang patut ditunggu di JJF 2019, program ini akan menyediakan wadah sampah terpilah yang menarik, games, dan booth edukasi,” kata Renty.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/aksi/less-waste-more-jazz-siapkan-edukator-untuk-pengunjung-di-java-jazz-festival-2019/feed/ 0
The 2018 Asian Games Brings Spirit to Sanitary Officers https://www.greeners.co/english/the-2018-asian-games-brings-spirit-to-sanitary-officers/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=the-2018-asian-games-brings-spirit-to-sanitary-officers https://www.greeners.co/english/the-2018-asian-games-brings-spirit-to-sanitary-officers/#respond Thu, 20 Sep 2018 10:58:38 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=21374 The successful of 2018 Asian Games also include the roles of sanitary volunteers of which often escapes public attention.]]>

Jakarta (Greeners) – The successful of 2018 Asian Games also include the roles of sanitary volunteers of which often escapes public attention. Rangga, one of the sanitary officers of South Jakarta, felt honored to be working at the biggest sports event in Asia.

“Because, we are the host and elected to be sanitary workers, we need to work hard and best. We must be ready to pick up a small amount of trash,” said Rangga, in Jakarta, on Thursday (30/08/2018).

READ ALSO: KLHK Keep Track of Asian Games Less Waste More Games Implementation 

He said becoming a sanitary worker in Asian Games is fun because he got to meet foreign guests. Furthermore, he said that he also memorized the GBK stadium area to anticipate for lost participants.

Meanwhile, Nasyim, another sanitary officer said that it is not an easy job because they often picked up things people would not want to pick up.

“Sometimes, we need to prepare ourselves because we found waste that was too gross. We need also to deal with the smell because waste at Asian Games is mostly food and if they are mixed, the smell can be unbearable,” he said.

energy of asia

Photo: greeners.co/Renty Hutahaean

Mualim, a sanitary staff in Central Jakarta, said that the workers work in two shifts, the morning to afternoon and continued until at night.

“The working shift was adjusted with the field condition. If it’s holiday and crowded, workers usually finished their works at around 2 am in the morning,” he said. “If that happens, they would just work happily because it is a sense of pride for use to become the sanitary workers of this international event.”

READ ALSO: Waste Disposal: New Sports in the 2018 Asian Games 

Ali Maulana Hakim, deputy head of DKI Jakarta environmental agency, said that a total of 385 workers were assigned to GBK stadium.

“We are working our best to make Jakarta as the best host, the clean city, friendly citizens. The world will look at Indonesia because we are hosting the biggest sports event in Asia,” said Hakim.

Furthermore, he said as good impression will not only been created from clean environment, he had instructed his staffs to have better interaction with all parties.

“We don’t just encourage our staffs to clean up but also have good communication and interact with athletes, committees, and guests from all countries. We need to have a sense of pride that they are a part of this Asian Games,” he said.

He said that workers were working day and night to make the event clean should be appreciated. “It cannot be measured with money,” he said.

The workers worked from Gate 1 to Gate 11, including parks and industrial areas. They were divided into three categories, — West Jakarta worked from Gate 1 to Gate 5, South Jakarta from Gate 6 to Gate 8, and Central Jakarta from Gate 9 to Gate 11.

Reports by Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/english/the-2018-asian-games-brings-spirit-to-sanitary-officers/feed/ 0
Waste Disposal: New Sports in the 2018 Asian Games https://www.greeners.co/english/waste-disposal-new-sports-in-the-2018-asian-games/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=waste-disposal-new-sports-in-the-2018-asian-games https://www.greeners.co/english/waste-disposal-new-sports-in-the-2018-asian-games/#respond Mon, 03 Sep 2018 11:40:13 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=21271 The 2018 Asian Games, ended on Sunday (3/9/2018), added one among the new ten sports, Waste Disposal Sport, which was coined by Uci Galuh Kesumanjanti, a creator of pictogram.]]>

Jakarta (Greeners) – The 2018 Asian Games, ended on Sunday (3/9/2018), added one among the new ten sports, Waste Disposal Sport, which was coined by Uci Galuh Kesumanjanti, a creator of pictogram.

Kesumanjati iniated the ‘sport’ after observing people were littering in the venues. The aim is to encourage athletes, officials, and supporters of Asian Games to put waste in the bins.

“Initially, the idea is to get people to stop littering because I was really annoyed with littering while there are bins available everywhere. The moment fits with Asian Games. So, we decide to set up a new sport, waste disposal,” she said to Greeners, on Saturday (25/8/2018).

READ ALSO: Circular Economy, An Effort to Get People to Waste Sorting 

She designed the pictogram, adjusted with the official logo of 2018 Asian Games, for the new sports. It took a week to complete.

She did not get permission to put her logo, at first, however, she was informed of the Less Waste More Games program held by the officials making the pictogram to be approved by Inasgoc, Asian Games Organizing Committee, Environment and Forestry Ministry, and Creative Economics Agency (Bekraf).

“Starting from there, I created this sport and supported by Less Waste More Games. I designed the pictogram and it was got positive respond, one was from Triawan Munaf (red : head of Bekraf),” she said.

About the rules of games, she said that the sport is easy for everyone, from athletes to supporters. For instance, if you are walking, running, or jumping and see waste, pick it up, look for the bins, and throw according to its types.

“Let’s burn calories to trash bins. It can be competing for speed, for sanitary, clean up wastes. Let’s be Indonesian athletes of waste disposals. Shows that you are the champions,” she promoted on her Instagram.

She said that Indonesians are aware about good attitude of waste disposal. “Besides embarrass with other countries, it also our losses,” she said.

READ ALSO: KLHK to Set Up A Regulation on People’s Movement on Waste Management 

Director of Waste Management, Ministry of Environment and Forestry, Novrizal Tahar, said that government is applying Less Waste More Games for the 2018 Asian Games and the sport will be supported as a new branch in the event.

“I think this waste disposal sport is something creative in the context of Asian Games. It built public awareness, athletes and officials. So, as government’s official tasked for waste disposal, I am supporting this creative idea. I hope it will bring big impacts in public awareness,” said Tahar.

Furthermore, he said that public shows care towards waste. Nevertheless, the issue to change public behavior is not an fast and instant thing.

“To change public behavior is not the issue of speed but we look for public attention is currently high on sanitary and waste issues. I notice nearly all friends in social media provide information whether Gelora Bung Karno [stadium] is clean or filled with trash. It shows attention, hopefully it will encourage change of habit and increase our civilization,” he said.

Reports by Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/english/waste-disposal-new-sports-in-the-2018-asian-games/feed/ 0
KLHK Pantau Pelaksanaan Less Waste More Games di Asian Games https://www.greeners.co/berita/klhk-pantau-pelaksanaan-less-waste-more-games-di-asian-games/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=klhk-pantau-pelaksanaan-less-waste-more-games-di-asian-games https://www.greeners.co/berita/klhk-pantau-pelaksanaan-less-waste-more-games-di-asian-games/#respond Wed, 29 Aug 2018 14:09:40 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=21242 KLHK melalui Direktorat Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 terus memantau pelaksanaan program Less Waste More Games pada Asian Games 2018. Hingga tanggal 27 Agustus 2018, total timbulan sampah Asian Games di Jakarta mencapai 436,90 ton.]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Direktorat Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 terus memantau pelaksanaan program Less Waste More Games pada Asian Games 2018. Sejak dibuka hingga tanggal 27 Agustus 2018, total timbulan sampah dari penyelenggaraan Asian Games di Jakarta mencapai 436,90 ton.

Dari data timbulan sampah tersebut, Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 KLHK Rosa Vivien Ratnawati menyatakan bahwa KLHK bersama panitia resmi Indonesia untuk Asian Games (INASGOC) beserta pemerintah daerah di tiap lokasi penyelenggaraan pertandingan akan terus melakukan pengurangan dan penanganan sampah dan limbah yang dihasilkan. Namun demikian ia mengingatkan bahwa siapa pun yang menjadi bagian dari ajang olahraga Asian Games berpotensi untuk menimbulkan sampah.

“Saya pun ingin mengapresiasi INASGOC dan tim kebersihan karena sudah memperhatikan bagaimana pengelolaan sampah dan limbah yang ada di Asian Games 2018. Asian Games kali ini menjadi satu ajang pertandingan olahraga yang besar dan dikenal secara internasional yang berwawasan lingkungan dan memperhatikan sampah,” kata Vivien dalam konferensi pers di Jakarta Convention Center, Jakarta, Selasa (28/08/2018).

BACA JUGA: Ada Cabang Olahraga Baru di Asian Games: Olahraga Tertib Buang Sampah! 

less waste more games

Foto: greeners.co/Dewi Purningsih

Berdasarkan data timbulan sampah sementara yang diolah dari program Less Waste More Games, hingga 27 Agustus 2018, total timbulan sampah hanya di Gelora Bung Karno mencapai 436,90 ton dengan rincian 58,62 ton sampah kategori recycleable (misalnya: botol plastik), 31,13 ton sampah kertas, dan 347,15 ton sampah residu.

“Untuk angka tersebut diharapkan akan terus berkurang. Kami menerapkan sistem pengurangan dan penanganan untuk timbulan sampah di Asian Games,” kata Vivien.

Vivien menyatakan bahwa KLHK telah memberikan bantuan peralatan pengelolaan sampah berupa tempat sampah tematik untuk sampah botol plastik dan sampah organik serta menyediakan motor pengangkut sampah.

Less Waste More Games

Untuk memastikan pengelolaan sampah dengan prinsip Less Waste More Games dilaksanakan dengan baik, KLHK telah menyampaikan surat nomor : S.254/PS/BK/PLB.0/8/2018 perihal Penerapan Less Waste More Games Asian Games 2018 kepada INASGOC, venue owner dan pemerintah daerah yang menjadi tempat pertandingan.

“KLHK akan terus memonitor pelaksanaan Less Waste More Games ini sampai dengan selesainya penyelenggaraan Asian Games 2018,” kata Vivien.

Less Waste More Games sendiri adalah sebuah program di Asian Games 2018 dalam rangka meminimalisasi dampak lingkungan, khususnya dari timbulan sampah dan limbah.

BACA JUGA: Asian Games 2018 Diharapkan Mengubah Kebiasaan Warga Jakarta terhadap Lingkungan 

Terkait hal ini, Direktur Departement Venue & Environment INASGOC Teuku Arlan Perkasa Lukman mengatakan bahwa INASGOC telah menyampaikan balasan surat Menlhk tersebut melalui Surat Ketua INASGOC nomor 618/PRES/PP-INASGOC/II/2018 yang menyatakan kesanggupan untuk melakukan pengelolaan sampah sebelum, saat atau selama, dan setelah penyelenggaraan Asian Games XVIII/2018.

Sebagai bentuk dukungan terhadap pemeliharaan lingkungan tersebut, penyelenggaraan Asian Games 2018 juga akan menggunakan tagline “Less Waste More Games”.

“Kampanye tagline ini terus kita adakan. Untuk jumlah timbulan sampah setiap harinya di Asian Games ini belum kita lakukan evaluasi tapi kita bisa memastikan bahwa di venue atau tempat festival itu kebersihannya stabil dibandingkan event sejenis dengan pengerahan massa yang lebih banyak. Serta, kita juga lebih antisipatif dan juga hasilnya lebih baik daripada acara-acara lainnya,” kata Arlan.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/klhk-pantau-pelaksanaan-less-waste-more-games-di-asian-games/feed/ 0
Ada Cabang Olahraga Baru di Asian Games: Olahraga Tertib Buang Sampah! https://www.greeners.co/berita/ada-cabang-olahraga-baru-di-asian-games-olahraga-tertib-buang-sampah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ada-cabang-olahraga-baru-di-asian-games-olahraga-tertib-buang-sampah https://www.greeners.co/berita/ada-cabang-olahraga-baru-di-asian-games-olahraga-tertib-buang-sampah/#respond Sat, 25 Aug 2018 12:46:10 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=21222 Ada 40 cabang olahraga dipertandingkan dalam Asian Games 2018, 10 diantaranya adalah cabang olahraga baru. Namun mulai hari ini akan ada tambahan satu lagi cabang olahraga baru, yaitu Olahraga Tertib Buang Sampah.]]>

Jakarta (Greeners) – Perhelatan Asian Games 2018 telah memasuki hari ke delapan sejak di buka tanggal 18 Agustus lalu. Sebanyak 40 cabang olahraga dipertandingkan dalam kompetisi olahraga terbesar di Asia ini, 10 diantaranya adalah cabang olahraga baru. Namun mulai hari ini akan ada tambahan satu lagi cabang olahraga baru, yaitu Olahraga Tertib Buang Sampah.

Ide olahraga tertib buang sampah ini pertama kali dicetuskan oleh Uci Galuh Kesumanjati, seorang kreator piktogram. Keresahan Uci terhadap perilaku masyarakat yang masih membuang sampah di sembarang tempat, terlebih di area pelaksanaan Asian Games 2018, mendorongnya untuk menggagas olahraga baru ini. Tujuannya sederhana, mengajak para atlet, panitia, dan pengunjung Asian Games serta seluruh masyarakat membuang sampah pada tempatnya.

“Awalnya membuat ide untuk olahraga tertib buang sampah ini karena saya sudah gemas terhadap sampah-sampah yang dibuang sembarangan padahal ada tempat sampah di mana-mana. Momennya juga sangat pas ketika ada ajang olahraga Asian Games ini. Akhirnya kami pun memutuskan untuk membuat cabang olahraga baru yaitu tertib buang sampah,” jelas Uci kepada Greeners melalui sambungan telepon, Sabtu (25/08/2018).

BACA JUGA: Circular Economy, Upaya Mendorong Masyarakat untuk Memilah Sampah 

Untuk mewujudkan idenya, Uci membuat piktogram cabang olahraga tertib buang sampah dengan menyesuaikan dari piktogram resmi Asian Games 2018. Hanya butuh waktu satu minggu bagi Uci untuk membuat piktogram tersebut.

Piktogram cabang olahraga tertib buang sampah karya Uci Galuh Kesumanjati. Foto: Istimewa

Ia bercerita, awalnya ia tidak mendapat izin untuk menempelkan logo dan ikon Asian Games pada piktogram buatannya. Namun dari kawannya ia diberitahu tentang konsep pengelolaan sampah Less Waste More Games yang diterapkan dalam penyelenggaraan Asian Games 2018. Gayung bersambut, piktogram buatan Uci mendapat respon positif dari komite resmi Indonesia untuk Asian Games (Inasgoc) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Ia juga mengaku mendapat dukungan dari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).

“Dari situlah aku bisa menciptakan gerakan olahraga tertib buang sampah ini dan didukung juga oleh Less Waste More Games. Setelah itu baru aku buat piktogramnya dan sampai saat ini direspon sangat baik. Salah satunya dukungan datang dari Triawan Munaf (kepala Bekraf, Red.),” kata Uci.

Mengenai cara melakukan olahraga tertib buang sampah ini, Uci mengatakan bahwa olahraga ini sangat mudah dan bisa diikuti oleh siapa pun, mulai dari atlet hingga pengunjung. Caranya, apakah sedang berjalan, berlari atau melompat kemudian menemukan sampah, pungut sampat tersebut kemudian cari tempat sampah dan letakkan di tempat sampah sesuai jenisnya. Ia pun mengampanyekan olahraga ini melalui akun instagramnya.

“Mari kita bakar kalori menuju tempat sampah. Bisa adu cepat, adu bersih, sampah di sekitar sikat sih! Ayo jadi Atlet Tertib Buang Sampah Indonesia. Tunjukkan kalau kamu paling juara buang sampah pada tempatnya!” tulis Uci.

Ia menambahkan bahwa sudah saatnya masyarakat Indonesia menyadari bahwa perilaku membuang sampah sembarangan harus ditinggalkan. “Selain malu terhadap negara lain, juga merugikan diri sendiri,” katanya.

BACA JUGA: KLHK Siapkan Permen Gerakan Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah 

Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Novrizal Tahar mengatakan, sebagai pihak pemerintah yang menerapkan konsep Less Waste More Games pada Asian Games 2018, olahraga tertib buang sampah ini akan didukung sebagai gerakan olahraga baru di Asian Games.

“Saya pikir olahraga tertib buang sampah ini merupakan sesuatu yang kreatif yang dimunculkan dalam konteks Asian Games ini. Olahraga ini membangun kesadaran masyarakat, para atlet, dan official. Jadi saya sebagai pemerintah yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan sampah sangat mendukung ide kreatif ini. Mudah-mudahan ini memberikan dampak yang besar terhadap kesadaran masyarakat,” ujar Novrizal kepada Greeners.

Menurut Novrizal, saat ini publik sudah sangat peduli terhadap sampah. Namun demikian, persoalan mengubah perilaku publik bukan hal yang bisa dilakukan dengan cepat dan instan.

“Persoalan perubahan perilaku publik bukan persoalan yang cepat tapi kita melihat perhatian dari publik sekarang itu sangat tinggi terhadap persoalan-persoalan kebersihan sanitasi dan sampah. Hampir selalu saya lihat teman-teman di sosial media memberikan informasi kalau di Gelora Bung Karno bersih atau banyak sampah. Ini menunjukkan perhatian yang tinggi, mudah-mudahan ini juga mendorong perubahan perilaku dan meningkatkan peradaban kita,” kata Novrizal.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/ada-cabang-olahraga-baru-di-asian-games-olahraga-tertib-buang-sampah/feed/ 0
Indonesia To Implement Less Waste Asian Games https://www.greeners.co/english/indonesia-to-implement-less-waste-asian-games/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=indonesia-to-implement-less-waste-asian-games https://www.greeners.co/english/indonesia-to-implement-less-waste-asian-games/#respond Mon, 11 Jun 2018 10:58:43 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=20709 Approaching Asia's largest multi-sport event in Indonesia, a senior official on Friday said that the event will be a less waste event.]]>

Jakarta (Greeners) – Approaching Asia’s largest multi-sport event in Indonesia, a senior official on Friday said that the event will be a less waste event.

“We [Ministry of Environment and Forestry] will apply less waste concept in Asian Games where as little as possible to produce waste and toxic waste. My meeting today with colleagues from INASGOC [Indonesian Asian Games Organizing Committee] and stakeholders from DKI Jakarta and South Sumatra administration, and Palembang environmental agency, to unite the visions for less waste concept can be implemented at 2018 Asian Games,” said Novrizal Tahar, waste management director at ministry of environment and forestry, in Jakarta.

The 2018 Asian Games will be held on August 18 to September 2 in two cities, Jakarta of DKI Jakarta province and Palembang of South Sumatra province.

“We want to show that Indonesia has different approach on environment and contingent [of athletes] and international [world] can see that impression aside from competing,” Tahar said.

READ ALSO: Indonesia Encourages Reduce Plastic Waste to Southeast Asia Nations

He added that the organizing committee have made preparations to ensure the successful of the concept and to educate athletes, coaches and public.

“The concept is prohibition, no punishment given. There are possible to catch littering in the act but no punishment or chargers. The aim is to reduce waste through public education,” he added.

READ ALSO: National Energy Council Encourages Jakarta as First Green City

Teuku Arlan Perkasa Lukman, director of venue and environment department at the organizing committee, said that public education is important to form environmentally friendly behavior, such as bring own tumbler, bring own bags, and no littering. The aim of the concept, Lukman said, is to reduce waste from visitors.

“The organizing committee cannot work by ourselves, so we coordinate with ministry of environment and forestry and experts or consultants to provide ideas to tackle waste issues in Asian Games,” he said. “Of course, public support is important to preserve the venues and making Asian Games as successful.”

Based on the trial report, an estimated 600 kilograms of waste per day will be produced at Athlete’s Village in Kemayoran, 15 garbage bags per day at Archery Venue in Bung Karno Stadium, 30 garbage bags per day at Athletic Venue in Bung Karno Stadium, and 20 garbage bags per day in Volley Ball in Bung Karno Stadium.

Syaiful Rochman, less waste event expert, underlined a few notes for the implementation of the concept. “Lack of coordination between stakeholders in the tasks and responsibilities, garbage bins and sanitary officials during the games, all must be solved,” said Rochman.

Reports by Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/english/indonesia-to-implement-less-waste-asian-games/feed/ 0
Pengelolaan Sampah Asian Games Terapkan Konsep Less Waste https://www.greeners.co/berita/pengelolaan-sampah-asian-games-terapkan-konsep-less-waste/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pengelolaan-sampah-asian-games-terapkan-konsep-less-waste https://www.greeners.co/berita/pengelolaan-sampah-asian-games-terapkan-konsep-less-waste/#respond Sun, 27 May 2018 05:42:34 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=20668 Pelaksanaan Asian Games 2018 akan menerapkan konsep "less waste event". Konsep ini akan mengedukasi atlet, pelatih, dan juga publik untuk mengurangi timbulan sampah selama penyelenggaraan Asian Games. ]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama dengan INASGOC melalui Departemen Venue dan Lingkungan beserta para konsultan lingkungan untuk membahas pengelolaan sampah di Asian Games. Berkaitan dengan hal tersebut, Direktur Pengelolaan Sampah Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya KLHK Novrizal Tahar menyampaikan bahwa pengelolaan sampah di Asian Games akan menggunakan konsep less waste event atau pengurangan sampah.

“Sampah dan limbah di Asian Games nanti akan kita terapkan konsep less waste di mana sedikit mungkin menghasilkan sampah dan limbah. Pertemuan saya hari ini bersama teman-teman INASGOC dan stakeholder baik dari DKI Jakarta, DLH Provinsi Sumatera Selatan, DLH Kota Palembang untuk menyatukan visi sehingga konsep less waste terimplementasi baik dalam Asian Games 2018,” ujar Novrizal saat ditemui usai rapat koordinasi di Hotel Park Lane, Jakarta, Jumat (25/05/2018).

Konsep less waste ini adalah suatu konsep untuk mengurangi timbulan sampah di Asian Games 2018 yang akan berlangsung pada bulan Agustus nanti. Baik pemerintah pusat yakni Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), panitia pelaksana yakni INASGOC (Indonesia Asian Games 2018 Organizing Committee), dan para pemerintah daerah yang daerahnya ditunjuk sebagai tempat penyelenggaraan Asian games yang meliputi Jakarta, Jakarta Suburbs, Palembang, dan Jawa Barat akan bekerjasama untuk menerapkan konsep ini.

BACA JUGA: Jelang Asian Games, KLHK: Udara Jakarta-Palembang dalam Kondisi Baik

Dalam rapat kordinasi ini, Novrizal menjelaskan bahwa konsultan lingkungan dari tiap daerah penyelenggaraan memaparkan progres mengenai konsep pengurangan sampah ini. “Kita ingin tunjukan Indonesia mempunyai kultur yang berbeda tentang lingkungan dan para kontingen dan internasional bisa melihat kesan tersebut selain bertanding,” kata Novrizal.

Menurut Novrizal, Tim dari INASGOC sudah melakukan persiapan untuk memastikan agar konsep pengurangan sampah ini berhasil. Dalam penerapannya konsep ini akan diselaraskan dengan edukasi kepada atlit, pelatih, dan publik.

“Konsep ini sifatnya hanya larangan, tidak ada punishment tertentu yang diberikan. Mungkin ada tangkap tangan jika ada yang membuang sampah sembarang tetapi jika dihukum atau dipidana tidak ada. Tujuan utamanya adalah mengurangi sampah melalui edukasi yang diberikan kepada publik segencar-gencarnya sebelum acara berlangsung,” terang Novrizal.

BACA JUGA: KLHK Dorong Pemerintah Daerah Membuat Jakstrada Pengelolaan Sampah

Direktur Departement Venue & Environment INASGOC Teuku Arlan Perkasa Lukman menuturkan, edukasi konsep pengurangan sampah ke penonton sangat penting untuk membentuk perilaku yang ramah lingkungan, seperti membawa botol minum sendiri, membawa kantong belanjaan sendiri, dan tidak membuang sampah sembarangan. Tujuan dari konsep ini sendiri yaitu mengurangi timbulan sampah dari hulu, dalam hal ini adalah masyarakat atau pengunjung.

“Di sini INASGOC tidak mampu jika harus bekerja sendiri, maka itu kami berkordinasi dengan KLHK dan para ahli atau konsultan untuk memberikan ide untuk penanganan sampah di Asian Games. Tentu saja dukungan dari masyarakat sangat penting untuk menjaga sekitar lingkungan venue dan menyukseskan ajang Asian Games ini,” ujar Arlan.

Dalam laporan uji coba Asian Games, diperkirakan jumlah timbulan sampah di beberapa lokasi penyelenggaraan pertandingan yaitu 600 kg sampah per hari di Athlete’s Village Kemayoran, 15 kantong sampah per hari di GBK Venue Panahan, 30 kantong sampah per hari di GBK Venue Atletik, dan 20 kantong sampah per hari di GBK Venue Volley Ball.

Syaiful Rochman selaku Less Waste Event Expert mengatakan, setelah uji coba Asian Games dilakukan, ada beberapa catatan mengenai penanganan sampah yang harus diatasi. “Kurangnya koordinasi antar stakeholder dalam pembagian tugas dan tanggung jawab pengelolaan sampah, jumlah tempat sampah dan tenaga kebersihan yang akan bertugas saat pertandingan dilaksanakan, semuanya harus dicari solusinya,” katanya.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/pengelolaan-sampah-asian-games-terapkan-konsep-less-waste/feed/ 0
Java Jazz Festival 2018 Brings Back Less Waste More Jazz https://www.greeners.co/english/java-jazz-festival-2018-brings-back-less-waste-more-jazz/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=java-jazz-festival-2018-brings-back-less-waste-more-jazz https://www.greeners.co/english/java-jazz-festival-2018-brings-back-less-waste-more-jazz/#respond Wed, 07 Mar 2018 14:01:25 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=20169 A combination between jazz and waste management, Less Waste More Jazz, is back again for the fourth time at the Jakarta International BNI Java Jazz Festival, on March 2-4 2018, in Jakarta.]]>

Jakarta (Greeners) – A combination between jazz and waste management, Less Waste More Jazz, is back again for the fourth time at the Jakarta International BNI Java Jazz Festival, on March 2-4 2018, in Jakarta, said the program’s program manager, Reynaldi Sunaryo, in Jakarta, on Saturday (3/3).

“[I think] concert goers will be comfortable to be in areas clean from waste. This program is Java Jazz Festival Production’s part as organizer on environmental awareness, especially on waste issues in Indonesia,” said Sunaryo adding that the aim of the program is to reduce waste volume from the event before reaching landfills.

READ ALSO: KLHK Encourages Local Governments for “Three Months Free Waste” Program

The organizers had prepared three campaign models for the program. “We educate [concert goers] through videos before and after the concerts. It also be displayed as info-graphics on available trash bins. In addition, ten volunteers from Less Waste More Jazz will be engaging directly with people,” he said.

Furthermore, he said that segregation waste bins were divided into three items, — organic bins marked with color of blue for food wastes such as fruits, rice, bread crumbs, meat and water, an-organic bins marked with pink for packaging such as cans, plastic bottles, Tetra Pak packaging and plates, bins for cigarettes.”

“The segregation waste bins are located in 30 spots of Java Jazz Festival considering on areas produce most wastes, such as food courts and food trucks,” he said adding there will be 20 sanitary officers of which ten will be responsible to collect the wastes and the rest to sort the wastes according to the types.

java jazz festival

Photo: greeners.co/Renty Hutahaean

Operational Manager of Jakarta International Expo, Bambang Prihatna said that they have prepared hundreds of sanitary officers and trash bins for Java Jazz Festival.

“As the venue organizer of Java Jazz, we have prepared 330 sanitary officers and 300 trash bins divided into 80 trash bins for outdoors, 16 trash bins on each hall and 50 trash bins on public areas,” said Prihatna.

Prihatna said that the benefits of the program, a collaboration between Less Waste Project and Ministry of Environment and Forestry, were that people enjoy music but also love environment through sorting out the wastes.

“As the venue organizer, it’s a benefit for us to have video displayed on each shows for people to litter on trash bins. I think that’s very simple, not difficult and reaches its target for the audience and us as building owner,” he said.

READ ALSO: Waste Issue Needs All Agencies Cooperation

Meanwhile, Sunaryo said waste volume reached 2.4 ton on Friday (2/3), with 275 kilograms of an-organic recyclable waste and 411.5 kilograms of residues. On Saturday, the volume reached 3.4 ton with 411 kilogram of an-organic recyclable waste and 571.5 kilograms of residues.

In 2017, waste volume of Java Jazz Festival reached a total of 7 ton with an average of two to three ton per day.

Reports by Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/english/java-jazz-festival-2018-brings-back-less-waste-more-jazz/feed/ 0
Program Less Waste More Jazz Kembali Digelar di Java Jazz Festival 2018 https://www.greeners.co/berita/program-less-waste-more-jazz-kembali-digelar-java-jazz-festival-2018/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=program-less-waste-more-jazz-kembali-digelar-java-jazz-festival-2018 https://www.greeners.co/berita/program-less-waste-more-jazz-kembali-digelar-java-jazz-festival-2018/#respond Sat, 03 Mar 2018 05:36:54 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=20138 Untuk keempat kalinya, Jakarta International BNI Java Jazz Festival atau yang dikenal dengan nama Java Jazz Festival, bekerja sama dengan Less Waste Project untuk mengampanyekan program “Less Waste More Jazz.”]]>

Jakarta (Greeners) – Jakarta International BNI Java Jazz Festival kembali digelar pada tanggal 2, 3, dan 4 Maret 2018. Untuk keempat kalinya, festival musik jazz yang dikenal dengan nama Java Jazz Festival ini bekerja sama dengan Less Waste Project untuk mengampanyekan program “Less Waste More Jazz.” Dalam program ini, pengunjungan diedukasi untuk membiasakan memilah sampah sebelum dibuang ke tempat sampah.

Manajer Program Less Waste Project Reynaldi Sunaryo mengatakan, tujuan dari program Less Waste More Jazz ini selain untuk meningkatkan kesadaran pengunjung untuk memilah sampah juga untuk mengurangi timbulan sampah yang akan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

“Pengunjung juga akan merasa nyaman berada di area yang bersih dari sampah. Program ini juga merupakan wujud dari kepedulian Java Festival Production sebagai pihak penyelenggara terhadap lingkungan, khususnya isu persampahan yang masih menjadi masalah utama di Indonesia,” ujar Reynaldi saat ditemui Greeners di lokasi acara, Jakarta, Sabtu (03/03/2018).

BACA JUGA: KLHK Berencana Terbitkan Peraturan Pengelolaan Sampah Pada Penyelenggaraan Acara

Untuk mengedukasi pengunjung, Reynaldi mengatakan bahwa ada tiga cara yang diterapkan. “Kami melakukan edukasi melalui video yang diputar sebelum dan sesudah konser berlangsung. Edukasi ini juga melalui infografis yang tertera di setiap tong sampah terpilah yang kami sebar. Selain itu, edukasi juga dilakukan oleh 10 orang dari tim program Less Waste More Jazz yang berhadapan langsung dengan pengunjung,” katanya.

Reynaldi menjelaskan, pada tong sampah terpilah, sampah dibedakan menjadi tiga jenis. Pertama, sampah organik. Pada tempat yang ditandai dengan warna biru ini, pengunjung dapat membuang sisa makanan seperti kulit buah, sisa nasi, sisa roti, sisa daging, dan juga sisa air minum. Kedua, sampah anorganik. Tempat sampah yang ditandai dengan warna merah muda ini disediakan untuk menampung sampah kemasan seperti botol kaleng, gelas plastik, kemasan Tetra Pak, serta piring karton. Ketiga, sampah puntung rokok.

“Tempat sampah terpilah ini tersebar di 30 titik area Java Jazz Festival. Penyebaran titik pemilahan sampah difokuskan pada area yang banyak menimbulkan sampah yaitu food court dan food truck,” terang Reynaldi.

Menurut Reynaldi, pada festival musik ini Less Waste Project juga menyiapkan 10 orang volunter untuk memberikan edukasi ke pengunjung. Selain itu, disiapkan pula 20 orang tim kebersihan, dimana 10 orang melakukan pengangkutan sampah dari 30 titik tempat tong sampah terpilah disebar dan sisanya melakukan pemilahan sampah.

less waste more jazz

Selama penyelenggaraan Jakarta International BNI Java Jazz Festival 2018 dikampanyekan juga program Less Waste More Jazz. Program ini mengedukasi pengunjung untuk memilah sampah. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Ditemui di acara yang sama, Manajer Operasional Jakarta International Expo Bambang Prihatna mengaku turut menyiapkan ratusan petugas kebersihan dan tong sampah selama penyelenggaraan Java Jazz Festival.

“Kami sebagai tempat acara Java Jazz Festival menyiapkan 330 petugas kebersihan dan 300 tong sampah yang dibagi menjadi 80 tong sampah untuk out door, 16 tong sampah di setiap hall, dan 50 tong sampah area publik,” jelas Bambang.

Bambang mengakui bahwa adanya kerjasama dengan Less Waste Project dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di acara seperti Jakarta International BNI Java Jazz Festival ini, ada keuntungan yang dirasakan oleh pihak Jakarta International Expo. Menurutnya, selain pengunjung menikmati musik, mereka juga bisa belajar mencintai lingkungan dengan memilah sampah.

“Kami selaku jasa gedung diuntungkan ada pengumuman video pendek yang diputar di setiap acara agar pengunjung membuang sampah pada tempatnya. Itu menurut saya sangat simpel, sederhana, dan mengena untuk penonton dan kami juga pemilik gedung,” katanya.

BACA JUGA: Program Jemput Sampah Anorganik, Dinas Kebersihan Diminta Perhatikan Tiga Hal

Sebagai informasi, menurut Reynaldi, pada pelaksanaan hari pertama Java Jazz Festival 2018, Jumat (02/03), total timbulan sampah sebesar 2,4 ton. Dari sampah ini, sampah anorganik recycleable hasil pemilahan berjumlah 275 kilogram dan sampah residu berjumlah 411,5 kg.

Sementara pada penyelenggaraan hari kedua, Sabtu (03/03/), total timbulan sampah sebesar 3,4 ton. Dari sampah ini, sampah anorganik recycleable hasil pemilahan berjumlah 411 kg dan sampah residu berjumlah 571,5 kg.

Sebagai perbandingan, pada penyelenggaraan Java Jazz Festival 2017 lalu, timbulan sampah keseluruhan berjumlah 7 ton dengan rata-rata sampah yang dihasilkan per hari sebesar 2 sampai 3 ton.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/program-less-waste-more-jazz-kembali-digelar-java-jazz-festival-2018/feed/ 0
HPSN 2018, KLHK Agendakan ‘Tiga Bulan Bersih Sampah’ https://www.greeners.co/berita/hpsn-2018-klhk-agendakan-tiga-bulan-bersih-sampah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hpsn-2018-klhk-agendakan-tiga-bulan-bersih-sampah https://www.greeners.co/berita/hpsn-2018-klhk-agendakan-tiga-bulan-bersih-sampah/#respond Sat, 20 Jan 2018 05:06:00 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=19856 Untuk memperingati Hari Peduli Sampah Nasional 2018, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan luncurkan agenda “Tiga Bulan Bersih Sampah” yang dilaksanakan di seluruh Indonesia.]]>

Jakarta (Greeners) – Dalam memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2018 yang bertema “Sayangi Bumi, Bersihkan Dari Sampah”, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan terus berupaya mewujudkan pengelolaan sampah nasional yang baik dan berkelanjutan. Untuk tahun ini, HPSN akan diaktualisasikan dalam kerja bersama dalam agenda “Tiga Bulan Bersih Sampah” yang dilaksanakan di seluruh Indonesia.

“Pada 2018 ini, kami fokuskan pada internalisasi dan pelaksanaan tiga bulan bersih sampah. Design-nya adalah mengajak bersosialisasi masyarakat, anak sekolah, kantor dan semua elemen yang nanti larinya ke green leadership,” ujar Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya dalam Media Briefing HPSN 2018 di Jakarta, Jumat (19/01/2018).

BACA JUGA: Akhirnya, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jemput Limbah Elektronik Milik Warga

Untuk menyukseskan kegiatan Tiga Bulan Bersih Sampah (TBBS) ini telah dikeluarkan surat edaran Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: SE.1/MenLHK/PSLB3/PLB.0/1/2018. Kegiatan TBBS akan meliputi sosialisasi kebijakan dan program pengelolaan sampah. Gerakan kebersihan akan dilakukan pada kantor-kantor pemerintahan, pelabuhan, bandara, pasar tradisonal, dan kawasan pemukiman; pelaksanaan Car Free Day tanpa sampah; serta pelaksanaan kegiatan kampanye Pilkada tanpa sampah (less waste event).

Dalam HPSN ini, Siti juga menyatakan bahwa KLHK akan memperbaiki sistem penilaian terhadap penghargaan Adipura 2018. “Di Hari Bersih Sampah ini, kami juga melakukan peningkatan dan koreksi-koreksi dalam kaitan dengan penilaian Adipura yang lebih melibatkan publik. Kami berharap dengan pola tiga bulan bersih sampah, publik nanti akan ikut menilai,” katanya.

BACA JUGA: Sampah Laut Menghambat Nawacita

Agenda TBBS sendiri akan berlangsung mulai tanggal 21 Januari hingga 21 April 2018. Agenda ini menjadi jalan pemenuhan tujuan pembangunan pengelolaan sampah sebagaimana target yang telah ditetapkan dalam Perpres No. 97 tahun 2017 tentang Kebijakan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah, yaitu pada tahun 2025 terdapat pengurangan timbulan sampah 30 persen atau 20,9 juta ton serta penanganan sampah mencapai 70 persen atau 49,9 juta ton.

Direktur Jenderal Pengelolaan Limbah, Sampah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) KLHK Rosa Vivien Ratnawati menambahkan bahwa pemerintah berharap semua elemen masyarakat termasuk generasi muda turut menyukseskan HPSN dengan strategi kampanye digital yang bisa menerobos ke segala elemen.

“Untuk acara ini sebagai hastag kita menggunakan #BersihBisaKok artinya adalah untuk membangkitkan optimisme masyarakat Indonesia bahwa kita bisa bersih jika kita semua memiliki kesadaran dan kepedulian serta mau bekerjasama mengelola sampah,” kata Vivien.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/hpsn-2018-klhk-agendakan-tiga-bulan-bersih-sampah/feed/ 0