Mahasiswa UGM - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/mahasiswa-ugm/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 02 Feb 2026 07:17:29 +0000 id hourly 1 Mahasiswa UGM Ciptakan Penyerap Gas Karbon dari Limbah Plastik https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ugm-ciptakan-penyerap-gas-karbon-dari-limbah-plastik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mahasiswa-ugm-ciptakan-penyerap-gas-karbon-dari-limbah-plastik https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ugm-ciptakan-penyerap-gas-karbon-dari-limbah-plastik/#respond Mon, 02 Feb 2026 07:17:29 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=48073 Tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menciptakan alat penyerap gas karbon dari limbah plastik. Inovasi tersebut mengantarkan mereka meraih medali emas dalam ajang 6th Indonesia International Applied Science Olympiad (I2ASPO), […]]]>

Tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menciptakan alat penyerap gas karbon dari limbah plastik. Inovasi tersebut mengantarkan mereka meraih medali emas dalam ajang 6th Indonesia International Applied Science Olympiad (I2ASPO), mengungguli 629 peserta dari 13 negara.

Ketua tim, Pandu Sukma Hastyadi, menjelaskan bahwa penelitian ini berfokus pada pemanfaatan limbah botol plastik polyethylene terephthalate (PET) yang diolah menjadi karbon aktif untuk mengadsorpsi gas CO₂ di atmosfer. Melalui riset ini, tim mengembangkan Carbon Capture Technology (CCT) berbasis material limbah plastik PET.

“Inovasi ini menawarkan alternatif penangkap gas yang lebih ekonomis dibandingkan teknologi komersial yang saat ini masih terkendala biaya operasional tinggi,” kata Pandu melansir Berita UGM, Jumat (30/1).

Menurut Pandu, pengembangan adsorben berbiaya rendah menjadi faktor krusial dalam keberhasilan implementasi teknologi CCT. Selama ini, tingginya biaya operasional menjadi hambatan utama penerapan teknologi penangkapan karbon.

“Kami melihat potensi besar pada limbah botol plastik PET. Dengan kandungan karbonnya tinggi, limbah botol plastik PET sangat ideal untuk dijadikan prekursor karbon aktif,” jelasnya.

Urgensi Pengelolaan Sampah

Pemilihan limbah botol plastik PET juga didorong oleh persoalan pengelolaan sampah di Indonesia yang masih belum optimal. Anggota tim, Samuel Khrisna Wira Waskita, memaparkan bahwa sekitar 48% sampah plastik di Indonesia saat ini masih dikelola melalui pembakaran, yang justru berkontribusi pada peningkatan emisi CO₂ ke atmosfer. Selain itu, rasio daur ulang PET di Indonesia masih tergolong rendah, yakni sekitar 13% dari total kapasitas produksinya.

“Bagi kami, mengubah limbah ini menjadi material fungsional penangkap emisi menjadi langkah strategis yang saling menguntungkan bagi lingkungan,” katanya.

Sementara itu, Billy menjelaskan bahwa meskipun penelitian mengenai penggunaan adsorben berbasis limbah plastik untuk aplikasi CCT telah banyak dilakukan, keterbatasan kapasitas penyerapan gas CO₂ masih menjadi kendala utama. Untuk mengatasi persoalan tersebut, tim menemukan bahwa penggunaan zeolit dapat menjadi solusi.

“Berdasarkan referensi yang kami peroleh, pembuatan komposit karbon aktif dan zeolit memang mampu untuk mengatasi hal tersebut,” paparnya.

Dosen pendamping tim, Fajar Inggit Pambudi, menekankan bahwa keunikan riset ini terletak pada aspek keberlanjutannya. Pemanfaatan limbah plastik yang dikombinasikan dengan material berpori seperti zeolit dinilai mampu menciptakan nilai keberlanjutan yang kuat.

“Riset ini menyelesaikan dua masalah sekaligus, yakni limbah plastik dan emisi CO₂,” tuturnya.

Lebih lanjut, Fajar mengungkapkan bahwa inovasi ini memiliki potensi untuk dikomersialisasi. Pasalnya, industri saat ini membutuhkan teknologi yang efisien untuk mengolah emisi gas buang. Tujuannya agar dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku industri atau sumber energi.

Inovasi ini merupakan hasil kolaborasi tim yang terdiri dari Pandu Sukma Hastyadi, Samuel Khrisna Wira Waskita, dan Aqila Dziki Muhamad Iqbal dari Program Studi Ilmu Kimia angkatan 2022, serta Billy Natanael dan Muhammad Radithya Akmal Rasheed dari Program Studi Teknik Kimia angkatan 2023. Di bawah bimbingan Fajar Inggit Pambudi dari FMIPA UGM, tim berhasil mengintegrasikan pendekatan komputasi dan eksperimental dalam penelitian ini.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ugm-ciptakan-penyerap-gas-karbon-dari-limbah-plastik/feed/ 0
Mahasiswa UGM Buat Mulsa Organik dari Eceng Gondok dan Limbah Cangkang Telur https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ugm-buat-mulsa-organik-dari-eceng-gondok-dan-cangkang-telur/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mahasiswa-ugm-buat-mulsa-organik-dari-eceng-gondok-dan-cangkang-telur https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ugm-buat-mulsa-organik-dari-eceng-gondok-dan-cangkang-telur/#respond Sun, 09 Nov 2025 03:00:12 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=47630 Permasalahan plastik di Indonesia terus menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan. Salah satu sumber timbulan plastik berasal dari sektor pertanian, yang sering menggunakan mulsa plastik. Menyikapi hal ini, mahasiswa Universitas Gadjah […]]]>

Permasalahan plastik di Indonesia terus menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan. Salah satu sumber timbulan plastik berasal dari sektor pertanian, yang sering menggunakan mulsa plastik. Menyikapi hal ini, mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menciptakan inovasi bernama SABI, sebuah mulsa ramah lingkungan yang terbuat dari eceng gondok dan limbah cangkang telur.

Mulsa berfungsi sebagai penutup bedengan tanah agar dapat menghambat pertumbuhan gulma, melindungi tanah dari erosi, dan menjaga struktur tanah. Namun, mulsa plastik konvensional menghasilkan banyak limbah dan mengganggu lingkungan lahan pertanian.

Ketua tim Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) SABI, Salfa Alifia Putri menjelaskan bahwa inovasi ini terbuat dari bahan yang melimpah di sekitar lahan, yaitu eceng gondok dan cangkang telur. Dengan memanfaatkan bahan organik yang melimpah, biaya produksi pun dapat ditekan. Sehingga petani maupun masyarakat dapat merasakan manfaat ganda dari aspek lingkungan dan ekonomi.

“Produk ini kami hadirkan sebagai pilihan bagi petani maupun masyarakat yang ingin beralih ke metode yang lebih ramah lingkungan,” ucap Salfa mengutip Berita UGM, Jumat (7/11).

Proses pembuatan mulsa organik ini membutuhkan waktu tiga sampai empat jam di Laboratorium Pakan, Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, UGM.  Dalam satu kali produksi dapat menghasilkan 50–60 buah mulsa. Produk ini berbentuk lingkaran dengan diameter 30 centimeter (cm), menyesuaikan ukuran pot tanaman sedang.

Mulsa organik juga memiliki banyak manfaat. Di antaranya mampu mempertahankan kelembapan tanah lebih lama, mengurangi erosi, serta menekan pertumbuhan gulma. Selain itu, pertumbuhan tanaman menjadi lebih sehat serta produktivitas yang lebih baik dibandingkan dengan tanaman tanpa mulsa. Bahkan, mulsa organik memiliki sifat yang biodegradable atau dapat terurai secara alami. Sehingga, dapat menyumbangkan unsur hara bagi tanah saat proses dekomposisi sekaligus menjadi pupuk organik bagi tanaman.

“Pupuk ini menjadi pilihan alternatif yang ramah lingkungan, dengan tujuan mendukung petani yang ingin mengurangi penggunaan mulsa plastik konvensional,” tambahnya.

Perluas Mulsa Organik

Ke depannya, tim PKM-K SABI berencana memperluas uji coba mulsa organik pada berbagai jenis lahan dan tanaman, serta menjalin kerja sama dengan mitra petani untuk produksi skala besar. “Harapannya, SABI dapat menjadi inovasi pertanian hijau, sehat, dan bebas sampah plastik di Indonesia,” ujarnya.

SABI telah dipasarkan melalui berbagai kegiatan, seperti EXPO Dies Natalis Fakultas Pertanian, EXPO Pionir Pascasarjana. Kini, SABI juga dijual melalui e-commerce dan sistem pre-order (PO) melalui media sosial seperti Instagram, TikTok, dan Facebook.

Selain Salfa, anggota tim pencetus inovasi ini juga terdiri dari Erelyne Erlina dari Fakultas Pertanian, Fanisa Esa Alfira dari Fakultas Biologi, Aimmatul Husna dari Fakultas Pertanian, dan Jane Angguningtyas Deanani dari Sekolah Vokasi. Kelima mahasiswa mendapat bimbingan dari dosen Departemen Tanah Fakultas Pertanian, Nasih Widya Yuwono dalam proses pembuatan Mulsa Organik tersebut.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ugm-buat-mulsa-organik-dari-eceng-gondok-dan-cangkang-telur/feed/ 0
Mahasiswa UGM Ciptakan Plastik Ramah Lingkungan dari Kulit Pisang https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ugm-ciptakan-plastik-ramah-lingkungan-dari-kulit-pisang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mahasiswa-ugm-ciptakan-plastik-ramah-lingkungan-dari-kulit-pisang https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ugm-ciptakan-plastik-ramah-lingkungan-dari-kulit-pisang/#respond Sun, 05 Oct 2025 09:35:25 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=47434 Mahasiswa Universitas Gadjah Mada kembali menciptakan inovasi ramah lingkungan. Kali ini, mereka berhasil mengembangkan plastik biodegradable yang terbuat dari kulit pisang. Inovasi ini lahir dari tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset […]]]>

Mahasiswa Universitas Gadjah Mada kembali menciptakan inovasi ramah lingkungan. Kali ini, mereka berhasil mengembangkan plastik biodegradable yang terbuat dari kulit pisang.

Inovasi ini lahir dari tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) Peelution UGM. Ide tersebut muncul karena keprihatinan mereka terhadap penumpukan sampah plastik yang sulit terurai.

Dari keresahan itulah, akhirnya mereka mencari cara untuk mengurangi pencemaran lingkungan dengan memanfaatkan limbah kulit pisang yang biasanya terbuang begitu saja. Ketua tim PKM-RE Peelution UGM, Dwi Ayu Kurniasih mengatakan bahwa dengan menggabungkan dua masalah ini, tim menghadirkan solusi berbasis konsep zero waste, yaitu mengurangi sampah plastik. Ini sekaligus memberi nilai tambah pada limbah organik.

Ia juga mengaku gelisah apabila melihat keberadaan sampah plastik. Menurutnya, sampah ini menjadi sumber utama pencemaran, baik pencemaran di darat maupun pencemaran di laut. Permasalahan pun timbul karena sifat sampah plastik yang tidak mudah terurai, dan butuh ratusan tahun bila terurai secara alami.

“Apalagi sampah plastik berbasis minyak bumi yang begitu sulit terurai, terus menumpuk dan menjadi ancaman serius bagi lingkungan. Di sisi lain, kita juga melihat melimpahnya limbah kulit pisang yang seringkali berakhir sebagai sampah tanpa pemanfaatan. Dua permasalahan inilah yang membuat tim PKM-RE UGM menghadirkan solusi zero waste,” kata Dwi melansir Berita UGM, Sabtu (4/10).

Bioplastik Alami dari Kulit Pisang

Ide inovasi plastik dari kulit pisang ini berbasis Polyhydroxybutyrate (PHB), yaitu bioplastik alami yang memiliki sifat menyerupai plastik konvensional namun dapat terurai secara alami.

Melalui penginsersian gen penghasil PHB (pHAa, pHAb, dan PhaC), Tim PKM-RE Peelution memodifikasi ragi (yeast) spesies Kluyveromyces marxianus agar mampu memproduksi PHB secara lebih efisien. “Strategi ini menjadikan proses produksi lebih cepat, aman, dan ramah lingkungan dibandingkan metode konvensional berbasis bakteri,” tambah Dwi.

Dwi  menambahkan, penelitian ini tidak hanya menawarkan alternatif pengganti plastik, namun juga mengubah limbah organik menjadi produk bernilai, sehingga mendukung penerapan konsep zero waste. Tim PKM-RE Peelution UGM pun optimistis inovasi berbasis rekayasa genetika ini dapat dikembangkan lebih jauh ke skala industri.

Ia berharap upaya ini dapat berkontribusi pada pengurangan sampah plastik. Selain itu juga untuk mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) melalui pengelolaan limbah yang lebih berkelanjutan.

Selain Dwi Ayu Kurniasih (Fakultas Biologi), tim PKM-RE Peelution UGM ini beranggotakan Aulia Berlian Patricia (Fakultas Biologi), Adrianus Dinata (Fakultas Biologi), Syrin Alia Zahra Marin (Fakultas Teknologi Pertanian), dan Muhammad Tegar Prakoso (Fakultas Teknologi Pertanian). Tim ini juga mendapat pendampingan dari Ganies Riza Aristya, selaku dosen pembimbing.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ugm-ciptakan-plastik-ramah-lingkungan-dari-kulit-pisang/feed/ 0
Mahasiswa UGM Teliti Potensi Daun Rosemary untuk Atasi Gagal Ginjal https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ugm-teliti-potensi-daun-rosemary-untuk-atasi-gagal-ginjal/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mahasiswa-ugm-teliti-potensi-daun-rosemary-untuk-atasi-gagal-ginjal https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ugm-teliti-potensi-daun-rosemary-untuk-atasi-gagal-ginjal/#respond Sun, 28 Sep 2025 05:00:33 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=47383 Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mengungkapkan potensi ekstrak daun rosemary (Rosmarinus officinalis L.) sebagai alternatif inovasi pengobatan gagal ginjal akut (GGA). Penemuan ini […]]]>

Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mengungkapkan potensi ekstrak daun rosemary (Rosmarinus officinalis L.) sebagai alternatif inovasi pengobatan gagal ginjal akut (GGA). Penemuan ini memberi harapan untuk penanganan GGA yang masih terbatas.

Ketua tim peneliti PKM-RE, Randika Taufiq Hari Nugraha mengatakan daun rosemary mereka teliti karena tumbuhan ini mengandung senyawa aktif berupa asam rosmarinat dan kuersetin. Kedua kandungan tersebut memiliki efek antioksidan dan antiinflamasi. Sehingga, mampu melindungi ginjal dari pembentukan kristal kalsium oksalat.

“Gagal ginjal akut merupakan kondisi serius yang dapat menyebabkan kematian bila tidak segera tertangani. Hingga kini, terapi yang tersedia hanya berfokus pada penanganan gejala dan komplikasi. Melalui penelitian ini, kami ingin menawarkan pendekatan baru berbasis herbal,” ungkap Randika mengutip Berita UGM, Sabtu (27/9).

Melalui serangkaian uji Spektrofotometer UV-Vis, Kromatografi Lapis Tipis (KLT), dan uji DPPH, tim PKM-RE Rosnepharis berhasil mengidentifikasi kandungan senyawa fenolik dan flavonoid dalam rosemary.

Rosemary Menekan Stres Oksidatif

Salah satu anggota tim PKM-RE, Devi Vita mengatakan bahwa kombinasi ketiga metode analisis tersebut memperkuat bukti ilmiah mengenai potensi rosemary. Senyawa bioaktif yang terdeteksi terbukti mampu menekan stres oksidatif, salah satu pemicu utama kerusakan ginjal.

“Inilah arti penting riset lintas bidang yang kami lakukan. Dengan penelitian ini, kami berharap bisa membuka jalan bagi pengembangan terapi berbasis bahan alam yang lebih efektif dan terjangkau,” ungkap Devi.

Ia merasa optimis penelitian ini berdampak luas untuk masyarakat. Terlebih, penelitian ini mendapat pendanaan dari Simbelmawa dan bimbingan serta supervisi dari dosen UGM. Devi berharap hasil riset ini dapat dipublikasikan secara ilmiah dan menjadi dasar uji lanjutan di bidang kesehatan.

“Semoga temuan ini tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi bisa menjadi solusi nyata bagi pasien gagal ginjal akut di masa depan,” katanya.

Selain Randika Taufiq Hari Nugraha (Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan) dan Devi Vita Sari (Fakultas Farmasi), tim PKM-RE UGM juga terdiri beberapa anggota. Di antaranya Artha Maressa Theodora Simanjuntak, Frengki Prabowo Saputro Wijayanto (Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan), dan Evelyn Hartono (Fakultas Kedokteran Hewan).

Mereka juga mendapat bimbingan langsung dari Nur Arfian, dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ugm-teliti-potensi-daun-rosemary-untuk-atasi-gagal-ginjal/feed/ 0
Mahasiswa UGM Olah Limbah Ayam Menjadi Suplemen Pakan Kaya Nutrisi https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ugm-olah-limbah-ayam-menjadi-suplemen-pakan-kaya-nutrisi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mahasiswa-ugm-olah-limbah-ayam-menjadi-suplemen-pakan-kaya-nutrisi https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ugm-olah-limbah-ayam-menjadi-suplemen-pakan-kaya-nutrisi/#respond Sun, 07 Sep 2025 05:16:43 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=47270 Tim Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) Fermaze Universitas Gadjah Mada berhasil membuat inovasi mengubah limbah ayam menjadi suplemen pakan bernutrisi. Inovasi ini hadir sebagai solusi atas permasalahan pencemaran lingkungan timbul […]]]>

Tim Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) Fermaze Universitas Gadjah Mada berhasil membuat inovasi mengubah limbah ayam menjadi suplemen pakan bernutrisi. Inovasi ini hadir sebagai solusi atas permasalahan pencemaran lingkungan timbul akibat limbah kotoran ayam. Hal itu dapat memicu timbulnya gas berbahaya seperti amonia dan hidrogen sulfida akibat proses dekomposisi.

Melalui produk bernama Fermaze, tim memanfaatkan maggot Black Soldier Fly (BSF). Sebab, BSF terbukti mampu mendegradasi limbah kotoran ayam dan mengubahnya menjadi pakan kaya nutrisi. Salah satu anggota tim, Renata (FMIPA 2023), menjelaskan bahwa pemanfaatan maggot tidak hanya membantu mengurangi pencemaran. Maggot juga dapat mengoptimalkan nutrisi yang dapat kembali diserap oleh ayam.

BACA JUGA: Voltfang Ubah Baterai Bekas Jadi Penyimpanan Energi Ramah Lingkungan

“Maggot BSF dalam hal ini berperan sebagai sumber protein berkualitas, sehingga mencegah defisiensi gizi pada ayam petelur,” ujar Renata melansir Berita UGM, Jumat (5/9).

Selain maggot, Fermaze juga diformulasikan dengan tepung tulang sebagai sumber kalsium penting. Kalsium sangat penting dalam proses pembentukan cangkang telur, yang 94 persennya tersusun dari kalsium. Kandungan ini menjadikan telur tidak mudah rapuh atau cacat.

Menurut Renata, Fermaze tidak hanya sekadar suplemen pakan alternatif, tetapi juga wujud nyata dari ekosistem peternakan berkelanjutan. “Kami ingin mengolah limbah menjadi sumber daya baru yang bermanfaat. Sehingga bisa menekan biaya produksi, menjaga lingkungan, sekaligus memperkuat daya saing peternak kecil,” katanya.

Perternakan Ayam Petelur Semakin Berkembang

Renata menjelaskan bahwa tim mengembangkan inovasi ini karena industri peternakan ayam petelur di Indonesia terus menunjukkan perkembangan signifikan. Pada pertengahan tahun 2025, produksi nasional ayam petelur mencapai 6,52 juta ton.

“Permintaan protein hewani yang tinggi membuat peternak muda hingga investor agribisnis melirik sektor ini. Sayangnya, di balik peluang besar tersebut, muncul tantangan serius soal limbah kotoran ayam yang menimbulkan pencemaran,” tambahnya.

Dalam tim pengembangan inovasi pakan bernutrisi ini juga terdiri dari Najwa Ramadhani (Fakultas Teknologi Pertanian 2023), Dimas Landung Ghofaro (Fakultas Peternakan 2023), Afifah Diaz Restu Mawarni (Fakultas Peternakan 2023), dan Armedina Radine (Sekolah Vokasi 2024). Tim ini mendapat pendampingan dan pembinaan dari Galuh Adi Insani sebagai dosen Fakultas Peternakan (Fapet) UGM.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ugm-olah-limbah-ayam-menjadi-suplemen-pakan-kaya-nutrisi/feed/ 0
Mahasiswa UGM Ciptakan Alat Pendeteksi Banjir di Sulawesi Tengah https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ugm-ciptakan-alat-pendeteksi-banjir-di-sulawesi-tengah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mahasiswa-ugm-ciptakan-alat-pendeteksi-banjir-di-sulawesi-tengah https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ugm-ciptakan-alat-pendeteksi-banjir-di-sulawesi-tengah/#respond Thu, 14 Aug 2025 01:50:47 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=47131 Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) dari tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Saba Mortara 2025 berhasil menciptakan alat pendeteksi banjir bernama “Bungintimbe WaterSafe”. Alat ini telah terpasang di Desa Bungintimbe, Kabupaten […]]]>

Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) dari tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Saba Mortara 2025 berhasil menciptakan alat pendeteksi banjir bernama “Bungintimbe WaterSafe”. Alat ini telah terpasang di Desa Bungintimbe, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah, untuk membantu mengantisipasi banjir yang sering melanda wilayah tersebut.

Pembuat alat pendeteksi banjir ini adalah Muhammad Nadhir Al Ghifari, seorang mahasiswa Teknik Fisika UGM. Tak sendirian, dalam proses pembuatannya ia bantuan rekannya serta dukungan dari perangkat desa setempat yang membantu proses pemasangan alat.

Nadhir menjelaskan tujuan utama dari pembuatan alat pendeteksi banjir tersebut adalah untuk melindungi masyarakat yang sering kali terdampak banjir.

“Berdasarkan hasil observasi yang saya lakukan, banyak warga khususnya di dusun 3 Desa Bungintimbe yang terdampak paling parah atas banjir tahunan yang terjadi Sungai La,” ungkap Nadhir dikutip dari Berita UGM, Selasa (12/8).

Sementara itu, Pelaksana Harian (PLH) Pemerintah Desa Bungintimbe, Amborape, menyambut baik adanya inovasi berbasis teknologi oleh mahasiswa UGM tersebut. Ia juga menegaskan bahwa banjir di Desa Bungintimbe merupakan bencana rutin yang cukup merugikan masyarakat.

“Banjir di Desa Bungintimbe itu bisa terjadi satu sampai dua kali dalam setahun. Ada yang setahun sekali, dua tahun sekali. Bahkan, ada yang lima tahunan sekali,” katanya.

Lengkapi Pendeteksi Banjir dengan Sensor Canggih

Nadhir menjelaskan alat pendeteksi banjir ini telah menggunakan teknologi sensor canggih yang mampu mendeteksi ketinggian air secara berkala setiap lima menit sekali. Gelombang ultrasonik akan dipantulkan ke arah sensor untuk mengukur ketinggian air.

Selanjutnya, data hasil sensor akan dikirimkan melalui database yang terhubung dengan dashboard berbentuk website yang dapat di diakses oleh masyarakat.

Selain itu, alat pendeteksi banjir ini akan mengeluarkan kode “waspada” ketika ketinggian air sungai sudah mencapai 180 centimeter (cm). Sehingga, alat ini dapat langsung menjadi rujukan warga dalam menghadapi banjir.

“Sistem ini memungkinkan pemantauan kondisi air Sungai La secara real-time, tanpa harus menugaskan petugas khusus untuk melakukan pengecekan manual setiap saat,” tambah Nadhir.

Dengan kehadiran Bungintimbe WaterSafe ini ia berharap alat ini dapat menjadi sistem peringatan dini yang efektif bagi masyarakat Desa Bungintimbe. Dengan adanya pemantauan otomatis setiap jam, warga juga dapat memperoleh informasi terkini mengenai kondisi ketinggian air Sungai La. Sehingga, dapat mengantisipasi potensi banjir lebih awal.

Oleh karena itu, inovasi digital tersebut juga bisa menjadi rujukan pemerintah desa. Terutama dalam menciptakan desa tangguh bencana dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, ketika menghadapi bencana alam. Khususnya banjir yang sering terjadi di daerah aliran sungai.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ugm-ciptakan-alat-pendeteksi-banjir-di-sulawesi-tengah/feed/ 0
Mahasiswa UGM Tanam 2.000 Mangrove untuk Pulihkan Pesisir Pulau Bawean https://www.greeners.co/aksi/mahasiswa-ugm-tanam-2-000-mangrove-untuk-pulihkan-pesisir-pulau-bawean/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mahasiswa-ugm-tanam-2-000-mangrove-untuk-pulihkan-pesisir-pulau-bawean https://www.greeners.co/aksi/mahasiswa-ugm-tanam-2-000-mangrove-untuk-pulihkan-pesisir-pulau-bawean/#respond Mon, 14 Jul 2025 10:01:52 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=46976 Jakarta (Greeners) – Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam Tim KKN-PPM Baweanesia menanam 2.000 bibit mangrove di Pulau Bawean, Jawa Timur. Aksi ini merupakan bagian dari program bertajuk […]]]>

Jakarta (Greeners) – Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam Tim KKN-PPM Baweanesia menanam 2.000 bibit mangrove di Pulau Bawean, Jawa Timur. Aksi ini merupakan bagian dari program bertajuk “Selamatkan Mangrove, Selamatkan Masa Depan Pesisir”, sebagai upaya mencegah abrasi pantai dan melakukan restorasi ekosistem pesisir.

Koordinator Program Penanaman Mangrove, Nicho, menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar proyek jangka pendek. Program ini merupakan gerakan jangka panjang untuk membangun kesadaran ekologis dan mendorong pelestarian lingkungan yang berkelanjutan.

“Kami memulai dengan melakukan pemetaan persoalan lingkungan, berdialog dengan warga, dan merancang aksi yang tidak hanya simbolik, tetapi memberi dampak nyata,” ujar Nicho dikutip dari Berita UGM.

Keberhasilan program ini juga didukung oleh Trees4Trees, sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang fokus pada reforestasi dan pemberdayaan masyarakat lokal. Organisasi ini menyediakan bibit, bantuan teknis, dan edukasi mengenai pentingnya ekosistem mangrove. Kehadiran Trees4Trees menjadi jembatan antara semangat mahasiswa dan pengalaman lapangan yang dibutuhkan dalam aksi ekologis seperti ini.

BACA JUGA: Selidiki Sungai, Pelajar Pulau Bawean Temukan Mikroplastik di Perut Ikan

Dengan pendekatan partisipatif, tim melibatkan masyarakat lokal dalam setiap tahap kegiatan. Mereka tidak hanya menerima manfaat, tetapi juga menjadi aktor utama dalam menjaga dan merawat mangrove. Tim KKN Baweanesia menegaskan bahwa program ini adalah bentuk nyata pembangunan berkelanjutan berbasis komunitas.

“Kami ingin meninggalkan sesuatu yang tumbuh. Bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara nilai dan kesadaran. Mangrove ini adalah upaya kami untuk keberlanjutan bagi generasi berikutnya,” imbuh Nicho.

Mahasiswa UGM Dorong Desa Jadi Pusat Inovasi

Program ini menandai awal baru bagi Tim KKN Baweanesia mendorong desa pesisir sebagai pusat inovasi hijau dan berkelanjutan. Nicho mengatakan bahwa kegiatan ini bukan menjadi akhir. Namun, awal dari gerakan panjang menuju desa yang berdaya, berkelanjutan, dan selaras dengan alam.

“Melalui kolaborasi perangkat desa, karang taruna, masyarakat, serta mitra seperti Trees4Trees, kami berharap Desa Sidogedungbatu akan dapat menapaki jalan baru menuju pembangunan yang berbasis pada kearifan lokal dan keberlanjutan lingkungan,” tambahnya.

BACA JUGA: SDIT Al Huda Pulau Bawean Bagikan Daging Kurban Pakai Daun Jati

Nicho menekankan bahwa lebih dari sekadar aksi menanam, kegiatan ini menciptakan kultur ekologis bahwa merawat alam bukanlah pilihan melainkan kewajiban. Aksi ini juga menjadi media pelajaran bagi para mahasiswa dan warga sekitar tentang tanggung jawab, cinta pada kampung halaman. Bahkan, untuk mengetahui pentingnya menjaga bumi sebagai rumah bersama.

 

Sumber: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/mahasiswa-ugm-tanam-2-000-mangrove-untuk-pulihkan-pesisir-pulau-bawean/feed/ 0
Mahasiswa UGM Tanam 500 Bibit Bambu di Gunungkidul https://www.greeners.co/aksi/mahasiswa-ugm-tanam-500-bibit-bambu-di-gunungkidul/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mahasiswa-ugm-tanam-500-bibit-bambu-di-gunungkidul https://www.greeners.co/aksi/mahasiswa-ugm-tanam-500-bibit-bambu-di-gunungkidul/#respond Sun, 06 Jul 2025 07:20:42 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=46927 Jakarta (Greeners) – Sejumlah mahasiswa dan alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam Komunitas Mratani Project menggelar aksi penanaman 500 bibit bambu di Kalurahan Pengkok, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul, […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sejumlah mahasiswa dan alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam Komunitas Mratani Project menggelar aksi penanaman 500 bibit bambu di Kalurahan Pengkok, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul, pada Sabtu (28/6). Kegiatan ini merupakan kerja sama dengan Kelompok Tani Hutan (KTH) Tunas Karya.

Ketua Tim Pelaksana, Septian Adira, menjelaskan bahwa penanaman bambu ini merupakan bentuk edukasi langsung kepada masyarakat mengenai pentingnya pelestarian lingkungan. Selain sebagai upaya menjaga ekosistem, kegiatan ini diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk terlibat aktif dalam merawat alam.

Menurut Septian, wilayah Pengkok dulunya terkenal sebagai kawasan yang memiliki vegetasi bambu yang cukup luas, termasuk di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Oya. Namun, pemanfaatan bambu secara tidak berkelanjutan dengan sistem tebang habis menyebabkan populasi bambu menurun drastis. Hal ini turut memicu meningkatnya risiko bencana seperti banjir dan erosi.

BACA JUGA: Bambu Raksasa, Terbesar di Dunia Tingginya Bisa Capai 42 Meter

“Untuk itu, penanaman bambu ini juga sebagai upaya untuk merestorasi lahan DAS di wilayah Pengkok,” tutur Septian melansir Berita UGM.

Kalurahan Pengkok berada di lembah Pegunungan Sewu yang dilintasi aliran Sungai Oya. Kondisi geografis ini menjadikan kawasan tersebut rentan terhadap bencana banjir dan tanah longsor, terutama saat musim hujan.

Septian menambahkan, bambu mereka pilih karena kemampuannya dalam menyimpan air serta memperkuat struktur tanah. Dengan demikian, ia berharap penanaman ini tidak hanya mampu mengurangi potensi bencana, tetapi juga membantu meningkatkan cadangan air tanah, terutama saat musim kemarau.

Banyak Manfaat Menanam Pohon Bambu

Lurah Pengkok, Sugit menyambut baik dan memberikan dukungan terhadap kegiatan ini. Menurutnya, penanaman pohon bambu akan mendatangkan banyak kebermanfaatan bagi Kalurahan Pengkok.

“Kami sangat mengapresiasi, dan berterima kasih dan mendukung sepenuhnya terhadap pelaksanaan penanaman bambu ini. Bambu mampu memberikan banyak manfaat untuk pertanian dan juga memiliki nilai ekonomis luar biasa,” kata Sugit.

BACA JUGA: Rumah Pembibitan dari Bambu dan Botol Plastik

Sugit menambahkan, selain sebagai media konservasi, batang bambu juga bermanfaat sebagai produk kerajinan, bahan bangunan, dan lain-lain. Namun, tetap harus mengedepankan keberlanjutan.

Ketua KTH Tunas Karya, Jumingin juga mengungkapkan bahwa kelompoknya telah lama berkecimpung dalam dunia bambu. Harapannya, kegiatan ini semakin membuka mata masyarakat Kalurahan Pengkok terhadap manfaat tanaman bambu.

Menurut Jumingin, kegiatan kolaborasi antara Mratani Project dan KTH Tunas Karya ini menunjukkan bahwa konservasi dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat.

“Aksi tanam 500 bambu ini menjadi langkah awal untuk memperkuat komitmen bersama dalam menjaga bumi yang lebih hijau dan lestari dimulai dari Kalurahan Pengkok,” imbuhnya.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/mahasiswa-ugm-tanam-500-bibit-bambu-di-gunungkidul/feed/ 0
Mahasiswa UGM Ciptakan Pemecah Gelombang, Juara di Kompetisi Nasional https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ugm-ciptakan-pemecah-gelombang-juara-di-kompetisi-nasional/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mahasiswa-ugm-ciptakan-pemecah-gelombang-juara-di-kompetisi-nasional https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ugm-ciptakan-pemecah-gelombang-juara-di-kompetisi-nasional/#respond Sat, 22 Mar 2025 06:14:54 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=46206 Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil meraih juara 1 dalam ajang Coastal Protection Competition Dedikasi 2025 yang berlangsung di Universitas Hasanuddin. Tim Gama Lautan Utama, yang terdiri dari mahasiswa jurusan […]]]>

Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil meraih juara 1 dalam ajang Coastal Protection Competition Dedikasi 2025 yang berlangsung di Universitas Hasanuddin. Tim Gama Lautan Utama, yang terdiri dari mahasiswa jurusan teknik sipil, berhasil menciptakan inovasi bangunan pelindung pantai berupa pemecah gelombang tenggelam dengan balok perforasi.

Tim Gama Lautan Utama juga beranggotakan Bintang Lailatul Qadri Faris Fathurrohman dan Alief Rizky Pratama.  Melalui ajang ini, mereka membawa inovasi bertajuk C-Guard Breakwater: Pemecah Gelombang Tenggelam Perforasi Berbahan Beton Komposit Terak Baja”.

Menurut Bintang, selaku Ketua Tim Gama Lautan Utama, pemecah gelombang ini terbukti efektif dalam melindungi kawasan wisata pantai dari abrasi dan erosi. Desainnya juga tidak mengganggu estetika kawasan pantai.

BACA JUGA: Mahasiswa UI Ciptakan Bahan Bakar Alkohol Ramah Lingkungan

“Dengan menggunakan green concrete dari steel slag sebagai bahan material pemecah gelombang, kami berharap inovasi C-Guard Breakwater ini mampu melindungi pantai dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan,” ujar Bintang dalam keterangan tertulisnya, Senin (3/3).

Berita UGM melansir bahwa Tim Gama Lautan Utama telah melalui tahapan presentasi dan pengujian model C-Guard Breakwater. Berkat hasil kerja keras mereka, tim ini berhasil meraih prestasi terbaik. Bahkan, mereka juga menjadi juara pertama dalam kompetisi perlindungan pantai di ajang Dedikasi 2025.

Tim Gama Lautan Utama Tunjukkan Visi Jangka Panjang

Keberhasilan Tim Gama Lautan Utama tidak hanya mencerminkan kemampuan teknis mereka. Namun, mereka juga telah menunjukkan visinya dalam merancang infrastruktur yang memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan lingkungan.

“Kami berharap prestasi ini menjadi inspirasi bagi mahasiswa teknik sipil lainnya untuk terus berinovasi dan berkontribusi nyata dalam pembangunan nasional,” tambah Bintang.

BACA JUGA: Peneliti BRIN Ubah Pelepah Pisang Jadi Wadah Makanan

Sebagai anggota tim, Faris menambahkan bahwa Dedikasi 2025 merupakan platform bagi mahasiswa teknik sipil di seluruh Indonesia. Melalui platform tersebut, mereka dapat menunjukkan inovasi dalam menyelesaikan permasalahan keairan di Indonesia.

Kompetisi ini terdiri dari dua mata lomba. Di antaranya Civil Case Innovation dan Coastal Protection Competition. Menurutnya, kedua kompetisi ini memiliki tingkat persaingan yang sangat tinggi.

Lima tim terbaik berhasil melaju ke babak final ini telah mengikuti dua tahapan pada 30 Januari hingga 2 Februari 2025. Di antaranya tahap presentasi hasil rancangan dan pengujian model bangunan pelindung pantai dalam bentuk flume.

“Melalui tahap-tahap ini, setiap tim diuji tidak hanya dalam kemampuan teknis dan desain, tetapi juga dalam komunikasi ilmiah serta kreativitas dalam menyampaikan ide,” imbuh Faris.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ugm-ciptakan-pemecah-gelombang-juara-di-kompetisi-nasional/feed/ 0
Mahasiswa KKN UGM Tanam Mangrove di Buton Tengah Sulteng https://www.greeners.co/aksi/mahasiswa-kkn-ugm-tanam-mangrove-di-buton-tengah-sulteng/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mahasiswa-kkn-ugm-tanam-mangrove-di-buton-tengah-sulteng https://www.greeners.co/aksi/mahasiswa-kkn-ugm-tanam-mangrove-di-buton-tengah-sulteng/#respond Mon, 03 Feb 2025 04:55:11 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=45829 Jakarta (Greeners) – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) menanam mangrove di pesisir Desa Terapung, Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara, pada Minggu, 26 […]]]>

Jakarta (Greeners) – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) menanam mangrove di pesisir Desa Terapung, Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara, pada Minggu, 26 Januari 2025. Aksi ini merupakan bagian dari upaya untuk mengatasi dampak perubahan iklim.

Salah satu anggota tim KKN-PPM UGM dari klaster Agrokompleks, Fauzan Aldi menjelaskan, hasil observasi tim menunjukkan kondisi mangrove di pesisir Desa Terapung menghadapi tantangan serius. Selain itu, juga berpotensi mengalami degradasi lingkungan. Meskipun sebelumnya sudah ada penanaman mangrove oleh berbagai pihak, banyak tanaman yang tidak bertahan hidup.

“Banyak tanaman tidak bertahan karena metode yang kurang tepat, seperti polybag yang tertinggal di dalam tanaman. Akibatnya, banyak tanaman mangrove gagal tumbuh dan rusak,” kata Fauzan dilansir Berita UGM.

BACA JUGA: Guru Besar UGM: Perluasan Sawit Ancam Kelestarian Hutan

Untuk kegiatan kali ini, tim mahasiswa KKN-PPM UGM mengganti tanaman mangrove yang rusak dan menambahkan bibit baru dengan pendekatan yang lebih terencana. Penanaman ini tidak hanya bertujuan untuk memulihkan ekosistem pesisir, melainkan juga dapat melindungi wilayah tersebut dari ancaman abrasi.

Kolaborasi Penanaman

Penanaman mangrove ini hasil kolaborasi tim KKN Universitas Gadjah Mada (UGM), tim KKN Universitas Muhammadiyah Buton (UMB), dan masyarakat setempat. Selain itu, tokoh lokal Desa Terapung yang juga seorang peneliti dan ahli botani, Arman, turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Menurut Fauzan, kehadiran Arman sangat masyarakat harapkan. Arman memberikan dukungan langsung sekaligus arahan teknis dalam proses penanaman mangrove.

“Tentu saja kehadiran beliau untuk memberikan panduan bagi kami dalam proses penanaman mangrove agar lebih efektif dan berkelanjutan,” tambah Fauzan.

Fauzan berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran lingkungan di kalangan warga, khususnya generasi muda. Anak-anak Desa Terapung yang ikut serta dalam kegiatan penanaman mangrove mendapatkan edukasi langsung mengenai pentingnya menjaga ekosistem pesisir untuk masa depan.

BACA JUGA: Mahasiswa UGM Bersih-bersih Pantai Baru

”Kami memastikan semua bibit ditanam tanpa polybag, dan area tanam disesuaikan dengan karakteristik lingkungan pesisir setempat,” ucap Fauzan Aldi.

Arman mengapresiasi langkah dari mahasiswa KKN-PPM UGM. Ia mengucapkan terima kasih kepada tim KKN Universitas Muhammadiyah Buton yang juga turut berpartisipasi. Arman juga percaya bahwa kegiatan ini akan meninggalkan jejak positif bagi Desa Terapung.

“Kegiatan ini akan menjadi prasasti. Lima hingga 10 tahun ke depan, mangrove yang kita tanam hari ini akan menjadi rumah bagi berbagai biota laut di Desa Terapung,” ujar Arman.

Dengan optimisme yang tinggi, Arman berharap penanaman mangrove ini menjadi langkah awal dalam membangun sistem ketahanan lingkungan berbasis komunitas di Desa Terapung. Ia juga berharap agar masyarakat dapat menerapkan cara ini sebagai model di wilayah pesisir lainnya.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/mahasiswa-kkn-ugm-tanam-mangrove-di-buton-tengah-sulteng/feed/ 0
Mahasiswa UGM Bersih-bersih Pantai Baru https://www.greeners.co/aksi/mahasiswa-ugm-bersih-bersih-pantai-baru/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mahasiswa-ugm-bersih-bersih-pantai-baru https://www.greeners.co/aksi/mahasiswa-ugm-bersih-bersih-pantai-baru/#respond Sat, 28 Dec 2024 05:00:16 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=45562 Jakarta (Greeners) – Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM) bersih-bersih sampah di Pantai Baru, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pengabdian masyarakat ini sebagai bentuk refleksi dan penyegaran setelah […]]]>
Jakarta (Greeners) – Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM) bersih-bersih sampah di Pantai Baru, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pengabdian masyarakat ini sebagai bentuk refleksi dan penyegaran setelah ujian akhir semester.

Sebanyak 50 peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok. Mereka menerima berbagai peralatan, seperti trashbag, sapu, serok sampah, dan keranjang untuk memudahkan pengumpulan sampah. Kegiatan ini juga melibatkan kelompok wisata Pantai Baru serta masyarakat setempat yang turut berpartisipasi dalam menjaga kebersihan pantai.

Ketua Departemen Perikanan Fakultas Pertanian UGM, Alim Isnansetyo, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata kontribusi mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan dalam pelestarian ekosistem.

“Setelah melewati ujian yang melelahkan, kegiatan bersih pantai ini menjadi kesempatan yang baik untuk mengalihkan pikiran dan berkontribusi positif bagi lingkungan,” ujar Alim lewat keterangan tertulisnya.

BACA JUGA: Greeners.Co Ajak Mahasiswa UGM Mengenal Ecopreneurship

Selain bersih-bersih pantai, panitia juga memeriahkan kegiatan ini dengan lomba fotografi. Mereka memberikan apresiasi kepada kelompok yang berhasil mengumpulkan sampah terbanyak serta yang menampilkan kreativitas terbaik.

Ia berharap kegiatan ini bisa menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Khususnya, di wilayah pesisir dapat semakin meningkat.

Aksi bersih-bersih sampah di Pantai Baru, Yogyakarta. Foto: Berita UGM

Aksi bersih-bersih sampah di Pantai Baru, Yogyakarta. Foto: Berita UGM

Kontribusi Nyata

Ketua Program Studi Magister Ilmu Perikanan, Fakultas Pertanian UGM, Eko Setyobudi mengatakan kegiatan bisa jadi sarana pembelajaran. Selain itu, juga pengaplikasian ilmu yang erat kaitannya dengan ekosistem laut dan pesisir.

“Sebagai generasi yang bergerak di bidang perikanan dan kelautan, menjaga kelestarian ekosistem laut menjadi tanggung jawab bersama. Harapannya, kegiatan ini mampu memberikan kontribusi nyata,” terangnya.

Dalam kegiatan ini, mereka memastikan seluruh kawasan pantai terjangkau oleh aksi bersih-bersih ini. Kegiatan ini juga dimeriahkan dengan sesi ramah tamah. Setiap kelompok mendapatkan kesempatan untuk menampilkan hiburan seperti lagu, pantun, puisi, dan tebak gaya.

BACA JUGA: Keren! Mahasiswa UGM Olah Biji Kakao untuk Kosmetik

Sementara itu, Suwandi selaku aktivis dan Ketua Kelompok Wisata Pantai Baru mengakui pantai di Kawasan Bantul sering menerima tumpukan sampah, terutama dari muara sungai yang meningkat drastis pada bulan Desember hingga Februari.

“Bersih pantai ini tentu sangat membantu kami sebagai pengelola pantai, terutama dalam menjaga kebersihan kawasan pesisir,” ungkapnya.

Baginya, kegiatan pengabdian ini tidak hanya berhasil membersihkan area pesisir. Namun, juga memberikan pengalaman edukatif kepada para peserta tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Ia berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut di masa mendatang.

”Tentunya program ini tidak hanya menjadi ajang pembelajaran. Tetapi  menjadi wujud nyata kontribusi kalangan kampus bagi keberlanjutan lingkungan pesisir,” imbuh Suwandi.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/mahasiswa-ugm-bersih-bersih-pantai-baru/feed/ 0
Keren! Mahasiswa UGM Olah Biji Kakao untuk Kosmetik https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ugm-manfaatkan-biji-kakao-untuk-produk-kosmetik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mahasiswa-ugm-manfaatkan-biji-kakao-untuk-produk-kosmetik https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ugm-manfaatkan-biji-kakao-untuk-produk-kosmetik/#respond Wed, 20 Nov 2024 06:28:53 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=45281 Lima mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mengolah biji kakao menjadi produk kosmetik dengan nilai ekonomi tinggi. Produk berbahan dasar kakao ini diberi nama Kakolie […]]]>

Lima mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mengolah biji kakao menjadi produk kosmetik dengan nilai ekonomi tinggi. Produk berbahan dasar kakao ini diberi nama Kakolie Beauty yang menawarkan berbagai produk perawatan tubuh, seperti body soap, body scrub, dan body lotion.

Dengan ide inovatifnya, lima mahasiswa dari UGM ini berhasil mengembangkan dan memanfaatkan biji kakao yang belum dimanfaatkan secara optimal. Tujuan pengembangan produk ini adalah untuk meningkatkan nilai guna sekaligus nilai ekonomi dari biji kakao.

Dengan memanfaatkan bahan dasar tumbuhan ini, Kakolie Beauty menawarkan berbagai manfaat, seperti mencerahkan kulit secara alami, mencegah garis halus, serta cocok untuk kulit sensitif.

BACA JUGA: Greeners.Co Ajak Mahasiswa UGM Mengenal Ecopreneurship

Kelima mahasiswa FEB UGM yang terlibat dalam pengembangan Kakolie Beauty adalah Jeanette Sabrina Nainggolan, bersama empat rekannya dari Program Sarjana Studi Manajemen angkatan 2022, yaitu Karina Mutia Azrah, Gracella Tambunan, Hanna Takiya Irfan Bey, dan Raisa Aulia.

Jeanette Sabrina, salah satu penggagas Kakolie Beauty, menjelaskan bahwa ia bersama tim mengembangkan produk ini dengan memanfaatkan biji kakao dari Desa Putat, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Di samping itu, Desa Putat sudah terkenal sebagai salah satu sentra produksi kakao di wilayah tersebut

“Kami berupaya menghadirkan produk perawatan tubuh dengan bahan utama biji kakao yang mengandung antioksidan tinggi sehingga baik untuk kulit,” ujar Jeanette lewat keterangan tertulisnya, Senin (18/11).

Raih Juara 3

Selain itu, inovasi oleh kelima mahasiswa tersebut berhasil membawa mereka meraih juara 3 dalam program pra-inkubasi bisnis YES! X CSDU pada 10 November 2024 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM. Bahkan, sebagai pemenang, mereka berhak mendapatkan pendanaan sebesar 10 juta rupiah untuk mendukung pengembangan usaha mereka di masa depan.

Karina Mutia Azrah, salah satu anggota tim, menjelaskan bahwa produk Kakolie Beauty lahir melalui program pra-inkubasi bisnis YES! X CSDU. Selama mengikuti program ini, ia dan tim menerima mentoring serta berbagai pelatihan yang sangat membantu dalam pengembangan usaha mereka.

“Saya sangat bersyukur bisa mengikuti program ini. Materi selama pelatihan benar-benar membantu kami untuk mengeksplorasi dunia kewirausahaan dan memulai usaha,” ujar Karina.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ugm-manfaatkan-biji-kakao-untuk-produk-kosmetik/feed/ 0
Mahasiswa UGM Terapkan Inisiatif Pemilahan Sampah di Gelanggang Expo https://www.greeners.co/aksi/mahasiswa-ugm-terapkan-inisiatif-pemilahan-sampah-di-gelanggang-expo/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mahasiswa-ugm-terapkan-inisiatif-pemilahan-sampah-di-gelanggang-expo https://www.greeners.co/aksi/mahasiswa-ugm-terapkan-inisiatif-pemilahan-sampah-di-gelanggang-expo/#respond Sun, 25 Aug 2024 03:00:23 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=44573 Jakarta (Greeners) – Kini semakin banyak anak muda yang menyadari pentingnya memilah sampah. Salah satu contohnya adalah mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang menerapkan pemilahan sampah pada kegiatan Gelanggang Expo […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kini semakin banyak anak muda yang menyadari pentingnya memilah sampah. Salah satu contohnya adalah mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang menerapkan pemilahan sampah pada kegiatan Gelanggang Expo (GELEX) di Lapangan Pancasila UGM.

Gelanggang Expo adalah acara tahunan yang memperkenalkan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan komunitas di UGM. Selain pertunjukan dari masing-masing UKM, acara ini juga menampilkan stand yang memberikan informasi mengenai UKM dan open recruitment.

Inisiatif pemilahan sampah di acara ini digagas oleh Lokalogi, sebuah komunitas mahasiswa peduli sampah. Mereka menyediakan tempat sampah terpilah yang terbagi menjadi tiga kategori, yaitu sampah organik, sampah daur ulang, dan sampah residu.

BACA JUGA: Greeners.Co Ajak Mahasiswa UGM Mengenal Ecopreneurship

Tujuan pemilahan sampah ini adalah untuk menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan kampus. Selain itu, inisiatif ini juga bertujuan mengurangi volume sampah yang harus diproses oleh Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) UGM di Sleman.

Pemilahan sampah ini juga mempermudah petugas pemungut sampah dalam proses pengolahan di akhir acara. Petugas juga bertugas mengedukasi mahasiswa yang mengunjungi GELEX tentang cara membuang sampah sesuai dengan jenisnya.

Pilah dan Manfaatkan Sampah

Salah satu relawan pemilahan sampah dari Program Studi Mikrobiologi, Fakultas Pertanian, Arya menjelaskan bahwa setelah sampah dipisahkan sesuai jenisnya, sampah-sampah ini akan dimanfaatkan untuk mengurangi limbah.

“Untuk sampah organik sisa-sisa makanan akan pengelola jadikan makanan untuk maggot yang sudah ada penampungnya sendiri. Kami mempunyai partner yang siap menampung apa yang kita kerjakan,” ungkap Arya dalam laman berita UGM pada Kamis (22/8).

Sementara itu, sampah botol, plastik, dan kertas akan ada mitra untuk mengelola yang memiliki kebijakan masing-masing terkait jenis sampah yang mereka tampung.

BACA JUGA: Mahasiswa UGM Teliti Potensi Kunyit sebagai Obat Kanker

“Sedangkan sampah residu biasanya kami serahkan kepada pihak pengelola sampah UGM,” tambah Arya.

Ilham, seorang mahasiswa dari Sekolah Vokasi yang menjadi panitia GELEX, menambahkan bahwa program pemilahan sampah ini bertujuan agar pengelolaan sampah lebih terkontrol. Letak kotak tempat sampah yang strategis memudahkan pengunjung untuk membuang sampah pada tempatnya.

Ilham berharap pemilahan sampah di Gelanggang Expo dapat mempermudah pengelolaan sampah dan mengurangi jumlah limbah yang tidak terpakai secara efektif dan efisien. Program ini bertujuan untuk menjaga kebersihan dan keasrian lokasi acara, bahkan setelah GELEX berakhir.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/mahasiswa-ugm-terapkan-inisiatif-pemilahan-sampah-di-gelanggang-expo/feed/ 0
Maglor, Inovasi Pakan Ternak dari Maggot BSF dan Daun Kelor https://www.greeners.co/ide-inovasi/maglor-inovasi-pakan-ternak-dari-maggot-bsf-dan-daun-kelor/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=maglor-inovasi-pakan-ternak-dari-maggot-bsf-dan-daun-kelor https://www.greeners.co/ide-inovasi/maglor-inovasi-pakan-ternak-dari-maggot-bsf-dan-daun-kelor/#respond Sun, 18 Aug 2024 03:00:20 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=44514 Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan pakan ayam broiler dan petelur. Mereka menggabungkan potensi maggot Black Soldier Fly (BSF) dan daun kelor bernama Maglor. Produk ini menawarkan solusi pakan yang […]]]>

Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan pakan ayam broiler dan petelur. Mereka menggabungkan potensi maggot Black Soldier Fly (BSF) dan daun kelor bernama Maglor. Produk ini menawarkan solusi pakan yang efisien, ramah lingkungan, serta berkontribusi pada peningkatan kesehatan dan kualitas hasil ternak.

Kelompok tersebut terdiri dari lima mahasiswa UGM, yaitu Dewi Kumala Ayu, Sabrina Nur Anisa, Khayatun Nisa, Aurelia Nadiyah Prayudanti, dan Dhedi Hasyim Darmawan. Mereka mengembangkan pakan ternak ini di bawah bimbingan Mohammad Sofi’ul Anam.

Dewi Kumala Ayu mengatakan, pakan Maglor yang mereka kembangkan merupakan suplementasi pakan organik berbahan dasar maggot Black Soldier Fly (BSF) dan daun kelor (Moringa oleifera).

“Produk ini kami tujukan untuk menunjang efisiensi pakan ayam broiler dan petelur,” ujar Ayu dalam laman berita UGM pada Sabtu (1o/8).

BACA JUGA: Greeners.Co Ajak Mahasiswa UGM Mengenal Ecopreneurship

Ayu menjelaskan, alasan penggunaan maggot BSF dalam produk ini karena maggot memiliki kandungan protein tinggi yang baik untuk pakan ternak. Selain itu, maggot ini mudah peternak budidayakan dan kaya akan nutrisi. Maggot memiliki kandungan baik seperti protein, asam lemak esensial, dan mineral yang ayam butuhkan.

“Penggunaan maggot BSF juga membantu dalam mengurangi limbah organik karena larva ini dapat memproses sampah organik,” paparnya.

Daun Kelor Mengandung Nutrisi yang Baik

Sementara itu, Sabrina menjelaskan bahwa daun kelor mereka pilih sebagai bahan pakan karena mengandung berbagai nutrisi penting. Kandungan itu seperti protein, metabolit sekunder, antioksidan, dan karotenoid. Nutrisi tersebut berfungsi untuk meningkatkan produktivitas ternak dan mendorong pertumbuhan.

“Dalam dunia peternakan, daun kelor mampu meningkatkan imunitas hewan ternak serta memperbaiki kualitas daging dan telur yang dihasilkan. Daun kelor juga mudah kami budidayakan dan memiliki siklus panen yang cukup cepat,” ujarnya.

BACA JUGA: Mahasiswa UGM Teliti Potensi Kunyit sebagai Obat Kanker

Sabrina berharap suplemen Maglor ini dapat membawa perubahan positif dalam industri peternakan, khususnya pada ayam broiler dan petelur.

“Kami berharap ide-ide kreatif ini dapat memberikan dampak nyata dalam sektor kewirausahaan dan keberlanjutan,” ujarnya.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/maglor-inovasi-pakan-ternak-dari-maggot-bsf-dan-daun-kelor/feed/ 0
Mahasiswa UGM Teliti Potensi Kunyit sebagai Obat Kanker https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ugm-teliti-potensi-kunyit-sebagai-obat-kanker/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mahasiswa-ugm-teliti-potensi-kunyit-sebagai-obat-kanker https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ugm-teliti-potensi-kunyit-sebagai-obat-kanker/#respond Fri, 26 Jul 2024 07:00:19 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=44367 Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) meneliti potensi kombinasi herbal kunyit dan graphene sebagai obat penderita kanker payudara. Senyawa yang terkandung dalam kunyit tersebut memiliki zat anti-kanker untuk membantu pemulihan pasien […]]]>

Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) meneliti potensi kombinasi herbal kunyit dan graphene sebagai obat penderita kanker payudara. Senyawa yang terkandung dalam kunyit tersebut memiliki zat anti-kanker untuk membantu pemulihan pasien kanker payudara.

Laporan Global Cancer Statistics (GLOBOCAN) menyatakan bahwa penderita kanker dunia berpotensi meningkat 47% pada tahun 2040. Sebanyak 28,4 juta kasus berbagai jenis kanker akan muncul. Menurut prediksi, salah satu paling tinggi adalah kanker payudara.

Populasi penderita kanker payudara di Indonesia mencapai 19,2% dari seluruh populasi penderita kanker. Jumlah tersebut membuat kanker payudara menjadi penyebab kematian tertinggi kedua setelah kanker paru-paru.

Sampai saat ini, teknologi penyembuhan dan penghambat pertumbuhan kanker berbasis bioaktif telah banyak peneliti kembangkan. Salah satunya, penelitian oleh tim mahasiswa UGM berhasil mengembangkan alternatif terapi kanker payudara dengan CurcumaPharphene.

BACA JUGA: Mahasiswa Unsoed Buat Tablet Hisap dari Daun Pegagan

“Hasil penelitian kami ternyata kunyit mengandung zat yang lebih tinggi dan efektif daripada ekstrak kunyit biasa,” kata Ketua CurcumaPharphene Research Team, Afnan Syifa’ Muhammad, Sabtu (20/7).

Selain Afnan, CurcumaPharphene Research Team beranggotakan empat orang lainnya, yakni Muhammad Nino Irwana, Gabriella Kanya Sapto Putri, Jennifer, dan Durroh Sofiana. Penelitian ini di bawah bimbingan Dosen Fakultas Farmasi UGM, Ritmaleni.

Uji Kandungan Alami dalam Kunyit

Melalui program Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Riset Eksakta (PKM-RE), tim ini telah menguji kandungan alami dalam kunyit yang terkenal memiliki kandungan efektif sebagai zat anti-kanker. Turunannya terkenal dengan nama Pentagamavunon-1 (PGV-1), yakni senyawa hasil sintesis yang berfungsi sebagai antiinflamasi dan antikanker.

Menurut Afnan, meskipun pemanfaatan zat tersebut sudah cukup umum, kandungannya dalam kunyit belum maksimal untuk membunuh sel kanker di tubuh dengan tepat. Afnan dan tim menemukan potensi penggunaan graphene atau grafena yang mampu meningkatkan kinerja Pentagamavunon-1.

Nanomaterial graphene serta turunannya, seperti graphene oxide dan graphene quantum dots adalah material yang memiliki luas permukaan sangat besar sehingga memiliki drug loading capacity yang sangat baik.

“Kelebihan ini memungkinkan kandungan yang dibawa dalam satuan nanopartikel lebih banyak dibanding material lainnya,” ujarnya.

Graphene Miliki Banyak Manfaat

Gabriella Kanya Sapto Putri menuturkan, pada penelitian tersebut, ekstrak kunyit (curcumin) yang mereka kombinasikan dengan graphene oxide dan graphene quantum dots–sebagai penghantar obat terhadap sel MCF-7 kanker payudara, terbukti memiliki potensi yang lebih baik daripada curcumin biasa.

“Sehingga mencapai delapan kali lipat (800%). Dengan kombinasi ini, berpotensi dapat membantu penderita kanker payudara di luar sana,” katanya.

Ia menjelaskan, graphene adalah nanobased material dua dimensi yang memiliki kekuatan hingga 200x lebih kuat daripada baja. Graphene juga memiliki konduktivitas listrik 70% lebih baik daripada tembaga.

BACA JUGA: Plasma Nano Bubble, Teknologi yang Mampu Pulihkan Kualitas Air

Fleksibilitas graphene bahkan terlampau tinggi, yakni daya renggang lebih dari 40%. Graphene juga sangat tipis, ringan, bahkan nyaris transparan. Sehingga, mudah untuk diaplikasikan di berbagai bidang, salah satunya farmasi.

Selama ini, potensi graphene di bidang farmasi dapat dimanfaatkan sebagai nanocosmetic, nanobiosensor, dan nano drug delivery system. Kemoterapi oral sebagai salah satu metode pengobatan kanker memerlukan drug delivery system yang kuat untuk meningkatkan efektivitas dan menurunkan efek samping.

Drug delivery saat ini dinilai masih belum cukup efektif untuk kemoterapi secara oral. Oleh karena itu, graphene digadang-gadang sebagai drug delivery system baru untuk merevolusi kemoterapi secara oral,” tutur anggota lainnya, Nino.

Nino optimistis hasil penelitian ini mampu merevolusi perkembangan dunia farmasi di Indonesia. Inovasi ini sekaligus mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) ketiga, yakni kehidupan sehat dan sejahtera.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ugm-teliti-potensi-kunyit-sebagai-obat-kanker/feed/ 0