Majelis Ulama Indonesia - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/majelis-ulama-indonesia/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 18 Jan 2021 18:57:31 +0000 id hourly 1 Konservasi Keanekaragaman Hayati Dalam Perspektif Agama Islam https://www.greeners.co/berita/konservasi-keanekaragaman-hayati-dalam-persektif-agama-islam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=konservasi-keanekaragaman-hayati-dalam-persektif-agama-islam https://www.greeners.co/berita/konservasi-keanekaragaman-hayati-dalam-persektif-agama-islam/#respond Tue, 23 Jul 2019 11:22:19 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=23846 Kuala Lumpur (Greeners) – Menjaga kelestarian alam selayaknya memang merupakan tanggung jawab semua elemen masyarakat, suku, budaya, dan agama. Pada salah satu sesi dalam International Congress for Conservation Biology (ICCB) […]]]>

Kuala Lumpur (Greeners) – Menjaga kelestarian alam selayaknya memang merupakan tanggung jawab semua elemen masyarakat, suku, budaya, dan agama. Pada salah satu sesi dalam International Congress for Conservation Biology (ICCB) 2019 di Kuala Lumpur, dibahas tentang upaya kelompok agama Islam dalam mendorong konservasi keanekaragaman hayati.

Hadir sebagai pembicara, Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia (PLH & SDA MUI), Dr. Hayu Susilo Prabowo, mengatakan bahwa saat ini MUI memiliki enam hukum fatwa MUI untuk melindungi lingkungan, yakni fatwa satwa langka, karhutla, pengelolaan sampah, daur ulang air, air sanitasi, dan penambangan ramah lingkungan.

“Untuk masalah konservasi, permasalahannya berada di moral, bukan masalah teknis atau ilmu hayati. Namun, moral ini lah yang harus diperbaiki caranya dengan moral juga pendekatannya. Salah satunya dengan moral keagamaan dengan bahasa kemanusiaan,” ujar Hayu saat ditemui usai sesi pembukaan ICCB, Kuala Lumpur, Senin (22/07/2019).

BACA JUGA : Seruan Greenpeace dan Nahdlatul Ulama Agar Masyarakat Pantang Sampah Plastik

Hayu mengatakan bahwa dakwah yang menyinggung tentang lingkungan ini dinilai efektif untuk memberikan edukasi bagaimana cara menjaga kelestarian alam pada para jamaah. Oleh karenanya, dakwah lingkungan ini sangat di dorong MUI untuk terus dilakukan.

Untuk menjaga keseimbangan ekosistem, MUI mengeluarkan Fatwa MUI Nomor 4 Tahun 2014 Tentang Pelestarian Satwa Langka Untuk Menjaga Keseimbangan Ekosistem. Mengingat bahwa firman Allah SWT memerintahkan untuk berbuat kebajikan (ihsan) antar sesama makhluk hidup termasuk di dalamnya dalam masalah satwa langka.

Dr. Hayu Susilo Prabowo Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam MUI. Foto : www.greeners.co/Dewi Purningsih

“Dijelaskan bahwa berbahaya jika kita membunuh seekor harimau yang nantinya akan berdampak pada ketidakseimbangan ekosistem dan bisa membuat mudharat (rugi) kita sendiri. Membunuh pun juga merupakan perlakuan dosa. Jika hukum negara tidak bisa ditegakkan, hukum agama akan ditegakkan di akhir hayat,” ujarnya.

Hayu mengatakan bahwa fatwa dan dalil memiliki dua akar pemikiran yakni naqal dan akal. Fatwa ada karena dicipatakan dan dibuat karena adanya permintaan dan isu di masyarakat. Pembentukan fatwa lingkungan ini pun melibatkan masyarakat, pemerintah, dan ahli.

Hal senada disampaikan Dr. Fachruddin Mangunjaya, Ketua Pusat Pengajian Islam PPI Universitas Nasional ini menyampaikan bahwa fatwa basisnya dari Al-Quran, Hadist serta pendapat Ulama (ijtihad).

BACA JUGA : Eco Masjid Diharapkan Mampu Menghadapi Ancaman Krisis Air

“Jadi 3 faktor itu merupakan satu pararel, dan tidak bisa dipisahkan antara lingkungan dan kehidupan manusia begitu dalam Islam. Semuanya saling berkesinambungan,” ujar Fachruddin.

Fachruddin melanjutkan bahwa hukum islam dan hukum positif (sesuai Undang-Undang) harus dibedakan. Karena hukum fatwa yang dikeluarkan oleh MUI ini digunakan sebagai penguatan hukum pemerintah yang sudah ada.

“Karena memang MUI bagian entitas negara untuk memperkuat sesuatu yang sudah ada karena prinsip negara kita ini kolaboratif,” ujar Fachruddin.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/konservasi-keanekaragaman-hayati-dalam-persektif-agama-islam/feed/ 0
Eco Masjid Diharapkan Mampu Menghadapi Ancaman Krisis Air https://www.greeners.co/berita/eco-masjid-diharapkan-mampu-menghadapi-ancaman-krisis-air/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=eco-masjid-diharapkan-mampu-menghadapi-ancaman-krisis-air https://www.greeners.co/berita/eco-masjid-diharapkan-mampu-menghadapi-ancaman-krisis-air/#respond Sat, 16 Jun 2018 05:56:25 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=20733 Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama dengan Dewan Masjid Indonesia (DMI) menerapkan konsep baru pada lingkungan masjid yang disebut Eco Masjid.]]>

Jakarta (Greeners) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama dengan Dewan Masjid Indonesia (DMI) menerapkan konsep baru pada lingkungan masjid yang disebut Eco Masjid. Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia (PLH & SDA MUI) Dr. Hayu Susilo Prabowo mengatakan bahwa salah satu tujuan konsep Eco Masjid ramah lingkungan yaitu menghadapi ancaman krisis air.

Konsep Eco Masjid berasal dari dua kata, yaitu Eco dan Masjid. “Eco” diambil dari kata “ecology” yang merupakan terminologi yang erat kaitannya dengan ekosistem, yaitu suatu sistem yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antar makhluk hidup dan lingkungannya. Sedangkan Masjid menurut syara (peraturan dalam agama Islam, Red.) adalah tempat yang disediakan untuk salat di dalamnya dan sifatnya tetap, bukan untuk sementara. Jadi, Eco Masjid adalah tempat beribadah tetap yang mempunyai kepedulian terhadap hubungan timbal balik antar makhluk hidup dan lingkungannya.

Hayu mengatakan, keberhasilan menciptakan kehidupan yang ramah lingkungan merupakan penjelmaan dari hati bersih dan pikiran jernih umat beragama dan merupakan titik tolak upaya menciptakan negeri yang asri, nyaman, aman sentosa.

“Aktivitas manusia yang tidak ramah lingkungan akan mengakibatkan kerusakan lingkungan sumber daya alam penting seperti air. Kampanye Eco Masjid ini diharapkan juga bisa menangani atau menghadapi krisis air yang berakibat kepada krisis pangan dan sosial,” ujar Hayu kepada Greeners, Sabtu (16/06/2018).

BACA JUGA: Idulfitri: Kemenangan Melawan Kemubaziran

Merespons ancaman krisis air di kota Jakarta, Lembaga PLH & SDA MUI bersama dengan Bazis DKI Jakarta melakukan proyek pilot Eco Masjid di salah satu masjid baru milik Pemda DKI Jakarta yaitu Masjid At Taufiq di GOR Senen, Jakarta Pusat.

“Menurut info yang saya terima, Kota Jakarta merupakan salah satu dari 11 kota yang akan kekurangan air, maka itu di Masjid At-Taufiq kami mencoba menerapkan konsep Eco Masjid. Saat ini telah diselesaikan pemasangan lima fasilitas konservasi air tanah, yaitu pemanen air hujan, sumur resapan air, penghijauan, biopori dan penghemat keran air wudu,” kata Hayu.

Menurut Hayu, Islam memandang ketersediaan air bersih dan sanitasi yang baik tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan kehidupan manusia, namun juga merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi sebagai salah satu syarat ibadah yaitu bersuci dari hadas besar dan kecil.

BACA JUGA: Eco Iftar, MUI dan Greenpace Ajak Masjid Kurangi Sampah Plastik

Hemat air dalam konsep Eco Masjid, lanjutnya, mengajak umat muslim untuk wudu pada takaran satu mud yang artinya setara dengan volume air pada kedua telapak tangan orang dewasa atau sama dengan 625 – 1.030 ml atau sekitar satu botol air mineral ukuran sedang.

“Pada kenyataannya banyak dari kita yang berwudu tidak mengikuti sunah rasul tersebut dengan menggunakan air secara berlebihan,” ujar Hayu.

Salah satu cara agar dapat mengikuti sunah Rasul tersebut adalah mengatur debit keran air sedemikian rupa agar air wudu tidak berlebihan. Setelah melakukan pengamatan dan percobaan, cara termudah untuk mengatur debit air keran adalah memasang alat pembatas aliran pada keran-keran air untuk berwudu.

“Alat pembatas aliran air keran dapat dibuat dengan membuat bulatan setengah inci dari sendal karet. Bulatan karet ini kemudian dilubangi dan dimasukan sedotan air mineral gelas sebagai pembatas aliran air (orifice). Orifice ini dapat dipasang pada berbagai keran air ukuran setengah inci yang beredar di pasaran. Pengujian menunjukkan penghematan penggunaan air dapat mencapai 50% hingga 70%,” jelasnya.

MUI memiliki target 1.000 masjid yang menerapkan Eco Masjid di tahun 2020. “Akan kita buat perlombaan masjid ramah lingkungan seperti perlombaan Adipura dan Adiwiyata. Berlomba dalam pengelolaan lingkungan hidup melalui masjid karena masjid dua fungsinya, ada dakwah lisan (bil lisan) dan aksi melakukan ramah lingkungan (bil hal),” kata Hayu.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/eco-masjid-diharapkan-mampu-menghadapi-ancaman-krisis-air/feed/ 0
Idulfitri: Kemenangan Melawan Kemubaziran https://www.greeners.co/berita/idulfitri-kemenangan-melawan-kemubaziran/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=idulfitri-kemenangan-melawan-kemubaziran https://www.greeners.co/berita/idulfitri-kemenangan-melawan-kemubaziran/#respond Fri, 15 Jun 2018 05:50:02 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=20726 Setelah menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh, Idulfitri menjadi hari kemenangan bagi umat muslim. Tidak hanya menang melawan godaan haus dan lapar, melainkan juga mendorong diri untuk terus melakukan kebaikan bagi lingkungan hidup.]]>

Jakarta (Greeners) – Setelah menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh, Idulfitri menjadi hari kemenangan bagi umat muslim. Tidak hanya menang melawan godaan haus dan lapar, melainkan juga mendorong diri untuk terus melakukan kebaikan bagi lingkungan hidup.

Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia Dr. Hayu Susilo Prabowo mengatakan bahwa makna Idulfitri adalah ketika umat muslim menghindari perbuatan tadzir (berbuat sia-sia) dan israf (berbuat berlebih-lebihan).

“Ketika Lebaran hindarilah perbuatan tadzir dan israf, seperti makan secukupnya, jangan membuang makanan yang tersisa, sebelum makan pun kita harus pikirkan dan pertimbangkan makanan yang kita konsumsi supaya perbuatan tadzir dan israf itu tidak kita lakukan. Lalu, jangan berlebih-lebihan seperti memiliki barang lebih dari satu yang fungsinya sama, karena setan sangat suka dengan orang-orang yang berlebihan seperti itu,” ujar Hayu kepada Greeners, Jakarta, Kamis (14/06/2018).

BACA JUGA: NU dan Muhammadiyah Mendeklarasikan Pengurangan Sampah Kantong Plastik

Ia mengingatkan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Jika suapan salah seorang dari kalian jatuh, maka hendaknya ia membersihkannya dari kotoran dan memakannya, dan janganlah ia membiarkannya untuk setan!” Rasulullah juga bersabda, “Sesungguhnya tidak seorangpun di antara kalian mengetahui dibagian makanan manakah ia diberi berkah.” (HR. Abu Daud)

“Hikmah hadits di atas adalah bahwa setiap butir makanan membawa berkah dan kita tidak boleh menyia-nyiakan makanan karena perbuatan mubazir adalah perbuatan setan. Dengan membuang makanan maka kita membuang segala keberkahan yang diberikan Allah kepada kita,” ujar Hayu.

Hayu juga mengatakan bahwa Rasulullah dan para sahabatnya pernah menemukan kambing yang mati, lalu Rasulullah berkata, “kenapa kita tidak memanfaatkan kulit dari kambing ini”. “Sikap Rasulullah ini mengajarkan umatnya untuk menerapkan 3R, yaitu Reduce, Reuse, Recycle. Jika ada barang yang bisa dimanfaatkan kembali jangan dibuang begitu saja,” katanya.

Menurut Hayu, agama Islam diturunkan oleh Allah sebagai rahmat bagi sekalian alam (rahmatan lil-alamin). Karena itu, ajaran Islam memberikan panduan bagi umat manusia bukan saja tentang bagaimana menjaga hubungan kepada Sang Pencipta dan sesama manusia, tetapi juga bagaimana menjaga alam dan isinya agar tetap membawa kemanfaatan bagi umat manusia.

“Kami menyampaikan bahwa menjaga lingkungan saat Idulfitri adalah wajib hukumnya dengan tidak membuang sampah sembarangan dan jika salat Id menggunakan kertas koran, kertas tersebut wajib untuk dibawa pulang kembali atau ditumpuk dan diberikan kepada pemulung. Intinya, tidak ada sampah yang berserakan,” kata Hayu.

BACA JUGA: Eco Iftar, MUI dan Greenpace Ajak Masjid Kurangi Sampah Plastik

Terkait perayaan Idulfitri, Koordinator Lingkungan Aisyiyah Muhammadiyah, Hening Parlan, mengatakan, Lembaga Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat Aisyiah bersama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan kehutanan (KLHK) bertekad untuk melakukan pengurangan sampah kantong plastik sebagai budaya Islami melalui gerakan “Green Idulfitri”.

Adapun seruan Green Idulfitri tersebut adalah:

1. Menyerukan kepada para ustaz dan ustazah yang memberikan khotbah atau ceramah dalam Idulfitri dan halalbihalal untuk menyampaikan gerakan pengurangan sampah plastik sebagai budaya Islami untuk menjaga lingkungan dan generasi penerus yang berkelanjutan;

2. Pada saat merayakan Idul Fitri bersama keluarga maupun saat silaturahmi, kurangi segala bentuk pemakaian plastik yang sekali pakai dan menjaga kebersihan lingkungan sebelum dan sesudah salat Id dari sampah;

3. Mengganti penggunaan perlengkapan yang sebelumnya dari plastik di dalam rumah dan lingkungan dengan perlengkapan yang tidak terbuat dari plastik;

4. Melakukan gerakan pemisahan sampah plastik kemudian berikan kepada bank sampah atau sedekah sampah terdekat agar bisa dimanfaatkan menjadi barang yang bernilai ekonomis.

Selain itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menetapkan Fatwa Nomor 47 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Sampah untuk Mencegah Kerusakan Lingkungan. Salah satu ketentuan hukumnya adalah “Setiap muslim wajib menjaga kebersihan lingkungan, memanfaatkan barang-barang gunaan untuk kemaslahatan serta menghindarkan diri dari berbagai penyakit serta perbuatan tadzir (berbuat sia-sia) dan israf (berbuat berlebih-lebihan).”

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/idulfitri-kemenangan-melawan-kemubaziran/feed/ 0
Eco Iftar, MUI dan Greenpace Ajak Masjid Kurangi Sampah Plastik https://www.greeners.co/berita/eco-iftar-mui-dan-greenpace-ajak-masjid-kurangi-sampah-plastik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=eco-iftar-mui-dan-greenpace-ajak-masjid-kurangi-sampah-plastik https://www.greeners.co/berita/eco-iftar-mui-dan-greenpace-ajak-masjid-kurangi-sampah-plastik/#respond Tue, 05 Jun 2018 05:42:16 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=20690 Ketua Lembaga PLH & SDA MUI Dr. Hayu S. Prabowo mengatakan bahwa Ramadhan juga momen untuk membangkitkan kesadaran umat Muslim bahwa pelestarian lingkungan dan pemeliharaan alam sebagai bagian dari iman dan tanggung jawab sosial.]]>

Jakarta (Greeners) – Bulan Ramadhan menjadi momen dimana umat Muslim di seluruh dunia mendekatkan diri pada Sang Pencipta sambil menjalankan ibadah puasa. Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia Dr. Hayu S. Prabowo mengatakan bahwa Ramadhan juga momen untuk membangkitkan kesadaran umat Muslim bahwa pelestarian lingkungan dan pemeliharaan alam sebagai bagian dari iman dan tanggung jawab sosial.

Hayu mengatakan hal tersebut selaras dengan firman Allah SWT dengan mengutip Al-Quran Surah al-Qashas ayat 77 yang berbunyi , “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

“Intinya merawat lingkungan itu hukumnya wajib karena kita diberikan amanah untuk menjaga bumi dan segala isinya yang artinya ini termasuk manusia, bintang, dan tumbuh-tumbuhan. Hal itu menjadi tanggungjawab kita di mana nanti akan diminta pertanggungjawabannya sebagai penjaga bumi,” ujar Hayu dalam acara buka puasa di Masjid Raya Pondok Indah, Senin (04/05/2018). Acara ini diselenggarakan Greenpeace Indonesia bekerjasama dengan Lembaga PLH & SDA MUI dan menerapkan konsep Eco Iftar sekaligus menjadi tanda dimulainya kampanye #PantangPlastik.

BACA JUGA: KLHK Tegaskan Indonesia Siap Mengendalikan Sampah Plastik

Mengacu pada laporan yang dikeluarkan oleh Greenpeace tahun 2006, Plastic Debris in the World’s Ocean, setidaknya terdapat 267 spesies binatang yang terancam akibat terkena jeratan atau menelan sampah plastik dan merupakan salah satu penyebab kematian mamalia laut dan burung serta ikan setiap tahunnya.

“Krisis lingkungan hidup dengan berbagai manifestasinya sejatinya adalah krisis moral karena manusia memandang alam sebagai obyek bukan subyek dalam kehidupan semesta. Maka, penanggulangan terhadap masalah ini haruslah dengan pendekatan moral. Pada titik inilah agama harus tampil berperan,” kata Hayu.

MUI sendiri memandang permasalahan sampah sebagai masalah serius. Oleh karena itu, MUI telah menetapkan Fatwa Nomor 47 tahun 2014 tentang Pengelolaan Sampah untuk Mencegah Kerusakan Lingkungan, memanfaatkan barang-barang gunaan untuk kemaslahatan serta menghindarkan diri dari berbagai penyakit serta perbuatan tadzir (berbuat sia-sia) dan israf (berbuat berlebih-lebihan).

“Salah satu bentuk penerapan fatwa ini adalah melalui program Eco Masjid yang diinisiasi oleh MUI dan Dewan Masjid Indonesia (DMI). Kegiatan Eco Iftar bersama Greenpeace kali ini juga merupakan salah satu upaya ke arah sana,” ujar Hayu.

BACA JUGA: Pengelolaan Sampah Asian Games Terapkan Konsep Less Waste

Juru Kampanye Urban Greenpeace Indonesia, Muharram Atha Rasyadi, ditemui dalam acara yang sama mengatakan bahwa kategori single use plastic atau plastik sekali pakai yang paling sering digunakan di Indonesia dan di seluruh dunia antara lain botol plastik, kantong plastik, sedotan plastik dan wadah makanan yang terbuat dari plastik.

“Pesan penting kami adalah pengurangan penggunaan plastik sekali pakai dalam berbagai kegiatan masjid seiring momen Ramadhan, di mana umat kerap berkumpul dalam skala besar. Kegiatan ini merupakan bagian dari kampanye #PantangPlastik yang memberdayakan masyarakat perkotaan sebagai pelaku sekaligus target utama perubahan sikap,” kata Atha.

Menurut Atha, pengangkutan sampah di Jakarta tidak penuh seratus persen melainkan hanya sekitar 47% yang sampai ke TPA Bantar Gebang, sisanya berakhir di saluran air, sungai, selokan air, dan laut. Khusus sampah plastik, sampah ini tidak menghilang begitu saja melainkan berubah menjadi mikroplastik dan dimakan oleh satwa-satwa yang ada di lautan.

“Mikroplastik yang ada di dalam badan satwa laut itu tidak akan bisa hancur tapi mengendap, dan ikan yang menjadi salah satu pangan kita tercemar oleh mikroplastik dan masuk ke rantai makanan kita,” katanya.

Kampanye #PantangPlastik ini merupakan upaya pengurangan penggunaan plastik sekali pakai saat kegiatan berbuka puasa yang diadakan di masjid-masjid di Jakarta dan Bandung. Menurut Atha, pemanfaatan gelas keramik, piring kaca, bungkus daun pisang atau wadah rotan lebih banyak digunakan di masjid-masjid dalam kegiatan ini. Kampanye ini juga menggugah inisiatif-inisiatif baru berwawasan hijau dalam lingkungan masjid di masa mendatang.

“Kita kedepannya akan melakukan pendekatan-pendekatan ke rumah-rumah ibadah lainnya, seperti Kristen, Hindu, Budha karena kita melihat bahwa nilai-nilai agama secara universal punya nilai untuk menjaga lingkungan secara umum. Kami juga tetap mendorong pemerintah dan korporasi untuk menyelesaikan masalah sampah,” pungkas Atha.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/eco-iftar-mui-dan-greenpace-ajak-masjid-kurangi-sampah-plastik/feed/ 0