Makan Bergizi Gratis - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/makan-bergizi-gratis/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Fri, 23 May 2025 04:36:49 +0000 id hourly 1 Keracunan Massal MBG, Pakar Soroti Sanitasi dan Pendinginan https://www.greeners.co/berita/keracunan-massal-mbg-pakar-soroti-sanitasi-dan-pendinginan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=keracunan-massal-mbg-pakar-soroti-sanitasi-dan-pendinginan https://www.greeners.co/berita/keracunan-massal-mbg-pakar-soroti-sanitasi-dan-pendinginan/#respond Sat, 24 May 2025 05:00:56 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=46631 Jakarta (Greeners) – Sebanyak 223 siswa mengalami keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Bogor hingga 15 Mei 2025. Peristiwa keracunan massal ini mendorong Pemerintah Kota Bogor […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sebanyak 223 siswa mengalami keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Bogor hingga 15 Mei 2025. Peristiwa keracunan massal ini mendorong Pemerintah Kota Bogor menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB). Pakar Keamanan Pangan IPB University, Ratih Dewanti Hariyadi, menyoroti pentingnya sanitasi dan pengendalian suhu sebagai dua faktor utama dalam mencegah keracunan, terutama pada makanan siap saji dalam skala besar.

“Berdasarkan laporan yang ada, kelompok pangan siap saji memang merupakan penyebab utama kasus keracunan di Indonesia dan dunia. Makanan jenis ini cenderung lebih rentan daripada produk pangan olahan industri,” kata Ratih dalam keterangan tertulisnya.

Menurutnya, penting untuk menerapkan standar kebersihan dasar dan pengendalian proses pangan secara konsisten, terutama dalam pengolahan makanan skala besar. Ia menekankan dua aspek krusial, yaitu sanitasi-higiene dan pengendalian tahapan produksi.

Ratih menjelaskan, perlu untuk menjaga kebersihan alat, ruang, serta personalia. Penggunaan air juga harus memenuhi standar air minum. Air ini tidak cukup hanya bersih, tetapi harus melalui prosedur pembersihan dengan pemantauan dan evaluasi secara rutin.

“Kurangnya penerapan sanitasi dan higiene memungkinkan patogen bukan pembentuk spora seperti Escherichia coli patogenik, Salmonella, Staphylococcus aureus mencemari pangan mentah, pangan yang kurang pemanasan atau menyebabkan kontaminasi pascapemanasan,” tambahnya.

Dalam hal pengendalian proses, Ratih menekankan pentingnya menyimpan bahan baku pada suhu yang sesuai, memastikan proses pemasakan mencapai suhu minimal 70°C, serta melakukan pendinginan segera setelah makanan matang.

“Kalau dibiarkan dalam baskom besar, suhu makanan turun sangat lambat. Ini membuka peluang bagi spora untuk kembali aktif. Jadi, solusinya adalah porsikan makanan segera dalam wadah kecil-kecil setelah dimasak,” tegas Ratih.

Kendalikan Bahaya Bakteri di Menu MBG

Ratih menjelaskan bahwa penyebab keracunan makanan dapat berasal dari dua sumber utama, yaitu bahaya kimiawi dan bahaya mikrobiologis. Namun, berdasarkan data yang tersedia, penyebab kasus keracunan paling banyak adalah mikroorganisme patogen, terutama bakteri.

“Bakteri bisa masuk ke makanan melalui bahan baku yang kurang higienis, alat masak yang tercemar, pekerja, hingga proses penyimpanan yang tidak tepat,” kata Ratih.

Pada makanan siap saji dalam skala besar, faktor penyimpanan ini sangat krusial. Bila makanan tidak segera didinginkan setelah dimasak, spora bakteri bisa aktif kembali dan memproduksi racun.

Ratih menekankan bahwa bakteri pembentuk spora seperti Bacillus cereus atau Clostridium perfringens dapat bertahan terhadap suhu tinggi. Ketika makanan panas tidak segera didinginkan, spora ini dapat kembali aktif, tumbuh atau memproduksi toksin yang berbahaya bagi konsumen.

“Kalau penyimpanan makanan terlalu lama dalam suhu ruang, misalnya lebih dari dua jam, risiko terjadinya kontaminasi sangat tinggi.

Dengan demikian, dalam konteks program MBG yang memasak dalam jumlah besar, proses pendinginan makanan harus menjadi perhatian utama. Hal ini penting agar keracunan massal tidak tidak terulang kembali.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/keracunan-massal-mbg-pakar-soroti-sanitasi-dan-pendinginan/feed/ 0
Makan Bergizi Gratis Perlu Diimbangi dengan Pengelolaan Sampah Organik https://www.greeners.co/berita/makan-bergizi-gratis-perlu-diimbangi-dengan-pengelolaan-sampah-organik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=makan-bergizi-gratis-perlu-diimbangi-dengan-pengelolaan-sampah-organik https://www.greeners.co/berita/makan-bergizi-gratis-perlu-diimbangi-dengan-pengelolaan-sampah-organik/#respond Thu, 16 Jan 2025 07:07:04 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=45701 Jakarta (Greeners) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi besar menghasilkan timbulan sampah organik yang berlebihan. Oleh karena itu, program ini perlu diimbangi dengan pengelolaan sampah yang baik agar sampah […]]]>

Jakarta (Greeners) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi besar menghasilkan timbulan sampah organik yang berlebihan. Oleh karena itu, program ini perlu diimbangi dengan pengelolaan sampah yang baik agar sampah organik dapat terkelola dengan tepat dan tidak berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mencatat bahwa dengan target pemerintah agar sekitar 17 juta siswa menerima MBG pada 2025, implementasi program ini berpotensi menghasilkan sampah sisa makanan sekitar 25-50 gram per siswa. Jika dihitung, sampah yang dihasilkan dapat mencapai 425 hingga 850 ton per hari.

Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, mengungkapkan bahwa Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) telah melakukan tinjauan dan memberikan arahan melalui surat edaran menteri kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terkait pengelolaan sampah organik ini.

BACA JUGA: DLH DKI Jakarta Siap Kelola Food Waste Makan Bergizi Gratis

Hanif juga menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan monitoring di beberapa lokasi di seluruh Indonesia. Hal itu untuk memastikan bahwa pengelolaan sampah ini berjalan dengan baik.

“Kami akan menjadikan beberapa lokasi sebagai pilot project dan akan terus melakukan kontrol. Kami juga akan fasilitasi dan arahkan pengelolaan akhir sampahnya,” ujar Hanif di Tangerang, Senin (13/1).

Ia melihat bahwa potensi sampah yang timbul dari program MBG sejauh ini adalah food waste atau sisa makanan. Menurut Hanif, masalah utama terletak pada sisa makanan yang tidak habis. Meskipun jumlahnya tidak terlalu banyak, jika terjadi setiap hari, akumulasi sampahnya bisa menjadi signifikan.

Kendati demikian, Hanif menekankan pentingnya pengelolaan sisa makanan ini dan memastikan pengelolaan berjalan dengan baik.

Pengawasan Satu Bulan

Pada tahap awal untuk mengawal program ini, KLH/BPLH akan melakukan pengawasan selama satu bulan. Hal itu guna membangun budaya pengelolaan sampah pada program MBG ini. Setelah itu, mereka akan memantau dan mengevaluasinya.

“Biasanya, evaluasi kami lakukan setiap bulan. Sampah yang terakumulasi pasti akan meningkat. Namun, kami akan terus mengontrolnya bersama-sama,” ujar Hanif.

Hanif menambahkan bahwa menyelesaikan sampah organik tidak sesulit mengelola sampah anorganik seperti plastik yang memerlukan alat lebih modern. Sampah organik bisa terkelola dengan alat yang sederhana.

“Kami akan mendukung dan memfasilitasi semua satuan pelaksana untuk mengikuti prinsip-prinsip pengelolaan sampah yang sudah ditetapkan dalam kegiatan makan bergizi gratis,” tegasnya.

Peran Sekolah dalam Makan Bergizi Gratis

Manajer Edukasi Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) Alaika Rahmatullah mengungkapkan bahwa sekolah harus melakukan perannya dalam mengelola sampah organik. Hal itu bisa mereka lakukan dengan memiliki pengelolaan sampah organik skala sekolah.

“Sekolah bisa menggunakan atau mengadaptasi teknologi seperti bata terawang atau komposter lainnya. Berdasarkan pengalaman kami di sekolah-sekolah dampingan, metode pengelolaan sampah organik tersebut sangat efektif dalam mengurangi sampah organik yang berakhir di TPA,” kata Alaika kepada Greeners, Rabu (15/1).

BACA JUGA: Dorong Wadah Guna Ulang dalam Program Makan Bergizi Gratis

Selain itu, untuk meminimalisasi sampah organik, para guru di sekolah juga perlu mendidik siswa untuk menghabiskan makanannya. Namun, menurutnya, ada strategi lain yang dapat sekolah lakukan, yaitu dengan menerapkan sistem prasmanan.

Sistem tersebut bisa mendorong siswa bisa mengambil makanan secukupnya. Menurut Alaika, hal ini penting karena setiap siswa memiliki porsi yang berbeda. Pengambilan secara prasmanan juga lebih efektif untuk meminimalisasi sampah makanan.

Ia juga mengingatkan agar penggunaan wadah makanan menggunakan wadah guna ulang. Hal itu untuk menghindari timbulan sampah plastik sekali pakai.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/makan-bergizi-gratis-perlu-diimbangi-dengan-pengelolaan-sampah-organik/feed/ 0
DLH DKI Jakarta Siap Kelola Food Waste Makan Bergizi Gratis https://www.greeners.co/aksi/dlh-dki-jakarta-siap-kelola-food-waste-makan-bergizi-gratis/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dlh-dki-jakarta-siap-kelola-food-waste-makan-bergizi-gratis https://www.greeners.co/aksi/dlh-dki-jakarta-siap-kelola-food-waste-makan-bergizi-gratis/#respond Wed, 08 Jan 2025 06:43:21 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=45643 Jakarta (Greeners) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menyatakan kesiapannya untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan fokus pada pengelolaan sampah organik (food waste). Inisiatif ini bertujuan memastikan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menyatakan kesiapannya untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan fokus pada pengelolaan sampah organik (food waste). Inisiatif ini bertujuan memastikan sampah organik dapat terkelola secara efektif dan manfaatnya optimal.

Dukungan yang akan DLH lakukan mencakup penanganan sampah organik dapur (SOD) dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) hingga ke sekolah-sekolah.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto, mengatakan bahwa sampah organik dari dapur SPPG akan DLH tangani untuk selanjutnya dibawa ke TPS 3R. Kemudian, DLH akan mendistribusikan sampah tersebut ke penggiat Biokonversi Magot Black Soldier Fly (BSF).

“Untuk SPPG yang memiliki lokasi cukup luas seperti Dapur Sehat Anak Bangsa (DSAB) Halim dapat mengupayakan kegiatan pengurangan sampah di lokasinya, tentu dengan memperhatikan aspek higienitas dapur,” ujar Asep di Jakarta, Selasa (7/1).

Sementara itu, sampah dari sisa makanan di sekolah, ungkap Asep, akan juga DLH salurkan ke bank sampah dan komunitas pegiat Biokonversi Maggot BSF. Mereka akan mengolah sampah tersebut menjadi produk bernilai dengan melibatkan peran serta masyarakat.

BACA JUGA: Food Loss dan Food Waste, Apa Perbedaannya?

DLH telah menyiapkan mekanisme pengelolaan sampah organik dengan melibatkan berbagai pihak. Mereka akan menyediakan fasilitas untuk menangani sampah dapur seperti kulit buah, sisa sayuran, dan bahan organik lainnya di SPPG.

Selain itu, DLH juga akan mengumpulkan sisa makanan dari sekolah secara terpisah. Misalnya, kulit buah atau sisa makanan yang tidak habis. Sampah-sampah ini akan mereka manfaatkan sebagai bahan pakan maggot atau bahan pembuatan kompos.

DLH DKI Jakarta siap kelola food waste makan bergizi gratis. Foto: DLH DKI

DLH DKI Jakarta siap kelola food waste makan bergizi gratis. Foto: DLH DKI

Maksimalkan Peran Bank Sampah

Asep menambahkan bahwa pihaknya memaksimalkan peran bank sampah dan komunitas pegiat Biokonversi Maggot BSF yang tersebar di Jakarta. Kedua pihak tersebut akan membantu mengelola sampah organik dari program ini.

“Kami ingin memastikan bahwa sampah organik dari program Makan Bergizi Gratis tidak hanya terkelola dengan baik. Melainkan, juga bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan,” jelasnya.

Selain itu, DLH mengimbau pihak sekolah untuk mengedukasi siswa tentang pentingnya pengurangan sampah. Edukasi tersebut bertujuan menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap dampak buruk “food waste”.

BACA JUGA: Indonesia “Banjir” Sampah Makanan

“Kami mengharapkan agar sekolah mengedukasi siswa agar membawa tumbler dan benar-benar menghabiskan makanan mereka dan hanya membuang sampah yang tidak bisa dimakan, seperti kulit buah. Dengan begitu, food waste bisa ditekan, dan kita dapat mengelola sisa sampah dengan lebih baik,” tambahnya.

Asep berharap upaya ini tidak hanya mampu mengurangi beban lingkungan akibat timbulan food waste. Ini bisa menjadi upaya edukasi terhadap lingkungan hidup sejak dini.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/dlh-dki-jakarta-siap-kelola-food-waste-makan-bergizi-gratis/feed/ 0
Dorong Wadah Guna Ulang dalam Program Makan Bergizi Gratis https://www.greeners.co/berita/dorong-wadah-guna-ulang-dalam-perluasan-program-makan-bergizi-gratis/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dorong-wadah-guna-ulang-dalam-perluasan-program-makan-bergizi-gratis https://www.greeners.co/berita/dorong-wadah-guna-ulang-dalam-perluasan-program-makan-bergizi-gratis/#respond Thu, 05 Sep 2024 08:22:22 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=44663 Jakarta (Greeners) – Implementasi program ‘Makan Bergizi Gratis’ yang digagas oleh Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, akan segera diperluas. Deputy Director Dietplastik Indonesia, Rahyang Nusantara, mengingatkan pemerintah untuk mendorong […]]]>

Jakarta (Greeners) – Implementasi program ‘Makan Bergizi Gratis’ yang digagas oleh Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, akan segera diperluas. Deputy Director Dietplastik Indonesia, Rahyang Nusantara, mengingatkan pemerintah untuk mendorong penggunaan wadah makan guna ulang dalam program ini guna menghindari penumpukan sampah plastik.

Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa Indonesia menghasilkan sekitar 64 juta ton sampah setiap tahunnya. Sebanyak 15% atau sekitar 9,6 juta ton adalah sampah plastik. Sebagian besar dari sampah plastik ini berasal dari plastik sekali pakai.

Rahyang khawatir penggunaan wadah makan plastik sekali pakai akan meningkatkan jumlah sampah plastik secara signifikan. Plastik sekali pakai ini sering kali sulit didaur ulang dan berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Bahkan, lebih buruknya bisa mencemari lingkungan sekitar seperti sungai dan lautan.

BACA JUGA: Praktik Guna Ulang Solusi Kurangi Sampah Plastik dan Krisis Iklim

“Studi oleh berbagai organisasi lingkungan menunjukkan bahwa penggunaan wadah guna ulang dapat mengurangi timbulan sampah plastik hingga 80 persen, dalam konteks program makan siang atau kegiatan serupa,” ujar Rahyang lewat keterangan tertulisanya kepada Greeners, Selasa (3/9).

Menurutnya, keberhasilan ini juga sangat bergantung pada kesadaran masyarakat untuk mengelola penggunaan wadah guna ulang. Selain itu, perlu sistem pengelolaan yang baik untuk memastikan wadah-wadah tersebut dikembalikan dan digunakan kembali dengan benar.

Plastik Sekali Pakai Bebani Lingkungan

Rahyang menekankan, penggunaan plastik sekali pakai dalam program makan siang gratis dapat menambah beban pencemaran lingkungan. Plastik yang terurai menjadi mikroplastik dapat mencemari tanah dan air. Bahkan, bisa masuk ke dalam rantai makanan, yang dapat membahayakan kesehatan manusia dan hewan.

Selain itu, plastik yang tidak terkelola dengan baik dapat mencemari ekosistem darat dan laut, merusak habitat alami, dan menyebabkan kematian satwa liar yang terjerat atau menelan plastik.

Penumpukan sampah plastik dapat memicu masyarakat untuk membakar sampah plastik tersebut. Proses pembakaran ini menghasilkan emisi gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap perubahan iklim.

Ilustrasi bahan makanan untuk makan bergizi gratis. Foto: Freepik

Ilustrasi bahan makanan untuk makan bergizi gratis. Foto: Freepik

Pastikan Menu ‘Makan Bergizi Gratis’ Mengandung Gizi Seimbang

Selain masalah potensi timbulan sampah plastik, penting juga untuk memastikan bahwa menu makanan dalam program makan siang gratis mengandung gizi seimbang dan menggunakan bahan makanan alami. Hal ini sangat penting karena program ini untuk anak-anak sekolah, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Konselor Laktasi, Nuria Ikhsyania atau Risya menjelaskan bahwa fokus utama dalam gizi harus pada pemenuhan protein, karbohidrat, dan lemak dari makanan alami seperti sayuran segar dan daging.

“Makanan alami menyediakan vitamin dan mineral dengan bioavailabilitas yang lebih baik daripada makanan olahan (processed food),” ujar Risya.

Distribusi makanan olahan bisa menjadi masalah, terutama di daerah dengan akses terbatas (daerah 3T). Anak-anak di daerah tersebut mungkin mengalami kesulitan mendapatkan kualitas makanan yang sama, seperti di wilayah lain jika bergantung pada makanan olahan.

BACA JUGA: Tekan Laju Sampah 2024, Komitmen Guna Ulang Perlu Dikuatkan

“Oleh karena itu, penting untuk memastikan akses yang adil dan kualitas makanan yang sesuai untuk semua anak dengan memanfaatkan makanan lokal yang sesuai dengan musim dan terjangkau. Hal ini juga dapat mendukung literasi gizi ibu,” ungkapnya.

Risya menambahkan, makanan yang tidak melalui banyak proses pengolahan mampu menyerap gizi yang lebih baik. Maka dari itu, sangat penting untuk memberdayakan lingkungan sekitar termasuk petani, peternak, dan ibu rumah tangga.

Susu Gratis Harus Murni, Tanpa Pemanis

Selain memberikan makan siang gratis, dalam program Prabowo – Gibran juga akan menyediakan susu gratis bagi anak-anak. Risya mengingatkan kembali bahwa susu untuk anak-anak harus berupa susu segar atau susu dengan komposisi 100% susu sapi murni tanpa pemanis tambahan.

Pedoman terbaru dari World Health Organization (WHO) pun menegaskan bahwa anak-anak tidak boleh diberikan minuman berpemanis atau yang mengandung gula tambahan.

“Susu segar atau susu 100% murni tanpa tambahan rasa adalah pilihan terbaik. Susu dari peternak lokal bisa menjadi opsi yang baik. Namun, susu kemasan dengan tambahan rasa dapat membebani metabolisme anak. Hal ini dapat berdampak negatif di masa depan,” jelas Risya.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/dorong-wadah-guna-ulang-dalam-perluasan-program-makan-bergizi-gratis/feed/ 0