masalah kesehatan pada anak - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/masalah-kesehatan-pada-anak/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Thu, 10 Jan 2019 14:48:10 +0000 id hourly 1 Waspadai Obesitas pada Anak https://www.greeners.co/gaya-hidup/waspadai-obesitas-pada-anak/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=waspadai-obesitas-pada-anak https://www.greeners.co/gaya-hidup/waspadai-obesitas-pada-anak/#respond Sun, 18 Nov 2018 07:12:18 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=21160 Obesitas dapat menyerang anak-anak dan remaja. Masalahnya, obesitas adalah penyebab utama banyak penyakit di kemudian hari.]]>

(Greeners) – Penelitian menunjukkan jumlah anak-anak dan remaja yang mengalami obesitas atau kegemukan meningkat sepuluh kali lipat di seluruh dunia hanya dalam waktu 40 tahun. Berdasarkan laporan gizi global atau Global Nutrition Report (2014), Indonesia termasuk ke dalam 17 negara yang memiliki tiga permasalahan gizi sekaligus, yaitu stunting (pendek), wasting (kurus), dan juga overweight (obesitas).

Bisa dibilang obesitas adalah penyebab utama banyak penyakit di kemudian hari. Seperti yang dilansir pada situs IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), banyak penelitian yang menunjukkan bahwa obesitas pada masa anak berkaitan dengan kejadian obesitas pada masa dewasa.

Salah satu penelitian yang menguatkan hal ini adalah studi yang dilakukan oleh DR. Made Darawati, STP, M.Sc et al. (2016). Dari hasil penelitian dosen jurusan gizi, Poltekkes Kemenkes Mataram ini disimpulkan bahwa kegemukan, terutama obesitas, khususnya di usia rema­ja dapat berisiko 10 kali lipat daripada obesitas orang de­wasa. 

Data tahun 2013 dari WHO (World Health Organization) menunjukkan persentase obesitas anak di Indonesia termasuk tertinggi di ASEAN, yakni sebesar 12 persen. Bila dirinci, ada 17 juta anak yang mengalami obesitas di ASEAN, hampir 7 jutanya berasal dari Indonesia. Data tersebut juga didukung dengan rilis yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan.

Pada Januari 2017 Kementerian Kesehatan mengeluarkan rilis terkait bahaya obesitas yang kerap dimulai sejak usia dini. Data tersebut menggambarkan bahwa 8 dari 100 anak di Indonesia mengalami obesitas. Obesitas anak yang dihitung berdasarkan indeks massa tubuh dibandingkan usia (IMT/U) pada kelompok anak usia 5-12 tahun besarnya 8% dengan prevalensi tertinggi terdapat di wilayah DKI Jakarta.

Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa makin dini seorang anak mengalami obesitas, makin rendah usia harapan hidupnya akibat menderita penyakit-penyakit kronis degeneratif seperti diabetes mellitus tipe 2, penyakit jantung, stroke dan kanker. Pada masa anak dan remaja, obesitas juga dapat mengakibatkan hipertensi, sleep apnea, masalah pernapasan, masalah postur dan perkembangan tulang ekstremitas, masalah psikososial, masalah hormonal dan sistem reproduksi, alergi dan hipersensitivitas dan masih banyak lagi.

Pola Asuh dan Anggapan yang Salah

Dari sumber yang telah dikumpulkan, faktor-faktor pemicu tingginya angka obesitas pada anak dan remaja antara lain kualitas makanan yang dikonsumsi, pola makan yang kurang baik (seperti melewatkan sarapan), kurangnya aktivitas fisik, faktor genetik, hormonal, dan lingkungan. Penderita kegemukan memiliki pertahanan antioksidan yang lebih rendah dibanding yang memiliki berat badan normal.

Selain itu pola asuh orang tua (terutama pola pemberian makan) sejak anak usia balita juga turut mempengaruhi. Mulai dari rendahnya ASI Eksklusif karena tergoda memberikan susu formula yang tinggi lemak dan mengandung gula, sampai pada pemberian makanan rendah protein namun tinggi gula, garam, dan lemak seperti yang terdapat pada makanan instan.

Hingga saat ini masih banyak orang yang berpendapat bahwa anak yang gemuk itu sehat. Menurut Direktur Gizi Masyarakat Kemenkes, Doddy Izwardi, perlu adanya perubahan pemahaman di masyarakat bahwa anak yang gemuk tentu sehat. “Dahulu masyarakat bangga punya anak gemuk, pipinya montok. Tapi saat anaknya sudah besar malu ingin kurus, tapi susah,” ujar Doddy. Melihat dari kasus tersebut diperlukan upaya untuk mengurangi tingkat obesitas pada anak dan remaja.

Modifikasi Diet dengan Pangan Nabati

Darawati et al. (2016) dalam penelitiannya yang berjudul “Pengembangan Pangan Fungsional Berbasis Pangan Lokal sebagai Produk Sarapan untuk Remaja Gemuk”, menerangkan bahwa penanganan permasalahan obesitas atau kegemukan pada anak dan remaja dapat dilakukan dengan modifikasi diet. Diet dengan mengonsumsi pangan nabati menjadi solusi yang baik untuk mengurangi berat badan.

Beberapa studi telah membuktikan adanya hubungan yang kuat antara diet kaya pangan nabati dengan kesehatan. Pangan nabati memiliki kandungan fitokimia, vitamin, antioksidan, dan serat pangan (Darawati, et al. 2016). Disamping itu pendekatan konsumsi pangan nabati akan lebih memiliki dampak positif secara ekologis.

Bukti-bukti yang berkembang juga menunjukkan pola makan pangan nabati dapat membantu lebih baik dalam mengelola atau mengurangi risiko berkembangnya penyakit, termasuk diabetes, penyakit jantung, kolesterol tinggi, dan demensia. Ahli gizi Dr Rosemary Stanton seperti dikutip pada laman republika.co.id, mengatakan bahwa pola makan yang mengutamakan nabati, dengan atau tanpa mengonsumsi bahan pangan hewani, adalah pendekatan yang sehat.

Pangan nabati berkontribusi terhadap ke­seimbangan reaksi oksidasi reduksi dan memerangkap secara langsung atau menetralisir radikal bebas, dan anti inflamasi. Sumber pangan nabati juga mudah didapat dan diolah menjadi aneka makanan berat juga ringan yang dapat menggugah selera. Anda tidak perlu khawatir untuk mengubah bahan pangan nabati menjadi makanan yang lezat dengan memperhatikan cara memasaknya.

Penulis: Sarah R.Megumi

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/waspadai-obesitas-pada-anak/feed/ 0
Peran Penting Asupan Air Untuk Cegah Obesitas Pada Anak https://www.greeners.co/berita/peran-penting-asupan-air-untuk-cegah-obesitas-pada-anak/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=peran-penting-asupan-air-untuk-cegah-obesitas-pada-anak https://www.greeners.co/berita/peran-penting-asupan-air-untuk-cegah-obesitas-pada-anak/#respond Thu, 22 Jan 2015 05:40:28 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=7140 Jakarta (Greeners) – United Nations Children’s Fund (UNICEF) menyatakan bahwa dalam World Children Report tahun 2012, Indonesia menempati urutan pertama dengan tingkat obesitas atau kegemukan pada anak di wilayah ASEAN. […]]]>

Jakarta (Greeners) – United Nations Children’s Fund (UNICEF) menyatakan bahwa dalam World Children Report tahun 2012, Indonesia menempati urutan pertama dengan tingkat obesitas atau kegemukan pada anak di wilayah ASEAN.

Dalam laporan tersebut tercatat 12,2 persen anak Indonesia mengalami obesitas. Persentase tersebut jauh di atas negara-negara di wilayah Asia Tenggara lainnya yang juga memiliki masalah obesitas seperti Thailand dengan jumlah persentase 8%, Malaysia 6%, Vietnam 4,6% dan Filipina 3,3%.

Dosen dan Ahli Gizi Ibu dan Anak dari Institut Pertanian Bogor, Prof. DR. Hardinsyah, MS mengatakan bahwa seorang anak sangat membutuhkan asupan gizi seimbang selama masa pertumbuhannya karena tidak sedikit kasus obesitas pada anak terus berlanjut hingga anak tersebut tumbuh dewasa.

“Kondisi obesitas pada anak ini seharusnya bisa dihindari dengan membiasakan si anak melakukan gaya hidup sehat dengan gizi seimbang, termasuk meminum air putih sebelum memakan makanan utama,” terang Hardiansyah saat memberikan pemaparan pada acara “Asupan Air Seimbang Cegah Obesitas pada Anak dan Remaja” di Jakarta, Rabu (21/01).

Diagram tumpeng gizi seimbang dari Kemenkes. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Diagram tumpeng gizi seimbang dari Kemenkes. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Ia menerangkan, belakangan ini ada kecenderungan konsumsi minuman bergula atau berkalori (sugar-sweetened beverages) yang semakin meningkat pada anak-anak. Padahal, lanjutnya, minuman mengandung gula berkalori tersebut dapat memicu obesitas. Minuman dengan gula berkalori seperti minuman bersoda, jus, air tebu manis, kopi manis dan sport drink yang menggunakan soda berkalori.

“Padahal, untuk menjaga kondisi fisik luar dan dalam tubuh, konsumsi air putih yang cukup sangat berpengaruh pada kondisi anak maupun dewasa. Ini juga harus diperhatikan oleh orang tua,” tambahnya.

Pentingnya peran air dalam mencegah dan mengatasi obesitas ini pun diamini oleh pakar penyakit dalam dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Prof. DR. Dr. Parlindungan Siregar, Sp. PD-KGH. Ia mengatakan bahwa cairan adalah asupan substansial yang diperlukan dalam komponen gizi seimbang. Sedangkan, volume air yang dibutuhkan anak lebih besar dari orang dewasa. Oleh karena itu, ia meminta kepada orang tua agar mulai menanamkan kepada anak mereka untuk tidak mengabaikan rasa haus yang datang karena itu merupakan bentuk sinyal dari tubuh bahwa ia membutuhkan cairan.

“Kebutuhan volume air dalam tubuh bervariasi sesuai dengan umurnya dan kebutuhan untuk anak itu lebih besar dari orang dewasa,” ujar Parlindungan.

Selain itu, Dokter Spesialis Anak dari RSCM, Dr. Sudung O. Pardede, menerangkan, obesitas pada anak juga dipicu oleh kurangnya aktivitas fisik yang dilakukan oleh anak. Menurutnya, anak yang sudah mengalami obesitas cenderung malas bergerak karena berat tubuhnya. Untuk mencegah hal ini, peran orang tua sangat dibutuhkan untuk membatasi asupan gula berkalori dan memotivasi anak untuk berolahraga.

“Orang tua sudah sebaiknya memonitor apa yang dikonsumsi anak dan mengedukasi mereka sejak dini untuk memilih asupan gizi yang seimbang,” pungkasnya.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/peran-penting-asupan-air-untuk-cegah-obesitas-pada-anak/feed/ 0