meksiko - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/meksiko/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Thu, 10 Nov 2022 03:06:05 +0000 id hourly 1 Kaktus Medusa, Flora Endemik Meksiko yang Unik https://www.greeners.co/flora-fauna/kaktus-medusa-flora-endemik-meksiko-yang-unik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kaktus-medusa-flora-endemik-meksiko-yang-unik https://www.greeners.co/flora-fauna/kaktus-medusa-flora-endemik-meksiko-yang-unik/#respond Thu, 10 Nov 2022 03:06:05 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=37922 Kaktus merupakan salah satu spesies tumbuhan yang mengagumkan. Selain dapat hidup di tanah tandus, tanaman ini juga memiliki tampilan yang unik. Seperti kaktus medusa misalnya, tanaman tersebut memiliki batang bercabang […]]]>

Kaktus merupakan salah satu spesies tumbuhan yang mengagumkan. Selain dapat hidup di tanah tandus, tanaman ini juga memiliki tampilan yang unik. Seperti kaktus medusa misalnya, tanaman tersebut memiliki batang bercabang yang terlihat seperti rambut Medusa.

Kaktus medusa mempunyai nama ilmiah Astrophytum caput-medusae. Tanaman sukulen ini berasal dari sub-keluarga Cactoideae, sehingga tergolong ke dalam kelompok kaktus terbesar yang ada di dunia.

Bukan ukurannya, Cactoideae merupakan famili kaktus dengan anggota terbanyak. Kelompok ini mendominasi 80 % populasi kaktus di dunia, bahkan persebarannya hampir dapat ditemukan di seluruh daerah.

Sedangkan Medusa adalah makhluk metologi Yunani berwujud wanita dengan rambut ular. Mitosnya, siapapun yang menatap mata medusa secara langsung, maka orang tersebut akan berubah menjadi batu.

Morfologi dan Ciri-Ciri Kaktus Medusa

Di samping nama nyentriknya, daya tarik kaktus medusa terletak pada batang atau tuberkel kaktus tersebut. Bagian itu mirip seperti tentakel dengan ukuran yang tidak terlalu panjang, yakni mencapai 190 mm.

Lebar turbekelnya pun hanya berkisar 2–5 mm. Berbentuk silinder atau segitiga saat muda, bagian tersebut umumnya mempunyai warna hijau keabu-abuan serta dihiasi oleh duri-duri kecil sepanjang 1–3 mm.

Duri spesies A. caput-medusae biasanya muncul saat tanaman berusia tua. Penampilannya semi-tegak, kaku dan kasar, dengan corak warna keputihan di bagian bawah tapi cokelat gelap pada bagian atas.

Selain turbekel, salah satu keunikan dari kaktus ini adalah bunganya. Tumbuhan tersebut dapat menghasilkan bunga kuning dengan dasar oranye, yang tumbuh pada bagian bawah turbekel ketika muda.

Terdapat bagian buah berwarna hijau saat kaktus secara aktif tumbuh. Bijinya cukup besar dengan ukuran mencapai 3 mm. Biji itu umumnya berwarna cokelat kehitaman, serta dapat dimanfaatkan sebagai bibit.

Habitat dan Populasi Kaktus Medusa

Tidak seperti spesies Cactoideae lain, kaktus medusa hanya dapat kita temukan di satu wilayah saja. Tumbuhan ini berasal dari wilayah Neuvo León di Meksiko, tumbuh secara endemis di daerah dataran rendah.

Di habitatnya, tanaman berordo Caryophyllales itu tumbuh di ketinggian 100–200 meter di atas permukaan laut. Mereka ditemukan di antara semak belukar, tepatnya di kawasan yang teduh atau berkanopi.

Melansir IUCN Red List, status konservasi spesies A. caput-medusae berada pada kategori “critically endangered” atau terancam kritis. Tren populasinya merosot tajam akibat pertumbuhan yang sangat terbatas.

Bukan cuma itu, habitat kaktus medusa merupakan lokasi bagi warga lokal mencari pakan ternak. Aktivitas ini sering kali merusak tumbuhan tersebut, sehingga memperkecil angka populasinya di alam liar.

Tak dapat diketahui bagaimana status perlindungan dari flora tersebut. Namun menurut penelitian, salah satu pemicu kepunahan kaktus indah ini adalah pemanenan secara besar-besaran oleh kolektor tanaman.

Manfaat dan Jenis-Jenis Kaktus Medusa

Secara umum, kaktus medusa tentu saja bermanfaat sebagai tanaman hias. Dengan penampilannya yang elok, tumbuhan ini dapat dijadikan sebagai penghias rumah dengan perawatan yang tidak terlalu sukar.

Namun mengingat populasinya yang makin menipis, memelihara flora tersebut agaknya bukan tindakan yang tepat. Kecuali mereka dipelihara untuk perkembangbiakkan dan memperbanyak populasinya.

Sebagai informasi, genus Astrophytum sejatinya memiliki enam anggota kaktus. Selain A. caput-medusae, genus ini juga membawahi spesies A. asterias, A. capricorne, A. coahuilense, A. myriostigma, dan A. ornatum.

Begitu pula dengan A. caput-medusae, kaktus ini setidaknya mempunyai satu anak jenis. Subspesies atau anak jenisnya tersebut ditemukan di habitat yang sama, tetapi mempunyai ciri fisik yang cukup berbeda.

Subspesies A. caput-medusae f. nudum dapat ditandai dari turbekelnya yang polos atau tidak ditumbuhi banyak duri. Warna hijau pada kaktus tersebut juga lebih gelap, tetapi dengan corak yang tampak mengkilap.

Taksonomi Astrophytum Caput-medusae

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/kaktus-medusa-flora-endemik-meksiko-yang-unik/feed/ 0
Ferocactus Echidne, Spesies Kaktus Unik Berbentuk Tong https://www.greeners.co/flora-fauna/ferocactus-echidne-spesies-kaktus-unik-berbentuk-tong/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ferocactus-echidne-spesies-kaktus-unik-berbentuk-tong https://www.greeners.co/flora-fauna/ferocactus-echidne-spesies-kaktus-unik-berbentuk-tong/#respond Sun, 22 May 2022 03:00:40 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=36230 Kaktus adalah tumbuhan unik yang mampu bertahan hidup pada lingkungan minim air. Flora khas wilayah kering tersebut sering dijadikan sebagai tanaman hias. Salah satu jenisnya yang ramai diperjualbelikan, ialah kaktus […]]]>

Kaktus adalah tumbuhan unik yang mampu bertahan hidup pada lingkungan minim air. Flora khas wilayah kering tersebut sering dijadikan sebagai tanaman hias. Salah satu jenisnya yang ramai diperjualbelikan, ialah kaktus tong dari spesies Ferocactus echidne.

Kaktus tong merupakan julukan bagi spesies kaktus dari genus Ferocactus dan Echinocactus. Mereka memiliki bentuk bulat seperti tong, serta umumnya tumbuh dengan ukuran sedang.

Secara taksonomi, kedua genus tersebut sama-sama berasal dari famili Cactoideae. Mereka bahkan tumbuh pada habitat yang sama, sehingga acap kali disamaratakan oleh masyarakat.

Meski begitu, perbedaan kedua genus tersebut sejatinya dapat kita lihat melalui ciri fisiknya. Echinocactus biasanya tidak memiliki duri yang tajam, melainkan bulu-bulu halus yang rapat.

Morfologi dan Ciri-Ciri Spesies Ferocactus Echidne

Kaktus Ferocactus echidne berkembang biak tanpa percabangan. Mereka juga tidak memiliki bagian tangkai ketika muda, namun baru berangsur-angsur tumbuh ketika dewasa atau tua.

Spesies ini memiliki warna yang cukup monoton; hijau, hijau kekuningan, hijau kusam, atau abu-abu kehijauan. Bunganya terletak pada bagian tengah atas dengan warna kuning cerah.

Seluruh permukaan kaktus diselimuti oleh duri-duri tajam. Bentuknya tidak tebal tapi cukup panjang. Terdapat 6–7 batang duri di dalam satu ruas; dengan posisi pertumbuhan menjari.

Menurut pakar, seluruh spesies Ferocactus memiliki tampilan yang hampir seragam. Mereka hanya bisa dibedakan melalui warna bunganya yaitu merah muda, kuning, merah atau ungu.

Beberapa spesies juga memiliki garis gelap pada bagian kelopaknya. Sedangkan Ferocactus echidne memiliki tulang rusuk yang banyak, dengan duri-duri berwarna abu-abu keputihan.

Habitat dan Karakteristik Kaktus Ferocactus Echidne

Kebanyakan Ferocactus echidne berasal dari Meksiko. Spesiesnya merupakan tumbuhan asli daerah gurun, yang cukup tangguh menghadapi cuaca beku (dingin) dan panas yang ekstrem.

Di habitatnya, salah satu jenis kaktus tong ini tumbuh di daerah yang gersang. Mereka tidak memerlukan banyak air untuk berbiak, asalkan kawasan tersebut punya drainase yang baik.

Spesies Ferocactus mempunyai sistem perakaran yang dangkal. Tumbuhan ini sangat mudah terbawa air saat banjir bandang, tapi hal tersebut justru membantu proses penyebarannya.

Duri-duri kaktus menjaga permukaan kulitnya tetap utuh saat terbawa air. Sedang benihnya memanfaatkan aliran air untuk berkecambah, sehingga dapat berbiak di tempat yang baru.

Walaupun menoleransi udara dingin, kaktus Ferocactus echidne tidak dapat bertahan cukup lama dalam cuaca baku. Warna kulitnya akan berubah menjadi kekuningan, putih, lalu mati.

Subspesies dan Kegunaan Kaktus Ferocactus Echidne

Melansir laman Llifle.com, setidaknya ada lima subspesies Ferocactus echidne yang tersebar di seluruh kawasan Meksiko. Kelima subspesies ini memiliki tampilan yang berbeda, seperti:

  • F. e. echidne punya batang yang bulat dan pipih, serta duri tengah sepanjang kurang dari 4,5 cm. Subspesies ini bisa kita temukan pada sebagian besar wilayah gurun di Meksiko.
  • F. e. monstruosus memiliki tampilan yang paling unik dibanding subspesies lainnya. Flora ini berkembang dengan bentuk yang tidak teratur, terlihat tumpang tindih dan berlekuk.
  • F. e. rafaelensis mempunyai batang pipih, bulat dan bercorak kebiruan. Bunganya mula-mula berwarna kuning-oranye, tetapi berubah menjadi merah keunguan ketika dewasa.
  • F. e. victoriensis punya batang yang lebih silindris dengan duri tengah yang lebih panjang (lebih dari 4,5 cm). Distribusi subspesies ini terbatas, hanya berkisar wilayah Ciudad saja.
  • F. e. rhodanthus tumbuh dengan batang berusuk setinggi 15 cm. Diameternya berkisar 9 cm serta tulang belakang tengah mencapai 6 cm. Kelopak subspesies ini bercorak oranye sampai merah bata, sedangkan pelepahnya berwarna merah gelap.

Seperti yang kita ketahui, spesies Ferocactus echidne jamak dibudidayakan sebagai tanaman hias di Indonesia. Mereka digemari banyak orang sebab mudah dirawat dan berbentuk unik.

Sedangkan di Meksiko, daging kaktus tersebut diolah menjadi lauk hingga cemilan. Bahkan, masyarakat asli Amerika menjadikan kaktus ini sebagai makanan darurat saat cuaca ekstrem.

Taksonomi Spesies Kaktus Tong Ferocactus

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/ferocactus-echidne-spesies-kaktus-unik-berbentuk-tong/feed/ 0
Sisal, Tumbuhan Penghasil Serat yang Kaya Manfaat https://www.greeners.co/flora-fauna/sisal-tumbuhan-penghasil-serat-yang-kaya-manfaat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sisal-tumbuhan-penghasil-serat-yang-kaya-manfaat https://www.greeners.co/flora-fauna/sisal-tumbuhan-penghasil-serat-yang-kaya-manfaat/#respond Fri, 05 Feb 2021 03:00:23 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=31414 Tumbuhan Sisal atau Agave Sisalana adalah tanaman penghasil serat alami yang cukup populer di Indonesia. Serat dari tumbuhan tersebut tidak cuma berguna sebagai bahan baku pembuat benang, namun bisa dimanfaatkan sebagai material bangunan, konstruksi hingga otomotif.]]>

Tumbuhan Sisal atau Agave Sisalana adalah tanaman penghasil serat alami yang cukup populer di Indonesia. Seratnya tidak cuma berguna sebagai bahan baku pembuat benang, namun juga bermanfaat sebagai material bangunan, konstruksi hingga otomotif.

Menurut sejarah, tumbuhan endemik asal Meksiko ini pertama kali dibawa ke Indonesia pada abad ke-17. Flora tersebut bangsa Spanyol perkenalkan sebelum menjadi objek budi daya.

Tingginya permintaan material serat pada saat itu, turut melambungkan nama tanaman sisal. Tak ayal pada abad ke-20, tumbuhan ini resmi menjadi komoditi ekspor yang berasal dari Indonesia.

Di tanah air, peta persebaran Agave sisalana terbilang cukup luas. Mereka dapat kita temukan menyebar di sekitar Pulau Jawa, Madura, hingga Nusa Tenggara Barat (NTB).

Karakteristik Habitat dan Persebaran Sisal di Dunia

Tumbuhan sisal memang tergolong cukup kuat. Jika kita tinjau dari habitatnya, tanaman ini dapat berbiak secara baik pada lingkungan yang tandus, panas dengan karakteristik tanah yang kering.

Salah satu syarat pertumbuhan Agave di habitatnya adalah sinar matahari penuh dengan tingkat kelempaban udara 70-80% (moderate), serta curah hujan berkisar 1.000-1.250 mm per tahunnya.

Agar dapat tumbuh secara sempurna, mereka juga memerlukan lingkungan dengan suhu maksimal antara 27-28 C, kadar pH tanah berkisar 5,5-75, dengan kandungan Ca yang cukup di dalamnya.

Mirip seperti kaktus, spesies Agave tidak memerlukan air yang banyak saat pembudidayaannya. Mereka justru tidak suka lingkungan yang basah maupun tanah dengan genangan air yang banyak.

Melihat karakteristik habitat dari tumbuhan yang satu ini, tidak salah jika mereka berasal dari kawasan tropis-sub tropis seperti Meksiko, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan.

Brazil merupakan salah satu negara penghasil serat sisal. Selain Negeri Samba, negara lain penghasil serat tersebut adalah Cina, Kenya, Tanzania, Madagaskar, Thailand dan tentunya Indonesia.

Morfologi, Ciri-Ciri dan Reproduksi Agave Sisalana

Jika kita lihat sekilas tanaman sisal memang tampak seperti Lidah Buaya atau Aloe Vera, hanya saja dengan ukuran daun yang lebih besar, tebal dan juga lebih panjang.

Berdasarkan jurnal penelitian UMM, tanaman Agave secara umum berbiak dengan cara generatif maupun vegetatif. Bunganya bersifat biseksual dengan tinggi tingkai antara 3-5 m.

Penyerbukan bunga sendiri biasanya terbantu oleh hewan-hewan seperti serangga, burung serta kelelawar, dengan tingkat efisiensi yang berbeda-beda sesuai spesiesnya.

Pembiakkan secara generatif sebenarnya menguntungkan, sebab biji yang flora ini hasilkan terhitung cukup banyak. Namun usia berbunga Agave relatif singkat, yakni tepat sebelum fase kematian.

Berbeda dengan Agave sisalana, spesies ini memiliki tingkat ploidi yang tinggi sehingga benihnya menunjukkan jumlah kromosam abnormal atau bahkan tidak menghasilkan buah.

Secara vegetatif, tanaman Agave berkembang biak dengan rimpang dan umbi akar (bulbil). Rimpang akan tetap melekat pada induknya sampai siap memisahkan diri dan membentuk individu baru.

Apabila melalui bulbil, umumnya tanaman tersebut akan membentuk tiruannya sendiri yang tumbuh dari cabang perbungaan dan tangkai aksilar buah.

Sebagai informasi, pemanenan sisal dapat Anda lakukan sebanyak dua kali setelah berusia 40-48 bulan. Tiap daunnya bisa menghasilkan 50-60 daun, dengan durasi panen hingga 7-12 tahun usia tanaman.

sisal

Brazil merupakan salah satu negara penghasil serat sisal. Selain Negeri Samba, negara lain penghasil serat tersebut adalah Cina, Kenya, Tanzania, Madagaskar, Thailand dan tentunya Indonesia. Foto: Shutterstock.

Manfaat Daun dan Serat Sisal untuk Beragam Kebutuhan

Pemanfaatan tanaman sisal sudah terjadi sejak lama. Tidak cuma serat, berbagai bagian dari flora tersebut juga bisa kita gunakan untuk beragam kebutuhan, di antaranya:

1. Sisal sebagai Penahan Tanah

Bagi petani di lahan kritis, spesies Agave sisalana biasanya sebagai penahan tanah. Jika masuk masa panen, serat dari tumbuhan tersebut juga bermanfaat untuk para pedagang jual ke pasaran.

2. Bahan Baku Sampo

Melansir jurnal Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat, daun dari tanaman sisal mampu menghasilkan cairan yang nantinya berguna sebagai bahan baku pembuat sampo.

3. Olahan Obat dan Bahan Baku Kosmetik

Tidak cuma sampo, dalam penelitian yang sama menyebut air ampas dari daun tersebut juga berguna sebagai bahan baku olahan obat serta pembuatan kosmetik.

4. Penghasil Bioetanol dan Biogas

Pakar berpendapat, di dalam sisa penyeratan tumbuhan Agave mengandung selulosa yang tinggi dan bermanfaat sebagai bahan baku penghasil bioethanol dan biogas.

Proses menggodokan tersebut yakni dengan metode fermentasi. Kandungan pada tanaman ini mencapai 70% lebih tinggi ketimbang jenis serat lainnya.

5. Kerajinan dan Alat-Alat Rumah Tangga

Tentu saja, salah satu manfaat serat sisal yang paling banyak dimanfaatkan adalah sebagai bahan baku kerajinan dan alat-alat rumah tangga, seperti karpet, keset, sapu dan sebagainya.

Bagi industri nasional, material yang satu juga bisa menjadi bahan pembuat bungkus kabel, karung, geotekstil, jala ikan, tekstil, tali temali, sikat, tambalan, tenun hingga kertas.

6. Bahan Penguat Gigi Palsu

Dalam penelitian di bidang kesehatan, serat dari tumbuhan berordo Liliales ini bermanfaat sebagai penguat resin akrilik, yakni gigi tiruan yang memiliki kekuatan fleksural cukup lemah.

7. Material Konstruksi dan Otomotif

Menurut Teger Basuki, dkk. dalam Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian “Agrika,” berkat karakteristiknya yang kuat material ini sangat cocok sebagai pelapis bodi mobil dan juga bahan bangunan.

Sebagai bahan bangunan, pengrajin sering menggunakan sisal sebagai komposit subtitusi kayu, kusen, pintu, atap serta material bangunan anti gempa karena daya tahan dan kekokohannya.

Sedang di India, komposit serat tersebut kini telah dikembangkan sebagai pembuat bodi mobil karena sifatnya yang ringan, murah dan mampu menghemat energi produksi hingga 80%.

Taksonomi Sisal

taksonomi sisal

Referensi

Teger Basuki dan Lia Verona, Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian “AGRIKA”

Uma Rindy Pangestu, Universitas Muhammadiyah Malang

Nashron ‘Aziza Suheb, Universitas Muhammadiyah Malang

Laman Britannica

Laman Litbang Kementerian Pertanian 

Penulis: Yuhan Al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/sisal-tumbuhan-penghasil-serat-yang-kaya-manfaat/feed/ 0
Meksiko Ubah Kaktus Jadi Energi Alternatif https://www.greeners.co/ide-inovasi/meksiko-ubah-kaktus-jadi-energi-alternatif/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=meksiko-ubah-kaktus-jadi-energi-alternatif https://www.greeners.co/ide-inovasi/meksiko-ubah-kaktus-jadi-energi-alternatif/#respond Mon, 18 Sep 2017 08:13:12 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=18712 Kaktus prickly pear begitu dihormati berkat kegunaannya yang beragam. Kini ilmuwan telah menemukan cara untuk memanfaatkan tanaman ini ke level yang lebih tinggi; sebagai energi terbarukan.]]>

Bagi Meksiko, kaktus prickly pear adalah simbol negara, terbukti dengan disematkannya kaktus tersebut di tengah bendera nasional Meksiko. Kaktus ini begitu dihormati berkat kegunaannya yang beragam. Sejak zaman Aztec hingga era modern, ia telah digunakan sebagai bahan baku sampo atau obat-obatan. Kini ilmuwan telah menemukan cara untuk memanfaatkan tanaman ini ke level yang lebih tinggi; sebagai energi terbarukan.

“Sebelum bangsa Spanyol tiba, kami telah memakan prickly pear. Itu adalah tradisi dan budaya kami,” ujar Israel Vazquez seperti dilansir Seeker. Lapisan luar kaktus yang tebal adalah sampah produksi yang tidak terpakai. Namun, siapa sangka sampah tersebut kini dikembangkan ilmuwan dalam mengembangkan generator biogas dan mengubahnya menjadi listrik.

Startup lokal Suema – akronim spanyol dari Energy and Environmental Sustainability – ini memiliki ide untuk mengembangkan generator biogas tersebut, mereka memilih untuk membangun generator tersebut dekat dengan kebun kaktus seluas 2.800 hektar yang mampu memproduksi 200.000 ton kaktus pertahun.

kaktus

Foto: seeker.com

Meksiko adalah salah satu negara yang serius mengembangkan energi terbarukan. Tahun 2015 silam negara ini menjadi negara berkembang pertama yang mengumumkan pengurangan target emisi untuk United Nations Climate Accord, berambisi untuk memotong setengah produksi emisi mereka pada 2050.

Suema yakin inovasi mereka bisa menjadikan Meksiko mencapai cita-citanya pada 2050. Lewat generator mereka yang mampu memproduksi 170 kilowatt/jam, atau cukup energi untuk untuk menyalakan 9.600 lampu rendah-energi.

Generator tersebut berbentuk silinder raksasa berwarna perak dengan rangkaian pipa-pipa rumit mengelilinginya. Sampah kaktus yang masuk akan dicampur dengan bakteri khusus, dipanaskan hingga 55 derajat Celsius hingga mengeluarkan biogas. Sisa pembakaran tersebut bisa digunakan sebagai kompos.

Ketika berfungsi maksimal, generator ini mampu memproses 3-5 ton sampah perhari, memproduksi 170 meter kubik biogas (45.000 galon) dengan lebih dari satu ton kompos.

“Visi kami adalah untuk terus mereproduksi proyek-proyek seperti ini dan menempatkannya di lebih dari 300 pusat produksi, sehingga membuat kebun tersebut mandiri secara energi,” tutup Bernardino Rosas dari kepala pengembangan pemerintahan Meksiko.

Penulis: MFA/G41

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/meksiko-ubah-kaktus-jadi-energi-alternatif/feed/ 0
Menghidupkan Ruang Publik Dengan Instalasi Seni ala Meksiko https://www.greeners.co/ide-inovasi/menghidupkan-ruang-publik-dengan-instalasi-seni-ala-meksiko/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=menghidupkan-ruang-publik-dengan-instalasi-seni-ala-meksiko https://www.greeners.co/ide-inovasi/menghidupkan-ruang-publik-dengan-instalasi-seni-ala-meksiko/#comments Thu, 14 May 2015 13:59:39 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=9023 Bicara tentang Meksiko artinya membicarakan warna-warna cerah dan mencolok. Dalam keseharian mereka yang ramai kita melihat beragam warna, pada pakaian yang mereka kenakan sehari-hari, di dalam upacara keagamaan, dan keceriaan […]]]>

Bicara tentang Meksiko artinya membicarakan warna-warna cerah dan mencolok. Dalam keseharian mereka yang ramai kita melihat beragam warna, pada pakaian yang mereka kenakan sehari-hari, di dalam upacara keagamaan, dan keceriaan yang sangat kentara jika Meksiko sedang pesta rakyat.

Keceriaan Meksiko yang tertuang dalam aneka warna tersebut memberi inspirasi bagi duo desainer kontemporer Meksiko, Héctor Esrawe dan Ignacio Cadena. Mereka berdua bertugas untuk menciptakan karya seni interaktif yang akan ditempatkan di luar ruangan salah satu area kampus Woodruff Art Center. “Los Trompos” (The Spinning Tops) menjadi karya dari tugas mereka tersebut. Setelah pameran di Woodruff Art Center, “Los Trampos” berpindah lokasi ke Sifly Piazza di High Museum of Art kota Atlanta, Georgia.

“Los Trompos” (The Spinning Tops) karya Héctor Esrawe dan Ignacio Cadena. Foto: www.inhabitat.com

“Los Trompos” (The Spinning Tops) karya Héctor Esrawe dan Ignacio Cadena. Foto: www.inhabitat.com

“Los Trampos” pada dasarnya dibuat menyerupai bentuk dan gerakan sebuah mainan tradisional Meksiko, yakni gasing. Bentuk dan cara memainkannya menyerupai gasing ala Indonesia. Gasing berukuran kecil dan dapat berputar kencang hingga putarannya menjadi melambat dan berhenti. Bedanya, gasing ala Meksiko berwarna-warni dan ukurannya sedikit lebih besar.

Perputaran pada gasing tersebut mereka terjemahkan menjadi 30 macam bentuk. Strukturnya yang interaktif tersusun dalam berbagai warna dan bentuk dan dibungkus dengan kain tenun berwarna-warni yang dipasang dengan teknik tradisional ala Meksiko.

“Pendekatan melalui mainan tradisional, ekspresi orang Meksiko yang berwarna-warni, dan bagaimana budaya mereka terbentuk seperti sekarang merupakan konsep dibalik ‘Los Trampos’,” ujar Hector Esrawe seperti dilansir dari situs inhabitat.com.

Seni instalasi karya Héctor Esrawe dan Ignacio Cadena. Foto: www.inhabitat.com

Seni instalasi karya Héctor Esrawe dan Ignacio Cadena. Foto: www.inhabitat.com

Dari dua tempat di mana “Los Trampos” dipamerkan, warga kampus dan warga setempat terlihat menyukai dan menikmati keberadaannya. Warnanya yang unik dan mencolok, seni instalasi yang dapat menjadi tempat duduk dan arena bermain bersama anak-anak menciptakan interaksi yang menyehatkan bagi warga. Rencananya “Los Trompos” akan dipajang di tujuh lokasi di sekitar area kota.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/menghidupkan-ruang-publik-dengan-instalasi-seni-ala-meksiko/feed/ 1
Mobil Hybrid yang Dapat Berjalan Di Atas Rel Kereta https://www.greeners.co/ide-inovasi/mobil-hybrid-yang-dapat-berjalan-di-atas-rel-kereta/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mobil-hybrid-yang-dapat-berjalan-di-atas-rel-kereta https://www.greeners.co/ide-inovasi/mobil-hybrid-yang-dapat-berjalan-di-atas-rel-kereta/#respond Mon, 14 Jul 2014 00:30:46 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_technology&p=5077 Di Meksiko dan Ekuador, rel kereta api sepanjang hampir 5000 mil terbengkalai sejak 20 tahun yang lalu. Akibatnya, beberapa kota terisolasi tanpa ada akses ke dunia luar. Kondisi tersebut mendorong […]]]>

Di Meksiko dan Ekuador, rel kereta api sepanjang hampir 5000 mil terbengkalai sejak 20 tahun yang lalu. Akibatnya, beberapa kota terisolasi tanpa ada akses ke dunia luar. Kondisi tersebut mendorong dua orang seniman kelahiran Guadalajara, Meksiko, Ivan Puig and Andrés Padilla Domene, untuk membuka kembali jalur tersebut dan berkendara menjelajahinya.

Untuk itu, kedua seniman ini menciptakan mobil hybrid alumunium yang dapat menyusuri rel kereta api (dan juga jalan tol) yang terbengkalai itu. Kendaraan ini seperti kendaraan penjelajah waktu yang membawa penumpangnya mengunjungi masyarakat yang sejak lama tertinggal.

Bernama SEFT-1 (Sonda de Exploración Ferroviaria Tripulada), kendaraan ini menggabungkan komponen masa lalu dan masa depan dalam bentuk geometrisnya dan eksterior Airstream vintage yang dibangun dengan rangka truk tua. Di bagian dalam, terdapat teknologi analog dan digital yang mengendalikan kerja kendaraan ini.

Lebih dari itu, kendaraan ini berjalan dengan menggunakan tenaga surya dan bahan bakar hidrogen. Ada juga roda standar dan roda baja tambahan di bagian depan dan belakang, yang dapat diturunkan ketika berkendara menyusuri rel dan dinaikan ketika berkendara di jalan.

Rel kereta api tersebut ditutup ketika seluruh sistem diprivatisasi pada tahun 1990an, yang akibatnya juga ‘menutup’ seluruh masyarakat yang hidupnya bergantung pada rel kereta ini.

Selama setahun, para seniman kelahiran Guadalajara mengunjungi banyak tempat di seluruh penjuru Meksiko dan Ekuador, mendokumentasikan perjalanan mereka dalam foto dan video dan membawa artefak dan dongeng dari orang-orang yang mereka kunjungi.

Semua benda yang telah dikumpulkan dipamerkan dalam sebuah pameran di Galeri Furtherfield London hingga bulan depan agar cerita dari sebuah kota yang terabaikan ini dilihat oleh publik.

(G33)

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/mobil-hybrid-yang-dapat-berjalan-di-atas-rel-kereta/feed/ 0
Ketika Dewa Jagung ‘Protes’ Jagung Rekayasa Genetika https://www.greeners.co/ide-inovasi/dewa-dewi-jagung-pra-hispanik-protes-jagung-rekayasa-genetika/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dewa-dewi-jagung-pra-hispanik-protes-jagung-rekayasa-genetika https://www.greeners.co/ide-inovasi/dewa-dewi-jagung-pra-hispanik-protes-jagung-rekayasa-genetika/#respond Sat, 28 Jun 2014 00:30:01 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_art_design&p=4949 Saat ini, jagung menjadi topik perdebatan hangat di dunia, terutama di Meksiko, dimana jagung pertama kali didomestikasi 8000 tahun silam. Jagung bukan hanya sumber pangan utama Meksiko, namun juga memiliki […]]]>

Saat ini, jagung menjadi topik perdebatan hangat di dunia, terutama di Meksiko, dimana jagung pertama kali didomestikasi 8000 tahun silam. Jagung bukan hanya sumber pangan utama Meksiko, namun juga memiliki makna religius, sosial dan budaya yang amat penting –sebuah kearifan lokal yang terancam punah akibat rekayasa genetika jagung. Sebagai bentuk dukungan terhadap perlawanan warga Meksiko, studio desain Maizz Visual menciptakan Dioses del Maíz, sebuah instalasi audio visual yang merepresentasikan rupa dewa-dewi jagung era Pra-Hispanik di atas Mexico City’s Parque, Meksiko.

Dioses_del_Maiz_1_Greeners

Visualisasi Xilonen, dewi jagung suku Aztec karya Maizz Visual. Karya ini menggugah kepedulian warga Meksiko terhadap isu rekayasa genetika jagung.

Untuk memenuhi permintaan suplai jagung bagi populasi dunia yang berkembang pesat, Meksiko saat ini mengimpor jagung dalam jumlah besar dari Amerika Serikat, salah satunya dari sebuah perusahaan besar, Monsanto, yang melakukan rekayasa genetika pada produk benih dan bahan pangan yang dijualnya.

Meskipun di Meksiko topik jagung transgenik masih menjadi pro-kontra, seorang hakim Meksiko pada September lalu membuat putusan yang melarang penanaman jagung hasil rekayasa genetika di Meksiko. Monsanto saat ini masih melakukan upaya perlawanan terhadap putusan hakim tersebut.

Sementara itu, pihak pro jagung transgenik menyebutkan bahwa jagung transgenik lebih unggul dan mampu meningkatkan hasil panen dalam negeri karena memiliki resistensi yang tinggi terhadap herbisida, kekeringan, dan pestisida.

Di sisi lain, kritikus memperingatkan bahwa jagung hasil rekayasa genetika mengancam keanekaragaman pertanian serta makna filosofis jagung bagi budaya Meksiko. Selain itu, kritikus juga memperingatkan bahwa pemberian ijin pada Monsanto terkait rencana penanaman 2,5 juta hektar jagung hasil rekayasa genetika akan membuka peluang privatisasi pasar benih jagung yang eksklusif hanya untuk beberapa perusahaan besar terpilih saja.

Instalasi audio visual karya Maizz Visual baru-baru ini berhasil menumbuhkan kesadaran mengenai isu rekayasa genetika jagung. Delapan bentuk tiga dimensi wajah para dewa jagung Pra-Hispanik diproyeksikan di kanopi pohon Parque México selama 2 malam di depan ribuan orang.

Wajah-wajah hijau, yang dapat bergerak melalui transisi video 3 dimensi, khusus dipersiapkan agar dua proyeksi dapat ditampilkan pada satu kanopi pohon secara bersamaan. Iringan suara dan musik ala Pra-Hispanik turut melengkapi instalasi ini.

Dewa-dewi yang dipresentasikan dalam instalasi ini diantaranya Cocijo I dan II, dewa-dewa air Zapotec; Tlaloc I dan II, dewa-dewa air Aztec dan budaya Olmeca; Quetzalcoaltl, dewa yang dianggap sebagai yang pertama kali menerima benih jagung dalam mitologi Aztec; Chalchiuhticue, dewi panen jagung dan kesuburan Aztec; dan Xilonen, dewi jagung Aztec.

(G33)

Sumber: inhabitat.com

Foto: Maizz Visual

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/dewa-dewi-jagung-pra-hispanik-protes-jagung-rekayasa-genetika/feed/ 0