moluska - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/moluska/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 18 Jan 2021 19:07:44 +0000 id hourly 1 Moluska Abalon Bermata Tujuh https://www.greeners.co/flora-fauna/moluska-abalon-bermata-tujuh/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=moluska-abalon-bermata-tujuh https://www.greeners.co/flora-fauna/moluska-abalon-bermata-tujuh/#respond Thu, 19 Mar 2020 05:36:32 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=26497 Abalon adalah kelompok moluska laut yang tergolong ke dalam genus Haliotis. Fauna ini ditemukan di perairan Sulawesi hingga laut Flores.]]>

Abalon adalah kelompok moluska laut yang tergolong ke dalam genus Haliotis. Di Indonesia fauna ini ditemukan di perairan Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara, dan laut Flores.

Kebanyakan abalon di dunia ditemukan di seluruh lautan beriklim sedang. Mereka hidup pada substrat berbatu yang dekat dengan pantai, berterumbu maupun di celah-celah karang (Leighton, 2000). Spesies terbesar dari genus ini ditemukan di dekat pantai Jepang, Asia Tenggara, Australia, Selandia Baru, Afrika, dan Amerika Utara bagian barat (Leighton, 2000).

Dari sekitar 100 spesies abalon yang tersebar di dunia, terdapat tujuh spesies yang ditemukan di perairan Indonesia, antara lain Haliotis asinina, H. varia, H. squamata, H. ovina, H. glabra, H. planate dan H. crebrisculpta (Setyono, 2004b). Jenis

Haliotis squamata merupakan abalon tropis terbesar dengan panjang cangkang mencapai 12 sentimeter. Mereka terdapat di sepanjang perairan Indo-Pasifik, termasuk di perairan Indonesia Timur seperti Lombok, Sumbawa, Sulawesi, Maluku, dan Papua (Setyono, 2004b). Sejak lama, spesies ini ditangkap nelayan karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

Kerang abalon biasa ditemukan di daerah berkarang yang sekaligus menjadi tempatnya menempel. Siput ini bergerak dan berpindah tempat menggunakan satu organ, yaitu kaki. Gerakan kaki yang sangat lambat justru memudahkan predator untuk memangsanya (Fallu, 1991).

Siput Abalon

Siput Abalon. Foto: shutterstock.com

Pada siang hari, moluska abalon cenderung bersembunyi di karang. Sedangkan pada malam hari atau di suasana gelap, mereka lebih aktif bergerak maupun berpindah tempat. Di dalam karang, kerang abalon memeroleh perlindungan sepanjang hari di bawah batu atau dalam sebuah celah. Mereka akan muncul di malam hari dan kembali bersembunyi menjelang subuh (Cenni et al., 2009).

Abalon banyak ditemukan di perairan pantai yang landai, berkarang, dan berbatu seperti di laut terbuka. Tepatnya mulai dari tepi perairan pantai yang dangkal sampai kedalaman 20-50 meter. Di kawasan itu banyak ditumbuhi berbagai jenis rumput laut seperti Ulva sp, Gracilaria sp, Paddina sp, Eucheuma sp, dan Dyctiota sp (Brotowidjoyo et al., 1995 dan Setiawati et al., 1995 diacu dalam Susanto et al., 2008).

Famili Haliotidae ini memiliki beberapa ciri, yaitu cangkang berbentuk bulat hingga oval, mempunyai 2 sampai 3 buah puntiran (whorl). Bagian dalam cangkang abalon terdiri dari beragam warna seperti pelangi, putih keperakan sampai hijau kemerahan.

Pada bagian kiri cangkang terdapat rangkaian lubang pernapasan. Umumnya, terdapat tujuh buah rongga yang dapat terlihat, tetapi hanya 4 sampai 5 buah yang terbuka. Tujuh buah lubang inilah yang menjadi alasan masyarakat Indonesia Timur menyebut abalone sebagai siput mata tujuh.

Secara fisik abalon berbentuk unik, cangkangnya berwujud seperti telinga (auriform) atau biasa disebut ear shell. Dikutip dari berbagai kajian ilmiah, dengan ciri khas tersebut masyarakat di Maluku biasa menyebut biota abalon sebagai bia telinga.

Taksonomi Abalon

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/moluska-abalon-bermata-tujuh/feed/ 0
Siput Gonggong, Menandingi Escargot namun Tereksploitasi https://www.greeners.co/flora-fauna/siput-gonggong-menandingi-escargot-namun-tereksploitasi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=siput-gonggong-menandingi-escargot-namun-tereksploitasi https://www.greeners.co/flora-fauna/siput-gonggong-menandingi-escargot-namun-tereksploitasi/#respond Fri, 16 Jun 2017 09:50:51 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=17365 Kepopuleran siput gonggong dinilai menandingi ‘escargot’, hidangan keong dari Perancis. Namun nilai ekonomisnya yang tinggi dan kegiatan penambangan timah di laut membuat populasi dan habitat siput gonggong terancam.]]>

Pemanfaatan sumberdaya kerang-kerangan oleh masyarakat yang hidup di sekitar wilayah pesisir selama ini tidak dibarengi dengan upaya-upaya pelestarian, sehingga lambat-laun mulai terasa ada efek dan tekanan terhadap populasi biota kerang-kerangan di alam.

Hari Laut Sedunia atau World Oceans Day yang dirayakan setiap tanggal 8 Juni bertujuan untuk mengingatkan seluruh orang di dunia tentang peranan penting laut dan keanekaragaman hayati yang terkandung didalamnya bagi kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah kerang-kerangan, biota laut yang memiliki komponen penting dalam ekosistemnya.

Familiar kah Anda dengan fauna siput? Ternyata jenis fauna siput tidak hanya hidup di darat, namun fauna ini juga hidup di wilayah perairan dan pesisir laut. Dikenal dengan nama “Siput gonggong”, biota laut ini termasuk kedalam jenis kerang-kerangan (moluska) yang dijumpai di perairan Indonesia, khususnya banyak ditemukan di Kepulauan Riau, Bangka Belitung dan wilayah Indonesia Timur.

Kekhasan tersebut menjadikan siput gonggong sebagai ikon Kepulauan Bangka Belitung. Kepopulerannya terletak pada dagingnya yang menandingi ketenaran ‘escargot’, hidangan keong dari Perancis. Kelezatan rasa serta kaya akan kandungan protein yang tinggi pada daging siput gonggong, menjadikan biota ini sebuah peluang pasar pada bidang kuliner.

Biota ini sering diburu untuk diambil dagingnya. Daging siput gonggong dapat dikonsumsi dalam bentuk segar maupun diolah menjadi keripik. Ditambah lagi, beberapa restoran di wilayah Batam dan Tanjungpinang, Riau menyajikan siput gonggong rebus sebagai menu utama.

siput gonggong

Bentuk cangkang siput gonggong (famili Strombidae) memiliki karakteristik menyerupai gasing dan tutup cangkang berbentuk sabit. Foto: commons.wikimedia.org

Dr. Ir. Safar Dody,M.Si, merupakan seorang Periset/Peneliti Ahli dari di Pusat Penelitian Oseanografi (P2O), LIPI yang meneliti siput gonggong. Penelitian beliau mengenai siput gonggong telah banyak di publikasi dalam bentuk artikel dan jurnal ilmiah. Dalam penelitiannya menjelaskan bahwa siput gonggong yang memiliki nilai ekonomis tinggi sering dieksploitasi oleh masyarakat pesisir sebagai sumber protein alternatif dari laut.

Selain itu, kegiatan penambangan timah di laut yang berpotensi merusak lingkungan sekitar semakin menambah tekanan terhadap populasi biota yang ada. Karena semakin intensifnya biota ini dieksploitasi, populasinya di alam pun semakin terancam.

Pada karakteristik dan morfologinya, biota ini merupakan gastropoda laut famili Strombidae. Ada 3 jenis siput dari famili Strombidae yang disemati nama siput gonggong antara lain Strombus turturella, Strombus canarium, dan Strombus luhuanus.

Habibat ketiga jenis biota laut ini serupa, yaitu umumnya mendiami daerah pasir berlumpur berkedalaman 3 – 4 meter yang banyak ditumbuhi tumbuhan bentik seperti lamun/rumput laut/makro algae sebagai sumber pakan. Untuk jenis Strombus turturella dan Strombus canarium, banyak ditemukan di bagian barat wilayah Indonesia terutama di perairan Kepulauan Riau dan Bangka Belitung. Sedangkan untuk Strombus luhuanus berlimpah di wilayah perairan Indonesia bagian timur.

Pada tingkat individu dewasa cangkangnya berwarna coklat kekuningan atau emas dan abu-abu. Siput gonggong memiliki karakteristik yaitu cangkang menyerupai gasing dan tutup cangkang berbentuk sabit, panjang maksimum cangkang dapat mencapai 100 mm, tetapi umumnya berukuran 65 mm. Permukaan luar cangkang mulus. Pada bagian tubuh menegak berbentuk kerucut, berkerut dan halus.

Siput gongong memiliki kelamin terpisah. Menurut Davis (2005) dalam Dody (2012), fauna ini memiliki kelamin terpisah dan akan mengalami kematangan seksual setelah tepi luar cangkangnya (lip) berkembang secara penuh.

Untuk mencegah terjadinya degradasi habitat dan menurunnya populasi siput gonggong maka berdasarkan kajian penelitian Dody (2012) diperlukan upaya restorasi dan pembentukan daerah perlindungan laut (DPL) yang dikelola oleh masyarakat.

siput gonggong

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/siput-gonggong-menandingi-escargot-namun-tereksploitasi/feed/ 0
Kerang Mutiara, Penghasil Perhiasan dari Dasar Laut https://www.greeners.co/flora-fauna/kerang-mutiara-penghasil-perhiasan-dasar-laut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kerang-mutiara-penghasil-perhiasan-dasar-laut https://www.greeners.co/flora-fauna/kerang-mutiara-penghasil-perhiasan-dasar-laut/#respond Tue, 09 May 2017 04:28:13 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=16977 Kerang mutiara (Pinctada) merupakan salah satu komoditas ekspor yang bernilai ekonomis tinggi sebagai penghasil mutiara. Proses yang panjang untuk menghasilkan mutiara, membuat mutiara air laut memiliki harga yang mahal.]]>

Diamonds are a girl’s best friend…

Sepenggal lirik jazz yang terkenal ini pernah dinyanyikan oleh Marilyn Monroe. Lirik ini mengisyaratkan bahwa kaum hawa sangat menyukai perhiasan. Sebagai alat untuk menunjang penampilan, salah satu elemen perhiasan yang digemari perempuan adalah mutiara.

Kerang mutiara (Pinctada) merupakan salah satu komoditas ekspor dalam bidang budidaya laut yang bernilai ekonomis tinggi sebagai penghasil mutiara. Kerang mutiara merupakan salah satu biota laut yang hampir semua bagian dari tubuhnya mempunyai nilai jual, baik mutiara, cangkang, daging dan organisme kerang itu sendiri (benih maupun induk).

Jenis-jenis kerang mutiara yang ada di Indonesia adalah Pinctada maxima, Pinctada margaritifera, Pinctada chimnitzii, Pinctada fucata dan Pteria penguin. Dari kelima spesies tersebut yang dikenal sebagai penghasil mutiara terpenting yaitu P.maxima, P. margaritifera dan Pteria penguin.

Kerang mutiara merupakan hewan laut yang bertubuh lunak, tidak bertulang punggung dan dilindungi oleh dua belah keping cangkang yang tidak simetris, tebal dan sangat keras. Bentuk luar kerang mutiara tampak seperti batu karang yang tidak memiliki tanda-tanda kehidupan.

kerang mutiara

Foto: wikimedia.org

Sepasang cangkang pada mutiara memiliki bentuk yang tidak sama, dimana salah satu cangkang agak pipih sedangkan cangkang lainnya lebih cembung. Cangkang kerang mutiara memiliki ketebalan berkisar antara 1-5 mm. Kerang mutiara juga tergolong kedalam ‘filter feeder’ untuk proses makannya, dimana hanya mengandalkan makanan dengan menangkap plankton dari perairan sekitar.

Kerang membentuk mutiara atas respon pembelaan diri dari objek asing. Seperti dilansir pada laman global.liputan6.com, proses pembentukan bermula ketika pasir, parasit, atau material organik lainnya menyusup masuk dari cangkang kerang yang terbuka, dan mengenai bagian mantel, lapisan yang melindungi organ dalam kerang.

Tubuh kerang pun menganggap objek asing sebagai potensi ancaman, dan mantelnya menghasilkan lapisan yang disebut ‘nacre’ (ibu mutiara) yang menyelubungi objek asing tersebut. Zat nacre terdiri dari kalsium karbonat, dalam bentuk mineral aragonite dan calcite. Sedangkan protein conchin dan perlucin, yang membentuk zat conchiolon kurang lebih berfungsi sebagai ‘lem’ yang merekatkan lapisan-lapisan. Jika mineral aragonite memiliki sifat mirip kristal, conchiolin berpori digabungkan dengan lapisan-lapisan yang nyaris transparan, jadilah mutiara yang berkilau.

Mutiara air laut menjadi salah satu kekayaan komoditas Indonesia, seperti kesohoran mutiara air laut khas Lombok, NTB yang sudah terkenal hingga ke luar negeri. Jenis kerang yang banyak dibudidayakan di pulau ini adalah spesies Pinctada maxima atau biasa dikenal sebagai ratu mutiara.

Fase budidaya mulai dari pembenihan sampai bisa dipanen pertama kali membutuhkan waktu hingga empat tahun. Dalam satu kerang mutiara terdapat 1 atau 2 butir mutiara. Setelah panen pertama kerang mutiara air laut baru bisa dipanen dua tahun kemudian, hingga 2-3 kali dipanen. Kondisi perairan laut secara fisik dan kimia juga berpengaruh besar terhadap susunan dan kelimpahan organisme di dalam air, termasuk bagi kehidupan kerang mutiara. Proses panjang inilah yang membuat mutiara air laut memiliki harga yang mahal.

kerang mutiara

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/kerang-mutiara-penghasil-perhiasan-dasar-laut/feed/ 0
Gurita, Fauna Cerdas dari Dasar Laut https://www.greeners.co/flora-fauna/gurita-fauna-cerdas-dasar-laut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=gurita-fauna-cerdas-dasar-laut https://www.greeners.co/flora-fauna/gurita-fauna-cerdas-dasar-laut/#respond Tue, 18 Apr 2017 07:02:09 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=16745 Ternyata gurita merupakan satwa laut yang memiliki tingkat intelegensi lebih tinggi dibandingkan hewan laut lainnya.]]>

Masih ingatkah Anda tentang ‘Paul’, si gurita ajaib dari Jerman yang selalu tepat memprediksi hasil ramalan pertandingan Piala Dunia 2010? Karena tebakannya, banyak orang awam menganggap bahwa hewan ini adalah hewan peramal.

Sebenarnya kekuatan menebak yang dimiliki gurita Paul bukan dari kekuatan magis atau supranatural. Kekuatan menebaknya berasal dari tingkat intelegensi yang tinggi dibandingkan hewan laut lainnya dan kepintarannya ini tercermin dari keunikan tingkah lakunya. Tidak heran kalau satwa ini menjadi hewan paling cerdas di antara semua hewan invertebrata.

Gurita (Octopoda) merupakan salah satu hewan laut yang termasuk ke golongan moluska atau yang bertubuh lunak dan tidak memiliki cangkang seperti cumi-cumi dan sotong. Pada umumnya, banyak orang yang menganggap satwa ini merupakan satu spesies dengan cumi-cumi, namun sebetulnya mereka sama sekali berbeda. Kemiripan hanya terlihat sekilas dari bentuk fisiknya saja.

Dibandingkan cumi-cumi, gurita memiliki ukuran tentakel yang paling panjang. Jumlah tentakel pada cumi-cumi dan sotong adalah sebanyak 10 buah, sedangkan jumlah tentakel gurita hanya 8 buah. Cumi-cumi memiliki sepasang sirip di ujung ekornya, dan gurita sama sekali tidak memiliki sepasang sirip. Cumi-cumi selalu bergerak dengan berenang, sedangkan gurita mampu berenang dan merayap.

Karena memiliki tulang yang lunak, tubuh gurita sangatlah fleksibel dan dapat menyelipkan diri pada celah batuan sempit di dasar laut, khususnya saat ingin melarikan diri dari serangan predator. Fauna laut ini memiliki tiga mekanisme pertahanan diri yaitu kantong tinta, kamuflase dan memutuskan lenagan. Uniknya kedelapan lengan gurita dapat diputuskan sewaktu-waktu, tujuannya adalah untuk melindungi diri dari musuh (metode ini serupa dengan metode perlindungan pada cicak).

gurita

Gurita (Octopoda). Foto: wikimedia.org

Gurita juga terkenal cukup besar dikelasnya. Beratnya hampir mencapai 40 kilogram. Warnanya pun dapat berubah sewaktu-waktu sesuai pola lingkungan sekitar. Umumnya mereka berwarna abu-abu pucat atau putih.

Mulut satwa ini terdapat dalam cincin lengan. Pada bagian dalam mulut terdapat sepasang rahang yang saling tumpang tindih berbentuk seperti paruh kakatua terbalik dan juga gigi parut atau radula. Dalam genom gurita juga ditemukan gen yang dapat membuatnya dapat mengecap rasa menggunakan penghisap. Penghisap ini juga berfungsi untuk menangkap mangsa.

Selain itu juga ditemukan gen yang dapat bergerak pada genom (dikenal sebagai transposon), yang mungkin berperan dalam meningkatkan pembelajaran dan memori, keistimewaan itu membuat hewan ini memiliki ingatan jangka pendek dan jangka panjang.

Menurut Wood et al (1997), gurita memiliki dua mata yang besar dan menonjol di sekitar pinggiran kepala. Ia punya medan penglihatan hampir 360˚ sehingga mampu mendeteksi mangsa dan musuh. Matanya memiliki kelopak mata, kornea, lensa dan retina yang mirip dengan mata hewan vertebrata. Mata dapat digerakkan, menutup, membuka, dikedipkan serta dapat memfokuskan dengan baik bayangan obyek yang terlihat.

Disamping itu, satwa ini juga sebagai gambaran monster legendaris penguasa lautan yang dikenal dengan nama ‘Kraken’. Kraken adalah seekor monster yang digambarkan sebagai makhluk raksasa yang berdiam di lautan wilayah Islandia dan Norwegia. Makhluk ini disebut sering menyerang kapal yang lewat dengan cara menggulungnya dengan tentakel raksasanya dan menariknya ke bawah laut.

Kata Kraken sendiri berasal dari kata “Krake” bahasa Skandinavia yang merujuk kepada hewan yang tidak sehat atau sesuatu yang aneh. Kata ini masih digunakan di dalam bahasa Jerman modern untuk merujuk kepada Gurita. Begitu populernya makhluk ini sampai-sampai ia muncul dalam film-film populer seperti Pirates of the Caribbean dan Clash of The Titans.

Mungkin banyak yang mengira Kraken adalah monster khayalan atau bagian dari dongeng, namun sebenarnya tidak demikian. Sebutan Kraken pertama kali muncul dalam buku Systema Naturae yang ditulis Carolus Linnaeus pada tahun 1735. Bapak Linnaeus adalah orang yang pertama kali mengklasifikasi makhluk hidup ke dalam golongan-golongannya. Dalam bukunya itu, ia mengklasifikasikan Kraken ke dalam golongan Chepalopoda dengan nama latin Microcosmus, sehingga kraken (gurita) menjadi sebuah cikal-bakal dalam perjalanan sains modern.

gurita

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/gurita-fauna-cerdas-dasar-laut/feed/ 0
Siput Lola, Penghasil Kancing yang Tereksploitasi https://www.greeners.co/flora-fauna/siput-lola-penghasil-kancing-tereksploitasi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=siput-lola-penghasil-kancing-tereksploitasi https://www.greeners.co/flora-fauna/siput-lola-penghasil-kancing-tereksploitasi/#respond Tue, 14 Feb 2017 11:58:51 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=15902 Siput lola (Trochus niloticus) merupakan salah satu jenis moluska berukuran besar dari kelas gastropoda. Cangkangnya yang berukuran besar membuat biota laut ini sempat dieksploitasi untuk keperluan industri kancing.]]>

Moluska (keong laut, kerang-kerangan dan cumi-cumi) merupakan kelompok biota perairan laut Indonesia yang memiliki tingkat keragaman paling tinggi. Spesies moluska banyak hidup di daerah ekosistem karang, mangrove dan padang lamun.

Lola atau siput lola atau bisa disebut siput susu bundar (Trochus niloticus) merupakan salah satu jenis moluska berukuran besar dari kelas gastropoda yang hidup di rataan terumbu dan dipengaruhi pasang surut air laut. Lola merupakan gastropoda primitif yang memiliki dua insang, dua auricula dan dua nephridia. Lola hidup sebagai pengeruk alga (grazer) yang menempel pada karang-karang mati.

Cangkang lola berbentuk kerucut dengan 10 sampai 12 buah ulir (suture). Panjang cangkang bervariasi antara 50 mm dan 165 mm, diameternya antara 100 mm dan 120 mm. Cangkangnya berwarna dasar krem keputihan dengan corak bergaris merah lembayung, sementara dasar cangkang berbintik merah muda. Hewan ini mempunyai penutup cangkang yang disebut operculum atau epiphragma.

Lola dapat hidup sampai 15 tahun dan mampu berproduksi setelah umur dua tahun. Siput lola merupakan hewan diesius (kelamin terpisah), dan masing-masing individu memiliki kelamin tunggal. Pada betina lola, mereka dapat melepaskan lebih dari satu juta telur, lho!

Lola adalah jenis moluska komersial yang diperdagangkan di Maluku Tengah sejak tahun 1950-an. Negara konsumen utama jenis ini adalah Jepang, diikuti oleh Korea dan negara-negara Eropa. Selain dagingnya dikonsumsi oleh masyarakat, cangkangnya digunakan dalam industri kancing, industri cat dan kerajinan tangan. Berdasarkan hasil penelitian oleh pakar peneliti oseanografi LIPI Bapak Zainil Arifin, Jepang memiliki sejarah panjang dalam memanfaatkan siput lola untuk industri kancing dan kerajinan. Cangkang lola kemudian diekspor ke Jepang, Singapura, Taiwan, Hongkong dan Italia.

Penduduk lokal di Maluku dan beberapa tempat di Papua pernah memanen jenis ini secara massif sehingga menjadi punah di beberapa tempat. Nelayan lokal di Pulau Banda pada tahun 1950-an dapat memanen sekitar 50 ton setahun, namun pada tahun 1992 mereka hanya memanen sekitar 1,5 ton. Penurunan yang tajam ini disebabkan oleh eksploitasi berlebihan terhadap jenis ini.

Meski demikian, di beberapa daerah seperti di Kepulauan Kei, Maluku Tenggara, terdapat upacara adat yang menggunakan siput lola. Pengambilan lola secara adat/sistem tradisional ini dinamakan ‘sasi lola’. Sasi dimaksudkan agar terjadi regenerasi dari biota-biota laut yang sering dikonsumsi oleh warga desa sehingga kapasitas penangkapannya bisa terjaga.

Lola yang dipanen berdasarkan sistem sasi perlu mempertimbangkan waktu panen yang tepat, dengan memperhatikan puncak waktu pemijahan dan ukuran lola. Lola menjadi dewasa kelamin pada ukuran 40-50 mm, dan ukuran optimum yang direkomendasikan untuk panen sebaiknya 75 mm, ketika kulit lola mencapai umur sekitar dua tahun.

Perlindungan dan pelarangan perdagangan biota lola telah ada sejak Keputusan Menteri Kehutanan No. 12/KPTS II/1987. Meskipun lola merupakan biota yang dilindungi, akan tetapi perdagangan ilegal satwa laut ini masih terus berlangsung.

siput lola

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/siput-lola-penghasil-kancing-tereksploitasi/feed/ 0