muara gembong - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/muara-gembong/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Wed, 27 Mar 2024 05:28:05 +0000 id hourly 1 Warga Muara Gembong: Bebaskan Desa dari Sampah Plastik! https://www.greeners.co/aksi/warga-muara-gembong-bebaskan-desa-dari-sampah-plastik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=warga-muara-gembong-bebaskan-desa-dari-sampah-plastik https://www.greeners.co/aksi/warga-muara-gembong-bebaskan-desa-dari-sampah-plastik/#respond Wed, 27 Mar 2024 05:28:05 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=43405 Jakarta (Greeners) – Kawasan pesisir di Desa Pantai Sederhana di Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi belum terlepas dari permasalahan sampah plastik. Warga Muara Gembong juga minta agar kawasan desa bisa […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kawasan pesisir di Desa Pantai Sederhana di Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi belum terlepas dari permasalahan sampah plastik. Warga Muara Gembong juga minta agar kawasan desa bisa terbebas dari sampah plastik. Mahasiswa President University pun ikut membantu keresahan tersebut lewat kampanye Seascape.

Sekumpulan mahasiswa yang berasal dari program studi komunikasi membentuk kampanye Seascape untuk menyuarakan, menyampaikan, dan menginformasikan ke masyarakat luas terkait keadaan di Muara Gembong. Khususnya, soal polusi plastik di Desa Pantai Sederhana.

Lewat kampanye itu, tim Seascape akan membantu para warga Desa Pantai Sederhana menyuarakan sejumlah harapan dan keresahannya dalam bentuk video. Kemudian, video tersebut akan mereka publikasikan ke sejumlah media sosial CommStride (Communication Stride).

Dalam kampanye ini, terdapat 13 orang warga ikut terlibat. Sisanya adalah panitia Seascape dan mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, President University.

BACA JUGA: Warga Muara Gembong Minta Kawasan Pesisir Lebih Diperhatikan

Ketua Pelaksana Seascape, Muhammad Harits mengatakan kawasan Desa Pantai Sederhana, Muara Gembong terpilih karena masih banyak sampah berserakan di lokasi tersebut. Sampah tersebut ada di sungai, di pemukiman yang terkena banjir rob, dan di kawasan mangrove.

“Hingga saat ini, belum ada solusi yang konkret. Melalui kegiatan bertemakan Seascape, kami berharap dapat menyuarakan harapan masyarakat Desa Pantai Sederhana terkait permasalahan lingkungan, khususnya sampah,” ungkap Harits kepada Greeners, Selasa (26/3).

Kegiatan Seascape ini mereka lakukan berdasarkan poin Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya, pada nomor 15 perihal menjaga ekosistem darat.

Warga Muara Gembong meminta agar kawasan desa bisa terbebas dari sampah plastik. Foto: Seascape

Warga Muara Gembong meminta agar kawasan desa bisa terbebas dari sampah plastik. Foto: Seascape

Tim Seascape Lakukan Aksi Bebersih Sampah

Tidak sekadar berkampanye, tim Seascape juga bebersih sampah di kawasan Desa Pantai Sederhana. Kegiatan itu akan berlangsung pada 21 April 2024 dan bekerja sama dengan beberapa instansi.

Salah satu warga sekaligus ketua RT 003 Kampung Muara Jaya Desa Pantai Sederhana, Subarma mengutarakan harapannya untuk Desa Pantai Sederhana.

“Harapan saya pengin bersih dari sampah saja, terutama di mangrove. Sampah, kan, merusak jaring nelayan dan mangrove juga,” kata Subarma.

BACA JUGA: Imbas Banjir Rob, Ekonomi Warga Muara Gembong Terguncang

Ia juga mengungkapkan rasa terima kasih kepada para panitia Seascape. Menurut Subarma, kegiatan Seascape telah membantu mengenalkan Desa Pantai Sederhana ke masyarakat luas melalui media sosial.

Tim Seascape juga berharapisu lingkungan di Desa Pantai Sederhana dapat terdengar ke berbagai pihak, termasuk instansi pemerintahan. Dengan demikian, mereka bisa memerhatikan dan memberikan solusi dari permasalahan yang ada.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/warga-muara-gembong-bebaskan-desa-dari-sampah-plastik/feed/ 0
Warga Muara Gembong Minta Kawasan Pesisir Lebih Diperhatikan https://www.greeners.co/berita/warga-muara-gembong-minta-kawasan-pesisir-lebih-diperhatikan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=warga-muara-gembong-minta-kawasan-pesisir-lebih-diperhatikan https://www.greeners.co/berita/warga-muara-gembong-minta-kawasan-pesisir-lebih-diperhatikan/#respond Sat, 02 Dec 2023 06:31:42 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=42348 Masyarakat Desa Pantai Sederhana, Muara Gembong tampaknya masih harus terus berhadapan dengan fenonema banjir rob yang kian parah. Mereka sebagai warga pesisir yang terdampak juga belum mendapatkan bantuan secara merata […]]]>

Masyarakat Desa Pantai Sederhana, Muara Gembong tampaknya masih harus terus berhadapan dengan fenonema banjir rob yang kian parah. Mereka sebagai warga pesisir yang terdampak juga belum mendapatkan bantuan secara merata untuk menolong hidupnya yang terus terancam. Perhatian dari pemerintah perlu dikuatkan kembali agar warga bisa hidup layak, aman, dan nyaman. 

Jakarta (Greeners) – Cerita dari dua keluarga di Desa Pantai Sederhana, Sairoh (44) dan Hanisah (41) telah mengungkapkan soal hidup di wilayah pesisir yang kian mengkhawatirkan. Mereka pun sebagai warga ingin mendapatkan bantuan yang merata. Sebab, mereka hanya ingin mencapai hidup yang layak dan aman. 

“Ini harapan ibu, agar pemerintah memperhatikan lingkungan di sekitar ibu. Terutama kan di sini banyak nelayan-nelayan kecil. Di sini juga daerah terpencil. Mungkin bisa lihat sendiri keadaan sampah atau semuanya kan sudah tidak layak, lah. Padahal, ini Bekasi, tapi kok begini. Penginnya ibu lebih diperhatikan lagi. Pemerintah harus bisa mengantisipasi daerah ibu. Ya, biar tempat ini bisa layak dan nyaman,” ungkap Hanisah. 

BACA JUGA: Perempuan Muara Gembong di Tengah Ancaman Banjir Rob

Mendapatkan bala bantuan dari pemerintah menjadi seutas harapan bagi mereka yang hidupnya kian menggentingkan. Sebab, perubahan kondisi alam di Muara Gembong yang semakin ekstrem mempengaruhi hidup mereka begitu drastis. 

Sebagai salah watu warga, yang sudah puluhan tahun tinggal di kawasan pemukiman utara Bekasi ini, Hanisah mengeluhkan bantuan yang tak pernah ia dapatkan. Menurutnya, pemerintah perlu lebih perhatian dan melakukan antisipasi demi melindungi masyarakat pesisir yang terdampak. 

“Sampai saat ini enggak ada sama sekali. Ibu pernah bilang dengan petinggi, jawabnya enak banget, ‘Itu kan udah faktor alam’. Ya memang ini faktor alam, tapi kan ini (butuh) antisipasinya,” ucap Hanisah. 

Pemerintah Kabupaten Bekasi menyalurkan sembako saat banjir rob di Kecamatan Muara Gembong pada bulan November 2022. Foto: Pemkab Bekasi

Pemerintah Kabupaten Bekasi menyalurkan sembako saat banjir rob di Kecamatan Muara Gembong pada bulan November 2022. Foto: Pemkab Bekasi

Pemkab Bekasi Salurkan Sembako saat Banjir Rob

Sekretaris Desa Pantai Sederhana, Umar mengatakan saat banjir rob terjadi, Pemerintah Kabupaten Bekasi (Pemkab Bekasi) pun turut memberikan bantuan berupa sembako. 

“Kalau bantuan banjir rob itu paling sembako aja dan bantuan tidak selalu ada saat banjir rob. Misalnya, pas banjir rob nasional aja atau besar dan parah banget banjir robnya,” ujar Umar. 

Melansir website resmi milik Pemkab Bekasi bekasi.goid, pada akhir tahun 2022 saat terjadi banjir rob yang sangat parah, pihak Pemkab Bekasi turut memberikan bantuan. 

Melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Pemkab Bekasi menyalurkan bantuan untuk warga terdampak banjir rob di lima desa di Kecamatan Muara Gembong. Di antaranya Desa Pantai Mekar, Desa Pantai Bahagia, Desa Pantai Bakti Desa Pantai Sederhana, dan Desa Pantai Harapan Jaya. 

Pj Bupati Bekasi Dani Ramdan juga menginstruksikan Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bekasi, untuk menangani banjir rob semaksimal mungkin di Muara Gembong.

“Untuk penanganan Muara Gembong, saya sudah instruksikan Kalak BPBD Kabupaten Bekasi untuk melakukan asesmen kebutuhan tanggap bencananya,” ujar Dani melansir bekasikab.go.id

Sekretaris Desa Pantai Sederhana, Umar di Kantor Desa Pantai Sederhana. Foto: Stanly Pondaag

Sekretaris Desa Pantai Sederhana, Umar di Kantor Desa Pantai Sederhana. Foto: Stanly Pondaag

Warga Dapatkan Bantuan Perbaikan Rumah

Umar menambahkan, untuk bantuan lainnya, Pemkab Bekasi telah memberikan bantuan perbaikan rumah bagi warga terdampak bencana banjir rob di Desa Pantai Sederhana. Namun, tak seluruhnya warga terdampak mendapatkan bantuan itu.

Misalnya, seperti Hanisah dan Sairoh. Dua keluarga tersebut tidak mendapatkan bantuan perbaikan rumah. Sebab, tanah yang mereka tinggali ialah tanah garapan atau tanah yang dikelola oleh perusahaan. 

“Bantuan perbaikan rumah itu ada. Tahun ini di Desa Pantai Sederhana mendapatkan kuota perbaikan 10 unit rumah. Namun, untuk Kampung Muara Kuntul dan Muara Jaya kami usulkan tidak bisa, karena tanahnya itu masih tanah garapan dan milik perusahaan. Sehingga, pemerintah belum bisa membantu di wilayah daerah Muara Kuntul dan Muara Jaya,” ujar Umar. 

Pihak desa juga terus mengajukan bantuan perbaikan rumah kepada pihak Pemkab Bekasi. Saat ini, Umar sebagai perwakilan staf desa telah mengajukan permintaan bantuan perbaikan rumah sebanyak 60 unit rumah. 

“Bantuan perbaikan rumah itu berupa uang. Jadi, nanti dana itu masuk ke Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Desa dan nanti kami tanya ke warga yang mendapatkan bantuan itu kebutuhannya apa saja. Nanti kami belikan barang-barangnya,” tambah Umar. 

Tak hanya itu, lanjut Umar, pihaknya juga telah mengantisipasi warga yang rumahnya berdekatan dengan laut. Sejauh ini, bantuan yang mereka berikan seperti penahan ombak sudah terpasang. Namun, sayangnya, penahan ombak tersebut sudah lenyap dan hancur akibat tergerus ombak terus-menerus.

Sairoh (44) sedang mengeringkan ikan hasil tangkapan suaminya di kediamannya, Kampung Muara Kuntul. Foto: Dini Jembar Wardani

Sairoh (44) sedang mengeringkan ikan hasil tangkapan suaminya di kediamannya, Kampung Muara Kuntul. Foto: Dini Jembar Wardani

Perlu Perbaikan Data Bantuan PKH

Di luar bantuan untuk banjir rob, Sairoh sebagai warga yang berdiam diri di Kampung Muara Kuntul bersama keluarganya juga mengeluhkan soal bantuan. Sebab, Sairoh terdaftar menjadi keluarga yang berhak mendapatkan bantuan program keluarga harapan (PKH). 

Bagi Sairoh, bantuan itu sangat membantu dirinya serta keluarganya untuk menyambung hidupnya sehari-hari. Terutama saat adanya banjir rob, keluarganya masih bisa tercukupi lewat bantuan PKH. Namun, dalam dua tahun terakhir ini, Sairoh tidak mendapatkan bantuan PKH. 

“Enggak, saya sudah tidak dapat PKH, padahal anak saya masih di sekolah. Saya sudah dua tahun enggak dapat uang. Beras juga enggak dapat,” ujar Sairoh. 

BACA JUGA: Imbas Banjir Rob, Ekonomi Warga Muara Gembong Terguncang

Di sisi lain, Umar menyatakan bantuan PKH di Desa Pantai Sederhana ini masih berjalan. Namun, saat ini masih banyak data yang perlu perbaikan agar bantuan PKH bisa tepat sasaran. 

“PKH masih ada, setiap bulan juga ada. Bantuan ini bentuknya berupa uang, tergantung keluarganya biasanya dilihat dari status sekolah anak. PKH juga datanya dari Dinas Sosial dan yang mengurus ketua kelompok PKH. Jadi, memang saya tidak tahu penuh, dan warga pun masih banyak protes bahwa bantuan ini kadang lama turunnya,” kata Umar. 

Komisioner Penelitian dan Pengkajian Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Saurlin Siagian saat Greeners temui di kantor Komnas HAM. Foto: Stanly Pondaag

Komisioner Penelitian dan Pengkajian Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Saurlin Siagian saat Greeners temui di kantor Komnas HAM. Foto: Stanly Pondaag

Komnas HAM Membuat Mekanisme Pengaduan Korban Iklim

Terdampaknya warga Desa Pantai Sederhana akibat banjir rob membuktikan perubahan iklim terus mengancam kehidupan manusia. Intensitasnya yang semakin parah juga berdampak buruk berkali-kali lipat kepada warga pesisir. 

Di sisi lain, kebijakan soal keadilan iklim di Indonesia untuk para “korban iklim” atau warga terdampak masih sulit teridentifikasi. Padahal, banjir rob yang kian parah akibat perubahan iklim berkaitan erat dengan Hak Asasi Manusia (HAM). Sebab, bencana tersebut telah merampas HAM masyarakat pesisir.

Komisioner Penelitian dan Pengkajian Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Saurlin Siagian menyatakan, Komnas HAM telah banyak menerima pengaduan soal korban iklim. Pengaduan tersebut Komnas HAM dapatkan pada tahun lalu dan awal tahun 2023. 

“Jadi, mereka mengaku sebagai korban iklim ke Komnas HAM. Kemudian, pertama yang saya pikirkan dan kawan-kawan pikirkan adalah membangun mekanisme, karena ini laporan baru,” ujar Saurlin kepada Greeners di Komnas HAM. 

“Biasanya kami mendapatkan laporan kekerasan penangkapan, penahanan, korban penggusuran intoleransi. Namun, korban iklim ini sesuatu yang baru buat kami. Sehingga, ada yang perlu kami siapkan. Pertama, kerangka berpikirnya harus ada. Lalu, peraturannya sedang kami siapkan, dan ketiga mekanisme pengaduannya seperti apa di sini? Jadi, kami siapkan dulu institusinya, kerangkanya, dan sistemnya. Sehingga, kami bisa merespons apa yang dimaksud dengan korban iklim.”

Komnas HAM Siapkan Kajian Hak Asasi dan Iklim

Saurlin menambahkan, Komnas HAM tengah menyiapkan suatu kajian terkait hak asasi dan iklim. Komnas HAM juga mengaitkannya dengan transisi energi yang menjadi agenda negara saat ini. 

“Laporan itu tahun lalu sudah ada dari sekelompok pemuda, di berbagai daerah Indonesia dan tentu Komnas HAM melihat itu seperti sesuatu yang positif. Kami menilai ada sebuah permasalahan yang baru dalam konteks hukumnya. Terutama, korban iklim ini ke depannya bisa menjadi salah satu permasalahan yang terus-menerus bertambah di Indonesia,” kata Saurlin. 

Saat ini, soal aturan spesifik HAM terhadap perubahan iklim memang belum ada. Namun, hanya tercatat dalam Undang-Undang (UU) Nomor 32 Tahun 2009 soal hak atas lingkungan yang baik dan sehat sebagai hak asasi. 

“Secara spesifik dalam UU Nomor 32 Tahun 2009 disebut hak atas lingkungan yang baik dan sehat sebagai hak asasi. Tidak disebutkan hak atas iklim berkeadilan, tapi saya kira berhubungan. Oleh karena itu, Komnas HAM membutuhkan penerjemahan lebih baik terhadap pasal tersebut,” ujar Saurlin.

Komnas HAM sedang merancang sebuah kajian yang kami pastikan nanti implikasinya adalah untuk merespons kasus-kasus iklim. Selain itu, tahun lalu juga Komnas HAM sudah memiliki standar norma ukuran tentang tanah dan sumber daya alam. Salah satu kluster di dalamnya mengatur tentang hak lintas generasi. Hak antargenerasi artinya segala praktik pembangunan hari ini tidak boleh mengurangi hak-hak generasi yang akan datang untuk lingkungan hidup yang baik.”

Kebijakan Perubahan Iklim Jadi Tantangan Terbesar

Perubahan iklim di berbagai belahan dunia telah banyak berdampak pada kelompok miskin dan kelompok rentan. Kelompok masyarakat adat juga terdampak karena tidak memiliki akses terhadap tekonologi yang baik serta permodalan yang cukup.  

“Sebagai contoh di Jakarta Utara, itu banyak sekali perumahan mewah. Namun, mereka lebih siap karena teknologinya sudah lebih bagus, memiliki modal yang baik, investasi yang besar. Sehingga, mereka tidak terkena (dampak) banjir rob. Namun, persis hanya satu-dua kilometer dari situ ada korban banjir rob,” imbuh Saurlin. 

Menurut Saurlin, kelompok miskin tidak punya akses terhadap sumber daya. Selain itu, mereka juga tidak punya kapasitas yang bagus ketika menghadapi perubahan yang terjadi. 

Saurlin mengatakan, merancang sebuah kajian kebijakan perubahan iklim merupakan tantangan terbesar pascapandemi Covid-19. 

Problem terbesar kami adalah akan lahir banyak sekali krisis akibat perubahan iklim yang akan dirasakan oleh masyarakat. Oleh karena itu, semua pihak wajib memberi perhatian terhadap mitigasi iklim di Indonesia dan dunia secara umum.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

 

Tulisan ini merupakan seri terakhir dari rangkaian tulisan terkait perubahan iklim di Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. Sobat Greeners dapat membaca dua tulisan sebelumnya di laman editorial Greeners.Co.

]]>
https://www.greeners.co/berita/warga-muara-gembong-minta-kawasan-pesisir-lebih-diperhatikan/feed/ 0
Imbas Banjir Rob, Ekonomi Warga Muara Gembong Terguncang https://www.greeners.co/berita/imbas-banjir-rob-ekonomi-warga-muara-gembong-terguncang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=imbas-banjir-rob-ekonomi-warga-muara-gembong-terguncang https://www.greeners.co/berita/imbas-banjir-rob-ekonomi-warga-muara-gembong-terguncang/#respond Sat, 21 Oct 2023 09:54:34 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=42039 Fenomena banjir rob yang terjadi berulang kali berdampak serius pada roda ekonomi warga Desa Pantai Sederhana, Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. Warga yang sebagian besar nelayan dan pengolah ikan harus berjuang […]]]>

Fenomena banjir rob yang terjadi berulang kali berdampak serius pada roda ekonomi warga Desa Pantai Sederhana, Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. Warga yang sebagian besar nelayan dan pengolah ikan harus berjuang keras mengais rupiah untuk mempertahankan ekonominya yang semakin rentan menyusut. 

Jakarta (Greeners) – Penderitaan warga Desa Pantai Sederhana akibat banjir rob kini merambat ke pergerakan ekonomi mereka yang tidak lagi seimbang. Cerita itu datang dari sepasang suami istri di Kampung Muara Kuntul, Sairoh (44) bersama suaminya, Sopiyan (51). Kini, mereka sedang bertarung menyeimbangkan ekonominya di tengah ancaman fenomena alam yang semakin genting. 

“Antisipasinya, ya, meninggikan rumah saja terus, itu juga kalau punya modal. Pasirnya saja, kan, beli Rp400 ribu satu perahu. Namun, kadang kalau meninggikan rumah lebih dari satu perahu pasirnya. Sampai sekarang kami sudah meninggikan rumah ini sebanyak dua kali.”

Pasangan suami istri yang memiliki tiga orang anak ini terus mengupayakan kediamannya–yang saat ini semakin rusak akibat banjir rob–menjadi tempat tinggal yang aman dan nyaman. 

Demi melindungi keluarganya dari banjir rob, tidak ada antisipasi lain dari mereka selain melakukan pengurugan tanah berulang kali. 

Sopiyan dan Sairoh di kediamannya bersama perabotan rumah yang telah rusak. Foto: Dini Jembar Wardani

Sopiyan dan Sairoh di kediamannya bersama perabotan rumah yang telah rusak. Foto: Dini Jembar Wardani

Pengurugan Tanah Butuh Biaya Besar

Bagi mereka, pengurugan tanah membutuhkan biaya yang besar. Namun, di sisi lain, Sopiyan sebagai nelayan kecil  juga tidak melulu mendapatkan penghasilan yang mulus. 

Banyak kerugian yang Sopiyan dapatkan ketika ia gagal mendapatkan ikan di laut akibat kondisi alam yang telah berubah. Selain itu, kini banyak ikan yang mati akibat limbah. Hanya sampah yang menyangkut di jaring milik Sopiyan. 

Berjuang mencari rupiah untuk menyambung hidup di tengah kondisi alam yang semakin berantakan menjadi tantangan baru bagi warga Desa Pantai Sederhana. Sebab, mata pencaharian mereka sangat bergantung pada situasi alam. Perekonomian nelayan dan pengolah ikan pun makin terkuras akibat pengeluaran yang lebih banyak untuk memperbaiki rumah.

BACA JUGA: Perempuan Muara Gembong di Tengah Ancaman Banjir Rob

Kampung Muara Jaya dan Muara Kuntul posisinya berdekatan dengan laut. Sebagian besar warga di kedua kampung itu menggantungkan hidupnya dengan mengolah ikan. Hanya tangkapan ikan dari laut yang menjadi harapan mereka untuk menyambung hidupnya dari hari ke hari. 

Sehari-hari, laki-laki atau suami menjadi tokoh utama yang mengais rupiah di tengah laut. Sementara, sang istri juga ikut membantu suaminya mengolah ikan menjadi sebuah produk yang memiliki nilai jual tinggi. Dengan demikian, produk tersebut bisa meningkatkan penghasilan keluarga. 

Bank Emok. Foto: Dini Jembar Wardani

Bank Emok. Foto: Dini Jembar Wardani

Terjerat Utang Demi Hidup Nyaman

Demi melanjutkan hidup keluarganya, Sairoh dan Sopiyan berpasrah diri dan memilih jalan untuk meminjam uang ke bank emok (lembaga pembiayaan yang menawarkan pinjaman uang dengan bunga sangat tinggi). Uang itu mereka gunakan untuk modal memperbaiki rumahnya yang telah rusak.

Tak hanya keluarga Sopiyan, sebagian besar warga Kampung Muara Kuntul memilih meminjam uang kepada bank emok. 

“Rumah yang di ambang kehancuran butuh perbaikan dengan biaya lebih besar demi hidup selamat dan nyaman. Ekonomi pun kian terguncang akibat mengatasi dampak bencana banjir rob. Kapasitas untuk mengembalikan rumah yang nyaman pun sulit terpenuhi. Lalu, disela-sela masa kesulitan itu tawaran pinjaman uang dengan bunga yang tinggi hadir dengan dalih menolong perekonomian warga. Namun, hal itu justru menjadi sebuah masalah baru.” 

Sekretaris Desa Pantai Sederhana, Umar menyatakan tantangan ibu-ibu saat ini adalah berhadapan dengan bank emok. Mereka seringkali tergiur akan tawaran pinjaman dengan bunga yang tinggi. 

“Emok itu yang jadi masalah. Kenapa? Suami juga pusing, penghasilan kurang sekarang. Harus setor setiap minggunya. Kalau dulu enak, nyaman mereka enggak ada itu,” ungkap Umar. 

Kenyataannya, saat ini kelangsungan hidup warga masih tergantung pada bank keliling atau emok. Tanpa sadar, hal itu justru menyengsarakan hidup mereka.

Saat hasil tangkapan ikan sedang tak menguntungkan, mau tak mau warga meminjam uang kepada bank emok untuk mencukupi hidupnya. Menurut Sairoh, gali lobang tutup lobang sudah biasa agar keluarga tetap bisa makan.

“Iya, kan, buat modal usaha. Kalau enggak ditolong sama itu (bank emok), enggak tahu harus bagaimana, deh. Kan kalau lagi ombak gede, bapaknya enggak ke laut, makanya minjem duit itu. Ada yang bikin perahu, ada yang beli mesin, ada yang beli jaring, bubu. Ini kan saya meninggikan ini (rumah), ngambil uang di bank emok,” imbuh Sairoh.

Tampak rumah Sairoh yang dipenuhi oleh barang-barang rumah tangga yang sudah rusak akibat banjir rob. Foto: Dini Jembar Wardani

Tampak rumah Sairoh yang dipenuhi oleh barang-barang rumah tangga yang sudah rusak akibat banjir rob. Foto: Dini Jembar Wardani

Rumah Rusak, Utang Membengkak 

Saat rumahnya semakin rusak akibat banjir rob, dan suami butuh modal untuk melaut, Sairoh bersama Sopiyan harus menanggung beban utang kian membengkak. Nominal pinjaman oleh bank emok ini beraneka ragam. Namun, bunga pinjamannya mencapai 25% dari setiap kali meminjam uang.

Untuk melunasinya, Sairoh membayarnya dengan cara menyicil dengan waktu sesuai kesepakatan. Sebagai perempuan sekaligus istri, Sairoh yang selalu pasang badan menghadapi sang penagih utang setiap minggunya. 

“Saya pinjam ke bank emok itu ada dua. Senin sama Rabu, Senin seminggu sekali, kalau Rabu dua minggu sekali. Itu buat modal usaha,” tambah Sairoh. 

Tak hanya diam, Sairoh juga ikut membantu suaminya untuk mencari nafkah dengan mengolah ikan hasil tangkapan suaminya menjadi ikan kering. Kala Sopiyan pulang dari laut, Sairoh mengolah ikan-ikan itu. Menurut Sairoh, ikan kering bisa memiliki harga jual lebih tinggi daripada ikan basah. Harga ikan kering berkisar Rp25 ribu per kilogram.

Hanisah sedang memegang nampan yang berisikan potongan kerupuk untuk dikeringkan. Foto: Dini Jembar Wardani

Hanisah sedang memegang nampan yang berisikan potongan kerupuk untuk dikeringkan. Foto: Dini Jembar Wardani

Usaha Kerupuk Terhambat Akibat Banjir Rob 

Menurunnya pendapatan juga dirasakan Hanisah (41), perempuan yang berprofesi sebagai pengolah ikan belo. Ia menuturkan kisahnya kala banjir rob datang saat ia sedang membuat kerupuk. Bagi Hanisah, bencana ini tak hanya menimbulkan ancaman keselamatan bagi dirinya, melainkan juga usahanya. 

Sejak tahun 2019, Hanisah memulai usahanya di bidang pengolahan ikan belo. Selain menjadi ibu rumah tangga, sehari-harinya perempuan berusia 41 tahun ini menghabiskan waktunya di dapur untuk memproduksi kerupuk. Namun, kini ia merasakan hambatan yang begitu berdampak bagi usahanya. 

“Hambatannya ketika ibu sedang mengolah ikan atau mengolah tepung, tiba-tiba banjir. Kan, ibu sibuk tuh benah-benahin kayak ikan mesti taruh di mana, kan air kalinya juga naik. Ibu kan kalau ngolah ikan di jeramba. Jadinya, kalau banjir ibu keganggu gitu. Jadi pada basah kan,” ungkap Hanisah kepada Greeners.

Urug Lantai Rumah Demi Anak Bisa Tidur

Sambil duduk di bale yang sekaligus tempat pembuatan kerupuk, Hanisah menghela napas dengan pasrah. Ia bercerita bahwa pergerakan ekonomi keluarganya semakin terguncang.

“Saya sudah dua kali ngurug tanah (meninggikan lantai rumah). Soalnya kasihan anak-anak ibu nanti tidurnya bagaimana kalau enggak diurug. Per perahu pasir seharga Rp450 ribu, sedangkan pengurugan pasir untuk satu rumah itu sebanyak empat perahu,” imbuh Hanisah.  

Sejak banjir rob sering menggenangi rumahnya, ia bersama suaminya semakin bekerja keras untuk mencari biaya pengurugan rumah. Hal ini untuk mencegah air banjir rob masuk ke dalam rumahnya.

“Upaya yang dilakukan untuk mengatasi banjir rob, ya, cuma pengurugan lantai supaya lebih tinggi. Otomatis, kan, banjir tidak masuk ke dalam rumah. Pengin kalau seandainya punya modal, pindah gitu ke luar daerah gitu,  yang enak, yang enggak kebanjiran terus. Tapi, kan, balik lagi ke modal.” 

Pengeluaran Hanisah bersama suaminya Subarma (46) pun semakin meningkat. Sebab, tidak ada pilihan lain bagi mereka untuk mengantisipasi banjir rob. Mereka harus menyisihkan uangnya untuk mengurug tanah demi menciptakan hidup yang aman dan nyaman. 

Tak Dapatkan Penghasilan saat Banjir Rob

Sebagai perempuan, bukan sekadar tenaga ekstra yang Hanisah rasakan. Hanisah juga harus berjuang menyeimbangkan usahanya di tengah ancaman banjir rob, agar tetap bisa mendapatkan uang dari hasil jerih payahnya. 

Biasanya, dalam satu bulan, Hanisah memproduksi kerupuk sebanyak 25 kilogram. Kerupuk yang diproduksi dari ikan belo ini, Hanisah buat menjadi dua jenis, yaitu kerupuk panjang dan pipih. Satu bungkus (seperempat) kerupuk dibanderol dengan harga Rp10 ribu rupiah.

BACA JUGA: Bekasi Berkebun dan Save Mugo Tanam Bakau di Muara Gembong

Setiap kali memproduksi kerupuk, Hanisah mampu mengolah kerupuk sebanyak 5 kilogram. Modal yang dikeluarkan pun tidak sedikit. Ia perlu mengeluarkan uang sebesar Rp300 ribu setiap kali produksi. 

“Kalau yang ibu sekitar Rp300 ribu modalnya untuk 5 kilogram kerupuk. Misalnya, ibu modalnya itu Rp300 ribu, ketika dijemur kan pasti berkurang. Ibu kalkulasi, jadi kemungkinan modal Rp300 ribu keuntungan bersihnya Rp30 ribu,” ucap Hanisah. 

Penjualan kerupuk ini Hanisah distribusikan ke sejumlah warung di Kampung Muara Jaya. Selebihnya, kebanyakan pembeli berasal dari para pengunjung yang menanam mangrove di sini. Untung yang ia dapatkan dalam satu bulan hanya mencapai Rp150 ribu.

Saat banjir rob menggenangi rumah Hanisah, ia terpaksa tidak bisa memporoduksi kerupuk. Hal inilah yang menghambat perekonomian Hanisah. Sebab, tak ada pemasukan dari penjualan kerupuknya. 

Hanisah sedang mengolah kerupuk ikan belo Foto: Dini Jembar Wardani

Hanisah sedang mengolah kerupuk ikan belo Foto: Dini Jembar Wardani

Nelayan Terancam Perubahan Iklim

Mata pencaharian sang suami, Subarma, kian terancam akibat perubahan iklim, limbah pabrik, dan sampah. Ketiga faktor tersebut sangat berdampak pada hasil tangkapan ikan yang ia dapatkan dari laut.

“Lima tahun ke belakang kondisi alam juga sudah beda. Jadi nelayan kecil, ibaratnya banting setir. Awalnya pakai alat tangkap sero jadi ke bubu naga, walaupun itu tidak ramah lingkungan. Jadi mau enggak mau pakai itu, karena mereka harus bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Pikiran mereka yang terpenting anak dan istri, ya, harus makan. Jadi memang lagi faktor alam, ditambah buangan limbah, sangat berdampak pada nelayan di sini. Yang biasanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, sekarang untuk perbekalan pun nggak kebayar.”

Dahulu, Subarma merupakan pengepul udang-udang tambak. Sayangnya, bencana abrasi mengakibatkan tambak terendam. Petambak pun semakin merugi hingga Subarma tidak bisa lagi menjual ikan tangkapannya kepada petambak. 

“Tadinya bapak punya 10 orang pelanggan petambak, sekarang tinggal satu. Terus, yang misalnya hasil tangkap dari sero, dari laut, itu sudah enggak ada sama sekali. Terutama udang, ya. Jadi pas abrasi, banyak limbah yang dibuang,  jadi sekarang ngaruh banget ke hasil ikannya jadi nol,  sama sekali nggak dapet.  Ya, jadi tidak ada penghasilan,” tambah Hanisah. 

Sopiyan sedang di tengah laut, tempat dirinya mencari ikan sehari-hari bersama perahu kecilnya. Foto: Dini Jembar Wardani

Sopiyan sedang di tengah laut, tempat dirinya mencari ikan sehari-hari bersama perahu kecilnya. Foto: Dini Jembar Wardani

Hasil Tangkapan Nelayan Menurun

Memiliki tanggung jawab menafkahi anak istri, Sopiyan tidak berhenti berjuang untuk mencari nafkah di laut. Bersama nampan kecilnya, ia berlayar pada pukul empat sore untuk menebar jaring. 

Namun, nasib yang memilukan kini menerpa dirinya. Penghasilan nelayan tidak sejahtera seperti dahulu. Kini, banyak ancaman bagi nelayan kecil saat berlayar ke laut mencari ikan. 

“Sekarang banyak pailinya (gagal mendapatkan ikan) dibandingkan sama hasilnya. Enggak ada ikan sama sekali, istilahnya. Kena sampah juga saat menjaring. Bukan main itu sampahnya banyak banget. Paling minimal sekarng penghasilan Rp100 ribu per hari. Kalau dulu biasanya bisa dapat Rp500 ribu, lumayan. Perbekalan juga sekarang makin mahal, cuaca makin panas, tidak bisa diprediksi, ditambah limbah dan sampah. Terus alat tangkapnya juga masih belum memadai. Ibarat kata, dulu kalau nyebar jaring tenang aja. Kalau sekarang juga banyak orang tidak bertanggung jawab mencuri ikan di jaring saya.” 

Saat ini, ia merasakan banyak hambatan saat melakukan pekerjaannya sebagai nelayan. Senada dengan Subarma, ancaman perubahan iklim juga menjadi mimpi buruk bagi Sopiyan. 

Sopiyan sedang di atas perahunya menuju ke laut. Foto Stanly Pondaag

Sopiyan sedang di atas perahunya menuju ke laut. Foto Stanly Pondaag

“Dari segi tangkapan terus sekarang sulit prediksi alam. Beda sama yang dulu. Kalau sekarang agak sulit. Susah gitu diprediksi. Belum lagi limbah, ikan juga agak kurang-kurang gitu kalau dibandingkan yang dulu,” imbuh Sopiyan. 

Sebagai laki-laki yang menghidupi istri dan ketiga anaknya, Sopiyan seringkali mendapatkan kerugian. Permodalan setiap berangkat Sopiyan membutuhkan uang Rp100 ribu untuk perbekalan makan, minum, dan gas sebagai bahan bakar perahunya. 

Belum lagi biaya pembuatan jaring sebesar Rp100 ribu untuk dipakai selama 10 hari. Sairoh juga ikut membantunya membuat jaring tersebut. Mereka berdua saling bahu membahu demi melanjutkan kehidupannya yang kini kondisinya semakin krusial. 

Sesama nelayan, Subarma juga merasakan hal yang sama. Kini ada sejumlah faktor yang mengancam pekerjaannya. Sang istri, Hanisah pun menjelaskan bahwa suaminya dahulu bisa menghasilkan uang Rp200 ribu sampai Rp300 ribu dalam setiap kali pergi ke laut. Sayangnya, kini penghasilannya sangat berbeda jauh dan menurun drastis. 

“Sekarang penghasilan Rp100 ribu itu terbilang besar. Namun, terkadang untuk bahan bakar atau perbekalan melaut pun tidak terbayar. Tergantung perahu dan alat tangkapnya juga, kalau perahu besar dan alat tangkapnya jaring laut tengah perbekalannya sekitar Rp300 ribu. Kalau bapak perahunya, kan, kecil. Jadi, perbekalan melaut ongkosnya Rp100 ribu sampai Rp150 ribu,” ujar Hanisah. 

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

 

Tulisan ini merupakan seri kedua dari rangkaian tulisan terkait perubahan iklim di Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. Nantikan tulisan selanjutnya yang akan kami rilis melalui laman Editorial Greeners.Co.

]]>
https://www.greeners.co/berita/imbas-banjir-rob-ekonomi-warga-muara-gembong-terguncang/feed/ 0
Perempuan Muara Gembong di Tengah Ancaman Banjir Rob https://www.greeners.co/berita/perempuan-muara-gembong-di-tengah-ancaman-banjir-rob/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=perempuan-muara-gembong-di-tengah-ancaman-banjir-rob https://www.greeners.co/berita/perempuan-muara-gembong-di-tengah-ancaman-banjir-rob/#respond Fri, 06 Oct 2023 10:13:44 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=41818 Bencana banjir rob yang semakin parah akibat perubahan iklim terus melanda masyarakat pesisir di Desa Pantai Sederhana, Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. Perempuan menjadi kelompok paling rentan akibat bencana ini. Diri […]]]>

Bencana banjir rob yang semakin parah akibat perubahan iklim terus melanda masyarakat pesisir di Desa Pantai Sederhana, Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. Perempuan menjadi kelompok paling rentan akibat bencana ini. Diri yang selalu diselimuti ketakutan, hak hidupnya semakin terampas, namun mereka tetap harus menjadi garda terdepan untuk berjuang menyelamatkan keluarganya. 

Jakarta (Greeners) – Dampak perubahan iklim sudah tampak nyata terjadi di wilayah pesisir Desa Pantai Sederhana, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. Cuaca ekstrem akibat perubahan iklim menyebabkan bencana banjir rob semakin parah menghantam kawasan pemukiman utara Bekasi ini.

Sekelompok perempuan menjadi salah satu yang paling terdampak. Tantangan berat dan rasa khawatir telah mereka rasakan bertahun-tahun dalam menghadapi fenomena ini. Namun, di balik itu, perempuan sebagai sosok utama yang dekat dengan aktivitas rumah tangga justru menjadi garda terdepan untuk menyelamatkan keluarganya. 

“Dari rahim perempuan lahir keluarga kecil, kelompok-kelompok masyarakat kecil, yang kemudian ada anak-anak dan keluarga yang juga dihidupi di situ.”

(Fasilitator Ketahanan Keluarga Kabupaten Bekasi, Ira Pelitawati)

Hanisah sedang memotong ikan di pinggir aliran sungai Citarum. Foto: Dini Jembar Wardani

Hanisah sedang memotong ikan di pinggir aliran sungai Citarum. Foto: Dini Jembar Wardani

Warga di Kampung Muara Jaya, Hanisah (41), sudah puluhan tahun hidup berdampingan dengan fenomena banjir rob. Kediaman Hanisah jaraknya sangat berdekatan dengan laut, hanya satu kilometer dari rumahnya. 

Rasa takut dan khawatir bukan hal yang baru bagi Hanisah. Ketika gelombang laut sedang tinggi hingga air laut meluap, terjadilah banjir rob yang menggenangi rumahnya. 

“Hal yang paling saya takutkan adalah ketika air pasangnya besar sekali sampai ke dalam rumah. Bahkan, banjir rob pernah satu lutut orang dewasa, dan anginnya kencang.  Jadi, itu yang membuat takut. Kan ombak, tuh, jadi terdengar ‘Beerggg…’jadi takut,” ungkap Hanisah.  

Bangunan rumah Hanisah berdiri kokoh di atas tanah yang menyatu dengan kawasan hutan mangrove. Letaknya juga berhadapan dengan Sungai Citarum. Di bawah panasnya matahari, Greeners pun harus melewati jembatan miring dari sisaan kayu yang dirangkai untuk bisa sampai ke rumah milik Hanisah. 

Rumah di Kampung Muara Jaya tergenang oleh air laut dan sampah. Foto: Dini Jembar Wardani

Rumah di Kampung Muara Jaya tergenang oleh air laut dan sampah. Foto: Dini Jembar Wardani

Perubahan Iklim Perparah Banjir Rob

Panasnya terik matahari begitu terasa saat Greeners menuju salah satu kawasan pemukiman di ujung utara Bekasi. Desa Pantai Sederhana terletak di sebelah barat laut jawa dengan luas 12,44,351 meter persegi. Lokasinya cukup jauh dari titik pusat Kota Bekasi ke Kantor Desa Pantai Sederhana. Jarak yang ditempuh sekitar 26 kilometer dan memakan waktu selama 120 menit. 

Desa kecil di wilayah Kecamatan Muara Gembong ini masih dilalui oleh aliran sungai Citarum yang kini sudah tak lagi indah. Greeners pun melanjutkan perjalanan ke Kampung Muara Jaya dan Muara Kuntul. Kedua kampung itu dekat dengan bibir pantai dan paling terdampak bencana banjir rob. 

Rumah yang luluh lantak jelas terlihat begitu nyata. Bangunan yang tidak lagi layak huni masih banyak disinggahi masyarakat di sana. Sebagian besar rumah mereka telah di ambang kehancuran akibat sering terendam air laut.

Genangan banjir rob bukan hal yang baru bagi masyarakat di sana. Fenomena ini sudah terjadi sejak tahun 1990. Namun, saat ini banjir rob menggenangi Desa Pantai Sederhana jauh lebih sering, yakni satu bulan tiga kali. Warga pun telah merasakan perubahan banjir rob yang kian parah sejak lima tahun yang lalu. 

Berdasarkan keterangan Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, perubahan iklim yang mengakibatkan cuaca ekstrem di pantai akan memperparah bencana banjir rob.

“Banjir rob di pantai utara diakibatkan oleh beberapa faktor, yaitu cuaca buruk di pantai, efek gravitasi bulan atau saat bulan baru atau purnama, yang diperkuat oleh jarak bulan terdekat dengan bumi (perigee) dan diperkuat juga oleh posisi matahari (sekitar Juni dan Desember). Makin sering terjadi rob bisa juga karena penurunan permukaan tanah (land subsidence).”

Menurut Thomas, faktor astronomis masih bersifat tetap. Namun, ada faktor cuaca ekstrem yang cenderung meningkat karena perubahan iklim. Kemudian, faktor penurunan tanah pun semakin bertambah.

Anak-anak di Desa Pantai Sederhana sedang bermain di genangan banjir rob. Foto: Hanisah

Anak-anak di Desa Pantai Sederhana sedang bermain di genangan banjir rob. Foto: Hanisah

Siap Siaga Selamatkan Keluarga

Kedatangan banjir rob merupakan sebuah fenomena yang kini tidak bisa lagi ditentukan kapan datangnya. Hanisah, perempuan kelahiran 1982 ini telah menjadi garda terdepan untuk siap siaga menyelamatkan keluarganya saat genangan air datang dan tingginya semakin naik. 

Bagi Hanisah, kedua anaknya menjadi hal utama yang ia lindungi. Sang suami, Subarma (46) yang berprofesi sebagai nelayan tidak melulu di samping Hanisah untuk siap siaga menolong. Sebab, Subarma harus tetap pergi melaut untuk mengais rupiah. 

Ketika sang suami pergi melaut, daya juang Hanisah sebagai perempuan pun mau tidak mau semakin meningkat. Ia harus menyelamatkan kedua anak serta segala perabotan rumah yang mudah tersapu banjir. 

Sepasang suami istri ini telah berdiam diri di Kampung Muara Jaya sejak tahun 2001. Menurutnya, sejak lima tahun ke belakang, banjir rob yang kini ia rasakan semakin parah. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. 

“Jelas beda, banjir rob sekarang ini jauh lebih parah. Mungkin ini kondisi alamnya sudah berubah. Sekarang, dalam sebulan bisa tiga kali (banjir rob),” ujar Hanisah. 

Potret ibu rumah tangga yang terdampak banjir rob di Desa Pantai Sederhana, kiri Sairoh, kanan Hanisah. Foto: Stanly Pondaag

Potret ibu rumah tangga yang terdampak banjir rob di Desa Pantai Sederhana, kiri Sairoh, kanan Hanisah. Foto: Stanly Pondaag

Tantangan Perempuan Sangat Ekstra

Sambil duduk di tempat pengolahan ikan miliknya atau yang disebut kursi bale, Hanisah kembali mengingat kejadian banjir rob yang perlahan menggenangi rumahnya.

“Kalau misalnya air pasang laut hari ini, itu sudah kelihatan arusnya deras. Lalu, tiba-tiba kencang, lama-lama naik-naik, berarti ini air sudah pasang. Besoknya pasti lebih besar,” ucap Hanisah. 

Genangan air payau yang lengket dan bau telah merendam rumah milik Hanisah selama lima hari. Sayangnya, air tersebut membutuhkan waktu lama untuk surut. Melihat kondisi genangan air di dalam rumah, Hanisah hanya berpasrah diri dan menjalani hidupnya dengan keadaan rumah yang terendam. Hanisah bergumam, tidak ada yang bisa ia lakukan selain berdoa kepada sang kuasa. 

Menurutnya, bencana ini bukan lagi kendalinya. Sebab, dia tidak pernah tahu kapan air tersebut akan kembali surut. Hanya kesabaran yang Hanisah miliki demi menyemangati keluarganya.  

“Tantangannya, menjadi ibu-ibu itu harus punya tenaga super ekstra. Apalagi, misalnya, yang masih punya anak balita, tentu anak utama, baru yang lain-lainnya. Kekuatan fisik juga terus diperas, rasa takut khawatir juga harus dihadapi, kita kan perlu kuat, karena harus semangat buat nolongin anak-anak juga.”

Lingkungan kotor dan bau selama berhari-hari sudah biasa Hanisah rasakan. Bahkan, sekumpulan sampah kemasan plastik telah melilit rumahnya. Begitu pula dindingnya perlahan-lahan keropos dan hancur akibat tingginya kadar air asin.  

Raut wajah Hanisah hanya pasrah saat dirinya membayangkan banjir rob menggenangi rumahnya. Bagi ibu dua anak ini, tidak ada hal lain selain menerima bencana ini dengan ikhlas. Terutama, bagi perempuan yang punya peran untuk mengurus keluarga, banjir rob sangat berdampak besar bagi kehidupan Hanisah. 

“Kalau masak mungkin bisa, mungkin kami pindahkan ke atas meja. Jadi, saya sebagai perempuan itu kalau banjir rob ya sambil masak,  ngasuh anak,  sambil oyor-oyoran itu kaki, kerendam-rendam. Terus, membenahi perabotan-perabotan yang sekiranya bisa kami amakan.  Misalnya, lemari,  pakaian-pakaian,  buku-buku sekolah,  jadi itu yang terutama. Jangan sampai basah,” kata Hanisah. 

Tidur Digenangi Air 

Cerita yang sama datang dari salah seorang ibu rumah tangga di Muara Kuntul, Sairoh (44). Selama bertahun-tahun hidupnya harus beradaptasi dengan banjir rob.

Bagi Sairoh, banjir rob telah menjadi sebuah fenomena biasa untuk hidupnya. Bahkan, bukan hal yang aneh bagi Sairoh ketika dikejutkan oleh air saat ia sedang tertidur lelap. 

“Waktu itu, pagi-pagi sudah masuk ke dalam rumah. Saya sedang di kali, terus tiba-tiba air sudah gede, jadi enggak bisa masak. Kompor dan gas sudah pada ngambang. Saya lagi tidur juga kemarin kasurnya ngambang, enggak ketahuan. Pas bangun baju basah semua,” ucap Sairoh sambil membuat jaring ikan.  

Rumah Sairoh dengan cat berwarna merah ini terletak di ujung Kampung Muara Kuntul dan berdekatan dengan empang yang cukup luas. Sehari-hari, Sairoh beraktivitas sebagai ibu rumah tangga dan membantu mengolah ikan hasil tangkapan suaminya yang berprofesi sebagai nelayan. 

Segala kesulitan dan ketakutan Sairoh rasakan selama bertahun-tahun. Ia harus menjadi wanita pemberani dan kuat untuk menghadapi ancaman banjir rob yang menggerus kelayakan hidupnya. 

“Takut, ya, takut. Habis, bagaimana? Orang sudah nasibnya di sini. Kalau malam-malam ombak gede takut kayak (tsunami) di Aceh. Namun, ya, gimana, nasibnya di sini. Jadi, ya, sudah. Pasrah saja sudah,” kata Sairoh.

Potret kumpulan sampah dari laut di belakang rumah Sairoh akibat bencana banjir rob. Foto: Dini Jembar Wardani

Potret kumpulan sampah dari laut di belakang rumah Sairoh akibat bencana banjir rob. Foto: Dini Jembar Wardani

Tidak Ada Lagi Kenyamanan

Dengan wajah yang berurai air mata, Sairoh bercerita, pada saat banjir rob sudah tidak ada lagi kenyamanan bagi hidupnya. Tidur pulas dengan penuh kenyamanan menjadi momen langka bagi Sairoh. Kini, dirinya hanya diselimuti rasa cemas akan banjir rob yang merenggut kenyamanannya. 

“Kalau banjir rob sampai seminggu, ya, enggak tidur nungguin air turun. Kalau air sudah turun, baru turun-turunin barang terus kami bersihkan, baru deh tidur. Ya, gimana, tidur susah karena nungguin air turun. Ini bikin ini (kursi kayu) belum lama sih baru bulan kemarin biar bisa tidur di sini,” tambah Sairoh.

Seramnya, hewan seperti ular pun berkeliaran saat banjir terjadi. Lalu, sekumpulan sampah plastik mengambang dan menyangkut di sela-sela rumah milik Sairoh. Semua jalanan telah menjadi satu dengan empang di depan rumahnya. Hanya air yang terlihat. 

“Pokoknya kalau airnya gede enggak ada jalanan, udah enggak kelihatan. Kalau jalan juga takut nyebur doang, semuanya enggak kelihatan, rata semuanya. Jadi, kalau jalan malam tuh takut ada ular gitu,” imbuh Sairoh. 

Bangku bambu berwarna cokelat yang lebar terletak di depan rumahnya menjadi penyelamat utama bagi Sairoh dan keluarganya. Ketika banjir datang, Sairoh bersama keluarganya menyelamatkan diri di bangku tersebut yang tingginya melebihi genangan banjir rob. 

Sang suami, Sopiyan (51) pun tidak selalu berada di samping Sairoh saat banjir rob. Dirinya pun harus tetap berangkat melaut demi meraup rupiah sebagai penggerak ekonomi di dalam keluarganya. 

Hanisah dan Sairoh sedang mengolah ikan di kediamannya. Foto: Dini Jembar Wardani

Hanisah dan Sairoh sedang mengolah ikan di kediamannya. Foto: Dini Jembar Wardani

Pergerakan Perempuan Terbatas

Dua sisi perempuan di Desa Pantai Sederhana menceritakan dampak dan tantangan dari banjir rob terhadap kehidupannya. Greeners pun telah membuktikan bahwa perempuan menjadi paling terdampak dari bencana banjir rob ini. 

Fasilitator Ketahanan Keluarga Kabupaten Bekasi, Ira Pelitawati menyimpulkan fenomena ini berpengaruh besar terhadap pergerakan perempuan yang akan terbatas. 

“Perempuan itu jangkanya tidak selebar laki-laki. Walaupun perempuan multitasking, keterbatasan perempuan itu dari sisi cara berpikir pasti terbatasi oleh yang namanya banjir rob tadi. Pada dasarnya, waktu mereka jadi lebih banyak di sana untuk mengurus (keluarga) agar waktunya lebih maksimal, menyeimbangkan kehidupan yang sudah timpang.”

Menurut Ira, dampak dari perubahan iklim sudah terlihat jelas dan nyata bagi kehidupan perempuan di wilayah pesisir. Dari segi fisik dan psikis, mereka terus terancam dengan datangnya bencana ini berulang kali. 

“Perubahan dari sisi mentalnya itu sudah pasti ada dengan adanya sikap pasrah. Namun, mereka levelnya sudah agak tinggi. Cuma, untuk daya juang itu pasti harus lebih bisa dicapai lah,” tambah Ira. 

Peran perempuan di dalam keluarga telah menjadi penerang bagi kehidupan. Dengan daya juangnya yang begitu besar, perempuan bisa memberikan seutas semangat dan harapan kepada keluarga, khususnya kepada anak-anaknya.

Oleh sebab itu, menurut Ira, perlu pendampingan dan program pemberdayaan agar perempuan bisa menjadi lebih baik serta kuat menghadapi segala peristiwa yang akan terjadi. 

“Dengan semangatnya yang tak pernah padam, tidak ada kata menyerah bagi perempuan yang akan terus memberikan secercah harapan bagi keluarganya di tengah ancaman krisis iklim saat ini,” ungkapnya.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

 

Tulisan ini merupakan seri perdana dari rangkaian tulisan terkait perubahan iklim di Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. Nantikan tulisan selanjutnya yang akan kami rilis melalui laman Editorial Greeners.Co.

]]>
https://www.greeners.co/berita/perempuan-muara-gembong-di-tengah-ancaman-banjir-rob/feed/ 0
Bekasi Berkebun dan Save Mugo Tanam Bakau di Muara Gembong https://www.greeners.co/aksi/bekasi-berkebun-dan-save-mugo-tanam-bakau-di-muara-gembong/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bekasi-berkebun-dan-save-mugo-tanam-bakau-di-muara-gembong https://www.greeners.co/aksi/bekasi-berkebun-dan-save-mugo-tanam-bakau-di-muara-gembong/#comments Fri, 27 Mar 2015 09:42:10 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=8322 Jakarta (Greeners) – Masalah pengikisan daratan di wilayah pesisir pantai oleh gelombang air laut atau yang lebih dikenal dengan nama abrasi pantai kian hari semakin tidak tertahankan. Berbagai tindakan penyelamatan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Masalah pengikisan daratan di wilayah pesisir pantai oleh gelombang air laut atau yang lebih dikenal dengan nama abrasi pantai kian hari semakin tidak tertahankan. Berbagai tindakan penyelamatan terhadap daerah pesisir pun telah banyak dilakukan oleh pemerintah, industri (melalui program Corporate Social Responcibility atau CSR), maupun masyarakat yang memang peduli dan tergerak untuk melakukan penyelamatan lingkungan.

Komunitas Bekasi Berkebun juga tak ketinggalan. Komunitas ini melakukan aksi tanam 700 bakau di daerah pesisir yang kondisinya kian memprihatinkan di Kampung Muara Beting, Kecamatan Muara Gembong, Bekasi, Jawa Barat.

Humas Bekasi Berkebun, Annisa Paramita dalam keterangan tertulisnya menyatakan, kegiatan menanam 700 Bakau untuk Muara Gembong yang diinisiasi oleh komunitas Bekasi Berkebun ini bertujuan untuk mengajak masyarakat luas agar lebih peka dengan lingkungan terutama masalah abrasi.

“Muara Gembong merupakan bagian dari Kota Bekasi, maka sudah sepatutnya kami dan masyarakat lainnya lebih peduli tentang masalah abrasi ini. Melalui kegiatan ini juga kami berharap agar lebih banyak lagi komunitas atau bahkan pemerintah daerah yang melakukan perbaikan untuk masyarakat di sana,” jelasnya, Jakarta, Jumat (27/03).

Foto : Bekasi Berkebun

Foto : Bekasi Berkebun

Aksi tanam bakau yang dilakukan pada hari Sabtu, tanggal 21 Maret 2015 lalu ini, lanjut Annisa, juga melibatkan relawan Save Mugo (Save Muara Gembong) dalam pelaksanaannya. Selain itu, kegiatan ini juga mendapat perhatian dari PT Indosurance yang akhirnya menjadikan kegiatan tanam bakau tersebut sebagai program CSR bagi perusahaan mereka.

Menurut Annisa, penanaman 700 bakau bukanlah suatu jumlah yang fantantis karena yang menjadi tujuan kegiatan ini adalah untuk memberitahukan kepada masyarakat luas, khususnya kepada masyarakat Bekasi, bahwa Muara Gembong merupakan bagian dari Bekasi dan kondisinya yang memprihatinkan membutuhkan banyak perhatian dari segala lapisan terutama dari pemerintah daerah.

“Seperti yang menjadi keinginan komunitas Bekasi Berkebun dan juga gerakan Save Mugo, harapannya ke depan Muara Gembong lebih baik lagi dengan adanya aksi penanaman bakau ini dan mari bersama membangun Bekasi yang lebih baik dan juga hijau,” tandasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/aksi/bekasi-berkebun-dan-save-mugo-tanam-bakau-di-muara-gembong/feed/ 1
Donasi Mangrove Untuk Pulihkan Ekosistem Muara Gembong https://www.greeners.co/aksi/donasi-mangrove-untuk-pulihkan-ekosistem-muara-gembong/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=donasi-mangrove-untuk-pulihkan-ekosistem-muara-gembong https://www.greeners.co/aksi/donasi-mangrove-untuk-pulihkan-ekosistem-muara-gembong/#respond Sun, 25 Jan 2015 10:00:28 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_community_act&p=7158 Bekasi (Greeners) – Hutan mangrove yang terletak di pesisir utara Kota Bekasi, tepatnya di Muara Gembong sudah mulai mengalami kerusakan yang cukup parah. Kerusakan wilayah pesisir tersebut sebagian disebabkan oleh […]]]>

Bekasi (Greeners) – Hutan mangrove yang terletak di pesisir utara Kota Bekasi, tepatnya di Muara Gembong sudah mulai mengalami kerusakan yang cukup parah. Kerusakan wilayah pesisir tersebut sebagian disebabkan oleh pembukaan ekosistem mangrove menjadi areal pertambakan, pemukiman, industri, dan lainnya. Ditambah lagi dengan fenomena abrasi pantai, di mana tercatat pada tahun 2014 lalu ada lebih dari 400 hektar daerah pesisir utara Bekasi tersebut terkena abrasi.

Atas dasar kepedulian terhadap rusaknya ekosistem mangrove tersebut, Annisa Paramitha, Humas dari komunitas Bekasi Berkebun, mengungkapkan bahwa gerakan “700 Pohon Bakau untuk Muara Gembong” diharapkan mampu membantu memulihkan ekosistem mangrove Muara Gembong yang semakin hari semakin menghilang itu.

Perempuan yang akrab disapa Nissa ini menyatakan memang sebelumnya telah banyak perusahaan yang melakukan gerakan penanaman ribuan pohon melalui program corporate social responsibility (CSR). Namun, menurutnya, tidak ada kontrol berkelanjutan setelah penanaman tersebut.

“Di sini kami mencoba mengajak masyarakat melakukan donasi untuk gerakan 700 pohon untuk Muara Gembong. Kenapa 700, karena kami mau memulai dari hal yang bisa kami kontrol keberlanjutannya nanti,” jelas Nissa saat berbincang ringan dengan Greeners, Bekasi, Minggu (25/01).

Selain itu, lanjutnya, aksi yang dilakukan bersama dengan Save Muara Gembong (Save Mugo) dan komunitas Waste4Change ini juga dilakukan untuk menyelamatkan Muara Gembong dari berbagai macam ancaman bencana ekologi seperti banjir yang sempat terjadi beberapa waktu lalu.

Gerakan yang akan dilakukan pada tanggal 21 Maret 2015 mendatang tersebut, tambah Nissa, juga akan diisi dengan edukasi pengolahan sampah dari komunitas Waste4Change dan penggalangan dana yang bisa dilihat di situs www.ayopeduli.com.

“Gerakan ini hanya sedikit ide untuk menyelamatkan Muara Gembong dari bencana ekologi yang mungkin sewaktu-waktu bisa terjadi karena rusaknya alam di sana,” ujarnya.

Sebagai informasi, hampir dari sepertiga penduduk Muara Gembong tinggal di pinggir pantai, dan dari wilayah itu pula, sepertiganya kini sudah “hilang” akibat terkena abrasi pantai. Jika musim air laut pasang, ketinggian ombak bisa mencapai 1-2 meter dengan radius berkisar 300 meter ke arah darat. Tak jarang banyak rumah yang rusak karena hempasan ombak tersebut.

Salah satu dari tiga desa yang berada di pesisir pantai adalah Desa Pantai Mekar yang dihuni oleh 600 kepala keluarga (KK) dengan mayoritas mata pencaharian sebagai nelayan. Sebanyak 200 dari 600 KK tersebut, sudah pindah ke daerah lain akibat bangunan rumah mereka yang terletak persis di pinggir pantai, hilang terkena abrasi.

Selain Desa Pantai Mekar, masih ada dua desa yang juga terkena abrasi. Kedua desa itu adalah Desa Pantai Bakti dan Desa Pantai Bahagia.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/aksi/donasi-mangrove-untuk-pulihkan-ekosistem-muara-gembong/feed/ 0