nataru - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/nataru/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Fri, 05 Dec 2025 14:24:20 +0000 id hourly 1 BMKG: Waspadai Hujan Ekstrem dan Angin Kencang Jelang Nataru https://www.greeners.co/berita/bmkg-waspadai-hujan-ekstrem-dan-angin-kencang-jelang-nataru/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bmkg-waspadai-hujan-ekstrem-dan-angin-kencang-jelang-nataru https://www.greeners.co/berita/bmkg-waspadai-hujan-ekstrem-dan-angin-kencang-jelang-nataru/#respond Fri, 05 Dec 2025 14:24:20 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=47797 Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan kondisi cuaca terkini dan potensi risiko hidrometeorologi dalam Rapat Koordinasi Natal dan Tahun Baru (Nataru). BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan kondisi cuaca terkini dan potensi risiko hidrometeorologi dalam Rapat Koordinasi Natal dan Tahun Baru (Nataru). BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk terus waspada terhadap kondisi cuaca dalam beberapa pekan mendatang.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani menjelaskan ada beberapa jenis bencana yang mendominasi, seperti hujan ekstrem dan angin kencang. Selain itu, ada fenomena lain seperti petir merusak, puting beliung, hujan es, dan jarak pandang terbatas yang kerap mengganggu penerbangan maupun pelayaran.

“Trennya terus naik. Jawa Barat memimpin frekuensi kejadian hujan ekstrem dan angin kencang, kemudian Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ini harus menjadi perhatian kita bersama,” ujar Faisal di Jakarta, Senin (1/12).

Pada periode minggu kedua Desember hingga awal Januari, BMKG memperkirakan Monsoon Asia mulai aktif, meningkatkan curah hujan di Indonesia. Selain itu, muncul anomali atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation, gelombang Kelvin, dan Rossby Equator yang berpotensi memicu hujan ekstrem.

Hadirnya seruak dingin dari Siberia juga turut memperkuat intensitas hujan, sementara bibit siklon tropis berpotensi terbentuk di wilayah selatan Indonesia. Daerah yang perlu mewaspadai pembentukan bibit siklon antara lain Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku, serta Papua Selatan dan Tengah.

BMKG mengingatkan bahwa meskipun Indonesia umumnya tidak berada di jalur siklon, anomali cuaca dapat mengubah pola tersebut. Contohnya adalah siklon Senyar yang beberapa waktu lalu menyebabkan kerusakan luas dan hujan ekstrem lebih dari 380 mm/hari di Aceh.

Pada 28 Desember–10 Januari, hampir seluruh wilayah Pulau Jawa, Bali, NTT, NTB, hingga sebagian Sulawesi Selatan dan Papua Selatan berpotensi mengalami hujan tinggi hingga sangat tinggi (300-500 mm per bulan).

Di sisi lain, potensi banjir rob juga perlu diwaspadai di pesisir Jakarta, Banten, dan Pantura Jawa Barat. Terutama akibat fase perigee dan bulan purnama pada pertengahan Desember.

Gelar OMC di Tiga Bandara

Selain itu, untuk mendukung percepatan penanganan darurat dan distribusi logistik, BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di tiga bandara. Di antaranya Sultan Iskandar Muda (Aceh), Kualanamu (Sumatra Utara), dan bandara di Padang.

Tujuan operasi tersebut adalah untuk menurunkan hujan di wilayah tidak terdampak atau mencegah hujan di zona rawan bencana. Pelaksaan operasi ini menggunakan penyemaian NACL atau Calcium Oxide.

“OMC hanya bisa dilakukan bila gubernur menetapkan status siaga darurat. Tanpa itu, operasi tidak bisa berjalan karena biaya dan risikonya sangat besar,” jelasnya

BMKG menegaskan bahwa siklon tropis dapat diprediksi hingga delapan hari sebelumnya. Peringatan dini juga telah dikirimkan berulang saat adanya siklon Senyar. Untuk itu, pemerintah daerah dapat aktif berkonsultasi dengan Balai Besar BMKG dan segera menggelar rapat koordinasi bersama Forkopimda. Selain itu, mereka juga diminta memperkuat sistem respons dini menjelang libur Nataru.

BMKG juga membuka posko nasional di berbagai pelabuhan dan bandara. Selain itu, mereka menyiapkan aplikasi pendukung seperti radar cuaca, DWT untuk jalan raya, dan Inawis untuk pemantauan laut.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian juga menyinggung kejadian besar banjir bandang dan longsor. Bencana tersebut terjadi di Cilacap, Banjarnegara, Jawa Tengah, serta bencana luas di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Menurut Tito, hal itu menjadi peringatan nyata bahwa ancaman dapat muncul setiap saat dan di lokasi mana pun.

“Kita belum tahu apa yang menghadang ke depan. Sama seperti yang terjadi di Sumatra Utara, kejadiannya sangat cepat dan kita mungkin kurang siap,” ujarnya.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/bmkg-waspadai-hujan-ekstrem-dan-angin-kencang-jelang-nataru/feed/ 0
Libur Nataru, Kemenkes Optimalkan 15.746 Fasilitas Kesehatan https://www.greeners.co/berita/libur-nataru-kemenkes-optimalkan-15-746-fasilitas-kesehatan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=libur-nataru-kemenkes-optimalkan-15-746-fasilitas-kesehatan https://www.greeners.co/berita/libur-nataru-kemenkes-optimalkan-15-746-fasilitas-kesehatan/#respond Thu, 28 Dec 2023 05:40:32 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=42646 Jakarta (Greeners) – Menyambut libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengoptimalkan 15.746 fasilitas pelayanan kesehatan di enam jalur mudik. Hal itu sebagai upaya penguatan kesehatan bagi masyarakat […]]]>

Jakarta (Greeners) – Menyambut libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengoptimalkan 15.746 fasilitas pelayanan kesehatan di enam jalur mudik. Hal itu sebagai upaya penguatan kesehatan bagi masyarakat yang pergi mudik.

Fasilitas yang Kemenkes optimalkan di antaranya 3.137 rumah sakit, 10.147 puskesmas, 51 kantor kesehatan pelabuhan (KKP), 2.059 pos pelayanan kesehatan, dan 352 public safety center (PSC).

Direktur Jenderal (Dirjen) Pelayanan Kesehatan RI, Azhar Jaya menyampaikan terdapat enam jalur pemantauan fasilitas kesehatan dan pos kesehatan menjelang Nataru. Di antaranya jalur Jakarta-Palembang, Jakarta-Surabaya, Jakarta-Yogyakarta, Surabaya-Bali-NTB, Medan-Padang, dan Makassar-Tana Toraja.

BACA JUGA: Waspadai Ancaman Polusi Udara saat Mudik

“Pos-pos tersebut nantinya berisi teman-teman tim pemantau dari daerah dan pemerintah pusat. Mereka akan terus memantau, apakah sudah berjalan atau ada kendala. Sehingga, bisa mereka selesaikan dengan cepat pada saat Nataru,” kata Azhar Jaya melalui keterangan rilisnya, Selasa (26/12).

Azhar menjelaskan, tim pemantau dari pusat Kemenkes beranggotakan 150 orang. Tim pemantau didukung oleh rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya, dengan petugas berjumlah sekitar 15.000 orang yang tersebar di seluruh Indonesia, termasuk Pulau Jawa, Sumatra, dan Sulawesi. Khususnya, di kawasan wisata dan kerumunan.

“Tim pemantauan kesiapsiagaan ini tidak hanya memantau dari sisi pelayanan kesehatan saja. Tetapi juga, mengantisipasi berbagai kejadian. Seperti, kecelakaan yang terjadi pada saat mudik serta deteksi penyakit secara dini,” ungkap Dirjen Azhar.

Pemantauan kesiapsiagaan fasilitas pelayanan kesehatan jelang libur Nataru tersebut, telah dimulai sejak tanggal 18 Desember 2023 hingga 3 Januari 2024 mendatang.

Kemenkes mengoptimalkan 15.746 fasilitas pelayanan kesehatan di enam jalur mudik. Foto: Kemenkes

Kemenkes mengoptimalkan 15.746 fasilitas pelayanan kesehatan di enam jalur mudik. Foto: Kemenkes

Kemenkes Siapkan Posko Kesehatan di Enam Jalur Mudik 

Sementara itu, dalam menyiapkan posko kesehatan di enam jalur mudik, Kemenkes melepas Tim Pemantauan Kesiapsiagaan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Hari Libur Natal 2023 dan Tahun Baru 2024 di Jakarta, Kamis (21/12).

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemenkes, Kunta Wibawa Nugraha mengatakan, pelepasan tim pemantauan tersebut sebagai upaya sektor kesehatan dalam kesiapan pelayanan kesehatan. Khususnya, dalam rangka menghadapi hari libur Nataru.

“Pemerintah pusat telah bekerja sama dengan pemerintah daerah. Termasuk dinas kesehatan, rumah sakit, puskesmas dan pelayanan kesehatan lainnya dalam pemantauan jalur libur Natal dan Tahun Baru,” kata Sekjen Kunta melalui siaran pers di laman Kemenkes, Selasa (26/12).

Sekjen Kunta melanjutkan, Kemenkes menggerakkan pusat dan daerah untuk menyiapkan pos pelayanan kesehatan di pintu keluar tol. Bahkan, pos pelayanan kesehatan juga tersedia di jalur tol operasional, non-tol, atau tempat wisata, terminal, stasiun, bandara, dan pelabuhan.

Tim Pemantauan Mengontrol Kesiapan Pelayanan Kesehatan

Ketersediaan dan kesiagaan ambulans, persiapan puskesmas, rumah sakit dan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) juga telah Kemenkes siapkan. Mereka pun melakukan promosi kesehatan dan penyebaran informasi secara masif terkait gerakan 3M (Memakai Masker, Menjaga Jarak, Mencuci Tangan).

“Pelayanan kesehatan ini, bekerja sama dengan dinas kesehatan di daerah dan puskesmas dan juga pelayanan kesehatan lainnya. Arahnya adalah nanti ada di rest area, ada di jalur-jalur yang mudik. Termasuk di dalamnya, kami menyiapkan juga rumah sakit,” lanjut Sekjen Kunta.

Sekjen Kunta menambahkan, tim pemantauan akan mengontrol kesiapan di KKP. Mereka juga terus melihat kesiapan di stasiun kereta api, PSC, rumah sakit rujukan, puskesmas, pelabuhan, tempat Ibadah, tempat wisata, terminal bus, dan pos kesehatan (Poskes). Tim yang akan berangkat merupakan gabungan lintas program di Kemenkes.

BACA JUGA: Mudik 2019, Kemenkes Fokus Berikan Layanan Kesehatan kepada Pengemudi

Sementara itu, ia berharap tim pemantauan pos kesehatan dapat menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya dan tetap menjaga protokol kesehatan.

Kemenkes juga mengimbau masyarakat, khususnya bagi pejalan mudik saat Nataru, untuk terus menjaga protokol kesehatan. Apabila kurang sehat atau flu, sebaiknya pemudik menggunakan masker. Kemudian, apabila setelah melakukan perjalanan merasa kurang sehat atau sakit, sebaiknya segera datang ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat untuk pemeriksaan lebih lanjut.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/libur-nataru-kemenkes-optimalkan-15-746-fasilitas-kesehatan/feed/ 0
BMKG Sebut Cuaca Penyeberangan Jawa-Bali Relatif Kondusif https://www.greeners.co/berita/bmkg-sebut-cuaca-penyeberangan-jawa-bali-relatif-kondusif/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bmkg-sebut-cuaca-penyeberangan-jawa-bali-relatif-kondusif https://www.greeners.co/berita/bmkg-sebut-cuaca-penyeberangan-jawa-bali-relatif-kondusif/#respond Tue, 26 Dec 2023 04:24:15 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=42629 Jakarta (Greeners) –  Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyebut cuaca di wilayah Indonesia bagian selatan khatulistiwa relatif kondusif untuk penyeberangan. Menurutnya, situasi tersebut akan berlangsung hingga […]]]>

Jakarta (Greeners) –  Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyebut cuaca di wilayah Indonesia bagian selatan khatulistiwa relatif kondusif untuk penyeberangan. Menurutnya, situasi tersebut akan berlangsung hingga akhir tahun dan awal tahun.

“Kami pantau juga tidak ada gangguan tropis lainnya. Sehingga, cuaca di Laut Jawa, Selat Bali, dan Nusa Tenggara cukup kondusif. Awan-awan hujan tidak terbentuk di wilayah selatan Khatulistiwa. Sehingga, membuat curah hujan tidak ada atau sangat berkurang,” ungkap Dwikorita melalui siaran persnya saat kunjungan ke Pelabuhan Ketapang Banyuwangi Jawa Timur untuk meninjau kesiapan menghadapi momentum Natal dan Tahun Baru (Nataru), Sabtu (23/12).

Dwikorita menambahkan, hal ini terjadi karena pengaruh sirkulasi siklonik di Laut Cina Selatan dan perairan Belitung. Berbeda halnya dengan wilayah Indonesia di utara garis khatulistiwa seperti Sumatra, Aceh, dan Kalimantan. Wilayah tersebut diprediksi akan mengalami hujan dengan intensitas ringan, sedang, hingga ekstrem.

BACA JUGA: Libur Nataru, Masyarakat Perlu Waspada Potensi Cuaca Ekstrem

Sementara itu, BMKG juga tetap mewaspadai potensi terjadinya cuaca ekstrem meski saat ini masih dalam taraf rendah. BMKG, tambahnya, telah berkoordinasi dengan sejumlah pihak. Di antaranya Kementerian Perhubungan, operator jasa penyebrangan, BPBD, Basarnas, TNI atau Polri dan berbagai pihak terkait untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu terjadi cuaca ekstrem.

Berdasarkan keterangan Dwikorita, BMKG berperan melaporkan kondisi terkini cuaca. Kemudian, laporan itu akan ditindaklanjuti oleh stakeholder lainnya sesuai standard operating procedure (SOP) masing-masing instansi terkait.

“Sebetulnya ini sudah rutin kami lakukan. Akan tetapi, karena ini momen besar yang membuat lonjakan penumpang, sehingga perlu kami matangkan agar semakin siaga. BMKG berharap mobilitas penyeberangan di Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk dan penyebarangan lainnya, lancar dan aman selama periode Nataru,” imbuhnya.

Cuaca di wilayah Indonesia bagian selatan khatulistiwa relatif kondusif untuk penyeberangan. Foto: Freepik

Cuaca di wilayah Indonesia bagian selatan khatulistiwa relatif kondusif untuk penyeberangan. Foto: Freepik

Ada Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah

Di samping itu, Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto mengatakan, potensi hujan sedang hingga lebat pada periode 23 Desember 2023-1 Januari 2024 dapat terjadi di sejumlah wilayah. Di antaranya Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, dan Bengkulu. Kemudian, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, dan Papua.

Guswanto mengatakan, kondisi tersebut akibat beberapa fenomena dinamika atmosfer. Salah satunya, sirkulasi angin di Laut Cina Selatan (LCS). Fenomena itu masih menghambat aliran massa udara basah dari Asia ke wilayah Indonesia.

BACA JUGA: Jelang Libur Nataru, BNPB Siapkan Mitigasi Bencana

Sehingga, potensi hujan lebat masih terkonsentrasi di wilayah Sumatera dan Kalimantan Barat. Guswanto menyebut, BMKG juga memperkirakan sejumlah wilayah mengalami suhu terik. Sebab, sirkulasi angin di LCS tersebut juga secara tidak langsung memberikan dampak terhadap kurangnya potensi pertumbuhan awan di wilayah selatan ekuator.

Kondisi ini, lanjut Guswanto, diperkuat juga dengan adanya fase kering fenomena MJO (Madden Jullian Oscillation) di sebagian wilayah Indonesia. Akibatnya ,pada siang hari kondisi suhu cukup panas dan terik dengan kisaran suhu 35 derajat celcius sampai 37 derajat celcius.

“Kondisi suhu terik pada siang hari ini masih dapat terjadi hingga 3 hari ke depan di sebagian wilayah Jawa-Nusa Tenggara,” ujarnya.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/bmkg-sebut-cuaca-penyeberangan-jawa-bali-relatif-kondusif/feed/ 0
Libur Nataru, Masyarakat Perlu Waspada Potensi Cuaca Ekstrem https://www.greeners.co/berita/libur-nataru-masyarakat-perlu-waspada-potensi-cuaca-ekstrem/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=libur-nataru-masyarakat-perlu-waspada-potensi-cuaca-ekstrem https://www.greeners.co/berita/libur-nataru-masyarakat-perlu-waspada-potensi-cuaca-ekstrem/#respond Sat, 23 Dec 2023 03:00:49 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=42603 Jakarta (Greeners) –  Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati meminta masyarakat mewaspadai potensi cuaca ekstrem selama periode Natal 2023 dan Tahun Baru 2024 (Nataru). Menurutnya, cuaca ekstrem […]]]>

Jakarta (Greeners) –  Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati meminta masyarakat mewaspadai potensi cuaca ekstrem selama periode Natal 2023 dan Tahun Baru 2024 (Nataru). Menurutnya, cuaca ekstrem tersebut merupakan dinamika atmosfer akibat posisi Indonesia yang diapit dua benua dan dua samudera.

“Waspadai untuk wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk Jawa dan Sumatera bagian selatan setelah Natal hingga sampai setelah tahun baru. Itu potensi hujan lebat bisa sampai ekstrem serta angin kencang,” ungkap Dwikorita melalui siaran pers, Selasa (19/12).

BACA JUGA: Hadapi Perubahan Iklim, BMKG Tekankan Pentingnya Data Kelautan

Dwikorita melanjutkan, potensi cuaca ekstrem juga perlu masyarakat perhatikan sebelum perayaan Natal, terutama di wilayah utara Indonesia yang berbatasan dengan daerah khatulistiwa.

“Namun, sebelum Natal, perlu kewaspadaan di wilayah Indonesia bagian utara, terutama di utara khatulistiwa, Sumatera Utara, Aceh, dan Kalimantan,” tambahnya.

meminta masyarakat mewaspadai potensi cuaca ekstrem selama periode Nataru. Foto: BMKG

meminta masyarakat mewaspadai potensi cuaca ekstrem selama periode Nataru. Foto: Freepik

Waspada Potensi Gelombang Tinggi

Selain cuaca ekstrem, Dwikorita juga menyebut selama musim Nataru terdapat potensi gelombang tinggi, khususnya di Samudera Hindia, Pasifik, dan Selat Sunda. Ia mengingatkan mengenai arus laut dan angin kencang. Ia juga meminta perusahaan pelayaran, angkutan penyeberangan, nelayan, dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan untuk mencegah terjadinya kecelakaan laut.

“Masyarakat bisa mengakses informasi cuaca 24 jam penuh melalui aplikasi @infobmkg. Silakan akses informasi dari platform tersebut sebagai acuan dalam beraktivitas selama pekan Nataru. Di sana juga terdapat informasi gempa bumi dan lain sebagainya,” imbuhnya.

Tekanan Rendah di Laut Cina Selatan Pengaruhi Cuaca Ekstrem

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto mengatakan berdasarkan analisa BMKG, ada penyebab khusus yang memengaruhi potensi cuaca ekstrem selama pekan Nataru. Hal itu terjadi akibat adanya aktivitas pola tekanan rendah di Laut Cina Selatan.

“Keberadaan pola tekanan rendah di sekitar Laut Cina Selatan secara tidak langsung turut membentuk pola pertemuan serta belokan angin. Ini menyebabkan terjadinya peningkatan awan hujan di sekitar Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi,” ujar Guswanto.

BACA JUGA: Jelang Libur Nataru, BNPB Siapkan Mitigasi Bencana

Guswanto menambahkan, daerah-daerah yang berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi terjadi di beberapa wilayah. Di antaranya terjadi di sebagian wilayah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi Tengah, Papua, Sulawesi, dan Maluku.

“Untuk mengantisipasi cuaca ekstrem Nataru, BMKG telah menyediakan akses informasi cuaca terintegrasi jalur transportasi. Secara khusus, BMKG menyediakan akses informasi di jalur pelayaran melalui situs INAWIS yang digunakan untuk melihat prakiraan cuaca beberapa hari sebelum kejadian gelombang tinggi,” lanjut Guswanto.

Di samping itu, BMKG juga melakukan antisipasi. Salah satunya mendirikan posko kesiapsiagaan dengan mengirim mobile radar cuaca dan alat observasi yang terpasang di Pelabuhan Merak, Bakauheni, dan Juanda. Radar cuaca akan menyajikan informasi terbaru setiap 10 menit. Sehingga, hal itu akan menjadi dasar peringatan dini ketika cuaca buruk terjadi.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/libur-nataru-masyarakat-perlu-waspada-potensi-cuaca-ekstrem/feed/ 0
Jelang Libur Nataru, BNPB Siapkan Mitigasi Bencana https://www.greeners.co/berita/jelang-libur-nataru-bnpb-siapkan-mitigasi-bencana/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jelang-libur-nataru-bnpb-siapkan-mitigasi-bencana https://www.greeners.co/berita/jelang-libur-nataru-bnpb-siapkan-mitigasi-bencana/#respond Wed, 13 Dec 2023 03:03:22 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=42512 Jakarta (Greeners) – Jelang libur perayaan Natal dan pergantian tahun baru (Nataru), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meningkatkan kesiapsiagaan dan mitigasi bencana. Ini merupakan salah satu upaya pemerintah melindungi masyarakat […]]]>

Jakarta (Greeners) – Jelang libur perayaan Natal dan pergantian tahun baru (Nataru), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meningkatkan kesiapsiagaan dan mitigasi bencana. Ini merupakan salah satu upaya pemerintah melindungi masyarakat dari dampak bencana.

Kepala BNPB, Suharyanto menjelaskan, bencana hidrometeorologi basah kemungkinan akan terjadi hingga Februari 2024. Untuk mengantisipasinya, BNPB mengimbau BPBD tingkat provinsi, kabupaten, dan kota untuk siap siaga memitigasi bencana.

“Kami mendorong pemda untuk menetapkan status siaga darurat. Jadi, sebelum terjadi bencana, pemda bisa siap siaga. Sehingga, pusat dapat memberikan bantuan sumber daya ke daerah,” ucap Suharyanto dalam keterangan rilisnya.

BACA JUGA: BNPB Cegah Dampak El Nino melalui Operasi Darat dan Udara

Hal itu tertulis di Surat Edaran Nomor 3 Tahun 2023 tentang Imbauan Dalam Rangka Antisipasi Kejadian Bencana Pada Masa Libur Natal 2023 dan Tahun Baru Tahun 2024.

Surat Edaran tersebut untuk wilayah yang dilalui jalur mudik dengan wilayah tingkat kerawanan bencana.  Di antaranya Provinsi Lampung, Bali, dan provinsi yang ada di Pulau Jawa. Dalam rangka siaga darurat bencanal libur natal dan tahun baru, pemerintah pusat juga mengimbau pemda untuk membuat pos komando, mempersiapkan rencana operasi, dan menggelar peralatan.

BNPB menyiapkan mitigasi bencana menjelang libur Natal dan tahun baru. Foto: BNPB

BNPB menyiapkan mitigasi bencana menjelang libur Natal dan tahun baru. Foto: Freepik

BNPB Merilis Peta Jalur Mudik Rawan Bencana

Sementara itu, BNPB juga merilis Peta Jalur Mudik Rawan Bencana, khususnya untuk masyarakat yang akan melakukan perjalanan. Dengan peta ini, masyarakat bisa mengetahui tingkat kerawanan bencana, terutama pada wilayah yang mereka lalui.

“Peta rawan bencana banjir, rawan cuaca ekstrim dan rawan longsor, akan kami bagikan ke masyarakat dan ke pemda. Sehingga, para pelaku perjalanan liburan akan paham (tingkat rawan bencananya) ketika sampai di daerah masing-masing,” ujarnya.

Manfaatkan TMC untuk Antisipasi Tingginya Curah Hujan

Kesuksesan penggunaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) dalam menangani kekeringan dan mengurangi karhutla pada tahun 2023 akan kembali dimanfaatkan. Teknologi tersebut dapat mengurangi dampak dari tingginya curah hujan dalam beberapa bulan ke depan.

“Kami akan memonitor perkembangan cuaca. Seandainya di jalur mudik dan tempat wisata, maupun daerah tertentu yang mungkin akan datang hujan deras dan banjir, dengan TMC hujannya akan diperkecil atau kami alihkan ke tempat lain,” tambah Suharyanto.

BACA JUGA: BNPB: 95 Bangunan Rusak akibat Gempa di NTT

Kerja sama dengan BMKG untuk menggunakan TMC terbukti berhasil ketika terjadi kekeringan dan El Nino tahun 2023. TMC berhasil mengantisipasi karhutla yang signifikan. Praktik TMC tersebut akan BNPB terapkan untuk menangani bencana hidrometeorologi basah.

BNPB Imbau Pemda Antisipasi Bencana

BNPB mengimbau seluruh pemerintah daerah untuk mengantisipasi bencana sesuai karakteristik wilayahnya masing-masing. Oleh sebab itu, pemerintah perlu mengantisipasi kawasan perkotaan untuk memastikan sistem drainase yang efektif.

Kemudian, perlu mewaspadai retakan tanah kering yang rentan longsor saat terjadi hujan di kawasan perbukitan. Pemerintah setempat perlu menerapkan teknik konservasi tanah dan air serta pemeliharaan jalur hijau. Tujuannya untuk mengurangi erosi dan longsor, serta merancang sistem drainase yang sesuai dengan topografi perbukitan.

“Kami siap mendampingi dan siap siaga bagi masyarakat yang sedang liburan. Mudah-mudahan hari libur ini berjalan lancar dan tidak terjadi bencana yang membuat masyarakat menjadi korban,” ujar Suharyanto.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/jelang-libur-nataru-bnpb-siapkan-mitigasi-bencana/feed/ 0