net zero - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/net-zero/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sat, 11 Oct 2025 07:21:51 +0000 id hourly 1 Kebijakan Dekarbonisasi Perbankan Indonesia Masih Tertinggal di ASEAN https://www.greeners.co/berita/kebijakan-dekarbonisasi-perbankan-indonesia-masih-tertinggal-di-asean/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kebijakan-dekarbonisasi-perbankan-indonesia-masih-tertinggal-di-asean https://www.greeners.co/berita/kebijakan-dekarbonisasi-perbankan-indonesia-masih-tertinggal-di-asean/#respond Sat, 11 Oct 2025 07:21:51 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=47473 Jakarta (Greeners) – Bank-bank ASEAN menunjukkan kemajuan dalam aksi iklim dengan menetapkan target net-zero jangka panjang, dengan 11 dari 14 bank, termasuk BRI, menetapkan target net-zero jangka panjang. Namun, perbankan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Bank-bank ASEAN menunjukkan kemajuan dalam aksi iklim dengan menetapkan target net-zero jangka panjang, dengan 11 dari 14 bank, termasuk BRI, menetapkan target net-zero jangka panjang. Namun, perbankan di wilayah ini masih lambat menerapkan kebijakan dekarbonisasi yang ambisius agar selaras dengan target net-zero global 2050. Padahal, Asia adalah salah satu kawasan paling rentan terhadap dampak perubahan iklim di dunia.

Laporan “Bridging the Gap” dari Asia Research & Engagement menilai 14 bank terkemuka di empat negara Asia Tenggara. Penilaian mencakup bank-bank di Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina yang berperan penting dalam aksi iklim regional.

Lembaga keuangan Indonesia seperti BRI, Mandiri, BNI, dan BCA sudah meningkatkan pengungkapan risiko iklim serta tata kelola yang lebih baik. Namun, kebijakan ambisius dan pembatasan pembiayaan bahan bakar fosil masih tertinggal dibanding standar regional yang diterapkan negara lain.

Founder dan Managing Director ARE Ben McCarron mengatakan bahwa bank-bank ASEAN mencatatkan kemajuan yang signifikan. Hal itu mulai dari tata kelola yang lebih kuat dan komitmen net-zero hingga pembatasan terhadap pembiayaan batu bara, namun masih banyak yang perlu dilakukan.

“Kami mendorong bank-bank di kawasan untuk secara kolektif mempercepat transisi menuju ASEAN rendah karbon,” kata Ben dalam keterangan tertulisnya, Kamis (9/10).

Indonesia memperoleh skor 50% untuk tata kelola, 83% untuk manajemen risiko, 75% untuk peluang pembiayaan hijau, dan hanya 17% untuk kebijakan. Rata-rata tematik keseluruhan dalam penilaian tolok ukur 2025 mencapai 53%.

Hasil tersebut mencerminkan sistem perbankan yang semakin canggih dalam mengidentifikasi dan mengelola risiko iklim. Namun, masih terbatas dalam menerapkan kebijakan dekarbonisasi yang kuat dan terikat waktu.

Adopsi Dekarbonisasi

Sebagian besar bank besar di Indonesia kini juga sudah memiliki pengawasan keberlanjutan di tingkat dewan. Bahkan, telah mengadopsi prinsip Task Force on Climate-related Financial Disclosures (TCFD). Mereka juga mulai melaporkan emisi pembiayaan menggunakan metodologi Partnership for Carbon Accounting Financials (PCAF).

Namun, hanya BRI yang telah menetapkan target net-zero emission pada 2050  dan mengurangi secara bertahap pembiayaan eksisting PLTU. Selain itu, belum ada satu pun bank di Indonesia yang memiliki rencana untuk menghentikan pembiayaan untuk PLTU baru.

Di sisi lain, berbagai bank di ASEAN sudah memiliki jadwal penghentian pembiayaan untuk PLTU baru. Di antaranya KBank dan Siam Commercial Bank (SCB) di Thailand, BDO Unibank dan Bank of The Phillipines Island (BPI) di Filipina, serta Maybank, CIMB, Hong Leong Bank (HLB) dari Malaysia.

Laporan tersebut memperingatkan bahwa tanpa kebijakan yang lebih kuat dengan tenggat waktu tertentu, bank-bank Indonesia berisiko tertinggal dari bank lain di ASEAN. Kini bank perlu mengadopsi jalur dekarbonisasi sektoral di seluruh sektor utama berkarbon tinggi.

Jalur tersebut perlu didiskusikan dengan klien di semua bentuk penyediaan modal. Hal ini baik di tingkat korporat, tingkat proyek, maupun saat mengatur pembiayaan atau penjaminan emisi pihak ketiga.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/kebijakan-dekarbonisasi-perbankan-indonesia-masih-tertinggal-di-asean/feed/ 0
Hemat Energi, Ecoloft Jababeka Raih EDGE Zero Carbon https://www.greeners.co/aksi/hemat-energi-ecoloft-jababeka-raih-edge-zero-carbon/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hemat-energi-ecoloft-jababeka-raih-edge-zero-carbon https://www.greeners.co/aksi/hemat-energi-ecoloft-jababeka-raih-edge-zero-carbon/#respond Wed, 22 Mar 2023 04:17:51 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=39417 Jakarta (Greeners) – Ecoloft Jababeka Cikarang dinobatkan sebagai proyek real estate pertama di Indonesia yang memperoleh sertifikasi EDGE Zero Carbon. Sertifikasi ini berhasil mereka raih karena proyek ini mampu hemat […]]]>

Jakarta (Greeners) – Ecoloft Jababeka Cikarang dinobatkan sebagai proyek real estate pertama di Indonesia yang memperoleh sertifikasi EDGE Zero Carbon. Sertifikasi ini berhasil mereka raih karena proyek ini mampu hemat energi sebesar 82 %.

Sertifikat ini dikeluarkan International Finance Corporation (IFC), Asia Green Real Estate (AGRE) dan Green Building Council Indonesia (GBC Indonesia).

East Asia Green Building Program Lead, IFC Farida Lasida Adji menyatakan, sektor bangunan menyumbang emisi sebesar 40 % di perkotaan.

Padahal, berdasarkan kesepakatan peta jalan menuju nol karbon (COP26) dunia, pada tahun 2030 semua bangunan baru harus sudah net zero energy. Sementara pada tahun 2050, semua bangunan (termasuk eksisting) bebas karbon (zero carbon).

Farida berpandangan, untuk mendapatkan sertifikat zero carbon building ini tidak mudah. Sebab, gedung tersebut harus membuktikan sebagai gedung hemat energi setidaknya 40 % dari bangunan setipe di tempat tersebut.

“Untuk Ecoloft ini penghematannya sudah sampai 82 %, jadi ini sudah terukur. Dan ini melampaui standar penghematan energi yakni 40 %,” katanya dalam Seremonial Serah Terima Sertifikat Zero Carbon Ecoloft Jababeka Golf, di Jakarta, Selasa (21/3).

Berkontribusi Terhadap Pengurangan Emisi Karbon

Dengan adanya sertifikasi ini tak sekadar menguntungkan dari sisi penghematan operasional bangunan, tapi kontribusinya terhadap emisi karbon.

“Pengurangan emisi karbon dan ini akan sangat besar. Karena kita ketahui dari sektor bangunan itu emisinya besar,” imbuhnya.

Artinya, semakin banyak bangunan yang melakukan hemat energi maka akan semakin rendah emisi karbon di kota tersebut.

Ia juga menyebut tantangan bangunan hijau tersertifikasi di Indonesia karena masih banyaknya persepsi masyarakat yang berpikir ini membutuhkan biaya yang besar. Misalnya, biaya mengganti kaca, AC dan sertifikasinya.

“Oleh karena itu kami secara aktif terus menerus melakukan awarness rising bahwa kebutuhan ini sebenarnya bisa kita mitigasi, bisa kita hitung. Bahkan bisa kita buat sejak tahapan desain, jadi penambahan biaya bisa kita minimalisir,” papar Farida.

Sertifikasi ini diberikan karena real estate ini mampu hemat energi hingga 82 %. Foto: Ecoloft

Dirancang Ramah Lingkungan dan Hemat Energi

Komplek perumahan yang berlokasi di dalam lapangan golf ini meliputi 19 unit servis townhouses yang unik. Sejak awal, hunian ini dirancang berkonsep ramah lingkungan. Seluruh proses, mulai dari konstruksi, operasi, dan pemeliharaan melalui metode inovatif dan hemat sumber daya.

Terdapat pengurangan rasio jendela ke dinding, penggunaan alat penahan panas eksternal, dan mengunakan pemanas air tenaga surya. Kemudian, ada insulasi untuk atap dan dinding luar, sistem pendingin udaranya pun hemat energi.

Selain itu juga ada pencahayaan hemat energi, dan fotovoltaik surya yang menyediakan 50 persen konsumsi listrik.

Potensinya Setara dengan Menanam 1.500 Pohon

Upaya ini berpotensi mengurangi jejak karbonnya menjadi nol, mengurangi emisi sebanyak 95 ton per tahun, atau setara dengan menanam sekitar 1.500 pohon.

Pejabat Country Manager IFC untuk Indonesia dan Timor-Leste Randall Riopelle menyatakan, bahan bangunan menyumbang setengah dari limbah padat setiap tahun di seluruh dunia.

“Jumlah tersebut kita perkirakan akan mencapai 2,2 miliar ton per tahun secara global di tahun 2025. Artinya kunci masa depan rendah karbon adalah penghijauan bangunan, baik bangunan baru maupun bangunan lama,” imbuhnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/aksi/hemat-energi-ecoloft-jababeka-raih-edge-zero-carbon/feed/ 0