New Energy Nexus Indonesia - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/new-energy-nexus-indonesia/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Fri, 02 Apr 2021 15:11:34 +0000 id hourly 1 Pendulum, Manfaatkan Gelombang Laut Jadi EBT bagi Nelayan https://www.greeners.co/aksi/pendulum-manfaatkan-gelombang-laut-jadi-ebt-bagi-nelayan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pendulum-manfaatkan-gelombang-laut-jadi-ebt-bagi-nelayan https://www.greeners.co/aksi/pendulum-manfaatkan-gelombang-laut-jadi-ebt-bagi-nelayan/#respond Fri, 13 Nov 2020 08:21:17 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=29929 Founder Pendulum, Yulia Safitri, memanggil kembali memorinya beberapa tahun lalu. Saat itu, dia tengah berkuliah di Institut Teknologi Sepuluh September, Surabaya. Yulia begitu tertarik ketika dalam sebuah mata kuliah, dosennya menjelaskan tentang gelombang laut sebagai salah satu sumber Energi Baru Terbarukan (EBT). Dia pun lanjut menggeluti gelombang laut untuk skripsnya. Untuk tugas akhirnya itu, Yulia sengaja mengumpulkan dana Rp 2.000.000 untuk ciptakan prototipe EBT yang memanfaatkan gelombang laut.]]>

Founder Pendulum, Yulia Safitri, memanggil kembali memorinya beberapa tahun lalu. Saat itu, dia tengah berkuliah di Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya. Yulia begitu tertarik ketika dalam sebuah mata kuliah, dosennya menjelaskan tentang gelombang laut sebagai salah satu sumber Energi Baru Terbarukan (EBT). Dia pun lanjut menggeluti gelombang laut untuk skripsnya. Untuk tugas akhirnya itu, Yulia sengaja mengumpulkan dana Rp 2.000.000 untuk ciptakan prototipe EBT yang memanfaatkan gelombang laut.

Setelah lulus, Yulia mengajak teman-temannya untuk mencoba mengembangkan prototipe tugas akhir miliknya lebih jauh. Saat itu, keinginan Yulia hanya satu. Dia ingin menguji alat yang dia gunakan dengan ukuran dan kondisi yang nyata. Namun, saat dia baru lulus, sekitar tahun 2016, belum banyak pihak yang mendukung ide EBT. Terutama dari segi pendanaan dan pembuatan alat.

“Setelah lulus alat ini dicoba agar bisa dengan ukuran yang real. Dulu, prototipe untuk tugas akhir modalnya Rp 2.000.000. Tapi, setelah lulus hanya ikut lomba karya ilmiah dan karya tulis. Sulit mencari dananya dari mana yang bisa bikin skala real-nya,” ujar Yulia dalam webinar Financing Sustaainabe Energy Start-Up to Promote Climate Justice, Rabu (11/11/2020).

Bertemu Nexus New Energy, Pendulum Mulai Mengembangkan Diri

Singkat cerita, tutur Yulia, pada tahun 2019 Pendulum bertemu New Energy Nexus Indonesia (Nexus) sebagai pihak yang mendukung start-up, perusahaan rintisan, di bidang EBT. Saat awal bertemu, pihak Yulia masih memikirkan perihal pendanaan pembuatan alat. Ternyata, ketika bergabung dalam bantuan kloter pertama Nexus, bukan hanya dana dan alat yang mereka dapatkan. Nexus juga membekali Yulia dan timnya dengan pengetahuan akan ekosistem start-up di tanah air.

“Makin lama ikut, selama enam bulan mulai terbentuk kesadaran atau ekosistemnya. Bisa dapat networking ke Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), dan jaringan lain untuk pengembangan produk dan start up,” jelasnya.

Yulia menceritakan berdirinya Pendulum sebagai perusahaan EBT tidak berawal dari pemasalahan. Justru, awal mulanya adalah dari pengembangan alat. Adapun alat yang dibuat yaitu ocean wave energy conventer atau pembangkit energi yang berasal dari tenaga gelombang laut. Pendulum Wave Energy Converter bentuknya mirip perahu kecil. Untuk pembangkit energi terdapat bagian bandul, generator, dan pontoon.

“Ketika gelombang laut masuk, generator pontoonnya akana bergerak dan menggerakan bandul yang akan mentransmisikan energi untuk mengalirkan listrik. Alat ini modelnya berubah-ubah sesuai permasalahan yang ada dan siapa yang mau kita bantu,” ucapnya.

Nelayan Clincing Mulai Manfaatkan EBT dari Pendulum 

Yulia menyebut salah satu pihak yang sudah terbantu dengan Pendulum Wave Energy Converter adalah Pak Haji Sake, nelayan di daerah Cilincing, Jakarta Utara. Pak Sake merupakan nelayan yang menangkap ikan dengan bagang. Bagang sendiri berbentuk seperti pondokan yang tersusun dari bambu yang tertancap ke dasar laut. Di dalam bagang, terdapat generator yang menghasilakan listrik untuk menyalakan lampu. Lampu inilah yang akan menuntun ikan masuk ke jaring penangkap ikan.

Untuk memastikan lampu ini tetap nyala, tidak jarang Pak Sake bolak-balik dari daratan ke tengah laut untuk mengganti gas. Di sinilah peran Pendulum Wave Energy Converter. Alat yang berasal dari prototipe seharga Rp 2.000.000 ini mampu membuat pekerjaan Pak Sake lebih efektif dan efisien. Dengan alat dari Pendulum, Pak Sake tidak perlu lagi menghabiskan waktu ke darat untuk mengisi gas. Berkat penghasil energi gelombang ombak ini, Pak Sake mampu memangkas biaya operasional yang tertinggi, yakni untuk gas, sebesar Rp 40.000 per hari.

“Kebanyakan nelayan pakai solar, gas. Kita ajak beralih supaya nelayan khususnya nelayan bagang bisa mandiri untuk mencari bahan bakar. Mereka bisa mendapat bahan bakar dari sekeliling yaitu gelombang laut. Berbeda dengan matahari dan angin, kalau gelombang selalu ada besar dan kecil. Tantangannya membuat prototipe ini tidak mudah,” terangnya.

Baca juga: Belajar Gaya Hidup Slow Living dari Kabin Kebun

New Energy Nexus Bergerilya Mencari Potensi Start-Up EBT dalam Negeri

Pada kesempatan yang sama, Program Manager New Energy Nexus, Aditya Mulya, menyebut Pendulum hanya satu dari sekian banyak start-up EBT dalam negeri yang berpotensi. Pihaknya sejak tahun 2018 sudah mulai bergiriliya mencari start-up potensial lain di setiap kota. Pasalnya, banyak start-up EBT perlu pendampingan untuk bisa tumbuh lebih besar lagi.

Aditya menyebut Nexus memiliki program untuk akselerasi dan inkubasi start-up. Bahkan pihaknya juga siap memberi bantuan pendanaan bagi start-up yang prototipe nya sudah siap. Pengembangan start-up EBT, lanjut Aditya, tidak melulu soal alat. Menurutnya, proses pemasaran dan keuangan start-up harus terukur dan sehat. Nexus juga melakukan program pengembangan agar start-up tersebut bisa lebih mapan ke depannya.

“Kita mencoba merapikan keuangan mereka. Kita tidak bisa pakai konsep start-up digital, kita coba rapikan agar lebih realistis untuk proyek dan model keuangan mereka.

Penulis: Muhammad Ma’rup

Editor: Ixora Devi

]]>
https://www.greeners.co/aksi/pendulum-manfaatkan-gelombang-laut-jadi-ebt-bagi-nelayan/feed/ 0
Sylendra Power Fokus Tawarkan Baterai untuk Pemanfaatan EBT https://www.greeners.co/aksi/sylendra-power-fokus-tawarkan-baterai-untuk-pemanfaatan-ebt/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sylendra-power-fokus-tawarkan-baterai-untuk-pemanfaatan-ebt https://www.greeners.co/aksi/sylendra-power-fokus-tawarkan-baterai-untuk-pemanfaatan-ebt/#respond Sat, 07 Nov 2020 07:00:44 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=29843 Chief Executive Officer Sylendra Power, Reynaldi Pradipta menyebut salah satu masalah dalam transformasi EBT adalah proses penyimpanan energi. Pasalnya, pemanfaatan EBT tidak bisa sepenuhnya bergantung pada alam. Peran baterai sangat krusial. Sylendra Power pun mencoba untuk menawarkan solusi atas kebutuhan baterai.]]>

Jakarta (Greeners) – Indonesia tengah mengupayakan transformasi energi dari fosil ke Energi Baru Terbarukan (EBT). Transformasi tersebut terdorong melalui komitmen pemerintah dalam Perjanjian Paris untuk mengejar penggunaan EBT 23 persen pada 2025. Untuk itu, semua pihak mulai dari pemerintah, swasta, dan masyarakat perlu memiliki perhatian lebih untuk terlibat dalam transformasi EBT.

Chief Executive Officer Sylendra Power, Reynaldi Pradipta, menyebut salah satu masalah dalam transformasi EBT adalah proses penyimpanan energi. Pasalnya, pemanfaatan EBT tidak bisa sepenuhnya bergantung pada alam. Peran baterai sangat krusial. Sylendra Power pun mencoba untuk menawarkan solusi atas kebutuhan baterai.

“Jadi dengan adanya baterai setiap orang bisa produksi listrik sendiri secara mandiri berasal dari EBT. Untuk itu kami konsen awal ke energy harvester atau energy storage, supaya kita bisa memaksimalkan pemanfaatan EBT sampai ke tingkat daerah,” ujar Reynaldi ketika dihubungi Greeners.co, Jumat (6/11/2020).

Start Up EBT Lokal Butuh Keberpihakan

Reynaldi, yang juga lulusan Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, menjelaskan kesadaran berbagai elemen masyarakat terhadap EBT mulai terbangun. Simpulan ini dia ambil dari pantauannya melihat pergerakan generasi milenial dalam membentuk start up, perusahaan rintisan. Terutama perusahaan rintisan yang bergerak dalam bidang EBT. EBT, lanjut dia, tidak hanya menggantikan energi yang sudah ada, tapi juga berdampak pada pelestarian lingkungan dan nilai ekonomi.

Salah satu prasyarat agar perusahaan rintisan lokal EBT dapat bersaing adalah dari segi diferensiasi produk. Reynaldi menjelaskan, Sylendra Power menerapkan diferensiasi produk dengan mengambil fokus pada baterai. Produknya yaitu master energy harvester dan expandable battery mampu menghasilkan energi 7,5 kilowatt per jam (kWh). Jumlah ini cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik rata-rata orang Indonesia per hari. Jika kurang, konsumen hanya tinggal menambah expandable battery sesuai dengan kebutuhan.

Selain itu, lanjutnya, Sylendra Power juga mencoba memberi kemudahan dan edukasi bagi masyarakat yang berminat terhadap EBT. Pada laman Sylendra Power, terdapat fitur kalkulator untuk menghitung kebutuhan listrik pengguna sekaligus biaya yang perlu dikeluarkan. Dalam laman yang sama, pihaknya juga menerima pertanyaan terkait produk maupun EBT.

“Poduk kita meringkas cara konsumsi listrik yang sudah ada sebelumnya dari panel surya. Beli, pasang, sudah tidak perlu hal-hal lainnya. Konsumsi baterai sesuai dengan kebutuhan,” jelasnya.

Lebih jauh Reynaldi mengatakan Sylendra Power maupun perusahaan rintisan EBT lain hampir memiliki tantangan yang sama. Tantangan itu yakni sulitnya memperluas cakupan pemasaran produk. Menurutnya, start up EBT lokal perlu berjuang melawan perusahaan EBT yang sudah besar dengan skala internasional yang jauh lebih siap secara porofolio dan standardisasinya.

Meski begitu, bukan berarti start up lokal EBT tidak memiliki potensi. Reynaldi menilai perlu ada keberpihakan terutama dari pemerintah untuk memberi ruang kepada start up lokal. Selain itu, dia menilai dukungan untuk meningkatkan kapasitas perusahaan rintisan juga perlu untuk menjamin keberlangsungan.

“Pemerintah bisa bantu kita. Start up EBT lokal lebih menjadi prioritas untuk mengambil peluang yang ada. Kalau start up belum kompetitif, baiknya ada upaya pendidikan atau pelatihan agar standarnya naik,” ucapnya.

Baca juga: Warung Energi Tawarkan Energi Baru Bagi Warga di Penjuru

Kolaborasi New Energy Nexus Dorong Sylendra Power Memperluas Jaringan

Lebih jauh Reynaldi menjelaskan Sylendra Power sudah mulai menunjukkan kemajuan. Pihaknya tertolong oleh terbangunnya kesadaran terhadap EBT. Pihaknya pun telah berkolaborasi dengan pemerintah, start up lainnya, bahkan dengan pihak swasta.

Reynaldi menyebut salah satu kolaborasi yang berdampak bagi keberlangsungan Sylendra Power adalah kerja sama dengan New Energy Nexus Indonesia. Dari New Energy Nexus Indonesia, pihaknya mendapat pelbagai bantuan. Salah satunya dalam bentuk jaringan dan keikutsertaan program. Menurutnya, hal tersebut sangat membantu start up EBT dalam mengembangkan bisnis.

“Yang kita dapat networknya. Ibarat sebagai start up baru lahir, kita tidak tahu marketnya seperti apa, karena stake holder di EBT kita belum terlalu luas. Ketika kita kerja sama dengan New Energy Nexus Indonesia, kita bisa berjejaring ke sana sini. Mereka fasilitasi kita ketika ikut Habibie Festival. Juga mengajak kita pada event-event lain,” pungkasnya.

Penulis: Muhammad Ma’rup

Editor: Ixora Devi

]]>
https://www.greeners.co/aksi/sylendra-power-fokus-tawarkan-baterai-untuk-pemanfaatan-ebt/feed/ 0
Warung Energi Tawarkan Energi Baru Bagi Warga di Penjuru https://www.greeners.co/aksi/warung-energi-tawarkan-energi-baru-bagi-warga-di-penjuru/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=warung-energi-tawarkan-energi-baru-bagi-warga-di-penjuru https://www.greeners.co/aksi/warung-energi-tawarkan-energi-baru-bagi-warga-di-penjuru/#respond Thu, 22 Oct 2020 00:26:23 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=29527 Tidak banyak lulusan segar perguruan tinggi yang berani mengambil langkah menjadi pengusaha. Bagaimana tidak, di usia yang masih hijau pengusaha muda harus berhadapan dengan begitu banyak aral rintagan. Sebut saja pendapatan yang minim serta kurangnya dukungan orang tua. Chief Financial Officer Warung Energi, Nimas Pratiwi pun merasakan hal yang sama. Terlebih, bidang pergelutan yang dia pilih begitu asing di telinga masyarakat kala itu, Energi Baru Terbarukan (EBT).]]>

Jakarta (Greeners) – Tidak banyak lulusan segar perguruan tinggi yang berani mengambil langkah menjadi pengusaha. Bagaimana tidak, di usia yang masih hijau pengusaha muda harus berhadapan dengan begitu banyak aral rintagan. Sebut saja pendapatan yang minim serta kurangnya dukungan orang tua. Chief Financial Officer Warung Energi, Nimas Pratiwi pun merasakan hal yang sama. Terlebih, bidang pergelutan yang dia pilih begitu asing di telinga masyarakat kala itu, Energi Baru Terbarukan (EBT).

Nimas mengingat, dia menginisiasi Warung Energi pada 2014, sesaat setelah dia lulus dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Untungnya, himpitan keterbatasan fasilitas, ilmu dan pendanaan tidak meredam semangat kewirausahaan Nimas.

“Dalam masa itu ada hal-hal tak terduga. Ada peluang datang. Seperti program hibah dan pendanaan, inkubasi, serta akselerasi. Tak terduga sama sekali,” ujar Nimas kepada Greeners, Selasa (20/10/2020).

Penuhi Kebutuhan EBT Warga Pelosok dengan Filosofi Warung

Inspirasi diciptakannya Warung Energi, tutur Nimas, adalah keprihatinannya akan daerah di Tanah Air yang tidak dialiri listrik. Dia ingin menawarkan solusi energi bersih, EBT, kepada warga, terutama bagi warga wilayah terpencil. Warung Energi hadir sebagai marketplace, pasar daring, yang dapat diakses oleh masyarakat umum. Pada lamannya, masyarakat bisa memilih produk EBT seperti Fosera Pico Solar Home System (PSHS) yang memanfaatkan energi biosolar untuk diterapkan di perumahan.

Nama Warung Energi dipilih Nimas agar masyarakat tidak kikuk dalam mengenal produk EBT yang tersedia. Dari namanya, terpatri harapan Nimas agar masyarakat bisa menggunakan Warung Energi seluwes membeli minyak tanah di warung. Lebih jauh, Nimas menyatakan perusahaan rintisannya bukan hanya sekadar marketplace. Mereka juga menyediakan jasa konsultasi, termasuk program pelatihan dan sertifikasi terkait EBT.

“Jadi awalnya Warung Energi berkembang dari kecil dan dari kebutuhan yang kapasitasnya kecil seperti masyarakat pelosok,” jelas Nimas.

Nimas mengklaim kehadiran EBT dapat menjadi solusi bagi dua permasalahan warga peolosok. Pertama warga memeroleh listrik dari energi bersih; kedua mereka memangkas pengeluaran. Nimas mencontohkan, warga yang senantiasa membeli minyak tanah sebagai sumber energi. Modal untuk memasang EBT, ujarnya, sama dengan biaya sepuluh bulan konsumsi minyak tanah rumah tangga. Lebih jauh, dalam pemakaian normal, penggunaan EBT niscaya lebih awet mengingat penggunaan baterai litium yang usianya 5 sampai 10 tahun.

Enam tahun sejak Warung Energi berdiri, kini Nimas sudah dapat memetik buah dari jerih payahnya. Seiring dengan sokongan dari pihak swasta, pemerintah pun mulai menggenjot sektor EBT. Dukungan yang dia terima tidak hanya berupa pendanaan, melainkan juga fasilitas pengembangan bisnis serta pemasaran. Sekarang, Warung Energi memiliki lebih dari 20 klien dan telah memasang sistem fotovoltaik hingga 184.4 kilowatt-peak (kWp).

Nimas menjamin produk dan jasa yang dia tawarkan telah memenuhi standar. Semua produk yang ada di etalase, lanjutnya, lolos tahap uji kelayakan. Program pelatihan dan sertifikasi yang menjadi acuan Warung Energi juga sesuai Badan Nasional Standarisasi Profesi dan Lembaga Sertifikasi Profesi bidang EBT.

Baca juga: Mengintip Gerakan Ekonomi Sirkular Warga di Pulau Komodo

New Energy Nexus Dukung Pengembangan Warung Energi

Salah satu dukungan yang didapat Warung Energi datang dari New Energy Nexus Indonesia. Setelah mendapatkan dana hibah pada awal 2019, PT. Bina Usaha Lintas Ekonomi (“BLUE”) yang menaungi Warung Energi mendapatkan investasi New Energy Nexus. Investasi ini menandakan peluncuran Indonesia 1 Fund. New Energy Nexus lewat Indonesia 1 Fund mendukung perusahan rintisan di bidang energi terbarukan di Indonesia.

Direktur Investasi New Energy Nexus Indonesia, Yeni Tjinuardi, menjelaskan program investasi Indonesia 1 Fund difokuskan ke sepuluh area yakni energi baru terbarukan, jaringan pintar (smart grid), efisiensi energi, manajemen energi, customer experience, e-mobility, inovasi model bisinis, digitalisasi dan Internet of Things, akses energi dan penyimpanan energi.

Yeni menyatakan pihaknya memberdayakan perusahaan rintisan di bidang energi terbarukan yang kompeten serta memiliki potensi skalabilitas yang baik. Dengan begitu New Energy Nexus Indonesia berperan lebih banyak dalam transisi Indonesia ke ekonomi rendah karbon melalui program peningkatan kapasitas serta investasi.

Dengan membuka pintu ke perusahaan rintisan, baik yang berada di posisi seed maupun Series A, Indonesia 1 Fund berupaya mengurangi hambatan bagi pengusaha energi terbarukan di Indonesia untuk dapat terjun ke pasar yang sedang berkembang ini. CEO PT. BLUE, Abu Bakar Abdul Karim Almukmin, menyampaikan pihaknya memperkuat pondasi perusahaan BLUE agar dapat menopang perkembangan strategis selama 2 tahun ke depan.

“Diantaranya adalah melalui kompetensi sertifikasi perusahaan, peningkatan kualitas e-commerce website Warung Energi, pengembangan produk, dan juga penambahan sumber daya manusia untuk mendukung kegiatan pemasaran dan pengelolaan proyek-proyek kami,” ujar Abu Bakar.

Penulis: Muhammad Ma’rup

Editor: Ixora Devi

]]>
https://www.greeners.co/aksi/warung-energi-tawarkan-energi-baru-bagi-warga-di-penjuru/feed/ 0
Gali Inovasi Anak Muda, New Energy Nexus Indonesia Luncurkan Hackathon https://www.greeners.co/aksi/gali-inovasi-anak-muda-new-energy-nexus-indonesia-luncurkan-hackathon/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=gali-inovasi-anak-muda-new-energy-nexus-indonesia-luncurkan-hackathon https://www.greeners.co/aksi/gali-inovasi-anak-muda-new-energy-nexus-indonesia-luncurkan-hackathon/#respond Mon, 28 Sep 2020 04:35:19 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=28926 New Energy Nexus Indonesia menggelar Hackathon Re-energize pada Kamis (24/09/2020) untuk mengumpulkan ide dan inovasi masyarakat terkait EBT. ]]>

Jakarta (Greeners) – Guna mencapai target pengurangan emisi gas rumah kaca sesuai kesepakatan Paris Agreement, Indonesia harus terus memacu transisi penggunaan sumber Energi  Baru dan Terbarukan (EBT). Melihat kondisi ini, organisasi internasional New Energy Nexus Indonesia menggelar program untuk mengumpulkan ide dan inovasi masyarakat terkait EBT. New Energy Nexus Indonesia meluncurkan Hackathon Re-energize pada Kamis (24/09/2020).

Pagelaran ini pun menjadi hackathon pertama di Indonesia. Apakah hackathon itu? Berbeda dengan maraton, hackathon adalah istilah yang sering digunakan para pegiat bidang informatika. Disadur dari laman Rasmussen College, hackathon merujuk pada acara kompetisi di mana peserta kompetisi menyelesaikan proyek pada jendela waktu yang singkat. Dalam hackathon, lazimnya programmer dan desainer peranti lunak menciptakan solusi dari sebuah masalah dengan menggunakan teknologi. Masalah yang diangkat dalam hackathon New Energy Nexus Indonesia kali ini adalah pemanfaatan energi terbarukan.

“Kami memiliki visi untuk mendorong terbentuknya perekonomian berbasis energi bersih dan terbarukan yang bisa diakses oleh seluruh masyarakat. Visi ini kami upayakan bisa terwujud melalui dukungan kepada wirausaha dan start up untuk berinovasi dan melahirkan ide teknologi dalam memanfaatkan EBT untuk kesejahteraan Indonesia,” ujar Direktur Program New Energy Nexus Indonesia, Diyanto Imam, pada Konferensi Pers Hackathon oleh New Energy Nexus Indonesia, Kamis (24/9).

Baca juga: YPBB Dorong Penanganan Sampah Nasional Lewat Zero Waste Cities

Selain memberikan ruang bagi masyarakat untuk menunjukkan ide dan inovasinya, program ini diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja, memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat, dan menanggulangi permasalahan emisi yang terjadi di Indonesia saat ini.

Manager Program New Energy Nexus Indonesia Aditya Mulya Pratama menambahkan, hackathon yang digelar tahun  ini mengangkat dua tema, yaitu health and sanitary dan productivity. Pemilihan tema tersebut didorong dengan kondisi dunia yang sedang menghadapi pandemi COVID-19.

Gali Inovasi Anak Muda, New Energy Nexus Indonesia Luncurkan Hackathon

Gali Inovasi Anak Muda, New Energy Nexus Indonesia Luncurkan Hackathon. (Ilustrasi: Shutterstock).

Hackathon, Pentingnya Ide dan Inovasi untuk Capai Target Penurunan Emisi

Pada acara yang sama, Direktur Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Hariyanto, menegaskan komitmen pemerintah  menurunkan emisi gas rumah kaca. Pemangkasan emisi gas rumah kaca ditargetkan sebesar 29 persen pada 2030. Nilai ini setara dengan 834 juta ton emisi gas rumah kaca. Ia menambahkan, sektor emisi menyumbang 50 persen dari total emisi gas rumah kaca.

“Salah satu upaya (penurunan emisi gas rumah kaca) melalui pemanfaatan energi tebarukan. Investasi energi terbarukan harus ditingkatkan secara masif guna mencapai target penurunan emisi gas rumah kaca tersebut,” ujar Hariyanto.

Baca juga: Tiba di Indonesia, Arka Kinari Gelar Pertunjukan Seni dan Budaya

Lebih jauh, Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia, Surya Darma mengatakan Indonesia memiliki enam sumber daya energi terbarukan. Surya berpendapat, peralihan energi tak terbarukan menjadi terbarukan ini tak hanya dilihat sebagai tantangan, melainkan juga peluang yang dapat digunakan.

“Dengan resources yang kita punya, kemudian program-program dan tren dunia yang demikian rupa, mestinya harus bisa kita manfaatkan,” ujar Surya.

Surya melanjutkan, dalam menjalankan transisi energi, Indonesia memerlukan ide dan inovasi model bisnis yang sesuai dengan energi baru, terbarukan, dan konservasi energi. Peran pemuda pun diperlukan untuk memberikan dan menjalankan ide, inovasi, serta produk terkait energi terbarukan.

“Target penurunan emisi bagi pemerintah, bisa menjadi kesempatan bagi hackathon untuk menjadi langkah rekomendasi terkait model bisnis EBT yang lahir dari pemuda Indonesia, start up, maupun pengusaha. Mereka juga bisa mulai melibatkan diri untuk menguraikan solusi,” tambah Surya.

Penulis: Ida Ayu Putu Wiena Vedasari

Editor: Ixora Devi

]]>
https://www.greeners.co/aksi/gali-inovasi-anak-muda-new-energy-nexus-indonesia-luncurkan-hackathon/feed/ 0