ngengat - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/ngengat/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Thu, 05 Mar 2026 11:59:41 +0000 id hourly 1 Dua Spesies Ngengat Baru Ditemukan di Papua dan Sulawesi https://www.greeners.co/berita/dua-spesies-ngengat-baru-ditemukan-di-papua-dan-sulawesi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dua-spesies-ngengat-baru-ditemukan-di-papua-dan-sulawesi https://www.greeners.co/berita/dua-spesies-ngengat-baru-ditemukan-di-papua-dan-sulawesi/#respond Thu, 05 Mar 2026 11:59:41 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=48191 Jakarta (Greeners) – Tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mengidentifikasi dua spesies ngengat baru di Papua dan Sulawesi. Kedua ngengat endemik Indonesia tersebut berasal dari genus Glyphodella […]]]>

Jakarta (Greeners) – Tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mengidentifikasi dua spesies ngengat baru di Papua dan Sulawesi. Kedua ngengat endemik Indonesia tersebut berasal dari genus Glyphodella dan Chabulina.

Temuan Glyphodella fojaensis dan Chabulina celebesensis terpublikasi dalam jurnal internasional Raffles Bulletin of Zoology edisi Februari 2026, Volume 74, halaman 87–94. Judulnya adalah “Description of two new endemic species of the closely related genera, Glyphodella and Chabulina from Indonesia.”

Penemuan dua spesies baru ini merupakan hasil penelitian oleh peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Hari Sutrisno dan Rosichon Ubaidillah. Penelitian melalui survei lapangan di wilayah Papua dan Sulawesi selama periode 2002–2017. Selain itu, para peneliti juga mengkaji koleksi spesimen di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB), Bogor.

Dalam publikasinya, para peneliti melaporkan bahwa Glyphodella fojaensis merupakan satu-satunya spesies dari genus Glyphodella di Indonesia. Spesies ini bersifat endemik Papua, khususnya di kawasan Pegunungan Foja.

Sementara itu, Chabulina celebesensis merupakan spesies baru yang endemik Sulawesi. Spesies ini ada di Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Utara.

Menurut Rosichon, kedua spesies ini memiliki karakter morfologi yang khas, terutama pada pola sayap dan struktur genitalia yang menjadi penanda utama dalam identifikasi ngengat.

Rosichon menjelaskan bahwa Glyphodella fojaensis memiliki ciri berupa bercak kuning berbentuk bulat pada sayap depan. Struktur genitalia jantannya juga menunjukkan perbedaan dibandingkan spesies kerabatnya. Sementara itu, Chabulina celebesensis dapat dikenali dari pola garis pada sayap serta bentuk genitalia yang khas.

“Perbedaan karakter tersebut menjadi dasar utama penetapan kedua spesies sebagai spesies baru bagi ilmu pengetahuan. Karakter morfologi ini menunjukkan adanya keunikan evolusi dan adaptasi pada masing-masing habitat, baik di Papua maupun Sulawesi,” kata Rosichon dalam keterangan tertulisnya, Selasa (3/3).

Gunakan Perangkap Cahaya

Penelitian ini menggunakan perangkap cahaya untuk mengoleksi spesimen, serta pengamatan detail menggunakan mikroskop. Seluruh spesimen kemudian disimpan dan didokumentasikan di Museum Zoologicum Bogoriense sebagai koleksi nasional.

Berdasarkan hasil penelitian, Glyphodella fojaensis hidup di hutan tropis primer di kawasan Pegunungan Foja, Papua. Sementara itu, Chabulina celebesensis ada di hutan sekunder tropis di wilayah Sulawesi. Kedua spesies ini bersifat nokturnal atau aktif pada malam hari.

Penemuan ini menambah data keanekaragaman serangga Indonesia, khususnya kelompok ngengat dari famili Crambidae. Selain itu, temuan ini juga memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia.

Para peneliti menilai bahwa keberadaan spesies endemik yang terbatas pada wilayah tertentu membuatnya rentan terhadap perubahan lingkungan, seperti deforestasi dan degradasi habitat.

“Oleh karena itu, diperlukan upaya perlindungan ekosistem hutan di Papua dan Sulawesi agar spesies-spesies endemik ini dapat terus lestari,” jelas Rosichon.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/dua-spesies-ngengat-baru-ditemukan-di-papua-dan-sulawesi/feed/ 0
Mengenal Ngengat Glyphodes nurfitriae, Spesies Baru dari Papua https://www.greeners.co/flora-fauna/mengenal-ngengat-glyphodes-nurfitriae-spesies-baru-dari-papua/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mengenal-ngengat-glyphodes-nurfitriae-spesies-baru-dari-papua https://www.greeners.co/flora-fauna/mengenal-ngengat-glyphodes-nurfitriae-spesies-baru-dari-papua/#respond Tue, 02 Jul 2024 07:42:53 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=44161 Ngengat adalah hewan kecil yang secara langsung dapat kita jumpai di lingkungan sekitar. Terdapat dua spesies baru ngengat dari genus Glyphodes yang baru terpublikasi tahun ini. Publikasi terkahir mengenai spesies […]]]>

Ngengat adalah hewan kecil yang secara langsung dapat kita jumpai di lingkungan sekitar. Terdapat dua spesies baru ngengat dari genus Glyphodes yang baru terpublikasi tahun ini. Publikasi terkahir mengenai spesies Glyphodes dari Papua ada di tahun 1960. Sejak saat itu, belum ada lagi spesies baru yang terdeskripsikan. Saat ini, Indonesia mencatat ada 48 spesies ngengat dari genus Glyphodes (termasuk dua spesies baru).

Watung et all (2024) mempublikasikan penemuannya terkait dua spesies ngengat (Glyphodes nurfitriae sp. nov. dan G. ahsanae sp. nov.) dalam jurnal Zootaxa dengan judul Description of two new species in the genus Glyphodes Guenée from Indonesia (Lepidoptera: Crambidae, Spilomelinae).

BACA JUGA: Buah Cassabanana, Kerabat Mentimun yang Kaya Vitamin C

Kali ini kita akan berkenalan dengan ngengat G. nurfitriae dari Gunung Foja, Papua. Penamaan spesies nurfitriae berasal dari nama anak perempuan pertama “Nur Fitria” dari penulis senior Hari Sutrisno yang telah banyak membantu penulis jurnal tersebut dalam mempersiapkan naskahnya.

Glyphodes nurfitriae Dapat Dikenali dengan Mudah dari Corak Sayapnya

Ngengat G. nurfitriae memiliki panjang sayap depan sekitar 9-10 mm. Bagian palpus labialis sub-ascending ruas pertama tertutupi sisik putih seperti salju dari basal hingga medial dan sisik hitam di ujungnya.

Ruas kedua bersisik lebar di bagian depannya, ruas ketiga tegak lurus dan tertanam dalam sisik putih pada ruas kedua. Palpus rahang atasnya menonjol dan melebar berbentuk segitiga dengan sisik putih salju di bagian ujungnya.

Taksonomi ngengat Glyphodes nurfitriae. Foto: Greeners

Taksonomi ngengat Glyphodes nurfitriae. Foto: Greeners

Terdapat antena filiform yang panjangnya hampir sama dengan panjang sayap depan. Permukaan dorsalnya ditutupi oleh sisik cokelat memanjang dan permukaan ventralnya ditutupi oleh silia abu-abu panjang.

BACA JUGA: Cecropia peltata, Tanaman Invasif Berbuah Lezat seperti Jeli

Kakinya berwarna putih kecokelatan, bagian handwing memiliki tiga bintik putih besar dengan berbagai ukuran dan bentuk yang menjadi ciri khasnya. Abdomennya berbentuk ramping, berwarna cokelat, dan terdapat jambul sisik hitam di bagian dubur.

Morfologi ngengat jantan dan betina hampir sama, kecuali pada bagian abdomen betina tidak memiliki jambul sisik di duburnya serta permukaan antena tertutupi silia abu-abu pendek. Ngengat G. nurfitriae dewasa umumnya aktif pada malam hari (nokturnal).

 

Penulis: Anisa Putri S

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/mengenal-ngengat-glyphodes-nurfitriae-spesies-baru-dari-papua/feed/ 0
BRIN Temukan Ngengat Jenis Baru, Petani Cengkeh Waspada! https://www.greeners.co/berita/brin-temukan-ngengat-jenis-baru-petani-cengkeh-waspada/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=brin-temukan-ngengat-jenis-baru-petani-cengkeh-waspada https://www.greeners.co/berita/brin-temukan-ngengat-jenis-baru-petani-cengkeh-waspada/#respond Tue, 20 Feb 2024 05:19:43 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=43105 Jakarta (Greeners) – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah menemukan tiga ngengat jenis baru. Para petani cengkeh perlu mewaspadai salah satu jenis ngengat, yakni Cryptophasa warouwi yang berpotensi merusak […]]]>

Jakarta (Greeners) – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah menemukan tiga ngengat jenis baru. Para petani cengkeh perlu mewaspadai salah satu jenis ngengat, yakni Cryptophasa warouwi yang berpotensi merusak batang dan ranting cengkeh.

Sejumlah peneliti dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE) Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan BRIN dan tim dari Fakultas Pertanian, Universitas Sam Ratulangi berhasil mengidentifikasi tiga jenis ngengat. Ketiganya adalah Cryptophasa warouwi, Glyphodes nurfitriae dan Glyphodes ahsanae. 

Ngengat jenis Cryptophasa warouwi termasuk hama endemik baru dari Pulau Sangihe Sulawesi Utara. Penemuan ini bisa meningkatkan pemahaman tentang keanekaragaman Cryptophasa di wilayah Wallacea dan menjelaskan status hamanya. Sementara, dua ngengat jenis baru lainnya, yaitu Glyphodes nurfitriae dan Glyphodes ahsanae teridentifikasi berasal dari Papua.

BACA JUGA: Ngengat Atlas, Kupu-Kupu Malam Terbesar di Dunia

Peneliti PRBE BRIN Hari Sutrisno mengungkapkan, larva Cryptophasa terkenal sebagai hama penggerek cabang dan batang. Hewan nokturnal ini memotong daun untuk makanan, membuat terowongan, dan menutup lubangnya dengan anyaman sutra dan kotoran.

“Pada tahun 2023, aktivitas serangan (hewan) tersebut menyebabkan kerusakan yang bervariasi pada tanaman cengkeh di lima kecamatan Pulau Sangihe, Sulawesi Utara. Invasinya mengakibatkan kerusakan cabang dan ranting yang menyebabkan penurunan densitas daun pada tanaman cengkeh,” jelas Hari lewat keterangan tertulisnya.

Sejak 2016 Larva Cryptophasa Mengganggu Tanaman Cengkeh

Sementara itu,  Peneliti PRBE BRIN lainnya, Pramesa Narakusumo mengungkapkan, sejak tahun 2016 larva jenis Cryptophasa terpantau mengganggu tanaman cengkeh di Pulau Sangihe. Kemudian, di tahun 2023, persebaran jenis ini terus meluas.

Pramesa menambahkan, berdasarkan karakter diagnostiknya yang paling khas, ngengat yang berwarna cokelat tua terlihat memiliki struktur tegas pada alat kelaminnya. Selain itu, kode batang DNA menunjukkan spesies baru ini berkerabat di antara spesies Cryptophasa lainnya, meskipun memiliki antena jantan yang mirip dengan genus Paralecta.

BACA JUGA: Lyssa Zampa, Ngengat Besar yang “Menyerang” Perkotaan

Dosen Universitas Sam Ratulangi, Jackson F. Watung juga menjelaskan, baru-baru ini timnya juga menemukan fakta jika Cryptophasa warouwi tidak hanya menyerang tanaman cengkeh, melainkan juga tanaman jambu air dan jambu biji (Myrtaceae).

“Ancaman ini dapat dikategorikan sebagai serangan serangga hama oligofag. Sehingga, sangat penting untuk segera mengembangkan rencana strategi pengendalian hama, analisis risiko hama, menyusun daftar hama karantina, dan manajemen pengelolaan hama lainnya,” ujar Jackson.

Kedua Ngengat Dinyatakan sebagai Taksa Baru

Berdasarkan hasil analisis morfologi BRIN dan Universitas Sam Ratulangi, jenis ngengat Glyphodes nurfitriae dan Glyphodes ahsanae dinyatakan sebagai taksa baru. Hal itu tercantum dalam jurnal Zootaxa Volume 3403 Nomor 4 pada 23 Januari 2024.

“Total Glyphodes yang tercatat di Indonesia saat ini berjumlah 48 buah. Publikasi terakhir tentang spesies Glyphodes dari Papua dan Sulawesi dipublikasikan Munroe pada tahun 1960. Sejak saat itu, tidak ada lagi spesies yang terdeskripsikan dari wilayah ini,” imbuh Pramesa.

Menurut Pramesa, temuan ketiga jenis ngengat tersebut tentunya akan memperkuat pengetahuan sistematika. Bahkan, dapat membantu banyak kasus pengendalian hama dan mengidentifikasi biodiversitas di Indonesia.

“Jika karakter hewan nokturnal ini dapat mengancam, seperti menjadi hama tanaman, tentunya temuan ini menjadi referensi penting bagi pemerintah. Terutama dalam menentukan status hama, kebijakan pengendalian, menghitung tingkat serangan, dan menelusuri daerah sebaran hama di sebuah wilayah. Sehingga, petani dapat terhindar dari kerugian ekonomi,” imbuhnya.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/brin-temukan-ngengat-jenis-baru-petani-cengkeh-waspada/feed/ 0
Kupu-Kupu Eggfly, Si Cantik yang punya Corak Kebiruan https://www.greeners.co/flora-fauna/kupu-kupu-eggfly-si-cantik-yang-punya-corak-kebiruan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kupu-kupu-eggfly-si-cantik-yang-punya-corak-kebiruan https://www.greeners.co/flora-fauna/kupu-kupu-eggfly-si-cantik-yang-punya-corak-kebiruan/#respond Mon, 15 Aug 2022 03:34:20 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=37030 Dari sekian banyak jenis kupu-kupu yang hidup di dunia, great eggfly atau kupu-kupu eggfly dianggap sebagai salah satu spesies yang terindah. Tidak cuma memiliki warna yang unik, kelompok jantan dan […]]]>

Dari sekian banyak jenis kupu-kupu yang hidup di dunia, great eggfly atau kupu-kupu eggfly dianggap sebagai salah satu spesies yang terindah. Tidak cuma memiliki warna yang unik, kelompok jantan dan betinanya pun dapat kita bedakan melalui corak tubuhnya.

Great eggfly dikenal dengan nama ilmiah Hypolimnas bolina. Kupu-kupu ini tergabung dalam famili Nymphalidae, yang notabene-nya bisa kita kenali dari sepasang tungkai pendek pada bagian depan tubuhnya.

Tidak cuma itu, spesies Nymphalidae juga tersohor akan keindahan corak sayapnya. Kelompok ini umumnya mempunyai sayap dengan kombinasi warna yang cerah seperti kuning, biru, merah dan hijau.

Kupu-kupu eggfly sendiri memiliki dimorfisme seksual yang tinggi. Spesies jantan dapat kita identifikasi dari warna tubuhnya yang gelap, sedangkan betina terlihat lebih terang dan cenderung lebih variasi.

Morfologi dan Ciri-Ciri Kupu-Kupu Eggfly

Kata eggfly disinyalir merupakan serapan dari bahasa Inggris eggplant atau “terung.” Penamaan ini merujuk pada tampilan tubuh penjantan, yang memiliki sayap berwarna hitam dengan corak biru keunguan.

Warnanya tersebut memang mengingatkan kita terhadap buah terong. Selain itu, kelompok pejantan juga memiliki corak berupa bintik-bintik putih pada bagian depan dan belakang sayapnya.

Sedangkan betina, umumnya memiliki warna dasar cokelat dengan corak bintik-bintik dan pita berwarna putih serta oranye. Mereka juga mempunyai sedikit corak biru pada bagian depan sayapnya.

Menurut riset, warna sayap kupu-kupu eggfly turut dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Karena itu, kelompok kupu-kupu di daerah dingin biasanya berwarna lebih gelap daripada kupu-kupu di kawasan tropis.

Baik jantan maupun betina, keduanya mempunyai toraks (punggung), kepala dan mata berwarna hitam pekat. Spesies ini tergolong sebagai kupu-kupu berukuran sedang dengan rentang sayap sekitar 60–80 mm.

Habitat dan Distribusi Kupu-Kupu Eggfly

Kupu-kupu eggfly sebagian besar ditemukan di daerah beriklim tropis dan subtropis. Habitat utamanya dalah area hutan basah dan kering (seperti sabana tropis), hutan hujan, serta area semak belukar.

Selain itu, spesies H. bolina juga cukup jamak dijumpai pada area taman, kebun, irigasi dan sungai. Mereka hidup secara berkelompok, terlihat terbang rendah dan sesekali hinggap di tanah untuk berjemur.

Melansir berbagai sumber, populasi great eggfly terdistribusi di seluruh wilayah Asia Tenggara dan Indo-Australia. Mereka juga tersebar sampai ke Madagaskar, kepulauan Pasifik Selatan, serta wilayah Asia Selatan.

Di alam liar, kupu-kupu ini menjadikan beberapa spesies tumbuhan sebagai inang. Dari 28 jenis inang yang berhasil ahli identifikasi, tiga di antaranya adalah bunga tahi ayam, putri malu dan kembang sepatu.

Inang atau hostplant menyediakan makanan bagi larva dan kupu-kupu dewasa. Mereka menyerap nektar dan serbuk sari tanaman tersebut, sehingga turut membantu proses penyerbukan tumbuhan.

Perilaku dan Siklus Hidup Kupu-Kupu Eggfly

Spesies pejantan lebih bersifat teritorial. Mereka dapat bertahan hidup di lokasi yang sama selama 54 hari, terutama jika di kawasan tersebut tersedia sumber makanan melimpah dan dihuni oleh banyak betina.

Berbeda dengan spesies Hypolimnas lain, kupu-kupu eggfly betina hanya menghasilkan satu sampai dua butir telur dalam sekali berbiak. Telurnya itu berwarna hijau pucat, berbentuk bundar dan mengkilap.

Pada umumnya, telur-telur great eggfly diletakkan pada bagian bawah daun. Mereka menetas setelah 3 hari di bawah suhu inkubasi konstan, yang rata-rata mencapai 25 derajat Celsius.

Larva yang baru menetas akan memakan cangkangnya sendiri sebelum melumat daun yang ada di sekitarnya. Lalu mereka akan pergi untuk mencari inang yang baru, sebelum akhirnya menjadi kepompong.

Proses dari kepompong menjadi kupu-kupu memakan waktu 7–8 hari. Kepompong memiliki warna cokelat dengan corak abu-abu, sedangkan ulat atau larvanya memiliki tubuh hitam dan kepala berwarna oranye.

Taksonomi Spesies Hypolimnas Bolina

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/kupu-kupu-eggfly-si-cantik-yang-punya-corak-kebiruan/feed/ 0
Lyssa Zampa, Ngengat Besar yang “Menyerang” Perkotaan https://www.greeners.co/flora-fauna/lyssa-zampa-ngengat-besar-yang-menyerang-perkotaan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=lyssa-zampa-ngengat-besar-yang-menyerang-perkotaan https://www.greeners.co/flora-fauna/lyssa-zampa-ngengat-besar-yang-menyerang-perkotaan/#respond Wed, 20 Apr 2022 03:26:57 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=35931 Kupu-kupu atau ngengat sering diasosiasikan sebagai lambang keindahan. Tetapi bagaimana jika hewan tersebut memiliki ukuran tubuh besar serta berwarna kusam? Apa keindahannya akan memudar? Inilah Lyssa zampa, spesies ngengat besar […]]]>

Kupu-kupu atau ngengat sering diasosiasikan sebagai lambang keindahan. Tetapi bagaimana jika hewan tersebut memiliki ukuran tubuh besar serta berwarna kusam? Apa keindahannya akan memudar? Inilah Lyssa zampa, spesies ngengat besar dari Asia Tenggara.

Lyssa zampa atau tropical swallowtail moth, adalah salah satu spesies ngengat yang berasal dari famili Uraniidae. Mereka memiliki perilaku yang unik sebab tertarik pada cahaya terang.

Pada 2014, kawanan ngengat ini dikabarkan memenuhi pusat-pusat keramaian di Singapura. Kehadirannya bahkan sampai ke Batam, sehingga sempat menjadi pemberitaan media lokal.

Ukuran Lyssa zampa sendiri rerata berkisar 10–16 cm. Warnanya relatif gelap dengan corak putih keabu-abuan, sehingga terkesan “menakutkan” jika bergerombol dalam jumlah besar.

Morfologi dan Ciri-Ciri Lyssa Zampa

Genus lyssa sendiri setidaknya terdiri atas tujuh spesies ngengat. Kelompok ini bisa dikenali dari ukuran tubuhnya yang besar, bersifat nokturnal, serta memiliki corak tubuh yang gelap.

Beberapa spesies lyssa mungkin tumbuh dengan corak-corak yang lebih terang seperti biru atau hijau. Namun spesies ini hanya bisa ditemukan di kawasan Pasifik, seperti Madagaskar.

Di Asia Tenggara sendiri, Lyssa zampa merupakan salah satu jenis lyssa yang paling terkenal. Ia memiliki warna dasar cokelat gelap, serta dua ornamen ekor pada bagian ujung sayapnya.

Terdapat garis putih berbentuk ‘V’ di bagian atas sayap tersebut. Warna putih ini juga dapat kita jumpai pada ujung sayap bawahnya, yang memiliki tekstur bergelombang layaknya sirip.

Seperti kupu-kupu atau ngengat lain, ukuran tubuh tropical swallowtail moth betina tampak lebih besar. Rentang sayapnya pun lebih lebar dan coraknya sedikit lebih terang dari jantan.

Habitat dan Distribusi Lyssa Zampa

Lyssa zampa pertama kali ditemukan oleh Arthur Gardiner Butler pada tahun 1869. Ngengat ini tergolong sebagai spesies asli wilayah tropis, yang tersebar secara terbatas ke Asia Timur.

Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina dan Laos adalah wilayah distribusi spesies tersebut. Ia ditemukan pula di Kepulauan Andaman, China bagian selatan, sampai Himalaya.

Waktu pembiakkannya sendiri bergantung pada lokasi spesies ditemukan. Namun di wilayah Singapura, kelimpahan populasinya biasa terjadi di sepanjang bulan Mei sampai November.

Tidak cuma perkawinan, tampilan ngengat Lyssa juga dapat kita bedakan berdasarkan peta persebarannya. Di wilayah tropis, hewan ini umumnya memiliki warna gelap dan monoton.

Makanan utama larva Lyssa zampa berasal dari pohon karet dan Endospermum. Inilah yang membuat jumlahnya melimpah di Asia Tenggara, yang notabene-nya habitat flora tersebut.

Perilaku dan Kebiasaan Lyssa Zampa

Lyssa zampa aktif pada waktu malam dan siang hari. Mereka terkenal dengan kebiasaannya bermigrasi massal, terutama ke wilayah perkotaan yang memiliki sumber cahaya melimpah.

Salah satu faktor penentu perkembangbiakkan tropical swallowtail moth adalah cuaca. Bila cuaca mendukung pertumbuhan inang, maka larva ngengat tersebut akan semakin banyak.

Selain itu, penurunan angka predator sendiri juga melambungkan populasi Lyssa zampa. Ini membuat pertumbuhan mereka tidak terkontrol, sehingga berpotensi menjadi hama baru.

Karena kebiasaannya tersebut, satwa ini bisa menarik perhatian masyarakat dengan mudah. Tapi jangan khawatir, sejauh ini ngengat lyssa dianggap tidak membahayakan bagi manusia.

Tidak bisa dipungkiri, kebiasaan makan tropical swallowtail moth belum dieksplorasi secara mendalam. Mereka mungkin memakan nektar, dedaunan, serta bagian tumbuhan lainnnya.

Taksonomi Tropical Swallowtail Moth

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/lyssa-zampa-ngengat-besar-yang-menyerang-perkotaan/feed/ 0
Zizina Otis, Spesies Kupu-Kupu Kecil Bercorak Ganda https://www.greeners.co/flora-fauna/zizina-otis-spesies-kupu-kupu-kecil-bercorak-ganda/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=zizina-otis-spesies-kupu-kupu-kecil-bercorak-ganda https://www.greeners.co/flora-fauna/zizina-otis-spesies-kupu-kupu-kecil-bercorak-ganda/#respond Mon, 04 Apr 2022 03:05:37 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=35782 Kupu-kupu adalah salah satu jenis serangga yang memiliki anggota spesies paling banyak. Di Pulau Jawa dan Bali saja, ahli mengonfirmasi terdapat lebih dari 600 spesies kupu-kupu yang hidup di alam […]]]>

Kupu-kupu adalah salah satu jenis serangga yang memiliki anggota spesies paling banyak. Di Pulau Jawa dan Bali saja, ahli mengonfirmasi terdapat lebih dari 600 spesies kupu-kupu yang hidup di alam liar. Salah satu yang paling terkenal, ialah kupu-kupu Zizina otis.

Lesser grass blue atau secara ilmiah disebut Zizina otis, merupakan spesies kupu-kupu dari famili Lycaenidae. Ia menyebar ke berbagai daerah, terutama di Asia Selatan dan Tenggara.

Padatnya populasi lesser grass blue disebabkan oleh daya tahan mereka. Hewan ini mampu beradaptasi pada berbagai bentuk habitat, sehingga cukup mudah untuk berkembang biak.

Secara morfologi, tampilan lesser grass blue juga terbilang sangat unik. Sayapnya terdiri dari dua macam corak, yakni cokelat-putih di bagian atas dan biru kehitaman di bagian bawah.

Morfologi dan Ciri-Ciri Zizina Otis

Spesies lesser grass blue jantan dan betina juga dapat diidentifikasi melalui warna sayapnya. Sayap jantan berwarna biru-ungu di bagian atas, dengan border luar terlihat cokelat gelap.

Sedangkan kupu-kupu betina mempunyai sayap atas berwarna cokelat gelap, dengan corak ungu di sebagian sayap bawah. Lalu, keduanya punya bintik hitam pada bagian sayap dalam.

Antena mereka tampak berwarna hitam, dengan kepala, dada dan perut berwarna cokelat. Zizina otis pada dasarnya berukuran sangat kecil, panjang sayapnya hanya berkisar 22 mm.

Melansir berbagai sumber, ciri fisik Zizina otis sejatinya sangat mirip dengan Zizina labradus. Mereka punya gradasi warna yang sama, meski warna Zizina labradus terlihat lebih terang.

Lingkungan hidup dan kebiasaan kedua spesies Zizina juga tergolong identik. Meski begitu, Zizina labradus sendiri umumnya ditemukan di Australia dan pulau-pulau kecil di sekitarnya.

Habitat dan Distribusi Zizina Otis

Zizina otis pertama kali dipublikasi oleh Johan Christian Fabricius pada tahun 1787. Hewan ini hidup di kawasan hutan sekunder, perkebunan, area pemukiman, hingga tepian sungai.

Melihat distribusinya, lesser grass blue dapat kita jumpai di wilayah China, Jepang, Filipina dan Indonesia. Ia bahkan ahli prediksi menyebar ke Selandia Baru serta Kepulauan Hawaii.

Di Indonesia sendiri, jenis kupu-kupu terdistribusi ke Pulau Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan dan Nusa Tenggara. Berbagai spesiesnya juga ditemukan di Sulawesi, Maluku dan Papua.

Perlu diketahui, kupu-kupu Zizina otis setidaknya terdiri atas 18 subspesies berbeda. Mereka menyebar ke berbagai wilayah, namun sebagian besar bermukim di wilayah Asia Tenggara.

Selandia Baru mungkin memiliki varian jenis yang paling sedikit. Hanya ada dua subspesies lesser grass blue yang ditemukan di wilayah tersebut, yakni Z. o labradus dan Z. o. oxleyi.

Pola Hidup dan Kebiasaan Zizina Otis

Jangkauan terbang lesser grass blue tidak terlalu tinggi. Mereka biasanya terbang di sekitar permukaan rumput dan semak, serta kerap berkumpul di area kubangan dan tanah lembap.

Dalam sejumlah riset, dapat diketahui bahwa lesser grass blue berasosiasi dengan semut. Ia juga berinteraksi dengan berbagai jenis tumbuhan, terutama dari keluarga polong-polongan.

Aktivitas mencari makan sendiri dilakukan pada pagi hingga siang hari. Sedangkan di waktu malam, Zizina otis akan berdiam diri di sekitar vegetasi rendah atau di balik semak belukar.

Saat hinggap di atas permukaan rumput, kedua sayap lesser grass blue biasanya akan tetap mengepak. Kepakan tersebut akan berhenti saat sedang menghisap nektar atau beristirahat.

Seperti yang kita ketahui, makanan utama kupu-kupu adalah nektar. Hewan ini membantu proses penyerbukan flora, sehingga kerap dijadikan sebagai indikator kesehatan lingkungan.

Taksonomi Spesies Lesser Grass Blue

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/zizina-otis-spesies-kupu-kupu-kecil-bercorak-ganda/feed/ 0
Ngengat Atlas, Kupu-Kupu Malam Terbesar di Dunia https://www.greeners.co/flora-fauna/ngengat-atlas-kupu-kupu-malam-terbesar-di-dunia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ngengat-atlas-kupu-kupu-malam-terbesar-di-dunia https://www.greeners.co/flora-fauna/ngengat-atlas-kupu-kupu-malam-terbesar-di-dunia/#respond Mon, 28 Dec 2015 06:54:53 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=12379 Ngengat atlas (Attacus atlas) kerap dianggap sebagai ngengat terbesar di dunia karena luas permukaan sayapnya yang mencapai 400 cm². Rentang sayapnya pun termasuk salah satu yang terlebar, yaitu berkisar antara 25-30 cm.]]>

Ngengat atlas (Attacus atlas) atau Atlas moth umumnya berwarna dominan coklat kekuningan hingga merah marun, namun sebagian ada yang berwarna abu-abu atau jingga.

Ciri khas ngengat atlas adalah terdapat pola “mata” berwarna putih berbentuk segitiga berbatas garis hitam yang terletak pada sayap atas dan sayap bawah serta ujung sayap bagian atas memiliki pola mirip kepala ular kobra.

Nama “atlas” berasal dari pola-pola di sayapnya yang menyerupai peta dunia. Dengan bentuk ujung sayap seperti ular kobra dan ukuran sayap yang besar, nama lokal ngengat atlas di beberapa daerah mengacu kepada kondisi tersebut, antara lain: papillon cobra (Perancis), atlasvlinder (Belanda), mariposa atlas (Spanyol), kupu-kupu gajah (Jawa), kupu-kupu barong (Bali), dan rama-rama (Sunda).

Ngengat atlas kerap dianggap sebagai ngengat terbesar di dunia karena luas permukaan sayapnya yang mencapai 400 cm². Rentang sayapnya pun termasuk salah satu yang terlebar, yaitu berkisar antara 25-30 cm. Tubuh ngengat atlas berukuran relatif kecil jika dibandingkan sayapnya dan lebih banyak aktif pada malam hari (nocturnal).

Walaupun berukuran besar dan memiliki warna cerah, ngengat atlas sulit dilihat di alam bebas, karena warna dan pola sayapnya membuat mereka tersamar diantara kulit kayu, batuan dan tanah.

Dalam keadaan terancam, ngengat atlas akan hinggap di atas tanah dan mengembangkan sayapnya, sehingga membuat bagian atas sayap terlihat bergerak-gerak, hal tersebut dapat menyebabkan pemangsanya mengira sedang melihat ular dan pergi meninggalkannya.

Kupu-kupu malam ini memiliki penyebaran paling luas diantara genus Attacus lainnya. Ngengat atlas banyak ditemukan di wilayah dengan iklim tropis atau subtropis.

Di Asia, ngengat atlas ditemukan di Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, India, Sri Lanka, Cina bagian barat, dan Taiwan, sedangkan di Amerika Selatan, ngengat atlas ditemukan di Peru, Costa Rica, Guyana dan Brazil.

Siklus hidup ngengat atlas berlangsung selama tiga – empat bulan (90-115 hari). Ngengat atlas merupakan serangga polyvoltin, yaitu serangga yang dapat hidup lebih dari 2 generasi dalam setahun, sehingga serangga ini dapat ditemukan sepanjang tahun. Ngengat atlas dapat ditemukan dengan jumlah yang banyak antara bulan November hingga Januari.

Di Ibu Kota, ngengat atlas dapat dijumpai di Ruang Terbuka Hijau Jakarta seperti di taman dan hutan kota serta perkebunan. Walaupun dibeberapa tempat dianggap sebagai hama, ngengat atlas merupakan serangga yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Kepompong ngengat atlas dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan serat sutra. Kelebihan dari serat sutra ngengat atlas dibandingkan serat sutra pada umumnya adalah ukuran serat yang cukup panjang (mencapai 2.500 meter per kepompong), kuat, lembut, tidak mudah kusut, tahan panas, tidak menimbulkan alergi, dan memiliki warna alami yang bervariasi, mulai dari coklat muda, coklat tua, dan keabu-abuan.

Mari mengenal dan melestarikan keanekaragaman hayati sekitar kita. Dengan menjaga dan peduli lingkungan sekitar, keanekaragaman hayati yang berada di dalamnya juga akan lestari.

Fauna_Ngengat_Atlas_Kupu_Kupu_Malam_Terbesar_di_Dunia_03

 

Penulis: Ahmad Baihaqi/Indonesia Wildlife Photography

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/ngengat-atlas-kupu-kupu-malam-terbesar-di-dunia/feed/ 0