obesitas - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/obesitas/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Fri, 03 Apr 2020 09:25:22 +0000 id hourly 1 Bahaya Duduk Terlalu Lama https://www.greeners.co/gaya-hidup/bahaya-duduk-terlalu-lama/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bahaya-duduk-terlalu-lama https://www.greeners.co/gaya-hidup/bahaya-duduk-terlalu-lama/#respond Fri, 03 Apr 2020 05:00:05 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=26665 Rata-rata orang menghabiskan lebih dari setengah hari untuk duduk, misalnya saat mengemudi, bekerja di depan komputer, atau menonton televisi.]]>

Berbagai jenis pekerjaan menuntut para pekerjanya menetap dalam sebuah ruangan dan duduk selama berjam-jam. Pola ini juga tak lepas dari kegiatan bekerja dari rumah yang tengah diimbau pemerintah. Akibatnya orang dapat menghabiskan lebih banyak waktu dalam posisi duduk daripada sebelumnya. Melansir healthline.com, duduk terlalu lama disebut dapat menyebabkan ganguuan kesehatan.

Rata-rata orang menghabiskan lebih dari setengah hari untuk duduk, misalnya saat mengemudi, bekerja di depan komputer, atau menonton televisi. Bahkan pekerja kantoran biasa menghabiskan 15 jam per harinya. Di sisi lain, duduk dan perilaku santai lainnya tidak berbahaya apabila diikuti aktivitas sehari-hari seperti berolahraga.

Penelitian dari Universitas Harvard menunjukkan bahwa menghabiskan terlalu banyak waktu duduk berbahaya bagi kesehatan. Perilaku kurang gerak tersebut dinilai meningkatkan risiko obesitas, diabetes, penyakit kardiovaskular, trombosis vena dalam, dan sindrom metabolik.

Sebuah studi melaporkan bahwa pekerja pertanian dapat membakar hingga 1.000 kalori lebih banyak per hari daripada orang yang bekerja di meja kerja. Ini karena buruh tani menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk berjalan dan berdiri.

Penelitian juga enunjukkan bahwa berjalan kurang dari 1.500 langkah per hari, atau duduk dalam waktu lama tanpa mengurangi asupan kalori, dapat menyebabkan peningkatan besar pada resistensi insulin, yang merupakan pendorong utama diabetes.

Diabetes

Foto: shutterstock.com

Semakin sedikit kalori yang dibakar, maka semakin besar kemungkinan berat badan bertambah. Ini sebabnya mengapa perilaku minim gerak sangat erat kaitannya dengan obesitas. Penelitian lain menunjukkan bahwa orang dengan obesitas duduk rata-rata dua jam lebih lama setiap hari daripada orang dengan berat badan normal.

Para peneliti dari Universitas Harvard juga meyakini bahwa duduk lebih lama berefek langsung pada resistensi insulin. Dampak duduk juga bisa meningkatkan rasa sakit. Dengan duduk berjam-jam mengakibatkan otot pinggul dan otot hamstring mengencangkan sendi-sendi.

Akibatnya fleksor pinggul dan paha belakang yang terlalu kencang memengaruhi gaya berjalan dan keseimbangan sehingga membuat aktivitas seperti berjalan lebih kaku. Selain itu, fleksor pinggul yang tertekan dapat berkontribusi terhadap nyeri punggung bawah dan kekakuan lutut.

Jeanette Garcia Asisten Profesor Ilmu Pelatihan dan Olahraga Universitas Sentral Florida menekankan bahwa memperbanyak gerakan dan mengurangi duduk merupakan hal yang lebih baik. Menurutnya, seorang pekerja atau individu dapat memanfaatkan waktu istirahat untuk bergerak di sekitar kantor dan melakukan aktivitas fisik yang cukup di luar.

“Mereka yang setidaknya melakukan 150 menit aktivitas fisik sedang atau kuat per minggu memiliki risiko lebih rendah masalah kesehatan. Sebuah studi juga menemukan bahwa mengganti 30 menit duduk setiap hari dengan aktivitas lain mengurangi risiko kematian sebesar 17 persen”, ucap Gracia.

Penulis: Ridho Pambudi

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/bahaya-duduk-terlalu-lama/feed/ 0
Polusi Udara Dapat Memicu Resiko Diabetes https://www.greeners.co/gaya-hidup/polusi-udara-dapat-memicu-resiko-diabetes/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=polusi-udara-dapat-memicu-resiko-diabetes https://www.greeners.co/gaya-hidup/polusi-udara-dapat-memicu-resiko-diabetes/#respond Sat, 24 Aug 2019 00:37:29 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=24032 Diabetes selama ini sering diidentikkan dengan penyakit yang disebabkan oleh konsumsi makanan manis atau yang mengandung kadar gula secara berlebihan. Ada juga faktor lainnya seperti obesitas atau kelebihan berat badan […]]]>

Diabetes selama ini sering diidentikkan dengan penyakit yang disebabkan oleh konsumsi makanan manis atau yang mengandung kadar gula secara berlebihan. Ada juga faktor lainnya seperti obesitas atau kelebihan berat badan yang dapat meningkatkan resiko diabetes. Namun berdasarkan hasil studi terbaru yang dilakukan oleh tim ilmuwan interdisipliner dari University of Leicester dan institusi lainnya, ternyata polusi udara dapat memicu peningkatan resiko diabetes tipe 2.

Studi mengenai kasus diabetes ini dipublikasikan pada jurnal Environment International , yang berjudul The Association Between Air Pollution and Type 2 Diabetes in a Large Cross-sectional Study in Leicester: The CHAMPIONS Study. Setelah mengumpulkan sample data dari 10.443 peserta di Leicestershire, Dr. Gary O’Donovan, selaku penulis dan pemimpin tim peneliti menyimpulkan bahwa faktor demografi banyak menjelaskan hubungan antara polusi udara dan diabetes tipe 2.

“Pencemaran udara yang tinggi dan aktivitas fisik yang rendah adalah dua penyebab utama penyakit dan kematian dini di negara berpenghasilan menengah dan tinggi,” ujar Donovan.

“Seperti kebanyakan kota di Inggris, Leicester hanya memiliki sedikit monitor kualitas udara. PBB memperkirakan bahwa dua pertiga penduduk dunia akan tinggal di kota pada tahun 2050 dan kota-kota kita harus menjadi tempat yang lebih baik dan lebih sehat untuk dihuni.”

Polusi Udara Dapat Memicu Resiko Diabetess

Polusi Udara Dapat Memicu Resiko Diabetess. Foto : istimewa

Polutan Udara

Paparan polutan udara diketahui dapat menyebabkan resistensi insulin, yang mana merupakan ciri khas penyakit diabetes, dan bukti observasi telah diterapkan untuk lebih memahami potensi hubungannya.

Profesor Roland Leigh, Direktur Teknik EarthSense dan Direktur Enterprise di University of Leicester Institute for Space and Earth Observation, dan rekan penulis studi tersebut, mengatakan: “Kami tahu bahwa polusi udara adalah risiko kesehatan lingkungan terbesar di dunia yang mempengaruhi 92% dari populasi dan terkait dengan lebih dari tiga juta kematian per tahun, dan buktinya dapat berkontribusi terhadap peningkatan resiko diabetes tipe 2.

“Namun, kami akan terus menerapkan penelitian lebih lanjut mengenai kualitas udara untuk menghilangkan potensi pemaparan jangka panjang,” lanjut Profesor Leigh. “Sebagai inovator dalam pemantauan kualitas udara, University of Leicester dan EarthSense memiliki kontribusi mendasar dalam memahami masalah polusi dan kesehatan yang kompleks.”

Seperti yang dilasir pada Science Daily, Diabetes adalah salah satu penyebab utama kematian di kalangan menengah ke bawah, menengah atas dan ekonomi berpenghasilan tinggi. Prevalensi global diabetes hampir dua kali lipat, dari 4,7% pada tahun 1980 menjadi 8,5% pada tahun 2014, dengan sebagian besar kasus tipe 2. Bukti eksperimental yang ada menunjukan paparan nitrogen dioksida dan unsur partikulat terkait dengan pembengkakan dan resistensi insulin.

Penulis: Diki Suherlan

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/polusi-udara-dapat-memicu-resiko-diabetes/feed/ 0
Cara Hindari Obesitas, Berikan Waktu Yang Cukup Untuk Makan https://www.greeners.co/gaya-hidup/cara-hindari-obesitas-waktu-yang-cukup-untuk-makan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=cara-hindari-obesitas-waktu-yang-cukup-untuk-makan https://www.greeners.co/gaya-hidup/cara-hindari-obesitas-waktu-yang-cukup-untuk-makan/#respond Tue, 13 Aug 2019 00:50:00 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=23952 Kita semua ingin tahu cara hindari obesitas dengan benar. Selama ini mungkin yang kita ketahui bahwa obesitas dipengaruhi oleh berapa banyak jumlah makanan yang kita makan atau berapa kali kita […]]]>

Kita semua ingin tahu cara hindari obesitas dengan benar. Selama ini mungkin yang kita ketahui bahwa obesitas dipengaruhi oleh berapa banyak jumlah makanan yang kita makan atau berapa kali kita makan dalam sehari. Ternyata bukan hanya itu!

Berdasarkan sebuah studi baru dari Jepang yang berjudul “Effects of changes in eating speed on obesity in patients with diabetes: a secondary analysis of longitudinal health check-up data” yang diterbitkan di BMJ Open, para peneliti menemukan bahwa adanya hubungan antara kecepatan makan dengan peningkatan indeks massa tubuh (BMI).

Dilansir dari Trehugger dan The Guardian, data penelitian dikumpulkan dari pemeriksaan kesehatan yang melibatkan hampir 60.000 peserta selama enam tahun.

Para peserta yang terlibat semuanya menderita diabetes tipe 2 dan menjalani pemeriksaan medis terlepas dari status obesitas, diteliti tentang gaya hidupnya, apakah mereka makan dengan kecepatan lambat, normal, atau cepat; camilan apa yang dimakan setelah makan malam; apakah melewatkan sarapan tiga kali seminggu atau lebih; apakah tidur dalam waktu dua jam setelah makan malam; dan apakah mereka tidur dengan cukup.

Dari hasil penelitian tersebut, para peneliti menemukan bahwa kelompok yang makan dengan cepat, 45 persen mengalami obesitas, dibandingkan dengan 30 persen dari kelompok yang memiliki kecepatan makan normal dan 21,5 persen dari kelompok yang makan dengan lambat.

Hindari Obesitas, Berikan Waktu Yang Cukup Untuk Makan 2

Foto : Istimewa

Sementara kelompok yang makan dengan lambat memiliki BMI rata-rata hanya lebih dari 22, kelompok yang makan dengan kecepatan normal memiliki BMI rata-rata 23,5, dan kelompok yang makan dengan cepat memiliki BMI rata-rata sekitar 25. Selain itu, ukuran lingkar pinggang juga ditemukan meningkat dengan kecepatan makan yang lebih cepat.

Mengapa kecepatan makan memengaruhi berat badan?

Menurut para peneliti, makan dengan cepat dikaitkan dengan gangguan toleransi glukosa yang menyebabkan fluktuasi gula darah yang lebih besar dan dapat menyebabkan resistensi insulin yang merupakan faktor penyebab risiko diabetes yang diketahui melalui peningkatan berat badan.

Selain itu, makan dengan cepat juga mempersulit otak untuk mengetahui kondisi perut dalam keadaan kenyang atau tidak dan memberikan lebih banyak waktu untuk mendapatkan tambahan kalori.

Tam Fry, Ketua National Obesity Forum, mengatakan bahwa kecepatan orang dalam melahap makanan tidak dapat disangkal sebagai penyumbang obesitas.

Orang yang makan dengan cepat membutuhkan lebih lama untuk merasa kenyang hanya karena mereka tidak memberikan waktu bagi hormon usus untuk memberitahu otak kapan seharusnya berhenti makan. Sehingga salah satu cara hindari obesitas adalah dengan menyediakan waktu yang cukup dan ideal untuk konsumsi makanan kita.

Penulis : Diki Suherlan

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/cara-hindari-obesitas-waktu-yang-cukup-untuk-makan/feed/ 0
Stunting dan Obesitas Menjadi Fokus Utama pada Hari Gizi Nasional Ke-59 https://www.greeners.co/berita/stunting-dan-obesitas-menjadi-fokus-utama-pada-hari-gizi-nasional-ke-59/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=stunting-dan-obesitas-menjadi-fokus-utama-pada-hari-gizi-nasional-ke-59 https://www.greeners.co/berita/stunting-dan-obesitas-menjadi-fokus-utama-pada-hari-gizi-nasional-ke-59/#respond Sat, 26 Jan 2019 04:28:08 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=22430 Pada peringatan Hari Gizi Nasional ke-59, Kementerian Kesehatan masih menjadikan masalah stunting sebagai fokus utama. Selain stunting, pemerintah juga menyoroti masalah obesitas yang mulai mengancam balita.]]>

Jakarta (Greeners) – Pada peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) ke-59, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia masih menjadikan masalah stunting sebagai fokus utama. Selain stunting, pemerintah juga menyoroti masalah obesitas yang mulai mengancam balita. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan bahwa 8% balita di Indonesia mengalami kegemukan. Salah satu faktor utama kondisi stunting dan obesitas ini adalah pola pangan yang tidak sehat.

Sekretaris Jenderal Kemenkes Oscar Primadi mengatakan bahwa untuk penanganan masalah gizi pada stunting dan obesitas ini Kemenkes mempunyai program Indonesia sehat dengan pendekatan keluarga. Hal ini dikarenakan permasalahan pengelolaan gizi seimbang harus dilihat secara komprehensif karena terkait dengan pola asuh anak-anak di rumah dan keseimbangan asupan gizinya.

“Jadi tidak lagi berbicara dengan komunitas-komunitas tertentu untuk menyampaikan edukasi ini, puskesmas yang keluar gedung untuk memberikan edukasi kepada keluarga-keluarga Indonesia. Sekali lagi persoalan gizi bukan pada saat bayi lahir tetapi sebelum kehamilan, saat hamil dan sesudah melahirkan. Target (WHO) untuk mencapai angka ambang batas 20% untuk stunting ini akan kita capai dan usahakan,” ujar Oscar saat konferensi pers pada acara peringatan Hari Gizi Nasional ke-59 di Auditorium Siwabessy Gedung Sujudi, Kemenkes, Jakarta, Jumat (25/01/2019).

BACA JUGA: Hari Gizi Nasional Ke-59, Penurunan Stunting Masih Jadi Prioritas 

hari gizi nasional

Kementerian Kesehatan mengampanyekan Isi Piringku untuk mengedukasi masyarakat mengenai komposisi makanan dengan gizi seimbang. Sumber: Kemenkes RI

Selain itu, Kemenkes juga mempunyai program kampanye Isi Piringku. Program ini mengatur komposisi makanan untuk dikonsumsi sehari-hari, yakni 50% dari jumlah makanan setiap kali makan adalah sayur dan buah, 50% lagi adalah makanan pokok dan lauk pauk, porsi sayur lebih banyak dari porsi buah, porsi makanan pokok lebih banyak dari porsi lauk pauk, dan anjuran minum setiap kali makan.

Direktur Gizi Kemenkes Dody Izwardi mengatakan konsep Isi Piringku sudah dibangun seperti body image komposisi makanan seperti apa yang seharusnya dikonsumsi untuk mencegah stunting, obesitas, dan hidup sehat.

“Jadi Isi Piringku ini merupakan edukasi untuk masyarakat karena tantangan kita di bidang gizi berada pada masalah perilaku. Berbicara mal nutrisi ada masalah kurang nutrisi dan nutrisi berlebih, dan ini sudah melekat dari generasi ke generasi. Kesalahannya berada di dalam sistem pembangunan kita yang gagal. Maka itu edukasi ini ingin kita targetkan ke anak remaja, mulai dari sekarang harus teredukasi masalah gizi jadi setelah menikah sampai menjadi ibu, ilmu gizi yang didapat bisa diterapkan,” ujar Dody.

BACA JUGA: Pendekatan Ekohidrologi untuk Pencegahan Stunting 

Saat ini Kemenkes sedang menerapkan lima pilar untuk upaya perbaikan gizi dan perubahan pola pangan sehat, yakni perbaikan gizi masyarakat, peningkatan aksesibilitas pangan yang beragam, mutu dan keamanan pangan, perilaku hidup bersih dan sehat, serta koordinasi pangan dan gizi.

“Lima pilar ada tanggung jawabnya masing-masing di kementerian terkait. Kalau Kemenkes itu kepada perubahan perilaku dengan program “Isi Piringku” dan itu tidak hanya untuk stunting tapi untuk masalah obesitas juga karena masalah obesitas ini juga harus kita perhatikan,” ujar Dody.

Menurut data Riskesdas, pada tahun 2013 ada 11,9% balita gemuk dan data terakhir tahun 2018 menunjukkan penurunan angka menjadi 8%. WHO sendiri untuk masalah balita gemuk ini mempunyai angka batas kesehatan 5%.

Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes Kirana Pritasari mengatakan bahwa masalah obesitas ada di semua kelompok umur, bahkan obesitas anak di bawah usia remaja meningkat. Artinya, keluarga salah mengenalkan pola makanan. Obesitas ini nantinya akan mengarah kepada penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, jantung.

“Butuh pendekatan multisektor, misalnya dimulai di sekolah dengan perilaku makan yang benar, makanan di kantin harus benar dan ini harus bekerjasama dengan Kemendikbud. Lalu, sektor industri komitmen untuk produksi makanan yang lebih sehat, seperti memberikan label kadar gulanya, kalori, garam, dan lemaknya,” kata Kirana.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/stunting-dan-obesitas-menjadi-fokus-utama-pada-hari-gizi-nasional-ke-59/feed/ 0
Waspadai Obesitas pada Anak https://www.greeners.co/gaya-hidup/waspadai-obesitas-pada-anak/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=waspadai-obesitas-pada-anak https://www.greeners.co/gaya-hidup/waspadai-obesitas-pada-anak/#respond Sun, 18 Nov 2018 07:12:18 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=21160 Obesitas dapat menyerang anak-anak dan remaja. Masalahnya, obesitas adalah penyebab utama banyak penyakit di kemudian hari.]]>

(Greeners) – Penelitian menunjukkan jumlah anak-anak dan remaja yang mengalami obesitas atau kegemukan meningkat sepuluh kali lipat di seluruh dunia hanya dalam waktu 40 tahun. Berdasarkan laporan gizi global atau Global Nutrition Report (2014), Indonesia termasuk ke dalam 17 negara yang memiliki tiga permasalahan gizi sekaligus, yaitu stunting (pendek), wasting (kurus), dan juga overweight (obesitas).

Bisa dibilang obesitas adalah penyebab utama banyak penyakit di kemudian hari. Seperti yang dilansir pada situs IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), banyak penelitian yang menunjukkan bahwa obesitas pada masa anak berkaitan dengan kejadian obesitas pada masa dewasa.

Salah satu penelitian yang menguatkan hal ini adalah studi yang dilakukan oleh DR. Made Darawati, STP, M.Sc et al. (2016). Dari hasil penelitian dosen jurusan gizi, Poltekkes Kemenkes Mataram ini disimpulkan bahwa kegemukan, terutama obesitas, khususnya di usia rema­ja dapat berisiko 10 kali lipat daripada obesitas orang de­wasa. 

Data tahun 2013 dari WHO (World Health Organization) menunjukkan persentase obesitas anak di Indonesia termasuk tertinggi di ASEAN, yakni sebesar 12 persen. Bila dirinci, ada 17 juta anak yang mengalami obesitas di ASEAN, hampir 7 jutanya berasal dari Indonesia. Data tersebut juga didukung dengan rilis yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan.

Pada Januari 2017 Kementerian Kesehatan mengeluarkan rilis terkait bahaya obesitas yang kerap dimulai sejak usia dini. Data tersebut menggambarkan bahwa 8 dari 100 anak di Indonesia mengalami obesitas. Obesitas anak yang dihitung berdasarkan indeks massa tubuh dibandingkan usia (IMT/U) pada kelompok anak usia 5-12 tahun besarnya 8% dengan prevalensi tertinggi terdapat di wilayah DKI Jakarta.

Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa makin dini seorang anak mengalami obesitas, makin rendah usia harapan hidupnya akibat menderita penyakit-penyakit kronis degeneratif seperti diabetes mellitus tipe 2, penyakit jantung, stroke dan kanker. Pada masa anak dan remaja, obesitas juga dapat mengakibatkan hipertensi, sleep apnea, masalah pernapasan, masalah postur dan perkembangan tulang ekstremitas, masalah psikososial, masalah hormonal dan sistem reproduksi, alergi dan hipersensitivitas dan masih banyak lagi.

Pola Asuh dan Anggapan yang Salah

Dari sumber yang telah dikumpulkan, faktor-faktor pemicu tingginya angka obesitas pada anak dan remaja antara lain kualitas makanan yang dikonsumsi, pola makan yang kurang baik (seperti melewatkan sarapan), kurangnya aktivitas fisik, faktor genetik, hormonal, dan lingkungan. Penderita kegemukan memiliki pertahanan antioksidan yang lebih rendah dibanding yang memiliki berat badan normal.

Selain itu pola asuh orang tua (terutama pola pemberian makan) sejak anak usia balita juga turut mempengaruhi. Mulai dari rendahnya ASI Eksklusif karena tergoda memberikan susu formula yang tinggi lemak dan mengandung gula, sampai pada pemberian makanan rendah protein namun tinggi gula, garam, dan lemak seperti yang terdapat pada makanan instan.

Hingga saat ini masih banyak orang yang berpendapat bahwa anak yang gemuk itu sehat. Menurut Direktur Gizi Masyarakat Kemenkes, Doddy Izwardi, perlu adanya perubahan pemahaman di masyarakat bahwa anak yang gemuk tentu sehat. “Dahulu masyarakat bangga punya anak gemuk, pipinya montok. Tapi saat anaknya sudah besar malu ingin kurus, tapi susah,” ujar Doddy. Melihat dari kasus tersebut diperlukan upaya untuk mengurangi tingkat obesitas pada anak dan remaja.

Modifikasi Diet dengan Pangan Nabati

Darawati et al. (2016) dalam penelitiannya yang berjudul “Pengembangan Pangan Fungsional Berbasis Pangan Lokal sebagai Produk Sarapan untuk Remaja Gemuk”, menerangkan bahwa penanganan permasalahan obesitas atau kegemukan pada anak dan remaja dapat dilakukan dengan modifikasi diet. Diet dengan mengonsumsi pangan nabati menjadi solusi yang baik untuk mengurangi berat badan.

Beberapa studi telah membuktikan adanya hubungan yang kuat antara diet kaya pangan nabati dengan kesehatan. Pangan nabati memiliki kandungan fitokimia, vitamin, antioksidan, dan serat pangan (Darawati, et al. 2016). Disamping itu pendekatan konsumsi pangan nabati akan lebih memiliki dampak positif secara ekologis.

Bukti-bukti yang berkembang juga menunjukkan pola makan pangan nabati dapat membantu lebih baik dalam mengelola atau mengurangi risiko berkembangnya penyakit, termasuk diabetes, penyakit jantung, kolesterol tinggi, dan demensia. Ahli gizi Dr Rosemary Stanton seperti dikutip pada laman republika.co.id, mengatakan bahwa pola makan yang mengutamakan nabati, dengan atau tanpa mengonsumsi bahan pangan hewani, adalah pendekatan yang sehat.

Pangan nabati berkontribusi terhadap ke­seimbangan reaksi oksidasi reduksi dan memerangkap secara langsung atau menetralisir radikal bebas, dan anti inflamasi. Sumber pangan nabati juga mudah didapat dan diolah menjadi aneka makanan berat juga ringan yang dapat menggugah selera. Anda tidak perlu khawatir untuk mengubah bahan pangan nabati menjadi makanan yang lezat dengan memperhatikan cara memasaknya.

Penulis: Sarah R.Megumi

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/waspadai-obesitas-pada-anak/feed/ 0
Tekan Obesitas dan Diabetes, Minuman Bersoda Dibatasi di San Fransisko https://www.greeners.co/gaya-hidup/tekan-obesitas-dan-diabetes-minuman-bersoda-dibatasi-san-fransisko/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tekan-obesitas-dan-diabetes-minuman-bersoda-dibatasi-san-fransisko https://www.greeners.co/gaya-hidup/tekan-obesitas-dan-diabetes-minuman-bersoda-dibatasi-san-fransisko/#respond Thu, 20 Apr 2017 13:26:05 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=16786 Untuk menekan jumlah pasien dengan keluhan obesitas dan diabetes, San Francisco Health Improvement Partnership (SFHIP) mengendalikan kesehatan masyarakat lokal dengan membatasi konsumsi minuman bersoda.]]>

Untuk menekan jumlah pasien dengan keluhan obesitas dan diabetes, San Francisco Health Improvement Partnership (SFHIP) mengendalikan kesehatan masyarakat lokal dengan membatasi konsumsi minuman bersoda. Dengan tiga fokus utama, SFHIP berhasil memperbaiki kesehatan kota yang dihuni oleh 850.000 jiwa.

Ketiga fokus tersebut merupakan cara-cara SFHIP menjalankan programnya yaitu dengan menarik setiap minuman bersoda mulai dari toko, kantin, food truck hingga restoran di seluruh area kampus dan sekolah; pembatasan penjualan alkohol eceran dan perawatan gigi gratis kepada anak-anak yang kurang mampu. Pada dasarnya, program yang membatasi konsumsi minuman berkarbonasi ini diadopsi dari cara yang digunakan pemerintah setempat dalam mengelola tembakau.

“Kami perlu mengimplementasikan cara-cara pengendalian tembakau terhadap aspek kesehatan lainnya,” ujar Dr. Kevin Grumbach, Direktur Departemen Obat Keluarga dan Komunitas di University of California, San Fransisco (UCSF) seperti diberitakan Reuters.

Dalam wawancaranya tersebut, Dr. Kevin menjelaskan bahwa selain menghentikan penjual minuman untuk menyajikan minuman bersoda, program tersebut juga menghasilkan pemberlakuan pajak terhadap minuman yang disasar. Hal ini membantu mencegah kedai kopi seperti Starbucks atau Taco Bell untuk menerima izin menjual minuman keras di San Fransisco. Selain itu, program ini juga berhasil mengurangi jumlah anak yang menerima perawatan gigi akibat karang yang diakibatkan oleh minuman bersoda.

Dengan berlakunya pajak dan pencabutan perizinan pada beberapa penyedia minuman, Dr. Kevin mengatakan bahwa program ini sebenarnya bertujuan untuk memaparkan adanya pilihan yang paling mudah untuk menjaga kesehatan, yaitu dengan tidak mengonsumsi minuman bersoda. “Ini adalah tentang memilih untuk menjalani hidup sehat sebagai suatu pilihan yang mudah,” ujarnya.

Pada dasarnya, alasan SFHIP menyasar dua jenis minuman tersebut adalah tentang isu kesehatan. Minuman bersoda dapat menyerang liver. Selain itu, terlalu sering minum soda juga dapat menyebaban obesitas, diabetes dan noda pada gigi. Di San Fransisco sendiri, konsumsi minuman berkarbonasi ini sangat tinggi.

Hal ini dapat dilihat pada sebuah studi terpisah dengan sampel 2.500 karyawan dari pusat kesehatan SFHIP yang meneliti konsumsi minuman bersoda sebelum adanya pembatasan. Hasilnya, kebanyakan karyawan dengan gaji rendah yang terdiri dari petugas kebersihan, pramusaji kantin dan sopir bus mengonsumsi sebanyak 800 ml minuman berkarbonasi per hari. Sementara para doktor meminum hanya sebanyak 118 ml per harinya. Enam bulan setelah aturan tersebut diberlakukan, pekerja dengan upah rendah mengonsumsi soda 25% lebih sedikit dari biasanya.

Selain minuman soda, alkohol juga dibatasi peredarannya. Hal ini disebabkan karena San Fransisco merupakan kota yang dipadati oleh gerai-gerai ritel yang menjual minuman keras dengan bebas. SFHIP sendiri menghubungkan alkohol dengan isu kesehatan dan keselamatan yang dibuktikan dengan kematian dini pada pria yang menyumbang 10% dari total angka kematian di kota tersebut.

Sementara itu, pemberian layanan gratis untuk perawatan gigi pada anak-anak disebabkan oleh kondisi di mana 35% anak -anak di San Fransisco mengalami kerusakan gigi saat memasuki taman kanak-kanak. Di sisi lain, kebanyakan dari anak-anak tersebut tidak memiliki akses untuk memeriksa kesehatan gigi akibat kondisi finansial.

Penulis: Ayu Ratna Mutia

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/tekan-obesitas-dan-diabetes-minuman-bersoda-dibatasi-san-fransisko/feed/ 0
Gizi Seimbang Jadikan Hidup Lebih Sehat https://www.greeners.co/gaya-hidup/gizi-seimbang-jadikan-hidup-lebih-sehat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=gizi-seimbang-jadikan-hidup-lebih-sehat https://www.greeners.co/gaya-hidup/gizi-seimbang-jadikan-hidup-lebih-sehat/#respond Tue, 24 Nov 2015 11:33:26 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=12018 Jakarta (Greeners) – Kalimat “Sehat itu pilihan” mungkin tidak asing lagi bagi kita. Bagi orang yang ingin tubuhnya tetap bugar dan tidak mudah sakit dalam jangka waktu lama, tentu akan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kalimat “Sehat itu pilihan” mungkin tidak asing lagi bagi kita. Bagi orang yang ingin tubuhnya tetap bugar dan tidak mudah sakit dalam jangka waktu lama, tentu akan memilih menjalankan gaya hidup dan pola makan yang sehat.

Dewasa ini, ada banyak macam gaya hidup atau pola makan yang diklaim “sehat”. Misalnya saja, tidak memasukan daging dalam menu makan harian, menghindari produk susu hewan (sapi/kambing), tidak mengonsumsi makanan yang digoreng, dan lain sebagainya.

Ahli Gizi dari Rumah Sakit dr. Cipto Mangungkusumo (RSCM), Titin Kurniasih menyatakan bahwa manusia membutuhkan makanan yang bervariasi. Sebagai makhluk omnivora atau pemakan segala, manusia memang tidak bisa mengandalkan satu ragam makanan saja.

Titin menyontohkan, tubuh manusia membutuhkan protein. Menurutnya, manusia tidak dapat mengonsumsi protein dari hewan atau tumbuhan saja. Baik protein hewani maupun protein nabati, sama-sama dibutuhkan oleh manusia.

“Kalau protein itu porsinya 50-50 kalau memang mau seimbang,” ujar Titin kepada Greeners di Jakarta.

Titin Kurniasih, Ahli Gizi dari Rumah Sakit dr. Cipto Mangungkusumo (RSCM). Foto: dok. Pribadi

Titin Kurniasih, Ahli Gizi dari Rumah Sakit dr. Cipto Mangungkusumo (RSCM). Foto: dok. Pribadi

Lebih lanjut Titin menjelaskan bahwa protein hewani maupun nabati memiliki fungsi yang berbeda. Protein nabati, misalnya, memiliki kadar antioksidan yang berguna untuk membatasi jumlah radikal bebas yang berada dalam tubuh. Jumlah radikal bebas yang berlebih dalam tubuh dapat membuat metabolisme menjadi kurang maksimal.

Selain itu, jumlah radikal bebas yang berlebih akibat kurangnya mengonsumsi protein nabati juga dapat menimbulkan penyakit kronis, seperti penyakit iskemik (stress dan penyakit jantung), kanker, atelosklerosis (penyempitan pembuluh darah), dan lain-lain. “Apalagi kita sudah terpapar polusi dan makanan enggak sehat yang kita konsumsi,” imbuhnya.

Sementara itu, makanan dengan protein hewani juga dibutuhkan tubuh. Salah satu kandungan dalam protein hewani adalah kalsium, zat yang diperlukan untuk pembentukan tulang dan gigi. “Ketika pasien atau beberapa orang tidak mengonsumsi protein hewani, kalsiumnya cenderung rendah dan biasanya cenderung berefek pada osteoporosis,” jelasnya.

Selain protein, tubuh manusia juga membutuhkan serat. Serat, lanjutnya, sangat berguna bagi tubuh untuk menurunkan kadar lemak dalam darah dan melancarkan pencernaan.

“Tidak hanya protein saja yang dibutuhkan, pola makan yang seimbang juga harus diimbangi dengan serat dan buah,” katanya.

Titin menjelaskan bahwa tubuh yang kekurangan serat seringkali cepat merasa lapar. Namun, rasa kenyang bukan hanya didapat dengan mengonsumsi makanan dalam jumlah banyak, tapi juga dari serat.

“Kalau kita makan tanpa ada serat biasanya cepat lapar, karena serat fungsinya memperlama rasa kenyang. Jadi, (mengonsumsi makanan tanpa serat) badan jadi cepat obesitas, kelebihan berat badan,” katanya.

Ia pun menyatakan bahwa makan makanan dengan gizi seimbang akan membantu tubuh berada dalam kondisi baik. Pola makan yang seimbang ini apabila dibarengi dengan olah raga, tambahnya, akan sangat berguna bagi kesehatan tubuh dan menjauhkan kita dari berbagai penyakit.

Penulis: TW/G37

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/gizi-seimbang-jadikan-hidup-lebih-sehat/feed/ 0
Indonesia Masuk Dalam Negara Dengan Masalah Malnutrisi Serius https://www.greeners.co/berita/indonesia-masuk-dalam-negara-dengan-masalah-malnutrisi-serius/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=indonesia-masuk-dalam-negara-dengan-masalah-malnutrisi-serius https://www.greeners.co/berita/indonesia-masuk-dalam-negara-dengan-masalah-malnutrisi-serius/#respond Wed, 25 Feb 2015 08:19:17 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=7542 Jakarta (Greeners) – Indonesia merupakan salah satu dari tujuh belas negara di dunia dengan tiga masalah gizi (malnutrisi) yang serius. Menurut laporan dari Global Nutrition tahun 2014, stunting (tinggi badan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Indonesia merupakan salah satu dari tujuh belas negara di dunia dengan tiga masalah gizi (malnutrisi) yang serius. Menurut laporan dari Global Nutrition tahun 2014, stunting (tinggi badan menurut umur yang kurang), wasting (berat badan menurut tinggi badan yang kurang), dan obesitas (kegemukan) merupakan bagian dari masalah gizi yang serius tejadi di negara-negara dunia termasuk Indonesia.

Guru Besar Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Prof. dr. Endang L. Achadi, MPH, Dr. PH memaparkan, berdasarkan riset dasar kesehatan (Riskesdas) yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan pada tahun 2013 saja menunjukkan bahwa jumlah keseluruhan kasus stunting yang terjadi terutama pada anak di bawah lima tahun (balita) sangat tinggi, yaitu sekitar 37,2 persen.

Ia menjelaskan, kasus stunting pada anak menunjukkan bahwa kekurangan gizi kronis dan berulang dapat terjadi pada usia dini kehidupan. Terutama pada 1000 hari kehidupan pertama dengan rincian 270 hari berada pada kandungan, dan 730 hari atau hingga saat anak berumur dua tahun. Kondisi seperti ini, jelasnya, tidak hanya berdampak pada tinggi badan, namun juga akan mengganggu perkembangan kognitif dan kecerdasan anak nantinya.

“Kelompok 1000 hari pertama dalam kehidupan dampaknya bisa bersifat permanen. Kalau dalam seribu hari pertama organnya kecil pasti tidak akan bekerja maksimal pada saat dewasa,” jelasnya pada Konferensi Pers Program RANTAI oleh Mondelez Indonesia di Jakarta, Rabu (25/02).

Guru Besar Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Prof. dr. Endang L. Achadi, MPH, Dr. PH. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Guru Besar Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Prof. dr. Endang L. Achadi, MPH, Dr. PH. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Endang juga menerangkan, ada dua penyebab langsung masalah gizi tersebut. Pertama, asupan yang baik sangat penting bagi tumbuh kembang anak. Praktek pemberian makan bayi dan anak serta perilaku hidup sehat terkait keragaman asupan mampu mencegah masalah gizi pada tumbuh kembangnya.

“Penyebab kedua yaitu infeksi yang terjadi pada saat masa kandungan maupun 1000 hari pertama kehidupan,” tambahnya.

Country Head of Corporate and Goverment Affairs Mondelez Indonesia, Rhea Sianipar menjelaskan, program Rapid Action on Nutrition and Agriculture Initiative (RANTAI) yang diluncurkan pada tahun 2011 bersama dengan Helen Keller International Indonesia adalah usaha untuk meningkatkan kualitas ketahanan pangan dan gizi bagi sekitar 4.001 rumah tangga di 74 desa dan 17 kecamatan di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur.

“RANTAI merupakan salah satu respon untuk berkontribusi setelah sebelumnya dalam pertemuan global dan perhatian dari pemerintah daerah menunjukkan bahwa malnutrisi ini harus ditindaklanjuti,” ungkapnya.

Nutrition Program Manager Helen Keller Indonesia, Mardewi, menyatakan, melalui pemanfaatan pekarangan dengan penanaman sayuran dan buah-buahan yang kaya akan zat gizi mikro serta kegiatan beternak ayam dan ikan yang dilakukan oleh masyarakat Timor Tengah Selatan ini diharapkan dapat mengatasi penyebab dasar masalah kekurangan gizi sehubungan dengan kerawanan pangan di Indonesia Bagian Timur.

“Memasuki tahun ke empat, program ini berhasil membantu masyarakat setempat memeroleh sumber gizi yang lebih bervariasi, serta meningkatkan pendapatan dengan menjual hasil tanaman mereka ke pasar tradisional. Kami berharap program ini akan terus berlanjut di masyarakat hingga mereka mampu mandiri,” katanya berharap.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/indonesia-masuk-dalam-negara-dengan-masalah-malnutrisi-serius/feed/ 0
Peran Penting Asupan Air Untuk Cegah Obesitas Pada Anak https://www.greeners.co/berita/peran-penting-asupan-air-untuk-cegah-obesitas-pada-anak/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=peran-penting-asupan-air-untuk-cegah-obesitas-pada-anak https://www.greeners.co/berita/peran-penting-asupan-air-untuk-cegah-obesitas-pada-anak/#respond Thu, 22 Jan 2015 05:40:28 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=7140 Jakarta (Greeners) – United Nations Children’s Fund (UNICEF) menyatakan bahwa dalam World Children Report tahun 2012, Indonesia menempati urutan pertama dengan tingkat obesitas atau kegemukan pada anak di wilayah ASEAN. […]]]>

Jakarta (Greeners) – United Nations Children’s Fund (UNICEF) menyatakan bahwa dalam World Children Report tahun 2012, Indonesia menempati urutan pertama dengan tingkat obesitas atau kegemukan pada anak di wilayah ASEAN.

Dalam laporan tersebut tercatat 12,2 persen anak Indonesia mengalami obesitas. Persentase tersebut jauh di atas negara-negara di wilayah Asia Tenggara lainnya yang juga memiliki masalah obesitas seperti Thailand dengan jumlah persentase 8%, Malaysia 6%, Vietnam 4,6% dan Filipina 3,3%.

Dosen dan Ahli Gizi Ibu dan Anak dari Institut Pertanian Bogor, Prof. DR. Hardinsyah, MS mengatakan bahwa seorang anak sangat membutuhkan asupan gizi seimbang selama masa pertumbuhannya karena tidak sedikit kasus obesitas pada anak terus berlanjut hingga anak tersebut tumbuh dewasa.

“Kondisi obesitas pada anak ini seharusnya bisa dihindari dengan membiasakan si anak melakukan gaya hidup sehat dengan gizi seimbang, termasuk meminum air putih sebelum memakan makanan utama,” terang Hardiansyah saat memberikan pemaparan pada acara “Asupan Air Seimbang Cegah Obesitas pada Anak dan Remaja” di Jakarta, Rabu (21/01).

Diagram tumpeng gizi seimbang dari Kemenkes. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Diagram tumpeng gizi seimbang dari Kemenkes. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Ia menerangkan, belakangan ini ada kecenderungan konsumsi minuman bergula atau berkalori (sugar-sweetened beverages) yang semakin meningkat pada anak-anak. Padahal, lanjutnya, minuman mengandung gula berkalori tersebut dapat memicu obesitas. Minuman dengan gula berkalori seperti minuman bersoda, jus, air tebu manis, kopi manis dan sport drink yang menggunakan soda berkalori.

“Padahal, untuk menjaga kondisi fisik luar dan dalam tubuh, konsumsi air putih yang cukup sangat berpengaruh pada kondisi anak maupun dewasa. Ini juga harus diperhatikan oleh orang tua,” tambahnya.

Pentingnya peran air dalam mencegah dan mengatasi obesitas ini pun diamini oleh pakar penyakit dalam dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Prof. DR. Dr. Parlindungan Siregar, Sp. PD-KGH. Ia mengatakan bahwa cairan adalah asupan substansial yang diperlukan dalam komponen gizi seimbang. Sedangkan, volume air yang dibutuhkan anak lebih besar dari orang dewasa. Oleh karena itu, ia meminta kepada orang tua agar mulai menanamkan kepada anak mereka untuk tidak mengabaikan rasa haus yang datang karena itu merupakan bentuk sinyal dari tubuh bahwa ia membutuhkan cairan.

“Kebutuhan volume air dalam tubuh bervariasi sesuai dengan umurnya dan kebutuhan untuk anak itu lebih besar dari orang dewasa,” ujar Parlindungan.

Selain itu, Dokter Spesialis Anak dari RSCM, Dr. Sudung O. Pardede, menerangkan, obesitas pada anak juga dipicu oleh kurangnya aktivitas fisik yang dilakukan oleh anak. Menurutnya, anak yang sudah mengalami obesitas cenderung malas bergerak karena berat tubuhnya. Untuk mencegah hal ini, peran orang tua sangat dibutuhkan untuk membatasi asupan gula berkalori dan memotivasi anak untuk berolahraga.

“Orang tua sudah sebaiknya memonitor apa yang dikonsumsi anak dan mengedukasi mereka sejak dini untuk memilih asupan gizi yang seimbang,” pungkasnya.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/peran-penting-asupan-air-untuk-cegah-obesitas-pada-anak/feed/ 0