oksigen - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/oksigen/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sun, 17 Jan 2021 09:41:39 +0000 id hourly 1 Lindungi Pohon Pelindung https://www.greeners.co/flora-fauna/lindungi-pohon-pelindung/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=lindungi-pohon-pelindung https://www.greeners.co/flora-fauna/lindungi-pohon-pelindung/#comments Thu, 14 Feb 2013 05:03:34 +0000 http://www.greenersmagz.com/?post_type=grn_kehati&p=3370 Kita kadang menghiraukan begitu saja keberadaan pohon di pinggir jalan, seakan tak terlalu peduli ketika banyak perlakuan buruk yang menimpa pohon-pohon tersebut.]]>

Kita kadang menghiraukan begitu saja keberadaan pohon di pinggir jalan. Kita seakan tak terlalu peduli ketika banyak perlakuan buruk yang menimpa pohon-pohon tersebut. Seperti penempelan paku pada batangnya, pembetonan permukaan tanah sekitarnya dimana kedua hal tersebut secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap pertumbuhannya. Apalagi jika terjadi penebangan tanpa alasan yang kuat dan masuk akal. Walaupun peduli, itupun hanya seketika, lantas kemudian berlalu begitu saja.

Oleh Ery Bukhorie | Foto oleh Dinnar Santana | Artikel ini diterbitkan pada edisi 07 Vol. 1 Tahun 2006

 

Kita pun pasti tidak banyak tahu fungsi yang dimiliki dari pohon-pohon tersebut. Mungkin yang kita tahu hanya sebagai ”sesuatu” yang bisa membuat kita teduh, atau sebagai penghasil oksigen. Hal itu memang benar, tapi jika kita coba telaah lebih dalam lagi, pohon yang tumbuh dan tertanam di pinggir-pinggir jalan sebenarnya memiliki banyak fungsi lainnya, yang bisa melindungi keaadaan lingkungan sekitarnya. Makanya pohon tersebut disebut sebagai pohon pelindung. Pohon pelindung dapat membantu menciptakan suatu lingkungan yang asri. Tanpanya, maka hidup kita tidak akan nyaman.

Mari kita sama-sama cari tahu tentang apa saja sebenarnya yang pohon pelindung bisa berikan bagi kehidupan kita, dan apa yang bisa kita lakukan agar keberadaannya tetap terjaga.

Banyaknya debu dan tingginya kadar polusi udara di jalan pasti selalu membuat kita merasa tidak nyaman. Apalagi jika jalan yang kita lewati jarang sekali terdapat pohon, membuat tubuh kita gerah dan lebih banyak mengeluarkan keringat. Debu-debu yang bertebaran di udarapun akan menempel di permukaan kulit sehingga kulit terasa lengket.

Udara kotor/polusi udara mengandung banyak zat berbahaya. Seperti timbal (Pb) yang pada anak-anak dapat menurunkan intelegensia (IQ), menghambat pertumbuhan otak, dan menurunkan kemampuan belajar serta membaca. Pada konsentrasi yang tinggi bahkan dapat menghambat pertumbuhan mental, koma, sampai pada kematian. Pernah ada suatu penelitian pada tahun 2003 tentang kadar dan efek dari polusi udara terhadap beberapa siswa sekolah di Bandung. Hasilnya 50% dari 90 anak SD dan SMP yang diteliti berada pada kondisi yang menghawatirkan dengan kadar timbalnya yang tinggi (PR 12/7/04).

Selain timbal, zat-zat berbahaya lainnya yang terkandung dalam polusi udara adalah Karbon Monoksida (CO), Oksida Nitrogen (NOx), Senyawa Asam (Sulfat dan Nitrat) yang kesemuanya berbahaya bagi kesehatan. Akibat lain yang akan ditimbulkan dan dapat kita rasakan secara langsung adalah terjadinya perubahan suhu yang drastis, dimana panas, kotor, dan debu akan sangat terasa sekali.

Polusi udara bersumber sebagian besar dari aktifitas manusia. Sektor transportasi merupakan penyumbang terbesar polusi udara mengikuti sektor industri, rumah tangga dan sektor lainnya.  Maka dari itu, untuk menekannya diperlukan pohon ebangan pohon akan membawa kerugian sangat besar bagi kita. Dengan semakin sedikitnya pohon, maka akan sedikit polusi udara yang bisa teruraikan. Dan peluang bagi kita untuk menghirup udara kotor akan samakin besar.

Pelindung yang dapat menguraikan polusi udara sehingga jumlahnya dapat terkurangi. Dengan begitu, penebangan pohon akan membawa kerugian sangat besar bagi kita. Dengan semakin sedikitnya pohon, maka akan sedikit polusi udara yang bisa teruraikan. Dan peluang bagi kita untuk menghirup udara kotor akan samakin besar.

Meskipun demikian, kadang keberadaan pohon pelindung kadang dianggap sebagai sesuatu yang mengganggu sampai akhirnya ditebang begitu saja. Walaupun sebenarnya ada jalan keluar lain tanpa harus mengorbankan pohon, jika kita mau untuk sedikit memutar otak dengan berpikir lebih kreatif lagi.

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/lindungi-pohon-pelindung/feed/ 1
Kunang-Kunang, Mencari Pasangan Melalui Sandi Morse https://www.greeners.co/flora-fauna/kunang-mencari-pasangan-melalui-sandi-morse/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kunang-mencari-pasangan-melalui-sandi-morse https://www.greeners.co/flora-fauna/kunang-mencari-pasangan-melalui-sandi-morse/#respond Fri, 08 Feb 2013 02:46:01 +0000 http://www.greenersmagz.com/?post_type=grn_kehati&p=3331 Kunang-kunang (Pyractomena borealis) menggunakan cahaya kelap-kelip yang dihasilkannya untuk mencari pasangan. Keindahan cahaya kunang-kunang dipengaruhi oleh kualitas oksigen. Kadar oksigen yang kian menipis menyebabkan hewan ini sukar ditemukan di sekitar […]]]>

Kunang-kunang (Pyractomena borealis) menggunakan cahaya kelap-kelip yang dihasilkannya untuk mencari pasangan. Keindahan cahaya kunang-kunang dipengaruhi oleh kualitas oksigen. Kadar oksigen yang kian menipis menyebabkan hewan ini sukar ditemukan di sekitar kita. Agar tetap bisa menikmati keindahan cahaya kelap-kelipnya maka kita harus menjaga lingkungan dan kualitas oksigen pun tetap terjaga.

Oleh Feri ferdinan | Artikel ini diterbitkan pada edisi 05 Vol. 2 Tahun 2007

 

Malam ini bulan bersinar lebih terang, langit yang cerah membuat cahaya dari satelit Bumi itu jatuh dengan sempurna. Melihat hal itu, saya bergegas memadamkan lampu yang menyinari halaman belakang rumah. Kemudian saya kembali untuk menikmati bulan purnama yang akhir-akhir ini jarang terjadi. Ditemani secangkir teh hangat, riak air kolam di taman dan angin yang melambai lembut membuat saya tak ingin melepaskan keindahan malam ini.

Bintang pun tak ingin ketinggalan, mereka tersebar menghias angkasa nan luas berkelap-kelip seolah saling bersahutan satu sama lain. Namun tak lama berselang, segumpal mega yang berjalan lunglai sedikit demi sedikit menutupi bulan dan akhirnya lingkungan sekeliling saya menjadi gelap. Kecewa, tentu saja, pemandangan yang begitu indah harus sirna dengan alasan yang tak bisa kita cegah. Tetapi, di dalam kegelapan itu perhatian saya mulai tertuju pada benda di sekitar tetumbuhan liar yang hidup di samping kolam ikan. Benda itu memiliki cahaya yang berkedap-kedip, kemudian melayang-layang. Lalu yang paling membuat saya tertarik adalah jumlah mereka yang banyak.

Rasa penasaran itu membuat saya mendekatinya seraya memerhatikan dengan seksama. Ternyata benda bercahaya yang saya lihat tadi adalah kunang-kunang. Keistimewaannya adalah mereka mampu mengeluarkan cahaya sendiri, karena cahayanya itu binatang yang cukup familiar ini dianggap sering muncul dalam kegelapan. Jika kita menangkap salah satu dari mereka, lihatlah bagian perutnya yang mengeluarkan cahaya kelap-kelip. Hebat bukan?Cahaya yang dihasilkan kunang-kunang konon berfungsi untuk alat komunikasi, salah satunya digunakan untuk mencari pasangan. Teori ini kemudian diperkuat oleh para ilmuwan dalam Journal Behavioral Ecology edisi terbaru yang dikutip Kompas bahwa cahaya kelap kelip dari hewan bernama latin Pyractomena borealis ini ternyata digunakan pejantan untuk menarik perhatian betinanya, seperti halnya burung merak jantan menggoda sang betina dengan bulu-bulu moleknya.

Harun Yahya.com juga menyatakan bahwa kunang-kunang jantan menyalakan dan memadamkan cahayanya untuk mengirim pesan kepada sang betina. Pesan ini berisi kode tertentu. Kunang-kunang betina pun menggunakan kode yang sama untuk mengirim pesan balasan kepada sang jantan. Sebagai hasil dari pesan timbal-balik ini, sang jantan dan betina mendekat satu sama lain. Kemudian mereka akan melanjutkan kepada proses reproduksi untuk menghasilkan keturunan.

Kunang-kunang jantan yang mampu mengeluarkan sinar dalam waktu lebih lama akan mendapat kesempatan “berkencan” lebih banyak dan akhirnya akan cenderung menghasilkan keturunan lebih banyak pula. Hal senada diungkapkan oleh Profesor biologi di Tufts University, Sara Lewis dan tim-nya. Selain itu, serangga ini juga menunjukkan frekuensi seksual yang tinggi dalam masa dewasanya seperti halnya burung, rusa atau manusia.

Temuan lain yang cukup menarik adalah kunang-kunang betina yang kawin dengan kunang-kunang jantan yang bercahaya kuat akan memiliki lebih banyak keturunan. Hal itu membuahkan kesimpulan bahwa pancaran cahaya yang kuat berbanding lurus dengan nutrisi yang dimiliki kunang-kunang.

”Nutrisi yang disebut sebagai spermatophore ini menjadi semacam hadiah perkawinan bagi kunang-kunang betina,” jelas Lewis. “Spermatophore adalah paket berisi sperma dan protein yang ditransfer ke kunang-kunang betina. Makin banyak protein dan sperma yang dikandungnya, makin banyak pula telur yang dihasilkan betinanya.

Kunang-kunang hidup sebagai larva selama dua tahun. Dalam fase ini larva menghabiskan waktunya hanya untuk makan lalu tumbuh besar menjadi kunang-kunang. Setelah itu, kunang-kunang dewasa mempunyai waktu kurang lebih selama dua minggu untuk kawin dan bertelur, usai masa indah yang singkat itu kunang-kunang lalu mati.

“Kunang-kunang jantan menyalakan dan memadamkan cahayanya untuk mengirim pesan kepada sang betina”

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/kunang-mencari-pasangan-melalui-sandi-morse/feed/ 0