organics congress - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/organics-congress/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 28 Sep 2026 02:43:34 +0000 id hourly 1 Pendanaan untuk Pengelolaan Sampah Organik Dinilai Masih Terbatas https://www.greeners.co/berita/pendanaan-untuk-pengelolaan-sampah-organik-dinilai-masih-terbatas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pendanaan-untuk-pengelolaan-sampah-organik-dinilai-masih-terbatas https://www.greeners.co/berita/pendanaan-untuk-pengelolaan-sampah-organik-dinilai-masih-terbatas/#respond Mon, 28 Sep 2026 01:35:36 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=48827 Jakarta (Greeners) – Aliran pendanaan untuk pengelolaan sampah organik skala komunitas dan pengurangan emisi metana masih timpang. Padahal, dukungan pendanaan ini penting untuk memperkuat pengelolaan sampah sejak dari sumber sekaligus […]]]>

Jakarta (Greeners) – Aliran pendanaan untuk pengelolaan sampah organik skala komunitas dan pengurangan emisi metana masih timpang. Padahal, dukungan pendanaan ini penting untuk memperkuat pengelolaan sampah sejak dari sumber sekaligus mengurangi dampaknya terhadap perubahan iklim.

Sorotan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Kongres Regional Kedua tentang Organik dan Perubahan Iklim atau Organics Congress yang berlangsung di Jakarta pada 23–24 September 2026. Kongres ini menegaskan pentingnya pengelolaan sampah organik dari sumber sebagai bagian dari aksi iklim dan upaya mengurangi emisi metana.

Director of Climate Policy Initiative, Tiza Mafira, menyoroti ketimpangan aliran pendanaan untuk pengurangan metana di sektor sampah. Menurutnya, sebagian besar pendanaan masih mengarah pada waste-to-energy (WtE), sementara pengelolaan sampah organik memperoleh porsi yang jauh lebih kecil.

Padahal, pengalihan sampah organik dari tempat pemrosesan akhir (TPA) dapat menawarkan biaya investasi (capital expenditure/CAPEX) dan operasional (operational expenditure/OPEX) yang lebih rendah, termasuk jika dibandingkan dengan WtE.

“Lebih dari 90 persen pendanaan metana untuk sektor sampah mengalir ke proyek WtE. Sementara hanya sekitar 1 persen yang mengalir ke pengelolaan sampah organik. Perlu penguatan pendanaan untuk memperluas sistem, bukan hanya pilot project. Solusi zero waste yang secara lokal membutuhkan dukungan jangka panjang, sesuai dengan hierarki pengelolaan sampah,” kata Tiza dalam sesi pleno Organics Congress, Rabu (23/9).

Menurut Tiza, keterbatasan akses terhadap pembiayaan menyebabkan banyak inisiatif lokal sulit berkembang, meskipun telah berjalan dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Sistem desentralisasi juga menghadapi tantangan dalam mengakses pembiayaan konvensional. Sebab, skala usaha yang relatif kecil, keterbatasan aset, serta pendapatan yang tidak menentu.

Froilan Grate, GAIA Asia Pacific, Jet Suguitan, Municipal Environment and Natural Resources Officer (MENRO) for the Municipality of Pilar in Bataan Philippines, Carolina Urmeneta, Director for Waste/Circular Economy Global Methane Hub, David Sutasurya, Direktur Eksekutif Yayasan Pelestari Bumi Berkelanjutan (YPBB), Rahyang Nusantara, Co-Coordinator di Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI). Foto : Organic Congres

Pendanaan untuk Komunitas

Pembiayaan pengelolaan sampah juga perlu mengakui peran pekerja sampah dan komunitas dalam membangun sistem zero waste. Global Climate Policy Officer GAIA, Yobel Novian Putra mengatakan pekerja sampah tidak hanya berperan dalam pemulihan material yang memiliki nilai ekonomi. Mereka juga dapat menjadi bagian dari layanan pengumpulan dan pengolahan sampah organik yang mendapat dukungan pembiayaan sebagai layanan publik.

“Arus pendanaan untuk solusi pengelolaan sampah saat ini belum sebanding dengan kebutuhan. Bayangkan, sekitar US$4 miliar hanya untuk waste-to-energy. Bagaimana jika sebagian pendanaan itu dialihkan untuk memperkuat sistem zero waste yang dipimpin komunitas?” ujar Yobel.

Menurutnya, zero waste tidak hanya berkontribusi terhadap pengurangan sampah dan emisi metana. Sistem tersebut juga berpotensi menghemat biaya pengelolaan sampah serta memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan bagi masyarakat.

Direktur Eksekutif Yayasan Pelestari Bumi Berkelanjutan (YPBB), David Sutasurya, mengatakan sampah organik kerap dipandang sebagai persoalan perkotaan semata. Padahal, pengelolaannya memiliki keterkaitan dengan isu keadilan, pangan, dan perubahan iklim.

“Ketika sampah organik tidak dikelola dan masuk ke TPA, ia menghasilkan metana. Sebaliknya, ketika dikelola dari sumber, organik dapat dikembalikan ke tanah dan memperkuat sistem pangan lokal,” kata David.

Sistem Zero Waste Filipina

Praktik zero waste di tingkat komunitas bukanlah hal baru. Pengalaman Barangay Potrero di Filipina menjadi salah satu contoh bagaimana sistem pengelolaan sampah dapat terbangun dan bertahan di tingkat lokal.

Dengan sekitar 40.000 penduduk dan 11.000 rumah tangga, Potrero telah menjalankan sistem zero waste selama lebih dari satu dekade. Eidyl Khate Nolasco dari Barangay Potrero mengatakan salah satu tantangan terbesar adalah menjaga keberlanjutan sistem ketika dukungan proyek atau hibah berakhir.

“Mulailah dari sumber daya yang sudah ada, bangun sistemnya, dan buat zero waste menjadi bagian dari kelembagaan komunitas,” jelasnya.

Dengan demikian, keberlanjutan pengelolaan sampah di tingkat komunitas tidak hanya bergantung pada pendanaan awal. Kelembagaan lokal dan kemampuan untuk mengintegrasikan sistem pengelolaan sampah ke dalam layanan masyarakat juga menjadi penting. Harapannya supaya praktik tersebut dapat terus berjalan.

Sebagai informasi, Organics Congress telah mempertemukan pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, pekerja sampah, praktisi, akademisi, serta kelompok masyarakat dari berbagai negara di Asia. Lewat acara ini, seluruh pihak membahas pengelolaan sampah organik dari sumber sebagai bagian dari aksi iklim dan upaya mengurangi emisi metana.

Dietplastik Indonesia, Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI), dan GAIA Asia Pacific sebagai penyelenggara kongres ini. Tujuannya melanjutkan fondasi yang telah terbangun melalui Kongres Regional Pertama di Bengaluru, India, pada 2024.

Menjelang COP31, kongres ini menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman lokal dengan agenda iklim regional. Forum tersebut juga mendorong komitmen terhadap Ikrar Metana Daerah (Cities Methane Pledge) untuk mempercepat perubahan dari sistem kumpul-angkut-buang menuju sistem yang mencegah timbulan sampah, memilah sejak sumber, serta mengolah sampah organik sedekat mungkin dengan sumbernya.

Penulis: Dini Jembar Wardani

]]>
https://www.greeners.co/berita/pendanaan-untuk-pengelolaan-sampah-organik-dinilai-masih-terbatas/feed/ 0