organisasi pangan dan pertanian - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/organisasi-pangan-dan-pertanian/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 02 Mar 2015 14:37:31 +0000 id hourly 1 Indonesia, Ayo Mandiri Pangan dari Sekarang! https://www.greeners.co/gaya-hidup/indonesia-ayo-mandiri-pangan-dari-sekarang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=indonesia-ayo-mandiri-pangan-dari-sekarang https://www.greeners.co/gaya-hidup/indonesia-ayo-mandiri-pangan-dari-sekarang/#respond Wed, 12 Jun 2013 06:30:51 +0000 http://www.greenersmagz.com/?post_type=grn_feature&p=3628 Cerita kesuksesan swa sembada pangan yang pernah terjadi di masa pemerintahan Presiden Soeharto di era 1980-an ternyata masih terasa hingga sekarang. Walau bentuknya bukan limpahan beras yang mudah didapat masyarakat, […]]]>

Cerita kesuksesan swa sembada pangan yang pernah terjadi di masa pemerintahan Presiden Soeharto di era 1980-an ternyata masih terasa hingga sekarang. Walau bentuknya bukan limpahan beras yang mudah didapat masyarakat, namun sisa-sisanya tetap saja masih terasa di sebagian kelompok masyarakat. Apa itu?

 

Jika Anda pergi ke kawasan Indonesia bagian Timur, disana ada sejumlah kawasan yang punya cerita kontras tentang masa lalu dan masa kini. Masa lalu saat beras begitu mudah didapat dengan harga sangat terjangkau dan masa kini yang berbalik sangat jauh. Walaupun, beras masih bisa didapat, namun dengan harga tidak terjangkau.

Di Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur misalnya. Disana ada seorang perempuan tangguh bernama Rofiah yang dijuluki pejuang pangan lokal oleh organisasi nirlaba Oxfam.

Rofiah bercerita, pada 1983 silam atau sekitar 30 tahun lalu, warga di kampungnya masih terbiasa bercocok tanam umbi-umbian dan berkebun jagung sebagai komoditas utama pertanian. Namun, tidak lama berselang saat itu pemerintah gencar membagikan benih padi gratis untuk ribuan hektare lahan kepada para petani. Hasilnya, semuanya serentak beralih ke pertanian sawah.

Meski di tahun pertama warga sukses mendapat hasil panen yang melimpah, namun secara perlahan mereka mulai diserang berbagai masalah seperti hama yang membuat hasil panen menurun. Puncaknya, di tahun kelima, para petani mulai merasakan gagal panen dan berdampak pada penurunan kualitas hidup hingga terjadilah bencana kelaparan.

***

Cerita Rofiah tersebut cukup menjadi gambaran betapa revolusi pangan hijau yang dicanangkan pemerintah saat itu justru berdampak buruk hingga menimbulkan masalah sosial baru. Untuk pembelajaran di masa kini, semua pihak harus sama-sama menyadari bahwa konsep budidaya pangan yang sukses itu tidak harus disamaratakan antara satu daerah dengan daerah yang lain.

Menurut Nazla Mariza, Campaign and Advocacy Coordinator Oxfam, jika kesadaran itu tidak tumbuh dan diperbaiki, ancaman kesulitan pangan akan semakin besar dirasakan oleh masyarakat yang sebenarnya berstatus produsen pangan lokal.

“Mereka tersebar di seluruh Indonesia. Ada yang petani atau nelayan. Mereka semua harus paham bahwa memenuhi pangan sendiri itu harus dilakukan dengan tangan mereka sendiri dan dengan cara yang benar. Itu namanya kampanye keadilan pangan,” ujar Oxfam saat diwawancara Greeners.

Nazla kemudian menjelaskan, pentingnya memberi pemahaman kepada para produsen pangan lokal seperti petani atau nelayan, karena memang posisi mereka sangat penting untuk memasok ketersediaan pangan di daerahnya. Dia mengulas hasil riset sebuah lembaga survei yang menyebutkan, dari 1 miliar orang kelapara di dunia ini, 70 persen diantaranya adalah produsen pangan lokal.

Jika itu bisa diwujudkan, Nazla optimis produsen pangan lokal benar-benar akan menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri. Mereka tidak hanya sekedar memproduksi pangan, tapi juga memasarka dan sekaligus mengonsumsinya.

Dia menambahkan, selain fokus pada kampanye produksi pangan lokal dan desa membangun, dia juga ingin memberdayakan seluruh perempuan yang ada di masing-masing daerah untuk ikut berpartisipasi. Dia yakin, perempuan memegang peranan penting dalam penciptaan rantai produksi pangan.

“Perempuan itu berperan besar. Mereka memproduksi, memanen dan ikut memasarkan. Jadi, perempuan harus terlibat dalam kampanye ini,” ujar Nazla.

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/indonesia-ayo-mandiri-pangan-dari-sekarang/feed/ 0
Prilla Tania: Memancing Kesadaran Pangan Lewat Seni https://www.greeners.co/ide-inovasi/prilla-tania-memancing-kesadaran-pangan-lewat-seni/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=prilla-tania-memancing-kesadaran-pangan-lewat-seni https://www.greeners.co/ide-inovasi/prilla-tania-memancing-kesadaran-pangan-lewat-seni/#respond Wed, 05 Jun 2013 08:42:20 +0000 http://www.greenersmagz.com/?post_type=grn_interview&p=3604 Jakarta (Greeners) – Ketahanan pangan saat ini menjadi isu penting yang digaungkan masyarakat dunia, lahir dari keprihatinan rusaknya lingkungan dan kondisi bumi yang semakin kritis. Pertambahan penduduk yang pesat dan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Ketahanan pangan saat ini menjadi isu penting yang digaungkan masyarakat dunia, lahir dari keprihatinan rusaknya lingkungan dan kondisi bumi yang semakin kritis. Pertambahan penduduk yang pesat dan tingginya kebutuhan pangan berbanding terbalik dengan ketersediaannya.

Ancaman kekurangan pangan semakin jelas di depan mata. Oleh karena itu, Badan Dunia untuk Lingkungan (UNEP) menyoroti pangan sebagai tema Hari Lingkungan Hidup (HLH) 2013 yaitu think.eat.save. Kampanye global HLH tentang makanan ini didasari atas kenyataan bahwa setiap tahun ada satu miliar ton makanan terbuang percuma menurut data UNEP.

Kampanye think.eat.save yang didukung Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) berkeinginan untuk mengurangi kehilangan makanan pada seluruh rantai produksi pangan dan konsumsi, dan secara khusus menargetkan pengurangan makanan yang terbuang oleh konsumen, pengecer dan industri perhotelan.

Direktur Eksekutif UNEP Achim Steiner mengatakan penduduk dunia akan berkembang dari tujuh miliar orang saat ini, menjadi sembilan miliar orang pada tahun 2050. Maka  membuang-buang makanan menjadi hal yang tidak etis, tidak masuk akal baik dari sisi ekonomi maupun lingkungan.

Saat ini jumlah penduduk dunia mencapai tujuh miliar dan diperkirakan pada 2020 menjadi sembilan miliar, dengan bertambahnya jumlah penduduk itu akan menyebabkan jumlah limbah yang terus meningkat.

Limbah yang besar itu jika tidak dikendalikan dengan baik dapat mengibatkan kerusakan lingkungan, emisi gas rumah kaca, pemanasan global, dan masalah lingkungan lainnya. Limbah itu dihasilkan mulai dari berlangsungnya proses produksi dan konsumsi yang tidak efisien menyebabkan produksi juga yang terus-menerus.

Kekhawatiran itu juga dirasakan Prilla Tania, seniman yang lewat karya-karyanya menyuarakan ajakan dan membangkitkan kesadaran akan pentingnya masalah pangan.

Prilla mempersembahkan karyanya dalam pameran tunggal bertajuk “E” yang digelar di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, Jawa Barat,  pada 19 April hingga 11 Mei lalu.  Karya-karya seni hasil keterampilan perupa lulusan Studio Patung Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung itu menggunakan berbagai media seperti instalasi, video dan mural.

“Sudah dua tahun terakhir ini karya saya fokus ke masalah pangan karena saya pikir ini persoalan menarik dan ada masalah disitu,” ujar perupa kelahiran Bandung tersebut. Karyanya cenderung sederhana dan bukan abstrak agar mudah dimengerti bahkan oleh anak-anak sekalipun sehingga pesannya tersampaikan.

greeners-interview-prilla-tania-02

Menjadi “Trigger”

Ide besar dari karyanya berawal dari pemikiran mengenai sampah. Namun setelah dipikirkan dengan matang, sampah hanyalah akhir dari sebuah proses konsumsi. “Karya-karya saya sederhana, awalnya masalah sampah dan energi tapi pemenuhan energi manusia yang dasar sekali adalah makanan. Sebagian besar makanan kita masih impor dan harus diproses,” jelas Prilla.

Lewat materi kertas dan narasi-narasi kecil, karya-karyanya menampilkan bagaimana persoalan pangan memiliki relevansi yang erat dengan masalah energi. Misalnya dalam sebuah karyanya, Prilla menunjukkan bagaimana proses sofistikasi produksi dan konsumsi pangan melibatkan penggunaan energi yang besar seperti pada industri pertanian, pengemasan, distribusi dan praktik pertambangan.

Meskipun selintas dianggap sebagai masalah sederhana, namun menurutnya sangat kompleks karena membentuk ekosistem berkesinambungan. Disinilah pentingnya perubahan perilaku tidak konsumtif dan memanfaatkan bahan pangan yang ada di sekitar kita. Ajakan Prilla untuk lebih peduli masalah pangan bukan hanya sebatas pada karya seninya semata, tapi juga diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Prilla memulai dengan mengurangi makanan impor. Dia mengaku sudah sekitar sepuluh tahun tidak mengkonsumsi mie instan. “Saya mengurangi bahkan saat ini berusaha tidak mengkonsumsi makanan berbahan dasar gandum karena masih impor. Kesadaran untuk memilih pangan tidak serta merta dan awalnya lebih kepada alasan kesehatan,” tambah dia.

Selain mengurangi makanan impor termasuk buah karena ia lebih memilih mengkonsumsi buah lokal, Prilla juga memilih berbelanja di pasar tradisional untuk mendapat produk pangan segar dan hasil tanaman petani lokal. Begitu juga dengan air mineral, ia berusaha tidak meminum air dalam kemasan karena kemasan plastiknya akan menambah jumlah sampah. Termasuk mengurangi makanan kemasan.

“Saya hanya makan seperlunya. Saya pikir dengan makan seperlunya tidak akan menghasilkan sampah dan itu juga langkah menghemat energi,” jelas Prilla. Melalui pameran tunggalnya, Prilla mengharapkan bisa membangkitkan ingatan dan menjadi “trigger” bagi orang-orang bahwa masalah pangan merupakan persoalan besar yang akan dihadapi semua orang. “Pameran ini hanya ingin mengingatkan orang-orang yang sebenarnya sudah tahu tapi penganggap itu bukan masalah,” ujar dia.

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/prilla-tania-memancing-kesadaran-pangan-lewat-seni/feed/ 0