pelestarian sumber air - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/pelestarian-sumber-air/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sun, 17 Jan 2021 07:28:45 +0000 id hourly 1 Sembilan Langkah untuk Mulai Gaya Hidup Hemat Air https://www.greeners.co/gaya-hidup/5-langkah-membiasakan-hemat-air/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=5-langkah-membiasakan-hemat-air https://www.greeners.co/gaya-hidup/5-langkah-membiasakan-hemat-air/#respond Sat, 05 Dec 2020 10:00:40 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=16373 Sadar atau tidak, sikap boros dan tidak memperhatikan kelestarian lingkungan membuat lingkungan mengalami penurunan kualitas yang akhirnya juga berdampak pada ketersediaan air bersih. Oleh karena itu, perlu bagi kita untuk mulai membiasakan hemat air.]]>

Meskipun tergolong ke dalam sumber daya alam yang dapat diperbarui, sumber air bersih juga perlu dijaga kelestariannya. Mayoritas air, tepatnya 97,5% air dunia terkunci di lautan dan samudra yang terlalu asin untuk manusia. Dan sebagian besar dari 2,5% sisanya ada di lapisan es. Manusia bergantung pada sedikit yang tersedia sebagai air tawar. Untuk itu, kita harus selalu menerapkan gaya hidup yang hemat air. 

Sadar atau tidak, sikap boros dan tidak memperhatikan kelestarian lingkungan membuat lingkungan mengalami penurunan kualitas yang akhirnya juga berdampak pada ketersediaan air bersih. Padahal, manusia membutuhkan air bersih untuk mendukung aktivitasnya setiap hari.

Tips Memulai Gaya Hidup Hemat Air

1. Matikan Air Saat Sikat Gigi

Jangan sampai konsumsi air Anda lepas kendali. Hemat 6 liter air per menit dengan mematikan keran saat Anda menyikat gigi. Dengan mematikan air saat menyikat gigi, Anda menghemat 60 liter air yang mengalir langsung ke saluran pembuangan setiap minggu.

2. Hemat Air dengan Memilih Diet Anda dengan Lebih Bijaksana

Peternakan hewan untuk produksi daging merah dan produk susu menggunakan air yang begitu melimpah. Begitu juga dengan perkebunan alpukat yang tidak berkelanjutan karena boros air. Dengan demikian, apabila Anda mengurangi konsumsi daging, produsk susu, serta makanan yang menggunakan terlalu banyak air, Anda dengan serta-merta telah memangkas penggunaan sumber daya yang tak ternailai harganya ini. Tidak hanya itu, Anda juga akan membantu melindungi iklim. Industri daging dan susu merupakan kontributor besar pemanasan global.

3. Jangan Buang Makanan!

Tahukah Anda betapa banyak air yang terbuang untuk produksi makanan sehari-hari Anda? Di Inggris, setengah dari 7 juta ton makanan dan minuman rumah tangga terbuang harusnya tidak berakhir di tempat sampah. Negara yang sama merekan, membuang lebih sedikit makanan dapat menghemat £ 540 setahun.

4.  Tidak Berlama-lama saat Mandi

Bagi sebagian orang, mandi merupakan kegiatan yang menyenangkan. Bahkan, karena sangat menyegarkan, tidak jarang membersihkan badan dilakukan sambil melakukan kegiatan lain, misalnya bernyanyi. Namun kebiasaan seperti ini akan menghabiskan banyak air bersih.

Pada umumnya, kita mandi selama 10 menit. Selama itu pula, air mengalir dari shower yang kita gunakan kurang lebih mencapai 300 liter pada satu kali mandi. Jumlah yang sangat banyak, bukan? Oleh karena itu, jika kita mempersingkat waktu mandi menjadi 2-3 menit lebih cepat, kita dapat menghemat air bersih sebanyak 30 hingga 70 liter.

5. Pilih Kloset dengan Sistem Dua Tombol Flush

Perkembangan desain di dunia hampir dapat diterapkan pada seluruh produk komersial, tidak terkecuali kloset. Hal ini dapat dilihat dengan maraknya isu konservasi air, sistem penyiraman atau flushing pada kloset ikut berkembang menjadi lebih efisien. Desain kloset modern ini dapat dilihat dari adanya dua buah tombol flush dengan ukuran yang berbeda.

Masing-masing tombol tersebut memiliki perbedaan yaitu perbandingan banyaknya air yang disiram. Untuk itu, tombol yang lebih kecil atau single flush digunakan untuk menyiram setelah buang air kecil. Sementara tombol besar atau double flush dipakai untuk membersihkan feses. Oleh karena itu, berkaitan dengan efisiensi air, seharusnya kita tidak asal pencet tombol dan bisa lebih bijaksana dalam menggunakan fitur flush yang telah disediakan.

Hemat air dengan dua tombol flush.

Ternyata dua tombol flush yang ada pada toilet dapat membantu menghemat air ketika buang air. Foto: Shutterstock.

6. Periksa Keran Air dan Pipa dari Kebocoran

Walaupun hanya berupa tetesan, air terbuang dari keran yang bocor bisa mencapai 35 liter per hari. Untuk itu, alangkah baiknya jika kita mengecek kondisi keran air, pipa dan toilet secara berkala agar tidak membuang-buang air.

7. Menampung Air Hujan

Menampung air hujan dapat memberikan banyak manfaat. Selain untuk memiliki cadangan air, kamu dapat menggunakannya untuk berbagai keperluan rumah. Misal, kamu bisa menyiram tanaman, membersihkan teras, atau mencuci kendaraan dengan air tampungan tersebut.

8. Menanam Tanaman Adaptif

Walaupun perlu menyiram setiap hari, penghijauan lingkungan hidup dengan berkebun masih dapat dilakukan dengan beberapa trik. Misal, jika tempat tinggalmu berada di daerah kering, kamu masih bisa merawat tanaman tahan suhu panas seperti kaktus. Atau, jika kamu menanam rumput di halaman rumah, pastikan untuk menyiramnya di pagi hari. Hal ini akan mencukupi kebutuhan air tanaman agar tidak cepat menguap di siang hari.

9. Beralih dari Selang untuk Sirami Tanaman 

Lebih baik untuk sirami taman Anda dengan gayung daripada selang. Sebuah selang dapat menggunakan 1.000 liter air dalam satu jam. Selain itu, sirami tanaman Anda di pagi dan sore hari untuk mengurangi penguapan dan juga menghemat air.

Yuk, mulai membiasakan hemat air sejak sekarang dan menjaga kelestarian sumber air.

Penulis: Ayu Ratna Mutia

Editor: Ixora Devi

Friends of Earth

Forbes

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/5-langkah-membiasakan-hemat-air/feed/ 0
Tirai Shower yang Memaksa Orang Mandi 4 Menit https://www.greeners.co/ide-inovasi/tirai-shower-memaksa-orang-mandi-4-menit/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tirai-shower-memaksa-orang-mandi-4-menit https://www.greeners.co/ide-inovasi/tirai-shower-memaksa-orang-mandi-4-menit/#respond Wed, 08 Feb 2017 10:13:16 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=15868 Elisabeth Buecher, seniman asal New Zealand telah menciptakan tirai shower unik yang dinamakan “Spike”. Tirai tersebut terdiri dari "duri-duri" panjang yang akan mengembang ketika pemiliknya mandi lebih dari empat menit.]]>

Berlama-lama ketika mandi dibawah shower adalah suatu kegiatan yang menyenangkan. Badan akan menjadi rileks dan pikiran stres pun ikut hanyut bersama dengan air yang mengalir ke pipa pembuangan.

Namun sobat Greeners harus menyadari, mandi berlama-lama sehingga air yang terbuang lebih banyak dari yang semestinya bisa berdampak buruk terhadap ketersediaan air bersih. Organisasi lingkungan Save the Water melansir jika tiap harinya rata-rata warga Amerika Serikat menghabiskan 2000 galon air, sedangkan di belahan dunia ketiga, perempuan Afrika rata-rata harus berjalan 6,4 km tiap harinya hanya membawa 20 liter air untuk dikonsumsi.

Salah satu cara menghemat air adalah dengan memangkas waktu santai sobat Greeners ketika mandi – yang tadinya berkisar 10-15 menit hanya menjadi empat menit saja. Pemangkasan durasi tersebut cukup untuk menghemat 30 galon air tiap harinya, namun apakah empat menit waktu yang cukup?

Elisabeth Buecher, seniman asal New Zealand telah menciptakan tirai shower unik yang dinamakan “Spike”. Tirai tersebut terdiri dari “duri-duri” panjang yang akan mengembang ketika pemiliknya telah mandi lebih dari empat menit.

Di New Zealand sendiri, “Spike” tidak hanya digunakan untuk menghemat air, pemanas air yang umum dipakai masyarakat New Zealand juga turut andil dalam meningkatkan tagihan listrik. Padahal, 15% energi listrik masih dihasilkan melalui bahan bakar fosil, dan konsumsi energi tersebut akan mencapai puncaknya saat pagi atau sore; dimana orang-orang sedang mandi sehingga cara tersebut merupakan jalan terbaik untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil di New Zealand.

Penulis: MFA/G41

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/tirai-shower-memaksa-orang-mandi-4-menit/feed/ 0
ESDM: Eksplorasi Panas Bumi Tidak Akan Ancam Kelestarian Mata Air Pegunungan https://www.greeners.co/berita/esdm-eksplorasi-panas-bumi-tidak-ancam-kelestarian-mata-air-pegunungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=esdm-eksplorasi-panas-bumi-tidak-ancam-kelestarian-mata-air-pegunungan https://www.greeners.co/berita/esdm-eksplorasi-panas-bumi-tidak-ancam-kelestarian-mata-air-pegunungan/#respond Fri, 11 Nov 2016 02:30:53 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=15166 Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa pengerjaan eksplorasi pembangkit listrik panas bumi tidak akan mengancam ekosistem mata air di pegunungan.]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa pengerjaan eksplorasi pembangkit listrik panas bumi tidak akan mengancam ekosistem mata air di pegunungan.

Direktur Panas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Yunus Saefulhak mengatakan bahwa teknis pengerjaan panas bumi tidak akan mengancam mata air karena dari sumur yang dibor hanya akan keluar uap dan air. Uap tersebut yang nantinya akan menggerakkan turbin, lalu air yang keluar akan diinjeksikan kembali ke sumur sedalam 2.500 hingga 3.000 meter.

Uap yang menggerakkan turbin tersebut, lanjutnya, akan didinginkan kembali menjadi air dan dikembalikan ke dalam bumi. Proses sirkulasinya berlangsung tertutup dan seluruh yang diambil akan kembali lagi ke dalam perut bumi.

Selain itu, katanya, pengusaha panas bumi sudah pasti akan menjaga lingkungan di mana ia beroperasi. Menurutnya, pengusaha panas bumi membutuhkan air untuk proses kerja pembangkit tersebut, jadi sudah pasti pengusaha akan menjaga lingkungan khususnya di permukaan di mana mereka akan beroperasi.

“Kalau mata air itu tidak mungkin rusak ya, karena kedalaman panas bumi ini kan 2.500 sampai 3.000 meter, kalau mata air kan tidak ada yang di kedalaman seperti itu. Mata air paling 200 sampai 300 meter saja dan tidak ada hubungannya antara air permukaan dengan air yang ada di (kedalaman) 2.500 meter itu,” jelasnya kepada Greeners, Jakarta, Kamis (10/11).

BACA JUGA: Walhi: Proyek Panas Bumi Ancam Sumber Mata Air

Yunus memberikan contoh proses pengerjaan proyek panas bumi di Wayang Windu dan Pembangkit Listrik Teknologi Panas Bumi (PLTP) Kamojang. Menurutnya, pembangkit listrik Wayang Windu yang dioperasikan oleh Star Energy di Jawa Barat merupakan salah satu pembangkit listrik panas bumi terbesar di Indonesia dengan kapasitas terpasang saat ini sebesar 227 MW atau 16 persen dari produksi panas bumi untuk listrik nasional. Pembangkit listrik ini masih bisa beroperasi hingga saat ini tanpa merusak mata air dan lingkungan di sekitarnya.

Terkait permintaan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur yang menginginkan agar pemerintah mengkaji ulang rencana eksplorasi panas bumi di beberapa gunung di Indonesia, termasuk belasan gunung di Jawa Timur, khususnya kawasan gunung Lawu, Yunus berdalih bahwa pihaknya telah melakukan berbagai sosialisasi kepada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Jawa Timur untuk pelaksanaan eksplorasi panas bumi di wilayah tersebut.

“Kami sudah melakukan sosialisasi bersama dengan Kepala Dinas terkait di sana sampai akhirnya kami mendapatkan pemenang lelang yaitu Pertamina Geothermal Energy untuk mengerjakan eksplorasi panas buminya. Ketika kita di sana tidak ada penolakan, semua baik-baik saja. Jadi saya tidak tahu kalau ternyata ada isu penolakan ini. Tapi saya sih maklum panas bumi ini kan juga pasti banyak politiknya. Jadi kita tetap pada jalurnya saja. Kita terus sosialisasikan energi terbarukan ini,” katanya.

BACA JUGA: Aktivis Lingkungan Juga Tolak Eksplorasi Panas Bumi di Gunung Lemongan

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Walhi Jatim Rere Christanto meminta pemerintah mengkaji ulang rencana eksplorasi panas bumi di beberapa gunung di Indonesia, termasuk belasan gunung di Jawa Timur.

“Panas bumi dalam praktiknya membutuhkan air dengan jumlah besar untuk menghasilkan uap yang menggerakkan turbin,” kata Rere saat dihubungi Greeners, Selasa (08/11).

Menurut Rere, di kawasan Jawa Timur ada belasan wilayah usaha pertambangan untuk panas bumi seperti di Gunung Lawu, Arjuno-Welirang, Bromo, Lemongan, Wilis, Ijen, dan beberapa gunung lainnya. Kawasan gunung ini merupakan tempat-tempat yang menjadi pusat sumber-sumber mata air dan dimanfaatkan oleh masyarakat di sekitar gunung tersebut. “Penggunaan air dalam jumlah besar pasti mematikan sumber mata air,” ujarnya.

Rere menegaskan, masyarakat yang berada di sekitar gunung yang menjadi lokasi rencana proyek eksplorasi panas bumi, juga menolak proyek tersebut. Seperti yang dilakukan masyarakat di sekitar Gunung Lemongan, Lumajang, dan warga sekitar Gunung Lawu. Di Lawu, proyek panas bumi disayangkan oleh sebagian besar masyarakat di lereng Gunung Lawu. Warga menilai, selama ini Gunung Lawu merupakan gunung yang disakralkan oleh masyarakat yang bermukim di lereng Lawu, baik yang masuk wilayah Jawa Timur maupun Jawa Tengah.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/esdm-eksplorasi-panas-bumi-tidak-ancam-kelestarian-mata-air-pegunungan/feed/ 0
Walhi: Proyek Panas Bumi Ancam Sumber Mata Air https://www.greeners.co/berita/walhi-proyek-panas-bumi-ancam-sumber-mata-air/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=walhi-proyek-panas-bumi-ancam-sumber-mata-air https://www.greeners.co/berita/walhi-proyek-panas-bumi-ancam-sumber-mata-air/#respond Tue, 08 Nov 2016 12:42:40 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=15146 Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur meminta pemerintah mengkaji ulang terkait rencana eksplorasi panas bumi di beberapa gunung di Indonesia, termasuk belasan gunung di Jawa Timur.]]>

MALANG (Greeners) – Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur meminta pemerintah mengkaji ulang terkait rencana eksplorasi panas bumi di beberapa gunung di Indonesia, termasuk belasan gunung di Jawa Timur. Direktur Eksekutif Walhi Jatim Rere Christanto menyatakan, proyek panas bumi harus dikaji lagi secara mendalam sebelum dilaksanakan.

“Panas bumi dalam praktiknya membutuhkan air dengan jumlah besar untuk menghasilkan uap yang menggerakkan turbin,” kata Rere saat dihubungi Greeners, Selasa (08/11).

Menurut Rere, di kawasan Jawa Timur ada belasan wilayah usaha pertambangan untuk panas bumi seperti di Gunung Lawu, Arjuno-Welirang, Bromo, Lemongan, Wilis, Ijen, dan beberapa gunung lainnya. Kawasan gunung ini merupakan tempat-tempat yang menjadi pusat sumber-sumber mata air dan dimanfaatkan oleh masyarakat di sekitar gunung tersebut. “Penggunaan air dalam jumlah besar pasti mematikan sumber mata air,” ujarnya.

BACA JUGA: DPR RI Usulkan Pembentukan BUMN Khusus Panas Bumi

Rere menegaskan, meski pemerintah berdalih bahwa panas bumi merupakan salah satu sumber energi yang lebih baik dari batu bara, namun pelaksanaannya perlu dikaji lebih mendalam terkait potensi kerusakan sumber mata air dan potensi gesekan sosial dengan masyarakat sekitar serta dampak amblesan tanah.

Masyarakat yang berada di sekitar gunung yang menjadi lokasi rencana proyek eksplorasi panas bumi, lanjutnya, juga menolak proyek tersebut. Seperti yang dilakukan masyarakat di sekitar Gunung Lemongan, Lumajang, dan warga sekitar Gunung Lawu.

Di Lawu, proyek panas bumi disayangkan oleh sebagian besar masyarakat di lereng Gunung Lawu. Warga menilai, selama ini Gunung Lawu merupakan gunung yang disakralkan oleh masyarakat yang bermukim di lereng Lawu, baik yang masuk wilayah Jawa Timur maupun Jawa Tengah.

BACA JUGA: Pengembangan Panas Bumi, KLHK dan ESDM Harus Bekerjasama

Salah satu tokoh masyarakat Ngargoyoso, Karanganyar, Joko Sunarto menyampaikan, warga sekitar Lawu sangat menjunjung tinggi kearifan lokal yang sudah turun-temurun. Berbagai jenis tanaman obat juga banyak ditemukan di Lawu serta beragam flora dan fauna.

Joko menyarankan rencana eksplorasi Lawu dibatalkan karena saat ini Lawu tengah dalam masa pemulihan pasca kebakaran hebat beberapa waktu lalu. Selain itu, kata Joko, Gunung Lawu memberikan sumber kehidupan bagi masyarakat sekitarnya.

“Sumber airnya menghidupi warga di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Keberadaan Lawu harus tetap dijaga,” kata Joko.

Menurutnya, air merupakan sumber utama kehidupan dan proyek panas bumi pasti membutuhkan air yang tidak sedikit. “Kekeringan akan mengancam wilayah sekitar Lawu,” pungkasnya.

Sebelumnya, Pertamina Geothermal Energy (PGE) memenangkan lelang pengelolaan wilayah kerja panas bumi (WKP) Gunung Lawu senilai 165 megawatt (MW). Hal ini secara resmi telah diumumkan dalam Berita Acara Penetapan Hasil Evaluasi Dokumen Penawaran Tahap Kedua Pelelangan WKP Gunung Lawu yang ditetapkan pada tanggal 23 Desember 2015 lalu. Pemerintah menargetkan PLTPB di Gunung Lawu dapat beroperasi pada tahun 2020.

Penulis: HI/G17

]]>
https://www.greeners.co/berita/walhi-proyek-panas-bumi-ancam-sumber-mata-air/feed/ 0
5 Cara Inovatif Mengumpulkan Air Hujan https://www.greeners.co/ide-inovasi/5-cara-inovatif-mengumpulkan-air-hujan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=5-cara-inovatif-mengumpulkan-air-hujan https://www.greeners.co/ide-inovasi/5-cara-inovatif-mengumpulkan-air-hujan/#respond Sat, 30 Jul 2016 07:11:00 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=14363 Dengan perubahan iklim yang semakin meningkat, air menjadi komoditas yang semakin penting di berbagai negara di dunia. Berikut ini lima cara sederhana yang bisa dilakukan oleh individu maupun komunitas untuk mengumpulkan dan menggunakan kembali air hujan.]]>

Dari daerah yang selalu panas seperti Kalifornia sampai ke daerah yang jarang kering di Massachucsetts, Amerika, air hujan merupakan sumber alam yang berharga. Ketika kekeringan melanda Afrika Timur dan ketika air tanah menipis di India, dengan perubahan iklim yang semakin meningkat, air menjadi komoditas yang semakin penting di berbagai negara di dunia.

Sangat penting untuk memahami bagaimana sumber air ini bisa digunakan lebih baik. Dikutip dari inhabitat.com, berikut ini lima cara sederhana yang bisa dilakukan oleh individu maupun komunitas untuk mengumpulkan dan menggunakan kembali air hujan.

Foto: inhabitat.com

Foto: inhabitat.com

1. Memasang drum penampung air hujan
Cara ini merupakan cara yang paling sederhana dan bisa dilakukan dalam skala rumahtangga sehingga air hujan bisa dipakai untuk menyirami tanaman. Saking mudahnya cara ini, di Colorado yang kering, mengumpulkan air hujan dengan cara ini sempat dilarang oleh hukum karena mengakibatkan berkurangnya air yang mengalir ke daerah yang lebih rendah.

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/5-cara-inovatif-mengumpulkan-air-hujan/feed/ 0
Warga Batu Minta Presiden Lindungi Hulu DAS Brantas https://www.greeners.co/berita/warga-batu-minta-presiden-lindungi-hulu-das-brantas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=warga-batu-minta-presiden-lindungi-hulu-das-brantas https://www.greeners.co/berita/warga-batu-minta-presiden-lindungi-hulu-das-brantas/#respond Thu, 21 Jan 2016 06:39:56 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=12592 Warga Kota Batu yang berasal dari empat desa dari Kota Batu, Jawa Timur membawa kasus ancaman Sumber Air Gemulo ke Presiden Joko Widodo.]]>

Malang (Greeners) – Warga Kota Batu yang berasal dari empat desa, Desa Bulukerto, Desa Bumiaji, Desa Pandan Rejo, Kecamatan Bumiaji dan Desa Sidomulyo, Kecamatan Batu, Kota Batu, Jawa Timur membawa kasus ancaman Sumber Air Gemulo ke Presiden Joko Widodo.

Warga yang tergabung dalam Forum Masyarakat Peduli Mata Air (FMPMA) ini juga didampingi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi). Mereka sudah lebih dari lima tahun memperjuangkan sumber mata air Gemulo atas ancaman pembangunan hotel The Rayja oleh PT Panggon Sarkarya Sukes Mandiri.

Sumber air Gemulo menjadi satu-satunya sumber air yang menghidupi 9.000 Kepala Keluarga di empat desa. Sumber air Gemulo ini merupakan salah satu dari belasan mata air yang tersisa di kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas.

Direktur Eksekutif Walhi Jawa Timur Ony Mahardika, menyampaikan, perjuangan menyelamatkan sumber air Gemulo oleh warga Kota Batu sudah lima tahun lebih. Saat ini proses hukumnya telah masuk Mahkamah Agung Republik Indonesia.

Pada tahun 2013, PT Panggon Sarkarya Sukses Mandiri mengajukan gugatan hukum pada masyarakat FMPMA yang menolak pembangunan hotel dengan dalil gugatan masyarakat telah menghalang-halangi pembangunan. Gugatan disidangkan di Pengadilan Negeri Malang dan diputuskan gugatan perusahaan ditolak, begitu juga putusan banding di Pengadilan Tinggi Surabaya, masyarakat dimenangkan.

Penolakan masyarakat berdasarkan postur bangunan hotel The Rayja oleh PT Panggon Sarkarya Sukes Mandiri yang mengambil air dengan cara mengebor air tanah. Cara ini dikawatirkan akan merusak saluran hidrologi. Pembangunan tersebut juga bertentangan dengan tata ruang Kota Batu.

Teten Masduki, Kepala Staf Khusus Presiden RI (tengah) menemui perwakilan warga dari tiga desa asal Batu, Jatim yang memperjuangkan Sumber Air Gemulo di Istana Negara, Jakarta, pada Rabu (20/01). Foto: dok. WALHI

Teten Masduki, Kepala Staf Khusus Presiden RI (tengah) menemui perwakilan warga dari tiga desa asal Batu, Jatim yang memperjuangkan Sumber Air Gemulo di Istana Negara, Jakarta, pada Rabu (20/01). Foto: dok. WALHI

Sekira 200 warga desa sejak Selasa (19/01) sudah berangkat ke Jakarta untuk menemui beberapa lembaga untuk menggelar aksi solidaritas. Mereka berencana mendatangi Komisi III DPR RI, Ketua Mahkamah Agung RI, dan Kantor Staf Kepresidenan.

Kemudian, sebanyak 47 warga pada Rabu, 20 Januari 2015, mendatangi Presiden RI untuk memperjuangkan Sumber Air Gemulo di Istana Negara. Namun, hanya 17 perwakilan warga dipimpin Haji Rudi dan Walhi yang diterima oleh Teten Masduki, Kepala Staf Khusus Presiden RI.

Dalam pertemuan itu, warga meminta kepada Presiden agar menghentikan kriminalisasi terhadap warga pembela mata air Umbul Gemulo. Terhitung sejak Februari 2013, 22 orang warga Dusun Cangar Desa Bulukerto terus-menerus dipanggil sebagai saksi atas laporan pemilik The Rayja, hotel yang akan dibangun dekat mata air Gemulo.

“Warga juga berharap agar Presiden melalui KLHK untuk melindungi hulu DAS Brantas dari eksploitasi lingkungan dan menjadikan kawasan sumber Umbul Gemulo sebagai lahan konservasi,” kata Ony Mahardika, Rabu (20/01/2016).

Selain itu, warga berharap Presiden dapat mendorong Pemkot Batu mencabut IMB bagi pengusaha yang membangun Hotel The Rayja dekat sumber mata air Gemulo.

Kepala Staf Khusus Presiden RI, Teten Masduki menyatakan akan melaporkan keluhan warga Kota Batu kepada Presiden Jokowi dan mengenai persoalan kriminalisasi, akan disampaikan kepada Kapolri. Terkait perlindungan dan penyelamatan hulu DAS Brantas, Staf khusus Kepresidenan akan berkonsultasi dengan KLHK untuk membuat tim gabungan yang akan meninjau lokasi di Batu. Harapannya dapat mendorong upaya penyelamatan hulu DAS Brantas sesuai Nawacita Presiden Jokowi.

Penulis: HI/G17

]]>
https://www.greeners.co/berita/warga-batu-minta-presiden-lindungi-hulu-das-brantas/feed/ 0
Compassion Week, Pelatihan Pengelolaan Sampah Sungai Ciliwung https://www.greeners.co/aksi/compassion-week-pelatihan-pengelolaan-sampah-sungai-ciliwung/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=compassion-week-pelatihan-pengelolaan-sampah-sungai-ciliwung https://www.greeners.co/aksi/compassion-week-pelatihan-pengelolaan-sampah-sungai-ciliwung/#respond Wed, 21 Oct 2015 09:39:01 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=11602 Jakarta (Greeners) – Sungai merupakan salah satu tempat yang menjadi habitat dari beberapa mahluk hidup. Namun, alih-alih dapat berfungsi sebagai mana mestinya, sungai seolah sudah diidentikkan sebagai tempat alternatif pembuangan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sungai merupakan salah satu tempat yang menjadi habitat dari beberapa mahluk hidup. Namun, alih-alih dapat berfungsi sebagai mana mestinya, sungai seolah sudah diidentikkan sebagai tempat alternatif pembuangan sampah.

Keadaan ini membuat sebuah komunitas yang peduli terhadap pengolahan sampah, Jalagayatri, membuat pelatihan atau workshop pengelolaan sampah kepada siswa-siswi SMP Kanisius Jakarta. Acara yang merupakan bagian dari Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) ini diadakan di Sungai Ciliwung Bojong Gede, Depok, pada Kamis (15/10).

Ketua Jalagayatri Fadel Achmad, menyatakan, hampir sebagian besar sampah yang ada di Sungai Ciliwung tidak dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Meskipun jumlah sampah di Sungai Ciliwung hanya sebesar 20 persen dari jumlah sampah keseluruhan di Jakarta, namun menurut Fadel sampah di Sungai Ciliwung masih harus diperhatikan. Hal ini karena sampah non organik mendominasi dan akan merusak lingkungan sungai karena tidak dapat terurai.

“Harusnya semua sampah berakhir di TPA, bukan malah di sungai,” jelas pria yang biasa disapa Ichay ini kepada Greeners pada Kamis (15/10) lalu.

Siswa-siswi SMP Kanisius Jakarta membersihkan bantaran Sungai Ciliwung bersama komunitas Jalagayatri. Foto: dok. Ade Ridwan

Siswa-siswi SMP Kanisius Jakarta membersihkan bantaran Sungai Ciliwung bersama komunitas Jalagayatri. Foto: dok. Ade Ridwan

Menurut Ichay, pemerintah harus lebih serius dalam mendukung pelestarian Sungai Ciliwung. Ia menyatakan bahwa kepedulian masyarakat terhadap keberadaan sampah di Ciliwung tak akan berarti tanpa adanya dukungan penuh dari pemerintah.

Minimnya dukungan pemerintah membuat pengelolaan sampah yang ada di Sungai Ciliwung berdampak pada kurang maksimalnya pengelolaan sampah di DAS Ciliwung. Hal ini semakin bertambah buruk dengan rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat sekitar mengenai sampah. Alhasil, sungai dianggap sebagai halaman belakang rumah saja.

“Karena pola pikir masyarakat sekitar sungai baru pada tahap bersihnya halaman rumah dari sampah, jadi sampah pun dibuang ke sungai,” ujarnya.

Ichay menambahkan bahwa selama ini, anak-anak sekolah, khusunya di ibu kota, hanya mengetahui bahwa Sungai Ciliwung adalah sungai yang penuh dengan permasalahan, termasuk banyaknya sampah. Menurutnya karena anak-anak hanya mengetahui berdasar apa yang digambarkan oleh media saja sehingga cenderung menjauhi Sungai Ciliwung. “Ternyata ada Ciliwung yang bagus dan harus dilestarikan,” kata Ichay.

Siswa-siswi SMP Kanisius Jakarta membersihkan bantaran Sungai Ciliwung bersama komunitas Jalagayatri. Foto: dok. Ade Ridwan

Siswa-siswi SMP Kanisius Jakarta membersihkan bantaran Sungai Ciliwung bersama komunitas Jalagayatri. Foto: dok. Ade Ridwan

Workshop ini diawali dengan mengajak 186 peserta yang berasal dari SMP Kanisius Jakarta untuk berkunjung ke TPA Bantar Gebang di Bekasi. Kunjungan ke Bantar Gebang, menurut Ichay, akan sangat berpengaruh pada pengetahuan siswa terhadap sampah. “Jadi ada perbandingan antara sampah di TPA dan sungai,” ucapnya.

Selain berkunjung ke bantar gebang, acara bertema “Belajar dari Tenangnya Sungai” ini memiliki lima kegiatan. Kelima kegiatan tersebut adalah mulung sampah, menyusuri sungai dan kampung, bio tilik, kelas kompos dan pembibitan, serta menanam sepuluh jenis pohon lokal.

Dengan adanya pelatihan ini, Ichay pun berharap akan semakin banyak anak-anak yang menyadari pentingnya upaya pelestarian lingkungan, khususnya sungai. Ia juga mengharapkan Sungai Ciliwung dapat menjadi area terbuka yang ramah terhadap anak-anak.

Penulis: TW/G37

]]>
https://www.greeners.co/aksi/compassion-week-pelatihan-pengelolaan-sampah-sungai-ciliwung/feed/ 0
Pengamat: Jakarta Perlahan Sedang “Bunuh Diri” Ekologis https://www.greeners.co/berita/pengamat-jakarta-perlahan-sedang-bunuh-diri-ekologis/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pengamat-jakarta-perlahan-sedang-bunuh-diri-ekologis https://www.greeners.co/berita/pengamat-jakarta-perlahan-sedang-bunuh-diri-ekologis/#respond Thu, 15 Oct 2015 06:55:36 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11511 Jakarta (Greeners) – Jakarta sebagai Ibukota berpopulasi penduduk yang tinggi tengah berada dalam kondisi yang dikatakan sebagai “bunuh diri” ekologis. Hal tersebut disampaikan oleh Pengamat dan Pakar Tata Kota Hijau […]]]>

Jakarta (Greeners) – Jakarta sebagai Ibukota berpopulasi penduduk yang tinggi tengah berada dalam kondisi yang dikatakan sebagai “bunuh diri” ekologis. Hal tersebut disampaikan oleh Pengamat dan Pakar Tata Kota Hijau dari Universitas Trisakti, Nirwono Joga. Bunuh diri ekologis yang dimaksud oleh Joga adalah keadaan di mana begitu banyak permasalahan lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap jumlah penduduk Jakarta yang terbilang tinggi.

Daya dukung lingkungan yang tidak sebanding dengan tingginya jumlah penduduk di Jakarta ini menurut Joga bisa dilihat dari beberapa faktor, seperti kebutuhan lahan untuk tempat tinggal, kebutuhan akan air bersih, serta kebutuhan udara yang segar.

Tata kelola lahan yang tidak bagus dan banyaknya pembangunan yang masih menggunakan sistem tapak (horizontal), menurut Joga, mengakibatkan timbulnya pemborosan lahan yang memakan banyak ruang-ruang kosong di Jakarta.

Joga juga menyatakan belum melihat terobosan-terobosan dari Pemerintah Provinsi dalam mengoptimalkan sumber-sumber air yang ada. Menurutnya, waduk atau sungai bisa saja dijadikan tempat untuk memenuhi kebutuhan air baku di Jakarta.

“Apalagi kalau sudah masuk ke terobosan yang lebih modern seperti mengolah air laut menjadi air bersih, jelas hal tersebut lebih bermanfaat ketimbang membuat tanggul raksasa,” ujar Joga kepada Greeners, Jakarta, Rabu (14/10).

Ia juga tidak mempermasalahkan pernyataan Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLH) Jakarta yang menyatakan bahwa bulan September 2015, kualitas udara di Jakarta masih tergolong sedang dan tidak berbahaya bagi manusia. Namun, Joga mengingatkan bahwa apa yang dirasakan oleh masyarakat perlu diperhatikan.

Secara kasat mata, masalah kemacetan di Jakarta masih menjadi penyumbang polusi udara terbesar. Ruang terbuka hijau pun semakin hari semakin menyusut keberadaannya. Ditambah Jakarta masih minim akan keberadaan pohon-pohon besar. Ini artinya, Jakarta tidak memiliki mekanisme penyaring udara alami yang dilakukan oleh pohon-pohon besar.

“Ini yang saya maksud dengan bunuh diri ekologis yang perlahan sedang terjadi di Jakarta. Dari daya dukung lingkungan terhadap tingginya populasi penduduk di Jakarta, tiga hal tadi itu bisa dilihat sebagai ancaman yang sedang terjadi di depan mata. Apalagi ini masih belum bicara tentang kebutuhan yang lain seperti kebutuhan akan energi dan transportasi,” ungkapnya.

Sebagai informasi, sebelumnya, Kepala BPLHD DKI Jakarta, Andi Baso Mappapoleonro menyatakan bahwa berdasarkan hasil pantauan kualitas udara DKI Jakarta selama bulan September 2015 yang diambil dari lima titik lokasi pemantauan, secara umum bisa disimpulkan kualitas udara Jakarta masih cukup baik bagi manusia. Ke lima titik pemantauan tersebut dikatakan Andi terletak di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Perumahan Walikota Kelapa Gading, Jagakarsa, Lubang Buaya dan Perumahan Kebun Jeruk.

“Untuk laporan ini kita ambil total kualitas udara paling ekstrim pada bulan September dan itu yang kita munculkan sebagai wakil dari kualitas udara pada bulan itu. Tapi secara umum kualitas udaranya memang masih cukup baik bagi manusia,” pungkasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/pengamat-jakarta-perlahan-sedang-bunuh-diri-ekologis/feed/ 0
Perusahaan Air Minum Kemasan Diimbau Kembalikan Keseimbangan Air https://www.greeners.co/berita/perusahaan-air-minum-kemasan-diimbau-kembalikan-keseimbangan-air/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=perusahaan-air-minum-kemasan-diimbau-kembalikan-keseimbangan-air https://www.greeners.co/berita/perusahaan-air-minum-kemasan-diimbau-kembalikan-keseimbangan-air/#respond Fri, 10 Jul 2015 05:14:31 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=10245 Jakarta (Greeners) – Meski lebih dari 70 persen permukaan bumi terdiri dari air, namun itu tidak berarti sumber daya air yang dimiliki bumi ini melimpah apalagi tak pernah habis. Kenyataannya, […]]]>

Jakarta (Greeners) – Meski lebih dari 70 persen permukaan bumi terdiri dari air, namun itu tidak berarti sumber daya air yang dimiliki bumi ini melimpah apalagi tak pernah habis. Kenyataannya, masih banyak wilayah di beberapa negara termasuk Indonesia yang hanya bisa sedikit mengonsumsi air.

Hal tersebut diutarakan oleh Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang juga Menteri Lingkungan Hidup pertama di era kabinet Pembangunan III tahun 1978-1983, Profesor Emil Salim. Menurut Emil, penghematan konsumsi air sangat diperlukan karena kenyataannya, konsumsi air oleh masyarakat bukan hanya untuk air minum semata, tapi juga termasuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti mandi, mencuci, masak dan lain-lain.

“Kita semua adalah bagian dari masyarakat yang memiliki peran dalam melestarikan air dan lingkungan. Kita tak bisa menyerahkan semua tanggung jawab pada satu pihak saja karena masalah air adalah masalah kita semua,” ujar Emil saat menjadi pembicara pada diskusi “Pelestarian Air dan Lingkungan Sebagai Tanggung Jawab Bersama”, di Belly Clan Restaurant, Jakarta, Kamis (09/07) kemarin.

Selain itu, Emil juga mengingatkan bahwa air bersih di Indonesia bukanlah sebuah kemudahan karena di antara 17.000 pulau-pulau di Indonesia, masih banyak warga di daerah yang kekurangan air.

Untuk itu, Emil mengingatkan kepada pihak swasta yang dalam hal ini ditujukan kepada Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) bermerek Aqua untuk mengembalikan jumlah air yang telah mereka eksploitasi. Menurut Emil, jika tidak ada keseimbangan dalam penggunaan air, maka dampak perubahan iklim akan semakin dirasakan.

Sementara itu, Sustainable Development Director PT Tirta Investama (Aqua Group) Karyanto Wibowo pada kesempatan yang sama mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan penyeimbangan seperti yang diutarakan oleh Profesor Emil. Salah satunya adalah dengan menandatangani nota kesepahaman dengan Menteri Lingkungan Hidup untuk menanam kembali pohon sebanyak 12 juta pohon dalam setahun.

“Meski belum seratus persen, namun kami masih terus akan berupaya mendorong inisiatif untuk mengembalikan air pada alam. Seperti upaya pelestarian daerah aliran sungai (DAS), di mana pelaksanaannya melibatkan berbagai pihak seperti pemerintah, LSM, akademisi dan masyarakat,” jelas Karyanto.

Di lain sisi, Arsitek Perkotaan sekaligus inisiator Indonesia Berkebun, Sigit Kusumawijaya bahkan memaparkan bahwa ada sebuah konsep perhitungan jejak air atau water footprint untuk mengindikasikan jumlah air yang digunakan individu, komunitas maupun industri saat memproduksi barang. Perhitungan air itu diartikan secara virtual dari pemakaian air hujan (green water footprint), air permukaan atau air tanah (blue water footprint) hingga air untuk mengolah limbah atau (grey water footprint).

Sebagai contoh, untuk memproduksi satu kilogram daging dibutuhkan 15.000 liter air dan 8.000 liter air untuk memproduksi sebuah celana jeans. Hal itu menunjukkan konsumsi atas barang-barang tersebut jauh lebih banyak dari rata-rata air yang dikonsumsi per hari yaitu, sekitar delapan liter.

“Meski hanya sebagai indikasi virtual, tuturnya, namun secara ilmiah perhitungan jejak air harus memberikan kesadaran bagi manusia untuk mulai berpartisipasi melestarikan air. Sebagai contoh yang sederhana, cukup dengan bijak memilih produk yang efisien terhadap penggunaan air dalam proses produksinya,” tukasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/perusahaan-air-minum-kemasan-diimbau-kembalikan-keseimbangan-air/feed/ 0
Menjaga Tradisi Merawat Sumber Mata Air https://www.greeners.co/berita/menjaga-tradisi-merawat-sumber-mata-air/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=menjaga-tradisi-merawat-sumber-mata-air https://www.greeners.co/berita/menjaga-tradisi-merawat-sumber-mata-air/#respond Sun, 14 Jun 2015 00:30:17 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=9664 Malang (Greeners) – Sembilan perempuan layaknya bidadari berjajar rapi. Dengan anggun mereka masuk ke sebuah sendang yang dipercaya sebagai muara dari tujuh mata air di pegunungan Tengger. Dengan wadah kendi […]]]>

Malang (Greeners) – Sembilan perempuan layaknya bidadari berjajar rapi. Dengan anggun mereka masuk ke sebuah sendang yang dipercaya sebagai muara dari tujuh mata air di pegunungan Tengger. Dengan wadah kendi yang terbuat dari tanah liat, air dari sendang yang dipercaya mengeluarkan air suci ini diambil para perempuan yang disimbolkan sebagai bidadari. Usai pengambilan air sendang, sesepuh dari masing-masing desa Suku Tengger menerima air tersebut dari mereka yang sebelummnya dibacakan doa.

Gambaran di atas merupakan permulaan rangkaian ritual Grebeg Tirto AJi yang dilakukan masyarakat Suku Tengger. Ritual dilaksanakan di sumber mata air Wendit. Di dalam komplek ini, terdapat sebuah sendang yang dinamakan Sendang Widodaren. Masyarakat Tengger percaya air dari sendang ini merupakan muaranya mata air di Gunung Widodaren yang berada di pegunungan Tengger atau bersebelahan dengan Gunung Bromo yang juga dianggap sebagai gunung sucinya orang Tengger.

Foto: greeners.co

Foto: greeners.co

Menurut Ngationo, Legen atau asisten dukun Tengger dari Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusomo, Malang, dari dulu masyarakat Tengger mengandalkan hidup dari bercocok tanam. Mereka percaya air suci yang diberikan para bidadari dari sendang Widodaren ini bisa berpengaruh terhadap hasil pertanian mereka. “Hasil pertanian bagus, tanahnya subur sepanjang tahun meski musim kemarau,” kata Ngationo, Kamis (11/6/2015).

Menurutnya, air yang diberikan para bidadari tadi akan dimasukkan di tendon atau tempat penampungan air di masing-masing desa dan digunakan bersama-sama untuk berbagai keperluan, seperti bercocok tanam, memasak, serta kebutuhan lainnya. Pembagian air di musim kemarau juga diatur sedemikian rupa agar para penduduk desa tidak kekurangan air.

Usai prosesi pengambilan air dan pembagiannya kepada sesepuh desa, warga desa juga memperebutkan gunungan tumpeng yang isinya hasil bumi masyarakat Suku Tengger. Berbagai jenis sayuran dan buah-buahan diperebutkan oleh para pengunjung. Saling berebut di gunugan tumpeng, tapi tetap menghormati yang lainnya.

Warga desa berebut gunung tumpeng usai pelaksanaan ritual Grebek Tirto Aji. Foto: greeners.co

Warga desa berebut gunung tumpeng usai pelaksanaan ritual Grebek Tirto Aji. Foto: greeners.co

Juru kunci Sendang widodaren, Soleh menceritakan, konon Sendang Widodaren ini menurut legenda digunakan sebagai tempat mandi para bidadari yang turun dari kahyangan. Mata airnya yang jernih dipercaya berasal dari tujuh mata air di pegunungan Tengger. Airnya yang jernih dan berkilauan ketika terkena sinar mata hari menarik para bidadari untuk turun dan menikmati segarnya air ini.

Salah satu warga Tengger, Anam mengatakan, air yang diambil dari para bidadari yang perawan dan belum pernah tersentuh ini berharap air dari Sendang Widodaren membawa kesuburan bagi tanah pertanian mereka. Sebab, katanya, air adalah sumber kehidupan dan perempuan adalah sumber kesuburan.

Penulis: HI/G17

]]>
https://www.greeners.co/berita/menjaga-tradisi-merawat-sumber-mata-air/feed/ 0
Ionisasi Air Sebagai Alternatif Bagi Masyarakat Dapatkan Air Bersih https://www.greeners.co/berita/ionisasi-air-sebagai-alternatif-bagi-masyarakat-dapatkan-air-bersih/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ionisasi-air-sebagai-alternatif-bagi-masyarakat-dapatkan-air-bersih https://www.greeners.co/berita/ionisasi-air-sebagai-alternatif-bagi-masyarakat-dapatkan-air-bersih/#respond Mon, 06 Apr 2015 08:08:26 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=8424 Jakarta (Greeners) – Air merupakan salah satu sumber kehidupan bagi manusia, namun ketersediaan sumber air bersih masih menjadi permasalahan klasik hingga di wilayah pedesaan. Privatisasi air yang dikuatkan oleh Undang-Undang […]]]>

Jakarta (Greeners) – Air merupakan salah satu sumber kehidupan bagi manusia, namun ketersediaan sumber air bersih masih menjadi permasalahan klasik hingga di wilayah pedesaan. Privatisasi air yang dikuatkan oleh Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air kian meminggirkan peran negara dalam penyediaan air bersih.

Namun, ketika UU Nomor 7 Tahun 2004 dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi, pemerintah malah menyatakan tidak siap menyediakan air bersih bagi rakyatnya dan tetap melanjutkan kontrak pada pihak swasta yang terlanjur berlangsung lama.
Namun, masih kurangnya ketersediaan air bersih di tengah masyarakat memunculkan berbagai inovasi agar tidak kehilangan sumber kehidupan itu.

Salah satunya seperti yang dilakukan oleh warga lereng Merapi yang menggunakan air hujan untuk dikonsumsi. Romo Vincentius Kirjito, seorang rohaniawan, sejak dua tahun terakhir melakukan riset dan percobaan pengolahan air hujan sebagai air minum.

Penelitian Kirjito menunjukkan bahwa air hujan di Indonesia memiliki kandungan mineral terlarut (total dissolved solid/TDS) di bawah 20 miligram per liter (mg/l). Padahal, TDS air kemasan banyak yang di atas 100 TDS. Sedangkan ketentuan ilmiah yang ditentukan oleh Kementerian Kesehatan dan World Health Organization (WHO), dimana, WHO mematok kadar mineral dalam air tertinggi yang boleh dikonsumsi adalah 50mg/liter.

“Semakin banyak nilainya, kemungkinan terlarut zat padat makin tinggi. Makin rendah makin murni. Karenanya, melalui TDS kita bisa memperkirakan kemurnian air itu,” jelas Kirjito saat ditemui di Bentara Budaya, Jakarta, Senin (06/04).

Selain itu, menurut Kirjito, yang kerap jadi soal adalah proses penampungannya. Air hujan yang melewati genting rumah kemungkinan tercemar kotoran, namun jika dibandingkan air di dalam tanah, potensi kecemaran air hujan yang ditampung tersebut lebih kecil. Sementara, di daerah industri yang mutu udaranya buruk, kemungkinan terjadi hujan asam atau tercemarnya air hujan oleh oksida sulfur dan oksida nitrogen yang bersifat toksik cukup tinggi.

Beberapa peraga yang memuat air hujan yang diionisasi. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Beberapa peraga yang memuat air hujan yang diionisasi. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Berdasarkan pantauan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di 48 stasiun pada Desember 2014 menunjukkan, tingkat keasaman air hujan di beberapa kota di Indonesia di atas batas pH air hujan normal (pH 5,6). Namun, ada pula sejumlah kota dengan tingkat keasamanair hujannya di bawah ambang batas, antara lain di Jayapura, Lampung, Kediri, Mataram, Padang, dan Serang.

”Kondisi hujan asam ini bisa disiasati dengan tidak memakai air hujan yang baru turun, namun menunggu beberapa saat baru ditampung,” katanya.

Mintje Maukar, spesialis water treatment yang turut hadir di Bentara Budaya mengatakan, masalah keasaman pH air hujan bisa diatasi dengan alat sederhana yang dibuat sendiri oleh warga.

Mintje dan Romo Kirjito lantas memperagakan teknik sederhana menjadikan air hujan yang cenderung asam menjadi air basa atau alkali. Mereka menggunakan arus listrik DC agar terjadi ionisasi sehingga air asam dan basa terpisah. Arus listrik tersebut dialirkan ke konduktor stainless foodgrade pada dua bejana yang berhubungan dan berisi air hujan. Cara ini bisa juga dilakukan pada air tanah selama empat jam atau lebih, tergantung kadar pH yang diinginkan.

”Jika hanya air hujan, karena mineral terlarutnya rendah, butuh waktu ionisasi lebih lama. Kita harus ukur kadar TDS-nya. Biasanya air yang kita sarankan di bawah 50 TDS,” kata Mintje.

Makin lama proses terionisasinya, perbedaan PH antara dua bejana itu makin tinggi, satu bejana kian basa dan satunya makin asam. Air basanya bisa langsung dikonsumsi, dan yang asam untuk pupuk tanaman.

Mintje sendiri mengakui, setelah beberapa bulan terakhir memakai air hujan yang diionisasi. Menurut dia, tubuh bersifat asam dan butuh asupan bersifat basa. Air berfungsi membawa nutrisi dan oksigen bagi tubuh, melarutkan dan mengeluarkan sampah atau racun.

”Air bersifat basa bisa berperan lebih baik, termasuk membantu memelihara dan mengganti sel-sel tubuh yang rusak. Air hujan termasuk terbaik karena paling murni. Jika dijadikan alkali, air hujan itu amat baik bagi tubuh,” katanya menjelaskan.

Sebagai informasi, WHO dalam publikasinya pada tahun 2003 menyatakan, air dengan pH ekstrem, terlalu basa ataupun asam, tidak baik bagi tubuh. Air dengan pH lebih dari 11 menyebabkan iritasi mata dan kulit, serta pembengkakan sel rambut. Air dengan pH di bawah 4 menimbulkan hal yang sama. Jika pH air lebih rendah dari 2,5, akan berdampak serius pada organ bagian dalam.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/ionisasi-air-sebagai-alternatif-bagi-masyarakat-dapatkan-air-bersih/feed/ 0
Walhi Kritisi Rencana Pembangunan Pabrik Semen Dalam Kawasan Ekosistem Leuser https://www.greeners.co/berita/walhi-kritisi-rencana-pembangunan-pabrik-semen-dalam-kawasan-ekosistem-leuser/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=walhi-kritisi-rencana-pembangunan-pabrik-semen-dalam-kawasan-ekosistem-leuser https://www.greeners.co/berita/walhi-kritisi-rencana-pembangunan-pabrik-semen-dalam-kawasan-ekosistem-leuser/#respond Sun, 05 Apr 2015 06:01:40 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=8409 Jakarta (Greeners) – Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Aceh mengkritisi rencana pembangunan pabrik semen oleh PT. Tripa Semen Aceh di dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) di Kampung Kaloy, Kecamatan Tamiang Hulu, […]]]>

Jakarta (Greeners) – Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Aceh mengkritisi rencana pembangunan pabrik semen oleh PT. Tripa Semen Aceh di dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) di Kampung Kaloy, Kecamatan Tamiang Hulu, Kabupaten Aceh Tamiang.

Direktur Walhi Aceh, M. Nur, mengatakan, kegiatan penambangan bahan baku semen dan pembangunan serta pengoperasian pabrik semen oleh PT Tripa Semen Aceh diperkirakan akan menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan di sekitarnya. Terlebih kawasan yang digunakan sebagian besar merupakan bagian dari KEL.

“Ditakutkan ini akan berdampak pada terancam atau bahkan punahnya keselamatan ekosistem yang ada dalam KEL,” jelas Nur dalam keterangan resmi yang diterima oleh Greeners, Jakarta, Sabtu (04/04).

Lebih jauh ia menjelaskan bahwa Aceh Tamiang saat ini sudah digempur oleh kegiatan perkebunan sawit, illegal logging dan kegiatan lainnya yang menurunkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup, terutama untuk pemenuhan sumber air bersih bagi penduduk. Nur pun meminta kepada pemerintah untuk mengkaji dengan teliti proses analisis dampak lingkungan (Amdal) sebelum pabrik semen milik PT. Tripa Semen Aceh tersebut dibangun.

“Warga akan kehilangan lahan perkebunan atau pertanian, kemudian masyarakat akan membuka lahan baru dalam kawasan hutan yang saat ini belum tersentuh. Akhirnya, konflik pun tidak terelakkan,” tandasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/walhi-kritisi-rencana-pembangunan-pabrik-semen-dalam-kawasan-ekosistem-leuser/feed/ 0
“Green Waters”, Kamar Mandi Ramah Air https://www.greeners.co/ide-inovasi/green-waters-kamar-mandi-ramah-air/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=green-waters-kamar-mandi-ramah-air https://www.greeners.co/ide-inovasi/green-waters-kamar-mandi-ramah-air/#respond Fri, 20 Feb 2015 06:01:09 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_technology&p=7480 Banyak air terbuang begitu saja pada waktu kita mandi atau saat memencet tombol flush di toilet. Padahal air dari limbah rumah tangga ini dapat digunakan kembali, salah satunya untuk menyiram […]]]>

Banyak air terbuang begitu saja pada waktu kita mandi atau saat memencet tombol flush di toilet. Padahal air dari limbah rumah tangga ini dapat digunakan kembali, salah satunya untuk menyiram tanaman. Tapi, bagaimana cara mengelola air kotor tersebut?

Patrick Nadeau meluncurkan ide mendaur ulang air kotor limbah rumah tangga, khususnya air yang berasal dari kamar mandi. Dalam karya yang ia namakan Green Waters, Patrick Nadeau memperlihatkan kamar mandi yang dilengkapi aneka macam tumbuhan, termasuk tanaman gantung. Berada di kamar mandi rancangan Nadeau rasanya seperti berada di tengah hutan yang canggih!

Patrick Nadeau mengubah sistem pengolahan air kotor konvensional dengan memanfaatkan tetumbuhan yang dapat menyaring air. Foto: www.contemporist.com

Patrick Nadeau mengubah sistem pengolahan air kotor konvensional dengan memanfaatkan tetumbuhan yang dapat menyaring air. Foto: www.contemporist.com

Nadeau merancang kamar mandi yang mana air buangannya dipakai untuk menyiram tanaman-tanaman yang ada di kamar mandi tersebut. Air kotor tidak lagi langsung dibuang ke pipa pembuangan air kotor, melainkan didaur ulang dalam satu tempat yang sama.

Patrick Nadeau mengubah sistem pengolahan air kotor konvensional yang menggunakan bahan kimia dan dapat mencemari air. Ia menggunakan aneka tanaman yang dapat menyaring kotoran dengan teknologi seperti toilet kompos. Tanaman yang digunakan adalah sejenis tanaman rawa yang ia tempatkan di kamar mandi dimana perputaran air tersebut berada. Cara ini dapat membantu melestarikan air dengan menghemat, mendaur ulang, dan memfilter air secara alami.

Foto: www.contemporist.com

Foto: www.contemporist.com

Baru-baru ini kamar mandi Green Waters rancangan Nadeau dipamerkan di Ideo Bain di Paris, Perancis. Ia merancang kamar mandi ini untuk LG Hausys dan berkolaborasi dengan HI-MACS .

(G15)

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/green-waters-kamar-mandi-ramah-air/feed/ 0
Mengarak Naga, Meruwat Umbul Gemulo https://www.greeners.co/gaya-hidup/mengarak-naga-meruwat-umbul-gemulo/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mengarak-naga-meruwat-umbul-gemulo https://www.greeners.co/gaya-hidup/mengarak-naga-meruwat-umbul-gemulo/#respond Wed, 12 Nov 2014 07:15:59 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_travel&p=6406 Batu (Greeners) – Sebuah lesung berkepala naga meliuk-liuk di jalanan. Di bawah kepalanya terdapat sebuah gentong kecil berisi air dari tujuh sumber mata air keramat di Jawa Timur yang dinamakan […]]]>

Batu (Greeners) – Sebuah lesung berkepala naga meliuk-liuk di jalanan. Di bawah kepalanya terdapat sebuah gentong kecil berisi air dari tujuh sumber mata air keramat di Jawa Timur yang dinamakan “banyu tuwuh”. Di kiri dan kanan lesung yang panjangnya sekitar empat meter, berjejer tumpeng dari hasil bumi warga tiga dusun di Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur. Tumpeng terdiri dari tumpeng jajanan pasar, tumpeng polo pendem, dan tumpeng gunungan nasi kuning dan nasi putih. Aneka kudapan dan lauk juga menghiasi tumpeng tersebut.

Tumpeng dan air tuwuh dari tujuh sumber mata air yang dijaga Naga ini diarak keliling dusun mengelilingi sumber mata air Umbul Gemulo yang selama ini menjadi sumber penghidupan pertanian warga dan kebutuhan hidup sehari-hari.

Sumber air Umbul Gemulo saat ini debit airnya mencapai 179 liter/detik. Sumber ini pula yang menjadi tumpuan sekitar enam ribu warga Desa Bulukerto dan enam desa lainnya, seperti Desa Sidomulyo, Bumiaji, Pandanrejo, Sisir, Mojorejo, dan Pendem. PDAM Kota Batu yang airnya disuplai ke masyarakat Kota Batu juga mengambil air dari sumber Umbul Gemulo ini.

Lesung kepala naga diarak keliling tiga dusun yang juga mengelilingi sumber mata air Umbul Gemulo. Di belakangnya, berbagai grup kesenian jaranan, bantengan, serta tari-tarian turut mengarak lesung kepala naga. Setelah mengelilingi sumber mata air Umbul Gemulo, sesepuh desa dan masyarakat menggelar kenduri di sekitar sumber mata air dan makanannya dimakan bersama-sama sebagai ucapan rasa syukur.

Saat kenduri, tiga macam tumpeng juga dibagikan di perempatan tiga dusun yang dilewati. Sisanya dimakan bersama di Balai Desa Bulukerto untuk masyarakat yang tidak kebagian tumpeng di perjalanan.

Selain itu, ada juga pembagian banyu tuwuh atau air bertuah yang berasal dari tujuh sumber mata air yang dipercaya bisa memberi keberkahan di Jawa Timur. Di antaranya berasal dari Pacitan, Ponorogo, dan Madiun. Air ini dibagikan kepada masyarakat yang ingin mendapatkan berkahnya. Secara bergantian, mereka meminta air yang sejak awal acara ditempatkan di bawah kepala naga.

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/mengarak-naga-meruwat-umbul-gemulo/feed/ 0