pemanasan global - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/pemanasan-global/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 30 Mar 2026 09:45:35 +0000 id hourly 1 Suhu Bumi Terus Memanas, Waspada Kekeringan dan Angin Kencang https://www.greeners.co/berita/suhu-bumi-terus-memanas-waspada-kekeringan-dan-angin-kencang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=suhu-bumi-terus-memanas-waspada-kekeringan-dan-angin-kencang https://www.greeners.co/berita/suhu-bumi-terus-memanas-waspada-kekeringan-dan-angin-kencang/#respond Mon, 30 Mar 2026 09:45:35 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=48276 Jakarta (Greeners) – Pemanasan global terus melaju dalam 10 tahun terakhir ini dengan kecepatan hampir dua kali lipat dibandingkan era tahun 1970. Saat ini suhu bumi telah meningkat 0,35 derajat […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pemanasan global terus melaju dalam 10 tahun terakhir ini dengan kecepatan hampir dua kali lipat dibandingkan era tahun 1970. Saat ini suhu bumi telah meningkat 0,35 derajat celcius. Dampak dari peristiwa ini bisa meningkatkan intensitas cuaca ekstrem seperti kekeringan dan angin kencang.

World Meteorological Organization (WMO) telah mengonfirmasi bahwa tahun 2025 adalah salah satu dari tiga tahun terpanas yang pernah tercatat. Tiga tahun terakhir, 2023-2025 menjadi tahun terpanas di antara delapan data yang terkumpul. Rata-rata suhu gabungan tiga tahun 2023-2025 adalah 1,48 °C (dengan margin ketidakpastian ± 0,13 °C) di atas era pra-industri. 

Pakar klimatologi dari Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Emilya Nurjani mengatakan bahwa peningkatan suhu Bumi akan berdampak pada mencairnya es di Kutub Utara. Hal ini menyebabkan kenaikan volume air laut dan mendorong dataran rendah akan berkurang tingginya.

Selain itu, peningkatan suhu tersebut turut meningkatkan terjadinya bencana. Sebab, suhu yang tinggi menyebabkan penguapan tinggi, sehingga potensi terjadinya hujan juga akan semakin besar.

“Jika suhu udara makin tinggi menyebabkan suhu muka laut semakin tinggi, maka bentuk lainnya adalah siklon yang akan sering terjadi. Kalau siklon sering terjadi maka dampak berikutnya adalah banjir, kemudian misalnya angin kencang. Kemudian juga perubahan tinggi lainnya,” kata Emilya melansir Berita UGM, Senin (30/3).

Emilya menambahkan bahwa peningkatan suhu menyebabkan terjadinya kekeringan yang membawa dampak besar terhadap sektor pangan, bahkan peningkatan suhu yang lebih cepat juga turut menyebabkan banyak angin kencang. Emilya menerangkan bahwa terjadinya angin kencang tersebut membawa beragam kerusakan, seperti pohon tumbang atau kerusakan pada atap rumah.

Mitigasi Bencana Kekeringan

Peningkatan suhu ini juga menyebabkan terjadinya bencana kekeringan salah satunya kemarau yang lebih panjang. Emilya mengimbau untuk melakukan regulatory harvesting, yaitu menangkap hujan dari atap. Ia juga menekankan agar masyarakat bisa lebih bijak dalam menggunakan air sesuai dengan kebutuhan.

“Jadi gunakan air sesuai fungsinya. Misal untuk kebutuhan air domestik kita bisa menggunakan air tanah, tetapi kalau misalnya untuk kebutuhan yang lain, maka kita bisa menggunakan air permukaan atau jenis air lainnya. Karena memang air tanah sendiri pun juga semuanya kan inputnya dari air hujan,” pungkasnya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo mengungkapkan bahwa meskipun tahun 2025 tengah dimulai dan berakhir dengan La Niña yang mendingin, namun tetap menjadi salah satu tahun terpanas yang pernah tercatat secara global. Sebab, akumulasi gas rumah kaca yang memerangkap panas di atmosfer.

“Suhu daratan dan lautan yang tinggi turut memicu cuaca ekstrem–gelombang panas, curah hujan lebat, dan siklon tropis yang intens, yang menggarisbawahi pentingnya sistem peringatan dini,” kata Celeste dalam siaran pers.

Sebuah studi terpisah yang diterbitkan dalam Advances in Atmospheric Sciences juga menyatakan bahwa suhu laut juga termasuk yang tertinggi dalam catatan pada tahun 2025. Hal ini mencerminkan akumulasi panas jangka panjang dalam sistem iklim.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/suhu-bumi-terus-memanas-waspada-kekeringan-dan-angin-kencang/feed/ 0
WMO: Kenaikan Suhu Global Diproyeksi Melebihi 1,5°C Sebelum 2030 https://www.greeners.co/berita/wmo-kenaikan-suhu-global-diproyeksi-melebihi-15c-sebelum-2030/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=wmo-kenaikan-suhu-global-diproyeksi-melebihi-15c-sebelum-2030 https://www.greeners.co/berita/wmo-kenaikan-suhu-global-diproyeksi-melebihi-15c-sebelum-2030/#respond Tue, 03 Jun 2025 06:32:43 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=46716 Jakarta (Greeners) – World Meteorological Organization (WMO) menyatakan peluang pemanasan global selama periode 2025-2029, akan melebihi 1,5°C dibandingkan masa pra-industri mencapai 70%. Peningkatan suhu global ini menandai lonjakan tajam dari […]]]>

Jakarta (Greeners) – World Meteorological Organization (WMO) menyatakan peluang pemanasan global selama periode 2025-2029, akan melebihi 1,5°C dibandingkan masa pra-industri mencapai 70%. Peningkatan suhu global ini menandai lonjakan tajam dari prediksi tahun-tahun sebelumnya dan memperkuat urgensi aksi iklim yang ambisius.

Hal ini terungkap dalam laporan terbaru “WMO Global Annual to Decadal Climate Update 2025-2029”. Mengacu laporan ini, terdapat 80% kemungkinan bahwa setidaknya satu tahun antara 2025 dan 2029 akan menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat, melampaui rekor pada 2024. Selain itu, terdapat 86% kemungkinan bahwa dalam periode tersebut, setidaknya satu tahun akan melampaui 1,5°C di atas tingkat suhu global pra-industri.

BACA JUGA: Suhu Naik, Perubahan Iklim Bisa Perparah Potensi Penularan Penyakit

Prediksi ini menunjukkan kenaikan signifikan dari laporan sebelumnya, di mana peluang rata-rata pemanasan lima tahun melebihi 1,5°C hanya sebesar 32% dalam laporan  2023, dan 47% dalam laporan 2024.

“Kita baru saja mengalami 10 tahun terhangat yang pernah tercatat. Sayangnya, laporan WMO ini tidak memberikan tanda akan ada jeda dalam beberapa tahun mendatang, dan ini berarti akan semakin banyak dampak negatif pada ekonomi, kehidupan sehari-hari, ekosistem, dan planet kita,” ujar Wakil Sekretaris Jenderal WMO, Ko Barrett dalam keterangan tertulisnya.

“Pemantauan dan prediksi iklim yang berkelanjutan sangat penting untuk menyediakan alat dan informasi berbasis sains kepada pembuat keputusan agar kita dapat beradaptasi,” tambahnya.

Dampak Serius Memanasnya Suhu Global

WMO juga mencatat pola perubahan iklim yang kian memburuk. Setiap tambahan fraksi derajat pemanasan berdampak langsung terhadap peningkatan gelombang panas ekstrem. Bahkan, menyebabkan curah hujan berlebihan, kekeringan parah, pencairan es kutub dan gletser, serta kenaikan permukaan laut.

Di Asia Selatan, kecuali pada 2023, tercatat kondisi yang lebih basah dari rata-rata. Pola ini akan berlanjut hingga 2029. Pemanasan di Kutub Utara juga diperkirakan terjadi lebih dari 3,5 kali lipat dibandingkan rata-rata global. Dalam hal ini, suhu musim dingin meningkat hingga 2,4°C di atas rata-rata periode dasar 1991-2020.

Prediksi curah hujan untuk Mei hingga September menunjukkan kondisi yang lebih basah dari rata-rata. Wilayah yang akan peningkatan curah hujan tersebut meliputi Sahel, Eropa Utara, Alaska, dan Siberia Utara.

Sementara itu, di wilayah Amazon diperkirakan akan mengalami kondisi lebih kering. Selain itu, konsentrasi es laut selama Maret 2025–2029 diperkirakan akan terus berkurang di beberapa wilayah. Di antaranya Laut Barents, Laut Bering, dan Laut Okhotsk.

Policy Strategist Yayasan Indonesia Cerah, Wicaksono Gitawan mengatakan bahwa peningkatan suhu global melebihi 1,5 derajat Celsius akan berdampak langsung pada masyarakat Indonesia.

“Cuaca ekstrem sudah terbukti telah menyebabkan gagal panen, terjadinya bencana seperti banjir bandang, dan gelombang panas. Hal ini membuat transisi energi menjadi sesuatu yang harus didorong oleh pemerintah. Sebab, penggunaan energi fosil secara terus menerus berkontribusi pada meningkatnya suhu global,” kata Wicaksono.

Emisi Tak Menurun, Pemanasan Berlanjut

Direktur Irish Climate Analysis and Research UnitS (ICARUS) Universitas Maynooth, Peter Thorne menegaskan bahwa pemanasan akan terus berlanjut selama emisi gas rumah kaca tidak menurun. Dunia hanya akan berhenti menghangat ketika mencapai emisi nol bersih.

“Fakta bahwa peluang pemanasan lima tahunan melebihi 1,5°C kini mencapai 70%, dari sebelumnya hanya 32% dua tahun lalu, adalah cerminan bahwa kita makin dekat dengan ambang batas kritis yang tercantum dalam laporan IPCC. Namun, ini bukan alasan untuk menyerah, justru sebaliknya—kita harus menggandakan upaya mitigasi,” ujar Peter.

Panel Lintas Pemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) menentukan level pemanasan global di masa depan berdasarkan rata-rata selama 20 tahun. Peningkatan suhu sementara pada level ini akan sering terjadi dengan frekuensi yang lebih sering. Hal ini menandai peningkatan suhu bumi menuju ke 1,5-2°C.

BACA JUGA: Gelombang Panas Landa Sejumlah Negara Dunia, Bagaimana Indonesia?

Laporan terbaru WMO juga mengungkap pemanasan global rata-rata selama 20 tahun untuk periode 2015–2034 diperkirakan mencapai 1,44°C.

Dalam Perjanjian Paris, negara-negara telah sepakat untuk menahan kenaikan suhu rata-rata global jangka panjang di bawah 2°C. Mereka juga berupaya keras membatasi hingga 1,5°C.

Komunitas ilmiah secara konsisten juga menekankan bahwa setiap tambahan fraksi derajat pemanasan memiliki dampak besar. Dengan demikian, aksi iklim yang cepat dan adil adalah satu-satunya jalan ke depan.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/wmo-kenaikan-suhu-global-diproyeksi-melebihi-15c-sebelum-2030/feed/ 0
ICRI: 84 Persen Terumbu Karang Memutih Akibat Pemanasan Global https://www.greeners.co/berita/icri-84-persen-terumbu-karang-memutih-akibat-pemanasan-global/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=icri-84-persen-terumbu-karang-memutih-akibat-pemanasan-global https://www.greeners.co/berita/icri-84-persen-terumbu-karang-memutih-akibat-pemanasan-global/#respond Sat, 26 Apr 2025 03:06:41 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=46444 Jakarta (Greeners) – International Coral Reef Initiative (ICRI) melaporkan bahwa sebanyak 84 persen wilayah terumbu karang dunia memutih akibat pemanasan global. Sebanyak 82 negara terpapar tekanan panas laut ekstrem sejak […]]]>

Jakarta (Greeners) – International Coral Reef Initiative (ICRI) melaporkan bahwa sebanyak 84 persen wilayah terumbu karang dunia memutih akibat pemanasan global. Sebanyak 82 negara terpapar tekanan panas laut ekstrem sejak 1 Januari 2023 hingga 30 Maret 2025.

Setahun setelah deklarasi resmi peristiwa pemutihan karang global keempat oleh ICRI, peristiwa tersebut masih terus berlangsung dan meluas. Hal ini terlihat dari penambahan tiga tingkat peringatan baru akibat tingginya angka kematian karang. Sebagai perbandingan, peristiwa serupa hanya berdampak pada 21 persen terumbu karang pada 1998, 37 persen pada 2010, dan 68 persen pada 2014–2017.

Menurut keterangan resmi ICRI, pada awal Mei 2024, para ilmuwan menyebut peristiwa pemutihan karang global keempat ini sebagai yang “belum pernah terjadi sebelumnya.” Akibatnya, platform prediksi pemutihan menambahkan tiga level baru, yaitu level tiga hingga lima ke dalam Bleaching Alert Scale.

BACA JUGA: Kerusakan Laut Indonesia Berlangsung Sepanjang 25 Tahun Terakhir

Sebelumnya, level dua merupakan tingkat tertinggi yang menandakan risiko kematian karang yang sensitif terhadap panas. Kini, level lima menandakan situasi ekstrem dengan risiko kematian lebih dari 80 persen dari seluruh karang di suatu terumbu akibat pemutihan yang berlangsung lama.

Berdasarkan keterangan resmi dari ICRI, pemutihan karang terjadi ketika suhu laut yang ekstrem memaksa karang mengusir alga penghasil energi. Kemudian, membuatnya memucat dan rentan mati jika panas berlangsung terlalu lama. Apalagi, tahun lalu tercatat sebagai tahun terpanas dalam sejarah, dengan suhu global melampaui 1,5°C di atas era pra-industri akibat krisis iklim akibat ulah manusia.

Kondisi ini mendorong suhu laut ke rekor tertinggi dan memicu tiga kali lebih banyak gelombang panas laut dibanding sebelumnya. Dampaknya pun akan sangat besar. Sebab, sepertiga kehidupan laut bergantung pada terumbu karang, dan satu miliar orang bergantung padanya untuk pangan, perlindungan, dan penghidupan.

Kondisi Mengkhawatirkan

Duta Besar Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Kelautan, Peter Thomson menyatakan bahwa terumbu karang memutih ini mengkhawatirkan. Hal ini terjadi karena akumulasi gas rumah kaca dari pembakaran bahan bakar fosil masih terus berlangsung.

“Singkatnya, jika kita ingin coral reef tetap hidup, kita harus secara drastis mengurangi emisi dan menjaga pemanasan global tetap di bawah 1,5 derajat Celsius,” kata Peter dalam keterangan tertulisnya.

Selain itu, kesehatan karang berdampak luas pada ekonomi global. Sebab, coral reef dapat memberi manfaat US$10 triliun seperti makanan, pekerjaan, dan perlindungan pesisir. Sayangnya, tutupan karang hidup diperkirakan berkurang setengahnya sejak 1950-an.

Kesehatan Terumbu Karang Menurun 14 Persen

Jaringan Global Coral Reef Monitoring Network (GCRMN) dan jaringan operasional ICRI melaporkan kesehatan terumbu karang menurun sebesar 14 persen. Penurunan ini terjadi antara tahun 2009 hingga 2018. Hal ini terjadi akibat kombinasi kerusakan lingkungan lokal dan perubahan iklim global.

ICRI mengungkapkan untuk mengamankan kesehatan laut secara keseluruhan akan memerlukan biaya kurang dari 2 persen dari potensi kerugian akibat hilangnya coral reef. Perkirannya dapat mencapai US$500 miliar per tahun pada 2100.

BACA JUGA: Terumbu Karang Dunia Rusak Parah

Solusi seperti pemulihan karang, pengurangan polusi, penghentian penangkapan ikan berlebihan, dan pembiakan selektif dapat meningkatkan ketahanan terumbu karang terhadap suhu laut yang lebih panas.

“Kami perlu terus mengamati dan mengukur apa dan bagaimana terumbu karang akan pulih dan berubah. Hal ini guna membantu menentukan kombinasi langkah konservasi yang paling sesuai untuk setiap terumbu karang,” kata Koordinator GCRMN, Britta Schaffelke.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/icri-84-persen-terumbu-karang-memutih-akibat-pemanasan-global/feed/ 0
Apa yang Terjadi pada Bumi Jika Penyerap Karbon Menurun? https://www.greeners.co/berita/apa-yang-terjadi-pada-bumi-jika-penyerap-karbon-menurun/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=apa-yang-terjadi-pada-bumi-jika-penyerap-karbon-menurun https://www.greeners.co/berita/apa-yang-terjadi-pada-bumi-jika-penyerap-karbon-menurun/#respond Mon, 04 Nov 2024 06:59:26 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=45140 Jakarta (Greeners) – Studi internasional terbaru menunjukkan penurunan drastis penyerapan karbon oleh ekosistem daratan pada tahun 2023, yang juga tercatat sebagai tahun terpanas. Penurunan penyerap karbon ini dapat memperburuk dampak […]]]>

Jakarta (Greeners) – Studi internasional terbaru menunjukkan penurunan drastis penyerapan karbon oleh ekosistem daratan pada tahun 2023, yang juga tercatat sebagai tahun terpanas. Penurunan penyerap karbon ini dapat memperburuk dampak pemanasan global dan mengingatkan dunia untuk mempercepat upaya pengurangan emisi karbon di semua sektor.

Lautan, hutan, tanah, dan penyerap karbon alami lainnya menyerap sekitar setengah dari semua emisi yang manusia hasilkan. Namun, dengan meningkatnya suhu Bumi, para ilmuwan khawatir kemampuan ekosistem ini untuk menyerap karbon semakin terganggu. Selain itu, beberapa lokasi penyerap karbon bahkan hampir tidak berfungsi.

Pakar Tumbuhan dari Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI), Arief Hamidi, menyatakan bahwa penurunan penyerapan karbon ini sangat berdampak bagi kondisi Bumi. Saat ini, banyaknya pembukaan lahan dan pengembangan industri juga turut berkontribusi pada peningkatan emisi gas rumah kaca.

“Aktivitas ini harus segera dievaluasi dan disesuaikan dengan kondisi saat ini untuk memangkas emisi secara signifikan dan mencegah kerusakan pada Bumi yang semakin kritis. Pembukaan lahan untuk pembangunan juga perlu diimbangi dengan aksi restorasi atau rehabilitasi hutan,” kata Arief kepada Greeners, Jumat (1/11).

Pentingnya Restorasi Lahan

Meskipun di Indonesia belum ada studi spesifik mengenai penurunan fungsi penyerap karbon, temuan ini tetap perlu mendapat perhatian. Pada target pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) pada tahun 2030-2045, Arief menekankan pentingnya proyek restorasi dan regulasi pengelolaan lahan oleh pemerintah.

BACA JUGA: Perhutanan Sosial di Lahan Gambut Belum Maksimal

“Walaupun temuan terbaru menunjukkan bahwa penyerap karbon, seperti pohon, menurun akibat berbagai faktor, restorasi lahan dengan penanaman pohon secara signifikan tetap harus dilakukan untuk mengoptimalkan penyerapan emisi karbon,” ungkapnya.

Temuan ini juga mengingatkan semua bahwa dampak krisis iklim semakin terasa. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat tahun 2023 merupakan tahun terpanas, baik di Indonesia maupun di banyak tempat di seluruh dunia. Jika kondisi ini dibiarkan, dampak krisis iklim akan semakin parah, dan pencapaian target iklim global akan semakin sulit.

“Dengan berkurangnya fungsi penyerapan karbon, pemanasan global tentu akan semakin parah,” tambah Arief.

Pakar Tumbuhan dari Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI), Arief Hamidi. Foto: Istimewa

Pakar Tumbuhan dari Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI), Arief Hamidi. Foto: Istimewa

Galakkan Penanaman Pohon

Arief menjelaskan, penanaman pohon bisa menjadi solusi untuk membantu mengurangi emisi. Melalui proses fotosintesis, pohon menyerap karbon dioksida (CO2) dan uap air, kemudian mengubahnya menjadi energi bagi tumbuhan serta menghasilkan oksigen dan air sebagai produk sampingan. Karbon yang diserap disimpan sebagai stok karbon dalam bentuk biomassa pohon.

“Semakin banyak pohon yang ada, semakin besar penyerapan karbon dari atmosfer. Ini membantu mengurangi emisi gas rumah kaca dan memitigasi dampak perubahan iklim. Oleh karena itu, penanaman pohon harus terus kita galakkan,” kata Arief.

Arief juga menekankan pentingnya menanam spesies pohon yang sesuai. Beberapa spesies lebih mudah diproduksi, sementara yang lain lebih sulit berkembang biak atau memiliki pola berbuah yang tidak teratur. Oleh karena itu, studi khusus tentang propagasi dan produksi bibit sangat penting, terutama untuk spesies langka atau terancam.

Prioritaskan Rehabilitasi Ekosistem

Arief menekankan bahwa dalam menghadapi krisis iklim, rehabilitasi ekosistem yang rusak harus menjadi prioritas. Tanggung jawab untuk melakukan ini tidak hanya berada di tangan pemerintah, tetapi juga melibatkan berbagai elemen, termasuk komunitas masyarakat, lembaga pendidikan, dan para pakar.

“Kolaborasi ini penting untuk menemukan metode restorasi yang efektif di setiap daerah. Masyarakat dapat berperan dalam penyediaan bibit, penjagaan area, serta perawatan dan pemantauan tanaman,” ujarnya.

Selain itu, penanaman pohon harus seimbang dengan perawatan dan pemantauan yang berkesinambungan. Strategi ini harus melibatkan semua pihak untuk memastikan keberhasilan restorasi habitat.

BACA JUGA: Celour, Cat Dinding dengan Kemampuan Menyerap Karbon

Namun, Arief juga menekankan perlunya penelitian mendalam untuk memahami penyebab penurunan fungsi penyerapan karbon. Penelitian ini penting untuk menentukan apakah faktor yang berkontribusi berasal dari internal pohon atau dari eksternal, seperti perubahan iklim.

“Laporan mengenai gelombang panas, serangan serangga, dan kebakaran menunjukkan bahwa banyak hal dapat menghambat kemampuan pohon dalam menyerap karbon,” kata Arief.

Menurutnya, di Indonesia, sangat penting untuk mengeksplorasi faktor-faktor yang mungkin menghambat penyerapan karbon. Penting juga untuk melakukan aksi di wilayah yang memiliki potensi untuk memulihkan ekosistem.

“Saat ini, masih banyak yang perlu kita lakukan untuk mencapai tujuan tersebut,” ujarnya.

Laut sebagai Penyerap Karbon Melemah

Sementara itu, dengan menurunnya ketahanan Amazon dan kekeringan di beberapa wilayah tropis, kondisi panas di hutan utara turut menyebabkan penurunan penyerapan lahan pada tahun 2023. Fenomena ini berkontribusi pada lonjakan karbon di atmosfer.

“Pada tahun 2023, akumulasi CO2 di atmosfer sangat tinggi. Ini menunjukkan penyerapan yang sangat rendah oleh biosfer terestrial,” kata peneliti di The French Laboratory of Climate and Environmental Sciences, Philippe Ciais.

Ia menambahkan bahwa di belahan bumi utara yang tempat penyerapan CO2 lebih dari setengahnya, para peneliti telah mencatat tren penurunan selama delapan tahun.

Sementara itu, lautan—penyerap CO2 terbesar di alam—telah menyerap 90% pemanasan akibat bahan bakar fosil dalam beberapa dekade terakhir. Hal ini menyebabkan peningkatan suhu laut. Penelitian juga menemukan tanda-tanda bahwa kemampuan lautan sebagai penyerap karbon mulai melemah.

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak studi telah membahas bagaimana dunia bisa meningkatkan penyerapan karbon oleh hutan dan ekosistem alami. Namun, para peneliti menegaskan bahwa tantangan utama adalah melindungi tempat-tempat yang sudah menyimpan karbon. Ini berarti kita perlu menghentikan penggundulan hutan, mengurangi emisi, dan menjaga kesehatan ekosistem yang ada.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/apa-yang-terjadi-pada-bumi-jika-penyerap-karbon-menurun/feed/ 0
13 Musisi Indonesia Suarakan Krisis Iklim Lewat Album Sonic/Panic https://www.greeners.co/aksi/13-musisi-indonesia-suarakan-krisis-iklim-lewat-album-sonic-panic/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=13-musisi-indonesia-suarakan-krisis-iklim-lewat-album-sonic-panic https://www.greeners.co/aksi/13-musisi-indonesia-suarakan-krisis-iklim-lewat-album-sonic-panic/#respond Fri, 27 Oct 2023 02:26:35 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=42092 Jakarta (Greeners) – Berangkat dari kesadaran dan kekhawatiran akan krisis iklim, 13 musisi Indonesia dari berbagai genre bergabung untuk sebuah album kompilasi bertajuk ‘sonic/panic’. Sejumlah musisi ternama dalam negeri pun […]]]>

Jakarta (Greeners) – Berangkat dari kesadaran dan kekhawatiran akan krisis iklim, 13 musisi Indonesia dari berbagai genre bergabung untuk sebuah album kompilasi bertajuk ‘sonic/panic’. Sejumlah musisi ternama dalam negeri pun turut berpartisipasi. Pada album ini, mereka menuangkan ekspresi kreatifnya dengan menyuarakan isu paling darurat di dunia.

Musisi tersebut ialah Iga Massardi, Endah N Rhesa, Navicula, Tony Q Rastafara, Tuantigabelas, Iksan Skuter, FSTVLST, dan Made Mawut. Kemudian, Nova Filastine, Guritan Kabudul, Kai Mata, Rhythm Rebels, dan Prabumi pun ikut berkontribusi.

Uniknya, pada setiap musisi yang terlibat pada album ‘sonic/panic’ telah membawa karakter dan gaya musik mereka masing-masing ke dalam kolaborasi ini. Selain itu, ‘sonic/panic’ diproduksi oleh Alarm Records, label rekaman sadar iklim pertama di Indonesia yang dibentuk oleh ke-13 musisi yang telah terlibat.

BACA JUGA: Net Zero Summit 2023 Galang Aksi Nyata Atasi Krisis Iklim

“Aku paling cengeng sepanjang workshop dan sempat mengalami mental breakdown di hari kedua. Ini merupakan masalah yang berat. Sebagai musisi, kami harus punya cara untuk mengekspresikan kekhawatiran dan ketakutan,” ungkap Personil Endah N Rhesa, Endah Widiastuti dalam Press Conference di Jakarta, Selasa (24/10).

Menurut Endah, meskipun bukan bermaksud menakut-nakuti, faktanya telah ada bahwa di kurun waktu tertentu krisis ini akan terjadi.

Gagasan untuk membuat album kompilasi ‘sonic/panic’ muncul setelah ke-13 musisi ini berkumpul di Bali beberapa bulan lalu. Para musisi mengikuti workshop serta diskusi soal isu iklim dan cara musisi dapat turut berkontribusi dalam mengatasi isu ini.

“Setelah workshop waktu itu aku hampir tidak bisa ikut press conference di Bali karena aku merasa hancur melihat kenyataan yang terjadi,” ujar Endah.

Angkat Beragam Topik Isu Lingkungan

Sementara itu, album ‘sonic/panic’ terdiri dari 13 lagu dari 13 musisi dengan berbagai genre. Misalnya, seperti hip-hop, rock, blues, electronica, reggae, pop, hingga world music. Adapun topik di tiap lagu juga beragam seperti isu krisis iklim, degradasi alam, polusi plastik, dan panggilan untuk aksi nyata secara kolektif.

“Harus ada gerakan masif di mana semua pihak perlu terlibat demi generasi yang akan datang. Sebab, rasanya tidak adil kalau kita sudah tua, atau sudah tidak ada, tetapi menyisakan suatu hal yang tidak kita perjuangkan dengan baik,” tambah Endah.

Rapper Upi atau Tuantigabelas juga merasakan pengalaman yang hampir sama. Dirinya ‘menyesal’ mengikuti workshop di Bali waktu itu, karena melihat fakta yang banyak dan menakutkan.

BACA JUGA: Praktik Guna Ulang Solusi Kurangi Sampah Plastik dan Krisis Iklim

“Hari pertama kami semua masih bisa ngobrol. Hari kedua semua terdiam. Ini bumi bagaimana, ya? Faktanya bikin kami bengong. Aku sama Endah sempat makan bareng, lalu saling pandang dan kami tanpa sadar menangis. Ini serius sekali. Ini adalah tongkat estafet yang harus disampaikan dalam bentuk yang aku tahu, yaitu musik,” ujarnya.

Menurut Upi, seluruh lagu dalam album ini merupakan suara terdalam dari para musisi. Dirinya menyatakan bahwa lagu ini yang paling sulit untuk ditulis.

“Jadi ada khawatir, putus asa, tapi harus punya harapan karena saya punya tiga anak. Saya tidak mau bumi ini habis begitu saja buat generasi berikutnya,” tambah Upi.

Musisi Indonesia menyuarakan krisis iklim lewat album sonic/panic. Foto: Music Declares Emergency (MDE) Indonesia

Musisi Indonesia menyuarakan krisis iklim lewat album sonic/panic. Foto: Music Declares Emergency (MDE) Indonesia

Ada Sense of Urgency pada Album ‘Sonic/Panic’

Dalam kesempatan yang sama, Gede Robi dari band Navicula mengungkapkan, musisi sebagai bagian dari masyarakat juga ingin terlibat dalam menyuarakan isu ini melalui ‘sonic/panic’.

“Sonic adalah audio, panic ada sense of urgency. Kami sebagai musisi berkontribusi terhadap negara karena tujuan negara memang harus membersihkan emisi Indonesia sesuai target tahun 2060,” kata Robi.

Lagu ‘Plastic Tree’ milik Endah N Rhesa, misalnya. Lagu itu menggambarkan dunia tanpa pohon yang digantikan replika plastik. Lewat liriknya, telah menjadi pengingat yang kuat tentang dampak lingkungan dari tindakan manusia.

“Kami membawa imajinasi jika di dunia ini tidak ada pohon, tidak ada burung yang bernyanyi, ayam berkokok, lebah memanfaatkan baterai supaya mereka bisa terbang, segalanya lebih artifisial. Semua jadi mengagumkan, tapi menyeramkan. Kita jangan menganggap remeh kemampuan kita menemukan hal-hal baru, tetapi ada risiko juga. Ada kemegahan, ada kehancuran, ketakutan. Jadi mixed feelings,” imbuh Robi.

Navicula Suarakan Pemanasan Global

Pada lagu ‘House on Fire’, band Navicula menyuarakan pemanasan global dan spirit kolaborasi. Navicula yang berdiri sejak tahun 1996 telah membicarakan isu lingkungan sejak awal.

“Meskipun sepertinya sudah gencar mengangkat isu ini, rasanya tidak ada perubahan. Kami menyadari rasanya harus lebih banyak kolaborasi. Jadi, spirit lagu  ‘House on Fire’ ini adalah kolaboratif. Alangkah besarnya gaung ini jika semua industri kreatif membicarakan isu ini,” kata Robi.

Selain itu, album ‘sonic/panic’ ini akan meluncur secara serentak di seluruh platform streaming digital, pada  4 November 2023 mendatang.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/13-musisi-indonesia-suarakan-krisis-iklim-lewat-album-sonic-panic/feed/ 0
Aspek Kesehatan Paling Rentan Terdampak Perubahan Iklim https://www.greeners.co/berita/aspek-kesehatan-paling-rentan-terdampak-perubahan-iklim/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=aspek-kesehatan-paling-rentan-terdampak-perubahan-iklim https://www.greeners.co/berita/aspek-kesehatan-paling-rentan-terdampak-perubahan-iklim/#respond Fri, 30 Jun 2023 06:00:49 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=40629 Jakarta (Greeners) – Selama beberapa dekade, komunitas kesehatan global dan masyarakat mengakui bahwa krisis iklim adalah krisis kesehatan. Sektor kesehatan harus tegas dan mawas diri mengantisipasi dan menghadapi potensi penyakit […]]]>

Jakarta (Greeners) – Selama beberapa dekade, komunitas kesehatan global dan masyarakat mengakui bahwa krisis iklim adalah krisis kesehatan. Sektor kesehatan harus tegas dan mawas diri mengantisipasi dan menghadapi potensi penyakit karena perubahan iklim ini.

Saat ini, aspek kesehatan sering kali suaranya minor dalam negosiasi iklim. Bahkan, negara-negara tidak memberikan respons adaptasi yang sebanding dengan meningkatnya risiko yang dihadapi populasi mereka. Pada tahun 2020, sebanyak 104 (63 %) dari 166 negara tidak menerapkan kerangka kerja darurat kesehatan nasional.

Tokoh kesehatan di Department of Paediatric Respiratory Medicine and Allergology, Erasmus University Medical Centre, The Netherlands, Marielle Pijnenburg mengatakan, kesehatan aspek paling rentan dari dampak perubahan iklim. Kelompok yang paling rentan terdampak adalah anak-anak.

Berdasarkan jurnal medis The Lancet, perubahan iklim telah berkontribusi pada paparan gelombang panas. Pada Juni 2021 suhu di wilayah Barat Laut Pasifik Amerika dan Kanada memecahkan rekor lebih dari 40 derajat Celcius.

Perubahan iklim menyebabkan polusi udara dan gas berbahaya lain terperangkap di dalam bumi. Hal ini bisa membuatnya mudah terhirup oleh manusia hingga meningkatkan risiko terjadinya penyakit pernapasan dan berujung kematian.

Fenomena ini juga meningkatkan penyebaran atau kejadian penyakit seperti tular vektor (DBD dan malaria), tular udara (pneumonia), tular air (diare), serta penyakit sensitif iklim lainnya pada penduduk.

Minim Ketahui Dampak Perubahan Iklim

Executive Director Sunway Centre for Planetary Health, Sunway University Malaysia, Jemilah Mahmood berpandangan, implikasi kesehatan dari perubahan iklim masih minim manusia sadari.

“Saya pikir dampak perubahan iklim tidak merata di berbagai wilayah. Beberapa dampak pun tidak disadari oleh orang-orang. Saya pikir pengetahuan mungkin masih rendah,” kata Jemilah di The Lancet Webinars, Kamis (29/6).

Menurutnya, perubahan iklim ini sangat penting dalam merencanakan dampak kesehatan terhadap lingkungan dan manusia. Salah satu aksi yang sedang dicanangkan yaitu program kesehatan bagi masyarakat secara luas. Setelah berjalan dua tahun, progresnya signifikan.

Dampak perubahan iklim seperti gelombang panas telah meluas ke sejumlah negara. Foto: Shutterstock

Tinggalkan Energi Fosil

Pembakaran bahan bakar fosil melepaskan karbon dioksida yang memerangkap panas di atmosfer dan menjadikannya kontributor utama pemanasan global.

“Model ekonomi yang bergerak dalam fosil ini selalu menimbulkan polusi. Dengan menggunakan teknologi apapun, ini sangat berpengaruh terhadap perubahan iklim. Hal tersebut juga menjadi tantangan bagi komunitas kesehatan,” kata Junior Doctor, The People’s Health Movement Movement UK, Rhiannon Osborne.

Ia pun merekomendasi transisi energi dan tidak lagi menggunakan energi fosil untuk menciptakan keadilan global.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/aspek-kesehatan-paling-rentan-terdampak-perubahan-iklim/feed/ 0
Kenaikan Suhu Laut Ancam Kematian Massal Ikan https://www.greeners.co/berita/kenaikan-suhu-laut-ancam-kematian-massal-ikan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kenaikan-suhu-laut-ancam-kematian-massal-ikan https://www.greeners.co/berita/kenaikan-suhu-laut-ancam-kematian-massal-ikan/#respond Tue, 20 Jun 2023 05:55:57 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=40485 Jakarta (Greeners) – Kematian ribuan ikan mati dan terdampar di Pantai Bryan dekat muara Sungai Brazos, Texas, Amerika Serikat mengingatkan dunia ada yang tidak beres dengan kondisi lautan. Beragam spekulasi […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kematian ribuan ikan mati dan terdampar di Pantai Bryan dekat muara Sungai Brazos, Texas, Amerika Serikat mengingatkan dunia ada yang tidak beres dengan kondisi lautan. Beragam spekulasi muncul, salah satunya kenaikan suhu dampak pemanasan global.

Dari temuan sementara, ribuan ikan mati karena kekurangan oksigen saat mereka berenang di perairan dangkal di musim panas.

Pemerhati Lingkungan dari Universitas Indonesia Mahawan Karuniasa mengungkapkan, otoritas setempat menyampaikan penyebab utama kematian ribuan ikan karena oksigen terlarut. Hal ini bagian dari suhu laut yang meningkat dan lebih panas.

“Yang perlu kita cermati, oksigen terlarut tidak hanya dibutuhkan ikan, tetapi juga organisme lain di laut,” katanya kepada Greeners, di Jakarta, Senin (19/6).

Sementara itu, perubahan kondisi ekosistem laut bisa terjadi karena aktivitas manusia seperti pencemaran atau faktor perubahan iklim. Ia menambahkan, perubahan kondisi ekosistem laut juga akan mengubah perilaku hewan, dan habitatnya.

“Ikan-ikan akan bermigrasi, jalurnya pun berubah. Akhirnya ikan akan mati akibat keracunan dan kekurangan oksigen,” ucap Mahawan.

Kematian Massal Ikan juga Terjadi di Indonesia

Banyak ilmuwan khawatir suhu laut meningkat lebih cepat dari biasanya. Implikasinya banyak. Pemanasan global dengan ditandai kenaikan permukaan air laut berdampak pada seluruh kehidupan masyarakat seluruh dunia yang dekat dengan wilayah pantai. Ini terjadi juga di Indonesia.

“Terjadinya penurunan permukaan tanahjuga memperburuk dampak kenaikan air laut,” imbuhnya.

Belum lagi keasaman laut juga mengalami peningkatan. Hal ini membuat pH laut rendah dan berdampak pada rantai dasar makanan di laut.

Banyak kejadian yang telah terjadi di Indonesia pada ekosistem laut maupun perairan air tawar. Misalnya pada tahun 2021 di Teluk Jakarta terjadi keracunan ikan. Tahun 2022 di Sungai Brantas, Jawa Timur. Lalu tahun 2023 terjadi di Danau Maninjau, ikan diduga kekurangan oksigen dan ada perubahan arus air.

Badan Meteorologi Dunia menyebut, tahun 2023-2027 kenaikan suhu menembus 1,5 derajat Celcius. Bahkan ilmuwan memperkirakan lebih dari kisaran itu. Kondisi tersebut akan berdampak ke dalam kehidupan manusia.

“Air, pangan dan produktivitas pertanian akan menurun. Perilaku alam juga akan berubah dan berdampak serius,” tandasnya.

Mahawan menegaskan perlunya mitigasi dari sektor energi dengan mengurangi penggunaan energi fosil karena masih menyumbang emisi.

Sementara itu untuk adaptasi, perlu penyiapan dana bagi petani dan nelayan untuk memperkuat resiliensi atau ketahanan masyarakat menghadapi kondisi yang buruk.

Gelombang panas mengancam ekosistem laut. Foto: Freepik

Ancaman Kenaikan Suhu

Menurut laporan National Aeronautics and Space Administration (NASA), pada tahun 2022 suhu permukaan bumi naik 0,89 derajat Celcius dibanding suhu rata-rata tahunan periode 1951-1980.

International Union for Conservation of Nature (IUCN) sejak November 2017 juga menyatakan, dengan adanya kenaikan suhu akan berisiko terhadap ekosistem laut. Termasuk pada kematian yang tinggi, hilangnya tempat berkembang biak, dan migrasi massal spesies untuk mencari kondisi lingkungan yang menguntungkan.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/kenaikan-suhu-laut-ancam-kematian-massal-ikan/feed/ 0
Jelang Kemarau, Pengendalian Karhutla tak Boleh Kendur  https://www.greeners.co/berita/jelang-kemarau-pengendalian-karhutla-tak-boleh-kendur/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jelang-kemarau-pengendalian-karhutla-tak-boleh-kendur https://www.greeners.co/berita/jelang-kemarau-pengendalian-karhutla-tak-boleh-kendur/#respond Mon, 01 May 2023 05:00:49 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=39896 Jakarta (Greeners) – Antisipasi pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tak boleh kendur, harus semua pihak lakukan setiap saat dan tak hanya ketika adanya El Nino. Sebelumnya Badan Meteorologi Klimatologi […]]]>

Jakarta (Greeners) – Antisipasi pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tak boleh kendur, harus semua pihak lakukan setiap saat dan tak hanya ketika adanya El Nino.

Sebelumnya Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan agar semua pihak lebih siap dan antisipatif terhadap dampak musim kemarau yang lebih kering dari biasanya.

Prediksi peningkatan risiko bencana kekeringan meteorologis, karhutla dan kekurangan air bersih harus menjadi perhatian karena musim kemarau tahun ini jauh lebih kering daripada tiga tahun terakhir.

Maret 2023 lalu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah merilis luas karhutla telah mencapai 12.666 hektare di 29 provinsi di Indonesia.

Pakar karhutla dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Bambang Hero Saharjo mengatakan, hadirnya El Nino menyebabkan suhu udara akan meningkat dari biasanya dan kelembapan relatif akan menurun. Implikasinya yakni percepatan proses pengeringan bahan bakar sehingga akan relatif mudah terbakar.

“Kondisi ini akan sangat berbahaya. Sebab, akan mempermudah proses penjalaran api karena bahan bakar di lapangan dalam keadaan relatif mudah terbakar,” kata dia kepada Greeners, Senin (1/5).

Implikasi lain dari hadirnya El Nino maka beberapa wilayah tempat kantong penyimpan air dalam kegiatan pemadaman keberadaan air akan berkurang sehingga akan mengganggu kegiatan pemadaman.

Extreme Fire akan Terus Meningkat

Program Lingkungan PBB (UNEP) tahun 2022 juga melaporkan bahwa extreme fire akan terus meningkat sebesar 14 % hingga tahun 2030. Peningkatan extreme fire akan mencapai 30 % hingga tahun 2050.

Berdasarkan laporan UNEP tersebut maka upaya pengendalian karhutla tidak boleh kendur, terlebih hanya menunggu kehadiran El Nino. “Sebab laporan UNEP itu sekaligus berpengaruh terhadap terjadinya kebakaran periode mendatang,” imbuhnya.

Bambang menekankan, upaya pengendalian karhutla bukan saja hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat atau instansi semata. Namun, seluruh lapisan masyarakat juga harus bersama-sama mengendalikannya.

“Jangan sampai terus berulang. Saat kegiatan seremonial pengendalian karhutla semua pihak terkait hadir. Tapi saat terjadi kebakaran tidak sebanyak peserta seremonial tersebut,” ungkapnya.

Kebakaran lahan gambut di Rumbai Pesisir, Pekanbaru, Riau (26/2/2020). Foto: Shutterstock.

Pengendalian Karhutla Masih Bergantung Pemerintah Pusat

Pengendalian karhutla membutuhkan kecukupan dana dan sumber daya agar api bisa padam. Namun, Bambang menilai meski kejadian karhutla terjadi hampir setiap tahun tapi sampai detik ini banyak pemerintah daerah yang masih menggantungkan pada anggaran pusat dan personal pemadamnya.

Juru Kampanye Pantau Gambut Wahyu Perdana menyatakan, faktor lain penyebab kerentanan karhutla di antaranya perubahan fungsi lahan, khususnya di lahan gambut yang memicu kabut asap. Beberapa lokasi, bahkan berulang terbakar lebih dari satu kali.

“Faktor lahan gambut yang dibuka oleh perkebunan ataupun beralih fungsi juga meningkatkan kerentanan,” kata Wahyu.

Pada studi kerentanan karhutla Pantau Gambut 2023 yang menggunakan dataset tahun 2015 hingga 2019, menyebut 16,4 juta hektare area gambut di Indonesia rentan terbakar.

“Di mana area seluas 3,8 juta hektare masuk ke dalam kategori kerentanan tinggi (high risk) dan 12,6 juta hektare tergolong ke dalam kerentanan sedang (medium risk),” tuturnya.

Wahyu mengkhawatirkan, jika situasi karhutla tak bisa diantisipasi maka akan sangat berisiko menimbulkan bencana ekologis. “Seperti pada tahun 2015 dan 2019 yang berdampak pada kondisi sosial ekonomi masyarakat,” kata dia.

Metana dan Emisi GRK Meningkat 7 Kali Lipat

Peneliti University of California menyatakan, karhutla telah memperparah pemanasan global. Gas metana dan emisi gas rumah kaca (GRK) yang terlepas naik 7 kali lipat dalam 20 tahun terakhir.

Studi dalam jurnal Atmospheric Chemistry and Physics ini mengungkap semakin intens karhutla maka semakin besar pula emisi yang dihasilkan. Para peneliti menyebut, pemanasan global akibat metana telah menghangatkan planet ini 86 kali daripada karbon dioksida selama 20 tahun.

Wahyu menyatakan dampak karhutla terhadap perubahan iklim sangat nyata khususnya pada kebakaran gambut.

“Kebakaran pada tanah mineral dan tanah gambut tidak bisa kemudian kita perlakukan sama. Pada gambut menghasilkan asap lebih banyak karena faktor fisik ekosistem gambutnya,” ujar dia.

Ia mengingatkan kembali potensi lahan gambut di Indonesia sangat tinggi, yakni menyimpan sekitar 57 gigaton karbon. Ini setara sekitar 30 % karbon dunia.

“Cadangan karbon dalam tanah gambut akan terlepas ke udara jika kita keringkan atau alih fungsikan. Ini menyumbang 63 % total emisi karbon dunia,” pungkas dia.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/jelang-kemarau-pengendalian-karhutla-tak-boleh-kendur/feed/ 0
Asia Alami Gelombang Panas, BMKG: di Indonesia Tidak Terjadi https://www.greeners.co/berita/asia-alami-gelombang-panas-bmkg-di-indonesia-tidak-terjadi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=asia-alami-gelombang-panas-bmkg-di-indonesia-tidak-terjadi https://www.greeners.co/berita/asia-alami-gelombang-panas-bmkg-di-indonesia-tidak-terjadi/#respond Tue, 25 Apr 2023 05:59:24 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=39824 Jakarta (Greeners) – Sejak pekan lalu, hampir sebagian besar negara-negara di Asia Selatan masih terdampak gelombang panas atau heatwave. Kendati Indonesia mengalami cuaca panas terik beberapa waktu belakangan ini, tapi […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sejak pekan lalu, hampir sebagian besar negara-negara di Asia Selatan masih terdampak gelombang panas atau heatwave. Kendati Indonesia mengalami cuaca panas terik beberapa waktu belakangan ini, tapi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan Indonesia tak mengalami gelombang panas seperti di negara Asia lainnya.

Menurut BMKG, gelombang panas umumnya terjadi pada wilayah yang terletak pada lintang menengah dan tinggi. Tepatnya di belahan Bumi Bagian Utara maupun di belahan Bumi Bagian Selatan. Lalu wilayah geografisnya memiliki atau berdekatan dengan massa daratan dengan luasan yang besar, atau wilayah kontinental atau sub-kontinental.

Sementara Indonesia terletak di wilayah ekuator, kondisinya geografis kepulauan yang di kelilingi perairan yang luas. 

Indikator lainnya, gelombang panas dalam ilmu cuaca dan iklim didefinisikan sebagai periode cuaca dengan kenaikan suhu panas yang tidak biasa. Kondisi ini berlangsung setidaknya lima hari berturut-turut atau lebih sesuai batasan Badan Meteorologi Dunia (WMO).

Tak hanya itu, saat gelombang panas, kenaikan suhu di suatu lokasi melebihi suhu maksimum harian, misalnya 5 derajat lebih panas dari rata-rata klimatologis suhu maksimum.

Bukan Gelombang Panas

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, fenomena udara panas yang terjadi belakangan di Indonesia jika ditinjau secara mendalam dengan sejumlah penjelasan di atas tidak termasuk dalam kategori gelombang panas.

Sementara itu, Badan Meteorologi di negara-negara Asia seperti Myanmar, Bangladesh, India, China, Thailand, hingga Laos telah melaporkan suhu panas lebih dari 40 derajat Celcius.

Badan Meteorologi China melaporkan lebih dari 100 stasiun cuaca di China mencatat suhu tertinggi sepanjang sejarah di bulan April ini. Senada, di Jepang suhu juga melonjak sangat panas. Demikian juga di Kumarkhali, kota di Distrik Kusthia, Bangladesh tercatat suhu maksimum harian mencapai 51,2 derajat Celcius pada 17 April 2023.

“Suhu panas bulan April di wilayah Asia secara klimatologis dipengaruhi oleh gerak semu matahari. Namun, lonjakan panas di wilayah sub-kontinen Asia Selatan, kawasan Indochina dan Asia Timur pada tahun 2023 ini termasuk yang paling signifikan lonjakannya,” kata Dwikorita dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (25/4).

Perubahan Iklim Pemicu Gelombang Panas

Para pakar iklim menyimpulkan, tren pemanasan global dan perubahan iklim yang terus terjadi hingga saat ini berkontribusi menjadikan gelombang panas semakin berpeluang terjadi lebih sering.

Cuaca terik juga terjadi di Indonesia dengan suhu maksimum harian mencapai 37,2 derajat Celcius. Suhu tertinggi juga tercatat di beberapa lokasi dengan kisaran suhu 34 hingga 36 derajat Celcius.

Suhu panas yang terjadi di wilayah Indonesia merupakan fenomena akibat dari adanya gerak semu matahari yang merupakan suatu siklus yang biasa dan terjadi setiap tahun.

“Sehingga potensi suhu udara panas seperti ini juga dapat berulang pada periode yang sama setiap tahunnya,” ucap Dwikorita.

Secara indikator statistik suhu kejadian, lonjakan suhu maksimum mencapai 37,2 derajat Celcius melalui pengamatan stasiun BMKG di Ciputat hanya terjadi satu hari di tanggal 17 April 2023.

Sementara suhu tinggi tersebut sudah turun dan kini suhu maksimum teramati berada dalam kisaran 34 hingga 36°C di beberapa lokasi.

Variasi suhu maksimum 34 hingga 36 derajat Celcius untuk wilayah Indonesia masih dalam kisaran normal klimatologi daripada tahun-tahun sebelumnya. Secara klimatologis untuk Jakarta mengalami puncak suhu maksimum di bulan April, Mei, Juni.

Saat beraktivitas di luar ruang dan cuaca terik, gunakan tabir surya untuk lindungi kulit. Foto: Shutterstock

Musim Kemarau hingga Oktober

Prakirawan BMKG Iqbal Fathoni juga menyatakan suhu maksimum harian relatif cukup tinggi terjadi hingga musim kemarau berakhir (sekitar Oktober).

Saat ini sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki awal musim kemarau di mana tingkat perawanan akan cukup rendah pada siang hari. “Sehingga masyarakat diimbau tetap mengantisipasi kondisi cuaca yang cukup panas siang hari,” kata dia kepada Greeners, Selasa (25/4).

Kondisi suhu udara yang terik kerap kali dikaitkan dengan fluktuasi radiasi ultraviolet (UV) dari sinar matahari. “Perlu menjadi perhatian bahwa indeks UV ekstrem akan berbeda dalam tiap jam. Biasanya yang berbahaya berada pada kisaran pukul 12.00 hingga 13.00 waktu setempat,” ungkapnya.

Faktor cuaca lainnya seperti berkurangnya tutupan awan dan kelembapan udara dapat memberikan kontribusi lebih terhadap nilai indeks UV. Cuaca cerah-berawan pagi hingga siang hari berpotensi menyebabkan indeks UV pada kategori “very high” dan “extreme” di siang hari.

BMKG mengimbau masyarakat agar tak perlu panik menyikapi informasi UV harian tersebut. Masyarakat agar selalu memakai pelindung atau tabir surya saat melakukan aktivitas di luar ruangan.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/asia-alami-gelombang-panas-bmkg-di-indonesia-tidak-terjadi/feed/ 0
Moss Campion, Berusia Tua dan Berkhasiat untuk Penderita Kolik https://www.greeners.co/flora-fauna/moss-campion-berusia-tua-dan-berkhasiat-untuk-penderita-kolik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=moss-campion-berusia-tua-dan-berkhasiat-untuk-penderita-kolik https://www.greeners.co/flora-fauna/moss-campion-berusia-tua-dan-berkhasiat-untuk-penderita-kolik/#respond Sat, 18 Feb 2023 03:00:51 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=39019 Moss campion (Silene acaulis) merupakan bunga liar yang ada di pegunungan, terutama di seluruh Arktik, tundra dan di pegunungan tinggi Eurasia dan Amerika Utara. Tumbuhan ini dulunya digunakan untuk anak-anak […]]]>

Moss campion (Silene acaulis) merupakan bunga liar yang ada di pegunungan, terutama di seluruh Arktik, tundra dan di pegunungan tinggi Eurasia dan Amerika Utara.

Tumbuhan ini dulunya digunakan untuk anak-anak penderita kolik. Sedangkan akar mentahnya dikonsumsi untuk sayuran di Islandia dan wilayah Arktik. Moss campion tertua diketahui berusia 350 tahun dengan diameter dua kaki.

Perubahan iklim sangat berdampak signifikan terhadap pertumbuhan famili Caryophyllaceae ini. Terbukti, tumbuhan ini berbunga lebih awal daripada seharusnya. 

Morfologi dan Ciri-ciri Umum 

Tumbuhan ini hanya tumbuh dengan tinggi mencapai 5 hingga 15 sentimeter di atas tanah tanah. Sekilas, tumbuhan ini seperti hamparan lumut bertabur bunga-bunga berwarna merah muda.

Bunganya berwarna merah muda dengan tangkai pendek sekitar 1 inci, tapi biasanya jauh lebih pendek. Bunganya berbentuk seperti bintang dengan lebar antara 6 hingga 12 milimeter dengan bunga hermafrodit lebih besar daripada bunga betina. Bunga jantan menghasilkan kualitas biji lebih baik daripada hermafrodit.

Menariknya, frekuensi jenis kelamin berubah-ubah seiring dengan ketinggiannya. Semakin tinggi tumbuhan ini maka frekuensi bunga betina tumbuh meningkat. Mereka biasanya muncul pada bulan Juni hingga Agustus.

Batang dan daunnya sangat lengket dan kental. Dapat membuat semut dan kumbang enggan mendekat ke tumbuhan ini. Untuk varietas exscapa memiliki batang berbunga lebih pendek. Varietas subacaulescens lainnya, dari Wyoming dan Colorado, memiliki bunga merah muda dan lebih pucat sepanjang musim panas.

Habitat dan Distribusi Penyebaran 

Moss campion biasa tumbuh di pegunungan berbatu dan puncak pepohonan. Di satu sisi mereka tumbuh di tempat yang kering dan berkerikil, tetapi juga lembab.

Mereka bisa kita jumpai di beberapa wilayah, terutama di seluruh Arktik, tundra dan di pegunungan tinggi Eurasia dan Amerika Utara.

Manfaat Moss Campion

Usia tumbuhan ini di Colorado diperkirakan mencapai 75 hingga 100 tahun. Sedangkan di Alaska bisa mencapai 300 tahun, dan tertua berusia 350 tahun dan memiliki diameter dua kaki. 

Sebuah studi pada empat populasi yang melintasi gradien lintang di Amerika Utara menunjukkan bahwa populasi tumbuhan ini di selatan memiliki kelangsungan hidup lebih rendah daripada di utara. Studi lain menunjukkan bahwa populasi spesies ini berisiko dalam pemanasan global di masa depan.

Taksonomi Moss Campion (Silene acaulis)

Penulis: Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/moss-campion-berusia-tua-dan-berkhasiat-untuk-penderita-kolik/feed/ 0
Jendela Termokromik Ini Bisa Kurangi Beban Energi Bangunan https://www.greeners.co/ide-inovasi/jendela-termokromik-ini-bisa-kurangi-beban-energi-bangunan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jendela-termokromik-ini-bisa-kurangi-beban-energi-bangunan https://www.greeners.co/ide-inovasi/jendela-termokromik-ini-bisa-kurangi-beban-energi-bangunan/#respond Fri, 17 Feb 2023 04:12:40 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=39016 Penelitian Laboratorium Energi Terbarukan Nasional Departemen Energi AS (NREL) menyatakan penggunaan jendela termokromik di gedung perkantoran dapat menghemat energi secara besar-besaran di semua zona iklim di Amerika Serikat. Teknologi yang […]]]>

Penelitian Laboratorium Energi Terbarukan Nasional Departemen Energi AS (NREL) menyatakan penggunaan jendela termokromik di gedung perkantoran dapat menghemat energi secara besar-besaran di semua zona iklim di Amerika Serikat. Teknologi yang memodulasi suhu di dalamnya bisa mengurangi beban energi bangunan. 

Dengan menggunakan bahan perovskit, jendela termokromik ini dapat menyerap energi dari pergeseran matahari. Teknologi ini mengurangi beban pemanasan di iklim hangat dan beban pendinginan di daerah yang lebih dingin.

Pemimpin utama proyek ini Lance Wheeler mengatakan, transisi ke jendela termokromik menghemat energi setiap tahunnya.

“Jika semua pekerja di gedung kantor disimulasikan mengendarai kendaraan listrik dengan jarak rata-rata perjalanan orang Amerika, maka energi tahunannya bisa untuk mengisi penuh mobil setiap pekerja setiap hari sepanjang tahun,” ucapnya.

Temuan ini berdasarkan studi berjudul “Thermochromic Halide Perovskite Windows with Ideal Transition Temperatures,” dalam jurnal Advanced Energy Materials .

Rekan penulisnya dari NREL adalah Bryan Rosales, Janghyun Kim, Kevin Prince, Mirzo Mirzokarimov, Tom Daligault, Adam Duell, Colin Wolden, dan Laura Schelhas. Rekan penulis lainnya berasal dari Colorado School of Mines, University of Wisconsin–Stout, dan Swift Solar.

Konsumsi Energi Bangunan Capai 40 %

Selama ini, beban energi bangunan berkontribusi signifikan terhadap semua konsumsi energi utama di Amerika Serikat. Besarannya mencapai 40 %.

Dalam penelitian ini, para peneliti menggunakan struktur bangunan 12 lantai dengan rasio jendela ke dinding sebesar 95 %. Mereka mensimulasikan penggunaan energi di gedung dalam interval 15 menit selama setahun di delapan zona iklim di seluruh negeri.

Zona tersebut meliputi Hawaii, Arizona, California, Colorado, New York, Wisconsin, Minnesota, dan Alaska. Mereka menemukan bahwa jendela panel ganda termokromik meningkatkan efisiensi energi bangunan daripada jendela pandel ganda di setiap zona.

Penghematan energi lebih besar di daerah yang lebih dingin. Namun, jendela panel ganda termokromik dapat mengungguli jendela pandel tiga di zona iklim terpanas. “Jika suhu transisi terlalu tinggi, jendela mungkin tidak menghemat energi, dan bangunan lebih baik dengan jendela statis,” kata Wheeler.

Penulis: Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Sumber: Techxplore

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/jendela-termokromik-ini-bisa-kurangi-beban-energi-bangunan/feed/ 0
Indonesia Komitmen Kurangi HFC Melalui Amendemen Kigali https://www.greeners.co/berita/indonesia-komitmen-kurangi-hfc-melalui-amandemen-kigali/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=indonesia-komitmen-kurangi-hfc-melalui-amandemen-kigali https://www.greeners.co/berita/indonesia-komitmen-kurangi-hfc-melalui-amandemen-kigali/#respond Sun, 29 Jan 2023 05:00:06 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=38785 Jakarta (Greeners) – Pemerintah Indonesia menunjukkan komitmennya dalam pengurangan produksi dan konsumsi Hidroflorokarbon (HFC) sebagai upaya mengurangi pemanasan global. Langkah tersebut Indonesia lakukan melalui ratifikasi Amendemen kelima Protokol Montreal atau […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pemerintah Indonesia menunjukkan komitmennya dalam pengurangan produksi dan konsumsi Hidroflorokarbon (HFC) sebagai upaya mengurangi pemanasan global. Langkah tersebut Indonesia lakukan melalui ratifikasi Amendemen kelima Protokol Montreal atau Amendemen Kigali.

Amendemen yang akan mulai berlaku pada 14 Maret 2023 ini mengatur pengurangan produksi dan konsumsi HFC secara global.

Dalam keterangannya, Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim (PPI) KLHK, Laksmi Dhewanthi mengatakan, pengendalian konsumsi HFC melalui penerapan Amendemen Kigali akan membantu mencegah pemanasan global sampai dengan 0,4 °C pada tahun 2100. Selain itu langkah ini untuk melindungi lapisan ozon.

Kasubdit Pengendalian Bahan Perusak Ozon Direktorat Mitigasi Perubahan Iklim Zulhasni menyatakan, dampak ratifikasi ini sangat signifikan untuk pengendalian emisi Gas Rumah Kaca (GRK).

“Dampaknya bisa mengurangi emisi GRK dan juga berkontribusi untuk memenuhi komitmen Pemerintah Indonesia yang ditetapkan NDC,” katanya kepada Greeners, Jumat (27/1).

Kontribusi HFC Terhadap Pemanasan Global Sangat Besar

Dibanding karbon dioksida, sambung dia kontribusi HFC terhadap pemanasan global jauh lebih besar yakni berkisar 124 hingga 14.800 kali lipat. Melalui Amendemen Kigali ini ia berharap penurunan emisi GRK bisa serentak secara global.

“Kalau pengurangan konsumsi di Indonesia saja tentu tidak signifikan. Tapi kalau dilakukan semua negara pasti akan mengurangi emisi GRK,” imbuhnya.

Zulhasni menambahkan setelah ratifikasi ini maka pemerintah telah terikat dengan komitmen pembatasan HFC di industri sesuai dengan jadwal pembatasan secara bertahap.

“Oleh karena itu harus segera melakukan berbagai intervensi seperti penetapan kebijakan pengaturan impor HFC, membina industri supaya mulai mencari alternatif teknologi ramah lingkungan,” ungkapnya.

Pernyataan KLHK tentang Amendemen Kigali. Foto: KLHK

Komitmen Amendemen Kigali

Indonesia tak pernah memproduksi Hidroflorokarbon sehingga untuk memenuhi kebutuhannya berasal dari impor negara lain. Ia menyebut, pembinaan industri yang concern pada teknologi ramah lingkungan sangat penting.

Tujuannya tak lain agar Indonesia tidak menjadi “tempat penampungan teknologi” yang sudah usang tak terpakai negara lain. “Selain itu, jika industri kita masih menggunakan teknologi lama tentu produk mereka akan sulit bersaing dengan produk baru yang lebih ramah lingkungan. Performanya lebih bagus dan penggunaan energinya lebih efisien,” tuturnya.

Jika industri di Indonesia masih menggunakan HFC maka akan kesulitan untuk menembus pasar ekspor ke negara-negara maju. Adapun mereka telah melarang atau membatasi penggunaan HFC.

Sesuai jadwal pengurangan konsumsi Hidroflorokarbon, Indonesia akan memulai pengendalian pada tahun 2024 dengan mengembalikan konsumsi HFC ke baseline.

Angka baseline merupakan konsumsi Hidroflorokarbon pada tahun 2020-2022 lalu dengan 65 % baseline konsumsi HCFC. Saat ini Indonesia juga masih dalam proses penghapusan HCFC sampai dengan tahun 2030.

Secara bertahap pengurangan mulai dari 10 % pada tahun 2029, 30 % pada 2035, 50 % pada 2040, dan 80 % pada tahun 2045.

Penulis: Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/indonesia-komitmen-kurangi-hfc-melalui-amandemen-kigali/feed/ 0
146 Spesies Baru Ditemukan Sepanjang Tahun 2022 https://www.greeners.co/berita/sepanjang-tahun-2022-146-spesies-ditemukan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sepanjang-tahun-2022-146-spesies-ditemukan https://www.greeners.co/berita/sepanjang-tahun-2022-146-spesies-ditemukan/#respond Mon, 09 Jan 2023 06:38:17 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=38549 Jakarta (Greeners) – Sepanjang tahun 2022, para peneliti dari California Academy of Sciences serta berbagai kolaborator international telah menemukan sebanyak 146 spesies baru, mulai dari hewan, tumbuhan dan jamur. Penemuan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sepanjang tahun 2022, para peneliti dari California Academy of Sciences serta berbagai kolaborator international telah menemukan sebanyak 146 spesies baru, mulai dari hewan, tumbuhan dan jamur. Penemuan ini sekaligus memperkaya keanekaragaman hayati global di tengah punahnya spesies imbas pemanasan global.

Melansir PHYS, spesies baru tersebut yaitu 44 kadal, 30 semut, 14 siput laut, 14 tumbuhan berbunga, dan 13 bintang laut. Selanjutnya, tujuh ikan, empat kumbang, empat hiu, tiga ngengat, tiga cacing. Kemudian, dua kalajengking, dua laba-laba, dua lumut, satu kodok, satu kerang, satu aphid, dan satu biskuit laut.

“Penelitian spesies baru sangat penting untuk memahami keanekaragaman kehidupan di Bumi dan mengidentifikasi ekosistem yang paling membutuhkan perlindungan,” kata Ahli virologi dan Kepala Ilmu Pengetahuan Akademi Shannon Bennett.

Ia menegaskan, dalam Konferensi Keanekaragaman Hayati Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP15), ilmu pengetahuan keanekaragaman hayati berada di garis depan aksi konservasi global. Selain itu, sebagai kunci membalikkan tingkat kepunahan spesies pada tahun 2030.

“Dengan mengungkap dan mendokumentasikan spesies baru, kita dapat berkontribusi pada tujuan penting ini. Lalu memastikan dunia alami kita tetap kaya dan beragam untuk generasi yang akan datang,” ungkapnya.

Menanggapi hal ini, pengamat lingkungan dari Universitas Indonesia Mahawan Karuniasa menyatakan berdasarkan catatan ilmuwan, kurang lebih terdapat dua juta spesies dari total spesies yang sudah ada di dunia. Sementara, untuk total spesies yang ada di Bumi kurang lebih antara 7-10 juta spesies tumbuhan dan hewan.

Tahun Kepunahan Spesies

Ia memberi catatan bahwa penambahan 146 spesies baru tersebut menambah spesies yang selama ini manusia kenal.

Menurutnya setelah tahun 1970, penemuan ilmuwan terkait biodiversitas telah mengalami peningkatan kecepatan kepunahan atau biodiversity loss. “Dari yang sebelumnya diperkirakan satu per satu juta spesies per tahun atau kecepatan normalnya seperti itu. Tapi belakangan meningkat tajam, para ilmuwan menyebut minimal seratus kali lebih cepat,” kata Mahawan.

Mahawan memberikan catatan, secara alamiah kecepatan kepunahan secara normal bisa terjadi satu per satu juta spesies per tahun. Ini terjadi pada kepunahan ke-5 pada 60 juta tahun lalu. Peningkatan kepunahan semakin tajam karena dipicu oleh faktor antropogenik atau berasal dari aktivitas pembangunan global manusia.

“Kini para ilmuwan memperingatkan kita berpotensi menuju kepunahan massal ke-6,” imbuhnya.

Selain itu, Mahawan menambahkan faktor lain yaitu perubahan iklim yang juga memicu pergeseran distribusi spesies. Misalnya banyak spesies yang bisa tinggal di lembah, tapi karena pemanasan global maka mereka akan bergeser naik ke lereng gunung. “Karena temperaturnya yang lebih sesuai dan nyaman dengan habitat awalnya,” ucapnya.

“Perubahan iklim tentu dapat berdampak pada pergeseran tempat spesies. Hal ini tentunya berdampak pada migrasi karena kapan kemarau, kapan hujan atau perubahan iklim dalam jangka panjang,” pungkasnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/sepanjang-tahun-2022-146-spesies-ditemukan/feed/ 0
Pemanasan Global Tingkatkan Risiko Gangguan Kecemasan https://www.greeners.co/gaya-hidup/pemanasan-global-tingkatkan-risiko-gangguan-kecemasan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pemanasan-global-tingkatkan-risiko-gangguan-kecemasan https://www.greeners.co/gaya-hidup/pemanasan-global-tingkatkan-risiko-gangguan-kecemasan/#respond Thu, 27 Jan 2022 04:00:55 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=35110 Selain membahayakan lingkungan, fenomena pemanasan global juga dapat membahayakan kesehatan mental pada seseorang. Baru-baru ini, para peneliti dari Aliansi Kesehatan Mental dan Perubahan Iklim (MHCCA) Kanada telah melakukan sebuah studi […]]]>

Selain membahayakan lingkungan, fenomena pemanasan global juga dapat membahayakan kesehatan mental pada seseorang. Baru-baru ini, para peneliti dari Aliansi Kesehatan Mental dan Perubahan Iklim (MHCCA) Kanada telah melakukan sebuah studi yang menunjukkan bahwa pemanasan global mampu meningkatkan risiko gangguan kecemasan secara signifikan.

Dalam studi tersebut, para peneliti mempelajari sekelompok orang dewasa di kawasan British Columbia, Kanada, yang terdiri dari 850 orang. Adapun penelitian tersebut mereka lakukan ketika gelombang panas besar tengah melanda Kanada pada musim panas 2021. Mereka mempelajari perilaku dan pola pikir dari para responden untuk mengetahui keterkaitan antara pemanasan global dengan gangguan kecemasan.

“Melalui penelitian ini, kami menemukan sekitar 40 % responden mengalami kecemasan berlebih terhadap pemanasan global. Selain itu, 31,7 % responden juga merasa pesimis bahwa tempat tinggal mereka akan selamat dari perubahan iklim,” tulis para peneliti.

Peneliti menjelaskan bahwa suhu udara yang terus meningkat dapat memicu produksi hormon kortisol dalam kadar yang lebih tinggi. Hal tersebut dapat memicu beragam permasalahan kondisi mental dan gangguan kecemasan merupakan salah satunya. Para peneliti juga menemukan bahwa pemanasan global telah meningkatkan angka kematian pada individu dengan penyakit mental yang sudah ada sebelumnya.

Gangguan Kecemasan: Terus Berkembang di Kalangan Anak Muda

Riset lain pada tahun 2021 menunjukkan bahwa gangguan kecemasan atau eco-anxiety yang disebabkan oleh pemanasan global terus berkembang di kalangan anak muda. Sebanyak 75 % anak muda di 10 negara merasakan kecemasan berlebih mengenai perubahan iklim dan pemanasan global. Sementara itu, sebanyak 59 % dari mereka merasa “amat sangat khawatir” terhadap perubahan iklim.

“Temuan kami menunjukkan urgensi yang mendesak untuk memasukkan indikator kesehatan mental ke dalam kebijakan pengambilan keputusan di masa depan,” tulis para peneliti.

Sebagai informasi, gelombang panas ekstrem telah melanda Kanada dan Amerika Serikat pada pertengahan 2021 lalu. Saat itu, suhu Kanada mencapai rekor tertinggi yakni sekitar 49,6 derajat Celsius. Selain menimbulkan gangguan kecemasan, fenomena tersebut juga telah menyebabkan sekitar 750 kematian di kawasan British Columbia, Kanada.

Penulis: Anggi R. Firdhani

Sumber:

Euronews

Science Daily

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/pemanasan-global-tingkatkan-risiko-gangguan-kecemasan/feed/ 0
Penguin Chinstrap, Satwa Asli Antartika yang Kian Terancam https://www.greeners.co/flora-fauna/penguin-chinstrap-satwa-asli-antartika-yang-kian-terancam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=penguin-chinstrap-satwa-asli-antartika-yang-kian-terancam https://www.greeners.co/flora-fauna/penguin-chinstrap-satwa-asli-antartika-yang-kian-terancam/#respond Sun, 07 Nov 2021 03:00:24 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=34323 Penguin chinstrap adalah salah satu spesies Spheniscidae yang mendiami kawasan pantai serta pulau-pulau di Pasifik Selatan dan Samudra Antartika. Mereka merupakan kelompok satwa yang unik karena memiliki “pita hitam” kecil […]]]>

Penguin chinstrap adalah salah satu spesies Spheniscidae yang mendiami kawasan pantai serta pulau-pulau di Pasifik Selatan dan Samudra Antartika. Mereka merupakan kelompok satwa yang unik karena memiliki “pita hitam” kecil di bawah kepalanya.

Chinstrap publik kenal juga sebagai penguin tali dagu. Sebagian orang menyebutnya sebagai penguin berjanggut atau penguin berbunyi karena lengkingan suaranya yang cukup keras.

Secara klasifikasi, penguin tali dagu ahli golongkan ke dalam ordo Sphenisciformes bergenus Pygoscelis. Spesiesnya mempunyai nama latin atau binomial, yakni Pygoscelis antarcticus.

Penguin gentoo dan Adélie adalah kerabat terdekat penguin chinstrap. Mereka sama-sama berasal dari genus Pygoscelis, meski memiliki tampilan serta peta persebaran yang berbeda.

Morfologi dan Ciri-Ciri Penguin Chinstrap

Penguin tali dagu berkembang biak antara 68-76 cm dengan bobot 3,2-5,3 kg. Spesies jantan mempunyai bobot tubuh lebih besar dari sang betina, begitu juga dengan tinggi badannya.

Jika kita perhatikan, sirip chinstrap dewasa berwarna hitam dengan tepian putih. Sisi dalam sirip dan wajahnya berwarna putih juga, namun dengan mata bercorak cokelat kemerahan.

Seperti penguin kebanyakan, bentuk wajah penguin chinstrap terlihat memanjang dengan dagu dan tenggorokan berwarna putih. Paruhnya pendek dan tumpul dengan warna hitam.

Kaki penguin berjanggut umumnya berwarna merah muda, pendek dan berselaput namun cukup kuat. Tampilan kakinya kekar serta terlihat bergoyang-goyang saat mereka berjalan.

Perlu Anda ketahui, warna hitam pada punggung penguin merupakan bentuk kamuflase. Ini disebut countershading, gunanya untuk mengelabuhi penglihatan pemangsa dari kejauhan.

Penguin chinstrap mampu berenang di perairan Antartika berkat bulu-bulunya yang tebal. Selain bulu, sumber kehangatan mereka berasal dari timbunan lemak di dalam tubuhnya.

Habitat dan Distribusi Penguin Chinstrap

Sebagian besar spesies P. antarcticus pakar temukan di wilayah Antartika, Argentina, Chili, Bouvet, Falkland, selatan Prancis, hingga Georgia Selatan dan Kepulauan Sandwich Selatan.

Mereka juga telah ahli naturalisasi sampai ke Selandia Baru, Pulau Saint Helena dan Tristan da Cunha, serta Afrika Selatan. Di habitatnya penguin ini mengonsumsi golongan ikan kecil.

Krill, udang dan cumi-cumi juga menjadi santapan favorit mereka. Penguin chinstrap rela menempuh jarak sejauh 80 km dari lepas pantai hanya untuk mencari mangsa setiap hari.

Tidak cuma memangsa, hewan berkelas Aves ini merupakan sasaran empuk bagi sejumlah satwa liar. Beberapa predator mereka ialah anjing laut, burung skua, hingga petrel raksasa.

Anjing laut macan tutul bahkan berkontribusi menurunkan populasi penguin tali dagu 5-20% setiap tahun. Kondisi ini diperparah oleh buruknya dampak perubahan iklim di Kutub Utara.

Melansir IUCN Red List, status konservasi penguin chinstrap berada di level ‘least concern’ atau risiko rendah. Tren populasinya makin menurun dan mengkhawatirkan sejak 1970-an.

Penurunan Populasi Penguin Chinstrap

Dari 50 tahun terakhir, sebanyak 77% populasi penguin chinstrap punah di area Antartika Barat. Fenomena ini ahli sinyalir disebabkan oleh perubahan iklim serta pemanasan global.

Para ilmuwan bepergian dengan dua kapal Greenpeace, yakni Esperanza dan Arktik Sunrise. Mereka melakukan ekspedisi ke Antartika Barat mulai dari 5 Januari hingga 8 Februari 2020.

Dengan teknik survei manual dan drone, para peneliti menilai skala kerusakan yang terjadi di habitat penguin chinstrap. Hasilnya, ditemukan penurunan populasi satwa secara drastis.

Di wilayah Elephant Island, jumlah penguin tali dagu hanya tersisa sebanyak 53.000 pasang. Padahal, daerah ini merupakan salah satu pusat distribusi terbesar jenis chinstrap di dunia.

Peningkatan suhu dan cairnya lapisan es di Antartika melemahkan rantai makanan. Jika tak ada es, fitoplankon tidak akan hidup. Jika tidak ada fitoplankon, maka penguin akan punah.

Taksonomi Spesies Pygoscelis Antarcticus

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/penguin-chinstrap-satwa-asli-antartika-yang-kian-terancam/feed/ 0
Lapisan Ozon Memerlukan Pemulihan di Tengah Pandemi Covid-19 https://www.greeners.co/berita/lapisan-ozon-memerlukan-pemulihan-di-tengah-pandemi-covid-19/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=lapisan-ozon-memerlukan-pemulihan-di-tengah-pandemi-covid-19 https://www.greeners.co/berita/lapisan-ozon-memerlukan-pemulihan-di-tengah-pandemi-covid-19/#respond Mon, 20 Sep 2021 02:28:56 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=33803 Jakarta (Greeners) – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengajak masyarakat berkontribusi menekan penyebaran virus Covid-19 sekaligus memulihkan lapisan ozon dan mencegah pemanasan global. Dunia memperingati hari ozon setiap […]]]>

Jakarta (Greeners) – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengajak masyarakat berkontribusi menekan penyebaran virus Covid-19 sekaligus memulihkan lapisan ozon dan mencegah pemanasan global.

Dunia memperingati hari ozon setiap 16 September. United Nations Environment Programme (UNEP) mengambil tema “Keeping Us, Our Food and Vaccines Cool” dalam peringatan hari ozon tahun 2021.

“Mari kita jadikan peringatan hari ozon tahun 2021 ini sebagai momentum bagi seluruh masyarakat untuk berkontribusi dalam menekan penyebaran virus Covid-19, memulihkan lapisan ozon dan mencegah pemanasan global,” kata Menteri Siti dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (16/09/2021).

Menteri Siti menambahkan, dengan beragamnya jenis vaksin Covid-19, membutuhkan dukungan rantai pendingin. Peran rantai pendingin ini untuk memastikan kualitas vaksin terjaga sejak proses produksi, distribusi, hingga saat pelaksanaan vaksinasi. Setiap jenis vaksin memiliki pengaturan temperatur yang berbeda-beda. Vaksin Covid-19 membutuhkan peralatan refrigerasi dan bahan pendingin yang sesuai  dengan ketentuan Protokol Montreal untuk mencapai temperatur yang dibutuhkan.

Protokol Montreal memayungi pengendalian konsumsi bahan perusak ozon (BPO) dan Hydrofluorocarbon (HFC) di tingkat global. Masyarakat memerlukan akses berkelanjutan pendinginan dengan cara menurunkan konsumsi HFC, meningkatkan efisiensi energi. Selain itu perlu menciptakan teknologi yang ramah lapisan ozon dan iklim.

Vaksin Covid-19 Membutuhkan Pendingin Ramah Lapisan Ozon

Rantai pendingin berkualitas penting untuk memastikan produksi hasil pangan tidak menyusut atau terbuang, saat produksi hingga distribusi ke konsumen. Perkembangan rantai pendingin juga menguntungkan penyimpanan obat dan vaksin.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres, dalam pernyataan resmi nya menyampaikan, Protokol Montreal telah mengalami perkembangan signifikan dengan adanya Amendemen Kigali tentang penurunan konsumsi HFC. Amandemen mengatur perlindungan lapisan ozon dan upaya mencegah dampak perubahan iklim yang semakin nyata.

Amendemen Kigali mengatur upaya mencegah kenaikan temperatur bumi sebesar 0,4 derajat Celcius pada akhir tahun 2100. Amendemen ini membantu menjaga ketahanan pangan (food security) dan mencegah kehilangan bahan pangan (food loss), terutama di negara berkembang. Pendinginan ramah lapisan ozon membantu dunia menangani pandemi Covid-19. Alat pendingin ini memastikan vaksin terdistribusi ke seluruh penjuru dunia dalam kondisi aman dan berkualitas.

Masing-masing jenis vaksin memiliki pengaturan temperatur yang berbeda-beda. Berbagai jenis vaksin ini membutuhkan jenis peralatan refrigerasi dan bahan pendingin ramah lapisan ozon dan untuk mencapai temperatur yang dibutuhkan serta sesuai dengan ketentuan Protokol Montreal. 

Protokol Montreal sebagai payung pengendalian konsumsi BPO dan HFC di tingkat global telah banyak berperan dalam perkembangan bahan pendingin untuk keperluan refrigerasi pada sektor manufaktur maupun pemeliharaan (servicing). 

Peraturan Mewajibkan Teknisi dan Alat Servis Pendingin Bersertifikat

Perkembangan dunia pendingin menuntut tersedianya teknisi yang kompeten untuk menangani berbagai jenis bahan pendingin dan sistem refrigerasi untuk berbagai kebutuhan. KLHK menerbitkan Peraturan Menteri LHK Nomor 73 Tahun 2019 Tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia dan Sertifikasi Kompetensi Kerja Bagi Teknisi Refrigerasi dan Teknisi Tata Udara. Peraturan ini mewajibkan sertifikasi teknisi mulai tanggal 18 Oktober 2021. KLHK juga akan memberikan bantuan 49 peralatan servis bagi bengkel pada tahun ini.

Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Laksmi Dhewanthi saat peringatan hari ozon menyerahkan 12 set peralatan servis kepada 4 bengkel di wilayah Jabodetabek.  Tiga bengkel di wilayah Sumatera, 2 bengkel di wilayah Kalimantan dan 3 bengkel di wilayah Sulawesi juga menerima bantuan tersebut.

“Penting bagi semua pihak terkait untuk saling bekerja sama agar dapat mendukung penyediaan rantai pendingin yang baik bagi penyimpanan serta distribusi pangan dan juga menjamin kualitas vaksin di tingkat nasional,” ungkap Laksmi.

KLHK mengajak masyarakat berkontribusi menekan penyebaran virus Covid-19, sekaligus memulihkan lapisan ozon dan mencegah pemanasan global.

Penulis: Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/lapisan-ozon-memerlukan-pemulihan-di-tengah-pandemi-covid-19/feed/ 0
Menghangatnya Udara Perkotaan Membantu Pertumbuhan Pohon https://www.greeners.co/berita/menghangatnya-udara-perkotaan-membantu-pertumbuhan-pohon/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=menghangatnya-udara-perkotaan-membantu-pertumbuhan-pohon https://www.greeners.co/berita/menghangatnya-udara-perkotaan-membantu-pertumbuhan-pohon/#respond Wed, 06 Dec 2017 11:10:03 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=19482 Dengan perubahan iklim global, pohon-pohon di seluruh dunia bertumbuh dengan cepat, namun di daerah urban yang panas pepohonan tumbuh lebih cepat.]]>

LONDON, 22 November 2017 – Pohon-pohon di perkotaan mulai merasakan panas. Dengan perubahan iklim global, pohon-pohon di seluruh dunia bertumbuh dengan cepat, namun di daerah urban yang panas pepohonan tumbuh lebih cepat.

Ruang tumbuh akar lebih sempit, daun akan bekerja ekstra akibat polusi, namun pohon-pohon limau yang berderet di Unter den Linden, Berlin dan jalan London di Paris, Prancis bertumbuh lebat, membuat hidup lebih baik bagi penduduk kota.

“Kami dapat menunjukkan bahwa pohon-pohon di kota dengan usia yang sama lebih besar daripada pohon-pohon di pedesaaan karena tumbuh lebih cepat,” jelas Hans Pretzsch, ahli kehutanan dari Technical University of Munich, yang memimpin studi terkait dengan perubahan perilaku pohon.

“Sementara perbedaan berkisar hingga seperempat pada usia 50 tahun, tetap masih di bawah 20 persen dari [pohon] yang berusia ratusan tahun.”

Sampling yang komprehensif

Para peneliti dari Jerman, Prancis, Jepang, Vietnam, Australia, Afrika Selatan, Cile, dan AS, menerbitkan laporan di Scientific Reports bahwa mereka mengambil sampel dari 1.383 pohon yang sudah dewasa di 10 kota dari berbagai zona iklim, mulai dari zona boreal, iklim sedang, Mediterania, dan subtropis.

Kota-kota tersebut adalah Berlin, Brisbane, Cape Town, Hanoi, Houston di Texas, Munich, Paris, Prince George di Kanada, Santiago de Chile dan Saporo di Jepang bagian selatan. Spesies yang diambil sampelnya antara lain cemara Sakhalin, cemara putih, pohon saru, berangan kuda, pohon London Plane, pohon belalang, kayu ek, mahoni Afrika, pinus, dan pohon ek air.

Para peneliti telah melakukan 73.685 observasi pertumbuhan diameter pohon selama beberapa dekade. Mereka menemukan bahwa pohon-pohon di perkotaan telah bereaksi terhadap dampak panas yang terjadi di pulau, secara bersamaan pertumbuhan yang lebih lama menjadi konsekuensi dari perubahan iklim yang dipicu oleh peningkatan kadar karbon dioksida di atmosfer akibat dari penggunaan bahan bakar fosil.

Penelitian semacam ini menjadi penting: lebih dari setengah manusia akan tingal di perkotaan dan pada tahun 2050, populasi di perkotaan akan tumbuh hingga dua pertiga dari total populasi manusia di Bumi.

Pohon dan ruang terbuka hijau menawarkan penduduk perkotaan perlindungan dari udara panas yang ekstrim, mereka membantu mengurangi biaya pemanas dan pendingin ruangan, dan meningkatkan taraf kesehatan yang dikalkulasikan menjadi satu kilometer persegi sama dengan US$1,2 juta. Penelitian kedua menunjukkan bahwa satu areal dengan pohon-pohon bisa menambah US$1 milyar bagi properti di California.

Suhu di kota-kota dalam bisa berkisar antara 3°C dan 10°C lebih hangat ketimbang cuaca di pedesaan. Meskipun kondisi lebih hangat berarti proses fotosintesa akan lebih kuat dan musim pertumbuhan lebih panjang, hal ini akan mempersingkat masa hidupnya, jelas para peneliti. Saat dunia mulai menghangat, pohon-pohon di pedalaman juga akan terkena dampak.

Pertumbuhan perkotaan tidak serta merta buruk bagi tanah yang akan dibangun jalan baru, perumahan, pabrik, dan apartemen pada beberapa abad sesudahnya. Sebuah konsorsium peneliti Rusia, Belanda, dan Italia, melaporkan di Journal of Cleaner Production bahwa mereka menemukan bahwa perkotaan bertumbuh seiring dengan bertambahnya ruang terbuka hijau.

Meskipun karbon dari tanah telah hilang saat jalanan diaspal, tanah di perkotaan masih bisa diperkaya secara sistematis oleh gambut, kompos dan tanaman baru. Pada tahun 2048, Moskow diharapkan akan berkembang hingga 30 persen dan kehilangan lebih dari 2000 kilometer persegi hutan, tanah pertanian, dan rawa.

“Hasil dari penelitian kami menunjukkan potensi urbanisasi untuk peningkatan stok karbon tanah organik. Proses ini, sebagai gantinya, akan bisa melakukan mitigasi terhadap dampak perubahan iklim,” kata Vyacheslav Vasenev, dari departemen agro-bioteknologi, RUDN atau People’s Friendship University of Moscow.

“Kesimpulan optimistis dari penelitian kami seharusnya bisa lebih dieksplorasi oleh perencanaan tata guna lahan dan akademisi, karena urbanisasi akan lebih penting di masa depan.” – Climate News Network

]]>
https://www.greeners.co/berita/menghangatnya-udara-perkotaan-membantu-pertumbuhan-pohon/feed/ 0
Suhu Dunia Akan Menghangat 3,4°C pada Tahun 2100 https://www.greeners.co/berita/suhu-dunia-menghangat-34c-tahun-2100/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=suhu-dunia-menghangat-34c-tahun-2100 https://www.greeners.co/berita/suhu-dunia-menghangat-34c-tahun-2100/#respond Mon, 27 Nov 2017 05:16:09 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=19425 Mendekati tahun 2100, dunia dengan peningkatan suhu mencapai 3.4˚C mungkin akan menjadi realitas yang harus dihadapi oleh generasi mendatang.]]>

BONN, 15 November 2017 – Mendekati tahun 2100, dunia dengan peningkatan suhu mencapai 3.4˚C mungkin akan menjadi realitas yang harus dihadapi oleh generasi mendatang — sedikit lebih hangat dari tahun sebelumnya, jelas para analis. Itu berita baiknya.

Tapi, berita buruknya ada dua. Pertama, perkembangan dalam prospek planet akan tetap membuat suhu global meningkat dua kali lipat dari target internasional 1,5˚C. Dan, kedua, akan bergantung kepada upaya dua negara — Cina dan India.

Mereka membuat kemajuan signifikan dalam menghadapi perubahan iklim pada dua belas bulan terakhir. Sebaliknya, sebuah laporan dari Climate Action Tracker (CAT), mengatakan bahwa tidak hanya kebijakan iklim AS yang mundur di bawah pemerintahan Trump. Banyak komitmen dari pemerintahan, secara individual, berjalan ke arah yang salah.

Berdasarkan tren saat ini, laporan CAT menyatakan bahwa pada tahun 2100 dunia akan mencapai jauh di atas target 1,5˚C untuk suhu maksimum Bumi yang bisa ditoleransi, dan disetujiui pada Kesepakatan Paris.

Climate Action Tracker merupakan kajian berbasiskan sains yang independen yang setiap tahun mencatatkan komitmen dan aksi negara-negara. Anggotanya adalah Climate Analytics, Ecofys dan NewClimate Institute.

Proyeksi emisi gas rumah kaca terbaru dari CAT, berdasarkan kebijakan pemerintahan yang ada, memperlihatkan penurunan 0,2°C ke 3,4˚C pada tahun 2100 dari yang diproyeksikan, dibandingkan dengan 3,6˚C pada bulan November 2016.

Ini merupakan kali pertama sejak CAT memulai mencatatkan aksi pada tahun 2009 di mana kebijakan nasional mulai terlihat menurunkan emisi dari perkiraan suhu akhir abad ini dan juga mengurangi gap emisi 2030 antara kebijakan saat ini dan yang dibutuhkan untuk mencapai batas 1,5°C.

Para analis mengatakan bahwa pertumbuhan emisi Cina telah melambat secara drastis. Pada dekade awal di abad ini, emisi Cina meningkat hingga 110 persen, namun antara tahun 2010 dan 2015, pertumbuhan telah melambat hingga 16 persen. Cina telah melampaui komitmen iklimnya, atau Nationally Determined Contribution sebagai upaya yang diambil oleh negara-negara di PBB.

Estimasi emisi CAT dari Cina di tahun 2030 adalah 13 GtCO2e hingga 0,7 GtCO2e lebih rendah dari prediksi 2016. Apabila Cina melanjutkan aksinya mengurangi batubara, hal ini akan mampu menurunkan 0,7 GtCO2e.

Satu Gt adalah satu gigaton, satu miliar metrik ton; CO2e, karbon dioksida ekuivalen, memperlihatkan dampak dari perbedaan definisi gas rumah kaca dalam kaitannya dengan CO2.

Perlu pengkajian

Sama halnya dengan Cina, India berhasil meningkatkan aksi iklimnya, menurut para analis. Apabila Draft Electricity Plan diimplementasikan secara penuh, maka emisi pada tahun 2030 akan menjadi 4,5 GtCO2e – hampir 1 GtCO2e lebih rendah dari yang diprediksikan oleh CAT tahun lalu.

Apabila India memperkuat NDC untuk mencapai ambisi Draft Electricity Plan, maka target emisi akan mendekati jangkauan target Paris yaitu 1,5˚C.

“Sangat jelas siapa pemimpin di sini: saat AS tidak beraksi, Cina dan India mengambil kepemimpinan, ” jelas Bill Hare dari Climate Analytics. “Namun, keduanya butuh kajian lebih lanjut dan penguatan, untuk komitmen Paris mereka.”

“Sepanjang tahun lalu, pemerintah telah mengambil langkah-langkah yang cukup substansial dalam mengembangkan kebijakan iklim, dan hal tersebut memberikan dampak yang dapat dilihat terkait dengan proyeksi emisi global. Contohnya, saat energi terbarukan menjadi lebih rendah, banyak yang kini beralih dari batubara,” ujar Niklas Höhne dari NewClimate Institute. Namun, CAT menunjukkan bahwa banyak pemerintahan tidak mengambil kesempatan terkait dengan energi terbarukan.

Laporan tersebut bersifat mozaik, memperlihatkan detail terkait dengan tren yang memberikan harapan. Contohnya, para penulis saat ini berpikir emisi global di bawah kebijakan pada tahun 2030 akan setidaknya mencapai 1,7 GtCO2e setiap tahun, lebih rendah dari proyeksi tahun lalu.

Kenaikan emisi

Namun, ada kesimpulan negatif juga. Hal tersebut akibat mundurnya AS dari Kesepakatan Paris, sehingga ada kemunduran signifikan pada perkembangan untuk mencapai limit yang ditargetkan.

Apabila semua pemerintahan bisa sepenuhnya mengimplementasikan Kesepakatan Paris, NDC mereka, suhu global yang diproyeksikan meningkat pada tahun 2100 akan mencapai 3,2˚C di atas level pra-industri, lebih tinggi dari 2,8˚C pada tahun lalu, karena AS.

Proyek CAT memprediksikan emisi global akan mencapai 9 hingga 13 persen pada tahun 2020 dan 2030, akibat pertumbuhan emisi dari negara-negara seperti Turki, Indonesia dan Arab Saudi. Dari 32 negara yang dianalisa, sebanyak 17 negara akan mengalami kenaikan lebih dari 20 persen pada periode tersebut.

Sebagian besar NDC tidak setara dengan kontribusi yang dibutuhkan untuk mencapai Kesepakatan Paris untuk jangka panjang. Hanya tujuh pemerintahan yang berhasil mengimplementasikan 2°C atau 1,5°C cocok dengan target tersebut, sementara empat lainnya tidak didukung oleh kebijakan yang cukup.

Saat yang bersamaan, 16 dari 32 negara yang dianalisa, emisi diprediksi akan melebihi NDC. Negara-negara tersebut adalah AS, Australia, Brasil, Meksiko, dan Kanada. – Climate News Network

]]>
https://www.greeners.co/berita/suhu-dunia-menghangat-34c-tahun-2100/feed/ 0
Emisi Karbon Meningkat di Tahun 2017 https://www.greeners.co/berita/emisi-karbon-meningkat-di-tahun-2017/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=emisi-karbon-meningkat-di-tahun-2017 https://www.greeners.co/berita/emisi-karbon-meningkat-di-tahun-2017/#respond Thu, 23 Nov 2017 05:50:42 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=19419 Analisa tahunan dari Global Carbon Project (GCP) mengatakan bahwa pertumbuhan emisi global di tahun 2017 terjadi akibat pertumbuhan emisi di Cina dan negara berkembang lainnya, dan target Paris bisa tidak tercapai.]]>

LONDON, 13 November 2017 – Emisi karbon dunia diprediksi akan meningkat sekitar dua persen setelah tiga tahun pada kondisi yang stabil. Hal tersebut merupakan kemunduran terhadap upaya memperlambat pemanasan Bumi dan menunjukkan kerapuhan dari perjanjian iklim internasional, Perjanjian Paris, jelas para peneliti.

Dari tahun 2014 hingga 2016, emisi CO2 global dari bahan bakar fosil dan industri tidak mengalami peningkatan yang cukup berarti. Kondisi yang relatif stabil ini, berikut adanya pertumbuhan emisi lebih dari tiga persen tiap tahunnya pada tahun 2000an, memberikan harapan akan negara-negara di dunia telah berhasil memisahkan antara pertumbuhan ekonomi dengan peningkatan suhu global. Hal ini meningkatkan konsekuensi dari pemanasan yang dipicu oleh kadar gas rumah kaca yang tinggi di atmosfer, dalam reaksi terhadap konsumsi bahan bakar fosil.

Namun, analisa tahunan dari Global Carbon Project (GCP) terkait dengan tren siklus karbon global menekankan bagaimana gentingnya kemerosotan yang terjadi saat ini dalam pertumbuhan emisi global yang sebenarnya. Publikasi tersebut dikeluarkan bersamaan dengan Pertemuan Iklim PBB 2017, COP 23, yang berlangsung di Bonn.

Mereka mengatakan bahwa pertumbuhan emisi global di tahun 2017 terjadi akibat pertumbuhan emisi di Cina dan negara berkembang lainnya, dan penemuan mereka menunjukkan bahwa target Paris bisa tidak tercapai.

GCP merilis tiga makalah untuk jurnal Nature Climate Change (verifikasi), Environmental Research Letters (tren terbaru), and Earth System Science Data Discussions (siklus karbon lengkap).

“Perlambatan pada pertumbuhan emisi dari tahun 2014 hingga 2016 selalu menjadi keseimbangan yang rumit, dan setidaknya dua persen peningkatan pada tahun 2017 dengan jelas menunjukkan bahwa kita tidak bisa menerima perlambatan yang ada,” kata Robbie Andrew, periset senior di CICERO, Centre for International Climate Research, di Oslo, dan salah satu penulis laporan tersebut.

“Meskipun kita memproyeksikan emisi karbon dioksida dari bahan bakar fosil dan industri meningkat dua persen pada tahun 2017, jumlah besar emisi masih tetap ada dan [laju] pertumbuhan antara satu persen dan tiga persen merupakan kemungkinan yang berbeda mengingat kesulitan-kesulitan dalam membuat proyeksi. Komitmen global yang dibuat di Paris pada tahun 2015 untuk mengurangi emisi tidak bisa diimbangi oleh aksi-aksi yang ada,” jelas Glen Peters, direktur penelitian CICERO yang memimpin salah satu studi.

Peters menambahkan bahwa terlalu awal untuk mengklaim bahwa keadaan sudah membaik dan memulai perjalanan menuju nol emisi. Namun GCP, proyek penelitian global yang berada di bawah inisiatif penelitian Future Earth tentang keberlanjutan global, mengatakan bahwa sementara emisi meningkat hingga dua persen pada tahun 2017, tidak mungkin untuk mengatakan apakah ini kembalinya pertumbuhan atau hanya peningkatan satu kali.

Pengaruh Cina

Cina, pengemiter gas rumah kaca terbesar di dunia, mengendalikan pertumbuhan emisi secara tidak terduga pada tahun 2000an dan berada di belakang perlambatan yang kini terjadi. Hal ini merupakan pendorong utama pada tahun 2017.

“Cina menghasilkan hampir 30 persen emisi karbon dioksida global, dan naik-turunnya ekonomi Cina meninggalkan tanda pada pertumbuhan ekonomi global,” jelas Jan Ivar Korsbakken, peneliti senior CICERO dan salah satu penulis.

Emisi Cina turun hingga satu persen pada tahun 2015 dan stabil pada tahun 2016, namun diproyeksikan meningkat antara 0,7 persen dan 5,4 persen pada tahun 2017, dengan perhitungan terbaik menggunakan data awal 3,5 persen pada tahun 2017.

Emisi AS diproyeksikan menurun hingga 0,4 persen tahun ini, lebih lamban dari 1,2 persen rata-rata per tahun pada satu dekade belakangan karena adanya ide kembali menggunakan batubara.

Para ahli GCP mengharapkan emisi India meningkat hingga 2 persen, lebih rendah dari rata-rata enam persen pada satu dekade belakangan, akibat intervensi pemerintah dalam bidang ekonomi.

Penantian yang lama

Hal ini secara ‘tentatif’ memproyeksikan emisi Eropa akan menurun 0,2 persen pada tahun 2017, lebih lamban dari pada penurunan 2,2 persen rata-rata per tahunnya dibandingkan dekade sebelumnya. Emisi pada negara-negara lainnya, merepresentasikan 40 persen dari total global, akan meningkat hingga 2,3 persen.

Emisi global CO2 dari bahan bakar fosil dan industri akan mencapai hingga 37 miliar ton pada tahun 2017, dan ini menurut analisa menjadi rekor tertinggi. Hasil dari kegiatan manusia (bahan bakar fosil, industri dan perubahan tata guna lahan) akan mencapai hingga 41 miliar ton, sama dengan rekor yang dicapai pada tahun 2015.

“El Niño tahun 2015-2016 menyebabkan kondisi panas dan kering pada daerah tropis yang mengurangi serapan karbon oleh hutan dan berujung pada peningkatan rekor tertinggi untuk konsentrasi karbon dioksida di atmosfer,” jelas Profesor Corinne Le Quéré, direktur Tyndall Centre, Universitas East Anglia, UK, yang menjadi analis utama.

Hal tersebut membutuhkan sedikitnya sepuluh tahun untuk para peneliti percaya diri memverifikasi perubahan pada emisi dengan menggunakan pengukuran konsentrasi atmosferik karbon dioksida.

Profesor Le Quéré mengatakan, “Global Stocktake di bawah Kesepakatan Paris akan terjadi setiap lima tahun sekali dan ini memberikan tekanan luar biasa bagi komunitas peneliti untuk mengembangkan metode dan pengukuran yang dapat memverifikasi perubahan emisi berdasarkan siklus lima tahunan.” – Climate News Network

]]>
https://www.greeners.co/berita/emisi-karbon-meningkat-di-tahun-2017/feed/ 0
Pemanasan Global dapat Pengaruhi Kondisi Kesehatan https://www.greeners.co/gaya-hidup/pemanasan-global-dapat-pengaruhi-kondisi-kesehatan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pemanasan-global-dapat-pengaruhi-kondisi-kesehatan Sat, 18 Nov 2017 12:26:10 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=19381 Bukan rahasia lagi jika pemanasan global telah memberikan berbagai dampak negatif terhadap keberlangsungan hidup manusia. Tidak hanya melahirkan banyak bencana alam, pemanasan global juga telah memberikan pengaruh besar terhadap kesehatan.]]>

Bukan rahasia lagi jika pemanasan global telah memberikan berbagai dampak negatif terhadap keberlangsungan hidup manusia. Tidak hanya melahirkan banyak bencana alam, pemanasan global juga telah memberikan pengaruh besar terhadap kesehatan. Ya, dampak yang telah diberikan oleh pemanasan global terhadap kesehatan masyarakat dunia rupanya lebih mengerikan dari yang dibayangkan sebelumnya. Hal ini tentunya telah meresahkan banyak pihak, termasuk Organisasi Kesehatan Dunia PBB (WHO).

Dalam situs resmi mereka, WHO menyatakan bahwa pemanasan global diperkirakan akan menyebabkan 250 ribu kasus kematian per tahun antara tahun 2030 dan 2050. Sejak 130 tahun terakhir, suhu bumi telah mengalami peningkatan hingga 0.85 derajat Celsius. Adanya peningkatan suhu tersebut, selain telah melelehkan lapisan es di bumi, juga telah memicu timbulnya berbagai penyakit.

Lantas, apa hubungan antara peningkatan suhu Bumi dengan timbulnya berbagai masalah kesehatan? Seperti yang sudah sering kita dengar, peningkatan suhu bumi telah menghadirkan berbagai permasalahan lingkungan seperti kekurangan air bersih yang dapat menyebabkan dehidrasi dan diare, polusi udara yang dapat menyebabkan penyakit pada saluran pernafasan, hingga kekurangan pangan yang dapat menyebabkan malnutrisi. Tak heran, angka kematian karena pemanasan global menjadi semakin tinggi.

Asma hingga serangan jantung

WHO menerangkan bahwa pemanasan global juga dapat menimbulkan berbagai penyakit berbahaya lainnya. Berdasarkan hasil studi yang telah dilakukan oleh WHO, adanya peningkatan suhu udara rupanya dapat meningkatkan jumlah serbuk sari dan material-material aeroallergen lainnya di udara, dan hal itu dapat memicu penyakit asma pada ratusan juta orang. Bila pemanasan global terus dibiarkan terjadi begitu saja, jumlah penderita penyakit asma yang disebabkan oleh alergi serbuk bunga dapat terus meningkat.

Selain itu, tingginya suhu udara juga dapat meningkatkan kadar ozon dan kadar polutan lainnya di udara yang tentunya dapat memberburuk kondisi kesehatan saluran pernafasan. Selain dapat memperburuk kondisi saluran pernafasan, suhu udara yang terus meningkat juga dapat menyebabkan penyakit serangan jantung, terutama pada kalangan orang tua. Gelombang panas yang ekstrim dapat memicu serangan jantung dan menyebabkan kematian pada banyak orang. Bahkan pada tahun 2003, serangan jantung karena gelombang panas telah menewaskan 70 ribu orang di Eropa.

Dampak yang diberikan oleh pemanasan global terhadap kesehatan dapat menyerang siapa saja, mulai dari anak kecil hingga orang lanjut usia. Namun WHO menekankan bahwa orang yang berdomisili di negara-negara berkembang dan di daerah pesisir lebih rentan untuk terkena dampak negatif dari pemanasan global.

Penulis: Anggi Rizky Firdhani

]]>