pemanfaatan limbah - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/pemanfaatan-limbah/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Tue, 18 Jan 2022 03:28:08 +0000 id hourly 1 Peneliti Swedia Ciptakan Tekstil dari Limbah Roti https://www.greeners.co/ide-inovasi/peneliti-swedia-ciptakan-tekstil-dari-limbah-roti/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=peneliti-swedia-ciptakan-tekstil-dari-limbah-roti https://www.greeners.co/ide-inovasi/peneliti-swedia-ciptakan-tekstil-dari-limbah-roti/#respond Tue, 18 Jan 2022 03:28:08 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=35026 Seorang peneliti asal Swedia, Akram Zamani, berhasil menghadirkan solusi yang tidak biasa untuk menangani permasalahan limbah makanan dan limbah tekstil. Peneliti yang juga merupakan dosen senior di Universitas Borås tersebut […]]]>

Seorang peneliti asal Swedia, Akram Zamani, berhasil menghadirkan solusi yang tidak biasa untuk menangani permasalahan limbah makanan dan limbah tekstil. Peneliti yang juga merupakan dosen senior di Universitas Borås tersebut telah menciptakan teknologi yang mampu mengubah limbah roti menjadi tekstil. Wow!

“Kami menemukan bahwa mayoritas limbah makanan di negara ini berasal dari roti. Bertolak dari fakta tersebut, kami tertarik untuk mengubah limbah roti menjadi sesuatu yang baru,” tutur Akram dalam situs resmi Universitas Borås.

Akram mulai mengembangkan teknologi ini sejak tahun 2019 silam. Ia menjelaskan bahwa limbah roti dapat menghasilkan jamur berfilamen yang berpotensi untuk diolah kembali menjadi tekstil. Ketika permukaan roti telah tertutupi oleh jamur, Akram akan mengambil serat dari jamur tersebut dan mengolahnya hingga menjadi lembaran tekstil.

“Kami mendapatkan pasokan roti dari toko bahan makanan lokal. Sisa dari roti yang sudah kami sisihkan dari jamur akan kami manfaatkan kembali menjadi pakan ternak. Tidak ada bahan yang tersisa dan terbuang sia-sia,” kata Akram.

Jamur dari limbah roti akan menghasilkan lembaran tekstil dengan tekstur dan sifat yang menyerupai kulit hewan. Untuk meningkatkan kualitas tekstil, Akram menambahkan beberapa zat tambahan berbasis bio seperti gliserol dan plasticizer.  Penambahan zat tersebut dapat menambah daya tahan dan elastisitas dari tekstil yang Akram ciptakan.

Akram menyadari bahwa tekstil berbahan dasar roti sisa ciptaannya memiliki potensi yang besar untuk menjadi tekstil alternatif pengganti kulit hewan. Maka dari itu, ia berharap bahwa tekstil ciptaannya dapat segera beredar secara luas dan dapat digunakan untuk berbagai kepentingan.

Limbah Roti Ancam Keselamatan Lingkungan

Upaya Akram untuk menciptakan tekstil dari roti sisa rupanya dapat menyelamatkan lingkungan dari berbagai ancaman. Sedikit demi sedikit, Akram mampu mengurangi penumpukan roti sisa di negara tersebut. Perlu Sobat Greeners tahu, Swedia menghasilkan sekitar 80.400 ton limbah roti di tiap tahunnya.

Limbah makanan, termasuk limbah roti, memiliki andil yang besar terhadap produksi emisi gas rumah kaca. Umumnya, limbah makanan menghasilkan sekitar 8 hingga 10 % emisi gas rumah kaca global. Jika terus terabaikan begitu saja, tumpukan makanan yang membusuk dapat menyebabkan berbagai dampak serius seperti pemanasan global, pemborosan air, hingga kerusakan keanekaragaman hayati.

Penulis: Anggi R. Firdhani

Sumber:

Situs Resmi Universitas Borås

AZO Materials

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/peneliti-swedia-ciptakan-tekstil-dari-limbah-roti/feed/ 0
Perban Hidrogel dari Kulit Durian, Inovasi Baru dalam Dunia Medis https://www.greeners.co/ide-inovasi/perban-hidrogel-dari-kulit-durian-inovasi-baru-dalam-dunia-medis/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=perban-hidrogel-dari-kulit-durian-inovasi-baru-dalam-dunia-medis https://www.greeners.co/ide-inovasi/perban-hidrogel-dari-kulit-durian-inovasi-baru-dalam-dunia-medis/#respond Wed, 04 Aug 2021 02:02:02 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=33442 Peneliti dari Universitas Teknologi Nanyang (NTU) Singapura, Profesor William Chen, berhasil mengembangkan teknologi yang mampu memberikan kehidupan kedua pada kulit durian. Alih-alih terbuang sia-sia menjadi sampah, kulit dari “raja buah” […]]]>

Peneliti dari Universitas Teknologi Nanyang (NTU) Singapura, Profesor William Chen, berhasil mengembangkan teknologi yang mampu memberikan kehidupan kedua pada kulit durian. Alih-alih terbuang sia-sia menjadi sampah, kulit dari “raja buah” tersebut berhasil ia olah kembali menjadi perban hidrogel.

“Ada banyak sekali timbunan limbah kulit durian di Singapura. Daripada terabaikan begitu saja, saya tertarik untuk mengolah limbah kaya selulosa tersebut menjadi sumber daya biomedis yang berharga. Limbah durian, selain kaya akan selulosa berkualitas tinggi, juga jauh lebih murah dan lebih mudah terurai secara alami daripada bahan sintetis lainnya,” ujar Profesor William seperti dikutip dari New Atlas.

Profesor William menjelaskan bahwa perban hidrogel dari limbah durian terbuat dari dua bahan utama, yakni gliserol dan kulit durian itu sendiri. Gliserol yang ia gunakan pun bukanlah gliserol biasa; ia menggunakan gliserol sisa dari produksi sabun dan biodiesel.

“Ekstrak selulosa kulit durian dan gliserol akan melewati proses pencampuran hingga menjadi gel lembut yang teksturnya mirip dengan silikon. Kami juga menambahkan molekul organik lainnya berupa fenol ragi alami yang bersifat antibakteri. Setelah semua bahan tercampur menjadi gel, gel tersebut akan kami potong menjadi perban hidrogel dengan berbagai bentuk dan ukuran,” tulis tim peneliti dalam situs resmi NTU.

Para peneliti juga menjelaskan bahwa perban hidrogel dari kulit durian, selain mudah untuk dibuat, juga ramah lingkungan. Tidak seperti proses pembuatan hidrogel pada umumnya, pembuatan kasa hidrogel organik tersebut hanya membutuhkan biaya dan energi yang sedikit. Selain ramah lingkungan, gel yang mereka ciptakan juga tidak beracun.

Perban Hidrogel dari Kulit Durian: Ampuh Cegah Infeksi pada Luka

Perban hidrogel sebenarnya bukanlah “pemain baru” dalam dunia medis. Para tenaga medis umumnya memanfaatkan perban tersebut untuk merawat luka pasca operasi. Perban bertekstur lembut tersebut memang sudah lama dikenal memiliki kemampuan yang baik dalam mengurangi jaringan parut dan dapat menjaga luka untuk tetap terhidrasi selama proses penyembuhan.

Kemampuan tersebut tentu saja dimiliki oleh perban hidrogel kulit durian buatan Profesor William. Kandungan fenol ragi alami dalam perban tersebut ampuh mencegah terjadinya infeksi pada luka. Perban tersebut juga mampu menghalau tubuh dari serangan bakteri berbahaya seperti Escherichia coli dan Staphylococcus aureus dalam waktu 48 jam setelah pengaplikasian.

“Perban hidrogel dari kulit durian ciptaan kami juga dapat mempercepat proses penyembuhan luka pada kulit,” ujar tim peneliti.

Sebagai informasi, penjelasan lebih lengkap mengenai teknologi perban hidrogel dari kulit durian dapat Sobat Greeners akses melalui jurnal ACS Sustainable Chemistry and Engineering. Selain itu, saat ini para peneliti juga tengah mengembangkan pembuatan prototipe hidrogel yang dapat menghantarkan arus listrik dengan memanfaatkan ampas kedelai.

Penulis: Anggi R. Firdhani

Sumber:

Situs Resmi NTU

New Atlas

 

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/perban-hidrogel-dari-kulit-durian-inovasi-baru-dalam-dunia-medis/feed/ 0
Ilmuwan Australia Bangun Jalanan dari Limbah Masker https://www.greeners.co/ide-inovasi/ilmuwan-australia-bangun-jalanan-dari-limbah-masker/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ilmuwan-australia-bangun-jalanan-dari-limbah-masker https://www.greeners.co/ide-inovasi/ilmuwan-australia-bangun-jalanan-dari-limbah-masker/#respond Tue, 20 Jul 2021 08:04:24 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=33321 Guna meminimalisir timbulan limbah masker medis, para peneliti dari RMIT University Australia berinisiatif untuk mengolah masker bekas menjadi jalanan. Adapun inisiatif tersebut mereka rangkum dalam sebuah studi yang terbit pada […]]]>

Guna meminimalisir timbulan limbah masker medis, para peneliti dari RMIT University Australia berinisiatif untuk mengolah masker bekas menjadi jalanan. Adapun inisiatif tersebut mereka rangkum dalam sebuah studi yang terbit pada jurnal Science of Total Environment di tahun 2021. Mengutip dari Treehugger, studi tersebut terinspirasi dari banyaknya masker bekas yang tercecer di kota Melbourne.

Ya, limbah masker medis telah menjadi momok yang menakutkan bagi lingkungan. Masker medis menimbulkan polusi dalam skala besar, karena sebanyak kurang lebih 6,88 miliar masker digunakan setiap hari di seluruh dunia. Setiap harinya, limbah dari masker tersebut akan terbuang secara sia-sia ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Tak ingin melihat masker bekas terbuang secara percuma, para peneliti mencoba untuk mengolahnya kembali menjadi bahan untuk membangun jalanan.

Dalam studi tersebut, tim peneliti menyatakan bahwa untuk membuat jalanan sepanjang satu kilometer memerlukan sebanyak tiga juta masker medis. Meskipun terlihat cukup pendek, upaya tersebut rupanya berhasil mengurangi  mengurangi 98 ton sampah dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Jalan Raya dari Limbah Masker Medis: Mampu Bertahan Selama 20 Tahun

Untuk membangun jalan raya dengan memanfaatkan limbah masker medis, para peneliti perlu melakukan beberapa tahapan proses terlebih dahulu. Masker bekas yang telah terkumpul perlu melewati tahap sterilisasi terlebih dahulu sebelum masuk ke tahap penghancuran. Selanjutnya, serpihan-serpihan masker akan digabungkan dengan material lain berupa agregat beton daur ulang. Campuran tersebut terdiri dari 1 persen masker dan 99 persen agregat beton.

“Pada umumnya, membangun jalan memerlukan empat lapisan yang terdiri dari sub-grade, base, sub-base, dan aspal. Namun dengan menggunakan campuran limbah masker dan agregat beton bekas, kita dapat menghemat penggunaan tiga lapisan terbawah. Campuran tersebut dapat kami gunakan sebagai dasar pada jalan,” tulis tim peneliti dalam studinya tersebut.

“Bahan baru berupa campuran limbah masker medis dan agregat beton bekas ini memenuhi semua spesifikasi teknik sipil yang relevan. Campuran tersebut, selain dapat mengurangi timbulan sampah medis, juga bersifat dinamis, tahan tegangan, asam, air, dan minim deformasi,” tambah mereka.

Meskipun terbuat dari bahan yang tidak biasa, jalan raya yang terbuat dari campuran limbah masker rupanya dapat bertahan selama kurang lebih 20 tahun. Para peneliti menyatakan bahwa jalanan tersebut, setelah berusia 20 tahun, dapat dibongkar kembali untuk proyek pembangunan jalan berikutnya. Selain itu, para peneliti juga berharap bahwa campuran bahan baru tersebut dapat mendukung gerakan ekonomi sirkular di Australia.

Penulis: Anggi R. Firdhani

Sumber:

Treehugger

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/ilmuwan-australia-bangun-jalanan-dari-limbah-masker/feed/ 0
Ohmie, Lampu Unik dari Manisnya Buah Jeruk https://www.greeners.co/ide-inovasi/ohmie-lampu-unik-dari-manisnya-buah-jeruk/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ohmie-lampu-unik-dari-manisnya-buah-jeruk https://www.greeners.co/ide-inovasi/ohmie-lampu-unik-dari-manisnya-buah-jeruk/#respond Sun, 18 Jul 2021 04:51:41 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=33333 Perusahaan startup asal Italia, Krill Design, baru-baru ini telah menciptakan inovasi terbaru dalam upaya pengolahan limbah organik. Mereka berhasil mengembangkan teknologi yang mampu “menyulap” limbah buah jeruk menjadi lampu meja […]]]>

Perusahaan startup asal Italia, Krill Design, baru-baru ini telah menciptakan inovasi terbaru dalam upaya pengolahan limbah organik. Mereka berhasil mengembangkan teknologi yang mampu “menyulap” limbah buah jeruk menjadi lampu meja berdesain unik. Ohmie merupakan nama dari lampu tersebut.

“Penciptaan lampu Ohmie terinspirasi dari begitu banyaknya buah jeruk yang terbuang sia-sia di Sisilia, Italia. Sisilia merupakan daerah penghasil jeruk di Italia, dan wilayah tersebut menghasilkan sekitar tiga persen jeruk yang ada di dunia. Krill Design tertarik untuk memanfaatkan bagian kulit dari jeruk-jeruk yang terbuang,” ujar Domiziana Illengo, Manajer Pemasaran dari Krill Design, seperti dilansir dari Wired.

“Mengapa kulit jeruk, karena material tersebut kaya akan karbohidrat dan berpotensi untuk diolah kembali menjadi biopolimer yang kokoh. Biopolimer tersebut nantinya akan menjadi bahan utama dari lampu Ohmie” tuturnya menambahkan.

Untuk mengolah kulit jeruk menjadi lampu Ohmie, ada beberapa tahapan proses yang harus Krill lakukan. Setelah melakukan proses pengumpulan, kulit jeruk akan melalui tahap pengeringan dan penggilingan. Setelah itu, Krill akan menggabungkan kulit jeruk dengan biopolimer yang berasal dari tumbuhan untuk diolah kembali menjadi filamen. Filamen tersebut akan melewati proses pembentukan oleh mesin cetak tiga dimensi, hingga pada akhirnya terbentuklah lampu meja Ohmie yang unik.

Lampu Ohmie: Beraroma Jeruk dan Dapat Diolah Menjadi Kompos

Karena terbuat dari bahan-bahan organik seperti kulit jeruk dan biopolimer berbahan dasar tumbuhan, lampu Ohmie memiliki penampilan yang alami dan sederhana. Lampu tersebut memiliki warna alami dari kulit jeruk, yaitu oranye. Selain itu, produk ini juga memiliki permukaan dengan tekstur kasar layaknya kulit jeruk. Hal tersebut tentu saja telah menambah keunikan dari lampu meja yang satu ini.

Selain memiliki warna dan tekstur layaknya buah jeruk asli, lampu Ohmie juga memiliki aroma seperti buah jeruk! Menurut Krill Design dalam situs resmi mereka, aroma tersebut dapat menciptakan efek relaksasi bagi para penggunanya.

“Aroma tersebut muncul karena lampu Ohmie telah melewati proses pemanggangan. Jadi, selain berbau layaknya buah jeruk, lampu tersebut juga terkadang mengeluarkan aroma seperti kue,” tutur Domiziana.

Lampu Ohmie, selain berbentuk dan beraroma unik, juga bersifat ramah terhadap lingkungan. Karena terbuat dari bahan-bahan alami, lampu tersebut dapat diolah kembali menjadi kompos bila sudah tidak bisa kita gunakan.

Sebagai informasi, lampu meja Ohmie memiliki tinggi berukuran 23 sentimeter. Setiap lampu dilengkapi dengan sakelar, bohlam LED, dan kabel pengisi daya berjenis USB. Lampu ini memiliki bobot sebesar 150 gram dan juga memiliki fitur tambahan berupa jam alarm. Jika Sobat Greeners tertarik untuk memiliki lampu unik yang satu ini, Sobat Greeners dapat membelinya secara daring.

Penulis: Anggi R. Firdhani

Sumber:

Situs Resmi Krill Design

Wired

 
]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/ohmie-lampu-unik-dari-manisnya-buah-jeruk/feed/ 0
Unik! Rumah Ini Terbuat dari Limbah Kulit Kopi https://www.greeners.co/ide-inovasi/unik-rumah-ini-terbuat-dari-limbah-kulit-kopi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=unik-rumah-ini-terbuat-dari-limbah-kulit-kopi https://www.greeners.co/ide-inovasi/unik-rumah-ini-terbuat-dari-limbah-kulit-kopi/#respond Mon, 12 Jul 2021 03:30:22 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=33228 Guna mendukung pembangunan rumah prefabrikasi yang berkelanjutan, perusahaan bangunan asal Kolumbia bernama Woodpecker melakukan suatu inovasi yang tidak biasa. Selama kurang lebih 10 tahun, Woodpecker telah memproduksi rumah ramah lingkungan […]]]>

Guna mendukung pembangunan rumah prefabrikasi yang berkelanjutan, perusahaan bangunan asal Kolumbia bernama Woodpecker melakukan suatu inovasi yang tidak biasa. Selama kurang lebih 10 tahun, Woodpecker telah memproduksi rumah ramah lingkungan dengan memanfaatkan  limbah kulit kopi sebagai salah satu material utama. Selain dapat diolah kembali menjadi rangka bangunan yang kuat dan ringan, alasan lain bagi Woodpecker untuk memanfaatkan limbah kulit kopi yaitu untuk mengurangi emisi metana berbasis makanan.

“Kami telah mencoba berbagai bahan alternatif lain seperti serbuk kayu, sekam, dan serat alami lainnya. Namun sayang, semua bahan tersebut tidak memiliki daya tahan yang baik. Hingga akhirnya, kami pun menemukan kulit kopi yang sangat tahan lama, tahan api, dan bahkan tahan terhadap serangga,” ujar CEO Woodpecker, Alejandro Franco, seperti dilansir dari Fast Company.

Gagasan Woodpecker untuk menciptakan rumah dari limbah kulit kopi bermula ketika mereka membangun rumah di suatu lokasi terpencil di Kolumbia. Saat itu, mereka menghadapi kesulitan untuk membawa bahan baku seperti batu bata, semen, dan juga beton.  Bertolak dari kejadian tersebut, Woodpecker pun terinspirasi untuk membuat bahan baku bangunan yang ringan, mudah untuk dibawa, namun tetap kokoh.

“Dari situlah kami mulai menciptakan ‘batu bata’ alternatif yang terbuat dari kulit kopi,” tambahnya.

Rumah dari Limbah Kulit Kopi: Disusun Seperti Lego

Untuk membangun rumah dengan memanfaatkan limbah dari kulit kopi, ada beberapa proses yang harus Woodpecker lakukan terlebih dahulu. Pada tahap awal, perusahaan tersebut akan menggabungkan kulit kopi dengan plastik daur ulang untuk dijadikan balok-balok “batu bata” alternatif.

Pada tahap selanjutnya, Woodpecker akan memadukan balok-balok berbahan kulit kopi tersebut dengan rangka baja yang kokoh hingga menjadi suatu bangunan. Proses pembangunan rumah yang mereka lakukan cukup unik dan tidak biasa: mereka membangun rumah bagaikan menyusun mainan Lego! Mereka hanya membutuhkan sedikit alat untuk membangun rumah tersebut.

Kepada Fast Company, Woodpecker menjelaskan bahwa biasanya mereka membutuhkan waktu sekitar 5 hingga 7 hari untuk membangun rumah berbahan kulit kopi. Meskipun proses pembangunannya berjalan dengan cepat dan mudah, rumah dari limbah kulit kopi memilki daya tahan yang tinggi seperti rumah pada umumnya.

Penulis: Anggi R. Firdhani

Sumber:

Fast Company

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/unik-rumah-ini-terbuat-dari-limbah-kulit-kopi/feed/ 0
Mi Terro Hadirkan Koleksi Kaus dari Masamnya Susu Basi https://www.greeners.co/gaya-hidup/mi-terro-hadirkan-koleksi-kaus-dari-masamnya-susu-basi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mi-terro-hadirkan-koleksi-kaus-dari-masamnya-susu-basi https://www.greeners.co/gaya-hidup/mi-terro-hadirkan-koleksi-kaus-dari-masamnya-susu-basi/#respond Thu, 20 May 2021 01:30:03 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=32667 Sobat Greeners, tahukah kamu bahwa sebanyak 128 juta ton susu sapi terbuang secara percuma setiap tahunnya? Guna menyiasati permasalahan tersebut, sebuah perusahaan startup asal Los Angeles, Mi Terro, berinisiatif untuk […]]]>

Sobat Greeners, tahukah kamu bahwa sebanyak 128 juta ton susu sapi terbuang secara percuma setiap tahunnya? Guna menyiasati permasalahan tersebut, sebuah perusahaan startup asal Los Angeles, Mi Terro, berinisiatif untuk memberikan kehidupan kedua pada limbah susu sapi tersebut. Lain daripada yang lain, Mi Terro memilih untuk “menyulap” limbah susu basi menjadi kaus modis!

“Kisah awal dari pembuatan kaus berbahan susu basi bermula pada tahun 2018. Saat itu, saya mengunjungi peternakan sapi milik paman saya di Tiongkok. Saat berada di sana, saya terkejut karena melihat begitu banyak susu sapi yang dibiarkan basi dan terbuang sia-sia,” ujar CEO Mi Terro, Robert Luo, dalam sebuah video yang diunggah pada kanal Youtube pribadinya.

“Setelah kembali pulang ke AS, saya langsung menghubungi teman lama saya yang merupakan seorang ahli kimia. Setelah terus melakukan beragam percobaan, kami menemukan bahwa kasein dalam susu basi rupanya dapat diolah menjadi serat kain yang halus,” tambahnya.

Untuk menemukan teknologi yang tepat dalam proses pengolahan susu basi menjadi serat kain, Robert dan temannya hanya membutuhkan waktu sekitar tiga bulan saja. Melalui teknologi aktivasi protein dan dynamic flow shear spinning, susu basi akan melalui proses ekstraksi. Setelah itu, molekul protein kasein dalam susu akan dimurnikan dan diolah menjadi serat kain, yang nantinya menjadi bahan baku dari kaus Mi Terro.

Kaus Mi Terro, Lembut dan Menyehatkan Kulit

Lalu, seperti apa rasanya mengenakan kaus yang terbuat dari susu sapi basi? Melansir dari situs Inhabitat, kaus Mi Terro memiliki tekstur yang jauh lebih lembut daripada kaus biasa. Kaus ini tiga kali lebih lembut dari kaus yang terbuat dari kapas, sehingga dapat membuat penggunanya merasa nyaman. Jangan khawatir, meski terbuat dari susu basi, kaus ini tidak memiliki bau yang mengganggu kok!

Selain memiliki tekstur yang begitu lembut, kaus Mi Terro juga memiliki kelebihan-kelebihan lain yang tidak dimiliki oleh kaus lain. Kaus ini bersifat biodegradable, anti mikroba, anti bau, dan juga anti kusut. Yang lebih istimewanya lagi, kaus ini juga mengandung 18 jenis asam amino yang dapat menutrisi dan memperbaiki tekstur kulit! Luar biasa, bukan?

Untuk desain dari kausnya sendiri, Mi Terro memilih untuk berada di “jalur aman”. Kaus ini memiliki penampilan yang klasik, simpel, serta kasual, sehingga cocok untuk kita gunakan sehari-hari. Pilihan warnanya juga hanya ada dua, yakni hitam dan putih. Selain itu, kaus ini juga bersifat unisex.

Penulis: Anggi R. Firdhani

Sumber:

Inhabitat

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/mi-terro-hadirkan-koleksi-kaus-dari-masamnya-susu-basi/feed/ 0
Lampu Hias Cantik dari Limbah Spanduk https://www.greeners.co/ide-inovasi/lampu-hias-cantik-dari-limbah-spanduk/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=lampu-hias-cantik-dari-limbah-spanduk https://www.greeners.co/ide-inovasi/lampu-hias-cantik-dari-limbah-spanduk/#respond Fri, 16 Oct 2020 23:12:12 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=29417 Melihat tingginya potensi limbah spanduk di Tanah Air, Aditya Redja Kusuma dan Ratna Puspitasari terinspirasi menggunakan limbah spanduk dalam penelitian mereka. Mahasiswa Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya ini mengaplikasikan limbah spanduk sebagai produk dekorasi ruangan.]]>

Menjelang pemilihan kepala daerah (Pilkada), spanduk calon pemimpin daerah menghiasi setiap sudut jalan. Banyaknya spanduk Pilkada tidak hanya berkontribusi pada polusi visual, melainkan juga mencemari lingkungan. Spanduk terbuat dari bahan plastik atau yang biasa disebut flexy banner. Dalam proses pembuatan spanduk, terdapat potongan bahan yang tidak digunakan oleh perusahaan percetakan digital. Bahan ini pun dibuang begitu saja.

Potongan bahan menyebabkan limbah spanduk plastik kian menumpuk. Satu perusahaan bisa menghasilkan sebanyak 8-10kg limbah spanduk plastik dalam satu hari. Bayangkan, berapa banyak perusahaan percetakan digital di Indonesia?

Melihat tingginya potensi limbah spanduk di Tanah Air, Aditya Redja Kusuma dan Ratna Puspitasari terinspirasi menggunakan limbah spanduk dalam penelitian mereka. Mahasiswa Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya ini mengaplikasikan limbah spanduk sebagai produk dekorasi ruangan. Mereka menyulap limbah spanduk menjadi lampu hias cantik.

Baca juga: Arek Surabaya Desain Gawai Pelipat Baju dengan Sinar UV

“Peneliti mengambil referensi sejenis karya Desy Dwimawati tahun 2015 dari Fakultas Seni dan Desain Universitas Sebelas Maret Surakarta. Penelitian tersebut membahas pemanfaatan limbah spanduk menjadi sebuah pelengkap interior seperti papan partisi dengan memanfaatkan limbah spanduk jenis MMT,” ungkap Aditya dan Ratna dalam artikel “Pemanfaatan Limbah Spanduk Plastik Menjadi Produk Dekorasi Ruangan”.

Lampu Hias Cantik dari Limbah Spanduk

Guna ciptakan motif menarik, peneliti terlebih dahulu memanaskan limbah spanduk. Ilustrasi: Aditya Redja Kusuma dan Ratna Puspitasari.

Peneliti Panaskan Limbah Spanduk untuk Hasilkan Motif Cantik pada Lampu Hias

Untuk mengetahui karakter dari limbah spanduk agar dapat diaplikasikan pada produk dekorasi ruangan, peneliti melakukan beberapa tahap uji coba. Dari hasil uji coba yang dilakukan didapatkan beberapa karakter material limbah spanduk.

Peneliti melakukan uji coba dengan memanaskan spanduk dalam oven pada suhu 100°C dan 200°C. Hasil dari percobaan ini menunjukkan pemanasan pada suhu 100°C menjadikan spanduk lebih tipis dan lentur serta memiliki motif kerutan hingga dapat dijadikan material pendukung produk dekorasi ruangan.

Baca Juga: Peneliti di Lampung Hasilkan Biogas dari Limbah Cair Tahu

“Kerutan yang dihasilkan limbah spanduk pada pemanasan oven menghasilkan aksen motif yang unik. Dari beberapa hasil eksperimen pemanasan menggunakan heat gun menghasilkan karakter limbah yang dapat dijadikan struktur pada produksi dekorasi ruangan, salah satunya lampu hias,” tutur Adhi dan Ratna.

Ketika menggunakan heat gun, limbah spanduk lebih dahulu digulung dan dibuat berserabut setelah dipanaskan dengan suhu 89°C selama 1 menit. Uji coba ini menunjukkan, limbah spanduk yang digulung menghasilkan motif yang merata dan lentur yang dapat digunakan sebagai struktur seperti tiang lampu dan vas bunga. Sedangkan pada limbah yang sudah dibuat serabut menghasilkan limbah yang kuat dan solid yang juga dapat dijadikan struktur pembuatan produk dekorasi ruangan.

Penulis: Mega Anisa

Editor: Ixora Devi

 

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/lampu-hias-cantik-dari-limbah-spanduk/feed/ 0
VEJA Luncurkan Sneaker Modis dari Limbah Jagung https://www.greeners.co/gaya-hidup/veja-luncurkan-sneaker-modis-dari-limbah-jagung/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=veja-luncurkan-sneaker-modis-dari-limbah-jagung https://www.greeners.co/gaya-hidup/veja-luncurkan-sneaker-modis-dari-limbah-jagung/#respond Tue, 19 Mar 2019 09:28:48 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=22838 Ditangan VEJA, kini limbah jagung memiliki manfaat lain yang berkelanjutan: sneaker modis. Perusahaan yang didirikan sejak 2004 ini berhasil mengolah limbah jagung menjadi sepatu yang berkualitas dengan label Campo.]]>

Sebagai bahan makanan, jagung mungkin hanya dimanfaatkan bijinya saja untuk dikonsumsi. Sampah jagung biasanya dibuang begitu saja, kalau pun dimanfaatkan biasanya dijadikan bahan bakar pengganti kayu bakar. Ditangan VEJA, kini limbah jagung memiliki manfaat lain yang berkelanjutan: sneaker modis.

VEJA merupakan perusahaan sepatu dan aksesori asal Paris, Perancis yang sudah lama bergelut di industri ramah lingkungan. Perusahaan yang didirikan sejak 2004 oleh Sébastien Kopp dan François-Ghislain Morillion ini berhasil mengolah limbah jagung menjadi sepatu yang berkualitas dengan label Campo.

sneaker

Foto: VEJA/Mario Simon Lafleur via Inhabitat

Campo dibuat menggunakan kain vegan baru dan ramah lingkungan. Bahan revolusioner yang disebut C.W.L. ini berasal dari kanvas berlilin yang terdiri dari 50 persen limbah jagung dari industri makanan. Campo menjadi produk pertama yang menggunakan bahan C.W.L. dalam industri fesyen.

Dilansir dalam Inhabitat, VEJA menggunakan bahan C.W.L. yang telah dikembangkan oleh sebuah perusahaan Italia. Bahan C.W.L. ini berupa kapas organik yang dilapisi PU dan resin dari industri limbah jagung. Melalui sentuhan VEJA, bahan ini memilki tampilan yang sebanding dengan bahan kulit yang umumnya digunakan untuk membuat sepatu. Dengan kata lain, bahan C.W.L. ini bisa digunakan sebagai bahan pengganti kulit yang ekologis.

“Sejak kami mulai meluncurkan produk VEJA pada tahun 2005, kami selalu mencari bahan baku baru yang berkelanjutan dan lebih ekologis,” tulis VEJA dalam siaran pers mereka. Dalam menemukan pengganti bahan ekologis untuk kulit sepatu, perusahaan ini mengalami banyak kegagalan. Namun setelah lima tahun melakukan riset dan pengembangan, VEJA akhirnya menemukan bahan C.W.L. yang revolusioner.

sneaker

Foto: VEJA/Mario Simon Lafleur via Inhabitat

Bahan C.W.L. pada sepatu ini digunakan untuk bagian atas dan panel sepatu. Adapun bahan lainnya terbuat dari bahan polyester daur ulang, kain B-Mesh yang berasal dari botol plastik daur ulang yang digunakan pada bagian dalam sepatu Campo. Sedangkan sol dalam dan sol luar terbuat dari karet alam yang tumbuh secara berkelanjutan di hutan Amazon. Sama halnya dengan semua jenis sepatu buatan VEJA, sepatu sneaker Campo ini dibuat secara etis di Brasil di wilayah Porto Alegre.

Sejak diluncurkan awal tahun ini, sepatu sneaker Campo kini menjadi model sepatu kulit alternatif keluaran VEJA. Empat puluh persen dari model sepatu VEJA termasuk dalam koleksi vegan musim semi dan musim panas 2019, termasuk juga sepatu kulit-alternatif model Rio Branco dan Nova. Sepatu sneaker Campo sekarang sudah tersedia untuk dibeli secara online dalam enam varian yang berbeda dan mulai dijual seharga 125 euro.

Penulis: DS/G43

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/veja-luncurkan-sneaker-modis-dari-limbah-jagung/feed/ 0
Pesantren Rasakan Manfaat Biogas Berbahan Tinja Bantuan ESDM https://www.greeners.co/berita/pesantren-rasakan-manfaat-biogas-berbahan-tinja-bantuan-esdm/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pesantren-rasakan-manfaat-biogas-berbahan-tinja-bantuan-esdm https://www.greeners.co/berita/pesantren-rasakan-manfaat-biogas-berbahan-tinja-bantuan-esdm/#respond Thu, 26 Apr 2018 07:52:40 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=20462 Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) membangun instalasi biogas komunal di Pondok Pesantren Al Yasini, Wonorejo, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.]]>

Pasuruan (Greeners) – Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) membangun instalasi biogas komunal di Pondok Pesantren Al Yasini, Wonorejo, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Ribuan santri telah merasakan manfaat pembangunan instalasi biogas berbahan baku tinja ini.

“Saya sampaikan terima kasih pada pemerintah melalui Kementerian ESDM atas bantuan pembangunan instalasi biogas komunal di pesantren kami. Bantuan ini sangat bermanfaat bagi para santri,” kata Pengasuh Pondok Pesantren Al Yasini, KH. A. Mujib Imron, Kamis (26/04/2018).

BACA JUGA: ESDM: Pengembangan EBT Bukan Lagi Sebuah Pilihan

Instalasi biogas komunal yang diresmikan Menteri ESDM Ignatius Jonan pada 7 April 2018 itu terdiri dari 50 unit water closet (WC), satu unit IPAL, satu digester biogas berukuran 2 X 12 m3 tipe fixed dome beton, dua unit lampu biogas dan empat kompor biogas. Instalasi ini dimanfaatkan oleh sekitar 3.000 santri yang ada di pesantren tersebut.

“Bantuan bisa menghemat biaya operasional pesantren serta menjaga kebersihan lingkungan. Limbah (tinja) dari para santri bisa dimanfaatkan menjadi sumber energi. Selain itu, dengan penambahan 50 WC, para santri juga tidak lagi antre sehingga tidak terlambat sekolah. Itu manfaat lain dari pembangunan biogas ini,” terangnya.

biogas

Instalasi digester biogas yang dibangun di Pondok Pesantren Al Yasini mampu menampung limbah dari 3.000 santri. Foto: greeners.co/Muhajir Arifin

Menurut Mujib, Kementerian ESDM juga berjanji akan membangun sumur bor besar berkapasitas 3.000 orang serta instalasi listrik tenaga surya. Saat meresmikan instalasi biogas, Menteri Jonan juga mengapresiasi pondok pesantren yang bisa menjadi pelopor energi terbarukan.

“Saat meresmikan, beliau (Menteri Ignatius Jonan) juga berkenan membangun sumur dan listrik tenaga matahari, kami hanya diminta menyiapkan lahan. Pak Menteri bilang sangat senang kalau pesantren bisa menjadi pelopor energi terbarukan,” katanya.

BACA JUGA: KLHK: PLTSa Merupakan Amanat Undang-Undang

Pemerintah Kabupaten Pasuruan mengapresiasi Kementerian ESDM yang memilih pesantren sebagai lokasi pelaksanaan program pemerintah memperbanyak instalasi energi terbarukan dan ramah lingkungan.

“Bantuan kepada pesantren di Pasuruan sangat tepat. Pasalnya, Kabupaten Pasuruan memiliki 365 pesantren, lebih banyak dari jumlah desa sebanyak 341. Karena itu, amanah (bantuan) Kementerian ESDM pada pesantren pasti membawa manfaat,” terangnya.

Dengan adanya instalasi biogas tersebut, lingkungan pesantren terutama fasilitas mandi cuci kakus (MCK) sangat bersih. Para santri juga memasak menggunakan kompor dari biogas sehingga menghemat penggunaan elpiji maupun kayu bakar.

Penulis: MA/G12

]]>
https://www.greeners.co/berita/pesantren-rasakan-manfaat-biogas-berbahan-tinja-bantuan-esdm/feed/ 0
LIPI Kembangkan Bioetanol dari Limbah Kelapa Sawit https://www.greeners.co/berita/lipi-kembangkan-bioetanol-limbah-kelapa-sawit/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=lipi-kembangkan-bioetanol-limbah-kelapa-sawit https://www.greeners.co/berita/lipi-kembangkan-bioetanol-limbah-kelapa-sawit/#respond Fri, 02 Mar 2018 05:36:49 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=20123 Meningkatnya konsumsi bahan bakar fosil yang tidak dapat diperbarui mendorong Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengembangkan energi alternatif bioetanol dari limbah kelapa sawit.]]>

Jakarta (Greeners) – Meningkatnya konsumsi bahan bakar fosil yang tidak dapat diperbarui dan timbulnya masalah lingkungan seperti polusi udara dan pemanasan global mendorong Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengembangkan energi alternatif bioetanol dari limbah kelapa sawit. Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI Agus Haryono menjelaskan bahwa pengembangan penelitian bioetanol ini sudah dilakukan sejak tahun 2008 dan proses pilot plan telah berjalan pada tahun 2010 hingga 2012.

“Bioetanol ini merupakan alternatif untuk bahan bakar yang selama ini sangat bergantung sekali dengan bahan bakar fosil. Suatu saat kalo bahan bakar fosil sudah mahal, Indonesia sudah memiliki cadangannya. Selain itu bioetanol ini bisa mengurangi emisi CO2 lebih dari 90 persen,” ujar Agus Haryono pada acara Kunjungan ASEAN Terkait Bioetanol Generasi ke-2 di Jakarta, Kamis (01/03).

BACA JUGA: LIPI Kembangkan Super Mikroba sebagai Penghasil Bioetanol

Bioetanol dengan bahan limbah kelapa sawit merupakan generasi ke-2 (G2) yang dikembangkan dari generasi pertama yang memakai bahan baku pangan, seperti singkong dan nira tebu. Namun karena bahan baku pangan ini sulit didapat, penelitian beralih menggunakan limbah kelapa sawit.

“Generasi kedua ini kami buat karena adanya perbaikan dari generasi pertama. Karena ketersediaan bahan pangan yang tinggi dari generasi pertama yang menggunakan singkong dan tebu, kami mencari bahan baku apa yang bisa digunakan untuk bahan bakar tapi yang sudah tidak terpakai. Akhirnya, dipilihlah tandan kosong sawit (TKS) dengan kandungan etanol selulosa 30-40 persen yang bisa dijadikan etanol (bahan bakar) berkapasitas 160 liter per ton TKS,” ujar Agus.

Bioetanol dari limbah kelapa sawit ini memiliki konsentrasi 99,5% yang siap digunakan untuk bahan bakar pengganti bensin. Agus bahkan mengklaim bahwa pilot plant Bioetanol G2 merupakan satu-satunya yang ada di Indonesia dan menjadi bench-mark untuk proses produksi bioetanol berbasis lignoselulosa.

“Biomassa lignoselulosa di Indonesia sangat melimpah, hal ini membuka kesempatan terwujudnya bahan bakar terbarukan dan ramah lingkungan, dan diharapkan terjalin kolaborasi antar negara ASEAN dalam penelitian dan pengembangan biofuel,” katanya.

BACA JUGA: Penerapan BBM Euro 4 Harus Dijalankan Tepat Waktu

Sayangnya bioetanol berbahan dasar limbah kelapa sawit ini seharga Rp25.000 per liter, lebih mahal dibandingkan dengan bahan bakar fosil. Hal ini membuat bioetanol dari limbah kelapa sawit ini belum banyak diproduksi.

“Meskipun dari penelitian-penelitian sebelumnya harga sudah turun tapi belum maksimal, belum bisa menyaingi bahan bakar fosil. Waktu pertama kita membuat (bioethanol G2) harganya Rp200.000 per liter, kita terus melakukan efisiensi dan sekarang Rp25.000 per liter. Kalau enzimnya sudah tidak impor harga bisa turun lagi,” ungkap Agus.

Agus juga mengharapkan peran pemerintah untuk membantu memasarkan bioetanol ini. Dengan demikian, selain LIPI bisa mengefisienkan produksinya, Agus berharap pemerintah memberikan kemudahan harga jual yang lebih mahal karena bioetanol G2 tidak hanya bersaing dengan bahan bakar fosil tapi dengan bahan bakar nabati seperti bioetanol.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/lipi-kembangkan-bioetanol-limbah-kelapa-sawit/feed/ 0
Limbah Kaca Bisa Diolah Jadi Baterai! https://www.greeners.co/ide-inovasi/limbah-kaca-diolah-jadi-baterai/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=limbah-kaca-diolah-jadi-baterai https://www.greeners.co/ide-inovasi/limbah-kaca-diolah-jadi-baterai/#respond Mon, 19 Feb 2018 13:27:22 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=20056 Nampaknya sebentar lagi baterai bisa jadi dari limbah kaca. Para peneliti dari Universitas Kalifornia bahkan sudah mempublikasikan temuan ini di jurnal ilmiah. Seperti apa penelitiannya?]]>

Di era modern ini penggunaan baterai semakin hari semakin meningkat. Hal ini bisa dilihat dari terus meningkatnya jumlah gadget atau gawai seperti smart phone, tablet, kamera hingga laptop yang diproduksi oleh perusahaan elektronik dari tahun ke tahun. Terkait dengan penggunaan baterai, limbah baterai termasuk dalam limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) dan proses penguraian limbahnya membutuhkan waktu sampai dengan seratus tahun lamanya.

Sadar akan besarnya ancaman pencemaran limbah baterai terhadap lingkungan hidup, Cengiz Ozkan, profesor teknik mesin, dan Mihri Ozkan, profesor teknik elektro di Riverside’s Bourns College of Engineering, University of California, melakukan penelitian dengan menggunakan limbah botol kaca sebagai bahan alternatif untuk membuat baterai. Penelitian mengenai baterai limbah kaca ini dimuat dalam jurnal Nature Scientific Reports yang berjudul Silicon Derived from Glass Bottles as Anode Materials for Lithium Ion Full Cell Batteries.

Setelah melihat miliaran botol kaca yang berada di tempat pembuangan sampah setiap tahun, para peneliti mencoba mengubah silikon dioksida yang terdapat dalam limbah botol minuman menjadi nanopartikel silikon yang memiliki kemurnian tinggi untuk baterai lithium-ion. Melalui proses kimia berbiaya rendah, para peneliti ini berhasil menciptakan anoda nanosilikon yang dapat digunakan pada baterai lithium-ion berkinerja tinggi.

baterai

Gambar: University of California – Riverside via Youtube

Anoda silikon dapat menyimpan energi hingga 10 kali lebih banyak daripada anoda grafit konvensional, namun pemuaian dan penyusutan selama pengisian dan pelepasan membuatnya tidak stabil. Untuk mengurangi masalah ini, para peneliti mengubah silikon ke skala nano dan menggabungkan bentuk silicon dioxide yang melimpah dan relatif murni. Melalui proses tersebut para peneliti berhasil menciptakan baterai setengah sel lithium-ion yang menyimpan energi hampir empat kali lebih banyak dari anoda grafit konvensional.

Untuk membuat anoda, para peneliti menggunakan proses tiga langkah yang melibatkan penghancuran dan penggilingan botol kaca hingga halus, pengurangan magnesiothermic untuk mengubah silikon dioksida menjadi silikon berstruktur nano, dan terakhir melapisi nanopartikel silikon dengan karbon untuk meningkatkan stabilitas dan sifat penyimpanan energinya.

Changling Li, seorang mahasiswa pascasarjana di bidang sains dan teknik material dan penulis utama di jurnal tersebut, mengatakan satu botol kaca menyediakan cukup nanosilicon untuk ratusan atau tiga-lima kantong sel koin baterai.

“Kami memulai dengan mengolah produk limbah yang ada di tempat pembuangan sampah dan menciptakan baterai yang menghemat lebih banyak energi, lebih cepat terisi dayanya, dan lebih stabil daripada baterai sel koin komersial. Oleh karena itu, kami memiliki kandidat yang sangat menjanjikan untuk baterai lithium-ion generasi mendatang,” ujar Li.

Penelitian ini merupakan rangkaian terbaru dari serangkaian proyek yang dipimpin oleh Mihri dan Cengiz Ozkan untuk menciptakan anoda baterai lithium-ion dari bahan ramah lingkungan. Penelitian sebelumnya berfokus pada pengembangan dan pengujian anoda dari jamur portabella, pasir, dan tanah diatom.

Penulis: DS/G43

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/limbah-kaca-diolah-jadi-baterai/feed/ 0
Attero, Cara Seniman Jalanan Kota Lisbon ‘Bicara’ Soal Sampah https://www.greeners.co/ide-inovasi/attero-cara-seniman-jalanan-kota-lisbon-bicara-soal-sampah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=attero-cara-seniman-jalanan-kota-lisbon-bicara-soal-sampah https://www.greeners.co/ide-inovasi/attero-cara-seniman-jalanan-kota-lisbon-bicara-soal-sampah/#respond Thu, 04 Jan 2018 06:30:08 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=19757 Seniman jalanan asal Portugis, Artur Bordalo, mengkritik ketidakpedulian orang-orang terhadap sampah. Ia melakukannya melalui 'Attero'.]]>

Lingkungan yang bebas dari sampah tentu saja didambakan oleh semua orang. Selain menyehatkan, lingkungan yang bebas dari sampah juga membuat orang betah menempatinya. Namun sebagian besar orang hanya peduli terhadap lingkungan di sekitar rumahnya saja. Padahal kebersihan lingkungan publik seperti jalan raya dan kawasan bekas bangunan-bangunan kosong di kota juga perlu mendapat perhatian yang serius dari semua pihak.

Minimnya perhatian orang-orang terhadap lingkungan publik membuat seniman jalanan asal Portugis, Artur Bordalo, mendapatkan ide untuk menciptakan hiasan kota yang berasal dari sampah atau limbah. Seperti yang dilansir dari Colossal, Bordalo atau lebih dikenal dengan sebutan Bordalo II, menciptakan hiasan berbentuk hewan berukuran besar dari plastik bekas, bagian mobil dan sampah lainnya untuk mengkritik ketidakpedulian orang-orang terhadap lingkungan tersebut.

Bordalo II memamerkan beberapa karya seni jalanan yang berani di sebuah gudang kosong yang ditinggalkan di kota Lisbon. Di pameran tunggal Bordalo II, Attero – dalam bahasa Latin berarti ‘limbah’, sampah diberi kehidupan baru sebagai hiasan hewan yang berwarna-warni.

attero

Foto: Bordalo II via www.thisiscolossal.com

Bordalo II sering mengubah partikel organik hasil dari proses penguraian sampah (detritus) menjadi hiasan hewan karena ia beranggapan bahwa orang-orang yang sering membuang sampah sembarangan dan mencemari lingkungan secara tidak langsung telah membuat hewan sangat rentan terhadap bahayanya.

Lara Seixo Rodrigues, pendiri organisasi seni nirlaba Mistaker Maker dan pengurus Attero, mengatakan bahwa Attero memanggil kita untuk merenungkan apa yang kita konsumsi. Dia mengatakan kepada Colossal, “Entah dalam skala besar atau kecil, kreasi pahatannya yang tidak biasa mengharuskan kita untuk mempertanyakan dan memikirkan kembali peran kita sendiri sebagai aktor dalam masyarakat yang statis, konsumeris, dan merusak diri sendiri, yang mengeksploitasi, seringkali dengan cara yang kasar, sumber daya yang ditawarkan alam kepada kita.”

attero

Foto: Bordalo II via www.thisiscolossal.com

Bordalo II menggemakan gagasan ini dalam biografinya di Facebook. Dia mengatakan bahwa dia termasuk “generasi yang sangat konservatif, materialis, dan serakah.” Seniman yang lahir pada tahun 1987 ini merevitalisasi benda-benda bekas pakai yang dibuang oleh orang lain untuk menciptakan karyanya.

Patung hiasan Bordalo II seringkali dibuat dalam skala besar, terbentang di dinding bangunan. Meski demikian, dalam pameran ini juga ditampilkan hiasan-hiasan kecil di pintu tua, kaca jendela, atau dinding.

Sekitar 8.000 orang telah mengunjungi pameran tersebut selama minggu pertama. Pameran Attero diadakan pada bulan November 2017 lalu di Rua de Xabregas 49, 1900-439 Beato, Lisbon. Selain itu tiket masuk ke pameran ini gratis. Jika Anda tidak sempat berkunjung ke Lisbon, anda bisa lihat lebih banyak karya-karya Bordalo II di Facebook dan Instagram-nya.

Penulis: DS/G43

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/attero-cara-seniman-jalanan-kota-lisbon-bicara-soal-sampah/feed/ 0
Briket dari Kotoran Manusia https://www.greeners.co/ide-inovasi/briket-kotoran-manusia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=briket-kotoran-manusia https://www.greeners.co/ide-inovasi/briket-kotoran-manusia/#respond Tue, 05 Dec 2017 13:20:26 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=19475 Proyek mengubah limbah menjadi sumber energi ini tidak hanya menghasilkan sumber bahan bakar yang tidak terlalu berasap dan api yang tahan lama namun juga membantu meningkatkan sanitasi lingkungan.]]>

Proyek mengubah limbah menjadi sumber energi ini tidak hanya menghasilkan sumber bahan bakar yang tidak terlalu berasap dan api yang tahan lama namun juga membantu meningkatkan sanitasi lingkungan.

Di manapun manusia berada, maka kotoran manusia selalu mengikuti. Kotoran manusia ini bisa jadi sumber energi yang paling banyak tersedia dan bisa digunakan dalam biodigester untuk memproduksi gas metana dan bisa juga digunakan sebagai kompos. Namun jika kotoran manusia ini tidak diolah atau dibuang sembarangan, maka bisa membawa masalah kesehatan yang serius seperti wabah kolera atau penyakit lainnya.

Satu hal yang biasa terjadi di kehidupan pedesaan di negara berkembang adalah kurangnya infrastuktur untuk limbah, baik yang berbentuk sistem gorong-gorong ataupun toilet yang dibangun dengan benar. Bagi banyak orang yang tidak memiliki akses terhadap fasilitas tersebut maka biasanya mereka membuangnya secara sembarangan yang hasilnya bisa mengkontaminasi sumber air atau sumber makanan.

Toilet tanpa tangki septik juga bisa mengkontaminasi air tanah sehingga berbahaya kalau diminum. Bahkan setiap perlakuan dalam sanitasi seperti pembuatan wc tanpa tangki septik, sistem septik dan jalur-jalur pembuangan air mempunyai efek terhadap lingkungan yang bisa membahayakan bagi kualitas air tanah dan air permukaan.

Namun, ada satu proyek di Kenya yang bisa mengatasi masalah kotoran manusia dan bahan bakar. Seperti dilansir Treehugger, selama ini di Kenya sebanyak 80% masyarakatnya menggantungkan diri pada arang atau kayu yang berujung pada deforestasi dan bahaya kesehatan saat memasak dengan polusi asap yang kuat. Kita sudah tahu bahwa air kencing dan kotoran manusia sangat berguna sebagai penyubur tanah, namun bola arang berbahan dasar kotoran manusia ini menciptakan siklus meja makan-toilet-dapur yang bisa mengurangi dampak kesehatan dan juga mempunyai dampak ekonomi yang menarik.

kotoran manusia

Foto: Nakuru Water and Sanitation Services Company/kenyacic.org

Di Nakura, Kenya, perusahaan pengolah limbah Nakuru mempunyai tempat pengolahan yang setiap harinya mengolah kotoran manusia. Kotoran ini dijemur di panas matahari kemudian diproses dengan pemanasan bersuhu tinggi (300 derajat Celcius) dalam sebuah tempat pembakaran untuk membentuk karbon sambil menambahkan bubuk gergaji ke dalamnya. Hasil pembakaran ini kemudian dihaluskan kemudian dicampur dengan sedikit molase sebagai pengikat, dibentuk menjadi bola dan kemudian dikeringkan kembali.

Satu kilogram briket ini biaya membuatnya sekitar Rp 7.000,- dan menurut laporan, briketnya tidak berbau, sedikit asap dan mampu membakar lebih lama dibandingkan arang biasa sehingga bisa menghemat uang untuk penggunanya.

Namun seperti yang bisa kita duga, ada kesulitan untuk mengatasi sifat tabu dalam menggunakan kotoran untuk sesuatu yang berkaitan dengan makanan. Tapi laporan terakhir menyatakan bahwa baik pengguna maupun produsennya sangat menyukai efektivitas dan harga produk ini.

Saat ini Nakuru Water and Sanitation Services Company, Nawasso, bisa memproduksi sekitar 2 ton briket per bulannya dengan target 10 ton per bulan di akhir tahun ini. Dengan peralatan baru yang sedang dipesan untuk mengoptimalkan produksinya, mereka menargetkan setidaknya 10 ton briket per hari. Dan sebagai bagian dari sistem pendukungnya, mereka akan membangun 6.000 toilet untuk mengumpulkan kotoran tersebut dari bagian kota di sana yang kekurangan fasilitas sanitasi.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/briket-kotoran-manusia/feed/ 0
Clean The World Bantu Kurangi Limbah Sabun di Bumi https://www.greeners.co/ide-inovasi/clean-the-world-bantu-kurangi-limbah-sabun-bumi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=clean-the-world-bantu-kurangi-limbah-sabun-bumi https://www.greeners.co/ide-inovasi/clean-the-world-bantu-kurangi-limbah-sabun-bumi/#respond Wed, 23 Aug 2017 09:23:00 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=18348 Clean The World, perusahaan yang berbasis di Orlando berusaha untuk mengurangi limbah yang dihasilkan sabun. Bekerjasama dengan sejumlah hotel di dunia, perusahaan ini melakukan daur ulang sabun bekas menjadi sabun baru.]]>

Tak dapat dipungkiri, saat ini bumi telah mengalami pencemaran lingkungan yang berasal dari berbagai benda, salah satunya sabun. Mengandung berbagai zat-zat kimia, sabun merupakan salah satu benda penghasil limbah yang dapat merusak lingkungan. Bahan-bahan yang terkandung dalam sabun tak pelak membuat pencemaran air sungai, bahkan hingga air laut.

Mengetahui kenyataan ini, Clean The World, perusahaan yang berbasis di Orlando berusaha untuk mengurangi limbah yang dihasilkan sabun. Bekerjasama dengan sejumlah hotel di dunia, perusahaan ini melakukan daur ulang sabun bekas menjadi sabun baru. Sabun-sabun bekas dari tamu hotel tidak lantas dibuang oleh pihak hotel, melainkan diberikan kepada Clean The World untuk kemudian didaur ulang.

clean the world

Foto: Matt Meltzer/Thrillist.com

Melansir dari Thrillist, Clean The World akan melelehkan sabun-sabun bekas dan membentuknya menjadi sabun baru. Setelah itu, mereka akan mengirimkan sabun daur ulang tersebut ke sejumlah negara. Bukan sembarang negara, mereka akan mendistribusikan sabun tersebut untuk penduduk di negara-negara yang memiliki sanitasi yang buruk.

Pada 2016 lalu, Clean the World mengirim 500.000 batang sabun dikirim untuk korban Badai Matthew di Haiti dan Bahama, seperti dilansir dari Travel+Leisure. Selain itu, perusahaan ini secara rutin memberikan sabun daur ulang International Red Cross dan Non Government Organization (NGO) di seluruh dunia.

Tindakan yang dilakukan Clean The World ini tentu saja dapat menolong orang yang membutuhkan, selain juga mengurangi dampak lingkungan yang ditimbulkan dari sabun sekali pakai yang dibuang oleh pihak hotel.

Penulis: Sinta Agustina

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/clean-the-world-bantu-kurangi-limbah-sabun-bumi/feed/ 0
Salvatore Ferragamo Hadirkan Koleksi Pakaian dari Limbah Kulit Jeruk https://www.greeners.co/gaya-hidup/salvatore-ferragamo-hadirkan-koleksi-pakaian-limbah-kulit-jeruk/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=salvatore-ferragamo-hadirkan-koleksi-pakaian-limbah-kulit-jeruk https://www.greeners.co/gaya-hidup/salvatore-ferragamo-hadirkan-koleksi-pakaian-limbah-kulit-jeruk/#respond Thu, 01 Jun 2017 07:24:48 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=17150 Kain ramah lingkungan nampaknya terus berkembang dari material yang tidak disangka-sangka. Kali ini, apa yang dilakukan oleh desainer Adriana Santanocito, pemilik merek Salvatore Ferragamo, bagi dunia mode harus diapresiasi.]]>

Kain ramah lingkungan nampaknya terus berkembang dari material yang tidak disangka-sangka. Kali ini, apa yang dilakukan oleh desainer Adriana Santanocito bagi dunia mode harus diapresiasi. Adriana berhasil mengembangkan kain dari limbah kulit jeruk dan mengubahnya menjadi koleksi pakaian yang indah.

Adriana Santanocito merupakan desainer asal Italia yang memiliki brand fesyen bernama Salvatore Ferragamo. Pada awalnya, Salvatore Ferragamo didirikan hanya untuk memenuhi tugas kuliah Adriana yang studi di jurusan fashion design. Namun, saat ini Salvatore Ferragamo telah berkembang luas dan memiliki cabang di berbagai negara.

Kisah Adriana mengolah limbah kulit jeruk menjadi pakaian modis dimulai pada tahun 2016. Di Italia, saat membuat jus jeruk, kurang lebih 700.000 ton kulit jeruk terbuang sia-sia per tahun. Di Italia sendiri, biaya untuk mendaur ulang limbah kulit jeruk cukup tinggi. Kondisi ini memunculkan ide Adriana untuk mengubah limbah kulit jeruk menjadi sesuatu yang lebih berguna yaitu mengubah limbah tersebut menjadi kain.

salvatore ferragamo

Foto: Salvatore Ferragamo via eluxemagazine.com

Untuk membuat kain dari limbah kulit jeruk, Adriana bekerja sama dengan Polytechnic University of Milan. Bersama mereka, Adriana memulai proyeknya dan menamainya dengan “Orange Fiber Fabric”. Hasilnya, kain yangbertekstur halus dan mengilap seperti kain sutra. Kain-kain tersebut dirancang sedemikian rupa menjadi pakaian yang menarik, lalu dipasarkan dengan merek Salvatore Ferragamo.

Kain yang terbuat dari limbah kulit jeruk tersebut dirancang menjadi blouse, gaun, celana panjang, dan juga syal. Koleksi pakaian ini memiliki potongan yang simpel dan bertekstur ringan sehingga cocok untuk digunakan saat musim panas. Meskipun terbuat dari limbah kulit jeruk, pakaian-pakaian tersebut tidak terlihat aneh sama sekali dan tidak terlihat unwearable.

Adriana memilih warna dominan monokrom seperti hitam dan putih dalam koleksi pakaian ini. Motif dalam pakaian ini didesain secara khusus oleh Mario Trimarchi, seorang arsitek dan seniman asal Italia. Ia terinspirasi dari pemandangan di Pantai Mediterranean. Motif-motif seperti bunga, dedaunan, dan buah-buahan digambarkan Mario dalam bentuk sketsa abstrak yang cantik.

Dengan menciptakan pakaian yang terbuat dari limbah kulit jeruk ini, Adriana membuktikan bahwa di bumi ini tidak ada “sampah yang sia-sia”. Ia berharap bahwa Salvatore Ferragamo dapat memicu perusahaan fesyen lainnya untuk kreatif dalam mengolah “sampah yang sia-sia” menjadi produk yang berguna.

Penulis: Anggi Rizky Firdhani

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/salvatore-ferragamo-hadirkan-koleksi-pakaian-limbah-kulit-jeruk/feed/ 0
SOYA C(O)U(L)TURE, Kain Alternatif dari Indonesia https://www.greeners.co/gaya-hidup/soya-coulture-kain-alternatif-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=soya-coulture-kain-alternatif-indonesia https://www.greeners.co/gaya-hidup/soya-coulture-kain-alternatif-indonesia/#respond Wed, 29 Mar 2017 10:22:12 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=16486 XXLab merupakan inisiatif dari 5 wanita dari Yogyakarta. Mereka mengembangkan SOYA C(O)U(L)TURE, yaitu kain berbahan dasar limbah dari pabrik tahu dan tempe.]]>

Alternasi penggunaan kulit hewan sebagai bahan dasar produk fesyen semakin banyak dilakukan. Aksi ini muncul karena tumbuhnya kesadaran akan lingkungan dan keberlanjutan alam di masyarakat. Berkenaan dengan hal itu, XXLab berinovasi dengan memproduksi kain alternatif dari limbah.

XXLab merupakan inisiatif dari 5 wanita dari Yogyakarta, Indonesia, yang memiliki fokus di bidang seni, sains dan teknologi. Dengan tujuan untuk mengurangi pencemaran air, XXLab mengembangkan SOYA C(O)U(L)TURE, yaitu kain berbahan dasar limbah dari pabrik tahu dan tempe.

Tahu dan tempe merupakan bahan pangan yang umum dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, terdapat banyak produsen makanan berbahan dasar kedelai di negeri ini, mulai dari usaha skala rumahan (home industry) hingga skala besar (pabrik). Namun, proses untuk mengolah kedelai menjadi makanan tersebut menghasilkan limbah. Sampah pabrik yang dihasilkan umumnya berbentuk cair dan tidak sedikit produsen yang membuang limbah kedelai ini ke sungai.

soya coulture

Foto: xxlab.honfablab.org/soya-coulture

Pencemaran air ini mendorong XXLab untuk mengembangkan bio material dari limbah cair kedelai. Melalui pemanfaatan bakteri Acetobacter xylinum, XXLab memperoleh selulosa. Selulosa yang dihasilkan merupakan serat alami yang dapat digunakan sebagai bahan dasar tekstil, seperti serat dari tanaman kapas.

Selulosa yang juga dikenal sebagai nata de soya ini dibentuk menjadi lembaran dan dikeringkan. Setelah terbentuk menjadi lembaran tipis seperti kain, XXLab mengolah bahan ini menjadi bahan kerajinan tangan seperti aksesori, tas, bahkan sepatu.

Selain itu, limbah sisa produksi bio material ini juga bisa dimanfaatkan sebagai pupuk. Harapannya, temuan ini bisa mengurangi pencemaran dan memberi nilai ekonomi berkelanjutan untuk meningkatkan pendapatan di daerah berpenghasilan rendah, terutama bagi kaum wanita.

soya coulture

Foto: xxlab.honfablab.org/soya-coulture

Pada tahun 2015, XXLab yang terdiri dari Irene Agrivina Widyaningrum, Ratna Djuwita, Eka Jayani Ayuningtias, Asa Rahmana dan, Atinna Rizqiana ini meraih kemenangan pada Prix Ars Electronica 2015 untuk kategori [the next idea] voestalpine Art and Technology Grant. Kemudian, dalam mengembangkan kain alternatifnya, XXLab kerap menciptakan karya seni dan berpartisipasi dalam ajang budaya Yogyakarta.

Penulis: Ayu Ratna Mutia

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/soya-coulture-kain-alternatif-indonesia/feed/ 0
Batang Pohon Pisang pun Bisa Jadi Dompet https://www.greeners.co/ide-inovasi/batang-pohon-pisang-jadi-dompet/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=batang-pohon-pisang-jadi-dompet https://www.greeners.co/ide-inovasi/batang-pohon-pisang-jadi-dompet/#respond Sat, 18 Mar 2017 05:05:10 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=16289 Kosrae, sebuah perusahaan rintisan dari Mikronesia, membuat produk bernama Green Banana Paper. Produk ini merupakan hasil dari limbah pohon pisang yang banyak terdapat di sana.]]>

Lupakan plastik dan kulit binatang, sebuah dompet di masa depan terbuat dari bahan yang lebih aman untuk lingkungan yaitu serat pohon pisang. Adalah Kosrae, sebuah perusahaan rintisan dari Mikronesia, membuat produk bernama Green Banana Paper. Produk ini merupakan hasil dari limbah pohon pisang yang banyak terdapat di sana, namun diolah sedemikian rupa sehingga menjadi dompet kulit vegetarian yang kuat dan bergaya.

pohon pisang

Foto: Green Banana Paper via Inhabitat.com

Pisang merupakan buah-buahan yang mudah dikonsumsi, namun budidaya pisang merupakan kegiatan yang perlu kerja keras. Di Mikronesia terdapat kurang lebih 200.000 buah pohon pisang yang tersebar di kepulauan tersebut. Setiap kali sehabis panen, para petani lokal di sana harus memotong pohonnya untuk meningkatkan produksi pisangnya. Kebanyakan limbah pohon pisang yang ada biasanya dibiarkan begitu saja di tanah untuk didaur ulang secara alami, namun Green Banana Paper ternyata melihat sebuah kesempatan baik secara bisnis, penyelamatan lingkungan dan juga berbagai keuntungan sosial.

pohon pisang

Foto: Green Banana Paper via Inhabitat.com

Didirikan oleh Matt Simpson yang berasal dari New England, perusahaan sosial ini menciptakan dompet yang kuat dan tahan air dengan desain yang terinspirasi dari pohon kelapa, kehidupan laut dan orang-orang Mikronesia.

Dompet Green Banana Paper tidak hanya ramah lingkungan namun juga menolong kehidupan orang-orang Kosraean. Diharapkan dengan skala produksi yang terus meningkat, semakin banyak orang di pulau tersebut yang terlibat dalam bisnis yang berorientasi pada komunitas ini.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/batang-pohon-pisang-jadi-dompet/feed/ 0
Pewarna Alami dari Limbah Kapas https://www.greeners.co/gaya-hidup/pewarna-alami-limbah-kapas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pewarna-alami-limbah-kapas https://www.greeners.co/gaya-hidup/pewarna-alami-limbah-kapas/#respond Wed, 21 Sep 2016 11:43:49 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=14771 Cotton Incorporated bekerjasama dengan Archroma baru-baru ini menciptakan terobosan baru dengan memproduksi pewarna tekstil dari residu kapas. ]]>

Pengunaan pewarna alami pada produk tekstil sudah sejak lama kita temui di banyak masyarakat tradisional yang ada diseluruh dunia meski sebagian besar produsen tekstil lebih memilih menggunakan pewarna kimia. Dewasa ini, beberapa produsen fesyen mulai kembali melirik pewarna alami untuk produk yang mereka produksi. Beragam jenis dedaunan, bunga, buah sampai beberapa jenis akar dan kulit kayu bisa menjadi perwarna dengan ragam pilihan warna yang terhitung lengkap.

Cotton Incorporated bekerjasama dengan Archroma baru-baru ini menciptakan terobosan baru dengan memproduksi pewarna tekstil dari residu kapas. Pewarna tersebut bisa digunakan pada kain katun yang juga terbuat dari bahan dasar kapas. Perusahaan yang bergerak pada penelitian dan promosi kapas tersebut percaya apa yang mereka ciptakan merupakan penemuan baru dalam sejarah modern bahwa sebuah produk tekstil diproduksi dari bahan dan pewarna yang besumber dari hanya satu jenis tanaman.

Menghasilkan berbagai pilihan warna coklat, pewarna dari residu kapas ini sejatinya merupakan hasil dari teknologi yang dipatenkan Archroma dengan sebutan “EarthColors”. Dengan menggunakan teknologi tersebut, perusahaan yang berbasis di Swiss ini berupaya menciptakan berbagai pewarna alternatif menggunakan limbah dari hasil alam dan pertanian.

“Segera setelah kami mendengar tentang teknologi EarthColors, kami ingin mengeksplorasi kemungkinan kapas sebagai sumber pewarna alami,” kata Maria Ankeny, senior director of textile chemistry research dari Cotton Incorporated seperti dilansir Ecouterre.com.

limbah kapas

Foto: ecouterre.com

Maria Ankeny menambahkan bahwa selama ini produk turunan dari kapas sudah banyak digunakan pada industri makanan dan konstruksi, untuk itu pihaknya tertarik pada kemungkinan menggunakan material tersebut pada industri tekstil.

“Kami sangat berterima kasih kepada Cotton Incorporated yang telah memberikan tantangan ini. Archroma juga merupakan upaya kita untuk menantang status quo, dan teknologi EarthColors juga menunjukkan dedikasi kami untuk mendukung dan menginspirasi dunia fesyen yang berkelanjutan dengan warna-warna hangat yang dapat ditelusuri sumber bahan pembuatnya, mulai dari pekebunan sampai ke toko,” ujar Nuria Estape, Head of Textile Specialties Global Marketing & Promotion Archroma.

Selain menawarkan produk yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, EarthColor juga menawarkan teknologi tinggi mengenai penelusuran proses pembuatan pewarna dan sumber bahan bakunya.

Penelusuran informasi ini dimungkinkan dengan adanya chip khusus yang diletakan pada hangtag atau label di setiap produk. Data pada chip dapat diakses oleh konsumen dengan menggunakan ponsel.

Sejatinya hal tersebut juga serupa dengan apa yang diterapkan pada industri kapas di Amerika Serikat. Setiap bal kapas yang ditanam di AS menerima tag identifikasi. Tag memungkinkan pembeli kapas untuk melacak perjalanan produksi dari setiap bal kapas yang dibelinya. Tag ini juga mencakup informasi tentang karakteristik serat kapas yang terkandung disetiap balnya.

Penulis: AT/G39

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/pewarna-alami-limbah-kapas/feed/ 0
Menuai Energi Dari Limbah Tahu https://www.greeners.co/ide-inovasi/menuai-energi-limbah-tahu/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=menuai-energi-limbah-tahu https://www.greeners.co/ide-inovasi/menuai-energi-limbah-tahu/#respond Mon, 15 Aug 2016 06:33:24 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=14494 Desa Kalisari, Banyumas, Jawa Tengah, tidak lagi menyia-nyiakan air limbah tahu dari ratusan pabrik pembuatan tahu yang ada di desa itu. Tidak hanya mendapatkan biogas, kualitas air dan panen padi mereka pun kini membaik.]]>

Di Desa Kalisari, Banyumas, Jawa Tengah, terdapat 150 pabrik tahu yang telah memulai langkah drastis dengan mengolah limbah dari proses produksi tahu menjadi energi yang bersih untuk desa mereka.

Dalam pembuatan tahu, diperlukan air dalam jumlah banyak untuk mengubah kacang kedelai menjadi sari pati kedelai yang kemudian menjadi tahu. Air yang digunakan sebanyak 8 galon untuk tiap kilo saripati kedelai. Asam asetat ditambahkan ke dalam air agar saripati tersebut menggumpal. Setelah dididihkan dan diaduk, airnya dibuang dan tahu dipotong-potong sesuai kebutuhan.

Biasanya air sisa rebusan tersebut dibuang ke saluran air. Namun sekarang, pabrik-pabrik tahu tersebut bergabung dalam sebuah proyek yang mengolah air limbah tahu tersebut menjadi energi yang bermanfaat.

Air limbah tahu tersebut dimasukkan ke dalam tangki digester untuk diberikan bakteri tertentu yang menghasilkan biogas. Gas yang dihasilkan kemudian disalurkan melalui pipa-pipa, langsung ke kompor milik warga yang sudah dimodifikasi.

Dulu sebelum menggunakan biogas, warga harus menunggu kiriman tabung gas atau malah menggunakan kayu bakar untuk memasak. Pengiriman tabung gas yang tidak tentu waktunya, kadang membuat warga menunggu selama seminggu atau bahkan sebulan penuh sebelum mendapatkan kiriman lagi. Sekarang mereka memiliki sumber energi yang konsisten, selalu ada saat dibutuhkan dengan harga yang tiga kali lipat lebih murah untuk gas dalam jumlah yang tak terbatas.

Pemerintah setempat berharap gas dari digester ini bisa juga digunakan untuk pembangkit listrik mengingat tangki yang jauh lebih besar sedang dibangun agar bisa melayani lebih banyak penduduk dan menghasilkan biogas yang jauh lebih banyak.

Kelebihan lainnya dari proyek ini adalah terjaganya kualitas air dari polusi yang ditimbulkan oleh pabrik-pabrik tahu tersebut. Dulu air bekas pabrik tahu biasanya masuk ke sungai sehingga mencemari perairan sekitar pabrik dan juga pengairan untuk sawah. Dengan pemakaian digester ini, para penduduk desa mulai merasakan perubahan pada kualitas air sungai dan hasil panen sawah mereka.

Proyek energi terbarukan ini adalah satu dari sekian banyak inisiatif berskala kecil yang sedang terjadi di Indonesia, negara yang sangat tergantung pada penggunaan bahan bakar fosil. Pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk menghasilkan 25% energi terbarukan dari total penggunaan energi di tahun 2025, sementara saat ini posisi Indonesia adalah salah satu negara penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/menuai-energi-limbah-tahu/feed/ 0
Reaktor Biogas dari Limbah Asrama https://www.greeners.co/ide-inovasi/reaktor-biogas-limbah-asrama/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=reaktor-biogas-limbah-asrama https://www.greeners.co/ide-inovasi/reaktor-biogas-limbah-asrama/#respond Wed, 10 Aug 2016 09:22:39 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=14459 Leroy Mwasaru bersama teman-teman sekolahnya merancang digester untuk mengolah kotoran manusia menjadi biogas. Bahan utamanya adalah limbah dari 720 orang teman satu sekolah Leroy yang tinggal di asrama Maseno School, Kenya.]]>

Leroy Mwasaru, dari Maseno, Kenya, bersama teman-teman sekolahnya merancang digester untuk mengolah kotoran manusia menjadi biogas. Bahan utamanya adalah limbah dari 720 orang teman satu sekolah Leroy yang tinggal di asrama Maseno School.

Desain mereka sudah mencapai tahap purwarupa, menggunakan sampah organik, kotoran sapi dan bahan organik lainnya untuk memberi makan mikroba yang kemudian akan menghasilkan gas. Namun saat rancangan mereka dicoba di skala yang sebenarnya, para siswa ini berharap karya mereka bisa membantu mengurangi pengeluaran sekolah untuk membeli kayu bakar sebesar $900 per bulannya.

BACA JUGA: Bill Gates Minum Air Daur Ulang Limbah Manusia

Biogas digester adalah sebuah cara yang baik untuk mengubah sampah makanan, kotoran manusia dan hewan. Termasuk benda apapun yang bisa membusuk untuk dijadikan energi.

Selain itu biogas digester dapat digunakan hampir di manapun, sehingga dapat menghindari penumpukan sampah organik, mengurangi emisi gas metana dan menjadi energi alternatif selain bahan bakar minyak. Hasil sampingannya juga bagus untuk dijadikan pupuk.

BACA JUGA: Dampak Limbah Terhadap Kesehatan Manusia

Di wilayah yang tidak banyak tersedia akses terhadap sistem sanitasi modern dan jaringan listrik yang tidak bisa diandalkan, digester bisa menjadi solusi yang sempurna.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/reaktor-biogas-limbah-asrama/feed/ 0