pemicu kanker - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/pemicu-kanker/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 10 Jul 2017 08:06:10 +0000 id hourly 1 Stop Kebiasaan Malas Ganti Pembalut Saat Haid! https://www.greeners.co/gaya-hidup/stop-kebiasaan-malas-ganti-pembalut-saat-haid/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=stop-kebiasaan-malas-ganti-pembalut-saat-haid https://www.greeners.co/gaya-hidup/stop-kebiasaan-malas-ganti-pembalut-saat-haid/#respond Sun, 09 Jul 2017 12:45:33 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=17607 Pembalut yang banyak beredar umumnya sekali pakai, namun ada juga yang terbuat dari kain dan diklaim bisa digunakan berulang kali. Untuk menjaga kebersihan dan kesehatan organ intim, bagaimana sebaiknya wanita menggunakan pembalut ini?]]>

Pada saat haid atau menstruasi, wanita memerlukan pembalut untuk menyerap darah haid. Pembalut yang banyak beredar umumnya sekali pakai, namun ada juga yang terbuat dari kain dan diklaim bisa digunakan berulang kali. Untuk menjaga kebersihan dan kesehatan organ intim, bagaimana sebaiknya wanita menggunakan pembalut ini?

Kolonel Kes dr. Frits M. Rumintjap, SpOG(K), MARS, dokter spesialis kandungan dari Rumah Sakit Angkatan Udara Esnawan Antariksa Jakarta, menyatakan bahwa seorang wanita yang sedang menstruasi harus mengganti pembalut sesering mungkin dalam sehari. Idealnya, dalam satu hari kita harus mengganti pembalut setiap 3 hingga 4 jam sekali.

“Untuk idealnya, seorang wanita yang sedang haid harus mengganti pembalut sesering mungkin, namun disarankan tiap 3 hingga 4 jam sekali. Perlu diingat, pembalut itu bersifat sekali pakai dan harus langsung dibuang,” ujar dr. Frits.

Anjuran untuk mengganti pembalut sesering mungkin ini memiliki alasan yang sangat penting. Mengganti pembalut setiap 3 hingga 4 jam sekali dapat mencegah organ reproduksi wanita untuk terjangkit infeksi, jamur, keputihan, hingga kanker mulut rahim.

“Mengganti pembalut tidak boleh malas-malasan. Apabila seorang wanita malas mengganti pembalut ketika haid, daerah kewanitaan akan menjadi lembap. Lembap pada daerah kewanitaan akan menyebabkan berkembangnya bakteri-bakteri. Bakteri tersebut dapat menyebabkan gatal, bau, keputihan, jamur, dan yang paling ditakuti dapat menjadi cikal bakal terjadinya kanker mulut rahim,” papar dokter spesialis yang juga pemilik RSIA Sentosa Bogor tersebut.

“Selain itu, pembalut wanita juga mengandung zat pemutih dan asbes. Apabila pembalut tidak diganti-ganti, kedua zat tersebut dapat menimbulkan gangguan hormonal dan predisposisi kanker,” ujar dr. Frits menambahkan.

Dr. Frits juga menjelaskan bahwa penggunaan pembalut yang tidak baik dan benar dapat memicu timbulnya kanker serviks yang mematikan.

“Perlu diketahui, penelitian WHO dan RSCM menunjukkan bahwa sebagian besar penyebab kanker serviks di Indonesia adalah akibat pemakaian pembalut yang tidak baik dan tidak benar. Maka dari itu, pembalut tidak boleh dipakai dalam jangka waktu yang lama,” tutur dokter kelahiran Makassar ini.

Tak hanya pembalut saja yang harus sering diganti ketika sedang haid, dr. Frits juga mengingatkan bahwa tampon pun harus diganti sesering mungkin. Penggunaan tampon yang terlalu lama dapat menyebabkan penyakit berbahaya seperti toxic shock syndrome.

“Tampon memiliki ukuran yang lebih mungil sehingga lebih mudah dibawa kemana-mana dan lebih praktis, dan biasanya digunakan oleh wanita olahragawan dan wanita yang aktif bekerja. Sama seperti pembalut, tampon juga harus diganti sesering mungkin, maksimal setelah 6 jam. Apabila dibiarkan terlalu lama, tampon dapat menyebabkan penyakit toxic shock syndrome yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus,” katanya.

Lalu bagaimana dengan penggunaan pembalut kain dan pembalut herbal? Apakah akan lebih aman dibandingkan dengan pembalut biasa apabila digunakan lebih lama dari yang seharusnya? Dr. Frits menyatakan bahwa penggunaan pembalut kain dan pembalut herbal tetap akan membahayakan kesehatan organ intim wanita apabila tidak digunakan secara baik dan benar.

“Pembalut herbal memang lebih baik daripada pembalut biasa, selama digunakan dengan baik dan benar. Pembalut herbal bisa dibilang lebih baik daripada pembalut biasa karena pembalut herbal memiliki kadar pH yang netral sehingga kulit sekitar vagina akan aman dari iritasi. Selain itu, pembalut herbal juga memiliki daya serap yang tinggi karena terbuat dari 100 persen bahan kapas. Namun meski begitu, tetap saja penggunaan pembalut herbal harus diganti sesering mungkin dan akan berbahaya apabila digunakan terlalu lama,” pungkas dr. Frits.

Penulis: Anggi Rizky Firdhani

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/stop-kebiasaan-malas-ganti-pembalut-saat-haid/feed/ 0
Waspada Penyakit Kanker pada Pria https://www.greeners.co/gaya-hidup/waspada-penyakit-kanker-pada-pria/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=waspada-penyakit-kanker-pada-pria https://www.greeners.co/gaya-hidup/waspada-penyakit-kanker-pada-pria/#respond Tue, 27 Oct 2015 08:30:49 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11672 Jakarta (Greeners) – Kanker merupakan penyakit tidak menular yang sangat berbahaya. Menurut catatan WHO, kanker menempati urutan ke dua setelah kardiovaskular sebagai penyakit yang menyebabkan kematian di dunia. Menurut catatan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kanker merupakan penyakit tidak menular yang sangat berbahaya. Menurut catatan WHO, kanker menempati urutan ke dua setelah kardiovaskular sebagai penyakit yang menyebabkan kematian di dunia.

Menurut catatan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 Kementerian Kesehatan, penyakit kanker menyumbang angka kematian sebesar 5,7 persen dari keseluruhan kematian yang disebabkan oleh penyakit di Indonesia. Jaminan Kesehatan Nasional (Jamkesnas) sendiri menyatakan telah menggelontorkan Rp 163 miliyar untuk pengidap penyakit kanker di Indonesia.

Di Indonesia, penyakit kanker seringkali menyerang kaum hawa. Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2T) Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes), Lili S. Sulistyowati, menyatakan bahwa perbandingan antara penderita kanker pada perempuan dan laki-laki adalah 3:1.

“(Penderita) kanker terbanyak adalah kanker pada perempuan dengan jumlah terbanyak adalah kanker payudara dan kanker leher Rahim,” jelas Lili dalam surat elektronik kepada Greeners pada Senin (26/10) lalu.

Meskipun didominasi oleh penderita perempuan, kaum lelaki perlu mewaspadai penyakit kanker. Lili menyebutkan, tingginya kecenderungan makanan berbahan pengawet dan pewarna buatan yang dikonsumsi masyarakat, termasuk oleh pria, sebagai pendorong faktor resiko penyebab kanker. Pasalnya, makanan dengan kandungan tersebut memiliki kandungan zat karsinogen. “Zat karsinogenik merupakan zat yang dapat memicu terjadinya penyakit kanker,” ujar Lili.

Selain itu, Lili menyarankan agar masyarakat menghindari konsumsi rokok dan minuman beralkohol karena keduanya juga mengandung zat karsinogenik. “Kasus kanker indens pada pria adalah kanker paru, kanker kolorektal dan kanker prostat. Hal ini disebabkan kebiasaan merokok, kurang makan sayur dan buah, serta kurang aktifitas fisik,” jelasnya.

Menurut Lili, ada lima jenis kanker yang menyerang pria di Indonesia. Kelima kanker tersebut adalah kanker kolorektal, kanker prostat, kanker paru-paru, kanker nasofaring, dan kanker limfoma malignum.

Seperti diketahui, berdasarkan penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) pada tahun 2015, jumlah perokok aktif pada pria mencapai lebih dari 56 juta orang. Sedangkan pengkonsumsi alkohol pun tidak berbeda, cenderung meningkat tiap tahunnya.

Faktor Hormonal

Ketua Komite Penanggulangan Kanker Nasional (KPKN), Prof. Dr. dr. Soehartati Gondhowiardjo, menyatakan bahwa kanker payudara dan leher rahim merupakan kanker yang disebabkan oleh faktor hormonal. Oleh karenanya, kanker tersebut hanya bisa diderita oleh perempuan saja. Hal itu, menurut Soehartati, yang menjadikan jumlah penderita kanker pada perempuan sangat signifikan jika dibandingkan laki-laki.

Meskipun tidak dapat diketahui secara pasti, Soehartati menambahkan bahwa baik laki-laki maupun perempuan memiliki tingkat resiko yang sama dalam faktor hormonal yang menyebabkan kanker.

“Kanker prostat adalah contoh kasus kanker karena faktor hormonal pada pria,” jelas Soehartati kepada Greeners via telepon.

Soehartati pun sepakat agar pria juga menghindari alkohol, rokok serta makanan berbahan pengawet, penyedap dan pewarna buatan sebagai bentuk pencegahan dini penyakit kanker. Selain itu, ia juga menyarankan untuk rutin berolahraga dan menghindari obesitas.“Kuncinya adalah perketat pola hidup sehat,” ucap Soehartati.

Ia juga menyarankan agar mengelola stres. Selain berpengaruh pada kondisi hormonal, stres juga dapat merusak gaya hidup sehat secara keseluruhan. “Justru pola hidup sehat itu dimulai dengan pengelolaan stres,” katanya.

Penulis: TW/G37

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/waspada-penyakit-kanker-pada-pria/feed/ 0
Kemenkes: Rokok Tidak Ada Hubungannya dengan Kesehatan? Nonsense! https://www.greeners.co/berita/kemenkes-rokok-tidak-ada-hubungannya-dengan-kesehatan-nonsense/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kemenkes-rokok-tidak-ada-hubungannya-dengan-kesehatan-nonsense https://www.greeners.co/berita/kemenkes-rokok-tidak-ada-hubungannya-dengan-kesehatan-nonsense/#respond Wed, 30 Sep 2015 02:30:57 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11292 Jakarta (Greeners) – Kementerian Kesehatan menampik anggapan yang menyatakan bahwa merokok tidak menyebabkan gangguan kesehatan, termasuk penyakit kanker. Seperti dilansir dalam lembar fakta dari hasil riset Kemenkes, menurut The Tobacco […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Kesehatan menampik anggapan yang menyatakan bahwa merokok tidak menyebabkan gangguan kesehatan, termasuk penyakit kanker. Seperti dilansir dalam lembar fakta dari hasil riset Kemenkes, menurut The Tobacco Atlas, rokok membunuh 217.400 orang di Indonesia setiap tahunnya dan menyebabkan kematian setiap satu dari lima orang (19,8%) pria dewasa dan 8,1% dari wanita dewasa. Kematian ini disebabkan oleh tingginya angka prevalensi perokok, terutama pada kaum pria.

“Jadi, kalau dibilang rokok tidak ada hubungannya dengan kesehatan, nonsense! Penelitiannya jelas ada,” ujar dr.T. Sandra D.Ratih, MHA, Kepala Subdit Pengendalian Penyakit Kronis dan Degeneratif Kementerian Kesehatan. Sandra ditemui usai menghadiri acara “Konferensi Pers Peluncuran Iklan Layanan Masyarakat Pengendalian Tembakau: Rokok itu Murah, Obatnya yang Mahal” di Jakarta, Selasa (29/09) siang.

Di sisi lain, Sandra mengakui bahwa hingga saat ini belum ada aturan yang secara ketat mengatur tentang rokok dan tembakau, termasuk hukuman bagi orang yang melakukan pelanggaran terhadap aturan tersebut. Namun, ia menolak jika Kemenkes dinilai tidak memiliki kekuatan untuk memaksa agar peraturan mengenai rokok dan tembakau diperketat.

“Kami, pemerintah, tetap berusaha. Mungkin kementerian lain berpikir berbeda tapi itu yang kami coba selaraskan,” imbuhnya.

Konferensi Pers Peluncuran Iklan Layanan Masyarakat Pengendalian Tembakau: Rokok itu Murah, Obatnya yang Mahal, Jakarta, Selasa (29/09). Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Konferensi Pers Peluncuran Iklan Layanan Masyarakat Pengendalian Tembakau: Rokok itu Murah, Obatnya yang Mahal, Jakarta, Selasa (29/09). Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Ditemui dalam acara yang sama, Kepala Pusat Promosi Kesehatan Kemenkes, dr. Eni Gustina, MPH, menyatakan apresiasinya terhadap daerah-daerah yang memberlakukan Kawasan Tanpa Rokok sebagai wujud kepedulian terhadap kesehatan masyarakat.

“Kami salut dengan daerah-daerah yang sudah memberlakukan peraturan pelarangan merokok di tempat umum, bahkan sampai memberlakukan denda sekitar lima ratus ribu rupiah bagi yang melanggar,” ujarnya.

Eni lantas mengutip data dari Global Youth Tobacco Survey (GYTS) di Indonesia tahun 2014 yang menyatakan sebanyak 43,2 persen remaja merokok dan mulai merokok pada usia 12-13 tahun. Terkait data tersebut, ia menyayangkan perilaku orangtua yang menyuruh anaknya untuk membelikan rokok di warung.

“Itu sama saja dengan melakukan kekerasan kepada anak karena memperkenalkan zat berbahaya kepada anak,” katanya.

Sebagai informasi, untuk menunjukkan bahaya dan penyakit akibat penggunaan tembakau pada perokok dan orang disekitarnya, Kementerian Kesehatan meluncurkan Iklan Layanan Masyarakat berjudul “Rokok itu Murah, Obatnya yang Mahal”. Iklan ini menceritakan kisah Robby Indra Wahyuda, seorang pemuda berusia 27 tahun yang meninggal dunia pada Juni 2015 karena kanker laring akibat merokok.

Hasil kerjasama Kemenkes dan World Lung Foundation (WLF) ini ditayangkan di tujuh stasiun televisi nasional dan stasiun radio selama enam minggu. Kampanye ini juga akan dipromosikan dan disebarkan di media sosial dengan menggunakan tagar #SuaraTanpa Rokok.

Hingga saat ini, pemerintah telah mengeluarkan beberapa aturan mengenai rokok dan tembakau. Diantaranya, Undang Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang menyebutkan bahwa tembakau dan produk yang mengandung tembakau dianggap sebagai zat adiktif. Ada pula Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 tentang pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan.

Sebagai turunan dari PP 109/2012 tersebut, Kemenkes telah membuat Permenkes nomor 28 tahun 2013 tentang Pencantuman Peringatan Kesehatan Berbentuk Gambar dan Tulisan pada Kemasan Produk Tembakau, serta Permenkes nomor 40 tahun 2013 tentang Peta Jalan (Road Map) Pengendalian Dampak Konsumsi Rokok Bagi Kesehatan.

Penulis: Renty Hutahaean

]]>
https://www.greeners.co/berita/kemenkes-rokok-tidak-ada-hubungannya-dengan-kesehatan-nonsense/feed/ 0
Gangguan Kesehatan Mengintai Perokok Elektrik https://www.greeners.co/gaya-hidup/gangguan-kesehatan-mengintai-perokok-elektrik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=gangguan-kesehatan-mengintai-perokok-elektrik https://www.greeners.co/gaya-hidup/gangguan-kesehatan-mengintai-perokok-elektrik/#respond Thu, 04 Jun 2015 07:38:00 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=9440 (Greeners) – Sebagian perokok aktif menganggap salah satu cara untuk mengurangi kebiasaan merokok tembakau adalah menggantinya dengan rokok elektrik. Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa merokok elektrik jauh lebih aman […]]]>

(Greeners) – Sebagian perokok aktif menganggap salah satu cara untuk mengurangi kebiasaan merokok tembakau adalah menggantinya dengan rokok elektrik. Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa merokok elektrik jauh lebih aman daripada rokok konvensional. Namun, pendapat tersebut adalah hal yang keliru.

Seperti dilansir dalam situs resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, www.depkes.go.id, rokok elektrik adalah alat untuk mengubah cairan kimia yang terdiri dari nikotin dan propylene glycol untuk menjadi uap dan mengalirkannya ke dalam paru-paru. Propylene glycol sendiri merupakan salah satu zat penyusun liquid (cairan) rokok elektrik yang berfungsi sebagai penebal uap. Zat kimia ini menjadi perhatian sejumlah peneliti, karena dapat menyebabkan iritasi bagi yang menghirupnya.

Selain itu, nikotin yang terdapat dalam cairan kimia rokok elektronik sama halnya dengan rokok pada umumnya, zat ini dapat menyebabkan penyakit kanker paru-paru, kanker mulut dan tenggorokan, penyakit jantung, serta cacat dan keguguran. Masih dari situs depkes.go.id, nikotin yang terdapat dalam rokok elektrik dapat menyebabkan kecanduan bagi pemakainya. Rokok elektrik hanyalah sebuah cara baru untuk memasukkan nikotin ke dalam tubuh manusia.

Sebagian besar masyarakat tidak mengetahui bahwa ada beberapa kandungan berbahaya lainnya yang terdapat pada rokok elektrik yang dapat memicu kanker. Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes, Ekowati Rahajeng menyebutkan kandungan tersebut adalah nitrosamine, logam beracun (kadmium, nikel dan timbal), carbonyl yang berisi formaldehyde dan acetaldehyde, serta acrolein.

Ia juga mengatakan bahwa, “Berdasarkan sejumlah penelitian, rokok elektrik itu sama bahayanya atau bisa lebih bahaya daripada rokok biasa. Karena rokok elektrik menyasar generasi muda, dikhawatirkan malah meningkatkan jumlah perokok baru di Indonesia.”

Pada tahun 2014 lalu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) sendiri mengeluarkan laporan “Electronic nicotine delivery systems” (ENDS) yang disampaikan dalam Konvensi Kerjasama WHO terhadap Kontrol atas Tembakau (WHO Framework Convention on Tobacco Control/WHO FCTC) di Moskow, Rusia. Dari laporan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kandungan dalam rokok elektrik tidak hanya berbahaya bagi penggunanya namun juga dapat membahayakan orang-orang yang turut menghisap asap dari rokok elektrik.

Selain itu, WHO juga menyarankan untuk tidak menghisap rokok elektrik di dalam ruangan, baik ruang publik maupun tempat kerja. Menurut bukti-bukti yang didapat WHO, asap dari rokok elektrik yang mengandung aerosol meningkatkan kadar nikotin, racun, dan partikel lainnya di udara. Lembaga ini juga menyarankan agar badan pemerintah terkait membatasi iklan, sponsor serta promosi dari rokok elektronik agar tidak menyasar kaum muda dan orang yang tidak merokok.

Jadi, baik rokok elektrik maupun rokok konvensional, keduanya sama-sama berdampak buruk bagi kesehatan pengguna dan orang-orang yang ada didekatnya. Berhenti merokok adalah jalan terbaik demi paru-paru yang sehat.

Penulis: Gloria Safira

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/gangguan-kesehatan-mengintai-perokok-elektrik/feed/ 0