pemukiman - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/pemukiman/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 18 May 2015 13:57:38 +0000 id hourly 1 Dinas Kebersihan DKI Jakarta Akan Gunakan Incinerator di Tahun 2017 https://www.greeners.co/berita/dinas-kebersihan-dki-jakarta-akan-gunakan-incinerator-di-tahun-2017/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dinas-kebersihan-dki-jakarta-akan-gunakan-incinerator-di-tahun-2017 https://www.greeners.co/berita/dinas-kebersihan-dki-jakarta-akan-gunakan-incinerator-di-tahun-2017/#comments Mon, 29 Dec 2014 08:24:57 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=6937 Jakarta (Greeners) – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Dinas Kebersihan DKI Jakarta berencana akan menerapkan sistem pengolahan sampah dengan teknologi incinerator atau pembakaran sampah. Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta, […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Dinas Kebersihan DKI Jakarta berencana akan menerapkan sistem pengolahan sampah dengan teknologi incinerator atau pembakaran sampah.

Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta, Saptastri Ediningtyas, mengatakan, penerapan teknologi pembakaran sampah tersebut untuk menghemat anggaran sampah sebesar 69,2% atau Rp 486 miliar dari total Rp 702 miliar yang setiap tahun dianggarkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta.

Rencananya, Pemprov DKI akan membangun incinerator di lima wilayah Jakarta beserta tempat pengolahan sampah Intermediate Treatment Facility (ITF). Teknologi incinerator tersebut akan diterapkan di tingkat kelurahan dan kecamatan sehingga sampah-sampah bisa langsung dimusnahkan tanpa harus dibawa terlebih dahulu ke Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang.

“Sekarang masih dalam proses tender buat yang di Sunter, sedangkan untuk ITF di Duri, Kosambi atau di Marunda dilaksanakan oleh BUMD PT Jakpro. Direncanakan selesai 2017 nanti,” terangnya saat dikonfirmasi oleh Greeners melalui pesan singkat, Jakarta, Senin (29/12).

Lebih lanjut, Tyas menjelaskan bahwa pembangunan incinerator di Sunter nantinya akan mampu membakar seribuan ton sampah dalam satu hari dengan luas hampir 3,5 hektar. Ia berharap, pembangunan incinerator membuat pengolahan sampah menjadi lebih ramah lingkungan dibanding hanya menumpuk sampah di TPST.

Tyas mengakui bahwa selama ini pengelolaan sampah di Jakarta masih melewati beberapa tahap, antara lain penyapuan dan pengumpulan, pengangkutan dan pembuangan, lalu pengolahan terakhir di TPST Bantargebang.

Meski begitu, anggaran sampah senilai Rp 702 miliar yang digelontorkan Pemprov DKI, menurut Tyas, sudah mencakup proses penyapuan hingga ke TPST Bantargebang yang mengeluarkan biaya senilai Rp 300.000 per ton, dengan rincian, biaya penyapuan sampah Rp2.777 per meter per segi untuk lokasi publik dan kawasan pemukiman.

Untuk pengangkutan sampah dari penampungan sementara menuju tempat penampungan terakhir dilakukan dengan menggunakan dua jenis kendaraan, yakni kendaraan tipe kecil dengan harga Rp 22.393 per ton setiap hari dan kendaraan tipe besar Rp 167.343 per ton per hari.

Pemprov DKI Jakarta juga harus membayar Rp 123.000 per ton per hari kepada PT Godang Tua Jaya (GTJ) sebagai pihak swasta yang mengelola sampah di TPST Bantargebang. Saat ini volume sampah yang dibuang ke TPST Bantargebang mencapai 6.500 ton sampah per hari dan biaya sampah setiap harinya mencapai Rp 1,95 miliar.

“Kami menargetkan pada tahun 2017 nanti, volume sampah warga Jakarta yang diangkut ke TPST Bantargebang hanya 2.000 ton per hari. Sedangkan 4.500 ton per hari sudah bisa diolah di dalam Jakarta menggunakan teknologi incinerator,” pungkasnya.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/dinas-kebersihan-dki-jakarta-akan-gunakan-incinerator-di-tahun-2017/feed/ 1
Renai House, Solusi Pemukiman Ramah Lingkungan Paska Bencana https://www.greeners.co/ide-inovasi/renai-house-solusi-pemukiman-ramah-lingkungan-paska-bencana/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=renai-house-solusi-pemukiman-ramah-lingkungan-paska-bencana https://www.greeners.co/ide-inovasi/renai-house-solusi-pemukiman-ramah-lingkungan-paska-bencana/#respond Sat, 26 Jul 2014 01:05:42 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_art_design&p=5258 Renai House, karya mahasiswa Universitas Chiba meraih juara dua dalam kompetisi arsitektur Solar Decathlon Europe 2014 dengan konsep desain rumah untuk mengatasi isu bencana alam di kawasan perkotaan yang terinsipirasi […]]]>

Renai House, karya mahasiswa Universitas Chiba meraih juara dua dalam kompetisi arsitektur Solar Decathlon Europe 2014 dengan konsep desain rumah untuk mengatasi isu bencana alam di kawasan perkotaan yang terinsipirasi dari kejadian gempa bumi Tohoku-Oki pada tahun 2011.

Ketimbang menciptakan arsitektur hunian pasca bencana sementara, mahasiswa Universitas Chiba mengembangkan konsep desain “bibit kota” yang akan membantu membangun kembali kota-kota dengan konsep pembangunan yang berkelanjutan.

Gempa bumi Tohoku-Oki yang meluluhlantakkan wilayah timur laut Jepang pada Maret 2011 telah memberi pengaruh yang sangat kuat pada mahasiswa Universitas Chiba, sehingga konsep desain mereka untuk kompetisi arsitektur Solar Decathlon Europe 2014 fokus pada membangun arsitektur paska bencana beserta masyarakat.

Foto: inhabitat.com/Liz Eve

Konsep desain “bibit kota” dibuat berdasarkan penelitian yang dilakukan di kota Rikuzentakata, salah satu kota yang mengalami dampak terparah pada gempa bumi 2011 lalu. Setiap bagian dari rumah hemat energi ini fleksibel dan dapat dengan mudah dirangkai untuk menciptakan rumah permanen dan masyarakat yang berkelanjutan di area yang terkena dampak bencana.

Para desainer fokus pada tiga ide utama yang menjadi dasar dari konsep desain “bibit kota”,yaitu kecepatan, fleksibilitas, dan kejayaan. Setiap kayu dari rumah ini bisa dengan cepat dibangun di pabrik terdekat dan kemudian dikirim ke area yang terkena dampak bencana.

Ketika rumah tersebut sudah berada di lokasi, para pengungsi bisa menyesuaikan bentuk rumah sesuai dengan kebutuhan berdasarkan jumlah anggota keluarga atau untuk tujuan lain, seperti klinik atau kantor.

Foto: inhabitat.com/Liz Eve

Renai House juga mampu membantu membangkitkan kembali kejayaan dan masyarakat korban bencana dengan sebuah desain yang memfasilitasi interaksi sosial dan ruang publik. Seiring waktu, nuansa temporer akan hilang dengan adanya perlengkapan rumah permanen.

Dengan mempertimbangkan perbedaan iklim di berbagai daerah, Renai House dapat dengan mudah dimodifikasi sesuai lokasi. Jika digunakan di Asia Tenggara, misalnya, atapnya bisa diganti dengan bambu lokal untuk ventilasi udara yang lebih baik. Dengan menggunakan sekat yang efisien, berbagai material alami, dan panel surya, setiap unit Renai House mampu mencapai hingga 80% pengurangan konsumsi energi bila dibandingkan dengan rumah Jepang pada umumnya.

(G33)

Sumber: inhabitat.com

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/renai-house-solusi-pemukiman-ramah-lingkungan-paska-bencana/feed/ 0
Macan Kumbang Gunung Semeru Serang Permukiman https://www.greeners.co/berita/macan-kumbang-gunung-semeru-serang-permukiman/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=macan-kumbang-gunung-semeru-serang-permukiman https://www.greeners.co/berita/macan-kumbang-gunung-semeru-serang-permukiman/#respond Thu, 03 Oct 2013 05:17:31 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=3982 Malang (Greenersmagz) – Seekor macan kumbang (Panthera Pardus melas) hari ini tiba-tiba memasuki permukiman warga di kaki Gunung Semeru yang berada di Kecamatan Senduro, Lumajang, Jawa Timur. Macan yang usianya […]]]>

Malang (Greenersmagz) – Seekor macan kumbang (Panthera Pardus melas) hari ini tiba-tiba memasuki permukiman warga di kaki Gunung Semeru yang berada di Kecamatan Senduro, Lumajang, Jawa Timur. Macan yang usianya sekitar tiga tahun ini turun dari kawasan Taman Nasional bromo Tengger Semeru dan melintas beberapa desa di lereng Gunung Semeru.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Ayu Dewi Utari, mengatakan, macan kumbang telah melukai tiga orang, dua di antaranya polisi dan seorang anggota TNI. “Identitasnya belum tahu, mereka dirawat di Rumah Sakit Bayangkara Lumajang,” kata Kepala Balai Besar TNBTS, Rabu (2/10/2013).

Saat ini, kata Ayu, BB TNBTS bersama polisi, tentara, BKSDA dan Taman Safari Indonesia II Prigen tengah berusaha melumpuhkan macan ini. Petugas juga berusaha melumpuhkan macan tutul dengan tembakan bius. Posisi terakhir macan tutul, kata Ayu, berada di Dusun Wangkit Sentul Desa Sumber Suko Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang.

Meski telah ditembak dengan dua peluru bius, namun macan kumbang berhasil menyerang dan melukai petugas. Setelah itu, macan dengan gesit berlari melintasi lima desa di kaki Gunung Semeru di Kecamatan Senduro.

Menurut Ayu, macan akan dilumpuhkan dulu agar bisa direhabilitasi ke kawasan asalnya. Ia juga tak mengetahui penyebab konflik macan dengan warga. Namun, diduga karena karena terlepas dari induk atau tersesat. “Persediaan pakan melimpah dan air mencukupi di dalam hutan meski musim kemarau,” ujarnya.

Meski demikian, petugas masih berjaga-jaga di sekitar lokasi terakhir untuk menghindari agar tidak menyerang warga lainnya. Ia berharap, macan bisa dilumpuhkan agar bisa direhabilitasi ke tempat asalnya.

ProFauna Indonesia menilai, turunnya macan turun ke permukiman karena mengalami disorientasi medan dan habitatnya terganggu akibat pembalakan liar di kawasan taman nasional. Ini menyebabkan konflik antara satwa dengan penduduk. “Habitatnya terganggu karena pembalakan, kami punya bukti fotonya,” ujar Ketua ProFauna Indonesia, Rosek Nur Sahid.

Tak hanya karena pembalakan, habitatnya rusak juga adanya pembukaan jalan pintas yang membelah hutan. Jalan itu menghubungkan Jemplang-Senduro. Akibatnya, satwa yang memiliki daya jelajah luas mengalami gangguan atau disorientasi medan dan bisa tersesat turun masuk ke kawasan hutan industri Perum Perhutani kemudian melintasi ladang penduduk dan perkampungan.

ProFauna meminta BB TNBTS mengawasi ketat kawasannya untuk mencegah pembalakan liar kawasan hutan lindung. Sebab, kawasan BB TNBTS merupakan habitat macan tutul, macan kumbang, rusa, lutung jawa dan monyet ekor panjang, dan satwa lainnya seperti berbagai jenis burung predator seperti elang jawa dan lainnya. Sekitar 50 Lutung Jawa di kawasan Ireng Ireng yang tak jauh dari lokasi macan tutul konflik dengan warga juga pernah dilepaskan ProFauna. Sehingga kawasan ini memang merupakan habitat berbagai jenis satwa tersebut. (G17)

]]>
https://www.greeners.co/berita/macan-kumbang-gunung-semeru-serang-permukiman/feed/ 0
Orangutan Mati Akibat Komplikasi https://www.greeners.co/berita/orangutan-mati-akibat-komplikasi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=orangutan-mati-akibat-komplikasi https://www.greeners.co/berita/orangutan-mati-akibat-komplikasi/#respond Mon, 03 Sep 2012 03:00:52 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=3016 Pontianak (Greeners)- Penyelamatan Orangutan jenis Pongo Pygmaeus Pygmaeus Minggu (26/8) sore yang dilakukan dengan cara pengasapan dan bara api serta petasan oleh sejumlah warga di wilayah Parit Wadongak, Desa Wajok […]]]>

Pontianak (Greeners)- Penyelamatan Orangutan jenis Pongo Pygmaeus Pygmaeus Minggu (26/8) sore yang dilakukan dengan cara pengasapan dan bara api serta petasan oleh sejumlah warga di wilayah Parit Wadongak, Desa Wajok Hilir Kecamatan Siantan Kabupaten Pontianak Kalimantan Barat, berakhir tragis.

“Tiba-tiba angin bertiup kencang dan menimbulkan percikan api dari sumber pengasapan, lalu menyambar bagian daun kelapa yang kering, dan mengenai bagian badan orangutan. Kejadian inilah yang tertangkap lensa kamera dan disiarkan oleh beberapa stasiun TV,” jelas Parsaroan Samosir, Kepala Seksi Wilayah III Singkawang.

Parsaroan menegaskan bahwa proses evakuasi orangutan seberat 70 kilogram yang masuk ke pemukiman warga tersebut berjalan sesuai protokol dan prosedur penyelamatan satwa liar. Tim gabungan melibatkan berbagai pihak terkait, termasuk petugas medis dan LSM Lingkungan yang berpengalaman dalam menangani satwa liar, seperti Yayasan International Animal Rescue (IAR), WWF Indonesia, Gemawan, Perwakilan Forum Konservasi Orangutan Kalimantan Barat (FOKKAB), Yayasan Titian, dan masyarakat.

Menurut Hermayani Putra, manager Program WWF Kalbar yang ikut turun ke lokasi penemuan orangutan, menjelaskan pihaknya mendapatkan informasi tentang satwa itu pada hari Sabtu (25/8) lalu. Mereka kemudian langsung berkoordinasi ke BKSDA Kalimantan Barat serta sejumlah LSM pemerhati orangutan. “Kami mencoba berkordinasi ke BKSDA Kalbar agar memberikan penyuluhan kepada warga sekitar kenapa hewan ini harus tetap dilindungi. Proses evakuasi kita lakukan pada pagi (26/8) hari sambil menunggu peralatan evakuasi yang didatangkan dari Ketapang,” jelas Hermayani.

Dia menjelaskan munculnya orangutan di pemukiman dan perkebunan warga, kemungkinan disebabkan habitatnya yang terganggu sehingga dia keluar untuk bertahan hidup.

Sedangkan Niken Wuri Handayani, koordinator Pengendali Ekosistem Hutan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, juga mengatakan pihaknya memang memfokuskan upaya evakuasi orangutan itu.

“Saat itu kami mengalami kesulitan, karena banyak warga sekitar yang tertarik mendekati lokasi. Sehingga orangutan ini menjadi stres. Walaupun sudah dibius dengan cara menembakan obat bius tiga kali. Ternyata obat bius tersebut tidak efektif melemahkannya,” ujar Niken.

Dia juga menjelaskan, bahwa pihaknya selama ini sudah terbiasa melakukan evakuasi orangutan dengan menembak obat bius.

Orangutan yang mati itu kemudian diotopsi di kantor BKSDA Kalbar pada Jumat (31/8) oleh tim dokter hewan yang terdiri dari  Dwi Suprapti (WWF Indonesia), Ahmad Syifa Sidik (International Animal Rescue), Yudha Dwi Harsanto (Dinas Pertanian dan Peternakan Kubu Raya), Huibert Hendrian (Praktisi Kesehatan Hewan) dan Sony Hanyuwito (UPT Lab Keswan dan Kesmavet Kalbar). Hasil otopsi selama 7 jam menunjukkan orangutan itu mati karena kekurangan oksigen karena terlalu banyak menghirup asap saat pengasapan.

Tim medis juga menyimpulkan 5 hal, yakni, pertama, orangutan itu mengalami luka bakar 70 persen dengan derajat ringan hingga sedang. Kedua, terdapat peningkatan cairan plasma pada bagian lengan atas, dada, dan paha hingga lutut kanan.

Ketiga, tidak normalnya saluran pernafasan mulai dari faring hingga paru-paru. Keempat, saluran pencernaan penuh berisi gas dan terdapat sedikit nekrosis pada bagian colon (usus besar). Terakhir, jantung 50 persen diselimuti lemak.

Untuk hasil secara lebih detail tim medis masih harus melakukan uji sampel di laboratorium. Tim sudah mengumpulkan sedikitnya sepuluh sampel yang nantinya akan diperiksa dan dianalisis lebih lanjut. Sampel itu antara lain, hati, jantung, hati, pancreas, usus besar, dan lain-lain.

Pada konferensi pers, BKSDA Kalimantan Barat menyatakan Orangutan tersebut akan dikubur, namun mengingat satu dan lain hal, tubuh orangutan tersebut akhirnya dikremasi di daerah Rasau Jaya Kabupaten Kubu Raya. (G15)

]]>
https://www.greeners.co/berita/orangutan-mati-akibat-komplikasi/feed/ 0
Bukit Gundul, Banjir Bandang Menerjang https://www.greeners.co/berita/bukit-gundul-banjir-bandang-menerjang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bukit-gundul-banjir-bandang-menerjang https://www.greeners.co/berita/bukit-gundul-banjir-bandang-menerjang/#respond Fri, 09 Mar 2012 03:37:04 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=2309 Malang (Greeners) – Banjir bandang menerjang Desa Tunpakrejo, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (08/03). Sedikitnya 60 warga desa setempat terpaksa mengungsi ke tempat pengungsian maupun rumah saudara lainnya. […]]]>

Malang (Greeners) – Banjir bandang menerjang Desa Tunpakrejo, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (08/03). Sedikitnya 60 warga desa setempat terpaksa mengungsi ke tempat pengungsian maupun rumah saudara lainnya. Banjir juga menggenangi pemukiman warga. Ketinggian air mencapai 2,5 meter dan diperkirakan surut dalam sepekan.

Banjir bandang terjadi setelah hujan terus mengguyur selama kurang lebih 15 jam. Selain factor intensitas hujan yang terjadi terus menerus, Desa Tumpakrejo yang lokasinya berada di lembah tidak dapat menampung semua air hujan yang turun di bukit sekitar desa mengalir ke bawah semuanya. Bukit di yang mengelilingi desa tersebut sudah berubah fungsi menjadi lahan pertanian warga.

Camat Kalipare, Ahmad Aziz mengatakan, banjir bandang di desa tersebut memang terjadi setiap tahun, namun baru kali ini yang terparah. Akibatnya, sebanyak 17 rumah yang dihuni 16 kepala keluarga (KK) atau 60 warga Desa tumpakrejo terpaksa mengungsi. “Mereka mengungsi ke tempat saudaranya yang terdekat,” kata Ahmad Aziz, saat berada di lokasi kejadian.

Selain mengakibatkan puluhan warga mengungsi, banjir juga merendam sektiar 10 hektare lahan pertanian ditanami tanaman Jagung, Tebu, dan Padi. Kerugian akibat kejadian ini diperkirakan mencapai Rp 60 juta.
Salah satu warga korban banjir bandang Sujono (60), mengatakan, Ia bersama lima anggota keluarganya saat ini mengungsi di rumah saudaranya. Semua perabotan rumah tangga dan barang berharga lainnya tak sempat diselamatkan karena air yang datang cukup cepat. “Semua barang-barang tidak sempat saya bawa mengungsi,” ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Malang berencana akan membangun slauran sudetan dari desa tersebut menuju aliran sungai terdekat untuk mencegah agar air dapat mengalir ke sungai. Hal ini untuk mencegah agar banjir bandang tidak terjadi lagi.

Asisten Kesejahteraan Pemkab Malang, saat berada di lokasi banjir mengatakan, Desa Tumpakrejo memang posisinya berada di lembah, sehingga semua air hujan yang turun mengalir ke bawah semua karena di bukit sudah beralih menjadi lahan pertanian. “Solusinya pemerintah akan membangun sudetan agar air yang mengalir dapat langsung menuju sungai,” katanya.

Banjir yang menerjang wilayah ini memang setiap tahun terjadi, namun di tahun-tahun sebelumnya air yang mengalir ke lembah dapat meresap ke dalam tanah karena ada semacam rekahan bumi, sehingga air cepat meresap. Namun, kondisi rekahan tersebut kini telah beralih menjadi lahan pertanian dan tersumbat batang-batang pohon sehingga air tak bias langsung meresap. (G17)

]]>
https://www.greeners.co/berita/bukit-gundul-banjir-bandang-menerjang/feed/ 0