pengamatan burung - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/pengamatan-burung/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 16 Feb 2026 09:50:39 +0000 id hourly 1 Serunya Melihat Keragaman Burung Air di Pulau Rambut di Akhir Pekan https://www.greeners.co/aksi/serunya-melihat-keragaman-burung-air-di-pulau-rambut-di-akhir-pekan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=serunya-melihat-keragaman-burung-air-di-pulau-rambut-di-akhir-pekan https://www.greeners.co/aksi/serunya-melihat-keragaman-burung-air-di-pulau-rambut-di-akhir-pekan/#respond Mon, 16 Feb 2026 09:50:39 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48133 Jakarta (Greeners) – Burung Indonesia kembali menggelar kegiatan tahunan Asian Waterbird Census (AWC) pada Sabtu (7/2) di Suaka Margasatwa Pulau Rambut, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Kegiatan ini merupakan bagian dari […]]]>

Jakarta (Greeners) – Burung Indonesia kembali menggelar kegiatan tahunan Asian Waterbird Census (AWC) pada Sabtu (7/2) di Suaka Margasatwa Pulau Rambut, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Kegiatan ini merupakan bagian dari International Waterbird Census (IWC) yang bertujuan mendukung pembaruan data populasi burung air, sekaligus meningkatkan kapasitas dan penyadaran publik mengenai nilai penting burung air beserta habitatnya di Indonesia.

Dalam kegiatan ini, para peserta terbagi dalam tiga kelompok. Setiap kelompok melakukan pengamatan di sisi luar pulau dan bagian tengah pulau. Untuk lokasinya ada dermaga di selatan, bird hide di timur, dan menara di tengah pulau. Pengamatan berlangsung mulai pukul 10.00 WIB hingga 12.00 WIB.

Dari kegiatan ini, secara keseluruhan tercatat 14 jenis burung air di Pulau Rambut. Di antaranya kowak-malam abu (Nycticorax nycticorax), kuntul kecil (Egretta garzetta), kuntul besar (Ardea alba), cangak abu (Ardea cinerea), dan cangak merah (Ardea purpurea).

Setelah pengamatan di tiga lokasi, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi. Salah satu spesies burung yang menjadi sorotan adalah bangau bluwok (Mycteria cinerea) yang menjadi burung ikonik Pulau Rambut. Spesies ini bersarang dan berbiak di kawasan tersebut.

Menurut IUCN, bangau bluwok termasuk spesies terancam punah secara global, statusnya Genting (Endangered). Populasinya juga menunjukkan tren penurunan berdasarkan data BirdLife International, dengan jumlah individu saat ini diperkirakan sekitar 1.800 ekor.

Penurunan populasi tersebut dirasakan langsung oleh salah satu peserta pengamatan, Merry Hemelda. Ia mengenang pengalamannya pada 2011–2012, saat bangau bluwok masih mudah ditemui di area menara. Tidak hanya bangau bluwok, populasi burung air secara keseluruhan yang ditemui di Pulau Rambut kala itu masih jauh lebih banyak dibandingkan tahun ini. Bahkan, ketika masuk pulau, pengunjung sampai disambut dengan kotoran burung yang jatuh.

“Saat itu, saking banyaknya burung yang bertengger, kami sampai bingung mau mengamati yang mana. Warnanya didominasi putih. Sekarang, yang terlihat justru didominasi hamparan hijau,” ujarnya.

Persinggahan bagi Burung Migran

Gugusan pulau di Teluk Jakarta menjadi tempat persinggahan penting bagi burung migran. Ini sekaligus surga bagi burung air di kawasan DKI Jakarta. Salah satunya adalah Pulau Rambut. Pulau ini telah ditetapkan sebagai kawasan perlindungan suaka margasatwa sejak 1999. Vegetasi utamanya terdiri atas hutan mangrove, hutan dataran rendah, dan hutan pantai yang menjadi habitat berbagai jenis burung air.

Pulau Rambut merupakan salah satu dari 228 Daerah Penting bagi Burung dan Keanekaragaman Hayati (Important Bird Areas/IBAs) di Indonesia. Pulau ini sekaligus telah ditetapkan sebagai Situs Ramsar, kawasan lahan basah bernilai ekologis tinggi yang penting bagi habitat burung air dan burung migran.

Meskipun saat ini populasi burung air di Pulau Rambut menurun, masih terdapat spesies lain yang masih cukup banyak terlihat di Pulau Rambut, contohnya pecuk-padi hitam (Phalacrocorax sulcirostris). Burung residen ini berstatus Risiko Rendah (Least Concern) dan banyak dijumpai di area pesisir. Pengamat juga mencatat keberadaan burung migran seperti trinil pantai (Actitis hypoleucos) dan dara-laut kumis (Chlidonias hybrida).

Bioindikator Kesehatan Lingkungan

Sementara itu, Biodiversity and Conservation Officer Burung Indonesia, Achmad Ridha Junaid, mengatakan pendataan burung penting dilakukan karena burung merupakan salah satu bioindikator kesehatan lingkungan

“Untuk mengetahui apakah lingkungan kita masih baik-baik saja atau sedang mengalami masalah, kita perlu melakukan pengukuran, salah satunya melalui perhitungan burung. Di sinilah kami turut berkontribusi menghitung jenis-jenis burung yang ada di Jakarta, khususnya di  Pulau Rambut,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa berbagai aktivitas di darat pada akhirnya akan berdampak langsung pada perairan dan wilayah pesisir. Penggundulan hutan, misalnya, dapat memicu aliran permukaan (run off) yang tinggi dan menyebabkan sedimentasi, yang kemudian mengalir dan merusak habitat muara dan pesisir, wilayah penting tempat burung air menggantungkan hidupnya.

“Karena itu, burung air menjadi indikator yang efektif untuk menilai kesehatan lingkungan. Melalui AWC, kita menggabungkan upaya pengumpulan data yang ilmiah dan edukasi kepada masyarakat untuk mendorong upaya pelestarian yang memberi dampak yang lebih luas,” kata Ridha.

Perhitungan burung air bukan hanya menjadi urusan pengamat burung dan peneliti, tetapi juga masyarakat luas. Kegiatan ini menjadi salah satu sarana edukasi untuk mengenalkan kekayaan spesies burung air yang ada di Indonesia. Data populasi burung air yang dikumpulkan melalui AWC menjadi acuan penting dalam pengelolaan kawasan konservasi dan penentuan lokasi Ramsar. Data tersebut juga mendukung East Asian–Australasian Flyway Partnership serta peninjauan status perlindungan jenis-jenis burung air di Indonesia.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/serunya-melihat-keragaman-burung-air-di-pulau-rambut-di-akhir-pekan/feed/ 0
Mengamati dan Memotret Burung, Cara Akademisi Bersuara untuk Konservasi https://www.greeners.co/berita/mengamati-dan-memotret-burung-cara-akademisi-bersuara-untuk-konservasi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mengamati-dan-memotret-burung-cara-akademisi-bersuara-untuk-konservasi https://www.greeners.co/berita/mengamati-dan-memotret-burung-cara-akademisi-bersuara-untuk-konservasi/#respond Mon, 29 Dec 2025 08:49:28 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=47901 Jakarta (Greeners) – Kegiatan memotret dan mengamati burung (birding) kini tak lagi sekadar hobi para pencinta alam. Aktivitas ini perlahan menjadi cara menyenangkan bagi akademisi dan perempuan untuk bersuara tentang […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kegiatan memotret dan mengamati burung (birding) kini tak lagi sekadar hobi para pencinta alam. Aktivitas ini perlahan menjadi cara menyenangkan bagi akademisi dan perempuan untuk bersuara tentang konservasi sekaligus mengedukasi publik mengenai kekayaan burung di Indonesia.

Salah satunya adalah Elis Zuliati Anis (49), akademisi asal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang menekuni fotografi satwa liar, khususnya burung, di sela-sela kesibukan mengajarnya. Melalui karya fotografinya, Elis berhasil meraih juara dua dalam Lomba Fotografi “Menjaga Sayap Garuda: Konservasi Elang Jawa untuk Masa Depan”.

Foto tersebut menampilkan sepasang elang jawa yang terbang berdampingan di bawah langit biru Bukit Turgo, kawasan Gunung Merapi. Bukit Turgo menjadi lokasi yang kerap Elis kunjungi hampir setiap akhir pekan. Di kawasan ini, ia berjalan kaki, berolahraga, sekaligus memotret satwa liar yang singgah di lereng Merapi.

“Pada hari ketika foto sepasang elang jawa itu saya ambil, mereka seperti menari di udara. Momen itu terasa sangat utuh dan jarang terjadi. Bagi saya, itu salah satu pengalaman terbaik yang pernah saya temui,” ujar Elis kepada Greeners.

Sebagai dosen komunikasi di salah satu perguruan tinggi di DIY, Elis memandang aktivitas mengamati dan memotret burung sebagai bentuk academic life balance. Di tengah padatnya aktivitas akademik, fotografi satwa liar memberinya ruang untuk bermain di alam sekaligus menyegarkan pikiran.

Seiring waktu, hobi tersebut tumbuh menjadi kegiatan yang lebih bermakna. Elis membuktikan bahwa sebagai akademisi sekaligus ibu rumah tangga, perempuan memiliki ruang dan peran yang setara dalam upaya konservasi, salah satunya melalui medium fotografi.

Ketertarikan Elis pada fotografi satwa liar bermula saat ia menempuh studi doktoral di Australia pada 2018. Lingkungan kampus yang kaya akan burung menjadi pengalaman awal yang mendorongnya mencoba memotret, sekaligus membuka cara pandangnya terhadap alam dan kehidupan satwa liar.

Elis Zuliati Anis (49), akademisi asal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang menekuni fotografi satwa liar, khususnya burung. Foto: Burung Indonesia

Elis Zuliati Anis (49), akademisi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang menekuni fotografi satwa liar, khususnya burung. Foto: Istimewa

Memotret dengan Etika dan Kesabaran

Memotret satwa liar bagi Elis adalah hal yang paling mengesankan. Namun, memotret satwa liar juga bukanlah hal yang mudah atau menggunakan peralatan paling canggih. Fotografer perlu memahami ekosistem dan perilaku satwa yang akan mereka potret.

Elis menekankan bahwa ada etika dalam memotret burung, mulai dari menjaga jarak, memahami sensitivitas satwa, hingga memilih pakaian yang tidak mencolok agar tidak menganggu satwa.

“Ini bukan sekadar datang lalu memotret saja. Di balik satu foto, tentu ada cerita tentang perilaku burung, relasinya dengan manusia, dan kondisi lingkungannya,” ujarnya.

Baginya dalam memotret satwa liar memerlukan kepekaan, kesabaran, ketelitian, dan empati terhadap alam. Hal tersebut menjadi bagian penting dalam proses memotret.

Ke depan, Elis berharap semakin banyak perempuan terlibat dalam fotografi satwa liar, tidak hanya untuk berkarya, tetapi juga menyuarakan konservasi. Ia percaya fotografi memiliki kekuatan edukatif yang besar, terutama di era media sosial.

Kegiatan edukasi, mengamati dan memotret burung. Foto: Istimewa

Kegiatan edukasi, mengamati dan memotret burung. Foto: Burung Indonesia

Edukasi Burung Terbatas

Sementara itu, kini edukasi tentang burung masih cenderung terbatas pada kalangan tertentu, seperti komunitas pengamat burung, akademisi, atau pegiat konservasi. Di tingkat masyarakat umum, khususnya di perkotaan, pemahaman tentang peran ekologis burung, status keterancamannya, serta ancaman nyata seperti perburuan dan perdagangan masih relatif rendah.

Padahal, Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan burung tertinggi di dunia. Indonesia menempati peringkat keempat sebagai negara dengan jumlah spesies burung tertinggi, dengan lebih dari 1.800 spesies tercatat.

Keunikan lainnya, Indonesia memiliki tingkat endemisitas burung yang sangat tinggi, dengan lebih dari 500 spesies yang hanya ditemukan di wilayah kepulauan Nusantara dan tidak ada di tempat lain di dunia. Namun, besarnya kekayaan ini belum diimbangi dengan tingkat edukasi publik yang memadai mengenai burung dan upaya konservasinya.

Conservation Engagement Officer Burung Indonesia, Ivanna Febrissa mengatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, inisiatif edukasi melalui media sosial kegiatan pengamatan burung, dan kampanye kreatif mulai bermunculan. Namun, upaya tersebut belum berlangsung secara masif, berkelanjutan, dan terintegrasi dalam sistem pendidikan formal maupun ruang publik. Akibatnya, burung masih sering dipandang sebatas sebagai komoditas atau hiburan, bukan sebagai bagian penting dari ekosistem yang perlu dilindungi bersama.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki pekerjaan besar dalam memperluas edukasi burung yang inklusif, mudah dipahami, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, agar kesadaran dan kepedulian terhadap konservasi burung dapat tumbuh secara lebih luas dan berdampak jangka panjang,” kata Ivanna.

Ia menilai bahwa edukasi burung sangat penting bagi publik. Khususnya anak-anak muda dan pelajar untuk bisa memahami peran burung bagi ekosistem. Menurutnya, kelompok usia ini merupakan generasi yang akan menentukan arah hubungan manusia dengan alam di masa depan, sehingga pengetahuan dan nilai yang mereka miliki hari ini akan berpengaruh besar terhadap praktik konservasi ke depan.

Tantangan Mengubah Persepsi

Dalam mengedukasi publik tentang burung dan konservasi juga tidak terlepas dari tantangan. Salah satunya adalah mengubah persepsi masyarakat, terhadap budaya pemeliharaan burung yang sudah mengakar kuat dan diwariskan lintas generasi. Praktik ini kerap dianggap sebagai hal yang wajar, bahkan bernilai budaya dan ekonomi.

Selain itu, burung sering kali tidak dipandang sebagai satwa ikonik atau prioritas konservasi dibandingkan satwa besar lainnya. Akibatnya, isu perlindungan burung kurang mendapatkan perhatian luas dari masyarakat, media, maupun pembuat kebijakan, meskipun ancaman terhadap populasi burung terjadi secara masif.

Ivanna berharap ke depan burung dapat memperoleh perhatian yang lebih besar sebagai bagian penting dalam menjaga keseimbangan dan keberlanjutan alam. Burung tidak lagi dipandang sebagai satwa yang hanya ditempatkan di dalam sangkar. Sebab, burung memiliki peran ekologis yang hanya dapat berjalan ketika mereka hidup bebas di alam. Dengan demikian, perubahan cara pandang masyarakat menjadi kunci utama dalam upaya konservasi.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/mengamati-dan-memotret-burung-cara-akademisi-bersuara-untuk-konservasi/feed/ 0
Mengenal Kampung Malagufuk di Papua, Tempat Pengamatan Burung Dunia https://www.greeners.co/berita/mengenal-kampung-malagufuk-di-papua-tempat-pengamatan-burung-dunia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mengenal-kampung-malagufuk-di-papua-tempat-pengamatan-burung-dunia https://www.greeners.co/berita/mengenal-kampung-malagufuk-di-papua-tempat-pengamatan-burung-dunia/#respond Fri, 05 Jul 2024 03:00:45 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=44179 Jakarta (Greeners) – Kampung ekowisata Malagufuk, Kabupaten Sorong di Provinsi Papua Barat Daya tercatat sebagai salah satu tujuan kegiatan pengamatan burung di dunia. Berlokasi di Hutan Klaso, beragam jenis burung […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kampung ekowisata Malagufuk, Kabupaten Sorong di Provinsi Papua Barat Daya tercatat sebagai salah satu tujuan kegiatan pengamatan burung di dunia. Berlokasi di Hutan Klaso, beragam jenis burung endemik Papua Barat mencari makan, minum, istirahat, dan berkembang biak.

Ada beberapa jenis burung yang hinggap di Hutan Klaso. Di antaranya Lesser bird of paradise, Northern Cassowary, Twelve wired Bird of Paradise, King Bird of Paradise, Red breasted Paradise Kingfisher, Magnificent riflebird, dan burung lainnya.

Bulan Agustus hingga Desember merupakan masa tersibuk Kampung Malagufuk menerima tamu, bertepatan dengan musim kawin burung-burung. Lazimnya, tamu mereka adalah fotografer lingkungan hidup, khususnya satwa burung dan fauna hutan hujan. Peneliti dan wisatawan yang mampir dari sebelum berkegiatan menyelam di Raja Ampat.

Di samping itu, Kampung Malagufuk juga mampu berdaya secara ekonomi dengan tetap menjadi bagian dari ekosistem hutan yang lestari. Komunitas Gelek Kalami Malagufuk dan Gelek Magablo menempati kampung ini.

BACA JUGA: Ford Foundation Dukung BRWA Kelola Registrasi Wilayah Adat

Keduanya merupakan komunitas marga di bawah payung besar Suku Moi. Dalam bahasa Moi, marga disebut dengan istilah gelek. Dalam kesehariannya, mereka merawat tanah, melindungi hutan adat, dan hidup secukupnya dengan memanfaatkan sumber daya alam.

“Hutan harus terus dijaga sebaik-baiknya, bahkan setelah generasi saya mati. Prinsip hidup saya, ‘kau jaga hutan, kau jaga alam, maka alam akan jaga kamu nanti’. Dengan teguh pada prinsip ini, saya yakin kami bisa berkembang dan berdiri sendiri dengan keyakinan kami, tanpa banyak dipengaruhi orang luar,” ujar salah satu pemuda Malagufuk, sekaligus salah seorang pemandu pengamatan burung, Opyor Kalami lewat keterangan tertulisnya, Selasa (2/7).

Menurutnya, pencapaian masyarakat adat di Kampung Malagufuk ini bukan hasil kerja satu malam. Kegigihan dan kekompakan ketua kampung beserta warganya konsisten dijalani sejak tahun ’90-an. Mereka menjalin jejaring kerja bersama kelompok masyarakat sipil lain, juga NGO seperti Yayasan Pusaka Bentala Rakyat.

Kampung Malagufuk. Foto: ULET IFANSATI

Kampung Malagufuk. Foto: ULET IFANSATI

Tantangan Tak Berkesudahan

Gelek Kalami Malagufuk dan Gelek Malak Kalawilis Pasa masih menghadapi berbagai tantangan besar untuk bisa hidup lestari dan selaras dengan alam. Mereka masih menghadapi gencarnya ekspansi pembalakan hutan legal dan ilegal, gelombang besar perluasan perkebunan kelapa sawit, serta bisnis ekstraktif di kawasan Papua Barat Daya.

Pada Maret 2024, Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya memberi lampu hijau kepada investor pembangunan smelter nikel dan pabrik pembuatan baja di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sorong. Apabila rencana ini terealisasi, Kampung Malagufuk, Hutan Klaso beserta seluruh kekayaan ragam hayatinya terancam hilang.

BACA JUGA: AMAN: 8,5 Juta Hektare Wilayah Masyarakat Adat Terampas

Sementara itu, Gelek Malak Kalawilis Pasa juga menghadapi tantangan. Komunitas marga ini harus selalu berada dalam posisi waspada menjaga tanah dan hutan adat. Mereka menghadapi beragam pihak yang menjadi perpanjangan tangan perusahaan logging yang seringkali masuk di wilayah adat mereka tanpa izin.

Menurut Laporan Pemantauan Deforestasi Papua Periode Januari-Februari 2024 oleh Yayasan Pusaka Bentala Rakyat, pada tahun 2023 luas deforestasi mencapai 25.457 hektare. Jumlah ini lebih besar daripada tahun 2022, seluas 20.780 hektare.

Masyarakat adat menyaksikan dan mengalami secara langsung rentetan dampak deforestasi dan ketersingkiran dari hutan dan tanah adat sebagai ruang hidup mereka. Mulai dari semakin sulit dan jauhnya mencari sumber makanan, menurunnya kualitas air, kerentanan pengelolaan sagu sebagai sumber pangan utama, hingga potensi kekeringan dan gagal panen di kebun mereka. Rentetan persoalan ini akan berujung pada beragam permasalahan kesehatan, gizi buruk, serta berbagai masalah sosial dan ekonomi.

Kampung Malagufuk Hidup Bermartabat di Tanah Adat

Masyarakat Malagufuk berkeyakinan bahwa kemandirian menentukan cara untuk hidup bermartabat di atas tanah adat. Hal ini juga bisa diterapkan oleh masyarakat Papua lainnya. Misalnya, Gelek Malak Kalawilis Pasa, komunitas marga yang mendiami hutan dan tanah adat di wilayah Kampung Sayosa, Distrik Sayosa, Kabupaten Sorong.

Hampir genap satu tahun Gelek Malak kembali tinggal di tanah dan hutan adatnya. Komunitas marga ini adalah yang pertama memperoleh Surat Keputusan (SK) dari Pemerintah Kabupaten Sorong. Surat tersebut mengenai Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Suku Moi. Di dalamnya termasuk hak tanah adat Gelek Malak yang sudah selesai dipetakan.

Direktur Eksekutif Yayasan Pusaka Bentala Rakyat, Franky Samperante meneguhkan prakarsa masyarakat adat seperti yang warga Malagufuk lakukan. Menurut Franky, dalam konteks hak asasi manusia, negara wajib memajukan hak dasar rakyat, termasuk menghormati dan melindungi hak masyarakat adat.

“Sudah seharusnya negara menghormati pilihan dan corak ekonomi masyarakat adat, termasuk melindungi sumber daya ekonomi dan wilayah kehidupan yang masyarakat adat miliki dari berbagai ancaman dan tekanan ekonomi ekstraktif,” ujarnya.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/mengenal-kampung-malagufuk-di-papua-tempat-pengamatan-burung-dunia/feed/ 0
Cintai Alam, 48 Pelajar SMP Amati Burung di Ruang Terbuka Hijau https://www.greeners.co/aksi/cintai-alam-48-pelajar-smp-amati-burung-di-ruang-terbuka-hijau/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=cintai-alam-48-pelajar-smp-amati-burung-di-ruang-terbuka-hijau https://www.greeners.co/aksi/cintai-alam-48-pelajar-smp-amati-burung-di-ruang-terbuka-hijau/#respond Mon, 29 Jan 2024 06:01:39 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=42919 Jakarta (Greeners) – Sebanyak 48 pelajar SMP Sekolah Alam Indonesia (SAI) mengamati burung-burung liar di kawasan Taman Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (25/1). Kegiatan di alam bebas ini mereka lakukan untuk […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sebanyak 48 pelajar SMP Sekolah Alam Indonesia (SAI) mengamati burung-burung liar di kawasan Taman Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (25/1). Kegiatan di alam bebas ini mereka lakukan untuk merawat alam agar lebih lestari.

Kolaborasi antara Belantara Foundation bersama SAI menjadi sebuah kegiatan bermanfaat untuk mencintai alam. Terutama, kegiatan ini telah memanfaatkan fasilitas ruang terbuka hijau (RTH) Ibu Kota Jakarta.

BACA JUGA: Menuntut Hak Lingkungan yang Sehat, 862 Gen Z Surati Capres

Guru Kelas SMP SAI, Ahmad Rizky Mudzakir mengatakan bahwa pengamatan burung ini bertujuan untuk penyadartahuan (awareness) dan edukasi bagi masyarakat. Khususnya, siswa SAI akan pentingnya merawat alam dan menjaga lingkungan sekitar lewat pengamatan burung.

“Pengamatan burung ini juga sebagai wadah pembekalan dan pengayaan materi sebelum mereka melakukan eksplorasi burung-burung di kawasan Taman Nasional Manusela, Maluku pada April mendatang,: ujar Ahmad lewat keterangannya di Jakarta, Kamis (25/1).

Puluhan pelajar mengamati burung-burung liar di kawasan Taman Lapangan Banteng. Foto: Belantara Foundation

Puluhan pelajar mengamati burung-burung liar di kawasan Taman Lapangan Banteng. Foto: Belantara Foundation

Berikan Edukasi Pelestarian Burung

Pada kesempatan ini, undraising dan Outreach Belantara Foundation, Ahmad Baihaqi memberikan edukasi pelestarian burung kepada para pelajar. Sebagai narasumber, Baihaqi menyampaikan topik pentingnya menjaga dan melestarikan burung-burung liar di habitat alaminya.

“Burung memainkan peran penting bagi ekosistem sehingga penting bagi masyarakat. Khususnya, generasi muda berpartisipatif aktif dalam menjaga dan melestarikan burung-burung di habitat alaminya, seperti di ruang terbuka hijau (RTH) di Jakarta,” ujar Baihaqi.

BACA JUGA: Komunitas Jaga Semesta Lindungi Mata Air demi Cegah Krisis Air 2040

Selanjutnya, para pelajar SMP SAI mempraktikkan langsung kegiatan mengamati burung-burung liar di kawasan tersebut menggunakan teropong dan poster burung-burung Kota Jakarta. Mereka juga mencatat burung yang berhasil mereka amati pada tabulasi yang telah disiapkan.

Selama berkegiatan, para pelajar terbagi menjadi enam kelompok. Sebanyak 18 fasilitator yang mendampingi mereka berasal dari Kelompok Pengamat Burung (KPB) Nectarinia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, KPB Nycticorax Universitas Negeri Jakarta, dan Biological Bird Club Ardea Biologi Universitas Nasional.

23 Jenis Burung Berhasil Diamati

Dari hasil pengamatan, terdapat 23 jenis burung yang berhasil mereka amati dan identifikasi. Berdasarkan status perlindungan, terdapat tiga jenis burung masuk ke dalam kategori yang dilindungi. Tiga jenis burung tersebut yaitu kipasan belang (Rhipidura javanica), betet biasa (Psittacula alexandri), dan alap-alap sapi (Falco moluccensis).

Berdasarkan status keterancaman, terdapat dua jenis burung yang masuk ke dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN), yaitu burung kacamata biasa (Zosterops melanurus) berstatus rentan terancam punah atau Vulnerable (VU). Jenis kedua yakni betet biasa (Psittacula alexandri) berstatus hampir terancam punah atau Near Threatened (NT).

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/cintai-alam-48-pelajar-smp-amati-burung-di-ruang-terbuka-hijau/feed/ 0
Profauna Identifikasi 38 Jenis Burung Penghuni Hutan Damarwulan Kediri https://www.greeners.co/aksi/profauna-identifikasi-38-jenis-burung-penghuni-hutan-damarwulan-kediri/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=profauna-identifikasi-38-jenis-burung-penghuni-hutan-damarwulan-kediri https://www.greeners.co/aksi/profauna-identifikasi-38-jenis-burung-penghuni-hutan-damarwulan-kediri/#respond Mon, 26 Mar 2018 12:02:57 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=20274 Profauna Indonesia berhasil mengidentifikasi 38 jenis burung yang berada di area hutan afdeling Damarwulan, Kabupaten Kediri pada pertengahan bulan Maret 2018. Dari jumlah itu, dijumpai 11 jenis burung masuk kategori satwa yang dilindungi.]]>

Malang (Greeners) – Organisasi perlindungan hutan dan satwa liar Profauna Indonesia berhasil mengidentifikasi 38 jenis burung yang berada di area hutan afdeling Damarwulan, Kabupaten Kediri pada pertengahan bulan Maret 2018. Dari jumlah itu, dijumpai 11 jenis burung masuk kategori satwa yang dilindungi.

Ketua Profauna Indonesia Rosek Nursahid menjelaskan, 11 jenis burung yang masuk kategori satwa dilindungi adalah paok pancawarna (Pitta guajana), cekakak sungai (Todhiramphus chloris), cekakak jawa (Halcyon cyanoventris), cekakak batu (Lacedo pulchella), madu sriganti (Nectarinia jugularis), takur tenggeret (Psilopogon australis), takur tohtor (Psilopogon armillaris), takur tulung tumpuk (Psilopogon javensis), takur ungkut ungkut (Psilopogon haemacepahala), elang bido (Spilornos cheela) dan elang hitam (Ictinaetus malayensis).

“Jenis burung lainnya seperti bubut alang-alang (Centropos bengalensis), jingjing batu (Hemipus hirundinaceus), kadalan kembang (Phaenicophaeus javanicus), dan serindit jawa (Loriculus pusillus), juga menghuni hutan ini,” kata Rosek, dalam rilisnya, Senin (26/3/2018).

profauna

Foto: Profauna Indonesia

Juru kampanye Profauna Indonesia, Erik Yanuar menambahkan, terdatanya puluhan jenis burung tersebut sangat menggembirakan sebab beberapa jenis burung yang diidentifikasi sudah jarang ditemukan di alam Jawa Timur, seperti serindit jawa dan paok pancawarna. “Kedua jenis burung ini termasuk jenis yang masih sering diperdagangkan di pasar burung,” ujar Erik.

Burung paok pancawarna sendiri, kata Erik, sebetulnya sudah termasuk daftar jenis satwa liar yang dilindungi, tapi masih banyak diperdagangkan di pasar-pasar burung karena keindahan warna bulunya.

Keberadaan serindit jawa yang masuk termasuk keluarga burung nuri kecil memang semakin jarang ditemui di alam liar di Jawa Timur. Bahkan, Rosek yang sudah melakukan pengamatan satwa liar di alam sejak tahun 1994 mengatakan kalau perjumpaannya dengan burung ini di Hutan Damarwulan Kediri merupakan perjumpaan pertama kali di alam setelah terkahir kali menjumpainya 10 tahun yang lalu di daerah Malang selatan.

Menurut Rosek, penangkapan burung di alam untuk diperdagangkan menjadi pemicu semakin langkanya berbagai jenis burung di habitat alaminya. Burung-burung yang dulu umum dijumpai kini semakin jarang, misalnya burung kacamata, bentet dan prenjak.

Profauna Indonesia rutin mendata satwa liar di alam dengan program Wild Animals Watching (WAW). Hampir setiap bulan kegiatan ini dilakukan bersama pendukung Profauna di berbagai daerah. “Harapannya bisa memupuk rasa cinta satwa liar yang hidup di alam bebas dan bisa memberikan sumbangsih informasi bagi upaya pelestarian satwa liar itu,” kata Rosek menutup pembicaraan.

Penulis: HI/G17

]]>
https://www.greeners.co/aksi/profauna-identifikasi-38-jenis-burung-penghuni-hutan-damarwulan-kediri/feed/ 0
Mengenal Burung-Burung di Ancol Taman Impian https://www.greeners.co/gaya-hidup/mengenal-burung-burung-ancol-taman-impian/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mengenal-burung-burung-ancol-taman-impian https://www.greeners.co/gaya-hidup/mengenal-burung-burung-ancol-taman-impian/#respond Thu, 31 Aug 2017 11:38:54 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=18426 Selain berperan sebagai sarana untuk hiburan, kawasan Ancol Taman Impian juga berperan sebagai ruang terbuka hijau yang berfungsi sebagai habitat bagi berbagai keanekaragaman hayati, burung adalah salah satunya.]]>

Judul: Burung-Burung di Ancol Taman Impian
Penulis: Biological Bird Club “Ardea” Fakultas Biologi Universitas Nasional
Penerbit: Lembaga Penerbitan Universitas Nasional
Jumlah Halaman: 160 halaman
Tahun Terbit: 2015

 

Saat mendengar nama Ancol Taman Impian, mungkin hal pertama yang terlintas di dalam pikiran kita adalah sebuah lokasi wisata di kawasan Jakarta Utara. Namun sesungguhnya, peran dari kawasan Ancol Taman Impian tak hanya terbatas sebagai tempat rekreasi saja. Selain berperan sebagai sarana untuk hiburan, kawasan tersebut juga berperan sebagai ruang terbuka hijau yang berfungsi sebagai habitat bagi berbagai keanekaragaman hayati, dan burung adalah salah satunya. Tapi sayang, belum banyak masyarakat yang mengetahui hal tersebut.

Untuk memberikan informasi tentang keanekaragaman burung di Ancol Taman Impian kepada masyarakat, sebuah klub pemerhati burung dari Universitas Nasional Jakarta, Biological Bird Club “Ardea”, mengeluarkan buku dengan judul Burung-Burung di Ancol Taman Impian. Buku yang dirilis pada tahun 2015 tersebut terdiri dari 160 halaman berwarna dan disusun berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh tim Biological Bird Club “Ardea”. Buku ini juga dilengkapi oleh kumpulan foto-foto indah yang dipotret oleh komunitas Indonesia Wildlife Photography.

Buku Burung-Burung di Ancol Taman Impian merupakan sebuah buku panduan yang ditargetkan bagi masyarakat umum dan para pengamat burung. Buku ini menjelaskan kepada kita bahwa terdapat sekitar 59 jenis burung yang dapat kita jumpai di empat kawasan Ancol Taman Impian. Burung-burung di kawasan Ancol Taman Impian didominasi oleh burung pemakan serangga dan buah. Adanya burung di kawasan Ancol Taman Impian merupakan suatu pertanda penting, sebab burung dapat dijadikan sebagai indikator kualitas lingkungan di suatu daerah.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, buku Burung-Burung di Ancol Taman Impian merupakan buku saku bagi masyarakat untuk mengamati burung yang terdapat di daerah Ancol Taman Impian. Buku ini dirancang untuk mudah dipahami oleh para pembacanya. Dalam buku ini, terdapat informasi mengenai burung yang terdiri dari foto dan jenis burung, deskripsi, habitat dan kebiasaan, ukuran tubuh, penyebaran global dan lokal, serta status konservasinya. Buku ini dapat disebut sebagai kamus mini bagi burung-burung yang terdapat di kawasan Ancol Taman Impian.

Hadirnya buku Burung-Burung di Ancol Taman Impian diharapkan dapat menjadi pembuka cakrawala masyarakat luas terhadap keanekaragaman hayati di Indonesia, khususnya di Jakarta. Buku ini juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap keberadaan satwa yang terdapat di kawasan Ancol Taman Impian, khususnya terhadap burung.

Penulis: Anggi Rizky Firdhani

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/mengenal-burung-burung-ancol-taman-impian/feed/ 0
World Wildlife Day, Magister Biologi UNAS Mengamati Burung Liar di Lingkungan Kampus https://www.greeners.co/aksi/world-wildlife-day-magister-biologi-unas-mengamati-burung-liar-lingkungan-kampus/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=world-wildlife-day-magister-biologi-unas-mengamati-burung-liar-lingkungan-kampus https://www.greeners.co/aksi/world-wildlife-day-magister-biologi-unas-mengamati-burung-liar-lingkungan-kampus/#respond Tue, 07 Mar 2017 06:40:19 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=16126 Dalam rangka memperingati World Wildlife Day, Sekolah Pascasarjana Prodi Magister Biologi UNAS mengadakan pengamatan burung liar di lingkungan kampus.]]>

Jakarta (Greeners) – Tanggal 3 Maret diperingati sebagai World Wildlife Day atau Hari Hidupan Liar Sedunia. World Wildlife Day merupakan kampanye untuk meningkatkan kesadaran masyarakat di seluruh dunia akan nilai penting satwa, flora, dan kehidupan liar dunia, terutama yang terancam punah dan dilindungi.

Peringatan ini mempunyai makna yang sangat penting terhadap perlindungan kehidupan alam liar di dunia. Dalam rangka memperingati hari tersebut, Sekolah Pascasarjana Prodi Magister Biologi Universitas Nasional (UNAS) mengadakan pengamatan burung di Kampus UNAS, Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Kegiatan ini bertujuan untuk memantau keberadaan berbagai jenis burung di lingkungan kampus.

Kepala Program Studi Magister Biologi UNAS, Dr Tatang Mitra Setia, mengatakan bahwa burung memiliki peranan yang sangat penting di perkotaan. Perannya antara lain membantu mengendalikan populasi serangga hama, membantu penyerbukan bunga, dan membantu pemencaran biji.

“Kehadiran burung di kota dapat dikatakan memiliki peranan penting dan juga sebagai bioindikator lingkungan. Apabila terjadi degradasi lingkungan, burung menjadi komponen alam terdekat yang terkena dampak secara langsung,” ujar Tatang, Jakarta, Senin (06/03/2017).

Menurut Tatang, karena adanya tekanan dari aktivitas manusia seperti perburuan, pembangunan gedung-gedung pencakar langit dan pembuangan sampah yang berlebihan memberikan dampak langsung dan tidak langsung terhadap ekosistem. Kondisi ini juga mengakibatkan terputusnya koridor-koridor penghubung antar ruang terbuka hijau (RTH) sehingga membuat RTH menjadi terisolasi.

Saat ini, lanjutnya, peranan kampus sebagai RTH sangat diperlukan, selain sarana untuk menimba ilmu. Lingkungan di sekitar kampus yang ditanami pepohonan berperan penting untuk menunjang kehidupan tidak hanya manusia melainkan juga satwa. Rerimbunan pohon yang hijau dapat menjadi tempat yang nyaman bagi manusia maupun satwa liar yang berada di sekitarnya. Selain itu, keberadaan burung dan satwa liar lainnya di RTH sekitar kampus dapat menjadi sarana pembelajaran khususnya di bidang biologi.

Kegiatan pengamatan burung sebagai perayaan Hari Hidupan Liar Sedunia ini dilaksanakan tanggal 5 Maret 2017 di Kampus Universitas Nasional, Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Sekolah Pascasarjana Prodi Magister Biologi Universitas Nasional. Turut hadir komunitas pegiat lingkungan lainnya, seperti Biological Bird Club “Ardea” Fakultas Biologi Universitas Nasional, Biodiversity Warriors Yayasan KEHATI, BScC Indonesia, Simpul Indonesia, dan Transformasi Hijau.

Sebagai informasi, sejarah penetapan tanggal 3 Maret sebagai World Wildlife Day diawali dari CITES Sixteenth Conference of the Parties (COP16) di Bangkok 2013. Konferensi Para Pihak CITES ini merekomendasikan kepada PBB agar 3 Maret 1973 yang merupakan tanggal diadopsinya kesepakatan CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), ditetapkan dan diperingati sebagai Hari Hidupan Liar Sedunia.

Pada tanggal 20 Desember 2013, Sidang Umum PBB akhirnya menetapkan 3 Maret sebagai hari khusus untuk menghargai keragaman hayati dunia, utamanya satwa dan flora liar. Tanggal 3 Maret 2014, untuk pertama kalinya dirayakan Hari Hidupan Liar Sedunia atau World Wildlife Day.

Penulis: Ahmad Baihaqi

]]>
https://www.greeners.co/aksi/world-wildlife-day-magister-biologi-unas-mengamati-burung-liar-lingkungan-kampus/feed/ 0
Mahasiswa Uhamka Lakukan Pengamatan Biodiversitas Hutan Kota https://www.greeners.co/aksi/mahasiswa-uhamka-lakukan-pengamatan-biodiversitas-hutan-kota/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mahasiswa-uhamka-lakukan-pengamatan-biodiversitas-hutan-kota https://www.greeners.co/aksi/mahasiswa-uhamka-lakukan-pengamatan-biodiversitas-hutan-kota/#respond Mon, 02 May 2016 06:02:29 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=13612 Dalam rangka memperingati Hari Bumi Sedunia, Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam (IMAPALA) Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA) Jakarta menyelenggarakan pelatihan dan pengamatan biodiversitas hutan kota.]]>

Jakarta (Greeners) – Dalam rangka memperingati Hari Bumi Sedunia yang jatuh pada setiap tanggal 22 April 2016, Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam (IMAPALA) Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA) Jakarta menyelenggarakan Seminar dan Workshop bertajuk “Pelatihan dan Pengamatan Biodiversitas Hutan Kota” di Hutan Kota Cijantung dan Hutan Kota Dukuh, Jakarta Timur pada tanggal 29-30 April 2016.

“Sebelum melakukan pengamatan di Hutan Kota, para peserta diberikan pembekalan mengenai kajian biodiversitas, teknik mengamati satwa liar dan motivasi pelestarian lingkungan,” ujar Aditya Ramadhan selaku ketua pelaksana kegiatan.

Hadir sebagai narasumber dalam acara tersebut, yaitu Agus P.Dharma, S.Pd, M.Si, Ahmad Baihaqi dari Biodiversity Warriors, dan Fadlik Al-Iman dari Klub Indonesia Hijau.

Foto: greeners.co/Ahmad Baihaqi (Indonesia Wildlife photography)

Foto: greeners.co/Ahmad Baihaqi (Indonesia Wildlife photography)

Hutan kota adalah sekelompok pohon yang tumbuh di dalam kota. Keberadaan hutan kota sangat penting untuk keseimbangan ekologi manusia dalam berbagai hal seperti penghasil oksigen, peredam kebisingan, sarana rekreasi, dan meningkatkan rasa bahagia seseorang. Selain itu, keberadaan hutan kota juga berfungsi sebagai habitat satwa liar.

“Satwa liar yang biasa dijumpai di sekitar kita kian tersingkir seiring dengan pembangunan-pembangunan yang terjadi di Jakarta. Dengan demikian, pengamatan ini bertujuan untuk memantau satwa liar yang tersisa di Ibu Kota,” ujar Aditya Ramadhan, salah satu peserta dalam acara ini.

Puluhan peserta yang berpartisipasi dalam acara ini dibagi menjadi kelompok kecil. Mereka menelusuri seluruh jalur yang ada di hutan kota. Peserta yang hadir memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda seperti ekonomi, gizi, bahasa Inggris, dan teknik.

Pengamatan biodiversitas dilakukan selama dua hari. Pada hari Sabtu, pengamatan berlangsung di Hutan Kota Cijantung pada pukul 14.00-17.00 WIB, sementara di hari Minggu, pengamatan dilakukan di Hutan Kota Dukuh pukul 08.00-10.00 WIB.

“Kegiatan ini sangat menarik dan menambah pengalaman baru. Ternyata melakukan observasi langsung di lapangan sangat menyenangkan,” ujar Rizky Hijriati, salah satu peserta yang terlibat dalam pengamatan biodiversitas. Ia juga menyatakan setelah acara ini, dirinya termotivasi akan melakukan pengamatan burung di sekitar lingkungan tempat ia tinggal.

Selain pengamatan biodiversitas di hutan kota, dalam acara ini juga dilakukan pembagian dan penanaman bibit pohon, kreasi kaos tie dye dan bersepeda keliling kampus sekaligus mengkampanyekan pengurangan gas emisi karbon.

Penulis: Ahmad Baihaqi/Indonesia Wildlife Photography

]]>
https://www.greeners.co/aksi/mahasiswa-uhamka-lakukan-pengamatan-biodiversitas-hutan-kota/feed/ 0
Sensus Burung Air di Pesisir Jakarta https://www.greeners.co/aksi/sensus-burung-air-di-pesisir-jakarta/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sensus-burung-air-di-pesisir-jakarta https://www.greeners.co/aksi/sensus-burung-air-di-pesisir-jakarta/#respond Sun, 31 Jan 2016 10:06:50 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=12709 Para pemuda yang tergabung dalam kelompok mahasiswa pengamat burung dan pecinta alam dari berbagai Universitas di Jakarta melakukan penghitungan burung air untuk memperingati Asian Waterbird Census (AWC) 2016.]]>

Jakarta (Greeners) – Para pemuda yang tergabung dalam kelompok mahasiswa pengamat burung dan pecinta alam dari berbagai Universitas di Jakarta melakukan penghitungan burung air di kawasan Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA) dan Hutan Lindung Angke Kapuk, Jakarta Utara. Penghitungan atau sensus ini dalam rangka memperingati Asian Waterbird Census (AWC) 2016, pada Sabtu (30/01) kemarin.

“Tujuan dilakukannya kegiatan tersebut adalah sebagai proses pengumpulan data informasi tahunan mengenai populasi burung air di lahan basah (wetland). Keberadaan burung air di suatu kawasan juga dapat dijadikan sebagai indikasi lingkungan yang masih baik,” ujar Mutia Afianti, mahasiswa Biologi Universitas Nasional yang juga Ketua Kelompok pengamat burung Biological Bird Club “Ardea” Fakultas Biologi Universitas Nasional, Jakarta.

Dalam rangka memperingati Asian Waterbird Census 2016, para pemuda yang berasal dari berbagai organisasi pecinta lingkungan melakukan sensus burung air di Pesisir Jakarta, Sabtu (30/01). Foto: greeners.co/Ahmad Baihaqi (Indonesia Wildlife Photography)

Dalam rangka memperingati Asian Waterbird Census 2016, para pemuda yang berasal dari berbagai organisasi pecinta lingkungan melakukan sensus burung air di Pesisir Jakarta, Sabtu (30/01). Foto: greeners.co/Ahmad Baihaqi (Indonesia Wildlife Photography)

Dari hasil pengamatan yang dimulai sejak pukul 07.00 WIB sampai dengan pukul 11.00 WIB, sebanyak 18 jenis burung air berhasil didata, diantaranya burung kokokan laut (Butorides striatus), cangak abu (Ardea cinerea), pecuk-padi hitam (Phalacrocorax sulcirostris), pecuk ular asia (Anhinga melanogaster) dan beberapa jenis burung air lainnya.

Peserta AWC di Jakarta tahun ini diikuti oleh para pemuda yang peduli dengan lingkungan, diantaranya Biodiversity Warriors, Yayasan BScC Indonesia, dan Kelompok penggiat lingkungan lainnya. Selain itu, hadir pula peserta dari kelompok studi dari berbagai Universitas, diantaranya Biological Bird Club (BBC) Ardea Fakultas Biologi Universitas Nasional, KPB Nycticorax Universitas Negeri Jakarta, KPB Nectarinia Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Kelompok Studi Hidupan Liar (KSHL) Comata Universitas Indonesia dan Mapala Universitas Terbuka.

AWC atau penghitungan burung air secara global merupakan program tahunan yang digelar pada minggu kedua dan ketiga di bulan Januari. Namun, di Indonesia penghitungan dan pendataan dapat dilakukan sepanjang bulan Januari yang hasilnya dicatat ke dalam lembar formulir dan hasilnya akan dilaporkan secara serentak dari berbagai dunia melalui lembaga International Waterbird Census. Kegiatan ini juga sebagai media kampanye kepada masyarakat akan pentingnya menjaga kawasan lahan basah bagi kehidupan manusia ataupun makhluk hidup lainnya.

Penulis: Ahmad Baihaqi/Indonesia Wildlife Photography

]]>
https://www.greeners.co/aksi/sensus-burung-air-di-pesisir-jakarta/feed/ 0