pengendalian penyakit menular - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/pengendalian-penyakit-menular/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sun, 09 Jul 2023 06:01:17 +0000 id hourly 1 Cegah Antraks, Kubur Ternak yang Mati dan Jangan Digali https://www.greeners.co/berita/cegah-antraks-kubur-ternak-yang-mati-dan-jangan-digali/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=cegah-antraks-kubur-ternak-yang-mati-dan-jangan-digali https://www.greeners.co/berita/cegah-antraks-kubur-ternak-yang-mati-dan-jangan-digali/#respond Sun, 09 Jul 2023 06:01:17 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=40737 Jakarta (Greeners) – Penyakit antraks kembali memakan korban. Demi memutus rantai penyakit antraks, hewan ternak yang mati harus dikubur. Masyarakat jangan sampai menggalinya dan mengonsumsi dagingnya. Penyakit antraks belum lama […]]]>

Jakarta (Greeners) – Penyakit antraks kembali memakan korban. Demi memutus rantai penyakit antraks, hewan ternak yang mati harus dikubur. Masyarakat jangan sampai menggalinya dan mengonsumsi dagingnya.

Penyakit antraks belum lama ini terjadi di Gunung Kidul. Antraks menyerang puluhan warga hingga memakan korban jiwa. Wabah penyakit terjadi bermula dari seorang warga yang menyembelih dan mengonsumsi sapi yang terpapar antraks. Bahkan ada sapi yang telah dikubur, lalu digali dan dikonsumsi warga.

Antraks (Anthrax) merupakan penyakit hewan menular yang disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis. Pada umumnya, bakteri ini menyerang hewan herbivora seperti sapi, kambing, domba, dan lainnya serta dapat menular ke manusia.

Bakteri penyebab antraks apabila terpapar udara, akan membentuk spora yang sangat resisten terhadap kondisi lingkungan dan bahan kimia termasuk desinfektan tertentu. Bakteri ini bisa bertahan selama puluhan tahun di dalam tanah.

Dosen Teknologi dan Manajemen Ternak Bidang Ternak Ruminansia Institut Pertanian Bogor, Dudi Firmansyah mengatakan, untuk memutuskan rantai penyakit ini, hewan ternak yang terinfeksi antraks harus dikubur atau dibakar.

“Karena hewan itu tersusun dari bahan-bahan organik nanti akan terurai dan menjadi unsur hara. Tetapi memang dari beberapa hasil penelitian bakteri antraks ini meskipun sudah dikubur tetapi sulit mati,” kata Dudi kepada Greeners, Sabtu (8/7).

Menurut Dudi penguburan hewan ternak yang terinfeksi antraks tidak begitu membahayakan lingkungan. Asalkan masyarakat menghentikan menggali tanah tersebut dan tidak lagi mengonsumsi hewan terinfeksi antraks yang sudah dikubur.

Sebab, jika tanah digali, spora akan berpotensi menyebar ke permukaan atas tanah dan berpotensi menyebar pada lingkungan hingga berdampak bagi hewan ternak hingga manusia.

Dudi pun menekankan penguburan hewan ternak ini tak menjadi soal, karena tanah merupakan bagian dari unsur pelapukan bebatuan dan organik. Komposisi protein dan karbohidrat hewan terkubur bisa membantu meningkatkan unsur hara.

Bahaya Antraks Bagi Manusia

Dokter Hewan PT Global Dairi, Wandi Himawan menjelaskan, antraks bisa menimbulkan infeksi pada kulit, paru-paru, hingga pencernaan manusia.

“Pada manusia ada tiga bentuk penularan yaitu terhadap kulit, saluran pencernaan, dan paru-paru. Oleh karena itu kalau habis kontak sama hewan ternak dianjurkan disinfeksi biar aman,” kata Wandi.

Terkenanya lendir, mengonsumsi daging hewan yang terpapar antraks, dan terhirupnya spora dari udara merupakan akibat dari paparan penyakit antraks pada manusia.

Wandi menambahkan, infeksi antraks pada kulit dan pencernaan ini menjadi penyebab kematian terbanyak pada manusia. Gejala yang sering terjadi yaitu seperti diare dan feses yang berdarah. Antibiotik bisa obati jangkitan antraks pada manusia.

Vaksinasi menjaga kesehatan hewan ternak. Foto: Shutterstock

Perkuat Antisipasi

Merebaknya penyakit antraks saat ini bukan kali pertama. Antraks mewabah di Indonesia sejak tahun 1884, setiap tahunnya wabah terus terjadi di berbagai wilayah. Sektor perternakan pun terus lakukan pencegahan.

Melihat beberapa kejadian, pemerintah telah mengeluarkan regulasi pemotongan ternak tidak boleh dilakukan di sembarang tempat. Pemotongan hewan wajib dilakukan di rumah potong hewan.

Pakan hewan ternak juga perlu dapat perhatian. Pakan berupa tulang dan daging sisaan yang dibuat seperti tepung tidak bisa dijadikan sebagai makanan hewan ternak, baik sapi maupun domba.

Tak sekadar itu, pengecekan kesehatan rutin pada hewan ternak juga perlu diperhatikan. Khususnya pada wilayah ternak yang pernah terjangkit penyakit seperti antraks.

Antisipasi kuat seperti inilah yang perlu dilakukan supaya ketika hewan ternak berpindah tempat tidak menimbulkan penyebaran bakteri pada lingkungan, manusia, dan hewan lainnya.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/cegah-antraks-kubur-ternak-yang-mati-dan-jangan-digali/feed/ 0
Kasus Pneumonia Akut, Waspadai Lingkungan Bersanitasi Buruk https://www.greeners.co/berita/kasus-pneumonia-akut-waspadai-lingkungan-bersanitasi-buruk/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kasus-pneumonia-akut-waspadai-lingkungan-bersanitasi-buruk https://www.greeners.co/berita/kasus-pneumonia-akut-waspadai-lingkungan-bersanitasi-buruk/#respond Tue, 06 Sep 2022 06:21:56 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=37259 Jakarta (Greeners) – Pan American Health Organization (PAHO) menyampaikan kasus pneumonia di Tucuman, Argentina karena bakteri Legionella. Hingga Sabtu (3/9), ada 11 kasus pneumonia dengan empat kematian. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pan American Health Organization (PAHO) menyampaikan kasus pneumonia di Tucuman, Argentina karena bakteri Legionella. Hingga Sabtu (3/9), ada 11 kasus pneumonia dengan empat kematian.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memastikan penyakit ini pernah terjadi di Indonesia menyusul kasus pertama Legionella di Bali pada 1996 dan di Tangerang tahun 1999.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Maxi Rondonuwo menyatakan, penyakit ini kategori New Emerging Diseases (New-EIDs). Oleh sebab itu harus kita waspadai karena berpotensi kejadian luar biasa (KLB).

“Ini mengacu pada Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1538/Menkes/SK/XI/2003 bahwa Legionella penyakit dari bakteri akut yang dapat mengancam kesehatan masyarakat dan memicu KLB,” katanya kepada Greeners, Senin (5/9).

Legionella merupakan penyakit yang berasal dari bakteri Legionella pneumophila. Penderita akan mengalami gejala pneumonia yang berat. Gejala tersebut seperti demam, nyeri tubuh hingga kesulitan bernapas.

Pakar Epidemiologi dari Griffith University, Dicky Budiman mengungkapkan, bakteri Legionella menular pada manusia melalui aerosol di udara. Selain itu juga minum air yang mengandung bakteri tersebut dengan masa inkubasi penyakit 1 hingga 10 hari.

Potensi Pneumonia dari Sanitasi yang Buruk

Ia menyebut, bakteri ini hampir ada di semua wilayah di dunia. Lalu mudah kita temukan dengan sanitasi dan pengelolaan lingkungan yang buruk. “Seperti di saluran air, pengelolaan air tanah, hingga saluran udara di gedung bangunan dan AC yang tak terkelola dengan baik. Karena cara penularannya dari air yang tercemar bakteri itu,” tuturnya.

Berkaca dari kasus penyakit pneumonia ini di Argentina karena penampungan air tak terkelola dengan baik, ia mengingatkan hal yang sama juga banyak terjadi di Indonesia. Ia bahkan menyebut, bisa jadi di Indonesia kasus serupa sudah ada. Tetapi karena, masalah keterbatasan pemeriksaan pemerintah maka luput dari deteksi.

Sama halnya dengan kasus Covid-19, penyakit ini akan parah jika penderita memiliki penyakit lain atau komorbid. Jangan sampai lanjutnya, penyakit ini menimpa orang dengan tingkat kekebalan tubuh yang relatif rendah dan rentan, seperti anak-anak dan lansia atau penderita komorbid.

“Seperti pada pasien Covid-19 dengan komorbid diabetes yang tidak terkontrol, kanker, HIV/AIDS, atau peminum obat anti peradangan yang menekan kekebalan tubuh,” ucapnya.

Pastikan Kualitas dan Sirkulasi Udara Baik

Dicky menekankan, pentingnya pengelolaan lingkungan agar tak memicu kemunculan patogen yang membawa penyakit tersebut. Mulai dari merawat memastikan kebersihan AC, saluran ventilasi, hingga menggunakan teknologi untuk memastikan perbaikan kualitas udara di ruangan.

Demikian pula para penderita flu hingga saluran pernapasan agar tak pergi bekerja ke kantor. Kemudian bagi para pekerja lapangan yang rawan terpapar debu dan polusi agar senantiasa menjalankan SOP yang sesuai.

“Intinya kita harus memastikan menghindari potensi patogen dari berbagai sumber, seperti udara, air, paparan yang kita sentuh. Karena patogennya ada dengan kondisi lingkungan kotor dan tak terawat,” imbuhnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/kasus-pneumonia-akut-waspadai-lingkungan-bersanitasi-buruk/feed/ 0
Terkonfirmasi di Indonesia, Antisipasi Penularan Cacar Monyet https://www.greeners.co/berita/terkonfirmasi-di-indonesia-antisipasi-penularan-cacar-monyet/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=terkonfirmasi-di-indonesia-antisipasi-penularan-cacar-monyet https://www.greeners.co/berita/terkonfirmasi-di-indonesia-antisipasi-penularan-cacar-monyet/#respond Mon, 22 Aug 2022 06:15:17 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=37111 Jakarta (Greeners) – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memastikan penyakit cacar monyet (monkeypox) terkonfirmasi di Indonesia menyusul satu kasus positif di Jakarta. Antisipasi penyebaran monkeypox krusial agar penyakit ini tak mewabah. Pakar […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memastikan penyakit cacar monyet (monkeypox) terkonfirmasi di Indonesia menyusul satu kasus positif di Jakarta. Antisipasi penyebaran monkeypox krusial agar penyakit ini tak mewabah.

Pakar Epidemiologi Griffith University Dicky Budiman menyatakan, potensi mewabahnya penyakit ini sulit untuk dicegah. Utamanya, di dalam kelompok-kelompok yang berisiko, seperti pekerja seks yang juga negara-negara lain alami.

“Yang harus kita upayakan bahwa jangan sampai menyebar keluar maupun dalam kelompok itu,” katanya kepada Greeners, Senin (22/8).

Terlebih, sambung dia jangan sampai kasus ini menyebar ke populasi umum dan kelompok rawan, seperti anak-anak, ibu hamil hingga lansia. Jika kasus ini sudah menyebar ke kelompok ini maka potensi penyebarannya akan semakin meluas. “Kalau sudah menyebar dan merebak secara luas maka potensi endemik benar-benar ada di Indonesia. Ini yang perlu kita antisipasi,” ungkapnya.

Ia menyarankan, pentingnya tracing dengan memastikan kontak erat fisik pasien monkeypox selama tiga minggu terakhir. Bangun strategi komunikasi risiko agar orang-orang yang berpotensi terpapar mau bersikap terbuka. “Karena kuncinya di situ, penemuan kasus secara cepat, tepat agar tak terbangun stigma,” imbuhnya.

Respon Cepat Kasus Cacar Monyet

Dalam kasus-kasus awal seperti ini, Dicky mengusulkan agar terbangun respon cepat, tepat dan kuat. Lalu isolasi satu hingga 10 kasus awal secara terpusat oleh pemerintah, baik di tingkat pemerintah pusat maupun daerah. Langkah ini sekaligus sebagai monitoring dalam konteks kasus di Indonesia.

“Termasuk bagaimana karakter gejala dan strategi efektif dalam membangun literasi pada publik pada kelompok-kelompok berisiko. Misalnya, jika terpapar harus karantina selama tiga minggu agar efektif,” paparnya.

Selain isolasi, ia juga menekankan pentingnya pemberian vaksinasi. Strategi vaksinasi dengan melibatkan kontak erat kurang dari dua minggu. Bahkan, sambung dia kalau perlu dua lapis.

Tak hanya peningkatan surveilans pada kelompok berisiko, tapi juga pada fasilitas kesehatan, seperti dokter penyakit kulit, kelamin hingga kelenjar getah bening. Mereka bisa menjadi sumber data surveilans monkeypox.

“Harus ditingkatkan surveilans-nya, baik praktisi kesehatan swasta maupun klinik dan rumah sakit. Selain deteksi dini, mereka juga melaporkan,” tegasnya.

Monkeypox dapat menyebar ke siapa saja, orang dewasa maupun anak-anak. Foto: Freepik

Potensi Penyebaran Monkeypox ke Hewan

Monkeypox adalah infeksi Orthopox virus yang menyebabkan kelainan di kulit. Penyebutan cacar monyet karena temuan kasus pertama pada monyet. Sebagian besar gejala monkeypox di antaranya keluhan kelainan di bagian kulit muka, mulut, kelamin, anus, tangan dan kaki diikuti pembengkakan kelenjar getah bening, demam, lemah, nyeri otot dan sendi.

Dicky juga mengingatkan potensi penyebaran penyakit ini pada hewan. Indonesia memiliki spesies hewan yang sangat banyak dan beragam. Risiko bahwa monkeypox dapat membentuk reservoir hewan di daerah non endemik sangat tinggi sehingga dapat memicu wabah di masa depan.

“Pemantauan perubahan demografi dan gejala pasien yang terkena dan kemungkinan kejadian lompatan ke satwa liar atau hewan peliharaan sangat penting untuk dievaluasi risikonya,” tuturnya.

Kasus Pertama Terkonfirmasi di Indonesia

Sebelumnya, satu pasien monkeypox berasal dari Jakarta yaitu laki-laki berusia 27 tahun dengan riwayat perjalanan Belanda, Swiss, Belgia dan Perancis (22 Juli- 8 Agustus 2022). Ia bergejala berupa cacar atau ruam-ruam di bagian muka, telapak kaki dan tangan dan dinyatakan positif pada 19 Agustus 2022.

Dalam keterangannya, Juru Bicara Kemenkes Mohammad Syahril mengimbau agar masyarakat tak panik karena daya tular dan fatalitas cacar monyet sangat rendah dibanding Covid-19. Saat ini ada 39.718 kasus konfirmasi cacar monyet di seluruh dunia. Namun yang meninggal hanya 12 orang, atau kurang dari 0.001 % dari total kasus.

Selain itu, transmisi monkeypox tak semudah Covid-19 melalui droplet di udara. “Penularan monkeypox melalui kontak erat,” ujar dia.

Saat ini Dinas Kesehatan DKI Jakarta bersama Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes melakukan surveilans kepada masyarakat atau kontak erat dengan pasien tersebut.

Sebagai bentuk kewaspadaan, Kemenkes melakukan pemantauan intensif di seluruh pintu masuk Indonesia. Baik dari udara, laut, maupun darat yang berhubungan dengan negara-negara dengan kasus monkeypox. Setidaknya 89 negara telah melaporkan kasus penyakit ini.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/terkonfirmasi-di-indonesia-antisipasi-penularan-cacar-monyet/feed/ 0
Monkeypox Meluas ke 75 Negara, Awasi Ketat Pintu Masuk Indonesia https://www.greeners.co/berita/monkeypox-meluas-ke-75-negara-awasi-ketat-pintu-masuk-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=monkeypox-meluas-ke-75-negara-awasi-ketat-pintu-masuk-indonesia https://www.greeners.co/berita/monkeypox-meluas-ke-75-negara-awasi-ketat-pintu-masuk-indonesia/#respond Mon, 25 Jul 2022 05:30:30 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=36837 Jakarta (Greeners) – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi mengumumkan penyakit cacar monyet (monkeypox) sebagai darurat kesehatan global pada Sabtu (23/7). Status tersebut keluar setelah penyakit ini telah menyebar ke 75 […]]]>

Jakarta (Greeners) – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi mengumumkan penyakit cacar monyet (monkeypox) sebagai darurat kesehatan global pada Sabtu (23/7). Status tersebut keluar setelah penyakit ini telah menyebar ke 75 negara.

Hingga saat ini Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memastikan kasus cacar monyet belum ada di Indonesia. Menanggapi hal itu, Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman meminta pemerintah mencegah dan mengantisipasi potensi kasus cacar monyet ini.

Pertama kali, temuan penyakit ini ada di Kongo. Hingga akhirnya meluas ke berbagai negara. Bahkan, kasus monkeypox sudah terkonfirmasi di negara tetangga Singapura.

Oleh sebab itu, perlu pengawasan ketat pintu-pintu masuk ke Indonesia melalui skrining untuk mengantisipasi penyebaran penyakit

“Karena monkeypox sudah semakin dekat dengan Indonesia. Jangan sampai kita ada yang lolos dan masuk ke Indonesia,” katanya kepada Greeners, Senin (25/7).

Lebih jauh Dicky menyebut, negara-negara yang berstatus endemik monkeypox juga harus memperkuat status vaksinasi. Sementara untuk negara yang terdeteksi penyakit ini harus juga Indonesia waspadai.

Apalagi masa inkubasi penyakit monkeypox 12 hari. Dicky menilai potensi lolosnya penyakit ini sangatlah besar. Oleh karenanya, ia menekankan pemantauan hingga ke level Puskesmas.

“Bagi orang-orang yang datang dari negara yang sudah terjadi outbreak seperti Amerika, Inggris dan negara Eropa lainnya harus pemerintah monitor kedatangannya,” ucapnya.

Sampaikan ke Masyarakat Luas Tentang Monkeypox

Menurut Dicky, Pemerintah Indonesia juga harus cekatan dan terus-menerus memberikan literasi terkait gejala penyakit ini ke masyarakat luas. Termasuk juga tenaga kesehatan hingga level puskesmas. Bahkan juga kepada kelompok-kelompok rawan seperti pasangan sesama jenis (gay) hingga pekerja seksual.

Virus cacar monyet menular dari satu orang ke orang lain melalui kontak erat berupa air liur, darah, hingga ruam yang ada dalam tubuh seseorang yang terinfeksi. Masa inkubasi cacar monyet biasanya dari 6 hingga 13 hari.

Dari informasi yang beredar, kebanyakan pasien cacar monyet, terutama di Inggris dan Eropa, merupakan pria yang menjalin hubungan sesama jenis dan biseksual. Dicky menyebut, monkeypox tidak menular melalui sperma laki-laki. Tapi bisa jadi melalui air liur hingga ruam yang bisa saja terjadi pada pasangan sesama jenis dan hubungan seksual secara bebas lainnya.

Konsep one health, pendekatan alam, manusia dan satwa penting untuk mencegah penyakit menular. Foto: Shutterstock

Perkuat Pendekatan One Health

Selain itu, lanjut Dicky pendekatan one health penting untuk antisipasi kasus monkeypox. Pendekatan one health adalah pendekatan harmonisasi kesehatan antara manusia hewan dan lingkungan.

“Kita mulai harus mengimplementasikan surveillance manusia, hewan dan penataan lingkungan,” imbuhnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes dr. Maxi Rein Rondonuwu mengungkapkan, sejak muncul monkeypox di berbagai negara Kemenkes telah melalukan surveillance aktif di semua pintu masuk negara, utamanya di bandara dan pelabuhan laut.

“Deteksi dini di bandara oleh KKP. Terutama untuk PPLN dari negara yang terkonfirmasi terdeteksi monkeypox, seperti cek suhu, memeriksa gejala monkeypox,” katanya.

Maxi menambahkan, Kemenkes juga melakukan surveillance ketat menjangkau komunitas kelompok gay melalui kerja sama dengan berbagai organisasi komunitas dan LSM. “Sesuai data kasus yang paling banyak di dunia pada kelompok gay maka kami lakukan surveillance ketat,” ucapnya.

Selain itu, ia juga menyatakan bahwa Kemenkes tengah melakukan penyiapan kapasitas laboratorium pemeriksaan dan rujukan.

Ia mengimbau, agar masyarakat tetap menjalankan protokol kesehatan, seperti mencuci tangan, menghindari kontak dengan orang dengan gejala monkeypox. Selain itu, segera melaporkan ke petugas kesehatan bila memiliki gejala penyakit ini.

Adapun gejala penyakit monkeypox yaitu demam, kelainan pada kulut seperti bintik-bintik merah, vesikel berisi cairan atau nanah, serta terjadi pembengkakan kelenjar getah bening pada leher dan selakangan.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/monkeypox-meluas-ke-75-negara-awasi-ketat-pintu-masuk-indonesia/feed/ 0
Masker Proteksi Dari Covid-19 dan Penyakit Menular Lain Lewat Udara https://www.greeners.co/berita/masker-proteksi-dari-covid-19-dan-penyakit-menular-lain-lewat-udara/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=masker-proteksi-dari-covid-19-dan-penyakit-menular-lain-lewat-udara https://www.greeners.co/berita/masker-proteksi-dari-covid-19-dan-penyakit-menular-lain-lewat-udara/#respond Sat, 21 May 2022 05:37:59 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=36234 Jakarta (Greeners) – Kebijakan pelonggaran aturan melepas masker saat berada di luar ruangan atau outdoor jangan disikapi gegabah. Selain masih dalam status pandemi, penggunaan masker bukan saja melindungi dari Covid-19, […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kebijakan pelonggaran aturan melepas masker saat berada di luar ruangan atau outdoor jangan disikapi gegabah. Selain masih dalam status pandemi, penggunaan masker bukan saja melindungi dari Covid-19, tapi juga potensi penyakit lain yang ditularkan lewat udara.

Pencegahan melalui penggunaan masker juga perlu masyarakat barengi dengan perilaku hidup sehat dan bersih.

Saat ini kenaikan kasus justru kembali terjadi di beberapa negara dunia, seperti Korea Utara hingga China. Merebaknya Covid-19 di berbagai negara perlu Indonesia waspadai, utamanya varian baru yang berpotensi menimbulkan peningkatan kasus.

Ahli Kesehatan Lingkungan dan Epidemiolog Griffith University Australia Dicky Budiman mengatakan, masker dan vaksin merupakan dua kombinasi yang efektif dalam menekan penyebaran Covid-19.

Keduanya menjadi penting dan ada upaya perilaku hidup bersih dan sehat, seperti kebiasaan mencuci tangan.

“Kita tahu karena status vaksin, cakupan vaksinasi bukanlah tombol ajaib on atau off dari pandemi. Perilaku hidup sehat dan diikuti pemakaian masker untuk mencegah ini jauh lebih penting,” katanya kepada Greeners, Sabtu (21/5).

Penggunaan Masker Proteksi dari Penyakit Menular Lewat Udara

Selain itu, penggunaan masker tidak saja sebagai penghalau virus Covid-19. Tapi terbukti mampu melindungi dari potensi penyakit infeksi yang menular melalui udara. Dalam dua tahun terakhir, sambung Dicky tren kasus infeksi penyakit menular melalui pernapasan menurun. Hal ini seiring banyaknya masyarakat yang menggunakan masker.

“Sebab masker mampu mengurangi paparan patogen di udara. Maka kita melihat semakin banyak masyarakat menggunakan masker maka akan semakin terhindarkan dari penyakit-penyakit ini,” imbuhnya.

Di samping itu, hal yang tak kalah penting yakni memastikan perbaikan kualitas udara. Caranya dengan memastikan ventilasi dan sirkulasi udara yang baik di ruang terbuka sebelum akhirnya memutuskan membuka masker. Termasuk, sambung dia tak berada di tengah kerumunan.

“Meskipun berada di luar ruangan, kita harus lihat sirkulasi udara tempat itu harus bagus. Artinya, tidak serta merta di luar ruangan itu boleh tidak memakai masker,” tegasnya.

Pemakaian masker hendaknya tidak bersifat diskriminatif. Kelompok dewasa dan rentan harus memahami pentingnya penggunaan masker.

Beberapa negara yang mulai melonggarkan kebijakan penggunaaan masker telah memiliki cakupan vaksinasi tiga dosis mencapai 70 % dari populasi.

Bijak Gunakan Masker Sekali Pakai untuk Lindungi Lingkungan

Penggunaan masker, utamanya masker sekali pakai di satu sisi bisa melindungi diri dari paparan virus. Akan tetapi di sisi lain menimbulkan pencemaran lingkungan.

Senior Campaign ExecutiveWaste4Change Tantin Yasmine menyatakan, jumlah masker sekali pakai turut berkontribusi terhadap sampah di Indonesia. Setiap harinya ada sekitar 150 juta masker sekali. Membuang masker sembarangan akan mengganggu habitat hewan di alam.

Menurut Tantin, butuh kebijakan dalam menggunakan dan mengelola masker itu sendiri. “Jadi bukan masalahnya pada upaya kita mencegah Covid-19 dengan masker, tapi bagaimana cara kita bijak setelah menggunakan masker itu. Misalnya dibiarkan begitu saja atau dikelola dengan baik,” ungkapnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo telah mengumumkan kebijakan terbaru tentang penggunaan masker. Jokowi izinkan lepas masker ketika beraktivitas di ruangan terbuka dan tidak padat orang.

Akan tetapi, saat berada di dalam ruangan dan transportasi umum, masker tetap harus masyarakat gunakan. Lansia dan penderita komorbid juga harus tetap memakai masker saat beraktivitas. Demikian juga bagi masyarakat yang mengalami gejala batuk dan pilek.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/masker-proteksi-dari-covid-19-dan-penyakit-menular-lain-lewat-udara/feed/ 0
Waspadai Penularan Penyakit Mulut dan Kuku ke Satwa Liar di Alam https://www.greeners.co/berita/waspadai-penularan-penyakit-mulut-dan-kuku-ke-satwa-liar-di-alam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=waspadai-penularan-penyakit-mulut-dan-kuku-ke-satwa-liar-di-alam https://www.greeners.co/berita/waspadai-penularan-penyakit-mulut-dan-kuku-ke-satwa-liar-di-alam/#respond Fri, 20 May 2022 05:25:17 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=36225 Jakarta (Greeners) – Penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang hewan ternak di Indonesia mengancam keberlanjutan ribuan hewan ternak di Indonesia. Penyakit ini tak sekadar berimbas pada sektor ekonomi, tapi […]]]>

Jakarta (Greeners) – Penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang hewan ternak di Indonesia mengancam keberlanjutan ribuan hewan ternak di Indonesia. Penyakit ini tak sekadar berimbas pada sektor ekonomi, tapi juga tapi juga mengancam keberlanjutan keanekaragaman satwa liar di alam.

Pertama kali kasus PMK ditemukan di Gresik, Jawa Timur pada 28 April 2022. Hingga saat ini kasusnya terus meningkat ke berbagai daerah lainnya. Penyakit ini dikenal sebagai foot and mounth disease (FMD). Penyakit ini merupakan jenis penyakit karena virus tipe A dari keluarga Picornaviridae, genus Aphthovirus yakni Aphtae epizooticae.

PMK ditandai dengan adanya pembentukan lepuh dan erosi pada bagian mulut, lidah, nostril, gusi, puting dan di kulit sekitar kuku.

Fungsional Medik Veteriner Ahli Utama, Direktorat Kesehatan Hewan, Kementan, Fadjar Sumping mengatakan PMK memiliki angka kesakitan hingga 100 persen. Lalu angka kematian yang tinggi khususnya pada hewan yang masih muda. Meski tingkat kematiannya cukup rendah, yakni satu hingga lima persen, tapi tingkat penularan PMK cukup tinggi. Bahkan, berpotensi menular ke satwa liar.

“Karena penularannya cukup tinggi. Tak hanya hewan ternak seperti sapi, kerbau dan kambing, tapi juga hewan berkuku belah termasuk babi, rusa hingga gajah,” katanya kepada Greeners, Jumat (20/5).

Potensi Penularan Penyakit Mulut dan Kuku Terhadap Satwa Liar

Melihat kenyataan tersebut, ia mengatakan bahwa PMK masih sangat berpotensi menular pada satwa liar. Imbasnya, sambung dia akan berdampak pada penurunan populasi karena kematian dan penurunan reproduksi.

Selain itu ia pun khawatir adanya ancaman lingkungan sebagai sumber infeksi ke hewan rentan lainnya. “Karena virus tersebut dapat bertahan lama di lingkungan maka bisa menjadikan sumber infeksi pada hewan lainnya. Misalnya pada rumput di padang gembala,” ungkapnya.

Hal ini lanjutnya akan menyulitkan upaya pengendalian dan pemberantasan PMK. “Cemaran dari hewan yang terkena PMK, baik virus dalam feses, urin, leleran dan darah ke lingkungan perlu dicegah. Caranya baik melalui pembatasan lalu lintas ternak yang sakit hingga pengawasan dalam pemotongan hewan,” paparnya.

Ia juga menyebut bahwa hewan ternak juga wajib mendapat vaksinasi. Selain itu, ia mengingatkan kembali pada para peternak, untuk tidak memberikan susu mentah pada anak sapi. Hal ini untuk mencegah penularan PMK.

Ancaman Kepunahan Satwa Liar dan Terganggunya Rantai Makanan

Pakar Lingkungan dari Universitas Indonesia Mahawan Karuanisa menyatakan, penyakit ini akan sangat mengancam kepunahan dari hewan liar. “Dikhawatirkan kalau hewan-hewan liar tersebut sudah sangat langka. Selain meningkatkan angka kematian, bisa juga pada saat bersamaan akan menurunkan angka kelahiran, karena hewannya pada sakit,” tuturnya.

Bila kepunahan berlanjut, sambung Mahawan maka akan berdampak pada terganggunya rantai makanan hewan predator lainnya.

Dalam webinar bertema “Penyakit Mulut dan Kuku Hewan” Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko mendukung pengendalikan penularan penyakit mulut dan kuku. Upaya ini mulai dari deteksi, studi epidemiologi, serta analisis molekuler untuk mengisolasi dan melakukan karakterisasi virus penyebab penyakit mulut dan kuku.

BRIN juga membantu mengidentifikasi vaksin yang kompatibel dari virus yang beredar. Selain itu juga mengembangkan metode deteksi cepat, serta mengembangkan vaksin untuk menanggulangi penularan penyakit mulut dan kuku.

Badan Kesehatan Hewan Dunia atau Office des Internationale Epizootis memasukkan penyakit mulut dan kuku dalam daftar penyakit yang wajib semua negara di dunia laporkan.

Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN Ni Luh P Indi Dharmasanti mengatakan, perlu mewaspadai arus transportasi hewan karena bisa membawa penularan penyakit mulut dan kuku.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/waspadai-penularan-penyakit-mulut-dan-kuku-ke-satwa-liar-di-alam/feed/ 0
BRIN Siap Teliti Penyebab Hepatitis Akut Misterius https://www.greeners.co/berita/brin-siap-teliti-penyebab-hepatitis-akut-misterius/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=brin-siap-teliti-penyebab-hepatitis-akut-misterius https://www.greeners.co/berita/brin-siap-teliti-penyebab-hepatitis-akut-misterius/#respond Sat, 14 May 2022 06:14:10 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=36162 Jakarta (Greeners) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) akan mengandeng sejumlah stakeholder terkait untuk terlibat meneliti penyebab hepatitis akut misterius. Ancaman penyakit yang mengancam anak-anak ini menjadi kecemasan dunia […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) akan mengandeng sejumlah stakeholder terkait untuk terlibat meneliti penyebab hepatitis akut misterius. Ancaman penyakit yang mengancam anak-anak ini menjadi kecemasan dunia termasuk juga Indonesia.

Kepala Pusat Riset Kedokteran Preklinis dan Klinis BRIN, Harimat Hendarwan menyatakan, sampai saat ini belum diketahui dengan pasti penyebab dari hepatitis akut. Akan tetapi, salah satu hipotesis yang sedang peneliti telusuri adalah adanya keterkaitan antara adenovirus dengan kejadian ini.

Adenovirus merupakan jenis virus yang dapat menyebabkan sakit dari ringan sampai berat (severe). Secara umum dikenal sebagai patogen yang biasanya menyebabkan infeksi yang self-limited.

“Adenovirus menyebar dari orang ke orang dan lebih umum menyebabkan penyakit saluran pernafasan. Walaupun tergantung pada jenisnya, dapat juga menyebabkan penyakit lain seperti gastroenteritis (peradangan pada lambung atau usus halus), konjungtivitis (mata merah), sistitis (infeksi kandung kemih) dan bisa juga menyebabkan gangguan saraf (neurological disease),” katanya dalam Sapa Media BRIN bertajuk “Mengenal Lebih Jauh Hepatitis Akut”, baru-baru ini.

Hingga 10 Mei 2022, setidaknya telah muncul sebanyak 348 kasus probable hepatitis akut unknown origin yang 20 negara laporkan. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan surat edaran tentang kewaspadaan terhadap penemuan kasus hepatitis akut yang tidak diketahui etiologinya ini.

Penyebaran virus ini juga terjadi di Indonesia, hingga 30 April 2022 telah tercatat 15 kasus diduga terjangkit hepatitis akut. Hingga pada 9 Mei 2022, terdapat 5 kasus kematian karena dugaan akibat hepatitis akut.

Beberapa negara yang juga melaporkan kejadian dugaan hepatitis akut misterius ini antara lain Jepang, Kanada, Singapura dan Indonesia.

Waspadai Pola Penularan Penyakit

Harimat juga menyatakan, adenovirus sering menular dari orang ke orang dengan menyentuh permukaan yang terkontaminasi, melalui jalur respirasi.

“Berdasarkan hal tersebut, maka cara yang efektif untuk meminimalisir penyebaran adenovirus adalah mempraktekan higiene tangan dan respirasi, serta melakukan edukasi mencuci tangan pada anak,” paparnya.

Selain itu perlu menjaga jarak dengan orang sakit batuk dan bersin, serta mengajarkan anak cara batuk dan bersin yang benar. Anak-anak yang sedang sakit sebaiknya tinggal di rumah sampai gejalanya hilang dan sehat untuk bisa kembali ke sekolah.

Selama ini, sambung dia terdapat lima jenis virus hepatitis utama yakni tipe A, B, C, D dan E. Kelima jenis virus ini mendapat perhatian besar karena berpengaruh terhadap beban penyakit dan kematian.

Peneliti Kelompok Riset Hepatitis, Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman, Korri El Khobar menjelaskan, deteksi virus penyebab hepatitis dapat dilakukan secara serologi dan molekuler.

“Deteksi serologi dilakukan untuk menentukan apakah seseorang telah atau pernah terinfeksi dengan cara mendeteksi antibodi spesifik terhadap virus,” kata Korri.

Menurut Korri, deteksi molekuler ini untuk mengkonfirmasi diagnosis infeksi virus dengan cara mendeteksi materi genetik virus. Hasil positif dari deteksi molekuler dapat dilanjutkan dengan proses sequencing untuk mendapatkan sekuens virus tersebut.

Butuh Penelitian Lanjutan dan Cepat Terkait Hepatitis Akut Misterius

Peneliti Pusat Riset Biomedis Fitriana mengatakan, penegakan diagnosis hepatitis akut unknown hendaknya dilakukan secara seksama dengan mempertimbangkan penyebabnya.

“Pemeriksaan biokimia akan memberi andil dalam penelusuran etiologi dan mengubah unknown menjadi known,” imbuhnya.

Kepala Organisasi Riset Kesehatan, Ni Luh P. Indi Dharmayanti memastikan BRIN akan berkolaborasi dengan stakeholder terkait, seperti Kemenkes, perguruan tinggi dan lembaga riset lain untuk merespons kejadian ini.

BRIN akan menganalisis molekuler dan diversitas genetik penyebab hepatitis akut yang tidak diketahui penyebabnya. Selain itu whole genome sequencing for understanding Hepatitis Acute epidemiology and phenotypes, metagenomics pada darah dan jaringan serta pengembangan perangkat diagnostik.

Selain itu, juga riset deteksi dini dan respons cepat terhadap penyakit hepatik akut. Kemudian eksplorasi dan pengembangan bahan baku obat dan obat tradisional untuk hepatoprotektor. Hingga riset untuk menghambat replikasi virus.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/brin-siap-teliti-penyebab-hepatitis-akut-misterius/feed/ 0
Hidup Selaras dengan Alam Kunci Pencegahan Penyakit Menular https://www.greeners.co/berita/hidup-selaras-dengan-alam-kunci-pencegahan-penyakit-menular/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hidup-selaras-dengan-alam-kunci-pencegahan-penyakit-menular https://www.greeners.co/berita/hidup-selaras-dengan-alam-kunci-pencegahan-penyakit-menular/#respond Wed, 29 Dec 2021 07:18:35 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=34843 Jakarta (Greeners) – Berbagai penyakit menular yang hingga kini terjadi menandakan ada perilaku yang keliru antara manusia dengan hewan dan alam sekitarnya. Keseimbangan hidup antara manusia, hewan, lingkungan dan semesta […]]]>

Jakarta (Greeners) – Berbagai penyakit menular yang hingga kini terjadi menandakan ada perilaku yang keliru antara manusia dengan hewan dan alam sekitarnya. Keseimbangan hidup antara manusia, hewan, lingkungan dan semesta melalui one health harus menjadi pilihan terbaik.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan IPB University Prof. Srihadi Agungpriyono mengatakan, kolaborasi antar disiplin ilmu dalam konsep one health menjadi kunci penting dalam mengantisipasi sebaran penyakit penular. Penyakit ini bisa menular antarmanusia maupun dari hewan ke manusia.

“Keseimbangan antara manusia, hewan, lingkungan dan semesta menjadi faktor utama dalam menciptakan kesehatan masyarakat sebuah negara bahkan dunia atau global health,” katanya kepada Greeners, di Jakarta, Selasa (29/12).

Menurutnya, secara umum dalam satu kesatuan kehidupan, ada manusia, hewan, tumbuhan dengan lingkungannya termasuk semesta. Dalam kehidupan normal harus saling mendukung satu sama lain. Keseimbangan ekosistem itu menjadi hal yang sangat penting.

“Jika terjadi gangguan terhadap salah satu komponen ini tentu akan berpengaruh pada yang lainnya. Seperti banjir akan berpengaruh pada manusia, pada hewan, sebaliknya juga begitu. Misalnya manusia membuka hutan, tentunya mengurangi populasi pohon, membuang pestisida dan sebagainya tentu dalam tanda kutip akan mengubah kondisi alam,” paparnya.

Pada awalnya, kata Srihadi, ilmuwan berkembang dengan ego keilmuannya masing-masing. Meski sama-sama memiliki tujuan kehidupan yang lebih baik. Namun secara tidak sadar para ahli telah melakukan aksi-aksi tanpa ada saling kontrol dari bidang keilmuan lainnya.

Di era globalisasi, lalu lintas manusia, hewan hingga barang dengan mudah keluar masuk ke setiap negara. Kondisi itu, secara tidak langsung membuka lalu lintas penyakit menular. Penyebarannya bisa melalui manusia ataupun hewan seperti SARS, MERS, H1N1 dan Covid-19.

Tanpa One Health, Penyakit Menular dan Pandemi Akan Berulang

Srihadi meyakini akan ada penyakit menular lain dan bisa menjadi pandemi seperti yang terjadi sekarang. Namun hal itu tentunya bisa diantisipasi dengan kolaborasi dengan berbagai ilmu. Semua negara pun harus mengimplementasikan one health.

“Penyakit seperti ini (penyakit menular, virus dan lain-lain) tidak akan berhenti hanya sampai saat ini. Pasti akan ada lagi dan lagi di kemudian hari. Tidak bisa dokter yang berperang sendiri,” imbuhnya.

Ia mencontohkan, ketika ada upaya untuk menangani penularan penyakit dari hewan ke manusia, ada sebagian kelompok yang menganggap hewan tersebut bagian dari keluarganya. “Maka di sini terus dengungkan konsep one health,” imbuhnya.

Menurutnya, one health ini bukan hal baru. Sejak zaman dahulu banyak yang ingin pemecahan masalah tidak lagi terpilah. Sejak marak penularan SARS, MERS, flu babi, flu burung dan lain-lain sampai saat ini Covid-19, Perserikatan Bangsa-Bangsa memformalkan istilah itu.

Oleh sebab itu, semua negara harus mengimplementasikan konsep one health jika ingin dunia kembali sehat. “Maka global health atau one health menjadi satu kebijakan sebagai gerakan bersama-sama,” ucapnya.

Semua negara harus melakukan konsep one health. Hal ini dapat mencegah terulangnya pandemi. Foto: Shutterstock

One Health Juga Menempatkan Pentingnya Menjaga Lingkungan

Dalam dunia pendidikan, lanjut Srihadi, sudah saatnya one health dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan. Agar setiap peserta didik kelak berkolaborasi dalam penanganan masalah.

“Jadi bagaimana agar one health ini bisa diaplikasikan, masukan one health ini ke dalam kurikulum,” katanya.

Srihadi juga menekankan pentingnya menjaga lingkungan planet atau planetary health. Kebocoran ozon karena kerusakan lingkungan memiliki dampak pada kesehatan manusia, hewan dan tumbuhan.

Oleh sebab itu, konsep planetary health perlu masuk pula pada kurikulum kedokteran. Jika lingkungan berubah bisa terjadi mutasi virus hingga kematian hewan.

Penulis : Sol

]]>
https://www.greeners.co/berita/hidup-selaras-dengan-alam-kunci-pencegahan-penyakit-menular/feed/ 0
Ayo, Kenali dan Cegah Rabies! https://www.greeners.co/gaya-hidup/ayo-kenali-dan-cegah-rabies/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ayo-kenali-dan-cegah-rabies https://www.greeners.co/gaya-hidup/ayo-kenali-dan-cegah-rabies/#respond Sun, 16 Apr 2017 06:12:14 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=16731 Rabies atau penyakit anjing gila merupakan infeksi akut pada susunan saraf pusat (otak) yang disebabkan oleh Lyssavirus. Belum ditemukan obat untuk penderita penyakit ini.]]>

(Greeners) – Setiap tahunnya, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian berupaya untuk memberantas rabies di Bali. Hal ini dilakukan melalui penyelenggaraan vaksinasi anjing massal. Tahun ini, pelaksanaan vaksinasi anjing massal di Bali akan dimulai pada akhir April hingga Juli mendatang.

Rabies atau penyakit anjing gila merupakan infeksi akut pada susunan saraf pusat (otak) yang disebabkan oleh Lyssavirus. Gangguan kesehatan ini termasuk ke dalam golongan zoonosis, yaitu infeksi atau penyakit yang ditularkan oleh hewan ke manusia. Hewan yang diketahui dapat menularkan rabies antara lain kera, musang, kucing dan anjing, baik liar maupun domestik.

Alasan Provinsi Bali dijadikan prioritas penanggulangan rabies adalah atas pertimbangan tingkat penularannya yang tinggi sejak tahun 2008. Hal ini karena populasi anjing di Bali sangat tinggi. Dari data tahun 2016 saja, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Bali menargetkan sebanyak 400.000 ekor anjing yang divaksinasi. Sementara untuk tahun ini, jumlah penerima vaksin yang disasar adalah sebanyak 550.000 ekor anjing.

Sebelumnya provinsi Bali merupakan provinsi bebas rabies. Namun dengan ditemukannya kasus rabies pada anjing di daerah Kedonganan dan manusia di Desa Ungasan, Jimbaran, Kabupaten Badung, pada bulan November 2008, Bali kemudian dinyatakan sebagai salah satu provinsi ke-24 di Indonesia yang tertular rabies.

Seperti yang telah disebutkan, rabies menyerang sistem saraf pusat. Oleh karena itu, hewan yang terjangkit virus rabies dapat dikenali dari perilakunya. Umumnya, terdapat 2 gejala rabies yang dapat dilihat pada anjing, yaitu menjadi jinak (dumb rabies) atau ganas (agressive rabies).

Anjing yang menjadi jinak akibat rabies sebenarnya sedang mengalami kelumpuhan (paralisis). Gejalanya dapat dilihat dari mulutnya akan keluar liur yang berlebihan hingga tampak seperti busa. Anjing juga akan tampak bingung, sakit atau lesu.

Sama dengan dumb rabies, anjing dengan aggressive rabies juga mengeluarkan busa. Bedanya, perilakunya menjadi lebih agresif, cepat gelisah dan mudah marah. Saat merasa tidak nyaman, anjing tersebut akan menyerang sekitar dengan menggigit.

Tidak jauh berbeda dengan hewan, gejala yang ditunjukkan manusia jika tertular rabies juga menunjukkan perubahan perilaku. Pasien rabies menjadi hiperaktif atau seperti marah. Selain itu, penderita rabies juga akan merasa sangat sensitif terhadap air, sinar, suara dan angin yang meninggi.

Gejala-gejala tersebut diikuti dengan air liur dan air mata yang keluar secara berlebihan. Setelah beberapa hari, rabies dapat menyebabkan kejang-kejang dan kelumpuhan hingga kematian pada pasien akibat cardiac arrest (jantung berhenti).

Dikutip dari laman resmi WHO (www.who.int), hampir seluruh kasus infeksi rabies terhadap manusia disebabkan oleh anjing domestik melalui gigitan, cakaran atau air liur. Gejala awal rabies pada manusia ditandai dengan demam dan nyeri serta kesemutan yang menusuk atau terbakar di area luka. Setelah itu, virus menyebar ke sistem saraf pusat dan menyebabkan inflamasi atau peradangan yang fatal di otak dan sumsum tulang belakang.

Sebagai informasi, rabies merupakan masalah kesehatan masyarakat secara global, termasuk Indonesia. Berdasarkan Pusat Data Departemen Kesehatan Tahun 2014, jumlah kasus rabies pada manusia rata-rata per tahun di beberapa negara Asia, antara lain India dengan 20.000 kasus, Cina 2.500 kasus, Filipina 20.000 kasus, Vietnam 9.000 kasus, dan Indonesia 168 kasus.

Sampai saat ini, belum ditemukan obat atau cara untuk mengobati penderita rabies baik pada manusia maupun hewan. Oleh karena itu, sebagai langkah preventif untuk mengurangi jumlah penularan rabies, berikan vaksinasi baik kepada hewan peliharaan, dan hewan liar di sekitar rumah. Selain itu, lebih baik lagi jika kita juga melakukan vaksinasi rabies.

Untuk penanganannya, jika tergigit hewan penular rabies, pastikan untuk mencuci luka dengan air mengalir selama 10-15 menit. Setelah itu, pergilah ke Puskesmas atau Rumah Sakit yang telah ditunjuk sebagai Rabies Center untuk menerima penanganan lebih lanjut.

Penulis: Ayu Ratna Mutia

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/ayo-kenali-dan-cegah-rabies/feed/ 0
Penyebaran Virus Zika, Pemerintah Perlu Perketat Pengawasan Bandara dan Pelabuhan https://www.greeners.co/berita/penyebaran-virus-zika-pemerintah-perlu-perketat-pengawasan-bandara-dan-pelabuhan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=penyebaran-virus-zika-pemerintah-perlu-perketat-pengawasan-bandara-dan-pelabuhan https://www.greeners.co/berita/penyebaran-virus-zika-pemerintah-perlu-perketat-pengawasan-bandara-dan-pelabuhan/#respond Thu, 08 Sep 2016 07:42:46 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=14685 Untuk mengantisipasi penyebaran virus zika ke Indonesia, pemerintah perlu memperketat pengawasan terhadap setiap orang yang keluar dan masuk ke Indonesia, baik melalui bandara maupun pelabuhan.]]>

Jakarta (Greeners) – Kembali merebaknya kasus zika di Singapura membuat negara-negara di sekitarnya waspada termasuk Indonesia. Pemerintah Indonesia sendiri berencana mengeluarkan travel advisory bagi masyarakat yang ingin melakukan perjalanan ke luar negeri untuk mengantisipasi penyebaran virus zika ke Indonesia.

Atas langkah tersebut, Ifael Yerosias Mauleti, internis dari Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati, mengatakan bahwa pemerintah perlu memperketat pengawasan terhadap setiap orang yang keluar dan masuk ke Indonesia, baik melalui bandara maupun pelabuhan. Dengan demikian, pengawasan tidak hanya fokus pada setiap orang yang terdeteksi demam saat masuk ke Indonesia.

“Jika dari awal kita sudah data dan awasi. Kita sudah bisa pegang dia (orang yang terdeteksi demam) kalau ada apa-apa,” jelasnya, Jakarta, Rabu (07/09).

Pengawasan ini, lanjut Ifael, diperlukan tidak hanya untuk pencegahan namun juga untuk memunculkan pengetahuan bagi masyarakat mengenal penyakit yang disebabkan oleh virus zika dan cara penanganannya. “Virus zika ini dapat menyebar jika tidak ada arahan tepat. Untuk sebuah inkubasi dari bakterinya itu makan waktu delapan sampai sepuluh hari,” tambahnya.

BACA JUGA: Penyebaran Virus Zika, Kemenkes Berencana Keluarkan Travel Advisory

Meskipun saat ini belum terdapat kasus yang membuktikan penyakit zika endemis di Indonesia, Ifael mengkhawatirkan nyamuk Aedes aegypti yang menjadi pembawa virus penyakit demam berdarah dengue (DBD) dapat berevolusi menjadi pembawa virus zika.

“Memang agak sulit untuk mencegah orang digigit nyamuk, tapi selama ini langkah kita dalam memberantas nyamuk Aedes aegypti sudah tepat, harus dipertahankan dan ditingkatkan,” katanya.

Sebagai informasi, sebelumnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia akan segera mengeluarkan travel advisory atau saran bagi masyarakat yang ingin melakukan perjalanan ke luar negeri terkait bertambahnya kasus zika di Singapura, dari sebelumnya 41 kasus menjadi 82 kasus.

Menteri Kesehatan Nila Farid Moloek dalam keterangan resminya mengatakan bahwa Indonesia telah melakukan langkah-langkah pencegahan infeksi zika dengan menginstruksikan kepada Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) dan Dinas Kesehatan untuk melakukan pengecekan terhadap orang-orang yang datang ke Indonesia, khususnya dari negara yang terinfeksi zika seperti Brazil dan Singapura. Pengecekan yang dilakukan antara lain dengan pengambilan darah dan pemberian health alert card.

BACA JUGA: Kemenkes Pastikan Tidak Ada Virus Zika di Indonesia

“Singapura sudah terbukti ada peningkatan infeksi virus Zika, oleh karena itu kita harus waspada. Kita akan keluarkan travel advisory dan kita sedang komunikasikan dengan Kementerian Luar Negri,” jelasnya seperti dikutip dari keterangan resmi yang diterima oleh Greeners.

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kemenkes, dr. H. Mohamad Subuh, MPPM saat dihubungi oleh Greeners mengatakan, hingga saat ini di Indonesia belum ditemukan kasus positif zika. Adapun satu kasus yang pernah ditemukan di Jambi didasarkan dari laporan Lembaga Eijkman. Laporan ini dibuat setelah dilakukan penelitian oleh Eijkman ketika terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) Demam Berdarah Dengue di Jambi pada tahun 2014.

Terhadap temuan dari lembaga Eijkman tersebut, Subuh menegaskan bahwa hasil resmi mengenai penyebaran penyakit ini harus dikeluarkan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. “Perlu saya tegaskan kembali di Indonesia belum ditemukan atau dilaporkan adanya kasus positif zika pada manusia. Jadi hasil yang ditemukan oleh lembaga Eijkman itu adalah lembaga riset, sementara yang resmi adalah dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) kita.”

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/penyebaran-virus-zika-pemerintah-perlu-perketat-pengawasan-bandara-dan-pelabuhan/feed/ 0
Penyebaran Virus Zika, Kemenkes Berencana Keluarkan Travel Advisory https://www.greeners.co/berita/penyebaran-virus-zika-kemenkes-berencana-keluarkan-travel-advisory/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=penyebaran-virus-zika-kemenkes-berencana-keluarkan-travel-advisory https://www.greeners.co/berita/penyebaran-virus-zika-kemenkes-berencana-keluarkan-travel-advisory/#respond Fri, 02 Sep 2016 12:07:31 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=14654 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akan segera mengeluarkan travel advisory bagi masyarakat yang ingin melakukan perjalanan ke luar negeri terkait bertambahnya kasus zika di Singapura.]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia akan segera mengeluarkan travel advisory atau saran bagi masyarakat yang ingin melakukan perjalanan ke luar negeri terkait bertambahnya kasus zika di Singapura, dari sebelumnya 41 kasus menjadi 82 kasus.

Menteri Kesehatan Nila Farid Moloek dalam keterangan resminya mengatakan bahwa Indonesia telah melakukan langkah-langkah pencegahan infeksi zika dengan menginstruksikan kepada Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) dan Dinas Kesehatan untuk melakukan pengecekan terhadap orang-orang yang datang ke Indonesia, khususnya dari negara yang terinfeksi Zika seperti Brazil dan Singapura. Pengecekan yang dilakukan antara lain dengan pengambilan darah dan pemberian health alert card.

“Singapura sudah terbukti ada peningkatan infeksi virus Zika, oleh karena itu kita harus waspada. Kita akan keluarkan travel advisory dan kita sedang komunikasikan dengan Kementerian Luar Negri,” jelasnya seperti dikutip dari keterangan resmi yang diterima oleh Greeners, Jakarta, Kamis (01/09).

BACA JUGA: Kemenkes Pastikan Tidak Ada Virus Zika di Indonesia

Kasus penyebaran virus zika telah menyebar secara global ke berbagai negara di dunia. World Health Organization (WHO) bahkan memasukkan kasus ini ke dalam Public Health Emergency of International Concern (PHEIC). Saat ini, Indonesia telah meningkatkan kewaspadaan terkait kasus zika yang terjadi di Singapura.

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kemenkes, dr. H. Mohamad Subuh, MPPM saat dihubungi oleh Greeners mengatakan, hingga saat ini di Indonesia belum ditemukan kasus positif zika. Adapun satu kasus yang pernah ditemukan di Jambi didasarkan dari laporan Lembaga Eijkman. Laporan ini dibuat setelah dilakukan penelitian oleh Eijkman ketika terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) Demam Berdarah Dengue di Jambi pada tahun 2014.

BACA JUGA: Waspadai Penyebaran Virus Zika

Subuh menegaskan, temuan satu kasus positif zika di Jambi tersebut merupakan hasil dari lembaga Eijkman, bukan hasil resmi yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan. “Perlu saya tegaskan kembali di Indonesia belum ditemukan atau dilaporkan adanya kasus positif zika pada manusia. Jadi hasil yang ditemukan oleh lembaga Eijkman itu adalah lembaga riset, sementara yang resmi adalah dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) kita,” tegasnya.

Sebagai informasi, penularan virus zika bisa terjadi melalui nyamuk Aedes aegypty yang merupakan nyamuk dengan pola yang sama dalam menularkan Demam Berdarah Dengue (DBD). Oleh karena itu, masyarakat diminta waspada dan lebih berhati-hati ketika bepergian keluar negeri terutama bagi ibu hamil.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/penyebaran-virus-zika-kemenkes-berencana-keluarkan-travel-advisory/feed/ 0
Indonesia Masih Minim Perlindungan dan Penelitian Sumber Daya Genetik https://www.greeners.co/berita/indonesia-masih-minim-perlindungan-dan-penelitian-sumber-daya-genetik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=indonesia-masih-minim-perlindungan-dan-penelitian-sumber-daya-genetik https://www.greeners.co/berita/indonesia-masih-minim-perlindungan-dan-penelitian-sumber-daya-genetik/#respond Mon, 14 Mar 2016 06:15:13 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=13162 Kepala Pusat Keteknikan Lingkungan Hidup dan Kehutanan KLHK Indra Exploitasia Semiawan menyatakan selain perlindungan, praktik penelitian terhadap sumberdaya genetik di Indonesia masih sangat lemah.]]>

Jakarta (Greeners) – Sumber daya genetik menjadi isu utama dalam Rancangan Undang-Undang Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Ekosistem yang sekarang masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2016. RUU ini diharapkan mampu menjadi pengganti UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan draf revisi UU nomor 5 tahun 1990 perlu mencakup perlindungan terhadap sumber daya genetik dan pengetahuan tradisional sebagai bagian dari keanekaragaman hayati Indonesia.

Kepala Pusat Keteknikan Lingkungan Hidup dan Kehutanan KLHK Indra Exploitasia Semiawan menyatakan bahwa tingkatan keanekaragaman hayati yang ada di Indonesia harus dilihat mulai dari genetik, spesies, dan ekosistem. Sedangkan potensi sumber daya genetik Indonesia bisa ditemui dalam tumbuhan, satwa, mikroba dan pengetahuan tradisional yang tersebar dalam kawasan konservasi dan di luar kawasan konservasi.

Indra juga mengatakan bahwa selain perlindungan, praktik penelitian terhadap sumberdaya genetik di Indonesia masih sangat lemah. “Contohnya kayak virus yang ditemukan di burung liar, virus H5N1. Kalau ada penelitiannya sebenarnya bisa dijadikan vaksin flu burung. Mestinya kan kita yang bisa mengembangkan vaksinnya,” kata Indra kepada Greners, Jakarta, Minggu (13/03).

Lebih lanjut Indra menjelaskan, jika virus H5N1 tersebut dibawa oleh peneliti asing ke luar dari Indonesia dan mereka berhasil mengembangkan virus tersebut dengan gratis serta merasakan manfaat virus H5N1 yang telah menjadi vaksin, kemudian Indonesia mengimpor virus itu kembali untuk digunakan di dalam negeri. Maka, hal tersebut sebenarnya sudah bisa dikategorikan sebagai biopiracy atau pencurian sumber daya genetik.

Sama seperti kasus buah merah dari papua. Dengan pengetahuan masyarakat tradisional Papua, minyak dari buah merah bisa menjadi anti oksidan bagi tubuh manusia dan memiliki harga yang cukup mahal di pasar luar negri. Di sini, terangnya lagi, peran penting penguatan regulasi untuk melindungi pengetahuan tradisional terhadap buah merah harus diperkuat.

“Pengetahuan ini harus kita lindungi. Kalau pengetahuan ini diketahui asing, dibawa keluar dan dipatenkan, maka akan ‘kebobolan’ (kecurian, Red.) lagi. Nah, dalam revisi uu nomor 5 tahun 1990, kita mengatur itu,” tambahnya.

Lebih jauh, ia mengatakan bahwa dalam Global Health Security Agenda, masih sedikit terpampang data penyebaran penyakit atau virus yang diakibatkan dari habitat alam atau satwa liar. Indonesia sendiri masih minim penelitian akan hal tersebut sehingga Indonesia tidak pernah mengetahui apa saja virus atau penyakit yang diidap oleh satwa liar.

“Kan ada satwa liar yang memang dia genuine-nya begitu. Tapi ketika dia keluar dari habitatnya, virus itu bisa bermutasi. Ini yang kita enggak punya datanya, yang kita punya datanya itu setelah terjadi penularan. Contohnya virus zika yang menyebar di luar negeri. Itu namanya kita sebut emerging infectious disease atau penyakit-penyakit infeksi yang baru. Ini sangat berbahaya,” katanya.

Selain itu, rusaknya habitat satwa liar turut mendukung penyebaran virus dari satwa liar yang masih belum diketahui oleh masyarakat. Seperti misalnya kasus virus H5N1 (flu burung). Pada tubuh burung, virus ini tidak bereaksi karena burung tersebut adalah carier atau pembawa virus. Namun, ketika virus tersebut pindah ke unggas, ditemukan banyak kasus kematian unggas akibat flu burung dan menjadi sangat berbahaya saat unggas yang terkena flu burung tersebut menularkannya pada manusia.

“Di Global Health Security Agenda ini menjadi perhatian serius. Amerika Selatan itu paling besar (kasus H5N1) karena kerusakan hutan tropis mereka juga tinggi ya,” imbuhnya.

Mengenai Global Health Security Agenda, Rahmat Fauzi dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan menyatakan, hingga saat ini yang cukup kuat menjadi acuan hanyalah undang-undang yang terkait dengan konservasi. Sedangkan untuk sumberdaya genetik berupa virus hanya mengandalkan Memorandum of Understanding (MoU) atau Peraturan Menteri. “Ini juga termasuk dengan penelitian tentang virus yang berpotensi ditularkan oleh satwa liar,” ujarnya.

Rahmat menjelaskan, banyak peneliti yang belum paham tentang mekanisme Material Transfer Agreement (MTA) saat meneliti mikroba yang juga termasuk kekayaan genetik. Saat berhasilkan mendapatkan temuan baru, penemuan itu juga tidak bisa langsung di patenkan atau memang tidak bisa dipatenkan oleh peneliti karena terhambat dengan perjanjian penggunaan dan dari luar negri.

Sebagai informasi, Indonesia akan menjadi ketua forum internasional Global Health Security Agenda (GHSA) 2016 menggantikan Finlandia. Forum internasional ini akan membicarakan kerja sama untuk mencegah penyakit menular meluas. Selain itu juga pertemuan ini akan membahas penelitian pemberantasan virus dan bioterorisme agar bisa disatupadukan dengan 40 negara lainnya. Indonesia sebagai ketua forum sekaligus representasi negara berkembang di Asia akan menyusun sikap menjelang pertemuan nanti.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/indonesia-masih-minim-perlindungan-dan-penelitian-sumber-daya-genetik/feed/ 0
Kemenkes Pastikan Tidak Ada Virus Zika di Indonesia https://www.greeners.co/berita/kemenkes-pastikan-tidak-ada-virus-zika-di-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kemenkes-pastikan-tidak-ada-virus-zika-di-indonesia https://www.greeners.co/berita/kemenkes-pastikan-tidak-ada-virus-zika-di-indonesia/#respond Sun, 31 Jan 2016 03:00:58 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=12705 Kementerian Kesehatan menyatakan kematian Inka Wardhana, pimpinan Louis Vuitton Indonesia, bukan disebabkan oleh virus Zika.]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Kesehatan menyampaikan klarifikasi terkait rumor kematian Inka Wardhana, pimpinan Louis Vuitton Indonesia. Pihak Kemenkes menyatakan bahwa kematian Inka bukan disebabkan oleh virus Zika.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan Oscar Primadi mengatakan bahwa perlu diketahui saat ini konfirmasi pemeriksaan virus Zika hanya bisa dilakukan di laboratiorium tertentu, yaitu Balitbangkes Kemenkes dan Lembaga Biomolekuler Eijkman.

“Sepanjang tahun 2016, tidak ada laporan hasil konfirmasi virus Zika dari kedua laboratorium tersebut,” tegasnya seperti dikutip dari keterangan resmi yang diterima oleh Greeners, Jakarta, Sabtu (30/01).

Selain itu, Kemenkes juga tetap mengimbau masyarakat agar dapat turut aktif melakukan pencegahan kemungkinan tertularnya virus Zika dengan menghindari gigitan nyamuk Aedes Aegypti, khususnya pemberantasan sarang nyamuk melalui 3M (menguras, menutup, mengubur). Masyarakat juga diminta untuk ikut melakukan pengawasan jentik nyamuk dan meningkatkan daya tahan tubuh melalui perilaku hidup bersih dan sehat.

Virus Zika sendiri adalah turunan atau keluarga dari Demam Berdarah Dengue (DBD). Gejalanya serupa namun lebih ringan karena tidak menyebabkan pendarahan seperti DBD. Pendarahan pada kasus DBD cenderung berakhir pada kematian, sedangkan Zika tidak cepat menyebabkan kematian, hanya kecacatan.

“Di musim hujan, virus ini memang perlu diwaspai. Biasanya penyakit ini ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti dan selalu meningkat kasusnya pada pertengahan musim penghujan sekitar Januari sampai Februari,” tandasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/kemenkes-pastikan-tidak-ada-virus-zika-di-indonesia/feed/ 0
Menkes: CTPS Mengurangi Resiko Penyakit Penyebab Kematian https://www.greeners.co/berita/menkes-ctps-mengurangi-resiko-penyakit-penyebab-kematian/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=menkes-ctps-mengurangi-resiko-penyakit-penyebab-kematian https://www.greeners.co/berita/menkes-ctps-mengurangi-resiko-penyakit-penyebab-kematian/#respond Tue, 20 Oct 2015 11:19:18 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11584 Jakarta (Greeners) – Setiap tahun, pada tanggal 15 Oktober, masyarakat dunia memperingati Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia (HCTPS). Untuk tahun 2015, tema yang diangkat adalah Tangan Bersih Pangkal Sehat. […]]]>

Jakarta (Greeners) – Setiap tahun, pada tanggal 15 Oktober, masyarakat dunia memperingati Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia (HCTPS). Untuk tahun 2015, tema yang diangkat adalah Tangan Bersih Pangkal Sehat.

Tema ini dipilih karena tangan adalah anggota badan yang banyak digunakan untuk melakuan berbagai kegiatan sehari-hari termasuk makan, minum, menyiapkan makanan, serta memberi makan anak atau bayi. Tangan yang selalu bersih dan sehat akan mencegah kita dari serangan berbagai penyakit, utamanya penyakit menular.

Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), menurut Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nila Moloek, adalah cara yang paling sederhana, mudah, murah dan bermanfaat untuk mencegah berbagai penyakit. Sebab, ada beberapa penyakit penyebab kematian yang dapat dicegah melalui perilaku cuci tangan dengan benar, seperti penyakit diare dan ISPA yang sering menjadi penyebab kematian anak-anak. Demikian juga penyakit hepatitis, typhus, dan flu burung.

“Perilaku mencuci tangan yang benar itu, ya, mencuci tangan dengan sabun. Kapan itu? Sebelum menyiapkan makanan, setiap kali tangan kotor, seperti setelah memegang uang, binatang, berkebun, setelah buang air besar, setelah menceboki bayi atau anak, setelah menggunakan pestisida atau insektisida, dan sebelum menyusui bayi,” jelasnya seperti dikutip dari keterangan resmi yang diterima oleh Greeners, Jakarta, Senin (19/10).

Sebagai informasi, Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, menunjukkan bahwa proporsi penduduk umur di atas 10 tahun yang berperilaku cuci tangan dengan benar di Indonesia meningkat dari 23,2 persen pada tahun 2007 menjadi 47,0 persen pada tahun 2013.

“Kita patut bangga bahwa berkat kerja keras bersama, sejak tahun 2008 hingga kini ada 25.184 desa/keluruhan dari 80.275 desa atau kelurahan di Tanah Air yang telah melaksanakan pendekatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Selain itu, ada sekitar 4.431 desa atau kelurahan di Indonesia yang telah mendeklarasikan Stop Buang Air Besar Sembarangan,” pungkasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/menkes-ctps-mengurangi-resiko-penyakit-penyebab-kematian/feed/ 0
Penderita MERS Bertambah, Pemerintah Belum Berlakukan Travel Warning https://www.greeners.co/berita/penderita-mers-bertambah-pemerintah-belum-berlakukan-travel-warning/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=penderita-mers-bertambah-pemerintah-belum-berlakukan-travel-warning https://www.greeners.co/berita/penderita-mers-bertambah-pemerintah-belum-berlakukan-travel-warning/#respond Fri, 19 Jun 2015 00:30:29 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=9827 Jakarta (Greeners) – Wabah virus Middle East Respiratory Syndrome coronavirus (MERS-CoV) kembali menyebar. Selain Arab Saudi, Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga mencatat bahwa virus yang menyerupai penyakit flu tersebut telah […]]]>

Jakarta (Greeners) – Wabah virus Middle East Respiratory Syndrome coronavirus (MERS-CoV) kembali menyebar. Selain Arab Saudi, Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga mencatat bahwa virus yang menyerupai penyakit flu tersebut telah menjangkiti 150 orang di Korea Selatan, dimana 16 orang diantaranya meninggal dunia dan 17 pasien dalam kondisi parah.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr. H.M Subuh, MPPM mengatakan, menurut data dari WHO, wabah penyebaran virus MERS semakin berkembang khususnya di daerah yang terjangkit.

“MERS ini adalah penyakit pernapasan yang disebabkan oleh coronavirus (satu dari kelompok virus Ribonucleic Acid atau RNA). Sejak dilaporkan pertama kali pada tahun 2012 di Saudi Arabia, kasus terjangkitnya virus ini mulai merebak ke negara-negara lain di Timur Tengah, Afrika, Eropa, Asia, dan Amerika Serikat. Sampai hari ini, jumlah kasus positif MERS secara kumulatif sejak September 2012 adalah 2.064 kasus, 150 diantaranya positif di Korea Selatan sedangkan sisanya terbanyak di jazirah Arab,” jelasnya saat dihubungi oleh Greeners melalui pesan singkat, Jakarta, Rabu (17/06).

Subuh menjelaskan bahwa karena kasus MERS tersebut masih bisa dikendalikan di tingkat negara, maka belum diperlukan adanya travel warning ke negara terjangkit. Penularan MERS juga masih bersifat terbatas, hanya pada kontak yang dekat dan lingkungan rumah sakit. Pemerintah Korea Selatan sendiri menjamin penularan bisa dilokalisir dan tidak menyebar di masyarakat umum, begitu juga penularan yang ada di Arab Saudi.

“Sampai saat ini belum ada pembatasan bepergian ke Korea Selatan dan juga ke Timur Tengah yang kasusnya lebih banyak. WHO sendiri juga tidak menyarankan screening khusus pada pintu masuk negara dan tidak merekomendasikan penerapan pembatasan perjalanan atau perdagangan apapun,” tambahnya.

Jelang Ramadhan 2015 ini, Subuh menyatakan bahwa Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengingatkan kepada warga Indonesia yang akan menjalankan ibadah umrah di Arab Saudi agar selalu meningkatkan kewaspadaan diri. Hal ini karena di negara tersebutlah ditengarai sebagai sumber pertama penyebaran MERS-CoV.

Gejala MERS, lanjut Subuh, hampir sama dengan flu, yaitu batuk, demam dan sesak napas. Untuk itu, ada lima anjuran Kementerian Kesehatan kepada masyarakat Indonesia yang akan bepergian ke Korea Selatan dan Arab Saudi dalam waktu dekat.

“Harus selalu rajin cuci tangan pakai sabun (CTPS) karena sudah terbukti kegiatan ini menurunkan penularan MERS. Lalu, MERS juga lebih banyak terjadi pada mereka yang mempunyai sakit kronik sebelumnya seperti paru, jantung, hipertensi, Diabetes Melitus. Maka, sebelum berangkat ke Korea Selatan atau Arab Saudi periksakan diri terlebih dahulu ke dokter di tanah air, cek keadaannya dan bawa obatnya,” tuturnya.

Selama di negara terjangkit, katanya lagi, batasi kontak dengan mereka yang memiliki gangguan pernapasan, seperti influenza dan batasi kunjungan ke klinik atau RS yang menangani MERS-CoV di negara tersebut.

“Sementara itu WHO juga memberikan saran bagi penderita diabetes, gagal ginjal, penyakit paru-paru kronis, dan orang dengan sistem kekebalan tubuh yang dianggap berisiko tinggi terhadap infeksi Mers-COV harus menghindari kontak dekat dengan hewan, terutama unta, ketika mengunjungi peternakan, pasar, atau daerah yang berpotensi tinggi menyebarkan virus. Mereka juga harus menghindari kencing unta dan jangan minum susu mentah unta atau makan daging yang belum dimasak dengan benar,” tutupnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/penderita-mers-bertambah-pemerintah-belum-berlakukan-travel-warning/feed/ 0