penutupan ICCEFE - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/penutupan-iccefe/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 18 May 2015 06:18:57 +0000 id hourly 1 Dua Tahun Putusan MK 35, AMAN Gelar Aksi Damai https://www.greeners.co/berita/dua-tahun-putusan-mk-35-aman-gelar-aksi-damai/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dua-tahun-putusan-mk-35-aman-gelar-aksi-damai https://www.greeners.co/berita/dua-tahun-putusan-mk-35-aman-gelar-aksi-damai/#respond Mon, 18 May 2015 06:14:06 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=9072 Jakarta (Greeners) – Pasca putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35/PUU-X/2012 (MK35) yang dibacakan dua tahun lalu, tepatnya tanggal 16 Mei 2013, belum ada implementasi konkrit yang dilakukan pemerintah. Untuk mengingatkan berbagai […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pasca putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35/PUU-X/2012 (MK35) yang dibacakan dua tahun lalu, tepatnya tanggal 16 Mei 2013, belum ada implementasi konkrit yang dilakukan pemerintah. Untuk mengingatkan berbagai pihak terhadap putusan ini, beberapa anggota dari Aliansi Masyarakat Adat Nasional (AMAN) melakukan aksi damai di acara Indonesia Climate Change Education & Expo (ICCEFE) yang sedang berlangsung di Assembly Hall Jakarta Convention Center, Jakarta, kemarin.

Fadel Achmad, campaigner untuk Petisi 35 dari AMAN mengatakan bahwa aksi membentangkan tiga spanduk yang berisi statement tentang putusan MK 35 tersebut untuk memperingati dua tahun putusan MK. Putusan yang menyatakan bahwa hutan adat ada di wilayah adat tersebut, belum diimplementasikan pemerintah hingga saat ini.

“Aksi tadi berkaitan dengan kondisi hutan adat yang ada di Indonesia dan berkaitan dengan isu climate change yang semakin tahun semakin membesar. Tapi, secara nyata, apa yang menjadi pergerakan dari isu perubahan iklim belum diimplementasikan dengan baik,” ujar Fadel saat ditemui Greeners usai menjalankan aksi, Minggu (17/05/2015).

Menurut pria yang akrab disapa Icay ini, pasca dua tahun putusan MK, masih ada masyarakat adat yang diusir dari wilayah adatnya. Ia menyontohkan, masyarakat Suku Anak Dalam, Orang Rimba di Jambi, yang harus terusir karena pemberian izin konsesi pasca putusan MK ternyata belum dicabut.

“Seharusnya, ketika ada putusan yang mempunyai kekuatan hukum tadi, pemerintah seharusnya melakukan negosiasi kontrak atau penghentian kontrak,” katanya.

Anggota AMAN dan beberapa perwakilan dari provinsi Papua membentangkan spanduk yang berisi pernyataan terkait putusan MK 35 yang belum diimplementasikan hingga saat ini. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Anggota AMAN dan beberapa perwakilan dari provinsi Papua membentangkan spanduk yang berisi pernyataan terkait putusan MK 35 yang belum diimplementasikan hingga saat ini. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Lebih lanjut Icay menjelaskan bahwa ada tiga statement kunci yang ingin disampaikan kepada pemerintah. Pertama, “2Th Putusan MK 35, Pemerintah Masih Setengah Hati”. Maksudnya, tidak ada tindakan nyata pasca putusan tersebut. Menurut Icay, pasca dibacakannya putusan tersebut kasus-kasus kriminalisasi terhadap masyarakat adat semakin banyak.

“Pemerintah melalui DPR mensahkan UU P3H (Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan), tapi kenapa semakin hari semakin banyak masyarakat adat yang dikriminalisasi oleh UU tadi?” tanyanya.

Statement kedua, yaitu “2Th Putusan MK, Hutan Adat Bukan Hutan Negara”. Pernyataan tersebut, terang Icay, untuk mengingatkan kembali pemerintah agar melaksanakan putusan MK 35. “Jangan cuma secara simbolis di iya-kan tapi praktiknya tidak pernah terjadi,” katanya.

Sementara statement terakhir, “2Th Putusan MK, Kembalikan Wilayah Adat Kami”, menurut Icay sudah sangat jelas. Pernyataan ini muncul karena masih banyak wilayah adat yang belum dikembalikan kepada masyarakat adat.

Icay lantas mengingatkan untuk tidak hanya melihat isu global warming namun melupakan hak masyarakat adat yang mempunyai kebutuhan untuk melaksanakan kegiatan spiritualitas, budaya, dan adat istiadatnya di hutan.

“Segera cabut izin (konsesi) itu. Mari kita bertindak nyata karena global warming semakin nyata,” pungkasnya.

Sebagai informasi, beberapa anggota AMAN melakukan aksi damai di hari terakhir acara ICCEFE 2015 yang tengah berlangsung di ruang Assembly Hall, Jakarta Convention Center, kemarin. Aksi ini berkaitan dengan dua tahun pasca pembacaan putusan MK 35 yang menyatakan bahwa hutan adat bukan hutan negara. Ketiga spanduk yang mereka bawa dibentangkan di depan panggung utama, booth Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, booth Asia Pulp Papper, dan booth Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat.

Penulis: Renty Hutahaean

]]>
https://www.greeners.co/berita/dua-tahun-putusan-mk-35-aman-gelar-aksi-damai/feed/ 0
4th ICCEFE Ditutup Meriah https://www.greeners.co/berita/4th-iccefe-ditutup-meriah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=4th-iccefe-ditutup-meriah https://www.greeners.co/berita/4th-iccefe-ditutup-meriah/#respond Mon, 05 May 2014 04:00:13 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=4474 Jakarta (Greeners) – Setelah empat hari digelar, perhelatan 4th Indonesia Climate Change Education Forum & Expo (ICCEFE) akhirnya ditutup dengan meriah pada Minggu (04/05), kemarin. Acara yang dilangsungkan pada tanggal 1-4 […]]]>

Jakarta (Greeners) – Setelah empat hari digelar, perhelatan 4th Indonesia Climate Change Education Forum & Expo (ICCEFE) akhirnya ditutup dengan meriah pada Minggu (04/05), kemarin. Acara yang dilangsungkan pada tanggal 1-4 Mei 2014 di Assembly Hall Jakarta Convention Center, Jakarta ini diselenggarakan oleh Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) bekerja sama dengan Cendikia Mulia Communication.

Dalam sambutan yang disampaikan oleh Koordinator Divisi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi DNPI, Amanda Katili Niode, menyatakan bahwa pelaksanaan ICCEFE ke empat berlangsung sukses. “Jumlah pengunjung membludak. Sejak dimulai pada hari pertama pembukaan hingga menjelang penutupan, jumlah pengunjung mencapai 81 ribu orang,” ujarnya saat menutup acara.

Ia juga menyampaikan rasa terimakasihnya atas usaha para peserta pameran yang dinilainya cukup atraktif dalam memberikan edukasi mengenai perubahan iklim dan dampaknya kepada pengunjung yang datang.

Seperti diketahui, “Peran Perempuan dan Pemuda dalam Solusi Perubahan Iklim” menjadi tema penyelenggaraan ICCEFE keempat tahun ini. Dalam menerjemahkan tema tersebut, para peserta pameran menggunakan berbagai media berbasis teknologi maupun manual serta permainan yang menarik, untuk mengedukasi pengunjung selama acara berlangsung. Kegiatan seperti pemutaran film, work shop, bedah buku hingga lomba debat mengenai perubahan iklim menyemarakkan acara yang berlangsung selama empat hari tersebut.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap upaya edukasi yang dilakukan, panitia pun menyampaikan penghargaan kepada mereka. Berikut kategori dan nama pemenang dari peserta pameran:
• Kategori Kementrian & Lembaga: juara 1. Kementrian Pekerjaan Umum, juara 2. Kementrian Lingkungan Hidup, juara 3. Kementrian Kesehatan;
• Kategori Swasta & BUMN: juara 1. PT PLN, juara 2. Pertamina, juara 3. SKK Migas;
• Kategori Badan Dunia & Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM): juara 1. OXFAM, juara 2. JICA, juara 3. Persatuan Kebun Binatang Seluruh Indonesia;
• Kategori Pemerintah Daerah: juara 1. Badan Lingkungan Hidup Provinsi Aceh, juara 2. Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta, juara 3. Badan Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Utara;
• Kategori Interaktif: Pusat Peragaan IPTEK
• Kategori Inspiratif: Djarum Foundation.

Sebelumnya, panitia juga mengadakan lomba debat tingkat perguruan tinggi yang diikuti oleh puluhan perguruan tinggi dan universitas di berbagai wilayah di Indonesia. Selama dua hari, para peserta debat dikarantina dan diseleksi di Jakarta, hingga akhirnya panitia memutuskan empat pemenang. Berikut para pemenang lomba debat antar perguruan tinggi:
• Peringkat 1: Universitas Bina Nusantara
• Peringkat 2: Universitas Padjajaran Bandung
• Peringkat 3: Universitas Indonesia
• Peringkat 4: Universitas Brawijaya Malang.

Penghargaan dan hadiah kepada seluruh pemenang lomba yang berpartisipasi dalam acara 4th ICCEFE diberikan oleh Utusan Khusus Presiden Indonesia untuk Perubahan Iklim dan Ketua Harian DNPI, Rachmat Witoelar.

(G08)

]]>
https://www.greeners.co/berita/4th-iccefe-ditutup-meriah/feed/ 0