penyakit jantung - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/penyakit-jantung/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Thu, 06 Apr 2023 04:04:58 +0000 id hourly 1 4 Dampak Buruk Konsumsi Gorengan yang Wajib Kamu Tahu! https://www.greeners.co/gaya-hidup/4-dampak-buruk-konsumsi-gorengan-yang-wajib-kamu-tahu/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=4-dampak-buruk-konsumsi-gorengan-yang-wajib-kamu-tahu https://www.greeners.co/gaya-hidup/4-dampak-buruk-konsumsi-gorengan-yang-wajib-kamu-tahu/#respond Thu, 06 Apr 2023 04:04:58 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=39590 Menjelang berbuka puasa, kita kerap menyajikan beragam menu, salah satunya gorengan. Menu ini menjadi favorit bagi banyak orang untuk menambah kenikmatan pada saat berbuka puasa. Banyak orang menyukai gorengan. Padahal […]]]>

Menjelang berbuka puasa, kita kerap menyajikan beragam menu, salah satunya gorengan. Menu ini menjadi favorit bagi banyak orang untuk menambah kenikmatan pada saat berbuka puasa.

Banyak orang menyukai gorengan. Padahal makanan ini cenderung tinggi kalori dan lemak trans. Konsumsi gorengan yang berlebihan dan terus menerus bisa berdampak negatif pada kesehatan kamu lho Sobat Greeners!

Patut kita sadari, menggoreng makanan dapat meningkatkan jumlah kalori yang kita konsumsi. Kira-kira apa saja dampak bagi kesehatan dari makan gorengan secara berlebih? Yuk simak penjelasannya di bawah ini!

1. Meningkatkan Risiko Penyakit

Mengonsumsi makanan yang digoreng dapat menyebabkan tekanan darah tinggi, kolesterol dan obesitas, yang merupakan faktor risiko penyakit jantung.

Faktanya, dua penelitian observasi besar menemukan semakin banyak orang makan gorengan, semakin besar risiko terkena penyakit jantung.

Satu studi menemukan wanita yang makan satu atau lebih porsi ikan goreng per minggu memiliki risiko gagal jantung 48 persen lebih tinggi, dibandingkan dengan mereka yang mengonsumsi satu sampai tiga porsi per bulan.

Di sisi lain, peningkatan asupan ikan panggang dikaitkan dengan risiko yang lebih rendah. Studi observasi lain menemukan bahwa diet tinggi gorengan berkaitan dengan risiko serangan jantung secara signifikan.

Sebuah studi pada tahun 2014 yang para peneliti di Harvard School of Public Health lakukan menemukan, konsumsi gorengan yang sering secara signifikan berkaitan dengan risiko pengembangan diabetes tipe dua.

2. Gorengan Memicu Kegemukan

Makanan yang digoreng mengandung lebih banyak kalori daripada makanan yang tidak digoreng. Oleh karena itu, mengonsumsinya dalam jumlah banyak dapat meningkatkan asupan kalori kamu secara signifikan.

Selain itu, penelitian menunjukkan lemak trans dalam makanan yang kita goreng dapat memainkan peran penting dalam penambahan berat badan, karena memengaruhi hormon yang mengatur nafsu makan dan penyimpanan lemak.

Maka dari itu, sebaiknya kita membatasi asupan gorengan saat berbuka puasa ya, Sobat Greeners. Jika kamu ingin mengonsumsi gorengan, kamu bisa membatasinya dan jangan lupa perbanyak makan buah dan sayur agar tetap seimbang.

3. Gorengan Miliki Kandungan Lemak Jahat

Lemak trans terbentuk ketika lemak tak jenuh mengalami proses yang disebut hidrogenasi.
Produsen makanan sering menghidrogenasi lemak menggunakan tekanan tinggi dan gas hidrogen untuk meningkatkan masa simpan dan stabilitasnya, tetapi hidrogenasi juga terjadi saat minyak dipanaskan hingga suhu yang sangat tinggi selama memasak.

Proses tersebut mengubah struktur kimia lemak, membuatnya sulit untuk tubuh kamu pecahkan yang pada akhirnya berdampak negatif bagi kesehatan.

Lemak trans dalam makanan ini dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat dalam tubuh (low density lipoprotein). Jadi, semakin banyak kamu mengonsumsi gorengan, maka semakin banyak kadar lemak jahat dalam tubuh.

Menurut studi yang The American Journal of Clinical Nutrition terbitkan tahun 1997, lemak trans berkaitan dengan peningkatan risiko banyak penyakit. Termasuk penyakit jantung, kanker, dan lainnya.

4. Kandungan Akrilamidanya Sebabkan kanker

Alasan lain untuk membatasi gorengan saat berbuka puasa yaitu gorengan memiliki potensi kandungan akrilamida. Ini adalah zat beracun yang dapat terbentuk dalam makanan selama memasak dengan suhu tinggi, seperti menggoreng atau memanggang.

Akrilamida terbentuk oleh reaksi kimia antara gula dan asam amino (asparagin). Makanan bertepung seperti kentang goreng seringkali mengandung konsentrasi akrilamida yang lebih tinggi. Konsentrasi akrilamida yang tinggi dalam tubuh dapat meningkatkan risiko berbagai jenis kanker.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

Sumber : Healthline

                  Halodoc

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/4-dampak-buruk-konsumsi-gorengan-yang-wajib-kamu-tahu/feed/ 0
Bersepeda Sehat Tanpa Khawatir Serangan Jantung https://www.greeners.co/berita/bersepeda-sehat-tanpa-khawatir-serangan-jantung/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bersepeda-sehat-tanpa-khawatir-serangan-jantung https://www.greeners.co/berita/bersepeda-sehat-tanpa-khawatir-serangan-jantung/#respond Sun, 06 Nov 2022 05:28:09 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=37887 Bandung (Greeners) – Belakangan olahraga bersepeda menjadi tren yang masyarakat gemari. Selain menjangkau segala usia, kegiatan ini berdampak positif terhadap kesehatan, termasuk mengurangi risiko penyakit mulai dari tekanan darah tinggi, […]]]>

Bandung (Greeners) – Belakangan olahraga bersepeda menjadi tren yang masyarakat gemari. Selain menjangkau segala usia, kegiatan ini berdampak positif terhadap kesehatan, termasuk mengurangi risiko penyakit mulai dari tekanan darah tinggi, stroke hingga serangan jantung.

Namun, aktivitas jantung sangat bergantung oleh intensitas kecepatan saat bersepeda. Dokter spesialis penyakit jantung Rien Afrianti menyebut, meski pesepeda tak mengalami keluhan atau gejala serangan jantung, para pesepeda harus tetap melakukan pemeriksaan kesehatan untuk memastikan keadaan jantung.

“Kita selalu patokannya adalah keluhan. Padahal orang-orang yang sering olahraga memiliki banyak pembuluh darah kolateral. Artinya, kalau ada sumbatan pembuluh darah di jantung badan kita akan mengkompensasi pembuluh darah kecil, kita merasa kuat dan baik-baik saja. Padahal itu tidak jaminan juga,” katanya dalam talkshow rangkaian acara Hello Bike Festival, Sabtu (5/11).

Ia mengungkap para pesepeda dapat melakukan tes elektrokardiogram atau EKG (tes untuk mengevaluasi kesehatan jantung, dan kenormalan detak jantung). Selain itu juga pemeriksaan yang menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi untuk menangkap gambaran struktur organ jantung.

Rien menyebut, saat bersepeda jantung berdetak lebih cepat karena tengah memompa darah terus menerus. Terutama saat ingin berkompetisi dengan teman-teman sepeda lainnya. “Padahal tubuh kita punya batasnya, ada risiko serangan jantung yang tak pernah kita sadari,” ujar dia.

Adapun denyut nadi maksimum yaitu 220 dikurangi dengan usia pesepeda. Denyut jantung selama kegiatan fisik sedang yaitu sekitar 50-69% dari denyut nadi maksimum. Sementara angka denyut nadi selama aktivitas fisik berat dapat meningkatkan hingga 70 hingga 85% dari denyut nadi maksimal.

Kenali Diri Saat Bersepeda

Ia menyebut, beberapa gejala serangan jantung yaitu dada terasa sesak, baik di bagian tengah maupun kiri. Biasanya juga diikuti dengan keringat dingin dan badan terasa lemas.

Rien juga merekomendasikan agar para pesepeda melakukan treadmill untuk mengetahui batas kemampuan diri.

“Saat bersepeda dan telah melampaui detak jantung maka harus istirahat, detak jantung berlebihan dapat merugikan tubuh kita sendiri,” jelasnya.

Banyak pesepeda yang telah divonis penyakit jantung yang akhirnya enggan berolahraga lagi. Rien menyatakan, bersepeda tetap diperbolehkan meski telah divonis penyakit jantung. “Empat hingga enam minggu setelah dinyatakan sembuh mereka boleh bersepeda, disesuaikan saja intensitasnya,” imbuhnya.

Sementara pesepeda senior Cucu Eman Haryanto mengungkapkan, pentingnya mengetahui kemampuan diri sebelum bersepeda. Sebelum melakukan touring, pesepeda pemula harus memastikan mempunyai basic berupa daya tahan.

Selanjutnya tinggal menaikkan speed-nya lalu latihan rutin terus menerus. “Ini penting, sebab banyak di antara teman-teman yang kecelakaan itu karena kurang kontrol. Kuncinya harus tahu kemampuan diri,” imbuhnya.

Lelaki yang akrab disapa Kang Encu ini menyatakan, demi keamanan dan kenyamanan pesepeda hendaknya harus memastikan kesesuaian setting sepeda dengan postur tubuh. Kemudian demi kesehatan jantung, Kang Encu menyebut gowes sepeda di jalan menanjak akan melatih kekuatan otot. Sedangkan untuk RPM datar akan lebih menyehatkan kesehatan jantung.

Talkshow yang ulas kesehatan jantung dalam olahraga. Foto: Greeners/Apriohansyah

Dorong Minat Pesepeda Pemula

Kegiatan bersepeda merupakan olahraga yang dapat siapa bisa ikuti, termasuk generasi muda yang masih pemula. Anissa Fitri Ramadhani dari Bike To Work (B2W) Bandung menyatakan, banyak sekali di antara para generasi muda yang minat dengan kegiatan bersepeda.

“Kita sangat welcome dengan para pemula. Tak peduli pakai sepeda brompton atau tidak, tetap kami terima,” ujar dia.

Ia memberikan tips agar para pesepeda pemula tak menempuh jarak yang jauh hingga puluhan kilometer. Tapi lebih ke jarak dekat di sekitaran rumah tapi sebagai kegiatan rutin.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/bersepeda-sehat-tanpa-khawatir-serangan-jantung/feed/ 0
Bersepeda Mampu Kurangi Risiko Penyakit Jantung Hingga 50 % https://www.greeners.co/berita/bersepeda-mampu-kurangi-risiko-penyakit-jantung-hingga-50/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bersepeda-mampu-kurangi-risiko-penyakit-jantung-hingga-50 https://www.greeners.co/berita/bersepeda-mampu-kurangi-risiko-penyakit-jantung-hingga-50/#respond Wed, 20 Jul 2022 06:06:43 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=36787 Jakarta (Greeners) – Kasus penyakit kardiovaskular, seperti jantung terus meningkat, bahkan menyebabkan kematian usia produktif di Indonesia. Aktivitas fisik seperti bersepeda bisa menekan risiko penyakit ini hingga 50 %. Berdasarkan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kasus penyakit kardiovaskular, seperti jantung terus meningkat, bahkan menyebabkan kematian usia produktif di Indonesia. Aktivitas fisik seperti bersepeda bisa menekan risiko penyakit ini hingga 50 %.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, prevalensi penyakit kardiovaskular di Indonesia 15 dari 1.000 orang penduduk. Artinya, atau saat ini terdapat 4,2 juta orang yang menderita penyakit kardiovaskular.

Data Riskesdas menunjukkan prevalensi penyakit kardiovaskular seperti hipertensi meningkat dari 25,8 % (2013) menjadi 34,1 % (2018), stroke 12,1 per mil (2013) menjadi 10,9 per mil (2018), penyakit jantung koroner tetap 1,5 % (2013-2018), penyakit gagal ginjal kronis, dari 0,2 % (2013) menjadi 0,38 % (2018).

Dokter Spesialis Jantung Reza Pramayudha mengatakan, kejadian penyakit kardiovaskular, terutama jantung makin sering kita jumpai. Ia menyebut, salah satunya karena tidak menjalankan pola hidup yang sehat seperti aktivitas fisik olahraga dan merokok.

Padahal, berolahraga salah satunya bersepeda mampu menurunkan risiko penyakit jantung. “Apabila dilakukan secara rutin (bersepeda) akan menurunkan risiko penyakit jantung hingga 50 %,” katanya kepada Greeners, Rabu (20/7).

Bersepeda Tiga Kali Seminggu

Olahraga bersepeda merupakan salah satu jenis olahraga aerobik yang memengaruhi kesehatan jantung. Ia merekomendasikan bersepeda dengan intensitas sedang, yakni selama 30 menit hingga 1 jam sebanyak tiga kali seminggu.

Kendati demikian, bukan berarti bersepeda bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja tanpa panduan khusus. Kejadian kematian mendadak saat bersepeda kerap terjadi. Reza menyebut, saat bersepeda, jantung akan berdetak lebih cepat karena sedang berusaha memompa darah terus-menerus. Fenomena terkena serangan jantung mendadak saat bersepeda sangat mungkin terjadi.

“Kadang kalau bersepeda terasa ingin mengikuti teman-teman di depan terus ada target juga. Sementara tubuh kita ada batasnya, risiko serangan jantung bisa saja terjadi dan mengancam nyawa,” paparnya.

Ia menambahkan kematian mendadak saat bersepeda berpotensi terjadi pada usia produktif lebih dari 40 tahun.

Penting tambahnya, para pesepeda melakukan pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu. Misalnya melalui tes elektrokardiogram atau EKG (tes untuk mengevaluasi kesehatan jantung dan kenormalan detak jantung), ekokardiografi (metode pemeriksaan yang menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi untuk menangkap gambaran struktur organ jantung).

Selain itu, dia menyarankan agar para pesepeda melakukan treadmill untuk mengetahui batas kemampuan diri. “Mulailah secara bertahap lalu sesuaikan durasi dan frekuensinya sesuai kondisi tubuh. Jika ternyata memerlukan obat maka minumlah obat atas rekomendasi dokter jantung,” tuturnya.

Ia juga menyarankan agar para pesepeda memasang smart watch yang bisa menghitung detak jantung. Dengan menggunakan parameter penghitungan, 220 dikurangi usia seseorang maka bisa kita ketahui maksimal laju detak jantungnya dalam hitungan menit.

“Saat bersepeda dan telah melampaui detak jantung maka harus istirahat, detak jantung berlebihan dapat merugikan tubuh kita sendiri,” imbuhnya.

Sepeda Listrik Bisa Kurangi Gerak Tubuh

Sementara itu, saat ini sepeda listrik menjadi salah satu moda transportasi alternatif yang mulai banyak masyarakat gunakan di berbagai daerah. Sepeda listrik lebih ringan karena tidak membutuhkan tenaga ekstra untuk mengayuh lebih kencang seperti sepeda biasa.

Reza menilai, inovasi sepeda listrik dapat menarik minat masyarakat untuk bersepeda. Akan tetapi, ia menegaskan, manfaatnya terhadap kesehatan jantung dapat berkurang.

“Sedikit banyak dapat mengurangi manfaat terhadap jantung karena intensitasnya yang menjadi sedikit menurun karena adanya bantuan dari tenaga listrik,” tegasnya.

Ia merekomendasikan para pesepeda listrik menambah frekuensi dan durasinya sehingga berdampak positif terhadap kesehatan jantung.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Indonesia International Outdoor Festival 2022

]]>
https://www.greeners.co/berita/bersepeda-mampu-kurangi-risiko-penyakit-jantung-hingga-50/feed/ 0
Gula Tambahan Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung https://www.greeners.co/gaya-hidup/gula-tambahan-tingkatkan-risiko-penyakit-jantung/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=gula-tambahan-tingkatkan-risiko-penyakit-jantung https://www.greeners.co/gaya-hidup/gula-tambahan-tingkatkan-risiko-penyakit-jantung/#respond Sat, 26 Sep 2020 00:00:28 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=28604 Mengingat sifatnya yang dapat mengawetkan makanan, gula kerap hadir di beragam produk dalam bentuk gula tambahan. Dikutip dari Harvard Health Publishing minuman ringan dan sebagian besar makanan olahan seperti sup kalengan, roti, olahan daging, serta beragam saus pun mengandung gula tambahan.]]>

Kopi susu kekinian serta boba, minuman teh susu dengan bulatan tapioka asal Taiwan, masih terus menghiasi layar media sosial. Tak dapat dipungkiri, jenis minuman ini dapat membantu menghilangkan kepenatan saat bekerja dari rumah di masa pandemi. Sayangnya, kebiasaan mengonsumsi produk dengan gula tambahan seperti ini dapat meningkatkan berbagai risiko penyakit.

Asupan gula pun tidak melulu berupa gula tebu dalam kemasan yang biasa kita tambahkan sendiri ke dalam makanan dan minuman. Mengingat sifatnya yang dapat mengawetkan makanan, gula kerap hadir di beragam produk dalam bentuk gula tambahan. Dikutip dari Harvard Health Publishing, minuman ringan dan sebagian besar makanan olahan seperti sup kalengan, roti, olahan daging, serta beragam saus pun mengandung gula tambahan.

Profesor di bidang nutrisi dari Harvard T. H Chan School of Public Health, Dr. Frank Hu, mengklaim diet tinggi gula tidak hanya buruk bagi pengidap obesitas dan diabetes, melainkan juga dapat memacu risiko penyakit jantung. Lebih jauh, Dr. Hu dalam JAMA Internal Medicine 2014, menjabarkan pasien yang memenuhi 17-21 persen kalori mereka dengan gula tambahan, memiliki risiko 38 persen lebih tinggi untuk meninggal karena penyakit kardiovaskular.

Baca juga : Bahayakah Kandungan Gula pada Buah?

Gula

Gula kerap hadir di beragam produk dalam bentuk pemanis tambahan. Foto: pexels.com

Pakar Sarankan Diet Rendah Gula

Dr. Hu menerangkan, asupan gula tambahan berlebih berdampak pada tekanan darah tinggi, peradangan, penambahan berat badan, diabetes, dan perlemakan hati. Dampak buruk inilah yang terkait dengan peningkatan risiko serangan jantung dan stroke. American Heart Association, menyarankan konsumsi gula tidak lebih dari 150 kalori, atau sekitar sembilan sendok teh gula tambahan per hari.

Untuk mengantisipasi beragam penyakit yang dipicu oleh diet tinggi gula, Dr. Hu menyarankan gaya hidup sehat dengan diet rendah gula. Diet ini dapat dilakukan dengan menakar total asupan gula serta gula tambahan untuk konsumsi harian.

Baca juga : Jam Kerja Berlebih Meningkatkan Risiko Jantung Koroner

Meskipun diet tinggi gula berdampak buruk bagi kesehatan, Dr. Hu pun mewanti-wanti untuk tidak langsung menghapus asupan gula dalam konsumsi sehari-hari. Pasalnya, dengan memangkas asupan gula secara tiba-tiba, tubuh akan mencari rasa manis dan berakhir mengonsumsi lebih banyak makanan kaya gula seperti nasi putih dan roti.

“Makanan seperti roti tawar putih dan nasi putih dapat meningkatkan kadar glukosa dalam darah. Selain itu beragam jenis makanan ringan lainnya yang tinggi lemak jenuh dan sodium yang juga dapat mengakibatkan masalah kesehatan jantung,” ujarnya.

Penulis: Ridho Pambudi

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/gula-tambahan-tingkatkan-risiko-penyakit-jantung/feed/ 0
Hilangkan Rasa Cemas dan Stress Melalui Terapi Musik https://www.greeners.co/gaya-hidup/hilangkan-rasa-cemas-dan-stress-melalui-terapi-musik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hilangkan-rasa-cemas-dan-stress-melalui-terapi-musik https://www.greeners.co/gaya-hidup/hilangkan-rasa-cemas-dan-stress-melalui-terapi-musik/#respond Tue, 12 Feb 2019 02:14:30 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=22317 Kini telah banyak dikembangkan terapi-terapi keperawatan untuk menangani kecemasan ataupun nyeri pada pasien. Salah satu terapi non farmakologis yang dapat digunakan untuk mengurangi kecemasan adalah terapi musik.]]>

Umumnya orang yang mengalami stres atau mempunyai tingkat kecemasan tinggi biasanya membutuhkan penaganan atau pertolongan secara khusus. Kecemasan atau anxiety merupakan salah satu bentuk emosi individu yang berkenaan dengan adanya rasa terancam oleh sesuatu (biasanya dengan objek ancaman yang tidak begitu jelas).

Rasa stres atau cemas bisa dialami oleh siapa saja dan kapan saja. Contohnya orang yang mengalami patah tulang (fraktur). Rasa nyeri yang ditimbulkan pada kondisi ini dapat menyebabkan kecemasan pada pasien. Kemudian perasaan takut dan cemas juga sering muncul di benak para calon ibu ketika dalam situasi persalinan. Tidak jarang hal ini membuat para perempuan mengalami stres bahkan trauma yang mendalam.

Selain itu stres, kecemasan, dan depresi menjadi faktor risiko terjadinya tekanan darah tinggi. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa tekanan darah tinggi menyebabkan munculnya penyakit stroke dan penyakit jantung.

Kini telah banyak dikembangkan terapi-terapi keperawatan untuk menangani kecemasan ataupun nyeri pada pasien. Salah satu terapi non farmakologis yang dapat digunakan untuk mengurangi kecemasan adalah terapi musik. Lalu bagaimana sebenarnya mekanisme kerja musik pada kesehatan? Bagaimana terapi musik dapat mengurangi rasa sakit, stress, kecemasan maupun menurunkan tekanan darah?

Mekanisme kerja musik dalam kesehatan

Kehadiran musik sebagai bagian dan kehidupan manusia bukanlah hal yang baru. Selain memiliki aspek estetika, musik memiliki aspek terapetik yang banyak digunakan untuk membantu menenangkan, menyembukhan dan memulihkan kondisi fisiologis pasien maupun tenaga medis.

Sejak zaman Yunani kuno musik telah memainkan peran yang signifikan dalam hal penyembuhan manusia, Dewa Apollo dipercaya sebagai dewa musik dan dewa pengobatan. Gagasan untuk menggunakan musik sebagai alat penyembuhan dan perubahan prilaku juga telah dikemukakan oleh filsuf kenamaan seperti Phytagoras dan Plato. Musik juga telah dimanfaatkan untuk memulihkan dan menyembukan para veteran dan korban Perang Dunia I dan II.

Menurut Saloma Klementina Saing dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak dikutip dalam tesisnya yang berjudul “Pengaruh Musik Klasik terhadap Penurunan Tekanan Darah” (2007), terapi musik adalah keahlian menggunakan musik dan elemen musik oleh seorang terapis untuk meningkatkan, mempertahankan dan mengembalikan kesehatan fisik, mental, emosional dan spiritual.

Hingga saat ini mekanisme peran musik dalam bidang kesehatan masih terus menjadi bahan kajian. Namun berdasarkan beberapa sumber kajian dan jurnal ilmiah menunjukan bahwa terapi musik terbukti berguna dalam proses penyembuhan.

Terapi musik berkembang dari berbagai disiplin ilmu, antara lain musikologi, psikologi, akustik, sosiologi, antropologi, dan neurologi. Dalam penelitian Journal of the American Medical Association (1996) melaporkan tentang hasil-hasil suatu studi terapi musik di Austin, Texas. Jurnal tersebut mengungkapkan bahwa setengah dari ibu-ibu hamil yang mendengarkan musik selama kelahiran anaknya tidak membutuhkan anestesi.

Berdasarkan Wilianto. V dan Adiyanti dalam Jurnal Intervensi Psikologi Vol.4 (2012), secara fisiologis, saat seseorang mendengarkan musik, gelombang vibrasi menstimulasi sistem limbik (mendukung berbagai fungsi seperti emosi, perilaku, motivasi, memori jangka panjang, dan penciuman), sehingga individu menjadi rileks. Musik juga memengaruhi pelepasan corticotrophin-releasing hormone (CRH), sehingga sistem saraf simpatis dan parasimpatis kembali bekerja secara seimbang dan kecemasan menurun (Taylor Piliac & Chair, 2002).

Rangsangan musik dapat meningkatkan pelepasan endorfin (senyawa kimia yang membuat seseorang merasa senang dan untuk kekebalan tubuh) dan ini menurunkan kebutuhan akan obat-obatan. Pelepasan tersebut memberikan pula suatu pengalihan perhatian dari rasa sakit dan mampu mengurangi kecemasan (Campbell, 2001).

Pemberian musik dengan irama lambat akan mengurangi pelepasan katekolamin kedalam pembuluh darah sehingga konsentrasi katekolamin dalam plasma menjadi rendah. Katekolamin merujuk kepada sekelompok hormon yang memiliki gugus katekol yang dikeluarkan oleh kelenjar adrenal dalam menanggapi stress. Pemberian musik berirama lambat dapat membuat tubuh mengalami relaksasi, denyut jantung berkurang dan tekanan darah menjadi turun (Saloma, 2007).

Namun perlu diingatkan kembali bahwa setiap individu tidak sama, selalu memiliki pola interaksi, kebudayaan, pengalaman masa lalu, persepsi dan dinamika yang berbeda. Materi dan jenis musik yang diberikan pun harus diperhatikan. Dalam pemberian terapi, sebaiknya musik yang diberikan sesuai dengan jenis musik yang disukai oleh pasien. Pemilihan jenis musik yang sesuai dengan kesukaan individu atau pasien merupakan salah satu faktor penyebab menurunnya kecemasan.

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/hilangkan-rasa-cemas-dan-stress-melalui-terapi-musik/feed/ 0
Ini Buah-Buahan yang Baik untuk Jantung https://www.greeners.co/gaya-hidup/buah-buahan-baik-jantung/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=buah-buahan-baik-jantung https://www.greeners.co/gaya-hidup/buah-buahan-baik-jantung/#respond Wed, 14 Feb 2018 10:15:19 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=20030 Jika kesehatan jantung tidak diperhatikan, maka kesehatan organ tubuh lainnya akan terganggu. Untuk menjaga jantung anda agar tetap sehat, anda dapat memulainya dengan mengonsumsi buah-buahan berikut ini.]]>

Jantung merupakan salah satu organ vital yang sangat penting bagi manusia. Selain memompa darah ke seluruh tubuh, jantung juga memiliki fungsi untuk membuang limbah sisa metabolisme dalam tubuh. Jika kesehatan jantung tidak diperhatikan, maka kesehatan organ tubuh lainnya akan terganggu. Untuk menjaga jantung agar tetap sehat, kita dapat memulainya dengan mengonsumsi buah-buahan berikut:

jantung

Ilustrasi. Foto: pixabay

1. Semangka

Semangka merupakan buah yang rendah kalori, kaya serat dan sumber antioksidan yang bagus. Menurut Dr. Sarah Samaan, ahli jantung dari Legacy Heart Center di Dallas-Fort Worth Metroplex, semangka adalah sumber likopen yang luar biasa untuk mengurangi risiko penyakit jantung dan kanker. “Semangka juga menyediakan citrulline yang dapat memperbaiki kesehatan pembuluh darah kita dan bahkan mungkin memiliki manfaat bagi penderita disfungsi ereksi dan diabetes,” ujar Sarah. Semangka juga merupakan sumber vitamin C dan A, serta kalium dan magnesium.

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/buah-buahan-baik-jantung/feed/ 0
Penyakit Jantung Koroner, Pembunuh Nomor Satu di Indonesia https://www.greeners.co/gaya-hidup/penyakit-jantung-koroner-pembunuh-nomor-satu-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=penyakit-jantung-koroner-pembunuh-nomor-satu-indonesia https://www.greeners.co/gaya-hidup/penyakit-jantung-koroner-pembunuh-nomor-satu-indonesia/#respond Thu, 21 Sep 2017 07:48:14 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=18762 Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2014, penyakit jantung koroner merupakan penyebab kematian tertinggi pada semua umur.]]>

(Greeners) – Penyakit jantung koroner merupakan salah satu nama penyakit yang cukup akrab di telinga masyarakat Indonesia. Dalam rangka menyambut Hari Jantung Sedunia yang akan diperingati pada tanggal 29 September mendatang, rasanya tak salah bagi kita untuk mengenal lebih jauh penyakit yang satu ini.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari Yayasan Jantung Indonesia, Dr. Siska Suridanda Danny, Sp.JP (K), saat dihubungi Greeners.co melalui telepon pada Sabtu (16/09) menyatakan bahwa penyakit jantung koroner merupakan penyakit jantung yang paling banyak diderita oleh masyarakat Indonesia. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2014, penyakit jantung koroner merupakan penyebab kematian tertinggi pada semua umur, yakni sebesar 12,9 persen. Diperkirakan, angka tersebut dapat bertambah setiap tahunnya bila masyarakat Indonesia tidak menerapkan gaya hidup sehat.

Lebih lanjut Siska mengatakan bahwa penyakit jantung ada berbagai macam, namun yang paling umum dikenal adalah penyakit jantung koroner. Penyakit jantung koroner inilah yang dapat menyebabkan serangan jantung.

“Penyakit jantung koroner disebabkan oleh adanya sumbatan di arteri koroner, arteri yang mengoptimalkan otot-otot jantung. Selain itu, ada juga jenis penyakit jantung lain seperti penyakit jantung hipertensi dan penyakit jantung rematik,” katanya memaparkan.

Ia menjelaskan bahwa gangguan aliran darah di arteri koroner atau pembuluh darah jantung diakibatkan oleh adanya timbunan lemak yang menyumbat arteri koroner. Gejala dari penyakit jantung koroner yang paling dominan dirasakan oleh para penderitanya adalah adanya keluhan nyeri dada.

“Ketika kita beraktivitas, tekanan darah dan detak jantung kita akan meningkat sehingga kebutuhan jantung akan oksigen juga turut meningkat. Saat terjadi peningkatan kebutuhan oksigen tersebut, pembuluh darah jantung yang sudah mengalami penyumbatan tidak bisa mengkompensasi hal tersebut. Akibatnya, jantung akan kekurangan oksigen dan akan timbul nyeri dada,” ujarnya.

“Kalau sudah ada sumbatan total, maka terjadilah serangan jantung. Penderita akan merasa nyeri dada yang hebat sekali, dan bisa juga disertai dengan keringat dingin, mual, dan muntah. Akan berakibat fatal bila tidak ditangani sesegera mungkin,” tambahnya.

Cegah dengan SEHAT

Penyakit jantung koroner sendiri disebabkan oleh beberapa faktor. Dr. Siska memaparkan kurang lebih terdapat tujuh faktor yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit jantung koroner pada seseorang.

“Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan penyakit jantung koroner, diantaranya adalah kerusakan organ jantung karena usia lanjut, hipertensi yang tidak terkontrol, diabetes, kebiasaan merokok, dan kurang melakukan aktifitas fisik. Selain itu, faktor jenis kelamin juga dapat berpengaruh. Laki-laki lebih berisiko terkena penyakit jantung koroner dibandingkan dengan perempuan hingga usia tertentu. Risiko perempuan untuk terserang penyakit ini lebih rendah selagi dia masih haid, karena ada faktor proteksi dari hormon estrogen,” tuturnya.

“Kondisi genetis juga dapat menjadi faktor penyebab penyakit jantung koroner. Kalau ada first degree relatives kita seperti ayah, ibu, kakak, atau adik yang terkena penyakit ini, kemungkinan kita untuk terkena penyakit jantung koroner akan lebih tinggi,” ujar dr. Siska menambahkan.

Meski demikian, ia mengungkapkan bahwa sebagian faktor penyebab risiko jantung koroner dapat dicegah. Untuk mencegah penyakit jantung koroner, ia memiliki tips yang disingkat SEHAT.

“Kita dapat mencegah penyakit jantung dengan menerapkan SEHAT. S adalah seimbangkan gizi, E adalah enyahkan rokok, H adalah hadapi stres, A adalah awasi tekanan darah, dan T adalah terapkan olah raga. Kelima hal ini perlu diperhatikan untuk menjaga kesehatan kita,” katanya.

Ia juga berpesan supaya kita terus waspada. Apabila kita merasakan gejala serangan jantung yang disebabkan oleh penyakit jantung koroner seperti nyeri dada yang mendadak, sebisa mungkin kita langsung menemui tenaga medis. Penanganan yang terlambat dapat menyebabkan kematian.

“Bila ada nyeri dada, langsung diperiksakan. Jangan cuma dianggap sepele. Segera periksakan ke rumah sakit sebelum 12 jam, supaya bisa diberikan obat-obatan untuk membuka sumbatan di pembuluh darah koroner. Pokoknya, jangan ditunda-tunda kalau ada keluhan nyeri dada. Langsung ke rumah sakit.Lebih baik nyeri dada tersebut dianggap sebagai serangan jantung padahal bukan, daripada dianggap bukan serangan jantung tapi ternyata iya,” katanya mengingatkan.

Penulis: Anggi Rizky Firdhani

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/penyakit-jantung-koroner-pembunuh-nomor-satu-indonesia/feed/ 0