penyelamatan badak - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/penyelamatan-badak/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Fri, 01 Jan 2021 01:48:16 +0000 id hourly 1 Peneliti Sarankan Pembangunan Habitat Baru bagi Badak Jawa https://www.greeners.co/berita/peneliti-sarankan-pembangunan-habitat-baru-bagi-badak-jawa/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=peneliti-sarankan-pembangunan-habitat-baru-bagi-badak-jawa https://www.greeners.co/berita/peneliti-sarankan-pembangunan-habitat-baru-bagi-badak-jawa/#respond Mon, 29 May 2017 09:13:38 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=17118 Mengacu pada hasil studi terbaru, peneliti mendesak untuk segera melakukan pembangunan habitat baru bagi populasi badak jawa yang aman dari kawasan rawan bencana alam.]]>

Jakarta (Greeners) – Hasil studi terbaru yang ditebitkan dalam Jurnal Konservasi dunia, Conservation Letter, menyatakan bahwa sebagian populasi Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) berada dalam jangkauan Gunung Berapi Krakatau dan dekat dengan Cekungan Sunda. Lokasi ini merupakan daerah konvergen lempengan tektonik yang berpotensi menyebabkan gempa bumi, dan dapat memicu terjadinya tsunami.

Dalam studi ini, para peneliti membuktikan bahwa jumlah populasi badak jawa pada tahun 2013 berjumlah 62 individu, ini merupakan populasi yang padat dalam satu habitat. Dalam studi ini juga diproyeksikan jika terjadi bencana tsunami setinggi 10 meter atau sekitar 33 kaki dalam 100 tahun kedepan, dapat mengancam 80 persen area kawasan taman nasional, padahal kawasan ini merupakan habitat dengan kepadatan populasi badak jawa tertinggi.

“Oleh karena itu, peneliti mendesak untuk segera melakukan pembangunan habitat baru bagi populasi badak jawa yang aman dari kawasan rawan bencana alam. Studi ini pun bisa menjadi momentum yang baik untuk segera menyelamatkan badak jawa karena kita berpacu dengan waktu,” ujar Arnold Sitompul, Direktur Konservasi WWF-Indonesia, Minggu (28/05).

BACA JUGA: Penyakit Ancam Populasi Badak Sumatera dan Jawa

Pembentukan habitat baru ini, katanya, dapat dilakukan dengan mengidentifikasi lokasi badak dan mengamankannya, memastikan kesepakatan dengan beberapa pemangku kepentingan, termasuk pemerintah dan masyarakat lokal, dan pemantauan yang intensif di TNUK untuk memilih individu badak jawa yang tepat untuk segera dipindahkan.

Dihubungi Greeners, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Bambang Dahono Adji menegaskan bahwa pemerintah melalui KLHK menyatakan studi kelayakan terhadap habitat baru badak jawa memunculkan kawasan Suaka Margasatwa (SM) Cikepuh, Sukabumi, Jawa Barat, sebagai kawasan yang paling memungkinkan untuk dijadikan kawasan translokasi badak jawa. Upaya translokasi yang sudah disiapkan lebih dari 3 tahun lalu tersebut bertujuan untuk membuat kantong habitat baru dan membantu proses reproduksi badak jawa.

“Saat ini kita tinggal tunggu tes DNA dari badak yang saat ini ada di ujung kulon, supaya nantinya yang dipindahkan bukan dari satu keluarga dan satu darah suapaya tidak terjadi inbreeding,” terangnya.

BACA JUGA: Banyak Jaksa yang Belum Paham Konservasi Satwa Liar

Habitat badak jawa (Rhinoceros sondaicus) yang saat ini hanya terdapat di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten, dikatakan Bambang memang tergolong rentan. Pasalnya, populasi yang saat ini hanya terdapat di wilayah tersebut mengalami ancaman inbreeding dan bencana alam yang dapat merusak kelangsungan badak bercula satu tersebut.

Menurut rencana, akan dibangun tempat penyelamatan dan perlindungan (sanctuary) badak jawa di SM Cikepuh, sama seperti di kawasan TNUK. Hal tersebut bertujuan untuk membuat perkembangbiakan buatan. Cikepuh hanya memiliki belasan ribu hektare, sementara daya jelajah badak jawa mencapai tiga kilometer per hari. Menurutnya, Cikepuh dipilih karena memiliki kesamaan fisik kawasan seperti pantai dan tanah yang agak basah.

“Jadi Lembaga Biologi Molekular Eijkman serta pakar dari Institut Pertanian Bogor dan Universitas Indonesia telah ditunjuk sebagai tim untuk melakukan rangkaian tes tersebut. Selain itu, pemerintah juga bekerjasama dengan NGO untuk tes dan penyiapan kawasannya,” kata Bambang.

BACA JUGA: KLHK: Keberhasilan Pengelolaan Ekosistem Ada di Luar Ekosistem

Sebagai informasi, studi, berjudul “Preventing Global Extinction of the Javan Rhino: Tsunami Risk and Future Conservation Direction,” ini telah diluncurkan pada tanggal 9 Mei oleh para pakar konservasi dari Indonesia dan dunia, yang berasal dari Balai Taman Nasional Ujung Kulon, WWF-Indonesia, YABI-Yayasan Badak Indonesia, Global Wildlife Conservation dan Colorado State University.

Studi ini menyajikan analisis terperinci mengenai populasi Badak Jawa, dengan menggunakan metode kamera jebak. Pada tahun 2013, para peneliti memperoleh 1.660 foto badak yang direkam dari 178 lokasi kamera jebak yang dipasang untukmendapatkan perkiraan jumlah populasi, yaitu 62 individu.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/peneliti-sarankan-pembangunan-habitat-baru-bagi-badak-jawa/feed/ 0
Sempat Diselamatkan, Badak Sumatera “Najaq” Mati Karena Infeksi https://www.greeners.co/berita/sempat-diselamatkan-badak-sumatera-najaq-mati-karena-infeksi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sempat-diselamatkan-badak-sumatera-najaq-mati-karena-infeksi https://www.greeners.co/berita/sempat-diselamatkan-badak-sumatera-najaq-mati-karena-infeksi/#respond Wed, 06 Apr 2016 10:22:48 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=13380 Najaq, badak Sumatera yang belum lama ini ditemukan di Kutai Barat, Kalimantan Timur telah mati pada Selasa dini hari, 5 April 2016.]]>

Jakarta (Greeners) – Tim dokter hewan beserta tim dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Taman Safari Indonesia, Yayasan Badak Indonesia, Institut Pertanian Bogor dan WWF Indonesia menyatakan bahwa Najaq, badak Sumatera yang belum lama ini ditemukan di Kutai Barat, Kalimantan Timur telah mati pada Selasa dini hari, 5 April 2016.

Kematian Najaq diduga akibat infeksi berat karena jerat tali yang menyebabkan luka parah pada kaki kirinya. Badak berumur 10 tahun itu diperkirakan terjerat sejak September 2015 dan ketika berhasil ditangkap, tali jerat sudah putus, namun tali yang tersisa sudah masuk sangat dalam ke dalam kulit badak.

“Pengobatan yang diberikan oleh tim dokter hewan sempat direspons positif. Namun demikian, memang luka yang dialami pada kaki kirinya parah dan menyebabkan infeksi. Kepastian penyebab kematian Najaq juga akan diketahui setelah pemeriksaan post mortem (autopsi),” ujar drh. Muhammad Agil, salah satu personil dari tim gabungan Penyelamatan Badak Sumatera di Kab. Kutai Barat dalam keterangan resmi yang diterima oleh Greeners, Jakarta, Selasa (05/04).

Najaq sendiri, pernah tertangkap kamera jebak pada akhir Oktober 2015 dengan jerat tali pada kaki kiri belakangnya. Sejak saat itu, Najaq diusahakan untuk ditangkap agar dapat dilepaskan jerat talinya dan diberi pengobatan. Baru pada 12 Maret 2016, Najaq berhasil ditangkap dan langsung diberikan pengobatan untuk lukanya dengan antibiotik dan anti bengkak serta vitamin oleh tim dokter hewan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Taman Safari Indonesia (TSI), Yayasan Badak Indonesia (YABI), IPB dan WWF.

Upaya pengobatan di atas juga didukung dan dikonsultasikan dengan para ahli badak internasional (Australia Zoo, Tarongga Zoo-Australia, Cornell University-USA). Kondisi badak dilaporkan mulai membaik yang diindikasikan dengan makan cukup banyak, namun diprediksi masih ada infeksi di kakinya (luka dalam).

Beberapa hari terakhir, kondisi kesehatan Najaq diketahui menurun dan akhirnya mati. Kematian ini diduga karena adanya infeksi berat yang bersumber dari luka jerat di kaki kiri. Setelah pemeriksaan post mortem, badak yang mati akan diawetkan untuk kepentingan ilmu pengetahuan.

CEO WWF Indonesia Efransjah mengatakan bahwa kematian Najaq merupakan pelajaran berharga yang harus diambil hikmahnya. Ia mengaku memang tidak mudah menyelamatkan populasi hewan yang terancam punah seperti badak sumatera.

“Ini merupakan pelajaran berharga bahwa menyelamatkan satu badak saja sangat sulit dan perlu dukungan ahli dan sumber daya yang intensif,” tambahnya.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK Tachrir Fathoni pun mengungkapkan bahwa penemuan Najaq sesungguhnya menunjukan bahwa populasi badak sumatera di Kalimantan masih ada. Padahal sudah lama keberadaan badak sumatera dianggap punah oleh masyarakat.

“Untuk itu, KLHK akan terus melanjutkan upaya perlindungan badak sumatera yang ada di Kutai Barat Kalimantan Timur,” tutup Tachrir.

Sebagai informasi, keberadaan badak di Kabupaten Kutai Barat pertama kali teridentifikasi melalui jejak tapak pada tahun 2013 oleh Tim Survei WWF Indonesia. Pada pertengahan tahun 2013, kamera jebak (camera trap) berhasil merekam video badak yang sedang berkubang mengkonfirmasi temuan jejak sebelumnya. Jika dilihat dari ukurannya, badak sumatera ini diperkirakan berusia 4 sampai 5 tahun. Namun dari pemeriksaan lanjutan berdasarkan kondisi gigi, tim dokter hewan menyatakan badak Najaq berusia sekitar 10 tahun.

Badak sumatera sendiri adalah salah satu dari dua spesies badak yang ada di Indonesia. Status populasi badak sumatera saat ini “critically endangered” dengan perkiraan jumlah populasi kurang dari 100 individu, utamanya tersebar di pulau Sumatera.

Tim Penyelamatan Badak Sumatera di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur dibentuk berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Nomor. SK. 300/KSDAE-KKH/2015 beranggotakan unsur KLHK, Pemerintah Provinsi dan Kabupaten, lembaga akademik dan lembaga konservasi yang bekerja dalam konservasi badak di Indonesia.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/sempat-diselamatkan-badak-sumatera-najaq-mati-karena-infeksi/feed/ 0
Berikan Badak Ruang Lebih untuk Berkembang Biak https://www.greeners.co/aksi/berikan-badak-ruang-lebih-untuk-berkembang-biak/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=berikan-badak-ruang-lebih-untuk-berkembang-biak https://www.greeners.co/aksi/berikan-badak-ruang-lebih-untuk-berkembang-biak/#respond Fri, 25 Sep 2015 12:38:19 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=11241 Jakarta (Greeners) – Dalam rangka memperingati Hari Badak Sedunia atau World Rhino Day yang jatuh pada 22 September 2015, Fakultas Biologi Universitas Nasional (Unas) dan WWF-Indonesia mengadakan berbagai kegiatan bertema […]]]>

Jakarta (Greeners) – Dalam rangka memperingati Hari Badak Sedunia atau World Rhino Day yang jatuh pada 22 September 2015, Fakultas Biologi Universitas Nasional (Unas) dan WWF-Indonesia mengadakan berbagai kegiatan bertema badak. Kegiatan ini diselenggarakan di Loops Station, Blok M, Jakarta Selatan.

Saat ini, terdapat dua jenis badak yang ada di Indonesia, yaitu badak jawa (Rhinoceros sondaicus) dan badak sumatera (Dicherorinus sumatrensis). Kedua jenis satwa langka dan dilindungi ini dikategorikan dalam status kritis terancam punah (critically endangered species) oleh Daftar Merah IUCN dan dimasukkan dalam Daftar Apendik I oleh CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora).

Dekan Fakultas Biologi UNAS, Drs. Imran S.L. Tobing M.Si., menyatakan bahwa saat ini metode untuk mencari data tentang populasi badak sudah maju dengan menggunakan kamera trap dan video. Meski demikian, fotografer alam liar, Alain Compost, menyatakan bahwa tidak mudah mengikuti badak karena satwa ini memiliki penciuman yang sangat sensitif.

“Tidak mudah mengikuti badak, harus tidak mandi supaya tidak tercium oleh badak, karena badak mengandalkan indra penciumannya yang lebih sensitif dibandingankan indra penglihatan yang hanya bisa melihat dengan jarak sekitar 2 meter. Dalam jarak tertentu jika ada manusia, badak lebih mengenali baunya dari pada penglihatannya. Untuk mengikuti badak harus diperhatikan arah angin jika tidak maka akan membuat indra penciuman badak lebih sensitif dikarenakan arah angin menuju badak itu dari si pengamat badak yang bau,” ungkapnya.

Dr. Tatang Mitra Setia selaku Peneliti dan Dosen Fakultas Biologi Unas menambahkan bahwa habitat badak sangat terbatas. “Habitat badak di tengah hutan dan di sekitar pinggiran sungai menjadi prioritas utama karena berfungsi sebagai rumahnya si badak”.

Dalam acara Hari Badak Sedunia ini, digelar berbagai acara, diantaranya diskusi tentang fotografi alam liar, pemutaran film tentang Badak di Indonesia, serta aksi kampanye melalui media sosial dan penampilan musik dari Endah N Rhesa. Hadir sebagai narasumber Sunarto ahli satwa liar dari WWF Indonesia, Tatang Mitra Setia yang merupakan Dosen Fakultas Biologi Universitas Nasional, dan Alain Compost fotografer dan videografer satwa liar.

Kegiatan kali ini bertujuan untuk berbagi informasi tentang fotografi alam liar dan ekologi serta ancaman terhadap keberadaan badak di habitat alaminya. Selain itu, menggalang dukungan dari publik dan semua pihak untuk bekerjasama dalam upaya pelestarian badak di dunia, khususnya di Indonesia.

Peserta acara World Rhino Day 2015 ini berasal dari berbagai sekolah, universitas, mahasiswa pecinta alam, dan komunitas. Diantaranya, SMA Kemala Bhayangkari, Universitas Nasional, Universitas Negeri Jakarta, Institut Pertanian Bogor, Indonesia Wildlife Photography, Universitas Indonesia, Universitas Islam Assyifi’iyah, Universitas Bunda Mulia, mahasiswa Pecinta Alam Stacia UMJ, dan masyarakat lainnya.

Penulis: AB

]]>
https://www.greeners.co/aksi/berikan-badak-ruang-lebih-untuk-berkembang-biak/feed/ 0
Hari Badak Sedunia: Perlu Langkah Konkrit untuk Melindungi Populasi Badak https://www.greeners.co/berita/hari-badak-sedunia-perlu-langkah-konkrit-untuk-melindungi-populasi-badak/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hari-badak-sedunia-perlu-langkah-konkrit-untuk-melindungi-populasi-badak https://www.greeners.co/berita/hari-badak-sedunia-perlu-langkah-konkrit-untuk-melindungi-populasi-badak/#respond Wed, 23 Sep 2015 06:36:42 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11209 Jakarta (Greeners) – Menyelamatkan Badak yang tersisa di Kalimantan bukanlah hal yang mudah. Penemuan tanda-tanda keberadaan badak di Kalimantan pada awal tahun 2013 lalu sudah seharusnya menjadi momentum penting bagi […]]]>

Jakarta (Greeners) – Menyelamatkan Badak yang tersisa di Kalimantan bukanlah hal yang mudah. Penemuan tanda-tanda keberadaan badak di Kalimantan pada awal tahun 2013 lalu sudah seharusnya menjadi momentum penting bagi dunia konservasi badak di Indonesia maupun internasional.

Survey bersama yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Pemerintah Daerah Kabupaten Kutai Barat dan Kabupaten Mahakam Ulu, Universitas Mulawarman (Unmul), Yayasan Badak Indonesia (YABI), dan WWF Indonesia pada akhir tahun 2013 sampai awal tahun 2014 berhasil merekam keberadaan badak melalui kamera jebak.

Sejak itu pula, perlindungan populasi badak di Kalimantan menjadi perhatian serius. Dr. Ir. Tachrir Fatoni MSc, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK, menyatakan dari 5 jenis badak yang ada di dunia, dua diantaranya hidup di Indonesia, yaitu Badak Jawa (Rhinocerus sondaicus) dan Badak Sumatera (Dicerhorinus sumatrensis).

“Kedua jenis satwa tersebut kini hanya tersisa di Indonesia. Ini merupakan kebanggaan, tantangan dan tanggung jawab bagi kita semua,” ujar Tachrir saat dihubungi oleh Greeners, Jakarta, Selasa (22/09).

Selain itu, dalam rangka memperingati Hari Badak Sedunia, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Pemerintah Kabupaten Kutai Barat dan WWF Indonesia melakukan pertemuan di Balikpapan pada tanggal 21 hingga 22 September 2015.

Foto-foto badak yang tertangkap kamera jebak pada awal 2013 hingga 2014 turut dipamerkan dalam Lokakarya Badak di Balikpapan. Foto: WWF-Indonesia

Foto-foto badak yang tertangkap kamera jebak pada awal 2013 hingga 2014 turut dipamerkan dalam Lokakarya Badak di Balikpapan. Foto: WWF-Indonesia

Acara yang bertajuk “Pertemuan Nasional Para Pihak untuk Upaya Konservasi Badak di Kalimantan dan Penyusunan Strategi Konservasi Badak di Kalimantan” itu bertujuan untuk menggagas langkah konkret sebagai upaya konservasi populasi badak yang teridentifikasi di Kutai Barat. Di samping itu, dalam pertemuan ini juga akan disusun strategi konservasi badak di Kalimantan sebagai bagian integral dari strategi konservasi badak Nasional 2007 – 2017.

Bupati Kutai Barat, Ismael Thomas dalam keterangan resmi yang diterima oleh Greeners menyatakan bahwa pihaknya telah mengeluarkan surat edaran dan himbauan kepada masyarakat dan jajaran pemerintah kabupaten untuk turut membantu upaya penyelamatan badak di Kutai Barat.

“Saya menyambut gembira pertemuan ini dan berharap tumbuh kerjasama yang berkelanjutan dari para pihak yang hadir untuk melestarikan badak di Kalimantan khususnya di Kutai Barat,” kata Ismael.

Keberadaan badak di Kutai Barat, lanjutnya, adalah suatu kebanggaan bagi masyarakat, khususnya masyarakat di Kampung Besiq, karena mereka selalu aktif mendukung upaya konservasi badak di Kalimantan.

Pada kesempatan yang sama, Dr. Arnold Sitompul, Direktur Konservasi WWF Indonesia juga menyampaikan bahwa hasil survey WWF Indonesia di lansekap Hulu Mahakam, habitat badak teridentifikasi berada di dalam kawasan hutan produksi, sehingga dikhawatirkan keberadaannya terancam oleh praktik penggunaan lahan yang tidak memperhatikan kaidah perlindungan terhadap habitat satwa liar.

Dari sembilan kantung populasi badak sumatera di Sumatera dan Kalimantan, hanya tersisa empat kantong saja. Hasil studi terakhir menunjukkan sudah terjadi kepunahan lokal, seperti di Taman Nasional Kerinci Seblat yang sejak tahun 2008 sudah tidak lagi ditemukan Badak Sumatera.

Data terakhir berdasarkan Population and Habitat Viability Assessment (PHVA, 2015), populasi Badak Sumatera diperkirakan tersisa sekitar 100 individu yang hidup di kawasan- Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dan Taman Nasional Way Kambas dan satu kantung populasi yang baru teridentifikasi pada 2013 di Kalimantan Timur.

“Perlu langkah-langkah konkrit dari pemerintah untuk segera menyelamatkan Badak Sumatera,” katanya.

Sebagai informasi, untuk memperingati Hari Badak Internasional (World Rhino Day) pada 22 September 2015, WWF Indonesia bekerjasama dengan beberapa lembaga menggelar sejumlah kegiatan di Aceh, Lampung, Ujung Kulon, Jakarta dan Kutai Barat. Kegiatan tersebut mulai dari diskusi fotografi satwa liar dan konservasi badak, lomba penulisan blogger, kampanye bersama di sekolah-sekolah.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/hari-badak-sedunia-perlu-langkah-konkrit-untuk-melindungi-populasi-badak/feed/ 0