perangkat elektronik - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/perangkat-elektronik/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Thu, 19 May 2022 05:31:34 +0000 id hourly 1 Samsung Ciptakan Layar Monitor dari Bahan Daur Ulang https://www.greeners.co/ide-inovasi/samsung-ciptakan-layar-monitor-dari-bahan-daur-ulang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=samsung-ciptakan-layar-monitor-dari-bahan-daur-ulang https://www.greeners.co/ide-inovasi/samsung-ciptakan-layar-monitor-dari-bahan-daur-ulang/#respond Fri, 20 May 2022 04:00:06 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=36211 Produsen perangkat elektronik ternama asal Korea Selatan, Samsung, baru-baru ini telah mengumumkan upaya keberlanjutan mereka yang teranyar. Dalam upaya meningkatkan sirkularitas sumber daya dan mengurangi emisi gas rumah kaca, perusahaan […]]]>

Produsen perangkat elektronik ternama asal Korea Selatan, Samsung, baru-baru ini telah mengumumkan upaya keberlanjutan mereka yang teranyar. Dalam upaya meningkatkan sirkularitas sumber daya dan mengurangi emisi gas rumah kaca, perusahaan tersebut berinisiatif untuk menciptakan layar monitor dengan memanfaatkan bahan-bahan daur ulang. Adapun produk tersebut tergabung ke dalam seri Samsung Smart Signage.

“Kami berkomitmen untuk terus menerapkan prinsip keberlanjutan pada seluruh portofolio seri Smart Signage,” ujar Hyesung Ha, Wakil Presiden Eksekutif Bisnis Tampilan Visual dari Samsung Electronics, dalam rilis resmi mereka. “Bersamaan dengan upaya ini, kami ingin menyumbangkan kontribusi besar dalam menciptakan planet bumi yang lebih baik.”

Samsung menggunakan bahan-bahan daur ulang untuk membuat sebagian besar komponen pada layar monitor terbaru ciptaan mereka. Mereka memanfaatkan bahan daur ulang untuk membuat bagian penutup belakang layar monitor dan membuat papan merek digital. Untuk meningkatkan efisiensi sumber daya dan energi, perusahaan tersebut menggunakan sistem SoC (System on Chip) pada tiap layar monitor.

“Dengan menggunakan SoC, layar monitor dapat menampilkan gambar tanpa harus menggunakan perangkat tambahan sehingga dapat menghemat pemborosan energi. Kami juga telah memperpanjang masa pakai pada tiap produk untuk meminimalisir pemborosan,” tulis Samsung dalam situs resminya.

Karena upayanya tersebut, Samsung mendapatkan pengakuan sebagai produsen produk elektronik pertama yang telah memiliki label pengurangan CO2. Adapun label tersebut telah disertifikasi oleh Carbon Trust.  Selain itu, perusahaan ini juga telah mendapatkan sertifikasi ENERGY STAR dan EPEAT atas upayanya untuk terus melakukan peningkatan efisiensi energi.

Tidak Hanya Layar Monitor

Melakukan upaya keberlanjutan bukanlah hal yang baru bagi Samsung. Pada tahun 2021, perusahaan ini sudah menggunakan kemasan ramah lingkungan yang dapat kita daur ulang kembali untuk mengemas produk-produk mereka.

Upaya keberlanjutan Samsung di tahun 2022 tidak hanya diwujudkan dengan menciptakan layar monitor dari bahan-bahan daur ulang. Tahun ini, perusahaan tersebut juga menghadirkan berbagai perangkat elektronik dengan memanfaatkan sampah laut berupa botol plastik. Selain itu, mereka juga mendaur ulang kembali limbah jaring ikan menjadi komponen-komponen kunci untuk ponsel terbaru mereka di masa mendatang.

Penulis: Anggi R. Firdhani

Sumber:

Samsung Newsroom

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/samsung-ciptakan-layar-monitor-dari-bahan-daur-ulang/feed/ 0
Speaker Ini Terbuat dari Plastik Kategori “Tidak Dapat Didaur Ulang” https://www.greeners.co/ide-inovasi/speaker-ini-terbuat-dari-plastik-kategori-tidak-dapat-didaur-ulang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=speaker-ini-terbuat-dari-plastik-kategori-tidak-dapat-didaur-ulang https://www.greeners.co/ide-inovasi/speaker-ini-terbuat-dari-plastik-kategori-tidak-dapat-didaur-ulang/#respond Mon, 15 Apr 2019 05:30:47 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=23089 Gomi, studio desain yang berbasis di Brighton, Inggris ternyata berhasil membuat terobosan dengan menciptakan speaker bluetooth portabel dengan memanfaatkan limbah plastik dari jenis yang dianggap tidak dapat didaur ulang.]]>

Proses daur ulang plastik nyatanya tidak semudah yang kita pikirkan karena tidak semua jenis plastik bisa didaur ulang. Gomi, studio desain yang berbasis di Brighton, Inggris ternyata berhasil membuat terobosan dengan menciptakan speaker bluetooth portabel dengan memanfaatkan limbah plastik dari jenis yang dianggap tidak dapat didaur ulang.

Salah satu pendiri Gomi yang juga seorang desainer berkelanjutan, Tom Meades mendorong Gomi untuk menggunakan limbah plastik yang dianggap tidak dapat didaur ulang. Dari hasil penelitian studio ini didapatkan data bahwa sekitar 85 persen limbah plastik ditemukan di pantai-pantai di seluruh dunia, dan Inggris menyumbangkan 300 juta kilogram plastik fleksibel setiap tahunnya.

“Plastik fleksibel secara luas dianggap sebagai plastik yang tidak dapat didaur ulang oleh dewan Inggris. Kami pikir ini akan menjadi bahan yang sempurna untuk dimanfaatkan dan menunjukkan bahwa melalui desain inovatif plastik ini bisa berharga dan tidak harus berakhir sebagai limbah yang mencemari lingkungan kita. Sebagai gantinya, kita bisa membuat bahan ini menjadi benda yang diinginkan,” kata Meades.

Dari situlah, Meades dan studio Gomi terinspirasi untuk menggunakan limbah plastik, terutama limbah plastik yang tidak dapat didaur ulang, menjadi benda yang dapat digunakan seperti perangkat elektronik.

speaker

Foto: Gomi via Inhabitat.com

Untuk mendapatkan limbah plastik, Studio Gomi bekerja sama dengan pedagang grosir makanan lokal yang menggunakan sejumlah besar kemasan plastik yang biasanya dibuang. “Dengan speaker bluetooth ini, kami ingin menghentikan penanganan limbah yang biasanya ditimbun atau dibakar,” ujar Meades.

Sedangkan dalam proses pembuatannya, studio Gomi bekerja sama dengan para ahli audio profesional dan insinyur elektronik selama 12 bulan terakhir untuk memastikan bahwa produknya tidak hanya terlihat menarik secara estetika tetapi juga kualitas suaranya tidak kalah dibandingkan dengan speaker konvensional.

Setiap speaker Gomi terbuat dari plastik fleksibel yang berasal dari campuran seperti kantong plastik, bungkus pallet dan bungkus gelembung yang terbuat dari polietilen dengan densitas rendah. Adapun efek marmer dan warna dari speaker portable ini merupakan hasil campuran yang setara dengan 100 kantong plastik yang tidak dapat didaur ulang. Agar setiap produknya memiliki nilai estetika, studio Gomi mengatur pola warna-warni unik yang sesuai dengan warna bawaan pada limbah plastiknya.

speaker

Foto: Gomi via Inhabitat.com

Speaker ini terdiri dari tiga komponen modular yang dapat dengan mudah dipisahkan dan dilebur menjadi bagian-bagian baru untuk produk masa depan tanpa kehilangan nilai material. Studio Gomi juga menawarkan perbaikan gratis untuk produk mereka dan sistem di mana pelanggan dapat mengembalikan produk yang akan didaur ulang. Dalam upaya untuk bergerak menuju ekonomi sirkular, studio ini mendesak konsumennya untuk mengembalikan produk setelah digunakan alih-alih membuangnya.

“Kami terinspirasi oleh proses desain cradle-to-cradle (pendekatan biomimetik untuk desain produk dan sistem yang memodelkan industri manusia pada proses melihat bahan-bahan alami sebagai nutrisi yang bersirkulasi dalam metabolisme sehat dan aman), yang memikirkan siklus hidup penuh produk kami sejak awal proses desain kami,” kata Meades.

Dilansir dari Inhabitat, studio Gomi telah memenangkan dana hibah sebesar 10.000 poundsterling dari Program Environment Now pada Januari 2018 untuk memulai proyeknya dan didanai lebih lanjut oleh Santander Big Ideas Competition pada akhir tahun lalu.

Studio Gomi saat ini sedang merencanakan strategi untuk meningkatkan kemampuan penyimpanan dan menghasilkan produk pada skala yang lebih besar di masa depan. Selain itu, studio ini akan meluncurkan power bank portabel dan pengisi daya untuk telepon pintar, tablet dan gawai lainnya yang terbuat dari bahan yang sama melalui program pendanaan Kickstarter.

Penulis: DS/G43

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/speaker-ini-terbuat-dari-plastik-kategori-tidak-dapat-didaur-ulang/feed/ 0
Toys For Kids, Donasi Mainan ala Muda Mudi Berbagi https://www.greeners.co/sosok-komunitas/toys-kids-donasi-mainan-ala-muda-mudi-berbagi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=toys-kids-donasi-mainan-ala-muda-mudi-berbagi https://www.greeners.co/sosok-komunitas/toys-kids-donasi-mainan-ala-muda-mudi-berbagi/#respond Tue, 09 Dec 2014 03:00:29 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_community_act&p=6683 Bandung (Greeners) – Seiring perkembangan jaman dan kemajuan teknologi, mainan anak mulai kurang diminati dengan tersedianya berbagai macam jenis virtual game di gadget. Mainan berupa mobil-mobilan, robot-robotan, boneka dan jenis […]]]>

Bandung (Greeners) – Seiring perkembangan jaman dan kemajuan teknologi, mainan anak mulai kurang diminati dengan tersedianya berbagai macam jenis virtual game di gadget. Mainan berupa mobil-mobilan, robot-robotan, boneka dan jenis mainan lainnya kini mulai ditinggalkan anak-anak yang lebih memilih bermain dengan perangkat elektronik.

Di Bandung yang terkenal sebagai kota sejuta kreatifitas, ada satu komunitas yang menamakan dirinya komunitas Muda Mudi Berbagi. Komunitas yang berdiri sejak Juli tahun 2013 ini, tergerak untuk mengembalikan eksistensi mainan. Dengan mengusung tema “Toys For Kids”, mereka mengadakan donasi mainan untuk anak-anak di pedesaan dan anak-anak panti asuhan.

Menurut Bima Aryuna yang merupakan staf publikasi dan partnership dari Muda Mudi Berbagi, kegiatan “Toys For Kids” dijalankan dengan cara menyediakan sebuah drop box untuk menyimpan donasi mainan di beberapa sekolah di kota Bandung, mulai dari jenjang SD hingga SMP.

“Mainan memang identik dengan kesenangan sendiri. Maka, ketika kita mengajak orang untuk mendonasikan mainannya, seperti ada belahan jiwanya yang diberikan untuk orang lain,” sambung pria yang akrab disapa Ubim tersebut saat ditemui Greeners di area Car Free Day di Dago, Bandung Minggu (7/12) kemarin.

Ubim menambahkan, bahwa kegiatan donasi mainan tersebut akan berlangsung hingga bulan Juli tahun 2015. Untuk saat ini, komunitas Muda Mudi Bandung baru melakukan penyimpanan drop box di beberapa sekolah, namun kedepannya akan melibatkan beberapa universitas di Kota Bandung.

Selain donasi mainan, komunitas ini telah memprogramkan pengenalan kembali permainan tradisional. Menurut Ubim, nantinya, dalam penyerahan donasi mainan ke panti atau desa, akan ada seremonial kecil dengan mengadakan permainan tradisional sebagai upaya pelestarian permainan tradisional yang kini mulai ditinggalkan.

Bagi yang berminat untuk turut mendonasikan mainannya, bisa langsung menghubungi komunitas Muda Mudi Berbagi melalui twitter dengan akun @MudaMudiBerbagi.

(G11)

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/toys-kids-donasi-mainan-ala-muda-mudi-berbagi/feed/ 0
Pohon Pengisi Daya dan Pemancar Wifi Gratis https://www.greeners.co/ide-inovasi/pohon-pengisi-daya-dan-pemancar-wifi-gratis/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pohon-pengisi-daya-dan-pemancar-wifi-gratis https://www.greeners.co/ide-inovasi/pohon-pengisi-daya-dan-pemancar-wifi-gratis/#respond Thu, 30 Oct 2014 08:30:48 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_technology&p=6301 (Greeners) – Pernah mendengar tentang ‘pohon’ elektronik atau eTree? Jika belum, bersiaplah untuk mengisi daya ponsel anda dengan energi ‘hijau’ secara gratis. Diciptakan oleh perusahaan asal Israel, Sologic, eTree ditujukan […]]]>

(Greeners) – Pernah mendengar tentang ‘pohon’ elektronik atau eTree? Jika belum, bersiaplah untuk mengisi daya ponsel anda dengan energi ‘hijau’ secara gratis. Diciptakan oleh perusahaan asal Israel, Sologic, eTree ditujukan untuk menghidupkan ruang publik tidak hanya sebagai tempat istirahat, tetapi juga untuk terhubung ke daring dan mengisi ulang perangkat elektronik.

Sologic menyediakan bangku untuk menemani ‘pohon’ yang dilengkapi dengan panel surya penghasil energi, dan pohon elektronik pertama tersebut baru-baru ini dipasang di cagar alam Ramat Hanadiv di Israel.

Seperti dilansir di Gizmag, eTree tersebut terhubung dengan bangku surya produksi Green Sun Rising yang menawarkan tempat berteduh dan pengisian daya, serta ‘sapi’ Wifi (sapi tersebut bukanlah sapi sungguhan melainkan perangkat pemancar Wifi. Sapi-sapi ini pernah disebar di lokasi Festival Glastonbury di Inggris pada tahun lalu).

Foto: www.sologic.com

Dijadikannya eTree sebagai fasilitas di ruang publik, Sologic melihat bahwa eTree merupakan separuh dari perusahaan sosial-lingkungan dan separuh bagian lagi merupakan patung ekologi yang bertujuan mempromosikan kesadaran dan keberlanjutan lingkungan – selagi menjembatani jarak antara masyarakat dan lingkungannya.

eTree menyuplai tenaga ke perangkat elektronik melalui beberapa titik USB yang disediakan sekaligus menawarkan Wifi gratis di area tersebut, bahkan menyediakan pencahayaan pada malam hari. Cabang-cabang dari ‘pohon’ tersebut menyediakan tenaga surya yang juga berfungsi sebagai pelindung dari cahaya matahari bagi pengunjung yang mampir untuk beristirahat dan mengisi ulang daya perangkat elektronik mereka.

(G08)

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/pohon-pengisi-daya-dan-pemancar-wifi-gratis/feed/ 0
Pengisi Daya Perangkat Elektronik Tenaga Air https://www.greeners.co/ide-inovasi/pengisi-daya-perangkat-elektronik-tenaga-air/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pengisi-daya-perangkat-elektronik-tenaga-air https://www.greeners.co/ide-inovasi/pengisi-daya-perangkat-elektronik-tenaga-air/#respond Fri, 19 Sep 2014 03:12:29 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_technology&p=5863 Ibu kota telepon pintar dunia telah menemukan cara yang inovatif dan ramah lingkungan untuk mengisi ulang daya perangkat Samsung dan perangkat mobile lainnya. Seoul, ibu kota Korea Selatan, telah merencanakan […]]]>

Ibu kota telepon pintar dunia telah menemukan cara yang inovatif dan ramah lingkungan untuk mengisi ulang daya perangkat Samsung dan perangkat mobile lainnya. Seoul, ibu kota Korea Selatan, telah merencanakan untuk memasang lima stasiun pengisi daya perangkat elektronik yang tenaganya berasal dari tiga turbin hidroelektrik mini yang tertanam dalam sungai Cheonggyecheon. Air dari sungai buatan ini mengalir melintasi pusat kota.

Sebuah perusahaan startup yang berbasis di Seoul, Enomad menyatakan bahwa stasiun tersebut mampu mengisi daya sebuah telepon pintar dalam waktu 2 hingga 3 jam, dan sebuah tablet dalam 3 hingga 4 jam, dari generator turbin yang menghasilkan 15 sampai 20 watt daya listrik.

Jika dalam tiga bulan pilot proyek ini berhasil, stasiun pengisi daya tersebut dapat diperluas sepanjang 10,8 kilometer (sekitar 6,7 mil) jalur air, yang mana proyek ini merupakan bagian dari proyek energi terbarukan kota senilai 900 juta dollar yang terbuka untuk umum pada tahun 2005.

Foto: inhabitat.com

Korea Selatan merupakan salah satu negara dengan kabel paling banyak di dunia. Lebih dari 70 persen dari 50 juta penduduk negara ini memiliki telepon pintar, dan merupakan negara dengan penetrasi telepon pintar tertinggi di dunia.

Telepon pintar sangat populer sehingga pemerintah negara ini memulai kampanye untuk memerangi kecanduan terhadap telepon pintar. Korea Selatan juga membanggakan diri dengan kecepatan bandwidth tercepat di dunia dengan rencana untuk meng-up-grade jaringan internet seluruh negeri ke teknologi internet 5G. Negara tersebut akan menguji coba layanan 5G pada Olimpiade Musim Dingin yang akan diselenggarakan di PyeongChang.

“Fasilitas generasi hydropower (tenaga air) skala kecil akan meminimalisir efek negatif pada lingkungan saat alat ini menghasilkan listrik tanpa bendungan atau waduk. Alat ini hanya memerlukan turbin yang ringkas,” kata seorang pejabat kota seperti dilansir dari inhabitat.com.

Sebagai informasi tambahan mengenai stasiun pengisi daya bertenaga air, kota ini juga berencana untuk menyediakan penduduknya dengan stan pengisi daya tenaga matahari disekitar Gwanghwamun di pusat Seoul.

(G08)

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/pengisi-daya-perangkat-elektronik-tenaga-air/feed/ 0
Indonesia Belum Memiliki Tempat Pembuangan Limbah Elektronik https://www.greeners.co/berita/indonesia-belum-memiliki-tempat-pembuangan-limbah-elektronik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=indonesia-belum-memiliki-tempat-pembuangan-limbah-elektronik https://www.greeners.co/berita/indonesia-belum-memiliki-tempat-pembuangan-limbah-elektronik/#respond Thu, 04 Sep 2014 05:33:29 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=5674 Jakarta (Greeners) – Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) mengakui, bahwa hingga saat ini Indonesia masih belum memiliki tempat pembuangan akhir limbah elektronik. Deputi Bidang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun, Limbah Bahan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) mengakui, bahwa hingga saat ini Indonesia masih belum memiliki tempat pembuangan akhir limbah elektronik.

Deputi Bidang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun, Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun dan Sampah, Rasio Ridho Sani mengungkapkan bahwa saat ini KLH hanya mampu mendorong perusahaan-perusahaan untuk bisa memanfaatkan limbah-limbah elektronik ini.

“Memang belum ada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) khusus untuk limbah-limbah elektronik ini. Tapi, kita terus mendorong agar perusahaan mau memanfaatkan limbah-limbah elektronik mereka,” ujar Ridho kepada Greeners, Jakarta, Rabu (03/09).

Pria yang akrab disapa Roy ini juga menjelaskan bahwa saat ini sudah banyak perusahaan yang bekerjasama dengan beberapa produsen dari perangkat elektronik yang ada di Indonesia.

Tumpukan sampah elektronik di Pasar Kebayoran Lama. Foto diambil pada Jumat (22/08) lalu. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Tumpukan sampah elektronik di Pasar Kebayoran Lama. Foto diambil pada Jumat (22/08) lalu. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

 

Kedepan, lanjut Roy, KLH akan mendorong lagi extended producer responsibility (EPR), dengan harapan para produsen elektronik mampu bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan tertentu untuk mengumpulkan limbah elektronik, dan dengan perusahaan lain yang mampu memanfaatkan limbah elektronik.

“Ini pasti akan lebih bermanfaat bagi mereka untuk bisa memproduksi lebih lanjut produk-produk mereka,” katanya.

Seperti diketahui, konsumsi perangkat elektronik di Indonesia ,khususnya Jakarta, terbilang cukup tinggi. Namun, yang menjadi masalah, setiap kali masyarakat mengganti produk elektronik mereka yang sudah lama atau rusak dengan produk elektronik yang baru, tidak ada yang tahu kemana larinya sampah-sampah elektronik tersebut.

Roy mengatakan, kebanyakan dari pemulung atau toko-toko elektronik memilih bagian sampah perangkat keras yang sudah tidak layak pakai untuk kembali diproses dalam pembuatan perangkat keras baru lainnya.

Dikanibalin lah, istilahnya, begitu,” pungkas Roy.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/indonesia-belum-memiliki-tempat-pembuangan-limbah-elektronik/feed/ 0
Hydros, Alat Irigasi Cerdas https://www.greeners.co/ide-inovasi/hydros-alat-irigasi-cerdas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hydros-alat-irigasi-cerdas https://www.greeners.co/ide-inovasi/hydros-alat-irigasi-cerdas/#comments Mon, 11 Aug 2014 06:18:37 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_technology&p=5412 Semakin menipisnya ketersediaan air bersih menuntut anda harus lebih cerdas dan bijak dalam menggunakan air. Kini, perangkat elektronik cerdas juga mungkin dapat membantu anda mengurangi penggunaan air di rumah dengan […]]]>

Semakin menipisnya ketersediaan air bersih menuntut anda harus lebih cerdas dan bijak dalam menggunakan air. Kini, perangkat elektronik cerdas juga mungkin dapat membantu anda mengurangi penggunaan air di rumah dengan cara yang mudah dan efisien. Sebuah alat cerdas pengatur irigasi adalah salah satu contohnya. Alat ini menggabungkan sensor lokal, prakiraan cuaca regional, dan algoritma cerdas untuk mengatur irigasi yang optimal untuk halaman rumah, rumput dan kebun.

Dengan mempertimbangkan betapa berharganya air bersih, metode dengan menempatkan alat pemancar air di tengah halaman dan membuka keran air harus dilihat sebagai metode yang ketinggalan jaman dan boros, karena metode tersebut akan terus menyedot air dari tanah hingga kita ingat untuk menutup kerannya kembali.

Selain itu, alat pengatur irigasi sederhana, yang bisa lebih efektif daripada metode alat pemancar air, juga perlu segera ditingkatkan. Saat ini sudah ada beberapa alat irigasi cerdas seperti sistem WaterBee, Edyn dan Iro. Semua alat ini dapat dikontrol dan dimonitor melalui smartphone atau halaman web. Namun, penemuan terbaru, Hydros, menawarkan pilihan lebih yakni mengatur jadwal irigasi yang paling optimal untuk halaman rumah anda.

Foto: simpleelements.us

Hydros memiliki rangkaian sensor, yang dimasukan ke dalam tanah pada setiap area yang akan di siram air (hingga 12 area) untuk memantau kelembapan tanah, suhu dan kondisi cahaya. Alat ini terhubung dengan kontroler secara nirkabel dan dengan jaringan nirkabel rumah untuk mengatur waktu dan durasi pengairan.

Sensor Hydros didesain dengan tinggi hanya setengah inci, yang memungkinkan pengguna memangkas rumput di halamannya tanpa perlu memindahkan alat ini. Selain itu, Hydros menggunakan baterai isi ulang berkapasitas 2400mAh yang mampu bertahan hingga 6 bulan.

Kontroler dari Hydros, yang berfungsi seperti otak dari sistem irigasi cerdas ini, disebut-sebut mampu membuat jadwalnya sendiri karena kemampuannya mengambil data sensor, memperkirakan cuaca, kronologis data cuaca, melalui bagian lain dari komponen Hydros di wilayah lokal, dan mengkombinasikan keduanya dengan algoritma pengairan untuk memberikan air dengan jumlah yang tepat di waktu yang tepat.

Dengan menambahkan sensor di setiap area pengairan yang ingin anda kontrol, Hydros dapat mengatur jadwal irigasi optimal untuk setiap area, yang ketika dikombinasikan dengan algoritma pengairan cerdas, menghindari model yang menyamaratakan pengairan untuk semua area. Hydros bekerja dengan 24V katup air, sesuai standar sistem irigasi rumah, dan kompatibel dengan tegangan listrik baik 220V dan 110V.

Pengguna Hydros dapat memonitor dan melihat data sensor dan jadwal pengairan melalui sebuah aplikasi, yang memungkinkan pengaturan jadwal otomatis, langsung dari tablet atau smartphone.

Seperti halnya kebanyakan perusahaan teknologi sederhana, perusahaan produsen Hydros menggunakan cara crowdfunding untuk membawa produknya ke pasar. Para pendukung proyek ini diharapkan menyumbang 160 dollar dengan timbal balik berupa sebuah kontroler dan sebuah sensor, sebelum akhirnya dijual bebas di pasaran pada Maret 2015 mendatang.

(G33)

Sumber: treehugger.com

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/hydros-alat-irigasi-cerdas/feed/ 2