perempuan - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/perempuan/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Tue, 12 Mar 2024 08:19:31 +0000 id hourly 1 3 Tips Jaga Keamanan Digital dan Finansial bagi Perempuan https://www.greeners.co/gaya-hidup/3-tips-jaga-keamanan-digital-dan-finansial-bagi-perempuan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=3-tips-jaga-keamanan-digital-dan-finansial-bagi-perempuan https://www.greeners.co/gaya-hidup/3-tips-jaga-keamanan-digital-dan-finansial-bagi-perempuan/#respond Wed, 13 Mar 2024 05:00:16 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=43285 Saat ini, perempuan kerap menghadapi berbagai perilaku tidak menyenangkan di dunia digital. Dari pelecehan online hingga penipuan finansial. Perempuan harus lebih waspada untuk memastikan keamanan digital dan keuangan. Berdasarkan data […]]]>

Saat ini, perempuan kerap menghadapi berbagai perilaku tidak menyenangkan di dunia digital. Dari pelecehan online hingga penipuan finansial. Perempuan harus lebih waspada untuk memastikan keamanan digital dan keuangan.

Berdasarkan data Status Literasi Digital Indonesia, literasi digital perempuan belum setara dengan laki-laki. Oleh karena itu, keamanan digital dan finansial perempuan harus terus didorong untuk menciptakan lingkungan di mana seluruh perempuan dihargai dan dihormati.

Head of Corporate Secretary Nawakara, Chiquita mengatakan keamanan digital membutuhkan upaya proaktif melalui penilaian keamanan yang mendalam. Menurutnya, dengan maraknya kejahatan digital, nyatanya perempuan lah yang berperan besar terhadap pembangunan keamanan digital di Indonesia. Kendati demikian, keamanan digital kerap menjadi benteng penggunaan teknologi bagi para perempuan.

BACA JUGA: Prada Luncurkan Koleksi Hand Bag Daur Ulang Terbaru

“Di sini, literasi keamanan digital sangat penting bagi perempuan demi meminimalisasi berbagai risiko yang ada hingga mencapai kemandirian finansial dan membangun masa depan yang aman, serta sejahtera untuk diri mereka sendiri dan keluarga mereka,” ujar Chiquita dalam acara Super WOWmen, Jumat (8/3).

Oleh sebab itu, simak tiga tips bagi para perempuan untuk tetap aman dalam keamanan digital berikut ini!

Perempuan harus lebih waspada untuk memastikan keamanan digital dan keuangan. Foto: Nawakara

Perempuan harus lebih waspada untuk memastikan keamanan digital dan keuangan. Foto: Nawakara

1. Teliti dalam menggunakan aplikasi keuangan

Tips pertama, perempuan harus lebih teliti dalam menggunakan aplikasi keuangan digital. Misalnya, sebagai seorang “menteri keuangan” dalam keluarga, tentu aplikasi keuangan digital menjadi aplikasi utama.

Maka dari itu, dalam menilai sebuah aplikasi keuangan digital tersebut, perempuan perlu mencari tahu terlebih dahulu. Misalnya, mulai dari reputasinya, keamanannya, berapa banyak penggunaanya, hingga testimoninya.

BACA JUGA: Panji Sakti Ungkap Rasa Senang Menyanyi di Tengah Pepohonan

Setelah tahu aplikasi keuangan tersebut aman, langkah selanjutnya adalah memastikan keamanan digital terjaga. Contohnya, tidak menyimpan sandi menggunakan angka sederhana seperti tanggal lahir, angka berurutan, dan lain sebagainya.

2. Tidak pakai wifi di tempat umum

Selain itu, hal yang perlu kamu perhatikan dalam keamanan digital adalah tidak menggunakan wifi di tempat umum. Mulai dari sekarang, kamu sebaiknya tidak menggunakan wifi di tempat umum untuk mengakses aplikasi yang memiliki data private yang bersifat substansial, seperti aplikasi keuangan digital atau mobile banking.

Hal ini untuk menghindari penyadapan yang mudah diakses area publik untuk mengambil data dari handphone yang terhubung ke wifi tersebut.

3. Perhatikan permintaan data diri dari pinjaman online

Tips terakhir, kamu harus memperhatikan secara jeli permintaan akses data diri dari pinjaman online atau pinjol. Fenomena pinjol ini kerap terjadi karena rendahnya tingkat literasi keuangan perempuan.

Maka dari itu, kamu perlu mengantisipasi adanya pencurian data pribadi di aplikasi pinjol. Sebab, hal ini sangatlah penting untuk keamanan data diri. Kamu perlu memperhatikan permintaan akses aplikasi pinjol pada ponsel pengguna.

Jika diluar kewajaran yang telah ditentukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), maka persetujuan akses tersebut sebaiknya ditolak. Sebab, pengamanan data yang baik sangat penting bagi setiap orang.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/3-tips-jaga-keamanan-digital-dan-finansial-bagi-perempuan/feed/ 0
Peraturan Keadilan Iklim Perlu Didukung Demokrasi yang Baik https://www.greeners.co/berita/peraturan-keadilan-iklim-perlu-didukung-demokrasi-yang-baik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=peraturan-keadilan-iklim-perlu-didukung-demokrasi-yang-baik https://www.greeners.co/berita/peraturan-keadilan-iklim-perlu-didukung-demokrasi-yang-baik/#respond Tue, 21 Nov 2023 08:03:45 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=42316 Jakarta (Greeners) – Masyarakat sipil mendorong peraturan perundang-undangan keadilan iklim untuk mengatasi krisis iklim. Hal itu perlu dukungan berupa demokrasi yang baik dan menghormati setiap hak asasi manusia (HAM). Saat […]]]>

Jakarta (Greeners) – Masyarakat sipil mendorong peraturan perundang-undangan keadilan iklim untuk mengatasi krisis iklim. Hal itu perlu dukungan berupa demokrasi yang baik dan menghormati setiap hak asasi manusia (HAM).

Saat ini, krisis iklim telah melanda belahan dunia. Ada banyak korban akibat krisis iklim yang semakin parah. Apalagi, marak pembangunan eksploitatif yang berdampak pada HAM warga yang berlapis.

BACA JUGA: Buka Ruang Keadilan Iklim untuk Masyarakat Adat

Direktur Eksekutif Indonesian Center for Environmental Law (ICEL), Raynaldo G. Sembiring mengatakan, kondisi ketidakadilan iklim ini paling banyak berkaitan dengan situasi demokrasi. Kemudian, HAM dan tata kelola dari kementerian serta regulasinya perlu ditegakkan lebih serius. Hal itu dengan cara membedah satu per satu indeks situasi di Indonesia.

“Keadilan iklim itu banyak yang perlu diidentifikasi. Kita enggak butuh sebagai Undang-Undang (UU) saja dan tidak mau UU keadilan iklim itu, tidak jauh berbeda dari UU yang lainnya. Kita mau UU ini ada jawaban dari ketidakadilan iklim untuk mencapai keadilan,” ujar Reynaldo di acara Diskusi Publik Narasi Keadilan Iklim, Senin (20/11).

Perlu Demokrasi yang Baik untuk Mencapai Keadilan Iklim

Tak sekadar mendorong regulasi soal keadilan iklim, menurut Reynaldo, terpenting adalah demokrasi yang baik. Selain itu, perlindungan terhadap sekelompok orang yang tidak beruntung, serta harus ada pengakuan masyarakat adat. Hal tersebut perlu identifikasi oleh para koalisi. Sehingga, tidak terjebak dalam regulasi perubahan iklim seperti Paris Agreement dan lainnya.

Sementara itu, Anggota Komisi IV DPR RI Luluk Nur Hamidah juga menyatakan, UU keadilan iklim ini suatu kebutuhan sangat penting dan mendesak. Hal itu mengingat fakta perubahan iklim saat ini sudah sangat nyata.

“Namun demikian, peraturan soal perubahan iklim di Indonesia itu masih tersebar di berbagai peraturan, masih jauh dari kata efektif. Sudah banyak diskusi soal ini di DPR, tapi kita juga butuk desakan kuat dan suara kencang agar UU bisa benar-benar menjadi prioritas. Ini adalah proses politik dan belum dilihat sebagai kepentingan mendesak,” ujar Luluk.

Masyarakat sipil mendorong peraturan perundang-undangan keadilan iklim untuk mengatasi krisis iklim. Foto: Dini Jembar Wardani

Masyarakat sipil mendorong peraturan perundang-undangan keadilan iklim untuk mengatasi krisis iklim. Foto: Freepik

Perubahan Iklim Mengancam Kelompok Rentan

Perlu tindakan serius terkait fenomena perubahan iklim. Keadilan iklim lewat UU juga penting untuk terus didiskusikan. Sebab, perubahan iklim kian mengancam kelompok rentan.

“Kami membaca dari banyak laporan, yaitu soal pendidihan. Tahun 2023 itu sangat terasa. Pemanasannya tinggi sekali, sampai 40 derajat Celcius. Situasi itu bertambah buruk bagi kelompok rentan seperti anak-anak, kelompok disabilitas, perempuan juga berkali lipat terganggu kesehatannya. Sehingga, mereka tidak bisa sekolah, tidak bisa bekerja,” ungkap Ketua Badan Pengurus YLBHI, Muhammad Irus.

BACA JUGA: Koprol Iklim Bangun Inklusivitas Melawan Krisis Iklim

Dalam menciptakan sebuah UU soal keadilan iklim, tambah Irus, landasan demokrasi dan kondisi aparat untuk menghormati masyarakat pun perlu didorong. Selain itu, perlu penguatan koordinasi terhadap kelembagaan.

“Sambil kami menjembatani, kami juga bisa membuat analisis UU saat ini yang menghambat rencana aksi iklim,” tegas Irus.

Perempuan Paling Rentan Terdampak Perubahan Iklim

Dalam kesempatan yang sama, pihak Komnas HAM juga menyampaikan bahwa perempuan menjadi gender paling rentan terdampak perubahan iklim. Misalnya, bencana, alih fungsi lahan sangat berdampak terhadap perempuan.

“Kemudian, perubahan iklim ini memengaruhi lingkungan sosial ekonomi. Selain itu, juga berpengaruh pada kesehatan mental. Misalnya, perkawinan anak dan perdagangan orang meningkat. Dalam konteks pengungsian, saat bencana pun perempuan risikonya lebih rentan mendapatkan kekerasan 14 kali lebih tinggi daripada laki-laki,” kata Komsioner Komnas Perempuan, Siti Aminah.

Aminah menambahkan, mendorong paradigma pembangunan yang berpihak kepada lingkungan juga tak kalah penting untuk masuk ke landasan kebijakan. Hal itu bisa diperkuat dengan kasus-kasus perampasan sumber daya lahan yang menimbulkan sebuah ancaman, khususnya bagi perempuan.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/peraturan-keadilan-iklim-perlu-didukung-demokrasi-yang-baik/feed/ 0
Pendakian Gunung Bisa Perempuan Taklukkan Dengan Cara Ini! https://www.greeners.co/aksi/pendakian-gunung-bisa-perempuan-taklukkan-dengan-cara-ini/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pendakian-gunung-bisa-perempuan-taklukkan-dengan-cara-ini https://www.greeners.co/aksi/pendakian-gunung-bisa-perempuan-taklukkan-dengan-cara-ini/#respond Tue, 09 Aug 2022 04:30:56 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=36970 Jakarta (Greeners) – Mendaki gunung identik dengan zona kaum pria. Namun kaum perempuan pun punya kekuatan yang sama untuk bisa menaklukkan sebuah gunung lewat pendakian. Ketekunan berlatih fisik jadi kunci. […]]]>

Jakarta (Greeners) – Mendaki gunung identik dengan zona kaum pria. Namun kaum perempuan pun punya kekuatan yang sama untuk bisa menaklukkan sebuah gunung lewat pendakian. Ketekunan berlatih fisik jadi kunci.

Aktivitas mendaki gunung merupakan salah satu hal menyenangkan untuk mendekatkan seseorang pada alam. Tantangan medan yang berat membutuhkan ketahanan fisik dan mental yang kuat pula. Itulah mengapa masyarakat kerap memiliki persepsi mendaki adalah kegiatan kaum pria.

Co Founder Komunitas Wanita dan Gunung (WG) Rika Masda mengatakan, karakteristik tubuh fisik perempuan seperti menstruasi, hamil dan melahirkan memang berimbas signifikan saat mendaki gunung. Akan tetapi, bila diimbangi dengan latihan fisik, mental dan edukasi maka hal itu tak menjadi penghalang.

“Kerap kali kita perempuan dianggap lemah. Padahal kalau kita menyiapkan latihan fisik sebelumnya maka kita juga sama kuatnya,” katanya dalam diskusi Outfest, baru-baru ini.

Selain itu, Rika juga menekankan pentingnya faktor keamanan agar tak mengalami hal-hal yang membahayakan di gunung. Itulah mengapa, para pendaki perempuan hendaknya mempelajari terlebih dahulu secara detail terkait medan gunung yang akan mereka daki.

“Kesalahan yang kerap pendaki perempuan lakukan yaitu menyepelekan alam. Kita harus belajar dan memastikan dengan mencegah sesuatu yang tak kita inginkan seminimal mungkin,” paparnya.

Latihan Fisik Jadi Kunci Pendakian

Dari kondisi fisik perempuan, kerap kali terkesan rumit saat mendaki gunung, terutama bila mengalami menstruasi. Hal ini akan berimbas pada perubahan fisik dan emosi perempuan. Rika membenarkan hal ini, tapi ia menyatakan pentingnya latihan fisik agar tubuh tetap bugar dan sehat.

“Latihan fisik yang baik dan benar, paling tidak sebulan sebelumnya. Itu tak boleh kita sepelekan agar tetap sehat,” imbuhnya.

Ia juga menyarankan, agar para pendaki perempuan mencermati gunung-gunung yang tak boleh mereka daki saat menstruasi. Misalnya, sesuai kepercayaan masyarakat Bali semua gunung di Bali tak boleh perempuan menstruasi daki. “Ini penting sebagai bentuk penghormatan kita terhadap adat istiadat setempat,” ucapnya.

Sementara Ketua Pemandu Gunung Indonesia (APGI) Vita Cecilia mengungkapkan, pendaki perempuan justru memiliki kontrol diri yang lebih tinggi. Termasuk kerap kali memperhatikan detail persiapan saat akan melakukan pendakian.

“Itulah kenapa sebenarnya tak ada yang perlu dikhawatirkan pada pendaki perempuan,” ujarnya.

Selain itu, ia juga menyarankan bagi pendaki pemula perempuan untuk berolahraga kardio yang menguatkan otot kaki. Khusus bagi pendaki perempuan pertama yang tak terbiasa olahraga, sambung dia sebulan sebelumnya bisa melakukan jalan cepat minimal satu jam sehari di area terbuka.

Sedangkan kalau olahraga di gym itu 1,5 hingga dua jam sehari. “Karena saat kita latihan maka otot kita dilatih untuk bertahan. Latihan ini harus konsisten,” ucapnya.

Selain itu, dalam pendakian, ada baiknya pendaki perempuan untuk memanfaatkan jasa pemandu wisata. Selain berguna untuk memastikan keamanan pendakian, juga turut berkontribusi memberdayakan ekonomi masyarakat sekitar.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/aksi/pendakian-gunung-bisa-perempuan-taklukkan-dengan-cara-ini/feed/ 0
Peneliti Perempuan Membangun Peradaban dengan Ilmu Pengetahuan https://www.greeners.co/aksi/peneliti-perempuan-membangun-peradaban-dengan-ilmu-pengetahuan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=peneliti-perempuan-membangun-peradaban-dengan-ilmu-pengetahuan https://www.greeners.co/aksi/peneliti-perempuan-membangun-peradaban-dengan-ilmu-pengetahuan/#respond Thu, 10 Mar 2022 03:45:36 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=35532 Jakarta (Greeners) – Hari perempuan internasional menjadi peringatan untuk menyoroti hak-hak perempuan. Dalam perkembangan dunia saat ini peneliti perempuan juga punya kontribusi besar untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan gender. Plt […]]]>

Jakarta (Greeners) – Hari perempuan internasional menjadi peringatan untuk menyoroti hak-hak perempuan. Dalam perkembangan dunia saat ini peneliti perempuan juga punya kontribusi besar untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan gender.

Plt Sekretaris Utama, Nur Tri Aries Suestiningtyas mengatakan, Hari Perempuan Internasional bertujuan untuk merayakan pencapaian sosial, ekonomi, budaya dan politik perempuan. International Women’s Day yang diperingati setiap 8 Maret.

“Hari Perempuan Internasional kini telah menjadi monumen dalam merayakan seberapa jauh perempuan mempunyai peranan besar dalam masyarakat. Bahkan peran yang lebih esensial untuk kemajuan global, salah satunya dalam bidang sains dan teknologi,” kata Nur baru-baru ini.

Menurutnya, Ilmu pengetahuan dan gender saat ini penting dalam membangun peradaban. Ilmu pengetahuan menjadi fondasi inovasi kemajuan suatu bangsa. Sementara perempuan menyokong ketersediaan sumber daya manusia yang berkualitas, keduanya saling berikatan.

Partisipasi Perempuan Dalam Ilmu Pengetahuan Masih Minim

UNESCO merilis data bahwa partisipasi perempuan dalam bidang ilmu pengetahuan masih minim. Kurang dari total 30 % periset di seluruh dunia. “Oleh karena itu, melalui peringatan hari perempuan maupun kesempatan riset lainnya, PBB menaruh harapan sekaligus pesan bagi dunia bahwa perempuan perlu meningkatkan perannya dalam kemajuan sains dan inovasi,” lanjutnya

Peneliti Bidang Teknologi Lingkungan Dr. rer.nat. Ir. Neni Sintawardani menyebut, para peneliti perempuan di Indonesia berjumlah sangat terbatas. Keadaan semakin memburuk bila para peneliti perempuan Indonesia terperangkap dalam sikap yang kurang mau terbuka.

“Kita harus memperbaiki konsep kita mengenai dunia penelitian. Kita harus bisa sharing ide, knowledge tanpa ketakutan idenya akan diambil oleh orang lain,” katanya dalam webinar Talk to Science (TTS) International Women’s Day, baru-baru ini.

Lebih jauh ia menyebut, budaya peneliti tersebut sudah seharusnya berubah. Sikap keterbukaan sudah seharusnya terbangun secara kolektif sehingga sesama peneliti perempuan tak saling menjatuhkan. Terlebih, sambung dia pada bidang engineering yang ia geluti.

Peneliti Perempuan Harus Ikut Memperbaiki Iklim Riset

Neni khawatir, sikap tertutup dari peneliti perempuan di Indonesia justru menghadirkan persaingan yang tak sehat sehingga tak memperbaiki iklim riset di Indonesia. Keterbatasan sumber daya, infrastruktur menjadi masalah keseharian periset di Indonesia. Hanya dengan sikap saling berbagi dan terbukalah semua masalah bisa terasa ringan.

Ia menggarisbawahi upaya peningkatan produktivitas perempuan sebagai peneliti tak lantas menjadikannya harus bersaing dengan laki-laki. Akan tetapi, hal yang paling penting yakni memastikan kontribusi apa yang bisa peneliti lakukan sebagai perempuan untuk lingkungan sekitar.

“Apa yang bisa kita buat untuk meringankan, untuk lingkungan dan bangsa kita. Itu yang kita kembangkan bersama,” imbuhnya.

Dr. rer.nat. Ir. Neni Sintawardani pernah memenangkan penghargaan The Underwriters Laboratories-ASEAN-U.S. Science Prize for Women 2021. Penghargaan ini ia peroleh karena penelitiannya dalam peningkatan sistem sanitasi masyarakat untuk mendukung ketersediaan air bersih, menggunakan biogas dari air limbah olahan.

Dalam kesempatan itu, hadir pula peneliti bidang teknologi proses elektrokimia, Prof. Dr. Eng Eniya Listiani Dewi, B.Eng., M.Eng. Ia merupakan alumnus S1-S3 dari Waseda University di Jepang. Eniya pernah berhasil meraih penghargaan UNESCO-L’oreal dan menerima Habibie Award termuda sepanjang sejarah.

Penghargaan Habibie Award ini ia dapat karena keberhasilannya menemukan katalis baru untuk sel bahan bakar. Eniya pun mendorong peran peneliti perempuan dan perempuan pada umumnya untuk menciptakan bangsa yang berjaya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/aksi/peneliti-perempuan-membangun-peradaban-dengan-ilmu-pengetahuan/feed/ 0
Aktivis Lingkungan Perempuan: Pemimpin Pergerakan dari Penjuru Dunia https://www.greeners.co/aksi/aktivis-lingkungan-perempuan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=aktivis-lingkungan-perempuan https://www.greeners.co/aksi/aktivis-lingkungan-perempuan/#respond Mon, 08 Mar 2021 12:00:03 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=31919 Dalam memperingati hari perempuan internasional, inilah para aktivis lingkungan perempuan dari berbagai belahan dunia yang patut mendapat sorotan akan perjuangan dan dedikasi mereka untuk keberlanjutan global.]]>

Bertepatan dengan International Women’s Day, Hari Perempuan Internasional, Greeners mengajak kamu untuk berkenalan dengan beberapa tokoh aktivis lingkungan perempuan dari penjuru dunia, termasuk dari Tanah Air. Yuk, simak berikut ini!

Perempuan menanggung beban terbesar dari krisis pemanasan global. Menurut PBB, perempuan membentuk 80% orang yang terlantar karena perubahan iklim.

Di seluruh dunia, perempuan adalah pengasuh utama dan penyedia makanan dan bahan bakar. Ini membuat mereka lebih rentan terhadap dampak perubahan iklim.

Suara-suara perempuan sangat penting dalam perang melawan pemanasan global. Hal ini karena mereka melihat secara langsung dampak perubahan iklim pada komunitas mereka. Sehingga para perempuan dapat memberi respon yang sesuai dengan kondisi lingkungan saat ini; juga bagaimana cara manusia beradaptasi dan membuat perubahan yang lebih ramah lingkungan.

Dengan tenggat waktu 2030 untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB yang makin mendekat, penting saat ini untuk memberikan ruang yang sama bagi perempuan untuk berkontribusi menciptakan solusi, lebih dari sebelumnya.

Perjanjian Paris 2015 pun menyerukan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.

Faktanya, perempuan terkena dampak yang tidak proporsional dan dapat melakukan sejumlah pekerjaan yang luar biasa untuk menghadapi perubahan iklim.

Memperingati Hari Perempuan Internasional, inilah para aktivis lingkungan perempuan dari berbagai belahan dunia yang patut mendapat sorotan akan perjuangan dan dedikasi mereka untuk keberlanjutan global.

Vandana Shiva, India

vandana shiva

Vandana Shiva menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mempertahankan keanekaragaman hayati. Foto: Shutterstock.

Vandana Shiva adalah seorang pecinta lingkungan dari India yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mempertahankan keanekaragaman hayati.

Dia berkampanye melawan rekayasa genetika yang menjadi dampak negatif globalisasi dengan mendirikan Navdanya pada 1991.

Navdanya adalah sebuah lembaga penelitian yang bertujuan untuk melindungi keragaman dan integritas native seeds atau benih asli, sambil mempromosikan praktik perdagangan yang adil.

Pergerakannya ini menjadikannya tokoh kunci dalam memberikan tekanan pada Bank Dunia.

Selain itu, Siva juga memimpin kampanye internasional tentang hak makanan, serta gerakan global yang disebut Diverse Women for Diversity atau Beragam Perempuan untuk Keragaman. Majalah Time menyebut Dr. Shiva sebagai pahlawan lingkungan pada tahun 2003.

Swietenia Puspa Lestari, Aktivis Lingkungan Perempuan dari Indonesia

swietenia

Swietenia Puspa Lestari mempelajari masalah konservasi laut dan mengambil peran sebagai fasilitator untuk mengembangkan masyarakat pesisir . Foto: Istimewa.

Berawal dari hobi menyelam, Tenia mendirikan Divers Clean Action, sebuah organisasi nirlaba pemuda yang bergerak dalam bidang lingkungan dengan fokus pada permasalahan sampah plastik di laut.

Dia mempelajari masalah konservasi laut dan mengambil peran sebagai fasilitator untuk mengembangkan masyarakat pesisir dan melakukan berbagai kampanye dan pelatihan terkait sampah laut.

Tenia juga menjadi pemrakarsa #NoStrawMovement atau Gerakan Tanpa Sedotan Plastik.

Isatou Ceesay, Gambia

isatou ceesa

Ceesay bekerja untuk mengedukasi warga tentang daur ulang dan mengurangi jumlah sampah yang tercipta. Foto: climateheroes.org.

Isatou Ceesay yang mendapat julukan “Ratu Daur Ulang,” adalah seorang aktivis Gambia yang memulai gerakan daur ulang ‘Satu Kantong Plastik’ di Gambia. Ceesay bekerja untuk mengedukasi warga tentang daur ulang dan mengurangi jumlah sampah yang tercipta.

Dia mendirikan proyek Women Initiative The Gambia (WIG) yang menciptakan benang tenun dari plastik dan membentuk tas dari limbah upcycled.

Proyeknya tidak hanya secara drastis mengurangi jumlah limbah di desanya, tetapi juga mempekerjakan ratusan wanita Afrika Barat dan memberi mereka pendapatan bulanan.

Kelompok ini juga telah mengumpulkan lebih dari 2.000 anggota di 40 komunitas yang  berbeda di seluruh negeri.

Tak hanya itu, gerakan inisiasi Ceesay juga mendorong peralihan kebiasaan toko-toko lokal yang saat ini lebih memilih menggunakan kantong kertas daripada plastik yang menjadi polutan terbesar negara mereka.

Marina Silva, Aktivis Lingkungan Perempuan dari Brasil

Marina Silva

Sebagai tokoh sentral dalam protes deforestasi di Brasil, Marina Silva membantu membangun cagar alam seluas 2 juta hektar. Foto: Shutterstock.

Marina Silva adalah pejuang untuk Hutan Hujan Amazon di Brasil. Sebagai tokoh sentral dalam protes deforestasi di Brasil, Marina Silva membantu membangun cagar alam seluas 2 juta hektar; dan yang mengelolanya adalah komunitas tradisional.

Silva adalah rekan Chico Mendes, yang dibunuh karena membela hutan hujan pada tahun 1988. Dia dan Mendes memimpin demonstrasi pada 1980-an untuk melindungi hutan hujan dari kendali pemerintah.

Demonstrasi ini membuahkan hasil yaitu perlindungan ribuan hektar hutan tropis dan mata pencaharian ratusan keluarga dalam pemanfaatan karet.

Setelah pembunuhan Mendes, Silva menjadi politisi dan berjuang untuk perlindungan lingkungan, pembangunan berkelanjutan, dan keadilan sosial. Selama karier politiknya, deforestasi menurun 59% dari 2004 hingga 2007.

Tiza Mafira, Indonesia

tiza mafira

Berkat petisi yang dia gagas, Tiza Mafira berhasil mendorong dua belas pemerintah daerah membuat kebijakan pembatasan kantong plastik sekali pakai di daerahnya masing-masing. Foto: Greeners/Dewi Purningsih.

Berkat petisi yang ia gagas, Tiza berhasil mendorong dua belas pemerintah daerah membuat kebijakan pembatasan kantong plastik sekali pakai di daerahnya masing-masing.

Sebagai Direktur Eksekutif dari lembaga swadaya masyarakat Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP), ia juga dipercaya mendampingi daerah-daerah di Indonesia untuk membuat regulasi pembatasan kantong plastik.

Selain itu, Tiza juga terpilih menjadi salah satu Ocean Heroes 2018. Penghargaan tersebut ia dapatkan karena telah mengampanyekan pengendalian dan penghapusan plastik sekali pakai sejak tahun 2013.

Baca juga: Tiza Mafira: Pelopor Kebijakan Pembatasan Kantong Plastik Sekali Pakai

Rachel Carson, Amerika Serikat

rachel carson

Patung Rachel Carson di Waterfront Park, Woods Hole, Massachusetts, Amerika Serikat. Foto: Shutterstock.

Rachel Carson adalah penulis dari Silent Spring. Karyanya yang terkenal ini merupakan ekspos tentang salahnya informasi dalam industri kimia dan penggunaan pestisida sintetis, khususnya Dichoro Diphenyl Trichlorethane (DDT).

Buku ini memacu revolusi lingkungan. Tema keseluruhan buku ini adalah kekuatan manusia dan efeknya yang sangat negatif terhadap alam.

Warisan abadi Carson menyebabkan pembentukan Badan Perlindungan Lingkungan di Amerika Serikat di bawah pemerintahan Nixon dan merintis pembahasan serius mengenai dampak manusia terhadap lingkungan.

Greta Thunberg, Aktivis Lingkungan Perempuan dari Swedia

greta thunberg

Bermula dari Agustus 2018, Greta Thunberg menghabiskan hari-hari sekolahnya di depan parlemen Swedia. Foto: Shutterstock.

Greta Thunberg adalah aktivis lingkungan berusia 17 tahun dari Swedia yang membawa dunia dengan gerakan Fridays for Future-nya. 

Bermula dari Agustus 2018, Greta menghabiskan hari-hari sekolahnya di depan parlemen Swedia. Ia menyerukan akan perlunya tindakan yang lebih kuat dalam menghadapi perubahan iklim dengan memegang papan berisi tulisan “Skolstrejk för klimatet” (mogok sekolah untuk iklim).

Citranya menjadi viral, membuat Greta dapat berbicara di hadapan para pemimpin dunia dalam Forum Ekonomi Dunia, Konferensi Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa; dan juga Komite Pemilihan Perwakilan Rakyat AS tentang Krisis Iklim.

The Greta Effect” telah menginspirasi para pecinta lingkungan muda di seluruh dunia, dan telah membawa krisis iklim global menjadi perhatian publik.

Penulis: Agnes Marpaung.

Sumber:

Refinery29

Greenpop

]]>
https://www.greeners.co/aksi/aktivis-lingkungan-perempuan/feed/ 0
Riset Gender dan Perubahan Iklim: Perempuan Lebih Peduli Terhadap Lingkungan https://www.greeners.co/berita/riset-gender-dan-perubahan-iklim/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=riset-gender-dan-perubahan-iklim https://www.greeners.co/berita/riset-gender-dan-perubahan-iklim/#respond Thu, 24 Dec 2020 03:00:54 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=30673 Krisis iklim dan gangguan lingkungan konvensional merupakan masalah bagi setiap negara. Konservasi sebagai upaya pemeliharan dan perlindungan sumber daya alam bisa jadi salah satu solusi agar lingkungan dapat bertahan untuk generasi mendatang. Sebagai masalah global, penyelesaian masalah lingkungan melalui konservasi perlu kerja sama lintas sektor dan lintas negara. Bahkan, tujuan konservasi tidak hanya terdiri dari satu jenis gender saja.]]>

Krisis iklim dan gangguan lingkungan merupakan masalah bagi setiap negara. Konservasi sebagai upaya pemeliharan dan perlindungan sumber daya alam bisa jadi salah satu solusi agar lingkungan dapat bertahan untuk generasi mendatang. Sebagai masalah global, penyelesaian masalah lingkungan melalui konservasi perlu kerja sama lintas sektor dan lintas negara. Tujuan konservasi tidak terpaku pada satu jenis gender saja.

Jakarta (Greeners) – Manajer Climate Reality Indonesia, Amanda Katili-Niode, mengatakan semua gender memegang peranan penting dalam konservasi. Amanda mengemukakan temuan menarik dari riset Yale Program on Climate Change Communication. Riset tersebut menunjukan ada kesenjangan gender yang meski kecil, tapi konsisten dalam pandangan lingkungan dan opini perubahan iklim.

“Rata-rata perempuan lebih peduli terhadap lingkungan dibanding laki-laki. Rata-rata perempuan memiliki opini dan keyakinan pro iklim yang lebih kuat,” ujar Amanda dalam webinar “Perempuan dan Konservasi”, di Jakarta, Selasa, (22/12/2020).

‘Kadang Kala Ada Anggapan Remeh Terhadap Perempuan’

Kepala Balai Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, Murlan Dameria Pane, menjelaskan perempuan bisa mengisi berbagai peran dalam konservasi seperti penyuluh, pelestari budaya dan alam, penyelamat lingkungan, dan pilar keluarga dan negara.

Menurutnya, keterlibatan perempuan dalam menjaga lingkungan tidak selalu harus mengisi posisi strategis. Perempuan, lanjut dia, bisa melakukan hal-hal kecil dengan tetap menjadi diri sendiri dalam membuat hal-hal bermanfaat bagi alam.

Di sisi lain, berbagai tantangan juga membayangi perempuan dalam kegiatan konservasi. Salah satu yang paling sering terjadi adalah anggapan kurang tepat bahwa perempuan tidak bisa mengemban tantangan fisik.

Pasalnya, kegiatan konservasi menuntut peninjauan lapangan untuk mengetahui kondisi, masalah, dan solusi atas fenomena yang terjadi.

“Kadang kala ada anggapan remeh terhadap perempuan. Tidak mungkin bisa berada di lapangan. Soal fisik ini biasanya kita dianggap paling lemah,” jelasnya.

Riset Gender dan Perubahan Iklim

Salah satu yang paling sering terjadi adalah anggapan kurang tepat bahwa perempuan tidak bisa mengemban tantangan fisik. Foto: Shutterstock.

Baca juga: Indonesian Aroid Society: Indonesia Harus Jadi Basis Tanaman Hias Dunia

Perempuan Tegas dan Berani Lawan Penebang Liar

Tantangan fisik juga pernah terjadi pada Siti Maimunah. Pegiat Lingkungan yang meraih Penghargaan Kalpataru 2019 ini juga sempat dipandang sebelah mata ketika menjalani aktivitasnya menjaga lingkungan dan reboisasi. Orang-orang, bahkan tim penilai Kalpataru sendiri, tidak menyangka jika Siti bisa bertahan di hutan.

“Bahkan, tim penilai (Kalpataru) sempat ragu jika saya biasa masuk keluar hutan. Tapi pada akhirnya tim penilai tersebut yang malah kesulitan ketika berada di hutan,” terangnya.

Siti menilai kesabaran dan ketabahan perempuan bisa menyelesaikan masalah kerusakan hutan yang kompleks. Perempuan, lanjut dia, juga memiliki kemampuan menggaet hati masyarakat.

Menurutnya, hal tersebut penting dalam konservasi yang kerap mengalami penolakan dari masyarakat.

“Saya pernah bersitegang dengan pelaku illegal logging. Bahkan pelaku mengatakan kalau saya laki-laki, saya akan dibunuh. Pada kasus tersebut, perempuan memiliki nilai lebih. Para pembuat masalah konservasi, terutama laki-laki, akan ragu untuk bertindak semena-mena (terhadap perempuan),” pungkasnya.

Penulis: Muhammad Ma’rup

Editor: Ixora Devi

]]>
https://www.greeners.co/berita/riset-gender-dan-perubahan-iklim/feed/ 0
Basic Training Wanita & Gunung 1 Kampanyekan Pendakian yang Aman https://www.greeners.co/aksi/basic-training-wanita-gunung-1-kampanyekan-pendakian-aman/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=basic-training-wanita-gunung-1-kampanyekan-pendakian-aman https://www.greeners.co/aksi/basic-training-wanita-gunung-1-kampanyekan-pendakian-aman/#respond Sat, 08 Apr 2017 11:03:00 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=16650 “Basic Training I Wanita & Gunung” di Gunung Merbabu yang diadakan oleh komunitas Wanita & Gunung (WG) bertujuan untuk mengampanyekan mengenai pendakian yang aman dan nyaman khususnya bagi wanita.]]>

(Greeners) – “Basic Training I Wanita & Gunung” adalah salah satu program dari komunitas Wanita & Gunung (WG) yang bertujuan untuk mengampanyekan mengenai pendakian yang aman dan nyaman khususnya bagi wanita. Basic Tarining ini dilaksanakan pada tanggal 25-27 Maret 2017 di Gunung Merbabu, Jawa Tengah dan diikuti oleh 57 wanita (52 peserta dan 5 panitia), 17 orang tim support dari IDERU Jateng dan anggota lintas komunitas Yogyakarta.

Hera Herdiyanti selaku Project Officer Basic Training Wanita & Gunung 1 menyatakan, tujuan dilaksanakannya kegiatan ini adalah untuk mengkampanyekan perjalanan yang aman dan nyaman. “Mendaki Gunung bukan hal yang gampang, malah justru berat dan mahal. Maka dari itu diperlukan persiapan dasar pendakian (basic preparation),” jelas Hera seperti dinyatakan dalam surat elektroniknya kepada Greeners.

Menurut Hera, meningkatnya pendakian gunung di Indonesia saat ini ternyata belum diiringi dengan pengetahuan pendakian yang aman oleh para pendaki itu sendiri. “Banyak pendaki, khususnya wanita, kurang memiliki pengetahuan tentang pendakian itu sendiri. Banyak yang mengutamakan “nyaman” saat diperjalanan dibandingkan “aman.” Kelengkapan peralatan dan persiapan fisik sangat penting untuk mendukung perjalanan yang aman,” katanya.

Peserta basic training ini berasal dari berbagai kalangan, termasuk didalamnya inner circle WG. Untuk persiapan, para peserta diarahkan untuk mulai berlatih fisik dan melengkapi peralatan pribadi pendakian sejak awal pendaftaran. Pada H-30, panitia memecah peserta menjadi tim-tim kecil untuk memudahkan mereka menyiapkan peralatan kelompok.

Pada kegiatan basic training yang disponsori oleh Eiger dan Uttara ini, para peserta diajak untuk belajar dan berbagi ilmu bersama dalam satu ruangan kelas sebelum melakukan pendakian. Materi yang diberikan adalah mengenai basic preparation yang disampaikan oleh Wanadri dan Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) yang disampaikan oleh DORAYAKI.

Pendakian dimulai pada tanggal 26 Maret pukul 08.00 WIB dengan kondisi cuaca yang kurang bersahabat. Angin kencang dan hujan mengiringi keberangkatan pendakian. Namun ditengah perjalanan, cuaca mulai membaik dan pendakian bisa dilakukan dengan lancar hingga semua peserta tiba di campsite (Sabana 1) tanpa kekurangan suatu apapun. Semangat yang luar biasa ditunjukan oleh seluruh peserta selama acara berlangsung. Hal itulah yang bisa membawa mereka berdiri di puncak Klenteng Songo tepat pada tanggal 27 Maret pukul 07.30 WIB.

“Secara pribadi, saya merasa cukup puas karena semua persiapan yang dilakukan terbayar oleh senyuman semua pihak yang terlibat. Hal yang paling membuat saya merinding sekaligus ikut terpacu adalah semangat serta antusiasme dari para peserta selama kegiatan. Cuaca yang kurang bersahabat di awal pendakian pun sama sekali tidak menyurutkan mereka. Salut,” pungkasnya.

Penulis: Renty Hutahaean

]]>
https://www.greeners.co/aksi/basic-training-wanita-gunung-1-kampanyekan-pendakian-aman/feed/ 0
Perempuan Juga Bisa Memimpin Perjuangan Masyarakat https://www.greeners.co/berita/perempuan-juga-bisa-memimpin-perjuangan-masyarakat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=perempuan-juga-bisa-memimpin-perjuangan-masyarakat https://www.greeners.co/berita/perempuan-juga-bisa-memimpin-perjuangan-masyarakat/#respond Wed, 24 Jun 2015 06:45:57 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=9928 Jakarta (Greeners) – Begitu maraknya krisis sosial-ekologis di tengah masyarakat, seringkali memaksa masyarakat untuk bangkit dan memperjuangkan hak-haknya. Tidak jarang pula dalam situasi tersebut menciptakan sosok-sosok pemimpin yang rela berjuang […]]]>

Jakarta (Greeners) – Begitu maraknya krisis sosial-ekologis di tengah masyarakat, seringkali memaksa masyarakat untuk bangkit dan memperjuangkan hak-haknya. Tidak jarang pula dalam situasi tersebut menciptakan sosok-sosok pemimpin yang rela berjuang dan berkorban dalam memperjuangkan hak masyarakat.

Namun tidak banyak orang yang tahu bahwa dalam kondisi seperti itu, ada juga perempuan-perempuan yang muncul sebagai pemimpin pembela hak masyarakat. Perempuan-perempuan ini hadir sebagai bentuk perlawanan terhadap berbagai kerusakan ruang hidup, terlebih perempuan selalu menjadi perempuan yang menjadi korban di dalamnya.

Direktur Sajogyo Institute Eko Cahyono mengatakan bahwa dalam setiap kasus krisis sosial-ekologis, baik yang terjadi secara struktural yang dilakukan oleh negara maupun koorporasi, perempuan selalu menjadi korban yang paling dominan.

“Yang menarik adalah sekarang sudah semakin banyak pemimpin-pemimpin perempuan yang hadir di dalam perjuangan untuk melawan krisis sosial-ekologis dengan cara masing-masing. Mereka memimpin komunitas dan masyarakat dengan sangat gigih tanpa kenal menyerah,” ungkap Eko dalam diskusi Publik bertajuk “Mendorong Kepemimpinan Perempuan Mengurus Krisis Sosial-Ekologi di Nusantara,” Jakarta, Selasa (23/06/2015).

Eva Susanti Hanafi Bande, aktivis agraria yang akrab di sapa Eva Bande dan menjadi salah satu pembicara dalam diskusi tersebut mengatakan bahwa saat ini, masyarakat sudah tidak bisa lagi mengelompokan gerakan-gerakan pembelaan hak masyarakat antara laki-laki dan perempuan, salah satunya gerakan petani.

“Sekarang tidak bisa lagi kita mendikotomikan gerakan petani antara laki-laki dan perempuan. Kita bisa bersama-sama melakukan dan memimpin, yang penting berkomitmen dan tidak pernah meninggalkan,” tuturnya.

Selain itu, Gunarti, perwakilan warga Samin yang terus menyuarakan penolakan pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng juga menambahkan kalau keberadaan perempuan di setiap konflik agraria selalu menjadi kelompok yang mudah untuk dipengaruhi, ditakuti dan dibujuk hingga akhirnya, banyak perusahaan yang mendekati para kaum ibu untuk menjual tanahmya.

“Untuk itu, sejak tahun 2007, saya mengelilingi tujuh desa. Saya sudah diingatkan agar hati-hati. Saya sedih sekali, Gunung Kendeng akan di obrak-abrik. Hingga akhirnya saya dicurigai siapa yang membayar saya. Saya nanya pertama, sebenarnya orang hidup itu butuh apa? Tanah dan air. Sekarang tanah dan air kita mau diancam sama kendeng. Maka apa yang bisa kita lakukan. Sejak itu kami aksi untuk memperjuangkan dengan cara-cara yang halus dengan menggunakan tembang (lagu),” terangnya.

Prof. Dr. Sulistyowati Irianto, dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia juga menuturkan bahwa ada banyak sekali perjuangan perempuan yang terjadi sejak jaman pemerintahan Hindia Belanda dan tidak terpublikasi dengan baik.

“Lihat tahun 1928 selalu kita hanya mendegar tentang Sumpah Pemuda, padahal pada tahun yang sama juga ada kongres perempuan. Lalu melalui gerakan perempuan dan organisasi juga mengirim mosi kepada pemerintah Belanda untuk meminta persamaan di muka hukum. Jadi kalau perempuan bisa mengemukakan pendapat di muka hukum itu bukan gratis, itu ada perjuangannya. Lalu, gerakan perempuan dalam mengikuti pemilu juga sama. Kalau perempuan bisa ikut pemilu pada 1955 itu juga bukan gratis, ada perjuangannya,” tandasnya.

Sebagai informasi, diskusi yang dilakukan oleh Sajogyo Institute bersama Porgram Studi Kajian Gender Program Pascasarjana UI dan Mongabay serta didukung oleh Asia Foundation ini berlangsung di Kampus UI Salemba Gedung IASTH. Diskusi ini menghadirkan lima narasumber yang merupakan tokoh pejuang perempuan dari lima provinsi, di antaranya Eva Bande (Sulawesi Tengah), Aleta Baun (NTT), Nissa Wargadipura (Garut), Oppung Putra (Perempuan Petani Sumatera Utara), dan Gunarti (Jawa Tengah).

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/perempuan-juga-bisa-memimpin-perjuangan-masyarakat/feed/ 0
21 Srikandi Siap Bersepeda 700 Km Bawa Pesan Lingkungan https://www.greeners.co/berita/21-srikandi-siap-bersepeda-700-km-bawa-pesan-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=21-srikandi-siap-bersepeda-700-km-bawa-pesan-lingkungan https://www.greeners.co/berita/21-srikandi-siap-bersepeda-700-km-bawa-pesan-lingkungan/#respond Sun, 10 May 2015 11:30:28 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=8940 Jakarta (Greeners) – Srikandi Inspirasi Bagi Negeri kembali mengadakan kegiatan touring bersepeda untuk ke lima kalinya dan tahun ini akan melalui rute Bima (NTB) hingga Denpasar, Bali. Seperti sebelumnya, touring […]]]>

Jakarta (Greeners) – Srikandi Inspirasi Bagi Negeri kembali mengadakan kegiatan touring bersepeda untuk ke lima kalinya dan tahun ini akan melalui rute Bima (NTB) hingga Denpasar, Bali. Seperti sebelumnya, touring bersepeda tahunan yang digagas oleh komunitas Bike to Work (B2W) Indonesia ini kembali membawa 21 pesepeda perempuan tangguh yang terpilih melalui proses seleksi yang cukup ketat.

Ketua Pelaksana Srikandi, Tense Manalu kepada Greeners mengungkapkan, kegiatan yang delapan puluh persen dilaksanakan oleh para perempuan ini akan mulai start pada tanggal lima Juni 2015, bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup se-Dunia. Oleh karena itu, beberapa pesan yang akan disampaikan dalam kampanye kali ini juga akan banyak membawa pesan-pesan lingkungan.

“Misalnya nanti itu, bersama Yayasan BALIFOKUS, kita akan ada bakti sosial dan pemeriksaan kesehatan gratis di Kecamatan Sekotong Tengah, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat karena banyak dari warga sana yang terpapar limbah merkuri akibat pertambangan emas masyarakat,” jelasnya di Jakarta, Minggu (10/05).

Selain itu, lanjutnya lagi, Srikandi tahun ini juga tetap akan menggalakkan ketertarikan masyarakat agar menggunakan sepeda sebagai transportasi alternatif yang ramah lingkungan sekaligus meneladani jasa kepahlawanan perempuan Indonesia.

Kegiatan touring bersepeda yang dilakukan oleh para perempuan tangguh ini juga mendapat dukungan penuh dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak (KPAA). Heru Kasidi, Deputi Pengarusutamaan Gender (PUG) Bidang Sospolkum KPPA, saat dihubungi melalui telepon mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh para perempuan ini menunjukkan kalau perempuan juga bisa melakukan sesuatu yang berat seperti laki-laki.

“Ini kampanye yang menarik ya. Selain memang karena kami sudah mendukung selama empat tahun belakangan, ini juga satu bentuk kegiatan yang seperti memperlihatkan pada kita semua kalau perempuan juga bisa,” tukasnya.

Sebagai informasi, touring bersepeda Srikandi kali ini memiliki jarak tempuh sekitar 700 Kilometer dari Bima, NTB hingga Denpasar, Bali. Setelah melalui proses seleksi yang diadakan di 15 Kota di Indonesia dan 108 peserta terdaftar, panitia seleksi pun akhirnya menetapkan, 21 Srikandi terpilih dengan latar profesi mulai dari Ibu Rumah Tangga, Karyawan, dan Profesional muda dengan rata-rata usia dari 20 hingga 50 tahun.

Salah satu peserta terpilih dari Jawa Barat Nisa Fadilatul Rohmah yang akrab dipanggil Caca mengaku sangat senang dan bersyukur bisa terpilih dan lulus dalam seleksi Srikandi tahun ini. Caca berhasil menyisihkan 11 pendaftar lain dari Jawa Barat yang mendaftar tahun ini. “Alhamdulillah seneng, sekarang tinggal persiapan kondisi fisik agar fit sampai hari pelaksanaan nanti” terangnya ketika dihubungi Greeners via telepon.

Ke 21 Srikandi terpilih tersebut berasal dari Aceh satu orang, Batam satu orang, Bangka Belitung satu orang, Lampung satu orang, Jawa Barat dua orang, Jawa Tengah satu orang, Jabodetabek tiga orang, Nusa Tenggara Barat lima orang, Bali dua orang, Sulawesi Barat satu orang dan Sulawesi Selatan satu orang.

Berikut adalah daftar nama nama perempuan tangguh yang terpilih menjadi peserta Srikandi Inspirasi Bagi Negeri 2015 :

Sumber : Panitia Srikandi Inspirasi Bagi Negeri 2015

Sumber : Panitia Srikandi Inspirasi Bagi Negeri 2015

Penulis : Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/21-srikandi-siap-bersepeda-700-km-bawa-pesan-lingkungan/feed/ 0
Konflik Agraria, Negara Belum Hadir Bela Hak Asasi Perempuan https://www.greeners.co/berita/konflik-agraria-negara-belum-hadir-bela-hak-asasi-perempuan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=konflik-agraria-negara-belum-hadir-bela-hak-asasi-perempuan https://www.greeners.co/berita/konflik-agraria-negara-belum-hadir-bela-hak-asasi-perempuan/#respond Tue, 10 Mar 2015 14:04:36 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=8080 Jakarta (Greeners) – Guna memperingati Hari Perempuan internasional, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) bersama dengan Konsorsium Pembaharuan Agraria (KPA) melakukan aksi bagi-bagi bunga pada Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau […]]]>

Jakarta (Greeners) – Guna memperingati Hari Perempuan internasional, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) bersama dengan Konsorsium Pembaharuan Agraria (KPA) melakukan aksi bagi-bagi bunga pada Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day di sekitar Bundaran Hotel Indonesia untuk mendesak Negara agar hadir dalam memenuhi Hak Asasi Perempuan Indonesia.

Kepala Bidang Kajian dan Pengembangan Walhi, Khalisah Khalid mengatakan sudah hampir tiga ratus hari ibu-ibu di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, berdiam di dalam tenda untuk mempertahankan tanah, air, dan sumber-sumber kehidupannya dari ancaman industri semen yang akan menghabisi kawasan karst yang menjadi sumber hidup dan kehidupan petani di sana.

Negara, terangnya, seakan tidak hadir dan ibu-ibu tersebut dihadapkan pada kekuatan besar bernama korporasi yang memiliki sumber daya yang begitu melimpah, termasuk mendatangkan aparat keamanan untuk menghadapi perjuangan ibu-ibu di Rembang.

“Rembang adalah salah satu kasus yang merepresentasikan bagaimana kuatnya korporasi dan lemahnya negara pada satu sisi, dan pada sisi yang lain kegigihan perempuan bersama komunitasnya yang tidak pernah takut menghadapi dua kekuatan besar itu demi mempertahankan tanah airnya,” terang Khalisah di HBKB, Jakarta, Minggu (08/03).

Lukisan Andreas Iswanto seri Solidaritas Bagi Ibu-ibu Rembang. Foto: Ist.

Lukisan Andreas Iswanto seri Solidaritas Bagi Ibu-ibu Rembang. Foto: Ist.

Walhi dan KPA, lanjutnya, meyakini bahwa situasi yang dialami perempuan hari ini tidak bisa dilepaskan dari sistem ekonomi dan politik yang menempatkan kekayaan alam sebagai komoditas dengan mengatasnamakan pertumbuhan ekonomi melalui pembangunan yang beresiko tinggi. Negara, katanya, telah memberikan otoritas kepada korporasi industri ekstraktif yang rakus tanah dan air seperti industri tambang, perkebunan skala besar (sawit dan hutan tanaman industri), serta pembangunan infrastruktur skala besar.

Wakil sekjen KPA, Dewi Kartika mengatakan bahwa sistem ekonomi politik yang keliru namun tidak pernah dikoreksi telah berbuah pada banyaknya konflik agraria, bencana ekologis dan memaksa masyarakat menjadi pengungsi pembangunan. Selain itu masyarakat juga mengalami kekerasan yang berujung pada kematian dan kriminalisasi karena memperjuangkan hak-haknya.

“Lapis-lapis kekerasan ini juga dialami oleh perempuan akibat dari sistem ekonomi politik yang berwatak patriarki dan melanggengkan ketidakadilan gender,” jelasnya.

Sebagai informasi, pada aksi bagi-bagi bunga tersebut, Walhi dan KPA juga mengeluarkan desakan kepada pemerintah untuk merevisi berbagai kebijakan ekonomi politik dan perundang-undangan yang berwatak patriarkis. Mereka juga meminta pemerintah menjalankan agenda reformasi agraria, termasuk memberikan keadilan bagi perempuan melalui pembentukan Badan Penyelesaian Konflik Agraria.

Lalu, memberikan pengakuan dan perlindungan terhadap inisiatif perempuan dan komunitasnya dalam mengelola lingkungan hidup dan sumber-sumber agrarianya, dan mendesak negara memberikan perlindungan.

“Kami juga meminta untuk menghentikan berbagai tindak kekerasan dan kriminalisasi terhadap perempuan yang memperjuangkan agenda penyelamatan lingkungan hidup dan reforma agraria serta terakhir mendorong partisipasi politik perempuan, untuk memperkuat keterlibatan perempuan sebagai pengambil kebijakan,” tandas Dewi.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/konflik-agraria-negara-belum-hadir-bela-hak-asasi-perempuan/feed/ 0
Hari Kartini, 21 Srikandi Jajal Jalur Sulawesi https://www.greeners.co/berita/hari-kartini-21-srikandi-jajal-jalur-sulawesi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hari-kartini-21-srikandi-jajal-jalur-sulawesi https://www.greeners.co/berita/hari-kartini-21-srikandi-jajal-jalur-sulawesi/#comments Mon, 21 Apr 2014 15:41:13 +0000 http://www.greenersmagz.com/?post_type=grn_news&p=4396 Mamuju (Greeners) – Tanggal 21 April 2014 yang bertepatan dengan Hari Kartini, sebanyak 21 orang pesepeda perempuan melakukan jelajah sepeda dari Kota Mamuju, Sulawesi Barat menuju Kota Makassar, Sulawesi Selatan. […]]]>

Mamuju (Greeners) – Tanggal 21 April 2014 yang bertepatan dengan Hari Kartini, sebanyak 21 orang pesepeda perempuan melakukan jelajah sepeda dari Kota Mamuju, Sulawesi Barat menuju Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Kegiatan yang diselenggarakan Bike to Work Indonesia (B2W Indonesia) bertajuk Srikandi Inspirasi Bagi Negeri ini memulai etape pertama dari kota Mamuju menuju Majene dengan jarak tempuh 142 kilometer.

“Saat ini cuacanya panas, sekitar 32 derajat (Celcius). Meskipun tadi ada beberapa Srikandi yang tercecer, tapi pergerakannya lumayan,” ujar Aristi Prajwalita Madjid, Koordinator Lapangan, saat dihubungi via telepon.

Sebelum mengikuti jelajah sepeda, ke-21 Srikandi telah melewati proses seleksi ketat dan pelatihan intensif. Meski begitu, mereka masih harus menyesuaikan diri dengan kondisi cuaca dan kontur jalan pada rute yang akan dilewati. “Kami masih menyamakan ritme bersepeda. Masih adaptasi,” jelas Aristi.

Pada hari pertama pelaksanaan touring, Fauziah Maricar Aladin, istri Wakil Gubernur Sulawesi Barat, turut hadir untuk memberikan dukungannya pada para pesepeda. “Tadi Ibu Wakil Gubenur Sulawesi Barat kasih penyambutan yang luar biasa. Dari cuma di pinggir jalan tapi akhirnya ikut sepedaan juga dan menemani saat makan siang. Teman-teman dari komunitas sepeda di sini juga ikutan,” kata Aristi.

Mantan atlet sepeda wanita nasional yang didaulat menjadi pelatih dua puluh satu Srikandi, Nurhayati, pun turut ikut serta mengiring para Srikandi. Ia mengatakan bahwa yang dihadapi para pesepeda bukan hanya persoalan teknis. Kesiapan dan mental diri masing-masing peserta juga penting.

“Sebelum berangkat kan mereka sudah di briefing dulu. Saya juga beritahu supaya jangan berpikir soal jarak karena tidak semua perempuan bisa melakukan itu (jelajah sepeda jarak jauh, Red.). Tidak semua perempuan pula bisa terpilih menjadi srikandi ini,” jelas Nurhayati.

Etape ke dua akan dilanjutkan pada Selasa (22/04) dengan rute Majene – Pinrang dengan panjang lintasan 116 kilometer.

(G08)

]]>
https://www.greeners.co/berita/hari-kartini-21-srikandi-jajal-jalur-sulawesi/feed/ 2
Pentingnya Peran Perempuan dalam Keberlangsungan Pangan Keluarga https://www.greeners.co/berita/pentingnya-peran-perempuan-dalam-keberlangsungan-pangan-keluarga/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pentingnya-peran-perempuan-dalam-keberlangsungan-pangan-keluarga https://www.greeners.co/berita/pentingnya-peran-perempuan-dalam-keberlangsungan-pangan-keluarga/#respond Thu, 08 Mar 2012 03:24:57 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=2294 Jakarta (Greeners) – “Ibu baru pulang dari pasar, ngeluh harga-harga naik. Saya juga jadi ikut pusing nih,” keluh Nur Eka, wartawan sebuah media elektronik di Jakarta beberapa saat lalu. Keluhan […]]]>

Jakarta (Greeners) – “Ibu baru pulang dari pasar, ngeluh harga-harga naik. Saya juga jadi ikut pusing nih,” keluh Nur Eka, wartawan sebuah media elektronik di Jakarta beberapa saat lalu.

Keluhan itu menandakan para perempuan akan merasakan beban berlebih ketika harga-harga bahan pangan naik atau justru sulit didapatkan. Dari sudut pandang tersebut, perempuan memiliki peranan penting dalam hal ketahanan pangan.

Hal sama diakui pula oleh Koordinator Divisi Manajemen Pengetahuan Koalisi Rakyat untuk Perikanan (KIARA) Mida Saragih terjadi di sektor yang ia geluti. Menurut Mida, yang juga aktif dalam advokasi perempuan—khususnya nelayan, 85% waktu perempuan nelayan digunakan dalam kegiatan memproduksi, mengolah, dan mendistribusi produk perikanan.

“Berdasarkan temuan KIARA, perempuan nelayan merupakan subjek sekaligus aktor yang berperan mengatasi dampak sosial ekonomi,” katanya di sebuah kedai kopi di Cikini, Jakarta Pusat dua hari lalu.

Di tempat yang sama, Said Abdullah dari Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan, mengatakan perempuan memiliki peranan penting dalam menyediakan pangan bagi 237 juta jiwa penduduk Indonesia. Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) 2006, Said mengatakan jumlah petani perempuan mencapai 55,2% sedangkan petani pria hanya 46%. Oleh karena itu ia berpendapat peran petani perempuan sangat besar dalam menyukseskan ketahanan pangan salah satunya dalam pengelolaan lumbung pangan.

“Keterlibatan perempuan dalam pengelolaan lumbung pangan sangat besar. Sebagai contoh di lumbung Dowaluh, Bantul. Di lumbung ini petani perempuan terlibat dalam seluruh proses dan kegiatan,” kata Said.

Selain itu, tambah Said, perempuan memiliki peranan yang besar sebagai pemimpin bagi proses pendidikan pangan. “Hal yang sama juga berlaku pada penyimpanan, dan pengaturan pola konsumsi untuk keluarga.”

Namun, lanjutnya, sangat disayangkan hampir semua kebijakan disektor pertanian bias laki-laki dan kental nuansa korporasi-kapitalistik. Menurut Said bila itu terus dilanjutkan maka telah terjadi pengingkaran atas kenyataan.

“Petani perempuan pemberi makan rakyat negeri ini, namun dianggap tak berarti, tak ada. Menjadi keharusan berterima kasih kepada petani perempuan bukan justru melupakannya,” tegasnya

Perempuan, khususnya di desa, berperan penting dalam empat pilar kedaulatan pangan. Koordinator Aliansi Desa Sejahtera (ADS) Tejo Wahyu Jatmiko menjabarkannya yakni sebagai produsen dan wira usaha pertanian, penjaga kedaulatan pangan yang mencurahkan waktunya untuk mengelola pendapatan dan konsumsi rumah tangga, pengelola penyediaan pangan saat kondisi ekonomi sulit.

Perubahan iklim merupakan salah satu momok paling menakutkan bagi ketahanan pangan. Dampak iklim berubah yang berpengaruh terhadap tidak menentunya angin dan ombak di lautan, telah membuat  masyarakat nelayan kesulitan menjaring  ikan.

Mida Saragih menambahkan bahwa hal itu pun menjadi sumber dari dampak sosial terhadap perempuan nelayan. Persoalan tersebut memperparah ketidaksetaraan dalam relasi gender antara kaum pria dan perempuan. Semua itu mengacu pada akses sumber daya, informasi, mobilitas, dan proses pembuatan kebijakan. “Di tengah situasi cuaca ekstrem, kenaikan harga bahan pangan dan langkanya bahan bakar di desa-desa pesisir, para perempuan ini menjadi tumpuan harapan masyarakat.” (G11)

]]>
https://www.greeners.co/berita/pentingnya-peran-perempuan-dalam-keberlangsungan-pangan-keluarga/feed/ 0