permasalahan lingkungan - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/permasalahan-lingkungan/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 15 Jan 2024 07:13:51 +0000 id hourly 1 Pegiat Lingkungan Gresik Surati Capres Soal Masalah Lingkungan https://www.greeners.co/aksi/pegiat-lingkungan-gresik-surati-capres-soal-masalah-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pegiat-lingkungan-gresik-surati-capres-soal-masalah-lingkungan https://www.greeners.co/aksi/pegiat-lingkungan-gresik-surati-capres-soal-masalah-lingkungan/#respond Mon, 15 Jan 2024 07:13:51 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=42800 Jakarta (Greeners) – Pegiat lingkungan muda yang aktif menyuarakan isu sampah di Gresik dan Sidoarjo, Aeshnina Azzahra kembali mengirim surat atas keresahannya terhadap lingkungan. Kali ini, Aeshnina kirim surat tentang […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pegiat lingkungan muda yang aktif menyuarakan isu sampah di Gresik dan Sidoarjo, Aeshnina Azzahra kembali mengirim surat atas keresahannya terhadap lingkungan. Kali ini, Aeshnina kirim surat tentang survei permasalahan lingkungan dan desakannya untuk pemulihan lingkungan kepada tiga kandidat calon presiden (capres) 2024.

Aeshnina yang kerap disapa Nina, melihat bahwa permasalahan isu krisis iklim dan kerusakan lingkungan, terutama sampah plastik tidak menjadi prioritas utama dalam visi dan misi capres. Faktanya, banyak kerusakan lingkungan yang kini terjadi. Di antaranya, Indonesia tercatat sebagai penyumbang sampah plastik terbesar kedua kelautan global. Bahkan, sampah plastik dari pulau Jawa ditemukan mengalir sampai ke Afrika.

BACA JUGA: Pegiat Lingkungan Cilik Surati Jokowi Soal Sampah Impor

Selain itu, sungai-sungai di Indonesia juga sudah banyak yang tercemar mikroplastik. Kepunahan air tawar di Indonesia menjadi yang tercepat di Asia Tenggara. Kemudian, Indonesia menjadi negara dengan lonjakan emisi karbon tertinggi di dunia, dan Jakarta menjadi salah satu kota paling tercemar udaranya di dunia.

Melihat permasalahan tersebut, Nina ingin agar para capres menangani permasalahan lingkungan secara serius. Sejak September 2023, Nina mengajak gen Z Indonesia untuk mengidentifikasi masalah lingkungan dan mengusulkan seutas harapan untuk capres.

“Sabtu siang pada 12 Januari kemarin, pelajar di SD Muhammadiyah, SD Ya Bunaya Wringinanom, dan SMAN 1 Krembung Sidoarjo akan menuliskan surat di atas kertas ukuran 2 meter dan lebar 70 cm. Kami tuliskan harapan-harapan gen Z untuk capres. Kami berharap masalah lingkungan bisa teratasi secara serius,” ungkap Nina melalui keterangan tertulisnya, Sabtu (12/1).

Pegiat lingkungan Gresik surati capres soal masalah lingkungan. Foto: Ecoton

Pegiat lingkungan Gresik surati capres soal masalah lingkungan. Foto: Ecoton

Nina Laporkan Hasil Survei Pembakaran Sampah

Siswa kelas XI SMA asal Gresik ini telah melaporkan hasil survei tentang permasalahan lingkungan di sekitar masyarakat. Salah satunya, ia menuliskan tentang survei soal pembakaran sampah yang menjadi masalah lingkungan.

“Menurut survei yang saya buat menyasar siswa dan mahasiswa seluruh Indonesia, 113 dari 162 atau 69,8% orang melaporkan bahwa pembakaran sampah adalah masalah lingkungan yang paling sering mereka temui,” ungkap Nina.

BACA JUGA: Mikroplastik dan 5 Cara untuk Menghindarinya

Selain itu, 101 dari 162 atau 62,3% orang merasa permasalahan lingkungan di sekitar mereka adalah sampah yang dibuang ke sungai. Sebanyak 86 dari 162 atau 53,1% 0rang merasa desanya tidak menyediakan tempat pengolahan sampah sementara (TPS). Akibatnya, terjadi penimbunan sampah di banyak tempat.

“Bila tidak segera teratasi, ini akan merusak keseimbangan alam dan mengganggu kesehatan lingkungan,” terangnya.

Pemimpin Indonesia Perlu Memprioritaskan Lingkungan

Generasi milenial dan gen Z merupakan generasi yang paling mendominasi sebagai pemilih di pemilu 2024, yakni 56,45% dari total keseluruhan. Sebagai anak muda, Nina berharap bisa memiliki pemimpin yang sayang dengan generasi penerus Indonesia sehingga mau memprioritaskan lingkungan.

“Tidak serakah mengambil hak lingkungan untuk generasi kami dan bukan hanya pandai bicara, tapi melakukan aksi nyata. Itulah sosok pemimpin yang anak muda Indonesia inginkan,” kata Nina.

Dalam suratnya, Nina meminta agar para calon presiden mewajibkan pemerintah desa untuk menyediakan layanan pengelolaan sampah terpilah dan pengomposan. Terutama di wilayah kawasan desa, tidak hanya tersedia di kota besar.

Ia juga berharap agar capres bisa menegakkan aturan larangan pembakaran sampah dan menerapkan reduce. Kemudian, membatasi produksi plastik untuk kemasan sekali pakai, serta membersihkan udara dari polusi.

“Calon presiden yang nantinya terpilih juga perlu mewajibkan produsen untuk redesain ulang packaging plastik sekali pakai. Produsen harus menciptakan packaging guna ulang. Hal ini untuk menghentikan produksi sampah baru,” ujar Nina.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/pegiat-lingkungan-gresik-surati-capres-soal-masalah-lingkungan/feed/ 0
Emil Salim, Rayakan Kemerdekaan untuk Masa Depan Indonesia https://www.greeners.co/sosok-komunitas/emil-salim-rayakan-kemerdekaan-masa-depan-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=emil-salim-rayakan-kemerdekaan-masa-depan-indonesia https://www.greeners.co/sosok-komunitas/emil-salim-rayakan-kemerdekaan-masa-depan-indonesia/#respond Thu, 17 Aug 2017 03:51:39 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=18182 Emil Salim, "Mereka yang sekarang berusia 15 sampai 25 tahun akan menjadi dewasa pada 100 tahun Indonesia merdeka. Mereka bakal menjadi calon pemimpin."]]>

(Greeners) – Agustus 2017, kemajuan teknologi yang melanda dunia harus disikapi dengan kemampuan sumberdaya manusia yang mumpuni. Khususnya jika berbicara tentang bagaimana menghadapi permasalahan lingkungan hidup di Indonesia pada masa mendatang. Setidaknya begitulah pesan yang ingin disampaikan oleh tokoh tiga zaman Prof. Dr. Emil Salim.

Menurutnya, generasi muda tidak boleh terlena dengan perayaan hari kemerdekaan seperti apa adanya. Ia justru berharap, para generasi muda harus bisa merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dengan memikirkan dan berusaha tentang apa yang bisa dilakukan untuk Indonesia pada masa mendatang.

Menteri Negara Urusan Kependudukan dan Lingkungan Hidup pada Kabinet Pembangunan III tahun 1978- hingga 1983 ini mengutarakan bahwa generasi muda tidak boleh hanya mengandalkan dukungan dari pemerintah, swasta atau bahkan donor untuk bisa berkontribusi terhadap perbaikan dan kelestarian lingkungan hidup Indonesia.

Emil menegaskan bahwa anak muda harus bisa berdiri di atas kakinya sendiri, harus mampu melakukan upaya-upaya terbaiknya untuk Indonesia. Menurut Emil Salim, pada hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 100 tahun nantinya, para generasi yang muda saat ini yang masih berusia 15 hingga 25 tahun akan memasuki usia matang untuk menjadi pemimpin yang diharapkan Indonesia.

“Mereka yang sekarang berusia 15 sampai 25 tahun yang merayakan 72 tahun Indonesia merdeka, akan menjadi dewasa pada 100 tahun Indonesia merdeka nantinya. Pada 30 sampai 40 tahun lagi, mereka bakal menjadi calon pemimpin. Pada saat itu usia mereka akan sekitar 40-an dimana usia tersebut adalah usia matang yang dimiliki oleh pemimpin-pemimpin indonesia seperti Bung Karno, Bung Hatta, atau bahkan Sjahrir. Semua pemimpin kita di masa revolusi itu kepala empat, usia paling produktif bagi manusia,” ujar tokoh lingkungan hidup internasional yang pernah menerima The Leader for the Living Planet Award dari World Wide Fund (WWF) ini saat ditemui Greeners di kediamannya, Jakarta, Selasa (15/08).

Terkait tantangan yang harus dipersiapkan oleh generasi muda sendiri, ia sangat fokus pada peningkatan dan pengembangan kemajuan teknologi dunia. Menurutnya, permasalahan sosial dan lingkungan dunia, khususnya Indonesia akan berada pada titik bagaimana sumberdaya manusianya mampu mengembangkan teknologi untuk mengatasi masalah-masalah sosial dan lingkungan yang ada. Jika kenaikan air laut terus terjadi dan tidak bisa dihindari, jika lahan tinggal dan hidup manusia serta ekosistem di dalamnya terus menyempit serta udara yang kian kotor menyelimuti Indonesia, lalu bagaimana generasi muda akan mengatasinya? Emil berkeyakinan bahwa teknologilah yang bisa menjawab permasalahan tersebut.

“Pertanyaannya, apa generasi muda kita siap akan hal itu?” ujarnya.

(Selanjutnya…)

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/emil-salim-rayakan-kemerdekaan-masa-depan-indonesia/feed/ 0
Banjir Rasa Korupsi di Kota Malang https://www.greeners.co/berita/banjir-rasa-korupsi-kota-malang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=banjir-rasa-korupsi-kota-malang https://www.greeners.co/berita/banjir-rasa-korupsi-kota-malang/#respond Thu, 01 Dec 2016 07:47:32 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=15288 Berada di dataran tinggi dan berada di antara berbagai gunung api membuat kota Malang bisa dikatakan mustahil terkena musibah banjir ketika musim hujan. Namun, kondisi itu bisa kita jumpai saat ini atau sejak sepuluh tahun terakhir.]]>

MALANG (Greeners) – Kota Malang dikenal sebagai kota tujuan wisata. Berada di dataran tinggi antara 440-667 meter di atas permukaan laut dan berada di antara berbagai gunung api membuat kota ini bisa dikatakan mustahil terkena musibah banjir ketika musim hujan. Namun, kondisi itu bisa kita jumpai saat ini atau sejak sepuluh tahun terakhir.

Kuantitas banjir di beberapa titik di Kota Malang kian meningkat dan airnya pun semakin lama surut. Setidaknya kondisi ini yang digambarkan aktivis lingkungan di Kota Malang yang terdiri dari perwakilan warga, Walhi Jatim, serta Malang Corruption Watch (MCW).

Dewan Daerah Walhi Jawa Timur Purnawan D Negara menyampaikan, permasalahan banjir di Kota Malang akhir-akhir ini tidak bisa disebut karena curah hujan yang tinggi saja. Namun, terdapat beberapa persoalan lain yang juga menjadi penyebabnya.

Purnawan mencatat, setidaknya ada beberapa penyebab kawasan di dataran tinggi ini bisa terjadi banjir. Yang pertama adalah banyaknya alih fungsi lahan, terutama ruang terbuka hijau yang kini sudah menjadi pemukiman elit dan pertokoan modern.

“Keberadaan perumahan elit Ijen Nirwana, Ijen Suite Hotel, Malang Town Square (Matos), Mall Olimpic Garden (MOG) dan beberapa bangunan besar lain telah mengganti fungsi lahan yang dulunya menjadi ruang terbuka hijau sekaligus sebagai serapan air,” kata Purnawan yang juga Dosen Hukum Lingkungan, Universitas Widyagama, Malang, Rabu (30/11/2016).

BACA JUGA: LIPI: Penggunaan Bambu Lebih Tepat Atasi Banjir Dibanding Betonisasi

Menurutnya, tak hanya alih fungsi lahan terbuka hijau yang dampaknya kini dirasakan masyarakat. Ia menyebut, banyak proses alih fungsi lahan di Kota Malang menjadi mall, hunian elit, pertokoan, dan hotel yang menyisakan masalah.

Purnawan menyontohkan, alih fungsi lahan APP Lambau (Bumi Tanjung) menjadi hunian elit Ijen Nirwana dan hotel pernah menimbulkan konflik serta penolakan dari warga. Hal yang sama juga terjadi terkait alih fungsi lahan APP menjadi Matos. Alih fungsi itu dulunya mendapat penolakan yang keras dari masyarakat, aktivis dan utamanya mahasiswa. Alih fungsi itu juga menyisakan persoalan tukar guling yang terindikasi korupsi.

Proyek pembangunan drainase di Kota Malang juga menyisakan banyak masalah. Fahrudin dari Malang Corruption Watch (MCW) menyebutkan, pengerjaan drainase dengan Jacking System di Jalan Bondowo misalnya, tidak memberikan dampak terhadap penyelesaian banjir. “Proyek dengan anggaran fantastis tersebut justru terindikasi korupsi, yaitu mulai dari proses perencanaan, penetapan dan pelaksanaan,” kata Fahrudin.

Data MCW menyebutkan, pada tahun 2013 anggaran pengerjaan tiba-tiba muncul dan ditetapkan sebesar Rp 40 miliar dalam APBD 2013, padahal sebelumnya proyek tersebut tidak masuk dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD 2013). Dan dalam APBD 2014 kembali dianggarkan sebesar Rp 16 miliar.

Berdasarkan Audit BPK TA 2013, PT Citra Gading Astritama (CGA) belum menyelesaikan pengerjaannya sesuai dengan pembayaran yang telah diberikan oleh Pemerintah Kota Malang. Akibatnya, Pemerintah Kota Malang diduga merugi hingga Rp 1,1 miliar dan pada tahun 2014 anggaran Rp 16 miliar yang sudah dianggarkan juga tidak terpakai.

BACA JUGA: Banjir Jawa Barat Bukan Karena Curah Hujan yang Tinggi

MCW kembali mendata, anggaran pengerjaan drainase tidak berbanding lurus dengan berkurangnya permasalahan banjir. Pada tahun 2015 anggaran untuk pengerjaan drainase/gorong-gorong sebesar Rp 12 miliar dan meningkat lagi dalam anggaran tahun 2016 sebesar 42 miliar.

“Anehnya, terdapat banyak pembangunan drainase, tetapi justru wilayah yang dibangun tersebut menjadi langganan banjir, di antaranya di Jalan MT Haryono, Jalan Pasar Besar, Jalan Soekarno-Hatta, Jalan Galunggung, Jalan Sigura-gura, dan beberapa daerah lainnya,” kata Fahrudin.

Purnawan mendesak Pemerintah Kota Malang mengevaluasi penataan kota, terutama pembangunan infrastruktur kota serta pemberian izin pendirian bangunan agar tidak menyalahi aturan. “Banjir di Kota Malang ini banjir rasa korupsi,” kata Purnawan.

Dekan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Dr. Ir. Pitojo Tri Juwono, MT, dalam pemaparannya di kampus UB menyampaikan, sudah saatnya pembangunan di Kota Malang tidak menimbulkan banjir dengan konsep pembangunan berwawasan lingkungan. Salah satu yang disoroti oleh Pitojo adalah pembetonan drainase-drainase sehingga air banyak yang melimpas ke luar dan sebagian tidak terserap.

BACA JUGA: Antisipasi Banjir, Dinas Tata Air Jakarta Akan Tambah Petugas Tata Air

Menurutnya, perlu pembenahan sistem drainase kota dengan memperbanyak resapan dan menyiapkan saluran drainase yang terkoneksi dengan baik mulai dari tersier sampai ke badan sungai sebagai main drain. “Semaksimal mungkin RTRW dan segala regulasi didasarkan pada semangat mempertahankan dan memfungsikan daerah terbuka hijau sebagai kawasan yang efektif resapan,” kata Pitojo.

Pitojo menyatakan, pertumbuhan penduduk dan pembangunan seiring dengan kebutuhan lahan yang meningkat menyebabkan ruang bebas yang tersedia berkurang. Diperlukan konsep drainase yang mampu mengurangi genangan dalam keterbatasan ruang dan meresapkan sebagian limpasan air ke dalam tanah.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Pengawasan Bangunan (DPUPPB) Kota Malang, Jarot Edy Sulistyono mengatakan, untuk mengatasi banjir di kawasan Jalan Bondowoso, Gadingkasri, Galunggung, dan daerah lainnya adalah gorong-gorong atau drainase sehingga air langsung ke Sungai Metro. “Proyek pembangunan gorong-gorong sudah berjalan tapi belum tahu kapan selesai,” kata Jarot.

Untuk saat ini, kata Jarot, pihaknya hanya akan melakukan normalisasi di kawasan tersebut. “Dalam waktu dekat mungkin hanya normalisasi,” ujarnya.

Penulis: HI/G17

]]>
https://www.greeners.co/berita/banjir-rasa-korupsi-kota-malang/feed/ 0
Pengamat: Jakarta Perlahan Sedang “Bunuh Diri” Ekologis https://www.greeners.co/berita/pengamat-jakarta-perlahan-sedang-bunuh-diri-ekologis/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pengamat-jakarta-perlahan-sedang-bunuh-diri-ekologis https://www.greeners.co/berita/pengamat-jakarta-perlahan-sedang-bunuh-diri-ekologis/#respond Thu, 15 Oct 2015 06:55:36 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11511 Jakarta (Greeners) – Jakarta sebagai Ibukota berpopulasi penduduk yang tinggi tengah berada dalam kondisi yang dikatakan sebagai “bunuh diri” ekologis. Hal tersebut disampaikan oleh Pengamat dan Pakar Tata Kota Hijau […]]]>

Jakarta (Greeners) – Jakarta sebagai Ibukota berpopulasi penduduk yang tinggi tengah berada dalam kondisi yang dikatakan sebagai “bunuh diri” ekologis. Hal tersebut disampaikan oleh Pengamat dan Pakar Tata Kota Hijau dari Universitas Trisakti, Nirwono Joga. Bunuh diri ekologis yang dimaksud oleh Joga adalah keadaan di mana begitu banyak permasalahan lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap jumlah penduduk Jakarta yang terbilang tinggi.

Daya dukung lingkungan yang tidak sebanding dengan tingginya jumlah penduduk di Jakarta ini menurut Joga bisa dilihat dari beberapa faktor, seperti kebutuhan lahan untuk tempat tinggal, kebutuhan akan air bersih, serta kebutuhan udara yang segar.

Tata kelola lahan yang tidak bagus dan banyaknya pembangunan yang masih menggunakan sistem tapak (horizontal), menurut Joga, mengakibatkan timbulnya pemborosan lahan yang memakan banyak ruang-ruang kosong di Jakarta.

Joga juga menyatakan belum melihat terobosan-terobosan dari Pemerintah Provinsi dalam mengoptimalkan sumber-sumber air yang ada. Menurutnya, waduk atau sungai bisa saja dijadikan tempat untuk memenuhi kebutuhan air baku di Jakarta.

“Apalagi kalau sudah masuk ke terobosan yang lebih modern seperti mengolah air laut menjadi air bersih, jelas hal tersebut lebih bermanfaat ketimbang membuat tanggul raksasa,” ujar Joga kepada Greeners, Jakarta, Rabu (14/10).

Ia juga tidak mempermasalahkan pernyataan Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLH) Jakarta yang menyatakan bahwa bulan September 2015, kualitas udara di Jakarta masih tergolong sedang dan tidak berbahaya bagi manusia. Namun, Joga mengingatkan bahwa apa yang dirasakan oleh masyarakat perlu diperhatikan.

Secara kasat mata, masalah kemacetan di Jakarta masih menjadi penyumbang polusi udara terbesar. Ruang terbuka hijau pun semakin hari semakin menyusut keberadaannya. Ditambah Jakarta masih minim akan keberadaan pohon-pohon besar. Ini artinya, Jakarta tidak memiliki mekanisme penyaring udara alami yang dilakukan oleh pohon-pohon besar.

“Ini yang saya maksud dengan bunuh diri ekologis yang perlahan sedang terjadi di Jakarta. Dari daya dukung lingkungan terhadap tingginya populasi penduduk di Jakarta, tiga hal tadi itu bisa dilihat sebagai ancaman yang sedang terjadi di depan mata. Apalagi ini masih belum bicara tentang kebutuhan yang lain seperti kebutuhan akan energi dan transportasi,” ungkapnya.

Sebagai informasi, sebelumnya, Kepala BPLHD DKI Jakarta, Andi Baso Mappapoleonro menyatakan bahwa berdasarkan hasil pantauan kualitas udara DKI Jakarta selama bulan September 2015 yang diambil dari lima titik lokasi pemantauan, secara umum bisa disimpulkan kualitas udara Jakarta masih cukup baik bagi manusia. Ke lima titik pemantauan tersebut dikatakan Andi terletak di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Perumahan Walikota Kelapa Gading, Jagakarsa, Lubang Buaya dan Perumahan Kebun Jeruk.

“Untuk laporan ini kita ambil total kualitas udara paling ekstrim pada bulan September dan itu yang kita munculkan sebagai wakil dari kualitas udara pada bulan itu. Tapi secara umum kualitas udaranya memang masih cukup baik bagi manusia,” pungkasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/pengamat-jakarta-perlahan-sedang-bunuh-diri-ekologis/feed/ 0
White Shoes and The Couples Company, Geram Sampah dan Kebakaran Hutan https://www.greeners.co/gaya-hidup/white-shoes-and-the-couples-company-geram-sampah-dan-kebakaran-hutan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=white-shoes-and-the-couples-company-geram-sampah-dan-kebakaran-hutan https://www.greeners.co/gaya-hidup/white-shoes-and-the-couples-company-geram-sampah-dan-kebakaran-hutan/#respond Fri, 02 Oct 2015 08:59:35 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11354 Jakarta (Greeners) – Menumpuknya sampah serta pemukiman kumuh di pinggiran Sungai Ciliwung yang kian bertambah dari tahun ke tahun adalah salah satu permasalahan khas di Jakarta. Hal ini pun menjadi […]]]>

Jakarta (Greeners) – Menumpuknya sampah serta pemukiman kumuh di pinggiran Sungai Ciliwung yang kian bertambah dari tahun ke tahun adalah salah satu permasalahan khas di Jakarta. Hal ini pun menjadi perhatian band indie asal Jakarta, White Shoes and The Couples Company (WSATCC). Band yang terdiri atas enam orang personel ini menyayangkan perilaku masyarakat ibu kota yang terbiasa membuang sampah sembarangan.

“Kita mulai dari individu lah, enggak usah buang sampah sembarangan,” tegas sang Basis, Ricky Surya Virgana mewakili teman-temanya kepada Greeners saat ditemui pada Rabu (30/09) malam di Café Rolling Stones, Jakarta.

Selain kesadaran individu, Ricky juga menambahkan bahwa pemerintah harus turun tangan dalam permasalahan lingkungan yang ada di Jakarta. Ia menyatakan sangat mendukung pengangkutan sampah yang menumpuk selama 30 tahun di Ciliwung. Apresiasi juga ia berikan pada pemerintah atas upaya normalisasi Sungai Ciliwung, termasuk penggusuran rumah warga yang tinggal di bantaran Sungai Ciliwung.

“Jakarta memang perlu pemimpin yang keras karena masalah kayak gini sudah dibiarin bertahun-tahun,” ujarnya.

White Shoes sendiri memiliki sebuah lagu bertemakan lingkungan yang berjudul “Zamrud Khatulistiwa”. Isi lagu tersebut menceritakan tentang kerusakan alam, khususnya hutan Indonesia yang diakibatkan oleh perilaku manusia. Kritik yang disalurkan lewat lagu tersebut, ternyata masih relevan dengan kebakaran hutan yang terjadi belakangan ini.

Mengenai kasus kebakaran hutan di beberapa provinsi, Ricky mengaku sangat geram dengan para pelaku pembakaran tersebut. “Kita kalau lihat berita rasanya gimana gitu, kan, tapi enggak bisa apa-apa juga,” ujarnya. Meski demikian, lelaki berambut ikal ini menyatakan permasalah hutan tidak dapat dibiarkan dan harus menjadi perhatian semua pihak, termasuk pemerintah.

Penulis: TW/G37

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/white-shoes-and-the-couples-company-geram-sampah-dan-kebakaran-hutan/feed/ 0
34 Prinsip Etis Jurnalisme Lingkungan, Panduan “Wajib” Jurnalis Lingkungan https://www.greeners.co/gaya-hidup/34-prinsip-etis-jurnalisme-lingkungan-panduan-wajib-jurnalis-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=34-prinsip-etis-jurnalisme-lingkungan-panduan-wajib-jurnalis-lingkungan https://www.greeners.co/gaya-hidup/34-prinsip-etis-jurnalisme-lingkungan-panduan-wajib-jurnalis-lingkungan/#comments Sat, 18 Jul 2015 08:38:44 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=10385 Judul Buku: 34 Prinsip Etis Jurnalisme Lingkungan Penulis: Agus Sudibyo Jumlah Halaman: 219 halaman Terbit: 2014 Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) bekerjasama dengan AQUA Grup Jakarta (Greeners) – Mempelajari masalah […]]]>

Judul Buku: 34 Prinsip Etis Jurnalisme Lingkungan
Penulis: Agus Sudibyo
Jumlah Halaman: 219 halaman
Terbit: 2014
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) bekerjasama dengan AQUA Grup

Jakarta (Greeners) – Mempelajari masalah lingkungan hidup, pastinya tidak akan pernah terlepas dari kehidupan politik nasional, ekonomi, sosial, dan bahkan hubungan internasional. Oleh karena itu, dibutuhkan peran dari semua pihak baik pemerintah, masyarakat, maupun para profesional swasta untuk melakukan perbaikan kerusakan yang terjadi pada lingkungan.

Tidak ketinggalan, peran media pun dibutuhkan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat agar timbul pemahaman dan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Pemahaman masyarakat sendiri sangat tergantung pada kemampuan media dalam memotret dan memberitakan kompleksitas permasalahan lingkungan, agar informasi yang disampaikan tidak sekadar menjadi bagian dari perdebatan politik namun juga memiliki keberpihakan terhadap lingkungan.

Sayangnya, meskipun dampak perubahan iklim sudah semakin terasa, namun “pola” jurnalisme lingkungan masih belum banyak diterapkan oleh awak media, khususnya para wartawan. Padahal, jurnalisme lingkungan bisa diaplikasikan sebagai usaha untuk menyampaikan seruan kepada semua pihak untuk berpartisipasi dalam penyelamatan lingkungan hidup.

Saat berbicara tentang etika dan prinsip, jurnalisme lingkungan selalu terlihat seperti pisau bermata dua. Melalui buku 34 Prinsip Etis Jurnalisme Lingkungan, para awak media dapat melihat dan mempelajari apa saja prinsip-prinsip dalam menyampaikan informasi lingkungan.

Andi Erna Anastasjia Walinono atau yang lebih dikenal dengan nama Erna Witoelar, dalam pengantarnya di buku 34 Prinsip Etis Jurnalisme Lingkungan mengatakan bahwa kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini berlangsung sangat cepat dan bahkan lebih cepat daripada pemulihannya. Oleh karena itu, kehadiran jurnalisme lingkungan diharapkan dapat mengawal permasalahan lingkungan yang terjadi.

“Jurnalisme lingkungan adalah jurnalisme yang memotret persoalan lingkungan mulai dari hulu hingga hilir. Jurnalisme ini bukanlah jurnalisme populer yang menulis isu lingkungan hanya ketika sedang menjadi perhatian jutaan umat semata,” jelas Erna seperti dikutip dari buku tersebut.

Buku panduan jurnalisme lingkungan yang dipelopori oleh Aqua Group dan bekerja sama dengan Kompas Gramedia Group ini disusun oleh mantan Ketua Komisi Pengaduan Masyarakat dan Penegakan Etika Dewan Pers Agus Sudibyo. Agus mengangkat buah pikiran tokoh yang dikenal peduli terhadap lingkungan, di antaranya Mantan Menteri Permukiman dan Pengembangan Wilayah Era Presiden Abdurahman Wahid Erna Witoelar, praktisi media sosial Enda Nasution, dan Oscar Matuloh, fotografer senior LKBN ANTARA.

Buku ini ditujukan untuk para wartawan, kalangan akademisi, mahasiswa serta para blogger. Buku ini akan memandu pewarta untuk mengetahui kode etik dan rambu-rambu dalam konteks jurnalistik yang harus diperhatikan agar permasalahan lingkungan yang diangkat dapat dipahami pula oleh korporasi.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/34-prinsip-etis-jurnalisme-lingkungan-panduan-wajib-jurnalis-lingkungan/feed/ 1
Menuju Bandung Bebas Sampah melalui BebasSampah.id https://www.greeners.co/sosok-komunitas/menuju-bandung-bebas-sampah-melalui-bebassampah-id/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=menuju-bandung-bebas-sampah-melalui-bebassampah-id https://www.greeners.co/sosok-komunitas/menuju-bandung-bebas-sampah-melalui-bebassampah-id/#respond Sun, 07 Jun 2015 12:32:23 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=9512 Bandung (Greeners) – Permasalahan sampah di kota-kota besar di Indonesia masih penjadi pekerjaan rumah baik bagi pemerintah maupun seluruh masyarakat. Melihat hal tersebut, Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB) bersama […]]]>

Bandung (Greeners) – Permasalahan sampah di kota-kota besar di Indonesia masih penjadi pekerjaan rumah baik bagi pemerintah maupun seluruh masyarakat. Melihat hal tersebut, Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB) bersama Greeneration Indonesia dan Ikatan Alumni Teknik Lingkungan ITB secara resmi mengenalkan portal www.bebassampah.id kepada warga Bandung di Taman Film, Bandung pada Jumat malam (05/06/2015).

Bebassampah.id merupakan wadah bagi masyarakat untuk memberikan dan mencari infomasi lokasi Tempat Pembuangan Sampah (TPS) liar, pelanggaran pembuangan sampah, lokasi pengomposan, tempat daur ulang dan bank sampah yang tersebar di kota Bandung.

“Ada dua alasan dibuatnya bebassampah.id. Pertama, rendahnya partisipasi masyarakat terhadap urusan persampahan, yang kedua akuntabilitas pemerintah dalam hal pengelolaan sampah masih rendah,” ungkap Anilawati Nurwakhidin selaku perwakilan dari YPBB kepada Greeners saat ditemui di lokasi acara.

Lebih lanjut Anilawati menambahkan, pemilihan media berbasis IT (Informasi Teknologi) berupa website yang bisa diakses melalui smartphone dan berbagai jenis gawai lainnya merupakan upaya mempermudah masyarakat untuk mengakses dan meberikan informasi mengenai sampah.

“Untuk yang belum ngeh (paham, Red.) sama urusan IT nanti kita ada kegiatan-kegiatan sosialisasi untuk penggunaan platform ini,” imbuhnya.

Dengan dikenalkannya BebasSampah.id kepada masyarakat, Anilawati berharap tingkat partisipasi masyarakat terhadap permasalahan sampah semakin tinggi sehingga kedepannya Bandung bisa bebas sampah.

Warga Bandung pun menyambut baik dengan adanya situs Bebassampah.id. Misalnya saja Suci, mahasiswi Teknik Lingkungan dari salah satu universitas swasta di Bandung. Ia menuturkan bahwa melalui bebasampah.id ia bisa dengan mudah mencari informasi lokasi pembuangan dan pengolahan sampah yang dekat dari kediamannya melalui smartphone.

“Sebagai pengguna smartphone, sekarang saya ngerasa dimudahkan dengan adanya portal ini. Jadi saya bisa mencari tahu lokasi yang tepat dan lokasi yang tepat untuk membuang sampah dan membantu mengatasi permasalahan sampah di kota Bandung,” ujar Suci sambil tersenyum.

Dalam acara peluncuran tersebut, hadir berbagai komunitas penggiat lingkungan, pelajar dan masyarakat umum. Selain peluncuran portal bebassampah.id, turut diputarkan beberapa film pendek bertemakan lingkungan. Selain itu ada pula acara “Lari Menuju Bandung Bebas Sampah” yang merupakan aksi bersama bebassampah.id untuk mewujudkan Indonesia bebas sampah.

Selain melalui website bebassampah.id, Anda bisa mencari informasi mengenai sampah melalui akun twitter @BebasSampah.id. Ayo wujudkan Indonesia bebas sampah!

Penulis: RA/G11

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/menuju-bandung-bebas-sampah-melalui-bebassampah-id/feed/ 0
Srikandi Inspirasi Bagi Negeri Jilid 5 Akan Tempuh NTB Sampai Bali https://www.greeners.co/aksi/srikandi-inspirasi-bagi-negeri-jilid-5-akan-tempuh-ntb-sampai-bali/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=srikandi-inspirasi-bagi-negeri-jilid-5-akan-tempuh-ntb-sampai-bali https://www.greeners.co/aksi/srikandi-inspirasi-bagi-negeri-jilid-5-akan-tempuh-ntb-sampai-bali/#comments Wed, 27 May 2015 09:53:26 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=9276 Jakarta (Greeners) – Bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tanggal 5 Juni mendatang, komunitas Bike to Work (B2W) Indonesia kembali menyelenggarakan kampanye tahunan “Srikandi Inspirasi Bagi Negeri” jilid 5. Kali […]]]>

Jakarta (Greeners) – Bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tanggal 5 Juni mendatang, komunitas Bike to Work (B2W) Indonesia kembali menyelenggarakan kampanye tahunan “Srikandi Inspirasi Bagi Negeri” jilid 5. Kali ini, rute sepeda akan menyusuri dua provinsi, yakni Nusa Tenggara Barat sampai Bali. Sebanyak 21 perempuan telah lolos seleksi untuk menjadi pesepeda dalam touring ini.

Para Srikandi direncanakan akan membagikan bibit pohon untuk ditanam di wilayah yang dilewati. Selain itu, ke-21 Srikandi akan memberikan pembelajaran kepada masyarakat setempat agar lebih peka dengan permasalahan lingkungan, seperti di wilayah Sekotong Tengah di Lombok Barat yang terkena dampak pencemaran merkuri akibat penambangan emas skala kecil. Hal ini menjadi perhatian karena beberapa warga mulai menunjukkan gejala keracunan merkuri yang mirip dengan penyakit minamata.

“Penyelenggaraan tahun ini yang bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia memang menitikberatkan kepada aksi cinta bumi dan pengenalan kendaraan yang ramah terhadap lingkungan,” ujar Toto Sugito selaku Ketua Umum B2W Indonesia dalam konferensi pers di Gedung Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Jakarta, Selasa (26/05/2015).

Sebanyak 21 pesepeda perempuan yang tergabung dalam tim "Srikandi Inspirasi Bagi Negeri" akan melakukan aksi cinta bumi dan pengenalan kendaraan yang ramah terhadap lingkungan. Foto: greeners.co/Gloria Safira

Sebanyak 21 pesepeda perempuan yang tergabung dalam tim “Srikandi Inspirasi Bagi Negeri” akan melakukan aksi cinta bumi dan pengenalan kendaraan yang ramah terhadap lingkungan. Foto: greeners.co/Gloria Safira

Kegiatan menelusuri pulau-pulau di Indonesia, lanjut Toto, merupakan wujud dari partisipasi nyata untuk menciptakan keadaan lingkungan yang lebih baik untuk Indonesia. Ia juga optimis dengan banyaknya dukungan terhadap Srikandi, termasuk pemerintah di Jakarta dan NTB, touring ini akan membuahkan hasil yang positif.

Di tempat yang sama, Koordinator Kegiatan dan Operasional Kampanye Srikandi, Tense Manalu menyatakan bahwa kegiatan touring ini bukanlah kegiatan balap sepeda, namun kampanye dengan wujud kepedulian terhadap alam sekitar. Ia juga mengimbau agar dalam menjalankan kampanye ini, para Srikandi saling mengedepankan sisi kekeluargaan dan kebersamaan.

“Dalam melajukan sepedanya selama kampanye ini, teman-teman Srikandi harus memberikan dukungan satu sama lain, saling terikat dan memberikan energi positif untuk mendapatkan hasil yang maksimal,” ujarnya.

Hadir pula salah satu peserta Srikandi, Pupung Kustanti (43) asal Banten. Perempuan yang akrab disapa Pungki ini merasa senang karena akhirnya dapat bergabung dalam kelompok Srikandi setelah melewati berbagai seleksi. Meski tidak lagi muda, Pungki tetap semangat dan tidak takut untuk menerjang jalur berjarak 700 kilometer tersebut. Ia pun berharap touring Srikandi ini bisa menjadi inspirasi bagi banyak perempuan yang menyukai kegiatan bersepeda.

Foto bersama perwakilan tim Srikandi Inspirasi Bagi Negeri jilid 5, Bike to Work Indonesia dan Duta Besar Norwegia untuk Indonesia, H.E Stig Traavik di Gedung Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Jakarta, Selasa (26/05/2015). Foto: greeners.co/Gloria Safira

Foto bersama perwakilan tim Srikandi Inspirasi Bagi Negeri jilid 5, Bike to Work Indonesia dan First Secretary Of Norwegian Embassy untuk Indonesia, Jul Røsjø di Gedung Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Jakarta, Selasa (26/05/2015). Foto: greeners.co/Gloria Safira

Untuk diketahui, touring sepeda “Srikandi Inspirasi Bagi Negeri” jilid 5 yang berlangsung pada tanggal 5-11 Juni 2015 ini akan menempuh jalur dari Bima – Dompu – Sumbawa Besar – Labuan Pandan (Lombok Timur) – Pemenang (Lombok Utara) – Mataram – Sekotong – Lembar. Kemudian touring dilanjutkan menuju Bali dengan rute dari Padangbai menuju garis finish di Denpasar.

Kegiatan ini mendapat dukungan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Kementerian Kesehatan. Selain itu, acara ini juga didukung oleh Kedutaan Besar Denmark, Kedutaan Besar Norwegia, dan Kedutaan Besar Kerajaan Belanda. Menurut rencana, Duta Besar Norwegia untuk Indonesia, H.E Stig Traavik, akan turut bersepeda bersama 21 Srikandi di salah satu etape perjalanan.

Penulis : Gloria Safira

]]>
https://www.greeners.co/aksi/srikandi-inspirasi-bagi-negeri-jilid-5-akan-tempuh-ntb-sampai-bali/feed/ 1
Optimisme Untuk Perbaikan Lingkungan Hidup di Tahun 2015 https://www.greeners.co/berita/optimisme-untuk-perbaikan-lingkungan-hidup-di-tahun-2015/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=optimisme-untuk-perbaikan-lingkungan-hidup-di-tahun-2015 https://www.greeners.co/berita/optimisme-untuk-perbaikan-lingkungan-hidup-di-tahun-2015/#respond Thu, 18 Dec 2014 08:45:47 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=6819 Jakarta (Greeners) – Blusukan asap yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Provinsi Riau beberapa waktu lalu dianggap telah memberikan angin segar bagi perubahan hutan Indonesia. Forest Political Campaigner […]]]>

Jakarta (Greeners) – Blusukan asap yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Provinsi Riau beberapa waktu lalu dianggap telah memberikan angin segar bagi perubahan hutan Indonesia. Forest Political Campaigner Greenpeace, Teguh Surya, mengungkapkan, bahwa apa yang dilakukan oleh Presiden Jokowi merupakan satu langkah yang belum pernah dilakukan oleh presiden-presiden sebelumnya.

Selain itu, Teguh mengharapkan komitmen lingkungan hidup yang telah disampaikan oleh Jokowi dalam berbagai kesempatan tersebut mampu berjalan cepat, sehingga permasalahan lingkungan hidup yang terjadi sepanjang tahun 2014 mampu diselesaikan di tahun 2015 mendatang.

“Kita masih ingat komitmen-komitmen yang diutarakan oleh Joko Widodo saat kampanye maupun setelah menjadi Presiden terpilih. Dan, blusukan asap diharapkan menjadi pintu untuk memperbaiki segala permasalahan lingkungan Indonesia,” jelas Teguh pada acara catatan akhir tahun bertajuk “Angin Perubahan Untuk Hutan Indonesia,” di FX Sudirman, Jakarta, Kamis (18/12).

Lebih lanjut, Teguh menyatakan bahwa Presiden sudah sangat jelas mengatakan bahwa Indonesia sudah seharusnya mulai tegas terhadap perusahaan-perusahaan perusak alam. Hanya saja, tambahnya, Presiden harus memiliki orang-orang yang berani menyelamatkan hutan dan lingkungan hidup Indonesia.

Hal senada juga disampaikan oleh Khalisah Khalid dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Nasional. Ia mengatakan bahwa Walhi masih tetap optimis dalam menata permasalahan lingkungan hidup Indonesia untuk masa mendatang. Namun, tambahnya, rasa optimis tersebut juga harus selalu diiringi oleh kerja nyata yang nantinya akan mampu membuktikan bahwa permasalahan lingkungan hidup di Indonesia pasti bisa terselesaikan.

“Banyak catatan kejahatan lingkungan hidup yang ditangani oleh Walhi dan kerja nyata ini membuat kami merasa optimis walaupun memang tantangannya berat,” terangnya.

Ia pun mengingatkan kepada seluruh perusahaan perusak lingkungan untuk wajib melakukan pemulihan lingkungan di tempat di mana perusahaan itu melakukan ekploitasi. Karena, lanjutnya, yang dibutuhkan oleh Indonesia saat ini hanya tindakan tegas untuk menghentikan izin-izin perusahaan perusak lingkungan tersebut.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/optimisme-untuk-perbaikan-lingkungan-hidup-di-tahun-2015/feed/ 0
“Puisi Bumi” Untuk Tolak Reklamasi Teluk Benoa https://www.greeners.co/aksi/puisi-bumi-untuk-tolak-reklamasi-teluk-benoa/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=puisi-bumi-untuk-tolak-reklamasi-teluk-benoa https://www.greeners.co/aksi/puisi-bumi-untuk-tolak-reklamasi-teluk-benoa/#respond Thu, 18 Dec 2014 08:19:20 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_event&p=6816 Jakarta (Greeners) – Aksi penolakan terhadap reklamasi Teluk Benoa di Pulau Dewata, Bali, masih terus berlanjut. Kali ini Forum rakyat Bali tolak reklamasi (ForBali) mengadakan acara pembacaan puisi dan musikalisasi […]]]>

Jakarta (Greeners) – Aksi penolakan terhadap reklamasi Teluk Benoa di Pulau Dewata, Bali, masih terus berlanjut. Kali ini Forum rakyat Bali tolak reklamasi (ForBali) mengadakan acara pembacaan puisi dan musikalisasi bertajuk “Puisi Bumi” di Eco Bar Cafe, Kemang, Jakarta.

Koordinator ForBali Jakarta, Saras Dewi, mengungkapkan, dengan kembali menggandeng seniman-seniman muda Indonesia, ForBali kembali ingin menyuarakan aksi penolakannya terhadap reklamasi teluk Benoa di Bali.

Menurut Saras, aksi ini berbeda dibandingkan aksi sebelumnya, karena kali ini suasana dibuat lebih intim melalui pembacaan puisi untuk bumi Indonesia. Ia menjelaskan, bahwa meski fokus acara terletak pada penolakan reklamasi Teluk Benoa di Bali, namun sebenarnya ForBali juga ingin meningkatkan perhatian masyarakat terhadap isu-isu lingkungan yang terjadi di Indonesia.

Lebih lanjut, Saras mengatakan bahwa setiap kali melakukan aksi, ForBali selalu melakukannya dengan kegiatan yang sopan dan berbudaya, tanpa adanya perusakan maupun aksi yang merugikan orang lain.

“Kami ingin memberitahu bahwa reklamasi Teluk Benoa hanyalah segelintir permasalahan lingkungan di Indonesia yang sebenarnya masih banyak lagi isu-isu yang sama pentingnya di daerah-daerah lain,” ungkap Saras saat berbincang ringan dengan Greeners di lokasi acara, Jakarta, Rabu (17/12).

Koordinator ForBali Jakarta, Saras Dewi (kaus putih). Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Koordinator ForBali Jakarta, Saras Dewi (kaus putih). Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Selain Saras, penulis novel Djenar Maesa Ayu juga berpendapat bahwa isu lingkungan di Indonesia sudah seharusnya menjadi perhatian semua kalangan. Menurutnya, saat ini permasalahan lingkungan di Indonesia tidak bertambah baik, tapi malah menjadi lebih buruk melihat kasus reklamasi Teluk Benoa yang tidak juga dihentikan oleh pemerintah.

Djenar juga menyatakan dirinya menaruh harapan besar pada Presiden Joko Widodo agar segera mencabut Perpres No. 51 Tahun 2014. Karena, menurutnya, hanya Presiden Joko Widodolah yang memiliki kekuatan untuk mewujudkan aksi tolak reklamasi Teluk Benoa di Bali ini.

“Kita sekarang ada di sini kan karena masalah lingkungan hidup ini masih belum selesai. Yah harapan besar kita tujukan ke Pak Joko Widodo semoga mencabut Perpres tersebut,” tambahnya.

Pengkampanye Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Nasional, Edo Rakhma yang juga dijumpai dalam acara tersebut mengungkapkan bahwa hingga saat ini, gelombang penolakan proyek reklamasi yang direncanakan akan memakan lahan seluas 1.200 hektare tersebut masih terus berjalan, bahkan semakin besar.

“Pemerintah harus memperhatikan ini, gelombang sudah semakin besar, Presiden harus mencabut Perpres tersebut,” pungkasnya.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/aksi/puisi-bumi-untuk-tolak-reklamasi-teluk-benoa/feed/ 0
KLH-K Umumkan Enam Jurnalis Pemenang Media Award 2014 https://www.greeners.co/berita/klh-k-umumkan-enam-jurnalis-pemenang-media-award-2014/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=klh-k-umumkan-enam-jurnalis-pemenang-media-award-2014 https://www.greeners.co/berita/klh-k-umumkan-enam-jurnalis-pemenang-media-award-2014/#respond Fri, 05 Dec 2014 09:47:53 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=6667 Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bekerjasama dengan Society Indonesian Enviromental Journalist (SIEJ) kembali menyelenggarakan Media Award 2014. Acara ini bertujuan memberikan apresiasi kepada para jurnalis atas kepeduliannya […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bekerjasama dengan Society Indonesian Enviromental Journalist (SIEJ) kembali menyelenggarakan Media Award 2014. Acara ini bertujuan memberikan apresiasi kepada para jurnalis atas kepeduliannya dalam mempublikasikan informasi mengenai permasalahan lingkungan hidup di media massa.

Kepala Biro Hukum dan Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Rosa Vivien Ratnawati mengatakan bahwa penyelenggaran Media Award 2014 ini diadakan untuk meningkatkan kualitas pemberitaan terkait isu lingkungan dan memberikan apresiasi kepada para jurnalis atas kesediaan dan kepeduliannya terhadap keberlangsungan lingkungan hidup di Indonesia.

“Harapan kita pemberitaan lingkungan bisa semakin meningkat dan terlaksana konsistensinya,” ungkap Rosa saat memberikan penghargaan kepada para pemenang Media Award 2014, Jakarta, Jumat (05/12).

Agung Riyadi, perwakilan dari Society Indonesian Enviromental Journalist (SIEJ) mengungkapkan, ada harapan besar dalam kegiatan Media Award 2014 ini, yaitu inisiatif yang ditangkap oleh orang banyak agar lebih peka terhadap teknologi ramah lingkungan, khususnya pemerintah sehingga paling tidak ada tindak lanjut yang lebih nyata sebagai bentuk perhatian terhadap lingkungan hidup.

“Peran aktif jurnalis sangat penting, bukan hanya sebagai penyebar informasi tetapi juga berperan untuk advokasi lingkungan. Pemberitaan positif terhadap upaya perlindungan lingkungan harus disampaikan sebagai bahan edukasi kepada masyarakat,” tambahnya.

Sebagai informasi, Media Award 2014 tahun ini bertema “Inovasi Ramah Lingkungan” yang diharapkan dapat mengajak masyarakat untuk peduli dan peka terhadap inovasi lingkungan yang mendorong perubahan gaya hidup dan konsumsi ramah lingkungan. Penghargaan anugerah jurnalistik ini diberikan kepada enam jurnalis terbaik yang telah menerbitkan karyanya di media cetak maupun online di seluruh Indonesia.

Keenam pemenang tersebut adalah Furqon Ulya Himawan dari Media Indonesia yang mengangkat judul “Angin dan Matahari Menerangi Pantai Baru” dan Gabriel Wahyu dari Tempo dengan judul “Penyejuk Udara Tanpa Listrik”. Selain itu, ada Galis Remina Babay dari majalah Kartini, Andreas Benoe dari Kompas Lampung, Agung Wredho dari Koran Jakarta, dan terakhir Hilmi Setiawan dari Jawa Pos.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/klh-k-umumkan-enam-jurnalis-pemenang-media-award-2014/feed/ 0