pertunjukan budaya - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/pertunjukan-budaya/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 14 Oct 2019 01:56:49 +0000 id hourly 1 Merayakan Solidaritas di Reruntuhan Tamansari https://www.greeners.co/aksi/merayakan-solidaritas-di-reruntuhan-tamansari/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=merayakan-solidaritas-di-reruntuhan-tamansari https://www.greeners.co/aksi/merayakan-solidaritas-di-reruntuhan-tamansari/#respond Sat, 05 Oct 2019 02:04:41 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=24375 Festival Kampung Kota merupakan medium penggalangan solidaritas berbagai kalangan terkait isu penggusuran di Tamansari Bandung.]]>

Seperangkat alat pengeras suara berbentuk kotak hitam diangkut beberapa pemuda menyusuri gang sempit belakang Masjid Al-Islam Tamansari Bandung. Kotak-kotak hitam itu dibawa ke Kampung Aliansi sebuah ruang alternatif kota yang didirikan di atas reruntuhan penggusuran rumah warga atas rencana pembangunan rumah deret oleh pemkot Bandung.

Lahan Kampung Aliansi kini berada dalam status quo oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN). Status tersebut ditetapkan merujuk pada konflik kepemilikan lahan antara warga RW 11 Tamansari dan Pemkot Bandung. Hingga kini warga terus berusaha mendapatkan hak atas tanah yang telah lama mereka tinggali.

Kotak-kotak hitam tersebut lantas diturunkan dan segera disiapkan sebagai pengeras suara gelaran Festival Kampung Kota 2. Anto dan Jay serius memantau persiapan, malam itu akan ada pertunjukan teater dan musik. Mereka berdua merupakan bagian dari Aliansi Rakyat Anti Penggusuran yang terdiri dari lintas komunitas, kolektif dan juga mahasiswa kota Bandung. Aliansi tersebut merupakan pengisi ruang alternatif Bandung yang sebelumnya hampa karena penggusuran.

Medium penggalangan solidaritas

Festival Kampung Kota (FKK) tahun ini merupakan edisi kedua dalam tiga tahun terakhir. Jay menjelaskan FKK bukan hanya sekedar selebrasi namun juga merupakan medium penggalangan solidaritas berbagai kalangan terkait isu penggusuran. FKK didesain dengan pendekatan kebudayaan untuk meliterasi berbagai kalangan tentang isu penggusuran dan perampasan lahan.

“Ketika Festival Kampung Kota Pertama di Dago Elos lahir dari urun rembuk warga dan lewat festival mereka ingin menyuarakan bahwa mereka juga tengah berjuang. Mungkin keberhasilan terbesar FKK ini adalah bisa mengundang banyak kawan-kawan juga untuk tahu bahwa isu tentang penggusuran dan perampasan lahan di kampung kota itu telah masif di Bandung,” ungkap Jay.

Penggusuran merupakan isu hangat di Kota Bandung dan Tamansari bukanlah contoh kasus tunggal. Anto menjelaskan terdapat tiga titik penggusuran Bandung yang terus didampingi oleh Aliansi yaitu Tamansari, Dago Elos dan Kebon Jeruk. Anto, Jay, dan teman-temannya yakin bahwa masyarakat harus terus diedukasi tentang ancaman penggusuran.

Beragam praktik kebudayaan disajikan pada FKK untuk menggalang solidaritas. Mulai dari apresiasi sastra, pemutaram film, pameran foto, pertunjukan musik dan teater, hingga berbagai kajian disajikan. Ketimbang FKK pertama, tahun ini FKK memiliki durasi sebulan termasuk berbagai pra-acara. Hal itu dimaksudkan untuk membuka akses berbagai kalangan atas praktik kebudayaan di ruang alternatif dan penggalangan solidaritas.

Jemia merupakan salah pengunjung gelaran FKK malam itu. Momen tersebut merupakan pertama kali baginya datang ke Kampung Aliansi. Ia mendapatkan informasi gelaran FKK dari unggahan panitia di media sosial Instagram. Ia mengaku tertarik dengan pendekatan praktik budaya sebagai medium penjelas isu penggusuran di Bandung.

“ Sebenarnya aku gak terlalu ngikutin isu penggusuran sih. Tapi dulu saat isu Tamansari ini muncul aku sempat ngikutin cuma gak ngikutin kelanjutannya. Hal itu sih yang bikin aku mau datang kesini. Selain itu juga ada acara musik juga, jadi bisa dibilang pendekatan yang mereka gunakan ini bisa merangkul anak muda kayak aku,” jelas Jemia.

Foto-foto Penggusuran di Dinding Reruntuhan Tamansari

Foto-foto penggusuran tertempel di dinding reruntuhan Tamansari Bandung, Kamis (26/9).

Mengisi ruang reruntuhan

Kampung Aliansi merupakan alternatif atas krisis ruang di Kota Bandung. Anto menjelaskan sejatinya banyak ruang kreasi yang tersedia di Bandung namun sedikit kalangan yang dapat mengaksesnya. Di luar gelaran FKK, berbagai kalangan juga memanfaatkan reruntuhan rumah Tamansari untuk berbagai kegiatan. Lahan yang menyandang status quo itu hidup dengan berbagai kegiatan seperti acara musik, nonton bareng sepakbola atau diskusi.

“Di luar FKK sendiri kita sering ngadain acara di sini, nah itu tujuannya buat ngundang semua orang yang mau mengadakan acara entah itu acara musik dan segala macam lainnya dan tanpa biaya, soal perijinan juga tinggal ngomong ke warga, ngomong ke kawan-kawan udah bisa ngadain acara di sini,” ungkap Anto.

FKK merupakan bagian kecil dalam konteks mengisi ruang reruntuhan. Banyak kalangan yang silih berganti mengisi Kampung Aliansi. Segmentasi usia mereka pun beragam mulai dari anak usia TK sampai usia mahasiswa memanfaatkan ruang reruntuhan itu. Salah satunya kelompok teater Rumah Bintang. Malam itu mereka memainkan drama tentang penggusuran lahan disertai tindakan represif pada warga sebagai persembahan pada pengunjung FKK 2.

Kelompok Teater Rumah Bintang di Reruntuhan Tamansari

Kelompok Teater Rumah Bintang beraksi di tengah reruntuhan Tamansari Bandung, Kamis (26/9).

Usai pertunjukan Rumah Bintang usai, malam itu berlanjut dengan pertunjukan musik. Pembaca acara berbicara dengan perangkat pengeras suara yang telah disiapkan sebelumnya. Beberapa kali ia menyelipkan pesan perjuangan untuk meneguhkan solidaritas perjuangan melawan penggusuran. Alunan musik mulai menghentak membuat lupa pengunjung akan bisingnya jalanan Bandung. Reruntuhan Tamansari nampak hidup malam itu dengan senda gurau pengunjung FKK 2.

Anto dan Jay tahu betul perjuangan atas penggusuran belumlah usai. Status quo yang saat ini disandang oleh Kampung Aliansi tetap menjadi perhatian pendampingan mereka dan rekan-rekan lain di Aliansi Rakyat Anti Penggusuran. Praktik Kebudayaan sebagai pikat solidaritas pun masih gencar dilakukan. Malam itu contohnya, FKK 2 merupakan perayaan atas solidaritas di tengah reruntuhan Tamansari.

Penulis : Mohammad Fariansyah

]]>
https://www.greeners.co/aksi/merayakan-solidaritas-di-reruntuhan-tamansari/feed/ 0
Mengenal Budaya Sikka di Plewo Doi https://www.greeners.co/aksi/mengenal-budaya-sikka-di-plewo-doi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mengenal-budaya-sikka-di-plewo-doi https://www.greeners.co/aksi/mengenal-budaya-sikka-di-plewo-doi/#respond Wed, 27 May 2015 01:30:42 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=9262 Jakarta (Greeners) – Sore itu sinar matahari cukup menyilaukan mata. Udara yang terasa agak panas ditambah dengan orang-orang yang berkumpul mengitari halaman rumput dengan luas tidak seberapa menambah pengap udara. […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sore itu sinar matahari cukup menyilaukan mata. Udara yang terasa agak panas ditambah dengan orang-orang yang berkumpul mengitari halaman rumput dengan luas tidak seberapa menambah pengap udara. Namun, tidak berapa lama, suasana berubah hening ketika seorang wanita setengah baya berteriak dan mulai melantunkan nyanyian.

Seiring “aba-aba” perempuan tadi, tujuh orang perempuan dan lima orang laki-laki masuk beriringan ke tengah lapangan. Mereka menari dan menyanyi dalam bahasa Sikka. Hanya entakan kaki dan pukulan sebatang kayu pada batok kelapa yang mengiringi nyanyian mereka. Tarian tradisional ini disebut tarian “Togo Pare” atau tarian untuk memisahkan padi dengan kaki.

Baik laki-laki maupun perempuan penari tersebut mengenakan kain tradisional khas Sikka. Hiasan kepala, ikat rambut, kalung manik-manik, gelang, hingga tas selempang, semuanya khas Sikka. Beberapa dari antara mereka bahkan mengunyah sirih kala menyanyi.

Kedatangan mereka sore itu tidak terlepas dari Noesa, sebuah studio kecil di Jakarta yang fokus pada pelestarian budaya. Duo pendiri Noesa, Cendy Mirnaz dan Annisa Hendrato mengajak komunitas warga Kabupaten Sikka di Flores, Nusa Tenggara Timur untuk memperkenalkan budaya dan karya buatan tangan mereka dalam acara bertajuk “Plewo Doi” di Dia.lo.gue Artspace Kemang, Jakarta.

(kiri-kanan) Annisa Hendrato dan Cendy Mirnaz, pendiri Noesa. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

(kiri-kanan) Annisa Hendrato dan Cendy Mirnaz, pendiri Noesa. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Sebagaimana nama acara ini “Plewo Doi”, yang dalam bahasa Sikka berarti memperkenalkan diri, Noesa memboyong komunitas dalam Sanggar Seni Watubo dari Kabupaten Sikka untuk memperkenalkan budaya mereka dengan berbagai pertunjukan seni dan pameran kerajinan tangan di Jakarta.

“Di Noesa, kami tidak hanya membuat acara tapi kami membuat produk juga karena target market kami anak muda. Bagaimana caranya memasukan seni dan budaya Indonesia ke anak muda supaya mereka tidak sekadar memakai tapi juga tahu arti motif dan cerita dibaliknya,” ujar Cendy, Jakarta (23/05/2015).

Dalam rangkaian acara yang berlangsung pada tanggal 2-13 Mei 2015 dan tanggal 22-24 Mei 2015 tersebut, berbagai kegiatan seperti pertunjukan tari-tarian tradisional, pameran kain tradisional Sikka, workshop tenun, hingga workshop pewarnaan dengan bahan-bahan alami digelar untuk umum. Selain itu, ada pula bazzar yang menjual pernak-pernik, kain dan busana dalam motif kontemporer Sikka.

Seorang penenun asli Sikka tengah menunjukkan cara menenun kain kepada pengunjung. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Seorang penenun asli Sikka tengah menunjukkan cara menenun kain kepada pengunjung. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

“Ternyata dengan mengadakan acara seperti ini, kami membangun self development bagi mereka (komunitas warga Sikka). Saat pameran pertama kali, mereka banyak diam karena takut salah dan malu. Dulu kami juga sempat membantu administrasi mereka, tapi sekarang mereka sudah menjalankan administrasi mereka sendiri,” ungkap Annisa dengan nada senang.

Cendy dan Annisa yang mengaku baru serius menjalankan Noesa pada akhir tahun 2014 lalu sadar bahwa usaha mereka mengenalkan salah satu budaya dari Timur Indonesia memang tidak besar dan dalam waktu yang terbilang singkat. Namun keduanya optimis dengan konsep yang mereka usung bahwa usaha mereka dapat saling mengisi dan memberdayakan masyarakat adat.

Penulis: Renty Hutahaean

]]>
https://www.greeners.co/aksi/mengenal-budaya-sikka-di-plewo-doi/feed/ 0
Pecahkan Rekor, 20.000 Angklung Kumandangkan Pesan Solidaritas https://www.greeners.co/berita/pecahkan-rekor-20-000-angklung-kumandangkan-pesan-solidaritas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pecahkan-rekor-20-000-angklung-kumandangkan-pesan-solidaritas https://www.greeners.co/berita/pecahkan-rekor-20-000-angklung-kumandangkan-pesan-solidaritas/#respond Fri, 24 Apr 2015 03:45:11 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=8691 Bandung (Greeners) – Lebih dari 20.000 angklung berkumandang di Stadion Siliwangi, Bandung guna memecahkan rekor dunia memainkan angklung terbanyak. Wali Kota Bandung Ridwan Kamil yang menerima piagam dari Museum Rekor […]]]>

Bandung (Greeners) – Lebih dari 20.000 angklung berkumandang di Stadion Siliwangi, Bandung guna memecahkan rekor dunia memainkan angklung terbanyak. Wali Kota Bandung Ridwan Kamil yang menerima piagam dari Museum Rekor Dunia-Indonesia menuturkan aksi ini dilakukan untuk mengingatkan pada dunia bahwa solidaritas adalah kunci dari persatuan, khususnya bagi negara-negara peserta Konferensi Asia Afrika Ke-60 tahun 2015.

Kepada Greeners, pria yang akrab disapa Emil ini menyatakan, penghargaan pemecahan rekor dunia ini adalah penghargaan untuk solidaritas warga Bandung secara khusus dan masyarakat Jawa Barat secara umum.

“Ini permainan angklung terbanyak sepanjang sejarah. Dua puluh ribu orang pemain menggaungkan pesan perdamaian untuk Asia-Afrika,” katanya, Bandung, Kamis (23/04).

Selain itu, Menteri Pariwisata, Arief Yahya turut menyatakan bangga dengan antusias yang diberikan oleh warga Bandung. Ia pun sempat merasa gemetar melihat begitu besarnya rasa cinta masyarakat Bandung terhadap kotanya.

“Ini sangat membanggakan. Ini membuktikan bahwa angklung ini milik bangsa Indonesia,” jelasnya.

Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Wakil Direktur Museum Rekor Dunia-Indonesia (Muri), Osmar Semesta, menjelaskan bahwa pemecahan rekor bermain angklung terbanyak ini menembus rekor sebelumnya yang dilakukan di Jakarta dengan 11.000 peserta.

“Penilaian kali ini masuk dalam kategori penilaian terbanyak. Selain itu dimainkan dalam rangka Konferensi Asia Afrika. Semoga pesan solidaritasnya sampai ya ke para delegasi negara,” tambahnya.

Secara rinci Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata (Kadisbudpar) Kota Bandung, Herlan J.S mengatakan kepada Greeners kalau permainan 20.000 angklung ini dipimpin oleh Group Musik Babendjo dari Saung Angklung Udjo yang sukses mengajak para peserta yang mengikuti Harmony Angklung for The World untuk berjoget bersama.

Sedangkan sebanyak 10.000 dari 20.000 angklung yang digunakan dalam peringatan ke-60 Konferensi Asia Afrika di Stadion Siliwangi, Bandung ini dibuat oleh pengrajin angklung dari Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

“Setengah dari alat musik tradisional Sunda ini dibuat oleh Mumu Alimudin. Beliau itu perajin Sanggar Angklung Panji Mekar Panyingkiran dari Kampung Nempel, Desa Panyingkiran,Kecamatan Ciamis,” tukasnya.

Sebagai informasi, Harmony Angklung for The World-Angklung for AACC ini merupakan rangkaian perayaan Konferensi Asia Afrika (KAA) ke-60 yang digelar untuk pemecahan rekor dunia memainkan angklung dengan jumlah pemain hingga 20.000 orang.

Selama satu jam lebih panitia bersama tim juri dari Muri maupun Guinness World Records melakukan penghitungan jumlah peserta. Sekitar pukul 11.40 WIB, perwakilan dari MURI memastikan jika gelaran di Stadion Siliwangi memecahkan rekor Pagelaran Musik Angklung dengan Pemain Terbanyak. Jumlah yang tercatat mencapai 20.000 peserta dengan memainkan lagi We are The World yang sempat dipopulerkan oleh penyanyi Amerika, Michael Jackson.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/pecahkan-rekor-20-000-angklung-kumandangkan-pesan-solidaritas/feed/ 0