pilihan - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/pilihan/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 15 Mar 2021 03:49:12 +0000 id hourly 1 Bunga Mawar, Simbol Cinta yang Bermanfaat bagi Kesehatan https://www.greeners.co/flora-fauna/bunga-mawar/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bunga-mawar https://www.greeners.co/flora-fauna/bunga-mawar/#respond Sat, 13 Mar 2021 03:00:34 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=15823 Tidak hanya indah dilihat, mawar juga sebagai sarana untuk mengkomunikasikan perasaan yang tidak bisa diucapkan. Bunga ini pun bukan sekadar hiasan, ada khasiat obat yang terkandung di tiap kuntumnya.]]>

Tidak hanya cantik sebagai tanaman hias, sekuntum atau seikat bunga mawar yang Anda berikan kepada seseorang juga bisa menjadi simbol cinta dan ungkapan rasa sayang. Mau tahu fakta menarik lain terkait bunga bergenus Rosa ini? Yuk, simak ulasan lengkap dari Greeners di bawah!

Rose atau mawar adalah sejenis tumbuhan semak yang memiliki lebih dari 100 ragam spesies. Bunga ini tumbuh subur di kawasan yang sejuk, serta mampu merambat sampai pada ketinggian 20 m.

Sejak dulu kala, bunga berordo Rosales ini menjadi lambang cinta dan persahabatan. Dalam bahasa bunga, ia adalah media untuk mengkomunikasikan perasaan yang tak bisa kita utarakan dengan kata-kata.

Itu sebabnya, jangan heran jika bunga mawar laris-manis saat perayaan Hari Kasih Sayang. Berkat nilai ekonomisnya, banyak publik yang tertarik membudidayakan flora yang satu ini.

Morfologi dan Ciri-Ciri Bunga Mawar

Ciri-ciri bunga mawar tentu dapat kita kenali dari warnanya. Corak tanaman tersebut sangat khas dengan variasi warna yang beragam, seperti merah, kuning, putih, oranye dan sebagainya.

Sama seperti tinggi dan panjang daunnya, perbedaan warna bunga bergantung pada spesiesnya. Sebagian besar memiliki daun sepanjang 5-15 cm, dengan jumlah anak daun berkisar 3-13 helai.

Daun tersebut tumbuh secara bersilangan dan berkelamin ganda. Ia juga mempunyai daun penumpu yang tampak kuncup di bagian pangkal, serta memiliki banyak benang sari dan juga putik.

Dari sekian banyak varietas mawar, hanya Rosa sericea yang memiliki empat daun mahkota. Sedang, biasanya daun mahkota yang terdapat pada bunga tersebut berjumlah lima helai.

Panjang tangkai bunga mawar bisa mencapai 2,5 cm, warnanya tampak abu-abu dengan kelopak berbentuk lonceng. Bentuk bunga sendiri umumnya bulat, terletak di ujung batang atau cabang.

Secara umum flora ini sebenarnya tidak beracun, akan tetapi kita perlu waspada terhadap bagian batangnya. Sebab terdapat duri-duri tajam yang menjadi organ pelindung bagi tumbuhan tersebut.

bunga mawar

Corak tanaman ini sangat khas dengan variasi warna yang beragam, seperti merah, kuning, putih, oranye dan sebagainya. Foto: Shutterstock.

Habitat, Persebaran, dan Jenis Bunga Mawar

Menurut penelitian, bunga mawar mulanya berasal dari dataran Cina, Timur Tengah, dan Eropa Timur. Dalam perkembangannya mereka menyebar luas di daerah beriklim dingin dan juga panas.

Proses masuknya tanaman mawar ke Indonesia sendiri dibawa oleh orang-orang Belanda. Saat itu, orang-orang Belanda menanam bunga ini di daerah beriklim sejuk, seperti di Lembang dan Cipanas. Dari daerah-daerah tersebut mawar lantas menjadi komoditas yang beredar sampai ke pelosok negeri. Setelah Indonesia merdeka, orang Belanda meninggalkan kebun-kebun bunga yang kembali ke tangan para pribumi.

Berdasarkan jurnal Universitas Negeri Yogyakarta, pengelompokkan berbagai jenis bunga mawar terbagi berdasarkan habitat dan persebarannya. Agar lebih jelas, berikut penjabarannya.

Jenis-Jenis Bunga Mawar berdasarkan Asalnya

  • Eropa: Rosa alba, Rosa canina, Rosa gallica, Rosa chnamomea, Rosa cettifolia, Rosa spinosissma, dan Rosa wichuraiana.
  • Amerika Serikat: Rosa cinemoemea, Rosa nitida, dan Rosa california.
  • Timur Tengah: Rosa fetida, Rosa fetida bicolor, Rosa fetida perciana, Rosa feicikoana, dan Rosa damascena.
  • Cina: Rosa chinensis, Rosa liviegata, Rosa gigantean, Rosa primula, Rosa mulluganii, Rosa sericana pteracantha, Rosa hugonis, dan Rosa banksiae lutea.
  • Jepang: Rosa roxburghii, Rosa roxburghii hirthua, Rosa aciculaisis nipponensis, Rosa mulitiflora, Rosa wichuraina, Rosa rugosa, Rosa uchiyamana, Rosa jasminoidesu, dan Rosa fujisanesis.
bunga mawar

Menurut penelitian, bunga mawar mulanya berasal dari dataran Cina, Timur Tengah, dan Eropa Timur. Foto: Pixabay.

Cara Menanam dan Merawat Bunga Mawar

Melansir laman Distan Kabupaten Buleleng, setidaknya ada dua cara menanam bunga mawar, yakni langkah pembibitan dan langkah penanaman.

1. Mempersiapkan Bibit

Kita bisa menghasilkan bibit bunga tersebut melalui stek batang, okulasi, cangkok hingga menanam bijinya. Bila lewat media polybag, cara menanamnya mirip seperti menanam cabai di dalam pot.

2. Persiapkan Lahan dan Media Tanam

Buatlah lubang-lubang dengan diameter 15 cm dan kedalaman 35 cm pada lahan yang telah disediakan. Lalu, tanam bibit bunga tersebut dan siram dengan air sampai tanah cukup basah.

Langkah dan Cara Merawat Bunga Mawar:

  • Bersihkan permukaan tanah dari rumput liar dan gulma secara teratur;
  • Tambahkan pupuk 3-4 bulan sekali dengan dosis sesuai kondisi tanaman. Langkah pemupukan sendiri bisa menggunakan jenis pupuk NPK sebanyak 5 g per tanaman;
  • Sirami lahan pada pagi dan sore hari saat suhu udara tidak terlalu panas; dan
  • Lakukan langkah pemangkasan secara teratur untuk meningkatkan produktivitas tanaman. Cara ini juga dilakukan demi mengaja keremajaan dan kesehatan tumbuhan.

Manfaat Bunga Mawar bagi Kesehatan

Menurut Balai Penelitian Tanaman Hias (BALITHI), mawar merupakan salah satu tanaman yang memiliki ekonomi tinggi serta dapat dibudidayakan secara komersial sesuai permintaan pasar.

Budidaya bunga ini dapat Anda lakukan sebagai hobi ataupun untuk kegiatan agrobisnis. Sudah banyak sumber dan penelitian yang menonjolkan keunggulan dari bunga yang satu ini.

Bunga mawar mengandung vitamin A, B3, C, D dan E yang bertindak melawan infeksi, serta mengandung fenolat yang diyakini memiliki sifat anti-inflamasi.

Berdasarkan penelitian para ahli, bagian kelopak mawar mampu mengurangi risiko penyakit jantung, membantu melawan kanker dan diabetes, serta meningkatkan penglihatan.

Di pasaran, produk teh berbahan dasar Rosa juga marak kita temui. Biasanya bagian yang menjadi bahan olahan teh adalah petalnya, sedang kelopak bunga tidak terpakai karena rasanya yang pahit.

Taksonomi Bunga Mawar

taksonomi bunga mawar

 

Referensi

Nur Hidayah, Universitas Muhammadiyah Malang

Basrulah, Universitas Negeri Yogyakarta

Dinas Pertanian Kabupatan Buleleng

Penulis: Yuhan Al Khairi, Sarah R. Megumi

 

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/bunga-mawar/feed/ 0
15 Kesalahan Saat Berlari: Segera Cari Tahu dan Hindari! https://www.greeners.co/gaya-hidup/kesalahan-saat-berlari/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kesalahan-saat-berlari https://www.greeners.co/gaya-hidup/kesalahan-saat-berlari/#respond Mon, 01 Feb 2021 12:00:01 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=9055 Olahraga lari kini kembali menjadi tren dari gaya hidup kaum urban saat ini. Meski terkesan mudah, namun tanpa disadari ada beberapa kesalahan yang kerap dilakukan orang saat berlari.]]>

Greeners merangkum lima belas kesalahan yang biasa kita lakukan saat berlari. Apa saja, ya?

Olahraga lari kini kembali menjadi tren dari gaya hidup kaum urban. Banyaknya modifikasi dalam kegiatan lari menarik banyak orang untuk berolahraga lari, misalnya saja fun run, colour run, night run, hingga jomblo run (ditujukan bagi orang-orang yang berstatus single atau sedang tidak memiliki pasangan).

Naiknya partisipasi masyarakat membuat olahraga lari cukup sering  dilakukan kala weekend. Meski terkesan mudah, namun tanpa Anda sadari ada beberapa kesalahan yang sering terjadi saat berlari. Berikut ini adalah beberapa di antaranya.

15 Kesalahan Saat Berlari

1. Pola lari asimetris

Maksud dari pola lari asimetris adalah menaruh terlalu banyak beban pada salah satu sisi tubuh sehingga menimbulkan ketidakseimbangan dalam berlari. Jika seorang pelari melakukan ketidakseimbangan ini maka pada akhirnya akan menyebabkan rasa sakit pada tubuh.

2. Lutut dan pinggul tidak sejajar

Permasalahan yang lain adalah orang-orang menggunakan lutut yang terlalu masuk ke dalam saat berlari karena lemahnya otot gluteus (tiga dari otot besar pada dubur). Posisi badan saat berlari yang  benar adalah sebaiknya lutut sejajar dengan pinggul. Untuk menanggulangi permasalahan ini, sebaiknya lakukan latihan penyeimbangan terhadap otot gluteus maximum dan gluteus medius pada otot belakang.

3. Melangkahkan kaki dan mengayunkan tangan secara berlebihan

Dua kesalahan ini sering kali mengakibatkan cedera pada pelari. Melangkahkan kaki terlalu jauh dapat mengakibatkan overstriding. Hal ini bisa terjadi karena panggul dan tulang belakang bergerak secara berlebihan ke arah yang lainnya. Sedangkan mengayunkan tangan secara berlebihan dapat membuat tulang punggung tidak lurus saat berlari.

kesalahan saat berlari

Ketika berlari, ingat untuk tidak mengayunkan kaki dan tangan dengan terlalu berlebihan. Foto: Shutterstock.

4. Kurang memedulikan kenyamanan kaki

Dalam melakukan olahraga lari, tidak sedikit orang yang menggunakan sepatu running yang sedang tren agar tampak fashionable. Namun, kadang kita luput untuk memerhatikan kenyamanan kaki saat berlari.

Ada orang yang memiliki bentuk telapak kaki dengan lengkungan yang normal, namun ada pula orang dengan telapak kaki datar. Mereka yang memiliki telapak kaki datar biasanya akan merasakan sakit saat berlari.

Pemilihan sepatu lari yang nyaman adalah salah satu hal yang penting dilakukan karena kesalahan dalam memilih sepatu dapat menyebabkan nyeri pada pinggul, punggung dan lutut.

5. Kesalahan menaruh beban tubuh pada kaki depan atau belakang

Kadang saat berlari, kita tidak sadar terlalu menaruh beban pada telapak kaki belakang atau bagian depan. Berlari dengan menggunakan telapak kaki belakang akan menaruh beban tubuh lebih tinggi daripada menggunakan kaki depan.

Sebelum berlari, sebaiknya Anda mengetahui mana yang lebih cocok Anda praktikkan. Apakah teknik berlari dengan menaruh beban berat tubuh pada kaki bagian depan, atau kaki bagian belakang?

6. Kesalahan saat berlari: Perlengkapan yang tidak sesuai

Apa yang anda gunakan untuk berlari sering kali menjadi masalah, terutama bagi pemula. Ini karena Anda baru merasakan ketidaknyamanan biasanya ketika lari jarak jauh.

Hindari penggunaan pakaian yang berlapis-lapis supaya kegiatan berlari Anda lebih ringan. Kenakan sepatu yang sudah sering Anda pakai, agar tidak lecet. Jika ingin menggunakan sepatu lari baru, pakailah ketika Anda berlari dalam jarak yang pendek.

7. Kesalahan saat berlari: Tidak cukup sering mengganti sepatu lari

Menurut penelitian di University of Colorado, sepatu lari yang Anda gunakan secara berlebihan dapat mengurangi efisiensi dan meningkatkan kemungkinan cedera.

Waktu paling tepat untuk mengganti sepatu lari adalah setelah Anda berlari sekitar 400 mil (atau 650 km) dengan sepatu tersebut. Sangat penting bagi Anda untuk terus memantau hal ini.

Banyak pelari yang hanya mengandalkan penilaian visual saja pada kerusakan sepatu mereka. Tetapi, sebagian besar sepatu akan mengalami kerusakan yang signifikan pada bantalannya sebelum menunjukkan tanda-tanda visual keausan.

8. Terlalu banyak melapis pakaian

Saat Anda berolahraga, tubuh Anda menjadi lebih hangat. Itulah mengapa ketika Anda mengenakan pakaian hangat untuk pergi lari, Anda berkeringat terlalu cepat hanya dalam beberapa kilometer. Selain membuat Anda merasa tidak nyaman, para peneliti di University of Wales menemukan bahwa berolahraga saat Anda merasa terlalu panas dapat menyebabkan stres, mengurangi kinerja, dan menurunkan fungsi sistem kekebalan tubuh.

Jika Anda berolahraga dalam cuaca dingin, kenakan pakaian yang membuat Anda merasa agak sejuk saat melangkah keluar. Pada saat Anda mulai berlari, lakukan pemanasan untuk mencapai suhu yang lebih nyaman.

kesalahan saat berlari

Jika Anda berolahraga dalam cuaca dingin, kenakan pakaian yang membuat Anda merasa agak sejuk saat melangkah keluar. Foto: Shutterstock.

9. Kesalahan saat berlari: Tidak mengoleskan pelembap

Gesekan yang terjadi saat berlari pada bagian-bagian tubuh yang rentan seperti bagian belakang kaki atau area privat dapat menyebabkan iritasi atau bahkan berdarah. Oleskan pelembab sebelum berlari atau gunakan bahan yang ramah untuk tubuh Anda, untuk menghindari terjadinya kemungkinan lecet tersebut.

10. Memulai sesi terlalu cepat

Anda keluar untuk berlari, dan melesat seperti peluru. Setelah lari cepat selama 20 menit, Anda mulai terpuruk karena terengah-engah. Menghemat energi Anda di awal sesi latihan atau balapan membuat Anda menjadi pelari yang lebih baik. Sebab, Anda akan berlari dengan kecepatan yang lebih konsisten dan bisa menyelesaikannya tanpa harus tergopoh.

11. Meningkatkan jarak terlalu cepat

Para ahli menyarankan peningkatan jarak tempuh tidak lebih dari 10 persen per minggu, atau tidak lebih dari sepertiga jarak tempuh mingguan Anda. Tetapi banyak pelari yang melanggar aturan ini, sehingga menimbulkan masalah pada tubuhnya. Saat terjadi sakit pada tubuh Anda karena memaksakan diri untuk berlari dalam jarak jauh, lebih baik ambil waktu istirahat satu atau dua hari. Daripada terus berlari namun membuat tubuh Anda mengalami sakit yang lebih parah.

12. Tidak memvariasikan latihan Anda

Jika Anda melakukan sesuatu yang sama berulang kali, biasanya Anda akan mengalami kebosanan. Cobalah beberapa sesi latihan baru seperti lari interval dan fartlek dalam kegiatan lari Anda. Bahkan Anda juga bisa mencoba berlari di medan yang baru. Mencampurkan berbagai cara dalam rutinitas lari Anda dapat membuat Anda menjadi pelari yang lebih baik.

13. Kesalahan saat berlari: Tidak mengisi ‘bahan bakar’ yang benar setelah berlari

Ketika Anda menyelesaikan sesi latihan, sangat normal untuk merasa tidak ingin makan, menurut penelitian tentang nafsu makan para atlet yang dilakukan di Universitas Brigham, Utah, Amerika Serikat. Namun, mengisi kembali tenaga dengan mengonsumsi makanan atau minuman setelah lari menjadi hal yang sangat penting.

National Council on Strength and Fitness merekomendasikan makanan dengan rasio protein dan karbohidrat 3:1 untuk perbaikan dan perkembangan otot yang optimal. 45 menit setelah sesi latihan Anda adalah saat tubuh Anda mampu menyerap sebagian besar nutrisi.

14. Menyimpang dari rutinitas Anda yang biasa

Jangan mencoba apa pun dalam balapan yang belum pernah Anda lakukan dalam latihan. Jika Anda ingin menyimpan karbohidrat pada malam sebelum maraton, lakukanlah sebelum latihan jangka panjang. Anda melatih seluruh tubuh Anda, bukan hanya kaki. Jangan mengejutkan badan Anda dengan melakukan sesuatu yang berbeda.

15. Kesalahan saat berlari: Terlalu tegang

Pelari yang santai adalah pelari yang efisien. Ketegangan dapat menyebabkan cara berlari yang buruk, yang pada akhirnya menyebabkan energi terbuang percuma. Setiap kali Anda berlari, lakukan pemeriksaan pada setiap area yang tegang, terutama tubuh bagian atas, dan cobalah untuk merilekskannya.

Jika Sobat Greeners mengalami sakit atau pegal sehabis berlari, mungkin ada yang salah dari cara kamu berlari. Ayo Sobat Greeners, perhatikan lagi cara berlarimu.

Penulis: Gloria Safira dan Agnes Marpaung.

Sumber:

Live Science

Real Buzz

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/kesalahan-saat-berlari/feed/ 0
Ciplukan, Buah Favorit Masa Kanak-Kanak yang Ternyata Beracun https://www.greeners.co/flora-fauna/ciplukan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ciplukan https://www.greeners.co/flora-fauna/ciplukan/#respond Wed, 06 Jan 2021 00:00:20 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=16208 Meski sering dianggap gulma, nyatanya tanaman Ciplukan (Physalis angulata Linn.) memiliki segudang manfaat. Hanya saja, awasi anak Anda ketika memakan buahnya, sebab flora ini mengandung racun solanine yang bisa berbahaya bagi kesehatan. ]]>

Meski sering dianggap gulma, nyatanya tanaman Ciplukan (Physalis angulata Linn.) memiliki segudang manfaat. Hanya saja, awasi anak Anda ketika mencoba memakan buahnya, sebab flora ini mengandung racun solanine yang bisa berbahaya bagi kesehatan. 

Gulma adalah kelompok flora pengganggu yang sering tidak diharapakan pertumbuhannya. Masifnya perkembangbiakkan tumbuhan ini bahkan dapat menurunkan hasil produksi dari lahan perkebunan.

Melansir laman CCRC (Cancer Chemoprevention Research Center) Farmasi, Universitas Gadjah Mada, ciplukan merupakan tumbuhan herba anual (tahunan) yang bisa tumbuh antara 0,1-1 m.

Jenis tumbuhan ini termasuk dalam famili Solanaceae, sebuah tumbuhan hijau yang kerap menjadi campuran obat herbal, serta sumber obat-obatan alami bagi masyarakat lokal.

Walau sangat bermanfaat, pemanfataan Physalis angulata Linn. tidak boleh sembarangan. Bentuk mentah dari tumbuhan ini mengandung zat aktif yang mengancam kesehatan manusia.

Habitat dan Persebaran Pohon Ciplukan

Pohon ciplukan merupakan tanaman asli dari Selatan Amerika yang tersebar secara luas ke daerah-daerah tropis di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri tumbuhan ini mempunyai banyak nama.

Masyarakat Jawa mengenal tumbuhan ini sebagai Ceplukan, masyarakat Sunda menyebutnya sebagai Cecendet, di Madura dikenal sebagai Yor-yoran, sedang suku Sasak memanggilnya sebagai Dedes.

Di kawasan Bali, tumbuhan gulma tersebut memiliki tiga nama berbeda yakni Angket, Kepok-kepokan, dan Keceplokan. Sedang warga Minahasa menyebut tumbuhan ini dengan nama Leletokan.

Umumnya, ciplukan tumbuh dengan sendirinya atau liar di daerah semak-semak, pinggir kebun, tepi jalan, tepi hutan hingga ladang pertanian atau perkebunan warga.

Cukup jarang masyarakat yang khusus menanam flora ini dalam upaya budidaya. Jika Anda memerlukannya, tumbuhan yang satu ini dapat kita temukan dengan mudah di sekitar area yang telah saya sebutkan.

Tumbuh di daerah dengan ketinggian antara 1-1550 m dpl. Tanaman yang menyukai lahan subur dan agak basah ini tumbuh subur saat musim hujan, dengan panjang usia berkisar satu tahun saja.

Morfologi dan Ciri-Ciri Ciplukan

Ciplukan memiliki daun tunggal dan berwarna hijau. Pertulangan daunnya tidak teratur, memiliki tulang daun menyirip serta menjari. Batang tidak jelas, dengan percabangan yang terlihat menggarpu.

Ditambah lagi, batang pohon ini juga tampak bersegi tajam, berusuk, berongga dengan bagian hijau yang berambut pendek atau gundul.

Batangnya sendiri dapat berdiri tegak atau merunduk hingga menyentuh lantai tanah. Keunikan dari pohon ini juga dapat kita lihat dari buahnya yang terbungkus oleh kelopak daun.

Bagian kelopak daun ciplukan tampak menggelembung, berbentuk seperti telur dan berujung runcing. Buah tersebut dapat tumbuh sepanjang 14 mm, berwarna hijau-kuning serta memiliki cita rasa manis.

Bunga dari pohon ini tergolong tunggal, terletak di ujung atau ketiak daunnya. Bentuk bunga tersebut simetri banyak, tangkai bunga tegak dengan ujung yang mengangguk, langsing dan lembayung.

Pertumbuhan bunga tersebut dapat mencapai 8-23 mm pada usia muda. Saat sudah mulai dewasa, bagian tersebut biasanya berkembang atau tumbuh kembali hingga 3 cm.

buah ciplukan

Pakar menyarankan masyarakat agar hanya mengonsumsi buah ciplukan saat sudah matang saja. Foto: Shutterstock.

Manfaat Pohon Ciplukan

Seperti yang telah saya sebutkan, meskipun tergolong sebagai tanaman liar ciplukan memiliki banyak sekali manfaat dan khasiat khususnya di bidang kesehatan tradisional.

Tidak cuma itu, tumbuhan yang satu ini juga bermanfaat bagi bidang pendidikan tanaman herbal, terutama sebagai acuan ilmu pengetahuan tentang kimia bahan-bahan alam.

Berdasarkan beberapa penelitian, senyawa-senyawa aktif yang terkandung dalam Physalis angulata Linn. di antaranya saponin, flavanoid, polifenol hingga fisalin.

Senyawa-senyawa ini merupakan antioksidan alami yang terkandung dalam tumbuhan. Antioksidan dapat mengeliminasi radikal bebas dalam tubuh sehingga tidak menginduksi suatu penyakit.

Jika demikian, bagian apa saja sih yang bisa kita manfaatkan dari pohon tersebut? Berikut di antaranya:

  • Akar ciplukan pada umumnya berguna sebagai obat cacing dan penurun demam;
  • Daunnya sebagai penyembuh patah tulang, busung air, borok, penguat jantung, keseleo, nyeri perut serta kencing nanah; serta
  • Apabila Anda mengonsumsinya, pakar obat herbal percaya buah ciplukan dapat mengobati epilepsi, susah dan penyakit kuning.

Bahkan di kawasan selatan benua Amerika (seperti Peru dan Chili), flora ini banyak awam olah menjadi saus/sambal untuk kudapan dan isian salad.

Bahaya Ceplukan dan Cara Mengolahnya

Melansir berbagai sumber, ahli menyimpulkan jika buah ciplukan mengandung solanine atau racun alami yang jamak terdapat pada tanaman solanaceae atau jenis sayuran Nightshades.

Solanine sendiri dapat menyebabkan gangguan pencernaan, termasuk kram dan diare. Bahkan dalam kasus yang sangat parah, sayuran ini juga berpotensi mengancam kesehatan hidup seseorang.

Dalam sebuah penelitian, tikus jantan menerima suntikan jus buah ceplukan dengan dosis 2.227 mg setiap hari. Hasilnya, tikus tersebut mengalami kerusakan jantung, meski tidak terjadi pada tikus betina.

Maka dari itu, pakar menyarankan kepada masyarakat agar mengonsumsi buah tersebut saat sudah matang saja. Hal ini dapat terlihat dari warna buah yang sudah berubah menjadi kuning keemasan.

Pada dasarnya, manfaat dari tumbuhan ini dapat kita rasakan jika dikonsumsi dan diolah secara benar. Supaya tidak keliru, berikut langkah-langkah yang harus Anda ketahui:

  • Untuk mengetahui tingkat kematangan buah ceplukan, Anda bisa mengupas daun yang menjadi kuncup buahnya, lalu perhatikan warna dari buah tersebut;
  • Jika sudah cukup matang, cuci menggunakan air sampai benar-benar bersih;
  • Kita bisa memakan secara langsung buah ciplukan yang sudah matang dan dicuci;
  • Apabila ingin mengolahnya menjadi makanan, Anda dapat mencampur buah tersebut ke dalam salad atau diblender dengan buah-buahan lainnya hingga menjadi jus.

Perlu Anda ketahui, buah ciplukan sendiri mengandung karbohidrat, protein, serat, riboflavin, vitamin A, lemak, vitamin C, zat besi, fosfor serta vitamin K yang penting bagi kesehatan tulang, gigi, dan kulit.

Taksonomi Ciplukan

ciplukan

Referensi:

Alifah Hasna, Universitas Muhammadiyah Malang

Laman LIPI 

Laman Farmasi, Universitas Negeri Gajah Mada

Ratna Frida Susanti, Ph.D, dkk., Universitas Katolik Parahyangan

Penulis: Yuhan Al Khairi, Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/ciplukan/feed/ 0
Eceng Gondok, Serba-serbi Gulma yang Kaya Guna https://www.greeners.co/flora-fauna/eceng-gondok-gulma-penghasil-pakan-ternak/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=eceng-gondok-gulma-penghasil-pakan-ternak https://www.greeners.co/flora-fauna/eceng-gondok-gulma-penghasil-pakan-ternak/#respond Tue, 08 Dec 2020 10:00:29 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=21276 Tanaman eceng gondok (Eichhornia crassipes) tentu tidak asing lagi di masyarakat. Salah satu jenis gulma atau tanaman pengganggu ini kerap mengapung di air atau berakar dalam tanah]]>

Tanaman eceng gondok (Eichhornia crassipes) tentu tidak asing lagi di tengah masyarakat. Salah satu jenis gulma atau tanaman pengganggu ini kerap mengapung di air atau berakar dalam tanah. Meski terkenal sebagai flora yang menggangu, nyatanya tanaman ini memiliki segudang manfaat lain yang berguna bagi kelestarian ekosistem sekitarnya. Jika demikian, mengapa tumbuhan ini tergolong sebagai gulma?

Dalam jumlah besar, tanaman yang sering disebut kelipuk – dalam dialek Palembang – digadang-gadang sebagai penyebab dari rusaknya biota air, tempat tanaman tersebut berkembang biak.

Namun seiring majunya ilmu pengetahuan, tanaman yang satu ini diketahui memiliki manfaat serta berguna untuk berbagai macam kebutuhan, seperti pakanan, industri hingga pelestarian alam.

Itu sebabnya, agar tidak keliru menilai flora satu ini, simak ulasan lengkapnya bersama Greeners.

Morfologi dan Ciri-Ciri

Ciri-ciri eceng gondok sebenarnya cukup mudah dikenali. Selain banyak ditemukan di rawa, danau dan sungai, salah satu kekhasan dari tumbuhan ini adalah siklus perkembangbiakannya yang cukup cepat.

Dikutip dari jurnal Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), setiap sepuluh tanaman eceng gondok mampu berkembang biak menjadi 600.000 tanaman baru dalam kurun waktu delapan bulan saja.

Berdasarkan morfologinya, tumbuhan yang satu ini terdiri dari helai daun, pengapung, leher daun, ligula, akar, akar rambut, ujung akar dan stolon sebagai tempat perkembangbiakan.

Benar sekali, tumbuhan yang pertama kali ditemukan di perairan Amazon ini memang tidak memiliki batang, sehingga tinggi reratanya diketahui hanya berkisar 0,4-0,8 meter saja.

Ciri-ciri eceng gondok lain yang bisa kita lihat adalah bentuk daunnya yang oval dan tunggal. Pangkal daun tersebut biasanya runcing dan menggelembung, dengan permukaan licin serta berwarna hijau.

Selain itu, tanaman ini juga memiliki bunga yang tergolong majemuk, berbentuk bulir dengan kelopak menyerupai tabung. Biji bunga ini umumnya berwarna hitam dan berbentuk bulat.

Ditambah lagi, buah dari bunga tersebut berongga tiga dan berwarna hijau. Akarnya yang menjuntai merupakan akar serabut lebat berwarna hitam dengan permukaan bercorak ungu.

Habitat Eceng Gondok

Ecek gondok umumnya bisa tumbuh di hampir seluruh area perairan. Bahkan, daya adaptasi tumbuhan ini tergolong sangat baik karena tahan cuaca ekstrem dari ketinggian dan juga arus air.

Kandungan zat hara, kedalaman air, salinitas, pH dan intensitas cahaya merupakan faktor penentu pertumbuhan Eichhornia crassipes. Semakin banyak, maka pertumbuhannya akan semakin cepat.

Secara umum, tumbuhan ini bisa hidup di tanah yang selalu tertutup air serta mengandung banyak makanan. Dengan daya tahannya, eceng gondok juga bisa hidup di tanah asam dan tanah yang basah. 

Di Indonesia sendiri terdapat tiga jenis eceng gondok, penggolongan tersebut biasanya berdasarkan pada lokasi pengembangbaikannya seperti eceng gondok sungai, rawa serta eceng gondok kolam.

Dampak Negatif Eceng Gondok

Sebelum membahas manfaat eceng gondok, ada baiknya kita mengetahui dampak negatif tumbuhan pengganggu ini. Ada beberapa hal yang perlu Anda antisipasi dari masifnya pertumbuhan kelipuk, yakni:

  1. Meningkatkan penguapan air;
  2. Mengurangi intensitas cahaya dan oksigen yang masuk ke air;
  3. Menyebabkan pendangkalan;
  4. Mengganggu kelancaran transportasi air; serta
  5. Mengurangi nilai estetika area perairan.

Empat dari dampak negatif kelipuk tersebut secara umum penyebabnya yakni pertumbuhan yang tidak terkontrol (terlalu lebat), sehingga mengganggu ekosistem perairan.

Dalam kasus estetika, biasanya tanaman ini menjadi sumber keluhan bagi mereka yang memiliki kolam-kolam dangkal seperti area kolam rumah, taman dan ruang publik lainnya.

Lantas, bagaimana cara menanggulanginya? Setidaknya, ada empat langkah yang bisa Anda lakukan, seperti:

Cara Penanggulangan:

  1. Menggunakan penyiang gulma atau herbisida. Untuk Anda yang belum tahu, herbisida adalah senyawa atau material yang petani sebarkan pada lahan pertanian, yang berguna menekan atau memberantas gulma yang menyebabkan penurunan hasil pertanian;
  2. Mengangkat tumbuhan eceng gondok tersebut secara langsung dari permukaan air;
  3. Memanfaatkan predator atau hewan pemakan eceng gondok layaknya ikan grass carp; dan
  4. Mengolah tanaman tersebut menjadi berbagai macam kebutuhan.
Mengenal Eceng Gondok – Ciri-Ciri, Dampak dan Manfaat

Walaupun reputasinya sebagai gulma, namun flora ini memiliki banyak manfaat. Foto: Shutterstock.

Manfaat Eceng Gondok

Jika laju pertumbuhan flora ini sudah tidak terkendali, maka akan sulit untuk menanggulangi serta memberantas tumbuhan pengganggu tersebut pada area peraian.

Sehingga, cara terbaik untuk “berdamai” dengan tumbuhan ini hanyalah dengan memanfaatkannya untuk beragam kebutuhan. Berikut beberapa manfaat flora ini.

1. Sebagai Pupuk Organik

Banyak orang memanfaatkan kelipuk sebagai pupuk organik. Gulma yang kaya akan kandungan asam humat ini efektif mempercepat pertumbuhan akar tanaman serta menyuburkan tanah.

2. Mengurangi Kadar Logam Berat pada Air

Untuk area perairan yang cukup besar layaknya waduk dan danau, manfaat eceng gondok dapat kita rasakan untuk mengurangi kadar logam berat, seperti Fe, Zn, Cu, Mn, Cd dan Hg.

3. Sebagai Pakan Ternak

Bagi para peternak, eceng gondok kerap mereka gunakan sebagai pakan hewan. Jenis ternak yang cocok dengan pakan ini juga beragam, mulai dari ruminansia (sapi, domba dan kambing), unggas dan kelinci.

4. Bahan Dasar Kerajinan Tangan

Dewasa ini, manfaat kelipuk sebagai bahan dasar industri kreatif dan rumahan terjadi cukup pesat. Banyak orang menggunakan tanaman ini sebagai anyaman untuk membuat kerajinan tangan.

Tidak hanya ampuh dalam menekan pertumbuhannya, pemanfaatan flora ini sebagai bahan dasar kerajinan tangan juga berdampak positif bagi laju ekonomi serta kelestarian lingkungan.

5. Manfaat sebagai Biogas

Terakhir, tanaman ini berpotensi menjadi biogas. Biogas adalah campuran gas yang tercipta dari proses fermentasi bahan organik oleh bakteri dalam keadaan anaerobik.

Dengan manfaatnya sebagai bahan baku biogas, kita dapat mengurangi limbah yang ada di permukaan bumi sekaligus menerapkan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.

Demikian ciri-ciri, dampak hingga manfaat eceng gondok yang bisa kita aplikasikan. Semoga artikel ini mampu membuka cakrawala kita terhadap tumbuhan ini, ya.

Taksonomi Eceng Gondok 

gulma

Penulis: Yuhan Al Khairi, Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/eceng-gondok-gulma-penghasil-pakan-ternak/feed/ 0
Pemuda dari Vietnam Ini Manfaatkan Rumput Liar untuk Sedotan https://www.greeners.co/ide-inovasi/pemuda-dari-vietnam-ini-manfaatkan-rumput-liar-untuk-sedotan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pemuda-dari-vietnam-ini-manfaatkan-rumput-liar-untuk-sedotan https://www.greeners.co/ide-inovasi/pemuda-dari-vietnam-ini-manfaatkan-rumput-liar-untuk-sedotan/#respond Fri, 10 May 2019 05:06:20 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=23276 Sadar akan pentingnya menciptakan produk berkelanjutan, seorang pengusaha muda asal Vietnam terinspirasi untuk membuat sedotan menggunakan rumput yang tumbuh liar di sepanjang Delta Mekong.]]>

Upaya untuk memerangi limbah plastik sebenarnya tidak cukup dengan berhenti menggunakan produk berbahan plastik saja. Ada hal lain yang harus dipertimbangkan seperti bisa atau tidaknya produk pengganti plastik tersebut didaur ulang dan mengutamakan bahan organik demi menjaga kelestarian lingkungan. Sadar akan pentingnya menciptakan produk berkelanjutan, seorang pengusaha muda asal Vietnam terinspirasi untuk membuat sedotan menggunakan rumput liar.

Dilansir dari The Epoch Times, Tran Minh Tien melalui Ống Hút Cỏ, perusahaan yang didirikannya berhasil membuat dua jenis sedotan dari rerumputan yang tumbuh liar di sepanjang Delta Mekong. Seperti yang dijelaskan dalam sebuah video yang diunggah di Facebook oleh VnExpress International, rumput sedge memiliki batang berongga sehingga secara alami berbentuk seperti sedotan.

rumput liar

Sedotan rumput yang dijual dalam kondisi sudah dikeringkan. Foto: Ống Hút Cỏ

Sedotan rumput yang dibuat oleh Tran Minh Tien terdiri dari sedotan segar dan sedotan kering. Proses pengolahannya meliputi proses pencucian dan pemotongan rumput. Setiap rumput yang dikumpulkan kemudian dipotong dengan ukuran panjang 20 sentimeter.

Tran Minh Tien menggunakan batang besi untuk membersihkan bagian dalam sedotan rumput. Dan untuk memastikan sedotannya aman untuk digunakan, pada tahap terakhir sedotan tersebut dicuci sampai benar-benar bersih.

rumput liar

Tran Minh Tien memanfaatkan rumput sedge yang tumbuh liar di sepanjang sungai Mekong sebagai bahan baku sedotan rumput. Foto: Ống Hút Cỏ

Sedotan segar dijual dalam satu ikatan yang terdiri dari 100 sedotan. Sedotan ini dikumpulkan kemudian dibungkus dengan daun pisang. Menurut situs resmi Ống Hút Cỏ, sedotan segar dapat bertahan sekitar dua minggu di lemari pendingin dan paling baik disimpan dalam kantong ziplock. Agar sedotan segar bertahan lebih lama, situs web perusahaan menyarankan merebus sedotan dengan garam, membiarkan kering, kemudian menyimpannya di tempat kering yang sejuk.

Untuk sedotan kering, setelah melewati tahap pencucian akhir, sedotan dijemur selama dua hingga tiga hari kemudian dipanggang di dalam oven. Proses pengeringan tersebut dilakukan untuk memperpanjang usia simpan sedotan agar dapat bertahan hingga sekitar 6 bulan pada suhu ruangan.

rumput liar

Tran Minh Tien (kemeja biru) mengemas produk sedotan rumputnya menggunakan daun pisang. Untuk saat ini sedotan biodegradable ini hanya dipasarkan di Vietnam. Foto: Ống Hút Cỏ

Kedua jenis sedotan rumput buatan Tran Minh Tien ini selain ramah lingkungan juga dapat dimakan. Mengunyah sedotan ini setelah makan dapat membantu membersihkan gigi dan gusi. Karena sedotan ini terbuat dari bahan organik, sedotan ini dapat terurai secara alami, bebas bahan kimia dan bahan pengawet.

Menurut VnExpress International, sedotan rumput buatan Tran Minh Tien ini dijual dengan harga terjangkau. Untuk sedotan segar masing-masing dijual dengan harga sekitar 2,6 sen (dalam dolar Amerika) dan untuk sedotan kering masing-masing dijual dengan harga sekitar 4,3 sen. Namun untuk saat ini, sedotan rumput ini hanya dijual di Vietnam, tetapi Tran Minh Tien sedang mempertimbangkan untuk menjual sedotan kering ke negara lain.

Dilansir dari Green Matters, sedotan rumput buatan Tran Minh Tien dapat dibeli di Zero Waste Saigon, sebuah perusahaan yang berbasis di Vietnam yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang krisis plastik.

Penulis: DS/G43

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/pemuda-dari-vietnam-ini-manfaatkan-rumput-liar-untuk-sedotan/feed/ 0
Kebijakan Pembatasan Sampah Plastik Digugat, Pemerintah Daerah Tidak Gentar https://www.greeners.co/berita/kebijakan-pembatasan-sampah-plastik-digugat-pemerintah-daerah-tidak-gentar/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kebijakan-pembatasan-sampah-plastik-digugat-pemerintah-daerah-tidak-gentar https://www.greeners.co/berita/kebijakan-pembatasan-sampah-plastik-digugat-pemerintah-daerah-tidak-gentar/#respond Tue, 30 Apr 2019 09:46:51 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=23224 Pemerintah daerah Kota Bogor dan pemerintah provinsi DKI Jakarta menyatakan tidak akan mundur untuk memproses dan menjalankan kebijakan pembatasan timbulan sampah plastik sekali pakai.]]>

Jakarta (Greeners) – Pemerintah daerah Kota Bogor dan pemerintah provinsi DKI Jakarta menyatakan tidak akan mundur untuk memproses dan menjalankan kebijakan pembatasan timbulan sampah plastik sekali pakai sebagai turunan UU Pengelolaan Sampah. Sikap ini disebut sebagai upaya untuk mencari solusi atas permasalahan sampah sekaligus tanggapan terhadap gugatan yang dilayangkan oleh industri plastik dan industri daur ulang plastik terhadap pembatasan kantong plastik sekali pakai.

Pemerintah Kota Bogor yang saat ini digugat oleh Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) terkait penerapan Peraturan Walikota (Perwali) Kota Bogor nomor 61/2018 tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik, melalui Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bogor Elia Buntang menyatakan Pemkot Bogor tidak takut terhadap gugatan ini. Elia mengatakan Perwali yang saat ini dijalankan oleh Pemkot Bogor tidak mendapatkan protes sama sekali dari masyarakat dan para pelaku ritel modern juga setuju dengan perwali ini.

“Walaupun kami belum menerima surat gugatan tersebut tapi desas desusnya dari Mahkamah Agung kami (pemkot) sudah menerima. Tapi kami sudah antisipasi gugatan ini dengan bertemu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang diwakili oleh Ibu Dirjen Pengelolaan Sampah dan Limbah B3, Vivien, beberapa waktu lalu. Kami siap menghadapi ini bersama-sama karena ini bukan tanggungjawab kota Bogor saja,” ujar Elia usai konferensi pers Dukungan Pelarangan Plastik Sekali Pakai di Jakarta, Senin (29/04/2019).

BACA JUGA: Pengamat Hukum: Pemda Berwenang Membuat Aturan Pelarangan Plastik Sekali Pakai 

Pemerintah Kota Bogor sendiri sudah menerapkan Perwali nomor 61/2018 di pasar dan ritel modern sejak 1 Desember 2018. Diberlakukannya perwali ini, menurut Elia mampu mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai sebanyak 41 ton setiap bulannya di kota Bogor.

Elia juga menampik anggapan kalau perwali ini merugikan ritel modern di Kota Bogor karena dalam proses pembuatan perwali tersebut sudah melibatkan peritel di seluruh kota Bogor dan sudah berkoordinasi dengan instansi terkait.

Elia menyatakan Pemkot Bogor bahkan membuka layanan call center bersamaan diberlakukannya perwali agar siap jika ada protes dari masyarakat. Namun Elia mengaku tidak menemukan keluhan apapun.

“Selain itu, tudingan gugatan atas pelanggaran HAM sendiri juga tidak ditemukan. Lima bulan perwali tersebut berjalan tidak ada satupun protes dari masyarakat, bahkan kami menemukan masyarakat sudah membawa tas belanja di pasar tradisional. Jadi saya tekankan bahwa Kota Bogor tidak akan merugikan siapapun atas perwali ini,” tegas Elia.

BACA JUGA: ADUPI Gugat Kebijakan Pembatasan Sampah Plastik, KLHK: Tidak Perlu Khawatir! 

Sementara itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang diwakili oleh Kepala Seksi Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Rahmawati juga menyatakan kalau Pemprov DKI Jakarta tidak gentar untuk tetap meneruskan proses penyelesaian Peraturan Gubernur tentang Pembatasan Kantong Plastik ini. Hal ini dikarenakan Pergub ini mengacu pada Peraturan Daerah No. 3 Tahun 2013 Pasal 21 yang menyatakan bahwa ada kewajiban pengelola pasar modern dan pasar tradisional wajib memakai kantong belanja ramah lingkungan atau kantong guna ulang dari bahan kain yang bisa dipakai kembali.

“Saat ini pergub sudah dalam tahap final dan menunggu tanda tangan Gubernur. Di dalam Pergub tersebut berisikan bukan hanya kewajiban para ritel untuk menggunakan kantong belanja ramah lingkungan tapi edukasi untuk mengubah perilaku masyarakat untuk hidup ramah lingkungan. Rencana Pergub ini pun didukung oleh pasar tradisional dan direktur PD Pasar Jaya,” ujar Rahmawati.

Rahmawati mengatakan bahwa pergub ini dibuat karena sampah yang dihasilkan oleh DKI Jakarta setiap tahun selalu naik. Tahun 2017-2018, sampah DKI Jakarta berjumlah 6.800 per ton per hari, namun saat ini sudah naik menjadi 7.400 ton per hari. Belum lagi TPST Bantar Gebang yang diperkirakan tidak mampu menampung sampah pada tahun 2021. Saat ini tumpukan sampah di TPST Bantar Gebang tingginya mencapai 40 meter.

Direktur Eksekutif Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) Tiza Mafira menyatakan dirinya mendukung pemerintah daerah yang berkeinginan untuk menyelesaikan masalah dan mencari solusi atas sampah. Ia juga mengatakan kalau beberapa daerah yang didampingi oleh GIDKP untuk membuat peraturan pembatasan kantong plastik mengaku tidak gentar menghadapi gugatan terhadap peraturan tersebut.

“Sejauh ini, mereka (pemda) mengatakan tidak akan gentar karena keinginan menyelesaikan masalah sampah ini sudah tinggi sekali. Jadi kalau ada gangguan-gangguan seperti ini justru yang dipertanyakan adalah pengganggu itu, bukan solusi peraturan ini yang dipertanyakan. Ini susah di nalar secara logika. Mereka menggugat karena kehilangan uang? Alasan penggugat seperti ini perlu dipertanyakan. Padahal kita sama-sama ingin menyelesaikan masalah,” kata Tiza.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/kebijakan-pembatasan-sampah-plastik-digugat-pemerintah-daerah-tidak-gentar/feed/ 0
Greeners Jalin Kerja Sama Penanaman Mangrove dengan Kemangteer https://www.greeners.co/aksi/greeners-jalin-kerja-sama-penanaman-mangrove-dengan-kemangteer/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=greeners-jalin-kerja-sama-penanaman-mangrove-dengan-kemangteer https://www.greeners.co/aksi/greeners-jalin-kerja-sama-penanaman-mangrove-dengan-kemangteer/#respond Thu, 25 Apr 2019 05:15:56 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=23166 Untuk mendukung konservasi mangrove, Greeners bekerja sama dengan komunitas Kemangteer (Kesemat Mangrove Volunteer) Jakarta akan melakukan penanaman mangrove di pesisir Jakarta.]]>

Jakarta (Greeners) – Untuk mendukung konservasi mangrove, Greeners bekerja sama dengan komunitas Kemangteer (Kesemat Mangrove Volunteer) Jakarta akan melakukan penanaman mangrove di pesisir Jakarta.

Pemimpin redaksi Greeners, Syaiful Rochman mengatakan bahwa bentuk kerja sama dengan Kemangteer ini berbentuk donasi yang diberikan Greeners kepada Kemangteer melalui penjualan produk (merchandising) Greeners. Donasi ini sebagai bentuk nyata Greeners sebagai media online yang fokus pada isu lingkungan untuk membantu penanaman mangrove di kawasan pesisir.

“Donasi penanaman pohon mangrove dari hasil penjualan merchandising Greeners sebesar 15 persen setiap bulannya. Kerjasama ini akan kita lakukan selama 6 bulan ke depan di mana setiap bulannya akan dilakukan penanaman sesuai dengan jadwal penanaman Kemangteer,” ujar Syaiful di kantor Greeners, Jakarta, Kamis (25/04/2019).

Syaiful mengatakan bahwa divisi merchandising ini sudah lama direncanakan untuk membuka kerjasama aksi lingkungan. Tidak menutup kemungkinan akan ada kerjasama-kerjasama lainnya dengan komunitas lainnya.

“Kerjasama aksi nyata bagi lingkungan seperti ini akan berlaku pada merchandise Greeners ke depannya. Tidak menutup kemungkinan akan ada komunitas selain Kemangteer untuk diajak kerjasama, akan dilihat perkembangannya dan dievaluasi beberapa bulan ke depan hasil kerjasama ini. Seiring dengan meningkatnya pembelian merchandise dari pembaca Greeners terhadap kerjasama ini berarti semakin banyak pohon mangrove yang ditanam. Dengan membeli merchandise Greeners, kalian berpartisipasi dalam donasi penanaman mangrove demi kawasan pesisir yang berkelanjutan,” ujarnya.

penanaman mangrove

Ketua Komunitas Kemangteer Nathasi Fadhlin (tengah) bersama anggotanya melakukan penanaman mangrove di kawasan ekowisata mangrove Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Foto: greeners.co/Nada Qothrun

Kemangteer sendiri berdiri sejak 6 November 2009, merupakan komunitas sukarelawan mangrove dan siapa pun yang peduli terhadap mangrove. Ketua Komunitas Kemangteer Nathasi Fadhlin mengatakan konsep yang dibangun dalam Kemangteer adalah ketulusan, kejujuran, kesukarelawanan dan keterbukaan dalam bekerja dan berbakti untuk mangrove dan warga pesisir dunia.

“Mangrove membutuhkan relawan mangrove Kemangteer di tiap kota, karena 80% lebih hutan mangrove di Indonesia telah rusak. Ini merupakan salah satu bencana ekologis terbesar di bumi karena Indonesia memiliki 40% dari total hutan mangrove yang ada di dunia,” ujar Natashi kepada Greeners saat dihubungi melalui telepon.

Berdasarkan data KLHK saat ini, Indonesia memiliki kurang lebih 3,48 juta hektar atau 19% dari total mangrove di dunia. Jumlah ini terdiri dari kondisi mangrove baik seluas 1,67 juta hektar dan kondisi mangrove rusak 1,81 juta hektar.

Sejak melakukan penanaman mangrove pada tahun 2011, Kemangteer sudah menanam lebih dari 10.000 mangrove di beberapa tempat di seluruh Indonesia. Di Jakarta sendiri Kemangteer sudah melakukan penanaman mangrove di wilayah Pantai Indah Kapuk, Ekowisata, Hutan Lindung, Abroretrum, Blok B Marunda, Pulau Seribu, Pulau Pari, dan Muara Gembong.

“Kebetulan kalau kami fokusnya memang di Jakarta karena mangrove di Jakarta sudah sedikit dan menurut kami kurang diatur. Kami sebagai wadah yang fokus ke mangrove berterima kasih kepada Greeners yang peduli terhadap konservasi mangrove ini. Kalau mangrove ini enggak ada yang mengurusi, Jakarta bisa abrasi dan kita ingin mencegah itu,” kata Nathasi.

Sesuai Permenko Perekonomian Nomor 4 Tahun 2017 tentang Kebijakan, Strategi, Program, dan Indikator Kinerja Pengelolaan Ekosistem Mangrove Nasional, pemerintah menargetkan merehabilitasi 65.000 hektar lahan mangrove per tahun sampai dengan tahun 2045 yang dilaksanakan oleh Kementerian atau Lembaga, BUMN/S/D, dan masyarakat.

Nathasi mengatakan melalui kerja sama bersama Greeners ini banyak warga Jakarta ikut peduli terhadap mangrove dan lingkungan dan menjadi bagian dari penyelamatan mangrove. Ia berharap pemerintah juga peduli dengan lingkungan terutama hutan-hutan di pesisir mangrove.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/aksi/greeners-jalin-kerja-sama-penanaman-mangrove-dengan-kemangteer/feed/ 0
Kecubung, Anestesi Alami yang Tumbuh Liar https://www.greeners.co/flora-fauna/kecubung-anestesi-alami-yang-tumbuh-liar/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kecubung-anestesi-alami-yang-tumbuh-liar https://www.greeners.co/flora-fauna/kecubung-anestesi-alami-yang-tumbuh-liar/#respond Tue, 16 Apr 2019 06:01:00 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=23099 Meski alami, memanfaatkan tanaman berkhasiat obat tidak bisa sembarangan karena ada yang mengandung racun. Salah satunya tumbuhan kecubung (Datura metel).]]>

Tren gaya hidup yang mulai kembali mengarah ke alam menandakan bahwa sesuatu yang alami tidak lagi terkesan kampungan atau ketinggalan jaman, termasuk memanfaatkan tumbuhan yang sudah lama dikenal sebagai obat herbal tradisional. Meski alami, memanfaatkan tanaman berkhasiat obat tidak bisa sembarangan karena ada yang mengandung racun. Salah satunya tumbuhan kecubung.

Kecubung (Datura metel) ditemukan oleh ahli botani bernama Charles Linnaeus pada tahun 1753. Tumbuhan ini merupakan tumbuhan tropis yang dapat ditemukan di Asia Selatan dan Tenggara, termasuk India, Sri Lanka, Indonesia dan Benua Amerika. Kecubung ada beberapa jenis, diantaranya kecubung gunung marga Brugmansia, kecubung pendek, dan kecubung wuluh marga Datura.

Kecubung tumbuh di dataran rendah sampai ketinggian 800 meter di atas permukaan laut. Tumbuh di tempat-tempat terbuka di tanah yang mengandung pasir dan tidak begitu lembap dengan iklim yang kering. Menurut Van Steeins (1997), selain tumbuh liar di ladang-ladang, kecubung sering ditanam di halaman rumah sebagai tanaman pagar atau tanaman hias.

Kecubung termasuk tumbuhan jenis perdu yang mempunyai pokok batang kayu dan tebal, bercabang banyak, tumbuh dengan tinggi kurang dari dua meter. Daun kecubung berwarna hijau berbentuk bulat telur, tunggal, tipis, dan pada bagian tepinya berlekuk-lekuk tajam dan letaknya berhadap-hadapan. Ujung dan pangkal daun meruncing dan pertulangannya menyirip.

Bunganya merupakan bunga tunggal menyerupai terompet dan berwarna putih atau lembayung. Panjang bunga lebih kurang 12-18 cm, bunga bergerigi 5-6 dan pendek 3-5 cm. Bunga mekar di malam hari, membuka menjelang matahari tenggelam dan menutup pada sore hari.

Beralih ke bagian buahnya, buah kecubung berbentuk hampir bulat yang salah satu ujungnya didukung oleh tangkai tandan yang pendek dan melekat kuat. Bagian luar buah dihiasi duri-duri pendek dan bagian dalamnya berisi biji-biji kecil warna kuning kecoklatan. Buah muda berwarna hijau muda sedangkan saat buah matang buah berwarna hijau tua. Diameter buah sekitar 4-5 cm.

anestesi

Buah kecubung. Foto: wikimedia commons

Sejumlah kajian ilmiah menyatakan bahwa kecubung dengan bunga putih sering dianggap paling beracun dibanding jenis kecubung lainnya yang juga mengandung zat alkaloid. Seperti pada beberapa tanaman yang memiliki manfaat yang sama seperti akar tuba, daun bandotan dan biji karet, tanaman kecubung mengandung senyawa alkaloid tropan yang sangat beracun.

Tumbuhan ini mengandung senyawa alkaloid tropan seperti hyoscyamine (daturine), hyoscine, dan atropine sedangkan bijinya mengandung alkaloid yang berefek halusinogen dan anticholinergic, diketahui menyembuhkan penyakit asma, bronkitis, meringankan rasa sakit dan sering digunakan sebagai anestesi. Alkaloid dalam tumbuhan kecubung terbanyak terdapat di dalam akar dan biji dengan kadar antara 0,4-0,9%, sedangkan dalam daun dan bunga hanya 0,2-0,3%.

Kandungan senyawa aktif dari kecubung ini apabila digunakan dalam dosis yang tepat dapat membuat ikan pingsan dalam waktu yang relatif lebih cepat dibandingkan dengan menggunakan suhu rendah (es batu) dan tanpa meninggalkan residu (bahan kimia sintetik).

Menurut data BNN (2014), kecubung sering disalahgunakan sebagai bahan narkotika dan penggunaannya tercatat mencapai 3% dari kelompok halusinogen lainnya. Efek yang dihasilkan dari konsumsi kecubung serupa dengan penggunaan LCD, magic mushroom atau marijuana yang juga memiliki kandungan alkaloid jenis halusinogen.

Terlepas dari efek halusinogen pada tanaman ini, di Kabupaten Kepulauan Yapen di Papua tanaman ini digunakan untuk mengurut kaki yang keseleo. Cara penggunaannya adalah dengan memakai kira-kira 1-3 bunga terompet dari kecubung dicampur dengan minyak kelapa murni yang dibuat sendiri, didiamkan selama satu minggu, setelah itu ditambahkan minyak tawon dan minyak kayu putih. Campuran tadi selanjutnya digunakan untuk mengurut kaki yang keseleo.

anestesi

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/kecubung-anestesi-alami-yang-tumbuh-liar/feed/ 0
Tiza Mafira: Pelopor Kebijakan Pembatasan Kantong Plastik Sekali Pakai https://www.greeners.co/sosok-komunitas/tiza-mafira-pelopor-kebijakan-pembatasan-kantong-plastik-sekali-pakai/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tiza-mafira-pelopor-kebijakan-pembatasan-kantong-plastik-sekali-pakai https://www.greeners.co/sosok-komunitas/tiza-mafira-pelopor-kebijakan-pembatasan-kantong-plastik-sekali-pakai/#respond Thu, 04 Apr 2019 11:55:25 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=22988 Gebrakan yang ia lakukan berhasil mendorong dua belas pemerintah daerah membuat kebijakan pembatasan kantong plastik sekali pakai di daerahnya masing-masing. Dia adalah Tiza Mafira.]]>

Jakarta (Greeners) – Berkat petisinya yang mendorong agar pemerintah dan retailer melanjutkan kebijakan kantong plastik tidak gratis dan mendesak agar pemerintah mengeluarkan peraturan atas kebijakan tersebut, Tiza Mafira makin dikenal masyarakat luas. Gebrakan yang ia lakukan ini bahkan berhasil mendorong dua belas pemerintah daerah membuat kebijakan pembatasan kantong plastik sekali pakai di daerahnya masing-masing.

Dimulai dari petisi yang ia buat di Change.org pada tahun 2015, Tiza menghimpun dukungan masyarakat agar kebijakan kantong plastik tidak gratis diterapkan. Sebagai Direktur Eksekutif dari lembaga swadaya masyarakat Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP), ia juga dipercaya mendampingi daerah-daerah di Indonesia untuk membuat regulasi pembatasan kantong plastik.

Petisi ini ternyata disambut baik oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dengan diberlakukannya uji coba kantong plastik tidak gratis pada tahun 2016 selama tiga bulan dan diperpanjang enam bulan. Dari uji coba ini, ada pengurangan 55 persen dalam penggunaan kantong plastik dan beberapa kota mulai menyiapkan peraturan seperti DKI Jakarta, Bandung, dan Cimahi.

Tiza mengatakan bahwa alasan dibalik adanya petisi ini karena masyarakat perlu diedukasi dan diajak berpikir untuk bijak menggunakan kantong plastik. Selain itu sampah kantong plastik sulit didaur ulang dan menjadi sampah yang paling banyak ditemui di laut.

“Masyarakat beranggapan bahwa kantong plastik merupakan fasilitas yang bisa digunakan secara sembarangan padahal ada dampak ke lingkungan yang begitu besar. Kalau tidak diberikan secara gratis orang akan berpikir dulu sebelum menggunakannya, apakah benar-benar perlu atau tidak. Kalau tidak perlu, ya, tidak usah dibeli,” ujar Tiza kepada Greeners saat ditemui di Hotel Sharing-La, Jakarta beberapa waktu lalu.

Apa yang dilakukan Tiza ini juga mendapat apresiasi dari Menteri Keuangan Sri Mulyani. Sri Mulyani bahkan berinisiatif memberikan insentif kepada Pemda yang berhasil melakukan pengurangan sampah plastik secara terukur. Atas inisiatif ini, kota Banjarmasin mendapatkan Dana Insentif Daerah (DID) sebesar Rp9 miliar karena berhasil melakukan pengurangan sampah kantong plastik sebesar 52 juta lembar per bulan sejak diberlakukannya kebijakan pelarangan penggunaan kantong plastik pada 1 Juni 2016.

“Ketika itu saya mengobrol dengan Ibu Ani (Sri Mulyani, Red.) di sebuah forum kecil, dan saya bercerita tentang kampanye kami yang berhasil mendorong kota Banjarmasin melarang kantong plastik dan ada pencanangan DID itu. Wah itu rasanya sesuatu yang konkret banget dan my biggest achievement,” ujarnya dengan nada haru.

(Selanjutnya…)

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/tiza-mafira-pelopor-kebijakan-pembatasan-kantong-plastik-sekali-pakai/feed/ 0
Kualitas Air di Jakarta Dipertanyakan, Kandungan E-Coli Melebihi Ambang Batas https://www.greeners.co/berita/kualitas-air-di-jakarta-dipertanyakan-kandungan-e-coli-melebihi-ambang-batas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kualitas-air-di-jakarta-dipertanyakan-kandungan-e-coli-melebihi-ambang-batas https://www.greeners.co/berita/kualitas-air-di-jakarta-dipertanyakan-kandungan-e-coli-melebihi-ambang-batas/#respond Mon, 18 Mar 2019 14:54:19 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=22830 Air merupakan hak dasar masyarakat Indonesia dan hak ini dijamin dalam Undang-Undang Dasar 1945. Masalahnya, air tanah telah digunakan secara berlebihan tanpa mempertimbangkan kelestarian sumber air dan kualitas air.]]>

Jakarta (Greeners) – Air merupakan hak dasar bagi masyarakat Indonesia dan hak ini dijamin dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 33 ayat (3), “bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar untuk kemakmuran rakyat.” Dengan demikian negara berkewajiban untuk memberikan hak asasi atas air secara maksimal. Masalahnya, air tanah telah digunakan secara berlebihan untuk memenuhi berbagai kebutuhan tanpa mempertimbangkan kelestarian sumber air dan kualitas air.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) proporsi populasi di seluruh Indonesia yang memiliki akses terhadap layanan sumber air minum layak dan berkelanjutan pada tahun 2017 sebesar 80,82% untuk daerah perkotaan dan 62,10% untuk perdesaan. Sedangkan jika dikerucutkan pada wilayah DKI Jakarta, layanan sumber air minum layak sebesar 92,44% pada tahun 2016. Namun pada 2017, proporsi rumah tangga yang memiliki akses menurun menjadi 88,93%.

Menurut Direktur Eksekutif Asia Pacific Centre For Ecohydrology, Ignasius Sutapa, data tersebut perlu dilihat lebih detail karena belum tentu angka yang tinggi ini memiliki kualitas air yang baik. Kualitas air layak konsumsi ini diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 490 Tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Pada pasal 3 ayat 1 disebutkan bahwa air minum aman bagi kesehatan apabila memenuhi persyaratan fisika, mikrobiologis, kimiawi dan radioaktif yang dimuat dalam parameter wajib dan parameter tambahan.

“Berdasarkan penelitian, hampir sebagian besar sumur dangkal di Jakarta sudah tercemar E-coli (Escherichia coli) yang ada di feses manusia dan itu sudah sangat tinggi kadarnya. Jadi sebenarnya air di Jakarta sudah tidak layak digunakan atau dikonsumsi karena bisa berdampak pada kesehatan jangka pendek, menengah, dan panjang. Menurut Permenkes tersebut parameter wajib, yakni parameter mikrobiologis, kadar E-coli di air seharusnya nol,” kata Ignasius kepada Greeners saat ditemui pada Kamis (14/03/2019) lalu di kantornya, Asia Pacific Centre For Ecohydrology, Bogor.

BACA JUGA: LIPI: Ekohidrologi, Solusi Ketersedian Air Bersih Berkelanjutan di Indonesia 

Data dari Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta menunjukkan dari 267 sampel air tanah di Jakarta yang diambil pada periode 22 Maret sampai 25 Mei 2018, sebanyak 64,6% air tanah tercemar detergen dengan kandungan detergen 0.15 sampai 0,98 mg/l. Menurut Permenkes No. 32/2017, ambang batas kandungan detergen dalam air untuk keperluan higienis sanitasi yaitu 0,05 mg/l. Sementara, 40% sampel menunjukkan kandungan bakteri E-Coli pada air tanah di Jakarta lebih besar dari 1.000 CFU (Colony Forming Unit) per 100 ml padahal standar baku mutunya adalah > 1 CFU/100ml.

Ignasius mengatakan penyebab dari tingginya E-coli ini karena sumber air tanah berdekatan dengan tempat penampungan tinja (septic tank) karena keterbatasan lahan. Padahal, air tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan sehari-hari seperti mandi, memasak, mencuci, hingga air minum.

Layanan Air Bersih Belum Merata

Saat ini layanan air bersih di Indonesia dibagi menjadi dua kelompok, yaitu layanan air bersih melalui jalur perpipaan yang dilayani di antaranya oleh PDAM, PALYJA, dan PT Aetra. Sedangkan non perpipaan seperti sumur bor, sumur gali, sumur pompa tangan, sumur dalam, dan penampungan air hujan.

“Di Jakarta, setahu saya tingkat pelayanan air bersih di Jakarta melalui jalur perpipaan masih relatif rendah. Hal itu yang harusnya diupayakan oleh pemerintah namun PDAM atau PALYJA sebagai penyedia air bersih atau air layak dari sisi kualitas dan kuantitas mengalami kesulitan mendapatkan air baku dari sungai-sungai yang ada di Jakarta karena sudah tercemar berat,” ujar Ignasius.

BACA JUGA: Polemik Swastanisasi Air di Jakarta, Publik Diminta Pegang Kendali Pengelolaan 

Anggota Tim Tata Kelola Air DKI Jakarta Nila Ardhanie mengatakan bahwa pihak swasta mengklaim layanan air bersih yang bisa disalurkan ke masyarakat DKI Jakarta sebesar 62%. Jumlah tersebut berbeda dengan temuan Amertha Institute yang menemukan bahwa cakupan layanan air bersih di Jakarta hanya 35% dan dari angka tersebut hanya 8% yang dialirkan kepada pelanggan berpenghasilan rendah.

“Kegagalan ini menjadi salah satu faktor yang mendorong warga menyedot air tanah. Mengatasi permasalahan tersebut tim kami memberikan tiga opsi kepada Gubernur. Pertama, terminasi (pemutusan) kontrak menggunakan dasar hukum pasal yang tersedia dalam perjanjian kerjasama. Kedua, pembelian saham dan ketiga adalah pengambilalihan sebagian pengelolaan air Jakarta hingga kontrak dengan swasta berakhir di tahun 2023,” kata Nila.

Senada dengan Nila, Bahrun, salah seorang warga Kampung Muka, Kelurahan Ancol, Jakarta Utara, mengatakan bahwa ada diskriminasi dari pihak Perusahaan Air Minum (PAM) dalam layanan air bersih di wilayahnya. Ia menyatakan bahwa warga sudah mengajukan permohonan pemasangan pipa air bersih ke pihak PAM berulang kali, namun hingga saat ini tidak ada tindak lanjut dari Palyja atau penyedia jasa air bersih lainnya.

“Kami tinggal di Kampung Muka ini sudah ada dari 40-60 tahun berstatus legal, tapi untuk akses air ini kami seperti dimarjinalkan. Di kompleks elit RW 10-11 air pamnya lancar, berbeda dengan 5 RW lainnya yang airnya mengalir jam 3-4 subuh, itu pun debit airnya kecil. Kami sudah melakukan segala cara tapi prosesnya hanya berhenti pada dimintai KTP dan KK. Akibatnya kami harus membeli air dengan harga Rp6.000 per pikul (kapasitas 1 jerigen besar),” kata Bahrun.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/kualitas-air-di-jakarta-dipertanyakan-kandungan-e-coli-melebihi-ambang-batas/feed/ 0
Pulau Dua Barat Dijual Rp243 Miliar, KIARA: Ini Melanggar Konstitusi! https://www.greeners.co/berita/pulau-dua-barat-dijual-rp243-miliar-kiara-ini-melanggar-konstitusi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pulau-dua-barat-dijual-rp243-miliar-kiara-ini-melanggar-konstitusi https://www.greeners.co/berita/pulau-dua-barat-dijual-rp243-miliar-kiara-ini-melanggar-konstitusi/#respond Sat, 16 Mar 2019 09:38:29 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=22822 Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) menemukan praktik penjualan pulau kecil di Indonesia. Pulau yang ditawarkan secara online tersebut dijual dengan harga 243 miliar rupiah.]]>

Jakarta (Greeners) – Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) menemukan praktik penjualan pulau kecil di Indonesia. Pulau yang ditawarkan secara online tersebut dijual dengan harga 243 miliar rupiah.

Sekretaris Jenderal KIARA Susan Herawati menegaskan bahwa menjual pulau-pulau kecil telah melawan konstitusi Republik Indonesia, yaitu UUD 1954 pasal 33 ayat 3 yang berbunyi “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.”

“Menurut pengamatan kami, praktik penjualan pulau kecil ini sudah dilakukan sejak 2-3 tahun terakhir dan kami juga tidak bisa mendeteksi siapa yang punya. Artinya ada pengamanan yang ketat sekali. Hal ini pernah kami sampaikan kepada pemerintah (Kementerian Kelautan dan Perikanan/KKP) tapi tidak di respon dengan jelas,” kata Susan saat dihubungi Greeners melalui pesan singkat, Sabtu (16/03/2019).

BACA JUGA: Catatan Akhir Tahun 2018, KIARA: Kesejahteraan Masyarakat Bahari Semakin Buruk 

Dalam penelusuran KIARA, pulau yang ditawarkan adalah Pulau Dua Barat, sebuah pulau yang berada di dekat Pulau Tidung, Kepulauan Seribu. Pulau dengan luas 7,84 hektare ini ditawarkan secara online di situs www.99.co dengan harga Rp 243.040.000.000.

“Praktik penjualan pulau kecil di Kepulauan Seribu DKI Jakarta perlu diinvestigasi dan ini merupakan bentuk pengingkaran terhadap konstitusi. Pemerintah harus tindak tegas pelaku penjualan pulau di Kepulauan Seribu ini,” kata Susan.

Susan menjelaskan, penjualan pulau kecil bernama Pulau Dua Barat ini merupakan ironi kedaulatan negara karena terjadi di halaman depan Ibu Kota Republik Indonesia. “Di beranda Jakarta saja ini bisa terjadi dengan mudah. Bagaimana dengan pulau kecil lain di kawasan-kawasan yang minim pengawasan negara?” tanyanya.

pulau dua barat

Selain Pulau Dua Barat, ada beberapa pulau lainnya di Indonesia yang dijual di situs online. Foto: privateislandsonline.com

Pusat Data dan Informasi KIARA tahun 2018 mencatat, dari sekitar 110 pulau yang ada di Kepulauan Seribu, setidaknya 60 pulau-pulau kecil di sana telah dimiliki oleh swasta. “Fakta ini menjelaskan betapa kedaulatan di lautan Indonesia belum bisa tegak,” ujar Susan.

Penjualan kawasan dan pesisir pulau-pulau kecil saat ini tengah jadi persoalan yang mengkhawatirkan karena terus terjadi. Selain situs www.99.co, terdapat situs lain yang menjual pulau-pulau kecil secara terang-terangan, yaitu situs www.privateislandonline.com yang menawarkan Pulau Tojo Una-una di Sulawesi Tengah dan dua kawasan pesisir di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur.

“Jika pesisir dan pulau-pulau kecil Indonesia terus dijual dan dimiliki oleh swasta, lalu bagaimana dengan keberlanjutan nasib masyarakat pesisir yang hidup di kawasan tersebut? Pengelolaan pesisir dan pulau-pulau kecil perlu dikembalikan kepada mandat konstitusi dimana kemakmuran rakyat harus menjadi tujuan utamanya,” pungkas Susan.

BACA JUGA: KIARA Tagih Janji Anies Baswedan untuk Menghentikan Proyek Reklamasi Teluk Jakarta 

Sebagai informasi, pengelolaan pulau-pulau kecil di wilayah Republik Indonesia telah diatur dalam beberapa regulasi. Diantaranya adalah UU Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria dan Peraturan Menteri BPN yang melarang pihak asing membeli dan memiliki tanah di Indonesia. Pihak asing hanya diberikan Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan, atau hak Pakai.

Selain aturan tersebut, investasi asing di pulau-pulau kecil juga harus mengacu pada UU No.1 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU No.27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/pulau-dua-barat-dijual-rp243-miliar-kiara-ini-melanggar-konstitusi/feed/ 0
Pusaran Sampah Sedotan Plastik dalam Instalasi Strawpocalypse https://www.greeners.co/ide-inovasi/pusaran-sampah-sedotan-plastik-dalam-instalasi-strawpocalypse/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pusaran-sampah-sedotan-plastik-dalam-instalasi-strawpocalypse https://www.greeners.co/ide-inovasi/pusaran-sampah-sedotan-plastik-dalam-instalasi-strawpocalypse/#respond Sun, 10 Mar 2019 04:08:15 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=22743 Sedotan plastik merupakan salah satu polutan terbesar untuk lautan kita. Diperlukan beragam media untuk menyadarkan dan menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap masalah ini, salah satunya melalui karya seni.]]>

Sampah plastik jika tidak dikelola dengan baik akan membahayakan lingkungan, termasuk sampah sedotan plastik yang seringkali dianggap remeh. Faktanya, sedotan plastik justru merupakan salah satu polutan terbesar untuk lautan kita. Selain hanya digunakan sekali pakai, sedotan plastik ini memiliki berat yang ringan, sulit terurai dan terlalu kecil untuk didaur ulang. Diperlukan beragam media untuk menyadarkan dan menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap masalah ini, salah satunya melalui karya seni.

Salah satu seniman yang peduli akan permasalahan sampah sedotan plastik adalah Benjamin Von Wong. Ia tergerak untuk membuat instalasi seni dari sampah sedotan plastik yang ia namakan “The Parting of the Plastic Sea” atau lebih dikenal dengan sebutan “Strawpocalypse”.

Untuk membuat instalasi seni ini Von Wong dibantu oleh para sukarelawan. Karyanya ini juga mendapat dukungan dari salah satu perusahaan minuman kopi ternama, Starbucks cabang Vietnam dan Zero Waste Saigon (organisasi non-profit yang memerangi limbah plastik). Melalui karyanya ini Von Wong menggunakan seni untuk menciptakan sesuatu yang indah dan unik dari tragedi lingkungan.

sedotan plastik

Photo: Von Wong via Inhabitat.com

Von Wong menghabiskan enam bulan untuk mengumpulkan sedotan plastik bekas yang disetorkan para relawan. Adapun jumlah sedotan plastik yang dibutuhkan untuk membuat Strawpocalypse ini mencapai 168.000 ribu batang sedotan.

Setelah sedotan dikumpulkan, Ben dan tim relawan mengorganisir sedotan plastik sesuai dengan warnanya untuk mewakili berbagai bagian gelombang: hijau, biru dan hitam untuk bagian dasar gelombang, putih untuk buih di atas, oranye dan kuning untuk pasir dan semua yang transparan lainnya sebagai titik transisi dalam instalasi ini.

sedotan plastik

Photo: Von Wong via Inhabitat.com

Sementara para relawan mengatur sedotan, Von Wong membuat instalasi lautan sedotan yang dibantu oleh Nick Moser, seorang teknisi bangunan asal San Fransisco dan Stefan Suknjaja, seorang desainer escape room (ruang permainan teka-teki) di Novi Sad, Serbia. Untuk membuat konstruksinya, Von Wong dibantu oleh Fosha Zyang, seorang desainer lokal dari Vietnam.

Proses pembuatannya sendiri membutuhkan waktu lebih dari dua minggu. Untuk membuat Strawpocalypse, Von Wong dan para relawan benar-benar membutuhkan banyak waktu dan kesabaran.

Para relawan juga mengumpulkan kantong plastik bekas yang nantinya akan dijadikan diffuser untuk pencahayaan LED pada struktur karya ini. Mereka juga membangun latar belakang plastik dengan efek “matahari” di antara dua gelombang dan kawat galvanis untuk menghubungkan beberapa panel LED.

Dilansir dari Inhabitat, karya tersebut saat ini dipajang di Estella Place, kota Ho Chi Minh, Vietnam sampai 24 Maret 2019. Strawpocalypse yang dibangun setinggi 3,3 m (hampir 11 kaki) ini memberikan kesempatan bagi para pengunjung untuk melihatnya dari sudut 360 derajat. Setelah itu Von Wong berharap dapat menemukan rumah baru bagi karyanya ini untuk dipajang di perusahaan, institusi, museum atau lembaga lain yang bersedia mensponsori.

Dengan membuat Strawpocalypse, Von Wong ingin mendorong orang-orang untuk mengurangi penggunaan sedotan plastik sehingga publik dapat melakukan sesuatu untuk mengurangi polusi laut. Von Wong percaya bahwa perjuangan melawan plastik sekali pakai ini akan berlangsung selama beberapa ratus tahun ke depan.

Penulis: DS/G43

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/pusaran-sampah-sedotan-plastik-dalam-instalasi-strawpocalypse/feed/ 0
5 Inspirasi Bingkisan untuk Kamu yang Peduli Lingkungan https://www.greeners.co/gaya-hidup/5-inspirasi-bingkisan-untuk-kamu-yang-peduli-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=5-inspirasi-bingkisan-untuk-kamu-yang-peduli-lingkungan https://www.greeners.co/gaya-hidup/5-inspirasi-bingkisan-untuk-kamu-yang-peduli-lingkungan/#respond Wed, 06 Mar 2019 09:51:36 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=22149 Memberikan hadiah menjadi salah satu cara untuk berbagi kebaikan. Kamu juga bisa lho memberikan hadiah yang 'berbeda' dari biasanya sekaligus menunjukkan kepedulian kamu kepada lingkungan. ]]>

Memberikan bingkisan menjadi cara yang efektif untuk berbagi kebaikan. Bingkisan biasanya diberikan untuk orang terkasih, seperti orang tua, suami/istri, anak, teman dan pasangan kekasih. Nah bagi kamu yang ingin memberikan bingkisan anti mainstream sekaligus memperhatikan aspek lingkungan, 5 inspirasi bingkisan berikut ini dapat menjadi referensi sobat Greeners.

inspirasi bingkisan

Ilustrasi. Foto: pixabay

1. Makanan dan minuman yang dibuat sendiri

Sebagian orang memberikan hadiah berupa berbagai macam makanan dan minuman ringan yang disatukan dalam bentuk bingkisan atau parcel. Parcel biasanya dibungkus dengan bungkus plastik ditambah hiasan pita plastik. Meskipun terlihat cantik, bungkus dan pita plastik tersebut umumnya tidak digunakan kembali dan berakhir menjadi sampah.

Daripada menimbulkan sampah plastik lebih banyak, kita bisa memberikan makanan dan minuman yang kita buat sendiri. Jika membuat kue kering, hasilnya bisa ditaruh dalam wadah stoples, atau untuk makanan basah bisa memakai tempat/wadah makanan yang dapat dipakai ulang. Nah untuk minuman kita bisa menempatkannya dalam botol berulang kali pakai atau tumbler. Cara ini tentunya lebih ramah lingkungan dan bernilai.

(Selanjutnya…)

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/5-inspirasi-bingkisan-untuk-kamu-yang-peduli-lingkungan/feed/ 0
Tapak Dara, Tanaman Mungil Penumpas Kanker https://www.greeners.co/flora-fauna/tapak-dara-tanaman-mungil-penumpas-kanker/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tapak-dara-tanaman-mungil-penumpas-kanker https://www.greeners.co/flora-fauna/tapak-dara-tanaman-mungil-penumpas-kanker/#respond Sat, 02 Mar 2019 08:34:33 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=22687 Tapak dara (Catharanthus roseus) berasal dari Amerika Tengah dan umumnya ditanam sebagai tanaman hias. Tanaman berbunga mungil ini ternyata mempunyai khasiat yang besar untuk kesehatan manusia.]]>

Pengetahuan penggunaan bahan alam sebagai obat tradisional telah diwariskan secara turun-temurun. World Health Organization (WHO) merekomendasikan penggunaan obat tradisional, termasuk herbal, dalam pemeliharaan kesehatan masyarakat, pencegahan dan pengobatan penyakit. Begitu juga dengan pemanfaatan tapak dara sebagai tanaman obat. Selain jumlahnya banyak dan mudah ditemukan di berbagai wilayah, tanaman berbunga mungil ini mempunyai khasiat yang besar untuk kesehatan manusia.

Tapak dara (Catharanthus roseus) dikenal dengan berbagai sebutan ilmiah Vinca rosea, Vinca multiflora, Ammocallis rosea dan Lochnera rosea. Tapak dara pun mempunyai banyak penamaan di berbagai negara. Di Indonesia dikenal dengan tapak dara, rutu-rutu, kembang serdadu; di Inggris dikenal dengan nama madagascar periwinkle, rose periwinkle; di Melayu disebut kemunting cina; di Vietnam hoa hai dang, Filipina tsitsirika; dan Cina chang chun hua.

Tapak dara berasal dari Amerika Tengah dan umumnya ditanam sebagai tanaman hias. Tanaman ini tumbuh subur di pedesaan beriklim tropis namun bisa ditemukan di berbagai tempat dengan iklim yang berbeda-beda. Ia dapat tumbuh dengan baik di dataran rendah hingga ketinggian 800 meter di atas permukaan laut.

Tanaman tapak dara memiliki tinggi 0.2 – 0.8 m dan batangnya bercabang banyak. Tanaman ini bisa diperbanyak dengan biji, stek batang, atau akar. Batangnya berbentuk bulat dengan diameter berukuran kecil, berkayu, beruas dan bercabang. Bentuk daun memanjang dengan bulu-bulu halus di kedua sisinya dan posisi daun saling berhadapan.

tanaman tapak dara

Foto: wikimedia commons

Bunga tapak dara tumbuh di ketiak daun dan berukuran kecil, sepintas mirip telapak burung merpati sehingga tanaman ini dijuluki dengan tapak dara (telapak merpati). Pada umumnya bunga tapak dara berwarna putih dan ungu yang terdiri atas 5 kelopak.

Pada akar, batang, daun hingga bunganya mengandung berbagai zat kimia yang bermanfaat untuk pengobatan. Kandungan senyawa aktif tapak dara sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, geografis, dan unsur hara di dalam tanah. Hasil analisa fitokimia pada ekstrak daun tapak dara menunjukkan adanya kandungan tanin, triterpenoid, alkaloid (seperti vinblastin, vinkristin, vinceine), dan flavonoid.

Dengan senyawa aktif yang terkandung di dalamnya, tidak heran jika tanaman ini memiliki berbagai khasiat obat, diantaranya sebagai penenang (sedatif), menghentikan perdarahan (hemostatis), menetralkan panas, dan mengobati diabetes.

Tapak dara juga dimanfaatkan sebagai tanaman obat untuk mengobati penyakit tumor ganas dan leukemia (kanker darah) pada anak-anak, kanker payudara, kanker limposit dan kanker uterus. Senyawa vinblastine dan vinkristin digunakan sebagai obat kanker yang diekstrak dari daun tanaman tapak dara. Seperti dikutip dari portal uny.ac.id, pemanfaatan tanaman tapak dara sebagai obat leukemia dilakukan dengan mengeringkan bunga dan daunnya untuk dijadikan teh celup.

tanaman tapak dara

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/tapak-dara-tanaman-mungil-penumpas-kanker/feed/ 0
Bisnis “Hijau” Model Kembar Asia’s Next Top Model 5 Vali – Vera https://www.greeners.co/gaya-hidup/bisnis-hijau-model-kembar-asias-next-top-model-5-vali-vera/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bisnis-hijau-model-kembar-asias-next-top-model-5-vali-vera https://www.greeners.co/gaya-hidup/bisnis-hijau-model-kembar-asias-next-top-model-5-vali-vera/#respond Fri, 15 Feb 2019 06:21:16 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=22552 Dua finalis Asia’s Next Top Model 5 asal Indonesia, Valerie Krasnadewi dan Veronika Krasnasari memiliki kepedulian khusus terhadap isu lingkungan hidup.]]>

Dua finalis Asia’s Next Top Model 5 asal Indonesia, Valerie Krasnadewi dan Veronika Krasnasari memiliki kepedulian khusus terhadap isu lingkungan hidup. Model kembar ini bahkan sudah menganggap isu lingkungan sangat penting utamanya mengenai timbulan sampah.

Veronika mengatakan, “Ketika mendengar isu lingkungan, ini tuh bukan hanya isu lingkungan. Tapi isu yang makin lama akan makin membesar, bisa jadi isu negara, lalu isu negara bisa menjadi isu dunia. Buat gue isu lingkungan itu isu dunia, karena bumi ini cuma satu dan kita belum punya pilihan pindah ke dunia lain. Jadi ini isu yang sangat penting,” buka Vera dalam wawancara via telepon.

Atas kepedulian diatas, model kembar yang tergabung dalam #TEAMTWNS ini sepakat membuat bisnis yang juga membawa misi untuk turut serta menyelamatkan lingkungan.

Perhatian khusus terhadap isu sampah plastik ini akhirnya diwujudkan pada brand TWNSECO yang menjual stainless steel straw dengan varian warna yang sangat mudah dibawa kemana-mana.

“Alasan membuat TWNSECO salah satunya adalah karena gue udah mulai dari diri gue sendiri untuk aware dengan lingkungan, jadi gue pengen orang lain merasakan hal yang sama juga. Kayak dulu nenek moyang kita gak perlu pake sedotan, lalu tiba-tiba muncul sedotan dan inovasi-inovasinya yang sama sekali tidak memikirkan efeknya ke lingkungan,” cerita Vera.

Beberapa contoh produk TWNSECO yang dipasarkan via online-shop. Foto : TWNSECO

“Untungnya sekarang sudah mulai banyak perusahaan yang ikut movement anti sedotan ini.” katanya lega.

Vali menambahkan, “Cara kita selain dengan bisnis ini adalah membuat konten yang secara halus membahas tentang isu lingkungan. Sejalan aja sih dengan bisnis TWNSECO ini. Kalau seseorang udah passionnya tentang sesuatu, pasti diceritain ke orang-orang, jadi kita hanya mengikuti saja.”

Produk TWNSECO bisa didapatkan di beberapa toko online dan juga sosial media. “Promo kita gak hanya lewat sosial media, tapi setiap kita ketemu orang pasti kita akan ngebahas tentang masalah isu lingkungan ini jadi orang-orang bisa lebih paham akan lingkungan ini.” jelas Vali.

Bagi kedua model kembar ini, menjaga lingkungan itu sama saja seperti menjaga diri sendiri. “Jika lingkungan rusak kita pasti akan terpengaruh, manusia juga akan rusak. Karena kalau lingkungan rusak, berarti akan munculnya polusi udara, polusi air, kita akan tercemar dan akan bikin kita sakit juga. Jadi sebenarnya kalo masih ada orang yang gak peduli sama lingkungan berarti dia gak peduli sama diri sendiri.” tutupnya.

Penulis: Gina Arsita (kontributor)

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/bisnis-hijau-model-kembar-asias-next-top-model-5-vali-vera/feed/ 0
Rencana Penutupan Taman Nasional Komodo Menunggu Kajian Tim Terpadu https://www.greeners.co/berita/rencana-penutupan-taman-nasional-komodo-menunggu-kajian-tim-terpadu/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=rencana-penutupan-taman-nasional-komodo-menunggu-kajian-tim-terpadu https://www.greeners.co/berita/rencana-penutupan-taman-nasional-komodo-menunggu-kajian-tim-terpadu/#respond Thu, 07 Feb 2019 11:16:29 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=22513 KLHK yang menjadi pemegang kendali taman nasional membentuk tim terpadu untuk melakukan kajian tentang kemungkinan penutupan sementara kawasan Taman Nasional (TN) Komodo.]]>

Jakarta (Greeners) – Persoalan penutupan Taman Nasional Komodo menemui babak baru. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang menjadi pemegang kendali taman nasional membentuk tim terpadu untuk melakukan kajian tentang kemungkinan penutupan sementara kawasan Taman Nasional (TN) Komodo. Tim terpadu ini akan dibentuk segera dengan beranggotakan Lembaga pemerintah terkait dan akan melaporkan hasil kajian kepada Menteri LHK pada Juli mendatang.

Kesepakatan untuk membuat tim terpadu ini merupakan hasil Rapat Koordinasi Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, NTT yang dilaksanakan di Gedung Manggala Wanabhakti, Jakarta, Rabu (06/02/2019).

BACA JUGA: KLHK: Penutupan Taman Nasional Komodo Belum Diperlukan

Direktur Jenderal KSDAE Wiratno usai rapat menjelaskan bahwa semua pihak sepakat bahwa TN Komodo merupakan situs warisan dunia yang harus benar-benar dikelola dengan prinsip kehati-hatian. Oleh karenanya, perlu dilakukan perbaikan tata kelola khususnya terkait dengan pengamanan dan perlindungan satwa komodo termasuk ketersediaan mangsanya, terutama Rusa.

Penutupan atau pembukaan kembali suatu kawasan konservasi diputuskan atas pertimbangan ilmiah dan kondisi tertentu. Tim terpadu yang dibentuk untuk mengkaji TN Komodo akan memberikan rekomendasi kepada KLHK melalui Direktorat Jenderal KSDAE pada bulan Agustus 2019.

“Apabila rekomendasi tim terpadu memutuskan untuk ditutup, paket wisata yang telah terlanjur dipasarkan tetap dapat dilanjutkan kecuali di Pulau Komodo, dan akan mulai berlaku pada Januari 2020. Rencana penutupan memang hanya Pulau Komodo, jadi tidak semua kawasan TN Komodo,” kata Wiratno.

BACA JUGA: Menteri LHK: Penutupan TN Komodo Masih Didiskusikan 

Dihubungi secara terpisah, Plt. Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi Listya Kusuma Wardhani mengatakan tim terpadu ini nantinya akan beranggotakan lembaga pemerintah terkait, di antaranya KLHK, Pemprov NTT, Pemkab Manggarai Barat, dan LIPI.

“Pembentukan tim terpadu saat ini belum dilakukan, secepatnya akan dibentuk,” ujar Listya saat dihubungi Greeners melalui pesan singkat.

Kesepakatan lain yang diperoleh dari diskusi ini ialah pengaturan pintu masuk jalur kapal dan penjualan tiket masuk menuju TN Komodo akan ditetapkan melalui satu pintu, yaitu Pelabuhan Labuhan Bajo. Selain itu pengawasan dan kontrol terhadap aktivitas pariwisata juga akan ditingkatkan, seperti pada aktivitas melihat satwa komodo, snorkling, diving, serta kegiatan lainnya.

Wiratno menyatakan bahwa pengkajian tarif masuk juga akan segera dikoordinasikan dengan Kementerian Keuangan, Kementerian Pariwisata dan para operator wisata dan Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA).

“Sistem pengelolaan pengunjung, pusat informasi, serta penguatan kelembagaan masyarakat untuk konservasi dan ekonomi juga akan diatur secara menyeluruh. Peluang kerjasama penguatan fungsi dan perizinan jasa wisata alam dan sarana wisata alam juga dapat dijajaki sesuai peraturan dan perundangan yang berlaku,” kata Wiratno.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/rencana-penutupan-taman-nasional-komodo-menunggu-kajian-tim-terpadu/feed/ 0
Pengobatan Kanker, LIPI Manfaatkan Potensi Biodiversitas Laut Indonesia https://www.greeners.co/berita/pengobatan-kanker-lipi-manfaatkan-potensi-biodiversitas-laut-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pengobatan-kanker-lipi-manfaatkan-potensi-biodiversitas-laut-indonesia https://www.greeners.co/berita/pengobatan-kanker-lipi-manfaatkan-potensi-biodiversitas-laut-indonesia/#respond Mon, 04 Feb 2019 09:19:52 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=22490 Melalui Pusat Penelitian Oseanografi, LIPI berkomitmen untuk meneliti dan mengembangkan bahan aktif dari organisme laut sebagai agen antikanker serta sumber pangan untuk mencegah penyakit kanker.]]>

Jakarta (Greeners) – Bertepatan dengan momentum peringatan Hari Kanker Sedunia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tengah mengembangkan produk pengobatan kanker. Dengan memanfaatkan potensi sumber daya hayati laut Indonesia, LIPI mengembangkan spons, teripang, rumput laut dan mikroorganisme laut sebagai solusi pengobatan kanker.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementrian Kesehatan menunjukkan bahwa prevalensi kanker meningkat dari 1,4% pada tahun 2013 menjadi 1,8% di tahun 2018. Beragam obat antikanker telah tersedia, namun sejak tahun 1980an, sekitar 80% dari obat antikanker yang tersedia di pasar adalah produk alami atau sintesis dari produk alami.

Peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Ratih Pangestuti mengatakan sebagai negara kepulauan, perairan Indonesia memilki kekayaan biota laut yang sangat besar. Melalui Pusat Penelitian Oseanografi, LIPI berkomitmen untuk meneliti dan mengembangkan bahan aktif dari organisme laut sebagai agen antikanker serta sumber pangan untuk mencegah penyakit kanker.

”Sejak tahun 2004 kami sudah mengembangkan beberapa biota laut seperti spons, rumput laut, dan teripang untuk pengobatan kanker. Organisme laut tersebut mengandung sumber senyawa bioaktif yang dapat digunakan sebagai kandidat agen antikanker yang bersifat kuratif menyembuhkan kanker dan untuk pencegahan kanker,” jelas Ratih pada media briefing “Pemanfaatan Teknologi dan Potensi Sumber Daya Hayati untuk Pencegahan Kanker” di Media Center LIPI, Jakarta, Senin (04/02/2019).

BACA JUGA: BPPT Luncurkan Lab Uji Polutan Organik Penyebab Kanker 

Ratih menjelaskan untuk penyembuhan kanker biota laut yang digunakan adalah spons dan teripang, sedangkan pencegahan kanker ialah rumput laut yang bisa digunakan sebagai pangan yang berfungsi untuk meningkatkan kondisi ketahanan tubuh dan mengurangi risiko terjangkitnya berbagai macam penyakit antara lain kanker.

”Jadi dari biota laut yang kita teliti itu ada kandungan senyawa bioaktif Lissoclinum patella, Oxycoryna fascicularis, Didemnum molle, Botryllus schlosseri, Spheciospongia inconstan, Melophlus sarasironum, Oceanapia amboinensis, Biemna sp, Axinella sp, Haliclona (Gellius) sp, dan Lamellodysidea herbaceae yang berfungsi sebagai anti kanker,” kata Ratih.

BACA JUGA: Kanker pada Anak, Orangtua Diimbau Rutin Periksa Kesehatan Anak 

Saat ini pengembangan pengobatan kanker menggunakan biota laut berada dalam tahap pra uji klinis. Untuk mendukung pengembangan ini LIPI bekerjasama dengan perusahaan farmasi asal Spanyol, Pharma Mar, untuk pengembangan bahan baku obat dari organisme laut.

”Pengobatan kanker biota laut ini belum dipasarkan karena baru tahap pra uji klinis, dan sebenarnya dalam penelitian ini masih membutuhkan waktu 5-10 tahun ke depan. Maka itu, untuk mempercepat penelitian ini kami membutuhkan dukungan dari perusahaan farmasi lokal, BUMN atau pemerintah. Dari kasus-kasus sebelumnya, sudah ada kesepakatan kerjasama tapi selalu gagal karena ada pasal yang tidak sesuai dan tidak bertemu jalan tengah,” ujar Ratih.

Ratih mengatakan penelitian ini membutuhkan waktu lama karena harus mengikuti alur layanan penelitian pengembangan produk obat alami, mulai dari penyediaan bahan, esktraksi & identifikasi senyawa aktif. Selain itu harus melewati uji aktifitas invitro menggunakan kultur sel kanker, DNA, sampai dengan uji aktivitas invivo (pra-klinik dan kilnik).

”Penelitian tersebut juga memerlukan dana yang banyak, maka itu kami berharap ada perusahaan farmasi atau BUMN yang tertarik untuk bekerjasama mengembangkan produk pengobatan kanker biota laut ini,” kata Ratih.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/pengobatan-kanker-lipi-manfaatkan-potensi-biodiversitas-laut-indonesia/feed/ 0
Jatnika Nanggamiharja, Abah Bambu Indonesia https://www.greeners.co/sosok-komunitas/jatnika-nanggamiharja-abah-bambu-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jatnika-nanggamiharja-abah-bambu-indonesia https://www.greeners.co/sosok-komunitas/jatnika-nanggamiharja-abah-bambu-indonesia/#respond Fri, 01 Feb 2019 09:44:17 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=22471 Jatnika Nanggamiharja sudah bergelut dengan bambu puluhan tahun lamanya. Tidak hanya melestarikan berbagai spesies bambu asli Indonesia, ia juga memopulerkan manfaat rumput raksasa ini. Kini ia akrab disapa dengan sebutan "Abah Bambu".]]>

Serumpun Bambu Sejuta Makna,
Serumpun Bambu Sejuta Manfaat,
Serumpun Bambu Sejuta Karya,
Serumpun Bambu Sejuta Pesona,
Dengan Serumpun Bambu
Mari Kita Perkenalkan Indonesia Kepada Dunia.

Bogor (Greeners) – Kalimat di atas dilontarkan Jatnika Nanggamiharja saat Greeners mewawancarainya di kediamannya di kawasan Bogor. Jatnika atau akrab disapa Abah Bambu (dalam Bahasa Sunda “Abah” berarti orang tua atau orang yang disegani) merupakan aktivis lingkungan yang fokus terhadap pemeliharaan dan perlindungan bambu.

Abah lahir di Cikidang, Sukabumi, Jawa Barat pada tanggal 2 Oktober, 62 tahun silam. Sejak tahun 1995, Abah aktif melakukan penanaman bambu di sejumlah kawasan yang tersebar di Jabodetabek, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Bali, NTB, Jatim, Jateng, dan Jabar. Kegiatannya itu ia lakukan bekerjasama dengan kementerian, lembaga terkait dan kelompok masyarakat peduli lingkungan.

Bersama keluarga dan 40 muridnya beserta 73 pengrajin yang dibinanya, Abah tinggal di kompleks Yayasan Bambu Indonesia menjalankan agenda pengembangan bambu, spiritualitas, dan Senam Hijaiyah Indonesia (SHI).

Sejak Sekolah Dasar (SD) Abah sudah mengenal bambu dan belajar menganyam bambu untuk dijual. Bagi Abah, bambu menjadi bagian dari hidupnya dan kebutuhan hidup masyarakat karena bambu sangat berperan terhadap kelestarian lingkungan.

“Saya mengenal bambu ini sudah 50 tahun lebih. Masa kecil saya di daerah Sukabumi sudah belajar membuat perkakas dari bambu, seperti bilik, bedek, alat rumah tangga, permainan seperti enggrang, dan layang-layang. Menurut saya, orang yang lahir sampai meninggal masih membutuhkan bambu di hidupnya karena bambu bagian dari kehidupan,” kata Abah.

Pada rentang tahun 1994 hingga 2002, Abah Jatnika telah menjalin kerjasama dengan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dan BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknlogi) dalam pembibitan, pelestarian, dan penanaman berbagai jenis bambu lokal di sepanjang bantaran sungai Ciliwung.

“Lahan penanaman bambu sudah berkurang banyak, makanya saya mempertahankan lahan yang masih ada ini yakni di rumah saya sendiri untuk mengembangkan bambu. Ketika itu banyak orang yang menyarankan agar tempat tinggal saya dijadikan tempat wisata bambu tapi saya tidak mau karena nanti akan rusak,” ujarnya sambil tertawa.

Meski demikian, Abah Jatnika sangat terbuka kepada orang-orang yang ingin belajar menanam bambu. Menurutnya, nilai edukasi harus terus ditumbuhkan dan disebarkan.

Tahun 1990, Abah Jatnika menemukan konstruksi rumah bambu dengan perpaduan unsur klasik, modern dan sentuhan estetika yang optimal. Ketika dipamerkan pertama kali tahun 1995, konstruksi rumah bambu ini langsung mendapat respon luar biasa. Banyak pesanan dan undangan pameran datang menghampiri Abah, baik dari dalam dan luar negeri.

Sampai tahun 2018, Abah Jatnika telah menghasilkan lebih dari 7.000 rumah bambu yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Atas prestasinya ini, Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) memberikan penghargaan untuk kategori Pembuatan Rumah Tradisional Sunda Terbanyak.

Abah juga diminta untuk membuat rumah bambu di berbagai negara, antara lain Malaysia, Brunei Darussalam, Jepang, Qatar, Abu Dhabi, dan Ukraina. Rumah bambu Abah Jatnika ini telah mendapatkan Hak Paten dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Kemenkumham, Nomor C00200601900-1952.

Pengerjaan rumah bambu ini telah melahirkan banyak pengrajin pendukung, antara lain pengrajin bilik (600 orang), hateup (400 orang), dan juru tebang (220 orang). Total keseluruhan jumlah pengrajin yang terlibat sebanyak 1.220 orang.

“Untuk menurunkan kecintaan bambu supaya tidak punah, saya dengan rumah bambu memiliki pengrajin di mana mereka ada yang belajar dari awal sekali untuk menganyam bambu, menanam bibit dan akhirnya menjadi sumber penghasilan untuk mereka,” ujar Abah.

(Selanjutnya…)

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/jatnika-nanggamiharja-abah-bambu-indonesia/feed/ 0
Tuba, Biopestisida Andal Pembasmi Hama Tanaman dan Ikan Liar https://www.greeners.co/flora-fauna/tuba-biopestisida-andal-pembasmi-hama-tanaman-dan-ikan-liar/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tuba-biopestisida-andal-pembasmi-hama-tanaman-dan-ikan-liar https://www.greeners.co/flora-fauna/tuba-biopestisida-andal-pembasmi-hama-tanaman-dan-ikan-liar/#respond Tue, 29 Jan 2019 07:29:06 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=22371 Akar tanaman tuba (Derris elliptica) paling banyak dimanfatkan karena mengandung senyawa rotenone yang merupakan senyawa aktif untuk membunuh hama tanaman dan ikan liar. ]]>

Penggunaan pestisida sintetis secara terus-menerus dapat menimbulkan resistensi (ketahanan) hama dan penyakit terhadap pestisida tertentu. Untuk itu perlu mencari senyawa alternatif pengganti pestisida sintetis, salah satunya berasal dari tumbuhan tuba (Derris elliptica). Tanaman tuba dapat dimanfaatkan sebagai biopestisida karena lebih ramah lingkungan.

Tanaman tuba termasuk ke dalam famili Fabaceae (Leguminosae). Tuba merupakan tanaman liar yang dapat dibudidayakan. Budidaya tanaman ini mulai dari India hingga Papua Nugini, termasuk seluruh kawasan Asia Tenggara, Afrika dan Amerika.

Hingga saat ini lebih dari 80 spesies tanaman tuba tersebar dari selatan-timur Asia (Adharini, 2008). Tanaman tuba yang tersebar di seluruh Nusantara ditemukan mulai dari dataran rendah sampai ketinggian 1.500 m dari permukaan laut. Tuba mempunyai nama yang berbeda-beda di setiap daerah. Di Jawa dikenal dengan nama besto atau oyod tungkul. Di daerah Sunda dikenal dengan nama tuwa lalear atau tuba leteng. Di Kalimantan Barat dikenal dengan nama akar jenu.

Tuba tumbuh di tempat yang tidak begitu kering. Biasanya tumbuhan ini tumbuh di tepi hutan serta pinggir sungai. Pada tahun 1940 luas tanaman tuba di Indonesia ditaksir sekitar 7000 ha. Pada tahun tersebut produksi akar tuba kering antara 1-2,5 ton/ha dengan jumlah ekspornya mencapai 570 ton, baik yang berasal dari perkebunan maupun dari tanaman rakyat (Mujinan 1981). Namun keberadaan akar tuba sudah semakin langka, baik di perkarangan rumah maupun di perkebunan (Adharini, 2008).

tanaman tuba

Secara morfologi tanaman ini merupakan liana atau tumbuhan merambat dalam hutan tropis. Batang tuba membelit dengan panjang 5-10 meter. Foto: wikimedia commons

Secara morfologi tanaman ini merupakan liana atau tumbuhan merambat dalam hutan tropis. Batang tuba membelit dengan panjang 5-10 meter. Batangnya berkayu dan bercabang monopodial. Ranting tuba tua berwarna coklat dengan lentisel (pori-pori yang menonjol) berbentuk jerawat.

 

Daunnya tersebar dengan panjang poros daun 13-23 cm, anak daun berjumlah 7-15, bertangkai pendek, memanjang sampai bentuk lanset atau bulat telur terbalik dengan ukuran panjang 4-24 cm dan lebar 2-8 cm. Sisi bawah daun berwarna hijau keabu-abuan atau hijau kebiru-biruan, anak daun yang masih muda berwarna ungu. Panjang tangkai dan anak tangkai bunga 12-6 cm. Jumlah biji 1-3 dengan musim berbuah pada bulan April-Desember. Buah polong berbentuk oval sampai memanjang dengan ukuran 3,5-7 cm.

Tanaman tuba yang paling banyak dimanfaatkan adalah bagian akar karena mengandung senyawa rotenone (C23H22O6) yang merupakan senyawa aktif untuk membunuh hama tanaman dan ikan liar. Senyawa ini digolongkan ke dalam kelompok flavonoid. Senyawa lain yang terkandung dalam tuba adalah deguelin, tefrosin dan toksikarol, tetapi daya racunnya tidak sekuat rotenone.

Rotenone 15 kali lebih toksik dibandingkan nikotin dan 25 kali lebih toksik dibanding potassium ferrosianida. Dalam beberapa kajian ilmiah rotenone relatif aman terhadap kesehatan manusia atau kepada hewan bedarah panas (Kardinan, 2001). Akar tuba selain berfungsi sebagai bahan penangkap ikan di kolam dan perairan bebas, akar ini juga dapat digunakan untuk memberantas ikan liar di tambak. Bubuk akar tuba efektif untuk membasmi poecilia reticulate yaitu jenis ikan pengganggu di kolam air tawar dan payau.

Sebelum insektisida organik sintetik digunakan secara luas, para petani di Jawa sering menggunakan cairan perasan tembakau dan akar tuba untuk mengendalikan kutu tanaman dan beberapa jenis ulat pada tanaman palawija dan sayuran tertentu. Disamping itu akar tuba juga bermanfaat sebagai medis seperti obat kudis dan sebagai bahan anti nyamuk yang ramah lingkungan dan tidak mengganggu terhadap kesehatan manusia.

tanaman tuba

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/tuba-biopestisida-andal-pembasmi-hama-tanaman-dan-ikan-liar/feed/ 0
Gagal Rampung, Revisi UU Konservasi Belum Menjadi Prioritas https://www.greeners.co/berita/gagal-rampung-revisi-uu-konservasi-belum-menjadi-prioritas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=gagal-rampung-revisi-uu-konservasi-belum-menjadi-prioritas https://www.greeners.co/berita/gagal-rampung-revisi-uu-konservasi-belum-menjadi-prioritas/#respond Tue, 18 Dec 2018 06:38:54 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=22088 Awal tahun 2015 semula diharapkan menjadi titik cerah semangat perubahan UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi SDA Hayati dan Ekosistemnya. Namun, revisi tersebut gagal rampung dan belum diketahui kejelasannya hingga kini.]]>

Jakarta (Greeners) – Upaya konservasi keanekaragaman hayati (kehati) terus menghadapi berbagai kendala, baik dari sisi penegakan hukum maupun kebijakan. Awal tahun 2015 semula diharapkan menjadi titik cerah semangat perubahan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Namun, revisi tersebut gagal rampung dan belum diketahui kejelasannya hingga kini.

Guru Besar Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor Profesor Hariadi Kartodiharjo mengatakan ada tiga hal terkait tidak selesainya revisi UU yang sering disebut UU Konservasi ini, yaitu pertama, adanya politik investasi swasta terkait pengelolaan kawasan konservasi; kedua, diperbolehkannya kawasan hutan adat menerima investasi swasta secara langsung; dan ketiga, masih adanya perbedaan kawasan konservasi yang dilakukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

“Ketiga hal itulah yang menjadi substansi pembahasan terakhir yang saya ikuti pada awal tahun 2018 lalu dan kemudian ada keputusan pemerintah untuk tidak melanjutkan pembahasannya,” ujar Hariadi saat ditemui Greeners pada acara Mengenal Peran KEHATI dalam Konservasi Hutan Indonesia di Manggala Wanabhakti, Jakarta, Selasa (18/12/2018).

Menurut Hariadi dengan tidak rampungnya revisi UU Konservasi, pemerintah seolah-olah melihat tidak ada masalah dengan UU ini, oleh karena itu perubahan tidak diterima dan tidak ada kepastian dari perbaikan-perbaikan dari kelemahan yang ada.

“Kalau saya lihat, pro kontranya tidak pernah dinyatakan secara resmi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) jadi yang mengetahui hanya eksekutif saja. Mestinya kalau pemerintah tidak setuju akan revisi seharusnya ada draf versi pemerintah, kalau ini tidak ada. Dan sebenarnya KLHK itu memiliki 2 jenis draf yang tidak pernah keluar ke publik, ini juga menjadi tanda tanya besar,” ungkap Hariadi.

BACA JUGA: Revisi UU Nomor 5 Tahun 1990 Harus Hindari Tumpang Tindih Peran Kementerian 

Sebelumnya pada diskusi “Catatan Akhir Tahun 2018 Pokja Konservasi: Nasib Gantung Konservasi Kehati” yang diadakan tanggal 14 Desember 2018 lalu bersama perwakilan dari kedua tim sukses pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) 2019 di Hotel Sofyan Cut Meutia, Cikini, perwakilan dari Tim Kampanye Nasional Pasangan Capres dan Cawapres 2019 Nomor Urut 1, Agus Sari, mengatakan bahwa kendala terhadap revisi UU Konservasi ini adalah tidak adanya prioritas sehingga urusan lingkungan dan konservasi ini selalu berada di belakang.

“Yang paling besar kendalanya parlemen kita agak jeblok. Coba dilihat saja ada berapa puluh UU yang dibuat tapi berapa yang dapat terealisasi? Kalau tidak selesai alasannya ada tahun politik sehingga tidak bisa naik ke daftar prioritas yang lebih penting. Pasti selalu yang diprioritaskan itu urusan politik dan ekonomi,” kata Agus kepada Greeners saat ditemui usai acara diskusi.

Sementara itu, perwakilan dari Badan Pemenangan Nasional Pasangan Capres dan Cawapres Nomor Urut 2, Endro Hermono menekankan pada aspek harmonisasi dari pihak pengambil kebijakan.

“Keselarasan sangat penting. Jika pembuat kebijakan tidak membuat kesalarasan akan membuat konflik. Misalnya, masalah terumbu karang antara KLHK dan KKP, ada perbedaan kebijakan yang membuat konflik di revisi UU No. 5/1990 ini,” tuturnya.

BACA JUGA: Masyarakat Adat Belum Masuk Dalam Revisi UU Konservasi 

Deputi Direktur Bidang Pengembangan Program Indonesian Center for Environmental Law (ICEL) Raynaldo Sembiring secara tegas mengatakan penegakan hukum hendaknya mempunyai rencana, strategi dan proyeksi kedepannya.

“Di era saat ini, hendaknya sudah mulai memikirkan agar penegakan hukum berkontribusi terhadap pemulihan keanekaragaman hayati, baik dari opsi sarana penegakan hukum maupun alternatif pemidanaan,” ujar Raynaldo.

Raynaldo mengatakan dalam kehidupan bernegara fondasinya adalah regulasi. Menurutnya tidak perlu mempertentangkan antara regulasi dan implementasi, keduanya harus diatur dan dilaksanakan dengan baik.

“Satwa atau tumbuhan tidak bisa membela dirinya sehingga diperlukan manusia untuk mengatur perlindungannya dan bagaimana agar implementasi tersebut bisa berjalan dengan baik,” pungkas Reynaldo.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/gagal-rampung-revisi-uu-konservasi-belum-menjadi-prioritas/feed/ 0