pohon buah - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/pohon-buah/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 11 Jul 2022 03:52:04 +0000 id hourly 1 Pohon Buni, Buahnya yang Asam Mengandung Antioksidan Tinggi https://www.greeners.co/flora-fauna/pohon-buni-buahnya-yang-asam-mengandung-antioksidan-tinggi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pohon-buni-buahnya-yang-asam-mengandung-antioksidan-tinggi https://www.greeners.co/flora-fauna/pohon-buni-buahnya-yang-asam-mengandung-antioksidan-tinggi/#respond Mon, 11 Jul 2022 03:52:04 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=36690 Pohon buni atau biasa dikenal juga sebagai wuni, merupakan tumbuhan penghasil buah berkhasiat yang jamak ditemukan di Asia Tenggara. Tanaman ini sejatinya berasal dari wilayah India, namun terdistribusi sampai ke […]]]>

Pohon buni atau biasa dikenal juga sebagai wuni, merupakan tumbuhan penghasil buah berkhasiat yang jamak ditemukan di Asia Tenggara. Tanaman ini sejatinya berasal dari wilayah India, namun terdistribusi sampai ke Filipina, Malaysia dan Indonesia.

Buni memiliki nama latin Antidesma bunius. Flora ini tergabung dalam famili Phyllanthaceae dan genus Antidesma, suatu kelompok tanaman berbunga yang berkembang di area tropis.

Secara bentuk, pokok buni sendiri tampak rindang dengan daun berwarna hijau. Tumbuhan ini sering dijadikan sebagai peneduh, walaupun cukup jarang ditanam di pekarangan rumah.

Melansir berbagai sumber, spesies A. bunius terkenal akan manfaatnya yang sangat banyak. Buahnya bisa dikonsumsi, bahkan terdapat kandungan antioksidan yang tinggi di dalamnya.

Morfologi dan Ciri-Ciri Pohon Buni

Pohon buni dapat tumbuh hingga 30 meter, meski normalnya hanya mencapai 3–10 meter. Batangnya tegak dan bercabang rendah, sedangkan daunnya berbentuk lanset atau lonjong.

Daun-daun tersebut muncul secara berseling, pangkal dan ujungnya tumpul atau membulat. Sedangkan teskturnya menjangat dan berkilap, dengan tulang menonjol pada bagian bawah.

Panjang tangkai daun umumnya berkisar 1 cm. Perbungaannya muncul di bagian ujung atau ketiak daun, berbentuk bulir tandan, serta dapat kita bedakan atas bunga jantan dan betina.

Bunga jantan tidak bertangkai, daun kelopaknya mirip cawan, serta mempunyai 3–4 cuping pendek. Sedangkan bunga betina bertangkai, dengan ukuran rata-rata antara 1 mm x 2 mm.

Buah pohon ini tampak seperti ceri; berbentuk bulat atau bulat telur dengan diameter 8–10 mm. Mulanya buah tersebut berwarna hijau, namun berubah kemerahan saat sudah masak.

Buah yang sudah tua bahkan bisa berubah warna menjadi ungu kehitaman. Di dalam daging tersedia beberapa biji buah, warnanya hitam dengan bentuk bulat telur sampai melonjong.

Habitat dan Distribusi Pohon Buni

Pohon buni ditemukan di wilayah basah sekitaran India, mulai dari Himalaya ke selatan dan timur. Spesiesnya lantas menyebar ke Sri Lanka, Myanmar, Filipina, Malaysia dan Indonesia.

Meski begitu, praktik budi daya tumbuhan ini paling banyak ditemukan di sekitar Indo-Cina dan Indonesia. Mereka menyukai wilayah yang lembap, meski tergolong adaptif dan kuat.

Buni toleran terhadap hawa panas dan kekeringan. Bibitnya sangat cocok dibudidayakan di provinsi-provinsi bagian timur Indonesia, sebab iklim di sana dipengaruhi oleh angin muson.

Spesies A. bunius berkembang biak di dataran rendah hingga ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (dpl). Mereka terbilang sangat populer, walaupun sudah jarang ditemukan.

Pohon berordo Malpighiales ini bahkan mempunyai sejumlah julukan. Masyarakat Jawa dan Sunda mengenalnya sebagai wuni, sedangkan orang Madura menyebutnya sebagai burneh.

Kandungan dan Manfaat Pohon Buni

Bagian yang paling banyak dimanfaatkan pada pohon buni, ialah buahnya. Bagian ini punya berbagai kandungan yang baik bagi tubuh, sehingga cukup cocok untuk dikonsumsi manusia.

Nutrisi yang terkandung pada buah buni di antaranya protein, kalsium, fosfor, vitamin B1, B2 dan B3. Ini juga mengandung antioksidan tinggi yang baik untuk mencegah radikal bebas.

Di banyak negara, salah satunya Indonesia, buah buni digunakan sebagai campuran bumbu. Cita rasanya yang asam berguna sebagai pengganti cuka, olahan salad, minuman dan selai.

Tidak cuma buah, daun tanaman tersebut juga bermanfaat sebagai lalapan. Kayunya dikenal memiliki daya tahan yang kuat, sehingga kerap diolah sebagai mebel atau peralatan lainnya.

Merujuk IUCN Red List, status konservasi A. bunius berada pada kategori risiko rendah. Tren populasinya cukup stabil, meski budi dayanya sudah tergantikan oleh tumbuhan buah lain.

Taksonomi Antidesma Bunius

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/pohon-buni-buahnya-yang-asam-mengandung-antioksidan-tinggi/feed/ 0
Buah Ackee, Makanan Nasional Jamaika yang Ternyata Beracun https://www.greeners.co/flora-fauna/buah-ackee-makanan-nasional-jamaika-yang-ternyata-beracun/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=buah-ackee-makanan-nasional-jamaika-yang-ternyata-beracun https://www.greeners.co/flora-fauna/buah-ackee-makanan-nasional-jamaika-yang-ternyata-beracun/#respond Wed, 22 Jun 2022 03:11:27 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=36505 Pohon ini menghasilkan buah nikmat yang mempunyai beragam manfaat. Pertumbuhannya sendiri bersifat endemis, sebab hanya bisa dijumpai di Afrika. Inilah pohon buah ackee, flora identitas Jamaika yang ternyata mengandung racun. […]]]>

Pohon ini menghasilkan buah nikmat yang mempunyai beragam manfaat. Pertumbuhannya sendiri bersifat endemis, sebab hanya bisa dijumpai di Afrika. Inilah pohon buah ackee, flora identitas Jamaika yang ternyata mengandung racun.

Ackee atau dikenal juga sebagai ankye, achee, akee dan aye, merupakan tanaman penghasil soapberry yang tergabung ke dalam ordo Sapindales, famili Sapindaceae dan genus Blighia.

Nama generanya sendiri adalah bentuk penghormatan bagi William Bligh. Beliau merupakan orang pertama yang memperkenalkan buah ankye ke dataran Eropa, yakni pada tahun 1793.

Secara klasifikasi, flora dengan nama ilmiah Blighia sapida itu masih berkerabat dengan spesies lengkeng. Karakteristik buahnya juga mirip; tersedia biji hitam di balik daging buah tersebut.

Morfologi dan Ciri-Ciri Pohon Buah Ackee

Pohon ackee dapat kita kenali dari daunnya yang selalu terlihat hijau. Tumbuhan ini berbiak sampai setinggi 10 meter, dengan batang yang pendek namun memiliki mahkota yang lebat.

Daunnya sendiri bersifat paripinnate; berbentuk menyirip dan berjumlah genap. Panjangnya antara 15–30 cm, terdiri dari 6–10 lembaran per tangkai dengan bentuk elip sampai lonjong.

Satu lembar daun ackee memiliki panjang 8–12 cm dan lebar 5–8 cm. Bunganya harum serta berkelamin tunggal, mekar selama bulan-bulan hangat dengan panjang mencapai 10–20 cm.

Masing-masing bunga punya lima bagian kelopak dengan warna putih kehijauan. Sedangkan buahnya berbentuk seperti pir dengan tiga lobus, serta berwarna oranye saat sudah matang.

Selain warna, bentuk kematangan buah ackee juga dapat kita lihat dari permukaannya yang terbuka. Di dalamnya terlihat tiga biji hitam yang menutupi salut biji berwarna kuning muda.

Distribusi dan Pemanfaatan Pohon Buah Ackee

Pohon ackee secara spesifik berasal dari wilayah Afrika Barat seperti Benin, Gambia, Guinea, Ghana, Liberia, Mali, Niger, Nigeria, Pantai Gading, Burkina Faso, Sierra Leone, sampai Togo.

Bibitnya diimpor ke wilayah Jamaika hingga menjadi makanan favorit masyarakat setempat. Di negara tersebut, buah pohon ini diakui sebagai buah nasional dan hidangan resmi negara.

Hidangan ackee yang paling populer di sana, ialah ackee rebus yang disajikan dengan asinan ikan cod. Buah ini juga dapat digoreng atau dimasukkan ke dalam rebusan, kari, sampai sup.

Tidak cuma dimasak, buah ackee juga dapat dikonsumsi secara langsung. Bagian yang dapat dimakan dari buah ini adalah dagingnya, sedang bagian yang beracun terdapat pada bijinya.

Ackee kalengan merupakan komoditas ekspor dari negara Jamaika. Bunganya dimanfaatkan sebagai dekorasi atau cologne, sedangkan kayunya berguna sebagai bahan baku konstruksi.

Kandungan dan Toksisitas Buah Ackee

Meski beracun, buah ackee sebenarnya mengandung karbohidrat, protein dan lemak yang dibutuhkan oleh manusia. Bahkan, jenis buah ini tergolong kaya vitamin C serta antioksidan.

Karena itu, mengonsumsi ackee ahli percaya ampuh meningkatkan daya tahan tubuh hingga menurunkan demam. Kandungannya bahkan bisa menurunkan disentri, epilepsi dan edema.

Racun yang ada di dalam buah ini termasuk dalam golongan hypoglycin. Racun tersebut bisa menyebabkan mual dan muntah akut, serta membuat orang koma sampai meninggal dunia.

Namun sama seperti umbi gadung di Indonesia, racun hypoglycin bisa dinetralisir jika diolah secara benar. Buah ini harus dibersihkan serta dicuci sampai bersih sebelum dapat dimakan.

Ackee kemudian direbus selama kurang lebih 5 menit, lalu airnya dibuang dan diolah sesuai selera. Selain itu toksisitas buah ini diyakini berkurang, jika permukaannya sudah menganga.

Taksonomi Spesies Blighia Sapida

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/buah-ackee-makanan-nasional-jamaika-yang-ternyata-beracun/feed/ 0
Tanaman Semangka, Penghasil Buah yang Kaya Manfaat https://www.greeners.co/flora-fauna/tanaman-semangka-penghasil-buah-yang-kaya-manfaat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tanaman-semangka-penghasil-buah-yang-kaya-manfaat https://www.greeners.co/flora-fauna/tanaman-semangka-penghasil-buah-yang-kaya-manfaat/#respond Tue, 08 Feb 2022 03:00:47 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=35215 Walaupun bentuknya bertolak belakang, nyatanya tanaman semangka tergolong ke dalam famili labu-labuan atau Cucurbitaceae. Tumbuhan merambat ini dikenal dengan buahnya yang oval dan besar, serta memiliki rasa manis dan berkhasiat. […]]]>

Walaupun bentuknya bertolak belakang, nyatanya tanaman semangka tergolong ke dalam famili labu-labuan atau Cucurbitaceae. Tumbuhan merambat ini dikenal dengan buahnya yang oval dan besar, serta memiliki rasa manis dan berkhasiat.

Semangka dikenal juga dengan nama tembikai atau mendikai. Tanaman buah budi daya ini mulanya berasal dari daerah tropis di selatan Afrika, namun menyebar ke seluruh wilayah.

Secara klasifikasi, tanaman semangka berkerabat dengan melon (Cucumis melo) dan timun (Cucumis sativus). Ketiganya tergabung dalam kelas Magnoliopsida dan ordo Cucurbitales.

Pohon dan buah semangka sama-sama memiliki ciri yang unik. Akarnya merambat, namun tidak memanjat. Kulit buahnya punya guratan atau corak, dengan daging berwarna merah.

Morfologi dan Ciri-Ciri Tanaman Semangka

Akar semangka dapat berbiak antara 3-5 meter. Batangnya lunak dan bersegi, serta memiliki rambut berkisar 1,5-5 meter. Daunnya berseling dan bertangkai dengan helaian yang lebar.

Selain itu, daun tanaman semangka tampak menjari dengan ujung yang runcing. Panjangnya 3-25 cm dengan lebar 1,5-5 cm, memiliki bunga berwarna kuning dengan diameter 3 cm.

Buah semangka memiliki kulit yang keras dengan larik-larik berwarna hijau tua. Meski pada umumnya daging buah berwarna merah, ada pula varietas semangka yang berwarna kuning.

Bahkan, saat ini telah dikembangkan varietas semangka tanpa biji. Tanaman bernama latin Citrullus lanatus ini biasanya berbiji pipih, berwarna hitam, putih, kuning, atau kecokelatan.

Ukuran buah tanaman semangka beraneka ragam, memiliki panjang 20-40 cm dengan lebar 15-20 cm. Berat rata-rata buah ini mencapai 4-20 kg, sangat berair dengan tekstur berserat.

Habitat dan Distribusi Tanaman Semangka

Semangka merupakan tanaman asli daerah tropis dan subtropis. Pohon buah ini mengalami distribusi yang sangat pesat, mulai dari Afrika Selatan, China, Jepang, sampai ke Indonesia.

Secara teoritis, curah hujan yang ideal untuk pertumbuhan semangka berkisar 40-50 mm per bulan. Suhu optimalnya mencapai 25 Celsius, dengan paparan sinar matahari penuh.

Di Indonesia sendiri, sentral budi daya tanaman semangka dapat kita jumpai di Yogyakarta, Magelang, Kulonprogo, Indramayu, Karawang, Banyuwangi, Malang, hingga Kota Lampung.

Flora ini dapat tumbuh pada ketinggian 100-300 meter di atas permukaan laut (mdpl). Meski begitu, ada pula varietas yang bisa dibiakkan di dekat kawasan pantai dan area pegunungan.

Tanaman semangka merupakan komoditas unggalan yang digemari oleh para petani. Angka produksinya rata-rata mencapai 30 ton per hektare per tahun, khususnya wilayah Indonesia.

Guna dan Manfaat Tanaman Semangka

Seperti yang kita ketahui, bagian tanaman semangka yang sering dimanfaatkan oleh publik adalah buahnya. Ini mengandung banyak khasiat seperti nutrisi, vitamin, sampai mineral.

Melansir berbagai sumber, mengonsumsi semangka secara rutin dapat mengurangi risiko penyakit jantung, mencegah pembentukan batu ginjal, hingga menurunkan kadar gula darah.

Berkat kandungan mineralnya yang tinggi, memakan buah semangka juga bisa meredakan dehidrasi hingga nyeri otot. Bahkan, kandungannya efektif untuk menjaga kesehatan kulit.

Penelitian Journal of Agricultural and Food Chemistry membuktikan, atlet yang meminum 473 ml jus buah semangka sejam sebelum berolahraga relatif kebal terhadap nyeri otot.

Karena itu, jus semangka sangat baik untuk orang berusia lanjut. Namun jangan campurkan semangka dengan olahan minuman kaya gula, sebab dapat menyamarkan khasiat aslinya.

Taksonomi Spesies Citrullus Lanatus

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/tanaman-semangka-penghasil-buah-yang-kaya-manfaat/feed/ 0
Musa Ingens, Pohon Pisang Papua Terbesar di Dunia https://www.greeners.co/flora-fauna/musa-ingens-pohon-pisang-papua-terbesar-di-dunia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=musa-ingens-pohon-pisang-papua-terbesar-di-dunia https://www.greeners.co/flora-fauna/musa-ingens-pohon-pisang-papua-terbesar-di-dunia/#respond Wed, 20 Oct 2021 03:00:44 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=33948 Musa ingens atau pisang Papua adalah spesies yang sangat unik. Dalam famili Musaceae, ukuran pohon buah ini ahli ketahui yang paling besar. Mereka tergolong sebagai varietas tanaman endemik karena hanya […]]]>

Musa ingens atau pisang Papua adalah spesies yang sangat unik. Dalam famili Musaceae, ukuran pohon buah ini ahli ketahui yang paling besar. Mereka tergolong sebagai varietas tanaman endemik karena hanya bisa kita temukan di Pegunungan Arfak.

Musa ingens atau Musa ingens NW Slimmonds warga lokal sebut sebagai ndowin atau apit sepoh. Jenisnya pakar identifikasi ke dalam genus Musa, serta memiliki ordo Zingiberales.

Pertumbuhan pisang raksasa ini bisa mencapai 10-15 m. Walaupun belum ahli catat secara resmi, masyarakat mengklaim bahwa pisang tersebut dapat tumbuh hingga setinggi 30 m.

Pisang Papua pertama kali dikoleksi sebagai spesimen pada tanggal 22 Desember 1954 di New Guinea. Ia kemudian disimpan sebagai spirit collection pada Herbarium Kew, Inggris.

Morfologi dan Ciri-Ciri Pisang Papua Raksasa

Ukuran M. ingens kira-kira 6-7 kali lipat lebih besar daripada pisang biasa. Ia mempunyai diameter pokok rata-rata 95 cm, bahkan dapat berkembang biak hingga selebar 1-2 m.

Pelepahnya saja bisa mencapai lima meter lebih, dengan lebar berkisar satu meter. Karena itu, jangan heran jika bagian satu ini sering publik manfaatkan sebagai atap rumah darurat.

Dengan penampilannya yang gigantik, pelepah pisang Papua bahkan kerap dimanfaatkan sebagai alas duduk, alas makanan, atau wadah penyimpan hasil buruan warga setempat.

Tidak cuma itu, ukuran buah pohon ini juga tak kalah bongsornya. Panjang buah mencapai 20 cm dengan diameter berkisar 4-6 cm. Satu tandannya bisa memiliki berat sekitar 60 kg.

Tampilan dan ukuran tandan pisang memang terlihat cukup lazim. Apabila kita ukur secara seksama, bagian tersebut mempunyai diameter sekitar 35-50 cm dengan panjang 70-80 cm.

Kulit pisang Papua tampak hijau saat muda, namun berubah jadi kekuningan saat matang. Biji buahnya terhitung cukup banyak, berukuran besar atau serupa dengan pisang biasanya.

Habitat dan Distribusi Pisang Papua Raksasa

Melansir Indonesia.go.id, pisang M. ingens tumbuh di daerah berketinggian 100-200 m dpl. Distribusinya sangat terbatas karena hanya ditemukan di Pegunungan Arfak, Papua Barat.

Di daerah lain pertumbuhan pisang Papua memang sempat ahli temukan. Persebarannya meliputi Kaimana, Teluk Wondama dan Fak-Fak, tepatnya di Cagar Alam Fak-Fak Tengah.

Kampung Kwau, Distrik Mokwam, Kabupaten Manokwari adalah salah satu lokasi penemuan spesies M. ingens. Daerahnya berbatasan langsung dengan Kabupaten Pegunungan Arfak.

Selain itu, pohon dengan nama asing giant highland banana ini pakar jumpai pula di Cagar Alam Yapen Tengah. Populasinya bahkan menyebar sampai ke Tambrauw, Papua Barat.

Berdasarkan habitatnya, tanaman langka tersebut tumbuh di hutan sekunder, hutan bekas kebun, atau area pinggir jalan dengan tanah bersubstrat atau solum tanah yang dalam.

Jenis pisang Papua tumbuh secara bergerombol atau terpisah. Biasanya mereka berasosiasi dengan Lithocarpus rufovillosus, Musa arfakiana, Musa balbisiana, dan Dodonaea viscos.

Populasi dan Pemanfaatan Pisang Papua

Sampai saat ini, pembudidayaan pohon ndowin terbilang cukup jarang masyarakat lakukan. Buahnya kurang mereka sukai karena mengandung biji yang banyak serta kurang nikmat.

Menurut Ayub Yekwam, Kepala Kampung Banfot, Kabupaten Tambrauw, pemanfaatan pisang raksasa biasanya terbatas sebagai material bangunan atau bahan baku obat herbal.

Sebagian warga bahkan meyakini bahwa pohon pisang Papua merupakan tanaman sakral. Buahnya pantang untuk mereka konsumsi, sehingga populasinya terbilang cukup terjaga.

Menariknya lagi, tunas apit sepoh sangat jarang muncul di bagian bonggolnya. Hal tersebut mempersulit upaya budi daya mereka, karena itu proses ini biasanya terjadi secara alamiah.

Kelompok burung lokal merupakan “pemangsa” alami buah pisang Papua, namun mereka pulalah yang berperan penting dalam menyebarkan benih tumbuhan tersebut di alam liar.

Merujuk IUCN Red List, status M. ingens berada pada level least concern atau risiko rendah. Satu-satunya ancaman bagi spesies ini adalah aktivitas alih fungi hutan dan penebangan liar.

Taksonomi Spesies Giant Highland Banana

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/musa-ingens-pohon-pisang-papua-terbesar-di-dunia/feed/ 0
Belimbing Manis, Bintangnya Buah Tropis https://www.greeners.co/flora-fauna/belimbing-manis-bintangnya-buah-tropis/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=belimbing-manis-bintangnya-buah-tropis https://www.greeners.co/flora-fauna/belimbing-manis-bintangnya-buah-tropis/#respond Tue, 31 Jul 2018 07:56:12 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=21017 Botani Soviet bernama Nikolai Ivanovich Vavilovanaman memastikan tanaman belimbing manis berasal dari India. Kini, tanaman ini menyebar luas ke berbagai negara yang beriklim tropis terutama di kawasan Asia, termasuk Indonesia.]]>

Belimbing manis (Averrhoa carambola L.) atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan sebutan Carambola/Star Fruit, termasuk jenis buah tropis yang sudah lama dikenal dan ditanam di Indonesia. Seorang botani Soviet bernama Nikolai Ivanovich Vavilovanaman memastikan tanaman belimbing manis berasal dari India. Kini, tanaman ini menyebar luas ke berbagai negara yang beriklim tropis terutama di kawasan Asia (Rukmana, 1996).

Pada umumnya, belimbing manis ditanam sebagai tanaman peneduh di halaman-halaman rumah. Seperti tanaman buah lainnya, tanaman belimbing manis juga akan tumbuh dan berbuah secara optimal jika kondisi lingkungannya optimal pula.

Pertumbuhan tanaman ini sangat berpengaruh terhadap suhu, kelembapan, dan intensitas cahaya matahari di suatu tempat. Tanaman ini merupakan jenis tanaman yang tahan terhadap suhu tinggi. Pertumbuhannya akan semakin baik jika ditanam di daerah dekat pantai atau di dataran rendah yang panas dan lembap (Satyawibawa dan Yustina, 1999).

Pohon belimbing manis dapat tumbuh mencapai 12 m dengan percabangan banyak yang arahnya agak mendatar. Pohon ini memiliki satu batang namun dapat terlihat seperti lebih dari satu batang karena percabangan dimulai dari atas tanah. Tak heran bila pohon belimbing ini tampak rindang.

Daunnya merupakan daun majemuk menyirip ganjil dengan anak daun berbentuk bulat telur, ujung runcing, tepi rata, permukaan atas mengilap, permukaan bawah buram dengan panjang 1,75 sampai 9 cm dan lebar 1,25 sampai 4,5 mm (Wijayakusuma dan Dalimartha, 2000). Daun mudanya memiliki warna merah hati hingga cokelat kehijauan. Daun yang telah dewasa nantinya akan berwarna hijua tua.

belimbing manis

Bunga belimbing manis berukuran kecil dan memiliki warna ungu yang menarik. Foto: wikimedia commons

Tanaman ini berbunga sepanjang tahun sehingga buahnya tidak mengenal musim (Wijayakusuma dan Dalimartha, 2000). Bunganya majemuk dan memiliki warna merah keunguan yang keluar dari ketiak daun dan di ujung cabang.

Buah belimbing manis memiliki panjang 4 sampai 12,5 cm, berdaging dan banyak mengandung air, saat buah telah masak akan berwarna kuning. Di dalam buah terdapat biji berwarna putih kotor kecoklatan, pipih dan berbentuk elips dengan kedua ujung lancip.

Layaknya tanaman berbuah pada umumnya, belimbing manis juga rentan terhadap serangan hama. Hama yang menyerang buah belimbing manis salah satunya adalah lalat buah (Bactrocera sp.). Selain buah, bunga belimbing manis juga rentan terhadap serangan hama khususnya Diacrotricha fasciola. Larva D. fasciola berkembang pada bunga belimbing manis dan mengonsumsi nectar pada bunga tersebut. Gejala yang terlihat pada bunga akibat serangan larva D. fasciola yaitu bunga mulai menghitam selanjutnya gugur.

Buah yang memiliki pola berbentuk bintang ini dapat dikonsumsi langsung dengan kulit buahnya setelah dicuci bersih. Daging buahnya kaya akan kandungan gizi diantaranya energi, protein, lemak, karbohidrat, kalsium, fosfor, zat besi, vitamin A, vitamin B1, vitamin C, air, dan serat. Meski demikian, penderita gangguan ginjal harus mewaspadai kandungan asam oksalat dan karamboxin pada buah ini karena dapat mengakibatkan keracunan.

belimbing manis

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/belimbing-manis-bintangnya-buah-tropis/feed/ 0
Tanaman Kecapi, “Buahnya Orang Betawi” https://www.greeners.co/flora-fauna/tanaman-kecapi-buahnya-orang-betawi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tanaman-kecapi-buahnya-orang-betawi https://www.greeners.co/flora-fauna/tanaman-kecapi-buahnya-orang-betawi/#respond Tue, 19 Dec 2017 07:35:52 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=19677 Orang Betawi biasa mengupas buah ini dengan cara dibanting atau dijepit di engsel pintu. Namun sangat disayangkan keberadaan tanaman kecapi saat ini mulai langka.]]>

Nama ‘Sentul’ identik dengan nama daerah di wilayah perbatasan kabupaten Bogor dan Jakarta. Tetapi untuk nama Sentul yang satu ini merujuk pada nama buah. Buah Sentul tak lain adalah buah kecapi (Sandoricumb koetjape (Burm. f.) Merr).

Kecapi merupakan tanaman khas Jakarta yang langka. Penduduk asli Betawi dulunya banyak menanam pohon kecapi di pekarangan rumah. Cara mengupas buahnya pun unik, orang Betawi biasa mengupas buah ini dengan cara dibanting atau dijepit di engsel pintu. Namun sangat disayangkan keberadaan tanaman kecapi mulai langka, kelangkaannya pun dikarenakan tanaman ini kalah populer dengan buah lainnya yang memiliki nilai jual lebih tinggi misalnya rambutan, mangga atau durian.

Menurut Buletin Kebun Raya Indonesia (2009), Sandoricum koetjape yang juga disebut santol ini dikenal sebagai tanaman penghasil buah yang penting dalam suku Meliaceae. Tanaman ini berasal dari Indocina dan Malesia bagian barat dan diintroduksikan ke Asia tropis. Bentuk liar tanaman ini menyebar ke Semenanjung Malaya, Sumatra hingga ke New Guinea. Penamaan lain buah kecapi dari berbagai negara ialah sentol, kelampu, ketuat, ranggu, lolly fruit, red santol dan yellow sentol.

Secara morfologi, tanaman kecapi memiliki batang tumbuh tegak dengan tinggi mencapai 25-30 m. Kulit batangnya berwarna abu-abu sampai kecoklatan dengan diameter 70-90 cm. Kecapi dapat dijumpai pada hutan primer dan sekunder pada ketinggian 1.200 m dpl atau lebih. Beberapa laporan menyebutkan bahwa kecapi ditemukan juga di hutan dataran rendah Dipterocarpaceae dan hutan kerangas (Idris, 1998).

Di Jawa, tanaman ini tumbuh pada ketinggian kurang dari 1.000 mdpl. Percabangannya banyak dan membentuk tajuk yang lebat. Batang melengkung berkayu, bergetah, percabangan mulai dari bagian pangkalnya. Daun majemuk, lonjong, berseling, panjang 12-20 cm, tepi rata, ujung meruncing, pertualangan menyirip, permukaan halus, mengkilat, tangkai bulat, panjang 5-7 cm, berwarna hijau.

tanaman kecapi

Buah kecapi (Sandoricumb koetjape (Burm. f.) Merr)

Buahnya berbentuk bulat sampai bulat pipih. Terdiri dari 2-5 biji besar yang dikelilingi kulit menyerupai busa dan seakan-akan ditaburi tepung. Daging buahnya lunak mengandung cairan berlendir, melekat sangat erat pada bijinya dan rasanya masam (dikutip dalam penelitian Pamungkas, 1995, Fakultas Pertanian, IPB).

Sekilas isi buah kecapi seperti buah manggis yang terdiri dari beberapa buah berwarna putih, yang buahnya dapat dimakan dalam keadaan segar atau dimasak terlebih dulu. Buah kecapi yang matang biasanya akan lebih terasa dominan manis dan sedikit masam.

Buah kecapi biasa dikonsumsi segar dan di beberapa daerah dijadikan sebagai selai, manisan dan sirup. Bagian kulit buah kecapi yang berdaging tebal juga dapat dikonsumsi dalam keadaan segar atau dimasak terlebih dahulu dan dijadikan manisan (Wihermanto, 2011).

Bentuk lain dari pemanfaatan buah kecapi yaitu sebagai minuman beralkohol yang difermentasikan bersama dengan beras. Di Malaysia, buah mudanya dijadikan sebagai bahan baku pembuatan permen karena buah kecapi kaya akan kandungan pektin (Aprilianti, 2009).

Menurut beberapa penelitian kesehatan, senyawa fitokimia yang terkandung dalam kulit buah kecapi salah satunya adalah flavonoid, dapat digunakan sebagai pelindung tubuh manusia dari radikal bebas dan dapat mengurangi risiko penyakit kanker dan peradangan. Daging buah dan kulit buah kecapi yang memiliki kandungan flavonoid tinggi berpotensi untuk dikembangkan menjadi minuman fungsional berkhasiat antioksidan.

Keunikan lain dari kecapi adalah batang kayunya dapat dimanfaatkan menjadi bahan konstruksi rumah, dek kapal, furnitur, berbagai perlengkapan rumah, alat-alat pertanian, sandal, dan sebagai bahan pembuatan kertas dan triplek. Daunnya dapat digunakan untuk mengurangi gejala sakit perut dan demam. Kulit batang yang dihaluskan dapat mengobati penyakit cacing gelang. Akarnya digunakan untuk anti diare dan tonik setelah melahirkan (Idris, 1998).

Menurut penelitian Warsinah et al (2011), dalam majalah Obat Tradisional menjelaskan bahwa kulit batang kecapi memiliki potensi yang dapat digunakan sebagai obat untuk penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan fungi Candida albicans.

tanaman kecapi

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/tanaman-kecapi-buahnya-orang-betawi/feed/ 0
Mangga Kasturi, Ikon Flora Kalimantan Selatan yang Punah di Alam https://www.greeners.co/flora-fauna/mangga-kasturi-ikon-flora-kalimantan-selatan-punah-alam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mangga-kasturi-ikon-flora-kalimantan-selatan-punah-alam https://www.greeners.co/flora-fauna/mangga-kasturi-ikon-flora-kalimantan-selatan-punah-alam/#respond Tue, 12 Dec 2017 10:26:26 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=19579 Meski buah mangga bisa kita temui dari pasar tradisional hingga modern, namun ada satu jenis buah mangga yang kini telah dinyatakan punah dari habitat aslinya atau 'punah in situ'. Jenis mangga yang dimaksud adalah mangga kasturi (Mangifera casturi).]]>

Buah mangga umumnya menjadi buah favorit banyak orang karena memiliki rasa manis dan asam yang segar. Rasa buah mangga yang manis membuat buah ini kerap diolah menjadi jus atau sirup, sedangkan buah mangga yang asam biasanya dijadikan rujak atau campuran sambal yaitu sambal mangga.

Meski buah mangga bisa kita temui dari pasar tradisional hingga modern, namun ada satu jenis buah mangga yang kini telah dinyatakan punah dari habitat aslinya atau ‘punah in situ‘. Jenis mangga yang dimaksud adalah mangga kasturi (Mangifera casturi). IUCN juga menyatakan status mangga kasturi dalam kategori atau Extinct in the Wild. Ancaman pembukaan lahan secara besar-besaran dan deforestasi disinyalir sebagai punahnya keberadaan tanaman ini di alam.

Tanaman ini memiliki sifat endemik (hanya ada di lokasi tertentu). Mangga kasturi hanya dapat ditemukan di daerah Kalimantan, khususnya Kalimantan bagian selatan. Merujuk pada Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 48 tahun 1989 tentang Pedoman Penetapan Identitas Flora dan Fauna Daerah, maka mangga kasturi ditetapkan menjadi Flora Identitas dari Provinsi Kalimantan Selatan.

Mangga kasturi yang bernama latin Mangifera casturi Kosterm, merupakan salah satu dari sekitar 31 jenis mangga yang dapat ditemukan di Kalimantan. Mangga dengan bentuk bulat telur, yang kulit buahnya menjadi kehitaman saat mulai tua dan matang ini, terdiri dari tiga jenis yaitu kasturi, cuban, dan asem pelipisan.

Keberadaan mangga kasturi di Indonesia memiliki sejarah yang panjang. Dikutip pada laman lipi.go.id, mangga kasturi pertama kali dideskripsikan oleh Kostermans, pakar botani Belanda dan Indonesia, pada tahun 1993. Ketika itu, dia meneliti spesimen mangga kasturi di Herbarium Bogor Rience, Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cibinong, Kabupaten Bogor.

Namun, saat itu bukanlah pertama kalinya ditemukan mangga ini. Sebab, jauh sebelumnya, yakni 1978, seorang peneliti bernama Ding Hou, sudah terlebih dahulu menemukan pohon mangga ini di habitat asilnya wilayah Martapura, Kalsel. Ketika itu, Hou menganggap bahwa mangga kasturi merupakan satu jenis dengan Mangifera quadrifida. Sampai pada akhirnya, seorang bernama Dilmy membawa spesimen tanaman ini ke Herbarium Rience. Sampailah pada 1993, Kostermans menyatakan bahwa mangga ini adalah jenis yang berbeda dengan Mangifera quadrifida, melainkan jenis tersendiri yakni Mangifera casturi.

mangga kasturi

Buah mangga kasturi yang sudah matang. Foto: wikemedia commons

Berdasarkan beberapa sumber ilmiah, pohon mangga kasturi tingginya mencapai 25 meter dengan diameter batang lebih kurang 40-115 cm. Kulit kayu berwarna putih keabu-abuan sampai cokelat terang, kadangkala terdapat retakan atau celah kecil sekitar 1 cm berupa kulit kayu mati dan mirip dengan jenis Mangifera indica. Jika kulit batangnya dilukai, maka akan mengeluarkan getah yang mula-mula bening, kemudian berwarna kemerahan dan menghitam dalam beberapa jam. Getahnya mengandung terpentin dan berbau tajam, sehingga dapat melukai kulit atau menimbulkan iritasi bagi kulit yang sensitif.

Bagian daunnya bertangkai, bentuknya lanset memanjang dengan ujung runcing dan pada kedua belah sisi tulang daun tengah terdapat 12-25 tulang daun samping. Daun yang muda bertekstur menggantung lemas dan berwarna ungu tua. Bunga tanaman ini merupakan bunga majemuk berkelamin ganda dengan bentuk bunga rasemos dan kerapkali berambut rapat. Panjang tangkai bunga lebih kurang 28 cm dengan anak tangkai sangat pendek, yaitu 2-4 mm.

Pohon mangga kasturi tidak berbeda dengan pohon mangga lainnya. Buahnya berbentuk bulat sampai ellipsoid dengan berat kurang dari 80 gram, daging buah kuning atau oranye dan berserabut. Buah ini berbuah pada awal musim penghujan atau sekitar bulan Januari. Pada saat musim berbuah (November-Januari), tanaman ini berbuah sangat lebat.

Kulit buah saat masih muda berwarna hijau, setelah tua berubah menjadi cokelat kehitaman, permukaan kulitnya licin. Bentuk buah lonjong dengan nisbah panjang/lebar 1,25-1,53. Kulit buah sekitar 0,24 mm. Daging buah berkadar air tinggi (87,2%), namun beberapa komponen kimia yang lainnya rendah, seperti protein (0,3%), lemak (0,04%), pati (1,4%), total gula (2%), dan kalori (9,6 kal/100g). Kadar asam (4,7%) dan karbohidratnya (12%) relatif tinggi.

Buah kasturi umumnya dipanen pada saat sudah masak. Apabila dipanen sebelum masak berpengaruh terhadap kualitas aroma dan warna buah. Oleh karena itu, walaupun mempunyai kulit yang tebal dan keras, buah tidak dapat disimpan lebih dari 6 hari.

Pohon mangga kasturi memiliki keunikan yaitu umurnya berpuluh-puluh tahun dan tumbuh di pekarangan/di hutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mangga kasturi memiliki kandungan terpenoid dan polifenol yang berfungsi sebagai antioksidan yang baik sehingga dapat menjadi dasar penemuan obat-obatan baru.

Akar dan batang dari tumbuhan kasturi mempunyai kandungan senyawa fitokimia, yakni mengandung saponin dan tanin. Terdapatnya saponin dalam akar dan batang kasturi semakin mendukung potensi tanaman tersebut sebagai obat diabetes karena saponin berperan aktif dalam mengobati diabetes (Mustikasari dan Ariyani 2008).

Sebagai informasi, Kebun Raya Bogor (KRB) memiliki lima pohon mangga kasturi yang baru berusia sekitar enam tahun. Menurut laman lipi.go.id, berbeda dengan mangga-mangga lain, pohon mangga kasturi baru bisa berbuah setelah usianya sepuluh tahun. Lima pohon itu berasal dari pembibitan satu pohon mangga kasturi yang diperkirakan sudah ada di KRB sejak 1970-an.

Menurut informasi para karyawan KRB yang sudah lama bekerja, pohon ini ditanam oleh Kosterm sekitar 1970- an. Jauh sebelum dia meneliti mangga kasturi secara mendalam. Kendati usianya sudah sangat tua, pohon yang tingginya 15 meter dengan diameter lingkaran tangan dua orang dewasa ini masih produktif berbuah. Pihak KRB berharap ada banyak orang atau lembaga yang melestarikan mangga ini. Sebab, dengan rasanya yang sangat manis dan harum, mangga kasturi bisa dijadikan komoditi buah unggulan Indonesia dan agar jenis buah asli Indonesia hingga tak tinggal nama.

mangga kasturi

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/mangga-kasturi-ikon-flora-kalimantan-selatan-punah-alam/feed/ 0
Rambutan, Buah Berambut Banyak Khasiat https://www.greeners.co/flora-fauna/rambutan-buah-berambut-banyak-khasiat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=rambutan-buah-berambut-banyak-khasiat https://www.greeners.co/flora-fauna/rambutan-buah-berambut-banyak-khasiat/#respond Mon, 21 Dec 2015 03:30:06 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=12312 Rambutan (Nephelium lappaceum) atau "hairy fruit" merupakan tanaman tropis yang banyak tumbuh di Indonesia. Ternyata, buah berambut ini juga menyimpan banyak manfaat. ]]>

Rambutan (Nephelium lappaceum) atau hairy fruit merupakan tanaman tropis yang masuk ke dalam suku Sapindaceae yang berasal dari daerah kepulauan di Asia Tenggara. Rambutan banyak terdapat di daerah tropis, seperti Afrika, Kamboja, Karibia, Amerika Tengah, India, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand dan Sri Lanka.

Tanaman rambutan, selain dapat tumbuh subur di wilayah yang beriklim tropis, juga dapat tumbuh di beberapa wilayah subtropis. Sesuai dengan namanya, rambutan memiliki kulit yang menyerupai rambut.

Tumbuhan tropis ini menyukai suhu rata-rata 250 Celcius dan memerlukan iklim lembap dengan curah hujan tahunan paling sedikit 2.000 mm. Rambutan merupakan tanaman dataran rendah, hingga ketinggian 300-600 mdpl.

Tanaman asli Indonesia ini memiliki daun majemuk menyirip genap dengan anak daun genap, yaitu berjumlah delapan helai anak daun dan berbentuk jorong. Daun rambutan merupakan daun tidak lengkap karena hanya memiliki tangkai daun (petiolus) dan helaian daun (lamina).

Daun rambutan bertangkai pendek berukuran kisaran 0,5-1 cm yang berbentuk silindris dan tidak menebal pada pangkalnya. Rambutan memiliki tulang daun menyirip, lebar daun berukuran 5,5 cm – 7 cm dengan panjang 9 cm – 15 cm. Ujung daun membulat (rotundatus) dan bagian pangkal daun tumpul (obtusus) serta permukaan daunnya licin (laevis).

Masa panen rambutan biasanya antara bulan Desember sampai dengan bulan Maret dan banyak buah yang dihasilkan oleh pohon rambutan dalam sekali panen. Buah rambutan yang matang berwarna merah atau kekuning-kuningan dan memiliki rasa manis atau masam manis.

Rambutan juga memiliki banyak khasiat, antara lain dapat menurunkan kadar gula dalam darah, mengobati penyakit disentri, demam, sariawan, menurunkan panas, menyembuhkan penyakit kencing manis (diabetes melitus), dan dapat menurunkan tingkat resiko terkena kanker serta darah tinggi.

Selain itu, adanya pohon rambutan di ruang terbuka hijau di Jakarta dapat menarik kehadiran satwa liar, seperti bajing, kelelawar, dan burung. Manisnya rambutan juga dapat menarik kehadiran beberapa jenis burung seperti cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster), madu kelapa (Anthreptes malacensis) dan cabai jawa (Dicaeum trochileum).

Flora-Rambutan

Penulis: Ahmad Baihaqi/Indonesia Wildlife Photography

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/rambutan-buah-berambut-banyak-khasiat/feed/ 0
Pohon Kersen, Berbuah Mungil Banyak Manfaat https://www.greeners.co/flora-fauna/pohon-kersen-berbuah-mungil-banyak-manfaat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pohon-kersen-berbuah-mungil-banyak-manfaat https://www.greeners.co/flora-fauna/pohon-kersen-berbuah-mungil-banyak-manfaat/#comments Sat, 05 Dec 2015 13:08:32 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=12133 Pohon kersen (Muntingia calabura) adalah salah satu pohon yang mudah kita jumpai di pinggir jalan. Fungsi pohon berbuah mungil ini cukup banyak, mulai dari peneduh hingga sumber makanan bagi satwa lain.]]>

Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah kawasan yang didominasi oleh tumbuhan yang memiliki fungsi untuk sarana konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya, untuk keindahan kota itu sendiri serta untuk menunjang kelestarian air, udara dan tanah.

Menurut penelitian, RTH yang ideal di kota adalah 30% dari luas total area. Namun, di Jakarta total luas RTH hanya mencakup sekitar 10%. Hal ini membuat perlu diadakan perluasan area untuk RTH yang terdapat di Jakarta agar dapat menunjang kehidupan habitat satwa dan tumbuhan yang hidup disekitarnya.

Keberadaan pohon buah dan pohon-pohon besar juga menarik kehadiran satwa liar untuk mencari makan dan juga sebagai habitat satwa, seperti bajing kelapa, bunglon dan beberapa jenis burung. Salah satu pohon buah yang dapat menarik kehadiran satwa adalah pohon kersen.

Pohon kersen (Muntingia calabura) adalah salah satu pohon yang mudah kita jumpai di pinggir jalan. Pohon ini termasuk tanaman liar yang tumbuh dengan ketinggian 3 sampai 6 meter, bahkan ada yang mencapai 12 meter. Selain di Indonesia, tumbuhan ini juga tumbuh di berbagai negara seperti India, Meksiko, Kosta Rika, Inggris, Vietnam, Kamboja, Thailand, dan lain-lain.

Kersen merupakan salah satu jenis buah yang berukuran kecil. Saat muda, buah karsen memiliki warna hijau dan saat matang berwarna merah cerah serta memiliki rasa yang manis. Buah ini juga memiliki banyak nama diberbagai daerah di Indonesia, seperti di Jakarta, buah ini dinamai buah ceri dan di Madura dinamai baleci. Di daerah lain ada yang menamainya keres, keresen, karsem, seri, dan lain sebagainya.

Pohon yang berbuah mungil ini memiliki bentuk tajuk seperti payung sehingga memberikan efek peneduh. Batang pohonnya sangat kuat dan lentur. Daun kersen bertekstur halus dengan bentuk lonjong kecil dan bergerigi di bagian tepinya. Pertambahan ranting cenderung menyebar ke samping dan tidak meninggi, sehingga tanaman ini relatif sangat mudah untuk dijadikan media panjat-memanjat. Jika musim buah tiba, pohon ini mengeluarkan aroma khas.

Burung-burung pemakan buah seperti burung cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster), sering mengunjungi pohon ini di waktu siang untuk memakan buah atau sari buahnya yang manis. Di waktu hari gelap, berganti aneka jenis kelelawar pemakan buah yang datang dengan tujuan yang sama. Biji kersen tidak tercerna oleh burung dan kelelawar, karena itu kedua kelompok satwa ini sekaligus berfungsi sebagai pemencar bijinya.

Selain itu, pohon kersen juga memiliki banyak manfaat bagi kesehatan manusia, antara lain buahnya dapat meningkatkan daya tahan tubuh, dapat meningkatkan metabolisme dalam tubuh, untuk kesehatan mata dan kulit tubuh, dapat mencegah asam urat dan dapat mengurangi rasa nyeri akibat asam urat. Bunganya dapat menurunkan kadar kolesterol pada tubuh dan daunnya dapat mengobati radang serta sakit kepala.

Kersen

Penulis: Ahmad Baihaqi/Indonesia Wildlife Photography

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/pohon-kersen-berbuah-mungil-banyak-manfaat/feed/ 1
Pohon 40 Buah, Pohon Dongeng Yang Nyata https://www.greeners.co/ide-inovasi/pohon-40-buah-pohon-dongeng-yang-nyata/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pohon-40-buah-pohon-dongeng-yang-nyata https://www.greeners.co/ide-inovasi/pohon-40-buah-pohon-dongeng-yang-nyata/#respond Tue, 19 Aug 2014 01:00:34 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_art_design&p=5448 Dalam sebuah perpaduan seni dan alam, Sam Van Aken telah menghidupkan sebuah pohon dongeng yang dapat mekar dalam berbagai warna dan menghasilkan 40 jenis buah yang berbeda. Seniman dan professor […]]]>

Dalam sebuah perpaduan seni dan alam, Sam Van Aken telah menghidupkan sebuah pohon dongeng yang dapat mekar dalam berbagai warna dan menghasilkan 40 jenis buah yang berbeda. Seniman dan professor seni Universitas Syracuse ini menciptakan dan menyilangkan pohon buah yang menghasilkan lebih dari 40 jenis buah seperti ceri, plum, persik, aprikot hingga almond.

Menurut My Modern Met, Aken dibesarkan di perkebunan. Ia kemudian membeli sebuah tanaman anggrek di New York yang terancam mati. Dalam prosesnya, ia akhirnya menyelamatkan banyak varietas buah langka dan mulai bereksperimen dengan menyilangkan berbagai pohon buah untuk menciptakan pohon dongengnya, Pohon 40 Buah.

Foto: mymodernmet.com

Van Aken menciptakan pohon ini melalui proses okulasi – ia mengambil sepotong ranting dari pohon buah yang memiliki tunas kemudian menempelkannya ke dalam sayatan di pohon utama. Setelah direkatkan, cabang pohon akan pulih dan kemudian dipangkas kembali untuk merangsang pertumbuhan cabang alami pada pohon.

Pada musim semi, pohon bermekaran menjadi jalinan warna yang berbeda, seperti pink, ungu, dan putih. Ini menjadi pemandangan yang menakjubkan dari buah-buahan langka dan unik di musim panas. Sudah pasti sebuah pengalaman yang layak dinanti setiap musim semi.

Foto: mymodernmet.com

“Pertama dan yang utama adalah saya melihat pohon ini sebagai sebuah karya seni,” ungkap Van Aken pada Epicurious. “Saya ingin pohon ini bertransformasi setiap hari. Ketika pohon ini tanpa diduga mekar dalam berbagai warna, atau ketika anda melihat beberapa jenis buah yang berbeda bergantungan di cabang pohon, itu semua bukan hanya mengubah bagaimana cara anda memandangnya, namun juga mengubah bagaimana cara anda memersepsikan (segala hal) secara umum,” katanya.

Pohon dongeng ini juga menjaga varietas pohon yang berbeda sebagai bentuk konservasi, terutama pohon-pohon buah langka. Van Aken berkata, “Dengan cara seperti ini, pohon ini menjadi arsip sejarah pertanian di tempat dimana pohon ini berada, dan untuk menjaga varietas lokal yang mulai langka.”

Foto: mymodernmet.com

Hingga saat ini, sang seniman telah menumbuhkan 16 jenis “pohon dongeng” yang tersebar di beberapa lokasi di penjuru Amerika Serikat. Diantaranya, di museum, pusat kegiatan komunitas dan menjadi beberapa koleksi seni pribadi. Van Aken kini berencana untuk menumbuhkan sebuah pohon anggrek mini dengan buah hasil persilangan di kota New York.

(G33)

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/pohon-40-buah-pohon-dongeng-yang-nyata/feed/ 0