Produk Berkelanjutan - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/produk-berkelanjutan/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sun, 19 Mar 2023 00:13:30 +0000 id hourly 1 Pakaian Bekas “Pukul” Produk Lokal dan Bisa Picu Sampah Tekstil https://www.greeners.co/berita/pakaian-bekas-pukul-produk-lokal-dan-bisa-picu-sampah-tekstil/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pakaian-bekas-pukul-produk-lokal-dan-bisa-picu-sampah-tekstil https://www.greeners.co/berita/pakaian-bekas-pukul-produk-lokal-dan-bisa-picu-sampah-tekstil/#respond Sun, 19 Mar 2023 05:00:01 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=39372 Jakarta (Greeners) – Indonesia kebanjiran impor pakaian bekas. Omzet penjualan barang ini pun tak main-main, nilainya mencapai miliaran rupiah. Namun, keberadaannya dipandang “membunuh” produk lokal.  Presiden Joko Widodo pun sampai […]]]>

Jakarta (Greeners) – Indonesia kebanjiran impor pakaian bekas. Omzet penjualan barang ini pun tak main-main, nilainya mencapai miliaran rupiah. Namun, keberadaannya dipandang “membunuh” produk lokal. 

Presiden Joko Widodo pun sampai angkat suara. Ia menegaskan pakaian bekas impor mengganggu produk lokal. 

Deputi Bidang Usaha Kecil dan Menengah Kementerian Koperasi dan UKM, Hanung Harimba Rachman mengatakan, pakaian bekas menimbulkan masalah lingkungan yang serius.

Badan Pusat Statistik tahun 2019 menyebut, volume baju bekas impor mencapai 392 ton. “Dengan jumlah impor yang begitu besar, banyak baju bekas impor itu berakhir di TPA. Indonesia dijadikan sebagai pembuangan sampah pakaian bekas,” katanya kepada Greeners, Sabtu (18/3).

Bahkan lanjutnya, menambah besar potensi sampah tekstil. Adapun saat ini terdapat 2.633 ton sampah tekstil per tahun di Indonesia.

Lebih jauh ia menyebut tumbuh suburnya industri thrifting karena masyarakat Indonesia masih price sensitive dan menginginkan produk branded meski bekas.

“Pakaian yang harusnya berharga ratusan ribu dijual dengan rentang harga Rp 50.000-an. Ini jelas menjadi pukulan telak bagi industri tekstil dalam negeri karena tak bisa bersaing dari segi harga,” tuturnya.

Barang bekas impor, termasuk di dalamnya pakaian tidak membayar bea dan cukai sehingga membuat negara merugi.

Jeritan Pedagang Saat Ada Larangan

Pandemi Covid-19 mengubah gaya hidup manusia, termasuk dalam urusan fesyen. Selain pakaian bekas merupakan solusi untuk menerapkan gaya hidup hemat, juga berpotensi memperpanjang usia pakaian. Sehingga, dinilai mampu menjadi solusi meminimalisir limbah.

Di tengah lesunya kondisi perekonomian imbas pandemi, terdapat salah satu sektor yang tetap perkasa yakni perdagangan pakaian bekas impor. Laris manis bisnis ini dinikmati juga oleh salah satu lapak penjual pakaian bekas impor di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Usman.

Lapaknya terbuka di area pinggir jalan memudahkan masyarakat melihat dan memilih langsung pakaian bekas yang mereka inginkan. Lelaki berusia 45 tahun ini menyatakan, keuntungan dari bisnis ini sangat menggiurkan. Omsetnya kisaran 12 juta per bulan. “Yang penting bisa buat makan, bayar kos saja sudah Alhamdulillah,” ujar lelaki asal Padang ini.

Usman berharap, pemerintah tak sekadar melarang penjualan produk-produk barang bekas, tapi memberikan solusi yang lebih konkret pada pedagang kecil.

“Takut sih saya (kalau sampai tak menerima barang baru karena sudah dilarang). Tapi bagaimana nasib saya nanti kalau hanya jualan gini tidak boleh. Kan tak mungkin menganggur,” ujar lelaki yang telah 20 tahun berdagang pakaian bekas.

Thrifting sangat membantu konsumen yang ingin membeli pakaian dengan harga yang murah. Foto: Shutterstock

Volume Impor Pakaian Bekas Naik Signifikan

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Kementerian Keuangan melaporkan, volume impor pakaian bekas pada tahun 2022 naik signifikan sebanyak 227,75 % daripada tahun 2021. Nilai devisanya fantastis yakni sebesar US$ 272.146 atau setara Rp 4,19 miliar.

Adapun volume impor pakaian bekas tahun 2022 yakni 26,22 ton, sedangkan tahun 2021 hanya 8 ton. Laporan Trade Map menyebut ekspor baju bekas dari negara eksportir sepanjang tahun 2021 ke Indonesia mencapai 27.420 ton.

Presiden Joko Widodo memerintahkan jajarannya untuk mencari betul sumber impor pakaian bekas. Sebab, industri ini mengganggu industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dalam negeri.

Menurut data Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) dan Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (Apsyfi) menyebut 80 % produsen pakaian di Indonesia didominasi oleh UKM. Impor pakaian bekas selama ini memangkas sebesar 12 hingga 15 % pangsa ini.

Sementara itu, berdasarkan laporan Valuing Our Clothes: The Cost of UK Fashion WRAP terbitkan tahun 2017, peningkatan penjualan barang bekas sebesar 10 % dapat menghemat 3 % emisi karbon dan 4 % air.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/pakaian-bekas-pukul-produk-lokal-dan-bisa-picu-sampah-tekstil/feed/ 0
Unik! Limbah Kulit dan Tulang Hewan jadi Produk Berkelanjutan https://www.greeners.co/ide-inovasi/unik-limbah-kulit-dan-tulang-hewan-jadi-produk-berkelanjutan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=unik-limbah-kulit-dan-tulang-hewan-jadi-produk-berkelanjutan https://www.greeners.co/ide-inovasi/unik-limbah-kulit-dan-tulang-hewan-jadi-produk-berkelanjutan/#respond Tue, 03 Jan 2023 04:00:46 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=38475 Desainer asal Islandia, Valdi Steinarsdóttir berhasil mengolah limbah kulit dan tulang hewan dari industri daging menjadi dua produk berkelanjutan. Produk tersebut antara lain sebuah vas dan mangkok dari limbah tulang […]]]>

Desainer asal Islandia, Valdi Steinarsdóttir berhasil mengolah limbah kulit dan tulang hewan dari industri daging menjadi dua produk berkelanjutan. Produk tersebut antara lain sebuah vas dan mangkok dari limbah tulang hewan, lalu kemasan bioplastik ramah lingkungan yang terbuat dari kulit hewan.

Inovasinya ini ia namakan proyek Just Bones, karena hanya menggunakan satu bahan utama pada masing-masing produk. Untuk membuat sebuah vas dan kemasan bioplastik, Steinarsdóttir bekerja sama dengan rumah jagal dan petani lokal sebagai penyediaan limbah kulit dan tulang hewan.

“Proyek Just Bones adalah upaya untuk menemukan cara baru dalam mengolah kembali jumlah limbah yang dihasilkan oleh rumah pemotongan hewan,” kata Steinarsdóttir pada situs resmi Dezeen,”

Dalam proses pembuatan produk Just Bones, Steinarsdóttir pisah menjadi dua cara. Untuk membuat vas, mula-mula ia giling limbah tulang hewan hingga menjadi bubuk. Lalu ia olah seperti proses pembuatan kayu daur ulang Medium Density Board (MDF).

Memiliki orientasi pada ramah lingkungan, Steinarsdóttir tidak mencampurkan bahan kimia lainnya pada vas dan mangkok unik ini. Karena itu, apabila sudah dalam masa akhir pakai, konsumen dapat mengatasinya dengan mudah. Kedua produk dapat terurai secara hayati dan akan larut hanya dalam waktu satu minggu jika konsumen melarutkannya dengan air panas.

Selain vas, mangkok ini juga berasal dari limbah tulang hewan. Foto: Dezeen

Kemasan Bioplastik Ramah Lingkungan

Layaknya limbah tulang, Steinarsdóttir juga mengolah limbah kulit sebagai wadah untuk kemasan makanan, salah satunya daging. Pada prosesnya, Steinarsdóttir merebus kulit hewan dengan suhu dan waktu yang sudah ditentukan untuk mengumpulkan gelatin. Ia mengaku, metode olahan limbah kulit menjadi bioplastik ini ia dapat dari proses pembuatan lem kayu pada abad-abad sebelumnya.

“Selama berabad-abad orang mengunakan metode ini untuk membuat lem kayu. Saya memodifikasi proses ini untuk membuat bahan seperti plastik,” jelasnya.

Untuk membuat kemasan bioplastik yang sempurna, Steinarsdóttir mencampurkan berbagai rasio gula alkohol agar kemasan memiliki tekstur yang lebih lembut dan lentur. Lain dari kemasan plastik pada umumnya, kemasan hasil olahan Steinarsdóttir juga dapat terurai secara hayati hanya dalam beberapa minggu saja.

Ia menambahkan, inovasi ini bertujuan untuk menciptakan cara pengemasan daging yang lebih berkelanjutan. Tentu kemasan bioplastik dari limbah kulit hewan ini dapat menjadi inovasi dan alternatif masa depan sebagai langkah untuk mengurangi kemasan plastik di dunia.

“Dalam hal ini, tujuan saya bukan untuk membuat lebih banyak permintaan akan produk hewani. Melainkan memaksimalkan semua aspek agar tidak ada yang terbuang sia-sia dan mengurangi limbah,” ucapnya.

Penulis: Zahra Shafira

Editor : Ari Rikin

Sumber: Dezeen

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/unik-limbah-kulit-dan-tulang-hewan-jadi-produk-berkelanjutan/feed/ 0
Natural Material Studio Ciptakan Bungkus Kado dari Biomaterial https://www.greeners.co/ide-inovasi/natural-material-studio-ciptakan-bungkus-kado-dari-biomaterial/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=natural-material-studio-ciptakan-bungkus-kado-dari-biomaterial https://www.greeners.co/ide-inovasi/natural-material-studio-ciptakan-bungkus-kado-dari-biomaterial/#respond Thu, 22 Dec 2022 03:24:20 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=38352 Sebuah studio berkelanjutan yang berbasis di Kopenhagen, Denmark, Natural Material Studio kembali mengeluarkan produk ramah lingkungan di akhir tahun ini. Pada inovasi terbarunya, Natural Material Studio bekerja sama dengan salah […]]]>

Sebuah studio berkelanjutan yang berbasis di Kopenhagen, Denmark, Natural Material Studio kembali mengeluarkan produk ramah lingkungan di akhir tahun ini. Pada inovasi terbarunya, Natural Material Studio bekerja sama dengan salah satu merek fesyen ternama Calvin Klein untuk mengeluarkan koleksi perayaan Natal dan Tahun Baru 2022. Koleksi tersebut berupa kantung berkelanjutan atau bungkus kado yang terbuat dari biomaterial.

Sebagai langkah mengurangi pemakaian bungkus kado sekali pakai, Calvin Klein menggunakan bungkus kado ramah lingkungan dari Natural Material Studio. Biomaterial ini untuk membungkus setiap hampers Calvin Klein selama musim perayaan Natal dan Tahun Baru.

“Kami ingin merancang bungkus kado yang dapat digunakan kembali untuk mengurangi budaya bungkus sekali pakai yang meningkat selama perayaan Natal,” kata pendiri Natural Material Studio, Bonnie Hvillum.

Kantung berwarna netral atau earth tone ini mereka bentuk dari lembaran biotekstil buatan tangan bernama Procel. Selain biotekstil, Natural Material Studio juga menggunakan protein bioplastik, pelembut alami, dan pigmen alami sebagai bahan campuran.

Seluruh produk dari Natural Material Studio memang sangat terkenal dengan desainnya yang sederhana dan elegan. Gaya khas desain tersebut juga sangat terlihat pada koleksi terbarunya bersama Calvin Klein ini. Setiap kantong atau bungkus kado yang mereka hasilkan menampilkan pola halus berbentuk residu gelembung secara keseluruhan.

Sebagai elemen dekoratif, Natural Material Studio juga menggunakan pita cantik warna batu bara dengan desain serupa dari bahan Procel yang lebih lembut dan diikatkan di sekitar produk.

Foto : Natural Material Studio

Tahan Lama dan Dapat Terurai Secara Hayati

Hasil kolaborasi Natural Material Studio dan Calvin Klein ini sudah tersedia di offline store Calvin Klein mulai dari tanggal 15 Desember lalu. Mereka menyediakan tiga ukuran yang berbeda agar dapat konsumen gunakan untuk membungkus berbagai produk dari Calvin Klein.

Bonnie berharap, dengan adanya kolaborasi ini dapat memberikan kesan yang berbeda dan manfaat baru pada Hari Raya Natal tahun ini. Tidak hanya membawa kebaikan dan kasih pada manusia, penggunaan bungkus kado berkelanjutan juga menjadi langkah untuk memberikan kebaikan pada lingkungan.

“Harapannya adalah agar kantong kado kami dapat memberikan manfaat dan pengalaman baru bagi konsumen untuk Natal tahun ini. Yakni bagaimana biomaterial dapat membantu mengurangi konsumsi berlebihan dan mempromosikan tanggung jawab lingkungan,” harapnya.

Karena menggunakan bahan-bahan berkelanjutan, pembungkus kado unik ini dapat memberikan beberapa keuntungan. Seperti dapat digunakan kembali, mampu konsumen gunakan dalam waktu yang lama, dapat didaur ulang serta dapat terurai secara hayati.

Sebagai tambahan informasi, produk bungkus kado dengan Calvin Klein ini bukan kali pertama Natural Material Studio menciptakan produk ramah lingkungan. Sebelumnya, mereka juga menciptakan kain berkelanjutan yang tidak biasa. Melakukan kolaborasi dengan Studio Farma, mereka menghadirkan kain yang sepenuhnya terbuat dari ganggang dan tanah liat.

Selain kain berkelanjutan, mereka juga telah menghadirkan produk unik lainnya seperti keramik dari limbah kerang dan pakaian dari arang aktif.

Penulis: Zahra Shafira

Sumber:

Situs Resmi Natural Material Studio

Dezeen

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/natural-material-studio-ciptakan-bungkus-kado-dari-biomaterial/feed/ 0
Blue Ainery, Tas Berkelanjutan yang Lestarikan Budaya https://www.greeners.co/gaya-hidup/blue-ainery-tas-berkelanjutan-yang-lestarikan-budaya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=blue-ainery-tas-berkelanjutan-yang-lestarikan-budaya https://www.greeners.co/gaya-hidup/blue-ainery-tas-berkelanjutan-yang-lestarikan-budaya/#respond Sun, 18 Dec 2022 04:00:26 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=38311 Sobat Greeners, apakah kamu penggemar berat bahan denim? Jika iya mungkin kamu harus mulai mencari alternatif denim yang lebih berkelanjutan. Selain polyester ternyata bahan denim juga menjadi bagian dari fast […]]]>

Sobat Greeners, apakah kamu penggemar berat bahan denim? Jika iya mungkin kamu harus mulai mencari alternatif denim yang lebih berkelanjutan. Selain polyester ternyata bahan denim juga menjadi bagian dari fast fashion. Denim juga dapat menyebabkan polusi air yang sangat berbahaya bagi lingkungan dan manusia.

Pestisida, pewarna, hingga bahan kimia yang produsen gunakan untuk membuat denim, akan menjadi limbah pabrik dan dibuang ke saluran air yang dapat membuat sungai dan laut tercemar.

Karena itu, produsen asal Jepang yakni Blue Ainery menciptakan alternatif tas berbahan denim berkelanjutan bernama Furoshiki. Nama Furoshiki sendiri mengacu pada budaya, desain, dan mode tradisional Jepang.

Furoshiki merupakan kain pembungkus tradisional Jepang pada zaman dahulu yang terkenal pada tahun 1603 – 1868. Tas ini banyak masyarakat gunakan untuk membungkus barang, kotak makanan, hingga hadiah.

Perwarnaan alami tas ini tidak mencemari lingkungan. Foto: Yankodesign

Metode Tenun Tas dan Pencelupan Tradisional

Tidak hanya menghormati sejarah dan tradisi Jepang, Blue Ainery juga berpedoman pada lingkungan dalam proses pembuatan produknya. Mereka menggunakan metode tenun dan pencelupan tradisional yakni “Kase-zome” untuk membuat setiap produk tas Furoshiki.

Untuk bahan dasar pewarnaan, Blue Ainery menggunakan tanaman dari Okinawa, Jepang yang sudah tersedia sejak zaman kuno yakni Ryuku Indigo sebagai pewarnaan alami. Mereka menggunakan metode tradisional dan manual seperti fermentasi mikroorganisme hingga menghasilkan warna indigo yang sangat cantik dan pekat.

Setelah itu benang melewati proses pencelupan tradisional untuk memastikan pewarnaan Ryuku Indigo benar-benar meresap ke dalam inti benang. Karena memakai pewarnaan alami dan metode tradisional yang tekun dan lambat, tas Furoshiki memiliki warna yang tidak mudah pudar. Meskipun telah konsumen gunakan dalam waktu yang lama dan cuci berkali-kali.

Tidak hanya warna, Blue Ainery juga mengklaim produknya dapat bertahan selama beberapa dekade dan bukan hanya bertahun-tahun. “Denim ini kita tenun menggunakan alat tenun tradisional yang menghasilkan kain kepadatan tinggi yang lebih tahan lama daripada alat tenun modern,” papar desainer tas Furoshiki, Yoshinari Kakazu.

Meski memiliki desain yang sangat sederhana, tetapi tas Furoshiki dari Blue Ainery justru memiliki daya tarik tersendiri karena keminimalisan, tahan lama, fungsional, dan komitmen berkelanjutan yang dimilikinya. Desain sederhana ini juga membuat Furoshiki mampu menampung barang dengan jumlah yang banyak karena ruang yang sangat luas.

Penulis: Zahra Shafira

Sumber:

Yanko Design

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/blue-ainery-tas-berkelanjutan-yang-lestarikan-budaya/feed/ 0
ForestBank Manfaatkan Limbah Kayu Jadi Furniture Kekinian https://www.greeners.co/ide-inovasi/forestbank-manfaatkan-limbah-kayu-jadi-furniture-kekinian/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=forestbank-manfaatkan-limbah-kayu-jadi-furniture-kekinian https://www.greeners.co/ide-inovasi/forestbank-manfaatkan-limbah-kayu-jadi-furniture-kekinian/#respond Tue, 13 Dec 2022 03:00:11 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=38268 Penggunaan kayu dalam produk desain terutama furniture, sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Bak tidak lekang oleh zaman, furniture rumah tangga dari kayu masih menjadi favorit hingga saat ini. […]]]>

Penggunaan kayu dalam produk desain terutama furniture, sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Bak tidak lekang oleh zaman, furniture rumah tangga dari kayu masih menjadi favorit hingga saat ini. Tidak heran, karena kayu merupakan bahan yang tahan lama dan sangat kuat, sehingga menjadi pilihan yang sempurna bagi konsumen.

Namun pembuatan perabot atau piranti kayu ternyata juga menghasilkan banyak limbah potongan kayu yang terbuang begitu saja. Meski dapat terurai, limbah kayu yang terbuang juga dapat mengotori lingkungan terlebih dahulu.

Menjadi salah satu negara yang cukup banyak menggunakan furniture kayu, perancang asal Jepang Yuma Kano memiliki inovasi untuk mengatasi limbah potongan kayu yang sudah tidak memiliki nilai jual tersebut.

Inovasi tersebut ia namakan ForestBank. ForestBank merupakan furniture rumah tangga namun dengan desain dan bahan dasar yang cukup unik. Piranti tersebut antara lain berbagai macam meja unik, bangku, hingga kursi. Meski dari bahan-bahan sisa, ForestBank mampu menyulap bahan tersebut menjadi sebuah furniture yang memiliki nilai jual tinggi dan kekinian.

“ForestBank tidak hanya memproduksi furniture kayu, tetapi desain material yang mencari keragaman nilai di seluruh hutan,” papar Kano pada situs resmi ForestBank.

Tidak menggunakan kayu utuh, Kano mengumpulkan sisa potongan kayu, dedaunan, kulit kayu, biji-bijian, dan beberapa hal lainnya yang sudah berjatuhan di tanah hutan.

Limbah kayu disulap jadi punya kehidupan kedua oleh desainer Jepang. Foto: ForestBank

Furniture Unik Bukan dari Kayu Hutan

Potongan-potongan tersebut lalu Yuma kumpulkan dan campur menggunakan bahan dasar mineral reaktif dan resin akrilik berbahan dasar air. Furniture ForestBank ia bentuk dengan menggunakan metode pengerjaan kayu biasa seperti konstruksi furniture dan desain interior lainnya.

Piranti dari limbah kayu ForestBank tidak menggunakan pewarna tambahan, karena ingin menonjolkan bentuk potongan kayu yang unik dan bahan-bahan lainnya. Menariknya, masing-masing piranti ini dapat menampilkan berbagai warna dan pola yang berbeda-beda tergantung dari mana potongan kayu itu berasal.

Karena itu, untuk membuat beberapa pola yang berbeda, ForestBank juga mengumpulkan bahan dasar furniture dari jalanan, taman, kebun, hingga limbah kayu dari bengkel atau pabrik furniture di daerahnya.

“Bahan-bahan ini memiliki pola yang berbeda-beda, bergantung pada sudut dan kedalaman pemotongan. Selain itu bisa berkaitan juga dengan perbedaan tempat, lahan, dan kondisi hutan ketika pengambilan bahan-bahan tersebut,” jelasnya.

Baru-baru ini ForestBank memamerkan karya uniknya ini di DESIGNART Tokyo edisi 2022. Mereka menampilkan dua karyanya yakni kursi dan meja sebagai pameran utama pada acara tersebut.

Penulis: Zahra Shafira

Sumber:

Situs Resmi ForestBank

Yanko Design

Design Boom

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/forestbank-manfaatkan-limbah-kayu-jadi-furniture-kekinian/feed/ 0
Frame Cycles Ciptakan Sadel Sepeda dari Gabus Berkelanjutan https://www.greeners.co/ide-inovasi/frame-cycles-ciptakan-sadel-sepeda-dari-gabus-berkelanjutan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=frame-cycles-ciptakan-sadel-sepeda-dari-gabus-berkelanjutan https://www.greeners.co/ide-inovasi/frame-cycles-ciptakan-sadel-sepeda-dari-gabus-berkelanjutan/#respond Fri, 11 Nov 2022 03:04:17 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=37921 Bagi Sobat Greeners yang gemar bersepeda pasti sudah paham betul dengan bagian-bagian dari komponen sepeda. Salah satunya sadel sepeda. Bagian terpenting yang menjadi tumpuan untuk kita duduk ketika mengendarai kendaraan […]]]>

Bagi Sobat Greeners yang gemar bersepeda pasti sudah paham betul dengan bagian-bagian dari komponen sepeda. Salah satunya sadel sepeda. Bagian terpenting yang menjadi tumpuan untuk kita duduk ketika mengendarai kendaraan ramah lingkungan ini.

Umumnya, sadel sepeda terbuat dari beberapa lapisan berbagai jenis polimer atau busa polyurethane. Lapisan tersebut terdiri dari pelat dasar yang terbuat dari plastik keras, lalu polimer lembut. Serta lapisan luar terbuat dari poliuretan yang terbuat dari campuran antara plastik dan karet atau biasa kita sebut dengan “kulit” sadel.

Terdiri dari beberapa komponen plastik, perusahaan asal Skotlandia Frame Cycles memiliki inovasi untuk membuat sadel sepeda lebih berkelanjutan. Mereka meluncurkan produk pertamanya yakni Sadel Sepeda FR-1 yang terbuat dari gabus.

“Dalam Frame Cycles kami telah menghilangkan ketiga lapisan plastik. Kami menggantinya dengan sepotong gabus, satu bahan tapi bisa berguna untuk ketiga fungsi sadel sepeda pada umumnya,” papar Frame Cycles pada situs resminya.

Gabus yang Frame Cycles gunakan dipanen dari kulit pohon ek atau Quercus suber yang tumbuh secara alami di Eropa Barat Daya dan Afrika Utara. Bagian gabus mereka produksi di Portugal, hal ini sekaligus juga mendukung pertanian gabus Portugal yang berkelanjutan dan memiliki sejarah turun-temurun.

Foto: Inhabitat

Tidak Hanya Ramah Lingkungan

Sadel sepeda FR-1 terbuat dari gabus untuk memaksimalkan kelestarian dan sifat alaminya. Selain itu, pemilihan gabus juga didukung oleh beberapa keuntungan lainnya. Seperti kepadatan yang rendah dan ringan, tahan air, memiliki elastisitas yang baik dan tahan lama. Gabus juga tahan terhadap gesekan, memiliki kapasitas bantalan yang lebih baik dan lembut, lalu yang terpenting yaitu 100 % dapat didaur ulang dan ramah lingkungan.

“Gabus lebih ringan, tahan lama dan elastis. Ini juga tahan air dan bantalan yang lebih baik daripada banyak bahan kursi sepeda lainnya,” jelasnya.

Selain gabus, Frame Cycles juga menggunakan titanium untuk substruktur sadel. Hal ini mereka pertimbangkan karena titanium lebih kuat dan ringan dari baja yang biasa digunakan. Sadel atau kursi sepeda ini memiliki berat 320 gram dan panjang 270 milimeter dan lebar 135 milimeter.

Sadel sepeda ramah lingkungan ini memiliki perjalanan yang cukup panjang, Frame Cycles membuat prototipe FR-1 pertama mereka pada tahun 2017. Produk ini selesai pada tahun 2019 dan memasuki tahap pengujian selama dua tahun berikutnya. Hingga saat ini tahun 2022 Frame Cycles resmi lulus uji dan sedang dalam tahap proses produksi.

Penulis: Zahra Shafira

Sumber:

Situs Resmi Frame Cycles

Inhabitat

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/frame-cycles-ciptakan-sadel-sepeda-dari-gabus-berkelanjutan/feed/ 0
Coffee Watch, Jam Tangan Mewah dari Ampas Kopi https://www.greeners.co/ide-inovasi/coffee-watch-jam-tangan-mewah-dari-ampas-kopi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=coffee-watch-jam-tangan-mewah-dari-ampas-kopi https://www.greeners.co/ide-inovasi/coffee-watch-jam-tangan-mewah-dari-ampas-kopi/#respond Tue, 20 Sep 2022 03:00:12 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=37387 Merek jam tangan terkenal yang berbasis di Berlin, Lilienthal Berlin baru-baru ini menghadirkan jam tangan dengan case yang terbuat dari ampas kopi daur ulang. Inovasi ini mereka lakukan karena banyaknya […]]]>

Merek jam tangan terkenal yang berbasis di Berlin, Lilienthal Berlin baru-baru ini menghadirkan jam tangan dengan case yang terbuat dari ampas kopi daur ulang. Inovasi ini mereka lakukan karena banyaknya limbah ampas kopi yang terbuang begitu saja di Berlin, Jerman setiap tahunnya.

Untuk membuat Coffee Watch, Lilienthal Berlin bekerja sama dengan Kaffeform yakni sebuah studio desain yang memang fokus mendaur ulang limbah kopi. Selain menggunakan bahan dasar dari ampas kopi, Coffee Watch juga memiliki tali jam tangan atau strap yang terbuat dari kulit alami atau vegan.

Uniknya, Kaffeform mengumpulkan ampas kopi dari seluruh kafe di Berlin menggunakan sepeda. Sehingga tidak hanya mengurangi limbah mereka juga berfokus pada mengurangi polusi udara. Setelah proses penjemputan, limbah tersebut kemudian mereka keringkan dan melalui berbagai proses untuk menjadi case jam tangan ramah lingkungan.

“Dengan Coffee Watch, kami ingin menunjukkan betapa menariknya gaya hidup berkelanjutan. Bahwa sesuatu yang tampaknya tidak berguna seperti ampas kopi bisa kita ubah menjadi jam tangan dengan kualitas dan keberlanjutan yang premium,”

Jam tangan berkelanjutan ini memiliki desain klasik premium yang terdiri dari beberapa pilihan warna dengan nama Americano, Expresso, Latte, dan Macchiato. Coffee Watch pada dasarnya memiliki warna cokelat mulai dari gelap hingga terang. Karena berbahan dasar kopi, jam tangan ini juga memiliki aroma seperti kopi asli yang dapat membuat konsumen rileks setiap kali memakainya.

Coffee Watch. Foto: Yanko Design

Coffee Watch Miliki Masa Pakai yang Lama

Menurut Lilienthal Berlin, daya tahan suatu produk merupakan salah satu aspek kunci dari keberlanjutan. Maka dari itu, mereka menawarkan konsumen dengan standar kualitas tinggi  dan mempertimbangkan durabilitas produk sehingga memiliki masa pakai dengan waktu yang lama.

“Tidak ada yang namanya produk sekali pakai dalam produk kami, semua yang kami tawarkan diproduksi dengan standar kualitas tinggi. Kami lebih suka melihat pelanggan kami menikmati produk untuk waktu yang lama daripada harus membeli yang baru di tempat lain,”

Dengan adanya Coffee Watch, Lilienthal Berlin dan Kaffeform memperkuat kehadiran produk gaya hidup keberlanjutan. Selain menyediakan tampilan yang menarik, fungsional, hingga nyaman digunakan, Coffee Watch juga merupakan contoh utama dari upcycling yang hebat.

“Dalam hal produk gaya hidup, keberlanjutan masih belum memainkan peran besar seperti halnya makanan, fashion, atau produk lain yang kita lihat setiap hari. Namun, di industri kami, segala sesuatunya berkembang sedikit lebih lambat. Dan inilah tepatnya yang ingin kami ubah,”

Dalam membuat produk berkelanjutan, bukan kali pertama Lilienthal Berlin menciptakan produk seperti ini. Bahkan pada kemasan, ia menggunakan 100 % bahan berkelanjutan dan sepenuhnya mengandalkan alternatif ramah lingkungan dalam proses pengiriman produk.

Penulis: Zahra Shafira

Sumber:

Yanko Design

Lilienthal Berlin

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/coffee-watch-jam-tangan-mewah-dari-ampas-kopi/feed/ 0
Carpet Matter Project, Sulap Limbah Karpet Jadi Furnitur Unik https://www.greeners.co/ide-inovasi/carpet-matter-project-sulap-limbah-karpet-jadi-furnitur-unik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=carpet-matter-project-sulap-limbah-karpet-jadi-furnitur-unik https://www.greeners.co/ide-inovasi/carpet-matter-project-sulap-limbah-karpet-jadi-furnitur-unik/#respond Tue, 30 Aug 2022 03:00:07 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=37186 Seorang pembuat dan perancang furniture asal Italia, Riccardo Cenedella memberikan kehidupan baru limbah karpet yang sudah tidak terpakai menjadi produk rumah tangga sehari-hari. Projek berkelanjutan ini Cenedella sebut dengan Carpet […]]]>

Seorang pembuat dan perancang furniture asal Italia, Riccardo Cenedella memberikan kehidupan baru limbah karpet yang sudah tidak terpakai menjadi produk rumah tangga sehari-hari. Projek berkelanjutan ini Cenedella sebut dengan Carpet Matter Project.

Hal tersebut ia lakukan karena menumpuknya karpet yang sudah tidak terpakai di lingkungan tempat tinggalnya. Sebagai perlengkapan rumah tangga, karpet juga cenderung mudah rusak dan cepat kotor. Alih-alih mencucinya, sebagian orang lebih memilih untuk membuang karpet begitu saja.

Melansir dari situs resmi Riccardo Cenedella sendiri, Inggris menghasilkan sekitar 400.000 ton limbah karpet setiap tahunnya. Dari angka tersebut, hanya sedikit limbah yang dapat didaur ulang, sisanya ke insinerator atau ditimbun ke tempat pembuangan sampah.

Meski secara historis bahan dasar karpet menggunakan wol, tetapi dalam beberapa tahun terakhir serat alami tersebut telah berganti dengan serat berbasis minyak bumi. Seperti Nylon dan Polypropylene yang keduanya berbahan termoplastik. Sehingga sampah karpet yang terbuang begitu saja juga sama bahayanya dengan sampah plastik sekali pakai.

Sebagai orang yang memiliki minat terhadap lingkungan, Cenedella mengetahui tantangan pengelolaan sampah. Karena itu ia butuh perencanaan yang tepat terkait pengelolaan permadani atau karpet yang sudah tidak terpakai. Setelah melakukan riset, Cenedella berhasil mengembangkan teknik untuk membentuk produk baru dari karpet bekas.

“Melalui eksperimen langsung dan penelitian material terhadap bahan sintetis. Saya telah mengembangkan teknik untuk membuat desain baru dan menghindari karpet yang hanya berakhir di tempat pembuangan sampah,” jelas Cenedella pada situs resminya.

Transformasi Limbah Karpet Mulai dari Bangku, Meja, Hingga Lampu

Dengan mendaur ulang karpet, Cenedella membuat beberapa furnitur rumah tangga, seperti bangku, meja dan lampu. Ia mengumpulkan limbah karpet dari beberapa toko-toko lokal atau sepanjang jalan di London. Semua produk dari Carpet Matter Project memiliki desain unik yang bertemakan industrial.

Produk pertama dari Carpet Matter Project adalah Carpet Matter Lamp yang terbuat dari karpet bekas dan LED Neon Flex. Ada juga The Carpet Matter Stool yang merupakan sebuah balok yang dapat konsumen gunakan sebagai tempat duduk. Dari karpet bekas tersebut, Cenedella juga membuat the Carpet Matter Table Series yakni sekumpulan meja dengan berbagai bentuk dan ukuran yang hanya menggunakan bahan sisa karpet.

Dengan karyanya, Cenedella bertujuan untuk meningkatkan kesadaran lingkungan dan membantu mencapai masa depan yang lebih berkelanjutan.

“Tujuan dari proyek ini adalah untuk meningkatkan kesadaran lingkungan dan menunjukkan bagaimana bahan yang terbuang dapat kita ubah menjadi sesuatu yang berharga dan dapat digunakan kembali,” harapnya.

Penulis: Zahra Shafira

Sumber:

Situs Resmi Riccardo Cenedella

Yanko Design

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/carpet-matter-project-sulap-limbah-karpet-jadi-furnitur-unik/feed/ 0
Tekan Sampah Kemasan, Produk Personal Care Bakal Berkonsep Refill https://www.greeners.co/berita/tekan-sampah-kemasan-produk-personal-care-bakal-berkonsep-refill/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tekan-sampah-kemasan-produk-personal-care-bakal-berkonsep-refill https://www.greeners.co/berita/tekan-sampah-kemasan-produk-personal-care-bakal-berkonsep-refill/#respond Thu, 28 Jul 2022 05:49:49 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=36870 Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) akan mengeluarkan peraturan terkait bisnis refill atau isi ulang pada sektor kosmetika khususnya produk […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) akan mengeluarkan peraturan terkait bisnis refill atau isi ulang pada sektor kosmetika khususnya produk personal care. Pemerintah ingin menumbuhkan inovasi bisnis sebagai solusi nyata mengurangi sampah plastik.

Kasubdit Tata Laksana Produsen Direktorat Pengurangan Sampah KLHK Ujang Solihin Sidik mengatakan, sampah kemasan plastik yang produsen hasilkan jadi perhatian pemerintah. Sebab sampah tersebut berdampak buruk terhadap lingkungan.

“Kami KLHK menyambut baik peraturan ini. Sekarang peraturannya masih disiapkan. Produk kosmetika ini lebih ke sampo, sabun yang bersifat personal care dan kerap kali masyarakat gunakan,” Kata Ujang di sela-sela acara Kosultasi Publik Pembatasan Penggunaan Plastik Sekali Pakai pada Jasa Layanan Antar Makanan dan Minuman di Provinsi DKI Jakarta, Rabu (27/7).

Menurut Uso panggilan akrabnya, peraturan ini bukan menargetkan pengenaan denda dan sanksi pada produsen kemasan plastik. Akan tetapi, bertujuan untuk menumbuhkan ekosistem model bisnis baru untuk mengurangi kemasan plastik.

“Termasuk untuk menjamin keamanan dari para konsumen dan produsen untuk melakukan bisnis refill karena sudah ada aturannya,” imbuhnya.

Peraturan ini, sambung Uso juga memuat standardisasi sistem bisnis refill, termasuk menjamin aspek kebersihan, keamanan agar tidak mencemari lingkungan. “Harapannya masyarakat lebih aman dan nyaman memakai produk refill karena sudah dilindungi pemerintah,” ucapnya.

Inovasi Produk Refill Batasi Timbulan Sampah

Mengacu pada Peraturan Menteri LHK Nomor 75 Tahun 2019 Tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen, ada kewajiban produsen dalam menerapkan 3R. Adapun R1 yaitu pembatasan timbulan sampah misalnya melalui inovasi produk refill. R2 yaitu mendaur ulang sampah dan R3 yaitu pemanfaatan kembali sampah.

Uso menekankan, pentingnya pembatasan timbulan sampah, salah satunya melalui inovasi refill. Pertimbangannya yaitu dampak ke lingkungannya sangat kecil.

Uso berharap, Permen LHK No 75 Tahun 2019 tak menjadi beban bagi produsen. Tapi justru membuka peluang dan tantangan untuk membangun bisnis yang bertanggungjawab terhadap lingkungan.

Hingga Mei 2022, sudah ada 145 pelaku usaha yang fokus pada pengurangan dan penanganan sampah di Indonesia. Berbagai bentuk usaha tersebut misalnya toko curah, bisnis refill, bisnis reuse, waste collector, serta inovasi pengganti plastik kemasan.

Di samping itu, produsen juga harus memberikan alternatif pada konsumen. “Termasuk dengan refill ini sehingga konsumen diberikan berbagai alternatif pilihan dan secara tak langsung kita mendidik mereka,” paparnya.

Pameran Sampah Plastik Ecoton

Selain bermuara ke sungai, sampah plastik tanpa kelola bermuara ke laut dan ancam biota perairan. Foto: Greeners

Plastik Berkontribusi Pada Krisis Iklim

Sementara itu dalam talkshow Konsultan PR3 Tiza Mafira menyatakan, plastik tak sekadar berdampak mencemari lingkungan, tapi berkontribusi pada krisis iklim. Berdasarkan laporan The Pew Charitable Trust, reuse (new delivery model) mampu menghemat uang hingga US$ 516 per metrik ton plastik dan menghemat hingga US$ 1.289 per metrik ton plastik untuk reuse (customer).

Sebaliknya, penggunaan kertas lebih boros karena produsen harus menambah pengeluaran hingga US $ 1.945 per metrik ton plastik.

Tiza juga menekankan pentingnya standardisasi untuk bisnis guna ulang atau reuse ini, termasuk aspek kebersihan wadahnya, label, hingga kebutuhan bentuk kontainernya. “Untuk memastikan keselarasan standar PR3 dengan peraturan terkait maka PR3 telah melaksanakan audiensi dengan berbagai lembaga termasuk BPOM,” katanya.

Koordinator Nasional Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) Rahyang Nusantara dalam kesempatan itu menyebut, Pemprov DKI Jakarta telah meluncurkan Program Guna Ulang Jakarta. Upaya ini untuk mencapai target pengurangan plastik sebesar 30 % pada tahun 2025.

“Tujuan program ini adalah untuk mewujudkan ekosistem yang bisa mendukung gaya hidup guna ulang di Jakarta dan mengurangi plastik sekali pakai,” imbuhnya.

Rahyang mengungkap, kesadaran dan kepedulian masyarakat meningkat untuk mengubah perilaku secara bertahap dengan reuse.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/tekan-sampah-kemasan-produk-personal-care-bakal-berkonsep-refill/feed/ 0
Kreis Cup, Wadah Inovatif dari Limbah Ampas Kopi https://www.greeners.co/ide-inovasi/kreis-cup-wadah-inovatif-dari-limbah-ampas-kopi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kreis-cup-wadah-inovatif-dari-limbah-ampas-kopi https://www.greeners.co/ide-inovasi/kreis-cup-wadah-inovatif-dari-limbah-ampas-kopi/#respond Thu, 07 Jul 2022 04:00:49 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=36648 Berapa kali Sobat Greeners meminum kopi setiap harinya? Kopi merupakan salah satu minuman favorit dunia termasuk masyarakat Indonesia. Tidak heran, karena menurut Departemen Pertanian Amerika Serikat, Indonesia menempati peringkat keempat […]]]>

Berapa kali Sobat Greeners meminum kopi setiap harinya? Kopi merupakan salah satu minuman favorit dunia termasuk masyarakat Indonesia. Tidak heran, karena menurut Departemen Pertanian Amerika Serikat, Indonesia menempati peringkat keempat sebagai negara produsen kopi terbesar di dunia.

Karena kepopulerannya, kopi menghasilkan berton-ton limbah ampas kopi secara global. Dengan beberapa inovasi, limbah ampas kopi dapat dimanfaatkan kembali seperti menjadi kompos atau bahan dasar masker wajah dan badan. Namun berbeda dari yang lain, Ricardo dan Daniela pasangan suami istri pencinta kopi ini menciptakan produk dari limbah kopi, yaitu Kreis Cup.

Bersama dengan tim, yang terdiri dari profesional desain produk, teknik dan manufaktur, yang telah bekerja sama dengan distributor kopi, Ricardo dan Daniela membangun produk berkelanjutan. Dengan tim tersebut mereka berhasil menciptakan solusi inovatif untuk limbah kopi dalam beberapa bulan pengembangan.

Kreis Cup adalah alternatif dari cangkir kertas sekali pakai dan bertujuan untuk meringankan beban lingkungan dengan mengolah kembali ampas kopi bekas. Inovasi ini terbuat dari bubuk kopi bekas dan bahan nabati.

Karena itu produk ini bebas dari plastik berbahan dasar minyak bumi atau zat berbahaya lainnya. Produk ini bersifat guna ulang, dapat didaur ulang dan berkelanjutan. Bahkan dapat bertahan dengan masa pakai yang lama, yakni bertahun-tahun.

“Kami mendaur ulang jutaan ton limbah kopi yang hanya berakhir di tempat sampah. Apabila tidak terkelola, sampah tersebut akan banyak menimbulkan masalah lingkungan seperti produksi gas rumah kaca dan air lindi,” ujar Ricardo dan Daniela.

Tidak Hanya Alami, Kreis Cup Memberikan Banyak Keuntungan

Untuk membuat Kreis Cup, Ricardo dan Daniela mengumpulkan ampas kopi dari kedai kopi lokal, restoran, kantor dan hotel. Dengan berbahan dasar 30 % ampas kopi membuat cup ini memiliki aroma alami kopi. Karena memiliki aroma kopi, hal ini membuat produk tersebut hanya dapat konsumen gunakan sebagai wadah kopi saja.

Selain dapat meringankan beban lingkungan, cup ini juga menghadirkan beberapa kelebihan yang dapat menguntungkan konsumen. Wadah tersebut lebih ringan, tidak mudah pecah, tahan pada suhu panas serta dapat mempertahankan suhu kopi panas atau dingin lebih lama.

Produk Kreis Cup muncul dengan dua versi, yaitu Kreis Travel Cup berukuran 415 ml dan Kreis Latte Cup 335 ml. Keduanya tidak mudah pecah, sehingga cocok untuk penggunaan sehari-hari atau komersial. Setelah masa pakainya berakhir, Kreis Cup dapat sepenuhnya terurai ke dalam tanah tanpa meninggalkan apapun.

Penulis: Zahra Shafira

Sumber:

Kickstarter

Yanko Design

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/kreis-cup-wadah-inovatif-dari-limbah-ampas-kopi/feed/ 0