produk mode - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/produk-mode/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sun, 06 Oct 2019 08:21:00 +0000 id hourly 1 Tommy Hilfiger Hadirkan Pakaian Ramah Disabilitas https://www.greeners.co/gaya-hidup/tommy-hilfiger-hadirkan-pakaian-ramah-disabilitas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tommy-hilfiger-hadirkan-pakaian-ramah-disabilitas https://www.greeners.co/gaya-hidup/tommy-hilfiger-hadirkan-pakaian-ramah-disabilitas/#respond Mon, 29 Jan 2018 09:02:54 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=19902 Perusahaan mode ternama Tommy Hilfiger tergerak untuk meringankan beban para penyandang disabilitas. Ia ingin mereka bisa mengekspresikan diri lewat mode.]]>

Aktivitas seperti mengancingkan baju dan menutup ritsleting celana mungkin bukan kegiatan yang sulit. Tapi bagi para penyandang disabilitas, hal-hal yang terlihat sederhana seperti mengenakan pakaian bukanlah hal yang bisa dilakukan dengan mudah. Bahkan untuk mengancingkan pakaian saja, banyak dari mereka yang harus mengandalkan bantuan dari orang lain. Akibatnya, para penyandang disabilitas akan mengalami kesulitan untuk bisa hidup secara mandiri.

Melihat fenomena ini, perusahaan mode ternama Tommy Hilfiger tergerak untuk meringankan beban para penyandang disabilitas. Setelah sukses menghadirkan koleksi pakaian ramah disabilitas bagi anak-anak di tahun 2016 lalu, kini Tommy Hilfiger hadir kembali dengan menghadirkan koleksi pakaian ramah disabilitas bagi orang dewasa. Koleksi yang dipromosikan secara resmi pada bulan Oktober 2017 ini menghadirkan pakaian ramah disabilitas dalam 37 model untuk pria dan 34 model untuk wanita.

“Melalui koleksi terbaru ini, kami ingin menyemangati mereka (orang dewasa dengan keterbatasan fisik) supaya lebih percaya diri dalam mengekspresikan diri mereka lewat mode,” tutur Tommy Hilfiger seperti dilansir dari Huffingtonpost.

tommy hilfiger

Foto: Tommy Hilfiger via huffingtonpost.com

Dalam koleksi terbarunya, Tommy menghadirkan pakaian ramah disabilitas dengan gaya khas Tommy Hilfiger: sporty, sederhana, dan juga terkesan maskulin. Tak lupa berbagai warna khas Tommy Hilfiger seperti merah, putih, dan biru juga tampil mendominasi dalam koleksi pakaian tersebut. Berbagai jenis pakaian seperti jaket, sweater, blus, celana, hingga one piece dress dirancang secara khusus dalam koleksi ini. Yang terpenting, seluruh pakaian tersebut bisa digunakan hanya dengan menggunakan satu tangan.

Karena bersifat ramah disabilitas, tentunya seluruh pakaian yang dirancang oleh Tommy Hilfiger tidak menggunakan ritsleting dan kancing tradisional. Guna memudahkan para penyandang disabilitas, Tommy Hilfiger menggunakan ritsleting magnetik dan Velcro. Selain itu, merek fesyen asal Amerika Serikat tersebut juga menghadirkan koleksi celana yang memiliki bukaan dalam ukuran besar, sehingga dapat dikenakan oleh seseorang yang menggunakan alat bantu jalan dengan mudah.

Selain ingin membantu para penderita disabilitas, kehadiran koleksi pakaian ramah disabilitas juga diharapkan Tommy dapat membawa angin baru dalam dunia fesyen. Tommy ingin menjadi pionir bagi perusahaan-perusahaan fesyen besar lainnya untuk mengeluarkan koleksi khusus bagi para penyandang tuna daksa.

“Pakaian yang dirancang khusus bagi para penyandang disabilitas masih sangat sulit untuk ditemui, padahal di dunia ini ada banyak orang yang mengalami keterbatasan fisik. Diharapkan di kemudian hari akan ada desainer lain yang mau mengikuti jejak Tommy Hilfiger,” ujarnya.

Penulis: Anggi Rizky Firdhani

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/tommy-hilfiger-hadirkan-pakaian-ramah-disabilitas/feed/ 0
Pleasemachine, Bangga Ciptakan Sepatu dari Kain Bekas https://www.greeners.co/gaya-hidup/pleasemachine-bangga-ciptakan-sepatu-kain-bekas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pleasemachine-bangga-ciptakan-sepatu-kain-bekas https://www.greeners.co/gaya-hidup/pleasemachine-bangga-ciptakan-sepatu-kain-bekas/#respond Tue, 23 Jan 2018 05:03:41 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=19867 Anna Zabeova, seniman sekaligus desainer asal Rusia, berhasil menciptakan sepatu yang unik dan nyentrik dari kain bekas.]]>

Tidak selamanya sepatu yang bagus harus terbuat dari bahan-bahan yang mahal seperti kulit hewan ataup bludru. Anna Zabeova, seniman sekaligus desainer asal Rusia, berhasil menciptakan sepatu yang unik dan nyentrik dari kain bekas. Sepatu merek Pleasemachine tersebut diciptakan Anna pertama kali pada tahun 2008 silam. Dalam proses pembuatannya, Anna menggunakan bermacam-macam jenis kain bekas seperti kain karpet bekas, syal sutra bekas, pakaian bekas, tas kulit bekas, dan lain sebagainya.

Untuk mendapatkan bahan-bahan baku berupa kain bekas, Anna menjelajahi berbagai tempat seperti toko-toko vintage hingga tempat penampungan sampah. Saat melakukan proses pengumpulan kain bekas, Anna mengaku merasa bangga karena dapat memberikan kehidupan kedua pada kain-kain bekas yang nyaris bernasib menjadi sampah tersebut.

“Mengumpulkan kain bekas untuk dijadikan bahan baku bagi sepatu yang akan saya ciptakan merupakan bentuk dari rasa hormat yang saya berikan kepada para desainer dari kain-kain tersebut. Selain itu, menggunakan kain bekas juga merupakan bentuk dari rasa terima kasih saya terhadap orang-orang yang telah bekerja keras membuat kain tersebut. Meksi sepatu yang saya buat terbuat dari bahan-bahan bekas, saya merasa sangat bangga,” ungkap Anna seperti dilansir Eluxemagazine.com.

pleasemachine

Anna Zabeova menciptakan sepatu yang unik dan nyentrik dari kain bekas. Foto: hungarian-success-stories.com

Pleasemachine sendiri memiliki slogan yang berbunyi “We Are Crazy, Cool, and Colorful”. Sesuai dengan slogannya, Pleasemachine memang menghadirkan sepatu dengan model yang simpel namun nyentrik, unik, dan penuh warna. Seluruh koleksi sepatu dirancang seunik mungkin karena Anna menganggap sepatu merupakan “pelampiasan” bagi dirinya untuk bersenang-senang dengan seni.

“Saya lebih suka membuat sepatu yang sederhana, otentik, namun tetap ekspresif. Membuat sepatu merupakan kegiatan yang perlu dilakukan dengan penuh cinta dan penuh semangat,” tulis Anna dalam situs resmi Pleasemachine.

Koleksi sepatu yang dihadirkan oleh Pleasemachine terdiri dari bermacam-macam jenis seperti flat shoes, sepatu boots, slip on, chelsea boots, dan chunky heels. Koleksi sepatu Pleasemachine diciptakan dengan tujuan untuk menampilkan keindahan yang tersembunyi dari kain-kain bekas, sehingga seluruh kain bekas yang telah disulap menjadi sepatu tidak mengalami proses pewarnaan ulang. Motif asli dari kain bekas juga sengaja dibiarkan utuh, dan hal itulah yang membuat sepatu Pleasemachine terlihat unik.

pleasemachine

Foto: pleasemachine.me

Sama seperti slogan Pleasemachine, sepatu yang dihadirkan oleh mereka memang memiliki warna yang meriah dan bentuk yang cukup unik. Pleasemachine bahkan memiliki koleksi sepatu yang berbentuk seperti gabungan antara sepatu kets dengan sepatu boots. Kebanyakan, koleksi sepatu Pleasemachine memiliki warna-warna cerah seperti hijau, biru, atau merah. Selain itu, motif antara sepasang sepatu biasanya berbeda satu sama lain. Maka jangan kaget bila kita melihat sepatu bagian kiri memiliki motif yang berbeda dengan sepatu bagian kanan. Unik bukan?

Tak hanya unik, sepatu Pleasemachine juga eksklusif. Anna sengaja menciptakan sepatu-sepatu koleksinya dalam jumlah terbatas untuk menjaga tingkat keeksklusifan produknya.

Penulis: ARF/G42

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/pleasemachine-bangga-ciptakan-sepatu-kain-bekas/feed/ 0
Aerochromics, Kaus yang Berubah Warna Saat Terkena Polusi Udara! https://www.greeners.co/gaya-hidup/aerochromics-kaus-berubah-warna-saat-terkena-polusi-udara/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=aerochromics-kaus-berubah-warna-saat-terkena-polusi-udara https://www.greeners.co/gaya-hidup/aerochromics-kaus-berubah-warna-saat-terkena-polusi-udara/#respond Sat, 20 Jan 2018 09:28:44 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=19858 Kaus yang diberi nama Aerochromics ini diciptakan untuk memberi tahu pemakainya tentang kualitas udara di kota mereka.]]>

Tingkat polusi udara di lingkungan sekitar kita nampaknya sering dianggap remeh, kita tidak tahu apakah udara yang kita hirup ini tercemar polusi atau tidak. Pasalnya, polusi udara seringkali tak kasat mata, dan bahkan udara yang kelihatannya bersih sekalipun belum tentu bebas dari polusi. Terkait masalah polusi udara ini, seorang designer bernama Nikolas Gregory Bentel, terinspirasi untuk membuat pakaian yang dapat mendeteksi tingkat polusi udara.

aerochromics

Kaus Aerochromics rancangan Nikolas Gregory Bentel menggunakan pewarna Aerochromic dan dilengkapi dengan sensor untuk mendeteksi polusi udara di sekitarnya.
Foto: aerochromics.com

Seperti yang dilansir pada The Verge, kaus yang diberi nama Aerochromics ini diciptakan untuk memberi tahu pemakainya tentang kualitas udara di kota mereka. “Mengetahui apakah udara di daerah perkotaan aman harus menjadi pengetahuan umum,” ujar Bentel, pendiri Aerochromics. “Pakaian yang benar-benar berubah warna memungkinkan orang-orang di sekitar pengguna juga menyadari lingkungan sekitar mereka,” tambahnya.

Kaus Aerochromics ini dibuat sesuai dengan namanya karena pakaian ini dibuat dengan bahan kaus Aerochromic. Dengan menggunakan pewarna Aerochromic, warna kain pada pakaian ini akan berubah dari hitam ke putih pada 60 AQI (Air Quality Index). Pola pakaian itu benar-benar terungkap secara keseluruhan pada 160 AQI. Selain itu pakaian ini dibuat dengan menggunakan bahan dasar 100% kain katun yang tentunya aman dan nyaman untuk dipakai.

aerochromics

Foto: aerochromics.com

Cara kerja kaus Aerochromics ini cukup rumit. Pakaian yang mendeteksi polusi partikel ini memiliki dua sensor kecil, satu di bagian depan dan satu di belakang. Saat polusi partikel terdeteksi, pakaian ini mengaktifkan bantalan panas yang mengubah titik putih menjadi hitam. Ketika melakukan kontak dengan karbon monoksida, pakaian ini akan memulai reaksi dengan bahan kimia dalam pewarna pakaian untuk mengubah garis hitamnya menjadi putih.

Sejauh ini kaus Aerochromics memiliki tiga jenis pola untuk pakaian model kaus lengan panjang dan harga satuan dari kaus ini yaitu 500 dolar. Mengingat harga kaus ini tergolong mahal, Bentel berharap pengguna kaus rancangannya dapat membangun kesadaran akan bahaya polusi udara dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis: DS/G43

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/aerochromics-kaus-berubah-warna-saat-terkena-polusi-udara/feed/ 0
Jangan Salah, Liontin Ini Ternyata Pot Tanaman! https://www.greeners.co/gaya-hidup/jangan-salah-liontin-ternyata-pot-tanaman/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jangan-salah-liontin-ternyata-pot-tanaman https://www.greeners.co/gaya-hidup/jangan-salah-liontin-ternyata-pot-tanaman/#respond Thu, 11 Jan 2018 13:13:30 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=19795 Menanam tanaman lazimnya dilakukan di pekarangan rumah ataupun di dalam pot. Namun kini, kita bisa lho menanam tanaman di dalam liontin!]]>

Menanam tanaman lazimnya dilakukan di pekarangan rumah ataupun di dalam pot. Namun tahukah kamu bahwa saat ini kita bisa menanam tanaman di dalam liontin?

Jika biasanya kalung memiliki hiasan berupa liontin yang terbuat dari emas ataupun perak, seorang desainer bernama Colleen Jordan justru melakukan hal yang tidak biasa. Bosan dengan desain kalung yang terkesan itu-itu saja, Colleen menghadirkan kalung dengan liontin yang berbentuk pot tanaman mini! Kalung yang diberi nama Wearable Planter tersebut diciptakan pertama kali oleh Colleen pada tahun 2011 silam.

“Sewaktu saya masih menjadi mahasiswi jurusan desain industri, saya selalu mencoba untuk merancang sesuatu yang memungkinkan seseorang untuk selalu membawa tanaman kemanapun mereka pergi. Saya membayangkan seandainya saja tanaman bisa tumbuh di kerah baju. Setelah melalui beberapa proses, akhirnya tercetuslah ide untuk membuat kalung dengan hiasan pot mini ini,” tutur Colleen seperti dilansir dari Etsy.

liontin ini ternyata pot

Foto: www.etsy.com/shop/wearableplanter

Colleen menghadirkan tali kalung Wearable Planter dengan tiga variasi bahan, yakni perak, nilon, dan juga kulit. Dalam proses pembuatan kalung, Colleen memadukan teknik digital serta manual. Pot mini yang menjadi liontin dari kalung Wearable Planter dibuat dengan menggunakan mesin cetak tiga dimensi (3D printer), sedangkan sisanya diproses secara manual dengan menggunakan tangan. Pot mini tersebut dibuat dengan teliti dan bermaterialkan plastik yang kuat.

Desain liontin pot mini yang dirancang oleh Colleen terlihat begitu sederhana namun tetap modern. Liontin pot mini tersebut hadir dalam beberapa bentuk, seperti elips ala vas bunga klasik dan berbentuk geometris. Dihiasi dengan warna-warna menarik seperti cobalt blue, merah muda, dan hijau muda, liontin pot mini tersebut terlihat begitu cantik bila dipadukan dengan tali kalung yang sederhana.

liontin ini ternyata pot

Foto: www.etsy.com/shop/wearableplanter

Dalam pot mini tersebut kita bisa menanam tanaman asli seperti tanaman sukulen dan tanaman bunga. Menanam tanaman di dalam pot mini dapat dilakukan dengan cara yang sama seperti kita menanam tanaman pada pot biasa, namun dalam ukuran yang jauh lebih kecil. Menjadikan tanaman hidup sebagai aksesoris yang cantik, rasanya unik sekali bukan?

Tak hanya menghadirkan koleksi kalung berhiaskan pot mini, Colleen juga menghadirkan aksesori berhiaskan pot mini lainnya. Colleen juga menghadirkan koleksi bros dan hiasan untuk sepeda yang tidak kalah cantiknya dengan kalung Wearable Planter.

Penulis: ARF/G42

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/jangan-salah-liontin-ternyata-pot-tanaman/feed/ 0
Tahun 2018, Gucci Tidak Lagi Menggunakan Bulu Hewan https://www.greeners.co/gaya-hidup/tahun-2018-gucci-tidak-menggunakan-bulu-hewan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tahun-2018-gucci-tidak-menggunakan-bulu-hewan https://www.greeners.co/gaya-hidup/tahun-2018-gucci-tidak-menggunakan-bulu-hewan/#respond Tue, 14 Nov 2017 11:44:24 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=19345 Perusahaan fesyen terkemuka asal Italia, Gucci, baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka tidak lagi menggunakan material hewani berupa bulu hewan dalam koleksi mereka. Langkah ini akan dimulai pada awal musim semi tahun 2018 mendatang.]]>

Perusahaan fesyen terkemuka asal Italia, Gucci, baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka tidak lagi menggunakan material hewani berupa bulu hewan dalam koleksi mereka. Gucci akan memulai langkah tersebut pada awal musim semi tahun 2018 mendatang. Setelah secara resmi bergabung dengan Fur Free Alliance, Gucci berencana untuk melelang seluruh koleksi produk fesyen berbahan bulu hewan yang masih tersisa. Hal tersebut diungkapkan oleh Marco Bizzari, CEO dan Presiden Gucci di London pada tanggal 11 Oktober kemarin.

“Langkah ini kami ambil karena kami telah berkomitmen untuk membuat bisnis mode yang berkelanjutan dan beretika. Bertanggung jawab secara sosial adalah salah satu nilai inti dari Gucci, dan kami akan terus berusaha untuk berbuat lebih baik kepada lingkungan dan hewan,” ungkap Marco seperti dilansir dari Telegraph.

bulu hewan

Jaket boomber koleksi Gucci ini menggunakan bulu kelinci dan bulu cerpelai. Foto: www.gucci.com

Tahun 2015 lalu Gucci sempat menuai kontroversi karena telah membuat koleksi alas kaki yang terbuat dari bulu kanguru. Namun saat ini, mereka memutuskan untuk tidak ingin lagi mengeksploitasi hewan hanya demi kepentingan fesyen semata. Kebijakan Gucci untuk menerapkan konsep fur-free disambut baik dan didukung oleh The Humane Society of The United States, sebuah organisasi yang bergerak dalam bidang perlindungan hewan.

bulu hewan

Gucci membuat jaket ini dari bulu domba, cerpelai, dan murmel. Foto: www.gucci.com

Selain ingin menjadi perusahaan fesyen yang beretika dan ramah terhadap lingkungan serta hewan, Gucci juga memiliki alasan lainnya. Meski terlihat mewah dan elegan bagi sebagian orang, nyatanya tren busana berbahan bulu hewan sudah kelihatan begitu kuno dan outdated. Pakaian yang elegan tidak selamanya harus terbuat dari bahan-bahan yang bersifat “limited edition” seperti bulu hewan.

“Apakah pakaian yang terbuat dari bulu hewan saat ini masih terlihat modern? Saya pikir tidak. Pakaian yang terbuat dari bulu hewan sudah ketinggalan zaman, dan itu salah satu alasan mengapa kami tidak ingin lagi menghadirkan koleksi fesyen yang terbuat dari bulu hewan. Masih banyak cara lain yang dapat kita lakukan untuk membuat koleksi yang elegan dan kreatif tanpa harus menggunakan bulu hewan,” papar Marco.

Selama ini, Gucci telah memproduksi cukup banyak koleksi busana yang terbuat dari bulu hewan. Hewan yang biasa mereka gunakan adalah kelinci, alpaca, kambing, hingga cerpelai. Kebanyakan, bulu-bulu tersebut dijadikan koleksi pakaian berupa jaket ataupun mantel. 

Penulis: Anggi Rizky Firdhani

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/tahun-2018-gucci-tidak-menggunakan-bulu-hewan/feed/ 0
Dari Sampah Plastik ke Eco-fashion https://www.greeners.co/gaya-hidup/sampah-plastik-eco-fashion/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sampah-plastik-eco-fashion https://www.greeners.co/gaya-hidup/sampah-plastik-eco-fashion/#respond Sat, 23 Sep 2017 11:33:57 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=18778 Trisa Cheeny adalah seorang sarjana yang baru lulus dari Maryland Institute College of Art dengan bidang studi patung antardisiplin. Ia merancang Palemer untuk menantang dunia fashion dan mengurangi sampah dari konsumen.]]>

Trisa Cheeny adalah seorang sarjana yang baru lulus dari Maryland Institute College of Art dengan bidang studi patung antardisiplin. Trisa menciptakan produk tas yang unik. Keunikannya terletak pada bahan yang ia gunakan.

Tas yang dia pakai terbuat dari plastik, begitu juga barang-barang lain yang dia ciptakan sendiri. Dalam waktu dekat Trisha akan meluncurkan merk Palemer, sebuah merk pakaian dan aksesoris yang semua bahannya berasal dari kantong plastik bekas dan bahan daur ulang lainnya. Trisha merancang Palemer untuk menantang dunia fashion dan mengurangi sampah dari konsumen.

sampah plastik

Foto: inhabitat.com

Beberapa produk yang sudah diciptakan Palemer diantaranya adalah jaket untuk musim dingin yang terbuat dari 214 buah kantong plastik bekas dan memakai insulasi yang terbuat wol bulu domba bekas. Dia juga menciptakan jaket penahan angin yang terbuat dari 90 buah kantong plastik bekas. Untuk tasnya sendiri, dia membuatnya dari sekitar 80 kantong belanja bekas sehingga lebih kuat.

sampah plastik

Foto: inhabitat.com

Planet kita sedang menghadapi perubahan yang besar sehingga kita juga dituntut untuk membuat perubahan besar dan Palemer ditujukan sebagai usaha kita untuk mengubah cara kita menggunakan sumberdaya dan sampah yang kita hasilkan.

Saat ini kita memproduksi dan memakai sekitar satu triliun kantong plastik sekali pakai tiap tahunnya. Menurut Earth Policy Insitute, itu berarti sekitar 2 juta kantung plastik tiap menit. Ini berarti Palemer tidak akan kekurangan bahan untuk produk-produknya.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/sampah-plastik-eco-fashion/feed/ 0
Gunagoni, Karung Goni yang “Naik Kelas” https://www.greeners.co/gaya-hidup/gunagoni-karung-goni-naik-kelas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=gunagoni-karung-goni-naik-kelas https://www.greeners.co/gaya-hidup/gunagoni-karung-goni-naik-kelas/#respond Tue, 05 Sep 2017 08:03:15 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=18472 Koleksi tas dari Gunagoni terlihat begitu natural dan sederhana. Tidak ada penambahan warna, tidak ada pernak-pernik berlebihan yang tersemat, serta tidak ada motif yang rumit. Semua terlihat begitu apa adanya.]]>

Unik, nyentrik, dan lain daripada yang lain adalah kesan pertama yang akan kita dapatkan ketika melihat koleksi tas dari Gunagoni. Koleksi tas dari Gunagoni terlihat begitu natural dan sederhana. Tidak ada penambahan warna, tidak ada pernak-pernik berlebihan yang tersemat, serta tidak ada motif yang rumit. Semua terlihat begitu apa adanya.

Gunagoni merupakan sebuah brand lokal asal Sleman, Yogyakarta, yang berfokus pada produk fesyen berbahan dasar karung goni. Gunagoni didirikan oleh Andreas Bimo Wijoseno pada tahun 2014.

karung goni

Foto: Gunagoni

Kisah diciptakannya Gunagoni bermula pada saat Andreas sedang pergi ke pasar tradisional, dan di sana ia melihat banyak sampah karung goni. Tidak berpikir panjang, sampah karung goni tersebut dibeli oleh Andreas tanpa tahu harus dijadikan apa setelahnya. Setelah itu, salah satu kerabat Andreas menyarankan untuk membuat tas dari karung goni.

“Saat itu ada teman saya yang nyentrik menggunakan tas dari karung goni, dan tasnya rusak. Saya ditantang oleh teman saya untuk memperbaiki tas itu, padahal saya sebenarnya tidak bisa menjahit. Ternyata saya bisa memperbaiki tas teman saya. Lalu teman saya menyarankan saya untuk mengubah karung goni tersebut menjadi tas. Saya pun mulai mencoba membuat tas dari karung goni sendiri. Awalnya hanya membuat pola tas yang ‘lurus-lurus’ saja, berbentuk kotak saja, jadi deh,” ujar Andreas saat dihubungi oleh Greeners melalui telepon, Senin (28/08).

“Karung goni itu kan sangat kuat, mudah terurai dan awet sekali. Sayang kalau hanya berakhir menjadi sampah, mengapa tidak diolah saja? Saya mendayagunakan sampah goni menjadi berguna kembali sebagai bentuk terima kasih saya terhadap Bumi,” ujarnya menambahkan.

karung goni

Foto: Gunagoni

Gunagoni merupakan usaha rumah tangga, dimana seluruh produk Gunagoni hanya dikerjakan oleh Andreas, istri, dan anak-anaknya. Seluruh tas Gunagoni dikerjakan secara manual, mulai dari proses mencuci, menjahit, hingga proses finishing. Ketika membuat tas Gunagoni, Andreas sengaja tidak ingin menambahkan pewarna, pemutih, ataupun zat pelapis. Aksen tambahan seperti kancing pun ia buat dari batok kelapa. Semua dibiarkan alami karena Andreas tidak ingin menambah sampah baru ketika memproduksi tas Gunagoni.

Tas Gunagoni hadir dalam bentuk tas selempang dan ransel dengan warna asli karung goni, yaitu coklat. Gunagoni juga mengeluarkan produk lain berupa topi, pouch, dan sampul buku.

Meski terbuat dari karung goni bekas, koleksi Gunagoni tetap terlihat “kekinian” dalam model yang simpel. Andreas mengaku banyak pembelinya berasal dari luar Sleman yang sengaja datang ke tempatnya untuk mendapatkan tas karung goni tersebut. Melalui Gunagoni, Andreas berhasil membuat karung goni menjadi “naik kelas” dan digemari banyak orang.

“Meskipun banyak konsumen yang ngomel karena produk saya tidak diwarnai lah, tidak diberi lapisan lah, saya sih cuek saja. Saya mendirikan Gunagoni toh bukan hanya untuk jualan, tapi juga sebagai bukti cinta kasih saya terhadap Bumi,”pungkasnya.

Penulis: Anggi Rizky Firdhani

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/gunagoni-karung-goni-naik-kelas/feed/ 0
Two Guys Bow Tie Hadirkan Koleksi Dasi Kupu-Kupu dari Kayu Bekas https://www.greeners.co/gaya-hidup/two-guys-bow-tie-hadirkan-koleksi-dasi-kupu-kupu-kayu-bekas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=two-guys-bow-tie-hadirkan-koleksi-dasi-kupu-kupu-kayu-bekas https://www.greeners.co/gaya-hidup/two-guys-bow-tie-hadirkan-koleksi-dasi-kupu-kupu-kayu-bekas/#respond Sat, 01 Jul 2017 10:09:57 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=17523 Two Guys Bow Tie melakukan gebrakan baru dalam dunia fesyen terhadap dasi kupu-kupu. Mereka membuat sesuatu yang belum pernah dibuat sebelumnya, yaitu dasi kupu-kupu yang terbuat dari kayu bekas.]]>

Dasi kupu-kupu atau bow tie merupakan aksesoris yang biasa dikenakan oleh pria pada saat menghadiri acara formal. Selain karena bentuknya yang unik, dasi kupu-kupu juga sering dikenakan oleh pria karena dapat menggambarkan status sosial yang tinggi, lho.

Dasi kupu-kupu yang identik dengan kesan glamor dan formal nampaknya terlalu ‘kaku’ dan terlihat membosankan. Namun, segera hilangkan anggapan tersebut karena Two Guys Bow Tie mampu melakukan gebrakan baru dalam dunia fesyen terhadap dasi kupu-kupu. Mereka membuat sesuatu yang belum pernah dibuat sebelumnya, yaitu dasi kupu-kupu yang terbuat dari kayu bekas!

“Kita telah membuat banyak benda dari kayu, namun kami ingin membuat sesuatu yang baru yang dapat kami kenakan. Tentunya juga terbuat dari kayu,” ucap Adam Teague dan Tim Paslay, pendiri Two Guys Bow Tie, dilansir dari Ecouterre.com.

two guys bow tie

Foto: Two Guys Bow Tie via Ecouterre.com

Two Guys Bow Tie merupakan sebuah label fesyen asal Oklahoma yang didirikan pada tahun 2012. Two Guys Bow Tie memiliki keinginan untuk mengubah citra dasi kupu-kupu yang terlihat kuno dan ‘itu-itu saja’ menjadi lebih stylish. Mereka pada akhirnya menciptakan dasi kupu-kupu yang terbuat dari kayu bekas. Selain terlihat lebih unik, dasi ini ramah lingkungan dan mudah untuk dikenakan.

“Dasi kupu-kupu Two Guys Bow Tie dibuat secara handmade dan terbuat dari kayu-kayu eksotis seperti zebrawood, oak, maple, bambu, dan masih banyak lagi. Kami membuat dasi kupu-kupu dari kayu bekas yang berasal dari lantai kayu bekas, meja bekas, dan kursi yang sudah tidak digunakan,” tulis Two Guys Bow dalam situs resmi mereka.

Two Guys Bow Tie memiliki 3 jenis koleksi dasi kupu-kupu, yaitu basic, premium, dan limited edition, tergantung dari jenis kayu yang digunakan dan kerumitan desain. Setiap dasi kupu-kupu memiliki berat sekitar 42 gram dan dilengkapi dengan tali fleksibel yang ukuranya dapat disesuaikan. Setiap kayu yang dibentuk menjadi dasi kupu-kupu dihaluskan dan dipoles dengan lapisan khusus supaya dasi tersebut memiliki daya tahan yang lama.

Two Guys Bow Tie mendesain dasi kupu-kupu mereka dengan berbagai motif seperti polkadot, garis, kotak-kotak, zig-zag, hingga motif skyline yang diukir dengan begitu detil. Selain itu, mereka juga menghadirkan koleksi dasi kupu-kupu yang memiliki desain original alias tetap menampilkan tekstur asli dari kayu. Warna dasi kupu-kupu yang ditawarkan oleh Two Guys Bow Tie kebanyakan tetap menampilkan warna asli kayu seperti coklat, krem, dan hitam.

Setiap dasi kupu-kupu yang dikeluarkan oleh Two Guys Bow Tie dihiasi dengan ‘simpul’ pada bagian tengah dasi. Simpul ini terbuat dari kain katun, sutra, dan satin. Kain tersebut diambil dari dasi yang sudah tidak terpakai. Tak hanya dasi kupu-kupu, Two Guys Bow Tie juga memproduksi produk fesyen berupa bros dan topi fedora, yang tentunya juga terbuat dari kayu bekas.

Penulis: Anggi Rizky Firdhani

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/two-guys-bow-tie-hadirkan-koleksi-dasi-kupu-kupu-kayu-bekas/feed/ 0
Fashion Unplugged, Cara Sony Rambah Mode dengan Limbah Kabel Headphone https://www.greeners.co/gaya-hidup/fashion-unplugged-cara-sony-rambah-mode-limbah-kabel-headphone/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=fashion-unplugged-cara-sony-rambah-mode-limbah-kabel-headphone https://www.greeners.co/gaya-hidup/fashion-unplugged-cara-sony-rambah-mode-limbah-kabel-headphone/#respond Sat, 17 Jun 2017 05:05:00 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=17378 Sony mendaur ulang limbah kabel menjadi travel accessories atau aksesoris untuk bepergian. Produk travel accessories ini dinamakan “Fashion Unplugged”.]]>

Perusahaan elektronik raksasa Sony telah memulai debutnya dalam dunia mode dengan meluncurkan produk berupa travel accessories yang berasal dari limbah kabel headphone. Meningkatnya jumlah limbah kabel headphone dipicu oleh munculnya teknologi headphone nirkabel, sehingga kabel-kabel ini banyak yang tersisa. Sony berusaha untuk mendaur ulang sisa-sisa kabel tersebut menjadi produk yang bermanfaat dan ramah lingkungan.

Untuk mendaur ulang limbah kabel headphone tersebut, Sony memilih produk berupa travel accessories atau aksesoris untuk bepergian sebagai produk hasil daur ulang mereka. Produk berupa travel accessories dipilih oleh Sony karena Sony terinspirasi oleh situasi perjalanan yang identik dengan losing yourself in music. Produk travel accessories ini dinamakan “Fashion Unplugged”.

Peluncuran Fashion Unplugged dilakukan bersamaan dengan peluncuran “H.ear”, sebuah headphone nirkabel terbaru keluaran Sony yang merupakan pasangan dari produk travel accessories tersebut. Untuk membuat produk travel accessories tersebut, Sony bekerja sama dengan Auria, sebuah merek fesyen terkemuka asal London.

fashion unplugged

Foto: ecouterre.com

Untuk produk Fashion Unplugged sendiri, Sony dan Auria mengeluarkan lima macam produk yang didesain secara unik. Produk-produk tersebut adalah sampul paspor, kotak kacamata, tas pantai, casing telepon selular, dan sendal. Seluruh produk tersebut terbuat dari limbah kabel headphone yang panjangnya dapat mencapai hingga 113 meter.

Produk-produk ini menjadi unik selain karena seluruh produk tersebut terbuat dari limbah kabel headphone, produk tersebut juga memiliki warna-warna yang meriah dan memiliki gaya yang modern. Sony dan Auria hanya memilih satu tema warna untuk satu produk, seperti lime yellow untuk sampul paspor, bordeaux pink untuk kotak kacamata, cinnabar red untuk tas pantai, viridian blue untuk casing telepon selular, dan charcoal black untuk sendal.

fashion unplugged

Foto: ecouterre.com

Direktur dan perancang dari Auria, Diana Auria, menyatakan bahwa masing-masing produk Fashion Unplugged memiliki keunikan tersendiri. Misal, sampul paspor sengaja diberi warna lime yellow supaya terlihat menarik dan mudah ditemukan, dan kotak kacamata dirancang dengan desain yang tidak kaku serta diberi warna bordeaux pink supaya tidak terlihat kuno dan membosankan. Selain itu, tas pantai dirancang dengan menggunakan polyvinyl chloride daur ulang yang tahan air dan tali dari tas tersebut terbuat dari limbah kabel headphone yang kuat dan tidak mudah putus.

Dalam melakukan debutnya dalam dunia fesyen, Sony sengaja memilih Auria. Auria dipilih oleh Sony karena merk fesyen tersebut pernah berhasil mendaur ulang jaring ikan menjadi sebuah pakaian renang dan memiliki prinsip sustainale fashion alias fesyen berkelanjutan yang ramah lingkungan.

Diana Auria menyatakan bahwa bekerja sama dengan Sony merupakan suatu hal yang luar biasa karena Sony memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan dan mendukung prinsip sustainable fashion yang dipegang teguh oleh Auria.

Dengan diciptakannya produk travel accessories ini, Sony dan Auria berharap bahwa tingkat pencemaran yang disebabkan oleh limbah kabel dapat berkurang. Selain itu, prinsip sustainable fashion yang ramah lingkungan pun diharapkan akan semakin dikenal dan semakin banyak diterapkan oleh masyarakat.

Penulis: Anggi Rizky Firdhani

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/fashion-unplugged-cara-sony-rambah-mode-limbah-kabel-headphone/feed/ 0
Solusi Norton Point Atas Sampah Plastik Laut: Kacamata Hitam! https://www.greeners.co/gaya-hidup/solusi-norton-point-sampah-plastik-laut-kacamata-hitam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=solusi-norton-point-sampah-plastik-laut-kacamata-hitam https://www.greeners.co/gaya-hidup/solusi-norton-point-sampah-plastik-laut-kacamata-hitam/#respond Thu, 15 Jun 2017 09:25:17 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=17357 Norton Point perusahaan asal Amerika Serikat memiliki misi untuk mengurangi volume sampah plastik di laut. Mereka mengubah sampah plastik laut menjadi kacamata hitam yang keren.]]>

Sampah plastik merupakan salah satu ancaman terbesar bagi laut. Berjuta-juta ton sampah plastik dibuang ke laut setiap tahunnya. Bila tidak ditangani, jumlah sampah plastik akan lebih banyak dibandingkan dengan jumlah ikan di laut pada tahun 2050. Norton Point tidak mau ketinggalan mencari solusi untuk membersihkan laut dari sampah plastik.

Norton Point merupakan perusahaan asal Amerika Serikat yang didirikan pada tahun 2015 oleh Rob Ianelli dan Ryan Schoenka. Perusahaan ini memiliki misi untuk mengurangi volume sampah plastik di laut dan mengubahnya menjadi kacamata hitam yang keren. Bekerja sama dengan The Plastic Bank, Norton Point mengumpulkan sampah plastik dari lautan di Haiti untuk dijadikan bahan baku produk mereka.

kacamata hitam

Foto: nortonpoint.com

Norton Point menawarkan koleksi kacamata hitam dengan tujuh jenis yang berbeda, yaitu The Current, The Swell, The Tide, Whitecap Swell, Bravo, Charlie, dan Zulu. Norton Point menggunakan lensa Polarized CR-39 dengan jenis Blue Mirrored dan Charcoal untuk produk mereka.

Setiap bingkai kacamata dihiasi dengan tekstur ombak (wave pattern). Tak hanya itu, sedikit aksen berwarna biru, merah, dan kuning juga ikut menghiasi bingkai kacamata tersebut. Logo Norton Point yang disematkan pada bagian kanan depan kacamata membuat bingkai kacamata yang terbuat dari 100 persen sampah plastik ini terlihat begitu unik dan menarik.

Selain itu, Norton Point juga menggunakan lensa berkualitas premium yaitu lensa Polarized CR-39 yang bersiat anti gores, anti refleksi, dan memiliki proteksi 100 persen terhadap sinar UVA dan UVB. Secara keseluruhan, kacamata hitam keluaran Norton Point terlihat sporty dan elegan.

kacamata hitam

Foto: nortonpoint.com

Dalam situs resminya, Norton Point menyebutkan bahwa mereka berkomitmen untuk membersihkan satu pon sampah plastik di laut apabila satu produk kacamata hitam mereka laku terjual. Mereka menyebut komitmen ini sebagai “One to One Pledge”. Selain itu, sebesar lima persen dari keuntungan yang mereka dapat akan digunakan untuk membantu organisasi Ocean Conservancy membersihkan lautan dari sampah plastik.

Ke depannya, Norton Point memiliki misi untuk membersihkan laut dari sampah plastik di lautan Bahama, Thailand, Tiongkok, Vietnam, Filipina, dan Indonesia. Mereka menganggap bahwa membersihkan sampah plastik di lautan Haiti hanyalah permulaan dari misi utama mereka untuk menyelamatkan laut.

Penulis: Anggi Rizky Firdhani

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/solusi-norton-point-sampah-plastik-laut-kacamata-hitam/feed/ 0
Panâh, Rumah Fesyen Beretika yang Berdayakan Perempuan Kenya https://www.greeners.co/gaya-hidup/panah-rumah-fesyen-beretika-berdayakan-perempuan-kenya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=panah-rumah-fesyen-beretika-berdayakan-perempuan-kenya https://www.greeners.co/gaya-hidup/panah-rumah-fesyen-beretika-berdayakan-perempuan-kenya/#respond Tue, 13 Jun 2017 10:36:36 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=17323 Tidak seperti model pakaian khas Afrika pada umumnya, Panâh menampilkan koleksi pakaian dengan sentuhan khas Afrika yang berbeda. Panâh juga mengusung prinsip produksi fesyen yang beretika.]]>

Apabila mengingat negara Kenya, mungkin hal pertama yang terbayangkan dalam pikiran kita adalah gambaran mengenai sebuah negara yang gersang. Namun, siapa sangka bahwa di negara itu terdapat sebuah rumah produksi fesyen yang mengusung keberlanjutan dan beretika? Panâh adalah salah satunya.

Panâh merupakan sebuah rumah produksi fesyen yang didirikan oleh Morteza Saifi dan Evgeniya Khromina dan berlokasi di Nairobi, Kenya. Tidak seperti model pakaian khas Afrika pada umumnya, Panâh menampilkan koleksi pakaian dengan sentuhan khas Afrika yang berbeda. Umumnya, pakaian khas Afrika memiliki warna yang berani dan dihiasi oleh motif chitenge (motif khas Afrika) yang ramai. Namun, Panâh menerapkan konsep yang bertolak belakang.

kenya

Busana koleksi Panâh. Foto: Lemlem/panahproject.com

Busana yang dihadirkan oleh Panâh memiliki sentuhan yang lebih simpel, namun tetap terlihat elegan. Aksen motif chitenge, salur atau flora dipadu dengan warna-warna lembut seperti biru muda dan krem mendominasi koleksi Panâh. Jenis pakaian yang diproduksi Panâh diantaranya adalah blus, gaun, celana kulot, dan crop top.

Lalu, hal apa yang membuat Panâh menjadi rumah produksi fesyen yang beretika? Dalam proses produksi, Panâh menggunakan air yang didapatkan dengan cara menampung air hujan. Selain itu, Panâh juga menerapkan sistem lean manufacturing, di mana mereka mempertimbangkan segala pengeluaran sumber daya yang ada sehingga tidak terjadi pemborosan. Tak sampai di situ saja, Panâh juga sangat memperhatikan kelangsungan hidup para pekerjanya.

“Panâh menawarkan kesempatan bagi para wanita pra sejahtera dan para orang tua tunggal di Kenya untuk berkarir di Panâh, sehingga mereka dapat menyokong kondisi ekonomi keluarga,” ujar Morteza seperti dilansir dalam situs ecouterre.com.

kenya

Busana koleksi Panâh. Foto: Lemlem/panahproject.com

Panâh begitu mempertimbangkan berbagai aspek demi meningkatkan kesejahteraan para pekerjanya. Setiap harinya, para pekerja Panâh bekerja di lingkungan yang asri dan sehat. Hal tersebut dikarenakan Panâh berlokasi di sekitar Jamhuri Park, suatu taman kota yang berada di Nairobi.

Selain diberi upah yang layak, seluruh pekera Panâh juga diberi jatah sarapan dan makan siang setiap harinya. Kesehatan dan kesejahteraan para pekerja menjadi prioritas yang diutamakan oleh Panâh.

Penulis: Anggi Rizky Firdhani

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/panah-rumah-fesyen-beretika-berdayakan-perempuan-kenya/feed/ 0
Di Balik Cantiknya Produk Mode dari Material Hewani https://www.greeners.co/gaya-hidup/balik-cantiknya-produk-mode-material-hewani/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=balik-cantiknya-produk-mode-material-hewani https://www.greeners.co/gaya-hidup/balik-cantiknya-produk-mode-material-hewani/#respond Tue, 18 Apr 2017 12:22:41 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=16754 Secara global, peternakan hewan dalam industri mode memiliki karakteristik yang sama. Dengan metode kurungan, pelaku usaha budidaya hewan kerap memaksimalkan keuntungan melalui berbagai cara.]]>

Sutera, kulit, bulu dan wol merupakan produk-produk hewani yang dimanfaatkan sebagai material pembuatan elemen mode. Namun, mungkin jarang terlintas di benak kita mengenai proses pembuatannya. Proses pembuatan masing-masing produk hewani bervariasi, namun umumnya dilakukan di peternakan.

Secara global, peternakan hewan dalam industri mode memiliki karakteristik yang sama. Dengan metode kurungan, pelaku usaha budidaya hewan kerap memaksimalkan keuntungan melalui berbagai cara. Hal ini terbukti dari kandang-kandang yang sempit, perlakuan yang tidak layak selama pemeliharaan, hingga perolehan produk hewani yang tidak beretika.

Tidak sedikit kekejaman terhadap hewan yang ditemukan dan dilaporkan di seluruh dunia. Oleh karena itu, beberapa organisasi menentang pemanfaatan hewan sebagai sumber daya alami dalam pembuatan produk fesyen. Salah satunya adalah People for the Ethical Treatment of Animals (PETA).

PETA merupakan organisasi yang mengedepankan hak-hak asasi hewan terbesar di dunia. Dilansir dari laman resminya, terdapat 4 area dengan kekejaman terhadap binatang yang paling besar, yaitu laboratorium, industri makanan, industri hiburan dan industri mode. Dalam industri mode, berikut ini beberapa material hewani yang diperoleh secara tidak etis menurut PETA:

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/balik-cantiknya-produk-mode-material-hewani/feed/ 0
Jam Tangan Berdaya Tahan Tinggi dari Perancis https://www.greeners.co/gaya-hidup/jam-tangan-berdaya-tahan-tinggi-dari-perancis/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jam-tangan-berdaya-tahan-tinggi-dari-perancis https://www.greeners.co/gaya-hidup/jam-tangan-berdaya-tahan-tinggi-dari-perancis/#respond Tue, 12 Apr 2016 12:39:17 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=13439 Salah satu merek jam tangan premium, BRM (Bernard Richards Manufactures) yang berbasis di Perancis menerapkan teknologi yang terinspirasi dari mobil balap dan membawanya ke pasar Indonesia.]]>

Jakarta (Greeners) – Jam tangan yang berkualitas diharapkan memiliki usia pakai yang lebih lama dan memiliki teknologi yang lebih ketimbang jam tangan biasa. Salah satu merek jam tangan premium, BRM (Bernard Richards Manufactures) yang berbasis di Perancis menerapkan teknologi yang terinspirasi dari mobil balap dan membawanya ke pasar Indonesia.

Untuk memperkenalkan jam tangan ini, Bernard Richards sendiri datang khusus ke ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2016 yang berlangsung di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Pemilik sekaligus pembuat jam dari merek yang diambil dari namanya ini memperkenalkan secara langsung beberapa seri jam tangan BRM.

“Semua bagian dari jam tangan ini terinspirasi dari mobil balap,” ujarnya saat ditemui di booth BRM, Jakarta, Senin (11/04).

Pria yang pernah menimba ilmu di Horology and Micro-mechanics School of Paris ini memang lahir dari keluarga pembuat jam. Untuk membuat jam tangannya berbeda dan unggul dari para pesaingnya, Bernard mengaku hanya menggunakan bahan berkualitas dan teknologi tinggi.

“Ketika saya memulai bisnis jam tangan ini, saya hanya ingin menggunakan bahan-bahan yang eksotis. Serat karbon, makrolon, titanium, stainless steel semuanya itu digunakan sebagai material pembentuk jam tangan ini,” ungkapnya.

Beberapa seri jam tangan BRM "Chronographes" yang dipamerkan dalam ajang IIMS 2016 yang berlangsung pada tanggal 7-17 April di JIEXpo Kemayoran, Jakarta. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Beberapa seri jam tangan BRM “Chronographes” yang dipamerkan dalam ajang IIMS 2016 yang berlangsung pada tanggal 7-17 April di JIEXpo Kemayoran, Jakarta. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Secara khusus Bernard menerangkan, untuk seri BRM Chronographes, strap atau tali jam menggunakan bahan yang sama dengan safety belt pada mobil balap. Selain itu, casing jam menggunakan bahan makrolon. Makrolon merupakan material yang sama yang digunakan untuk kaca helm pebalap Formula 1. Artinya, bahan ini kuat dan tahan benturan namun bobotnya sangat ringan, hal ini sesuai dengan prinsip jam BRM sebagai “light watch”. Ia juga menggunakan teknologi chronographes untuk menjaga perhitungan jam tetap presisi.

Karena jam tangan BRM terinspirasi dari mobil balap, jam ini dilengkapi juga dengan teknologi Birotor yang memiliki empat shock absorber untuk mengurangi getaran agar mesin jam berjalan stabil apabila digunakan oleh pebalap saat berlaga di sirkuit balap. Mengenai penerapan teknologi ini, Bernard mengatakan, “Saya sering menyaksikan pebalap yang melepas jam tangannya saat balapan dan mengenakannya kembali usai balapan karena jam tangan tersebut tidak cukup kuat untuk dipakai saat balapan.”

Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Dengan berbagai material dan teknologi yang digunakan, membuat jam ini dapat menemani pemakainya melakukan berbagai aktifitas outdoor, termasuk olahraga ekstrem. Jam ini juga tidak menggunakan baterai biasa sehingga meminimalisir timbulan limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun) dari baterai bekas pakai.

“Semua jam tangan BRM otomatis dan juga hibrid. Di dalamnya terdapat motor yang memproduksi listrik dan baterai yang menyimpan tenaga listrik tersebut untuk menggerakan jarum jam. Jika tidak dipakai dalam waktu lama, jam ini tetap aktif dan berfungsi dengan baik. Ini yang dimaksud dengan teknologi hibrid,” jelasnya.

Jam tangan BRM dapat dipesan secara khusus sesuai permintaan. Namun dalam satu tahun, Bernard dengan 25 orang pekerjanya hanya membuat 2.000 unit jam tangan. Bernard sendiri hanya membuat dua buah jam tangan edisi khusus dalam satu tahun. Semua jam dirakit secara manual atau mengandalkan keterampilan tangan.

Peminat jam tangan premium dapat melihat langsung koleksi jam tangan BRM selama penyelenggaraan IIMS yang berlangsung pada 7-17 April 2016 di JIEXpo Kemayoran, Jakarta. Showroom dan servis resmi jam tangan BRM di Indonesia ada di SCBD Lot 14, Jakarta.

Penulis: Renty Hutahaean

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/jam-tangan-berdaya-tahan-tinggi-dari-perancis/feed/ 0
Tas dengan Misi Mengurangi Sampah Plastik https://www.greeners.co/gaya-hidup/tas-dengan-misi-mengurangi-sampah-plastik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tas-dengan-misi-mengurangi-sampah-plastik https://www.greeners.co/gaya-hidup/tas-dengan-misi-mengurangi-sampah-plastik/#comments Wed, 09 Mar 2016 14:00:08 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=13116 Dikala pemerintah mengampanyekan “Indonesia bebas sampah 2020”, Elba mengkreasikan banner bekas menjadi sebuah tas yang unik sekaligus untuk membantu mengurangi penggunaan kantong plastik.]]>

Jakarta (Greeners) – Mengubah barang yang sudah tidak terpakai menjadi ide Elba untuk bersikap go green. Dikala pemerintah mengampanyekan “Indonesia bebas sampah 2020” dan mulai memberlakukan kantong plastik berbayar di toko ritel terhitung sejak 21 Februari 2016 lalu, ide cemerlang Elba menjadi salah satu bentuk dukungan pada upaya pelestarian lingkungan.

Perempuan bernama lengkap Elba Wilandri Naraheda ini mengkreasikan banner bekas menjadi sebuah tas yang unik. Awalnya, ia membuat tas dari banner bekas ini untuk digunakan sendiri. Namun setelah banyak yang tertarik dengan tas buatannya, Elba berniat untuk memproduksi tas tersebut secara massal. Ia pun memulainya pada awal Februari lalu.

Elba mendapatkan banner atau spanduk bekas dari gudang di daerah Jakarta Selatan. Untuk bahan tas produksinya, ia memilih banner dari bahan tahan air berjenis “ripstop”. Selain kuat, bahan ini mudah dilipat hingga berukuran kecil. Dari spanduk bekas dengan ukuran lima meter kali tujuh meter, ia bisa membuat tiga puluh tas punggung dan dua puluh tote bag.

Dari spanduk bekas dengan ukuran lima meter kali tujuh meter, Elba bisa membuat tiga puluh tas punggung dan dua puluh tote bag. Foto: dok. Elba

Dari spanduk bekas dengan ukuran lima meter kali tujuh meter, Elba bisa membuat tiga puluh tas punggung dan dua puluh tote bag. Foto: dok. Elba

Elba mendesain tas ini dengan model unisex agar bisa dipakai oleh pria maupun wanita. Tas punggung dan totebag ini juga dilengkapi dengan kantong khusus untuk menyimpan tas tersebut. Untuk membuat tas-tas tersebut, ia bekerjasama dengan temannya mulai dari proses mencari banner bekas, mendesain hingga menjahit banner bekas menjadi tas.

Gaya hidup ramah lingkungan menjadi bagian dari keseharian Elba sejak dirinya aktif dalam sebuah organisasi non profit di bidang lingkungan. Ia juga salah satu aktifis dan sukarelawan yang sering menyuarakan tentang kerusakan lingkungan di Indonesia. Aksi memanfaatkan banner bekas yang dilakukan olehnya menjadi salah satu cara untuk mendukung pengurangan penggunaan kantong kresek yang juga sedang digalakan oleh pemerintah.

“Daripada beli kantong plastik terus-menerus, lebih baik menggunakan tas ini karena dapat digunakan berulang kali,” ujarnya sedikit berpromosi.

Sebagai informasi, kampanye kantong plastik berbayar sudah dilaksanakan di 23 kota di Indonesia. Pemerintah dan Asosiasi Perusahaan Ritel Indonesia (Aprindo) memberlakukan harga minimum Rp200 per kantong plastik agar konsumen beralih menggunakan kantong belanja yang lebih ramah lingkungan sekaligus untuk mengurangi timbulan sampah plastik. Dengan adanya kampanye ini, usaha kreatif untuk mengurangi timbunan sampah seperti yang dilakukan Elba patut diapresiasi demi kebaikan lingkungan kita.

Penulis: Rayi Fahmi

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/tas-dengan-misi-mengurangi-sampah-plastik/feed/ 2
Mai-Lei Pecorari, Sentuhan ‘Artsy’ Pada Baju Lama https://www.greeners.co/gaya-hidup/mai-lei-pecorari-sentuhan-artsy-pada-baju-lama/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mai-lei-pecorari-sentuhan-artsy-pada-baju-lama https://www.greeners.co/gaya-hidup/mai-lei-pecorari-sentuhan-artsy-pada-baju-lama/#respond Wed, 23 Dec 2015 09:20:47 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=12348 Mengubah barang lama menjadi sesuatu yang dapat digunakan kembali sekaligus bernilai seni, membutuhkan lebih dari sekadar kreatifitas. Mai-Lei Pecorari menjadi salah satu desainer yang memiliki kemampuan ini. ]]>

Mengubah barang lama menjadi sesuatu yang dapat digunakan kembali sekaligus bernilai seni, membutuhkan lebih dari sekadar kreatifitas. Mai-Lei Pecorari, stylist yang kini mengubah imej menjadi desainer ini nampaknya tidak hanya kreatifitas, melainkan juga bakat. Lewat tangan wanita keturunan Jepang ini, terciptalah koleksi-koleksi “artsy” (bernilai seni) yang terangkum pada brand Kin-tsugi Goods.

Kin-tsugi Goods terinspirasi dari seni Jepang kuno yang muncul sekitar akhir abad ke 15. Saat itu, seniman istana memperbaiki keramik menjadi lebih bernilai dari sebelumnya. Inspirasi ini membuat Pecorari mengubah baju-baju lama menjadi pakaian yang dapat digunakan kembali. Ia pun ingin mengolaborasikan keterlibatan dengan dunia ramah lingkungan dan seni yang indah.

Foto: Kin-tsugi Goods/www.ecouterre.com

Foto: Kin-tsugi Goods/www.ecouterre.com

“Saya ingin menggabungkan antara desain estetik yang saya buat dengan keinginan saya untuk melawan cepatnya pergerakan industri fesyen,” ujar Pecorari, seperti yang dilansir dari Ecouterre.

Pecorari melihat bahwa banyak pakaian yang terbuang. Ia terobsesi untuk mencari pakaian bekas yang berkualitas bagus dan klasik di toko pakaian loak, kemudian memperbaharuinya menjadi barang fashionable-but-artsy ala Kin-tsugi.

“Saya ingin mempunyai surga ideal menurut saya, dimana konsumen hanya akan mendapatkan produk yang well-made,” tambah Pecorari.

Foto: Kin-tsugi Goods/www.ecouterre.com

Foto: Kin-tsugi Goods/www.ecouterre.com

Kecintaannya terhadap kualitas barang-barang lama pun membuat Pecorari ingin konsumen dapat menggunakan koleksinya yang kekinian, namun berkualitas dan tahan lama selayaknya barang-barang lama yang masih bertahan bahkan hingga lebih dari 10 tahun tersebut. Semua yang dilakukannya dengan koleksi ini hanyalah dengan melakukan 100 persen mengolah baju-baju lama tersebut.

Secara desain, Pecorari memberikan aksen khas berupa corak cipratan cat pada permukaan koleksi pakaian pakaiannya. Corak tersebut menambah nilai seni pada desain-desain pakaiannya yang chic dan kasual. Pemilihan potongan yang berlayer juga dijadikan andalan oleh Percorari yang menambah kesan artsy pada setiap detail rancangannya.

Penulis: DR/G16

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/mai-lei-pecorari-sentuhan-artsy-pada-baju-lama/feed/ 0
Koleksi Tas Ramah Lingkungan dari Kulit Kursi Pesawat https://www.greeners.co/gaya-hidup/koleksi-tas-ramah-lingkungan-kulit-kursi-pesawat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=koleksi-tas-ramah-lingkungan-kulit-kursi-pesawat https://www.greeners.co/gaya-hidup/koleksi-tas-ramah-lingkungan-kulit-kursi-pesawat/#respond Fri, 18 Dec 2015 13:03:32 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=12284 Alaska Airlines bekerjasama dengan Looptworks menggunakan kembali kulit kursi penumpang yang sudah lama menjadi berbagai tas berkualitas tinggi.]]>

Setelah sebelumnya United Airlines meluncurkan koleksi tas yang dibuat dari banner publikasi milik maskapai mereka yang sudah tidak terpakai, kali ini maskapai Alaska Airlines mengikuti jejak yang sama. Maskapai satu ini mengolah kembali bagian dari kursi penumpang pesawat yang telah usang menjadi berbagai produk tas yang unik.

Alaska Airlines bekerjasama dengan Looptworks menggunakan kembali kulit kursi penumpang yang sudah lama dari pesawat Horizon Air, anak perusahaan Alaska Airlines, menjadi berbagai tas berkualitas tinggi. Looptworks sendiri merupakan brand asal Portland yang sudah piawai mengolah barang-barang bekas menjadi produk baru. Siapa sangka, dari kulit kursi pesawat yang sudah tidak terpakai, dapat tercipta koleksi seri dompet, tas laptop, tote bag hingga tas selempang.

Produk tas "Carry On Collection" hasil kerjasama Alaska Airlines dan Looptworks. Foto: www.ecouterre.com

Produk tas “Carry On Collection” hasil kerjasama Alaska Airlines dan Looptworks. Foto: www.ecouterre.com

Banyak hal yang membuat tas tersebut menjadi spesial. Koleksi tas yang diberi label “Carry On Collection” ini dibuat eksklusif dan sesuai pesanan, sehingga tas ini tergolong terbatas dan tidak dibuat dalam jumlah banyak. Selain itu, tas ini pun diproduksi non-profit dan mempekerjakan para penyandang disabilitas di Oregon, serta diproduksi secara handmade dan bergaransi seumur hidup.

“Misi kami adalah untuk menginspirasi perubahan, baik para pembeli dan model dalam industri manufaktur, karena masih mudah untuk membuat produk dari bahan baru, berbeda dengan mengolah ulang bahan yang ada,” ujar Scott Hamlin, pendiri dari Looptworks seperti dikutip dari ecouterre.com.

Produk tas "Carry On Collection" hasil kerjasama Alaska Airlines dan Looptworks. Foto: www.ecouterre.com

Produk tas “Carry On Collection” hasil kerjasama Alaska Airlines dan Looptworks. Foto: www.ecouterre.com

Ide ini pun memangkas kebutuhan produksi kulit dengan jumlah banyak dan mengurangi penggunaan air hingga 1.500 galon air per produk. Sebuah produk upcycling yang diharapkan tidak hanya berpengaruh terhadap lingkungan dan alam, namun juga berguna untuk masa depan dunia fesyen. Sekaligus, memberikan kehidupan kedua bagi barang-barang bekas tersebut untuk bisa menjadi produk yang lebih dihargai.

Penulis: DR/G16

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/koleksi-tas-ramah-lingkungan-kulit-kursi-pesawat/feed/ 0
BARE Hadirkan Koleksi Tas dari Karung Biji Kopi https://www.greeners.co/gaya-hidup/bare-hadirkan-koleksi-tas-dari-karung-biji-kopi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bare-hadirkan-koleksi-tas-dari-karung-biji-kopi https://www.greeners.co/gaya-hidup/bare-hadirkan-koleksi-tas-dari-karung-biji-kopi/#respond Fri, 27 Nov 2015 08:09:16 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=12050 Memanfaatkan barang yang tidak terpakai menjadi barang lain yang lebih bermanfaat merupakan salah satu bagian dari konsep ramah lingkungan yang dapat diadopsi dalam dunia fesyen. Dekade ini, mulai banyak bermunculan […]]]>

Memanfaatkan barang yang tidak terpakai menjadi barang lain yang lebih bermanfaat merupakan salah satu bagian dari konsep ramah lingkungan yang dapat diadopsi dalam dunia fesyen. Dekade ini, mulai banyak bermunculan karya fesyen yang diciptakan dari bahan-bahan yang tidak biasa dengan penampilan yang unik dan berkelas.

Misalnya saja, karung kopi. Ditangan Justin Biel dan Grason Ratowsky, karung yang semula digunakan menyimpan biji kopi diubah menjadi tote bag, duffle bag dan pouch berpenampilan unik. Keduanya memproduksi tas unik ini dengan label mereka, BARE.

Pendiri BARE, Justin Biel dan Grason Ratowsky. Foto: BARE/www.vogue.com

Pendiri BARE, Justin Biel dan Grason Ratowsky. Foto: BARE/www.vogue.com

BARE merupakan label aksesoris handmade yang berbasis di Colorado. Mengolah karung kopi menjadi tote bag merupakan produk awal yang dihasilkan label ini. Bahan karung yang kuat menjadikan umur pakai tas lebih lama. Handle tas yang digunakan pun menghilangkan aksen kumuh dari karung sehingga membuat tas ini menjadi satu kesatuan yang menarik secara desain.

Desain tas yang dibuat bersifat unisex sehingga dapat digunakan oleh pria maupun wanita. Uniknya, antara tas yang satu dengan tas lainnya akan berbeda satu sama lain secara motif dan corak. Hal itu terjadi karena karung yang digunakan merupakan karung bekas dan tidak dapat dibuat mirip dalam jumlah banyak.

Penulis: DR/G16

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/bare-hadirkan-koleksi-tas-dari-karung-biji-kopi/feed/ 0
Sumber Alternatif Serat Alami Selain Katun https://www.greeners.co/gaya-hidup/sumber-alternatif-serat-alami-selain-katun/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sumber-alternatif-serat-alami-selain-katun https://www.greeners.co/gaya-hidup/sumber-alternatif-serat-alami-selain-katun/#respond Sat, 21 Nov 2015 12:37:33 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11971 Katun merupakan salah satu bahan terbesar yang digunakan dalam industri tekstil global. Namun sayangnya, penggunaan katun yang massif ini diiringi dengan pemborosan tenaga, bahan kimia dan penggunaan air. Berbagai cara […]]]>

Katun merupakan salah satu bahan terbesar yang digunakan dalam industri tekstil global. Namun sayangnya, penggunaan katun yang massif ini diiringi dengan pemborosan tenaga, bahan kimia dan penggunaan air.

Berbagai cara dilakukan untuk mengurangi dampak negatif tersebut, salah satunya dengan beralih menggunakan bahan-bahan natural yang lebih ramah lingkungan dalam proses produksinya. Seperti dilansir dalam laman theguradian.com, ada beberapa sumber alam yang berpotensi menghasilkan serat yang tidak kalah kualitasnya dari katun.

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/sumber-alternatif-serat-alami-selain-katun/feed/ 0
Bikini Handmade Ramah Lingkungan Koleksi Priscilla Lynch https://www.greeners.co/gaya-hidup/bikini-handmade-ramah-lingkungan-koleksi-priscilla-lynch/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bikini-handmade-ramah-lingkungan-koleksi-priscilla-lynch https://www.greeners.co/gaya-hidup/bikini-handmade-ramah-lingkungan-koleksi-priscilla-lynch/#respond Thu, 12 Nov 2015 10:18:28 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11874 Suatu yang baru kembali hadir ke industri fesyen baju renang. Kali ini giliran desainer Priscilla Lynch Hugo yang meluncurkan koleksi bikini bertajuk ‘Into the Water‘ pada Oktober 2015 lalu. Untuk […]]]>

Suatu yang baru kembali hadir ke industri fesyen baju renang. Kali ini giliran desainer Priscilla Lynch Hugo yang meluncurkan koleksi bikini bertajuk ‘Into the Water‘ pada Oktober 2015 lalu. Untuk koleksinya kali ini, Lynch menciptakan enam bikini yang terbuat dari material ramah lingkungan.

Lynch menggunakan kain berbahan dasar botol air plastik daur ulang untuk pembuatan bikini yang dibuat handmade ini. Bikini ini menjadi eksklusif karena koleksi ini dibuat dengan jumlah terbatas dan ditawarkan melalui website resminya. Desain yang ditampilkan pun terlihat elegan dan terinspirasi dari para wanita yang modern, klasik dan berseni.

“Saya suka cara saya menggambarkan bagaimana para perempuan itu hidup dan saya tahu saya menginginkannya dengan cara demikian,” ujar Lynch seperti dilansir situs Observer.com.

Bikin dalam koleksi "Into the Water" ini diluncurkan dalam 6 item. Foto: Priscilla Lynch/observer.com

Bikin dalam koleksi “Into the Water” ini diluncurkan dalam 6 item. Foto: Priscilla Lynch/observer.com

Lynch menciptakan enam macam bikini untuk koleksinya ini. Keenamnya adalah La Maja, Olympia, Sheba, The Picnic, Madam X dan Leda. Keenamnya memiliki desain yang berbeda dan unik. La Maja didesain menjadi bikini silhouette dan dilengkapi dengan removable cup yang dapat digunakan sesuai keinginan dan kebutuhan. Olympia pun tak kalah menarik. Bagian atas bikini dibuat lebih tertutup dengan aksen menyilang di bagian depan.

Untuk The Picnic dan Sheba dibuat dengan motif renda yang cantik dengan tali mengikat bagian atas bikini, sedangkan untuk Anda yang tidak percaya diri dengan bentuk pundak, bisa mencoba Madam X yang dapat menyamarkan kekurangan pada pundak Anda lewat desain atasan bikini yang memiliki tali lebar dan lurus. Last but not least, Leda yang mampu membuat Anda tampil lebih seksi dengan maksimal lewat aksen tali melintang dibagian depan.

Bikini handmade ramah lingkungan karya Priscilla Lynch Hugo. Foto: Priscilla Lynch/observer.com

Bikini handmade ramah lingkungan karya Priscilla Lynch Hugo. Foto: Priscilla Lynch/observer.com

Keenam bikini tersebut dibanderol dengan harga 200 hingga 300 dollar Amerika atau setara dengan kisaran 2,7 jutaan per bikini. Harga yang cukup mahal namun sepadan dengan desain elegan dan upayanya untuk mengurangi sampah plastik.

Penulis: DR/G16

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/bikini-handmade-ramah-lingkungan-koleksi-priscilla-lynch/feed/ 0
Marks & Spencer Luncurkan Tote Bag dari Katun Bekas https://www.greeners.co/gaya-hidup/marks-spencer-luncurkan-tote-bag-dari-katun-bekas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=marks-spencer-luncurkan-tote-bag-dari-katun-bekas https://www.greeners.co/gaya-hidup/marks-spencer-luncurkan-tote-bag-dari-katun-bekas/#respond Thu, 29 Oct 2015 07:47:51 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11698 Baru saja selesai dengan kolaborasinya bersama Livia Firth dan Eco-Age beberapa waktu lalu, Marks & Spencer kembali melanjutkan program sustainable retail challenges-nya. Kali ini, M&S menggandeng organisasi PBB yang memperjuangkan […]]]>

Baru saja selesai dengan kolaborasinya bersama Livia Firth dan Eco-Age beberapa waktu lalu, Marks & Spencer kembali melanjutkan program sustainable retail challenges-nya. Kali ini, M&S menggandeng organisasi PBB yang memperjuangkan hak-hak dan kesejahteraan anak, Unicef dan perancang busana ternama Barbara Hulanicki meluncurkan koleksi eco tote bag untuk menggalang dana untuk Unicef United Kingdom.

Untuk pertama kalinya, M&S menggunakan bahan katun yang diproses ulang untuk membuat tas yang dibuat terbatas ini. Bahan katun yang digunakan untuk pembuatan tas ini sebelumnya merupakan taplak meja linen yang digunakan di hotel dan restoran.

Peluncuran tas ini juga merupakan salah satu bagian dari progam Plan A, yakni program eco & etnical yang dicanangkan oleh M&S sejak 2007 lalu yang bertujuan untuk membantu M&S menjaga segala aktifitas produksinya dari pembuangan sampah yang berlebih. Tas ini dibuat sebagai salah satu bentuk keikutsertaan M&S dalam industri fesyen berkelanjutan dan dukungan dalam kampanye untuk melindungi anak dari bahaya. Tote bag ini juga diciptakan sebagai solusi bagi penggunaan tas plastik.

“Tas ini didesain stylish, terjangkau dan menawarkan alternatif lain dari penggunaan tas plastik,” ujar Kate Goldman selaku Director of Partnership and Philanthropy Unicef UK seperti yang dilansir dari situs resmi Unicef UK.

Peluncuran eco tote bag dari M&S ditujukan untuk membantu memperjuangkan keselamatan anak-anak. Foto: www.marksandspencer.com

Peluncuran eco tote bag dari M&S ditujukan untuk membantu memperjuangkan keselamatan anak-anak. Foto: www.marksandspencer.com

Pada bagian depan tas, Barbara Hulanicki menggambar dua kepala anak-anak dan di sampingnya terdapat simbol hati berwarna biru. Ia mengungkapkan bahwa dengan desain tersebut, ia ingin merefleksikan bahwa setiap orang yang membeli tote bag tersebut turut membantu Unicef UK menjaga keselamatan anak-anak.

Tas ini dijual hanya dengan harga 4 Euro atau setara dengan 60 ribu rupiah. Setiap 1 Euro dari penjualan akan disumbangkan langsung kepada Unicef untuk membantu menolong anak-anak yang berada dalam bahaya. “Unicef UK akan dengan bangga menggunakan dana yang didapatkan lewat penjualan setiap tas tersebut untuk membantu upaya perlindungan lebih banyak anak-anak dari bahaya yang menghantui mereka di luar sana,” tambah Kate.

Unicef merupakan organisasi tingkat dunia yang fokus pada anak-anak dan membantu memperjuangkan hak-hak dan kesejahteraan anak.

Penulis: DR/G16

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/marks-spencer-luncurkan-tote-bag-dari-katun-bekas/feed/ 0