punah - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/punah/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Wed, 09 Aug 2023 06:05:13 +0000 id hourly 1 Populasi Harimau Makin Susut, Habitatnya pun Terancam https://www.greeners.co/berita/populasi-harimau-makin-susut-habitatnya-pun-terancam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=populasi-harimau-makin-susut-habitatnya-pun-terancam https://www.greeners.co/berita/populasi-harimau-makin-susut-habitatnya-pun-terancam/#respond Wed, 09 Aug 2023 06:05:13 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=41136 Jakarta (Greeners) – Populasi harimau semakin menyusut. Habitatnya terancam alih fungsi lahan. Butuh upaya lebih serius mencegah agar harimau tidak punah. Di alam, harimau merupakan salah satu indikator ekosistem yang […]]]>

Jakarta (Greeners) – Populasi harimau semakin menyusut. Habitatnya terancam alih fungsi lahan. Butuh upaya lebih serius mencegah agar harimau tidak punah.

Di alam, harimau merupakan salah satu indikator ekosistem yang sehat. Tidak hanya sebagai predator, satwa ini penting yang menyeimbangkan ekosistem dan menjaga kelestarian keanekaragaman hayati.

Sayangnya, berdasarkan analisa global tahun 2010, habitat harimau menyusut tajam. Hanya tersisa sekitar 7 % saja dari wilayah jelajahnya seabad sebelumnya. 

Cho Chair IUCN Indonesia Species Specialist Group (IdSSG), Sunarto mengatakan, hutan alam merupakan habitat utama harimau. Namun, luas tutupan hutan alam terus berkurang dan belum membaik hingga kini.

“Meskipun harimau dapat sesekali melintas di perkebunan, tanpa hutan luas yang terjaga mereka tidak akan dapat bertahan untuk jangka panjang,” kata Sunarto kepada Greeners baru-baru ini. 

Dari sembilan anak jenis harimau yang pernah ada, tiga di antaranya yakni harimau bali, harimau jawa dan harimau kaspia telah punah. Harimau yang tersisa pun semua terancam punah. Dengan status genting yaitu (harimau amur, harimau indochina, harimau malaya, harimau bengal), dan kritis (harimau china selatan dan harimau sumatra). 

Harimau sumatra menjadi satu-satunya yang tersisa di Indonesia. Populasinya hanya sekitar 400-500 ekor di hutan-hutan Sumatra (taman-taman nasional).

Sunarto yang juga ekolog satwa liar menambahkan, hutan-hutan primer di Sumatra yang ditetapkan sebagai kawasan konservasi perlu dikelola dan dirawat dengan baik. Sebab, hutan seperti itu merupakan habitat inti harimau. 

Kemudian, di luar habitat inti, harimau perlu menjelajah dan memerlukan kesinambungan habitat baik dalam bentuk koridor ataupun mosaik penggunaan lahan yang ramah satwa. Semuanya perlu dikelola secara terintegrasi.

Kehidupan Harimau Terancam

Saat ini ada sejumlah tekanan terhadap populasi harimau. Penyempitan serta berkurangnya kualitas habitat masih menjadi ancaman yang pertama.

Kedua, kehidupan harimau belum luput dari perburuan dan perdagangan gelap satwa. Meskipun teorinya harimau Sumatra adalah spesies dilindungi, tetapi dalam kenyataannya bagian tubuh harimau cukup marak diperdagangkan di pasar gelap. Terutama untuk obat tradisional.

Terkadang harimau anakan juga diperjualbelikan untuk satwa peliharaan. Oleh karena itu, perburuan tidak hanya mengancam harimau secara langsung, namun juga satwa mangsa (seperti rusa dan ungulata lainnya).  

Belum lagi ancaman wabah penyakit. Penyakit tidak hanya dapat menyebabkan kematian pada harimau, namun juga satwa mangsa.  Akhir-akhir ini ada African Swine Fever (ASF), wabah yang sangat serius dan telah menyebabkan kematian massal dan kepunahan babi hutan di berbagai tempat khususnya di Asia Tenggara termasuk Sumatra dan Kalimantan. 

Kemudian, pemeliharaan harimau oleh segelintir orang juga menjadi ancaman. Sunarto menilai, tidak ada keuntungan bagi konservasi atas praktik semacam itu.  Justru sebaliknya, harimau yang dipelihara oleh orang-orang tertentu yang tanpa proses transparan telah memberi sinyal buruk serta pesan yang kurang menguntungkan bagi perlindungan dan upaya pemulihan harimau.

Harimau berperan penting menjaga keseimbangan ekosistem. Foto: Freepik

Siapkan Strategi

Oleh karenanya, pemerintah perlu menyiapkan strategi pemulihan untuk mengangkat status harimau dari kondisi kritis ke kondisi yang lebih aman. Pemerintah harus bersinergi dan memberikan insentif program pemulihan harimau dan satwa terancam punah lainnya.

Tak cukup hanya itu, masyarakat pun perlu berperan aktif dalam mendukung berbagai upaya pemulihan. Pada peringatan Hari Harimau Sedunia 29 Juli yang lalu, Yayasan Jejak Harimau Sumatera bersama Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan (TMSBK) kota Bukittinggi, Sumatra Barat pun mengedukasi masyarakat.

“Kita juga tularkan virus positif soal konservasi  satwa harimau sumatra ini. Sederhana saja, kita mencoba mengemas kegiatan ini sebaik mungkin,” ungkap Ketua Yayasan Jejak Harimau Sumatera, Adi Prima dalam keterangannya.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/populasi-harimau-makin-susut-habitatnya-pun-terancam/feed/ 0
Pinang Jawa, Endemik Pulau Jawa Terancam Punah https://www.greeners.co/flora-fauna/pinang-jawa-endemik-jawa-terancam-punah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pinang-jawa-endemik-jawa-terancam-punah https://www.greeners.co/flora-fauna/pinang-jawa-endemik-jawa-terancam-punah/#respond Thu, 05 Jan 2023 03:22:04 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=38510 Pinang Jawa (Pinanga javana) merupakan salah satu tumbuhan endemik Pulau Jawa. Namun, daerah persebarannya sangat terbatas. Demikian pemanfaatannya masih belum optimal seiring eksistensinya yang terancam punah. Dikhawatirkan pinang Jawa akan […]]]>

Pinang Jawa (Pinanga javana) merupakan salah satu tumbuhan endemik Pulau Jawa. Namun, daerah persebarannya sangat terbatas. Demikian pemanfaatannya masih belum optimal seiring eksistensinya yang terancam punah. Dikhawatirkan pinang Jawa akan hilang sebelum kita kenali dan kembangkan potensinya.

Layaknya palem raja. Dari perawakannya, tak heran tumbuhan ini berpotensi sebagai tanaman hias di luar ruangan. Status konservasi oleh World Conservation Monitoring Centre pada tahun 1997 menyatakan status konservasi pinang Jawa endangered (terancam punah). Sehingga pemerintah Indonesia menerbitkan Peraturan Pemerintah No 7 Tahun 1999 yang menyebut tumbuhan ini berstatus dilindungi.

Masuk dalam famili Arecaceae tumbuhan ini memiliki ciri khas anggota palem-paleman. Mereka memiliki 225 anggota genera dan lebih dari 2.600 spesies tanaman.

Morfologi Pinang Jawa

Bagian Batang

Tumbuhan ini memiliki batang tunggal dengan tinggi 10 meter, berdiameter 810 sentimeter, beruas jelas dan tajuk pelepahnya berwarna hijau.

Bagian Daun

Panjang tangkai daun sampai 50 sentimeter, dengan panjang tulang daun 1,52 meter dan susunan helai daunnya menyirip.

Bunga

Bunga akan tumbuh pada ruas batang di bawah tajuk pelepah dengan bentuk malai dan menggantung. Tiap tandan terdiri atas 15-16 triads (satu betina diapit oleh dua bunga jantan) dan biasanya bunga betina akan mekar lebih dahulu daripada jantan.

Buah

Sementara pada bagian buahnya berbentuk bulat telur dengan diameter 15 milimeter, panjang 20 milimeter dan berwarna merah kehitam-hitaman dan berbiji satu.

Habitat

Lebih menyukai daerah terbuka, biasanya Pinanga javana bisa kita temukan di tepi tebing. Mereka banyak berada di sekitar sumber air dengan ketinggian 600–700 meter di atas permukaan laut (mdpl). Seperti halnya Pinanga coronata, Pinanga javana juga dapat kita jumpai di sekitar jalur Afrika dengan ketinggian tempat 756 mdpl, di dekat sumber air.

Manfaat Pinang Jawa

Melihat dari perawakannya, palem ini mempunyai potensi sebagai tanaman hias. Selain itu umbutnya bisa menjadi makanan.

Status konservasi Pinanga javana merupakan salah satu dari 7 jenis palem endemik yang mempunyai persebaran terbatas di Pulau Jawa.

Taksonomi Pinang Jawa (Pinanga javana)

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/pinang-jawa-endemik-jawa-terancam-punah/feed/ 0
Kepunahan Keanekaragaman Hayati Bencana Bagi Kehidupan Manusia https://www.greeners.co/berita/kepunahan-keanekaragaman-hayati-bencana-bagi-kehidupan-manusia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kepunahan-keanekaragaman-hayati-bencana-bagi-kehidupan-manusia https://www.greeners.co/berita/kepunahan-keanekaragaman-hayati-bencana-bagi-kehidupan-manusia/#respond Tue, 24 May 2022 07:15:59 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=36258 Jakarta (Greeners) – Momentum Hari Keanekaragaman Hayati Sedunia pada Minggu (22/5) lalu hendaknya menjadi peringatan untuk meningkatkan upaya konservasi, riset terpadu dan pemanfaatannya secara berkelanjutan. Jangan sampai punahnya berbagai jenis […]]]>

Jakarta (Greeners) – Momentum Hari Keanekaragaman Hayati Sedunia pada Minggu (22/5) lalu hendaknya menjadi peringatan untuk meningkatkan upaya konservasi, riset terpadu dan pemanfaatannya secara berkelanjutan.

Jangan sampai punahnya berbagai jenis keanekaragaman hayati menimbulkan bencana bagi kehidupan manusia. Dampaknya terjadi kerentanan manusia terhadap pangan, perubahan iklim, hama dan penyakit serta kelangkaan air.

Pakar Keanekaragaman Hayati Dolly Priatna mengatakan, Indonesia sangat kaya akan keanekaragaman hayati. Bahkan di tingkat dunia, Indonesia menempati urutan kedua setelah Brazil, negara dengan kekayaan keanekaragaman hayati terestrial. Namun jika kekayaan hayati tersebut digabungkan dengan di lautan maka Indonesia menempati urutan pertama.

Dengan potensi keanekaragaman hayati tersebut seharusnya Indonesia bisa menjadi negara “super power”, sebagai pusat keanekaragaman hayati dunia. Akan tetapi, tantangannya hingga kini masih banyak keanekaragaman yang belum teridentifikasi jenisnya dan manfaatnya.

“Oleh karenanya butuh riset terpadu untuk mengungkap jenis-jenis yang belum teridentifikasi serta riset untuk mengetahui manfaatnya secara berkelanjutan,” kata Direktur Eksekutif Belantara Foundation ini kepada Greeners, Selasa (24/5).

Kepunahan Keanekaragaman Hayati Terus Berlanjut

Sementara itu, sambung Dolly tantangan lainnya yaitu kepunahan keanekaragaman hayati di Indonesia yang terus berlanjut. Terutama akibat menurunnya luas dan kualitas hutan di Indonesia. Padahal berkurangnya atau punahnya berbagai jenis keanekaragaman hayati akan berdampak luas pada manusia.

“Jutaan manusia akan menghadapi masa depan yang rawan pangan dan lebih rentan terhadap perubahan iklim, hama dan penyakit, serta menghadapi kelangkaan air. Dengan demikian, kapasitas manusia untuk mempertahankan hidup juga akan berkurang,” paparnya.

Secara global, para ilmuwan berpendapat bahwa kehilangan keanekaragaman hayati di dunia sudah pada tingkat yang mengkhawatirkan. “Para ilmuwan memperkirakan bahwa saat ini sekitar 20.000 biota hilang setiap tahun. Laju kepunahan ini sudah mencapai lebih dari 100 kali dari laju kepunahan normal,” ungkapnya.

Berdasarkan data dari Birdlife International dan International Union for Conservation of Nature (IUCN) 2022 Indonesia saat ini menjadi negara dengan jumlah spesies burung terancam punah terbanyak. Jumlahnya mencapai 12 persen dari keseluruhan burung terancam punah di dunia.

Lindungi Kepunahan di Habitat Alaminya

Oleh karena itu, Dolly menyarankan perlunya antisipasi mencegah punahnya atau berkurangnya keanekaragaman hayati. Caranya dengan melindungi habitat alami termasuk hutan, lahan basah, padang rumput, sungai dan danau, secara berkelanjutan.

Selain itu, upaya lain adalah menghindari terjadinya fragmentasi. alih fungsi habitat alami keanekaragaman hayati, serta merestorasi kawasan hutan yang terdegradasi.

Selain itu, Dolly juga menyorot soal merebaknya penyakit imbas virus baru di dunia. Dia menyatakan pentingnya dalam mencegah penyakit baru dengan tak melakukan kontak termasuk mengonsumsi, utamanya satwa-satwa hutan secara berlebihan.

“Ini untuk mencegah terjadinya transmisi bakteri atau virus patogen yang ada pada satwa liar tersebut ke manusia,” katanya.

Senada dengan itu, Kepala Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Iman Hidayat menyebut, momentum Hari Keanekaragaman Hayati harus menjadi momentum kebangkitan mengelola kekayaan biodiversitas nusantara.

Iman menyatakan pentingnya upaya melawan kepunahan keanekaragaman hayati yang tak hanya sekadar melindunginya dan meningkatkan upaya konservasi. Akan tetapi juga melakukan riset dan inovasi untuk meningkatkan atau memulihkan populasinya di alam.

Kepala Pusat Riset Vaksin dan Obat BRIN Masteria Yunovilsa Putra menyatakan, pentingnya untuk mengembangkan riset-riset terkait potensi keanekaragaman hayati, khususnya penghasil senyawa untuk infectious disease.

“Sebelumnya memang kita belum banyak mengeksplor keanekaragaman hayati kita untuk infectious disease. Dengan pengembangan riset ini akan berguna untuk antisipasi pandemi selanjutnya,” ucapnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/kepunahan-keanekaragaman-hayati-bencana-bagi-kehidupan-manusia/feed/ 0
Prihatin! Tumbuhan Non-Ikonik Punah Sebelum Diketahui Manfaatnya https://www.greeners.co/berita/prihatin-tumbuhan-non-ikonik-punah-sebelum-diketahui-manfaatnya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=prihatin-tumbuhan-non-ikonik-punah-sebelum-diketahui-manfaatnya https://www.greeners.co/berita/prihatin-tumbuhan-non-ikonik-punah-sebelum-diketahui-manfaatnya/#respond Mon, 07 Mar 2022 05:22:20 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=35500 Jakarta (Greneeres) – Eksistensi tumbuhan non-ikonik terancam punah. Salah satunya karena aktivitas eksploitasi manuasia. Celakanya, belum manusia ketahui manfaatnya, tumbuhan sudah punah. Kurator Herbarium Bandungense Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati […]]]>

Jakarta (Greneeres) – Eksistensi tumbuhan non-ikonik terancam punah. Salah satunya karena aktivitas eksploitasi manuasia. Celakanya, belum manusia ketahui manfaatnya, tumbuhan sudah punah.

Kurator Herbarium Bandungense Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung Arifin Surya Dwipa Irsyam, prihatin akan kondisi tersebut. Menurutnya, tumbuh-tumbuhan lokal atau non-ikonik memiliki posisi terpinggirkan. Pasalnya, tumbuhan non ikonik kurang mendapat perhatian dari masyarakat umum maupun dunia.

Padahal, sama halnya dengan aneka jenis tumbuhan-tumbuhan lain mereka mengambil peran sangat penting bagi kehidupan manusia. Dalam ekosistem, tumbuh-tumbuhan berperan sebagai penyedia oksigen, penyerap karbon dan logam berat, serta pengendali tanah. Lebih dari itu, perannya kepada manusia yaitu sebagai penghasil bahan pangan, bahan obat, kosmetika, serta bahan bangunan.

“Sayangnya akibat aktivitas manusia, seperti misalnya pertambangan maka tumbuhan ini punah begitu saja,” katanya dalam Webinar Meliput Ragam Biodiversitas Non-Ikonik Indonesia, baru-baru ini.

Arifin mengungkapkan, Indonesia memiliki ragam tumbuhan non-ikonik yang kaya dan beragam. Misalnya, Castanopsis tungurrut (Blume) A.DC yang tersebar di Jawa, Kalimantan dan Sumatra. Adapun jenis tumbuhan ini memiliki habitat di hutan pada ketinggian hingga 1.920 meter di atas permukaan laut.

Kayu pada tumbuhan ini biasa masyarakat manfaatkan sebagai bahan bangunan. Bijinya bisa masyarakat konsumsi. Karena eksploitasi berlebih hingga penebangan liar, tumbuhan ini mengalami ancaman kepunahan. Tumbuhan ini masih bisa ditemukan meski populasinya di alam saat ini menurun hingga 30 %.

Jahe Liar dan Pacar Air Jenis Tumbuhan Non-ikonik yang Terancam Punah

Zingiber odoriferum Blume atau jahe liar biasa tersebar di Jawa dan Sunda. Pada bagian daun mudanya berguna untuk memperindah rambut dan pembasmi ketombe secara alami. Saat ini Zingiber odoriferum Blume hanya terdapat di satu lokasi di alam, yakni di Sumberjaya, Sukabumi dan menjadi koleksi di Kebun Raya Bogor.

Sementara, Impatiens arriensii (Zoll.) T. Shimizu atau pacar air hanya hidup di perbukitan kapur Madura. Ini berbeda dengan tumbuhan pacar air di Jawa yang hidup di tanah dan biasa masyarakat tanam di samping rumah. Namun sayang, imbas aktivitas pertambangan, tumbuhan hias ini telah punah.

Demi mencegah kepunahan, Arifin menekankan pentingnya edukasi pemanfaatan biodiversitas kepada masyarakat hingga lingkup terkecil. Keluarga, lingkaran pertemanan, sambung Arifin dapat menjadi wadah pertama untuk mengenalkan keanekaragaman, terutama tumbuhan lokal non-ikonik yang jarang diperhatikan.

Misalnya, mulai dengan mengenalkan karakteristik, manfaat dan pentingnya menjaga tumbuhan tersebut. “Kalau sudah menimbulkan rasa ingin tahu maka bentuk kepedulian dan kecintaan akan tumbuh dengan sendirinya,” imbuhnya.

Indonesia Negara Kaya Biodiversitas

Ketua Lembaga Sains Terapan (LST) Jatna Supriatna menyatakan, kekayaan dan keberagaman biodiversitas Indonesia terlihat karena berada dalam urutan kedua terkaya untuk mamalia (700 spesies). Kemudian keempat terbanyak untuk keragaman burung (>1500 spesies), serta menyimpan sekitar 1400 spesies ikan air tawar yang setengahnya endemik.

Potensi biodiversitas ini, sambung Jatna bisa bermanfaat dalam berbagai hal, seperti pangan, serat, obat, produk industri (lemak, minyak), serta sumber energi alternatif. Namun sayangnya, belum banyak tersentuh oleh sains.

“FAO pada tahun 2012 menyatakan Indonesia sebagai produsen nomor tiga terbesar ikan di dunia, setelah China dan Peru,” kata Jatna.

Dalam bidang kesehatan, Jatna menyebut Indonesia memiliki potensi bioprospeksi yang sangat besar. Tapi kurang tersentuh oleh sains. Dalam bidang pangan dan obat, terdapat 400 tanaman penghasil buah, 370 spesies tanaman, 60 spesies tanaman penyegar, 55 spesies tanaman rempah-rempah, serta 2.500 jenis tanaman obat-obatan.

Sementara, negara-negara lain masih sangat bergantung terhadap obat-obatan yang berasal dari alami. Misalnya, 50 obat resep di Amerika Serikat 118 berdasarkan sumber alami. Rinciannya 74 % dari tumbuhan, 18 % dari jamur, 5 % pada bakteri, serta 3 % dari spesies vertebrata (ular).

“Potensi tersebut seharusnya bisa dimanfaatkan oleh Indonesia khususnya untuk mengembangkan risetnya,” tandasnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/prihatin-tumbuhan-non-ikonik-punah-sebelum-diketahui-manfaatnya/feed/ 0
BRIN Susun Target Peta Jalan Konservasi 50 Tumbuhan Terancam Punah https://www.greeners.co/berita/brin-susun-target-peta-jalan-konservasi-50-tumbuhan-terancam-punah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=brin-susun-target-peta-jalan-konservasi-50-tumbuhan-terancam-punah https://www.greeners.co/berita/brin-susun-target-peta-jalan-konservasi-50-tumbuhan-terancam-punah/#respond Sat, 13 Nov 2021 08:50:45 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=34391 Jakarta (Greeners) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyiapkan target peta jalan (roadmap) konservasi 50 tumbuhan terancam punah. Saat ini sudah ada 175 jenis tumbuhan asli Indonesia terancam punah […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyiapkan target peta jalan (roadmap) konservasi 50 tumbuhan terancam punah. Saat ini sudah ada 175 jenis tumbuhan asli Indonesia terancam punah dan sudah BRIN konservasi ex-situ di seluruh kebun raya di Indonesia. Jumlah tumbuhan yang telah BRIN konservasi ex-situ tersebut baru mencapai 20,44% dari total tumbuhan terancam punah.

Dari 175 tumbuhan yang berhasil masuk konservasi ex-situ dan BRIN tingkatkan nilai serta fungsinya yakni Hoya Kusnoto, Aeschynanthus ‘Sudjana Kasan’, Aeschynanthus ‘Mahligai’, Begonia ‘fiandani’, Begonia ‘lovely jo’ dan Begonia ‘blirik’.

Plt Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Hayati (IPH) BRIN Iman Hidayat mengatakan, dalam menjaga keanekaragaman hayati di Indonesia menemukan sejumlah tantangan. Menurutnya, tantangan itu berupa peningkatan populasi manusia, perkembangan industri hingga krisis iklim.

“Kita mendapat tantangan dengan meningkatnya populasi juga berkembangnya industri. Belum lagi kita menghadapi perubahan iklim yang menyebabkan cuaca sulit diprediksi, suhu naik dan sebagainya. Ini tidak mudah juga bagi keanekaragaman hayati untuk beradaptasi,” kata Iman dalam webinar virtual mengupas biodiversitas Indonesia di Jakarta, Sabtu (13/11).

Senada dengannya, Kepala Pusat Riset Kebun Raya BRIN Sukma Surya Kusumah mengungkapkan, BRIN telah menyusun peta jalan (roadmap) untuk konservasi tumbuhan terancam kepunahan dalam menjawab tantangan untuk menjaga keanekaragaman hayati sekaligus meningkatkan nilai ekonomi.

“Roadmapnya terdiri dari konservasi ex-situ dalam rangka penyelamatan tumbuhan terancam kepunahan. Kemudian ekologi dan restorasi jenis terkait dengan pelestarian tumbuhan terancam kepunahan. Lalu, eksperimental botani dalam rangka peningkatan nilai dan fungsi tumbuhan untuk pemanfaatan secara berkelanjutan,” papar Sukma.

BRIN mendorong perlindungan keanekaragaman hayati Indonesia dari kepunahan. Foto: Shutterstock

Strategi Menjaga Tumbuhan Terancam Punah

Sementara itu, terkait bioteknologi, Kepala Pusat Riset Bioteknologi BRIN Ratih Asmana Ningrum menjelaskan, dalam bidang pangan telah terjadi berbagai macam permasalahan yang menurunkan persediaan pangan dan menjadi ancaman terhadap ketahanan pangan.

Bahkan saat ini indeks ketahanan pangan Indonesia masih di bawah negara-negara lain di Asia Tenggara. Menurutnya, bidang bioteknologi sebenarnya sudah memberikan solusi terhadap permasalahan pangan yang terjadi di Indonesia ini.

“Misalnya, meningkatkan penggunaan produk bibit unggul yang memiliki produktivitas yang lebih baik sehingga dapat meningkatkan produktivitas dari tanaman. Kemudian dengan memberikan pupuk terhadap lahan. Dari studi 2020 itu sudah cukup mampu memberikan solusi untuk tantangan ini,” papar Ratih.

Kepala Pusat Riset Biologi BRIN Anang Setiawan Achmadi juga memaparkan strategi BRIN menghadapi tantangan dalam menjaga keanekaragaman hayati melalui sejumlah isu strategis.

Upaya tersebut yakni pengungkapan keanekaragaman Indonesia dan ekosistemnya, mitigasi keanekaragaman hayati, pemanfaatan keanekaragaman Indonesia (bioprospeksi/bioekonomi).

Selanjutnya, penguatan kebijakan sumber daya hayati (otoritas ilmiah dan national focal point), pusat koleksi referensi keanekaragaman hayati Indonesia, serta pengelolaan dan penguatan sistem informasi data dan dokumentasi keanekaragaman hayati Indonesia.

“Bagaimana kita berpikir setiap tahunnya mengungkapkan keanekaragaman hayati. Bagaimana kita melaksanakan eksplorasi untuk melengkapi data-data yang belum terupdate atau memang masih kosong terkait dengan keanekaragaman hayatinya,” tutur Anang.

Pohon Iptekin Beri Nilai Tambah Keanekaragaman Hayati

Dalam upaya konservasi keanekaragaman hayati tersebut, BRIN menginisiasi pohon iptekin. Teknologi ini untuk meningkatkan nilai tambah keanekaragam hayati. Dalam pohon iptekin tersebut ada enam poin di dalamnya.

Pertama, peningkatan populasi spesies terancam punah di habitat ex-situ. Kedua, konservasi ex-situ tumbuhan terancam punah. Ketiga, pengungkapan biodiversitas nusantara. Keempat, spesimen (hidup dan mati) dan barcoding keanekaragaman hayati Indonesia. Kemudian, pemanfaatan keanekaragaman hayati Indonesia melalui bioprospeksi atau bioekonomi. Terakhir, regulasi kelembagaan.

Melalui keenam hal tersebut, terdapat sejumlah target unggulan yang ingin BRIN capai pada tahun 2024 mendatang. Hal tersebut di antaranya lima jenis spesies restocking, 25 jenis tumbuhan terselamatkan, 3 ekosistem, peningkatan jumlah koleksi spesimen sebanyak 15.000, digital koleksi 200.000 spesimen dan penanganan 10 kasus wildcrime.

Penulis : Fitri Annisa

]]>
https://www.greeners.co/berita/brin-susun-target-peta-jalan-konservasi-50-tumbuhan-terancam-punah/feed/ 0
Beruang Kutub Diprediksi Punah di Tahun 2100 https://www.greeners.co/berita/beruang-kutub-diprediksi-punah-di-tahun-2100/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=beruang-kutub-diprediksi-punah-di-tahun-2100 https://www.greeners.co/berita/beruang-kutub-diprediksi-punah-di-tahun-2100/#respond Mon, 24 Aug 2020 07:25:36 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=28288 Di habitatnya, beruang kutub sangat bergantung pada es yang ada di lautan untuk bepergian, berburu makanan, beristirahat, dan kawin.]]>

Jakarta (Greeners) – Meningkatnya suhu Bumi membuat es yang ada di Samudra Arktik semakin berkurang. Hal ini membawa dampak besar pada fauna yang berhabitat di sana salah satunya beruang kutub. Dalam sebuah studi di Jurnal Nature Climate Change, disebutkan bahwa mamalia laut tersebut akan musnah pada akhir abad ini bila manusia tidak segera menangani krisis iklim.

Mengutip forbes.com, hampir semua subpopulasi beruang kutub yang tersebar di wilayah terdingin dunia dapat punah pada 2100. Hal itu terjadi akibat kiamat iklim yang terus mengikis es di lautan. National Snow and Ice Data Center mencatat bahwa es di lautan Arktik telah berkurang sebanyak 13 persen setiap dekade sejak 1970-an.

Baca juga: Limbah Domestik dan Sampah Plastik Turunkan Kualitas Air Kali Surabaya

Jika melihat emisi gas rumah kaca yang kian tinggi, hanya akan ada sejumlah populasi beruang kutub yang selamat dari kepunahan. Walaupun manusia berhasil mencapai pengurangan emisi dengan target moderat, populasi beruang kutub dinilai tetap akan hilang.

Di habitatnya, beruang kutub sangat bergantung pada es yang ada di lautan untuk bepergian, berburu makanan, beristirahat, dan kawin. Namun, akibat perubahan iklim yang terjadi, tempat tinggal mereka semakin lama semakin menyusut. Hal ini membuatnya terdaftar sebagai spesies yang terancam punah berdasarkan Endangered Species Act, Amerika.

Beruang Kutub

Seekor berutang kutub berada di permukaan es yang mencair. Foto: istockphoto
Polar bear on a wide surface of ice in the russian arctic close to Franz Josef Land.The light a

Hilangnya es di kutub memaksa beruang untuk bertahan dalam periode puasa yang lebih lama karena mereka mengandalkan permukaan beku untuk berburu anjing laut atau sumber makanan utama. Melansir dari nature.com, luasan es tempat berburu anjing laut diperkirakan akan menurun seiring dengan pemanasan global dan hilangnya es di laut yang terus berlanjut.

Meski beruang kutub dapat berpuasa selama berbulan-bulan, kelangsungan hidup mereka juga terbatas. Hal ini bergantung pada seberapa banyak energi yang berhasil disimpan melalui makan sebelumnya, energi yang mereka keluarkan selama tak makan, dan lama periode puasa berlangsung.

Kemampuan puasa yang berkepanjangan ini bukan merupakan hal yang bagus. Periode tanpa makan yang berkepanjangan telah terbukti berdampak negatif pada kondisi tubuh, tingkat reproduksi, dan ukuran populasi beruang kutub.

Baca juga: Energi Baru Terbarukan Kalah Saing dengan Energi Fosil

Dr Steven Amstrup, Kepala ilmuwan Polar Bears International dalam bbc.com mengatakan induk beruang kutub tidak akan mampu menghasilkan susu yang cukup untuk diberikan kepada anak-anaknya akibat kurangnya lemak di tubuh. Defisiensi tersebut diakibatkan oleh semakin sedikitnya sumber pangan mereka, yaitu anjing laut.

“Terancamnya populasi beruang kutub adalah pengingat lain bagi kita agar bertindak sekarang untuk mencegah terjadinya masalah terburuk yang akan terjadi di masa depan,” kata Amstrup.

Di ekosistem, beruang kutub berperan sebagai pemangsa di tingkat puncak. Mereka merupakan binatang karnivora yang bertugas untuk menjaga keseimbangan populasi biologis. Beruang kutub juga merupakan penentu sehat atau tidaknya suatu lingkungan. Jika spesies kunci tidak sehat, menandakan seluruh ekosistem berpotensi dalam masalah.

Penulis: Ida Ayu Putu Wiena Vedasari

Editor: Devi Anggar Oktaviani

]]>
https://www.greeners.co/berita/beruang-kutub-diprediksi-punah-di-tahun-2100/feed/ 0
Never Cry Wolf https://www.greeners.co/gaya-hidup/never-cry-wolf/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=never-cry-wolf https://www.greeners.co/gaya-hidup/never-cry-wolf/#respond Sat, 08 Mar 2014 09:01:08 +0000 http://www.greenersmagz.com/?post_type=grn_review&p=4036 Judul Film : Never Cry Wolf Sutradara  : Croll Ballard Pemeran    : Charles Martin Smith, Brian Dewnehy Produksi   : Walt Disney Pictures Durasi     : 105 Menit Film ini menceritakan tentang […]]]>

Judul Film : Never Cry Wolf
Sutradara  : Croll Ballard
Pemeran    : Charles Martin Smith, Brian Dewnehy
Produksi   : Walt Disney Pictures
Durasi     : 105 Menit

never-cry-wolfFilm ini menceritakan tentang kisah dari seorang ahli biologi bernama Farley Mowant ketika ia dikirim untuk bertugas di area padang rumput bersalju dataran pegunungan Kanada. Farley membawa misi untuk mengumpulkan bukti tentang keberadaan kelompok serigala yang dituduh telah mengancam keseimbangan populasi Karibou (sejenis Rusa) yang hampir mengalami kepunahan.

Sambil berjuang bertahan hidup di kondisi lingkungan yang sulit, Farley terus berusaha untuk mempelajari segala tingkah laku serigala yang ia temui, sampai akhirnya ia mempunyai keyakinan bahwa tuduhan terhadap serigala yang tengah menjadi ancaman bagi populasi Karibou adalah sepenuhnya salah.

Di lain pihak, ia mendapatkan analisis baru dimana justru keberadaan manusia dengan segala aktifitasnya adalah salah satu faktor utama yang mengancam kepunahan beberapa spesies termasuk Karibou.

Dalam film ini kita akan disuguhkan keindahan landscape dataran tinggi Kanada yang sangat mempesona dan tingkah lucu Farley Mowant selama ia menjalankan studinya. Jelas merupakan film yang harus ditonton apabila anda suka berkegiatan di alam bebas.

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/never-cry-wolf/feed/ 0
Populasi Badak Jawa Diprediksi Tinggal 50 Individu https://www.greeners.co/berita/populasi-badak-jawa-diprediksi-tinggal-50-individu/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=populasi-badak-jawa-diprediksi-tinggal-50-individu https://www.greeners.co/berita/populasi-badak-jawa-diprediksi-tinggal-50-individu/#respond Mon, 23 Sep 2013 07:57:38 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=3948 Jakarta (Greeners) – Indonesia mempunyai dua dari lima jenis badak yang tersisa di dunia, yaitu badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) dan badak Sumatera (Dicherorinus sumatrensis). Kedua jenis satwa langka dan dilindungi […]]]>

Jakarta (Greeners) – Indonesia mempunyai dua dari lima jenis badak yang tersisa di dunia, yaitu badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) dan badak Sumatera (Dicherorinus sumatrensis). Kedua jenis satwa langka dan dilindungi ini dikategorikan dalam status kritis terancam punah (critically endangered species) oleh Daftar Merah IUCN.

“Hari ini adalah hari badak sedunia. Khususnya di Indonesia dimana dari 5 jenis badak yang masihh tersisa di dunia, dua diantaranya terdapat di Indonesia, yaitu badak Jawa dan badak Sumatera. Populasi mereka sudah sangat kritis satu tingkat di bawah punah menurut kriteria Daftar Merah IUCN,” kata Anwar Purwoto, Direktur Program Kehutanan, Spesies Terestrial dan Air Tawar WWF-Indonesia dalam peringatan Hari Badak setiap 22 September di acara Car Free Day di seputaran Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu (22/09).

Menurut data yang ada, populasi badak Jawa hanya tersisa sekitar 50 individu di alam, yaitu di Taman Nasional Ujung Kulon (Banten) – dengan jumlah individu yang kecil dan hanya berada dalam satu populasi akan sangat rentan terhadap kepunahan.

Sedangkan badak Sumatera hanya tinggal sekitar 200 individu, tersebar di Taman Nasional Gunung Leuser (Aceh), Bukit Barisan Selatan (Lampung), dan Waykambas (Lampung).

Saat ini, habitat badak Jawa hanya ada di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten, yang letaknya didekat Gunung Krakatau dengan kondisi sewaktu-waktu dapat meletus kembali dan dapat terjadi tsunami.

“Hal itu menjadi pemikiran bagaimana membuat populasi badak Jawa di tempat lain yang relatif lebih aman dan tentunya, tapi juga tempatnya harus sangat cocok dgn untuk didiami badak Jawa. Begitu juga badak Sumatera, berkurangnya hutan-hutan karena kegiatan manusia (menebang kayu atau untuk perumahan) serta perburuan badak Sumatera, ini yg menjadi pemikiran kita semua,”katanya.

Melihat kondisi yang sangat kritis tersebut, WWF mengajak masyarakat untuk peduli. “Kita perlu menggugah kesadaran masyarakat, tidak hanya pemerintah tapi juga masyarakat secara luas untuk bersama-sama melestarikan badak yang ada di Indonesia,” kata Anwar.

Kampanye ditujukan tidak hanya untuk masyarakat pinggir hutan, tetapi juga warga kota untuk melestarikan badak. “Karena orang-orang yang tinggal di kota misalnya, kehidupan di kota secara tidak langsung berpengaruh kepada habibat badak,” lanjutnya.

Konservasi badak, tidak hanya tugas pemerintah, tetapi juga butuh kerjasama dan dukungan para pihak termasuk para pakar, organisasi lingkungan, dan masyarakat luas. “Peran serta masyarakat juga diharapkan mampu mendorong efektifitas upaya pencegahan terhadap perburuan dan perdagangan liar – khususnya perdagangan liar cula badak, dan penegakan hukumnya,” tambah Anwar.

Kampanye WWF-Indonesia untuk konservasi badak bertema “Bergerak Untuk Badak”, yang diramaikan dengan aktivitas long march oleh 100 sukarelawan WWF-Indonesia dan komunitas Jumps Still, Parkour, Forum Badak Indonesia, Teens Go Green, Transformasi Hijau, Line Magic dan, kelompok mahasiswa.

Selain di Car Free Day Jalan Thamrin, kampanye ini juga dilakukan pada Rhino Festival di Alun-alun Pandeglang dan Deklarasi Sayang Badak Pelajar SMP-SMA di Pandeglang, Bantenm, National Rhino Survey Workshop di Taman Nasional Way Kambas dan Ministerial Asian Rhino Summit di Bandar Lampung. (G02)

]]>
https://www.greeners.co/berita/populasi-badak-jawa-diprediksi-tinggal-50-individu/feed/ 0
Jangan Jual dan Pelihara Kukang https://www.greeners.co/berita/jangan-jual-dan-pelihara-kukang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jangan-jual-dan-pelihara-kukang https://www.greeners.co/berita/jangan-jual-dan-pelihara-kukang/#respond Fri, 30 Aug 2013 06:15:11 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=3898 Jakarta (Greeners) –  Jangan memelihara hewan Kukang, karena bisa ditangkap oleh aparat pemerintah.  Itulah yang dilakukan oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Bidang Wilayah III Jawa Barat bekerjasama dengan […]]]>

Jakarta (Greeners) –  Jangan memelihara hewan Kukang, karena bisa ditangkap oleh aparat pemerintah.  Itulah yang dilakukan oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Bidang Wilayah III Jawa Barat bekerjasama dengan Kepolisian Resort Tasikmalaya.

Mereka berhasil menggagalkan dan mengungkapkan transaksi perdagangan 21 ekor Kukang Jawa (Nycticebus sp.) dari pedagang di Resik, Tasikmalaya pada akhir bulan Juli 2013 lalu. Semua kukang yang menjadi barang bukti pada saat ini dititipkan di Pusat Rehabilitasi Satwa Yayasan IAR Indonesia (YIARI).

Saat ini, proses hukum kasus tersebut sudah pada proses pemberkasan yang akan dilimpahkan kepengadilan untuk segera disidangkan dan diputuskan hukumannya. Tersangka pelaku penjual kukang akan dijerat dalam perkara tindak pidana UU No. 5 Tahun 1990 dengan ancaman maksimal 5 tahun penjara, atau denda subsider sebesar Rp 100.000.000,-.

Upaya nyata penegakan hukum terhadap perdagangan kukang merupakan langkah penting dalam memberikan efek jera bagi para kriminal di bidang kehutanan serta menjaga kelestarian satwa liar yang dilindungi.

“Kami berkomitmen melakukan upaya penegakan hukum perdagangan dan pemeliharaan satwa liar dilindungi di wilayah kami,” kata Kepala Balai Besar KSDA Bidang Wilayah III Ciamis Jawa Barat, Rajendra dalam rilis YIARI yang diterima Greeners.

Operasi ini diharapkan dapat memberikan efek jera bagi pelaku perdagangan satwa liar dilindungi. Berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem nya pasal 21 ayat II disebutkan bahwa perdagangan dan pemeliharaan satwa dilindungi termasuk Kukang adalah dilarang. Juga satwa liar yang dilindungi ini dilarang untuk dieksploitasi (diburu, dipelihara, diperjual belikan mau pun dimanfaatkan bagian tubuhnya).

Berdasarkan aturan IUCN (International Union for Conservation of Nature), kukang termasuk dalam kategori Vulnerable (rentan) hingga Endangered (terancam punah), yang artinya populasinya di alam semakin menurun dan menuju kepunahan. Sedangkan menurut CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) Kukang tercatat dalam Apendiks I.

Pelestarian pada hakekatnya adalah pada saat satwa liar tersebut dapat hidup layak dan menjalankan fungsi ekologinya di alam secara bebas, bukan hidup di dalam kurungan/kandang. Prinsip dasar yang penting diingat dan dihayati serta diaktualisasikan adalah “Tidak Membeli atau Memelihara Kukang”.

Berdasarkan pemeriksaan medis yang dilakukan, diketahui kukang-kukang tersebut mengalami beberapa masalah kesehatan, antara lain kerusakan gigi, dehidrasi, malnutrisi, hingga stress. Di YIARI, kukang-kukang tersebut akan menjalani proses rehabilitasi sehingga bisa dilepasliarkan kembali ke alam. (G02)

]]>
https://www.greeners.co/berita/jangan-jual-dan-pelihara-kukang/feed/ 0
Rayakan Kemerdekaan, 20.000 Benih Ikan Endemik Sungai Brantas Dilepas https://www.greeners.co/berita/rayakan-kemerdekaan-20-000-benih-ikan-endemik-sungai-brantas-dilepas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=rayakan-kemerdekaan-20-000-benih-ikan-endemik-sungai-brantas-dilepas https://www.greeners.co/berita/rayakan-kemerdekaan-20-000-benih-ikan-endemik-sungai-brantas-dilepas/#respond Sat, 17 Aug 2013 08:28:58 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=3867 Malang (Greeners) – Merayakan kemerdekaan Republik Indonesia, ternyata tidak hanya dengan upacara bendera dan mengikuti perlombaan. Seperti yang dilakukan oleh berbagai komunitas seniman dan pegiat lingkungan dengan melepas 20.000 benih […]]]>

Malang (Greeners) – Merayakan kemerdekaan Republik Indonesia, ternyata tidak hanya dengan upacara bendera dan mengikuti perlombaan.

Seperti yang dilakukan oleh berbagai komunitas seniman dan pegiat lingkungan dengan melepas 20.000 benih ikan endemik, seperti Ikan Kotes dan Wader di hulu Sungai Brantas yang berada di Dusun Klerek, Desa Torongrejo, Kec/Kota Batu, Jawa Timur, Sabtu (17/8/2013).

Pelepasan ribuan benih ikan ini dilakukan setelah mereka menggelar upacara bendera di tepi sungai yang menjadi penopang kebutuhan hidup masyarakat Jawa Timur ini.

Juru bicara kegiatan Frenky Welia mengatakan, selain ikan Wader dan kotes, sebenarnya masih ada ikan endemik Sungai Brantas seperti Sengkaring dan Cengor. Namun karena sulit mencari bibitnya, ikan yang dilepas Wader, Kotes dan Nila sebagai pengganti Sengkaring dan Cengor.

“Sengkaring dan Cengor sekarang sulit ditemui di sepanjang Sungai Brantas,” kata Frenky, yang juga aktif di organisasi Orang Indonesia (Oi) Malang.

Ia menyebutkan, berdasarkan suvei dua bulan terakhir di beberapa titik sepanjang Sungai Brantas yang berada di Kota Batu dan Kota Malang saja sudah sulit ditemui ikan-ikan tersebut.

Padahal, kata Frenky, sebelum tahun 2005, banyak ditemui jenis ikan endemik itu. Ia juga mengajak masyarakat sekitar agar tidak mencari ikan dengan menggunakan potas atau setrum listrik agar ikan-ikan endemik Sungai Brantas tidak punah.

Ia yakin harapan hidup ikan-ikan yang dilepas ini antara 50-70 persen karena dilepas di arus yang tidak terlalu deras. Selain itu, kualitas air yang berada di hulu juga lebih baik dari pada yang berada di hilir.

Frenky menambahkan, selain mengajak masyarakat sekitar sungai, mereka juga bekerjasama dengan Perum Jasa Tirta I untuk mendapatkan benih ikannya.

Salah satu warga sektiar, Sofyan, mengaku tertarik dengan aksi semacam ini, selain turut menghormati perjuangan para pejuang dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan, juga dapat membantu melestarikan lingkungan dengan penebaran ribuan benih ikan endemik Sungai Brantas.

Salah satu penggagas acara, Ugik Arbanat, menjelaskan, keterlibatannya dengan kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kepedulian beragam komunitas untuk turut melestarikan ekosistem di Sungai Brantas. “Sebagai musisi, sebisa mungkin saya bisa berbuat untuk Indonesia, salah satunya terlibat penebaran benih ikan ini,” katanya.

Sebelum melepas benih ikan, berbagai komunitas yang terlibat seperti Oi Malang, Arbanat String Ensemble, Indonesia Dragonly Society (IDS), serta komunitas lainya menggelar upacara kemerdekaan ke-68 RI. Setelah itu, mereka menampilkan berbagai aksi teatrikal dan lagu-lagu tentang alam dan lagu-lagu kebangsaan yang diiringi kolaborasi Arbanat String Ensemble dan Oi dengan alat musik sederhana. (G17)

]]>
https://www.greeners.co/berita/rayakan-kemerdekaan-20-000-benih-ikan-endemik-sungai-brantas-dilepas/feed/ 0
Elang Jawa, Sang Garuda Tanah Jawa https://www.greeners.co/flora-fauna/elang-jawa-sang-garuda-tanah-jawa/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=elang-jawa-sang-garuda-tanah-jawa https://www.greeners.co/flora-fauna/elang-jawa-sang-garuda-tanah-jawa/#comments Wed, 10 Jul 2013 08:16:05 +0000 http://www.greenersmagz.com/?post_type=grn_kehati&p=3769 “Ik ben Garuda, Vishnoe’s voegel, die zijn vleugels uitslaat hoog hoven uw einlanden”. Itulah kalimat yang diucapkan Soekarno, bapak pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia, ketika diminta memberikan nama bagi maskapai […]]]>

“Ik ben Garuda, Vishnoe’s voegel, die zijn vleugels uitslaat hoog hoven uw einlanden”. Itulah kalimat yang diucapkan Soekarno, bapak pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia, ketika diminta memberikan nama bagi maskapai penerbangan negara yang baru saja lahir. Kalimat yang dalam bahasa Indonesia berarti “Aku adalah Garuda, burung milik Sang Wishnu yang membentangkan sayapnya menjulang tinggi di atas kepulauanmu”. Kalimat itu sendiri dikutip Sang Proklamator dari satu baris sajak berbahasa Belanda, Wayang-liederen karya Raden Mas Noto Soeroto.

Oleh Hariyawan Agung Wahyudi*

 

Sosok Garuda berasal dari tokoh imajiner dalam kitab Mahabarata, putra dari Begawan Kasyapa dan Sang Winata. Tokoh ini sering diwujudkan menjadi kendaraan Dewa Wishnu. Namun, dalam kehidupan nyata banyak orang meyakini bahwa Garuda adalah sosok nyata yang berwujud burung Elang. Di Pulau Jawa sendiri, di berbagai tempat orang meyakini bahwa Elang Jawa adalah sang Garuda itu sendiri.

Pemerintah sendiri menetapkan Elang Jawa sebagai simbol resmi negara pada 1950, dan menetapkan sebagai satwa nasional karena kemiripannya dengan Garuda dengan Keppres No.4/1993.

Burung pemangsa endemik Pulau Jawa ini memiliki nama ilmiah Nisaetus bartelsi. Panjang tubuh dari paruh sampai ekor berkisar antara 60 – 70 cm. Tubuhnya didominasi oleh warna kuning kecoklatan pucat dengan coret-coret hitam menyebar di atasnya. Kepala berwarna coklat kemerahan dengan jambul tinggi menonjol. Jambul yang terdiri atas 2 – 4 helai bulu ini menjadi ciri khas utama yang membedakan elang jawa dengan kerabat terdekatnya. Bulu pada kaki menutupi tungkai hingga dekat pangkal jari, yang merupakan ciri pembeda marga Nisaetus dengan marga lainnya. Elang Jawa betina berukuran relatif lebih besar dengan elang jawa jantan.

Sebagai burung endemik Pulau Jawa, ini berarti bahwa kelestariannya bergantung pada habitat alami hutan di pulau terpadat di Indonesia ini. Elang Jawa hidup di habitat hutan hujan tropis dari ketinggian 0 – 2000 m dpl. Namun dalam dasawarsa terakhir, catatan perjumpaan dengan satwa kharismatik ini paling sering terjadi pada ketinggian 500 – 1000 m dpl. Dalam penelitian Syartinilia dan kawan-kawan pada tahun 2010, diperkirakan hanya tersisa 325 pasang saja Elang Jawa yang tersisa.

Zaini Rakhman dalam bukunya yang berjudul “Garuda Mitos dan Faktanya di Indonesia”, menyebutkan bahwa keberadaan Elang Jawa hanya tersisa di puncak-puncak gunung atau dataran tinggi saja. Hal ini dinilainya sangat beresiko tinggi karena di daerah tersebut keberadaan pakan atau mangsanya sangat terbatas.

ha.wahyudi@biodiversitysociety.orgMangsa utama Elang Jawa sendiri adalah tikus lokal yang hidup di Pulau Jawa yaitu jenis Sundamys maxy. Tragisnya, status tikus yang juga dikenal dengan Bartels’ rat anak dari penemu Elang Jawa, dinyatakan terancam punah oleh IUCN. Selain tikus sebagai makanan utama, Elang Jawa juga memburu mamalia kecil seperti tupai, musang sampai dengan anakan monyet ekor panjang. Dari jenis santapannya tersebut membuat Elang Jawa menjadi top predator dalam rantai makanan alami. Maka menjadi penting keberadaaan burung pemangsa tersebut karena mempunyai fungsi ekologis sebagai penjaga agar populasi tikus dan ular tidak meledak di alam.

Jenis mangsa Elang Jawa di atas lebih banyak menempati kawasan hutan dengan pepohonan tinggi yang selalu hijau. Rata-rata ketinggian pohon antara 40-50 meter. Elang Jawa memilih pohon-pohon tinggi diduga karena untuk pemeliharaan dan perlindungan anaknya dari pemangsa lain. Ketergantungan semacam inilah yang membuat Elang Jawa sulit dijumpai di habitat hutan yang terbuka. Fragmentasi hutan juga membuat Elang ini sulit bertahan hidup. Jarang sekali ditemui Elang Jawa berburu di daerah terbuka untuk memangsa ular atau jenis reptil lainnya.

Keadaan ini semakin mengkhawatirkan dengan tingginya perburuan dan perdagangan ilegal yang semakin meningkat. Padahal, sepasang elang jawa hanya bertelur satu butir saja dalam periode 2-3 tahun. Tentu saja, tanpa ada tindakan hukum yang tegas terhadap perburuan dan perdagangan satwa dilindungi ini, kepunahan garuda dari tanah Jawa merupakan hal yang mungkin terjadi dalam waktu dekat.***

Penulis adalah penggiat konservasi spesies dan pendiri komunitas Biodiversity Society di Banyumas, Jawa Tengah.

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/elang-jawa-sang-garuda-tanah-jawa/feed/ 3
13 Ekor Lutung Jawa Siap Dilepas Ke Hutan https://www.greeners.co/berita/13-ekor-lutung-jawa-siap-dilepas-ke-hutan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=13-ekor-lutung-jawa-siap-dilepas-ke-hutan https://www.greeners.co/berita/13-ekor-lutung-jawa-siap-dilepas-ke-hutan/#respond Tue, 24 Jul 2012 03:00:19 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=2921 MALANG (Greenermagz) –Tiga belas ekor Lutung Jawa yang direhabilitasi Javan Langur Center (JLC) atau tempat rehabilitasi lutung jawa sub spesies jawa bagian timur (trachypithecus auratus) siap dilepas di kawasan hutan […]]]>

MALANG (Greenermagz) –Tiga belas ekor Lutung Jawa yang direhabilitasi Javan Langur Center (JLC) atau tempat rehabilitasi lutung jawa sub spesies jawa bagian timur (trachypithecus auratus) siap dilepas di kawasan hutan di Coban Talun, Kota Batu, Jawa Timur. Sebelumnya, lutung jawa ini sudah menjalani rehabilitasi sejak tahun 2008.
Proses rehabilitasi ini membutuhkan waktu lama mulai dari masa karantina selama 6 bulan hingga dimasukkan ke kandang sosialisasi untuk pembentukan kelompok. Proses pembentukan kelompok ini yang membutuhkan waktu yang lama, karena harus bongkar pasang kelompok untuk membentuk pasangan yang cocok.

Manajer Project JLC Iwan Kurniawan mengatakan, pembentukan kelompok bisa membutuhkan waktu sampai dua tahun bahkan lebih. Tergantung masing-masing individu bisa menerima atau tidak. “Yang siap dilepas saat ini ada dua kelompok,” kata Iwan Kurniawan, saat ditemui di JLC, Minggu (22/07/2012).

Masing-masing kelompok ada enam ekor lutung dewasa ditambah satu ekor bayi lutung yang baru saja lahir pekan lalu. Setiap kelompok terdiri dari 1 ekor lutung jantan dan 5 ekor lutung betina. Adanya bayi lutung ini, kata Iwan, menambah nilai tambah bagi pejantan untuk mempertahankan kelompok sehingga tidak mudah bubar ketika dilepas.

Iwan menjelaskan, hutan primer merupakan habitat lutung jawa. Jika hutan primer seperti hutan hujan, hutan mangrove, dan lain-lain tidak ada, maka mereka tidak akan bisa hidup. Di Jawa Timur, berdasarkan riset yang dilakukan JLC, terdapat sekitar 2.500 sampai 3.000 ekor lutung jawa yang terlihat di lapangan. “Jumlah itu tidak seimbang dengan luasan hutan yang ada, banyak arela kosong yang dulu merupakan habitat lutung,” kata Iwan.

Karena itu, sebelum benar-benar di lepas di kawasan hutan Coban Talun, JLC bersama Perhutani, dan instansi terkait serta masyarakat desa hutan terus melakukan sosialisasi kepada warga agar tidak melakukan perburuan hewan dan penebangan pohon. Sebab, dari hasil survey di hutan tersebut, ada 69 jenis tumbuhan yang dapat dimanfaatkan untuk makanan lutung. “Hampir 90 persen tumbuhan di hutan tersebut adalah sumber makanannya lutung.” kata Iwan.

Sementara itu, petugas Perhutani yang mengelola kawasan tersebut, Sigit mengatakan pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan coordinator masyarakat sekitar hutan agar tidak melakukan perburuan liar dan turut menjaga kelestarian satwa dan habitat di dalamnya. “Kami tidak berharap setelah lutung dilepas, malah diburu,” kata Sigit.
Karena itu, sebelum dilepas, alangklah baiknya dilakukan penyadaran terlebih dulu kepada masyarakat agar tidak merusak tumbuh-tumbuhan yang menjadi makanan lutung tersebut.

Iwan menambahkan, sekitar tahun 1990-an, di hutan kawasan Coban Talun ini memang habitatnya lutung jawa, namun karena bnayak perburuan dan pembalakan liar, saat ini hanya terdeteksi 2 kelompok saja. Itupun tempatnya di dalam hutan paling dalam. “Karena itu, kami akan melepas dua kelompok lutung di pinggir hutan tersebut akhir bulan ini,” ujar Iwan. (G17)

]]>
https://www.greeners.co/berita/13-ekor-lutung-jawa-siap-dilepas-ke-hutan/feed/ 0
Anggrek Pensil Hampir Punah di Rumahnya Sendiri https://www.greeners.co/berita/anggrek-pensil-hampir-punah-di-rumahnya-sendiri/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=anggrek-pensil-hampir-punah-di-rumahnya-sendiri https://www.greeners.co/berita/anggrek-pensil-hampir-punah-di-rumahnya-sendiri/#respond Thu, 24 May 2012 03:01:21 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=2831 Bengkulu (Greeners) – Keindahan anggrek ini mampu menawan pemerintah dan masyarakat Inggris sehingga pada 1882 dinobatkan sebagai “Ratu Anggrek” dan mendapat hadiah “First Class Certificate”. Namun, di habitatnya Danau “Dendam […]]]>

Bengkulu (Greeners) – Keindahan anggrek ini mampu menawan pemerintah dan masyarakat Inggris sehingga pada 1882 dinobatkan sebagai “Ratu Anggrek” dan mendapat hadiah “First Class Certificate”. Namun, di habitatnya Danau “Dendam Tak Sudah” sekitar dua kilometer dari pusat Kota Bengkulu, anggrek langka ini kian sulit ditemui.

Menurut Koordinator Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu Said Jauhari, Anggrek Pensil atau dikenal dengan nama latin Papilionanthe hookerina masuk dalam spesies terancam punah.

“Cagar Alam Dusun Besar atau lebih dikenal dengan Danau ‘Dendam Tak Sudah’ memang menjadi habitat asli anggrek pensil ini tapi semakin sulit ditemui,” katanya, Rabu.

Hasil penelusuran dalam lima tahun terakhir, katanya, flora itu tidak ditemukan lagi di habitat aslinya. Namun, keterangan dari sejumlah nelayan yang sehari-hari menjala ikan dengan peralatan tradisional di danau, mereka mengaku masih menemukan anggrek pensil di sekitar tumbuhan bakung yang banyak terdapat di danau itu.

“Kami belum pernah membuktikan keterangan itu karena memang medannya sulit harus masuk ke rawa,” tambahnya.

Said mengatakan pada dekade 1970-an, Anggrek Pensil di Danau Dendam Tak Sudah memasuki masa jayanya. Dokumentasi Lembaga Ilmu Pengatahuan Indonesia (LIPI) menunjukkan populasi yang tinggi dari anggrek tersebut dan serentak memunculkan bunga pada masanya.

Namun, seperti spesies langka lainnya di tanah air, eksploitasi membuat populasi menyusut drastis dan sejak awal 1990-an, Anggrek Pensil mulai langka. Kondisi yang semakin terancam punah itu membuat BKSDA Bengkulu berupaya untuk melakukan perbanyakan dan melepasliarkan kembali ke danau pada 2007 dan 2008.

Saat itu, perbanyakan menggunakan stek batang anggrek sehingga membutuhkan banyak tanaman untuk keperluan perbanyakan. Jumlah anggrek yang tumbuh dan dilepas sekitar 32 batang, namun beberapa saat setelah dilepasliaskan atau di-restocking, tumbuhan itu tidak luput dari pencurian.

“Setelah dilepas dan kami melakukan monitoring, ada 13 batang yang hilang, jadi saat ini tersisa 19 batang,” katanya.

Populasi yang ada kembali diperbanyak pada tahun ini melalui metode kultur jaringan atau perbanyakan lewat sel tumbuhan. Keunggulan metode ini selain tidak membutuhkan inang yang banyak juga dapat menumbuhkan ribuan tanaman dari salah satu bagian tumbuhan.

“Kami mengambil bagian tunas dan dilakukan perbanyakan dengan kultur jaringan, saat ini sedang dalam proses penumbuhan,” katanya.

Said mengharapkan peran masyarakat untuk menjaga anggrek tersebut dari kepunahan. Gangguan terhadap kawasan Cagar Alam Dusun Besar yakni alih fungsi untuk kebun dan permukiman membuat spesies unik itu semakin terancam dari kelestarian.

“Anggrek Papillionanthe hookeriana menurut PP Nomor 77 tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa termasuk jenis tumbuhan yang di lindungi,” katanya.

Selain endemik dalam Cagar Alam Dusun Besar, anggrek pensil juga dapat ditemui di Vietnam, Thailand, Malaysia dan Pulau Kalimantan. Anggrek ini pertama kali ditemukan oleh Lobb di Labuan Kalimantan. Nama Papillionanthe hookeriana diberikan sebagai penghormatan terhadap Sir William Jackson Hooker seorang mahaguru ahli botani yang pernah menjabat sebagai Direktur Kebun Raya Kew, Inggris. (G20)

]]>
https://www.greeners.co/berita/anggrek-pensil-hampir-punah-di-rumahnya-sendiri/feed/ 0
Burung Aquatic Walbler dijamin Tujuh Negara https://www.greeners.co/berita/burung-aquatic-walbler-dijamin-tujuh-negara/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=burung-aquatic-walbler-dijamin-tujuh-negara https://www.greeners.co/berita/burung-aquatic-walbler-dijamin-tujuh-negara/#respond Wed, 19 May 2010 03:09:03 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=1549

(greenersmagz.com) Tujuh negara lagi setuju untuk melindungi Burung Aquatic Walbler, salah satu burung berkicau di Eropa yang hampir punah. Awalnya hanya 15 negara yang menyanggupi untuk menjaga habitat dan populasi burung ini. Akhirnya dalam pertemuan selama tiga hari hingga 15 Mei 2010 di Polandia, ada tujuh negara lagi yang ikut menandatangani MOU. ketujuhnya adalah Luksemburg, Mali, Mauritania, Maroko, Portugal, Slovakia, dan Swiss.

Populasi burung ini sekarang diperkirakan tinggal sekitar 10000 yang tinggal di 40 habitat di enam negara. Dari semua tempat habitat itu, menurut data Conservation Migration Species (CMS) delapan puluh persen dari populasi yang ada diketahui berkumpul di empat habitat. Salah satunya Siberia selatan.

Kesepakatan ini didapat dalam pertemuan di Taman Nasional Biebrza, Polandia. Perlindungan atas burung ini menjadi pembahasan utama dalam pertemuan program yang berada di bawah UNEP itu.

Pertemuan itu juga membahas rencana strategi yang baru atas spesies internasional. Spesies internasional adalah spesies hewan yang bermigrasi setiap tahun, sehingga keberadaannya tergantung oleh negara-negara yang menjadi rute migrasinya. Rencana ini dirumuskan oleh mitra CMS, yaitu UE BirdLife International Uni Eropa. Rencana itu ditujukan akan menolong dan melindungi Aquatic Warbler, yaitu pengembangan lokasi populasi yang telah hilang.

Dalam rilis UNEP, Sekretaris eksekutif CMS, Elizabeth Maruma Mrema berharap mampu menggandakan tujuannya bukan hanya melindungi populasi burung. “Aksi tindakan terpadu yang baru di Eropa dan Afrika utuk melindungi spesies langka selama tahun keanekaragaman hayati ini juga harus melindungi lahan basah, dimana banyak spesies bergantung,” ujarnya

Pada pertemuan tersebut, mitra Birdlife international di Polandia, Polish Society for the Protection of Birds (OTOP), membagi informasi teknologi baru dengan komunitas ilmiah untuk mengembalikan habitat alami. Proyek konservasi senilai 5 Juta euro usaha konservasi ini dimulai dalam 9 proyek lokasi di Polandia dan Jerman, seluas 42000 Ha. Usaha konservasi ini adalah usaha bersama dalam program European Union’s LIFE Nature. (unep)

]]>
https://www.greeners.co/berita/burung-aquatic-walbler-dijamin-tujuh-negara/feed/ 0
Burung Aquatic Walbler dijamin Tujuh Negara https://www.greeners.co/news/burung-aquatic-walbler-dijamin-tujuh-negara/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=burung-aquatic-walbler-dijamin-tujuh-negara https://www.greeners.co/news/burung-aquatic-walbler-dijamin-tujuh-negara/#respond Wed, 19 May 2010 03:09:03 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=1549

(greenersmagz.com) Tujuh negara lagi setuju untuk melindungi Burung Aquatic Walbler, salah satu burung berkicau di Eropa yang hampir punah. Awalnya hanya 15 negara yang menyanggupi untuk menjaga habitat dan populasi burung ini. Akhirnya dalam pertemuan selama tiga hari hingga 15 Mei 2010 di Polandia, ada tujuh negara lagi yang ikut menandatangani MOU. ketujuhnya adalah Luksemburg, Mali, Mauritania, Maroko, Portugal, Slovakia, dan Swiss.

Populasi burung ini sekarang diperkirakan tinggal sekitar 10000 yang tinggal di 40 habitat di enam negara. Dari semua tempat habitat itu, menurut data Conservation Migration Species (CMS) delapan puluh persen dari populasi yang ada diketahui berkumpul di empat habitat. Salah satunya Siberia selatan.

Kesepakatan ini didapat dalam pertemuan di Taman Nasional Biebrza, Polandia. Perlindungan atas burung ini menjadi pembahasan utama dalam pertemuan program yang berada di bawah UNEP itu.

Pertemuan itu juga membahas rencana strategi yang baru atas spesies internasional. Spesies internasional adalah spesies hewan yang bermigrasi setiap tahun, sehingga keberadaannya tergantung oleh negara-negara yang menjadi rute migrasinya. Rencana ini dirumuskan oleh mitra CMS, yaitu UE BirdLife International Uni Eropa. Rencana itu ditujukan akan menolong dan melindungi Aquatic Warbler, yaitu pengembangan lokasi populasi yang telah hilang.

Dalam rilis UNEP, Sekretaris eksekutif CMS, Elizabeth Maruma Mrema berharap mampu menggandakan tujuannya bukan hanya melindungi populasi burung. “Aksi tindakan terpadu yang baru di Eropa dan Afrika utuk melindungi spesies langka selama tahun keanekaragaman hayati ini juga harus melindungi lahan basah, dimana banyak spesies bergantung,” ujarnya

Pada pertemuan tersebut, mitra Birdlife international di Polandia, Polish Society for the Protection of Birds (OTOP), membagi informasi teknologi baru dengan komunitas ilmiah untuk mengembalikan habitat alami. Proyek konservasi senilai 5 Juta euro usaha konservasi ini dimulai dalam 9 proyek lokasi di Polandia dan Jerman, seluas 42000 Ha. Usaha konservasi ini adalah usaha bersama dalam program European Union’s LIFE Nature. (unep)

]]>
https://www.greeners.co/news/burung-aquatic-walbler-dijamin-tujuh-negara/feed/ 0
Pemanasan Suhu Global Ancam Kepunahan Kadal https://www.greeners.co/news/pemanasan-suhu-global-ancam-kepunahan-kadal/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pemanasan-suhu-global-ancam-kepunahan-kadal https://www.greeners.co/news/pemanasan-suhu-global-ancam-kepunahan-kadal/#respond Fri, 14 May 2010 16:02:39 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=1471

(ScienceDaily) – Pemanasan suhu global dapat menyebabkan kepunahan kadal. Peningkatan suhu, yang terjadi akibat tingginya tingkat emisi global ternyata berdampak pada kehidupan reptil jenis kadal. Jika peningkatan suhu terus berlanjut, diperkirakan 20 persen spesies kadal yang ada akan punah pada tahun 2080.

Peneliti dari Universitas California, Barry Sinervo, bersama kolega penelitiannya dari seluruh penjuru dunia menyimpulkan hal ini setelah melakukan perbandingan studi di lapangan atas populasi kadal di Meksiko dengan data lain di seluruh dunia.

Sinervo, yang memimpin penelitian ini, melakukan survey atas populasi jenis kadal selama satu dekade di Meksiko. Selama waktu tersebut Sinervo menyimpulkan kenaikan temperatur suhu global memengaruhi kelangsungan 12 persen populasi kadal langka.

Sinervo mulai memfokuskan perhatiannya pada kepunahan kadal setelah dia melihat sebuah kecenderungan yang tampak selama melakukan pekerjaan lapangan di Perancis. Dia mengidentifikasi pola mengkhawatirkan dari grafik kepunahan kadal dengan peneliti Prancis, Jean Clobert dan Benoit Heulin.

Berdasarkan temuan itu mereka menghubungi rekan-rekannya di seluruh dunia – Jack Miles Situs dan Donald di Amerika Serikat, Fausto Méndez-de-la-Cruz di Meksiko, dan Carlos Frederico Duarte Rocha di Brazil. Kolaborasi global pun terjadi.

“Seberapa cepat kadal-kadal di bumi beradaptasi dengan peningkatan suhu global? adalah sebuah pertanyaan yang penting,” kata Sinervo

Setelah mengompilasinya dengan data dari penjuru dunia, Sinervo dan koleganya mempelajari efek peningkatan suhu pada tubuh kadal, dan membuat sebuah model resiko kepunahan pada berbagai spesies kadal di seluruh dunia, yang sekarang sudah hampir punah. Model ini jadi informasi bagi peneliti mengenai bagaimana pola kepunahan ini akan berlanjut pada masa datang.

Tim peneliti kemudian mengumpulkan berbagai jenis kadal dari 200 wilayah berbeda di Mexico. Menurut tim peneliti, suhu di daerah tersebut telah berubah terlalu cepat bagi kadal disana. Tim peneliti menyimpan model tersebut tersebar di beberapa lokasi di Meksiko, yaitu lokasi yang populasi kadal telah punah, lokasi populasi kadal hampir punah, dan lokasi populasi kadal yang masih terus berkembang.

“Ada periode hari ketika kadal tidak dapat keluar, dan pada dasarnya harus mundur ke tempat-tempat dingin,” kata Sinervo. “Ketika mereka tidak keluar, kadal tidak dapat makanan Jadi kita bisa memperkirakan berapa banyak waktu yang membuat kadal itu terusir karena suhu. Sehingga, kami mampu membuat parameter untuk model global kami.”

Model yang dibuat oleh peneliti-peneliti dunia ini menggambarkan bila kecenderungan peningkatan temperatur global akibat emisi karbondioksida terus bertambah, sekitar 6 persen spesies kadal akan punah pada tahun 2050. Jumlah 20 persen spesies kadal pun diperkirakan akan hilang dari planet bumi pada 2080.

Sinervo mengatakan, “Kita melihat spesies yang hidup di dataran rendah mulai berpindah ke dataran tinggi. Perpindahan ini secara perlahan mengakibatkan species dataran tinggi terancam kehidupannya apabila mereka (spesies dataran tinggi) tidak bisa berevolusi dengan baik.”

Walaupun begitu, prediksi tahun 2080, menurut Sinervo bisa saja berubah jika manusia berhasil menghambat pemanasan global.

“Jika pemerintah dunia dapat menerapkan perubahan terpadu untuk membatasi emisi karbondioksida kita, maka kita dapat menekuk kurva skenario tingkat kepunahan,” simpul Sinervo. Jumlah spesies kadal di seluruh dunia saat ini sekitar 1200 jenis.

]]>
https://www.greeners.co/news/pemanasan-suhu-global-ancam-kepunahan-kadal/feed/ 0
Pemanasan Suhu Global Ancam Kepunahan Kadal https://www.greeners.co/berita/pemanasan-suhu-global-ancam-kepunahan-kadal/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pemanasan-suhu-global-ancam-kepunahan-kadal https://www.greeners.co/berita/pemanasan-suhu-global-ancam-kepunahan-kadal/#respond Fri, 14 May 2010 16:02:39 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=1471

(ScienceDaily) – Pemanasan suhu global dapat menyebabkan kepunahan kadal. Peningkatan suhu, yang terjadi akibat tingginya tingkat emisi global ternyata berdampak pada kehidupan reptil jenis kadal. Jika peningkatan suhu terus berlanjut, diperkirakan 20 persen spesies kadal yang ada akan punah pada tahun 2080.

Peneliti dari Universitas California, Barry Sinervo, bersama kolega penelitiannya dari seluruh penjuru dunia menyimpulkan hal ini setelah melakukan perbandingan studi di lapangan atas populasi kadal di Meksiko dengan data lain di seluruh dunia.

Sinervo, yang memimpin penelitian ini, melakukan survey atas populasi jenis kadal selama satu dekade di Meksiko. Selama waktu tersebut Sinervo menyimpulkan kenaikan temperatur suhu global memengaruhi kelangsungan 12 persen populasi kadal langka.

Sinervo mulai memfokuskan perhatiannya pada kepunahan kadal setelah dia melihat sebuah kecenderungan yang tampak selama melakukan pekerjaan lapangan di Perancis. Dia mengidentifikasi pola mengkhawatirkan dari grafik kepunahan kadal dengan peneliti Prancis, Jean Clobert dan Benoit Heulin.

Berdasarkan temuan itu mereka menghubungi rekan-rekannya di seluruh dunia – Jack Miles Situs dan Donald di Amerika Serikat, Fausto Méndez-de-la-Cruz di Meksiko, dan Carlos Frederico Duarte Rocha di Brazil. Kolaborasi global pun terjadi.

“Seberapa cepat kadal-kadal di bumi beradaptasi dengan peningkatan suhu global? adalah sebuah pertanyaan yang penting,” kata Sinervo

Setelah mengompilasinya dengan data dari penjuru dunia, Sinervo dan koleganya mempelajari efek peningkatan suhu pada tubuh kadal, dan membuat sebuah model resiko kepunahan pada berbagai spesies kadal di seluruh dunia, yang sekarang sudah hampir punah. Model ini jadi informasi bagi peneliti mengenai bagaimana pola kepunahan ini akan berlanjut pada masa datang.

Tim peneliti kemudian mengumpulkan berbagai jenis kadal dari 200 wilayah berbeda di Mexico. Menurut tim peneliti, suhu di daerah tersebut telah berubah terlalu cepat bagi kadal disana. Tim peneliti menyimpan model tersebut tersebar di beberapa lokasi di Meksiko, yaitu lokasi yang populasi kadal telah punah, lokasi populasi kadal hampir punah, dan lokasi populasi kadal yang masih terus berkembang.

“Ada periode hari ketika kadal tidak dapat keluar, dan pada dasarnya harus mundur ke tempat-tempat dingin,” kata Sinervo. “Ketika mereka tidak keluar, kadal tidak dapat makanan Jadi kita bisa memperkirakan berapa banyak waktu yang membuat kadal itu terusir karena suhu. Sehingga, kami mampu membuat parameter untuk model global kami.”

Model yang dibuat oleh peneliti-peneliti dunia ini menggambarkan bila kecenderungan peningkatan temperatur global akibat emisi karbondioksida terus bertambah, sekitar 6 persen spesies kadal akan punah pada tahun 2050. Jumlah 20 persen spesies kadal pun diperkirakan akan hilang dari planet bumi pada 2080.

Sinervo mengatakan, “Kita melihat spesies yang hidup di dataran rendah mulai berpindah ke dataran tinggi. Perpindahan ini secara perlahan mengakibatkan species dataran tinggi terancam kehidupannya apabila mereka (spesies dataran tinggi) tidak bisa berevolusi dengan baik.”

Walaupun begitu, prediksi tahun 2080, menurut Sinervo bisa saja berubah jika manusia berhasil menghambat pemanasan global.

“Jika pemerintah dunia dapat menerapkan perubahan terpadu untuk membatasi emisi karbondioksida kita, maka kita dapat menekuk kurva skenario tingkat kepunahan,” simpul Sinervo. Jumlah spesies kadal di seluruh dunia saat ini sekitar 1200 jenis.

]]>
https://www.greeners.co/berita/pemanasan-suhu-global-ancam-kepunahan-kadal/feed/ 0