pupuk kompos - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/pupuk-kompos/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Thu, 12 Oct 2023 07:19:32 +0000 id hourly 1 Metode Takakura, Cara Tepat untuk Mengompos Sampah Organik https://www.greeners.co/gaya-hidup/metode-takakura-cara-tepat-untuk-mengompos-sampah-organik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=metode-takakura-cara-tepat-untuk-mengompos-sampah-organik https://www.greeners.co/gaya-hidup/metode-takakura-cara-tepat-untuk-mengompos-sampah-organik/#respond Thu, 12 Oct 2023 06:01:45 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=41939 Metode takakura merupakan salah satu cara mengompos sampah organik untuk skala rumah tangga. Untuk mengurangi timbunan sampah, khususnya sampah organik, kamu bisa memberdayakannya menjadi pupuk kompos. Pupuk kompos ialah salah satu […]]]>

Metode takakura merupakan salah satu cara mengompos sampah organik untuk skala rumah tangga. Untuk mengurangi timbunan sampah, khususnya sampah organik, kamu bisa memberdayakannya menjadi pupuk kompos.

Pupuk kompos ialah salah satu pupuk organik buatan manusia yang dibuat dari proses pembusukan sisa-sisa bahan organik. Proses pengomposan dapat berlangsung secara aerobik dan anaerobik yang saling menunjang pada kondisi lingkungan tertentu. Proses ini disebut sebagai dekomposisi atau penguraian.

Yuk, simak tips mengompos dengan metode takakura berikut ini!

Jenis Sampah yang Diolah

Sebelum memulai metode takakura ini, ketahui jenis sampah apa saja yang dapat diolah. Hal ini bertujuan agar hasil pembuatan pupuk kompos menjadi maksimal. 

Dalam artikel ilmiah karya Muhammad Johan Widikusyanto bertajuk “Membuat Kompos dengan Metode Takakura”, jenis yang pertama adalah sisa sayuran ataupun bahannya. Idealnya, sisa sayuran tersebut belum basi. Apabila sisa sayuran yang kamu miliki telah basi, sebaiknya cuci sayuran tersebut terlebih dahulu. Kemudian, peras dan buang airnya.

BACA JUGA: Eco Enzyme Jadikan Sampah Organik Bermanfaat

Berikutnya adalah jenis sampah yang berasal dari sisa nasi. Kemudian, kamu dapat memanfaatkan jenis sampah dari sisa ikan, ayam, kulit telur, dan sejenisnya. Selanjutnya adalah jenis sampah buah yang lunak (anggur, kulit jeruk, apel, dan lain-lain).

Dalam memanfaatkan sampah buah, hindari memasukkan biji dan kulit buah yang keras seperti biji salak, kulit kelapa dan kulit durian. Selanjutnya, kamu dapat memanfaatkan jenis sampah dari daun-daunan.

Alat dan Bahan Komposter Metode Takakura

Masukkan sampah rumah tangga ke dalam keranjang khusus selama beberapa waktu. Bahan yang digunakan adalah keranjang yang bisa terbuat dari plastik, bambu, atau bahan lain yang dindingnya berlubang. Hal ini bertujuan agar menghasilkan sirkulasi udara.

Kemudian, kamu memerlukan kardus yang besarnya sesuai dengan besar keranjang. Kardus ini berfungsi sebagai tempat proses pengomposan dan untuk menjaga kelembapan. Bahan lainnya adalah sekam, dedak, dan bakteri pengurai atau bio starter.

Dilansir Media Center Sleman, bakteri pengurai bisa dibuat sendiri dengan campuran air 12 liter, tape ketela 0,5 kg, tempe 0,25 kg, susu fermentasi 1 botol, dan tetes debu 2 gelas.

Selanjutnya, ada juga biang bakteri padat yang terbuat dari campuran dedak dan sekam dengan perbandingan 1:2. Kemudian, tambahkan bakteri cair dan air secukupnya. Hal ini bertujuan untuk menjaga kelembapan. 

Metode takakura merupakan salah satu cara mengompos sampah organik untuk skala rumah tangga. Foto: Dini Jembar Wardani

Metode takakura merupakan salah satu cara mengompos sampah organik untuk skala rumah tangga. Foto: Dini Jembar Wardani

Cara Membuat Kompos Metode Takakura

Takakura Home Method Composting merupakan metode pembuatan kompos untuk mendaur-ulang sampah dapur. Syaratnya adalah harus higienis, tidak berbau, dan tidak jorok. 

Cara membuat kompos dengan metode takakura ini ternyata sederhana, lho. Langkah pertama, masukkan kardus sesuai ukuran keranjang. Letakkan sekam yang sudah dijahit menggunakan kain jaring hingga menyerupai bantal. Sekam ini berfungsi menyerap air lindi agar bagian alas tidak terlalu lembap.

BACA JUGA: BSF Hilangkan Sampah Organik dalam Dua Hari

Langkah berikutnya, masukkan sampah rumah tangga dalam kondisi tercacah. Setelah itu, tutup keranjang menggunakan sekam. Kemudian, tutup dengan kain hitam agar terhindar dari lalat dan serangga serta menjaga kelembapannya. Aduk campuran biang bakteri dan sampah tersebut setiap hari untuk mempercepat pembusukan.

“Proses yang berlangsung baik ditandai dengan suhu yang hangat, tidak berbau dan pembusukan berjalan cepat,” ujar Endarwati, kader penggerak masyarakat di Padukuhan Penen, Desa Donoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman.

Cara Memanen Kompos Metode Takakura 

Apabila kompos di dalam keranjang metode takakura telah penuh, ambil sepertiganya dan matangkan selama seminggu. Untuk mematangkannya, biarkan atau angin-anginkan di tempat yang tidak terkena sinar matahari secara langsung. Sementara, sisanya yang dua per tiga bisa kita gunakan kembali sebagai starter untuk pengolahan berikutnya.

Kompos dengan metode takakura sudah terbentuk sempurna apabila teksturnya seperti tanah, warna cokelat kehitaman, dan tidak berbau. Untuk menguji kualitas kompos tersebut, kamu dapat larutkan dalam air bersih.

Kompos yang memiliki kualitas baik akan tenggelam. Apabila ada yang terapung, berarti material tersebut belum menjadi kompos. Kualitas air akan tetap menjadi bersih apabila air berubah warnanya jadi kecokelatan. Artinya, dalam kompos terdapat cairan hasil fermentasi anaerobik.

 

Penulis: Maula Sulthoni

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/metode-takakura-cara-tepat-untuk-mengompos-sampah-organik/feed/ 0
Yuk, Rawat Tanaman Hiasmu Secara Berkelanjutan! https://www.greeners.co/gaya-hidup/yuk-rawat-tanaman-hiasmu-secara-berkelanjutan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=yuk-rawat-tanaman-hiasmu-secara-berkelanjutan https://www.greeners.co/gaya-hidup/yuk-rawat-tanaman-hiasmu-secara-berkelanjutan/#respond Tue, 02 Aug 2022 03:00:04 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=36906 Selain bersepeda, mengoleksi dan merawat tanaman hias juga menjadi salah satu hobi yang paling digemari masyarakat selama pandemi Covid-19 berlangsung. Ternyata selain dapat mempercantik ruangan dan membersihkan udara, berinteraksi dengan […]]]>

Selain bersepeda, mengoleksi dan merawat tanaman hias juga menjadi salah satu hobi yang paling digemari masyarakat selama pandemi Covid-19 berlangsung. Ternyata selain dapat mempercantik ruangan dan membersihkan udara, berinteraksi dengan tanaman dalam ruangan terbukti membantu mengatasi stress, lho!

Menurut Journal of Physiological Anthropology, tanaman di dalam rumah dapat membuat Anda merasa lebih nyaman dan tenang. Namun, merawat tanaman hias dalam ruangan juga memerlukan beberapa tindakan yang tepat. Perawatan yang tidak baik dapat menyebabkan tanaman hias mati serta membahayakan lingkungan.

Melansir dari Ecowatch berikut tips yang telah Greeners rangkum untuk merawat tanamanmu tetap sehat dan juga tanpa merusak lingkungan!

Beli dengan Bertanggung Jawab

Sebelum membeli tanaman, Sobat Greeners dapat mencari toko terdekat dari rumah yang bersumber dari penjual etis atau mengikuti praktik organik. Meski lebih mudah dan nyaman berbelanja tanaman secara online, mengunjungi toko penjual tanaman secara langsung dapat lebih kamu percaya.

Sobat Greeners bisa langsung melihat tanaman dan melakukan konsultasi dengan penjual mengenai tanaman hias yang akan kamu beli. Selain itu, membeli secara langsung dan dengan jarak yang dekat juga bisa mengurangi penggunaan plastik untuk mengemas tanaman. Hal ini juga dapat meminimalisir kematian tanaman dalam perjalanan serta membuat tanaman lebih segar ketika mereka sampai di rumah.

Hindari Menggunakan Pot Plastik

Tanaman yang dijual di toko umumnya masih menggunakan pot plastik. Seperti kebanyakan plastik, pot tanaman sangat sulit untuk didaur ulang. Terutama pot tanaman dari plastik hitam yang sebagian besar tidak dapat didaur ulang.

Kekurangan dari pot tanaman plastik juga tidak memiliki pori-pori, sehingga membuat suhu di dalam pot cepat naik ketika panas terik. Karena itu dapat membuat tanaman lebih cepat layu dan membusuk.

Sebagai alternatif, Sobat Greeners bisa memilih pot tanah liat. Selain ramah lingkungan, pot tanah liat memberikan lingkungan yang sehat untuk tanaman. Porositas tanah liat juga memungkinkan udara dan kelembapan menembus sisi pot. Sehingga dapat membuat tanaman hias lebih sehat.

Manfaatkan Air Bekas Pakai

Untuk menghemat air, Sobat Greeners dapat memanfaatkan kembali air yang sudah digunakan. Seperti air untuk mencuci sayuran dan buah, atau air bekas cucian beras. Ternyata air bekas cucian beras dapat mendukung pertumbuhan tanaman, lho! Karena dapat memicu pertumbuhan vegetatif tanaman seperti pertumbuhan tunas, cabang dan daun.

Selain itu, Sobat Greeners juga dapat mengumpulkan air hujan menggunakan wadah. Air hujan sebenarnya lebih baik untuk beberapa tanaman, karena belum diolah secara kimia dengan klorin atau zat aditif lainnya seperti kebanyakan air ledeng.

Gunakan Pupuk Organik

Penggunaan pupuk sangat penting bagi tanaman hias. Maka dari itu, kesehatan tanaman hias sangat bergantung pada pemilihan pupuk yang akan Sobat Greeners pilih. Pupuk yang paling aman untuk menutrisi tanaman hias yakni pupuk organik, karena dapat meningkatkan tingkat kesuburan tanah.

Pupuk organik merupakan pupuk yang berasal dari bahan-bahan alami seperti tumbuhan dan hewan. Sehingga selain membuat tanaman sehat, pupuk organik juga dapat mengurangi pencemaran lingkungan.

Salah satu contoh jenis pupuk organik adalah kompos. Untuk mendapatkan pupuk kompos, Sobat Greeners dapat membuatnya di rumah menggunakan sampah organik seperti sisa sayuran, nasi, sisa buah-buahan.

Sebelumnya Greeners juga pernah membagikan cara untuk membuat pupuk organik dari rumah, selamat mencoba!

Penulis: Zahra Shafira

Sumber:

Ecowatch

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/yuk-rawat-tanaman-hiasmu-secara-berkelanjutan/feed/ 0
Ekspedisi Sumba 2015: “Lompatan” Kebiasaan Franka di Desa Dikira https://www.greeners.co/aksi/ekspedisi-sumba-2015-lompatan-kebiasaan-franka-di-desa-dikira/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ekspedisi-sumba-2015-lompatan-kebiasaan-franka-di-desa-dikira https://www.greeners.co/aksi/ekspedisi-sumba-2015-lompatan-kebiasaan-franka-di-desa-dikira/#respond Sun, 06 Sep 2015 07:57:22 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=11026 Dikira (Greeners) – Bercocok tanam di tengah terik matahari, mengolah kotoran hewan menjadi sesuatu yang bermanfaat seperti pupuk kompos dan bahan bakar biogas, serta hidup tanpa aliran listrik dan terasing […]]]>

Dikira (Greeners) – Bercocok tanam di tengah terik matahari, mengolah kotoran hewan menjadi sesuatu yang bermanfaat seperti pupuk kompos dan bahan bakar biogas, serta hidup tanpa aliran listrik dan terasing dari dunia luar tentu tidaklah mudah.

Setidaknya begitulah yang dirasakan oleh Franka Maria Bertien Kerklaan (25), salah satu peserta tim Ekspedisi Sumba 2015 asal Utrecht, Belanda. Perempuan yang baru saja menyelesaikan pendidikan Ilmu Sains dan Komunikasi dengan fokus Pendidikan Keberlanjutan ini mengaku seperti mengalami lompatan kebiasaan yang sangat jauh berbeda dengan apa yang ia jalani sehari-hari di kota asalnya.

“Saya punya banyak teman dan keluarga di negara asal saya. Namun, kami tidak pernah bertemu setiap hari karena harus bekerja dan melakukan aktifitas. Di sini, semuanya berbeda. Semua melakukan sesuatu bersama-sama. Bahkan saya hampir tidak memiliki wilayah pribadi untuk melakukan hal yang pribadi untuk diri saya,” tuturnya, Dikira, Kamis (03/09).

Selain itu, ia juga merasakan sulitnya hidup dalam kondisi yang benar-benar tertinggal dibandingkan dengan hidup di tempat di mana ia dibesarkan. Jika, di Utrech ia bisa membeli kebutuhan untuk makan pada siang hari dengan mudah, sehingga setelah sampai di rumah ia bisa langsung memasak dan mengkonsumsinya.

“Sedangkan di sini, untuk makan saja harus masak dengan waktu yang cukup lama tanpa listrik dan kompor gas yang mempermudah hidup mereka,” lanjutnya.

Oleh karena itu, Franka sangat senang dengan adanya Solar Water Pump (Pompa Air Tenaga Surya) dan teknologi biogas yang diterapkan di Desa Dikira oleh Hivos yang bekerjasama dengan beberapa mitra lokalnya. Karena, katanya lagi, dengan adanya teknologi tersebut sungguh sangat membantu kehidupan masyarakat khususnya dalam hal pertanian serta beberapa hal lainnya.

Franka Maria Bertien Kerklaan (25), salah satu peserta tim Ekspedisi Sumba 2015 asal Utrecht, Belanda. Foto: dok. Ekspedisi Sumba 2015

Franka Maria Bertien Kerklaan (25), salah satu peserta tim Ekspedisi Sumba 2015 asal Utrecht, Belanda. Foto: dok. Ekspedisi Sumba 2015

Khusus untuk biogas, Franka mengaku baru pertama kali melihat dan mempelajari secara langsung mekanisme dan cara kerjanya di Desa Dikira. Karena selama ini ia hanya melihat dari foto dan video yang ia miliki.

Sebelum berangkat ke Sumba, Frangka telah membuat sebuah museum berjalan dari sepeda yang berisi berbagai foto terkait lokasi, keadaan, suasana dan kondisi di Sumba agar orang-orang bisa melihat dan tergerak dan mencari tahu mengenai Sumba.

Kini, setelah ia merasakan sendiri kehidupan di Sumba, khususnya Desa Dikira, ia merasa harus mempublikasikan dan menginformasikan kondisi sebenarnya melalui hasil jepretan yang ia alami sendiri.

Sebagai informasi, Desa Dikira adalah salah satu desa yang menjadi tujuan tim Ekspedisi Sumba 2015. Desa ini berada di Sumba Barat Daya dengan 325 Kepala Keluarga yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani sayur dan peternak.

Franka adalah salah satu peserta asal Kota Utrech, Belanda, yang tergabung dalam Ekspedisi Sumba 2015. Bersama tujuh orang peserta lainnya, Franka melakukan perjalanan untuk mempelajari dan merasakan bagaimana suasana dan keadaan hidup masyarakat Sumba sembari mengkampanyekan perubahan iklim dan energi terbarukan yang dikembangkan oleh Hivos, organisasi internasional pembangunan nirlaba non-pemerintah internasional.

Selain Franka, tujuh peserta lainnya adalah Dea Sihotang dari Cibubur, Novianus Efrat dari Jakarta, Saepul Hamdi dari Sukabumi dan Griksa Gunadarma dari Jakarta. Sedangkan tim dari Belanda yaitu Guido, Joyce dan Sylvia.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/aksi/ekspedisi-sumba-2015-lompatan-kebiasaan-franka-di-desa-dikira/feed/ 0
Kembali Berkebun Bersama Gemar Berkebun https://www.greeners.co/aksi/kembali-berkebun-bersama-gemar-berkebun/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kembali-berkebun-bersama-gemar-berkebun https://www.greeners.co/aksi/kembali-berkebun-bersama-gemar-berkebun/#respond Tue, 16 Dec 2014 01:00:16 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_event&p=6779 Bekasi (Greeners) – Kampanye untuk menggiatkan kembali kegiatan berkebun di lingkungan masyarakat masih terus dilakukan oleh Komunitas Bekasi Berkebun. Bersama dengan komunitas Waste4change, Bekasi Berkebun mengadakan kegiatan Gemar Berkebun dengan […]]]>

Bekasi (Greeners) – Kampanye untuk menggiatkan kembali kegiatan berkebun di lingkungan masyarakat masih terus dilakukan oleh Komunitas Bekasi Berkebun. Bersama dengan komunitas Waste4change, Bekasi Berkebun mengadakan kegiatan Gemar Berkebun dengan tujuan untuk mengedukasi dan menggiatkan kembali pemanfaatan lahan tidur sebagai lahan yang bermanfaat untuk berkebun.

Kali ini, komunitas Bekasi Berkebun mengajak warga yang tinggal di Blok Frambosa (sebanyak dua RT) dan Blok Durian (sebanyak satu RW) di Perumahan Grand Bekasi, Bekasi Timur untuk terlibat dalam kegiatan Gemar Berkebun.

Penanggung Jawab kegiatan Gemar Berkebun, Annisa Paramitha, mengatakan, kegiatan Gemar Berkebun merupakan kegiatan lanjutan setelah sebelumnya dilakukan beberapa kegiatan lain seperti edukasi pemanfaatan sampah untuk menjadi pupuk kompos dan tanam perdana di Rumah Wakil Walikota Bekasi, Akhmad Syaikhu.

Perempuan yang akrab dipanggil Nisa ini menyatakan kalau antusias warga Grand Bekasi membuat kegiatan yang ditujukan untuk masyarakat tersebut terasa sangat hidup.

Dalam kegiatan Gemar Berkebun yang digagas komunitas Bekasi Berkebun bersama dengan Waste4change, warga termasuk anak-anak terlihat antusias terlibat dalam kegiatan ini. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Dalam kegiatan Gemar Berkebun yang digagas komunitas Bekasi Berkebun bersama dengan Waste4change, warga termasuk anak-anak terlihat antusias terlibat dalam kegiatan ini. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Selain itu, dengan diadakannya kegiatan ini, masyarakat diharapkan dapat lebih mampu memanfaatkan sampah rumah tangga dengan baik dan dapat memanfaatkan lahan perkebunan dengan kontrol yang berkelanjutan.

“Kegiatan ini hanya langkah awal untuk sebuah langkah pemanfaatan ruang kosong yang baik. Nantinya setelah kebun ini sudah bisa mandiri, maka akan dilanjutkan lagi ke kebun-kebun selanjutnya,” jelas Nisa, Bekasi, Minggu (14/12).

Ketua RT 06/RW 10, perumahan Grand Bekasi, Tri Handito, mengaku merasakan manfaat yang baik dengan diadakannya kegiatan ini. Bahkan, ia telah berencana bersama dengan warga yang lain untuk membentuk sebuah komunitas warga yang berkaitan dengan berkebun seperti yang dilakukan oleh Bekasi Berkebun.

“Ini keren ya, selain menjalin silaturahmi antar warga, jika kebun ini dikelola lebih jauh pasti bisa jadi lahan agribisnis,” tambahnya.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/aksi/kembali-berkebun-bersama-gemar-berkebun/feed/ 0
Tanam Ria Ajak Warga Bekasi Peduli Lingkungan Hidup https://www.greeners.co/aksi/tanam-ria-ajak-warga-bekasi-peduli-lingkungan-hidup/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tanam-ria-ajak-warga-bekasi-peduli-lingkungan-hidup https://www.greeners.co/aksi/tanam-ria-ajak-warga-bekasi-peduli-lingkungan-hidup/#respond Sat, 06 Dec 2014 00:00:16 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_community_act&p=6599 Jakarta (Greeners) – Berkebun sekaligus bermain dan berkumpul untuk saling mengakrabkan diri antar masyarakat dan komunitas yang peduli terhadap keberlangsungan lingkungan hidup tentunya menjadi hal yang menyenangkan. Selain mengikat tali […]]]>

Jakarta (Greeners) – Berkebun sekaligus bermain dan berkumpul untuk saling mengakrabkan diri antar masyarakat dan komunitas yang peduli terhadap keberlangsungan lingkungan hidup tentunya menjadi hal yang menyenangkan. Selain mengikat tali silaturahmi, masyarakat yang terlibat pun akan mendapatkan ilmu dan pengalaman baru yang tentunya akan sangat bermanfaat dari banyak sisi.

Setidaknya begitulah yang ingin disampaikan oleh komunitas Bekasi Berkebun melalui kegiatan “Tanam Ria” yang diadakan di rumah dinas Wakil Walikota Bekasi, Ahmad Syaikhu. Koordinator Bekasi Berkebun yang juga sekaligus penanggung jawab kegiatan “Tanam Ria”, Winartania Massie, mengungkapkan bahwa kegiatan “Tanam Ria” merupakan langkah percontohan bagi masyarakat luas tentang bagaimana cara berkebun dan memanfaatkan lahan yang ada agar menjadi lahan yang lebih bermanfaat.

“Kegiatan ‘Tanam Ria’ ini diadakan sebagai percontohan bagi masyarakat dalam pemanfaatan lahan. Sebelumnya juga kami melakukan beberapa pelatihan dan edukasi terhadap masyarakat yang melibatkan beberapa komunitas,” jelas perempuan yang biasa disapa Wina ini saat melakukan penanaman perdana di rumah dinas Wakil Walikota Bekasi, Jakasampurna, Bekasi Selatan, Sabtu (29/11).

Komunitas Bekasi Berkebun mengajak warga Bekasi untuk memanfaatkan lahan sempit yang menganggur  dengan berkebun melalui kegiatan  "Tanam Ria". Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Komunitas Bekasi Berkebun mengajak warga Bekasi untuk memanfaatkan lahan sempit yang menganggur dengan berkebun melalui kegiatan
“Tanam Ria”. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Wina menerangkan, keterlibatan beberapa komunitas yang dimaksud diantaranya seperti pembuatan pupuk kompos yang diberikan oleh Rumah Sopan, dan sesi berbagi pengalaman tentang benih dari orang yang telah lama berkecimpung dalam pertanian organik. Selain itu, ada pula kegiatan edukasi tentang bagaimana cara pemilihan dan pengolahan sampah rumah tangga yang baik dari komunitas waste4change.

Meski begitu, Wina menyayangkan minimnya minat dan ketertarikan masyarakat, khususnya di Kota Bekasi, akan kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Padahal, menurutnya, dukungan dari Pemerintah Kota Bekasi telah terlihat jelas. Namun, entah kenapa, setiap kali melakukan kegiatan yang berhubungan lingkungan hidup selalu minim peminat.

“Padahal Bekasi ini memiliki banyak komunitas, tapi enggak tahu kenapa semuanya seperti berjalan sendiri-sendiri. Padahal kita bisa saling support antar komunitas setiap kali ingin melakukan acara. Pemerintah kota bahkan sudah membukakan jalan,” ungkap Wina.

Senada dengan Wina, Staf Humas Wakil Walikota Bekasi, Adi Samsuito pun merasa bahwa keterlibatan berbagai komunitas yang ada di Kota Bekasi memiliki pengaruh yang besar bagi perubahan sikap dan perilaku masyarakat terhadap lingkungan. Hanya saja, menurutnya, mungkin beberapa komunitas tersebut masih perlu meningkatkan intensitas komunikasi, sehingga Pemerintah Kota Bekasi memfasilitasi beberapa kegiatan komunitas agar mampu meningkatkan intensitas komunikasi yang kurang tersebut.

“Coba dibayangkan, misalnya komunitas Bekasi Berkebun ini punya cabang di kelurahan, lalu di kecamatan atau bahkan sampai tingkat RT dan RW, tentunya akan sangat luar biasa pengaruhnya terhadap masyarakat,” pungkas Adi.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/aksi/tanam-ria-ajak-warga-bekasi-peduli-lingkungan-hidup/feed/ 0