Rachmat Gobel - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/rachmat-gobel/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sun, 31 May 2015 10:32:36 +0000 id hourly 1 Bahaya Rokok Elektrik https://www.greeners.co/berita/bahaya-rokok-elektrik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bahaya-rokok-elektrik https://www.greeners.co/berita/bahaya-rokok-elektrik/#respond Sun, 31 May 2015 05:48:23 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=9352 Jakarta (Greeners) – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyampaikan bahwa penggunaan rokok elektrik yang kini semakin marak dikalangan masyarakat memiliki dampak yang sama berbahayanya dengan rokok konvensional. Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyampaikan bahwa penggunaan rokok elektrik yang kini semakin marak dikalangan masyarakat memiliki dampak yang sama berbahayanya dengan rokok konvensional.

Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes, Ekowati Rahajeng, mengatakan, rokok elektrik memiliki beberapa kandungan yang dianggap berbahaya oleh Kemenkes, seperti propylene glycol (zat penyebab iritasi jika dihirup), nitrosamin (penyebab kanker), logam beracun (cadmium, nikel, dan timbal), Carbonyl yang isinya formaldehyde dan acetaldehyde dan acrolein (penyebab kanker), serta beberapa zat berbahaya lainnya termasuk nikotin yang juga ada di dalam rokok konvensional.

“Berdasarkan sejumah penelitian, rokok elektrik itu sama bahayanya atau bisa lebih bahaya daripada rokok biasa. Ditambah karena rokok elektrik menyasar generasi muda, dikhawatirkan malah meningkatkan jumlah perokok baru di Indonesia,” jelasnya, Jakarta, Jumat (29/05).

Oleh karena itu, Eko menyatakan bahwa pihaknya pun telah memberikan rekomendasi kepada Kementerian Perdagangan agar rokok elektrik tidak diperdagangkan di Indonesia karena rokok elektrik sendiri dikategorikan sebagai alat elektronik yang izin peredarannya diatur oleh Kementerian Perdagangan.

“Saat ini kami (Kemendag dan Kemenkes) masih melakukan proses pembahasan atau menggodok regulasi untuk rokok elektrik ini,” tukasnya.

Sebagai informasi, sebelumnya, Menteri Perdagangan Rachmat Gobel sempat menyatakan akan melarang penjualan rokok elektrik dan impor untuk rokok elektrik akan segera dihentikan. Nantinya, kebijakan tersebut akan diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) tentang peredaran barang yang dilarang, diawasi perdagangannya atau diatur tata niaganya, yang saat ini masih dalam tahap penggodokan.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/bahaya-rokok-elektrik/feed/ 0
BPOM dan Polri Pastikan Tidak Ada Beras Plastik https://www.greeners.co/berita/bpom-dan-polri-pastikan-tidak-ada-beras-plastik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bpom-dan-polri-pastikan-tidak-ada-beras-plastik https://www.greeners.co/berita/bpom-dan-polri-pastikan-tidak-ada-beras-plastik/#respond Wed, 27 May 2015 05:01:15 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=9269 Jakarta (Greeners) – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) akhirnya menyatakan bahwa hasil uji laboratorium terhadap sampel beras plastik atau yang diduga mengandung bahan sintetis yang diambil dari sampel yang […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) akhirnya menyatakan bahwa hasil uji laboratorium terhadap sampel beras plastik atau yang diduga mengandung bahan sintetis yang diambil dari sampel yang masih tersisa di Sucofindo dan sampel yang diambil dari toko yang dilaporkan menjual beras plastik adalah negatif.

Berdasarkan hasil tes tersebut, Kepala BPOM Roy Alexander Sparringa mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan meminta masyarakat agar melaporkan ke polisi jika memang menemukan kejadian yang serupa.

“Sampai saat ini belum ada lagi kasus beras plastik yang dilaporkan kepada pihak kepolisian atau BPOM. Namun, jika ternyata nanti ada lagi laporan beras plastik, kami akan langsung tindak lanjuti,” ujarnya saat dihubungi oleh Greeners, Jakarta, Rabu (27/05).

Dihubungi terpisah, Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), Abdullah Manshuri mengajak masyarakat untuk menjadikan isu beras plastik yang diduga berasal dari Tiongkok ini sebagai momentum untuk kembali mengonsumsi beras lokal.

“Ini sebenarnya bisa juga jadi momentum karena beras yang diduga plastik itu kan dari impor. Masyarakat seharusnya bisa lebih jeli melihat kalau beras lokal kita juga memiliki kualitas yang baik,” tambahnya.

Sebagai informasi, kemarin, Selasa (26/05), pemerintah dan Polri akhirnya mengumumkan hasil penelitian atas sampel beras sintetis. Berdasarkan uji atas sampel beras yang dilakukan BPOM, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian dan Pusat Laboratorium Forensik Polri, ternyata tidak ditemukan beras yang bercampur plastik.

Untuk mempertegas hasil uji laboratorium itu, Polri bersama Menteri Perdagangan Rachmat Gobel telah meminta sampel yang masih tersisa di Sucofindo untuk diperiksa lagi di laboratorium BPOM dan Puslabfor Polri. Sebab sebelumnya, penelitian Sucofindo menunjukkan adanya kandungan sintetis dalam beras yang diuji. Namun, dari pemeriksaan ulang ternyata tidak ditemukan kandungan sintetis.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/bpom-dan-polri-pastikan-tidak-ada-beras-plastik/feed/ 0
Heboh Beras Plastik, YLKI Nyatakan Belum Terima Aduan Resmi https://www.greeners.co/berita/heboh-beras-plastik-ylki-nyatakan-belum-terima-aduan-resmi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=heboh-beras-plastik-ylki-nyatakan-belum-terima-aduan-resmi https://www.greeners.co/berita/heboh-beras-plastik-ylki-nyatakan-belum-terima-aduan-resmi/#respond Wed, 20 May 2015 04:30:01 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=9147 Jakarta (Greeners) – Jelang bulan Ramadhan, warga Bekasi dihebohkan dengan beredarnya beras palsu yang terbuat dari bahan campuran kentang, ubi jalar, dan resin sintetis industri alias plastik dengan modus dicampurkan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Jelang bulan Ramadhan, warga Bekasi dihebohkan dengan beredarnya beras palsu yang terbuat dari bahan campuran kentang, ubi jalar, dan resin sintetis industri alias plastik dengan modus dicampurkan dengan beras lokal.

Menanggapi hal tersebut, Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi mengungkapkan bahwa hingga saat ini belum ada laporan resmi yang diterima oleh YLKI terkait beredarnya beras plastik tersebut.

“Kalau ke saya pribadi, beberapa hari lalu ada pesan dari media sosial yang masuk ke saya. Tapi kalau pengaduan resmi ke YLKI soal beras palsu itu belum ada,” jelasnya saat dihubungi oleh Greeners melalui pesan singkat, Jakarta, Selasa (19/05).

Meskipun begitu, dirinya berharap kepada pemerintah dan instansi terkait, agar segera melakukan proses pengusutan karena isu beredarnya beras plastik tersebut sudah mulai meresahkan warga.

“Pemerintah harus memeriksa langsung ke pasar, harus ada upaya penarikan. Ini tindakan kriminal, pelakunya harus diproses secara pidana. Jika beras itu juga benar beras dari Cina (impor), maka kran impornya harus ditutup,” lanjutnya.

Sebagai informasi, sebelumnya, Dewi Septiani (29), pedagang nasi uduk dan bubur ayam di Ruko GT Grande, Blok F 19 Nomor 37, RT 01/RW 23, Perumahan Mutiara Gading Timur, Kelurahan Mustikajaya, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi, Jawa Barat, menemukan dugaan adanya beras plastik (sintesis) dari beras yang ia beli di di Pasar Mutiara Gading Timur, Bekasi.

Beberapa waktu belakangan, testimoni dari akun "dewinurizza" berikut dua foto yang dicurigai sebagai beras palsu juga beredar luas di media sosial dan menarik perhatian netizen. Foto: Instagram

Beberapa waktu belakangan, testimoni dari akun “dewinurizza” berikut dua foto yang dicurigai sebagai beras palsu juga beredar luas di media sosial dan menarik perhatian netizen. Foto: Instagram

Sementara itu, Kementerian Perdagangan (Kemendag) telah menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah mengeluarkan izin impor beras plastik dari Tiongkok. Saat ini, Menteri Perdagangan, Rachmat Gobel sudah meminta anak buahnya agar menyelesaikan masalah yang membuat resah masyarakat tersebut.

“Enggak ada, saya sedang minta direktur jenderal saya untuk ke pasar melihat informasi adanya beras dari China, apalagi beras plastik karena Kemendag tidak pernah mengeluarkan izin untuk itu,” tegas Rachmat seperti dikutip dari laman resmi Kementerian Perdagangan.

Sedangkan di Tiongkok sendiri, heboh beras plastik ini sudah dimulai sejak tahun 2012 lalu dan saat ini sejumlah negara kembali dihebohkan oleh beras palsu asal Tiongkok tersebut. Bahkan, menurut YLKI, kini penjualan beras plastik tersebut juga sudah menjalar ke berbagai tempat di India, Hongkong dan Malaysia.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/heboh-beras-plastik-ylki-nyatakan-belum-terima-aduan-resmi/feed/ 0