racun - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/racun/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Tue, 07 Feb 2023 04:43:42 +0000 id hourly 1 MercLok, Produk Terobosan yang Mampu Kurangi Kadar Merkuri https://www.greeners.co/ide-inovasi/terobosan-baru-produk-ini-bisa-kurangi-kadar-merkuri/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=terobosan-baru-produk-ini-bisa-kurangi-kadar-merkuri https://www.greeners.co/ide-inovasi/terobosan-baru-produk-ini-bisa-kurangi-kadar-merkuri/#respond Tue, 07 Feb 2023 04:43:42 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=38891 Merkuri merupakan unsur kimia yang secara alami ada di dalam alam. Namun, aktivitas manusia telah menyebabkan pencemaran air hingga tanah dan berpotensi menghasilkan racun. Namun, baru-baru ini perusahaan kimia khusus […]]]>

Merkuri merupakan unsur kimia yang secara alami ada di dalam alam. Namun, aktivitas manusia telah menyebabkan pencemaran air hingga tanah dan berpotensi menghasilkan racun. Namun, baru-baru ini perusahaan kimia khusus Albemarle Corporation telah mengembangkan produk terobosan baru penangkap merkuri. Mereka tawarkan cara mengurangi kadar merkuri dalam air, tanah dan rantai makanan.

Adalah MercLok, produk yang berfungsi untuk melumpuhkan merkuri dan menghentikannya menyebar ke tanah dan air. Perusahaan ini mengklaim produk ini aman bagi manusia dan lingkungan.

Terobosan ini merupakan langkah besar menghilangkan merkuri dari area yang tercemar, seperti tambang baik yang masih beroperasi maupun yang telah terbengkalai. Penasihat Riset dan Teknologi Albemarle Jon Miller menyatakan, merkuri sangat berbahaya karena mengancam jaringan dan sistem saraf manusia.

“MercLok melumpuhkan racun, artinya dikunci untuk menghindari kerusakan pada lingkungan atau manusia,” kata dia.

Bahaya Merkuri

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahaya merkuri selama beberapa dekade. Penambang yang telah lama terpapar bahan ini akan menderita penyakit bahkan kematian.

Menurut Environmental Protection Agency (EPA), paparan merkuri tingkat tinggi dapat membahayakan otak, jantung, ginjal, paru-paru, dan sistem kekebalan tubuh orang-orang dari segala usia.

Tingkat metil merkuri yang tinggi dalam aliran darah bayi yang berkembang di dalam rahim dan anak kecil dapat merusak sistem saraf mereka yang sedang berkembang. Selain itu juga memengaruhi kemampuan mereka untuk berpikir dan belajar.

Bahkan, EPA melaporkan, Methylmercury ada pada elang, berang-berang, dan macan kumbang Florida yang terancam punah. Pada paparan tingkat tinggi, efek berbahaya metil merkuri pada hewan-hewan ini termasuk kematian, berkurangnya reproduksi, pertumbuhan dan perkembangan yang lebih lambat, perilaku abnormal.

Merkuri kerap digunakan dalam baterai, lampu neon, alkali, klorin, produksi kain kempa, termometer dan barometer. Karena efek buruknya ini, para ilmuwan menemukan opsi alternatif sebagai pengganti produk-produk ini.

Kurangi Pelepasan Kadar Merkuri Lebih dari 95 %

MercLok Albemarle menawarkan solusi yang menjanjikan untuk masalah tersebut. Perusahaan melaporkan bahwa MercLok terbukti menyerap merkuri unsur dan ionik di lingkungan dengan menangkap dan menstabilkan kadar merkuri.

Perusahaan ini mengklaim dapat mengurangi pelepasan merkuri hingga lebih dari 95 %. Setidaknya satu studi kasus menunjukkan bahwa MercLok dapat mengurangi konsentrasi metil merkuri dalam media yang diolah lebih dari 99 %.

Wakil Presiden Keberlanjutan, Albemarle Mark de Boer menyatakan, sebagai perusahaan yang berorientasi pada nilai, MercLok berinovasi dengan meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.

Penulis: Ramadani Wahyu

Sumber: InHabitat

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/terobosan-baru-produk-ini-bisa-kurangi-kadar-merkuri/feed/ 0
Sulphur Tuft, Jamur Beracun yang Hidup Bergerombol https://www.greeners.co/flora-fauna/sulphur-tuft-jamur-beracun-yang-hidup-bergerombol/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sulphur-tuft-jamur-beracun-yang-hidup-bergerombol https://www.greeners.co/flora-fauna/sulphur-tuft-jamur-beracun-yang-hidup-bergerombol/#respond Sat, 14 Jan 2023 03:00:09 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=38597 Hypholoma fasciculare atau umumnya dikenal sebagai Sulphur Tuft merupakan jamur hutan berkelompok. Seperti halnya namanya, jamur beracun ini memiliki warna kuning belerang dan tumbuh saat musim gugur dan semi. Muasal […]]]>

Hypholoma fasciculare atau umumnya dikenal sebagai Sulphur Tuft merupakan jamur hutan berkelompok. Seperti halnya namanya, jamur beracun ini memiliki warna kuning belerang dan tumbuh saat musim gugur dan semi.

Muasal nama spesifiknya berasal dari bahasa Latin fascicularis yang berarti ‘dalam bundel’ atau ‘berkerumun’. Ini mengacu pada kebiasaannya yang tumbuh berkelompok. Namanya dalam bahasa Jepang adalah Nigakuritake berarti ‘kuritake pahit’.

Morfologi dan Ciri-Ciri Umum 

Berkatup setengah bola dengan diameter 2 hingga 6 sentimeter, jamur ini memiliki warna halus kuning belerang. Pada bagian tengah berwarna jingga-cokelat dan pinggiran keputihan.

Bagian insang yang sedianya berwarna kuning perlahan menjadi gelap berwarna hijau yang khas. Sebab, spora kehitaman berkembang pada bagian ini.

Sementara bagian cetakan sporanya berwarna ungu kecokelatan. Tangkainya memiliki panjang 3-10 sentimeter dengan lebar 4-10 milimeter, berwarna kuning muda dan orange cokelat di bagian bawah.

Sekilas, spesies ini serupa dengan Capnoides Hypholoma tapi tak memiliki insang kuning kehijauan dan rasa pahit. Spesies lain yang serupa dengan Sulphur Tuft yaitu H. sublateritium dengan tudung berwarna kemerahan.

Habitat dan Distribusi

Sulphur Tuft tumbuh subur di kayu mati dari pohon gugur dan pohon jenis konifera. Mereka kerap berada pada kayu gugur yang busuk karena kandungan ligninnya yang lebih rendah.

Jamur ini bisa muncul kapan saja, baik di musim semi hingga gugur. Mereka tersebar luas dan melimpah di Eropa bagian utara dan Amerika Utara, Iran dan Anatolia timur di Turki.

Kandungan dan Manfaat

Sulphur Tuft sudah pasti mengandung racun. Kandungan steroid depsipeptida fasciculol E dan fasciculol F menyebabkan diare, mual, muntah, proteinuria, dan kolaps. Selain itu, kelumpuhan, hingga gangguan penglihatan. Meski demikian, gejalanya bisa sembuh dalam beberapa hari.

Dalam Significant Biogenesis of Chlorinated Aromatics by Fungi in Natural Environments (1994), De Jong menyatakan, beberapa studi lapangan menunjukkan kemampuan jamur ini untuk mengendalikan kolonisasi organisme pembusuk kayu lainnya.

Sebelumnya telah dilaporkan dalam literatur bahwa jamur ini kaya akan produk alami terpenoid dan organohalogen termasuk metabolit fascicularones dan anisaldehyde.

Hypholoma fasciculare telah berhasil digunakan sebagai pengobatan eksperimental dan secara kompetitif menggantikan penyakit jamur umum tumbuhan runjung, Armillaria solidipes, dari hutan jenis konifera.

Taksonomi Sulphur Tuft (Hypholoma fasciculare) 

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/sulphur-tuft-jamur-beracun-yang-hidup-bergerombol/feed/ 0
Katak Panah Beracun, Hati-hati dengan Toksinnya yang Mematikan! https://www.greeners.co/flora-fauna/katak-panah-beracun-hati-hati-dengan-toksinnya-yang-mematikan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=katak-panah-beracun-hati-hati-dengan-toksinnya-yang-mematikan https://www.greeners.co/flora-fauna/katak-panah-beracun-hati-hati-dengan-toksinnya-yang-mematikan/#respond Mon, 27 Sep 2021 06:07:40 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=33786 Memiliki warna kulit biru safir, penampilan Dendrobates tinctorius memang sangat elok dipandang mata. Namun jangan sekali-kali mencoba menyentuh mereka, karena spesies amfibi ini tergolong sebagai katak panah beracun dari famili […]]]>

Memiliki warna kulit biru safir, penampilan Dendrobates tinctorius memang sangat elok dipandang mata. Namun jangan sekali-kali mencoba menyentuh mereka, karena spesies amfibi ini tergolong sebagai katak panah beracun dari famili Dendrobatidae.

Keluarga Dendrobatidae merupakan spesies katak asli yang berasal dari Amerika Tengah dan Selatan. Mereka dapat kita tandai dari warna kulitnya yang cerah, licin dan juga bercorak.

Katak D. tinctorius bukanlah satu-satunya individu yang berasal dari genus Dendrobates. Ia berkerabat dekat dengan spesies katak panah emas, yang juga memiliki racun mematikan.

Merujuk berbagai literatur, kadar toksin yang terkandung dalam kulit katak panah beracun terbilang tinggi. Ia dapat membunuh 10 orang dewasa dalam waktu beberapa menit saja.

Karakteristik dan Ciri-Ciri Katak Panah Beracun

Ukuran tubuh D. tinctorius cukup kecil, mereka berbiak sekitar 1,5 – 6 cm dengan bobot 30 gram. Warna tubuhnya sangat bervariasi, lebih kompleks daripada katak beracun kebanyakan.

Warna kulit dasar katak tersebut sejatinya hitam, dengan pola garis kuning atau putih yang tidak teratur di sepanjang punggung, panggul, dada, kepala, hingga ke bagian perutnya.

Seiring bertambahnya usia, warna tersebut lantas berubah menjadi kebiruan. Sedang pada usia dewasa, warna biru tadi berubah kembali menjadi lebih pekat dengan titik-titik hitam.

Corak warna pada kulit katak panah beracun adalah bentuk pertahanan diri. Ahli menyebutnya ‘warning coloration’, yang berguna sebagai “peringatan” bagi para predator mereka.

Melansir beragam sumber, ukuran tubuh katak jantan biasanya lebih kecil dari sang betina. Mereka mempunyai cakram jari kaki yang lebih besar dengan bentuk menyerupai hati.

Sedangkan cakram jari kaki katak panah beracun betina berbentuk lingkaran. Punggungnya terlihat lebih melengkung daripada penjantan, serta memiliki ukuran lebih besar dan lebar.

Baca juga: Pelobatrachus Nasutus, Katak Bertanduk Ahli Kamuflase

Habitat dan Kebiasaan Katak Panah Beracun

Spesies D. tinctorius ahli temukan di daerah kaki bukit dan serasah hutan sampai ketinggian 350 meter di atas permukaan laut (mdpl). Berudunya mampu bertahan hidup di kolam air dengan tingkat keasaman tinggi.

Berdasarkan sejumlah riset, berudu katak beracun terbilang cukup tangguh dan adaptif. Daerah pembiakkannya mencapai ketinggian vertikal 15 m dengan salinitas 955 ppm.

Katak ini tergolong sebagai diurnal, mereka aktif pada siang hari untuk mencari makan. Makanannya sendiri berupa serangga-serangga kecil yang bisa masuk ke mulut mereka.

Walau bermukim di sekitar perairan, katak panah beracun bukan perenang yang baik. Mereka bisa saja tenggelam, apalagi jika berada pada perairan berarus deras dan dalam.

Uniknya, katak D. tinctorius betina cenderung lebih ‘posesif’ daripada pejantan. Mereka akan bergulat untuk mengusir betina pesaing, hingga tak jarang menyebabkan kematian.

Menurut IUCN Red List, populasi katak panah beracun cenderung stabil dan masih banyak. Karena itu, pakar golongkan spesiesnya sebagai satwa berisiko rendah atau ‘Least Concern’.

Fungsi Racun Katak Dendrobates Tinctorius

Sama seperti corak warnanya, racun yang tersimpan dalam kulit katak ini berguna sebagai alat pertahanan diri. Infeksinya dapat menimbulkan rasa sakit, keram, hingga sensasi kaku.

Jenis racun yang katak D. tinctorius hasilkan adalah alkolid. Zat ini disalurkan lewat kelenjar kulit, serta berasal dari hewan tungau, rayap dan semut yang berhasil mereka konsumsi.

Racun alkolid (batrachotoxin) mempunyai kemampuan untuk membuka saluran sodium sel saraf, yang mana hal ini secara permanen memblokir sinyal yang diterima oleh otot kita.

Karena itu jika terkena racun alkolid, penderitanya akan mengalami kejang otot dan keram. Dalam kasus lebih parah, gejala ini bisa mengakibatkan gagal jantung dan merenggut nyawa.

Bagi suku Indian kemampuan toksin katak panah beracun berguna dalam perang. Racun ini mereka lumuri pada bagian ujung panah, sehingga bisa menjadi alat tempur mematikan.

Di bidang kesehatan, ilmuwan percaya bahwa racun D. tinctorius bermanfaat sebagai obat pereda rasa sakit. Ini diperoleh berdasarkan hasil riset terhadap komponen racun tersebut.

Baca juga: Kodok Merah, Kodok Endemik Jawa Paling Langka di Indonesia

Taksonomi Spesies Dendrobates Tinctorius

Katak Panah Beracun-Taksonomi

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/katak-panah-beracun-hati-hati-dengan-toksinnya-yang-mematikan/feed/ 0
Laba-Laba: Walaupun Bikin Merinding tapi Bisa Usir Hama https://www.greeners.co/flora-fauna/laba-laba/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=laba-laba https://www.greeners.co/flora-fauna/laba-laba/#respond Thu, 07 Jan 2021 00:00:26 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=16672 Laba-laba merupakan hewan yang kompleks, bukan karena sifat namun lebih kepada jenisnya yang beragam. Spesies satwa berkaki banyak ini memang sangat besar, peneliti percaya ada 200.000 jenis Arachnida (bangsa laba-laba) di dunia dan sebagian di antaranya belum teridentifikasi.]]>

Laba-laba merupakan hewan yang kompleks, bukan karena sifat namun lebih kepada jenisnya yang beragam. Spesies satwa berkaki banyak ini memang sangat besar, peneliti percaya ada 200.000 jenis Arachnida (bangsa laba-laba) di dunia dan sebagian di antaranya belum teridentifikasi.

Hewan yang satu ini tergolong cukup kuat, ia tergabung ke dalam organisme yang mampu bertahan hidup, mulai dari daerah dingin seperti kutub hingga kawasan padang pasir yang kering.

Secara umum, kita dapat menemukan fauna berfilum Arthropoda ini hampir di seluruh belahan bumi. Namun jenis, klasifikasi dan ciri dari spesies-spesies tersebut tentu berbeda satu dengan lainnya.

Itu sebabnya, karena jumlahnya yang besar penting untuk mengetahui ciri-ciri serta karakteristik dari laba-laba. Agar tidak salah menilai hewan tersebut, simak ulasannya di bawah ini!

Jenis Laba-Laba yang Ada di Dunia

Membahas jenis laba-laba di dunia tentu enggak ada habisnya, terdapat sekitar 40.000 spesies hewan berkaki delapan yang telah pakar temukan, lalu masuk dalam 111 golongan suku yang berbeda.

Seperti yang telah saya sebutkan, populasi hewan ini memang sangat banyak sehingga para peneliti biasanya mengidentifikasi spesies fauna tersebut berdasarkan tiga subordonya, yakni:

1. Mesothelae

Laba-laba yang tergabung dalam subordo Mesothelae adalah jenis arachnida primitif yang tak berbisa.

Ciri dari hewan ini bisa terlihat dari ruas-ruas tubuhnya yang nampak jelas, sehingga memperlihatkan hubungan kekerabatan lebih dekat dengan leluhurnya, yakni arthropoda beruas-ruas.

2. Mygalomorphae atau Orthognatha

Mygalomorphae atau Orthognatha adalah kelompok hewan pembuat lubang persembunyian serta liang jebakan di dalam tanah. Ciri dari subordo ini biasanya bertubuh besar, contohnya Tarantula.

laba-laba syfney funnel

Sydney funnel-web spider dari Australia termasuk dalam subordo Mygalomorphae. Gigitan fauna ini bisa mengancam nyawa manusia. Foto: Shutterstock.

3. Araneomorphae

Araneomorphae adalah golongan arthropoda ‘modern.’ Kelompok yang satu ini memiliki anggota yang paling besar, serta mendominasi 94% populasi hewan berkaki delapan yang ada di dunia.

Subordo araneomorphae sendiri terdiri dari 95 suku, taring dari kelompok ini biasanya mengarah agak miring ke depan dan bisa bergerak berlawanan arah (seperti capit) saat menggigit mangsa.

Tidak cuma subordo, berbagai spesies dan jenis laba-laba juga dapat kita kelompokkan ke dalam dua golongan berbeda yakni kelompok satwa penjaring dan pemburu. 

  • Laba-laba penjaring

Laba-laba penjaring adalah jenis arachnida yang paling sering kita temui berada di sekitar rumah. Hewan ini umumnya menghasilkan benang dari kelenjar (spinneret) yang berada di bagian belakang tubuhnya. Jaring itu sendiri berguna untuk menjerat lawan atau serangga kecil yang kerap menjadi panganan satwa tersebut.

  • Laba-laba pemburu

Jenis ini biasanya lebih aktif. Jenis arachnida ini sering menjelajahi pepohonan, sela-sela rumput atau permukaan dinding berbatu untuk mencari mangsa. Fauna yang satu ini dapat mengejar dan melompat dalam menerkam mangsanya.

Morfologi dan Ciri-Ciri Umum

Spesies hewan berkaki delapan ini memiliki dua segmen tubuh yakni bagian depan (cephalothorax atau prosoma), serta bagian belakang (abdomen atau opisthosoma).

Cephalothorax atau prosoma sendiri merupakan gabungan dari kepala dan dada (toraks). Sedang, bagian atas dan bawahnya terdapat sebuah penghubung tips (pedicle atau pedicellus).

Pada bagian cephalothorax, melekat empat pasang kaki serta satu sampai empat pasang mata. Selain itu, ada pula sepasang rahang bertaring besar (chelicera).

Terdapat sepasang atau beberapa alat bantu mulut serupa tangan (pedipalpus). Saat usia dewasa, bagian ini akan terlihat membesar serta berubah fungsi menjadi alat bantu perkawinan.

Dari segi ukurannya, bobot serta ketinggian laba-laba bergantung pada jenisnya. Namun, para ahli mengklaim bahwa jenis pejantan memiliki ukuran tubuh lebih besar daripada sang betina.

Perlu Anda ketahui, spesies fauna pemalu ini sebenarnya tidak memiliki mulut atau gigi untuk mengunyah. Hewan tersebut justru memiliki alat pengisap untuk menyedot cairan tubuh dari mangsanya.

sutra

Laba-laba membangun sarangnya dengan sutra. Sarang ini juga sekaligus alat untuk menjebak mangsa. Foto: Pixabay.

 

Laba-Laba Rumah dan Manfaatnya

Tak bisa dipungkiri, jika kita melihatnya dengan saksama, bentuk laba-laba memang cukup menyeramkan. Namun, bukan berarti hewan tersebut harus kita berantas dan serta-merta mengancam keberlangsungan hidup manusia.

Pakar berpendapat, sebagain besar spesies arachnida merupakan hewan yang tertutup. Mayoritas spesies yang awam jumpai bahkan tidak tergolong agresif dan jauh dari kata berbahaya.

Uniknya, hewan-hewan tersebut justru bisa menjadi sahabat manusia karena membantu mengurangi hama dan serangga pengganggu layaknya nyamuk (jenis pakanan laba-laba).

Sebagian besar dari hewan berkaki delapan ini memang dibekali dengan bisa yang beracun. Namun ahli percaya, kadar racun yang terdapat pada laba-laba rumah tidak membahayakan jiwa manusia.

Benang sutra dari sarang arachnida juga sangat bermanfaat. Jenis benang tersebut memiliki ketahanan lima kali lebih kuat ketimbang benang serupa yang terbuat dari baja.

Maka dari itu, jangan langsung parno ketika melihat laba-laba di rumah, ya. Percayalah, manusia pada dasarnya jauh lebih ‘berbahaya’ daripada hewan berbulu dan berkaki banyak tersebut.

Taksonomi Laba-Laba

sutra

Referensi:

Nurlaela, Universitas Islam Negeri Makassar

Khairun Nisa, dkk., dari Universitas Syiah Kuala Darussalam, Banda Aceh

Muhammad Gagit Syafriansyah, dkk., Universitas Tanjungpura

Penulis: Yuhan Al Khairi, Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/laba-laba/feed/ 0
Cara Kucing “Membersihkan” Lambung https://www.greeners.co/flora-fauna/cara-kucing-membersihkan-lambung/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=cara-kucing-membersihkan-lambung https://www.greeners.co/flora-fauna/cara-kucing-membersihkan-lambung/#respond Wed, 29 Jul 2015 10:15:18 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=10527 Banyak sekali jenis makanan yang disukai kucing, mulai dari ikan, daging merah atau apa saja yang beraroma amis. Sebetulnya, kucing tidak peduli pada rasa makanan karena saraf-saraf di lidahnya tergolong […]]]>

Banyak sekali jenis makanan yang disukai kucing, mulai dari ikan, daging merah atau apa saja yang beraroma amis. Sebetulnya, kucing tidak peduli pada rasa makanan karena saraf-saraf di lidahnya tergolong lemah. Saraf yang paling kuat terdapat pada kumisnya (vibrisa). Bangkitnya selera makan kucing lebih bergantung pada aroma makanan.

Walaupun kucing senang makanan beraroma amis, mungkin suatu kali Anda pernah melihat kucing sedang asyik memakan rerumputan di halaman rumah. Mungkinkah kucing itu sedang mencoba makanan selingan berupa tumbuhan? Sama seperti manusia memakan salad setelah menu main course?

Secara alamiah, kucing juga menjaga kesehatan tubuhnya. Anda mungkin pernah mendapati kucing muntah-muntah. Itu bukan karena kucing masuk angin atau sakit perut, melainkan salah satu cara kucing untuk “membersihkan” atau mengeluarkan racun yang mengendap di dalam lambungnya.

Seperti dilansir dalam situs Petmd.com, kadang-kadang kucing juga memuntahkan benda menyerupai gulungan rambut, benang atau bulu. Kumpulan bulu itu merupakan benda yang secara tidak sengaja termakan oleh kucing. Jika bulu atau rambut itu sudah terkumpul banyak di dalam perut, maka harus dikeluarkan agar tidak mengganggu pencernaan.

Salah satu cara untuk mengeluarkan benda yang tidak diinginkan dari dalam perut adalah dengan memakan rumput. Dengan makan rumput, kumpulan bulu atau rambut tadi akan terpancing keluar melalui mulut.

Selain itu, pada rumput terdapat cairan yang mengandung asam folat. Ini adalah salah satu vitamin yang penting untuk fungsi tubuh kucing dan membantu untuk memproduksi hemoglobin, protein yang membawa oksigen dalam darah.

Jadi, Anda tak perlu khawatir lagi jika melihat kucing peliharaan tengah asyik memakan rumput. Itu bukan karena sedang kelaparan atau ingin makanan selingan, melainkan tengah berusaha mengeluarkan racun dan sesuatu yang mengganjal dalam perut kucing.

Penulis: ANP/G32

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/cara-kucing-membersihkan-lambung/feed/ 0