resensi film - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/resensi-film/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sun, 17 Jan 2021 07:10:06 +0000 id hourly 1 ROOM, Dunia Sebatas Kamar https://www.greeners.co/gaya-hidup/room-dunia-sebatas-kamar/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=room-dunia-sebatas-kamar https://www.greeners.co/gaya-hidup/room-dunia-sebatas-kamar/#respond Mon, 15 Feb 2016 12:03:04 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=12852 Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi dalam hidupnya, entah akan terjadi hal baik atau sebaliknya.]]>

Judul Film: ROOM
Sutradara: Lenny Abrahamson
Pemain: Brie Larson, Jacob Tremblay, Joan Allen, Sean Bridgers, William H. Macy
Produksi: Element Pictures (2015)
Durasi: 117 menit

Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi dalam hidupnya, entah akan terjadi hal baik atau sebaliknya. Begitu pula dengan Joy (diperankan oleh Brei Larson). Hidupnya berubah drastis ketika ia diculik oleh seorang pria.

Pria yang ia sebut sebagai Old Nick (Sean Bridgers) itu mengurung dirinya dalam sebuah ruangan kecil dan sempit, tanpa jendela. Hanya ada sebuah atap kaca berukuran kecil, tempat dimana cahaya matahari dan bulan dapat masuk ke dalam ruangan itu.

Film ROOM. Poster: Element Pictures

Film ROOM. Poster: Element Pictures

Selama tujuh tahun, di tempat itu, Old Nick memperkosa dirinya hingga akhirnya ia melahirkan seorang anak laki-laki yang ia beri nama Jack (Jacob Tremblay). Ditengah rasa depresi mendalam dan keadaan kurang gizi, Joy berusaha tetap optimis demi Jack. Ia mengajari Jack bahwa dunia “nyata” adalah ruangan tempat mereka tinggal dan segala benda yang ada di dalamnya, sementara lainnya hanya ada di tivi.

Film adaptasi dari novel karangan Emma Donoghue berjudul “ROOM” ini mengambil sudut pandang Jack sebagai pencerita. Penonton diajak memahami dunia melalui mata Jack kecil. Tidak ada orang yang “nyata” selain Joy yang ia panggil “Ma”, dirinya, dan Old Nick. Ketika ia berhasil lolos keluar dari kamar, rasa penasaran, senang sekaligus takut bercampur baur mengiringi petualangan barunya mengenal dunia yang sesungguhnya.

Film ROOM. Poster: Element Pictures

Film ROOM. Poster: Element Pictures

Kisah penyelamatan Jack dan Joy dalam film ini bukan kisah heroik seperti film Hollywood pada umumnya. Namun, dialog dan kualitas akting dalam film dengan label R13 ini membuat film ini terasa berbobot.

Film yang masuk dalam empat nominasi di ajang penghargaan film Academy Awards 2016 ini baru akan tayang di Indonesia melalui jaringan bioskop Cinema XXI.

Penulis: Renty Hutahaean

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/room-dunia-sebatas-kamar/feed/ 0
The 33, Kisah Petambang Bertahan Hidup Dalam Perut Bumi https://www.greeners.co/gaya-hidup/the-33-kisah-petambang-bertahan-hidup-perut-bumi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=the-33-kisah-petambang-bertahan-hidup-perut-bumi https://www.greeners.co/gaya-hidup/the-33-kisah-petambang-bertahan-hidup-perut-bumi/#respond Tue, 22 Dec 2015 12:18:16 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=12341 Bagaimana rasanya terkurung di sebuah tempat sedalam 700 meter di bawah tanah selama 69 hari? Film "The 33" mengisahkan tentang 33 penambang emas yang terkurung dalam lokasi pertambangan.]]>

Judul film : The 33
Sutradara : Patricia Riggen
Pemain : Antonio Banderas, Rodrigo Santoro, Juliette Binoche, Lou Diamond Philips, Mario Casas, Jacob Vargas, Juan Pablo Raba, Oscar Nunez, Tenoch Huerta, Mario Zaragoza
Produksi : Warner Bross (2015)
Durasi : 120 menit

Bagaimana rasanya terkurung di sebuah tempat sedalam 700 meter di bawah tanah selama 69 hari? Film “The 33” mengisahkan tentang 33 penambang emas yang terkurung dalam sebuah pertambangan di Chili. Cerita bermula ketika sang mandor, Don Lucho (diperankan oleh Lou Diamond Philips), menemui pengawas pertambangan, Carlos Castillo (Mario Zaragoza). Don Lucho mengkhawatirkan keselamatan para pekerja tambang yang ia bawahi. Gunung dimana lokasi tambang tersebut berada juga tidak lagi aman bagi para pekerja tambang.

Mendapat protes keras dari Don Lucho, Castillo tidak peduli. Castillo justru menginstruksikan Don Lucho untuk memasuki lokasi tambang karena jam kerja telah dimulai dan mendesak agar Don Lucho tidak membeberkan ini pada para penambang.

Ternyata kekhawatiran Don Lucho menjadi kenyataan. Lokasi tambang yang berada 700 meter di bawah tanah runtuh dan memerangkap Don Lucho beserta 32 pekerja tambang lainnya. Kepanikan mereka membuat ego masing-masing pekerja tidak terkontrol. Di tengah kondisi kacau tersebut, Mario Sepulveda (Antonio Banderas) mencoba mengarahkan rekan-rekannya agar dapat bertahan.

The 33. Poster: Warner Bross Pict.

The 33. Poster: Warner Bross Pict.

Di luar gunung, anggota keluarga petambang cemas menanti kabar anggota keluarga mereka. Bukan hanya mereka tidak bisa berkomunikasi, petugas keamanan perusahaan tambang juga mengusir mereka dengan ancaman. Bencana besar itupun tidak mendapat perhatian dari sang Presiden. Mampukah para petambang yang terjebak bertahan?

Film ini berangkat dari kejadian yang pernah terjadi di sebuah pertambangan yang dikelola perusahaan San Esteban di Chili pada tahun 2010 lalu. Upaya penyelamatan para pekerja tersebut memakan waktu 69 hari.

Melalui film “The 33”, sutradara Patricia Riggen menggambarkan kondisi para pekerja tambang yang kerap dibiarkan dalam keadaan tidak aman dalam melakukan pekerjaannya. Patricia juga menyindir penguasa yang lamban menangani bencana dan baru muncul ketika perhatian publik semakin besar.

Film yang diestimasikan menghabiskan dana hingga 25 juta dollar AS ini resmi dirilis di Amerika pada 13 November 2015. Di Indonesia, film “The 33” sudah bisa ditonton di bioskop jaringan Cinema XXI sejak pertengahan bulan Desember ini.

Penulis: TW/G37

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/the-33-kisah-petambang-bertahan-hidup-perut-bumi/feed/ 0
The Little Prince, Kegembiraan Masa Kecil yang Memudar https://www.greeners.co/gaya-hidup/the-little-prince-kegembiraan-masa-kecil-yang-memudar/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=the-little-prince-kegembiraan-masa-kecil-yang-memudar https://www.greeners.co/gaya-hidup/the-little-prince-kegembiraan-masa-kecil-yang-memudar/#respond Sat, 31 Oct 2015 13:52:49 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11729 Judul Film: The Little Prince Sutradara: Mark Osborne Pengisi suara: Jeff Bridges, Rachel McAdams, Paul Rudd, Marion Cotillard, James Franco, Benicio del Toro, Ricky Gervais Produksi: Onyx Films (2015) Durasi: […]]]>

Judul Film: The Little Prince
Sutradara: Mark Osborne
Pengisi suara: Jeff Bridges, Rachel McAdams, Paul Rudd, Marion Cotillard, James Franco, Benicio del Toro, Ricky Gervais
Produksi: Onyx Films (2015)
Durasi: 110 menit

Jika Anda pernah membaca buku anak-anak karangan Antoine de Saint-Exupery berjudul “Le Petit Prince” atau dalam terjemahan bahasa Inggris menjadi “The Little Prince”, maka film “The Little Prince” merupakan interpretasi berbeda namun selaras terhadap karya Saint-Exupery.

Film ini mengisahkan tentang seorang Ibu (disuarakan Rachel McAdams) yang sangat ketat mengatur jadwal dan hidup anak perempuannya agar sang anak diterima masuk kampus ternama Werth Academy. Selama libur musim panas, mulai dari jam bangun tidur, sarapan, belajar, berlatih, hingga kembali tidur, semua diatur dengan sangat detail. Nyaris tidak ada waktu untuk bermain bagi si Gadis Kecil (Mackenzie Foy).

Suatu hari, Gadis Kecil bertemu dengan Penerbang tua yang merupakan tetangga di sebelah rumahnya. Dari Penerbang Tua (Jeff Bridges), Gadis Kecil mendengar kisah Pangeran Kecil. Gadis Kecil pun berteman dengan Penerbang Tua dan menjumpainya setiap hari untuk mendengar kelanjutan kisah Pangeran Kecil.

Hingga suatu hari, sang Ibu mengetahui bahwa pertemanan Gadis Kecil dengan Penerbang telah mengacaukan jadwal yang telah ia susun rapih. Ia pun memaksa Gadis Kecil agar berkonsentrasi pada jadwal harian yang telah dibuat dan melarang Gadis Kecil menemui Penerbang Tua. Penerbang Tua sendiri telah menyelesaikan kisah Pangeran Kecil namun ia jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit. Tidak ada yang peduli dengan Penerbang Tua kecuali Gadis Kecil.

Film "The Little Prince". Foto: dok. Onyx Films

Film “The Little Prince”. Foto: dok. Onyx Films

Malam itu, Gadis Kecil bermimpi tentang Pangeran Kecil yang telah menjadi dewasa. Rutinitas telah mengubah Pangeran Kecil (Paul Rudd) menjadi laki-laki yang ceroboh, tidak bahagia dan pasrah dengan keadaan. Mampukah Gadis Kecil membuat Pangeran kembali bahagia? Bagaimana pula kelanjutan hubungan Gadis Kecil dengan sang Ibu dan Penerbang Tua?

Dalam film “The Little Prince” ini, sutradara Mark Osborne seakan mempertanyakan kemajuan zaman yang menuntut keteraturan, ketepatan dan orientasi pada target yang tinggi namun mengorbankan kebebasan dan kreatifitas. Hal ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pesan Saint-Exupery dalam bukunya.

Meski film ini dibuat dalam tampilan animasi, film ini cocok ditonton segala umur. Film “The Little Prince” diputar perdana di Indonesia pada tanggal 30 Oktober 2015 dan dapat disaksikan di bioskop jaringan Cinema XXI.

Penulis: Renty Hutahaean

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/the-little-prince-kegembiraan-masa-kecil-yang-memudar/feed/ 0
Bridge of Spies, Kala Dua Negara Adidaya Berdiplomasi https://www.greeners.co/gaya-hidup/bridge-of-spies-kala-dua-negara-adidaya-berdiplomasi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bridge-of-spies-kala-dua-negara-adidaya-berdiplomasi https://www.greeners.co/gaya-hidup/bridge-of-spies-kala-dua-negara-adidaya-berdiplomasi/#respond Sun, 25 Oct 2015 11:29:02 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11654 Judul Film: Bridge of Spies Sutradara: Steven Spielberg Pemain: Tom Hanks, Alan Alda, Amy Ryan, Mark Rylance, Austin Stowell, Dominick Lombardozzi, Sebastian Koch, Michael Gaston, Peter McRobbie. Produksi: 20th Century […]]]>

Judul Film: Bridge of Spies
Sutradara: Steven Spielberg
Pemain: Tom Hanks, Alan Alda, Amy Ryan, Mark Rylance, Austin Stowell, Dominick Lombardozzi, Sebastian Koch, Michael Gaston, Peter McRobbie.
Produksi: 20th Century Fox (2015)
Durasi: 141 menit

Film-film berlatar perang dingin garapan Steven Allan Spielberg selalu memukau para pecinta film. Tengok hasil penjualan yang tinggi dari film-film sejenis Lincoln, Saving Privat Ryan atau Schindler’s List yang diperankan oleh Liam Neeson. Bahkan bagi mereka yang tidak begitu paham akan sejarah, bisa menjadi tertarik dan menikmati setiap cerita-cerita yang disajikan oleh pionir “The New Hollywood Era” ini.

Bridge of Spies pun tidak kalah dengan film-film berlatar sejarah seperti para pendahulunya. Spielberg membumbui aksi James Donovan, pengacara asal Brooklyn yang diperankan oleh Tom Hanks dengan celetukan-celetukan humor yang membuat film berdurasi 141 menit ini tidak bosan untuk disaksikan hingga usai.

Film yang didasari dari kisah nyata ini bercerita tentang Donovan yang terjebak dalam situasi Perang Dingin antara Central Intelligence Agency (CIA) dengan Komitet Gosudarstvennoy Bezopasnosti (KGB) atau Badan Intelijen Uni Soviet.

Kala itu, pada tahun 1962, CIA mengirim Donovan untuk menjalankan misi rahasia yang nyaris mustahil, yaitu bernegosiasi tentang pertukaran tahanan antara pilot U-2 Amerika, Francis Gary Powers (Austin Oswell) yang ditangkap saat sedang melakukan tugas mata-mata di atas langit Soviet dengan Rudolf Ivanovich Abel (Mark Rylance), mata-mata rusia yang ditangkap oleh FBI.

Film Bridge of Spies ini menandai reuni Spielberg dan Hanks setelah Saving Private Ryan. Kolaborasi keduanya seperti berhasil menceritakan bagaimana keangkuhan, egoisme dan sisi kemanusiaan beradu padu di bawah kekuasaan dua negara adidaya pada masanya. Satu catatan penting yang disajikan oleh Spielberg dalam film ini, proses negosiasi damai yang dilakukan Donovan. Terbukti, komunikasi antar pribadi masih mampu menjadi senjata kuat dalam diplomasi.

Nah, bagi Anda para penikmat film-film berlatar sejarah, film Bridge of Spies telah rilis pada 16 Oktober 2015 di Amerika. Sedangkan untuk Indonesia, Anda bisa menyaksikannya mulai tanggal 20 Oktober 2015 di bioskop jaringan Cinema XXI.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/bridge-of-spies-kala-dua-negara-adidaya-berdiplomasi/feed/ 0
The Croods, Makhluk Prasejarah pun Butuh Pengetahuan https://www.greeners.co/gaya-hidup/the-croods-makhluk-prasejarah-pun-butuh-pengetahuan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=the-croods-makhluk-prasejarah-pun-butuh-pengetahuan https://www.greeners.co/gaya-hidup/the-croods-makhluk-prasejarah-pun-butuh-pengetahuan/#respond Sun, 07 Jun 2015 11:16:03 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=9510 Judul film: The Croods Sutradara: Kirk DeMicco, Chris Sanders Pemain: Nicolas Cage, Emma Stone, Ryan Reynolds, Catherine Keener, Clark Duke, Cloris Leachman Produksi: DreamWorks Animation (2013) Durasi: 98 menit Film […]]]>

Judul film: The Croods
Sutradara: Kirk DeMicco, Chris Sanders
Pemain: Nicolas Cage, Emma Stone, Ryan Reynolds, Catherine Keener, Clark Duke, Cloris Leachman
Produksi: DreamWorks Animation (2013)
Durasi: 98 menit

Film “The Croods” mengambil latar sebuah zaman prasejarah fiksi Pliocene, yang dikenal dengan The Croodaceous. Di jaman ini, periode kehidupan diwarnai dengan makhluk-makhluk fantasi dan manusia berada dalam posisi sebagai “Pemimpin Perburuan”.

Eep (Emma Stone), seorang gadis remaja yang ingin menikmati indahnya alam di luar goa tempat ia dan keluarganya tinggal. Namun, sang Ayah, Grug (Nicolas Cage) selalu melarangnya karena menganggap dunia luar penuh dengan kejahatan.

Hingga pada suatu malam, Eep keluar dari goa secara diam-diam. Tanpa disangka, ia bertemu dengan Guy (Ryan Reynolds) yang sedang membuat api. Eep kaget dan kagum akan kehebatan Guy yang bisa membuat api.

Dalam pertemuan itu, Guy memberitahu Eep perihal teori pribadinya bahwa dunia sedang menuju ‘akhir’ dan meminta Eep agar bergabung untuk bersama-sama menyelamatkan diri, namun Eep menolak ajakan tersebut. Sebelum pergi, Guy memberikan Eep sebuah kerang yang bisa ditiup jika membutuhkan bantuan darinya.

Dalam keadaan yang tidak pernah melihat ‘benda baru’, Eep menunjukkan kerang pemberian Guy kepadakeluarganya. Sayang, dalam sekejap kerang tersebut dihancurkan oleh keluarganya yang merasa terancam. Tiba-tiba saja gempa bumi terjadi dan menghancurkan goa tempat mereka tinggal. Keluarga ini terpaksa keluar dari lingkungan mereka tinggal dan mencari tempat tinggal baru.

Setelah berdebat dengan Grug, Eep yang keras kepala akhirnya berhasil memanggil Guy. Grug mau tidak mau menerima Guy meski penuh rasa curiga dan penolakan.

Seiring berjalannya waktu, banyak hal dan pengetahuan yang di dapat dari Guy, namun Grug terus menolak hal baru tersebut. Grug merasa terancam dengan kehadiran Guy karena ia merasa dilupakan oleh keluarganya terutama oleh Eep. Namun, sekeras apapun Grug menolak Guy, akhirnya ia mau membuka pikirannya untuk menerima penemuan-penemuan baru.

Saat ia mau menerima itu semua, tiba-tiba saja terjadi gempa yang begitu dahsyat. Grug menyelamatkan keluarganya dengan melemparkan mereka satu persatu ke seberang tebing. Namun, belum sempat Grug menyelamatkan diri, gempa kembali mengguncang. Dapatkah Grug menyelamatkan diri untuk berkumpul kembali dengan keluarganya?

Berbagai petualangan dan gambar-gambar menarik memenuhi film “The Croods”, termasuk humor dan adegan lucu para karakternya. “The Croods” pun masuk sebagai salah satu nominator kategori Film Animasi Terbaik dalam ajang penghargaan film bergengsi Academy Awards (Oscar) tahun 2014. Film animasi yang dirilis tahun 2013 ini diperuntukan untuk seluruh keluarga, jadi tidak ada salahnya menonton film ini bersama orang-orang yang Anda cintai. Selamat menonton!

Penulis : Gloria Safira

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/the-croods-makhluk-prasejarah-pun-butuh-pengetahuan/feed/ 0
Gempa Bumi Maha Dahsyat di San Andreas https://www.greeners.co/gaya-hidup/gempa-bumi-maha-dahsyat-di-san-andreas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=gempa-bumi-maha-dahsyat-di-san-andreas https://www.greeners.co/gaya-hidup/gempa-bumi-maha-dahsyat-di-san-andreas/#respond Sat, 30 May 2015 12:45:06 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=9348 Judul Film: San Andreas Sutradara: Brad Peyton Pemain: Dwayne Johnson, Carla Gugino, Alexandra Daddario, Paul Giamatti, Archie Panjabi Produksi: Warner Bros., Village Roadshow Pictures (2015) Durasi: 114 menit Gempa bumi […]]]>

Judul Film: San Andreas
Sutradara: Brad Peyton
Pemain: Dwayne Johnson, Carla Gugino, Alexandra Daddario, Paul Giamatti, Archie Panjabi
Produksi: Warner Bros., Village Roadshow Pictures (2015)
Durasi: 114 menit

Gempa bumi hebat melanda California. Tidak tanggung-tanggung kerusakan yang ditimbulkannya, mulai dari dam yang hancur, jembatan Golden Gate di San Fransisco rusak parah, hingga ratusan (atau mungkin ribuan) gedung-gedung pencakar langit runtuh ke tanah. Tak ketinggalan, tulisan “Hollywood” lepas dari tempatnya.

Semua itu ada dalam film fiksi penuh aksi berjudul “San Andreas”. Film yang dibintangi oleh mantan pegulat profesional Hollywood, Dwayne “The Rock” Johnson ini penuh dengan ketegangan yang menggambarkan kerusakan maha dahsyat akibat terjadinya gempa bumi berkekuatan 9,6 skala Richter yang mengguncang California.

Ray Gains (Dwayne Johnson), seorang pilot helikopter dari Departemen Pemadam Kebakaran Los Angeles, sangat berdedikasi dengan pekerjaannya. Namun, hubungan dengan istrinya, Emma (Carla Gugino) tidak berjalan dengan baik dan akan bercerai. Hanya anak perempuannya, Blake (Alexandra Daddario) yang masih rajin menghubunginya untuk menanyakan kabar.

Suatu hari, gempa bumi menghancurkan Hoover Dam dan merenggut banyak korban. Atas kejadian ini, Ray turun tangan untuk menyelamatkan para korban. Namun tak disangka, gempa tersebut mengaktifkan lempengan bumi lainnya dan menimbulkan gempa susulan di berbagai tempat dan dalam skala yang lebih besar.

Emma dan Blake turut menjadi korban dalam musibah itu namun mereka berada di tempat yang berbeda. Rasa kemanusiaan dan cintanya terhadap keluarga, membuat Ray nekat mencari istri dan anaknya. Ia pun rela menghadapi tsunami dan reruntuhan bangunan. Mampukah ia menemukan mereka dan berdamai dengan kenangan buruk yang ia simpan dalam hatinya?

Salah satu plot dalam film San Andreas yang menggambarkan bencana tsunami tengah mengancam penduduk kota dan bersiap menghancurkan jembatan Golden Gate di San Fransisco. Poster: Warner Bros

Salah satu plot dalam film San Andreas yang menggambarkan bencana tsunami tengah mengancam penduduk kota dan bersiap menghancurkan jembatan Golden Gate di San Fransisco. Poster: Warner Bros

Sepanjang film San Andreas, ada banyak hal yang bisa kita pelajari sehubungan dengan bencana gempa bumi. Tidak panik, mencari tempat berlindung terdekat (termasuk sembunyi di bawah meja yang kokoh), dan mencari tempat yang lebih tinggi jika berada di tepi pantai (untuk mengantisipasi terjadinya tsunami) adalah beberapa diantaranya. Namun, penonton juga harus ingat bahwa film ini adalah film fiksi yang melebih-lebihkan secuil fakta.

Dalam kehidupan nyata, patahan San Andreas (San Andreas fault) yang berada di California terlihat memanjang sekitar 800 mill dengan kedalaman 10-12 mill. Patahan ini terbentuk akibat pergesaran dari lempeng Pasifik dan lempeng Amerika Utara. Patahan San Andreas pertama kali diidentifikasi tahun 1895 oleh profesor Andrew Lawson dari University of California, Berkeley. Lawson pula yang mengambil kesimpulan bahwa patahan tersebut bergerak ke arah selatan California setelah terjadi gempa San Fransisco pada tahun 1906.

Film San Andreas ditayangkan di bioskop Indonesia mulai tanggal 29 Mei 2015. Jika Anda mengajak anak-anak untuk menonton film ini, berikan pengertian dan informasi yang benar seputar bencana alam kepada mereka. Selamat menonton!

Penulis: Renty Hutahaean

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/gempa-bumi-maha-dahsyat-di-san-andreas/feed/ 0
Into The Wild, Belajar Arti Hidup Pada Alam https://www.greeners.co/gaya-hidup/into-the-wild-belajar-arti-hidup-pada-alam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=into-the-wild-belajar-arti-hidup-pada-alam https://www.greeners.co/gaya-hidup/into-the-wild-belajar-arti-hidup-pada-alam/#respond Sat, 23 May 2015 14:37:55 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=9213 Judul film : Into The Wild Sutradara : Sean Penn Pemain : Emile Hirsch, Marcia Gay Harden, William Hurt, Jena Malone, Brian Dierker, Catherine Keener, Vince Vayghn, Zach Galifianakis, Kristen […]]]>

Judul film : Into The Wild
Sutradara : Sean Penn
Pemain : Emile Hirsch, Marcia Gay Harden, William Hurt, Jena Malone, Brian Dierker, Catherine Keener, Vince Vayghn, Zach Galifianakis, Kristen Stewart, Hal Holbrook
Produksi: Paramount Vantage, River Road Entertainment, Art Linson Productions (2007)
Durasi : 148 menit

Keinginan untuk mencari arti hidup yang jauh dari kepalsuan, membuatnya melepaskan segala sesuatu yang telah diraihnya. Ia meninggalkan uang, gelar pendidikan dan keluarganya untuk menemukan jati diri.

Diusung dari kisah nyata, Into The Wild menyajikan cerita yang menyentuh tentang pencarian arti hidup yang jauh dari kepalsuan. Christopher Mc Candless (Emile Hirsch), seorang mahasiswa yang baru saja dinyatakan lulus memilih untuk melakukan sebuah perjalanan dengan membawa semua harta miliknya. Dengan mobil Datsun B210, berangkatlah ia ke arah Barat Atlanta menuju alam liar.

Tanpa memberitahu seorangpun mengenai perjalanannya, ditambah keinginan untuk menghilangkan jejak dari kedua orang tuanya, Mc Candless mengubah pola hidup serta mengganti nama aslinya menjadi Alexander Si Petualang Super. Tak tanggung-tanggung, Mc Candless menyumbangkan seluruh tabungannya untuk amal, membakar sisa uangnya, dan meninggalkan mobil demi merasakan pengalaman yang murni dan transendental.

Dalam perjalanannya, Mc Candless berjumpa dengan banyak orang yang mau memberikan tumpangan, pekerjaan, atau penginapan untuk satu atau dua malam. Ia pun selalu berjanji untuk mengirimkan kartu pos setelah misinya selesai dijalankan.

Pada April 1992, McCandless tiba di Fairbanks dan pada tanggal 1 Mei 1992 ia menemukan bus nomor 142 terdampar di sebelah barat Healy. Bus yang hanya tinggal kerangka tersebut dimanfaatkan sebagai rumah barunya di alam liar. Ia hidup dengan berburu landak, rusa, bebek dan memakan umbi-umbian dan buah raspberry. Kehidupan alam liar itu membuat obsesinya untuk menjauhkan diri dari kehidupan modern tercapai. Namun, dapatkah ia bertahan menjalani impiannya?

Penulis: Gloria Safira

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/into-the-wild-belajar-arti-hidup-pada-alam/feed/ 0
Filosofi Kopi, Mencari Jati Diri Lewat Kopi https://www.greeners.co/gaya-hidup/filosofi-kopi-pencarian-jati-diri-lewat-kopi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=filosofi-kopi-pencarian-jati-diri-lewat-kopi https://www.greeners.co/gaya-hidup/filosofi-kopi-pencarian-jati-diri-lewat-kopi/#respond Sat, 11 Apr 2015 06:22:45 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=8503 Judul Film: Filosofi Kopi Sutradara: Angga Dwimas Sasongko Pemain: Chicco Jerico, Rio Dewanto, Julie Estelle, Slamet Rahardjo, Jajang C. Noer Produksi: Visinema Pictures, 2015 Durasi: 117 menit Seperti kentalnya secangkir […]]]>

Judul Film: Filosofi Kopi
Sutradara: Angga Dwimas Sasongko
Pemain: Chicco Jerico, Rio Dewanto, Julie Estelle, Slamet Rahardjo, Jajang C. Noer
Produksi: Visinema Pictures, 2015
Durasi: 117 menit

Seperti kentalnya secangkir kopi hitam tubruk, seperti itulah kebersamaan yang terjalin antara Ben dan Jody. Dua sahabat yang telah bersama sejak kanak-kanak ini membuka kedai kopi “Filosofi Kopi”. Dalam kedai kecil yang dijalankan di bekas toko kelontong ayah Jody, pengunjung datang silih berganti untuk menikmati secangkir kopi racikan Ben.

Ben (Chicco Jerico) digambarkan sebagai seorang barista (peracik kopi) yang cuek dengan keadaan sekitarnya. Satu hal yang dapat menyita perhatiannya hanyalah kopi. Sementara Jody (Rio Dewanto), menaruh perhatiannya pada segala hal yang dapat membawa kedai “Filosofi Kopi” meraup untung untuk mengatasi hutang yang semakin hari semakin membelit.

Salah satu adegan dalam film "Filosofi Kopi" saat Ben berhasil membuat Ben's Perfecto. Foto: Visinema Pictures

Salah satu adegan dalam film “Filosofi Kopi” saat Ben berhasil membuat Ben’s Perfecto. Foto: Visinema Pictures

Suatu hari, Ben dan Jody menerima tantangan untuk membuat secangkir racikan kopi yang sempurna. Taruhannya, uang satu miliar yang akan mereka dapatkan jika menang atau hutang satu miliar jika kalah. Ben pun menciptakan Ben’s Perfecto. Namun, datanglah Elle (Julie Estelle), seorang Q Grader (pencicip kopi bersertifikat internasional) yang mengatakan masih ada kopi yang lebih baik dari kopi racikan Ben.

Pernyataan Elle lantas membawa Jody dan Ben bertemu dengan Pak Seno (Slamet Rahardjo) dan istrinya (Jajang C. Noer). Dari pertemuan itu, sedikit demi sedikit terungkap masa lalu Ben yang pahit dan traumanya pada kebun kopi. Ben, Jody, dan Elle pun berproses mencari jati diri dan makna kehadiran sosok Ayah.

Meski film “Filosofi Kopi” merupakan adaptasi dari buku karangan Dewi Lestari yang berjudul sama, namun jalan cerita yang dibangun dalam film memberikan nuansa berbeda. Dalam film “Filosofi Kopi”, sentilan kepada penguasa yang menindas pemilik kebun dan pemetik kopi menjadi bagian cerita. Berbagai informasi menarik seputar kopi juga turut disuguhkan dalam film berdurasi nyaris dua jam ini. Film ini tayang serentak di bioskop tanggal 9 April 2015.

Penulis: Renty Hutahaean

[See image gallery at www.greeners.co]

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/filosofi-kopi-pencarian-jati-diri-lewat-kopi/feed/ 0
Mahasiswa, Tentara dan Pegawai Istana Di Balik 98 https://www.greeners.co/gaya-hidup/mahasiswa-tentara-dan-pegawai-istana-di-balik-98/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mahasiswa-tentara-dan-pegawai-istana-di-balik-98 https://www.greeners.co/gaya-hidup/mahasiswa-tentara-dan-pegawai-istana-di-balik-98/#respond Sun, 11 Jan 2015 13:28:25 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_review&p=7051 Judul film: Di Balik 98 Sutradara: Lukman Sardi Pemain: Chelsea Islan, Boy William, Donny Alamsyah, Alya Rohali, Ririn Ekawati, Teuku Rifnu Wikana Produksi: MNC Pictures Durasi: 106 menit Kerusuhan yang […]]]>

Judul film: Di Balik 98
Sutradara: Lukman Sardi
Pemain: Chelsea Islan, Boy William, Donny Alamsyah, Alya Rohali, Ririn Ekawati, Teuku Rifnu Wikana
Produksi: MNC Pictures
Durasi: 106 menit

Kerusuhan yang terjadi di tahun 1998 menjadi salah satu catatan sejarah kelam bangsa Indonesia. Demonstrasi besar-besaran yang dilakukan mahasiswa bersama dengan rakyat untuk menurunkan Presiden Soeharto berbuntut pada tragedi penembakan mahasiswa dan eksodus etnis Tionghoa dari Indonesia ke luar negeri.

Seorang mahasiswi idealis bernama Diana (Chelsea Islan) bergabung dengan gerakan mahasiswa kampusnya. Ia dan teman-temannya merencanakan untuk melakukan aksi demonstrasi besar-besaran menuntut adanya reformasi di negara ini. Daniel (Boy William), pacar Diana, ikut terlibat dalam gerakan tersebut, namun Daniel menyatakan bahwa dirinya sebenarnya tidak suka konfrontasi.

Pada Mei 1998, demonstrasi yang direncanakan akhirnya dijalankan. Namun, aksi yang semula berjalan damai berubah anarkis. Adanya provokator yang menyusup diantara para demonstran membuat militer mengambil tindakan melampaui batas, mereka menggunakan peluru tajam dan melakukan penyisiran hingga ke dalam kampus.

Diana yang sempat bertemu dengan kakak iparnya, Bagus (Donny Alamsyah), di lokasi demonstrasi, sempat bersitegang. Ia menuduh Bagus lebih mementingkan karirnya sebagai Letnan Dua di kemiliteran daripada kakak perempuan sekaligus istri Bagus, Salma (Ririn Ekawati), yang tengah hamil besar.

Sementara itu, Salma yang merupakan pegawai Istana Negara, mencemaskan keselamatan Diana. Ia menyusup keluar istana untuk mencari adiknya. Namun di tengah jalan, ia terjebak di tengah-tengah massa yang riuh menjarah pusat perbelanjaan dan membakar kendaraan. Tak kuat, Salma pun pingsan.

Selama beberapa hari setelah demonstrasi besar, suasana berubah mencekam, terlebih bagi Daniel. Ia yang keturunan Tionghoa, tidak kuasa menahan sedih ketika mendapati rumahnya hancur berantakan dan ayah serta adik perempuannya tidak ada di sana. Sembunyi-sembunyi, ia berusaha mencari keluarganya. Di salah satu lorong jalan, kumpulan preman yang tengah berjaga menyadari kehadiran Daniel dan lari mengejarnya.

Meski film “Di balik 98” berlatar belakang kerusuhan yang terjadi pada tahun 1998 dan memasukan beberapa penggalan gambar dokumentasi saat terjadinya kerusuhan tersebut, namun Lukman Sardi selaku sutradara menyatakan film ini bukanlah film sejarah.

“(Di Balik) 98 ini menguatkan karakter keluarga yang gue buat. Jadi, gue berusaha menampilkan sesuatu yang dimasyarakat juga sudah familiar dengan karakter utamanya yang fiksi. Disitu terjadi konflik antara mereka bertiga, dari sisi mahasiswa, sisi tentara, sisi pegawai istana. Semua punya sudut pandang yang berbeda-beda,” ujar Lukman saat dijumpai usai pemutaran film “Di balik 98” untuk media di Djakarta Theater XXI, Jakarta, Rabu (7/01) lalu. Film ini direncanakan akan tayang serentak di bioskop mulai tanggal 15 Januari 2015.

(G08)

[See image gallery at www.greeners.co]

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/mahasiswa-tentara-dan-pegawai-istana-di-balik-98/feed/ 0
SUPERNOVA: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh https://www.greeners.co/gaya-hidup/supernova-ksatria-putri-dan-bintang-jatuh/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=supernova-ksatria-putri-dan-bintang-jatuh https://www.greeners.co/gaya-hidup/supernova-ksatria-putri-dan-bintang-jatuh/#respond Fri, 12 Dec 2014 07:28:54 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_review&p=6725 Judul film: SUPERNOVA: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh Sutradara: Rizal Mantovani Pemain: Herjunot Ali, Raline Shah, Paula Verhoeven, Fedi Nuril, Arifin Putra, Hamish Daud Produksi: PT Soraya Intercine Films, Desember […]]]>

Judul film: SUPERNOVA: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh
Sutradara: Rizal Mantovani
Pemain: Herjunot Ali, Raline Shah, Paula Verhoeven, Fedi Nuril, Arifin Putra, Hamish Daud
Produksi: PT Soraya Intercine Films, Desember 2014
Durasi: 136 menit

Hidup penuh dengan pilihan. Banyak orang berusaha memaknai hidup namun hanya sedikit yang benar-benar memilih menikmati proses hidup itu sendiri. Dewi ‘Dee’ Lestari bahkan menawarkan pilihan bahwa bukan melulu “aku berpikir maka aku ada” atau cogito ergo sum, melainkan opto ergo sum yang berarti “aku memilih maka aku ada”.

Film yang diangkat dari novel karangan Dewi Lestari dengan judul yang sama ini mengajak penonton untuk merenungkan atau setidaknya berpikir kembali bahwa ada begitu banyak pilihan dalam hidup. Berikut dengan konsekuensinya.

Adalah Rana (Raline Shah) yang memilih menikah dengan Arwin (Fedi Nuril) dengan harapan hidupnya akan bahagia. Pertimbangan bibit, bebet, bobot nampaknya menjadi standar Rana saat memilih Arwin. Namun, kebahagiaan dan perasaan dicintai justru muncul setelah ia bertemu dengan Fere (Herjunot Ali), seorang pengusaha muda sukses yang menjadi nara sumber tulisannya.

Di lain cerita, Dimas (Hamish Daud) dan Reuben (Arifin Putra) adalah dua orang yang menciptakan kisah cinta segitiga Rana, Arwin, dan Fere. Mereka pun memasukan seorang cyber avatar bernama Diva (Paula Verhoeven). Siapa sangka, dipenghujung cerita, keadaan justru diluar kendali keduanya.

Sebagaimana bukunya, film ini penuh dengan dialog-dialog yang bercampur dengan istilah ilmiah. Namun, Rizal Mantovani yang bertindak sebagai sutradara mengaku tidak ingin terjebak dalam detail buku yang masuk dalam jajaran “Best Seller” tidak lama setelah diterbitkan pada tahun 2001 lalu itu.

“Dalam adaptasi ini saya mencoba bagaimana caranya mengambil bukan detailnya, tapi spirit dan soul-nya,” ujarnya di Plaza Senayan beberapa waktu lalu.

Jika merasa pusing dengan dialog yang dilontarkan oleh keenam tokoh cerita tersebut, mungkin mencermati keindahan kota Bali, Jakarta, Medan, Madura, Banyuwangi, Labuan Bajo dan Washington yang menjadi setting film ini dapat meringankan pikiran Anda. Film berdurasi 136 menit ini tayang serentak di bioskop pada tanggal 11 Desember 2014.

(G08)

[See image gallery at www.greeners.co]

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/supernova-ksatria-putri-dan-bintang-jatuh/feed/ 0
Big Hero 6, Ketika Menghancurkan Lawan Bukan Jawaban https://www.greeners.co/gaya-hidup/big-hero-6-ketika-menghancurkan-lawan-bukan-jawaban/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=big-hero-6-ketika-menghancurkan-lawan-bukan-jawaban https://www.greeners.co/gaya-hidup/big-hero-6-ketika-menghancurkan-lawan-bukan-jawaban/#respond Sun, 09 Nov 2014 13:00:14 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_review&p=6369 Judul film: Big Hero 6 Sutradara: Don Hall & Chriss William Penulis naskah: Don Hall, Jordan Roberts, Daniel Gerson, Robert L. Baird Pengisi suara: Scott Adsit (Baymax), Ryan Potter (Hiro), […]]]>

Judul film: Big Hero 6
Sutradara: Don Hall & Chriss William
Penulis naskah: Don Hall, Jordan Roberts, Daniel Gerson, Robert L. Baird
Pengisi suara: Scott Adsit (Baymax), Ryan Potter (Hiro), Daniel Henney (Tadashi), T.J. Miller (Fred), Jamie Chung (Gogo), Damon Wayans (Wasabi), Genesis Rodriguez (Honey)
Produksi: Walt Disney Pictures, USA, 2014
Durasi: 108 menit

Rasa kehilangan terhadap kehadiran seseorang yang kita cintai, terutama anggota keluarga, akan sangat membekas dalam perasaan. Perbuatan yang tidak masuk akal, bahkan membahayakan diri dan orang lain, bisa saja dilakukan untuk melampiaskan rasa kehilangan itu. Namun, apakah tindakan itu dapat dibenarkan?

Film animasi terbaru produksi Disney berjudul “Big Hero 6” mencoba menggambarkan konsekuensi dari pelampiasan amarah yang berlebihan, dan “menghancurkan” bukanlah pilihan yang bijak. Dalam banyak film produksinya, Disney memang dikenal membagi karakter antagonis (tokoh jahat) dan protagonis (tokoh baik) dengan jelas. Untungnya, Disney memegang prinsip “happy ending” atau akhir yang bahagia pada hampir semua filmnya.

Film yang ditujukan untuk keluarga ini mengisahkan Hiro Hamada, bocah 14 tahun yang karena terlalu pintar namun tidak suka sekolah, nyaris menyia-nyiakan seluruh waktunya dengan mengikuti berbagai pertarungan adu robot ilegal. Berbeda dengan kakaknya, Tadashi Hamada, sosok ramah dan penyayang yang menghabiskan waktunya di kampus untuk mengerjakan robot yang akan menolong banyak orang. Robot ini ia beri nama Baymax.

Ketimbang melarang kegiatan yang sedang digandrungi sang Adik, Tadashi sengaja membawa Hiro ke kampusnya untuk melihat berbagai percobaan yang tengah dilakukan oleh teman-temannya yang berbakat. Disinilah Hiro mengenal Fred, Gogo Tomago, Wasabi, dan Honey Lemon.

Gambar: Disney Pictures

Gambar: Disney Pictures

Hiro akhirnya berusaha untuk dapat masuk ke kampus yang sama dengan Tadashi. Karena presentasi mikrobotnya menuai banyak kekaguman, Hiro sempat ditawari untuk bergabung dengan perusahaan robot terkemuka Krei Tech Industri. Namun Hiro lebih memilih tawaran profesor Callagahn untuk menjadi muridnya. Sayang, kebakaran hebat membakar gedung kampus termasuk mikrobot ciptaan Hiro. Tadashi yang mencoba menolong profesor Callaghan yang berada di dalam gedung justru ikut menjadi korban.

Suatu hari, Hiro yang masih dirundung sedih karena ditinggal abangnya, mengaduh kesakitan ketika kakinya kejatuhan benda. Saat itulah Baymax aktif dan mencoba memberikan pertolongan. Baymax yang merupakan robot perawat, didesain oleh Tadashi untuk memberikan pertolongan ketika dibutuhkan.

Tidak berapa lama, keadaan menjadi “liar” ketika Hiro mengetahui bahwa mikrobot karyanya digunakan untuk maksud jahat oleh profesor Callaghan yang ternyata masih hidup. Hiro yang tidak terima dengan kenyataan bahwa kakaknya meninggal demi menyelamatkan profesor Callagahn menjadi gelap mata dan ingin membalas dendam. Ia lantas menjejali Baymax dengan program beladiri dan perlengkapan canggih yang dapat memberi efek menghancurkan.

Di lain pihak, profesor Callaghan pun ingin membalas dendam kepada Alistair Krei, pemilik perusahaan Krei Tech Industri. Ia mengancam akan mengambil semua yang dianggap penting dalam hidup Alistair. Alasannya? Tonton saja film ini.

Gambar: Disney Pictures

Gambar: Disney Pictures

The only limit is your imagination.” Kalimat yang diucapkan oleh Hiro Hamada, sangat pas menggambarkan teknologi animasi yang digunakan Disney untuk Big Hero 6. Terlebih, efek visual yang halus dan gerakan yang tepat mampu menghidupkan karakter Baymax, robot dengan wajah yang hanya terdiri dari sepasang mata, dan postur tubuh tinggi besar nyaris bulat.

Sama dengan Amerika dan Kanada, film ini tayang perdana di Indonesia pada tanggal 07 November 2014. Big Hero 6 dapat ditonton diseluruh bioskop jaringan  Cinema XXI dalam format 2D dan 3D.

(G08)

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/big-hero-6-ketika-menghancurkan-lawan-bukan-jawaban/feed/ 0
Bears https://www.greeners.co/gaya-hidup/bears/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bears https://www.greeners.co/gaya-hidup/bears/#respond Mon, 20 Oct 2014 05:26:28 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_review&p=6196 Judul film: Bears Sutradara: Alastair Fothergill, Keith Scholey Penulis naskah: Alastair Fothergill, Adam Chapman Narasi: John C. Reilly Produksi : Disneynature, 18 April 2014 (tayang perdana) Durasi : 77 menit, […]]]>

Judul film: Bears
Sutradara: Alastair Fothergill, Keith Scholey
Penulis naskah: Alastair Fothergill, Adam Chapman
Narasi: John C. Reilly
Produksi : Disneynature, 18 April 2014 (tayang perdana)
Durasi : 77 menit, dokumenter

Disneynature, sebuah label film independen dari studio Walt Disney kembali merilis sebuah film dokumenter apik yang menyentuh hati. “Bears”, sebuah kisah tentang bagaimana seekor beruang yang berada pada jajaran hewan paling ditakuti oleh manusia, mampu bertahan hidup dan menjaga keselamatan bayinya yang baru lahir dari ganasnya perubahan iklim yang menyerang habitat mereka.

Film ini dibuka dengan adegan Sky, seekor ibu beruang grizzly yang tinggal di pegunungan Alaska, salah satu negara bagian di Amerika Serikat dan sedang melahirkan dua ekor anaknya yang bernama Scout dan Amber.

Sky menyadari bahwa menjadi orang tua adalah hal yang sulit. Terlebih, dia tahu betul kalau pada tahun pertamanya, anak beruang seringkali tidak bisa bertahan hidup. Keadaan alam dan ancaman hewan buas lainnya membuat Sky harus lebih waspada dan menjalankan perannya sebagai seorang Ibu.

Saat musim dingin berlalu dan mulai memasuki musim panas, Sky harus segera membawa anaknya ke tepi pantai untuk mengisi kembali perutnya yang tertahan lapar dengan beberapa ekor ikan salem kesukaan para beruang. Karena jika tidak, maka susunya akan kering dan anak-anaknya akan sangat kelaparan.

Namun musim panas adalah musim yang kejam. Musim yang jahat bagi bayi-bayi beruang. Namun, bahaya atau tidak, Sky harus bisa menghadapi ancaman tanah longsor maupun serangan hewan liar agar Scout dan Amber kecil bisa berada di tepi pantai. Karena, sebagai Ibu dia tahu betul, keberlangsungan anak-anaknya bergantung pada ikan salem itu. Untungnya beruang memiliki insting untuk menghindari bencana.

“Bears” adalah film dokumenter terbaru dari Disneynature, label yang sebelumnya juga pernah merilis film non-fiksi yang ditujukan kepada keluarga setiap tahunnya menjelang Hari Bumi, seperti “Earth” (2009) dan “Oceans” (2010).

Film yang digarap untuk menyambut Hari Bumi setiap tanggal 22 April ini mulai dirilis secara komersial pada tanggal 18 April 2014 lalu. Dengan tangan hangat Alastair Fothergill dan Keith Scholey sebagai sutradara, film ini akhirnya mampu membuat anak-anak maupun orang dewasa yang menontonnya terhenyak dan sadar bahwa manusia tidak tinggal sendirian di Bumi. Dan, selalu ada yang menjadi korban atas rusaknya bumi oleh tangan-tangan manusia.

Ceritanya yang ringan dan menyentuh hati, serta diiringi oleh narasi apik dari John C. Reilly yang juga pernah menjadi pengisi suara di film animasi Disney “Wreck-It Ralph”, membuat siapapun yang menyaksikan “Bears” seakan ikut merasakan hidup bersama Sky dan Scout serta Amber saat menjelajahi Alaska.

Tidak lupa juga keindahan dan keeksotisan daratan-daratan Alaska ditampilkan bersama momen-momen terbaik pada beberapa adegan yang ditampilkan oleh Alastair mampu memesona mata dan membayangkan indahnya dunia yang nun jauh di sana.

Film ini mengajari kita bagaimana indahnya sebuah keluarga dan begitu besarnya pengorbanan serta kasih sayang Ibu dalam menjaga anak-anaknya. Serta tidak lupa mengingatkan seluruh umat manusia bahwa hewan-hewan liar di luar sana akan selalu merasakan dampak sekaligus menjadi korban atas kerusakan apapun yang dilakukan oleh manusia pada alam.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/bears/feed/ 0
Wall-E https://www.greeners.co/gaya-hidup/wall-e/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=wall-e https://www.greeners.co/gaya-hidup/wall-e/#respond Fri, 01 Aug 2014 00:00:53 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_review&p=4772 Judul Film : Wall-E Sutradara : Andrew Stanton Pemain : Ben Burtt, Sigourney Weaver, Jeff Garlin, Fred Willard Produksi : Pixar, USA, 2008 (Colour Animation) Durasi : 92 menit, Animation […]]]>

Judul Film : Wall-E
Sutradara : Andrew Stanton
Pemain : Ben Burtt, Sigourney Weaver, Jeff Garlin, Fred Willard
Produksi : Pixar, USA, 2008 (Colour Animation)
Durasi : 92 menit, Animation

Pixar meluncurkan garapan animasinya berjudul Wall-E, yang isunya dekat dengan kepedulian lingkungan. Jangan selalu membayangkan kehidupan bumi di masa depan serba luxurious. Kehidupan modern adalah sampah, dalam artian sebenarnya.

Melalui film ini, kita diajak maju melihat bumi 700 tahun mendatang yang dipenuhi sampah, mirip seperti versi raksasa tempat pembuangan sapah akhir Bantar Gebang atau Leuwi Gajah. Manusia tidak tertarik lagi tinggal di bumi, dan melakukan migrasi massal ke sebuah kapal induk di luar angkasa bernama Axiom. Logikanya jadi terbalik, bukan bumi yang dibersihkan, namun malah bumi yang dilupakan.

Wall-E (Waste Allocation Load Lifter-Earth-Class) adalah robot yang diprogram khusus untuk mendaur ulang sampah di bumi. Kehidupan manusia di luar angkasa sendiri digambarkan amat terbuai oleh teknologi, sampai-sampai manusia pun berevolusi secara fisik. Bentuk fisik manusia semakin menggendut dan struktur tulangnya semakin mengendur, akibat malas bergerak dan hidup serba instan dengan bantuan teknologi.

Di tengah kesendirian Wall-E beraktivitas sebagai pembersih bumi, suatu hari ia bertemu robot periset yang cantik dan canggih (berbeda dengan Wall-E yang digambarkan serupa rongsokan) bernama Eve. Eve dikirim oleh Axiom untuk mencari tanaman yang keberadaannya sangat langka, sebagai salah satu gejala bahwa bumi siap dihuni kembali. Mereka kemudian mulai menjalin kisah kasih ala robot, sembari berjuang keras mengembalikan kehidupan manusia pada “hakikat”-nya untuk tinggal di bumi.

Wall-E menambah deretan film animasi yang menggambarkan sisi manusiawi robot. Kisah cinta Wall-E dan Eve memiliki kelucuan tersendiri. Bayangkan saja robot yang malu-malu mendekati pasangannya demi sekadar bergandengan tangan. Walau film ini minim dialog, namun mampu memancing tawa dan tetap terasa sisi emosionalnya. Dua jempol untuk mata dan bahasa tubuh Wall-E yang tampil ekspresif dan dirasa cukup menggantikan dialog.

Film dengan teknik animasi luar biasa bagus, cerita lucu, pengembangan karakter yang baik ini membuat kita tak membuang uang percuma untuk menontonnya. Terlebih lagi, kita sulit menolak muatan nilai moral yang diangkat film ini. Bahwa teknologi dan segala kecanggihan mesin tidak berhak dijadikan sandaran bagi manusia untuk “hidup”. Dan bagaimanapun juga, bumi adalah rumah. Kita tentu perlu menjaganya agar ia tetap nyaman untuk ditinggali. (deme)

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/wall-e/feed/ 0
Goodbye, Dragon Inn https://www.greeners.co/gaya-hidup/goodbye-dragon-inn/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=goodbye-dragon-inn https://www.greeners.co/gaya-hidup/goodbye-dragon-inn/#respond Fri, 11 Jul 2014 00:00:02 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_review&p=4764 Judul Film : Goodbye, Dragon Inn Sutradara : Tsai Ming-Liang Pemain : Kang-sheng Lee, Shiang-chyi Chen, Kiyonobu Mitamura Produksi : Taiwan, 2003 Durasi : 82 menit, DVD Di salah satu […]]]>

Judul Film : Goodbye, Dragon Inn
Sutradara : Tsai Ming-Liang
Pemain : Kang-sheng Lee, Shiang-chyi Chen, Kiyonobu Mitamura
Produksi : Taiwan, 2003
Durasi : 82 menit, DVD

Di salah satu sudut kota Taipei, sebuah bioskop tua harus menghadapi kematiannya. Malam itu adalah pertunjukan terakhirnya sebelum gulung tikar. Di luar, gerimis belum juga reda, atap bocor, dan air menggenang di lantai. Hanya segelintir penonton yang datang membeli karcis. Bioskop nampak begitu lengang, penonton membisu, terhanyut diantara hamparan kursi-kursi kosong. Sesekali terdengar derak-derak roda proyektor, dan suara pertarungan pedang dari film kungfu klasik berjudul Dragon Inn yang diputar di layar.

Tsai Ming-Liang, sutradara Taiwan kelahiran Malaysia, menggambarkan kecintaannya pada gambar hidup, dengan memilih setting gedung bioskop, lagi-lagi dengan ciri khas artistiknya: nuansa kesedihan yang kental, perasaan terallenasi muram, dan sepi. Dengan warna-warna gelap yang membius kesunyian, mendominasi atmosfer film ini.

Adegan demi adegan berjalan lamban, minim dialog, senyap, sesunyi hati para penonton terakhir malam itu: turis Jepang yang kesepian, anak kecil bersama kakeknya, dan wanita penjaga loket karcis berkaki pincang berjalan terseok-seok mencari tukang proyektor. Bahkan ada cameo dari aktor film Dragon Inn, memerankan dirinya sendiri yang sudah tua, datang ke bioskop –bisa jadi dia bernostalgia menatap aktingnya semasa muda. Jangan-jangan memang benar kata Francois Truffaut, sutradara Perancis favorit Tsai ming-Liang: “Movie lovers are sick people.” Dan gedung bioskop, seperti kata penyair sekaligus kritikus Parker Tyler, adalah “Psychoanalytic clinic of the average worker.”

Jika Joko Anwar merayakan gambar hidup di Janji Joni (2005), juga Giuseppe Tornatore di Cinema Paradiso (1988), maka dalam Goodbye, Dragon Inn, Tsai Ming-Liang memilih tema sebaliknya: kematian sinema. “No one comes to the movies anymore,” kata penonton di bioskop sepi itu. Tapi seperti baris-baris lagu di penghujung film, “Year after year, I can’t let go.” Di hati para penggemarnya, sinema tidak akan pernah sepenuhnya mati. (Budi Warsito)

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/goodbye-dragon-inn/feed/ 0
There Will Be Blood https://www.greeners.co/gaya-hidup/will-blood/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=will-blood https://www.greeners.co/gaya-hidup/will-blood/#respond Fri, 06 Jun 2014 00:00:04 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_review&p=4676 Judul : There Will Be Blood Sutradara : Paul Thomas Anderson Pemain : Daniel Day-Lewis, Paul Dano, Produksi : Paramount Vantage, USA, 2007 Durasi : 158 menit   Perjalanan ambisi […]]]>

Judul : There Will Be Blood
Sutradara : Paul Thomas Anderson
Pemain : Daniel Day-Lewis, Paul Dano,
Produksi : Paramount Vantage, USA, 2007
Durasi : 158 menit

 

Perjalanan ambisi Daniel Plainview (Daniel Day Lewis), spekulator minyak yang memulai karirnya dari nol sampai menjadi seorang pengusaha minyak yang sukses di Little Boston. Film garapan Paul Thomas Anderson yang mengambil set waktu akhir abad 19 dan awal abad 20 ini, mengangkat dua pertarungan, antara kerakusan atas nama uang dalam karakter Daniel Plainview dan ambisi pendeta muda Ely Sunday (Paul Dano) yang mengatasnamakan Tuhan untuk mengejar ambisi pribadinya.

Akting Daniel Day Lewis mampu membuat penonton begidik karena naluri kekejaman tersembunyinya Plainview. Semua keramahan dan sisi manusiawi Plainview menyembunyikan sifatnya yang mengontrol ambisi, kerakusan, dan kekejaman. Day Lewis menghadirkan karakter Plainview bagai seorang samurai handal yang hapal di detik keberapa harus menghentikan ayunan pedangnya setelah menebas leher-leher musuhnya. Tak heran perannya di film ini menghantarkan Day Lewis meraih Oscar keduanya sebagai aktor pemeran utama terbaik 2008, setelah pada 1990 ia memenangkan Oscar untuk film My Left Foot.

Sementara Ely Sunday (Paul Duno) sebagai pendeta muda, ia terlalu naif saat berhadapan dengan manusia seperti Plainview yang kekejamannya tak bisa ia bayangkan. Bagi Plainview, Ely adalah anak kemarin sore yang begitu naif dan sembrono yang bisa menghalangi ambisinya.

Music score-nya digarap dengan sangat baik oleh Johnny Greenwood (Radiohead). Greenwood mampu membangun suasana kekejaman itu bukan hanya mencekam, tapi membuat penonton bergidik merasakan karakter para tokoh. Film yang bagus untuk memahami kerakusan manusia dalam mengeksplorasi alam atas nama kerakusan dan kesombongan.

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/will-blood/feed/ 0
Psycho https://www.greeners.co/gaya-hidup/psycho/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=psycho https://www.greeners.co/gaya-hidup/psycho/#respond Tue, 20 May 2014 00:00:37 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_review&p=4587 Judul Film : Psycho Sutradara : Alfred Hitchcock Produksi : USA, 1960 Durasi : 108 menit, Black and White Norman Bates adalah pemuda canggung yang mengelola motel misterius, di sudut […]]]>

Judul Film : Psycho
Sutradara : Alfred Hitchcock
Produksi : USA, 1960
Durasi : 108 menit, Black and White

Norman Bates adalah pemuda canggung yang mengelola motel misterius, di sudut antah berantah sebuah kota kecil. Dia seorang penyendiri, dengan hobi aneh mengawetkan burung-burung, dan yang agak keterlaluan; mengintip tamu-tamunya. Hubungan dekatnya dengan sang ibu juga terasa janggal dan berlebihan, yang dalam istilahnya sendiri, “a boy’s best friend is his mother.” Alfred Hitchcock, si raja film-film mencekam, memperkenalkan tokoh Norman Bates ke layar lebar, dan sukses menjadikannya ikon legendaris untuk standar istilah “psikopat”.

Diangkat dari novel picisan karya Robert Bloch, film horror klasik Psycho diproduksi dalam format hitam-putih (karena “terlalu mengerikan jika dibuat berwarna”, kata Hitchcock), dengan kru-kru yang biasa bekerja untuk program televisi, dan biaya produksi yang sangat murah, bahkan untuk standar film saat itu. Namun hasilnya adalah ketegangan kelas tinggi. Dengan intensitas rasa takut yang dijahit tekun dan rapi, ditunjang akting “sakit” yang prima dari pemainnya (terutama Anthony Perkins yang memerankan Norman Bates dengan sangat bagus), Hitchcock seolah hendak menunjukkan tentang bagaimana cara mengemas psychological thriller dengan baik dan benar.

Sang Master bermain-main dengan atmosfer mencekam justru pada level sugestif para penonton. Artinya, tak ada kekerasan grafis yang disajikan dengan sangat vulgar di depan mata. Darah merembes, bukan menyembur. Ada teriakan, tapi jeritannya tertahan. Tak ada musik yang berlebihan, kecuali gesekan biola yang menyayat-nyayat di adegan shower paling terkenal sepanjang sejarah sinema. Scene dan gaya scoring itu kemudian abadi, dan menjadi cetak biru untuk generasi-generasi film thriller berikutnya.

Rasanya, sudah ratusan atau bahkan ribuan review ditulis tentang mahakarya klasik ini. Dan alangkah ketinggalannya Anda, jika belum juga menontonnya. (Budi Warsito)

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/psycho/feed/ 0