review film - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/review-film/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Thu, 07 Sep 2023 08:46:27 +0000 id hourly 1 We Are Traffic! Dokumenter yang Soroti Kemacetan Lalu Lintas https://www.greeners.co/gaya-hidup/we-are-traffic-dokumenter-yang-soroti-kemacetan-lalu-lintas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=we-are-traffic-dokumenter-yang-soroti-kemacetan-lalu-lintas https://www.greeners.co/gaya-hidup/we-are-traffic-dokumenter-yang-soroti-kemacetan-lalu-lintas/#respond Thu, 07 Sep 2023 08:46:27 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=41451 Sobat Greeners, kemacetan lalu lintas serta polusi udara yang terjadi di Indonesia–khususnya di Jakarta– menjadi permasalahan dan tantangan bagi semua pihak. Hal tersebut tidak lepas dari maraknya pemakaian kendaraan pribadi, […]]]>

Sobat Greeners, kemacetan lalu lintas serta polusi udara yang terjadi di Indonesia–khususnya di Jakarta– menjadi permasalahan dan tantangan bagi semua pihak. Hal tersebut tidak lepas dari maraknya pemakaian kendaraan pribadi, khususnya mobil.

Permasalahan yang tengah dialami oleh masyarakat di abad 21 rupanya mengalami hal yang sama di akhir abad 20-an. Hal itu terekam dalam film dokumenter We Are Traffic!.

Pada saat itu, khususnya di tahun 90-an, penggunaan kendaraan pribadi semakin membuat padat suasana jalanan. Kepadatan tersebut terjadi di setiap perkotaan besar di dunia, termasuk Amerika Serikat.

Padatnya transportasi pribadi membuat sebagian masyarakat muak. Mereka pun membuat gerakan sosial-politik untuk mencari transportasi alternatif lain, yakni sepeda. Simak ulasan film We Are Traffic! selengkapnya di bawah ini!

Critical Mass sebagai Ujung Tombak dari Gerakan Alternatif Transportasi

We Are Traffic! menceritakan tentang sejarah dan perkembangan gerakan sepeda ‘Critical Mass’. Gerakan tersebut merupakan aksi langsung tanpa kekerasan paling bersemangat dan dinamis di tahun 90-an. Di lebih dari 200 kota dan 14 negara berbeda, Critical Mass kini menjadi perayaan bulanan untuk merebut kembali jalan oleh para pesepeda yang bersepeda secara massal.

Gerakan tersebut lahir dari meningkatnya kemacetan lalu lintas, polusi, dan kemuakan saat berkendara. Kian banyak orang di seluruh dunia yang menganjurkan alternatif transportasi, yakni bersepeda. Critical Mass menjadi salah satu ujung tombak dari gerakan alternatif hari ini yang masih terus hidup.

We Are Traffic! merupakan film dokumenter berdurasi 49 menit yang rilis pada tahun 1999. Film itu bertujuan melacak gerakan akar rumput tanpa pemimpin dan terdesentralisasi di San Francisco pada tahun 1992 hingga penyebarannya ke seluruh dunia. Selain itu, film ini juga menggambarkan keberhasilan serta kegagalan berbagai macam kalangan dari pesepeda yang unik ini.

Tidak hanya itu, We Are Traffic! juga menunjukkan bagaimana Critical Mass telah menyatukan berbagai orang di ruang publik. Dalam upayanya untuk meningkatkan kesadaran publik, Critical Mass sering kali menginspirasi masyarakat lainnya dan beberapa kali harus menghadapi tantangan publik.  Bahkan, pihak kepolisian menganggap gerakan ini membuat kekacauan dan mengganggu ketertiban umum.

Pergerakan Politik Modern yang Menyebar Luas ke Seluruh Dunia

We Are Traffic! adalah sebuah analisis menarik tentang Critical Mass sebagai pergerakan politik modern yang menantang gagasan tentang gerakan politik yang semestinya terlihat dan bagaimana fungsinya. Film yang disutradarai Ted White dan dibintangi Chris Carlsson ini juga menyelidiki berbagai contoh nyata dari seni yang berhubungan dengan transportasi.

Film tersebut juga berfokus pada karya seniman mural Rigo23. Ia membuat karya seni rambu lalu lintas yang menampilkan pertanyaan alih-alih memberi perintah. Selain itu, film itu juga menyoroti karya-karya yang terkait Critical Mass lainnya termasuk Jim Swanson, Beth Verdekal, dan “Departemen Seni Publik San Francisco”.

Film dokumenter ini telah menghadirkan sisi lain dari gerakan Critical Mass yang tidak tampak di media mainstream dan menggambarkan hal yang menakjubkan mengenai penyebaran geografis Critical Mass. Tidak hanya itu, We Are Traffic! juga memberikan gambaran sekilas tentang gerakan Critical Mass di banyak tempat. Gerakan itu tidak hanya terjadi di San Francisco, melainkan juga di kota-kota di negara bagian Amerika Serikat seperti di Austin (Texas), Eugene (Oregon), Chape Hill (Carolina Utara), Kota New York (New York), dan Chicago (Illinois).

Selain itu, gerakan Critical Mass juga terjadi di luar Amerika Serikat seperti di Kopenhagen (Denmark), London (Inggris Raya), dan Sydney (Australia). Sobat Greeners yang ingin berpartisipasi aktif dalam diskusi lingkungan, film ini masih relevan. Melalui film ini, berbagai ruang diskusi baru bisa dibuka.

 

Penulis: Maula Sulthoni

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/we-are-traffic-dokumenter-yang-soroti-kemacetan-lalu-lintas/feed/ 0
ROOM, Dunia Sebatas Kamar https://www.greeners.co/gaya-hidup/room-dunia-sebatas-kamar/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=room-dunia-sebatas-kamar https://www.greeners.co/gaya-hidup/room-dunia-sebatas-kamar/#respond Mon, 15 Feb 2016 12:03:04 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=12852 Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi dalam hidupnya, entah akan terjadi hal baik atau sebaliknya.]]>

Judul Film: ROOM
Sutradara: Lenny Abrahamson
Pemain: Brie Larson, Jacob Tremblay, Joan Allen, Sean Bridgers, William H. Macy
Produksi: Element Pictures (2015)
Durasi: 117 menit

Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi dalam hidupnya, entah akan terjadi hal baik atau sebaliknya. Begitu pula dengan Joy (diperankan oleh Brei Larson). Hidupnya berubah drastis ketika ia diculik oleh seorang pria.

Pria yang ia sebut sebagai Old Nick (Sean Bridgers) itu mengurung dirinya dalam sebuah ruangan kecil dan sempit, tanpa jendela. Hanya ada sebuah atap kaca berukuran kecil, tempat dimana cahaya matahari dan bulan dapat masuk ke dalam ruangan itu.

Film ROOM. Poster: Element Pictures

Film ROOM. Poster: Element Pictures

Selama tujuh tahun, di tempat itu, Old Nick memperkosa dirinya hingga akhirnya ia melahirkan seorang anak laki-laki yang ia beri nama Jack (Jacob Tremblay). Ditengah rasa depresi mendalam dan keadaan kurang gizi, Joy berusaha tetap optimis demi Jack. Ia mengajari Jack bahwa dunia “nyata” adalah ruangan tempat mereka tinggal dan segala benda yang ada di dalamnya, sementara lainnya hanya ada di tivi.

Film adaptasi dari novel karangan Emma Donoghue berjudul “ROOM” ini mengambil sudut pandang Jack sebagai pencerita. Penonton diajak memahami dunia melalui mata Jack kecil. Tidak ada orang yang “nyata” selain Joy yang ia panggil “Ma”, dirinya, dan Old Nick. Ketika ia berhasil lolos keluar dari kamar, rasa penasaran, senang sekaligus takut bercampur baur mengiringi petualangan barunya mengenal dunia yang sesungguhnya.

Film ROOM. Poster: Element Pictures

Film ROOM. Poster: Element Pictures

Kisah penyelamatan Jack dan Joy dalam film ini bukan kisah heroik seperti film Hollywood pada umumnya. Namun, dialog dan kualitas akting dalam film dengan label R13 ini membuat film ini terasa berbobot.

Film yang masuk dalam empat nominasi di ajang penghargaan film Academy Awards 2016 ini baru akan tayang di Indonesia melalui jaringan bioskop Cinema XXI.

Penulis: Renty Hutahaean

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/room-dunia-sebatas-kamar/feed/ 0
The Big Short, Prediksikan Kejatuhan Ekonomi Global https://www.greeners.co/gaya-hidup/the-big-short-prediksikan-kejatuhan-ekonomi-global/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=the-big-short-prediksikan-kejatuhan-ekonomi-global https://www.greeners.co/gaya-hidup/the-big-short-prediksikan-kejatuhan-ekonomi-global/#respond Sun, 17 Jan 2016 09:38:54 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=12552 Cerita film yang diadaptasi dari novel karya Michael Lewis ini menggambarkan lika-liku kejatuhan ekonomi global pada tahun 2008 yang sudah diprediksikan jauh hari oleh seorang manajer keuangan.]]>

Judul Film: The Big Short
Sutradara: Adam McKay
Pemain: Christian Bale, Steve Carell, Ryan Gosling, Brad Pitt
Produksi: Paramount Pictures & Plan B Entertainment (2015)
Durasi: 130 menit

Cerita film yang diadaptasi dari novel karya Michael Lewis dengan judul yang sama ini, dimulai pada tahun 2005. Pada tahun itu, seorang manajer keuangan bernama Michael Burry (diperankan Christian Bale) menyimpulkan bahwa pasar perumahan Amerika tidak stabil berdasarkan pinjaman yang diberikan kepada golongan “subprime”. Pinjaman ini sangat berisiko dan tingkat pengembaliannya rendah.

Berdasarkan kesimpulan tersebut, Michael memprediksi bahwa pasar akan mengalami kolaps pada pertengahan kuartal tahun 2007 dan ia bisa mendapatkan keuntungan dari kondisi tersebut dengan menawarkan credit default swap (CDS) market. Ia pun mengajukan idenya ke berbagai bank besar dan pihak bank menyetujui karena bank yakin bahwa prediksi Michael keliru.

Salah satu adegan dalam film "The Big Short". Sumber: Paramount Pictures

Salah satu adegan dalam film “The Big Short”. Sumber: Paramount Pictures

Di tempat lain, pialang saham Jared Vennett (Ryan Gosling) secara tidak sengaja mendengar ide Michael dari para bankir yang bekerjasama dengannya. Ia juga yakin bahwa prediksi Michael akan menjadi kenyataan dan memutuskan untuk menaruh saham miliknya pada CDS market.

Jared juga mendatangi Mark Baum (Steve Carell), seorang manajer investasi global, untuk bergabung dengannya. Namun Mark tidak memercayai ide Jared begitu saja. Bersama dengan rekan-rekannya yang lain, ia melakukan riset mengenai pasar perumahan Amerika dan menemukan kenyataan yang lebih mengejutkan.

Adapula investor muda Charlie Geller (John Magaro) dan Jamie Shipley (Finn Wittrock) yang secara tidak sengaja menemukan selebaran yang dibuat oleh Jared. Mereka berdua memutuskan untuk menginvestasikan modal mereka ke dalam saham CDS market. Namun, karena keduanya tidak berpengalaman mengelola saham, mereka lantas menghubungi seorang pensiunan bankir bernama Ben Rickert (Brad Pitt). Ben pun setuju membantu keduanya agar berhasil memasuki pasar saham.

Salah satu adegan dalam film "The Big Short". Sumber: Paramount Pictures

Salah satu adegan dalam film “The Big Short”. Sumber: Paramount Pictures

Ada begitu banyak istilah ekonomi yang berseliweran dalam film ini. Untung saja, para pesohor seperti Anthony Bourdain dan Selena Gomez, yang tampil sebagai cameo, membantu menjelaskan beberapa istilah yang mungkin hanya dimengerti oleh pakar ekonomi.

Meski akhir dari fim ini bisa ditebak, namun jalan cerita yang berliku dan kepiawaian akting para aktor kelas Oscar yang terlibat dalam film arahan Adam McKay ini membuat film The Big Short lebih bisa dinikmati. Setidaknya, jika sudah tidak sanggup mencerna dialog yang disampaikan, penonton masih bisa menikmati penampilan terkini aktor-aktor berwajah tampan.

Film yang masuk nominasi di lima kategori dalam penghargaan film bergengsi Academy Awards (Oscar) 2016 ini resmi diputar di Indonesia pada tanggal 13 Januari 2016. Fiilm dapat ditonton diseluruh jaringan bioskop Cinema XXI.

Penulis: Renty Hutahaean

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/the-big-short-prediksikan-kejatuhan-ekonomi-global/feed/ 0
The 33, Kisah Petambang Bertahan Hidup Dalam Perut Bumi https://www.greeners.co/gaya-hidup/the-33-kisah-petambang-bertahan-hidup-perut-bumi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=the-33-kisah-petambang-bertahan-hidup-perut-bumi https://www.greeners.co/gaya-hidup/the-33-kisah-petambang-bertahan-hidup-perut-bumi/#respond Tue, 22 Dec 2015 12:18:16 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=12341 Bagaimana rasanya terkurung di sebuah tempat sedalam 700 meter di bawah tanah selama 69 hari? Film "The 33" mengisahkan tentang 33 penambang emas yang terkurung dalam lokasi pertambangan.]]>

Judul film : The 33
Sutradara : Patricia Riggen
Pemain : Antonio Banderas, Rodrigo Santoro, Juliette Binoche, Lou Diamond Philips, Mario Casas, Jacob Vargas, Juan Pablo Raba, Oscar Nunez, Tenoch Huerta, Mario Zaragoza
Produksi : Warner Bross (2015)
Durasi : 120 menit

Bagaimana rasanya terkurung di sebuah tempat sedalam 700 meter di bawah tanah selama 69 hari? Film “The 33” mengisahkan tentang 33 penambang emas yang terkurung dalam sebuah pertambangan di Chili. Cerita bermula ketika sang mandor, Don Lucho (diperankan oleh Lou Diamond Philips), menemui pengawas pertambangan, Carlos Castillo (Mario Zaragoza). Don Lucho mengkhawatirkan keselamatan para pekerja tambang yang ia bawahi. Gunung dimana lokasi tambang tersebut berada juga tidak lagi aman bagi para pekerja tambang.

Mendapat protes keras dari Don Lucho, Castillo tidak peduli. Castillo justru menginstruksikan Don Lucho untuk memasuki lokasi tambang karena jam kerja telah dimulai dan mendesak agar Don Lucho tidak membeberkan ini pada para penambang.

Ternyata kekhawatiran Don Lucho menjadi kenyataan. Lokasi tambang yang berada 700 meter di bawah tanah runtuh dan memerangkap Don Lucho beserta 32 pekerja tambang lainnya. Kepanikan mereka membuat ego masing-masing pekerja tidak terkontrol. Di tengah kondisi kacau tersebut, Mario Sepulveda (Antonio Banderas) mencoba mengarahkan rekan-rekannya agar dapat bertahan.

The 33. Poster: Warner Bross Pict.

The 33. Poster: Warner Bross Pict.

Di luar gunung, anggota keluarga petambang cemas menanti kabar anggota keluarga mereka. Bukan hanya mereka tidak bisa berkomunikasi, petugas keamanan perusahaan tambang juga mengusir mereka dengan ancaman. Bencana besar itupun tidak mendapat perhatian dari sang Presiden. Mampukah para petambang yang terjebak bertahan?

Film ini berangkat dari kejadian yang pernah terjadi di sebuah pertambangan yang dikelola perusahaan San Esteban di Chili pada tahun 2010 lalu. Upaya penyelamatan para pekerja tersebut memakan waktu 69 hari.

Melalui film “The 33”, sutradara Patricia Riggen menggambarkan kondisi para pekerja tambang yang kerap dibiarkan dalam keadaan tidak aman dalam melakukan pekerjaannya. Patricia juga menyindir penguasa yang lamban menangani bencana dan baru muncul ketika perhatian publik semakin besar.

Film yang diestimasikan menghabiskan dana hingga 25 juta dollar AS ini resmi dirilis di Amerika pada 13 November 2015. Di Indonesia, film “The 33” sudah bisa ditonton di bioskop jaringan Cinema XXI sejak pertengahan bulan Desember ini.

Penulis: TW/G37

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/the-33-kisah-petambang-bertahan-hidup-perut-bumi/feed/ 0
Into The Wild, Belajar Arti Hidup Pada Alam https://www.greeners.co/gaya-hidup/into-the-wild-belajar-arti-hidup-pada-alam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=into-the-wild-belajar-arti-hidup-pada-alam https://www.greeners.co/gaya-hidup/into-the-wild-belajar-arti-hidup-pada-alam/#respond Sat, 23 May 2015 14:37:55 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=9213 Judul film : Into The Wild Sutradara : Sean Penn Pemain : Emile Hirsch, Marcia Gay Harden, William Hurt, Jena Malone, Brian Dierker, Catherine Keener, Vince Vayghn, Zach Galifianakis, Kristen […]]]>

Judul film : Into The Wild
Sutradara : Sean Penn
Pemain : Emile Hirsch, Marcia Gay Harden, William Hurt, Jena Malone, Brian Dierker, Catherine Keener, Vince Vayghn, Zach Galifianakis, Kristen Stewart, Hal Holbrook
Produksi: Paramount Vantage, River Road Entertainment, Art Linson Productions (2007)
Durasi : 148 menit

Keinginan untuk mencari arti hidup yang jauh dari kepalsuan, membuatnya melepaskan segala sesuatu yang telah diraihnya. Ia meninggalkan uang, gelar pendidikan dan keluarganya untuk menemukan jati diri.

Diusung dari kisah nyata, Into The Wild menyajikan cerita yang menyentuh tentang pencarian arti hidup yang jauh dari kepalsuan. Christopher Mc Candless (Emile Hirsch), seorang mahasiswa yang baru saja dinyatakan lulus memilih untuk melakukan sebuah perjalanan dengan membawa semua harta miliknya. Dengan mobil Datsun B210, berangkatlah ia ke arah Barat Atlanta menuju alam liar.

Tanpa memberitahu seorangpun mengenai perjalanannya, ditambah keinginan untuk menghilangkan jejak dari kedua orang tuanya, Mc Candless mengubah pola hidup serta mengganti nama aslinya menjadi Alexander Si Petualang Super. Tak tanggung-tanggung, Mc Candless menyumbangkan seluruh tabungannya untuk amal, membakar sisa uangnya, dan meninggalkan mobil demi merasakan pengalaman yang murni dan transendental.

Dalam perjalanannya, Mc Candless berjumpa dengan banyak orang yang mau memberikan tumpangan, pekerjaan, atau penginapan untuk satu atau dua malam. Ia pun selalu berjanji untuk mengirimkan kartu pos setelah misinya selesai dijalankan.

Pada April 1992, McCandless tiba di Fairbanks dan pada tanggal 1 Mei 1992 ia menemukan bus nomor 142 terdampar di sebelah barat Healy. Bus yang hanya tinggal kerangka tersebut dimanfaatkan sebagai rumah barunya di alam liar. Ia hidup dengan berburu landak, rusa, bebek dan memakan umbi-umbian dan buah raspberry. Kehidupan alam liar itu membuat obsesinya untuk menjauhkan diri dari kehidupan modern tercapai. Namun, dapatkah ia bertahan menjalani impiannya?

Penulis: Gloria Safira

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/into-the-wild-belajar-arti-hidup-pada-alam/feed/ 0
Unbroken, Semangat Tak Terpadamkan https://www.greeners.co/gaya-hidup/unbroken-semangat-tak-terpadamkan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=unbroken-semangat-tak-terpadamkan https://www.greeners.co/gaya-hidup/unbroken-semangat-tak-terpadamkan/#respond Wed, 18 Feb 2015 02:00:20 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_review&p=7451 Judul film: Unbroken Sutradara: Angelina Jolie Pemain: Jack O’Connell, Domnhall Gleeson, Garrett Hedlund, Miyavi, Fin Wittrock, Alex Russell Produksi: Universal Pictures Durasi: 137 menit Film dibuka dengan adegan Louis “Louie” […]]]>

Judul film: Unbroken
Sutradara: Angelina Jolie
Pemain: Jack O’Connell, Domnhall Gleeson, Garrett Hedlund, Miyavi, Fin Wittrock, Alex Russell
Produksi: Universal Pictures
Durasi: 137 menit

Film dibuka dengan adegan Louis “Louie” Zamperini (Jack O’Connell) terbang melintasi Jepang. Ia menjadi juru bom dari pesawat milik pertahanan udara Amerika Serikat B-24 Liberator. Nahas, pesawat yang ia tumpangi rusak parah terkena tembakan musuh sehingga harus mendarat darurat di sebuah pulau. Beruntung, ia dan sebagian besar rekan-rekannya berhasil selamat.

Cerita kemudian berjalan mundur ke masa dimana Louie kecil dikenal sebagai warga Amerika keturunan Italia yang gemar mencari masalah. Suatu hari, Louie ketahuan mengintip rok perempuan dari bawah bangku penonton. Ia pun lari menyelamatkan diri. Saat itulah Pete, kakak Louie, menyadari adiknya memiliki bakat lari dan memutuskan untuk mengasah Louie menjadi pelari hingga mendapat julukan “The Torrance Tornado” (Si Tornado dari Torrance).

Louie akhirnya mendapat kesempatan bertanding dalam Olimpiade di Berlin, Jerman. Meski ia hanya masuk dalam urutan ke delapan, ia berhasil mencetak rekor pada lap terakhir dengan waktu 56 detik. Ia pun berniat untuk menang pada Olimpiade berikutnya yang rencananya diselenggarakan di Jepang.

Namun, Perang Dunia II meletus. Louie menjadi tentara dan bergabung dalam Angkatan Udara Amerika. Tanpa diduga, pesawat yang membawanya rusak dan jatuh di laut lepas. Louie dan dua orang rekannya selamat. Terombang ambing di lautan tanpa makanan dan minuman yang layak dalam waktu lama membuat kondisi mereka sangat memprihatinkan. Salah seorang rekan Louie pun akhirnya meninggal karena tak sanggup lagi menunggu bantuan yang tak kunjung datang.

Selama 47 hari Louie dan Phil (Domnhall Gleeson) tidak menginjak daratan hingga perahu milik tentara Jepang menemukan mereka. Impian Louie untuk pergi ke Jepang menjadi kenyataan namun dengan status tahanan perang Jepang.

Hidup sebagai tahanan perang sangat tidak mudah bagi Louie. Berbagai siksaan fisik dan mental menderanya. Pesan bijak sang kakak teringat dalam benaknya, “If you can take it, you can make it”. Louie pun mendorong dirinya untuk bertahan hidup hingga batas kemampuannya.

Film ini dibuat berdasarkan buku yang ditulis Laura Hillenbrand berjudul “Unbroken: A World War II Story of Survival, Resilience and Redemption”. Meski begitu, Angelina Jolie yang duduk sebagai sutradara dan juga produser film “Unbroken”, berhasil membuat film bergenre drama perang biografi ini dapat dicerna dengan mudah. Pesan moral tentang semangat dan pantang menyerah juga tersampaikan dengan baik.

Film ini diputar di Indonesia mulai tanggal 13 Februari 2015 di jaringan bioskop Cinema XXI.

(G08)

[See image gallery at www.greeners.co]

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/unbroken-semangat-tak-terpadamkan/feed/ 0
Paddington, Ketika Beruang Menjadi Bagian Dari Keluarga https://www.greeners.co/gaya-hidup/paddington-ketika-beruang-menjadi-bagian-dari-keluarga/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=paddington-ketika-beruang-menjadi-bagian-dari-keluarga https://www.greeners.co/gaya-hidup/paddington-ketika-beruang-menjadi-bagian-dari-keluarga/#respond Tue, 30 Dec 2014 00:10:32 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_review&p=6951 Judul film: Paddington Sutradara: Paul King Pemain: Ben Wishaw (Paddington), Nicole Kidman (Millicent), Huge Bonneville (Mr. Henry Brown), Sally Hawkins (Mrs. Mary Brown), Julie Walters (Mrs. Bird) Produksi: StudioCanal & […]]]>

Judul film: Paddington
Sutradara: Paul King
Pemain: Ben Wishaw (Paddington), Nicole Kidman (Millicent), Huge Bonneville (Mr. Henry Brown), Sally Hawkins (Mrs. Mary Brown), Julie Walters (Mrs. Bird)
Produksi: StudioCanal & HeyDay Films, 2014
Durasi: 95 menit

Jika saja waktu dapat diputar kembali, mungkin kita akan memilih untuk menjalani hari-hari yang bahagia. Namun, kenyataan tidak demikian. Baik dan buruk, susah dan sedih, harus kita jalani sama tekunnya.

Paddington (disulih suarakan oleh Ben Wishaw), seekor beruang muda, terpaksa meninggalkan kediamannya di belantara hutan Peru menuju kota London, Inggris setelah gempa bumi hebat menghancurkan tempat tinggal dan menewaskan pamannya. Sebuah kenangan indah tentang seorang ilmuwan baik hati yang mengajarkan bahasa dan budaya Inggris kepada paman dan bibinya 40 tahun lalu, membuat Paddington terpaksa memberanikan diri menjejakan kaki di salah satu kota super sibuk di dunia itu.

Dengan berbekal sebuah koper berisi botol-botol selai marmalade buatan bibinya dan mengenakan kalung kertas bertuliskan “Please, look after this bear. Thank you” (tolong, jagalah beruang ini. Terimakasih), Paddington mencari sang ilmuwan. Namun, berbagai perbedaan antara dunia beruang dan manusia, membuat Paddington dan keluarga yang ditumpanginya, Mr. Brown, kerap berselisih. Berhasilkah Paddington menemukan sang ilmuwan?

Film yang diperuntukan untuk keluarga ini sarat dengan pesan moral yang mengajarkan kebajikan. Melihat interaksi Peddington dengan keluarga Mr. Brown, penonton diingatkan kembali untuk menjaga kelestarian satwa liar dan hutan. Film “Peddington” pun seakan mengingatkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan tidak lepas dari pengorbanan berbagai hewan yang digunakan untuk kebutuhan penelitian.

Film yang diputar pertama kali di London, Inggris pada 23 November 2014 lalu ini diperkirakan menelan biaya sekitar 50-55 juta dollar. Film yang memadukan teknik animasi komputer ini sudah dapat ditonton di bioskop jaringan Cinema XXI di seluruh Indonesia.

(G08)

[See image gallery at www.greeners.co]

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/paddington-ketika-beruang-menjadi-bagian-dari-keluarga/feed/ 0
The Hobbit: The Battle of the Five Armies https://www.greeners.co/gaya-hidup/hobbit-battle-five-armies/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hobbit-battle-five-armies https://www.greeners.co/gaya-hidup/hobbit-battle-five-armies/#respond Wed, 24 Dec 2014 09:14:19 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_review&p=6887 Judul film: The Hobbit: The Battle of the Five Armies Sutradara: Peter Jackson Pemain: Martin Freeman (Bilbo Baggins), Ian McKellen (Gandalf), Richard Armitage (Thorin), Orlando Bloom (Legolas), Evangeline Lilly (Tauriel), […]]]>

Judul film: The Hobbit: The Battle of the Five Armies
Sutradara: Peter Jackson
Pemain: Martin Freeman (Bilbo Baggins), Ian McKellen (Gandalf), Richard Armitage (Thorin), Orlando Bloom (Legolas), Evangeline Lilly (Tauriel), Lee Pace (Thranduil), Luke Evans (Bard)
Produksi: Warner Bros Pictures, Desember 2014
Durasi: 144 menit

Dalam “The Hobbit: The Battle of the Five Armies”, Bilbo Baggins (Martin Freeman) dan para ksatria terbaik kaum Hobbit dan raja mereka, Thorin (Richard Armitage) berusaha mempertahankan gunung Lonely Mountain. Di gunung ini, emas berlimpah yang dijaga oleh naga Smaug tersimpan. Tidak hanya itu, benda pusaka milik kaum peri berikut batu bertuah Arkenstone juga ada didalamnya.

Kaum Hobbit, manusia, peri, Orc, dan kurcaci, semuanya memiliki kepentingan atas Lonely Mountain. Peperangan kelima kaum ini pun tidak dapat dihindarkan. Mendekati bagian akhir, burung elang raksasa dan Beorn yang berwujud beruang, serta pepohonan bergabung ke medan pertempuran. Siapakah yang bertahan hingga akhir?

Film yang diadaptasi dari novel “The Hobbit” karya J.R.R. Tolkien ini merupakan bagian akhir dari trilogi film The Hobbit. Sebagaimana kisah sebelumnya, Peter Jackson yang menyutradarai film ini berhasil menggambarkan peperangan yang sarat pertumpahan darah, kehilangan orang yang dikasihi, pengorbanan, dan tipu daya lebur dalam kisah epik yang mengharu biru. Tidak ketinggalan, penggunaan format High Frame Rate 3D (HFR 3D) yang meningkatkan ketajaman gambar serta efek visual yang sangat halus membuat film berdurasi 144 menit ini layak ditonton hingga akhir.

“The Hobbit: The Battle of the Five Armies” sudah dapat disaksikan di jaringan bioskop Cinema XXI dalam format 3D dan HFR 3D. Selamat menonton!

(G08)

[See image gallery at www.greeners.co]

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/hobbit-battle-five-armies/feed/ 0
Pendekar Tongkat Emas Hadirkan Kembali Seni Silat https://www.greeners.co/gaya-hidup/pendekar-tongkat-emas-hadirkan-kembali-seni-silat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pendekar-tongkat-emas-hadirkan-kembali-seni-silat https://www.greeners.co/gaya-hidup/pendekar-tongkat-emas-hadirkan-kembali-seni-silat/#respond Wed, 17 Dec 2014 10:09:06 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_review&p=6798 Judul film: Pendekar Tongkat Emas Sutradara: Ifa Isfansyah Pemain: Eva Celia (Dara), Nicholas Saputra (Elang), Reza Rahadian (Biru), Tara Basro(Gerhana), Christine Hakim (Cempaka), Slamet Rahardjo (Dewan Persilatan), Prisia Nasution (Cempaka […]]]>

Judul film: Pendekar Tongkat Emas
Sutradara: Ifa Isfansyah
Pemain: Eva Celia (Dara), Nicholas Saputra (Elang), Reza Rahadian (Biru), Tara Basro(Gerhana), Christine Hakim (Cempaka), Slamet Rahardjo (Dewan Persilatan), Prisia Nasution (Cempaka Muda), Darius Sinathrya (Naga Putih), Whani Darmawan (Guru Sayap Merah), Landung Simatupang (Guru Cempaka)
Produksi: Miles Films & KG Studio
Durasi: 113 menit

Jika pernah membaca cerita silat karya Kho Ping Hoo atau suka dengan cerita “Si Buta Dari Gua Hantu” dan semacamnya, maka film “Pendekar Tongkat Emas” rasa-rasanya akan mudah untuk dinikmati.

Cempaka (Christine Hakim), pendekar yang sangat disegani dan sangat dihormati dalam dunia persilatan, adalah pemegang maha senjata dan jurus mematikan Tongkat Emas yang kekuatannya tak tertandingi.

Cempaka yang memiliki empat orang murid merasa sudah tiba waktunya untuk mewariskan jurus Tongkat Emas kepada salah seorang muridnya. Sayang, pilihannya justru membuat dua orang muridnya sakit hati dan membunuhnya.

Pengkhianatan, pembunuhan, dan adu jurus silat mewarnai cerita ini hingga akhir. Bumbu percintaan pun tidak ketinggalan menghidupkan jalan cerita. Bagaimana dengan akting para pemainnya? Apakah para pemain ternama ini mampu bertransformasi menjadi pendekar silat yang meyakinkan? Tonton sendiri film ini di bioskop.

Sebagaimana cerita silat yang menampilkan lintas dimensi budaya, entah Jawa, Melayu, Tiongkok, begitupun dengan film “Pendekar Tongkat Emas”. Tim produksi mengangkat keindahan alam dan budaya Sumba Timur sebagai setting film untuk menggambarkan dunia persilatan.

Padang sabana, perbukitan berbatu yang hijau, pantai, dan sungai dengan air yang jernih yang dimiliki Sumba terlihat begitu indah. Kostum yang digunakan semua pemain termasuk dekorasi tempat juga menggunakan kain dengan corak tenun Sumba.

Film “Pendekar Tongkat Emas” akan ditayangkan serentak di bioskop pada tanggal 18 Desember 2014.

(G08)

[See image gallery at www.greeners.co]

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/pendekar-tongkat-emas-hadirkan-kembali-seni-silat/feed/ 0
Kerjasama dan Kepemimpinan Dalam Penguins of Madagascar https://www.greeners.co/gaya-hidup/kerjasama-dan-kepemimpinan-dalam-penguins-madagascar/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kerjasama-dan-kepemimpinan-dalam-penguins-madagascar https://www.greeners.co/gaya-hidup/kerjasama-dan-kepemimpinan-dalam-penguins-madagascar/#respond Mon, 08 Dec 2014 07:38:38 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_review&p=6680 Judul film: Penguins of Madagascar Sutradara: Eric Darnell, Simon J. Smith Pengisi Suara: Skipper (Tom McGrath), Kowalski (Chris Miller), Rico (Conrad Vernon), Private (Christopher Knights), Dr. Octavius Brine/Dave (John Malkovich), […]]]>

Judul film: Penguins of Madagascar
Sutradara: Eric Darnell, Simon J. Smith
Pengisi Suara: Skipper (Tom McGrath), Kowalski (Chris Miller), Rico (Conrad Vernon), Private (Christopher Knights), Dr. Octavius Brine/Dave (John Malkovich), Classified (Benedict Cumberbatch)
Produksi: DreamWorks Animation, November 2014
Durasi: 1 jam 32 menit

Bila dalam film animasi “Madagascar” para penguin menjadi pemain latar, kini dalam “Penguins of Madagascar”, para penguin mendapat peran sebagai tokoh utama. Dalam film produksi DreamWorks Animation ini, Skipper, Kowalski, Rico dan Private hendak menggagalkan rencana jahat Dr. Octavius Brine yang mencoba menghancurkan dunia.

Untuk menggagalkan rencana jahat tersebut, empat penguin ini harus berhadapan dengan kelompok spionase global “North Wind” pimpinan agen Classified, seekor anjing husky yang sangat terencana sebelum beraksi.

Bila Classified penuh perhitungan dan menggunakan teknologi super canggih, tim Skipper justru sebaliknya, tanpa rencana dan hanya mengandalkan apa yang ada. Bagaimana cara kedua tim ini menghadapi kejahatan Dr. Octavius yang tak lain adalah gurita bernama Dave?

Gambar: DreamWorks Animation

Seperti pepatah yang mengatakan, “lebih mudah mematahkan satu batang lidi daripada seikat lidi,” seperti itulah kira-kira pesan moral film ini. Tema pentingnya kerjasama dan kepemimpinan tergambar dari perilaku tim Skipper dan North Wind dalam menghadapi musuh, meski mereka pada awalnya saling bertentangan.

Film animasi petualangan yang diperuntukan bagi keluarga ini dapat ditonton di bioskop jaringan Cinema XXI dalam format biasa dan IMAX 3D.

(G08)

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/kerjasama-dan-kepemimpinan-dalam-penguins-madagascar/feed/ 0
Big Hero 6, Ketika Menghancurkan Lawan Bukan Jawaban https://www.greeners.co/gaya-hidup/big-hero-6-ketika-menghancurkan-lawan-bukan-jawaban/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=big-hero-6-ketika-menghancurkan-lawan-bukan-jawaban https://www.greeners.co/gaya-hidup/big-hero-6-ketika-menghancurkan-lawan-bukan-jawaban/#respond Sun, 09 Nov 2014 13:00:14 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_review&p=6369 Judul film: Big Hero 6 Sutradara: Don Hall & Chriss William Penulis naskah: Don Hall, Jordan Roberts, Daniel Gerson, Robert L. Baird Pengisi suara: Scott Adsit (Baymax), Ryan Potter (Hiro), […]]]>

Judul film: Big Hero 6
Sutradara: Don Hall & Chriss William
Penulis naskah: Don Hall, Jordan Roberts, Daniel Gerson, Robert L. Baird
Pengisi suara: Scott Adsit (Baymax), Ryan Potter (Hiro), Daniel Henney (Tadashi), T.J. Miller (Fred), Jamie Chung (Gogo), Damon Wayans (Wasabi), Genesis Rodriguez (Honey)
Produksi: Walt Disney Pictures, USA, 2014
Durasi: 108 menit

Rasa kehilangan terhadap kehadiran seseorang yang kita cintai, terutama anggota keluarga, akan sangat membekas dalam perasaan. Perbuatan yang tidak masuk akal, bahkan membahayakan diri dan orang lain, bisa saja dilakukan untuk melampiaskan rasa kehilangan itu. Namun, apakah tindakan itu dapat dibenarkan?

Film animasi terbaru produksi Disney berjudul “Big Hero 6” mencoba menggambarkan konsekuensi dari pelampiasan amarah yang berlebihan, dan “menghancurkan” bukanlah pilihan yang bijak. Dalam banyak film produksinya, Disney memang dikenal membagi karakter antagonis (tokoh jahat) dan protagonis (tokoh baik) dengan jelas. Untungnya, Disney memegang prinsip “happy ending” atau akhir yang bahagia pada hampir semua filmnya.

Film yang ditujukan untuk keluarga ini mengisahkan Hiro Hamada, bocah 14 tahun yang karena terlalu pintar namun tidak suka sekolah, nyaris menyia-nyiakan seluruh waktunya dengan mengikuti berbagai pertarungan adu robot ilegal. Berbeda dengan kakaknya, Tadashi Hamada, sosok ramah dan penyayang yang menghabiskan waktunya di kampus untuk mengerjakan robot yang akan menolong banyak orang. Robot ini ia beri nama Baymax.

Ketimbang melarang kegiatan yang sedang digandrungi sang Adik, Tadashi sengaja membawa Hiro ke kampusnya untuk melihat berbagai percobaan yang tengah dilakukan oleh teman-temannya yang berbakat. Disinilah Hiro mengenal Fred, Gogo Tomago, Wasabi, dan Honey Lemon.

Gambar: Disney Pictures

Gambar: Disney Pictures

Hiro akhirnya berusaha untuk dapat masuk ke kampus yang sama dengan Tadashi. Karena presentasi mikrobotnya menuai banyak kekaguman, Hiro sempat ditawari untuk bergabung dengan perusahaan robot terkemuka Krei Tech Industri. Namun Hiro lebih memilih tawaran profesor Callagahn untuk menjadi muridnya. Sayang, kebakaran hebat membakar gedung kampus termasuk mikrobot ciptaan Hiro. Tadashi yang mencoba menolong profesor Callaghan yang berada di dalam gedung justru ikut menjadi korban.

Suatu hari, Hiro yang masih dirundung sedih karena ditinggal abangnya, mengaduh kesakitan ketika kakinya kejatuhan benda. Saat itulah Baymax aktif dan mencoba memberikan pertolongan. Baymax yang merupakan robot perawat, didesain oleh Tadashi untuk memberikan pertolongan ketika dibutuhkan.

Tidak berapa lama, keadaan menjadi “liar” ketika Hiro mengetahui bahwa mikrobot karyanya digunakan untuk maksud jahat oleh profesor Callaghan yang ternyata masih hidup. Hiro yang tidak terima dengan kenyataan bahwa kakaknya meninggal demi menyelamatkan profesor Callagahn menjadi gelap mata dan ingin membalas dendam. Ia lantas menjejali Baymax dengan program beladiri dan perlengkapan canggih yang dapat memberi efek menghancurkan.

Di lain pihak, profesor Callaghan pun ingin membalas dendam kepada Alistair Krei, pemilik perusahaan Krei Tech Industri. Ia mengancam akan mengambil semua yang dianggap penting dalam hidup Alistair. Alasannya? Tonton saja film ini.

Gambar: Disney Pictures

Gambar: Disney Pictures

The only limit is your imagination.” Kalimat yang diucapkan oleh Hiro Hamada, sangat pas menggambarkan teknologi animasi yang digunakan Disney untuk Big Hero 6. Terlebih, efek visual yang halus dan gerakan yang tepat mampu menghidupkan karakter Baymax, robot dengan wajah yang hanya terdiri dari sepasang mata, dan postur tubuh tinggi besar nyaris bulat.

Sama dengan Amerika dan Kanada, film ini tayang perdana di Indonesia pada tanggal 07 November 2014. Big Hero 6 dapat ditonton diseluruh bioskop jaringan  Cinema XXI dalam format 2D dan 3D.

(G08)

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/big-hero-6-ketika-menghancurkan-lawan-bukan-jawaban/feed/ 0
Wall-E https://www.greeners.co/gaya-hidup/wall-e/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=wall-e https://www.greeners.co/gaya-hidup/wall-e/#respond Fri, 01 Aug 2014 00:00:53 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_review&p=4772 Judul Film : Wall-E Sutradara : Andrew Stanton Pemain : Ben Burtt, Sigourney Weaver, Jeff Garlin, Fred Willard Produksi : Pixar, USA, 2008 (Colour Animation) Durasi : 92 menit, Animation […]]]>

Judul Film : Wall-E
Sutradara : Andrew Stanton
Pemain : Ben Burtt, Sigourney Weaver, Jeff Garlin, Fred Willard
Produksi : Pixar, USA, 2008 (Colour Animation)
Durasi : 92 menit, Animation

Pixar meluncurkan garapan animasinya berjudul Wall-E, yang isunya dekat dengan kepedulian lingkungan. Jangan selalu membayangkan kehidupan bumi di masa depan serba luxurious. Kehidupan modern adalah sampah, dalam artian sebenarnya.

Melalui film ini, kita diajak maju melihat bumi 700 tahun mendatang yang dipenuhi sampah, mirip seperti versi raksasa tempat pembuangan sapah akhir Bantar Gebang atau Leuwi Gajah. Manusia tidak tertarik lagi tinggal di bumi, dan melakukan migrasi massal ke sebuah kapal induk di luar angkasa bernama Axiom. Logikanya jadi terbalik, bukan bumi yang dibersihkan, namun malah bumi yang dilupakan.

Wall-E (Waste Allocation Load Lifter-Earth-Class) adalah robot yang diprogram khusus untuk mendaur ulang sampah di bumi. Kehidupan manusia di luar angkasa sendiri digambarkan amat terbuai oleh teknologi, sampai-sampai manusia pun berevolusi secara fisik. Bentuk fisik manusia semakin menggendut dan struktur tulangnya semakin mengendur, akibat malas bergerak dan hidup serba instan dengan bantuan teknologi.

Di tengah kesendirian Wall-E beraktivitas sebagai pembersih bumi, suatu hari ia bertemu robot periset yang cantik dan canggih (berbeda dengan Wall-E yang digambarkan serupa rongsokan) bernama Eve. Eve dikirim oleh Axiom untuk mencari tanaman yang keberadaannya sangat langka, sebagai salah satu gejala bahwa bumi siap dihuni kembali. Mereka kemudian mulai menjalin kisah kasih ala robot, sembari berjuang keras mengembalikan kehidupan manusia pada “hakikat”-nya untuk tinggal di bumi.

Wall-E menambah deretan film animasi yang menggambarkan sisi manusiawi robot. Kisah cinta Wall-E dan Eve memiliki kelucuan tersendiri. Bayangkan saja robot yang malu-malu mendekati pasangannya demi sekadar bergandengan tangan. Walau film ini minim dialog, namun mampu memancing tawa dan tetap terasa sisi emosionalnya. Dua jempol untuk mata dan bahasa tubuh Wall-E yang tampil ekspresif dan dirasa cukup menggantikan dialog.

Film dengan teknik animasi luar biasa bagus, cerita lucu, pengembangan karakter yang baik ini membuat kita tak membuang uang percuma untuk menontonnya. Terlebih lagi, kita sulit menolak muatan nilai moral yang diangkat film ini. Bahwa teknologi dan segala kecanggihan mesin tidak berhak dijadikan sandaran bagi manusia untuk “hidup”. Dan bagaimanapun juga, bumi adalah rumah. Kita tentu perlu menjaganya agar ia tetap nyaman untuk ditinggali. (deme)

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/wall-e/feed/ 0
Goodbye, Dragon Inn https://www.greeners.co/gaya-hidup/goodbye-dragon-inn/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=goodbye-dragon-inn https://www.greeners.co/gaya-hidup/goodbye-dragon-inn/#respond Fri, 11 Jul 2014 00:00:02 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_review&p=4764 Judul Film : Goodbye, Dragon Inn Sutradara : Tsai Ming-Liang Pemain : Kang-sheng Lee, Shiang-chyi Chen, Kiyonobu Mitamura Produksi : Taiwan, 2003 Durasi : 82 menit, DVD Di salah satu […]]]>

Judul Film : Goodbye, Dragon Inn
Sutradara : Tsai Ming-Liang
Pemain : Kang-sheng Lee, Shiang-chyi Chen, Kiyonobu Mitamura
Produksi : Taiwan, 2003
Durasi : 82 menit, DVD

Di salah satu sudut kota Taipei, sebuah bioskop tua harus menghadapi kematiannya. Malam itu adalah pertunjukan terakhirnya sebelum gulung tikar. Di luar, gerimis belum juga reda, atap bocor, dan air menggenang di lantai. Hanya segelintir penonton yang datang membeli karcis. Bioskop nampak begitu lengang, penonton membisu, terhanyut diantara hamparan kursi-kursi kosong. Sesekali terdengar derak-derak roda proyektor, dan suara pertarungan pedang dari film kungfu klasik berjudul Dragon Inn yang diputar di layar.

Tsai Ming-Liang, sutradara Taiwan kelahiran Malaysia, menggambarkan kecintaannya pada gambar hidup, dengan memilih setting gedung bioskop, lagi-lagi dengan ciri khas artistiknya: nuansa kesedihan yang kental, perasaan terallenasi muram, dan sepi. Dengan warna-warna gelap yang membius kesunyian, mendominasi atmosfer film ini.

Adegan demi adegan berjalan lamban, minim dialog, senyap, sesunyi hati para penonton terakhir malam itu: turis Jepang yang kesepian, anak kecil bersama kakeknya, dan wanita penjaga loket karcis berkaki pincang berjalan terseok-seok mencari tukang proyektor. Bahkan ada cameo dari aktor film Dragon Inn, memerankan dirinya sendiri yang sudah tua, datang ke bioskop –bisa jadi dia bernostalgia menatap aktingnya semasa muda. Jangan-jangan memang benar kata Francois Truffaut, sutradara Perancis favorit Tsai ming-Liang: “Movie lovers are sick people.” Dan gedung bioskop, seperti kata penyair sekaligus kritikus Parker Tyler, adalah “Psychoanalytic clinic of the average worker.”

Jika Joko Anwar merayakan gambar hidup di Janji Joni (2005), juga Giuseppe Tornatore di Cinema Paradiso (1988), maka dalam Goodbye, Dragon Inn, Tsai Ming-Liang memilih tema sebaliknya: kematian sinema. “No one comes to the movies anymore,” kata penonton di bioskop sepi itu. Tapi seperti baris-baris lagu di penghujung film, “Year after year, I can’t let go.” Di hati para penggemarnya, sinema tidak akan pernah sepenuhnya mati. (Budi Warsito)

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/goodbye-dragon-inn/feed/ 0
The Child and The Fox https://www.greeners.co/gaya-hidup/child-fox/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=child-fox https://www.greeners.co/gaya-hidup/child-fox/#respond Fri, 13 Jun 2014 00:00:10 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_review&p=4714 Judul Film : The Child and The Fox / Le Renard et l’enfant Sutradara : Luc Jaquet Pemeran : Kate Winslet, Camille Lambert Produksi : 2007 Durasi : 92 menit […]]]>

Judul Film : The Child and The Fox / Le Renard et l’enfant
Sutradara : Luc Jaquet
Pemeran : Kate Winslet, Camille Lambert
Produksi : 2007
Durasi : 92 menit

Menonton film ini, seperti sedang didongengi oleh Kate Winslet sebagai narator edisi bahasa Inggris tentang lika liku kehidupan seekor rubah dari pandangan seorang anak perempuan. Film ini sangat menyenangkan seperti menonton dokumenter National Geographic, tetapi terasa manis dan segar, hanyut dalam pemandangan Prancis Selatan yang indah dari musim ke musim.

Pemainnya hanya seorang gadis kecil yang tak disebutkan namanya, diperankan oleh Bertille Noel-Bruneau dan seekor rubah yang diberi nama Lily. Film ini seperti memanggil kembali semua gambaran kisah-kisah Enyd Blyton, petualangan Tini, Astrid Lindgren, Serial Nina, Ruby Si Rubah Kecil, tapi semua dalam setting yang nyata.

Kisah yang manis dan sederhana, karena si gadis kecil ini begitu pantang menyerah untuk bisa bersahabat dengan Lily. Setelah persahabatan itu ia dapatkan, hasrat untuk menguasai muncul, ia mencoba mengurung Lily di dalam kamarnya, namun yang terjadi diluar dugaan. Sampai akhirnya si gadis cilik menyadari, karena ketika ia begitu mencintai si rubah, ia juga harus belajar melepaskan dan membebaskannya. Sebuah pelajaran sederhana untuk belajar mencintai apa yang ada di alam ini, mencintai sekaligus membebaskannya.

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/child-fox/feed/ 0
Psycho https://www.greeners.co/gaya-hidup/psycho/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=psycho https://www.greeners.co/gaya-hidup/psycho/#respond Tue, 20 May 2014 00:00:37 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_review&p=4587 Judul Film : Psycho Sutradara : Alfred Hitchcock Produksi : USA, 1960 Durasi : 108 menit, Black and White Norman Bates adalah pemuda canggung yang mengelola motel misterius, di sudut […]]]>

Judul Film : Psycho
Sutradara : Alfred Hitchcock
Produksi : USA, 1960
Durasi : 108 menit, Black and White

Norman Bates adalah pemuda canggung yang mengelola motel misterius, di sudut antah berantah sebuah kota kecil. Dia seorang penyendiri, dengan hobi aneh mengawetkan burung-burung, dan yang agak keterlaluan; mengintip tamu-tamunya. Hubungan dekatnya dengan sang ibu juga terasa janggal dan berlebihan, yang dalam istilahnya sendiri, “a boy’s best friend is his mother.” Alfred Hitchcock, si raja film-film mencekam, memperkenalkan tokoh Norman Bates ke layar lebar, dan sukses menjadikannya ikon legendaris untuk standar istilah “psikopat”.

Diangkat dari novel picisan karya Robert Bloch, film horror klasik Psycho diproduksi dalam format hitam-putih (karena “terlalu mengerikan jika dibuat berwarna”, kata Hitchcock), dengan kru-kru yang biasa bekerja untuk program televisi, dan biaya produksi yang sangat murah, bahkan untuk standar film saat itu. Namun hasilnya adalah ketegangan kelas tinggi. Dengan intensitas rasa takut yang dijahit tekun dan rapi, ditunjang akting “sakit” yang prima dari pemainnya (terutama Anthony Perkins yang memerankan Norman Bates dengan sangat bagus), Hitchcock seolah hendak menunjukkan tentang bagaimana cara mengemas psychological thriller dengan baik dan benar.

Sang Master bermain-main dengan atmosfer mencekam justru pada level sugestif para penonton. Artinya, tak ada kekerasan grafis yang disajikan dengan sangat vulgar di depan mata. Darah merembes, bukan menyembur. Ada teriakan, tapi jeritannya tertahan. Tak ada musik yang berlebihan, kecuali gesekan biola yang menyayat-nyayat di adegan shower paling terkenal sepanjang sejarah sinema. Scene dan gaya scoring itu kemudian abadi, dan menjadi cetak biru untuk generasi-generasi film thriller berikutnya.

Rasanya, sudah ratusan atau bahkan ribuan review ditulis tentang mahakarya klasik ini. Dan alangkah ketinggalannya Anda, jika belum juga menontonnya. (Budi Warsito)

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/psycho/feed/ 0