Ruang terbuka hijau - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/ruang-terbuka-hijau/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 29 Jan 2024 06:01:39 +0000 id hourly 1 Cintai Alam, 48 Pelajar SMP Amati Burung di Ruang Terbuka Hijau https://www.greeners.co/aksi/cintai-alam-48-pelajar-smp-amati-burung-di-ruang-terbuka-hijau/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=cintai-alam-48-pelajar-smp-amati-burung-di-ruang-terbuka-hijau https://www.greeners.co/aksi/cintai-alam-48-pelajar-smp-amati-burung-di-ruang-terbuka-hijau/#respond Mon, 29 Jan 2024 06:01:39 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=42919 Jakarta (Greeners) – Sebanyak 48 pelajar SMP Sekolah Alam Indonesia (SAI) mengamati burung-burung liar di kawasan Taman Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (25/1). Kegiatan di alam bebas ini mereka lakukan untuk […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sebanyak 48 pelajar SMP Sekolah Alam Indonesia (SAI) mengamati burung-burung liar di kawasan Taman Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (25/1). Kegiatan di alam bebas ini mereka lakukan untuk merawat alam agar lebih lestari.

Kolaborasi antara Belantara Foundation bersama SAI menjadi sebuah kegiatan bermanfaat untuk mencintai alam. Terutama, kegiatan ini telah memanfaatkan fasilitas ruang terbuka hijau (RTH) Ibu Kota Jakarta.

BACA JUGA: Menuntut Hak Lingkungan yang Sehat, 862 Gen Z Surati Capres

Guru Kelas SMP SAI, Ahmad Rizky Mudzakir mengatakan bahwa pengamatan burung ini bertujuan untuk penyadartahuan (awareness) dan edukasi bagi masyarakat. Khususnya, siswa SAI akan pentingnya merawat alam dan menjaga lingkungan sekitar lewat pengamatan burung.

“Pengamatan burung ini juga sebagai wadah pembekalan dan pengayaan materi sebelum mereka melakukan eksplorasi burung-burung di kawasan Taman Nasional Manusela, Maluku pada April mendatang,: ujar Ahmad lewat keterangannya di Jakarta, Kamis (25/1).

Puluhan pelajar mengamati burung-burung liar di kawasan Taman Lapangan Banteng. Foto: Belantara Foundation

Puluhan pelajar mengamati burung-burung liar di kawasan Taman Lapangan Banteng. Foto: Belantara Foundation

Berikan Edukasi Pelestarian Burung

Pada kesempatan ini, undraising dan Outreach Belantara Foundation, Ahmad Baihaqi memberikan edukasi pelestarian burung kepada para pelajar. Sebagai narasumber, Baihaqi menyampaikan topik pentingnya menjaga dan melestarikan burung-burung liar di habitat alaminya.

“Burung memainkan peran penting bagi ekosistem sehingga penting bagi masyarakat. Khususnya, generasi muda berpartisipatif aktif dalam menjaga dan melestarikan burung-burung di habitat alaminya, seperti di ruang terbuka hijau (RTH) di Jakarta,” ujar Baihaqi.

BACA JUGA: Komunitas Jaga Semesta Lindungi Mata Air demi Cegah Krisis Air 2040

Selanjutnya, para pelajar SMP SAI mempraktikkan langsung kegiatan mengamati burung-burung liar di kawasan tersebut menggunakan teropong dan poster burung-burung Kota Jakarta. Mereka juga mencatat burung yang berhasil mereka amati pada tabulasi yang telah disiapkan.

Selama berkegiatan, para pelajar terbagi menjadi enam kelompok. Sebanyak 18 fasilitator yang mendampingi mereka berasal dari Kelompok Pengamat Burung (KPB) Nectarinia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, KPB Nycticorax Universitas Negeri Jakarta, dan Biological Bird Club Ardea Biologi Universitas Nasional.

23 Jenis Burung Berhasil Diamati

Dari hasil pengamatan, terdapat 23 jenis burung yang berhasil mereka amati dan identifikasi. Berdasarkan status perlindungan, terdapat tiga jenis burung masuk ke dalam kategori yang dilindungi. Tiga jenis burung tersebut yaitu kipasan belang (Rhipidura javanica), betet biasa (Psittacula alexandri), dan alap-alap sapi (Falco moluccensis).

Berdasarkan status keterancaman, terdapat dua jenis burung yang masuk ke dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN), yaitu burung kacamata biasa (Zosterops melanurus) berstatus rentan terancam punah atau Vulnerable (VU). Jenis kedua yakni betet biasa (Psittacula alexandri) berstatus hampir terancam punah atau Near Threatened (NT).

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/cintai-alam-48-pelajar-smp-amati-burung-di-ruang-terbuka-hijau/feed/ 0
Banjir Kota Makassar, Pengamat Sebut RTH Minim https://www.greeners.co/berita/banjir-kota-makassar-pengamat-sebut-rth-minim/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=banjir-kota-makassar-pengamat-sebut-rth-minim https://www.greeners.co/berita/banjir-kota-makassar-pengamat-sebut-rth-minim/#respond Thu, 16 Feb 2023 05:36:58 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=39011 Jakarta (Greeners) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut, banjir rob yang sempat mengepung Kota Makassar, Sulawesi Selatan pada Senin (13/2) lalu menyebabkan sekitar 1.869 orang mengungsi. “Akibat dari banjir […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut, banjir rob yang sempat mengepung Kota Makassar, Sulawesi Selatan pada Senin (13/2) lalu menyebabkan sekitar 1.869 orang mengungsi.

“Akibat dari banjir Kota Makassar tersebut sebanyak 554 KK atau 1.869 orang mengungsi dan sebagian besar dievakuasi di 21 titik pengungsian,” kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan, BNPB Abdul Muhari dalam keterangannya.

Adapun wilayah terdampak banjir ini berada di tujuh kecamatan, yakni Kecamatan Manggala, Ujung Pandang, Rappocini, Mamajang, Tamalanrea, Biringkanaya, serta Makassar.

Banjir ini telah menyebabkan kerugian material, 554 unit rumah terendam. Selain itu luapan air menyebabkan genangan antara 50 sentimeter hingga 100 sentimeter sehingga mengganggu aktivitas warga.

Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Makassar menyatakan curah hujan tinggi yang diperparah dengan pasang air laut memicu banjir rob ini.

Peneliti Tata Ruang Makassar Research for Advance Transformation (Ma’REFAT Institute) Mohammad Muttaqin Azikin mengungkapkan, banjir di Makassar merupakan masalah lama dan terus berulang. Akar pemicunya karena kecenderungan tata ruang sebagai pedoman pembangunan diabaikan.

Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2015 Tentang Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Kota Makassar tahun 2015-2034 belum secara efektif berjalan.

“Akibatnya, berbagai macam problem perkotaan bermunculan, dan salah satunya adalah banjir. Makassar mengalami banjir, bukan lagi sesuatu yang mengagetkan karena memang kondisinya memungkinkan hal itu terjadi,” katanya kepada Greeners, Kamis (16/2).

Penampakan dari udara kondisi banjir Kota Makassar. Foto: BNPB

RTH dan Daerah Resapan Air Minim

Dewan Penasehat Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP) Sulawesi Selatan ini menyebut masih kurangnya daerah resapan air dan ruang terbuka hijau. Daerah resapan air banyak beralih fungsi menjadi perumahan hingga ruko.

“Sementara ruang terbuka hijau (RTH) masih sangat minim, belum mencapai 10 %. Padahal UU Tata Ruang mensyaratkan 20 % untuk publik dan 10 % privat,” kata Muttaqin.

Hal itu pula yang memicu Makassar belum menjadi kota yang berwawasan lingkungan. Padahal dalam visi Kota Makassar yang tertuang dalam RPJPD tahun 2005-2025 menegaskan hal tersebut. Banjir di Makassar sudah bukan sekadar bencana lagi, namun sudah menjelma menjadi “tragedi”.

Faktor lain yakni terkait dengan penurunan muka tanah (land subsidence). Meski Muttaqin belum melakukan kajian, tapi ia menduga menjadi salah satu pemicu banjir rob. “Ketika posisi daratan sudah lebih rendah dengan permukaan air laut, sehingga membuat air laut melimpah masuk ke daratan,” kata dia.

Ia mendorong, pihak Pemerintah Kota Makassar melakukan pengamatan, pengkajian dan penelitian terkait fenomena penurunan muka tanah tersebut. Selain itu juga perlu melakukan pengawasan dan pengendalian terhadap aktivitas eksploitasi air, khususnya di sekitar pesisir Makassar. “Sebab, ini merupakan ancaman besar bagi Kota Makassar di waktu mendatang,” tandasnya.

Penulis: Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/banjir-kota-makassar-pengamat-sebut-rth-minim/feed/ 0
Rehabilitasi Mangrove, Tak Sekadar Tanam Lalu Ditinggalkan https://www.greeners.co/berita/rehabilitasi-mangrove-tak-sekadar-tanam-lalu-ditinggalkan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=rehabilitasi-mangrove-tak-sekadar-tanam-lalu-ditinggalkan https://www.greeners.co/berita/rehabilitasi-mangrove-tak-sekadar-tanam-lalu-ditinggalkan/#respond Mon, 24 Jan 2022 07:22:27 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=35089 Jakarta (Greeners) – Komitmen pemerintah Indonesia dalam merehabilitasi mangrove hendaknya diikuti upaya menjamin keberlanjutan ekosistem mangrove. Sehingga aksi rehabilitasi mangrove tak sekadar tanam lalu ditinggalkan begitu saja demi memenuhi target […]]]>

Jakarta (Greeners) – Komitmen pemerintah Indonesia dalam merehabilitasi mangrove hendaknya diikuti upaya menjamin keberlanjutan ekosistem mangrove. Sehingga aksi rehabilitasi mangrove tak sekadar tanam lalu ditinggalkan begitu saja demi memenuhi target yang pemerintah tetapkan.

Sepanjang tahun 2020-2021, Indonesia telah merehabilitasi 50.000 hektare (ha) mangrove. Sementara mengacu Peta Mangrove Nasional (PMN) 2021, sebaran luas ekosistem mangrove di Tanah Air yaitu seluas 3.36 juta ha.

Presiden Joko Widodo menargetkan rehabilitasi mangrove di hampir 600.000 ha pada tahun 2024. Target tersebut merupakan terluas di dunia dan turut daya serap karbon empat kali lipat dibanding hutan tropis.

Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Bambang Hero Saharjo mengapresiasi komitmen pemerintah dalam hal mengejar target kuantitas penanaman mangrove. Namun, ia mengingatkan agar pemerintah juga memerhatikan keberlanjutan ekosistem mangrove yang telah pemerintah tanam. Masyarakat juga harus saling menjaga ekosistem mangrove tersebut.

“Penyelamatan mangrove harus diiringi dengan cara yang benar, seperti memerhatikan habitatnya. Jadi tidak asal tanam lalu tinggal,” katanya kepada Greeners, di Jakarta, Senin (24/1).

Rehabilitasi Mangrove Masuk Inventarisasi Ruang Terbuka Hijau

Pengamat Lingkungan Universitas Indonesia, Tarsoen Waryono menyebut, perencanaan yang baik (habitat dan jenis) merupakan modal dari penanaman mangrove. Hal ini akan memudahkan pengawasan keberlanjutan ekosistem mangrove.

“Habitat mangrove menjadi tanggung jawab pemerintah daerah karena masuk dalam investarisasi ruang terbuka hijau (RTH),” ungkapnya.

Penanaman mangrove, sambung dia juga harus mengedepankan unsur kehati-hatian mengingat membutuhkan air payau tapi dapat pengaruh air asin. “Terutama dalam hal penempatan jenis mangrove. Menetapkan habitat adalah kunci keberhasilan tidaknya tumbuhan ini,” imbuhnya.

Menanggapi target pemerintah tersebut, Tarsoen merekomendasikan habitat rehabilitasi mangrove yang paling baik dapat pemerintah lakukan di Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Maluku serta Papua. “Ini dilakukan untuk mempercepat target 2024 yakni sebanyak 600.000 ha,” katanya.

Kerusakan mangrove terjadi dari tahun ke tahun, target pemulihan perlu lebih progresif. Foto: Shutterstock

Mangrove dalam Presidensi G20

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya menyebut, mangrove dapat memperlihatkan komitmen Indonesia dalam penanganan perubahan iklim khususnya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali pada tahun ini.

“Mangrove juga akan membawa nama baik Indonesia dalam menunjang kepemimpinan Indonesia pada G20 tahun 2022 ini,” katanya dalam Workshop Nasional Percepatan Rehabilitasi Mangrove oleh Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) baru-baru ini.

Sebagai Presidensi G20, Indonesia berkesempatan menularkan semangat negara-negara di dunia dalam mendorong pembangunan berkelanjutan, pengendalian perubahan iklim serta pemulihan lingkungan hidup.

Kawasan mangrove menjadi bukti komitmen kuat pemerintah Indonesia dalam upaya perubahan iklim. Hal ini seiring dengan upaya rehabilitasi dan restorasi ekosistem mangrove secara berkelanjutan.

Penuhi Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan

Manajer Kampanye Pangan, Air dan Ekosistem Esensial Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Wahyu Perdana menyatakan, pertimbangan rehabilitasi mangrove tak sekadar menuju Presidensi G20. Akan tetapi, pemenuhan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup.

Utamanya, dalam konteks perubahan iklim dan bencana ekologis yang meningkat trennya. Dalam konteks perlindungan mangrove di ruang yang masih ada izin konsesi juga penting. “Oleh karenanya penegakan hukum serta political will menjadi penting,” ungkapnya.

Menurut catatan Walhi, setidaknya sebanyak 52.783 ha hutan mangrove (primer dan sekunder) berada di kawasan tambang 26.935 ha. Kawasan mangrove di Indonesia juga terus mengalami penyusutan dari tahun ke tahun. Tahun 2018, luasan mangrove tercatat sebanyak 3.61 juta ha. Lalu luasanya turun di tahun 2019 menjadi 2.51 juta ha.

“Jika ditarik jauh ke belakang sampai dengan tahun 2010, angka penurunan luas hutan mangrove semakin mengerikan,” tegasnya.

Food and Agriculture Organization (FAO) mencatat dalam tiga dekade terakhir, Indonesia kehilangan sebanyak 40 % mangrove. “Melihat kondisi ini harusnya penetapan target pemerintah harus lebih progresif,” imbuhnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

]]>
https://www.greeners.co/berita/rehabilitasi-mangrove-tak-sekadar-tanam-lalu-ditinggalkan/feed/ 0
Ayo ke Taman Ajak Kenali Miniatur Alam di Pusat Kota https://www.greeners.co/sosok-komunitas/ayo-ke-taman-ajak-kenali-miniatur-alam-di-pusat-kota/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ayo-ke-taman-ajak-kenali-miniatur-alam-di-pusat-kota https://www.greeners.co/sosok-komunitas/ayo-ke-taman-ajak-kenali-miniatur-alam-di-pusat-kota/#respond Sun, 31 Oct 2021 03:00:46 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=34251 Jakarta (Greeners) – Ayo Ke Taman mengajak masyarakat untuk mengenali alam dengan mengunjungi taman yang merupakan bagian dari ruang terbuka hijau (RTH) di perkotaan. Ayo ke Taman merupakan komunitas dengan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Ayo Ke Taman mengajak masyarakat untuk mengenali alam dengan mengunjungi taman yang merupakan bagian dari ruang terbuka hijau (RTH) di perkotaan.

Ayo ke Taman merupakan komunitas dengan misi menyebarkan kepedulian akan RTH. Komunitas ini juga mengajak masyarakat mengunjungi taman kota sekaligus mengenal berbagai keragaman hayati seperti tanaman dan hewan di dalamnya.

Co-Founder Ayo Ke Taman Niken Prawestiti mengatakan, komunitas ini terbentuk dari kepedulian terhadap masih minimnya RTH. Di samping itu, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui di setiap kota di Indonesia khususnya Jakarta ada sejumlah taman kota yang sangat nyaman dikunjungi.

“Tak hanya sebagai ruang terbuka hijau, keberadaan taman juga sebagai tempat bersantai dan bersosialisasi. Kami mendapat respon, banyak orang yang tidak percaya bahwa ada lokasi hijau seperti Taman Cattleya di Jakarta,” katanya dalam Instagram live bersama Greeners, Jumat (29/10).

Niken mengungkapkan, lokasi Taman Cattleya sangat strategis, mudah masyarakat jangkau. Taman ini luas. Sayangnya belum banyak masyarakat tahu ada taman kota bagus di Jakarta.

Di Indonesia, kondisi RTH masih minim. Padahal pemerintah melalui Undang-Undang (UU) Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang telah mengatur bahwa setiap kota harus memiliki 30% RTH dari luas wilayah kotanya.

“Secara undang-undang atau peraturan, kita sudah punya aturan bahwa RTH itu minimal harus 30% dari luasan wilayah kota. Sayangnya kota-kota di Indonesia, umumnya tidak mencapai 10 persen, Jadi masih sedikit sekali RTH yang ada,” papar Niken.

Jakarta memiliki lebih dari 10 taman antara lain Taman Tabebuya, Taman Menteng, Taman Cattleya, Taman Suropati, Taman Situ Lembang, Taman Tribeca, Taman Kalijodo, Taman Ria Rio dan Taman Ayodya.

Sedang di kota besar lainnya seperti Surabaya, juga memiliki sejumlah taman kota seperti Taman Cahaya, Taman Surya, Taman Bungkul, Taman Flora Bratang, Taman Harmoni, Taman Pelangi, Taman Apsari, Taman Mundu, Taman Jayengrono Surabaya, Taman Prestasi, Taman Ekspresi dan Taman Suroboyo.

Jurus Ajak Masyarakat Berkunjung Ke Taman Kota

Ayo Ke Taman memiliki empat program penting mengajak masyarakat gemar berkunjung ke taman. Pertama, mengunjungi taman dan melakukan berbagai macam kegiatan agar mengenal alam sekitar. Kedua, memberikan edukasi alam dengan mengenalkan berbagai macam hal yang ada di sekitar taman kota.

Kemudian ketiga, menyusun rencana membuat taman. Terakhir, melakukan kampanye kota kota berkelanjutan agar generasi mendatang tetap dapat menikmati kota dengan suasana yang nyaman.

Niken menambahkan, selama pandemi berlangsung karena tidak dapat mengunjungi taman, komunitasnya lebih banyak melakukan kampanye secara digital seperti mengadakan diskusi secara virtual. Selain itu, komunitas ini juga tengah berkampanye mengenalkan berbagai macam pohon lokal.

“Saat ini yang sedang kita lakukan mengkampanyekan pentingnya pohon lokal. Jadi pohon-pohon yang memiliki kedekatan identitas daerah seperti pohon kemang atau menteng. Hal ini kita lakukan karena banyak anak muda yang tidak tahu bahwa menteng merupakan nama pohon. Kita juga mencoba menanam kembali pohon itu,” tutur Niken.

Dalam melakukan kampanye, Ayo ke Taman mengajak warga kota untuk mengunjungi taman, gerakan ini juga membuat berbagai kegiatan saat sedang berkunjung ke taman. Harapannya kegiatan ini bisa menimbulkan kesan untuk kembali berkunjung lagi ke taman kota.

“Bagi kami taman yang sudah dibangun akan sia-sia jika tidak dimanfaatkan. Dan jangan sampai suatu hari taman yang sudah dibangun atau sudah ada tetapi tidak dimanfaatkan, karena taman akan mudah sekali berubah fungsi menjadi komersial. Maka ayo kita manfaatkan ruang terbuka hijau semaksimal mungkin,” pungkas Niken.

Penulis : Fitri Annisa

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/ayo-ke-taman-ajak-kenali-miniatur-alam-di-pusat-kota/feed/ 0
Bermain di Ruang Terbuka Hijau Tingkatkan Imun Anak https://www.greeners.co/gaya-hidup/bermain-di-ruang-terbuka-hijau-tingkatkan-imun-anak/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bermain-di-ruang-terbuka-hijau-tingkatkan-imun-anak https://www.greeners.co/gaya-hidup/bermain-di-ruang-terbuka-hijau-tingkatkan-imun-anak/#respond Mon, 02 Nov 2020 10:28:17 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=29728 Sebuah studi American Association for the Advancement of Science (AAAS) menemukan anak yang lebih banyak beraktivitas di ruang terbuka hijau memiliki imunitas yang lebih kebal menghadapi penyakit. Studi ini menemukan intervensi lingkungan hijau dapat meningkatkan jalur imunoregulasi untuk mengurangi risiko penyakit yang di mediasi oleh kekebalan tubuh di masyarakat perkotaan.]]>

Masyarakat sering kali menjadikan ruang terbuka hijau sebagai tempat pelarian dari hiruk pikuk kota. Selain memberikan warna baru, ruang terbuka hijau juga menjadi salah satu tempat refreshing dan rekreasi keluarga. Tak hanya itu, ternyata ruang terbuka hijau dapat membawa dampak positif bagi imun anak.

Sebuah studi American Association for the Advancement of Science (AAAS) menemukan anak yang lebih banyak beraktivitas di ruang terbuka hijau memiliki imunitas yang lebih kebal menghadapi penyakit. Studi ini menemukan intervensi lingkungan hijau dapat meningkatkan jalur imunoregulasi. Jalur ini berfungsi mengurangi risiko penyakit yang terkait dengan kekebalan tubuh, terutama pada masyarakat perkotaan.

Melansir Planet Ark, penelitian ini menemukan hubungan antara kekebalan anak-anak dan area bermain luar ruangan yang hijau. Mulanya, para peneliti mengubah pekarangan kerikil menjadi taman hijau yang subur. Mereka lalu menemukan sistem kekebalan anak-anak yang bermain di lokasi yang sama meningkat setelah sebulan. Peningkatan kekebalan tubuh ini akibat dari berkembangnya mikroba. Peneliti menemukan mikroba yang lebih beragam di kulit dan usus anak yang bermain di ruang hijau. Ragam mikroba ini meningkatkan kekebalan tubuh.

“Saat kami melihat hasilnya, kami sangat terkejut karena hasilnya sangat kuat. Studi kami dapat membuka jalan bagi praktik pencegahan baru untuk mengurangi penyakit epidemi global yang terkait kekebalan tubuh,” ujar Ketua Peneliti Aki Sinkkonen.

Baca juga: Empat Manfaat Teh Hijau bagi Kesehatan

Ruang Terbuka Hijau Undang Mikroba yang Tingkatkan Imunitas Anak

Sebanyak 75 anak berusia antara 3 dan 5 tahun menjadi subjek penelitian ini. Anak-anak tadi merupakan anak yang menghadiri pusat penitipan anak dan tinggal di lingkungan perkotaan, pun juga memenuhi persyaratan untuk berpartisipasi dalam penelitian ini.

Para peneliti menyulap area bermain dengan lantai rumput yang berasal hutan alam, lengkap dengan semak kerdil, blueberry, crowberry, dan lumut untuk menjadi area bermain anak-anak. Anak-anak menghabiskan rata-rata 90 menit sehari di luar. Para peneliti lalu mendorong anak-anak ini untuk bermain dengan tanaman dan tanah.

“Mudah karena (area hijau) adalah tempat paling seru di halaman,” kata Sinkkonen.

The Guardian menyebut hasil pengujian yang dilakukan setelah 28 hari menunjukkan, keragaman mikroba pada kulit anak-anak yang bermain di ruang hijau sepertiga lebih tinggi daripada mereka yang masih bermain di kerikil. Mikroba ini juga meningkat secara signifikan di usus. Selain itu, sampel darah mereka juga menunjukkan perubahan bermanfaat pada berbagai protein dan sel yang terkait dengan sistem kekebalan tubuh, termasuk sitokin anti-inflamasi dan sel T regulatori.

Penemuan ini diharapkan dapat menjadi metode baru untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh pada anak hanya dengan memaparkan mereka pada lingkungan hijau. Adanya relasi yang kuat antara lingkungan hijau dan kesehatan manusia menunjukkan bahwa kita bisa memanfaatkan lingkungan tanpa harus merusaknya. Lingkungan hijau akan menjaga kita, jika kita ikut menjaga mereka.

Penulis: Ida Ayu Putu Wiena Vedasari

Editor: Ixora Devi

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/bermain-di-ruang-terbuka-hijau-tingkatkan-imun-anak/feed/ 0
Urban Farming Solusi Adaptasi Perubahan Iklim di Perkotaan https://www.greeners.co/berita/urban-farming-solusi-adaptasi-perubahan-iklim-di-perkotaan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=urban-farming-solusi-adaptasi-perubahan-iklim-di-perkotaan https://www.greeners.co/berita/urban-farming-solusi-adaptasi-perubahan-iklim-di-perkotaan/#respond Fri, 12 Apr 2019 14:36:02 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=23079 Upaya untuk menurunkan emisi gas rumah kaca dan meningkatkan kualitas udara di perkotaan salah satunya dengan menggalakkan pertanian kota atau urban farming.]]>

Jakarta (Greeners) – Upaya untuk menurunkan emisi gas rumah kaca dan meningkatkan kualitas udara di perkotaan salah satunya dengan menggalakkan pertanian kota atau urban farming. Kehadiran pertanian kota juga berarti adanya ruang terbuka hijau dan pemenuhan pangan lokal.

Urban farming architect dan co-founder Indonesia Berkebun, Sigit Kusumawijaya mengatakan bahwa di DKI Jakarta konsep pertanian kota bukan hal baru. Pemerintah provinsi DKI Jakarta juga mendukung konsep ini dalam Ruang Terbuka Hijau (RTH) meskipun secara persentase jumlahnya kecil. Adanya pertanian kota juga akan mengurangi polusi dan menjadikan kota tempat yang lebih sehat untuk hidup dengan meningkatkan kualitas lingkungan.

“Seperti yang dilakukan oleh masa jabatan Pak Ahok-Djarot (Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2014-2017) yang membuat Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) yang memiliki lokasi tanam gizi. Itu mendukung pertanian kota di 300 lokasi di Jakarta walaupun luasnya kecil-kecil. Kemudian di zamannya Pak Anies (Gubernur Jakarta saat ini) ada program Taman Maju Bersama yang memiliki lokasi pertanian kota di Jakarta Timur satu hektar meter persegi dan Warung Silah Jagakarsa 300 meter persegi,” kata Sigit usai acara “Strategi Adaptasi Iklim di Perkotaan Dengan Urban Farming” di Manggala Wanabhakti, Jakarta, Kamis (11/04/2019).

BACA JUGA: KLHK Bantah Laporan Greenpeace, Kualitas Udara Jakarta Bukan yang Terburuk 

Sigit mengatakan bahwa pertanian kota juga berfungsi untuk memproduksi bahan pangan di tengah-tengah kota dan meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan melalui penghijauan. Ini berarti pertanian kota menghemat energi yang dibutuhkan dalam distribusi bahan pangan sehingga emisi karbon dari transportasi juga berkurang.

Kepala Seksi Respon KLB dan Wabah Direktorat Surveilans Kementerian Kesehatan Robert Saragih mengatakan bahwa pertanian kota juga mendorong terwujudnya lingkungan sehat yang berdampak pada menurunnya kejadian penyakit dan masalah kesehatan termasuk mencegah munculnya stres.

“Pertanian kota menjadi salah satu upaya untuk mengurangi pencemaran udara di perkotaan. Meningkatnya pencemaran udara akan berdampak pada perubahan iklim, dimana jika itu terjadi ada perubahan pada siklus penyakit. Dulu tahun 90an penyakit menular yang paling banyak, namun makin ke sini penyakit tidak menular yang lebih tinggi dan itu dipengaruhi oleh perubahan iklim,” ujar Robert.

BACA JUGA: RPTRA Bukan Bagian dari Ruang Terbuka Hijau

Robert mengatakan penyakit yang dapat dipengaruhi iklim di Indonesia seperti ILI (Influenza Like Illness) atau penyakit menyerupai influenza merupakan kasus dengan demam di atas 38 derajat Celcius disertai batuk dan atau sakit tenggorokan. ILI meningkat pada musim hujan kalau memang perubahan iklim itu terjadi.

“Kita tidak bisa lari dari perubahan iklim tapi bagaimana kita bisa mengadaptasi perubahan iklim ini, mungkin salah satunya dengan urban farming,” ujar Robert.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/urban-farming-solusi-adaptasi-perubahan-iklim-di-perkotaan/feed/ 0
Kebun Raya Bukan Hanya Tempat Konservasi https://www.greeners.co/berita/kebun-raya-bukan-tempat-konservasi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kebun-raya-bukan-tempat-konservasi https://www.greeners.co/berita/kebun-raya-bukan-tempat-konservasi/#respond Fri, 16 Mar 2018 09:36:04 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=20217 Wakil Bendahara Yayasan Kebun Raya Indonesia (YKRI), Karen Tambayong menyatakan bahwa Kebun Raya tidak hanya sebagai tempat konservasi dan penelitian, melainkan juga memberikan manfaat bagi kesehatan manusia. Benarkah?]]>

Jakarta (Greeners) – Berdasarkan Perpres Nomor 93 Tahun 2011 tentang Kebun Raya disebutkan bahwa Kebun Raya adalah kawasan konservasi tumbuhan secara ex situ yang memiliki koleksi tumbuhan terdokumentasi dan ditata berdasarkan pola klasifikasi taksonomi, bioregion, tematik, atau kombinasi dari pola-pola tersebut. Disebutkan pula bahwa tujuan adanya Kebun Raya adalah untuk kegiatan konservasi, penelitian, pendidikan, wisata dan jasa lingkungan. Meski demikian, Wakil Bendahara Yayasan Kebun Raya Indonesia (YKRI), Karen Tambayong menyatakan bahwa Kebun Raya juga memberikan manfaat bagi kesehatan manusia.

“Diperkirakan pada tahun 2050 sebesar 70 persen dari populasi dunia akan tinggal di perkotaan. Dampaknya sumber daya alam akan berkurang dan akan timbul lebih banyak penyakit. Saat ini saja kota metropolitan memiliki lebih dari 11 juta penduduk. Ruang hijau sekarang menjadi ruang yang sangat dibutuhkan dan ruang hijau ini salah satunya adalah Kebun Raya,” kata Karena dalam acara Media Gathering Jaga Bhumi 2018 di Jakarta, Kamis (15/03/2018).

BACA JUGA: Aksi Edukasi Lingkungan Gerakan Jaga Bhumi ‘Jaga Wiyata’ Digelar di Empat Provinsi

Menurut Karen, fungsi kesehatan dari Kebun Raya antara lain meningkatkan relaksasi, mengurangi stress dan depresi, mengurangi kecemasan dan ketakutan, meningkatkan fungsi kognitif dan meningkatkan interaksi sosial, hingga dapat megurangi tingkat kematian.

“Berdasarkan data dari Hartig (2014), berinteraksi dengan alam memberikan efek psikologis restoratif yang berarti alam bisa menyembuhkan kita dari berbagai penyakit karena mengeluarkan zat phytoncide, semacam minyak atau air yang kalau dihirup akan meningkatkan imunitas kita,” ucap Karen.

BACA JUGA: Kebun Raya Bukan Hanya Lahan Penelitian Semata

Selain itu, berinteraksi dengan alam juga dapat memberi efek positif bagi orang-orang yang memiliki tingkat stress tinggi, termasuk juga bagi anak-anak.

“Anak-anak sekarang banyak yang mengalami Nature Deficit Disorder (NDD). Mereka kurang berinteraksi dengan alam terbuka yang berakibat terhambatnya perkembangan fisik, mental, dan akademis. Oleh karena itu kita perlu mengajak generasi muda untuk berinteraksi dengan alam agar mereka berperilaku lebih positif dan pro lingkungan,” kata Karen.

Dalam acara yang sama, Wakil Ketua II Yayasan Kebun Raya Indonesia Sonny Keraf mengatakan, Kebun Raya saat ini penggunaannya sudah semakin luas. Kebun Raya kini tidak hanya sebagai tempat konservasi namun juga memiliki fungsi sosial dimana warga kota dapat datang ke sana untuk menemukan ketenangan batin diantara kepenatan kota.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/kebun-raya-bukan-tempat-konservasi/feed/ 0
Tempat Parkir Sekaligus Ruang Hijau dan Penampung Air https://www.greeners.co/ide-inovasi/tempat-parkir-sekaligus-ruang-hijau-dan-penampung-air/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tempat-parkir-sekaligus-ruang-hijau-dan-penampung-air https://www.greeners.co/ide-inovasi/tempat-parkir-sekaligus-ruang-hijau-dan-penampung-air/#respond Thu, 12 Oct 2017 09:32:58 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=18972 Firma arsitektur Denmark Third Nature mendesain solusi untuk mengatasi tingginya permintaan lahan parkir dan terbatasnya areal hijau sebagai daerah resapan hujan. Bangunan tersebut bernama POP-UP.]]>

Seiring dengan meningkatnya populasi manusia di Bumi, permasalahan populasi kendaraan bermotor – mulai dari polusi hingga kebutuhan lahan parkir yang kian luas, semakin meningkat secara signifikan. Dilansir Arch Daily, setidaknya 30 persen dari kemacetan di jalanan terjadi karena pengendara mobil sedang mencari tempat untuk parkir.

Hal tersebut mendorong pemerintah maupun swasta membangun kantong-kantor parkir yang tentunya lebih menggiurkan dibanding membangun areal hijau. Karenanya, firma arsitektur Denmark Third Nature mendesain solusi untuk mengatasi tingginya permintaan lahan parkir dan terbatasnya areal hijau sebagai daerah resapan hujan, bernama POP-UP.

tempat parkir

Ilustrasi. Foto: THIRD NATURE via Archdaily.com

POP-UP adalah kombinasi lahan parkir, ruang hijau, dan tempat penampungan air. Dari hulu sampai hilir, karya ini menggunakan prinsip Arhimedes dalam menampung air dan menciptakan ruang terapung sebagai tempat parkir kendaraan bermotor.

Ole Schroder, rekan dari Third Nature mengatakan, “kami duduk di depan peta yang menunjukkan lokasi mana yang mengalami kekurangan air dan peta lain yang menunjukkan lokasi dimana masalah lahan parkir sering terjadi. Ketika kamu menemukan lokasi yang sama dari dua permasalahan tersebut, konsep yang sama bisa digunakan untuk memecahkan masalah.”

tempat parkir

Ilustrasi. Foto: THIRD NATURE via Archdaily.com

Tinggi POP-UP yang beragam mampu beradaptasi dengan pergantian cuaca. Pada musim panas yang kering, ruang parkir berada dibawah tanah dengan ruang terbuka hijau diatasnya. Pada musim hujan, saluran pembuangan mengirim air hujan ke bawah ruang parkir yang berfungsi sebagai ruang penampungan.

Ketika ruang penampungan terisi penuh, struktur ruang parkir akan bergerak keatas. Hal tersebut serupa dengan prinsip Archimedes yang juga dipakai dalam mesin-mesin hidraulis, bagaimanapun penuh tempat penampungan tersebut, ruang parkir tetap bisa diakses oleh pejalan kaki dan pengendara.

Penulis: MFA/G41

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/tempat-parkir-sekaligus-ruang-hijau-dan-penampung-air/feed/ 0
Bersepeda sambil Berkebun? Bisa! https://www.greeners.co/ide-inovasi/bersepeda-sambil-berkebun/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bersepeda-sambil-berkebun https://www.greeners.co/ide-inovasi/bersepeda-sambil-berkebun/#comments Sat, 16 Sep 2017 11:48:55 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=18610 Menyiasati ruang terbuka hijau yang kian terbatas, sebuah firma arsitektur di Beijing mendesain kebun berjalan menggunakan sepeda untuk menciptakan komunitas yang saling berbagi tanggung jawab atas perkembangan bibit tanaman mereka.]]>

Menyiasati ruang terbuka hijau yang kian terbatas, firma arsitektur Beijing, People’s Industrial Design Office (PIDO) telah mendesain kebun berjalan menggunakan sepeda untuk menciptakan komunitas yang saling berbagi tanggung jawab atas perkembangan bibit tanaman mereka.

Dilansir Dezeen, kebun berjalan bernama Bike Share Farm ini diciptakan untuk menyiasati kekurangan ruang terbuka yang dialami kota-kota besar – termasuk Beijing, khususnya untuk ruang untuk menumbuhkan tanaman yang bisa dikonsumsi.

berkebun

Bike Share Farm rancangan People’s Industrial Design Office (PIDO). Foto: Dezeen.com

Kebun ini memakai sistem hidroponik dengan rangka baja berbentuk segitiga yang ditopang oleh dua sepeda. Pipa-pipa diurutkan mengikuti rangka, lengkap dengan lubang tempat bibit akan ditanam. Tidak lupa panel surya juga disematkan guna memberi energi kepada pompa yang akan mengaliri air ke seluruh sistem hidroponik.

Rangkanya juga dibuat fleksibel, sepeda yang menjadi penopang bisa diganti dan dilepas dengan tujuan banyak pesepeda baru yang turut terlibat dan bertanggung jawab membawa kebun ini mengelilingi kota.

“Kebun kota memang tersedia di kota-kota besar, namun hanya segelintir orang yang memiliki akses kepada kebun tersebut,” ujar co-founder PIDO James Shen seperti dikutip Dezeen. “Bike Share Farm menggabungkan kegiatan bersepeda dan berkebun di kota. Kebun vertikal dan bergerak sangat dibutuhkan di kota-kota padat seperti Seoul dan Beijing.”

berkebun

Bike Share Farm rancangan People’s Industrial Design Office (PIDO). Foto: Dezeen.com

Dengan struktur yang ringan dan mudah dikendarai, Shen berharap Bike Share Farm bisa mendorong komunitas-komunitas kota untuk lebih terlibat dalam kegiatan berkebun dan menawarkan kesempatan kepada orang-orang untuk terlibat.

“Kami membayangkan, orang akan bersepeda ke lokasi Bike Share Farm, mengaitkan sepeda mereka dan membawa kebun tersebut ke lokasi berbeda. Hal tersebut akan membuat Bike Share Farm tersebar di seluruh kota,” tutup Shen.

Penulis: MFA/G41

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/bersepeda-sambil-berkebun/feed/ 1
RPTRA Bukan Bagian dari Ruang Terbuka Hijau https://www.greeners.co/berita/rptra-bukan-bagian-ruang-terbuka-hijau/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=rptra-bukan-bagian-ruang-terbuka-hijau https://www.greeners.co/berita/rptra-bukan-bagian-ruang-terbuka-hijau/#respond Wed, 26 Jul 2017 05:22:45 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=17882 Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti Nirwono Joga menilai bahwa keberadaan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) tidak bisa dijadikan bagian dari rencana penambahan luas ruang terbuka hijau (RTH) kota.]]>

Jakarta (Greeners) – Keberadaan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) tidak bisa dijadikan bagian dari rencana penambahan luas ruang terbuka hijau (RTH) kota. Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti Nirwono Joga pun menyayangkan beberapa pihak termasuk Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang menyamaratakan RTH dengan RPTRA.

Berdasarkan Pasal 29 dan 30 Undang Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Tata Ruang, RTH merupakan ruang yang memiliki dua fungsi utama tak tergantikan. Fungsi pertama adalah sebagai daerah resapan air dan kedua harus menjadi penyedia oksigen sehingga RTH kerap disebut sebagai paru-paru kota.

Sedangkan RPTRA dinilai lebih memiliki fungsi sosial ketimbang urusan lingkungannya. Hal ini nampak dari sebagian besar area RPTRA dibeton dan diperkeras sehingga tidak bisa menjadi tempat resapan air. Fungsinya hanya untuk sosial dan ruang publik.

BACA JUGA: Taman Kehati, Benteng Perlindungan Tumbuhan Lokal Indonesia

“RPTRA itu semangat awalnya kan memang untuk sosial dan dia ada di bawah Dinas Pemberdayaan Perumahan dan Anak. Pendekatan fungsinya juga berbeda dengan RTH. Kalau RPTRA pakai pendekatan fungsi sosial, sementara RTH fungsi ekologis,” kata Nirwono kepada Greeners, Jakarta, Rabu (25/07).

Ia pun menambahkan jika fungsi RTH adalah sebagai daerah resapan air, maka sebaliknya kondisi fisik RPTRA terdapat bangunan dan banyak dibeton atau diperkeras hingga 70 persen. Hal ini menambah jelas kalau RPTRA tidak bisa disebut bagian dari RTH.

ruang terbuka hijau

Nirwono Joga. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Tentukan prioritas

Hingga September 2016, total luas RTH di wilayah Ibu Kota baru mencapai sekitar 9,98 persen. Adapun sesuai dengan aturan, sebuah daerah harus memenuhi target RTH hingga 30 persen dari luas wilayahnya. DKI Jakarta sendiri menargetkan luasan RTH mencapai 30 persen hingga 2030. Untuk mengejar target yang bahkan belum mencapai 10 persen tersebut, Nirwono mengingatkan kepada Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih untuk kembali menentukan prioritas apa yang dibutuhkan Jakarta.

Menurutnya, selama ini permasalahan utama di Jakarta hanya dua yakni banjir dan macet yang berujung pada permasalahan polusi dan sosial. Nirwono sendiri menegaskan bahwa ia tidak melarang pembuatan RPTRA karena RPTRA tetap diperlukan terkait fungsinya dalam konteks sosial seperti tempat bermain anak dan fungsi interaksi sosial. Ia pun mengungkapkan kalau pembangunan RPTRA dan RTH bisa saja berjalan seiringan hanya saja ia menegaskan untuk tetap tidak bisa menyamaratakan RTH dan RPTRA.

“Harusnya kita konsentrasinya di RTH, kalau kita mau sekali jalan, RTH yang harus jadi prioritas. Karena kalau kita bangun RTH, ada minimal tiga fungsi tambahan yang bisa kita dapat, yaitu penambahan RTH yang terukur, lalu RTH itu juga kan ruang publik, ada taman bermain anak, tempat kumpul, dan RTH juga memiliki nilai ekologis yang tidak ada di RPTRA,” tegasnya.

BACA JUGA: Dinas Pertamanan DKI Jakarta Akan Tambah 63 Taman Kota

Sebagai informasi, setelah membangun 123 RPTRA tahun lalu, kini Pemprov DKI Jakarta akan membangun lagi sebanyak 100 RPTRA pada tahun 2017. Pembangunan 100 RPTRA tersebut menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2017 dari Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman sebesar Rp150 miliar.

Sebanyak 100 RPTRA tersebut akan dibangun di lima wilayah kota. Di Jakarta Pusat akan dibangun 15 RPTRA, lima RPTRA di Kepulauan Seribu, 20 RPTRA di Jakarta Utara, 20 RPTRA di Jakarta Barat, 20 RPTRA di Jakarta Timur, dan 20 RPTRA di Jakarta Selatan.

Sebelumnya, di tahun 2016 sebanyak 16 RPTRA dibangun di Jakarta Pusat, 31 RPTRA di Jakarta Utara, 24 RPTRA di Jakarta Barat, 24 RPTRA di Jakarta Selatan dan 28 RPTRA di Jakarta Timur. Sementara selama 17 tahun atau tepatnya dari awal milenium hingga sekarang, pertambahan luas RTH di Jakarta hanya 0,98 persen.

Bahkan dalam lima tahun terakhir sejak zaman Jokowi sampai Ahok praktis tidak ada pertambahan RTH baru di Jakarta. Kalaupun ada, kata Yudi, RTH yang diresmikan oleh Jokowi dan Ahok bukanlah hal baru karena telah dirintis sejak era Fauzi Bowo. Tidak adanya pertambahan baru luasan RTH di Jakarta ditengarai karena salahnya strategi yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta selama ini.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/rptra-bukan-bagian-ruang-terbuka-hijau/feed/ 0
Forest Bathing, Cara Alternatif untuk Meningkatkan Kesehatan https://www.greeners.co/gaya-hidup/forest-bathing-cara-alternatif-meningkatkan-kesehatan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=forest-bathing-cara-alternatif-meningkatkan-kesehatan https://www.greeners.co/gaya-hidup/forest-bathing-cara-alternatif-meningkatkan-kesehatan/#respond Mon, 03 Jul 2017 08:28:37 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=17531 Tinggal di perkotaan kadang membuat diri kita merasa cepat penat, letih, dan juga stres. Untuk membersihkan diri kita dari hal-hal negatif tersebut, kita dapat melakukan terapi yang disebut "forest bathing".]]>

Tinggal di perkotaan kadang membuat diri kita merasa cepat penat, letih, dan juga stres. Tingginya tingkat polusi udara, suasana yang bising dan ramai, serta padatnya jadwal kegiatan dapat menjadi pemicunya. Bila dibiarkan terus-menerus, kondisi tubuh akan menjadi lebih mudah menurun dan emosi pun akan lebih labil. Untuk membersihkan diri kita dari hal-hal negatif tersebut, kita dapat melakukan terapi yang disebut forest bathing.

Apa yang pertama kali kita pikirkan ketika mendengar istilah forest bathing? Mandi di tengah rimbunnya pepohonan? Sebenarnya, anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah karena forest bathing merupakan kegiatan ‘membersihkan’ tubuh dari sisi emosional yang dilakukan di alam terbuka. Cara ini dapat dilakukan dengan cara berjalan kaki mengelilingi hutan dan menikmati segala hal yang terdapat di dalamnya.

forest bathing

Foto: maxpixel.freegreatpicture.com

Forest bathing atau yang juga dikenal dengan nama Shinrin-yoku merupakan salah satu bentuk pengobatan yang berasal dari Jepang. Shinrin-yoku mulai dipraktikkan di Jepang pada tahun 1982 dan dikenalkan oleh Menteri Pertanian Jepang saat itu. Saat itu, Menteri Pertanian Jepang ingin mempromosikan metode penyembuhan dengan menghabiskan waktu di alam sebagai salah satu bentuk dari eco therapy. Lingkungan hutan yang tenang, hijau, dan segar dipercaya dapat menurunkan rasa stres dan dapat meningkatkan daya tahan tubuh.

Meningkatkan imunitas tubuh

Untuk membuktikan kebenaran bahwa forest bathing dapat memberikan manfaat bagi kesehatan, Park BJ, seorang peneliti dari Universitas Chiba di Jepang, melakukan sebuah penelitian terhadap 280 masyarakat Jepang untuk menghabiskan waktu di hutan. Dalam penelitiannya, Park BJ menyatakan bahwa orang yang sering menghabiskan waktu di hutan memiliki kadar hormon kortisol yang lebih rendah, denyut nadi yang lebih tenang, dan tekanan darah yang lebih rendah dibandingkan dengan orang yang tinggal di perkotaan. Mereka juga memiliki level stres yang rendah.

Selain itu, Forest Therapy Association of the Americas menyatakan bahwa pepohonan di hutan menghasilkan suatu senyawa antibakteri bernama phytonicides yang berfungsi untuk melindungi pohon dari kerusakan. Mereka juga menyatakan bahwa senyawa tersebut juga dapat meningkatkan imunitas pada tubuh manusia.

“Senyawa phytoncides dapat meningkatkan imunitas dan meningkatkan jumlah sel natural killer dalam tubuh yang dapat membantu kita melawan penyakit. Melakukan forest bathing juga dapat meningkatkan zat protein anti-kanker,” tulis Forest Therapy Association of the Americas dalam situs resmi mereka.

Beberapa penelitian juga menyatakan bahwa melakukan forest bathing dapat meningkatkan konsentrasi, mengurangi rasa nyeri pada tubuh, dan dapat menurunkan kadar gula darah. Jadi, sesungguhnya forest bathing tidak hanya dapat meningkatkan kondisi kesehatan mental saja. Kondisi kesehatan fisik pun dapat meningkat dengan melakukan terapi tersebut.

Tinggalkan semua gawai elektronik

Untuk mendapatkan semua manfaat dari forest bathing, kita harus benar-benar meninggalkan segala sesuatu yang tidak berhubungan dengan alam. Susan Joachim, seorang pemandu forest bathing dari Melbourne Australia, menyatakan bahwa kita harus meninggalkan semua gawai atau gadget elektronik saat melakukan forest bathing.

“Saat melakukan forest bathing, simpanlah ponsel dan gawai elektronik lainnya. Nikmatilah pengalaman yang menenangkan yang diberikan oleh alam,” ujar Susan dalam Healthline.com.

Sama seperti proses terapi yang lain, forest bathing dapat dilakukan secara berkelompok ataupun individu, dengan atau tanpa bantuan dari seorang pemandu. Untuk melakukannya, kita cukup mendatangi hutan atau taman kota yang berada di sekitar kita.

Di hutan atau taman kota, kita dapat memulainya dengan berjalan perlahan saat mengelilingi hutan atau taman kota selama satu atau dua jam. Hiruplah udara yang segar, nikmati embusan angin dan rasakan kedamaian yang ditawarkan oleh alam sekitar.

Melihat begitu banyak manfaat yang ditawarkan oleh forest bathing, tidak ada salahnya untuk melakukan kegiatan ini secara rutin. Kesehatan fisik dan mental yang seimbang dapat menjadikan diri kita lebih bahagia dan bersemangat. Jadi, tidak ada salahnya untuk sesekali pergi dari hiruk pikuknya kota dan menyatu dengan alam, bukan?

Penulis: Anggi Rizky Firdhani

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/forest-bathing-cara-alternatif-meningkatkan-kesehatan/feed/ 0
World Wildlife Day, Magister Biologi UNAS Mengamati Burung Liar di Lingkungan Kampus https://www.greeners.co/aksi/world-wildlife-day-magister-biologi-unas-mengamati-burung-liar-lingkungan-kampus/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=world-wildlife-day-magister-biologi-unas-mengamati-burung-liar-lingkungan-kampus https://www.greeners.co/aksi/world-wildlife-day-magister-biologi-unas-mengamati-burung-liar-lingkungan-kampus/#respond Tue, 07 Mar 2017 06:40:19 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=16126 Dalam rangka memperingati World Wildlife Day, Sekolah Pascasarjana Prodi Magister Biologi UNAS mengadakan pengamatan burung liar di lingkungan kampus.]]>

Jakarta (Greeners) – Tanggal 3 Maret diperingati sebagai World Wildlife Day atau Hari Hidupan Liar Sedunia. World Wildlife Day merupakan kampanye untuk meningkatkan kesadaran masyarakat di seluruh dunia akan nilai penting satwa, flora, dan kehidupan liar dunia, terutama yang terancam punah dan dilindungi.

Peringatan ini mempunyai makna yang sangat penting terhadap perlindungan kehidupan alam liar di dunia. Dalam rangka memperingati hari tersebut, Sekolah Pascasarjana Prodi Magister Biologi Universitas Nasional (UNAS) mengadakan pengamatan burung di Kampus UNAS, Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Kegiatan ini bertujuan untuk memantau keberadaan berbagai jenis burung di lingkungan kampus.

Kepala Program Studi Magister Biologi UNAS, Dr Tatang Mitra Setia, mengatakan bahwa burung memiliki peranan yang sangat penting di perkotaan. Perannya antara lain membantu mengendalikan populasi serangga hama, membantu penyerbukan bunga, dan membantu pemencaran biji.

“Kehadiran burung di kota dapat dikatakan memiliki peranan penting dan juga sebagai bioindikator lingkungan. Apabila terjadi degradasi lingkungan, burung menjadi komponen alam terdekat yang terkena dampak secara langsung,” ujar Tatang, Jakarta, Senin (06/03/2017).

Menurut Tatang, karena adanya tekanan dari aktivitas manusia seperti perburuan, pembangunan gedung-gedung pencakar langit dan pembuangan sampah yang berlebihan memberikan dampak langsung dan tidak langsung terhadap ekosistem. Kondisi ini juga mengakibatkan terputusnya koridor-koridor penghubung antar ruang terbuka hijau (RTH) sehingga membuat RTH menjadi terisolasi.

Saat ini, lanjutnya, peranan kampus sebagai RTH sangat diperlukan, selain sarana untuk menimba ilmu. Lingkungan di sekitar kampus yang ditanami pepohonan berperan penting untuk menunjang kehidupan tidak hanya manusia melainkan juga satwa. Rerimbunan pohon yang hijau dapat menjadi tempat yang nyaman bagi manusia maupun satwa liar yang berada di sekitarnya. Selain itu, keberadaan burung dan satwa liar lainnya di RTH sekitar kampus dapat menjadi sarana pembelajaran khususnya di bidang biologi.

Kegiatan pengamatan burung sebagai perayaan Hari Hidupan Liar Sedunia ini dilaksanakan tanggal 5 Maret 2017 di Kampus Universitas Nasional, Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Sekolah Pascasarjana Prodi Magister Biologi Universitas Nasional. Turut hadir komunitas pegiat lingkungan lainnya, seperti Biological Bird Club “Ardea” Fakultas Biologi Universitas Nasional, Biodiversity Warriors Yayasan KEHATI, BScC Indonesia, Simpul Indonesia, dan Transformasi Hijau.

Sebagai informasi, sejarah penetapan tanggal 3 Maret sebagai World Wildlife Day diawali dari CITES Sixteenth Conference of the Parties (COP16) di Bangkok 2013. Konferensi Para Pihak CITES ini merekomendasikan kepada PBB agar 3 Maret 1973 yang merupakan tanggal diadopsinya kesepakatan CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), ditetapkan dan diperingati sebagai Hari Hidupan Liar Sedunia.

Pada tanggal 20 Desember 2013, Sidang Umum PBB akhirnya menetapkan 3 Maret sebagai hari khusus untuk menghargai keragaman hayati dunia, utamanya satwa dan flora liar. Tanggal 3 Maret 2014, untuk pertama kalinya dirayakan Hari Hidupan Liar Sedunia atau World Wildlife Day.

Penulis: Ahmad Baihaqi

]]>
https://www.greeners.co/aksi/world-wildlife-day-magister-biologi-unas-mengamati-burung-liar-lingkungan-kampus/feed/ 0
Pengembalian Kalijodo Menjadi Jalur Hijau Tunggu Proses Penertiban https://www.greeners.co/berita/pengembalian-kalijodo-menjadi-jalur-hijau-tunggu-proses-penertiban/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pengembalian-kalijodo-menjadi-jalur-hijau-tunggu-proses-penertiban https://www.greeners.co/berita/pengembalian-kalijodo-menjadi-jalur-hijau-tunggu-proses-penertiban/#respond Thu, 25 Feb 2016 11:23:16 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=12970 Pengembalian fungsi wilayah Kalijodo menjadi kawasan jalur hijau akan menunggu proses penertiban dan penyelesaian beberapa masalah.]]>

Jakarta (Greeners) – Pengembalian fungsi wilayah Kalijodo menjadi kawasan jalur hijau akan menunggu proses penertiban dan penyelesaian beberapa masalah. Hal ini dinyatakan oleh Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta Ratna Diah Kurniati.

Saat ini, kata Ratna, dengan total luas Kalijodo yang akan dihijaukan yaitu sekitar 1,5 sampai dengan 2,5 hektare, maka Dinas Pertamanan dan Pemakaman akan terlebih dahulu mempersiapkan rencana penghijauan. Penghijauan ini termasuk penanaman rumput dan pepohonan, pengadaan lapangan bola dan jalur jalur lari.

“Kalijodo ini berbeda dengan kawasan prostitusi Dolly di Surabaya atau Dadap di Tangerang. Kalau Dolly itu kan permukiman sedangkan Kalijodo itu memang sebelumnya adalah jalur hijau,” katanya kepada Greeners, Jakarta, Kamis (25/02).

Jika mengikuti Rencana Tata Ruang Wilayah DKI Jakarta, Kalijodo masuk dalam penambahan fungsi hijau bantaran kali. Hanya saja, menurut pengamat Tata Kota Hijau, Nirwono Joga, pembenahan Kalijodo masih belum masuk prioritas dibandingkan dengan empat sungai besar seperti kali Ciliwung, Angke, Pesanggarahan dan Sunter.

“Kalau mengikuti dari Anggaran Pendapatan dan Pembalanjaan Daerah (APBD) serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) DKI Jakarta 2017, fokus pembinaannya itu ada sungai Ciliwung, Angke, Pesanggarahan dan Sunter. Ini semua cukup besar. Kalau empat ini berhasil, sudah luar biasa,” tambahnya.

Selain itu, dana untuk pembenahan Kalijodo sendiri sebenarnya tidak ada dalam anggaran DKI Jakarta. Gubernur DKI Basuki Tjahja Purnama sendiri, jelasnya, sempat mengatakan akan mencari pendanaan untuk pembenahan Kalijodo. Ratna meminta kepada pemerintah provinsi untuk memberikan transparansi pendanaan ini.

“Jangan sampai dananya nanti diambil dari pengembang-pengembang yang memiliki masalah. Misalnya pengembang ini memiliki perumahan di wilayah yang tidak diharuskan, terus dia diminta untuk mendanai Kalijodo. Lebih baik umpanya dari dinas pertamanan itu anggarannya berapa agar nantinya bisa mengundang dari pihak bank untuk pendanaan,” tukasnya.

Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta sendiri hingga tahun 2015 telah berhasil melakukan pembebasan lahan di 63 lokasi seluas 49,33 hektar dari target awal yang direncanakan, yaitu 139 lokasi pembebasan lahan di Jakarta.

Untuk wilayah Jakarta Pusat dan Jakarta Barat, pembangunan taman kota masing-masing akan dikerjakan di tiga lokasi dengan luas 2.042 meter persegi di Jakarta Pusat dan 11.907 meter persegi di Jakarta Barat. Kemudian, untuk Jakarta Utara, ada lima lokasi lahan yang siap dibangun dengan luas 84.610 meter persegi.

Dengan bertambahnya 63 lahan untuk ruang terbuka hijau ini, maka total ruang terbuka hijau di Jakarta bertambah sebesar 0,5 persen. Itu artinya, total ruang terbuka hijau di Jakarta pada tahun 2016 akan menjadi sekitar 10,5 persen dari sebelumnya sekitar 10 persen.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/pengembalian-kalijodo-menjadi-jalur-hijau-tunggu-proses-penertiban/feed/ 0
Peta Infografik dan Papan Informasi Hutan Kota Krida Loka Senayan Diresmikan https://www.greeners.co/aksi/peta-infografik-dan-papan-informasi-hutan-kota-krida-loka-senayan-diresmikan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=peta-infografik-dan-papan-informasi-hutan-kota-krida-loka-senayan-diresmikan https://www.greeners.co/aksi/peta-infografik-dan-papan-informasi-hutan-kota-krida-loka-senayan-diresmikan/#respond Wed, 24 Feb 2016 05:45:15 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=12933 Diharapkan dengan adanya peta infografik dan papan informasi, potensi keanekaragaman hayati Hutan Kota Krida Loka dapat tergali.]]>

Jakarta (Greeners) – Luasan ruang terbuka hijau (RTH) di Jakarta masih jauh dari yang diisyaratkan oleh undang-undang. Oleh karena itu, perlu terus digali potensinya agar muncul kesadaran pemerintah dan masyarakat untuk terus menambah luasannya.

Saat ini, Provinsi DKI Jakarta setidaknya hanya memiliki kurang lebih 9 persen RTH dari total luas wilayahnya. Padahal, Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang jelas menunjukkan bahwa sebuah kota harus memiliki ruang terbuka hijau sebanyak 30 persen dari total luas wilayahnya.

Luasan sebesar 30 persen dari total wilayah itu adalah syarat minimum untuk menjamin keseimbangan ekosistem sebuah kota. Termasuk di dalamnya keseimbangan sistem hidrologi yang berkaitan erat dengan banjir dan peningkatan ketersediaan udara bersih. Melihat kondisi tersebut, Jakarta sebenarnya jauh berada pada posisi ideal.

Oleh karena itu, Transformasi Hijau (TRASHI) bekerjasama dengan BBC “Ardea” Fakultas Biologi Universitas Nasional, Biodiversity Warriors, HSBC, dan Gelora Bung Karno ingin melihat potensi yang dimiliki oleh Hutan Kota Krida Loka, Senayan di Jakarta Pusat dengan kegiatan monitoring keanekaragaman hayati di Hutan Kota Krida Loka.

Kegiatan ini adalah upaya untuk membuat peta infografik dan papan informasi Hutan Kota Krida Loka. Diharapkan dengan adanya peta infografik dan papan informasi ini potensi keanekaragaman hayati Hutan Kota Krida Loka dapat tergali. Meskipun menjadi salah satu kota yang memiliki polusi cukup tinggi, ibukota negara ini seharusnya masih menyimpan beragam spesies unik dan menarik di ruang-ruang terbuka hijaunya.

“Melalui kegiatan ini diharapkan muncul apresiasi masyarakat terhadap ruang terbuka hijau, sehingga ada kesadaran untuk menjaga bahkan menambah luasannya,” ujar Direktur TRASHI, Hendra Aquan, Sabtu (20/02).

Hutan Kota Krida Loka di Jakarta kini miliki peta infografik dan papan informasi keanekaragaman hayati. Foto: greeners.co/Ahmad Baihaqi (Indonesia Wildlife Photography)

Hutan Kota Krida Loka di Jakarta kini miliki peta infografik dan papan informasi keanekaragaman hayati. Foto: greeners.co/Ahmad Baihaqi (Indonesia Wildlife Photography)

Keanekaragaman hayati yang masih tersimpan di Hutan Kota Krida Loka dapat menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk datang ke ruang terbuka hijau dan memanfaatkannya secara positif. Keanekaragaman hayati ini juga bisa menjadi pengingat bagi pemerintah untuk dapat menambah luasan RTH.

Sebagai kegiatan awal, pada tanggal 26 September 2015 lalu di Hutan Kota Krida Loka telah dilakukan pengamatan flora dan fauna. Pengamatan tersebut dilakukan sampai akhir bulan Oktober 2016.

Peresmian peta infografik dan papan informasi flora dan fauna diharapkan menjadi momentum mengenalkan dan melestarikan keanekaragaman hayati, khususnya yang berada di Hutan Kota Krida Loka yang dikelola oleh Dinas Pertanian dan Kehutanan DKI Jakarta di bawah naungan Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia.

Selain sebagai sarana olahraga dan peredam kebisingan, Hutan Kota Krida Loka juga diharapkan dapat berfungsi sebagai sumber resapan air, penghasil oksigen dan sarana edukasi tentang potensi keanekaragaman hayati yang berada di dalamnya bagi seluruh masyarakat DKI Jakarta.

Hadir dalam acara tersebut masyarakat di lingkungan Hutan Kota Krida Loka, pelajar, media dan berbagai komunitas pegiat lingkungan, seperti Sapta Pala SMA Negeri 7 Jakarta, Klub Indonesia Hijau, Peta Hijau Jakarta, Biological Bird Club “Ardea” Fakultas Biologi Universitas Nasional, Biodiversity Warriors, KSHL Comata UI, Sekolah Tinggi Desain Interstudi, dan DAAI TV program Sahabat Alam.

Penulis: Ahmad Baihaqi/Indonesia Wildlife Photography

]]>
https://www.greeners.co/aksi/peta-infografik-dan-papan-informasi-hutan-kota-krida-loka-senayan-diresmikan/feed/ 0
10 Taman Baru dan Plaza Reformasi Diresmikan Gubernur DKI Jakarta https://www.greeners.co/aksi/10-taman-baru-dan-plaza-reformasi-diresmikan-gubernur-dki-jakarta/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=10-taman-baru-dan-plaza-reformasi-diresmikan-gubernur-dki-jakarta https://www.greeners.co/aksi/10-taman-baru-dan-plaza-reformasi-diresmikan-gubernur-dki-jakarta/#respond Wed, 10 Feb 2016 11:10:29 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=12802 Pada Selasa (09/02) kemarin, Gubernur Provinsi DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama meresmikan sepuluh ruang terbuka hijau (RTH) dan Plaza Prasasti Tragedi Mei 1998 di Taman Jagakarsa.]]>

Jakarta (Greeners) – Pada Selasa (09/02) kemarin, Gubernur Provinsi DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama meresmikan sepuluh ruang terbuka hijau (RTH) dan Plaza Prasasti Tragedi Mei 1998. Acara yang bertempat di Taman Jagakarsa, Jl. H. Mahjur, Lenteng Agung, Jakarta Selatan ini merupakan bagian dari Program #AyoKeTaman yang dicanangkan oleh Dinas Pertamanan dan Pemakaman Provinsi DKI Jakarta sejak 4 Oktober 2015 lalu dan sebagai wujud kepedulian Pemprov DKI Jakarta akan kebutuhan RTH bagi warga di Ibukota.

Saat ditemui di lokasi acara, Basuki menyatakan Taman Jagakarsa memiliki keunikan tersendiri dengan lokasinya yang diapit pemukiman padat pada bagian utara, barat dan timur.

“Pada bagian Selatan berbatasan dengan Sungai Ciliwung sehingga Taman Jagakarsa berpotensi untuk menjadi waterfront garden. Dengan kontur yang beragam, slooping (menurun) ke Sungai Ciliwung sehingga menimbulkan sensasi tersendiri pada saat berada di taman tersebut,” ujar Basuki, Selasa (09/02).

Taman Jagakarsa memiliki luas 5.981 meter persegi. Taman ini merupakan salah satu RTH yang baru selesai dibangun oleh Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta pada akhir Desember 2015.

“Taman Jagakarsa didesain memperhatikan kontekstualitas sekitar, seperti Sungai Ciliwung dan pemukiman padat yang berbatasan langsung dengan taman,” ujar Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta, Ir. Ratna Diah Kurniati, M.Si. Ratna.

Gubernur Provinsi DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama meresmikan sepuluh ruang terbuka hijau (RTH) dan Plaza Prasasti Tragedi Mei 1998 di Taman Jagakarsa, Selasa (09/02). Foto: Haris Zakian Husein/dok.panitia

Gubernur Provinsi DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama meresmikan sepuluh ruang terbuka hijau (RTH) dan Plaza Prasasti Tragedi Mei 1998 di Taman Jagakarsa, Selasa (09/02). Foto: Haris Zakian Husein/dok.panitia

Pada level tertentu, pengunjung taman dapat melihat Sungai Ciliwung dari kejauhan. Pengolahan sirkulasi, entrance area dan plaza serta fasilitas taman lainnya memanfaatkan profil kontur alami lahan yang berbukit.

Pada titik-titik tertentu Taman Jagakarsa dibangun tempat duduk untuk bercengkrama sambil menikmati pemandangan aliran Sungai Ciliwung. Fasilitas shelter, lapangan olahraga multifungsi, outdoor fitness dan tension membrane merupakan pendukung aktivitas warga di dalamnya. Dengan konsep natural, dibangun pula jembatan gantung di sisi bagian barat taman. Jembatan ini merupakan satu-satunya jembatan goyang di taman milik Provinsi DKI Jakarta.

Selain Taman Jagakarsa, sembilan taman baru lainnya adalah Taman Cakung (luas 1.663 meter persegi), Taman Kelapa (1.626), Taman Lebak Bulus (3.249), Taman Maja (4.714), Taman Zodia (4.663), Taman PPA (3.428), Taman Sunter (1.989), Taman Tanjung 2 (2.281), Taman Kalibaru (511,81).

Peresmian ini dihadiri oleh masyarakat di lingkungan Taman Jagakarsa dan berbagai komunitas pegiat lingkungan, antara lain Biological Science Club (BScC)-Fakultas Biologi UNAS, Biological Bird Club “Ardea” Fakultas Biologi UNAS, Biodiversity Warriors Yayasan KEHATI, Komunitas Hijau, Suar Art Space, IAI (Ikatan Arsitek Indonesia), Ikatan Arsitek Lansekap Indonesia (IALI), dan IMASTA (Ikatan Mahasiswa Teknik Sipil Tarumanegara).

Penulis: Ahmad Baihaqi/Indonesia Wildlife Photography

]]>
https://www.greeners.co/aksi/10-taman-baru-dan-plaza-reformasi-diresmikan-gubernur-dki-jakarta/feed/ 0
Informasi Mitigasi Dalam Dokumen Amdal Proyek Kereta Cepat Belum Jelas https://www.greeners.co/berita/informasi-mitigasi-dalam-dokumen-amdal-proyek-kereta-cepat-belum-jelas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=informasi-mitigasi-dalam-dokumen-amdal-proyek-kereta-cepat-belum-jelas https://www.greeners.co/berita/informasi-mitigasi-dalam-dokumen-amdal-proyek-kereta-cepat-belum-jelas/#respond Mon, 25 Jan 2016 07:16:53 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=12635 Banyak pihak berpendapat penyelesaian dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) proyek kereta cepat Jakarta-Bandung masih perlu kajian yang lebih mendalam.]]>

Jakarta (Greeners) – Banyak pihak berpendapat penyelesaian dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) proyek kereta cepat Jakarta-Bandung masih perlu kajian yang lebih mendalam. Namun, Presiden Joko Widodo secara resmi telah memulai proyek ini dengan melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) di Perkebunan Maswati, Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat pada Kamis (21/01/2016) lalu.

Seperti yang diutarakan oleh Direktur Kemitraan Lingkungan Ditjen Perhutanan Sosial KLHK Dodo Sambodo sebagai salah satu pakar dalam Tim Teknis Kajian Amdal Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Menurutnya, kecuali hanya untuk kepentingan administrasi, hasil kajian dokumen Amdal ini seperti terburu-buru dan secara teknis masih belum memenuhi syarat. Ia bahkan mengaku heran kalau Amdal proyek ini disetujui.

Menurutnya, Amdal yang diajukan oleh tim pemrakarsa memiliki banyak kekurangan dan mendapat keberatan dari tim penilai seperti soal daerah rawan bencana, dampak terhadap daerah tangkapan air, pencemaran dan pengolahan limbah beracun berbahaya yang belum jelas.

“Dokumen Amdal harus memiliki prinsip kehati-hatian dan kajian ilmiah yang kuat. Datanya pun harus diambil dari dua musim, hujan dan kemarau, karena kondisi alam di kedua musim itu kan berbeda. Makanya dokumen Amdal tidak bisa diburu-buru,” katanya, Jakarta, Senin (25/01).

Selain itu, Pakar Kualitas Air Linawati Harjito yang juga sebagai pakar dalam Tim Teknis Kajian Amdal mengatakan bahwa tidak ada informasi yang jelas di dalam dokumen Amdal ke mana air pada Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) akan mengalir. Apalagi seluruh jalur sungai yang rencananya dilewati oleh jalur kereta cepat ini ternyata sudah dalam kondisi tercemar berat.

“Ini kan datanya masih menggunakan data sekunder 2014. Kalau memang tidak terkait sungai tercemar, mohon dipastikan. Pastikan juga tidak berdampak penting bagi kualitas air. Data kualitas air tanah juga harus dilampirkan dalam Amdal. Metode perhitungan juga harus diperbaiki,” tambahnya.

Tengku Imam Kobul dari LSM Sapulidi yang juga anggota Tim Komisi Penilai Amdal Kota Bekasi mengemukakan hal serupa. Di dalam dokumen Amdal, katanya, tidak tercantum pengalokasian Ruang Terbuka Hijau (RTH) dengan jelas, baik di stasiun maupun kiri-kanan rel nantinya. Dalam dokumen itu pula, lanjutnya, tidak ada informasi mengenai dampak kebencanaan, padahal seharusnya dokumen Amdal memuat standar penanggulangan dan antisipasi bencana.

“Dalam tim penyusun Amdalnya saja tidak ada ahli geologi. Padahal, keberadaan ahli geologi penting hingga bisa mengkaji kerawanan bencana,” lanjutnya.

Sarmauli Pangaribuan dari Direktorat Penataan Kawasan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN pun mengatakan bahwa berdasarkan informasi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jawa Barat adalah kawasan rawan longsor. Pergerakan tanah sangat rentan, oleh karena itu soal mitigasi kerawanan bencana harus sangat diperhatikan.

“Jawa Barat ini rawan longsor loh. Saya setuju kereta cepat, tapi tetap harus memerhatikan aspek lingkungan dan keselamatan,” tuturnya.

Sedangkan Kardono, Pakar Udara dan Kebisingan, menyatakan, di dalam dokumen Amdal, rona lingkungan ambang kualitas udara dan kebisingan masih tidak pas. Ia pun sempat menyarankan agar Amdal dilengkapi pengukuran yang mewakili jalur dan stasiun yang akan dibangun.

“Lingkupnya, katakanlah dari kegiatan transportasi. Material enggak jelas. Kalau ia masuk kan tidak semua titik-titik pintu tol itu akan berdampak. Hanya yang dilewati saja yang berdampak. Itu harus jelas dalam dokumen ini,” pungkasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/informasi-mitigasi-dalam-dokumen-amdal-proyek-kereta-cepat-belum-jelas/feed/ 0
Dinas Pertamanan DKI Jakarta Akan Tambah 63 Taman Kota https://www.greeners.co/berita/dinas-pertamanan-dki-jakarta-akan-tambah-63-taman-kota/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dinas-pertamanan-dki-jakarta-akan-tambah-63-taman-kota https://www.greeners.co/berita/dinas-pertamanan-dki-jakarta-akan-tambah-63-taman-kota/#respond Tue, 05 Jan 2016 06:10:00 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=12432 Tahun ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta menargetkan akan membangun 63 taman kota di semua wilayah di Jakarta, termasuk Kepulauan Seribu.]]>

Jakarta (Greeners) – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta menargetkan akan membangun 63 taman kota di semua wilayah di Jakarta, termasuk Kepulauan Seribu, pada tahun 2016.

Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta Ratna Diah Kurniati, saat dihubungi oleh Greeners mengatakan bahwa hingga tahun 2015, Dinas Pertamanan telah berhasil melakukan pembebasan lahan di 63 lokasi seluas 49,33 hektar dari target awal yang direncanakan yaitu 139 lokasi pembebasan lahan di Jakarta.

“Dari 63 lokasi yang dibebaskan tersebut, pembangunan taman kota paling banyak ada di wilayah kota Jakarta Timur dengan jumlah 28 lokasi dan wilayah Jakarta Selatan sebanyak 21 lokasi. Itu pembangunan fisiknya akan dimulai tahun 2016 ini,” tuturnya, Jakarta, Senin (04/01).

Untuk wilayah Jakarta Pusat dan Jakarta Barat, pembangunan taman kota masing-masing akan dikerjakan di tiga lokasi dengan luas 2.042 meter persegi di Jakarta Pusat dan 11.907 meter persegi di Jakarta Barat. Kemudian, untuk Jakarta Utara ada lima lokasi lahan yang siap dibangun dengan luas 84.610 meter persegi.

“Kalau di Kepulauan Seribu, kita hanya bangun satu lokasi seluas 6.376 meter persegi,” tambahnya.

Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta Ratna Diah Kurniati. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta Ratna Diah Kurniati. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Dengan bertambahnya 63 lahan untuk ruang terbuka hijau ini, maka total ruang terbuka hijau di Jakarta bertambah sebesar 0,5 persen. Itu artinya, total ruang terbuka hijau di Jakarta pada tahun 2016 akan menjadi sekitar 10,5 persen dari sebelumnya sekitar 10 persen.

Mengenai pembebasan lahan yang masih belum terserap, Diah menyatakan bahwa hal ini lebih dikarenakan masalah administrasi seperti dokumen tanah yang tidak lengkap, sertifikat tanah ganda atau sertifikat tanah masih digadaikan di bank.

Dinas Pertamanan dan Pemakaman membebaskan lahan sesuai dengan aturan Undang-Undang (UU) Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Salah satunya ialah dengan menyertakan surat keputusan (SK) penetapan gubernur untuk pembebasan lahan.

“Di tiap lokasi pembebasan lahan, harus ada SK penetapan gubernur untuk selanjutnya diproses pembuatan surat keterangan tanah (SKT) ke Badan Pertanahan Nasional (BPN),” terangnya.

Dihubungi terpisah, Pengamat Tata Kota Nirwono Joga mengapresiasi rencana yang dilakukan oleh Dinas Pertamanan dan Pemakaman dengan menambah 63 taman kota di Jakarta. Menurutnya, dengan adanya rencana ini menunjukkan bahwa ada upaya serius yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menambah ruang terbuka hijau.

Meski demikian, Nirwono menyatakan bahwa pemerintah harus mulai merevisi sistem E-Budgeting yang belum mengakomodir kebutuhan pembuatan taman karena pembangunan taman tidak sama dengan membangun hunian penduduk.

E-Budgeting ini harus direvisi karena banyak poin-poin yang ada di dalam desain taman itu belum tentu ada di E-Budgeting. Ini akhirnya nanti malah bisa menunda program lelang pada saat pelaksanaan,” katanya.

Selain itu, pemerintah juga harus memastikan status pembebasan lahan yang akan digunakan sebagai lokasi pembangunan taman karena status tanah di Jakarta selalu memiliki peluang terjadinya sengketa lahan.

Menurut Nirwono, idealnya Jakarta sudah seharusnya menambah ruang terbuka hijau sebanyak 250 hektar per tahun. Sayangnya, pemerintah dalam 15 tahun terakhir hanya mampu mengejar rata-rata 25 hingga 50 hektar saja pertahunnya.

“Ini jadi tantangan sebenarnya, antara kebutuhan dan ketersediaan lahan. Padahal sebenarnya ada dua cara cepat jika memang pemerintah ingin menambah ruang terbuka hijau yaitu peremajaan kawasan dan konsolidasi lahan. Hingga saat ini, pemerintah masih belum menyentuh jalur hijau tepi sungai, tepi kereta api, sutet maupun kolong jembatan layang. Belum lagi kalau mau bicara ruang teruka hijau untuk waduk dan situ,” tandasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/dinas-pertamanan-dki-jakarta-akan-tambah-63-taman-kota/feed/ 0
Rambutan, Buah Berambut Banyak Khasiat https://www.greeners.co/flora-fauna/rambutan-buah-berambut-banyak-khasiat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=rambutan-buah-berambut-banyak-khasiat https://www.greeners.co/flora-fauna/rambutan-buah-berambut-banyak-khasiat/#respond Mon, 21 Dec 2015 03:30:06 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=12312 Rambutan (Nephelium lappaceum) atau "hairy fruit" merupakan tanaman tropis yang banyak tumbuh di Indonesia. Ternyata, buah berambut ini juga menyimpan banyak manfaat. ]]>

Rambutan (Nephelium lappaceum) atau hairy fruit merupakan tanaman tropis yang masuk ke dalam suku Sapindaceae yang berasal dari daerah kepulauan di Asia Tenggara. Rambutan banyak terdapat di daerah tropis, seperti Afrika, Kamboja, Karibia, Amerika Tengah, India, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand dan Sri Lanka.

Tanaman rambutan, selain dapat tumbuh subur di wilayah yang beriklim tropis, juga dapat tumbuh di beberapa wilayah subtropis. Sesuai dengan namanya, rambutan memiliki kulit yang menyerupai rambut.

Tumbuhan tropis ini menyukai suhu rata-rata 250 Celcius dan memerlukan iklim lembap dengan curah hujan tahunan paling sedikit 2.000 mm. Rambutan merupakan tanaman dataran rendah, hingga ketinggian 300-600 mdpl.

Tanaman asli Indonesia ini memiliki daun majemuk menyirip genap dengan anak daun genap, yaitu berjumlah delapan helai anak daun dan berbentuk jorong. Daun rambutan merupakan daun tidak lengkap karena hanya memiliki tangkai daun (petiolus) dan helaian daun (lamina).

Daun rambutan bertangkai pendek berukuran kisaran 0,5-1 cm yang berbentuk silindris dan tidak menebal pada pangkalnya. Rambutan memiliki tulang daun menyirip, lebar daun berukuran 5,5 cm – 7 cm dengan panjang 9 cm – 15 cm. Ujung daun membulat (rotundatus) dan bagian pangkal daun tumpul (obtusus) serta permukaan daunnya licin (laevis).

Masa panen rambutan biasanya antara bulan Desember sampai dengan bulan Maret dan banyak buah yang dihasilkan oleh pohon rambutan dalam sekali panen. Buah rambutan yang matang berwarna merah atau kekuning-kuningan dan memiliki rasa manis atau masam manis.

Rambutan juga memiliki banyak khasiat, antara lain dapat menurunkan kadar gula dalam darah, mengobati penyakit disentri, demam, sariawan, menurunkan panas, menyembuhkan penyakit kencing manis (diabetes melitus), dan dapat menurunkan tingkat resiko terkena kanker serta darah tinggi.

Selain itu, adanya pohon rambutan di ruang terbuka hijau di Jakarta dapat menarik kehadiran satwa liar, seperti bajing, kelelawar, dan burung. Manisnya rambutan juga dapat menarik kehadiran beberapa jenis burung seperti cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster), madu kelapa (Anthreptes malacensis) dan cabai jawa (Dicaeum trochileum).

Flora-Rambutan

Penulis: Ahmad Baihaqi/Indonesia Wildlife Photography

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/rambutan-buah-berambut-banyak-khasiat/feed/ 0
Judika, Kesadaran Tanam Pohon Harus Ditingkatkan https://www.greeners.co/gaya-hidup/judika-kesadaran-tanam-pohon-harus-ditingkatkan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=judika-kesadaran-tanam-pohon-harus-ditingkatkan https://www.greeners.co/gaya-hidup/judika-kesadaran-tanam-pohon-harus-ditingkatkan/#respond Sat, 05 Dec 2015 14:00:51 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=12139 Penyanyi Judika mengaku khawatir dengan tingkat polusi udara yang semakin memburuk, khususnya di Jakarta. Menurutnya, hal ini bisa diatasi jika masyarakat memiliki kesadaran untuk menanam pohon.]]>

Jakarta (Greeners) – Sering tampil dalam ruang yang nyaman dan lokasi yang indah, tidak membuat Judika menutup mata terhadap polusi udara. Penyanyi bernama lengkap Judika Nalon Abadi Sihotang ini mengaku khawatir dengan tingkat polusi udara yang semakin memburuk, khususnya di Jakarta. Menurutnya, meningkatnya jumlah kendaraan bermotor ditambah dengan minimnya ruang hijau membuat Jakarta tidak lagi sehat untuk dihuni.

“Itu sih yang sangat miris, karena gue udah punya anak juga, polusi ini makin gila,” ujarnya kepada Greeners pada Kamis (3/12) malam lalu di wilayah Kebagusan, Jakarta Selatan.

Pelantun lagu ‘Sampai Kau Jadi Milikku’ ini menyatakan bahwa minimnya ruang terbuka hijau sebenarnya bisa diatasi jika masyarakat memiliki kesadaran untuk menanam pohon. Pasalnya, polusi dapat mengakibatkan turunnya tingkat kesehatan pada masyarakat.

“Pepohonan itu sangat memengaruhi (kualitas) udara, jadi ya tanam pohon lah di rumah minimal,” ucapnya.

Menurut Judika, masyarakat harus aktif ketimbang menunggu kebijakan dari pemerintah. Menanam pohon, bagi Judika, tidak harus menunggu orang lain atau tokoh masyarakat untuk menyontohkan tindakan tersebut.

Ia juga berharap agar masyarakat Jakarta lebih sadar dan berinisiatif untuk menanam pohon. Hal ini sangat penting karena akan berdampak langsung pada kesehatan masyarakat itu sendiri.

“Jangan lihat orang enggak tanam. Justru kita harus sadar kalau kita enggak menanam nanti akan lebih banyak orang yang enggak menanam juga,” tegas pria yang lahir pada 31 Agustus 1978 ini.

Mengenai keikut sertaan Indonesia dalam Conference of Parties (COP) 21 di Paris, Perancis, Judika menyatakan bahwa partisipasi pemerintah dalam konferensi tersebut harus membuahkan hasil yang dapat dirasakan oleh masyarakat. Pemerintah Indonesia sendiri telah berkomitmen untuk mengurangi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 29 persen hingga tahun 2030.

“Bukan hanya sekadar ikut konferensi tapi enggak dilaksanakan. Yang penting program ini bisa sampai ke masyarakat dan kita bisa melaksanakan program itu,” pungkasnya.

Penulis: TW/G37

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/judika-kesadaran-tanam-pohon-harus-ditingkatkan/feed/ 0
Keanekaragaman Hayati Jakarta Menanti untuk Diungkap https://www.greeners.co/berita/keanekaragaman-hayati-jakarta-menanti-untuk-diungkap/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=keanekaragaman-hayati-jakarta-menanti-untuk-diungkap https://www.greeners.co/berita/keanekaragaman-hayati-jakarta-menanti-untuk-diungkap/#respond Fri, 06 Nov 2015 12:06:01 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11806 Jakarta (Greeners) – Kurangnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang dimiliki oleh DKI Jakarta ternyata tidak menghilangkan keberadaan biodiversitas (keanekaragaman hayati) baik flora maupun fauna yang dimiliki oleh Ibukota. Terbukti dari […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kurangnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang dimiliki oleh DKI Jakarta ternyata tidak menghilangkan keberadaan biodiversitas (keanekaragaman hayati) baik flora maupun fauna yang dimiliki oleh Ibukota. Terbukti dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa, kelompok pecinta alam, siswa SMA, dan masyarakat umum, menunjukkan potensi keanekaragaman hayati yang dimiliki oleh Jakarta masih cukup banyak.

Ahmad Baihaqi, lulusan Fakultas Biologi Universitas Nasional, Jakarta yang juga Koordinator dari kegiatan pengamatan keanekaragaman hayati di Jakarta ini mengatakan bahwa dari hasil pemantauan yang dilakukan di 28 titik RTH di DKI Jakarta selama empat bulan dari bulan April hingga Juli 2015, telah dijumpai 58 jenis burung, 28 jenis capung, 29 jenis kupu-kupu, 17 jenis herpetofauna dan 8 jenis mamalia.

Pemuda yang akrab disapa Abay ini menyatakan kemungkinan besar masih terdapat banyak keanekaragaman hayati lainnya yang belum teramati dan jumlah jenisnya kemungkinan dapat bertambah.

“Keanekaragaman hayati yang diamati itu meliputi burung, capung, kupu-kupu, herpetofauna (amfibi, dan reptil) serta mamalia,” jelas Abay saat dihubungi oleh Greeners, Jakarta, Jumat (06/11).

Peserta kegiatan Cap(na)ture Jakarta. Foto: greeners.co/Ahmad Baihaqi (Indonesia Wildlife Photography)

Peserta kegiatan Cap(na)ture Jakarta. Foto: greeners.co/Ahmad Baihaqi (Indonesia Wildlife Photography)

Sebagai informasi, kegiatan pengamatan keanekaragaman hayati yang dikoordinir oleh Abay ini bertajuk Cap(na)ture Jakarta telah dituangkan dalam bentuk buku “Geledah Jakarta, Menguak Potensi Keanekaragaman Hayati Ibu Kota” lengkap dengan foto-foto dan keterangan yang sangat membantu untuk melakukan identifikasi.

Kegiatan ini juga diinisiasi oleh Biodiversity Warriors Yayasan KEHATI bekerja sama dengan Fakultas Biologi Universitas Nasional dan Komunitas Peta Hijau Jakarta, serta komunitas peduli lingkungan lainnya seperti Biological Science Club (BScC), Indonesia Wildlife Photography (IWP) dan Jakarta Birdwatcher Society (JBS). Buku ini diakui Abay belum memuat seluruh biodiversitas di RTH Jakarta karena pengamatan belum difokuskan untuk seluruh biota di seluruh kawasan RTH.

Meski demikian, Rosyid Nurul Hakim, Officer Edukasi dan Outrech Yayasan KEHATI, menyatakan bahwa buku ini tetap dapat dijadikan sebagai referensi awal tentang biodiversitas RTH Jakarta. Buku ini juga mampu menjadi bukti bahwa meski terkadang anak muda terkesan kurang serius, tetapi mereka dapat menghasilkan karya ilmiah yang serius.

“Kesimpulannya kami menemukan ada banyak potensi keanekaragaman hayati yang menarik di setiap RTH di Jakarta, oleh karena itu sangat penting untuk menjaga atau menambah RTH di jakarta,” pungkasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/keanekaragaman-hayati-jakarta-menanti-untuk-diungkap/feed/ 0