rumput laut - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/rumput-laut/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Fri, 22 May 2026 05:33:20 +0000 id hourly 1 Desainer Asal Korea Buat Lampu dari Rumput Laut https://www.greeners.co/ide-inovasi/desainer-asal-korea-buat-lampu-dari-rumput-laut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=desainer-asal-korea-buat-lampu-dari-rumput-laut https://www.greeners.co/ide-inovasi/desainer-asal-korea-buat-lampu-dari-rumput-laut/#respond Fri, 22 May 2026 05:33:20 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=48502 Desainer Korea Selatan Su Yang Choi menghadirkan inovasi desain ramah lingkungan melalui karya instalasi lampu bertajuk Slow2 yang terbuat dari rumput laut. Karya ini ia pamerkan dalam ajang Salone Satellite […]]]>

Desainer Korea Selatan Su Yang Choi menghadirkan inovasi desain ramah lingkungan melalui karya instalasi lampu bertajuk Slow2 yang terbuat dari rumput laut. Karya ini ia pamerkan dalam ajang Salone Satellite 2026 di Milan, Italia, dan menjadi bagian dari seri Slow Project.

Berbeda dari pendekatan desain berkelanjutan yang umumnya hanya menempatkan material alami sebagai pengganti bahan konvensional, Choi mencoba menunjukkan bahwa material ramah lingkungan juga dapat memiliki identitas visual dan nilai estetika yang kuat.

Slow2 terbuat dari agar rumput laut, biopolimer biodegradable yang diformulasikan tanpa tambahan sintetis. Material tersebut dilapisi pada struktur tubular berbahan baja dan dipadukan dengan strip LED di bagian dalamnya. Hasilnya adalah instalasi bercahaya dengan efek semi-transparan yang menciptakan tampilan futuristis sekaligus organik.

Desain karya ini terinspirasi dari konsep baramgil dalam arsitektur hanok tradisional Korea, yaitu prinsip ruang yang menciptakan kesan kedalaman melalui susunan bidang dan perspektif. Choi menerjemahkan ide tersebut menjadi dua bentuk lingkaran tubular yang saling terhubung secara vertikal.

Saat digantung dari langit-langit, instalasi memproyeksikan bayangan lingkaran bertumpuk ke dinding sehingga menghadirkan dimensi visual tambahan. Dari sudut tertentu, karya tampak seperti satu bentuk utuh, sementara dari sudut lain terlihat lapisan ruang yang lebih dalam.

Warna dari Pigmen Alami

Warna dalam karya ini juga berasal dari pigmen alami, khususnya gardenia dan paprika. Keduanya menghasilkan gradien dari kuning keemasan dan kuning hangat di bawah hingga merah yang pekat di bagian atas.

Pergeseran warnanya pun tidak diterapkan dalam pita datar tetapi bergerak secara bertahap di seluruh bentuk. Kemudian, terdapat cahaya LED memperkuat variasi tersebut secara berbeda melalui setiap lapisan agar, sehingga pewarnaan berubah tergantung dari mana pengunjung melihatnya. 

Tidak hanya menonjolkan bentuk, Choi juga mempertahankan tekstur alami material agar pada permukaan lampu. Detail tersebut memperkuat karakter organik sekaligus menunjukkan potensi estetika material berbasis alam.

Melalui Slow2, Choi ingin memperlihatkan bahwa material berkelanjutan tidak sekadar menjadi alternatif ramah lingkungan, tetapi juga mampu melahirkan pendekatan baru dalam desain modern.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/desainer-asal-korea-buat-lampu-dari-rumput-laut/feed/ 0
BRIN Kembangkan Sistem Deteksi Dini Penyakit Ice-Ice pada Rumput Laut https://www.greeners.co/aksi/brin-kembangkan-sistem-deteksi-dini-penyakit-ice-ice-pada-rumput-laut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=brin-kembangkan-sistem-deteksi-dini-penyakit-ice-ice-pada-rumput-laut https://www.greeners.co/aksi/brin-kembangkan-sistem-deteksi-dini-penyakit-ice-ice-pada-rumput-laut/#respond Thu, 30 Oct 2025 05:00:19 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=47575 Jakarta (Greeners) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus berinovasi dalam bidang kelautan dengan mengembangkan sistem deteksi dini penyakit ice-ice pada rumput laut. Program ini menjadi langkah strategis untuk […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus berinovasi dalam bidang kelautan dengan mengembangkan sistem deteksi dini penyakit ice-ice pada rumput laut. Program ini menjadi langkah strategis untuk menjaga produktivitas sektor budidaya laut yang selama ini menjadi sumber ekonomi penting bagi masyarakat pesisir Indonesia.

Peneliti Pusat Riset Budidaya Laut (PRBL) BRIN, Muhammad Naufal, menjelaskan bahwa proyek ini merupakan awal dari pembuatan alat deteksi cepat penyakit ice-ice yang ditargetkan rampung pada tahun 2028. “Pengembangan sistem ini menjadi bagian dari upaya besar BRIN dalam memperkuat ketahanan budidaya rumput laut nasional,” ujarnya di BRIN Kawasan Sains Kurnaen Sumadiharga, Lombok, Jumat (24/10).

Penyakit Ice-Ice, Ancaman Serius bagi Petani Rumput Laut

Naufal menjelaskan bahwa penyebab penyakit ice-ice adalah bakteri oportunistik dari kelompok Vibrio. Bakteri tersebut menyerang rumput laut ketika terjadi perubahan lingkungan ekstrem. Misalnya, peralihan dari musim kemarau ke musim hujan.

“Kondisi lingkungan yang tidak stabil menimbulkan stres fisiologis pada rumput laut. Akibatnya, batang rumput laut tampak pucat, rapuh, dan menyerupai es,” terangnya.

Penyakit ini menjadi salah satu penyebab utama penurunan produksi rumput laut nasional, terutama di wilayah pesisir timur Indonesia yang menjadi sentra utama budidaya.

Inovasi BRIN: Kit Deteksi Cepat untuk Petani Rumput Laut

Melalui riset ini, BRIN menargetkan untuk menciptakan prototipe kit deteksi cepat yang bisa digunakan langsung oleh petani di lapangan. Dengan alat tersebut, pemantauan kesehatan rumput laut bisa berlangsung secara real-time, sehingga petani bisa mengetahui potensi serangan penyakit sejak dini.

“Dengan adanya kit ini, para petani bisa segera mengambil tindakan pencegahan agar penyakit tidak menyebar luas. Ini juga mendukung praktik budidaya yang berkelanjutan,” kata Naufal.

BACA JUGA: Peneliti Temukan Spesies Baru Tikus Hutan dari Gunung Tompotika Sulawesi

Tahap uji lapangan akan berlangsung di Kabupaten Lombok Timur, salah satu sentra produksi rumput laut terbesar di Indonesia. Setelah proses identifikasi mikroba selesai, tim akan mengintegrasikan data dengan analisis omik untuk menyusun primer yang akurat sebagai dasar sistem deteksi.

Kolaborasi Riset untuk Solusi Aplikatif di Lapangan

Dalam mengembangkan sistem deteksi dini penyakit ice-ice ini, BRIN melakukan kolaborasi lintas pusat riset. Hal itu melibatkan Pusat Riset Rekayasa Genetika, Pusat Riset Mikrobiologi Terapan, dan Pusat Riset Kedokteran Hewan. Menurut Naufal, sinergi antarbidang ilmu menjadi kunci untuk mempercepat lahirnya teknologi aplikatif dan bermanfaat langsung bagi masyarakat pesisir.

“Kami berharap alat deteksi dini ini dapat membantu petani menentukan waktu tanam yang tepat dan mengurangi risiko kerugian akibat penyebaran penyakit ice-ice,” ungkapnya.

Melalui riset ini, BRIN berharap dapat memberikan solusi ilmiah bagi tantangan utama industri rumput laut Indonesia. Selain itu, juga memperkuat daya saing komoditas laut nasional di pasar global.

Inovasi deteksi dini ini juga menjadi langkah penting dalam mewujudkan budidaya rumput laut yang tangguh, produktif, dan ramah lingkungan. Hal itu sejalan dengan visi pemerintah untuk mendorong ekonomi biru berkelanjutan di wilayah pesisir.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/brin-kembangkan-sistem-deteksi-dini-penyakit-ice-ice-pada-rumput-laut/feed/ 0
Mahasiswa IPB Ciptakan Sunscreen dari Limbah Kulit Bawang Merah https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ipb-ciptakan-sunscreen-dari-limbah-kulit-bawang-merah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mahasiswa-ipb-ciptakan-sunscreen-dari-limbah-kulit-bawang-merah https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ipb-ciptakan-sunscreen-dari-limbah-kulit-bawang-merah/#respond Fri, 17 Oct 2025 09:31:29 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=47512 Mahasiswa IPB University kembali menciptakan inovasi ramah lingkungan berbahan alami. Kali ini, mereka memanfaatkan limbah kulit bawang merah menjadi bahan dasar sunscreen antiacne dengan kombinasi rumput laut. Inovasi ini merupakan […]]]>

Mahasiswa IPB University kembali menciptakan inovasi ramah lingkungan berbahan alami. Kali ini, mereka memanfaatkan limbah kulit bawang merah menjadi bahan dasar sunscreen antiacne dengan kombinasi rumput laut.

Inovasi ini merupakan bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Tim mahasiswa melihat potensi besar dari kandungan bioaktif pada kulit bawang merah dan rumput laut yang bermanfaat bagi kesehatan kulit.

Salah satu anggota tim, Sinta Dewi Putri mengatakan bahwa senyawa aktif alami tersebut dapat bekerja sebagai antibakteri terhadap Propionibacterium acnes penyebab jerawat, sekaligus memberi efek antioksidan dan antiinflamasi.

“Kulit bawang merah dan rumput laut mengandung senyawa fitokimia seperti flavonoid (quercetin, anthocyanin), tannin, serta senyawa fenolik yang berperan sebagai antioksidan dan antibakteri,” ujar Sinta melansir Berita IPB, Jumat (17/10).

Selain itu, rumput laut juga kaya akan senyawa bioaktif seperti polisakarida (alginat, karagenan, dan agar), vitamin, mineral, serta senyawa fenolik dan terpenoid yang memiliki aktivitas antioksidan, antiinflamasi, dan antibakteri.

Dengan menggunakan bahan dasar tersebut, sunscreen yang telah mereka buat memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan produk komersial berbahan sintetis. Selain memanfaatkan limbah organik kulit bawang, bahan-bahan alami yang mereka gunakan lebih ramah lingkungan dan minim efek samping.

“Kami mencoba menawarkan alternatif alami, minim efek samping, dan berpotensi lebih aman bagi kulit sensitif,” tambah Sinta.

Manfaat Kombinasi Bawang Merah dan Rumput Laut

Sinta menjelaskan bahwa kombinasi ekstrak kulit bawang merah dan rumput laut menunjukkan efek sinergis yang kuat. Berdasarkan literatur, ekstrak kulit bawang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Propionibacterium acnes hingga 60–80%. Sedangkan rumput laut mencapai 40–70%, tergantung jenis dan konsentrasi ekstraknya.

“Jika kedua bahan ini dikombinasikan, efektivitasnya berpotensi melampaui 80%,” tambahnya.

Selain sebagai antibakteri penyebab jerawat, kandungan bioaktifnya juga berfungsi sebagai antioksidan untuk melawan radikal bebas, antiinflamasi untuk meredakan peradangan, sekaligus menjaga kelembaban kulit. Potensi ini membuka peluang besar pemanfaatan bahan lokal sebagai dasar kosmetik alami multifungsi.

“Produk ini cocok menjadi tren green cosmetics karena berbahan alami, ramah lingkungan, dan pasarnya pun sangat luas. Terutama remaja dan dewasa muda. Selain itu, berpotensi dikembangkan sebagai kosmetik halal, organik, dan lokal,” ucapnya.

Tim pengembang inovasi ini terdiri atas Sinta Dewi Putri (ketua) dari Departemen Kimia, serta Zahra Salsabila Hananingsih, Zahwa Sheillazara Fadhilah Ardi, Viola Andini Ferdian Putri, dan Unzila Nisa Sajdah dari Departemen Biokimia. Kelimanya merupakan mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University dengan bimbingan dosen Syaefudin.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

 

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-ipb-ciptakan-sunscreen-dari-limbah-kulit-bawang-merah/feed/ 0
BRIN Gali Potensi Rumput Laut untuk Pengembangan Pengobatan Modern https://www.greeners.co/aksi/brin-gali-potensi-rumput-laut-untuk-pengembangan-pengobatan-modern/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=brin-gali-potensi-rumput-laut-untuk-pengembangan-pengobatan-modern https://www.greeners.co/aksi/brin-gali-potensi-rumput-laut-untuk-pengembangan-pengobatan-modern/#respond Wed, 30 Jul 2025 08:57:55 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=47074 Jakarta (Greeners) – Indonesia tengah membuka babak baru dalam pemanfaatan kekayaan laut sebagai sumber bahan baku obat. Salah satunya adalah potensi rumput laut sebagai bahan pengobatan modern. Kepala Pusat Riset […]]]>

Jakarta (Greeners) – Indonesia tengah membuka babak baru dalam pemanfaatan kekayaan laut sebagai sumber bahan baku obat. Salah satunya adalah potensi rumput laut sebagai bahan pengobatan modern.

Kepala Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional (PRBBOT) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Sofa Fajriah, menyoroti pentingnya dalam mengoptimalkan potensi laut Indonesia. Hal itu bisa menjadi sumber bahan aktif alami untuk kebutuhan farmasi, nutraseutikal, dan pengobatan modern.

“Potensi ini besar, tapi belum tergali maksimal. Perlu riset lebih dalam dan sinergi antarpemangku kepentingan,” kata Sofa dalam Webinar Bincang Riset Seri 3.

Di samping itu, Indonesia juga memiliki lebih dari 800 spesies rumput laut. Namun, hanya 55 jenis yang termanfaatkan secara komersial, dan itu pun masih terbatas untuk industri pangan dan kosmetik. Menurut Periset Ahli Utama PRBBOT BRIN, Dedi Noviendri potensi untuk farmasinya pun masih belum tergarap.

BACA JUGA: KKP Optimistis Tingkatkan Produksi Pembudidaya Rumput Laut

Data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyebutkan, produksi rumput laut Indonesia pada 2024 mencapai 8,2 juta ton. Sayangnya, sebagian besar hasil panen langsung dijual dalam bentuk kering ke luar negeri tanpa pengolahan lanjutan.

“Ini kerugian besar secara ekonomi dan ilmiah. Kita kehilangan kesempatan untuk mengolahnya menjadi bahan aktif bernilai tinggi,” jelas Dedi.

Rumput Laut Simpan Metabolit Sekunder

Dedi menambahkan rumput laut menyimpan berbagai metabolit sekunder seperti polisakarida sulfat, alkaloid, flavonoid, dan polifenol yang memiliki aktivitas biologis luas. “Senyawa ini terbukti memiliki efek antioksidan, antikanker, antimikroba, antidiabetes, hingga antivirus,” lanjut Dedi.

Beberapa spesies rumput laut yang menonjol secara farmakologis antara lain Sargassum polycystum, Gracilaria sp., dan Eucheuma cottonii. Riset terbaru menunjukkan bahwa ekstrak dari ketiga spesies tersebut memiliki aktivitas imunostimulan dan berpotensi menurunkan risiko penyakit degeneratif secara signifikan.

BACA JUGA: Indonesia Berpotensi Jadi Pemimpin Global Industri Rumput Laut

Dalam pendekatan risetnya, tim PRBBOT BRIN menerapkan strategi bioprospeksi berbasis sains, mulai dari koleksi spesimen laut, isolasi senyawa aktif, karakterisasi struktur kimia, hingga uji bioaktivitas in vitro dan in vivo. Proses ini diperkuat dengan platform untargeted metabolomics untuk memahami profil kimia secara menyeluruh.

Indonesia Belum Eksplorasi Kekayaan Laut

Sementara itu, menurut Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN Indi Dharmayanti, posisi Indonesia sebagai negara megabiodiversitas yang belum sepenuhnya mengeksplorasi kekayaan lautnya.

“Dengan lebih dari 17 ribu pulau dan garis pantai terpanjang kedua di dunia, kita memiliki laboratorium hayati yang luar biasa. Dari spons, rumput laut, hingga mikroorganisme laut, semuanya menyimpan senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai agen terapi masa depan,” ucapnya.

Indi juga menekankan pentingnya pendekatan riset yang menjunjung tinggi prinsip keberlanjutan dan etika eksplorasi sumber daya hayati.  “Kita tidak hanya berbicara soal penemuan senyawa baru, tetapi juga bagaimana menjamin bahwa eksplorasi berlangsung secara bertanggung jawab tanpa merusak ekosistem laut,” tambahnya.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/brin-gali-potensi-rumput-laut-untuk-pengembangan-pengobatan-modern/feed/ 0
Indonesia Berpotensi Jadi Pemimpin Global Industri Rumput Laut https://www.greeners.co/berita/indonesia-berpotensi-jadi-pemimpin-global-industri-rumput-laut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=indonesia-berpotensi-jadi-pemimpin-global-industri-rumput-laut https://www.greeners.co/berita/indonesia-berpotensi-jadi-pemimpin-global-industri-rumput-laut/#respond Sat, 25 May 2024 03:00:34 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=43865 Jakarta (Greeners) – Kekayaan komoditas rumput laut di Indonesia kian menjanjikan untuk pengembangan bahan baku produk industri. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut B. Pandjaitan mengatakan bahwa […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kekayaan komoditas rumput laut di Indonesia kian menjanjikan untuk pengembangan bahan baku produk industri. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut B. Pandjaitan mengatakan bahwa Indonesia berpotensi menjadi pempimpin global dalam industri rumput laut.

Pemerintah secara aktif mempromosikan pengembangan hilir industri rumput laut. Studi menunjukkan potensi besar untuk produk turunan termasuk biostimulan, pupuk organik, jenis pangan, dan bioplastik.

“Rumput laut adalah sumber daya terbarukan yang sangat menjanjikan bagi masyarakat, bagi kemakmuran dan planet kita. Namun, untuk membuka potensi rumput laut tropis, perlu pendekatan dan strategi baru yang harus kita lakukan bersama-sama,” ujar Luhut di Bali, Rabu (22/5).

Menurutnya, iklim tropis di Indonesia dengan sinar matahari sepanjang tahun dapat menjadikan rumput laut Indonesia memiliki kualitas terbaik. Hal ini sering disebut sebagai “Emas Hijau” karena potensi berkelanjutannya.

BACA JUGA: Zeefier, Pewarna Tekstil Eco-Friendly dari Rumput Laut

Meskipun begitu, saat ini pemerintah menemui beberapa tantangan dalam pengembangannya. Sebagian rumput laut di Indonesia hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah atau menjadi karagenan dan agar-agar skala kecil.

Selain itu, produktivitas budidaya rumput laut juga masih rendah. Sebab, kurangnya penggunaan mekanisasi dan teknologi serta tantangan perubahan iklim dan penyakit.

“Untuk mengatasi tantangan tersebut, kata kuncinya adalah riset dan teknologi. Indonesia memiliki banyak institusi yang meneliti rumput, seperti KKP, BRIN, perguruan tinggi, asosiasi, dan industri,” tambahnya.

Industri rumput laut di Indonesia kian menjanjikan untuk pengembangan bahan baku produk industri. Foto: BRIN

Industri rumput laut di Indonesia kian menjanjikan untuk pengembangan bahan baku produk industri. Foto: BRIN

BRIN Kembangkan Komoditas Rumput Laut

Sementara itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus meneliti pengembangan komoditas rumput laut, baik penelitian sendiri maupun kolaborasi dengan berbagai mitra dalam dan luar negeri.

Kepala BRIN Laksana Tri Handoko mengatakan, penelitian tentang rumput laut akan dimulai dari identifikasi jenis dan spesies rumput laut di seluruh Indonesia. Saat ini, BRIN telah mengembangkan benih rumput laut jenis unggul yang dapat tumbuh lebih cepat.

“Benih rumput laut yang memiliki produktivitas lebih tinggi, tahan terhadap hama dan penyakit, serta mampu beradaptasi dan lebih tahan terhadap dampak perubahan iklim, termasuk kelimpahan dan budidaya di tepi pantai juga BRIN kembangkan,” ujar Handoko.

Handoko menyebutkan, berbagai penelitian terkait pemanfaatan rumput laut sudah BRIN lakukan. Pertama, rumput laut menjadi sebagai sumber pangan laut yang kaya nutrisi. Kedua, mencari alternatif bahan baku bioplastik yang mudah terurai, serta mengekstrak bahan dasar kosmetik dan bahan baku obat-obatan.

BACA JUGA: KKP Optimistis Tingkatkan Produksi Pembudidaya Rumput Laut

Selain itu, BRIN melakukan penelitian terkait potensi rumput laut sebagai sumber energi terbarukan, seperti produksi hidrogen. BRIN telah mengembangkan bio stimulan dan pupuk berbahan dasar rumput laut untuk mendukung sektor pertanian.

“Selain itu, analisis dampak perubahan iklim dan pencemaran mikroplastik terhadap laut dan rumput laut juga sudah BRIN lakukan,” lanjutnya.

Tidak hanya sampai di situ, BRIN juga melakukan beberapa kajian sosial-ekonomi terkait pengembangan rumput laut untuk meningkatkan pemberdayaan masyarakat.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/indonesia-berpotensi-jadi-pemimpin-global-industri-rumput-laut/feed/ 0
KKP Optimistis Tingkatkan Produksi Pembudidaya Rumput Laut https://www.greeners.co/berita/kkp-optimistis-tingkatkan-produksi-pembudidaya-rumput-laut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kkp-optimistis-tingkatkan-produksi-pembudidaya-rumput-laut https://www.greeners.co/berita/kkp-optimistis-tingkatkan-produksi-pembudidaya-rumput-laut/#respond Mon, 27 Nov 2023 05:30:37 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=42369 Jakarta (Greeners) – Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono meresmikan modeling budidaya rumput laut. Budidaya tersebut seluas 51,25 Hektare (Ha) di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Program ini bagian dari […]]]>

Jakarta (Greeners) – Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono meresmikan modeling budidaya rumput laut. Budidaya tersebut seluas 51,25 Hektare (Ha) di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Program ini bagian dari strategi membangun industri hilir rumput laut nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pembudidaya.

“Sesuai petunjuk bapak presiden, kami ingin melakukan hilirisasi karena rumput laut kita produksinya nomor dua di dunia, tetapi kita belum bisa mendapat manfaat yang besar dari sini,” ungkap Menteri Trenggono melalui keterangan rilisnya.

Merujuk data FAO 2022, Indonesia adalah negara produsen rumput laut terbesar kedua di dunia dengan volume produksi 9,6 juta ton. Produsen utama adalah China sebesar 20,8 juta ton. Namun, rumput laut belum termanfaatkan secara maksimal. Sehingga, Indonesia belum menjadi negara eksportir produk hilir rumput laut dunia.

BACA JUGA: KKP Dorong Penerapan Zero Waste pada Produk Perikanan

Dengan demikian, kata Menteri Trenggono, Wakatobi menjadi salah satu modeling budidaya rumput laut dari empat daerah lainnya. Di antaranya Maluku Tenggara, Rote Ndao, Buleleng, dan Lombok Timur.

“Program modeling budidaya rumput laut menerapkan pengelolaan berbasis kawasan yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Lewat strategi ini, produksi di hulu dapat meningkat dan berjalan berkesinambungan dengan hasil panen berkualitas,” jelasnya.

Fasilitas yang KKP siapkan ialah mendorong produktivitas di hulu mulai dari unit produksi bibit rumput laut (UPBRL) kultur jaringan. Ada juga fasilitas kebun starter rumput laut, hingga menyiapkan perahu ketinting sebagai sarana transportasi pembudidaya saat beraktivitas. Sementara, di sisi hilir, KKP tengah menyiapkan fasilitas untuk kegiatan usaha pengolahan.

“Saya tadi melihat langsung proses kultur jaringan, mulai dari penyiapan media hingga menghasilkan bibit rumput laut yang berkualitas dan siap tanam di laut,” akunya.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono meresmikan modeling budidaya rumput laut. Foto: KKP

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono meresmikan modeling budidaya rumput laut. Foto: KKP

Masyarakat Terlibat sebagai Pelaku Utama Produksi

Menteri Trenggono menambahkan, pelaksanaan program modeling rumput laut melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama produksi. Dengan demikian, program ini sekaligus untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pembudidaya.

“Kami ingin masyarakat di sini menjadi masyarakat produksi, artinya mereka menjadi komponen produksi yang kuat yang kemudian bisa sejahtera dari kegiatan produksi budidayanya. Kemudian, hasil panen itu bergeser ke proses nilai tambah berikutnya, masuk ke industri untuk kepentingan berbagai macam. Seperti bahan baku farmasi, makanan, dan seterusnya,” beber Menteri Trenggono.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono meresmikan modeling budidaya rumput laut. Foto: KKP

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono meresmikan modeling budidaya rumput laut. Foto: KKP

Biaya Investasi Mencapai Rp5,6 Miliar

Sementara itu, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Tb Haeru Rahayu menjelaskan modeling budidaya rumput laut Wakatobi dibangun seluas 51,25 Ha. Dengan rincian 45 Ha di antaranya sebagai lokasi budidaya rumput laut atau pembesaran. Biaya investasi berupa pembangunan sarana prasana mencapai Rp5,6 miliar.

BACA JUGA: KKP Jaga Kawasan Konservasi melalui Penamaan Rupabumi

Perkiraan produktivitas rumput laut basah dari lokasi modeling mencapai 7.200 ton per tahun, dengan biaya produksi Rp7,5 miliar. Perhitungan tersebut berdasarkan jumlah penanaman bibit sebanyak 4 ton per hektare per siklus selama 45 hari.

Sementara, nilai produksi rumput laut dari modeling Wakatobi bisa di angka Rp14,4 miliar dengan asumsi harga jual rumput laut kering Rp20 ribu per kilogram. Sehingga, keuntungan bersih per tahun sebesar Rp6,9 miliar.

Gunakan Material Batok Kelapa sebagai Pelampung

Hal menarik lainnya, modeling rumput laut di Wakatobi menggunakan material batok kelapa sebagai pelampung. Batok kelapa lebih ramah lingkungan daripada botol kemasan seperti yang digunakan selama ini oleh pembudidaya di Wakatobi.

Inovasi tersebut telah diuji coba di Akademi Komunitas Kelautan dan Perikanan (AKKP) Wakatobi. Pelampung batok kelapa memiliki daya tahan sekitar 3 bulan.

“KKP berharap pada Pemerintah Daerah Wakatobi untuk bisa melakukan pengawalan serta pembinaan. Pengelolaan modeling budidaya rumput laut ini akan dilaksanakan oleh koperasi dan kelompok, juga didukung oleh Masyarakat Hukum Adat,” tegas Tebe.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/kkp-optimistis-tingkatkan-produksi-pembudidaya-rumput-laut/feed/ 0
Olah Rumput Laut Jadi Sabun dan Hand Sanitizier https://www.greeners.co/ide-inovasi/olah-rumput-laut-jadi-sabun-dan-hand-sanitizier/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=olah-rumput-laut-jadi-sabun-dan-hand-sanitizier https://www.greeners.co/ide-inovasi/olah-rumput-laut-jadi-sabun-dan-hand-sanitizier/#respond Thu, 29 Jun 2023 04:00:40 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=40601 Pasangan suami istri (pasutri) asal Nusa Lembongan Bali membuat hand sanitizer dan sabun cuci tangan Nusa berbahan baku rumput laut. Inisiasi ini juga bertujuan memanfaatkan budi daya rumput laut di […]]]>

Pasangan suami istri (pasutri) asal Nusa Lembongan Bali membuat hand sanitizer dan sabun cuci tangan Nusa berbahan baku rumput laut. Inisiasi ini juga bertujuan memanfaatkan budi daya rumput laut di kawasan pesisir Nusa Lembongan, Bali.

Mereka adalah Ni Luh Putu Wira Astuti dan I Nyoman Sudiatmika. Keduanya menggagas produk alamiah ini pada awal tahun 2020. Terbentuknya produk Nusa merupakan hasil dari titik bangkit mereka ketika mengalami penurunan bisnis penyewaan villa saat pandemi.

Dengan tekadnya, Ni Luh dan I Nyoman mencari alternatif lain untuk membuat bisnis yang bisa berguna pada kondisi tersebut. Akhirnya, dengan melihat potensi bisnis saat pandemi, mereka membuat produk kesehatan yang berguna untuk masyarakat dalam menjaga kebersihannya.

“Latar belakang Nusa awalnya dari corona, kita di sini awalnya bisnis pada bidang pariwisata, namun semenjak corona ini semua kita beralih ke rumput laut, jadi kita berinisiatif sama suami gimana caranya untuk mengolah rumput laut ini,” kata Ni Luh kepada Greeners di Lembongan, Bali (27/6).

Dalam waktu satu bulan, rata-rata Nusa hand soap berhasil terjual hampir 250 botol dengan ukuran 450-500ml seharga Rp 110.000. Tak hanya itu, saat ini sudah banyak mitra seperti hotel dan coffee shop yang memesan produk sabun cuci tangan Nusa dengan aroma black coffee.

Proses Pembuatan Produk Nusa

Mencari bisnis alternatif saat pandemi merupakan tantangan yang tidak mudah. Menurut Ni Luh wanita berusia 42 tahun itu, pada tiga tahun yang lalu proses membentuk bisnis ini telah memakan waktu yang lama. Sebab butuh percobaan dan riset berkali-kali guna menghasilkan produk yang memuaskan.

Sebelum menjadi sebuah produk kesehatan yang alami, ada proses yang mereka lakukan. Pertama-tama mengambil rumput laut dari petani, kemudian mereka cuci dan jemur. Selanjutnya, rumput laut pun mereka cuci kembali sebanyak tiga sampai empat kali agar warnanya berubah menjdi putih dan bersih.

Tak sampai di tahap itu, rumput laut pun akan diblender dan diekstrak menggunakan mesin pengaduk. Kemudian mereka tambahkan beberapa komponen yaitu garam dan NP 10 untuk menyatukan minyak serta air.

Proses pemanenan rumput laut. Foto: Greeners/Dini Jembar Wardani

Kosmetik Menjadi Rencana Lanjutan

Penjualan produk Nusa ini menghasilkan omzet yang cukup besar yakni mencapai Rp 10-15 juta per bulan. Ni Luh dan I Nyoman pun terus mendalami bisnis produk rumput laut ini. Sehingga mereka tidak tertarik untuk kembali melanjutkan bisnisnya di dalam sektor pariwisata.

Tidak hanya berhenti pada produk hand sanitizer dan sabun cuci tangan, Ni Luh mengatakan bahwa dirinya memiliki rencana untuk memanfaatkan rumput laut menjadi produk kecantikan. Misalnya seperti serum, day cream, moisturizer, body wash, dan body lotion.

Hebatnya, I Nyoman telah mengantongi penghargaan sebagai pemenang kreativitas dan inovasi teknologi masyarakat pada tahun 2022 di Bali. Saat ini, beberapa perusahaan kecantikan pun telah menggandeng Nusa untuk berkolaborasi bersama dalam pembuatan produk berbahan dasar rumput laut.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/olah-rumput-laut-jadi-sabun-dan-hand-sanitizier/feed/ 0
Notpla Alternatif Plastik Berbasis Rumput Laut Raih Hadiah £1 juta https://www.greeners.co/ide-inovasi/notpla-alternatif-plastik-berbasis-rumput-laut-raih-hadiah-1-juta/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=notpla-alternatif-plastik-berbasis-rumput-laut-raih-hadiah-1-juta https://www.greeners.co/ide-inovasi/notpla-alternatif-plastik-berbasis-rumput-laut-raih-hadiah-1-juta/#respond Sat, 24 Dec 2022 03:51:44 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=38372 Sampah plastik masih menjadi persoalan serius. Lebih dari enam miliar ton sampah plastik yang tak terolah dengan baik saat ini mengotori jalan dan lautan. Sayangnya, hanya enam persen dari semua […]]]>

Sampah plastik masih menjadi persoalan serius. Lebih dari enam miliar ton sampah plastik yang tak terolah dengan baik saat ini mengotori jalan dan lautan. Sayangnya, hanya enam persen dari semua sampah plastik yang bisa didaur ulang. Sedangkan 12 persen lainnya dibakar.

Permasalahan ini harus mendorong kesadaran global mencari alternatif lain pengganti plastik yang lebih berkelanjutan.

Para pendiri perusahaan rintisan Notpla yang berbasis di London menjawab tantangan itu. Pierre Paslier dan Rodrigo Garcia Gonzalez memanfaatkan rumput laut dan tanaman sebagai alternatif penggunaan plastik.

Rumput laut dan tanaman merupakan bahan alami yang dapat terurai secara hayati dan dapat mereka gunakan untuk membuat berbagai kemasan. Mulai dari untuk menampung cairan hingga pelapis wadah makanan.

Lalu, dari mana ide untuk Notpla berasal? Paslier menyebut bahwa semua berawal dari percobaan kecil di dapur.

“Kami benar-benar terinspirasi oleh cara alam membuat bentuk-bentuk elegan ini. Menggunakan semua bahan alami ini ke dalam kemasan,” kata Paslier.

Dari situ, akhirnya mereka menemukan rumput laut karena sangat menarik. Begitulah ide di balik Notpla lahir.

Rumput Laut Alternatif Pengganti Plastik

Sejak tahun 2014, mereka telah membuat 36.000 kapsul berisi minuman olahraga. Kapsul ini mereka berikan kepada para pelari di London Marathon 2019.

Mereka juga telah membuat lebih dari satu juta kotak makanan di Just Eat untuk penggunanya bawa pulang. Hal ini berpotensi menggantikan lebih dari 100 juta wadah berlapis plastik di Eropa di masa depan.

Selain itu, rumput laut juga dapat menangkap karbon dua puluh kali lebih cepat daripada pohon. Di samping itu juga meningkatkan populasi ikan, serta menciptakan peluang baru bagi masyarakat setempat.

Foto: Dezeen

Notpla Baru Saja Memenangkan Hadiah Earthshot

Hebatnya, Pendiri Notpla baru saja memenangkan Earthshot Prize dalam kategori ‘Membangun Dunia Bebas Sampah‘.

Didirikan oleh Pangeran William, kompetisi ini memberikan penghargaan kepada lima pemenang atas kontribusi mereka terhadap lingkungan. Masing-masing menerima £1 juta (€1,2 juta) untuk melanjutkan upaya mereka.

Kompetisi ini terinspirasi oleh Moonshot Presiden AS John F Kennedy yang menyatukan jutaan orang dengan tujuan mencapai bulan. Dengan cara yang sama, Earthshot Prize mendorong solusi inovatif untuk krisis iklim.

Notpla akan menggunakan uang tersebut untuk penelitian dan pengembangan serta memperluas komersialisasi mereka.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Sumber : Dezeen

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/notpla-alternatif-plastik-berbasis-rumput-laut-raih-hadiah-1-juta/feed/ 0
Anggur Laut, Spesies Alga Hijau dengan Segudang Manfaat https://www.greeners.co/flora-fauna/anggur-laut-spesies-alga-hijau-dengan-segudang-manfaat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=anggur-laut-spesies-alga-hijau-dengan-segudang-manfaat https://www.greeners.co/flora-fauna/anggur-laut-spesies-alga-hijau-dengan-segudang-manfaat/#respond Sat, 05 Nov 2022 03:00:44 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=37870 Tidak cuma perkebunan, area perairan laut juga menyediakan sumber makanan bernutrisi bagi manusia. Seperti anggur laut misalnya, flora yang kerap disapa green caviar ini terkenal akan kandungan seratnya yang tinggi, […]]]>

Tidak cuma perkebunan, area perairan laut juga menyediakan sumber makanan bernutrisi bagi manusia. Seperti anggur laut misalnya, flora yang kerap disapa green caviar ini terkenal akan kandungan seratnya yang tinggi, sehingga sangat baik untuk melancarkan pencernaan.

Green caviar merupakan salah satu spesies alga hijau yang tergabung dalam genus Caulerpa. Tumbuhan air ini sejatinya masih berkerabat dengan rumput laut, serta memiliki nama ilmiah Caulerpa racemosa.

Secara umum, sebutan “anggur laut” sendiri sebenarnya tidak merujuk pada satu tanaman saja. Selain spesies C. racemosa, tanaman lain yang menyandang julukan serupa adalah Coccoloba uvifera.

Namun, spesies C. racemosa dan C. uvifera tidak memiliki kekerabatan apapun. Mereka bahkan memiliki morfologi dan habitat yang berbeda, sebab C. racemosa tumbuh di dalam perairan dan berbentuk ganggang.

Morfologi dan Ciri-Ciri Anggur Laut

Berbeda dengan C. uvifera, spesies anggur laut C. racemosa tidak dapat menghasilkan buah. Penyematan kata “anggur” sendiri merujuk pada tampilan talusnya, yang berbentuk bulat dan berwarna hijau cerah.

Talus-talusnya itu berkembang dari percabangan tegak setinggi 2,5–6 cm. Ukuran batang pokoknya mencapai 16–22 cm, dengan warna hijau cerah yang dapat berubah menjadi kekuningan saat sudah tua.

Selain itu, spesies C. racemosa juga bisa kita tandai dari stolon talusnya yang berukuran 5 cm. Perakaran (holdfast) tanaman ini relatif besar dan meruncing seperti paku, dengan panjang ramuli mencapai 8 cm.

Bagi Anda yang belum familiar, ramuli merupakan organ cabang atau percabangan dari stolon sebagai organ utama. Substansinya agak lunak dan terkesan kosong (gembos), dengan diameter antara 2–4 mm.

Saat masa reproduksi, green caviar akan mengeluarkan substansi putih seperti susu. Selanjutnya warna hijau pada tumbuhan tersebut akan memudar, lalu hancur dan mati setelah 1–2 hari proses reproduksi.

Habitat dan Distribusi Anggur Laut

Tidak sulit menemukan anggur laut, sebab mereka dapat kita temukan di seluruh lautan dangkal beriklim tropis. Filipina, Vietnam, Singapura, Malaysia, dan Thailand adalah wilayah distribusi alga hijau tersebut.

Selain itu, tanaman ini juga bisa kita temukan di perairan China, Taiwan, sampai Indonesia. Bahkan, jenis rumput laut yang berasal dari Tunisia itu kini telah menyebar hingga ke daerah barat perairan Pasifik.

Secara umum, kelompok Caulerpa jamak dijumpai pada daerah pantai yang memiliki rataan terumbu karang. Mereka tumbuh pada substrat yang mati, pecahan karang mati, serta area pasir lumpur dan lumpur.

Biasanya, spesies C. racemosa tumbuh pada perairan yang saat pasang surut terendah masih tergenang air. Tanaman ini tidak tahan terhadap kekeringan, serta mempunyai kandungan klorofil yang relatif rendah.

Meski begitu, tumbuhan berordo Bryopsidales ini sangat kuat menahan terpaan ombak. Mereka terkenal akan akarnya yang kokoh dan pendek, sehingga dapat menempel dengan baik pada permukaan substrat.

Kandungan dan Manfaat Anggur Laut

Kandungan vitamin anggur laut cukup tinggi. Dengan mengonsumsinya secara rutin, kita bisa mendapatkan manfaat berupa asupan vitamin A dan C, zat besi, yodium, serta kalsium yang dibutuhkan oleh tubuh.

Selain itu, rumput laut yang biasa dimakan dalam bentuk segar ini juga memiliki khasiat pengobatan dan kecantikan. Di dalamnya terkandung protein, kalsium, dan asam lemak seperti omega-3 DHA, EPA, dan ALA.

Bagi para penderita hipertensi, kandungan asam lemak ini sangat baik untuk menurunkan kolesterol serta fluiditas pembuluh darah. Bahkan, kandungan ini diklaim efektif untuk menjaga kesehatan mata.

Dalam sebuah penelitian, ahli mengungkapkan bahwa green caviar bisa meredam penyebaran radikal bebas, penumpukan sorbitol intraseluler, hingga mencegah pengikatan glukosa dan protein.

Karena itu, tidak heran jika tanaman air ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Harga jualnya bahkan dapat mencapai Rp 250.000–700.000 per kg, yakni dalam kondisi segar maupun kemasan.

Taksonomi Caulerpa Racemosa

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/anggur-laut-spesies-alga-hijau-dengan-segudang-manfaat/feed/ 0
Zeefier, Pewarna Tekstil Eco-Friendly dari Rumput Laut https://www.greeners.co/ide-inovasi/zeefier-pewarna-tekstil-eco-friendly-dari-rumput-laut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=zeefier-pewarna-tekstil-eco-friendly-dari-rumput-laut https://www.greeners.co/ide-inovasi/zeefier-pewarna-tekstil-eco-friendly-dari-rumput-laut/#respond Tue, 17 May 2022 04:00:54 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=36173 Industri tekstil merupakan salah satu penyumbang permasalahan lingkungan terbesar di dunia. Sebuah studi menunjukkan bahwa proses pembuatan dan pewarnaan tekstil dapat menyebabkan kerusakan tanah, memicu kemunculan penyakit berbahaya pada manusia […]]]>

Industri tekstil merupakan salah satu penyumbang permasalahan lingkungan terbesar di dunia. Sebuah studi menunjukkan bahwa proses pembuatan dan pewarnaan tekstil dapat menyebabkan kerusakan tanah, memicu kemunculan penyakit berbahaya pada manusia dan dapat merusak biota air serta ekosistem lainnya. Selain itu, limbah pewarna tekstil juga dapat menyebabkan kerusakan serius pada pertumbuhan tanaman dan dapat memicu stres oksidatif pada manusia.

Prihatin akan hal tersebut, seorang desainer asal Belanda bernama Nienke Hoogvliet berinisiatif untuk menciptakan pewarna tekstil organik yang ramah lingkungan. Bekerja sama dengan seorang pengusaha bernama Anne Boermans, Nienke menghadirkan Zeefier, pewarna kain alami berbahan dasar rumput laut. Untuk menciptakan Zeefier, Nienke membutuhkan waktu selama delapan tahun untuk melakukan riset dan uji coba.

“Demi kebaikan bumi, perubahan dalam industri tekstil harus dimulai dari sekarang. Zeefier telah mencoba untuk memulainya,” tulis Nienke dalam situs resmi Zeefier. “Kami ingin membuktikan bahwa rumput laut memiliki potensi besar sebagai sumber daya baru dalam industri tekstil.”

Bukan tanpa alasan bagi Nienke untuk memilih rumput laut sebagai bahan utama pembuat pewarna tekstil alami Zeefier. Menurutnya, rumput laut merupakan sumber daya alam yang murah, mudah untuk dibudidayakan dan juga tidak membutuhkan lahan pertanian. Lebih dari itu, rumput laut juga dapat menghasilkan oksigen dan mampu memurnikan karbon dioksida di udara.

Untuk membuat pewarna tekstil Zeefier, Nienke menggunakan limbah rumput laut yang berasal dari produsen makanan dan kosmetik. Selain itu, mereka juga memanfaatkan sampah rumput laut yang terdampar di pesisir pantai. Rumput laut yang sudah terkumpul selanjutnya akan melewati proses ekstraksi pigmen dengan menggunakan teknologi berbasis bio yang ramah lingkungan.

Pewarna Tekstil Zeefier: Bernuansa Lembut dan Natural

Nienke menghadirkan pewarna tekstil Zeefier dengan pilihan warna yang bernuansa lembut dan terkesan natural, seperti cokelat, krem dan hijau muda. Seluruh warna tersebut diperoleh dari warna asli rumput laut yang Nienke gunakan. Nienke tidak menambahkan bahan kimia dan pewarna tambahan apapun ke dalam Zeefier, sehingga pewarna kain tersebut memiliki warna yang tidak terlalu mencolok seperti pewarna kain sintetis.

“Saat ini kami sedang berusaha untuk membawa pewarna tekstil Zeefier hingga ke tingkat industri. Kami ingin mengganti sebanyak mungkin pewarna sintetis berbahaya dengan pewarna kain berbahan dasar rumput laut ini,” ujar Nienke.

Karena sepenuhnya terbuat dari bahan-bahan organik, pewarna tekstil Zeefier memiliki sedikit kekurangan. Setelah diaplikasikan pada kain, warna dari Zeefier tidak dapat bertahan lama dan akan pudar seiring dengan berjalannya waktu. Selain itu, Zeefier juga hanya bisa kita gunakan pada kain berbahan alami saja, seperti katun, wol, sutra, atau linen. Meskipun demikian, Nienke optimis bahwa produknya akan tetap diminati oleh banyak orang, mengingat bahwa saat ini kesadaran masyarakat terhadap fesyen berkelanjutan semakin meningkat.

Penulis: Anggi R. Firdhani

Sumber:

Dezeen

Situs Resmi Zeefier

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/zeefier-pewarna-tekstil-eco-friendly-dari-rumput-laut/feed/ 0
Notpla Ciptakan Kertas Eco-Friendly dari Rumput Laut https://www.greeners.co/ide-inovasi/notpla-ciptakan-kertas-eco-friendly-dari-rumput-laut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=notpla-ciptakan-kertas-eco-friendly-dari-rumput-laut https://www.greeners.co/ide-inovasi/notpla-ciptakan-kertas-eco-friendly-dari-rumput-laut/#respond Mon, 07 Mar 2022 04:02:50 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=35493 Setelah sukses menciptakan wadah saus ramah lingkungan, perusahaan startup Notpla kini hadir kembali dengan inovasi baru yang tidak kalah brilian. Baru-baru ini, perusahaan asal Inggris tersebut telah menciptakan kertas eco-friendly […]]]>

Setelah sukses menciptakan wadah saus ramah lingkungan, perusahaan startup Notpla kini hadir kembali dengan inovasi baru yang tidak kalah brilian. Baru-baru ini, perusahaan asal Inggris tersebut telah menciptakan kertas eco-friendly bernama Notpla Paper yang terbuat dari rumput laut sisa. Mereka bekerja sama dengan organisasi perlindungan hutan dan satwa liar, Canopy, untuk memproduksi kertas berbahan dasar rumput laut tersebut.

Menurut Direktur Desain Notpla, Karlijn Sibbel, kertas terbaru karya mereka terbuat dari produk sampingan rumput laut yang biasanya terbuang sia-sia.  Selain itu, mereka juga menggunakan campuran bahan ramah lingkungan lainnya seperti bubur kayu daur ulang untuk membuat kertas tersebut.

“Untuk memastikan keberlanjutannya, kami tidak menambahkan zat aditif sintetis seperti pewarna dan pelapis pada produk Notpla Paper. Setiap kertas memiliki tampilan alami yang berasal dari serat-serat rumput laut,” tutur Karlijn seperti dikutip dari situs Dezeen.

Meskipun terbuat dari bahan-bahan organik seperti rumput laut dan kayu daur ulang, Notpla Paper tetap memiliki daya tahan yang tinggi. Kertas ramah lingkungan tersebut memiliki ketebalan yang pas dan dapat dimanfaatkan kembali untuk membuat amplop, kotak makanan, hingga kemasan produk. Pada akhir masa pakainya, kertas dapat terurai kembali dengan tanah dalam waktu yang relatif singkat.

Notpla Terus Maksimalkan Potensi dari Rumput Laut

Tak hanya menciptakan kertas ramah lingkungan, Notpla juga telah menghadirkan beragam produk yang sepenuhnya terbuat dari rumput laut. Selain wadah saus dan kertas, mereka juga telah mengolah rumput laut menjadi pipet, kemasan makanan dan minuman, serta lapisan pelindung. Seluruh produk bersifat biodegradable dan bebas penggunaan bahan kimia tambahan yang berbahaya bagi lingkungan serta kesehatan.

Bukan tanpa alasan bagi Notpla untuk memilih rumput laut sebagai bahan baku dari seluruh produk yang mereka ciptakan. Selain dapat mencegah terjadinya deforestasi, rumput laut juga kaya akan potensi dan dapat dibudidayakan dengan cara yang cukup mudah. Selain itu, tumbuhan yang satu ini juga tidak memerlukan banyak waktu dan ruang untuk bertumbuh.

“Kami meyakini bahwa setiap bagian dari rumput laut layak untuk kami manfaatkan kembali menjadi sesuatu yang bernilai,” ujar Karlijn. “Menggunakan satu ton rumput laut sisa dapat mencegah deforestasi dan dapat menghemat penebangan pohon hingga empat ton.”

Sebagai informasi, Notpla Paper merupakan bagian dari proyek inovatif bernama Pack4Good Canopy. Proyek tersebut menantang beberapa perusahaan untuk menciptakan alternatif berkelanjutan untuk kemasan kertas tradisional.

Penulis: Anggi R. Firdhani

Sumber:

Dezeen

Situs Resmi Notpla

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/notpla-ciptakan-kertas-eco-friendly-dari-rumput-laut/feed/ 0
Biopac, Inovasi Kemasan Pengganti Plastik dari Rumput Laut https://www.greeners.co/ide-inovasi/biopac/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=biopac https://www.greeners.co/ide-inovasi/biopac/#respond Tue, 29 Dec 2020 08:00:04 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=30757 Indonesia menempati peringkat dua dunia sebagai negara penghasil sampah plastik ke laut. Ini mendorong terciptanya Biopac, kemasan dari rumput laut.]]>

Noryawati Mulyono, seorang doktor di bidang kimia pangan, menciptakan Biopac, inovasi kemasan ramah lingkungan dari rumput laut.

Apakah Anda peduli dengan lingkungan? Jangan mengaku iya jika Anda masih mengonsumsi makanan atau minuman dengan kemasan plastik sekali pakai. Sebab, Indonesia menempati peringkat dua dunia sebagai negara penghasil sampah plastik ke laut terbanyak setelah China.

Hal ini membuat Noryawati Mulyono, seorang doktor di bidang kimia pangan, menciptakan Biopac. Pengalamannya selama dua puluh tahun sebagai praktisi di perusahaan manufaktur makanan, akademisi, dan kewirausahaan membuatnya terdorong menghentikan pencemaran plastik.

Akar penyebab banjir di Jakarta setiap musim hujan ini menggugahnya untuk mengubah ide penelitian menjadi skala komersial.

Latar Belakang Pembuatan Biopac

“Biopac merupakan hasil penelitian dari seorang perempuan yang terpanggil menjadi dosen di tengah kenyamanannya sebagai profesional yang berkarir di industri pangan untuk memenuhi panggilan mencerdaskan generasi muda Indonesia, ” kisah Noryawati yang juga adalah tenaga pendidik di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta, sejak 2009.

“Memilih bioplastic menjadi fokus saya berdasarkan  pengalaman pribadi mengalami banjir tahunan sejak tinggal di Jakarta tahun 2000. Menurut pengamatan saya, penyebab utamanya bukan derasnya air hujan, tetapi lebih karena tersumbatnya saluran-saluran air, gorong-gorong, pendangkalan sungai, oleh adanya sampah,” lanjutnya.

Selain pengalamannya di Jakarta, Noryawati pun menceritakan masa kecilnya ketika tinggal di daerah Pekalongan Selatan, Jawa Tengah, 4 km dari lokasi sekolah di Pekalongan Utara. Saat itu, Noryawati kecil sering bangun kesiangan dan hanya sempat sarapan mi instan.

Sesuai namanya, mi instan seharusnya cepat saji. Namun, karena banyaknya saset, persiapan memasaknya seringkali lebih lama dari memasaknya.

Pengalaman masa lalu inilah yang menjadikannya fokus melakukan penelitian di bidang bioplastik. Hingga akhirnya dia berinovasi dengan menawarkan Biopac.

Lebih jauh, dia mencoba menghasilkan sesuatu yang tidak hanya berhenti di tahap penelitian, tetapi dapat menjadi sebuah bisnis, sehingga berdampak nyata bagi masyarakat.

Noryawati menuturkan, hal ini tidak mudah, mengingat banyak faktor yang menjadi pertimbangan seperti mutu produk, biaya produksi, ketersediaan bahan baku, dan skala bahan. Selain fokus pada produknya, tim yang solid juga tak kalah penting.

biopac rumput laut

Noryawati memilih bioplastic menjadi fokusnya berdasarkan  pengalaman pribadi mengalami banjir tahunan sejak tinggal di Jakarta tahun 2000.

Kerja sama Tim

Dalam mencetuskan ide ramah lingkungan ini, perjalanan Noryawati tidak selamanya mulus. Sebelum produknya bergulir, dia pernah berada di masa yang galau. Saat itu, produknya sudah layak jual, dukungan dana hibah pun tersedia, namun dia merasa timnya belum benar-benar solid.

Kendala tim yang belum solid membuat Noryawati hampir melalukan pivot, banting setir, karena menilai tim yang teguh esensial di dalam keberhasilan perusahaan. Untungnya, Noryawati tidak patah arang. Kala itu dia melakukan pembenahan dan membangun kembali usahanya di atas dasar yang benar. 

“Akhirnya, jadilah Biopac, yang dibentuk oleh tim yang tidak memiliki keinginan mendapatkan keuntungan ekonomi semata-mata. Tetapi ingin berkontribusi untuk mengatasi masalah lingkungan, yang sekarang sudah merambah menjadi masalah sosial dan juga kesehatan,” tutur Noryawati.

Noryawati mendirikan Biopac bersama komisarisnya, Lie Tham Tjhun, yang merupakan pemilik perusahaan manufaktur makanan yang sukses di Indonesia. 

Lie Tham Tjhun memulai usahanya pada tahun 1984 di sebuah toko rumahan kecil. Namun, 2020 ini dia telah memiliki dua pabrik dan kantor pemasaran di beberapa kota di Indonesia, dan memasarkan produknya untuk lokal dan ekspor.

Dia melanjutkan, semua penelitian Biopac memiliki dua ciri utama. Pertama, memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah di Indonesia, berkelanjutan, dan tidak menimbulkan risiko kelaparan dan kekeringan. Kedua, akhir masa pakai produk harus aman bagi lingkungan.

Alasan Penggunaan Rumput Laut

Noryawati lalu mengingat masa ketika dia memutuskan untuk berinovasi dengan rumput laut. Pada 2004, Noryawati mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi S2. Saat itu dia melakukan pengolahan damar untuk tugasnya.

Ketika riset, dia fokus meneliti antibakteri. Tetapi ternyata lewat penelitian itu, dia melihat bahwa damar memiliki aktivitas untuk membentuk film atau lapisan tipis.

Namun, eksplorasi yang terus dia lakukan ternyata menunjukkan bahwa sifat mekanik dari damar kurang bagus. Dia pun melanjutkan pencariannya dalam menemukan biomaterial lain yang melimpah di Indonesia. Noryawati mencari bahan dengan sifat mekanik yang lebih bagus dari damar dan juga memberikan keuntungan ekologis.

Pencarian ini mencapai titik terang pada 2012. Ketika itu, perjalanannya membawa Noryawati pada rumput laut. Dia menilai, dengan melakukan budidaya rumput laut dirinya tidak sekadar membuat inovasi produk ramah lingkungan, namun juga ikut serta menjaga kelestarian biota laut.

“Kalau kita budidaya rumput laut, membutuhkan laut yang bersih. Karena rumput laut itu pertumbuhannya butuh penetrasi sinar matahari. Artinya, petani rumput laut akan berpartisipasi menjaga kebersihan laut,” tuturnya.

Lebih jauh, Noryawati menuturkan dengan menggunakan rumput laut Biopac juga tidak melakukan deforestasi. Menggunakan rumput laut, alih-alih tanaman darat, juga menjauhkan Biopac dari penggunaan pestisida dan pupuk yang masih melibatkan bahan kimia yang berbahaya bagi lingkungan.

Dengan tekad dan kerja kerasnya, tidak heran bila Noryawati mendapat berbagai pengakuan. Penelitiannya pun menerima bantuan dana dari L’Oreal melalui program L’Oreal for Women in Science. 

biopac rumput laut

Dengan melakukan budidaya rumput laut, Biopac tidak sekadar membuat inovasi produk ramah lingkungan, namun juga ikut serta menjaga kelestarian biota laut. Foto: Biopac.

Jenis Produk Biopac

Awalnya fokus Biopac hanya produksi kemasan sekali pakai berukuran kecil, yang tidak akan didaur ulang atau digunakan kembali karena alasan teknologi atau ekonomi, dan jumlahnya besar.

“Jadi, produk yang pertama kali kami luncurkan adalah lembaran sebagai bungkus burger dan nasi, untuk menggantikan kertas burger atau nasi, yang sebenarnya merupakan kertas laminasi plastik. Lembaran tersebut juga bisa digunakan untuk bungkus sabun batang, sampo batang, pasta gigi tablet, dan produk-produk padat sejenisnya,” kisah Noryawati.

Produk kedua yang Biopac jual adalah saset, dengan segel samping atau tengah. Kemasan ini bisa berguna untuk saset kopi, tusuk gigi, dan sebagainya.

Biopac sangat terbuka dengan masukan dari pelanggan. Pengembangan produk pun sudah mereka lakukan karena banyaknya timbal balik dari pembeli.

Tak hanya lembaran pembungkus dan saset, kini mereka juga memproduksi dan menjual gusset, tas belanja dengan tali serut, dan rol segel untuk kantong buah.

biopac kemasan rumput laut

Tak hanya lembaran pembungkus dan saset, kini mereka juga memproduksi dan menjual gusset, tas belanja dengan tali serut, dan rol segel untuk kantong buah. Foto: Biopac.

Baca juga: Kertas Kemasan dari Ampas Tebu dan Kulit Jagung

Keistimewaan Biopac

Konsumen dapat menghemat waktu saat persiapan untuk mengonsumsi makanan dengan kemasan Biopac, karena kemasan saset Biopac dapat Anda konsumsi bersama dengan makanan di dalamnya.

Namun, apabila tidak Anda makan, konsumen juga dapat membuangnya ke tempat sampah organik, atau ke tanah, saluran air,  bahkan ke kloset.

Biopac akan menambah nutrisi tanah dan cepat larut dalam air. Biopac juga halal. Produknya tidak mengandung bahan-bahan yang dapat menimbulkan efek alergi bagi kalangan tertentu, seperti halnya kacang-kacangan, makanan laut, telur, atau terigu.

Biopac dapat Anda beri warna, tulisan atau logo, menyegelnya dengan panas, dan memesannya dengan ketebalan tertentu sesuai kebutuhan pelanggan. Kemasan ini juga ramah lingkungan.

“Ramah lingkungan bagi kami adalah sebuah syarat mutlak. Tidak hanya dapat terurai di alam, namun harus dapat terurai di alam secara alami oleh lingkungan, baik air maupun mikroba yang sudah tersedia di alam. Tanpa perlu bantuan pengaturan suhu atau penambahan mikroba tertentu. Bahkan, aman bagi semua makhluk hidup, yang makro maupun mikro, di darat, maupun laut, sustainable (terjamin keberlanjutannya). Baik dari segi bahan baku, proses pembuatan, produk, maupun akhir dari Biopac,” pungkas Noryawati.

Penulis: Agnes Marpaung

Editor: Ixora Devi

Website Biopac

 

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/biopac/feed/ 0
Terbuat dari Rumput Laut, Wadah Saus ini Bisa Anda Lahap https://www.greeners.co/ide-inovasi/terbuat-dari-rumput-laut-wadah-saus-ini-bisa-anda-lahap/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=terbuat-dari-rumput-laut-wadah-saus-ini-bisa-anda-lahap https://www.greeners.co/ide-inovasi/terbuat-dari-rumput-laut-wadah-saus-ini-bisa-anda-lahap/#respond Sat, 31 Oct 2020 23:00:44 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=29706 Sebuah perusahaan rintisan asal Inggris, Notpla, menciptakan plastik alternatif yang dapat terurai dalam waktu cepat. Plastik ini terbuat dari rumput laut. Selain dapat terurai dengan cepat, plastik ini juga dapat dimakan langsung oleh manusia, mengingat bahan bakunya yang alami sehingga tidak berbahaya.]]>

Perusahaan rintisan asal Inggris, Notpla, menciptakan plastik alternatif yang dapat terurai dalam waktu cepat. Plastik ini terbuat dari rumput laut. Selain dapat terurai dengan cepat, konsumen juga dapat memakan langsung wadah ini, mengingat bahan bakunya yang alami dan tidak berbahaya.

Pemilihan rumput laut tentu bukan tanpa alasan. Dilansir dari Science Alert, rumput laut dipilih karena dinilai ramah lingkungan serta tidak membutuhkan banyak waktu dan ruang untuk bertumbuh.

“Itu salah satu sumber daya yang paling melimpah. Salah satu rumput laut yang kami gunakan tumbuh hingga satu meter per hari. Bisakah Anda bayangkan sesuatu yang tumbuh secepat itu? Anda tidak membutuhkan pupuk, tidak perlu menyiram air, dan itu sumber daya yang selama ini kami gunakan. untuk waktu yang lama,” kata salah satu pendiri Notpla, Rodrigo Garcia.

Sementara itu, pendiri Everyday Plastic, Daniel Webb, menggelar survei yang mendapati manusia membuang lebih banyak sampah plastik pada 2020 ketimbang tahun lalu. Setidaknya, 8 juta ton sampah plastik per tahun akan berakhir di laut.

“Sebelum masa lock down, kami menemukan setiap individu membuang sekitar 99 potongan plastik dalam satu minggu. Kami menemukan seratus dua puluh delapan potongan plastik dari sektor rumah tangga dalam satu minggu, berarti terdapat peningkatan sekitar 25 persen hingga 30 persen,” kata Webb.

Baca juga: Perusaahaan Otomotif Luncurkan Koleksi Busana dari Limbah

Wadah Plastik Rumput Laut Terurai dalam Dua Bulan

Sejalan dengan hal tersebut, plastik yang berguna sebagai wadah saus ini dapat menjadi solusi untuk mengurangi populasi plastik sintetis. Para pencipta berharap plastik rumput laut dapat mengurangi keberadaan sampah sebesar 300 juta ton per tahunnya.

Untuk dapat menguraikannya secara alami, plastik ini membutuhkan waktu sekitar empat hingga enam minggu. Waktu tersebut tentu sangat efektif dibandingkan dengan plastik sintetis yang membutuhkan waktu hingga ratusan tahun agar dapat terurai.

Notpla tidak membeberkan harga plastik organik secara umum, namun mereka berkomitmen menjual produk secara grosir ke perusahaan yang pelanggannya menghargai kredensial ramah lingkungan mereka.

Para pendiri Notpla melihat penggunaan plastik sebagai kecanduan berat yang harus berhenti. Sebagai langkah selanjutnya, saat ini Notpla juga sedang mengerjakan produk baru untuk makanan dan minuman, serta pakaian dan sekrup untuk furnitur siap rakit. Mereka mengklaim produk yang akan mereka luncurkan bebas dari bahan kimia sintetis dan serta menggunakan lapisan tahan air dan minyak.

Bahan yang digunakan juga merupakan karton yang mudah terurai dalam tiga hingga enam minggu. Tentu jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan karton yang dibalut dengan plastik yang membutuhkan waktu selama bertahun-tahun agar dapat benar-benar terurai.

“Ini semua tentang dampak. Kami memulai ini karena kami ingin menjadi bagian dari solusi untuk krisis plastik ini. Itulah yang mendorong semua tim ini,” kata salah satu pendiri Notpla, Pierre Paslier.

Penulis: Krisda Tiofani

Editor: Ixora Devi

 

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/terbuat-dari-rumput-laut-wadah-saus-ini-bisa-anda-lahap/feed/ 0
Seniman Tekstil Ciptakan Adibusana dari Rumput Laut https://www.greeners.co/ide-inovasi/seniman-tekstil-ciptakan-adibusana-dari-rumput-laut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=seniman-tekstil-ciptakan-adibusana-dari-rumput-laut https://www.greeners.co/ide-inovasi/seniman-tekstil-ciptakan-adibusana-dari-rumput-laut/#respond Thu, 01 Oct 2020 08:34:28 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=28995 Jasmine Linington, desainer dan seniman tekstil, terinspirasi menggunakan rumput laut dalam proyeknya. Inspirasinya menelurkan koleksi adibusana dari rumput laut bernama Proyek Seaweed Girl.]]>

Gaya hidup ramah lingkungan semakin diminati. Industri fesyen pun masuk dalam arus gaya hidup berkelanjutan. Mulai dari pemanfaatan plastik daur ulang hingga penggunaan serat tanaman menandakan inovasi ramah lingkungan industri fesyen.

Satu lagi inovasi bahan untuk fesyen ramah lingkungan: rumput laut. Jasmine Linington, desainer dan seniman tekstil, terinspirasi menggunakan rumput laut dalam proyeknya. Inspirasi ini dia dapatkan ketika menempuh Pendidikan Master of Fine Arts di Edinburgh College of Arts. Inspirasinya menelurkan koleksi adibusana dari rumput laut bernama Proyek Seaweed Girl.

Baca juga: Kreasi Tas Pesta dari Limbah Kain Satin

“Bagi saya, tidak ada yang lebih menyenangkan daripada menghabiskan waktu di tepi laut. Rumput laut merupakan bagian dari garis pantai yang sering diabaikan. Namun, beberapa tahun belakangan saya mulai melihatnya secara baru. Saya menemukan warna, tekstur dan material yang menarik dan indah,” tulis Jasmine dalam websitenya.

Lebih jauh, Proyek Seaweed Girl adalah koleksi tekstil adibusana yang menunjukkan keserbagunaan rumput laut sebagai inspirasi visual serta bahan dalam industri tekstil. Proyek Seaweed Girl dia sebut sebagai karya seni yang dapat dikenakan (wearable art).

Seniman Tekstil Ciptakan Proyek Adibusana dari Rumput Laut

Seniman Tekstil Ciptakan Proyek Adibusana dari Rumput Laut. (jasminelinington.com).

Panen Rumput Laut dengan Bertanggung Jawab

Saat menempuh gelar Masternya, Jasmine mengetahui rumput laut dan mikroalga merupakan organisme yang tumbuh paling cepat di bumi. Jasmine pun termotivasi menemukan cara inovatif untuk menggunakan sumber daya berkelanjutan ini dalam dunia mode.

“Saya dengan cepat jatuh cinta dengan serat dan benang rumput laut karena kualitas alaminya dan penampilan dan rasanya seperti sutera,” tutur seniman yang berbasis di Edinburgh, Inggris ini.

Baca juga: Anak Negeri Tawarkan Rancangan Sepatu dari Kertas Kraft

Jasmine terus mengeksplorasi cara untuk memasukkan bahan alternatif dan berkelanjutan ke dalam proyeknya. Dia ingin karyanya tidak hanya indah melainkan juga bermanfaat bagi lingkungan.

Jasmine tidak berhenti pada satu desain. Dia juga mengembangkan rumput laut menjadi manik-manik. Dia membuat manik-manik dengan menggunakan resin yang dibuat dari produk sampingan proses penen. Sebagai seniman tekstil, dia juga menjelajahi alternatif bebas plastik dengan menciptakan payet rumput laut yang lentur.

Lebih jauh, Jasmine sangat berhati-hati dalam memanen rumput laut. Dia hanya mau memanen rumput laut dengan benar dan berkelanjutan. Jasmine pun telah memperoleh izin untuk panen skala kecil melalui Scottish Natural Heritage dan East Lothian Council.

Penulis: Mega Anisa

Editor: Ixora Devi

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/seniman-tekstil-ciptakan-adibusana-dari-rumput-laut/feed/ 0
Sedotan Rumput Laut Pengganti Sedotan Plastik Sekali Pakai https://www.greeners.co/ide-inovasi/sedotan-rumput-laut-pengganti-sedotan-plastik-sekali-pakai/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sedotan-rumput-laut-pengganti-sedotan-plastik-sekali-pakai https://www.greeners.co/ide-inovasi/sedotan-rumput-laut-pengganti-sedotan-plastik-sekali-pakai/#respond Sun, 12 Jan 2020 02:41:06 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=25299 Loliware, sebuah perusahaan bioplastik kemasan makanan, meluncurkan sedotan rumput laut sebagai pengganti sedotan plastik yang dapat larut seiring waktu.]]>

Loliware, sebuah perusahaan bioplastik kemasan makanan, meluncurkan sedotan rumput laut sebagai pengganti sedotan plastik yang dapat larut seiring waktu. Tidak seperti sedotan kertas, produk Loliware terlihat, terasa, dan berbentuk seperti sedotan plastik.

CEO Loliware adalah Sea F. Briganti, ia meluncurkan Loliware di tahun 2015 dengan co-founder Leigh Ann Tucker. Dalam timnya, Loliware terdiri dari kelompok ilmuwan material, ahli teknologi makanan, ahli biologi rumput laut, insinyur, ahli kimia, perancang industri, dan futurologis. Loliware menggabungkan para pakar atau peneliti rumput laut dengan metode manufaktur inovatif untuk menciptakan bahan-bahan bebas plastik di masa depan.

BACA JUGA : MarinaTex, Plastik Ramah Lingkungan Dari Limbah Industri Perikanan

Sea dan timnya mengembangkan Loliware Intelligent Seaweed Technologies (LIST) memanfaatkan bahan yang terbuat dari rumput laut yang mengungguli produk seperti kertas. Rumput laut sendiri merupakan sumber daya terbarukan dan regeneratif. Tidak hanya memberikan produk yang lebih berkelanjutan, pemanfaatan rumput laut dapat lebih tahan lama, yaitu dapat bertahan lebih kurang 18 jam penggunaan terus menerus, dan sepenuhnya terdegradasi saat pengomposan.

Berdasarkan laman resmi loliware.com, perusahaan ini mengklaim bahwa rumput laut adalah masa depan dari pengganti plastik dan bagian dari ekonomi karbon biru. Rumput laut menjadi bagian dari koleksi luar biasa hutan akuatik. Mereka secara efisien menangkap CO2 dalam daun-daunnya dan penyerap karbon yang luar biasa, dimana dapat tumbuh sangat cepat, hingga 3 meter per hari tergantung pada spesiesnya. Itulah yang menyebabkan produk berbasis rumput laut memiliki keunggulan lingkungan dibandingkan minyak.

Loliware, sedotan ramah lingkungan dari rumput laut

Loliware, sedotan ramah lingkungan dari rumput laut. Foto : loliware.com

Menurut Sea dikutip dari businessinsider.sg, sedotan rumput laut ini bisa dimakan namun bukanlah sebuah cemilan. “Jangan berharap untuk memakan seluruh sedotanmu seolah itu adalah permen” imbau Sea.

Mulai musim panas 2019, Loliware meluncurkan sedotan rumput laut di jaringan hotel seperti Marriott dan acara-acara untuk perusahaan minuman seperti Pernod Ricard. Pada akhir tahun 2019, mereka akan meluncurkan produk yang dirancang khusus untuk kotak jus. Pada awal 2020, mereka akan mulai menawarkan paket sedotan kecil untuk pembelian konsumen.

Meskipun Loliware bukan perusahaan pertama yang mengusulkan alternatif kompos untuk sedotan plastik, Sea mengatakan rumput laut berfungsi lebih baik daripada kertas, yang dapat menjadi lunak dan lembek. Pengganti populer lainnya, sedotan yang terbuat dari poli asam laktat (Polylactic Acid) yang berasal dari tepung jagung atau tebu, membutuhkan fasilitas pengomposan industri dan pada dasarnya berfungsi layaknya plastik di lingkungan. Sehingga rumput laut menjadi bahan yang lebih diunggulkan dibandingkan alternatif bahan lain.

BACA JUGA : Cyclo, Helm Yang Dapat Dikemas Terbuat Dari Daur Ulang Sampah Plastik

Karena sedotan rumput laut yang diproduksi Loliware tanpa menggunakan label, kemungkinan pelanggan bahkan tidak akan tahu mereka mengonsumsi sesuatu yang berbeda. Setelah 18 jam digunakan, sedotan akan menjadi lunak dan mulai “menghilang,” tetapi sedotan itu tidak akan terurai sepenuhnya sampai mereka dikomposkan, atau dalam kondisi tidak menguntungkan berakhir menjadi sampah.

“Kami tidak menganjurkan (agar) orang melemparkan atau membuang sedotan Loliware ke laut, tetapi jika tanpa sengaja berakhir di laut, maka sedotan itu akan hancur dalam hitungan minggu tanpa dampak negatif pada hewan laut,” terang Sea.

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/sedotan-rumput-laut-pengganti-sedotan-plastik-sekali-pakai/feed/ 0
Sumo, Popok Ramah Lingkungan dari Bahan Alami https://www.greeners.co/ide-inovasi/sumo-popok-ramah-lingkungan-dari-bahan-alami/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sumo-popok-ramah-lingkungan-dari-bahan-alami https://www.greeners.co/ide-inovasi/sumo-popok-ramah-lingkungan-dari-bahan-alami/#respond Thu, 09 Jan 2020 04:03:24 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=25243 Seorang siswa di sekolah desain Swiss ECAL mengembangkan popok ramah lingkungan dari bahan kain non-katun yang dapat digunakan kembali.]]>

Sampah popok bayi menjadi salah satu permasalahan lingkungan yang sangat mengkhawatirkan di seluruh dunia. Sampah popok menyisakan masalah yang dapat mencemari lingkungan dan mengganggu kesehatan. Menurut riset Bank Dunia pada 2017, popok sekali pakai menjadi penyumbang sampah terbanyak kedua di laut, yakni 21%. Laman The Guardian mencatat sebanyak 3 miliar dan 20 miliar popok sekali pakai dibuang di Inggris dan Amerika setiap tahunnya.

Popok modern tidak hanya terbuat dari kertas dan katun, tetapi juga polimer plastik yang menyerap dan memerangkap cairan. Kulit luar plastik yang menjaga popok tahan air terbuat dari bahan kimia seperti pemutih dan parfum yang menutupi bau.

BACA JUGA : Alat Pendeteksi Komposisi Polutan Dengan Teknik Analisis Nuklir

Dilansir pada laman fastcompany.com, tidak jelas bagaimana semua bahan dan bahan kimia ini berdampak pada kesehatan bayi, tetapi cukup jelas bagaimana mereka merusak lingkungan. Popok tidak mengalami biodegradasi. Popok akan berakhir di tempat pembuangan sampah selama ratusan tahun, perlahan-lahan melepaskan bahan kimia beracun dan gas rumah kaca.

Selama bertahun-tahun, orang tua dulu sudah terlebih dulu mengandalkan popok kain, yang umumnya terbuat dari kapas. Namun kapas juga menjadi tanaman yang membutuhkan banyak air dan memiliki jejak karbon yang besar.

SUMO Diapers Materials The James Dyson Foundation

Foto : The James Dyson Foundation via fastcompany.com

Luisa Kahlfeldt, seorang siswa desain di sekolah desain Swiss ECAL, telah menemukan alternatif yang lebih baik: Dia mengembangkan popok kain non-katun yang dapat digunakan kembali.

Popok ini dinamakan “Sumo”, karena apabila dipakai si buah hati akan terlihat seperti pegulat sumo kecil. Sumo terbuat dari campuran rumput laut dan kayu putih yang disebut “SeaCell”. Bahan ini lebih berkelanjutan untuk diproduksi daripada popok kain katun di pasaran. Menurut fastcompany.com, popok ini terdapat kandungan antibakteri alami dan antioksidan, sehingga diklaim baik untuk kulit bayi.

BACA JUGA : Daun Tiruan Hasilkan Energi Bersih

Keunggulan pada Sumo, didalamnya ada lapisan lembut yang nyaman untuk kontak dengan kulit bayi, menyerap lebih dalam, dan lapisan luar tahan air untuk mencegah kebocoran. Lapisan luarnya juga bekerjasama dengan perusahaan Swiss bernama Schoeller, yang membuat kain tahan air dimana dapat didaur ulang atau disebut EcoRepel. Bahan kainnya tidak akan terkikis meskipun pencuciannya berulang.

Luisa juga mengganti tali pengikat popok yang biasanya terbuat dari plastik, dengan menggunakan metode merajut benang alami yang disebut Natural Stretch. Hal ini Luisa lakukan untuk memastikan produknya dapat terurai secara alami. Inovasi popok Sumo pun menerima penghargaan dari industri desain. Sumo memenangkan penghargaan bergengsi James Dyson Awards 2019.

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/sumo-popok-ramah-lingkungan-dari-bahan-alami/feed/ 0
Rumput Laut, Tanaman Laut Bernilai Ekonomi Tinggi https://www.greeners.co/flora-fauna/rumput-laut-tanaman-laut-bernilai-ekonomi-tinggi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=rumput-laut-tanaman-laut-bernilai-ekonomi-tinggi https://www.greeners.co/flora-fauna/rumput-laut-tanaman-laut-bernilai-ekonomi-tinggi/#respond Tue, 30 Oct 2018 07:23:22 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=21489 Rumput laut adalah salah satu tumbuhan laut yang tergolong dalam makroalga. Tumbuhan laut ini menjadi sumber daya perairan yang bernilai ekonomis tinggi.]]>

Salah satu komoditas perikanan budidaya subsektor budidaya laut yang menjadi fokus pemerintah melalui Kementarian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk terus dikembangkan adalah rumput laut. Rumput laut menjadi sumber daya perairan yang bernilai ekonomi tinggi.

Selama lima tahun terakhir, volume produksi rumput laut di Indonesia, mengalami tren positif. Dilansir pada laman mediaindonesia.com, Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Subiyakto mengatakan, ada pertumbuhan produksi rumput laut sekitar 11,8 persen per tahunnya. Slamet menyebutkan, produksi rumput laut nasional tercatat sebesar 10,8 juta ton pada tahun 2017. Tahun ini pemerintah meningkatkan produksi rumput laut, sekitar 13 juta ton basah.

Rumput laut (seaweed) adalah salah satu tumbuhan laut yang digolongkan dalam makroalga. Perbedaan antara makroalga dan mikroalga adalah makroalga termasuk kelompok alga yang berukuran besar, dalam artian dapat terlihat dengan mata biasa tanpa alat pembesar, sedangkan mikroalga merupakan tumbuhan renik berukuran mikroskopik (diameter antara 3-30 µm) yang termasuk dalam kelas alga dan hidup sebagai koloni maupun sel tunggal di seluruh perairan tawar maupun laut.

Terkadang masih banyak orang yang keliru membedakan antara rumput laut dan lamun. Banyak yang menyangka rumput laut memiliki ciri fisik daun berukuran panjang. Padahal ciri tersebut merupakan ciri fisik dari tanaman lamun.

Rumput laut sendiri tidak memiliki akar, batang dan daun. Bentuk tubuh yang menyerupai akar, daun dan batangnya dinamakan thallus. Rumput laut terbagi ke dalam empat kelompok berdasarkan pigmen yang terkandung dalam rumput laut, yaitu Rhodophyceae (merah), Chlorophyceae (hijau), Phaeophyceae (coklat) dan Cyanophyceae (biru-hijau).

rumput laut

Rumput laut menjadi mata pencaharian mayoritas masyarakat pesisir. Foto: wikimedia commons

Rumput laut merah dan rumput laut coklat memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi karena merupakan penghasil hidrokoloid (agar, karagenan, alginat) yang digunakan sebagai pengental dan pembuat gel di berbagai industri terutama industri pangan. Dilansir pada laman food.detik.com, khusus untuk rumput laut merah tengah dikembangkan sebagai superfood baru oleh para peneliti di Oregon State University (OSU). Jenis rumput laut ini memiliki keunggulan cita rasa mirip bacon dan nutrisi dua kali lipat dari kale (Brassica oleracea var. palmifolia).

Rumput laut kaya sumber mineral, vitamin, protein, karbohidrat dengan kandungan lemak yang sangat sedikit. Manfaat mengkonsumsi rumput laut antara lain menurunkan tekanan darah dan kolesterol, membantu mengobati beberapa jenis kanker, menyembuhkan pembengkakan, mengurangi mucus dan melancarkan pencernaan serta sebagai antioksidan. Vitamin C pada rumput laut juga bermanfaat memperkuat sistem kekebalan tubuh.

Salah satu perusahaan yang bergerak di isu lingkungan yaitu Evoware telah mengembangkan pembungkus makanan alternatif ramah lingkungan berbahan dasar rumput laut. Motivasi terciptanya inovasi ini adalah untuk mengurangi sampah plastik yang banyak ditemui di wilayah perairan. Perusahaan ini membuat kemasan makanan yang terbuat dari bahan non-plastik dan 100% dapat di-biodegradasi. Kelebihan kemasan ini adalah memiliki ketahanan selama dua tahun jika disimpan di atas rak dan dapat dijadikan pupuk tanaman alami.

Secara lebih detail, dalam artikel Greeners (24/01/2018), keunggulan kemasan berbahan rumput laut ini adalah kemasannya dapat dimakan. Jadi jika Anda sedang membungkus makanan seperti hamburger, Anda tidak perlu repot untuk mengeluarkan kemasannya terlebih dahulu karena dapat dikonsumsi langsung bersama kemasannya.

rumput laut

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/rumput-laut-tanaman-laut-bernilai-ekonomi-tinggi/feed/ 0
Evoware, Pembungkus Ramah Lingkungan dari Kebaikan Laut https://www.greeners.co/ide-inovasi/evoware-pembungkus-ramah-lingkungan-kebaikan-laut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=evoware-pembungkus-ramah-lingkungan-kebaikan-laut https://www.greeners.co/ide-inovasi/evoware-pembungkus-ramah-lingkungan-kebaikan-laut/#respond Wed, 24 Jan 2018 15:05:39 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=19882 Evoware, perusahaan yang berbasis di Indonesia, termotivasi untuk membantu pemerintah upaya pembersihan lingkungan perairan dari sampah plastik dengan membuat kemasan makanan yang terbuat dari bahan non-plastik dan 100% dapat di-biodegradasi.]]>

Dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti Jenna Jambeck dan sudah dipublikasikan dalam jurnal Science tahun 2015, Indonesia menjadi negara penyumbang sampah plastik di laut terbesar kedua di dunia. Dari penelitian juga ditemukan fakta bahwa 90 persen sampah di laut merupakan sampah plastik dan diperkirakan akan lebih banyak sampah plastik di laut pada tahun 2050.

Dari isu-isu lingkungan itu, Evoware, perusahaan yang berbasis di Indonesia, termotivasi untuk membantu pemerintah upaya pembersihan lingkungan perairan dari sampah plastik dengan membuat kemasan makanan yang terbuat dari bahan non-plastik dan 100% dapat di-biodegradasi. Sebagai pembungkus makanan alternatif yang ramah lingkungan, kemasan ini diklaim tidak beracun dan bahkan aman untuk dikonsumsi karena berbahan dasar rumput laut.

evoware

Foto: inhabitat.com

Kelebihan kemasan Evoware ini adalah memiliki ketahanan selama dua tahun jika disimpan di atas rak dan dapat dijadikan pupuk tanaman alami. Selain itu, manfaat rumput laut seperti serat, mineral dan vitamin menjadi nilai lebih dari kemasan ini.

Jika digunakan untuk membungkus makanan seperti hamburger, anda tidak perlu mengeluarkan kemasannya terlebih dahulu karena dapat dikonsumsi langsung bersama kemasannya. Atau digunakan untuk membungkus bumbu mie instan, saat konsumen menuangkan air hangat untuk membuat mie, kemasannya akan larut.

evoware

Foto: Evoware via youtube

Seperti tertulis pada situs resminya, pembungkus Evoware tidak berasa dan tidak memiliki bau. Kemasan ini juga bisa digunakan untuk menyimpan barang-barang non-makanan seperti sabun atau bantalan saniter.

Dalam sebuah video yang diunggah pada channel YouTube resmi Evoware, David Christian selaku co-founder Evoware mengatakan, perusahaannya juga bertujuan untuk membantu petani rumput laut di negara ini. Indonesia merupakan negara penghasil rumput laut terbesar, akan tetapi banyak petani yang sulit menjual rumput laut karena rantai pemasaran yang panjang, tidak menghasilkan cukup uang atau berhutang kepada rentenir. Dan sayangnya, banyak rumput laut yang terbuang saat ini. Evoware bertujuan untuk meningkatkan pendapatan petani ini dengan mengubah rumput laut menjadi kemasan yang bebas limbah.

“Melalui produk Evoware, orang berevolusi untuk lebih dekat dengan alam dan menjalani kehidupan yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan,” tulis mereka.

Penulis: DS/G43

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/evoware-pembungkus-ramah-lingkungan-kebaikan-laut/feed/ 0
Caulerpa Sp., Anggur Laut yang Kaya Nutrisi https://www.greeners.co/flora-fauna/caulerpa-sp-anggur-laut-yang-kaya-nutrisi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=caulerpa-sp-anggur-laut-yang-kaya-nutrisi https://www.greeners.co/flora-fauna/caulerpa-sp-anggur-laut-yang-kaya-nutrisi/#respond Tue, 22 Aug 2017 09:31:16 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=18338 Pernahkah anda mencoba bahan lalapan yang berasal dari laut? Bahan lalapan yang satu ini tidak kalah enak untuk dicoba. Nama ilmiahnya adalah Caulerpa sp. atau dikenal sebagai anggur laut karena memiliki bentuk yang mirip dengan buah anggur.]]>

Hampir seluruh penduduk Indonesia familiar dengan istilah lalapan. Lalapan ialah makanan pendamping berupa sayur-sayuran mentah seperti daun kemangi, kubis/kol, selada dan mentimun, yang biasa dihidangkan bersama dengan lauk-pauk juga sambal.

Namun pernahkah anda mencoba bahan lalapan yang berasal dari laut? Bahan lalapan yang satu ini tidak kalah enak untuk dicoba. Nama ilmiahnya adalah Caulerpa sp. atau dikenal sebagai anggur laut karena memiliki bentuk yang mirip dengan buah anggur. Penamaan lokal untuk Caulerpa sp. pun beragam, ada yang menyebut Latoh, Latok, Lawi-lawi dan Lelatu. Tapi jangan terkecoh, anggur laut bukan tumbuh dari pohon di daerah pesisir. Tumbuhan ini merupakan bagian dari jenis rumput laut.

Caulerpa sp. adalah golongan alga hijau, thallus (cabang) berbentuk lembaran, batangan dan bulatan, berstruktur lembut sampai keras dan siphonous. Rumpun terbentuk dari berbagai ragam percabangan, mulai dari sederhana sampai yang kompleks seperti yang terlihat pada tumbuhan tingkat tinggi, ada yang tampak seperti akar, batang dan daun (Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, 2009).

Berdasarkan tulisan ilmiah Sunaryo dkk pada Jurnal Kelautan Tropis (2015), bahwa rumput laut termasuk jenis tanaman sederhana karena pada tanaman ini tidak dapat dibedakan antara akar, batang dan daun sejati. Seluruh bagian rumput laut Caulerpa sp. terdiri atas assimilator dan ramuli yang membentuk bulatan-bulatan seperti buah anggur.

Meskipun habitat awalnya berasal dari laut, akan tetapi Caulerpa sp. dapat dibudidayakan di kawasan pertambakan selama sirkulasi air pasang surut di kawasan pertambakan dapat terjaga dengan baik (Trono, 1988 dalam Sunaryo, 2015).

Caulerpa Sp

Caulerpa Sp. Foto: www.pifsc.noaa.gov

Keberadaan anggur laut tersebar hampir di seluruh perairan Indonesia. Umumnya mereka tumbuh di laut dangkal dengan aliran air yang tenang dan menempel pada substrat pasir. Tumbuhan ini memiliki spektrum kimia dan biologi yang cukup luas termasuk aktivitas antioksidan dalam menangkal radikal bebas.

Di Indonesia, Caulerpa sp. dimanfaatkan sebagai bahan makanan dengan cara dimakan mentah sebagai lalapan, urap atau sebagai sayur. Bahan makanan ini mempunyai kandungan gizi yang cukup tinggi sebagai sumber protein nabati, mineral maupun vitamin yang berbeda dengan tumbuhan darat.

Hasil penelitian menyatakan Caulerpa sp. memiliki protein, karbohidrat, serat, mikromineral (Fe, K, Ca), asam lemak, dan vitamin yang bermanfaat bagi tubuh manusia. Selain dapat dimanfaatkan lebih luas dalam bidang pangan, penelitian lain juga menyebutkan bahwa anggur laut ini dapat dimanfaatkan di sektor non pangan khususnya pada proses bioremediasi.

Keuntungan dari masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir adalah mereka dapat dengan mudah mengambil Caulerpa sp. langsung di alam. Untuk proses pengolahannya menjadi makanan pun mudah, dimana anggur laut ini diambil kemudian dicuci hingga bersih menggunakan air matang. Setelah itu direbus sebentar untuk membunuh bakteri yang tertinggal.

Anggur laut ini tidak hanya diminati di Indonesia saja. Beberapa negara seperti Jepang, Cina, Korea, Malaysia, Filipina dan Thailand, bahkan di belahan dunia seperti Amerika dan Eropa juga ikut mengkonsumsi Caulerpa sp. Di Amerika dan Eropa, Caulerpa sp. dikenal sebagai green caviar atau kaviar hijau.

Caulerpa Sp

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/caulerpa-sp-anggur-laut-yang-kaya-nutrisi/feed/ 0