sampah antariksa - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/sampah-antariksa/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sat, 11 May 2024 01:11:06 +0000 id hourly 1 Antisipasi Sampah Antariksa, Peneliti BRIN Lakukan Pemantauan https://www.greeners.co/aksi/antisipasi-sampah-antariksa-peneliti-brin-lakukan-pemantauan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=antisipasi-sampah-antariksa-peneliti-brin-lakukan-pemantauan https://www.greeners.co/aksi/antisipasi-sampah-antariksa-peneliti-brin-lakukan-pemantauan/#respond Sat, 11 May 2024 05:00:28 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=43750 Jakarta (Greeners) – Sampah antariksa atau space debris menjadi ancaman untuk keselamatan peluncuran satelit ke orbit dan keselamatan satelit yang masih beroperasi di antariksa. Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sampah antariksa atau space debris menjadi ancaman untuk keselamatan peluncuran satelit ke orbit dan keselamatan satelit yang masih beroperasi di antariksa. Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memantau objek tersebut untuk mengantisipasi dampak sampah antariksa.

Pada dekade terakhir, jumlah sampah antariksa telah meningkat pesat. Sampai saat ini, sekitar 24.000 sampah antariksa yang telah tercatat, dengan sekitar 19.000 di antaranya telah dikatalogkan oleh Space-Track. Namun, masih terdapat sampah antariksa yang belum tercatat dengan ukuran lebih kecil. Perkiraan sampah tersebut mencapai ratusan juta objek.

Sampah antariksa berpotensi bahaya jika masuk kembali (re-entry) dan kemudian jatuh ke bumi. Terutama, Indonesia yang memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia dan memiliki bentang seperdelapan lingkar bumi atau lebih kurang 5.000 kilometer. Hal itu sangat rentan mengalami atmosfer re-entry yang berpotensi jatuhnya benda-benda antariksa tersebut ke bumi.

BACA JUGA: Divers Clean Action Angkat 64 Kg Sampah dari Perairan Pulau Pramuka

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Antariksa BRIN, Neflia, sampah antariksa yang berpotensi mengalami re-entry atau masuk kembali dan jatuh ke bumi, biasanya berasal dari benda antariksa yang berukuran lebih dari sepuluh sentimeter.

“Dari total objek antariksa tersebut, terdapat 5.670 debris dengan 4.435 debris memiliki RCS antara 0,1 hingga 1 meter persegi. Kemudian, 1.236 debris dengan ukuran lebih besar dari 1 meter persegi,” tuturnya, pada Jurnal Review edisi 2 Pusat Riset Antariksa BRIN, di Bandung, Rabu (8/5).

Debris di Indonesia Cenderung Kecil

Potensi jatuhnya debris di Indonesia cenderung kecil. Hal ini berdasarkan pada berapa kali debris tersebut melewati wilayah Indonesia selama mereka berevolusi.

Kemudian, untuk Low Earth Orbit (LEO), sebagian besar debris memiliki periode mengelilingi bumi berkisar antara 90 hingga 120 menit. “Jadi, dalam sehari, debris akan mengelilingi bumi sebanyak 12 hingga 16 kali,” jelas Neflia.

Bagi debris yang inklinasinya lebih kecil dari sepuluh derajat, debris tersebut akan melewati area wilayah Indonesia setiap kali debris ini mengelilingi bumi.

Space debris dengan inklinasi berkisar antara sepuluh hingga 30 derajat akan melewati wilayah Indonesia enam sampai delapan kali sehari. Sedangkan space debris dengan inklinasi lebih besar dari 30 derajat akan melewati wilayah Indonesia tiga sampai lima kali sehari,” ujarnya.

BRIN Pilah Benda Antariksa

Neflia dan tim melakukan pemilahan pada benda antariksa yang mengorbit akan mereka kategorikan sebagai debris. Hal ini untuk mengetahui potensi bahaya dari benda antariksa berukuran lebih dari 10 sentimeter berdasarkan orbit parameternya.

BACA JUGA: Jakarta Hasilkan 7000 Ton Sampah Per Hari

“Berdasarkan inklinasi kami kelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu kurang dari 30 derajat, di antara 30 dan 60 derajat, dan lebih dari 60 derajat. Sedangkan berdasarkan ketinggian kami kelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu kurang dari 200 kilometer dan lebih dari 200 kilometer,” jelasnya.

Neflia berpendapat, pengelompokan pada ketinggian 200 kilometer mereka lakukan mengingat pada ketinggian tersebut benda antariksa menurun dengan sangat cepat. Hal itu akibat objek antariksa memasuki daerah atmosfer yang lebih rapat.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/antisipasi-sampah-antariksa-peneliti-brin-lakukan-pemantauan/feed/ 0
Tahun 2023, Jepang Siap Luncurkan Satelit Berbahan Kayu https://www.greeners.co/ide-inovasi/tahun-2023-jepang-siap-luncurkan-satelit-berbahan-kayu/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tahun-2023-jepang-siap-luncurkan-satelit-berbahan-kayu https://www.greeners.co/ide-inovasi/tahun-2023-jepang-siap-luncurkan-satelit-berbahan-kayu/#respond Mon, 26 Apr 2021 01:29:34 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=32507 Perusahaan Jepang Sumitomo Forestry kini tengah bekerja sama dengan Universitas Kyoto untuk mengembangkan penciptaan satelit berbahan kayu pertama di dunia. Sumitomo Forestry dan Universitas Kyoto terus melakukan berbagai penelitian untuk […]]]>

Perusahaan Jepang Sumitomo Forestry kini tengah bekerja sama dengan Universitas Kyoto untuk mengembangkan penciptaan satelit berbahan kayu pertama di dunia. Sumitomo Forestry dan Universitas Kyoto terus melakukan berbagai penelitian untuk menguji kemungkinan penggunaan kayu di luar angkasa.

Saat ini, para peneliti sedang mempelajari cara-cara untuk mengolah kayu menjadi material yang tahan akan perubahan suhu dan tahan akan radiasi dari sinar matahari. Jika penelitian tersebut menunjukkan hasil yang menjanjikan, satelit berbahan kayu kemungkinan akan diluncurkan pada tahun 2023.

Menurut Sumitomo Forestry, satelit kayu memberikan solusi ideal untuk mengurangi sampah antariksa. Ya, saat ini volume sampah di luar angkasa terus mengalami peningkatan. Forum Ekonomi Dunia memperkirakan bahwa dari sekitar 6.000 satelit yang ada di luar angkasa, 60% di antaranya sudah mati. Satelit yang sudah mati nantinya akan hancur secara perlahan, lalu meninggalkan partikel alumina dan logam lainnya di lapisan atmosfer.

Partikel alumina dan logam lainnya dapat bertahan selama berabad-abad di atmosfer dan berisiko untuk jatuh ke Bumi. Para peneliti juga percaya bahwa tumpukan partikel-partikel tersebut dapat menghabiskan lapisan ozon yang mengelilingi planet kita.

“Kami sangat khawatir dengan fakta bahwa bangkai satelit akan meninggalkan partikel alumina kecil yang akan mengapung di atmosfer selama bertahun-tahun. Jika sampah antariksa dibiarkan terus menerus tanpa ada tindakan, tentu saja kondisi lingkungan Bumi bisa terpengaruh,” ujar Takao Doi, seorang profesor dari Universitas Kyoto, kepada Inhabitat.

Satelit Kayu Tidak Meninggalkan Jejak Sampah

Guna menghindari lonjakan volume sampah antariksa di masa depan, Sumitomo Forestry dan Universitas Kyoto sengaja memilih kayu sebagai bahan utama dari satelit yang akan mereka rancang. Berbeda dengan satelit pada umumnya, satelit kayu dapat hancur dengan sendirinya tanpa menghasilkan sampah yang dapat mengancam keselamatan lingkungan Bumi. Satelit tersebut akan hancur terbakar jika telah selesai melakukan misinya. Selain itu, satelit kayu juga tidak akan menghalangi gelombang elektronik atau medan magnet Bumi.

Selain tidak meninggalkan jejak sampah dan tidak mengganggu medan magnet Bumi, Sumitomo Forestry juga mengatakan bahwa satelit kayu tidak akan melepaskan zat berbahaya saat terbakar nanti. Satelit kayu juga Mereka menilai bahwa satelit kayu ciptaan mereka merupakan satelit yang lebih bersih dan lebih ramah lingkungan.

Penulis: Anggi R. Firdhani

Sumber:

Inhabitat

Dezeen

 

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/tahun-2023-jepang-siap-luncurkan-satelit-berbahan-kayu/feed/ 0