sampah organik - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/sampah-organik/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 02 Feb 2026 09:55:29 +0000 id hourly 1 Alfamidi Ajak Komunitas Bank Sampah Kelola Sampah Organik Jadi Eco Enzyme https://www.greeners.co/aksi/alfamidi-ajak-komunitas-bank-sampah-kelola-sampah-organik-jadi-eco-enzyme/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=alfamidi-ajak-komunitas-bank-sampah-kelola-sampah-organik-jadi-eco-enzyme https://www.greeners.co/aksi/alfamidi-ajak-komunitas-bank-sampah-kelola-sampah-organik-jadi-eco-enzyme/#respond Mon, 02 Feb 2026 09:55:29 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=48070 Jakarta (Greeners) – Puluhan anggota komunitas bank sampah di Kecamatan Srengseng Sawah, Jakarta Selatan antusias mengikuti pelatihan pembuatan eco enzyme oleh Alfamidi di Bank Sampah Sakura, Srengseng Sawah, Rabu (28/1). […]]]>

Jakarta (Greeners) – Puluhan anggota komunitas bank sampah di Kecamatan Srengseng Sawah, Jakarta Selatan antusias mengikuti pelatihan pembuatan eco enzyme oleh Alfamidi di Bank Sampah Sakura, Srengseng Sawah, Rabu (28/1). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang ramah lingkungan.

Pelatihan tersebut merupakan bagian dari program Kampung Merdeka Alfamidi, yang berfokus pada pembangunan lingkungan berkelanjutan. Dalam kegiatan ini, peserta memanfaatkan sampah organik rumah tangga. Contohnya, sisa kulit buah dan sayuran mereka olah menjadi eco enzyme.

Eco enzyme merupakan cairan serbaguna yang dapat masyarakat gunakan untuk menyiram tanaman, membersihkan lantai, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya. Selain bermanfaat, pengolahan ini juga mampu mengurangi jumlah sampah organik yang berakhir di tempat pembuangan akhir.

Tak hanya praktik, peserta juga mendapatkan edukasi mengenai manfaat eco enzyme sebagai produk ramah lingkungan serta perannya dalam mendukung gaya hidup berkelanjutan. Pegiat lingkungan Tri Sugiarti, yang akrab disapa Menik, turut memandu proses pembuatan eco enzyme dan mendorong peserta untuk memulai pengolahan sampah organik dari rumah.

Eco enzyme bisa kita buat dengan cara sederhana dan bahannya mudah kita dapatkan. Selain mengurangi sampah, hasilnya juga bisa kita manfaatkan kembali untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar Menik.

Ruang Belajar

Sementara itu, Corporate Communication Manager Alfamidi, Retriantina Marhendra, mengatakan kegiatan ini menjadi ruang belajar bagi masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari sumbernya. Kegiatan tersebut juga menjadi wadah berbagi pengalaman dalam pengelolaan sampah.

“Melalui Kampung Merdeka Alfamidi, kami ingin mengajak masyarakat melihat sampah organik sebagai sesuatu yang bernilai. Dengan pengolahan sederhana, sampah bisa kita manfaatkan kembali dan memberi dampak positif bagi lingkungan,” ujar Retriantina.

Salah satu peserta, Fatur, mengaku senang dapat mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, pelatihan pembuatan eco enzyme dari sampah buah terasa seru dan bermanfaat. “Kegiatannya seru, kami belajar membuat eco enzyme dari sampah buah. Ke depannya, rencananya ingin saya terapkan juga bersama anak-anak karang taruna,” ungkapnya.

Ke depan, Alfamidi berkomitmen untuk terus menghadirkan program edukasi serupa dengan melibatkan komunitas lokal sebagai mitra utama dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/alfamidi-ajak-komunitas-bank-sampah-kelola-sampah-organik-jadi-eco-enzyme/feed/ 0
Pengelolaan Sampah Organik dari Sumber dapat Tekan Emisi Metana https://www.greeners.co/berita/pengelolaan-sampah-organik-dari-sumber-dapat-tekan-emisi-metana/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pengelolaan-sampah-organik-dari-sumber-dapat-tekan-emisi-metana https://www.greeners.co/berita/pengelolaan-sampah-organik-dari-sumber-dapat-tekan-emisi-metana/#respond Tue, 20 May 2025 06:04:04 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=46633 Jakarta (Greeners) – Pengurangan sampah sejak dari sumber menjadi langkah penting dalam menekan emisi metana di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Dalam hal ini, pengelolaan sampah organik harus menjadi prioritas utama […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pengurangan sampah sejak dari sumber menjadi langkah penting dalam menekan emisi metana di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Dalam hal ini, pengelolaan sampah organik harus menjadi prioritas utama untuk mencegah masuk ke TPA dan tidak terus-menerus berkontribusi menghasilkan gas berbahaya tersebut.

Senior Research Lead Dietplastik Indonesia, Zakiyus Shadicky, menegaskan bahwa timbunan sampah di TPA berkontribusi signifikan terhadap peningkatan emisi gas metana. Gas metana merupakan gas rumah kaca yang dampaknya terhadap pemanasan global jauh lebih berbahaya daripada karbon dioksida.

“Setelah lebih dari satu dekade kami melakukan intervensi pengurangan sampah plastik sekali pakai, kami tidak bisa menghiraukan bahwa sampah organik merupakan salah satu sampah yang ada di TPA,” ujarnya di Jakarta, Jumat (16/5).

Ia menambahkan, salah satu kunci pengelolaan sampah organik yang efektif adalah pemilahan sejak dari sumber, baik melalui sistem skala rumah tangga maupun jasa pengelolaan sampah terpercaya. Dengan pemilahan, sampah organik yang dihasilkan berkualitas dan dapat diolah kembali dengan optimal.

BACA JUGA: Pemda Perlu Gandeng Pengusaha untuk Kelola Sampah Organik

Selain itu, pendataan mengenai timbulan sampah dan potensi pengurangannya menuju TPA juga menjadi faktor penting. Data ini tidak hanya membantu dalam perencanaan pengelolaan sampah yang lebih efisien. Namun, juga menjadi acuan dalam menghitung potensi pengurangan emisi metana secara transparan dan akurat.

Sebagai bagian dari upaya ini, Dietplastik Indonesia melalui Proyek MERIT (Methane Emission Reduction Initiative for Transparency), telah mengukur emisi metana di tiga provinsi. Pengukuran tersebut mencakup pemetaan emisi metana dan komposisi sampah yang ada di TPA. Hal ini guna memperkuat basis data pengelolaan sampah dan emisi di Indonesia.

Tantangan Pengolah Sampah Organik

Besarnya timbulan sampah organik di TPA juga masih tercermin di wilayah Jakarta. Berdasarkan data Sistem Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) tahun 2024, hampir 50% komposisi sampah di Jakarta merupakan sampah organik atau sisa makanan. Sisanya sampah plastik dan jenis sampah lainnya. Sayangnya, sebagian besar sampah ini berakhir di TPA dan berpotensi menghasilkan emisi metana yang membahayakan lingkungan.

Padahal, dengan jumlahnya yang melimpah, sampah organik sebenarnya berpotensi besar untuk diolah kembali. Salah satunya melalui budidaya maggot. CEO Magalarva, Rendhia Labde, sebagai pelaku usaha pengolahan sampah organik dengan maggot, mengungkapkan bahwa masih ada tantangan besar dalam mendapatkan sampah organik.

“Tidak segampang itu mendapatkan akses untuk mendapatkan sampah organik yang sebenarnya melimpah.  Terutama mendapatkan sampah yang kualitasnya baik untuk kami olah. Di situlah kami di Magalarva terus berinovasi untuk mengembangkan bisnis sekaligus menyelesaikan masalah sampah,” jelas Rendhia.

BACA JUGA: Maggot, Lihat Lebih Dekat agar Tahu Khasiatnya

Untuk menciptakan perubahan yang lebih sistemik, keterlibatan masyarakat menjadi sangat penting. Salah satu contoh inisiatif lokal datang dari Koperasi Kompos RW 16 yang berada di Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur. Di sana, sebagian warga telah memilah sampah dari rumah dan menyerahkannya kepada koperasi untuk pengelolaannya.

Shanty Syahril selaku koordinator koperasi tersebut, menekankan pentingnya membentuk keterampilan kolektor data dalam sistem pengelolaan sampah rumah tangga.

Image untuk pengelolaan sampah itu tidak hanya kerja otot, tapi juga dengan otak. Saat ini, upaya yang kami lakukan bisa menjadi kebanggaan bagi warga kami sendiri,” ungkap Shanty.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/pengelolaan-sampah-organik-dari-sumber-dapat-tekan-emisi-metana/feed/ 0
Mahasiswa ITB Bangun Rumah Maggot di Jatinangor https://www.greeners.co/aksi/kelola-sampah-organik-mahasiswa-itb-bangun-rumah-maggot-di-jatinangor/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kelola-sampah-organik-mahasiswa-itb-bangun-rumah-maggot-di-jatinangor https://www.greeners.co/aksi/kelola-sampah-organik-mahasiswa-itb-bangun-rumah-maggot-di-jatinangor/#respond Sun, 22 Dec 2024 03:00:04 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=45517 Jakarta (Greeners) – Sekelompok mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) dari Environmental Heroes (ENVRZ!) Keluarga Mahasiswa Infrastruktur Lingkungan (KMIL) ITB membangun rumah maggot di Desa Sayang, Kecamatan Jatinangor, Sumedang. Hal itu […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sekelompok mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) dari Environmental Heroes (ENVRZ!) Keluarga Mahasiswa Infrastruktur Lingkungan (KMIL) ITB membangun rumah maggot di Desa Sayang, Kecamatan Jatinangor, Sumedang. Hal itu bertujuan untuk meningkatkan pengelolaan sampah organik di desa tersebut.

Pembangunan rumah maggot ini merupakan bagian dari kegiatan pengabdian masyarakat oleh mahasiswa ITB. Mereka merancang rumah maggot untuk dapat mengelola timbulan sampah organik dari minimal 1 hingga 2 RT. Selain itu, desain rumah tersebut juga mempertimbangkan seluruh aspek dalam proses budi daya maggot.

Rumah maggot terdiri dari rak untuk menampung wadah maggot berusia 5-14 hari (yang sudah panen). Di bagian bawah rak terdapat wadah untuk maggot dewasa yang sedang bertransformasi menjadi pupa. Selain itu, rumah maggot terbagi menjadi dua bagian.

BACA JUGA: Biospark 2024 ITB Jadi Ajang Inspirasi Inovasi Berbasis Sumber Daya Hayati

Bagian pertama berupa rak untuk menyimpan bak yang berisi maggot aktif yang sedang mendekonstruksi sampah sisa makanan. Sementara, bagian kedua berfungsi sebagai insectarium, tempat lalat Black Soldier Fly (BSF) berkembang biak dan bertelur.

“Pembangunan rumah maggot ini memiliki skala kecil. Kami berharap bisa menjadi contoh untuk RT RT lainnya dalam mengelola sampah nantinya,” ujar Wakil Ketua ENVRZ ITB, Raihan Aqeel dalam keterangan tertulisnya.

Pelatihan Budi Daya Maggot

Sementara itu, sekelompok mahasiswa ITB juga mengadakan pelatihan budi daya dan pemanfaatan maggot BSF. Mereka melibatkan calon pengadopsi maggot, yaitu pembudidaya unggas bebek dan ayam.

Pelatihan ini mencakup penjelasan tentang siklus hidup BSF dan manfaat ekonomi sirkularnya. Selain itu, terdapat sesi praktik yang meliputi demonstrasi teknik budidaya, pengelolaan kandang, hingga proses panen maggot.

BACA JUGA: Coway dan ITB Cetak Inovator Muda di Sektor Pengolahan Air

Saat ini, pengolahan sampah menjadi semakin penting seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk yang menyebabkan peningkatan sampah organik. Salah satu cara mengolah sampah organik adalah dengan menggunakan maggot, khususnya larva BSF.

Selain memberikan manfaat lingkungan, budidaya maggot juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Maggot dewasa bisa menjadi pakan alternatif bagi ternak seperti ayam, bebek, ikan, dan burung. Hal itu dapat membantu mengurangi biaya pakan konvensional. Kaya akan protein dan nutrisi, maggot menjadi pakan berkualitas tinggi yang mampu meningkatkan pertumbuhan dan kesehatan ternak.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/kelola-sampah-organik-mahasiswa-itb-bangun-rumah-maggot-di-jatinangor/feed/ 0
Hari Pangan Sedunia: Maggot dapat Dukung Ketahanan Pangan https://www.greeners.co/berita/hari-pangan-sedunia-maggot-dapat-dukung-ketahanan-pangan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hari-pangan-sedunia-maggot-dapat-dukung-ketahanan-pangan https://www.greeners.co/berita/hari-pangan-sedunia-maggot-dapat-dukung-ketahanan-pangan/#respond Fri, 18 Oct 2024 06:33:36 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=45002 Jakarta (Greeners) – Hari Pangan Sedunia pada 16 Oktober 2024 menyoroti pentingnya ketahanan pangan bagi masyarakat. Maggot atau Black Soldier Fly (BSF) berpotensi besar dalam mendukung ketahanan pangan dengan meningkatkan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Hari Pangan Sedunia pada 16 Oktober 2024 menyoroti pentingnya ketahanan pangan bagi masyarakat. Maggot atau Black Soldier Fly (BSF) berpotensi besar dalam mendukung ketahanan pangan dengan meningkatkan ketersediaan dan kualitas makanan sebagai sumber protein berkelanjutan.

Menurut data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), total sampah di Indonesia pada tahun 2023 mencapai 56 juta ton. Sekitar 39,87 persennya adalah sampah organik. Potensi sampah organik ini bisa mencapai antara 20 hingga 25 juta ton per tahun. Padahal, sampah tersebut berpotensi menjadi pakan maggot.

Direktur PT Maggot Indonesia Lestari, Markus Susanto, menyatakan bahwa maggot dapat mengubah sampah organik menjadi pupuk kompos dan pakan ternak kaya protein. Hasil pupuk dan pakan ternak itu bisa mendukung ketahanan pangan.

“Maggot bukan hanya membantu mengatasi masalah sampah organik, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan di Indonesia,” ucap Markus.

BACA JUGA: Maglor, Inovasi Pakan Ternak dari Maggot BSF dan Daun Kelor

PT Maggot Indonesia Lestari juga telah mengembangkan peternakan ayam dengan memberikan pakan maggot. Hasil riset menunjukkan bahwa hingga 50 persen pakan konsentrat (pakan ternak kaya nutrisi dalam volume kecil) dapat tergantikan oleh maggot. Dengan pakan ini, telur ayam akan memiliki kualitas tinggi, termasuk telur ayam omega 3.

Selain itu, kualitas daging ayam juga meningkat dan waktu panen menjadi lebih cepat, sekitar enam hingga tujuh hari lebih awal dibandingkan pakan konsentrat biasa. Ayam yang makan maggot menunjukkan kesehatan yang lebih baik, dengan produktivitas ayam petelur yang dapat bertahan hingga 80-100 minggu, dibandingkan dengan biasanya hanya 55-60 minggu.

Maggot Bantu Kurangi Emisi

Markus menambahkan, pemerintahan baru juga semakin memperhatikan isu karbon dan pengurangan emisi. Sampah organik menjadi salah satu penyumbang yang cukup besar terhadap emisi karbon.

Namun, dengan mengelola satu ton sampah organik menggunakan maggot, emisi karbon dapat berkurang sekitar 55 hingga 57 persen. Artinya, pengurangan karbondioksida (CO2) yang dapat tercapai juga cukup signifikan.

“Dengan cara ini, kita tidak hanya mengatasi masalah stunting dan ketahanan pangan, tetapi juga berkontribusi pada pengurangan emisi karbon,” ucap Markus.

Mengurangi Ketergantungan Impor

Direktur Penanganan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Novrizal Tahar mengatakan saat ini industri pakan ternak dan ikan di Indonesia mengimpor sekitar 800 ribu ton protein setiap tahunnya. Protein tersebut terdiri atas tepung jeroan dan bungkil kedelai.

Menurut Novrizal, apabila industri pengolahan sampah organik dengan teknologi maggot dapat berkembang dengan baik, maggot dapat menjadi komponen protein yang selama ini diimpor. Hal ini berpotensi mengurangi ketergantungan pada impor, serta berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi.

BACA JUGA: Kenali Manfaat Maggot sebagai Pengurai Sampah Organik

“Dengan pengolahan yang efisien, pakan ternak dan ikan akan lebih mudah dan murah didapatkan. Selain itu, proses ini juga dapat mengurangi limbah organik secara signifikan,” kata Novrizal.

Misalnya, 1 ton limbah organik dapat menghasilkan hampir 1 ton produk maggot, yang menunjukkan potensi besar untuk nilai ekonomi karbon. Ia juga menegaskan bahwa penerapan budi daya maggot dalam pengolahan sampah organik mendukung keberlanjutan lingkungan. Selain itu, teknologi ini juga meningkatkan ketersediaan pakan lokal.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/hari-pangan-sedunia-maggot-dapat-dukung-ketahanan-pangan/feed/ 0
Pemda Perlu Gandeng Pengusaha untuk Kelola Sampah Organik https://www.greeners.co/berita/pemda-perlu-gandeng-pengusaha-untuk-kelola-sampah-organik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pemda-perlu-gandeng-pengusaha-untuk-kelola-sampah-organik https://www.greeners.co/berita/pemda-perlu-gandeng-pengusaha-untuk-kelola-sampah-organik/#respond Wed, 16 Oct 2024 09:04:50 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=44987 Jakarta (Greeners) – Industri maggot berpotensi besar sebagai solusi efektif untuk mengatasi sampah organik di Indonesia. Namun, keberhasilannya memerlukan kolaborasi erat antara pemerintah daerah dan pengusaha maggot. Hal itu untuk […]]]>

Jakarta (Greeners) – Industri maggot berpotensi besar sebagai solusi efektif untuk mengatasi sampah organik di Indonesia. Namun, keberhasilannya memerlukan kolaborasi erat antara pemerintah daerah dan pengusaha maggot. Hal itu untuk memastikan mobilisasi yang efektif, pasokan bahan baku yang cukup, dan pengelolaan yang efisien.

Maggot atau Black Soldier Fly (BSF) adalah larva lalat yang menggunakan sampah organik sebagai sumber makanan. Dalam siklus hidupnya, larva ini berperan penting dalam mengurangi jumlah sampah di tempat pemrosesan akhir (TPA), yang dapat menyebabkan peningkatan gas metana dan emisi karbon.

BACA JUGA: Maggot, Lihat Lebih Dekat agar Tahu Khasiatnya

Menurut data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), total sampah di Indonesia tahun 2023 yang mencapai 56 juta ton, sekitar 39,87 persennya adalah sampah organik. Jika dihitung per tahun, potensi sampah organik tersebut bisa mencapai antara 20 hingga 25 juta ton.

Direktur PT Maggot Indonesia Lestari, Markus Susanto, mengungkapkan jumlah sampah organik di Indonesia sangat tinggi. Namun, pengusaha maggot seperti Markus sering menghadapi kekurangan bahan baku. Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam bisnis maggot.

Untuk mengatasi masalah ini, Markus menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah dan pengusaha maggot. Pemerintah dapat melibatkan pengusaha dalam pengelolaan sampah organik di daerah mereka, sehingga membantu pengusaha mendapatkan pasokan bahan baku.

Dorong Pemilahan Sampah

Markus juga menegaskan bahwa dukungan pemerintah daerah sangat penting untuk memobilisasi pengelolaan sampah organik. Sebagai pemegang kewenangan, pemerintah harus berani menerapkan aturan yang mendorong masyarakat, terutama pelaku industri seperti hotel, restoran, dan mal, untuk memilah sampah.

Aturan ini tidak hanya penting untuk memastikan pasokan sampah organik bagi pengusaha maggot, melainkan juga untuk membantu mengurangi timbulan sampah secara keseluruhan.

“Sulitnya mendapatkan sampah organik juga karena budaya pemilahan sampah memang masih sangat rendah. Namun, ketika kami bekerja sama dengan hotel, restoran, dan mal serta memberikan edukasi selama satu bulan, mereka akhirnya mulai memilah sampah mereka. Ini seharusnya menjadi landasan bagi pemerintah daerah untuk mendorong pemilahan yang lebih efektif,” kata Markus dalam wawancara dengan Greeners, Senin (14/10).

Direktur PT. Maggot Indonesia Lestari, Markus Susanto. Foto: Istimewa

Direktur PT. Maggot Indonesia Lestari, Markus Susanto. Foto: Istimewa

Pentingnya Konsistensi Program Budi Daya Maggot

Saat ini, banyak pemerintah daerah melaksanakan program budi daya maggot untuk mengatasi sampah organik. Markus mengapresiasi upaya itu, salah satunya seperti di Kota Bandung. Pihaknya juga pernah ikut membantu Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung saat TPA Sarimukti terbakar.

Data dari Perhimpunan Hotel dan Restoran se-Kota Bandung menunjukkan bahwa sampah organik yang dihasilkan mencapai sekitar 450 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 225 ton dapat dikelola oleh para pegiat maggot sebagai sumber bahan baku. Dengan potensi 225 ton pakan maggot ini, bisa dikelola oleh 22-23 pegiat budi daya maggot untuk memaksimalkannya.

Selain itu, PT Maggot Indonesia Lestari juga mendampingi beberapa daerah lainnya dalam pengelolaan sampah organik. Namun, budi daya maggot ini sering kali dianggap mudah oleh pemerintah. Mereka sering kali belum memahami tantangan yang ada dalam budi daya maggot ini.

“Saya menekankan bahwa budi daya maggot tidak semudah yang dibayangkan. Ini memerlukan pengelolaan yang profesional, keterampilan, dan pengetahuan yang memadai,” katanya.

Sebagai contoh, saat membangun Maggot Indonesia Lestari, Markus dan timnya telah melakukan riset mendalam. Beberapa anggota asosiasi maggot di Indonesia juga merupakan pakar di bidang ini, sehingga tidak semua orang dapat dengan mudah mengembangkan budi daya maggot.

Ia berharap agar pemerintah tidak membuat program budi daya maggot sekadar formalitas saja. Program itu perlu dipastikan berjalan secara berkelanjutan dan konsisten.

Maggot untuk Kurangi Emisi

Sementara itu, Direktur Penanganan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Novrizal Tahar menyatakan bahwa saat ini pemerintah pusat terus mengembangkan regulasi dan mendorong industrialisasi pengolahan sampah. KLHK juga mendorong semua pemerintah daerah untuk mengangkut sampah yang terpilah dan terjadwal.

“Ini akan mendukung pasokan bahan baku untuk industri maggot,” ucap Novrizal.

Direktur Penanganan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Novrizal Tahar. Foto: Istimewa

Direktur Penanganan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Novrizal Tahar. Foto: Istimewa

Senada dengan Markus, Novrizal juga berharap pemerintah daerah dapat mendorong hotel, kafe, dan restoran untuk mengumpulkan dan memilah sampah mereka. Hal ini akan menjadi potensi besar untuk pasokan sampah organik, yang dapat terwujud melalui pembuatan regulasi di masing-masing daerah.

Novrizal menekankan pentingnya pemahaman semua pemerintah daerah tentang kewajiban mereka dalam mitigasi pengelolaan sampah. Metode maggot adalah salah satu cara untuk menurunkan emisi gas rumah kaca. Sehingga, menjadi keharusan bagi pemerintah daerah untuk menyelesaikan masalah sampah sambil berkontribusi pada penurunan emisi yang berasal dari sampah organik.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/pemda-perlu-gandeng-pengusaha-untuk-kelola-sampah-organik/feed/ 0
Mahasiswa IPB Bantu Warga Bogor Kelola Sampah dengan Maggot https://www.greeners.co/aksi/mahasiswa-ipb-bantu-warga-bogor-kelola-sampah-dengan-maggot/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mahasiswa-ipb-bantu-warga-bogor-kelola-sampah-dengan-maggot https://www.greeners.co/aksi/mahasiswa-ipb-bantu-warga-bogor-kelola-sampah-dengan-maggot/#respond Sat, 05 Oct 2024 04:51:34 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=44907 Jakarta (Greeners) – Sekelompok mahasiswa IPB University membantu warga Sinarsari, Bogor, untuk mengelola sampah organik dengan menerapkan metode budidaya maggot. Inisiatif ini tidak hanya menyelesaikan masalah sampah di desa tersebut, […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sekelompok mahasiswa IPB University membantu warga Sinarsari, Bogor, untuk mengelola sampah organik dengan menerapkan metode budidaya maggot. Inisiatif ini tidak hanya menyelesaikan masalah sampah di desa tersebut, tetapi juga menghasilkan pupuk berkualitas tinggi.

Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Himpunan Mahasiswa Nutrisi dan Makanan Ternak (Himasiter), telah berkolaborasi dengan masyarakat untuk mengelola sampah organiknya secara mandiri.

Program ini merupakan inisiatif pertama yang memperkenalkan metode budidaya maggot di desa tersebut sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan sampah organik. Inisiatif ini berhasil mengubah tumpukan sampah organik–yang selama ini dianggap sebagai masalah–menjadi sumber daya bernilai ekonomis dan ramah lingkungan melalui budidaya maggot di Rumah Camago (cacing dan maggot).

BACA JUGA: Maggot, Lihat Lebih Dekat agar Tahu Khasiatnya

Maggot adalah istilah untuk menyebut larva lalat Black Soldier Fly (BSF) atau Hermetia illucens. Lalat ini memiliki siklus hidup maggot (larva), prepupa, pupa, dan serangga dewasa. Ada banyak manfaat dari hewan tersebut. Salah satunya sebagai pengurai sampah oraganik.

Maggot, atau larva dari lalat Black Soldier Fly (BSF), berperan penting dalam proses ini. Sampah organik yang tadinya menumpuk kini diolah menjadi pupuk berkualitas dan pakan ternak kaya protein.

Ketua pengurus Rumah Camago, Munir menjelaskan bahwa pengangkutan sampah dilakukan tiga hari sekali. Maggot akan memakan sampah organik tersebut, sementara untuk sampah anorganik akan truk sampah angkut. Ia mengaku, larva ini sangat efisien dalam menguraikan bahan organik, mempercepat proses dekomposisi, sekaligus menghasilkan pupuk organik berkualitas tinggi.

“Selain itu, maggot dewasa juga dapat menjadi sumber pakan ternak yang tinggi protein sehingga meningkatkan produktivitas peternakan lokal,” ungkap Munir lewat keterangan tertulisnya dalam laman Berita IPB, Jumat (4/10).

Dukungan Warga

Berita IPB melansir bahwa keberhasilan program ini tidak terlepas dari dukungan masyarakat Desa Sinarsari. Ketua program Rumah Camago, Ilham Prasetyo menyatakan pihaknya sangat bersyukur atas keterlibatan warga.

“Mereka tidak hanya menerima manfaat dari program ini, tetapi juga aktif dalam proses pengelolaan sampah organik menjadi produk bernilai tambah,” kata Ilham.

Bulan ini, hasil panen tim PPKO Himasiter mencapai sekitar 30 kilogram maggot. Meskipun ini merupakan langkah awal yang menggembirakan, Ilham mencatat hasil tersebut masih di bawah potensi maksimal. Selain itu, pupuk organik yang dihasilkan sangat diminati oleh para petani lokal karena kaya akan nutrisi.

Mahasiswa IPB Edukasi Warga

Dalam menghadapi tantangan tersebut, mahasiswa IPB University melakukan edukasi dan penyuluhan secara berkala. Hal itu untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah organik. Tim menekankan bahwa mengelola sampah organik tidak hanya mengurangi beban lingkungan, melainkan juga meningkatkan pendapatan ekonomi warga melalui hasil panen maggot dan pupuk organik.

BACA JUGA: Kenali Manfaat Maggot sebagai Pengurai Sampah Organik

Irma, salah satu warga yang terlibat dalam program ini, awalnya tidak tertarik karena tidak paham apa itu maggot. Namun, setelah mengikuti pelatihan dan melihat hasilnya, ia termotivasi untuk mengumpulkan sampah organik dan menyadarkan warga sekitar.

Selain itu, Ilham pun optimistis bahwa dengan meningkatnya kesadaran masyarakat, hasil panen maggot di masa mendatang akan semakin optimal.

“Kami yakin program ini akan terus berkembang dan menjadi solusi berkelanjutan bagi pengelolaan sampah organik di Desa Sinarsari. Partisipasi aktif masyarakat sangat penting untuk mencapai hasil yang lebih maksimal,” imbuhnya.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/mahasiswa-ipb-bantu-warga-bogor-kelola-sampah-dengan-maggot/feed/ 0
Pemkab Sleman Tak Lagi Angkut Sampah Organik Warga https://www.greeners.co/berita/pemkab-sleman-tak-lagi-angkut-sampah-organik-warga/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pemkab-sleman-tak-lagi-angkut-sampah-organik-warga https://www.greeners.co/berita/pemkab-sleman-tak-lagi-angkut-sampah-organik-warga/#respond Wed, 15 May 2024 03:29:16 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=43789 Jakarta (Greeners) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman tidak lagi melayani pengangkutan sampah organik warga. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Yogyakarta menilai Pemkab Sleman telah melepas dan membiarkan tanggung jawab permasalahan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman tidak lagi melayani pengangkutan sampah organik warga. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Yogyakarta menilai Pemkab Sleman telah melepas dan membiarkan tanggung jawab permasalahan sampah yang ada di wilayahnya. Keputusan itu perlu dibarengi dengan pengelolaan sampah organik di tingkat RT dan RW.

“Masyarakat dibebankan mengelola sampah sendiri tanpa adanya dukungan dari pemerintah kabupaten. Padahal, dalam undang-undang pengelolaan sampah, pemerintah daerah mempunyai tanggung jawab mengelola sampah,” ungkap Kepala Divisi Kampanye Walhi Yogyakarta  Elki lewat keterangan tertulisnya, Senin (13/5).

Elki menambahkan, Pemkab Sleman berdalih bahwa kebijakan tidak diangkutnya sampah tersebut merupakan respons dari anjuran desentralisasi pengelolaan sampah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Pemerintah mengeklaim bahwa Kabupaten Sleman telah membangun tempat pengelolaan sampah terpadu TPST di beberapa titik. Dalam surat tersebut tertulis bahwa sampah organik dapat busuk dan mengurangi kualitas pengelolaan sampah di TPST.

“Sleman merupakan wilayah yang belum mempunyai fasilitas umum penunjang pengelolaan sampah, khususnya sampah organik. Apabila hanya dibebankan ke masyarakat, tentu saja hal tersebut akan membuat masyarakat semakin kesulitan di tengah semakin menyempitnya lahan-lahan di perkotaan,” tambah Elki.

BACA JUGA: Eco Enzyme Jadikan Sampah Bermanfaat

Kebijakan Pemkab Sleman akan semakin menyulitkan posisi warga, di tengah semakin sempitnya lahan-lahan di perkotaan seperti di Sleman. Masyarakat yang tidak mempunyai lahan sendiri akan kesulitan untuk mengelola sampah organiknya.

Walhi Yogyakarta memberikan beberapa rekomendasi. Pertama, pemerintah harus menyediakan fasilitas penunjang pengelolaan sampah organik di Kabupaten Sleman. Selanjutnya, menyediakan pendampingan pengelolaan sampah organik di tingkat kecil seperti RT dan RW di wilayah Sleman.

“Menyediakan anggaran juga penting untuk menunjang pengelolaan sampah organik di wilayah Sleman,” imbuh Elky.

Ilustrasi tempat pembuangan sampah. Foto: AZWI

Ilustrasi tempat pembuangan sampah. Foto: AZWI

Masyarakat Perlu Pendampingan untuk Mengelola Sampah

Sementara itu, sampah di Kabupaten Sleman yang tidak terkelola akan terus dikirim ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Piyungan. Tak hanya menampung sampah Sleman, TPA tersebut menjadi tempat penampungan dari beberapa wilayah di Provinsi DIY, di antaranya Kabupaten Bantul, Gunung Kidul, Kulon Progo, dan Kota Yogyakarta. Jumlah sampah hariannya pun tidak sedikit. Tercatat pada tahun 2022 ada 757,2 ton per hari yang terkirim ke TPA Piyungan.

Menurut Elky, perlu pendampingan pengelolaan sampah dari skala RT dan RW. Sebab, dari beberapa riset Walhi Yogyakarta, pengelolaan sampah saat ini masih minim pendampingan. Sehingga, pengelolaan sampah oleh warga kurang maksimal.

BACA JUGA: BSF Hilangkan Sampah Dalam Dua Hari

“Tim Walhi menemukan fakta di lapangan bahwa model pengelolaan sampah seperti bank sampah biopori itu kurang pendampingan dan pengawasan,” kata Elky keapada Greeners.

Apabila sampah organik tidak terkelola, itu akan menimbulkan air lindi di TPA yang menyebabkan pencemaran air dan tanah. Bahkan, air lindi juga bisa mencemari sawah sehingga menyebabkan gagal panen.

“Sampah organik yang menumpuk di TPA juga menimbulkan gas metan dan bisa meningkatkan emisi,” ungkap Elky.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/pemkab-sleman-tak-lagi-angkut-sampah-organik-warga/feed/ 0
TPA Penuh, Sampah Organik Perlu Dikelola dengan Bijak https://www.greeners.co/berita/tpa-penuh-sampah-organik-perlu-dikelola-dengan-bijak/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tpa-penuh-sampah-organik-perlu-dikelola-dengan-bijak https://www.greeners.co/berita/tpa-penuh-sampah-organik-perlu-dikelola-dengan-bijak/#respond Wed, 01 Nov 2023 06:55:42 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=42145 Jakarta (Greeners) – Sampah organik yang menumpuk di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) berkontribusi besar terhadap kebakaran di TPA. Pembatasan kiriman sampah tersebut ke TPA dapat berdampak signifikan dalam mencegah kebakaran. […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sampah organik yang menumpuk di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) berkontribusi besar terhadap kebakaran di TPA. Pembatasan kiriman sampah tersebut ke TPA dapat berdampak signifikan dalam mencegah kebakaran. Sampah tersebut perlu dikelola secara bijak sejak dari sumbernya.

Jenis sampah organik yang mengandung gas metana yang tinggi ini meliputi sisa makanan, sampah pekarangan, dan bahan biodegradable lainnya. Pengelolaan sampah yang tidak benar bisa merusak lingkungan.

Bahan limbah tertentu, terutama bahan organik, dapat mengalami pembakaran spontan apabila pengelolaannya tidak baik. Hal ini terjadi ketika panas dari penguraian bakteri dan reaksi kimia mencapai titik yang dapat menyulut bahan di sekitarnya.

BACA JUGA: TPA Penuh Cerminan Tata Kelola Sampah Belum Efektif

Founder dan Penasihat Senior Nexus3 Foundation, Yuyun Ismawati mengatakan dengan pemilahan dan penanganan di sumber, emisi gas rumah kaca dari dekomposisi sampah organik dapat dihindari. Kemudian, hal ini juga dapat membantu pemerintah mencapai target pengurangan 30% emisi metana.

“Secara spasial, sampah organik mengambil bagian terbesar ruang sampah di TPA. Dengan mengalihkannya ke fasilitas pengomposan atau penguraian secara anaerobik, kita dapat menghemat ruang atau sel TPA dan memperpanjang umurnya,” ucap Yuyun melalui keterangan tertulis.

Selain itu, hal ini juga akan mengurangi kebutuhan lokasi TPA baru yang sulit dibangun karena kelangkaan lahan dan penolakan masyarakat.

Ilustrasi sampah organik. Foto: Freepik

Ilustrasi sampah organik. Foto: Freepik

Sampah Organik Bisa Menjadi Kompos

Sementara itu, Yuyun menambahkan, sampah organik kaya akan unsur hara. Sampah tersebut dapat menghasilkan kompos. Pengomposan mengembalikan nutrisi berharga ke dalam tanah, meningkatkan kesuburan dan struktur tanah, serta menahan air.

“Penggunaan kompos membantu mengurangi kebutuhan pupuk sintetis, menghemat air, dan mendukung pertanian berkelanjutan,” tambah Yuyun.

Di sisi lain, mempromosikan dan menerapkan praktik pengelolaan sampah di sumber juga dapat membatasi jumlah kiriman sampah organik ke TPA. Kemudian, dapat mendidik individu, dunia usaha, dan komunitas tentang pentingnya pengalihan sampah tersebut.

BACA JUGA: Darurat Sampah, TPA Sarimukti Bandung Terancam Tutup

Tak sekadar itu, penerapan praktik pengelolaan sampah juga bisa menyediakan infrastruktur serta sumber daya untuk pengelolaan sampah organik yang efektif. Selain itu, dapat berkontribusi pada sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.

“Untuk itu, pemerintah harus menyediakan fasilitas yang memudahkan dan memampukan masyarakat dalam menerapkan 3R. Sehingga, warga dapat memilah sampah di sumber, lalu mengalokasikan dana pada solusi yang lebih berkelanjutan,” ungkap Yuyun.

Upaya Intensif bisa Atasi Permasalahan Sampah

Upaya intensif dalam pengomposan, pengelolaan sanitary landfill, dan pengembangan controlled landfill juga dapat membantu mengatasi permasalahan sampah domestik.

“Pendekatan ini akan membantu dalam manajemen sampah rumah tangga yang lebih baik. Selain itu, Food Loss Waste (FLW) perlu diatasi dari hulu. Caranya dengan meningkatkan efisiensi pengelolaan produk pertanian dan pangan untuk mengurangi emisi sebesar 56% dari sektor makanan pada tahun 2045,” kata Yuyun.

Menurutnya, upaya-upaya ini merupakan langkah penting dalam mencapai tujuan pengelolaan sampah dan emisi yang lebih berkelanjutan. Tentunya bertujuan untuk mendukung lingkungan yang lebih sehat dan berkelanjutan di masa depan.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/tpa-penuh-sampah-organik-perlu-dikelola-dengan-bijak/feed/ 0
Metode Takakura, Cara Tepat untuk Mengompos Sampah Organik https://www.greeners.co/gaya-hidup/metode-takakura-cara-tepat-untuk-mengompos-sampah-organik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=metode-takakura-cara-tepat-untuk-mengompos-sampah-organik https://www.greeners.co/gaya-hidup/metode-takakura-cara-tepat-untuk-mengompos-sampah-organik/#respond Thu, 12 Oct 2023 06:01:45 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=41939 Metode takakura merupakan salah satu cara mengompos sampah organik untuk skala rumah tangga. Untuk mengurangi timbunan sampah, khususnya sampah organik, kamu bisa memberdayakannya menjadi pupuk kompos. Pupuk kompos ialah salah satu […]]]>

Metode takakura merupakan salah satu cara mengompos sampah organik untuk skala rumah tangga. Untuk mengurangi timbunan sampah, khususnya sampah organik, kamu bisa memberdayakannya menjadi pupuk kompos.

Pupuk kompos ialah salah satu pupuk organik buatan manusia yang dibuat dari proses pembusukan sisa-sisa bahan organik. Proses pengomposan dapat berlangsung secara aerobik dan anaerobik yang saling menunjang pada kondisi lingkungan tertentu. Proses ini disebut sebagai dekomposisi atau penguraian.

Yuk, simak tips mengompos dengan metode takakura berikut ini!

Jenis Sampah yang Diolah

Sebelum memulai metode takakura ini, ketahui jenis sampah apa saja yang dapat diolah. Hal ini bertujuan agar hasil pembuatan pupuk kompos menjadi maksimal. 

Dalam artikel ilmiah karya Muhammad Johan Widikusyanto bertajuk “Membuat Kompos dengan Metode Takakura”, jenis yang pertama adalah sisa sayuran ataupun bahannya. Idealnya, sisa sayuran tersebut belum basi. Apabila sisa sayuran yang kamu miliki telah basi, sebaiknya cuci sayuran tersebut terlebih dahulu. Kemudian, peras dan buang airnya.

BACA JUGA: Eco Enzyme Jadikan Sampah Organik Bermanfaat

Berikutnya adalah jenis sampah yang berasal dari sisa nasi. Kemudian, kamu dapat memanfaatkan jenis sampah dari sisa ikan, ayam, kulit telur, dan sejenisnya. Selanjutnya adalah jenis sampah buah yang lunak (anggur, kulit jeruk, apel, dan lain-lain).

Dalam memanfaatkan sampah buah, hindari memasukkan biji dan kulit buah yang keras seperti biji salak, kulit kelapa dan kulit durian. Selanjutnya, kamu dapat memanfaatkan jenis sampah dari daun-daunan.

Alat dan Bahan Komposter Metode Takakura

Masukkan sampah rumah tangga ke dalam keranjang khusus selama beberapa waktu. Bahan yang digunakan adalah keranjang yang bisa terbuat dari plastik, bambu, atau bahan lain yang dindingnya berlubang. Hal ini bertujuan agar menghasilkan sirkulasi udara.

Kemudian, kamu memerlukan kardus yang besarnya sesuai dengan besar keranjang. Kardus ini berfungsi sebagai tempat proses pengomposan dan untuk menjaga kelembapan. Bahan lainnya adalah sekam, dedak, dan bakteri pengurai atau bio starter.

Dilansir Media Center Sleman, bakteri pengurai bisa dibuat sendiri dengan campuran air 12 liter, tape ketela 0,5 kg, tempe 0,25 kg, susu fermentasi 1 botol, dan tetes debu 2 gelas.

Selanjutnya, ada juga biang bakteri padat yang terbuat dari campuran dedak dan sekam dengan perbandingan 1:2. Kemudian, tambahkan bakteri cair dan air secukupnya. Hal ini bertujuan untuk menjaga kelembapan. 

Metode takakura merupakan salah satu cara mengompos sampah organik untuk skala rumah tangga. Foto: Dini Jembar Wardani

Metode takakura merupakan salah satu cara mengompos sampah organik untuk skala rumah tangga. Foto: Dini Jembar Wardani

Cara Membuat Kompos Metode Takakura

Takakura Home Method Composting merupakan metode pembuatan kompos untuk mendaur-ulang sampah dapur. Syaratnya adalah harus higienis, tidak berbau, dan tidak jorok. 

Cara membuat kompos dengan metode takakura ini ternyata sederhana, lho. Langkah pertama, masukkan kardus sesuai ukuran keranjang. Letakkan sekam yang sudah dijahit menggunakan kain jaring hingga menyerupai bantal. Sekam ini berfungsi menyerap air lindi agar bagian alas tidak terlalu lembap.

BACA JUGA: BSF Hilangkan Sampah Organik dalam Dua Hari

Langkah berikutnya, masukkan sampah rumah tangga dalam kondisi tercacah. Setelah itu, tutup keranjang menggunakan sekam. Kemudian, tutup dengan kain hitam agar terhindar dari lalat dan serangga serta menjaga kelembapannya. Aduk campuran biang bakteri dan sampah tersebut setiap hari untuk mempercepat pembusukan.

“Proses yang berlangsung baik ditandai dengan suhu yang hangat, tidak berbau dan pembusukan berjalan cepat,” ujar Endarwati, kader penggerak masyarakat di Padukuhan Penen, Desa Donoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman.

Cara Memanen Kompos Metode Takakura 

Apabila kompos di dalam keranjang metode takakura telah penuh, ambil sepertiganya dan matangkan selama seminggu. Untuk mematangkannya, biarkan atau angin-anginkan di tempat yang tidak terkena sinar matahari secara langsung. Sementara, sisanya yang dua per tiga bisa kita gunakan kembali sebagai starter untuk pengolahan berikutnya.

Kompos dengan metode takakura sudah terbentuk sempurna apabila teksturnya seperti tanah, warna cokelat kehitaman, dan tidak berbau. Untuk menguji kualitas kompos tersebut, kamu dapat larutkan dalam air bersih.

Kompos yang memiliki kualitas baik akan tenggelam. Apabila ada yang terapung, berarti material tersebut belum menjadi kompos. Kualitas air akan tetap menjadi bersih apabila air berubah warnanya jadi kecokelatan. Artinya, dalam kompos terdapat cairan hasil fermentasi anaerobik.

 

Penulis: Maula Sulthoni

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/metode-takakura-cara-tepat-untuk-mengompos-sampah-organik/feed/ 0
Homepost, Alat Kompos Praktis yang Tidak Mengeluarkan Bau https://www.greeners.co/ide-inovasi/homepost-alat-kompos-praktis-yang-tidak-mengeluarkan-bau/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=homepost-alat-kompos-praktis-yang-tidak-mengeluarkan-bau https://www.greeners.co/ide-inovasi/homepost-alat-kompos-praktis-yang-tidak-mengeluarkan-bau/#respond Sat, 05 Aug 2023 04:00:41 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=41077 Jumlah sampah organik yang lingkungan kantor hasilkan setiap harinya pasti besar. Sampah ini dapat masuk proses pengomposan. Desainer Turki, Alp Cakin menciptakan Homepost, perangkat pengomposan yang dapat pengguna gunakan di […]]]>

Jumlah sampah organik yang lingkungan kantor hasilkan setiap harinya pasti besar. Sampah ini dapat masuk proses pengomposan. Desainer Turki, Alp Cakin menciptakan Homepost, perangkat pengomposan yang dapat pengguna gunakan di dalam ruangan tanpa mengeluarkan bau tak sedap.

Homepost adalah stasiun pengomposan yang Alp rancang khusus untuk mempercepat proses pengomposan, mencegah penyebaran bau, dan menawarkan ruang penyimpanan tambahan. Dengan memanfaatkan sistem ini, seseorang dapat dengan cepat menghasilkan kompos kaya nutrisi di rumah atau di kantor.

Alat canggih ini mengomposkan berbagai bahan sampah organik. Sampah untuk kompos meliputi plastik biodegradable, kertas bekas, kulit kacang, teh celup, ampas kopi, sisa buah dan sayuran, dan kulit telur. Homepost memastikan bahwa semua limbah kantor biasa dapat pengguna ubah menjadi kompos kaya nutrisi.

Modul akselerasi mempercepat proses pengomposan Homepost. Pisau bawaan di alat ini memarut bahan limbah lalu dihancurkan di antara kepala penghancur dan alas bawah.

Melalui celah di alas bawah, material yang sudah alat hancurkan jatuh ke dalam kompartemen penyimpanan modul akselerasi. Ruang bawah memiliki volume 4,5 liter, sementara tangki kompos tambahan dengan kapasitas 8,5 liter menyediakan ruang penyimpanan ekstra.

Tidak Timbulkan Bau

Tidak adanya bau di Homepost berkat filter karbon aktif. Filter ini secara efektif menetralkan bau tak sedap yang mungkin timbul selama proses pengomposan. Fitur tersebut memastikan bahwa stasiun pengomposan dapat pengguna tempatkan dengan nyaman di lingkungan kantor tanpa menimbulkan gangguan.

Salah satu fitur penting dari Homepost adalah konstruksinya yang ramah lingkungan. Stasiun pengomposan terbuat dari polietilen hijau, bahan berkelanjutan yang berasal dari tebu Brasil.

Bahan ini tidak hanya memberikan daya tahan yang sangat baik tetapi juga memiliki keunggulan 100 % berkelanjutan.

Miliki Bentuk yang Praktis

Dalam hal kepraktisan dan kenyamanan, Homepost memiliki lengan berputar yang melayani berbagai keperluan. Pertama, memungkinkan produk mudah diangkut. Sebab, lengan dapat dilipat dan mengurangi volumenya. Selain itu, lengan dipasang dengan saluran pada poros lengan, memungkinkan ventilasi yang baik di dalam sistem pengomposan.

Homepost merevolusi pengomposan di lingkungan kantor dengan memberikan solusi yang efisien dan bebas bau untuk pengelolaan sampah organik. Khususnya, jika menggunakan kembali bahan limbah, Homepost juga mendorong praktik berkelanjutan dan berkontribusi untuk masa depan yang lebih hijau.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

Sumber : Yanko Design 

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/homepost-alat-kompos-praktis-yang-tidak-mengeluarkan-bau/feed/ 0
Eco Enzyme Jadikan Sampah Organik Bermanfaat https://www.greeners.co/berita/eco-enzyme-jadikan-sampah-organik-bermanfaat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=eco-enzyme-jadikan-sampah-organik-bermanfaat https://www.greeners.co/berita/eco-enzyme-jadikan-sampah-organik-bermanfaat/#respond Tue, 11 Jul 2023 06:15:42 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=40756 Jakarta (Greeners) – Sampah organik dapat menambah beban di tempat pembuangan akhir (TPA) jika tidak dikelola dengan baik. Mengubah sampah organik melalui fermentasi menjadi eco enzyme bisa menjadi solusi mengatasi […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sampah organik dapat menambah beban di tempat pembuangan akhir (TPA) jika tidak dikelola dengan baik. Mengubah sampah organik melalui fermentasi menjadi eco enzyme bisa menjadi solusi mengatasi penumpukkan sampah, bahkan membantu mengurangi emisi di udara.

Eco enzyme merupakan hasil fermentasi sampah organik seperti ampas kulit buah dan sayuran, gula (gula merah atau gula tebu), dan air. Setelah fermentasi, warnanya akan berubah menjadi cokelat tua dan memiliki aroma asam manis yang kuat. Sebanyak 54 % komposisinya berasal dari sampah organik.

Proses fermentasi berlangsung selama 90 hari. Fermentasi menghasilkan alkohol di bulan pertama, bulan kedua menghasilkan cuka, dan enzim dihasilkan di bulan ketiga. Dalam fase ini eco enzyme dapat disaring dan dipanen.

Sampah organik yang menjadi eco enzyme ini dapat membantu mengurangi emisi gas karbon dioksida yang berasal dari aktivitas manusia. Proses fermentasi akan melepaskan gas ozon (O3) dan mengurangi kadar karbon dioksida (CO2).

Ketua Eco Enzyme Nusantara Jakarta, Bogor, Depok dan Bekasi, Ketut Budiyanto mengatakan, eco enzyme memiliki banyak manfaat salah satunya bisa memperbaiki kualitas udara, air, dan pupuk pertanian.

“Manfaat eco enzyme sangat bagus disemprot ke udara, bisa kurangi emisi, suhu bumi, dan berfungsi untuk membunuh bakteri-bakteri patogen yang ada di udara, dia akan terurai,” kata Ketut kepada Greeners di Jakarta, Senin (10/7).

Beberapa daerah pun telah melakukan penyemprotan eco enzyme ke udara. Misalnya di wilayah Bandung, Klaten, dan Denpasar. Beberapa kegiatan tersebut digelar sebagai langkah meningkatkan kualitas udara dan memperbaiki lapisan ozon.

Selanjutnya, pada masa pandemi Covid-19, komunitas yang Ketut miliki ini juga telah bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia untuk menyemprotkan cairan serbaguna ini ke udara sebagai pengganti desinfektan.

Eco Enzyme Cairan Serbaguna

Sebagai cairan serbaguna, manfaatnya beragam dalam kehidupan sehari-hari seperti sabun cuci baju, pembersih toilet, dan pembersih alat dapur. Tak sekadar itu, cairan ini juga berguna untuk pupuk pertanian dan obat luka.

“Manfaat kalau untuk pertanian ini bagus untuk mengurai zat-zat kimia di lahan. Sebab, selama ini pertanian menggunakan pupuk kimia itu kan merusak tanah, eco enzyme mengurangi kimia di tanah itu. Sehingga tanah lebih subur,” tambah Ketut.

Penemu eco enzyme, Rosukon Poompanvong mengemukakan, cairan serbaguna ini bisa menjadi penyubur tanah tandus dan menambahkan kesuburuan tanah.

Nusa Tenggara Timur yang kondisinya gersang dan tandus kini bisa menghasilkan buah dan sayur yang subur berkat cairan serbaguna ini. Ketut menambahkan, cairan serbaguna ini tersebut telah digunakan sebagai pupuk di sana.

perhutanan sosial

Masyarakat mengelola lahan pertanian. Foto: pxhere.com

Pembuatannya Mudah

Pembuatan cairan serbaguna ini sangat mudah. Alat dan bahan juga cukup sederhana seperti wadah yang lebar, sampah organik sayur dan buah, air, serta gula (gula merah atau gula tebu).

Fermentasinya menggunakan formula perbandingan kulit buah, gula dan air adalah 3:1:10. Pertama masukkan bahan organik yang telah dicuci bersih ke dalam wadah. Kemudian isi air sebanyak 60 % dan air tersebut akan dibagi 10 untuk mengetahui jumlah gula yang akan kita gunakan.

Selanjutnya, masukkan gula merah yang telah dicincang, lalu tekan-tekan bahan organiknya dan tutup rapat. Pastikan tutup wadah rapat dan simpan di tempat yang sejuk.

Ketut menyarankan, gunakan minimal lima bahan organik atau kulit buah dan sayur. Jika akan kita gunakan untuk pertanian, sebaiknya menggunakan bahan organik sayuran.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/eco-enzyme-jadikan-sampah-organik-bermanfaat/feed/ 0
Adinia Wirasti, Pemain AADC Pilah Sampah Demi Jaga Bumi https://www.greeners.co/gaya-hidup/adinia-wirasti-pilah-sampah-demi-menjaga-bumi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=adinia-wirasti-pilah-sampah-demi-menjaga-bumi https://www.greeners.co/gaya-hidup/adinia-wirasti-pilah-sampah-demi-menjaga-bumi/#respond Wed, 01 Mar 2023 04:00:20 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=39147 Artis Adinia Wirasti memiliki concern yang besar terhadap masalah sampah. Ia percaya bahwa kebiasaan-kebiasaan kecil seperti memilah sampah dapat berkontribusi dalam menjaga bumi. Perempuan kelahiran 19 Januari 1987 ini rupanya […]]]>

Artis Adinia Wirasti memiliki concern yang besar terhadap masalah sampah. Ia percaya bahwa kebiasaan-kebiasaan kecil seperti memilah sampah dapat berkontribusi dalam menjaga bumi.

Perempuan kelahiran 19 Januari 1987 ini rupanya telah membiasakan memilah sampah di rumah. Ia biasa memilah sampah agar tak menimbulkan bau.

“Kalau aku pribadi, I can’t say for other houses ya. Cuma kalau rumahku pribadi yang jelas jauh lebih tidak bau gitu rumahnya karena sampahnya tidak campur,” katanya baru-baru ini, saat Greeners temui usai acara di kawasan Sarinah.

Bahkan, salah satu pemain Ada Apa dengan Cinta (AADC) ini tak membuang langsung sampah anorganik seperti sampah plastik. Tapi ia cuci terlebih dahulu.

“Jadi kalau plastik itu tidak langsung dibuang tapi paling tidak di dalamnya dikeluarkan dulu karena ada food waste yang harus kita pisah,” ujar dia.

Konsep Pilah Sampah ala Adinia Wirasti

Meski terkesan ribet, tapi pemeran Mendua telah terbiasa dengan hal ini. Bahkan, kebiasaannya ini telah berlangsung sejak tahun 2017 lalu. Pada kesempatan itu, Adinia membagikan momen awal kesulitannya dalam memilah sampah.

“Dua tahun pertama sakit kepala sih, kayak bingung begitu,” imbuhnya.

Namun adik dari Sara Wijayanto ini tetap berusaha memilah sampah sebagai wujud tanggung jawab memberikan hal-hal baik yang berdampak untuk kehidupan bumi.

Kini, ia telah memilah sampah menjadi lima bagian, seperti plastik, kardus, kertas, residu, hingga sisa makanan.

Adinia Wirasti bahkan menyiapkan lima bak sampah khusus, seperti bak sampah untuk sampah non organik khusus untuk plastik, lalu sampah organik berupa sisa makanan dan daun kering. Kemudian juga sampah kertas, sampah B3 (baterai, botol spray).

Ia berharap kebiasaan kecilnya ini juga mendorong para generasi muda untuk memilah sampah.

“Kerasa rumah enggak ada bau aneh karena terpisah semua. It’s a legacy yang nantinya akan dipindahin ke anak cucu,” tandasnya.

Penulis: Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/adinia-wirasti-pilah-sampah-demi-menjaga-bumi/feed/ 0
Indonesia “Banjir” Sampah Makanan https://www.greeners.co/berita/indonesia-banjir-sampah-makanan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=indonesia-banjir-sampah-makanan https://www.greeners.co/berita/indonesia-banjir-sampah-makanan/#respond Thu, 23 Feb 2023 05:56:16 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=39098 Jakarta (Greeners) – Sampah yang ada di Indonesia, tidak hanya sampah plastik. Sampah makanan (food waste) masih menjadi persoalan serius yang belum mendapat banyak perhatian daripada sampah lainnya seperti plastik.  […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sampah yang ada di Indonesia, tidak hanya sampah plastik. Sampah makanan (food waste) masih menjadi persoalan serius yang belum mendapat banyak perhatian daripada sampah lainnya seperti plastik. 

Berdasarkan penelitian Bappenas (2021), sebanyak 23 – 48 juta ton sampah di Indonesia terbuang setiap tahun atau setara dengan 115-184 kilogram perkapita per tahun. Sejumlah kota besar juga memproduksi lebih banyak sampah makanan daripada sampah jenis lainnya.

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pada tahun 2021 Provinsi DKI Jakarta menghasilkan sekitar 3,08 juta ton timbulan sampah. Dari jumlah tersebut, jenis sampah terbanyak adalah sisa makanan dengan proporsinya mencapai 27,8 %, terbanyak dibanding jenis sampah lainnya.

Di TPA Benowo, Surabaya sisa makanan bahkan mendominasi sebesar 54,31 % daripada sampah jenis plastik di urutan kedua. Padahal sampah yang terbuang ini setara dengan makanan untuk 61 – 125 juta orang per tahun.

Kerugian dari Sampah Makanan Capai Rp 551 Triliun 

Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, Medrilzam menyatakan, kerugian ekonomi selama 20 tahun terakhir akibat sampah makanan ini setara dengan 4-5 persen dari PDB, yaitu Rp 213 triliun – Rp 551 triliun per tahun.

Ironisnya saat ini begitu banyak pangan terbuang begitu saja. Padahal, kandungan makanan yang terbuang ini perkiraanya setara dengan porsi makan 61-125 juta orang per tahun. Tak hanya itu, sampah jenis ini juga berkontribusi signifikan memicu emisi gas rumah kaca (GRK).

Bappenas menyebut, timbulan sampah jenis ini menghasilkan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 1.702,9 megaton karbon dioksida atau setara dengan 7,29 % rata-rata emisi GRK Indonesia per tahun.

Berdasarkan laporan Inventarisasi Gas Rumah Kaca (IGRK) 2021, sektor limbah menyumbang emisi gas rumah kaca nasional sebesar 12 % atau setara 126.797 Gg CO2e.

Indonesia berkomitmen menetapkan target untuk pengurangan sampah sebesar 30 % dan penanganan sampah sebesar 70 % dari total timbulan sampah pada tahun 2025. Teranyar, melalui net zero net emission, Indonesia berkomitmen nol emisi dari sektor sampah maksimal pada tahun 2060.

Namun sayangnya Medrilzam menyebut bahwa saat ini Indonesia masih belum mempunyai target spesifik sampah dari makanan ini. “Masih banyak PR dari sektor food loss waste (FLW) yang belum terselesaikan,” ungkapnya.

Pemilahan sampah menjadi cara baik untuk mengurangi timbulan sampah ke TPA. Foto: Freepik

Pentingnya Pemilahan Sampah 

Pendiri Komunitas Nol Sampah Hermawan Some mengatakan, emisi gas rumah kaca 25 kali lipat lebih berbahaya daripada karbon dioksida. Sebab, efeknya akan dapat menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim.

“Permasalahan sampah makanan ini belum benar-benar menjadi perhatian pemerintah. Padahal masalah ini harusnya bisa ditekan dari level rumah tangga atau permukiman,” katanya kepada Greeners, Kamis (23/2).

Lelaki yang akrab disapa Wawan Some itu mengungkapkan, sebetulnya permasalahan sampah sisa makanan lebih mudah kita tekan karena sampahnya termasuk dalam kategori gampang terurai.

Beberapa alternatif solusi pengolahan sampah sisa makanan yaitu seperti black soldier fly (BSF) atau maggot hingga pengomposan. “Langkah ini harus lebih masif dilakukan dan secara konsisten dengan dorongan pemda setiap wilayah,” imbuhnya.

Wawan juga menyebut pentingnya pemilahan sampah, minimal sampah organik dan anorganik yang tuntas di rumah tangga. “Permasalahannya ketika kedua sampah ini bercampur maka akan mengancam kehidupan manusia seperti menghasilkan cairan leachate yang berbahaya,” tuturnya.

Cairan ini berdampak signifikan terhadap lingkungan, bisa mengurangi kualitas tanah dan air di sekitar sampah.

Penulis: Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/indonesia-banjir-sampah-makanan/feed/ 0
Komposter Ini Bisa “Menyulap” Sampah Menjadi Kompos dalam Semalam https://www.greeners.co/ide-inovasi/komposter-ini-bisa-menyulap-sampah-menjadi-kompos-dalam-semalam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=komposter-ini-bisa-menyulap-sampah-menjadi-kompos-dalam-semalam https://www.greeners.co/ide-inovasi/komposter-ini-bisa-menyulap-sampah-menjadi-kompos-dalam-semalam/#respond Wed, 25 May 2022 04:13:35 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=36257 Salah satu cara efektif untuk mengurangi timbulan sampah organik rumah tangga yakni dengan mengolahnya kembali menjadi kompos. Namun sayang, tidak semua orang berkenan untuk melakukan hal tersebut mengingat proses pembuatan […]]]>

Salah satu cara efektif untuk mengurangi timbulan sampah organik rumah tangga yakni dengan mengolahnya kembali menjadi kompos. Namun sayang, tidak semua orang berkenan untuk melakukan hal tersebut mengingat proses pembuatan kompos cukup rumit dan memakan waktu. Selain itu, membuat kompos juga memerlukan wadah khusus bernama komposter, yang di mana tidak semua orang memilikinya.

Guna melawan anggapan bahwa membuat kompos membutuhkan proses yang rumit dan waktu yang lama, perusahaan startup asal Kanada, Pela, berinisiatif untuk menciptakan komposter bernama Lomi. Tidak seperti komposter konvensional, Lomi merupakan komposter futuristik portabel yang mampu “menyulap” sampah menjadi kompos dalam waktu yang sangat singkat. Dengan menggunakan Lomi, kita bisa membuat kompos siap pakai hanya dalam semalam saja.

“Lomi membuat penanganan sampah organik menjadi sangat sederhana. Dengan menggunakan komposter Lomi, Anda dapat mengurangi jejak limbah hingga 50 persen,” tulis Pela dalam situs resmi mereka.

Komposter Lomi berukuran cukup kecil, tidak lebih besar daripada alat penanak nasi. Meskipun berukuran kecil, kinerja Lomi dalam mengubah sampah menjadi kompos tidak perlu kita ragukan. Lomi mampu mempercepat proses penguraian sampah organik menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, mirip dengan bagaimana cacing tanah bekerja. Dengan memanfaatkan panas dan oksigen, Lomi mampu menghasilkan kompos kaya nutrisi hanya dalam waktu 16 hingga 20 jam.

Komposter Lomi: Mudah Digunakan dan Bebas Bau

Membuat kompos dengan menggunakan komposter Lomi tidaklah sulit untuk dilakukan. Untuk mengubah sampah menjadi kompos dengan Lomi, kita cukup menekan satu tombol dan biarkan mesin tersebut bekerja secara otomatis. Mesin ini dapat mengolah dua liter sampah organik pada setiap pemakaian.

“Komposter Lomi, selain dapat kita gunakan dengan mudah, juga mudah untuk dibersihkan. Saat beroperasi, Lomi juga tidak menimbulkan kebisingan sehingga tidak akan mengganggu kegiatan Anda sehari-hari,” tulis Pela.

Selain itu, kelebihan komposter Lomi lainnya yakni ia dapat menghilangkan bau pada kompos. Pela membekali mesin ini dengan Lomi Pods, filter berisikan arang aktif dan probiotik yang mampu menetralisir bau dalam proses pengomposan. Berkat adanya fitur ini, kita dapat melakukan komposting di mana saja, termasuk di dalam ruangan.

Komposter Lomi sendiri dapat mengolah hampir seluruh jenis sampah organik menjadi kompos, seperti sisa sayur dan buah, sisa makanan, daun kering, serta ampas kopi dan teh. Mesin ini juga bisa mengolah kembali kemasan bioplastik menjadi kompos. Meskipun demikian, kita tidak bisa mencampurkan semua jenis sampah organik secara sembarangan ke dalam Lomi. Untuk melakukan komposting dengan baik, sebaiknya kita mencampurkan sampah organik hijau dan cokelat agar kompos yang dihasilkan mengandung nutrisi seimbang.

Penulis: Anggi R. Firdhani

Sumber:

Situs Resmi Pela

Domino

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/komposter-ini-bisa-menyulap-sampah-menjadi-kompos-dalam-semalam/feed/ 0
“Kaktus”, Bantu Warga Jakarta Kelola dan Pilah Sampah Organik https://www.greeners.co/berita/kaktus-bantu-warga-jakarta-kelola-dan-pilah-sampah-organik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kaktus-bantu-warga-jakarta-kelola-dan-pilah-sampah-organik https://www.greeners.co/berita/kaktus-bantu-warga-jakarta-kelola-dan-pilah-sampah-organik/#respond Sat, 23 Apr 2022 05:36:51 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=35967 Jakarta (Greeners) – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta resmi meluncurkan digitalisasi pengelolaan sampah organik di DKI Jakarta. Program ini tak sekadar mampu melacak sampah dalam pengangkutan sampah, tapi juga mendorong […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta resmi meluncurkan digitalisasi pengelolaan sampah organik di DKI Jakarta. Program ini tak sekadar mampu melacak sampah dalam pengangkutan sampah, tapi juga mendorong gerakan memilah sampah masyarakat yang nantinya berkompensasi.

Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, volume sampah yang Jakarta hasilkan mencapai 7.424 ton per hari. Sampah sisa makanan atau sampah organik mendominasi sebanyak 53 %. Selanjutnya sampah plastik 9 %, residu sebesar 8 % dan sampah kertas 7 %.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Asep Kuswanto mengatakan, pengelolaan sampah organik melalui digitalisasi memungkinkan masyarakat terlibat aktif untuk memilah sampah organik dan non organik di rumah. Selanjutnya, melalui aplikasi Kaktus ini, masyarakat dapat memanggil petugas untuk menjemput sampah terpilah.

Tak hanya itu, nantinya masyarakat akan mendapatkan kompensasi dari aktivitas pemilahan sampah tersebut. “Warga melakukan pilah sampah, kemudian mereka membuka aplikasinya (Kaktus) untuk dijemput sampahnya. Mereka akan mendapatkan satu poin reward,” katanya dalam acara peluncuran Digitalisasi Pengelolaan Sampah di M-Bloc, Jumat (22/4).

Kelola dan Pilah Sampah Dapat Reward

Lebih jauh Asep menyebut, masyarakat yang telah mendapatkan poin dapat menularkannya ke merchant atau toko. Terdapat sekitar 2.500 merchant yang telah bekerja sama dengan Pemprov untuk memungkinkan penukaran poin ini. Poin bisa masyarakat tukarkan dengan makanan hingga kopi.

“Misalnya kita kerja sama dengan pelaku restoran atau kafe, itu bisa ditukarkan dengan sekian poin. Jadi warga tinggal menukarkan poin dan ditukar dengan produknya,” imbuhnya.

Tak hanya itu, aplikasi ini juga bisa memantau atau melacak sampah yang telah terkelola. Hal ini terpantau melalui QR code yang telah terpasang dalam gerobak sampah, TPS, hingga pengelolaan sampah organik, seperti pendaur ulang peternak maggot. “Memang semuanya akan terecord sehingga warga tahu sampahnya akan ke mana dan jadi apa,” ungkap dia.

Program digitalisasi pengelolaan sampah telah Pemprov DKI Jakarta lakukan di dua kecamatan, yakni Kecamatan Tebet dan Pesanggrahan. Target selanjutnya, program ini pemprov perluas ke Jakarta Selatan dan seluruh Provinsi DKI Jakarta.

Uji coba aplikasi Kaktus saat peluncurannya baru-baru ini. Foto: DLH DKI Jakarta

Sampah Organik Jakarta Mulanya Tak Bernilai Kini Jadi Bernilai

Founder Kaktus Indonesia, Arya Primanda menyatakan, langkah digitalisasi pengelolaan sampah ini untuk memaksimalkan pengolahan sampah organik yang selama ini tak memiliki nilai. Padahal sampah organik juga memiliki nilai yang tinggi.

“Kita rasa semua orang kalau naruh botol di tempat sampah botolnya hilang tapi sampah organiknya tidak. Kita coba disrupsi untuk ini agar terjadi hal yang sama pada sampah organik ini,” ujar dia.

Ia menambahkan, berdasarkan uji coba di 22 RW di dua kecamatan di Jakarta Selatan, selama tiga hari, coverage-nya mencapai 0,4 hingga 0,7 ton per hari dengan total akumulasi sampah organik sebanyak 126 ton.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengungkapkan, program ini merupakan inovasi terobosan dalam pengelolaan sampah berbasis digital. Inovasi ini memungkinkan secara lebih sistematis sekaligus menyediakan wadah kolaborasi semua stakeholders yang ada.

“Lebih dari itu, digitalisasi pengelolaan sampah di DKI Jakarta memberikan pesan kepada semua bahwa setiap pribadi memiliki tanggung jawab untuk masing-masing kita semua. Dan kita kerjakan bersama-sama,” katanya.

Anies berharap, warga Jakarta dari berbagai unsur akan memiliki kesadaran dan paradigma baru, kepedulian baru dan juga bisa berkolaborasi untuk pengelolaan sampah yang lebih baik.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/kaktus-bantu-warga-jakarta-kelola-dan-pilah-sampah-organik/feed/ 0
California Wajibkan Warganya Memilah Limbah Makanan https://www.greeners.co/ide-inovasi/california-wajibkan-warganya-memilah-limbah-makanan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=california-wajibkan-warganya-memilah-limbah-makanan https://www.greeners.co/ide-inovasi/california-wajibkan-warganya-memilah-limbah-makanan/#respond Wed, 29 Dec 2021 04:00:57 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=34827 Pada Januari 2022 mendatang, pemerintah California akan mewajibkan penduduknya untuk memilah limbah makanan secara mandiri. Mereka meminta para penduduk setempat untuk membuang sisa makanan ke tempat sampah khusus alih-alih membuangnya […]]]>

Pada Januari 2022 mendatang, pemerintah California akan mewajibkan penduduknya untuk memilah limbah makanan secara mandiri. Mereka meminta para penduduk setempat untuk membuang sisa makanan ke tempat sampah khusus alih-alih membuangnya ke tempat sampah biasa. Upaya tersebut mereka lakukan untuk mengurangi tumpukan sampah organik dan mengurangi emisi gas metana di negara bagian Amerika Serikat tersebut.

Setelah limbah makanan dipilah dan dibuang ke tempat khusus, pemerintah California akan mengumpulkan limbah tersebut dan mengolahnya kembali menjadi kompos. Selain itu, mereka juga akan memanfaatkan sisa makanan menjadi biogas. Mereka berharap bahwa upaya tersebut dapat mengurangi emisi metana dan penumpukan sampah organik di tempat pembuangan sampah hingga 75 %.

“Ini merupakan upaya terbesar pengelolaan limbah makanan yang pernah kami lakukan sejak tahun 1980,” ujar Rachel Wagoner, Direktur Departemen Daur Ulang dan Pemulihan Sumber Daya California, dalam The Guardian.

Menurutnya, mendaur ulang makanan merupakan satu-satunya cara termudah dan tercepat yang dapat setiap orang lakukan untuk mengatasi perubahan iklim.

Selain mewajibkan penduduknya untuk memilah limbah makanan secara mandiri, pemerintah California juga akan mewajibkan pasar swalayan dan restoran untuk menyumbangkan makanan berlebih kepada orang yang membutuhkan. Mereka juga mengharuskan para pelaku industri makanan dan minuman untuk rutin menyerahkan sisa makanan ke bank sampah khusus.

Program Daur Ulang Limbah Makanan di California: Terbesar di Amerika Serikat

Pemerintah California menyatakan bahwa mereka akan menyelenggarakan program daur ulang limbah makanan terbesar di Amerika Serikat. Mereka akan mengelola kembali sekitar 23 juta ton makanan sisa yang mereka dapatkan dari 40 juta penduduk.

California juga merupakan negara bagian kedua di Amerika Serikat yang telah memiliki undang-undang khusus mengenai pengelolaan limbah makanan setelah Vermont. Beberapa negara bagian lain seperti San Francisco juga telah merancang kebijakan yang sama, namun kebijakan tersebut belum beroperasi dengan baik.

Sebagai informasi, limbah makanan merupakan salah satu penyumbang terbesar bagi perubahan iklim. Sekitar sepertiga dari makanan di dunia terbuang sia-sia dan membusuk begitu saja. Makanan yang telah membusuk akan menghasilkan 8 hingga 10 % gas metana global yang dapat merusak lapisan ozon.

Penulis: Anggi R. Firdhani

Sumber:

The Guardian

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/california-wajibkan-warganya-memilah-limbah-makanan/feed/ 0
Isi Piringmu Bisa Kendalikan Perubahan Iklim Jika Tak Jadi Limbah https://www.greeners.co/aksi/isi-piringmu-bisa-kendalikan-perubahan-iklim-jika-tak-jadi-limbah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=isi-piringmu-bisa-kendalikan-perubahan-iklim-jika-tak-jadi-limbah https://www.greeners.co/aksi/isi-piringmu-bisa-kendalikan-perubahan-iklim-jika-tak-jadi-limbah/#respond Mon, 06 Dec 2021 06:39:36 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=34616 Jakarta (Greeners) – Tahukah kamu, kalau Indonesia menjadi negara peringkat kedua dunia yang menghasilkan limbah makanan? Hal ini harus menjadi peringatan buat seluruh masyarakat. Sebab untuk memproduksi suatu bahan pangan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Tahukah kamu, kalau Indonesia menjadi negara peringkat kedua dunia yang menghasilkan limbah makanan? Hal ini harus menjadi peringatan buat seluruh masyarakat. Sebab untuk memproduksi suatu bahan pangan dan juga makanan ada emisi yang dihasilkan. Nah, jika makanan terbuang sia-sia dan tak bijak manusia konsumsi, jejak emisi yang ada makin mendorong kerentanan terjadinya perubahan iklim.

Selain itu, tanpa ada pengendalian perubahan iklim, bumi akan terimbas dampaknya. Kenaikan suhu bumi dan meningkatnya kejadian cuaca ekstrem menjadi tanda menguatnya perubahan iklim.

Sementara itu, mengkonsumsi sayur dan buah selain memberi nutrisi tubuh bisa menjadi cara konsumsi makanan berkelanjutan yang dapat melestarikan lingkungan. Sayangnya Indonesia menjadi negara kedua tertinggi penghasil limbah makanan. Negara urutan pertama Arab Saudi dan peringkat ketiga Amerika Serikat.

“Sayang banget ya bukan prestasi tingkatnya. Harusnya bisa kita gunakan untuk menjadi bahan refleksi,” kata CEO Founder Zero Waste Maurilla Sophianti Imron dalam webinar bertajuk Perlambat Perubahan Iklim Dimulai dari Isi Piringmu! di Jakarta, baru-baru ini.

Menurut Maurilla, hal tersebut bukan merupakan peringkat yang harus Indonesia banggakan. Namun harus menjadi kekhawatiran bersama. Pasalnya Indonesia menjadi peringkat kedua sebagai penyumbang limbah makanan. Dari data yang ada per orang bisa menghasilkan 300 kg dalam setahun. Jika terakumulasi kerugian secara ekonomi mencapai Rp 551 triliun.

Cegah Makanan Jadi Limbah untuk Perbaikan Gizi

Padahal lanjutnya, jika 300 kg makanan yang tak habis terkonsumsi ini bisa mencukupi kekurangan gizi yang masih ada di Indonesia. Apalagi hampir 40 % timbulan sampah berasal dari makanan. Bahkan 58 % di antaranya ada di tahap konsumsi.

Namun hingga saat ini, masih ada masyarakat Indonesia yang tidak menghabiskan makan dan membuangnya begitu saja. Selain itu sayur mayur dan buah-buahan yang petani hasilkan dan tak lolos kualitas di supermarket juga rentan menjadi sampah.

Hal tersebut terjadi karena masyarakat ingin kualitas yang sempurna. Padahal sayur mayur dan buah-buahan bukan kualitas premium masih bisa terolah dan menghasilkan sumber pangan yang bergizi.

Oleh sebab itu tambahnya, masyarakat harus mulai bijak dan mengurangi dari sumbernya. Masyarakat pun harus bijak memilih dan mengonsumsi makanan. Lalu menghabiskan makanannya.

“Apa yang kita ambil, harus kita habiskan,” tegas Maurilla.

Lalu jika ada makanan yang berlebih bisa masyarakat donasikan kepada food bank untuk bisa terdistribusi kepada masyarakat prasejahtera. Selain itu, makanan yang tak habis bisa masyarakat berikan ke hewan. Bisa pula sisa makanan menjadi kompos dari pada berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).

“Kita bisa pula memilih sayuran yang ingin kita makan, atau menanam sayuran tersebut. Lalu kita bisa mencampur sayuran tersebut dengan bahan makanan lain sehingga bisa menjadi stok seperti kaldu sayur,” paparnya.

Namun jika memilih untuk membuat limbah makanan menjadi kompos, bisa dengan membuat biopori yang dapat menutrisi tanah. “Harus dimaksimalkan jangan sampai terbuang ke TPA menjadi racun dan tidak terpakai benefit nutrisinya itu,” imbuhnya.

Penulis : Ihya Afayat

]]>
https://www.greeners.co/aksi/isi-piringmu-bisa-kendalikan-perubahan-iklim-jika-tak-jadi-limbah/feed/ 0
Gaya Hidup Minim Sampah Butuh Dukungan Lintas Generasi https://www.greeners.co/berita/gaya-hidup-minim-sampah-butuh-dukungan-lintas-generasi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=gaya-hidup-minim-sampah-butuh-dukungan-lintas-generasi https://www.greeners.co/berita/gaya-hidup-minim-sampah-butuh-dukungan-lintas-generasi/#respond Thu, 23 Sep 2021 09:00:33 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=33785 Jakarta (Greeners)- Gaya hidup minim sampah dan reduse, reuse dan recycle (3R) perlu mendapat dukungan lintas generasi. Hampir 11.000 bank sampah sudah berdiri di 514 kabupaten/kota. Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian […]]]>

Jakarta (Greeners)- Gaya hidup minim sampah dan reduse, reuse dan recycle (3R) perlu mendapat dukungan lintas generasi. Hampir 11.000 bank sampah sudah berdiri di 514 kabupaten/kota.

Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Novrizal Tahar mengatakan, gerakan 3R saat ini sudah menunjukkan kemajuan yang pesat. Banyak masyarakat aktif berpartisipasi dalam gerakan tersebut. Bahkan generasi milenial mulai memiliki komitmen mengurangi sampah.

“Perubahan yang terjadi ini juga dilakukan oleh generasi milenial dan gen z yang konsisten dengan sikap mereka untuk mengurangi sampah dengan menghindari penggunaan barang-barang dan kemasan sekali pakai,” katanya Novrizal di Jakarta, Kamis (22/9).

Gaya Hidup Sederhana Kurangi Sampah

Saat ini lanjutnya, KLHK sedang menggalakkan gaya hidup minim sampah. Aksi ini menjadi sebuah gaya hidup dengan melakukan upaya sederhana mengurangi sampah, semua orang pun bisa melakukan hal ini.

“Gerakan ini meliputi upaya mencegah timbulan sampah, belanja tanpa kemasan, memilah sampah dari rumah, menghabiskan makanan dan mengkomposkan sisa makanan,” ucapnya.

Gerakan pengelolaan sampah ini juga harus mendapat dukungan bank sampah. Peran bank sampah untuk memaksimalkan aksi pemilahan sampah, gaya hidup minim sampah dan 3R. Bank sampah ini tambah Novrizal mampu melayani aktivitas 3R yang masyarakat lakukan.

Buleleng Dukung Gaya Hidup Pilah Sampah

Sampah organik sisa bahan-bahan peribadatan mendominasi timbulan sampah di Buleleng, Bali. Untuk mencegah timbulan sampah di tempat pembuangan akhir yang hampir kelebihan muatan, Buleleng terus menambah tempat pengelolaan sampah (TPS) reduce, reuse dan recycle (3R).

Penambahan TPS untuk mengurangi, menggunakan dan daur ulang atau (3R) ini menjadi bukti keseriusan Pemerintah Kabupaten Buleleng. Warga pun harus memilah sampah dari sumbernya. Sebab Bali hingga saat ini masih memiliki persoalan seputar pemilahan sampah khususnya di wilayah perdesaan.

Kabupaten Buleleng memiliki 129 desa dari total 636 desa yang ada di Provinsi Bali. Meski memiliki fasilitas pengelolaan sampah terbanyak, sejumlah TPS di Buleleng ini ada yang terbengkalai. Di Kabupaten Buleleng terdapat 14 TPS 3R dan rumah kompos (33%) yang tidak aktif beroperasi. Sementara itu ada 28 fasilitas lainnya yang juga belum berprestasi dan bermasalah dalam pengelolaan sampah.

Buleleng memiliki TPS 3R baru di Desa Pejarakan, Banjar Sandi Kertha, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali. Bupati Buleleng meresmikan TPS 3R ini pada awal September 2021. TPS 3R bernama Sanker Bersehati ini membuktikan keseriusan penanganan sampah di Kabupaten Buleleng. Pembangunan TPS 3R ini juga sesuai amanat Peraturan Gubernur Bali No 47 Tahun 2019 Tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber.

“Jika sudah mengusung program 3R, maka pemilahan sampah seharusnya sudah dilakukan sejak dari rumah,” kata Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana dalam siaran pers acara peresmian TPS 3R Sanker Bersehati, di Desa Pejarakan, Buleleng, Bali, baru-baru ini.

Wakil Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang I Putu Adiptha Ekaputra, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Gede Melandrat dan Kepala Balai Prasarana Permukiman Wilayah Bali I Nyoman Sutrisna juga menghadiri peresmian TPS 3R Sanker Bersehati.

Bupati Buleleng berharap, TPS 3R ini akan mendukung perbaikan sanitasi, pertanian dan pengembangan kerajinan. Pengelolaan sampah di TPS 3R juga dapat mengubah material organik menjadi kompos untuk pertanian.  Industri daur ulang dan kerajinan dapat menggunakan material nonorganik.

Pemisahan sampah organik di rumah kompos

Warga Desa Buleleng memisahkan sampah organik untuk diolah di rumah kompos. Foto : Yayasan Bumi Sasmaya

Sampah Organik Mendominasi Bali

Material organik bahan-bahan sisa peribadatan mendominasi hampir 70 persen komposisi sampah di Bali. Peningkatan kesejahteraan masyarakat juga meningkatkan produksi sampah. Desa yang tidak memiliki sistem pengelolaan sampah, hanya akan menambah gundukan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA). Hal ini terjadi di TPA Bengkala di Buleleng dan sejumlah TPA lainnya di Bali.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang I Putu Adiptha Ekaputra menyebut, tahun ini ada 3 TPS 3R bantuan dari Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk Kabupaten Buleleng.

“Di tahun 2022 kami sudah usulkan 6 desa lagi yang akan menerima bantuan TPS 3R,” ucapnya.

Selain di Desa Pejarakan, TPS 3R baru di Buleleng tahun 2021 juga ada di Desa Patas, Kecamatan Gerokgak dan Desa Temukus, Kecamatan Banjar.

Menurut data Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng, dengan penambahan 3 TPS 3R di tahun 2021 berarti sudah 42 desa yang memiliki fasilitas pengelolaan sampah skala desa. Kabupaten Buleleng memiliki TPS 3R terbanyak dibanding kabupaten lainnya di Bali.

Buleleng Menghadapi Persoalan Pengelolaan Sampah

Fasilitas pengelolaan sampah di Buleleng masih menghadapi permasalahan utama seperti sampah yang masuk masih tercampur, kekurangan tenaga pemilah sampah, rusaknya sarana prasarana rusak dan upah pekerja yang rendah.

Berbagai masalah pengelolaan sampah di Kabupaten Buleleng ini merupakan cerminan pengelolaan sampah di daerah lain di Bali, bahkan di Indonesia. Dengan adanya Pergub No 47 Tahun 2019, Bali sudah selangkah lebih maju. Peraturan di tingkat provinsi tersebut menyediakan panduan pengelolaan sampah yang menuntut partisipasi aktif setiap rumah tangga dalam memilah sampah.

Peraturan pemilahan  sampah meliputi material yang mudah terurai oleh alam, dapat digunakan kembali, didaur ulang, material yang mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3) dan limbah B3 serta sampah residu.

Penulis : Ari Rikin

 

]]>
https://www.greeners.co/berita/gaya-hidup-minim-sampah-butuh-dukungan-lintas-generasi/feed/ 0
Bukamata, Aksi “Unjuk Ilmu” Kenalkan Manfaat Eco Enzyme https://www.greeners.co/aksi/bukamata-aksi-unjuk-ilmu-kenalkan-manfaat-eco-enzyme/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bukamata-aksi-unjuk-ilmu-kenalkan-manfaat-eco-enzyme https://www.greeners.co/aksi/bukamata-aksi-unjuk-ilmu-kenalkan-manfaat-eco-enzyme/#respond Sat, 08 May 2021 22:04:20 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=32681 Jakarta (Greeners) – Mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN) mengadakan kegiatan Bukamata yang merupakan aksi sosial dalam bentuk edukasi dan pelatihan mengenai pengolahan sampah organik menjadi cairan Eco Enzyme. Eco Enzyme […]]]>

Jakarta (Greeners) – Mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN) mengadakan kegiatan Bukamata yang merupakan aksi sosial dalam bentuk edukasi dan pelatihan mengenai pengolahan sampah organik menjadi cairan Eco Enzyme.

Eco Enzyme merupakan hasil fermentasi bahan-bahan alami dari gula merah, sisa buah/sayuran, dan air (air keran, air hujan, air buangan AC, dan lain-lain). Hasil pengelolaan sampah organik menjadi Eco Enzyme, dapat digunakan kembali seperti disinfektan alami, cairan pembersih peralatan rumah tangga alami, pupuk tanaman organik, maupun pengusir hama.

Dalam aksinya, Bukamata mengadakan pelatihan dan sosialisasi langsung yang disebut dengan “Unjuk Ilmu” pada tanggal 1 Mei 2021, kegiatan ini dilakukan bersama dengan warga Desa Serdang Wetan, Tangerang untuk membuat cairan Eco Enzyme.

Pada sesi ini Bukamata bekerja sama dengan komunitas Eco Enzyme Nusantara (KEEN) yang membantu penyampaian motode pembuatan cairan Eco Enzyme.

Karena pelatihan dan sosialisasi dilakukan pada saat pandemi Covid19, maka target yang dijangkau hanya 15 peserta Ibu rumah tangga dari warga Desa Serdang Wetan, diharapkan mereka dapat membagikan ilmu yang didapatkan kepada warga yang lain dan tentunya dapat menerapkan dalam pengolahan sampah di rumah masing-masing.

Titus Christiano selaku Head Project Bukamata menyebut aksi “Unjuk Ilmu” merupakan pendekatan langsung dengan harapan dapat memberikan pengetahuan yang dapat digunakan secara berkelanjutan.

“Unjuk ilmu ini merupakan pendekatan yang lebih dekat, lebih pratek dan harapannya warga dari Desa Serdang Wetan bisa langsung menerapkan bagaimana cara membuatnya dan dapat dilakukan secara berkepanjangan untuk mengolah sampah rumah tangga masing-masing”. Ucap Titus pada press conference Bukamata, Jumat (30/04/2021)

Eco Enzyme dan manfaatnya terhadap kehidupan sehari-hari

Dominique Christina, Ketua Acara dari Bukamata menyebut bahwa alasan kegiatan Bukamata fokus terhadap pengolahan sampah organik menjadi Eco Enzyme adalah karena masyarakat belum banyak mengetahui mengenai pengelolaan serta manfaat yang akan dihasilkan untuk kehidupan.

Eco Enzyme ini belum terlalu banyak terdengar pada kalangan masyarakat, manfaat yang dihasilkan oleh Eco Enzyme ini juga sangat banyak dan pembuatannya sebenarnya sederhana, menggunakan bahan-bahan yang mudah ditemukan, serta dapat mengurangi limbah rumah tangga”, terangnya.

Lebih lanjut, Titus Christiano berharap dengan adanya kegiatan sosial yang dilakukan Bukamata ini dapat meningkatkan awareness dan kepedulian masyarakat akan lingkungan.

“Harapannya masyarakat bisa lebih peka dan sensitif akan apa yang terjadi pada lingkungan sekitar, serta mulai tergerak untuk mengambil langkah pelestarian lingkungan dengan membuat Eco Enzyme, sebuah cairan fermentasi limbah dapur yang memiliki banyak sekali manfaat bagi kehidupan”, tutupnya.

Penulis : Zahra Shafira

]]>
https://www.greeners.co/aksi/bukamata-aksi-unjuk-ilmu-kenalkan-manfaat-eco-enzyme/feed/ 0
Warga DKI Hasilkan 6.700 Ton Sampah Setiap Hari https://www.greeners.co/berita/warga-dki-hasilkan-6-700-ton-sampah-setiap-hari/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=warga-dki-hasilkan-6-700-ton-sampah-setiap-hari https://www.greeners.co/berita/warga-dki-hasilkan-6-700-ton-sampah-setiap-hari/#respond Fri, 09 Oct 2015 11:00:41 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11424 Jakarta (Greeners) – Dinas Kebersihan DKI Jakarta mencatat, volume sampah di ibu kota terus meningkat dari yang sebelumnya hanya di bawah 6.000 ton perhari, kini menjadi 6.700 ton per hari […]]]>

Jakarta (Greeners) – Dinas Kebersihan DKI Jakarta mencatat, volume sampah di ibu kota terus meningkat dari yang sebelumnya hanya di bawah 6.000 ton perhari, kini menjadi 6.700 ton per hari atau naik 700 ton.

Saat dihubungi oleh Greeners melalui pesan singkat, Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta, Isnawa Adji menyatakan bahwa sebelum diterapkannya penimbangan sampah secara online, volume sampah yang dibuang berkisar antara 5.200 hingga 5.300 ton per hari. Namun setelah diberlakukannya penimbangan online pada awal Maret lalu, volume sampah yang dibuang melesat hingga 6.700 ton per hari.

“Penerapan timbangan sampah secara online membuat penghitungan volume sampah menjadi lebih tertib dan sistematis,” ujar Adji, Jakarta, Kamis (08/10).

Selain itu, sejak dikerahkannya petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) serta Pekerja Harian Lepas (PHL) kebersihan, ditambah adanya pelimpahan wewenang pembersihan kali dan saluran dari Dinas Pekerjaan Umum ke Dinas Kebersihan, volume sampah terus mengalami peningkatan.

Keberadaan Bank Sampah di beberapa wilayah pun diakui Adji masih belum dianggap menarik oleh sebagian masyarakat. Hingga kini, katanya, Bank Sampah yang ditempatkan di setiap kelurahan dan kecamatan tidak berjalan optimal. Padahal, dalam konsep pengaturan dengan Bank Sampah, warga diedukasi memilah sampah organik dan anorganik sejak awal.

Sampai saat ini, diakui Adji, Bank Sampah memang hanya berada di beberapa wilayah saja di DKI Jakarta. Meski hitungannya belum pasti, pelaksanaan Bank Sampah ini diyakini Adji seharusnya dapat mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan sampah terpadu (TPST) Bantar Gebang.

Karena, lanjutnya, Bank Sampah pada prinsipnya merupakan bagian pelaksanaan pengelolaan sampah dengan menerapkan prinsip 3R, yakni reduce (mengurangi), reuse (memakai atau menggunakan kembali sampah), dan recycle (mendaur ulang).

“Salah satu pengoptimalan Bank Sampah adalah dengan meningkatkan lagi peran serta masyarakat. Itu mengapa peran aktif masyarakat ini menjadi salah satu indikator keberhasilan Bank Sampah,” pungkasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/warga-dki-hasilkan-6-700-ton-sampah-setiap-hari/feed/ 0