satwa pesisir - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/satwa-pesisir/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Tue, 19 Jan 2021 02:31:26 +0000 id hourly 1 Emoia Atrocostata, Kadal yang Hidup Berdampingan dengan Ekosistem Mangrove https://www.greeners.co/flora-fauna/emoia-atrocostata-kadal-yang-hidup-berdampingan-dengan-ekosistem-mangrove/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=emoia-atrocostata-kadal-yang-hidup-berdampingan-dengan-ekosistem-mangrove https://www.greeners.co/flora-fauna/emoia-atrocostata-kadal-yang-hidup-berdampingan-dengan-ekosistem-mangrove/#respond Fri, 06 Apr 2018 07:47:17 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=20326 Di dalam ekosistem mangrove terdapat makhluk hidup lain yang hidup berdampingan, salah satunya adalah hewan dari kelas reptilia yaitu Emoia atrocostata atau familier disebut kadal.]]>

Indonesia memiliki ekosistem mangrove terluas di dunia, yaitu sebesar 27 persen luas total mangrove dunia, atau 75 persen luas total mangrove Asia Tenggara dengan luas 3,2 juta ha (Pramudji, 2008). Vegetasi tersebut dipengaruhi oleh pasang surut yang terdapat di sepanjang pantai, muara, bahkan sampai ke dalam sungai di daerah tropis dan subtropik.

Di dalam ekosistem mangrove terdapat makhluk hidup lain yang hidup berdampingan, salah satunya adalah hewan dari kelas reptilia yaitu Emoia atrocostata atau familier disebut kadal.

Dikutip dari buku laporan Susetiono (2010) berjudul Keanekaragaman Fauna Mangrove-Padang Lamun Sulawesi Utara, kadal memiliki bentuk tubuh yang tampak halus mengilap, langsing, ekor pendek, kaki dan ekornya berkembang dengan sempurna, moncong dan badan memipih. Panjang totalnya mencapai 26 cm.

Satwa ini hidup dekat di area yang masih terpengaruh dengan periode pasang dan surut. Aktifitas mencari makan hanya dilakukan pada siang hari dan ketika air laut surut. Bila air laut pasang tinggi, maka kadal mangrove ini akan bersembunyi di rongga-rongga kayu. Mangsa yang dicari adalah kepiting kecil, rayap pada dahan lapuk, ikan maupun kadal sejenis yang berkuran lebih kecil.

Kadal ini menghasilkan 1-3 telur berukuran 8×20 mm dan dikeluarkan sekaligus. Telur-telur ini diletakan pada celah atau rongga di pohon mangrove serta tidak dierami, sehingga bila menetas anakannya langsung mencari makan sendiri (Susetiono, 2010).

kadal

Kadal (Emoia atrocostata). Foto: wikimedia

Sebagai usaha untuk mempertahankan diri dari serangan mangsa, ekor kadal sangat mudah untuk putus. Ketika ekornya digigit mangsa, maka akan terjadi kontraksi otot yang sangat kuat sehingga ekor putus. Setelah putus, otot tersebut segera menutup lukanya agar darah tidak keluar. Pada bagian yang putus tersebut akan tumbuh ekor lagi hingga mencapai ukuran semula.

Uniknya bila ekor kadal digigit mangsa tetapi tidak putus atau hanya menimbulkan luka, maka pada luka tersebut akan tumbuh ekor yang baru, sedangkan ekor yang lama bertahan seperti semula, disebut dengan “ekor bercabang” (bifurcated tail).

Sebagai salah satu ekosistem pesisir, mangrove berfungsi sebagai: 1) pelindung pantai dari erosi tiupan angin dan gempuran ombak yang kuat dan tsunami; 2) habitat untuk memijah (spawning ground), tempat pembesaran dan mencari makan (nursery and feeding ground) dan tempat berlindung (shelter) berbagai jenis ikan, udang; 3) habitat berbagai jenis fauna lainnya; 4) penghasil kayu dan non-kayu; 5) berfungsi sebagai tempat pendidikan dan tempat rekreasi; dan 6) penyerap karbon efektif dalam perubahan iklim.

Jika kawasan hutan mangrove mengalami pembabatan pohon atau terjadi konversi lahan, maka secara langsung keberadaan kadal ini pun menjadi sangat berkurang.

kadal

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/emoia-atrocostata-kadal-yang-hidup-berdampingan-dengan-ekosistem-mangrove/feed/ 0
Buaya Muara, Si Perkasa di Pesisir Jakarta https://www.greeners.co/flora-fauna/buaya-muara-si-perkasa-pesisir-jakarta/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=buaya-muara-si-perkasa-pesisir-jakarta https://www.greeners.co/flora-fauna/buaya-muara-si-perkasa-pesisir-jakarta/#respond Mon, 05 Sep 2016 08:13:39 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=14667 Pada tanggal 22 Agustus 2016, teramati satu individu buaya muara (Crocodylus porosus) di Hutan Lindung Angke Kapuk, Jakarta Utara. Jenis buaya terbesar di dunia ini diperkirakan masih remaja.]]>

Berbicara tentang buaya, yang terlintas diingatan adalah salah satu tradisi dari Suku Betawi, yaitu roti buaya. Suku Betawi percaya bahwa buaya hanya kawin sekali dengan pasangannya karena itu roti ini dipercaya melambangkan kesetiaan dalam perkawinan.

Dalam pandangan tradisional, buaya dianggap bersifat sabar (dalam menunggu mangsa). Selain kesetiaan, buaya juga melambangkan kemapanan. Namun, keberadaan buaya yang merupakan local wisdom atau kearifan lokal khususnya bagi masyarakat Betawi, kini justru dikaitkan dengan kisah-kisah buruk, seperti buaya buntung meminta tumbal berupa nyawa manusia.

Pada tanggal 22 Agustus 2016, teramati satu individu buaya muara (Crocodylus porosus) di Hutan Lindung Angke Kapuk, Jakarta Utara. Hutan Lindung Angke Kapuk merupakan salah satu kawasan konservasi alami yang masih tersisa di Ibu Kota dan merupakan hutan mangrove terakhir di Jakarta.

Buaya muara atau saltwater crocodile yang ditemukan di Hutan Lindung Angke Kapuk, Jakarta Utara diperkirakan masih remaja dam memiliki panjang kurang lebih satu meter. Dinamai buaya muara karena buaya ini hidup di sungai dan di dekat laut (muara). Buaya ini juga dikenal dengan nama buaya air asin, buaya laut, dan nama-nama lokal lainnya.

Buaya muara memiliki ekor yang panjang dan kuat, yang digunakan untuk berenang. Ekor tersebut juga digunakan untuk menyerang mangsa dan mempertahankan dirinya. Warna kulit si perkasa ini cokelat kotor sampai hitam dengan bentuk kepala yang lonjong, sedangkan bentuk moncong bervariasi menurut umur dan ukuran tubuh.

Buaya muara mencapai kedewasaan apabila panjang minimum buaya muara individu betina sudah mencapai 2,2 meter dan 3 meter untuk individu jantan, atau individu betina minimum berumur 10 tahun dan individu jantan berumur 15 tahun.

Buaya muara bereproduksi pada musim hujan, yang berlangsung antara bulan November hingga bulan Maret. Umumnya buaya muara ditemukan memijah di perairan air tawar, dimana individu jantan akan menetapkan serta mempertahankan wilayahnya apabila ada individu jantan lain yang berusaha masuk ke daerah tersebut.

Lama pengeraman telur berkisar antara 78-114 hari dengan rata-rata pengeraman selama 98 hari. Sekali bertelur, individu betina rata-rata menghasilkan 22 butir telur dengan berat rata-rata 104 gram, anakan yang menetas berukuran 310-370 mm dan memiliki warna abu-abu kecokelatan.

Buaya muara memperbanyak keturunannya dengan cara bertelur. Kopulasi dilakukan di dalam air yang didahului perkelahian antara individu betina dengan individu jantan dan hanya berlangsung beberapa menit pada siang hari. Tanda-tanda masa birahi dan terjadinya perkawinan adalah individu jantan selalu membenturkan kepala ke tubuh individu betina. Perkawinan terjadi di dalam kolam dan sulit dideteksi, pada umumnya terjadi antara bulan Februari – Oktober.

Sebelum bertelur, individu betina mempersiapkan tempat untuk bertelur yang letaknya tidak jauh dari tepi-tepi sungai dengan mengumpulkan ranting-ranting dan daun yang telah busuk. Setelah telur diletakkan di dalam sarang yang dibuatnya, buaya tersebut menimbun sarang dengan ranting daun busuk yang bercampur dengan lumpur. Setelah itu, individu betina akan menjaga sarangnya hingga telur-telurnya menetas selama tiga bulan, kemudian membawa anak-anaknya ke dalam sungai.

Di alam, masa hidup buaya muara dapat mencapai 60-80 tahun dengan potensial reproduksi dari umur 25-30 tahun. Kelestarian buaya muara mendapat ancaman dari aktivitas manusia, antara lain perburuan dan konversi habitat. Perburuan merupakan ancaman utama. Kegiatan berburu ini biasanya dilakukan oleh masyarakat.

Buaya muara termasuk satwa yang dilindungi oleh Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa liar. Berdasarkan CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) atau konvensi perdagangan internasional tumbuhan dan satwa liar spesies terancam, buaya muara dimasukkan ke dalam Apendiks II, yaitu daftar spesies yang tidak segera terancam kepunahan, namun hal ini akan memburuk bila perdagangan terkait buaya terus berlanjut tanpa adanya pengaturan.

Keberadaan buaya muara di Hutan Lindung Angke Kapuk, Jakarta Utara dapat dijadikan sebagai sarana pembelajaran bagi mahasiswa yang ingin mengetahui lebih detail mengenai satwa bergigi tajam ini. Selain itu, dapat menarik wisatawan lokal maupun mancanegara yang ingin melakukan destinasi wisata berbasis lingkungan untuk melihat buaya muara di pesisir Jakarta.

buaya muara

Penulis: Ahmad Baihaqi/Indonesia Wildlife Photography

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/buaya-muara-si-perkasa-pesisir-jakarta/feed/ 0
Pecuk-Ular Asia, Si Leher Panjang yang Mampu Menyelam https://www.greeners.co/flora-fauna/pecuk-ular-asia-si-leher-panjang-yang-mampu-menyelam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pecuk-ular-asia-si-leher-panjang-yang-mampu-menyelam https://www.greeners.co/flora-fauna/pecuk-ular-asia-si-leher-panjang-yang-mampu-menyelam/#respond Mon, 25 Jan 2016 09:44:41 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=12638 Pecuk-ular Asia (Anhinga melanogaster) memiliki leher yang panjang serupa ular. Burung yang masuk dalam kategori hampir terancam punah ini mampu menyelam dalam waktu lama untuk mencari ikan.]]>

Pecuk-ular Asia (Anhinga melanogaster) atau oriental darter atau snakebird merupakan salah satu jenis burung air yang mudah dikenali. Dinamakan Pecuk-ular Asia karena memiliki leher yang panjang dan ramping menyerupai ular.

Pecuk-ular Asia memiliki kepala dan leher berwarna coklat, terdapat strip berwarna putih pada bagian dagu sampai leher. Bagian tubuh, sayap dan ekor berwarna hitam, bagian paruh runcing berwarna kuning kecoklatan. Pada bagian kakinya terdapat selaput dan berwarna hitam.

Pecuk-ular Asia mampu menyelam dan tinggal dibawah air dalam waktu yang lama serta mampu mereduksi daya apung sehingga hanya bagian kepalanya yang terlihat pada saat berenang dan mencari makan.

Pecuk-ular Asia dapat dijumpai di hutan mangrove, danau, sungai besar, daerah tambak, rawa dan muara. Pecuk-ular Asia menghabiskan waktu yang lama untuk mengeringkan bulu di tempat ia bertengger. Burung ini berkumpul dalam kelompok kecil (2-5 individu) maupun dalam kelompok besar di atas pohon tinggi yang gundul.

Burung yang lehernya menyerupai ular ini tersebar luas di India, Asia Tenggara, Sulawesi, Sumbawa, Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Di Jakarta, tercatat satwa ini berkembang biak di Suaka Margasatwa Pulau Rambut, Kepulauan Seribu pada Bulan Desember – Juni. Mencari makan di pesisir Jakarta seperti di Suaka Margasatwa Muara Angke dan Hutan Lindung Angke Kapuk.

Berdasarkan IUCN ((International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources) Pecuk-ular Asia masuk dalam kategori hampir terancam (near threatened). Hal ini dikarenakan semakin menyempit dan menurunnya kualitas habitat burung air ini akibat alih fungsi lahan. Selain itu, perburuan untuk jenis burung ini juga cukup tinggi.

Pecuk-ular Asia termasuk dalam burung yang dilindungi oleh Undang-Undang Republik Indonesia, yaitu UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Terdapat hukuman bagi yang melanggar peraturan tersebut yaitu tindak pidana penjara selama 5 tahun dan denda sebesar Rp 100.000.000,- (Seratus Juta Rupiah).

Pengamatan burung air ini biasanya dilakukan setiap bulan Januari di seluruh belahan dunia. Di Jakarta, pengamatan burung air ini biasa dilakukan di daerah pesisir Jakarta seperti Suaka Margasatwa Muara Angke dan Hutan Lindung Angke Kapuk, Jakarta Utara. Cukup banyak burung air yang teramati di kawasan tersebut, salah satunya burung Pecuk-ular Asia. Kehadiran Pecuk-ular Asia di suatu kawasan mengindikasikan bahwa kualitas perairan pada kawasan tersebut masih terbilang baik.

Mari bersama-sama menjaga dan melestarikan lingkungan agar seluruh keanekaragaman hayati didalamnya tetap lestari.

Fauna_Pecuk_Ular_Asia_Si_Leher_Panjang_yang_Mampu_Menyelam_02

Penulis: Ahmad Baihaqi/Indonesia Wildlife Photography

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/pecuk-ular-asia-si-leher-panjang-yang-mampu-menyelam/feed/ 0
Harta Karun yang Tersisa di Pesisir Jakarta https://www.greeners.co/flora-fauna/harta-karun-yang-tersisa-di-pesisir-jakarta/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=harta-karun-yang-tersisa-di-pesisir-jakarta https://www.greeners.co/flora-fauna/harta-karun-yang-tersisa-di-pesisir-jakarta/#respond Sat, 09 May 2015 09:45:17 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=8922 Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA) dan Hutan Lindung Angke Kapuk merupakan salah satu kawasan konservasi alami yang masih tersisa di Ibu Kota dan merupakan Hutan Mangrove terakhir di Jakarta. SMMA […]]]>

Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA) dan Hutan Lindung Angke Kapuk merupakan salah satu kawasan konservasi alami yang masih tersisa di Ibu Kota dan merupakan Hutan Mangrove terakhir di Jakarta. SMMA memiliki luas 25,02 Ha sedangkan Hutan Lindung Angke Kapuk mempunyai luas 44,76 Ha. Belum banyak masyarakat yang mengetahui kawasan ini karena memang areal kawasan ini dikelilingi perumahan mewah. Padahal, kawasan ini sebenarnya memiliki peran penting untuk menjaga laut Jakarta tetap terjaga dan mencegah terjadinya banjir pasang surut air laut.

Kedua kawasan ini memiliki banyak keragaman hayati yang sampai saat ini masih terjaga. Begitu banyaknya potensi yang dimiliki kedua kawasan ini menjadikan lokasi ini sebagai tempat favorit bagi berbagai jenis burung. Sekitar 117 jenis burung terdapat dikawasan tersebut, dan diantaranya ada dua yang dilindungi secara internasional, yaitu Bubut jawa (Centropus nigrorufus) dan Jalak putih (Sturnus melanopterus). Kedua burung tersebut saat ini berstatus terancam punah dan sangat terancam punah.

Bubut jawa (Centropus nigrorufus) berukuran 46 cm, berwarna gelap. Kepala, punggung, paruh, kaki serta ekornya juga berwarna hitam mengkilat, sedangkan sayapnya merah karat dan iris matanya berwarna merah. Makanan burung ini adalah serangga, siput, kelabang, kepiting kecil, telur burung, katak dan ular pohon, semua disantapnya.

Bubut jawa dapat dijumpai di daerah rawa-rawa di pinggir pantai, semak-semak paku laut, padang ilalang sekitar mangrove, semak dan padang rumput dekat aliran sungai. Burung ini merupakan jenis endemik Pulau Jawa atau hanya dapat ditemukan di Pulau Jawa.

Bubut jawa (Centropus nigrorufus). Foto: greeners.co/Ahmad Baihaqi

Bubut jawa (Centropus nigrorufus). Foto: greeners.co/Ahmad Baihaqi

Di Jakarta, bubut jawa hanya dapat ditemukan di kawasan SMMA dan Hutan Lindung Angke Kapuk. Makin sempitnya tempat hidup bubut jawa, dianggap sebagai ancaman utama untuk kelangsungan hidup burung ini. Habitat burung ini yang berada di kawasan pesisir mempunyai nilai ekonomi yang tinggi apabila diubah menjadi kawasan pemukiman, tambak, kawasan perindustrian atau pelabuhan.

Sementara itu, jalak putih (Sturnus melanopterus) berukuran sekitar 20-25 cm. Di alam, burung ini kebanyakan bersarang di lubang-lubang pohon. Populasi burung jalak putih sekarang ini sangat memprihatinkan, sehingga perlu adanya tindakan untuk melestarikan keberadaan jalak putih.

Jalak putih merupakan burung yang sangat terancam punah. Di kawasan Suaka Margasatwa Muara Angke, Jakarta populasi burung ini hanya diperkirakan berjumlah 4-6 individu. Status burung ini menurut IUCN adalah Critical Endangered atau sangat terancam punah. Burung jalak putih termasuk burung langka yang di lindungi oleh pemerintah Indonesia. Semoga kedua harta karun di pesisir Jakarta ini dapat terus terjaga kelestariannya.

Penulis: Ahmad Baihaqi/Indonesia Wildlife Photography

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/harta-karun-yang-tersisa-di-pesisir-jakarta/feed/ 0