satwa terancam punah - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/satwa-terancam-punah/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sat, 12 Aug 2023 04:07:26 +0000 id hourly 1 Yayasan Penyu Indonesia Lindungi Penyu dari Kepunahan https://www.greeners.co/sosok-komunitas/yayasan-penyu-indonesia-lindungi-penyu-dari-kepunahan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=yayasan-penyu-indonesia-lindungi-penyu-dari-kepunahan https://www.greeners.co/sosok-komunitas/yayasan-penyu-indonesia-lindungi-penyu-dari-kepunahan/#respond Sat, 12 Aug 2023 04:05:55 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=41162 Jakarta (Greeners) – Perubahan iklim mengancam kehidupan penyu di Indonesia. Suhu dalam sarang akan memengaruhi jenis kelamin penyu. Ketika suhu sarang semakin tinggi, betina akan mendominasi. Malahan, ancaman tak hanya […]]]>

Jakarta (Greeners) – Perubahan iklim mengancam kehidupan penyu di Indonesia. Suhu dalam sarang akan memengaruhi jenis kelamin penyu. Ketika suhu sarang semakin tinggi, betina akan mendominasi.

Malahan, ancaman tak hanya dari itu saja. Polusi dan sampah plastik di antaranya. Penyu bisa memakan sampah plastik yang terbuang ke perairan. Penyu mengira sampah plastik adalah ubur-ubur.

Padahal penyu merupakan salah satu fauna berperan menjaga ekosistem laut. Populasinya perlu dijaga agar tidak punah. Dalam misi penyelamatan ini, Yayasan Penyu Indonesia (YPI) hadir membuat gerakan penyelamatan penyu dari berbagai ancaman.

Organisasi non profit yang berdiri sejak tahun 2018 telah fokus bekerja dan berkomitmen untuk melestarikan penyu serta habitatnya. Awalnya mereka fokus pada perlindungan satwa liar. Namun keresahan timbul ketika melihat penyu semakin terancam.

Berbagai ancaman itu antara lain eksploitasi manusia, pembangunan di bibir pantai, perburuan, dan perdagangan telur maupun daging penyu.

Program Manager Yayasan Penyu Indonesia, Muhamad Jayuli mengatakan, dari sikap manusia yang semena-mena terhadap penyu mendorong organisasi ini terus menguatkan komitmennya untuk menyelamatkan kehidupan penyu.

“Kami punya visi masa depan penyu dapat dilindungi secara berkelanjutan. Di mana penyu dan manusia dapat hidup berdampingan. Bahkan, manusia pun tidak lagi menimbulkan berbagai ancaman kepada penyu,” kata Jayuli kepada Greeners baru-baru ini.

Dalam menjalankan visinya, YPI membentuk berbagai skema untuk melindungi penyu dengan melibatkan berbagai mitra di sejumlah wilayah peneluran penyu. Ada sejumlah wilayah yang YPI kunjungi untuk konservasi penyu.

Wilayah konservasi penyu YPI antara lain di Pulau Bilang-Bilangan dan Mataha, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Pulau itu merupakan zona inti sesuai Peraturan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Penyu di Indonesia Terancam Perubahan Iklim dan Plastik

Masih dengan ancaman bagi penyu, perubahan iklim bisa memengaruhi kenaikan suhu laut yang berdampak buruk pada keberlangsungan hidup mereka. Sebab, semakin tinggi suhu pada sarang yang mencapai lebih dari 30 derajat Celcius akan membuat penyu dominan berjenis kelamin betina. Hal ini akan mengganggu keseimbangan sex rasio pada penyu.

Selain itu, perubahan iklim juga bisa memicu kenaikan permukaan air laut. Hal ini dapat mengancam keberadaan sarang di pantai peneluran penyu.

Aktivitas dan edukasi YPI bersama anak-anak pesisir tentang penyu. Foto: YPI

Gandeng Masyarakat Lokal

Untuk melindungi habitat penyu, masyarakat lokal khususnya masyarakat pesisir perlu terlibat. Sebab mereka paling dekat dengan habitat penyu. Misalnya, dalam melakukan patroli rutin di perairan, tiga-empat kali sehari.

YPI pun kampanye ke sejumlah wilayah untuk menghentikan eksploitasi terhadap penyu. YPI mengajak masyarakat berhenti menggunakan produk seperti aksesoris dari penyu.

Saat ini YPI punya beberapa fokus kegiatan. Aksi mereka antara lain menjaga penyu dan habitatnya melalui patroli pantai, monitoring, dan pendataan penyu.

Kemudian, mereka juga aktif meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya perlindungan penyu dan ekosistemnya. Tak kalah penting, YPI juga mendampingi dan memberdayakan masyarakat untuk mendorong alternatif ekonomi yang berkelanjutan.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : RIK

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/yayasan-penyu-indonesia-lindungi-penyu-dari-kepunahan/feed/ 0
Bukan Makanan, Kelestarian Kalong Sulawesi Wajib Dijaga! https://www.greeners.co/flora-fauna/bukan-makanan-kelestarian-kalong-sulawesi-wajib-dijaga/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bukan-makanan-kelestarian-kalong-sulawesi-wajib-dijaga https://www.greeners.co/flora-fauna/bukan-makanan-kelestarian-kalong-sulawesi-wajib-dijaga/#respond Thu, 01 Sep 2022 03:41:42 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=37204 Indonesia adalah salah satu negara dengan angka keberagaman kelelawar (Chiroptera) terbesar di dunia. Setidaknya ada 230 spesies Chiroptera yang tersebar ke berbagai daerah. Sedangkan 70 jenis di antaranya berada di […]]]>

Indonesia adalah salah satu negara dengan angka keberagaman kelelawar (Chiroptera) terbesar di dunia. Setidaknya ada 230 spesies Chiroptera yang tersebar ke berbagai daerah. Sedangkan 70 jenis di antaranya berada di Sulawesi, seperti halnya kalong Sulawesi.

Kalong Sulawesi dikenal sebagai Acerodon celebensis. Ini merupakan kelelawar pemakan buah berukuran besar (Megachiroptera), yang tergabung ke dalam famili Pteropodidae dan subfamili Pteropodinae.

Di tanah air, kelompok kelelawar ini biasa disebut kalong. Begitu juga dengan A. celebensis, sebab spesies tersebut mempunyai ukuran tubuh yang besar dan suka mengonsumsi buah-buahan.

Meskipun sangat penting bagi kelestarian alam, kalong endemis dari Sulawesi itu diketahui makin terancam. Populasinya terus mengalami penurunan, seiring meningkatnya aktivitas perburuan satwa liar.

Morfologi dan Ciri-Ciri Kalong Sulawesi

Kalong Sulawesi dapat dikenali dengan mudah. Hewan ini memiliki bulu bahu berwarna kuning yang kontras dengan bulu pada bagian tubuh lainnya, yakni berwarna abu-abu, cokelat kekuningan atau kehitaman.

Jika dibandingkan kelelawar atau kalong pada umumnya, ukuran tubuh A. celebensis memang terhitung cukup besar. Namun bobotnya sendiri cenderung sangat ringan, sebab hanya berkisar 200–250 gram.

Panjang lengan bawah sayap mencapai 120,5–144,3 mm, sedangkan panjang telinga antara 28,2–31,1 mm. Panjang betis disinyalir berkisar 50,2–54,3 mm, sedangkan total tengkoraknya mencapai 62,5–64,9 mm.

Sebagai perbandingan, kalong kapauk (Pteropus vampyrus) adalah spesies terbesar dari famili Pteropodidae. Hewan ini memiliki rentang sayap antara 1.400–1.500 mm dengan bobot tubuh 645–1.100 gram.

Melansir berbagai sumber, lebar satu sayap A. celebensis mencapai 57,07 cm. Apabila keduanya kita buka, maka rentang sayap kelelawar tersebut berkisar 114 cm atau hanya 1.141 mm saja.

Habitat dan Karakteristik Kalong Sulawesi

Seperti yang telah disebutkan, kalong Sulawesi adalah spesies endemis yang berasal dari wilayah Buton, Sulawesi, serta beberapa pulau kecil di sekitarnya seperti Mangole, Sanana, Siau, Sangihe, dan Selayar.

Jenis kelelawar ini menyukai habitat dataran rendah sampai ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut (dpl). Biasanya spesies A. celebensis tampak bergantung di pohon-pohon, terutama kawasan hutan bakau.

Mereka hidup berdampingan dengan spesies kalong lainnya, yakni P. alecto. Spesies P. alecto umumnya bergantung pada percabangan yang rendah, sedangkan P. celebensis menempati percabangan teratas.

Beberapa sumber juga menyebut bahwa spesies P. celebensis tinggal di hutan bambu. Mereka bisa kita jumpai di sepanjang bibir pantai, serta dikenal cukup sensitif–meski sudah familiar–terhadap manusia.

Di alam liar spesies ini memakan berbagai jenis buah-buahan, salah satunya kelapa. Mereka juga bertugas sebagai agen penyerbuk alami, sehingga sangat penting bagi ekosistem yang ada di sekitarnya.

Populasi dan Perburuan Kalong Sulawesi

Merujuk IUCN Red List, status konservasi kalong Sulawesi berada pada kategori “vulnerable” atau rentan. Mereka juga masuk dalam apendiks II CITES, sebab tren populasinya terus menurun dan mengkhawatirkan.

Namun ironisnya, spesies A. celebensis belum dilindungi oleh peraturan perundang-undangan Indonesia. Sehingga meski menyandang status rentan, upaya pencegahaan perburuannya masih sering terkendala.

Menurut ahli, masyarakat memburu kalong dan kelelawar untuk mereka jual dan konsumsi. Beberapa bagian tubuhnya diduga memiliki khasiat obat, sehingga jamak diperjualbelikan di pasar-pasar tradisional.

Harga kalong per ekornya dibanderol mulai dari Rp 30.000–60.000 . Semakin besar bobot kalong, maka harganya akan semakin mahal. Inilah yang mendasari terjadi perburuan satwa, di mana adanya permintaan pasar.

Padahal memakan daging hewan liar meningkatkan risiko zoonosis. Jika tidak dipayungi dengan aturan yang tepat, maka bisa berisiko terhadap kesehatan masyarakat, upaya konservasi, hingga kelestarian satwa.

Taksonomi Spesies Acerodon Celebensis

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/bukan-makanan-kelestarian-kalong-sulawesi-wajib-dijaga/feed/ 0
Perubahan Iklim Bakal Punahkan 37 % Spesies di Tahun 2050 https://www.greeners.co/berita/perubahan-iklim-bakal-punahkan-37-spesies-di-tahun-2050/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=perubahan-iklim-bakal-punahkan-37-spesies-di-tahun-2050 https://www.greeners.co/berita/perubahan-iklim-bakal-punahkan-37-spesies-di-tahun-2050/#respond Wed, 01 Jun 2022 05:01:28 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=36327 Jakarta (Greeners) – Hilangnya keanekaragaman hayati akibat perubahan iklim tak sekadar berimbas pada kebutuhan pangan, energi dan kesehatan, tapi juga keajegan bumi. Apabila tak ada aksi nyata pengelolaan stok karbon […]]]>

Jakarta (Greeners) – Hilangnya keanekaragaman hayati akibat perubahan iklim tak sekadar berimbas pada kebutuhan pangan, energi dan kesehatan, tapi juga keajegan bumi. Apabila tak ada aksi nyata pengelolaan stok karbon dan melawan perubahan iklim, keanekaragaman hayati tak lama lagi akan terancam punah.

Ketua Institute for Sustainable Earth and Resources (I-SER) FMIPA Universitas Indonesia, Jatna Supriatna menyatakan berdasarkan Journal Nature Climate Change bila tak ada aksi nyata dalam melawan perubahan iklim, 37 % spesies akan punah pada tahun 2050. Lalu pada tahun 2100 nanti 70 % biodiversitas akan terancam punah.

“Artinya jika kita tetap pada business as usual dan tanpa ada perubahan yang berarti dalam me-manage climate change maka biodiversitas kita akan punah,” katanya dalam Webinar “Nilai Konservasi Tinggi dan Stok Karbon Tinggi untuk Perlindungan Keanekaragaman Hayati Indonesia”, Selasa (31/5).

Keanekaragaman hayati tak hanya menyokong kebutuhan pangan, energi, kesehatan, tapi juga kestabilan bumi.

“Karena keanekaragaman hayati menyokong keajegan planet bumi. Kalau keanekaragaman hayati punah mungkin kita akan sulit untuk bisa menghuni planet bumi ini,” ucapnya.

Jamin Cadangan Karbon Tekan Dampak Perubahan Iklim

Aksi untuk melawan perubahan iklim tak lepas dari target pencapaian net zero emission (NZE) pada tahun 2060 nanti. Hal yang tak kalah penting, lanjutnya memastikan pengelolaan cadangan karbon yang besar sebagai rumah bagi keanekaragaman hayati.

“Kita harus memastikan berapa stok karbon. Terutama pada wilayah hutan, gambut, mangrove hingga blue carbon di pesisir yang menjadi kontributor besar untuk penyelamatan biodiversitas kita,” ungkapnya.

Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna menyatakan Hari Keanekaragaman Hayati setiap 22 Mei menjadi peringatan penting. Khususnya membagikan pengetahuan kepada seluruh stakeholders dan masyarakat luas pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem termasuk pelestarian keanekaragaman hayati, serta hubungannya dengan ekonomi dan pembangunan yang berkelanjutan.

Laporan komprehensif bertajuk Global Assessment Report on Biodiversity and Ecosystem Services 2019 oleh IPBES (The Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services) memaparkan status keanekaragaman hayati bumi kini semakin mengkhawatirkan.

Para ilmuwan mengungkap saat ini, bumi telah kehilangan lebih dari 80 % satwa menyusui (terdiri dari satwa mamalia dan primata). Pemicunya kerusakan ekosistem alami 100 kali lebih cepat dari yang terjadi selama 10 juta tahun terakhir.

Ia juga mengatakan, keanekaragaman hayati memiliki nilai intrinsik yang berhak untuk tetap hidup. Walau tidak memberikan manfaat langsung bagi manusia. “Kehilangan atau penurunan kondisi keanekaragaman hayati dapat membahayakan nilai dan fungsi tersebut. Serta mempengaruhi kesejahteraan manusia,” imbuhnya.

Dolly menegaskan, upaya untuk menyelamatkan keanekaragaman hayati bukan hanya tugas pemerintah saja. Namun butuh dukungan aktif semua pihak, termasuk sektor swasta dan masyarakat dengan pendekatan bentang alam.

Keanekaragaman Hayati Indonesia Unik dan Endemik

Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dan Direktur Pusat Studi Etika Lingkungan Universitas Nasional, Endang Sukara mengingatkan, keanekaragaman hayati Indonesia sangat unik dan sebagian besar endemik. Kondisi ini tidak dapat ditemukan di negara lain.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengungkapkan potensi ekonomi keanekaragaman hayati terutama untuk bisnis farmasi multi miliar dolar.

“Oleh karena itu, kita harus betul-betul menyadari pentingnya keanekaragaman hayati. Tidak hanya melindunginya tetapi yang lebih penting memanfaatkannya dan keuntungan bagi sebesar-besarnya bagi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia,” tegasnya.

Senada dengan hal tersebut, Presiden Direktur Daemeter Consulting, Aisyah Sileuw menyebut, pendekatan nilai konservasi tinggi dan stok karbon tinggi membantu untuk menyeimbangkan antara kegiatan pembangunan dan konservasi.

“Jika dilakukan secara konsisten, seharusnya tidak ada lagi dikotomi antara pilihan pembangunan dan konservasi karena masing-masing tujuan akan terpenuhi,” imbuhnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/perubahan-iklim-bakal-punahkan-37-spesies-di-tahun-2050/feed/ 0
Restorasi Ekosistem Harus Perkuat Perlindungan Satwa dan Hutan https://www.greeners.co/berita/restorasi-ekosistem-harus-perkuat-perlindungan-satwa-dan-hutan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=restorasi-ekosistem-harus-perkuat-perlindungan-satwa-dan-hutan https://www.greeners.co/berita/restorasi-ekosistem-harus-perkuat-perlindungan-satwa-dan-hutan/#respond Sun, 06 Mar 2022 05:00:05 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=35490 Jakarta (Greeners) – Pemerintah perlu mendorong penguatan kebijakan restorasi ekosistem. Revisi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya harus mendukung penguatan itu. Revisi UU […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pemerintah perlu mendorong penguatan kebijakan restorasi ekosistem. Revisi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya harus mendukung penguatan itu. Revisi UU tersebut sangat penting, untuk memperkuat perlindungan sumber daya alam hayati Indonesia dari berbagai ancaman.

Menurut data dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List of Threatened Species, lebih dari 8.400 spesies fauna dan flora liar terancam punah. Hampir 30.000 lainnya rentan punah.

Hilangnya spesies, habitat dan ekosistem yang terus berlanjut juga mengancam semua kehidupan di bumi termasuk manusia. Karena semua bergantung pada satwa liar dan sumber daya berbasis keanekaragaman hayati untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Saat ini, Komisi IV DPR RI, Kementerian Pertanian (Kementan), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), serta Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sudah menyepakati revisi UU No 5 Tahun 1990 tersebut.

Pokja Kebijakan Konservasi M. Jeri Imansyah mengakui, ada aturan kebijakan rehabilitasi dan reboisasi tapi masih sangat terbatas. Sementara, sambung dia restorasi ekosistem cakupannya sangat luas. Termasuk di dalamnya terkait manajemen dan ketegasan implementasi penegakkan hukum agar menimbulkan efek jera.

“Ini akan menjadi cantolan kita untuk konservasi, termasuk menjadi pemersatu kebijakan-kebijakan terkait konservasi di bawahnya,” katanya dalam Webinar Memulihkan Spesies Kunci untuk Restorasi Ekosistem, Sabtu (5/3).

Restorasi Ekosistem Butuh Pemulihan dan Perlindungan Ekstra

Jeri menyebut, konservasi tak lepas dari proteksi dan pengelolaan habitat, termasuk di dalamnya kawasan lindung dan ekosistem esensial. Kawasan konservasi, seperti taman nasional, suaka margasatwa telah memiliki pengelolaan dan penguatan. Termasuk di dalamnya patroli, monitoring, penegakkan hukum dan edukasi yang telah terstruktur. Sementara, di kawasan ekosistem esensial masih memiliki tantangan tersendiri, karena tak ada standar juknis dan operasional.

“Keberadaan ekosistem esensial sangat penting karena mayoritas area ini bukan kawasan lindung, bukan kawasan hutan. Ada HGU, tanah pribadi rakyat. Kalau ada di wilayah perusahaan swasta lebih mudah koordinasinya, tapi kalau ada di tanah masyarakat ini perlu diatur lagi, tantangan kita,” paparnya.

Jeri menyebut, saat ini mindset masyarakat terhadap pengelolaan satwa liar masih belum menjadi prioritas. Masih banyak masyarakat yang menilai bahwa satwa liar merupakan “hama” yang harus mereka musnahkan, buru bahkan perdagangkan.

Hal ini menyusul banyaknya satwa liar, baik itu gajah, harimau hingga orang utan yang masuk ke pemukiman. Padahal, lanjut Jeri satwa liar masuk ke pemukiman karena habitat mereka yang hilang karena telah dirusak.

“Mindset masyarakat tentang satwa liar ini yang harus kita ubah. Termasuk perilaku kita menuju konservasi yang lebih baik lagi,” imbuhnya.

Tak Sekadar Memperbaiki Habitat Satwa

Anggota Forum Harimau Kita, Irene M.R Pinondang mengatakan, restorasi ekosistem tak sekadar memperbaiki habitat satwa, tapi perlu upaya pemulihan spesies dan hutan. Ancaman deforestasi merupakan hal yang tak terhindarkan mengingat “rumah” harimau berada di hutan. Dan, ketiganya harus berjalan beriringan.

“Kalau harimau ke luar yaitu ke pemukiman, mereka lantas dianggap sebagai “hama”,” ucapnya.
Indonesia memiliki tiga subspesies harimau, yaitu Harimau Jawa (sudah punah sejak tahun 1980an). Lalu Harimau Sumatera dan Harimau Bali (sudah punah sejak 1940-an).

Ia menyebut, angka populasi harimau telah berkurang pesat seiring banyaknya publik figure dan influencer yang memelihara harimau di rumahnya masing-masing. Lalu masyarakat pun mengikuti. Maraknya perdagangan ilegal dan perburuan juga menurunkan populasi harimau.

Satwa Punya Peran di Alam

Sementara itu Wakil Ketua Forum Konservasi Gajah Indonesia, Wisnu Sukmantoro menyatakan, dalam konteks restorasi ekosistem, gajah memiliki fungsi strategis. Fungsi tersebut yakni mempercepat fungsi secara luas karena mereka mampu memencar biji untuk stimulus regenerasi rumput dan semak.

Gajah juga dapat menjadi indikator kebersihan air, mengingat mereka tak akan mendiami kawasan yang tercemar. “Itulah kenapa pemulihan populasi gajah dapat dijadikan sarana untuk melakukan restorasi ekosistem,” ujarnya.

Perwakilan dari Forum Komunikasi Leuser, Afifi Rahmadetiassani mengungkapkan, saat ini jumlah badak di Leuser Barat lebih dari 15 individu. Sedangkan di Leuser Timur tak lebih dari 15 individu. Upaya monitoring dan patroli terus dilakukan untuk mengurangi jumlah perburuan menggunakan perangkap.

Afifi menyatakan, saat ini jumlah perangkap yang forum temukan menurun. Hal ini seiring dengan semakin sadarnya masyarakat terhadap pentingnya keberadaan satwa liar. “Tahun 2016 kita menemukan sebanyak kurang lebih 1.000 perangkap. Tapi di tahun 2019 kita menemukan kurang lebih 219 perangkap,” imbuhnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/restorasi-ekosistem-harus-perkuat-perlindungan-satwa-dan-hutan/feed/ 0
Macaca UNJ : Selamatkan Primata dari Kepunahan https://www.greeners.co/sosok-komunitas/macaca-unj-selamatkan-primata-dari-kepunahan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=macaca-unj-selamatkan-primata-dari-kepunahan https://www.greeners.co/sosok-komunitas/macaca-unj-selamatkan-primata-dari-kepunahan/#respond Fri, 28 Jan 2022 04:00:29 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=35124 Jakarta (Greeners) – Suburnya literasi lingkungan di dunia akademik menjadi asa untuk meningkatkan edukasi konservasi alam dalam masyarakat. Hal itulah yang Kelompok Studi Primata (KSP) Macaca Universitas Negeri Jakarta (UNJ) […]]]>

Jakarta (Greeners) – Suburnya literasi lingkungan di dunia akademik menjadi asa untuk meningkatkan edukasi konservasi alam dalam masyarakat. Hal itulah yang Kelompok Studi Primata (KSP) Macaca Universitas Negeri Jakarta (UNJ) lakukan selama 19 tahun terakhir. Komunitas ini fokus dalam edukasi konservasi primata yang ada di Nusantara.

Seperti visinya, terlihat dalam logo komunitas ini terdapat gambar monyet berekor panjang atau spesies Macaca Fascicularis. Banyak yang mengenal primata ini paling aktif dan adaptif. “Sama halnya dengan primata itu, diharapkan orang-orang KSP Macaca UNJ juga mampu beradaptasi dan berkembang di mana saja,” ujar Alfa Female atau Ketua KSP Macaca UNJ, Inge Oktavianti Fabian dalam diskusi Kupas Komunitas bersama Greeners, Rabu (26/1).

Rantai semangat konservasi primata mereka jaga dari setiap angkatan mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan (FMIPA) UNJ. Selain memperkaya melalui literasi dan diskusi lintas kampus maupun LSM sejenis, komunitas ini juga aktif melakukan monitoring rutin ke Muara Angke.

Menurut Inge, kondisi terkini primata di Muara Angke jauh lebih baik dan lebih banyak dibanding sebelum pandemi Covid-19. Inge menyebut, pandemi Covid-19 bisa jadi pemicu perkembangbiakan mereka. Namun, Inge menyebut, kondisi primata di Nusantara sangat memprihatinkan.

Hal ini terlihat dari lima hingga 10 tahun terakhir banyak primata yang terancam punah. Padahal, Indonesia sebagai negara ketiga besar di dunia karena memiliki 61 jenis primata endemik. Sayangnya, 70 % primata tersebut terancam punah. Sementara, untuk jenis endemik yang paling terancam, yakni orang utan Kalimantan, orang utan Sumatra serta orangutan Tapanuli.

Miliki Kekerabatan Paling Dekat dengan Manusia

Secara biologis, primata merupakan salah satu hewan yang mempunyai kekerabatan paling dekat dengan manusia. Perannya dalam ekosistem hutan sangatlah krusial yakni sebagai pemencaran biji. Bahkan, lebih dari 75 % penyebaran vegetasi yang ada pada ekosistem hutan tropis frugivora (famili primata pemakan buah) lakukan.

Menurut Inge, penyebab kontribusi terbesar punahnya satwa ini yakni akibat maraknya perburuan dan perdagangan. Tak sekadar secara konvensional, perdagangan primata juga marak terjadi di media sosial, seperti Facebook. Mereka, sambung Inge rata-rata memburu dan menjual primata untuk konsumsi dan pelihara.

“Kalau dipelihara berarti dari bayi. Sedangkan untuk membawa bayi otomatis harus membunuh satu keluarganya dulu. Ini sangat menurunkan populasinya. Itulah kenapa perburuan dan perdagangan liar itu jadi marak,” ungkapnya.

Topeng Monyet Menyalahi Kodrat Primata

Fenomena maraknya topeng monyet yang masih berkeliaran juga membuat miris hati Inge. Pasalnya, monyet yang telah memiliki habitat sendiri itu manusia paksa menjadi pemuas hiburan. Padahal sejatinya, monyet berjalan dengan empat tungkai tapi karena dipaksa dua tungkai di atraksi tersebut.

“Itu menyalahi kodrat dan menurunkan kesejahteraan mereka. Terlebih untuk proses pembiasaan jalan dua kaki, monyet digantung. Itu menyakitkan,” tegasnya.

Pemerintah, sambung Inge melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) sejauh ini telah banyak melakukan konservasi. Masyarakat yang masih menemukan topeng monyet atau primata yang manusia pelihara bisa melaporkan ke nomor pengaduan BKSDA. “Bisa foto atau video lalu kirim ke hotline BKSDA dengan memberi tahu nama, identitas, lokasi topeng monyet langsung penyikapan BKSDA,” kata Inge.

Adanya beragam kasus tersebut juga menggerakkan KSP Macaca UNJ untuk menyuarakan aksi konservasi secara online, baik melalui Youtube, Podcast, hingga TikTok. “Kenapa kita mulai main TikTok? Karena kita banyak menemukan anak-anak di TikTok yang dengan bangganya memamerkan pelihara primata mereka. Ini yang membuat kita akhirnya mengedukasi lewat sini,” paparnya.

Komunitas ini juga berkomitmen untuk menggalakkan generasi muda ikut serta dalam konservasi satwa yang semakin punah ini.

Penulis : Ramadani Wahyu

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/macaca-unj-selamatkan-primata-dari-kepunahan/feed/ 0
Kupu-Kupu Raja, Spesies Troides Besar yang Makin Terancam https://www.greeners.co/flora-fauna/kupu-kupu-raja-spesies-troides-besar-yang-makin-terancam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kupu-kupu-raja-spesies-troides-besar-yang-makin-terancam https://www.greeners.co/flora-fauna/kupu-kupu-raja-spesies-troides-besar-yang-makin-terancam/#respond Sat, 27 Nov 2021 03:00:55 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=34513 Kupu-kupu raja atau common birdwing adalah spesies kupu-kupu besar yang berasal dari famili Papilionidae. Mereka ilmuwan golongkan dalam genus atau suku Troides, sehingga berkerabat dekat dengan spesies Troides cuneifera. Secara […]]]>

Kupu-kupu raja atau common birdwing adalah spesies kupu-kupu besar yang berasal dari famili Papilionidae. Mereka ilmuwan golongkan dalam genus atau suku Troides, sehingga berkerabat dekat dengan spesies Troides cuneifera.

Secara klasifikasi, kupu-kupu raja ahli kenal dengan sebutan T. helena. Spesiesnya pertama kali dideskripsikan oleh Carolus Linnaeus, seorang ilmuwan asal Swedia, pada tahun 1758.

Jangan bingung, sebagian orang juga menjuluki Danaus plexippus sebagai kupu-kupu raja. Keduanya memang memiliki panggilan yang sama, mungkin karena ukuran tubuh mereka.

Dibanding kupu-kupu lain, ukuran kupu-kupu raja terbilang cukup besar. Mereka memiliki corak yang sangat indah, sehingga sering ditangkap secara ilegal sebagai hewan peliharaan.

Morfologi dan Ciri-Ciri Kupu-Kupu Raja

Spesies T. helena tergolong sebagai hewan dimorfis, sehingga kita dapat membedakan jenis jantan dan betinanya melalui ukuran serta corak warna yang terdapat pada tubuh mereka.

Ukuran tubuh kupu-kupu betina biasanya lebih ramping daripada pejantan. Warna kuning pada sayapnya juga tidak terlalu pekat, namun mempunyai corak hitam yang lebih banyak.

Ruas dan tepi sayap kupu-kupu raja secara umum berwarna hitam. Pola corak dan bentuk sayap-sayapnya terlihat serupa, dengan warna dada dan kepala dominan berwarna hitam.

Perut T. helena berwarna cokelat muda di bagian atas, namun kekuningan di bagian bawah. Kupu-kupu ini berkembang hingga seberat 0,25-0,75 g, dengan bentang sayap 13-17 cm.

Meskipun bertubuh lebih kurus, bentang sayap kupu-kupu raja betina ilmuwan yakini lebih panjang. Mereka setidaknya mempunyai 17 subspesies, yang menyebar ke berbagai negara.

Habitat dan Distribusi Kupu-Kupu Raja

Common birdwing merupakan spesies kupu-kupu yang berasal dari ecozone Australasia atau Indomalaya. Kita bisa menemukan hewan ini di Nepal, India, Bangladesh, hingga Myanmar.

Tidak cuma itu, mereka juga ditemukan di kawasan timur dan semenanjung Malaysia, Laos, Kamboja, Thailand, Vietnam, selatan Cina, Hong Kong, bahkan sebagian wilayah Indonesia.

Di Tanah Air sendiri, kupu-kupu raja umumnya tersebar dari Pulau Sumatra, Nias, Enggano, Jawa, Bawean, Kangean, Bali, Lombok, Sumbawa, Natuna, Sulawesi, Butung, serta Borneo.

Spesies T. helena hanya memakan satu jenis tumbuhan saat menjadi larva. Ketika dewasa varian makanannya jadi lebih beragam, namun kebanyakan berasal dari genus Aristolochia.

Tumbuhan suku Aristolochia adalah flora beracun. Tanaman ini dikonsumsi oleh kupu-kupu raja sebagai proteksi diri, agar para predator (kelompok burung) enggan mendekati mereka.

Proses Metamorfosis Kupu-Kupu Raja

Proses metamorfosis telur menjadi kupu-kupu sekitar 70 hari. Spesies betina menghasilkan satu sampai lima butir per hari, dengan tingkat keberhasilan pembiakkan mencapai 75%.

Agar makin paham terkait proses metamorfosis kupu-kupu raja, simak uraian berikut ini:

  1. Fase pertama; dari telur menjadi ulat setidaknya memerlukan 10 hari, telur berubah menjadi ulat dengan ciri-ciri memiliki corak kuning dan hitam
  2. Fase kedua; tampilan ulat menjadi lebih besar, corak warnanya telihat lebih jelas dengan dominan warna kuning dan bintik-bintik hitam
  3. Fase ketiga; bercak hitam pada bagian sayap tampak lebih menonjol ketimbang warna kuning. Proses ini memakan waktu sekitar 10 hari, dengan ukuran tubuh ulat yang menjadi lebih besar.
  4. Fase keempat; warna kuning di bagian tubuh sudah tidak terlihat lagi, berubah menjadi cokelat. Ulat menggantung mengeluarkan serat tali, lalu bersiap menjadi kepompong.
  5. Fase kelima; dari kepompong, butuh waktu sekitar dua hari untuk menjadi kupu-kupu raja. Mereka hidup selama 23 hari, serta butuh waktu 1-2 jam untuk belajar terbang.

Menurut IUCN Red List, status konservasi T. helena berada pada level risiko rendah (least concern). Namun populasinya terus menurun, sehingga tergolong sebagai hewan dilindungi.

Taksonomi Spesies Troides Helena

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/kupu-kupu-raja-spesies-troides-besar-yang-makin-terancam/feed/ 0
Burung Jalak Bali, Si Putih Bermata Biru dari Pulau Dewata https://www.greeners.co/flora-fauna/burung-jalak-bali/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=burung-jalak-bali https://www.greeners.co/flora-fauna/burung-jalak-bali/#respond Fri, 26 Mar 2021 03:00:38 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=14756 Siapa sih yang enggak kenal Burung Jalak Bali (Leucopsar rothschildi)? Dibanding spesies Sturnidae lainnya, nama satwa tersebut mungkin menjadi yang paling populer di masyarakat. Saking terkenalnya, gambar burung ini bahkan sempat tercantum di dalam uang logam kita!]]>

Siapa sih yang enggak kenal Burung Jalak Bali (Leucopsar rothschildi)? Bila kita bandingkan dengan spesies Sturnidae lainnya, nama satwa tersebut mungkin menjadi yang paling populer di masyarakat. Saking terkenalnya, gambar burung ini bahkan sempat tercantum di dalam uang logam kita!

Jalak Bali atau Curik Bali merupakan satwa endemik Tanah Air yang hanya bisa kita temukan di bagian barat Pulau Dewata. Mereka terkenal sebagai burung pengicau yang memiliki ukuran tubuh sedang.

Sejak tahun 1991, curik mendapat penobatan sebagai fauna identitas dari Provinsi Bali. Mereka juga satu-satunya hewan endemik yang berasal dari pulau tersebut setelah harimau Bali dinyatakan punah. 

Jika Anda perhatikan, pada uang logam nominal Rp200 keluaran tahun 2003, terdapat gambar satwa ini dan garuda yang menjadi simbol kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia.

Morfologi dan Ciri-Ciri Burung Jalak Bali

Secara morfologi, unggas bergenus Leucopsar ini bisa kita kenali dari warna bulunya yang putih bersih. Mereka dapat berkembang biak hingga sepanjang 25 cm, dengan bobot berkisar 107,75 g.

Pelupuk matanya yang berwarna biru tua juga jadi ciri khas dari burung jalak Bali. Berkat kombinasi corak tersebut, spesies mereka awam percayai sebagai salah satu burung tercantik yang ada di Indonesia.

Bagian paruhnya dapat tumbuh antara 2 – 3 cm. Pada ujung paruhnya terlihat corak berwarna kuning kecokelatan, dengan bagain rahang yang berwarna abu-abu kehitaman.

Umumnya, kelompok Leucopsar rothschildi mempunyai bulu ekor berwarna hitam selebar 25 mm. Jumlah bulu tersebut mencapai 17 – 18 helai, dengan jumlah bulu sayap berkisar 11 – 12 helai.

Jika kita ukur, panjang rata-rata kepala curik Bali mencapai 5 cm. Lehernya hanya berukuran 2 cm, bagian sayap 13 cm, panjang ekor 6 cm, serta panjang kaki (tidak termasuk paha) sekitar 4 cm.

burung jalak bali

Pelupuk matanya yang berwarna biru tua juga jadi ciri khas dari burung jalak Bali. Foto: Shutterstock.

Perbedaan Burung Jalak Bali Jantan dan Betina

  • Jambul pejantan relatif lebih panjang daripada sang betina.
  • Ukuran tubuh jantan lebih besar dan gagah. Sedangkan betina tampak lebih ramping.
  • Kepala jantan terlihat lebih panjang dan besar. Sedangkan kepala betina lebih kecil dan cenderung lebih bulat.
  • Secara tampilan, burung jalak Bali jantan disinyalir lebih indah daripada sang betina. Mereka mempunyai jambul di kepalanya dengan beberapa helai bulu berwarna putih bersih.

Kebiasaan dan Karakteristik Burung Jalak Bali

Untuk mengetahui kebiasaan dan karakteristik burung jalak Bali, kita bisa mengidentifikasinya berdasarkan suara, reproduksi hingga aktivitas hariannya. Agar tidak salah, berikut selengkapnya.

1. Pola Reproduksi

Ciruk Bali tergolong sebagai satwa monogamous, sehingga ia hanya memiliki satu pasangan pada satu musim perkawinan. Usia perkawinan sendiri mereka capai pada umur dua tahun.

Seekor jalak betina mampu menghasilkan telur sebanyak tiga butir. Telur-telur tersebut nantinya akan dierami oleh kedua induk selama kurang lebih 16 hari.

2. Suara Burung Jalak Bali

Suara burung jalak bali terdengar sangat khas, yakni campuran antara bersiul dan lengkingan. Mereka tergolong sebagai burung bersuara bising, yang terkadang meniru suara burung lainnya.

3. Aktivitas Harian

Di habitatnya, spesies Leucopsar rothschildi termasuk senang berkelompok. Mereka terbang berpasang-pasangan utnuk mencari makan, lalu bersarang di dalam lubang pohon setinggi 2,5 – 7 m.

Aktivitas sehari-hari mereka cenderung sama dan berulang. Menurut pakar, setelah matahari terbit mereka akan terbang menuju tempat makan, lalu kembali untuk tidur saat matahari terbenam.

Perlu kita ketahui, curik Bali adalah salah satu jenis burung yang senang kebersihan. Ia senang bermain di air untuk membersihkan diri, kemudian berjemur untuk mengeringkan bulu-bulunya.

jalak bali

Jalak bali (Leucopsar rothschildi) atau disebut juga Curik Bali merupakan satwa endemik Indonesia yang hanya dapat ditemukan di Pulau Bali bagian Barat. Foto: greeners.co/Ahmad Baihaqi (Indonesia Wildlife Photography).

Habitat Burung Jalak Bali serta Status Konservasinya

Ingin melihat fauna ini langsung di habitatnya? Maka, Anda harus menyambangi wilayah-wilayah seperti hutan mangrove, hutan rawa, hutan musim dataran rendah, serta padang savana.

Meski saat ini hanya bisa dijumpai di Taman Nasional Bali Barat, mulanya mereka tersebar di daerah Tegal Bunder, Lampu Merah, Batu Gondang, Prapat Agung, Batu Licin, hingga Teluk Brumbun.

Sebagai informasi, jalak Bali merupakan satwa dengan populasi amat langka dan terancam punah. Menurut perkiraan pakar, hanya tinggal belasan ekor yang mampu bertahan hidup di alam liar.

Berdasarkan PP No. 7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, burung jalak Bali adalah fauna yang dilarang perdagangannya kecuali hasil penangkaran dari generasi ketiga.

International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) sendiri memasukkan buruk ini pada kategori “Critically Endangered” atau satwa liar berstatus terancam punah.

Melansir berbagai sumber, penurunan populasi jalak Bali disebabkan oleh maraknya deforestasi (penggundulan hutan), perburuan, serta perdagangan liar.

Untuk menghindari kepunahan satwa tersebut, pemerintah lantas mendirikan beberapa pusat penangkaran Leucopsar rothschildi – salah satunya terletak di Buleleng, Bali – sejak tahun 1995.

Taksonomi Burung Jalak Bali

taksonomi burung jalak bali

Referensi

Laman Portal Informasi Indonesia

Laman KSDA Bali

Putu Indra Pramana Wirastika, Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Penulis: Yuhan Al Khairi, Ahmad Baihaqi/Indonesia Wildlife Photography

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/burung-jalak-bali/feed/ 0
Badak Jawa, Satwa Bercula Satu yang Pernah Dianggap Hama https://www.greeners.co/flora-fauna/badak-jawa/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=badak-jawa https://www.greeners.co/flora-fauna/badak-jawa/#respond Fri, 01 Jan 2021 02:00:15 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=19560 Di masa lampau badak jawa tidak hanya ada di pulau Jawa, melainkan hidup tersebar di gunung-gunung wilayah sebagian besar Asia Tenggara sampai ke India. Perburuan besar-besaran disinyalir menjadi penyebab utama penyusutan populasinya.]]>

Salah satu penyebab menyusutnya keanekaragaman hayati di Indonesia adalah eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan. Bukan cuma flora, fauna besar seperti Badak Jawa pun turut terancam keberadaannya jika upaya pemanfaatan yang berkelanjutan tak segera kita galakkan.

Seperti kita ketahui, Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) merupakan spesies terlangka dari lima spesies badak yang ada di dunia, yakni Badak Sumatra, Badak Hitam, Badak Putih dan Badak India.

Bersama badak sumatra, Javan rhino ini berada di ambang kepunahan karena hanya berjumlah 74 ekor untuk badak jawa dan 100 ekor untuk badak sumatra.

Tidak cuma itu, jenis badak hitam pun tergolong sebagai satwa yang terancam punah. Pakar mensinyalir opulasi spesies ini hanya berjumlah 5.055 ekor, sedang badak putih mencapai 20.408 ekor di habitatnya.

Asal-Usul dan Habitat Badak Jawa

Di masa lampau, spesies Rhinoceros sondaicus tidak cuma hidup di kawasan pulau Jawa saja, namun menyebar hingga area pegunungan khususnya wilayah Asia Tenggara sampai ke India.

Menurut ahli sejarah, dulu badak jawa tinggal tidak jauh dari pemukiman manusia. Bahkan pada abad ke-18, hewan yang satu ini warga anggap sebagai hama karena mengganggu tanaman perkebunan warga.

Bukan cuma itu, pemerintah kolonial Belanda yang saat itu berkuasa bahkan pernah mengadakan sayembara, dengan total hadiah sebesar 10 gulden bagi siapa saja yang berhasil membunuhnya.

Padahal bila kita telaah lebih lanjut, fauna bertubuh gempal ini terbilang sangat unik sebab menjadi salah satu spesies yang berevolusi saat pembentukan kawasan ‘Sunda Land’ ribuan tahun silam.

Jika ingin melihat badak jawa di habitat aslinya, saat ini hewan tersebut bisa kita temukan di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Banten, dengan daya dukung berkisar 50 individu saja.

Morfologi dan Ciri-Ciri Badak Jawa

Morfologi atau ciri fisik badak sebenarnya dapat kita bedakan berdasarkan jenisnya. Oleh sebab itu, jenis badak sumatra dan jenis badak jawa jelas mempunyai ciri yang berbeda meski tampak serupa.

Secara fisik, javan rhino memiliki satu cula dengan ukuran sekitar 25 cm. Sedang Dicerorhinus sp (nama ilmiah badak sumatra) bercula dua; 28-80 cm untuk cula depan dan 10 cm untuk cula belakang.

Kedua kulit hewan ini juga berbeda, bagian kulit badak cula satu berwarna abu-abu dengan teksturnya tidak rata dan berbintik, sedang badak sumatra berwarna cokelat keabu-abuan serta berambut.

Beberapa jenis Sumatran Rhino juga memiliki kulit berwarna cokelat kemerah-merahan. Spesies yang satu ini terkenal sebagai jenis badak dengan jumlah rambut terbanyak di antara sub-spesies lainnya.

Selain beberapa ciri di atas, ada fakta unik lain yang patut Anda ketahui terkait badak jawa, seperti:

  • Berat badan hewan ini bisa mencapai 900-2.300 kg;
  • Tinggi badannya berkisar 1,7 m dengan panjang 2-4 m;
  • Cula pada badak betina biasanya sangat kecil, bahkan bisa saja tidak ada;
  • Badak jantan mencapai fase dewasa setelah 10 tahun, sedang betina pada usia 5-7 tahun;
  • Masa mengandung badak betina antara 15-16 bulan; dan
  • Bagian atas bibirnya meruncing untuk mempermudah mengambil daun dan ranting.
badak jawa

Badak sumatra dan jenis badak jawa jelas mempunyai ciri yang berbeda meski tampak serupa. Foto: Shutterstock.

Penyebab Kepunahan Badak Jawa

Melansir WWF Indonesia, kasus perburuan liar badak Jawa sudah tidak ada sejak tahun 1990-an. Hal ini berkat efektifnya penegakan hukum dan langkah inisiatif pelestarian badak.

Meski begitu, bukan berarti ancaman terhadap satwa langkah ini lantas berkurang. Terdapat beberapa dua faktor lain yang menjadi ancaman terbesar bagi populasi badak saat ini, yaitu:

1. Berkurangnya Keragaman Genetis

Badak merupakan hewan penyendiri serta ‘pemalu,’ sehingga sangat sulit bagi hewan tersebut untuk mendapatkan pasangan dan melakukan reproduksi secara alamiah.

Populasi badak yang sedikit menyebabkan rendahnya keragaman genetis, hal ini secara otomatis memperlemah kemampuan spesies tersebut dalam menghadapi wabah penyakit dan bencana alam.

2. Degradasi dan Hilangnya Habitat

Sudah jadi rahasia umum, masifnya aktivitas alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian membuat ruang gerak badak di habitatnya semakin sempit setiap tahunnya.

Bahkan berdasarkan laporan daftar satwa liar terbaru Malaysia, badak jawa telah dinyatakan punah (extinct) akibat tingginya kegiatan deforestasi untuk kebutuhan komersil secara ilegal di sana.

3. Menipisnya Sumber Makanan

Bukan cuma penebangan hutan, salah satu penyebab menipisnya sumber makananan badak adalah pertumbuhan tanaman langkap (Arenga obtusifolia) yang tidak terkontrol di habitatnya.

Tajuk langkap yang melebar dan berjumlah banyak menutupi sinar matahari bagi tumbuhan rendah di sekitarnya. Salah satu flora yang mati akibat pertumbuhan langkap adalah golongan pakan badak.

Baca juga: Bisik-Bisik Kuping Gajah, Ayo Kita Intip Daunnya yang Berkilau

Upaya Konservasi dan Manfaat Badak Jawa

Jurnal Konservasi (Conservation Letter) menyebut sebagian populasi badak jawa di TNUK berada dalam jangkauan Gunung Berapi Krakatau. Dekat dari Cekungan Sunda.

Kedua lokasi ini merupakan daerah konvergen lempengan tektonik, yang berpotensi menyebabkan gempa bumi serta dapat memicu terjadinya bencana tsunami.

Dalam studi tersebut, pakar memroyeksikan jika terjadi bencana tsunami setinggi 10 m dalam 100 tahun ke depan, maka dapat mengancam 80% area TNUK yang notabenenya menjadi habitat badak jawa.

Maka dari itu, peneliti mendesak untuk segera melakukan pembangunan habitat baru di lokasi yang lebih aman, seperti Hutan Baduy, Taman Nasional Halimun-Salak, Cagar Alam Sancang dan Cikepuh.

Badak jawa adalah satwa yang sangat penting, menurut Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Wiratno, hewan ini bisa menjadi indikator kelestarian hutan.

Apabila hutan masih lestari maka lokasi tersebut menjadi tempat tinggal favorit badak, namun jika hutannya sudah rusak maka hewan-hewan tersebut akan pindah bahkan mati di dalamnya.

Taksonomi Badak Jawa

badak jawa

Referensi:

Laman DLHK Yogyakarta

Laman Yayasan Badak Indonesia

U. Mamat Rahmat dalam Jurnal Manajemen Hutan Tropika

Laman WWF Indonesia

Penulis: Yuhan Al Khairi, Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/badak-jawa/feed/ 0
Banteng, Fauna Pengembara yang Senang Berkelompok https://www.greeners.co/flora-fauna/banteng/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=banteng https://www.greeners.co/flora-fauna/banteng/#respond Mon, 21 Dec 2020 00:00:39 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=19705 Bagi masyarakat Indonesia, banteng atau tembadau adalah satwa yang sangat penting. Selain sebagai fauna endemik, kepala dari hewan ini bahkan jadi salah satu lambang dari ideologi negara kita.]]>

Bagi masyarakat Indonesia, banteng atau tembadau adalah satwa yang sangat penting. Selain sebagai fauna endemik, kepala dari hewan ini bahkan jadi salah satu lambang dari ideologi negara kita.

Bukan cuma itu, tak banyak yang mengetahui jika nama ‘Banteng’ sendiri berasal dari aksara Jawa, yaitu Banthèng. Serapan dari bahasa ini lantas jadi nama umum dari spesies tersebut di seluruh dunia.

Selain Bos javanicus (nama ilmiah banteng Jawa), setidaknya ada empat spesies lain yang tersebar di berbagai benua seperti Bos mutus, Bos souveli, Bos primigenius serta Bos gaurus.

Spesies Bos primigenius atau Auroch sendiri diketahui sudah punah, sedang Bos gaurus merupakan jenis tembadau yang kerap diikutsertakan dalam tradisi adu banteng di negara Spanyol.

Habitat, Pesebaran dan Populasi

Di habitat aslinya, banteng tergolong sebagai hewan liar yang banyak hidup di daerah Kamboja, Pulau Jawa, Pulau Kalimatan, Thailand hingga kawasan Sabah di Malaysia.

Selain itu, satwa yang satu ini juga kerap warga manfaatkan sebagai hewan ternak, seperti di kawasan Bali, Sulawesi, Sumbawa, Sumba, Australia, Malaysia dan Papua Nugini.

Tembadau ternak di Pulau Dewata awam kenal sebagai Sapi Bali, populasi hewan ini terbilang sangat banyak karena mencapai 25% dari total populasi sapi yang ada di Indonesia.

Sayangnya, hal tersebut berbanding terbalik dengan keberadaannya di alam liar. Menurut Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam, jumlah banteng yang ada di tanah air terus menurun tiap tahunnya.

Pada 2013, jumlah hewan tersebut tercatat mencapai 50 ekor. Sedangkan pada 2014 angkanya berkurang menjadi 47 ekor; tahun 2015 menjadi 39 ekor; dan di tahun 2016 tersisa 22 ekor saja.

IUCN Redlist bahkan mengkategorikan spesies Bos javanicus sebagai fauna konservasi ‘Endangered’ atau terancam punah, yang perlu dilindungi serta dilestarikan.

Morfologi dan Ciri-Ciri Tembadau

Banteng merupakan hewan yang besar, tegap dan kuat. Bahu depannya lebih tinggi daripada bagian belakang, serta memiliki ciri khas adanya sepasang tanduk di bagian kepalanya.

Pada tembadau jantan dewasa, tanduknya berwarna hitam mengilap, runcing dan melengkung ke arah depan, sedang betina dewasa memiliki tanduk lebih kecil serta melengkung ke belakang.

Di bagian tengah dadanya, terdapat sebuah gelambir (dewlap) yang memanjang dari pangkal kaki hingga ke bagian leher (tidak mencapai area kerongkongan).

Menurut berbagai sumber, berat fauna yang satu ini bisa mencapai 900 kg dengan tinggi bahu berkisar 170 cm. Namun ukuran tinggi bahu sebenarnya cukup beragam, tergantung dari usia hewan tersebut.

Misalnya, tinggi bahu tembadau jantan usia 8-10 tahun bisa mencapai 170 cm, sedang banteng betina (pada usia yang sama) hanya berkisar 150 cm saja.

Pada bagian pantat, hewan besar ini bisa kita kenali dengan ciri khas corak belanga yang putih. Bagian kakinya juga tampak seperti memakai kaos kaki, begitu pula dengan bagian bibir yang berwarna putih.

Salah satu perbedaan terbesar antara banteng jantan dan betina adalah warna bulunya. Kelompok pejantan biasanya punya bulu berwana hitam, sedang betinanya memiliki warna coklat kemerahan.

Sifat Banteng di Habitat Aslinya

Tak banyak yang mengetahui jika banteng memiliki sifat pengembara. Hewan ini suka melaksanakan perjalanan jauh sambil mencari rumput, buah-buahan hingga ranting muda sebagai bahan panganan.

Bukan cuma itu, satwa bertubuh kekar ini juga terkenal sangat senang berkumpul dan berkelompok. Pada saat berkumpul, jumlah kawanannya bisa mencapai 10-12 ekor per kelompoknya.

Anggota kelompok pada kawanan tembadau terbilang bervariasi, biasanya terdiri dari pejantan dewasa, induk, anak-anaknya, serta beberapa tembadau jantan muda (2-5 ekor).

Selain sebagai pengawal kawanan, tembadau jantan muda inilah yang nantinya akan menggantikan ketua kelompok. Oleh sebab itu, perannya terhadap kawanan terbilang cukup penting.

Kendati demikian, pergantian ketua kelompok tak selamanya berujung damai. Dalam prosesnya, penentuan pimpinan baru ini kerap memancing perkelahian antar anggota regu.

Bahkan, tak jarang calon ketua yang kalah lalu memisahkan diri dari kelompok sebelumnya (terkadang betinanya mengikuti), kemudian membentuk koloni tembadau yang baru.

Uniknya, banteng yang sudah tua dan mendekati ajalnya akan memisahkan diri, serta menjadi banteng soliter. Kelompok hewan tertua inilah yang kerap menjadi mangsa empuk bagi predator di alam liar.

banteng

Uniknya, banteng yang sudah tua dan mendekati ajalnya akan memisahkan diri, serta menjadi banteng soliter. Foto: Shutterstock.

Fakta-Fakta Menarik terkait Banteng Jawa

Faktanya, meski berbadan kekar ternyata banteng tidak tahan lho, jika terpapar terik matahari dalam waktu lama. Selain fakta tersebut, terdapat fakta unik lain yang menarik untuk diketahui, seperti:

  • Punya Penciuman dan Pendengaran Tajam

Menurut laporan Balai Taman Nasional Baluran (tahun 2006), tembadau merupakan satwa yang mempunyai daya penciuman serta pendengaran yang cukup tajam.

Salah satu buktinya adalah pada saat makan hewan tersebut kerap kali mengangkat kepalanya sambil mengibas-ibaskan telinga, untuk mendengar apakah ada bahaya yang mengintai di sekitar mereka.

Jika ditemukan adanya tanda-tanda predator, maka hewan pertama yang mengetahui hal tersebut akan segera menghadap ke sumber bahaya sambil memberi isyarat kepada kawanan lainnya.

  • Cara Menyelamatkan Diri yang Terstruktur

Cara menyelamatkan diri fauna ini juga sangat terstruktur. Setelah mendapat sinyal bahaya, kelompok tembadau muda dan betina akan masuk ke dalam hutan, lalu diikuti dengan pejantan dewasa.

Sebenarnya, banteng sendiri lebih menyukai daerah yang luas dan tidak ada gangguan alami. Sehingga meski berbadan besar dan kuat, namun hewan ini tidak akan menyerang jika tidak merasa terancam.

  • Tembadau adalah Hewan yang Buta Warna

Kita tentu sudah sangat familiar dengan cerita banteng dan kain merah matador. Berdasarkan kisah tersebut, banyak masyarakat yang berasumsi jika tembadau sangat membenci warna merah.

Nyatanya bukan warna merah yang membuat hewan tersebut mengejar muleta, tetapi pergerakan kainnya. Tembadau sendiri cukup sensitif terhadap pergerakan, apalagi jika dilakukan secara tiba-tiba.

Perlu diketahui, menurut beberapa penelitian fauna mamalia ini tergolong hewan yang buta warna. Sehingga, asumsi terhadap banteng yang membenci warna merah agaknya terpatahkan.

Taksonomi Banteng Jawa

banteng jawa

Referensi:

Yayat Rukhiyat dalam Banteng Bioekologi dan Konservasi di Indonesia

Portal Informasi Indonesia

Penulis: Yuhan Al Khairi, Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/banteng/feed/ 0
Monyet Hitam Sulawesi, Si Hitam Berjambul https://www.greeners.co/flora-fauna/monyet-hitam-sulawesi-si-hitam-berjambul/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=monyet-hitam-sulawesi-si-hitam-berjambul https://www.greeners.co/flora-fauna/monyet-hitam-sulawesi-si-hitam-berjambul/#respond Fri, 14 Sep 2018 07:08:16 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=21332 Monyet hitam sulawesi atau yang dikenal dengan nama ‘yaki’ (Macaca nigra) merupakan salah satu dari delapan jenis Macaca endemik Sulawesi. Menariknya, primata ini memiliki rambut yang mencolok layaknya jambul.]]>

Sebagian besar jenis primata di Indonesia berstatus dilindungi termasuk monyet hitam sulawesi. Monyet hitam sulawesi (Macaca nigra) merupakan satwa yang dilindungi di Indonesia berdasarkan UU RI No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan Permen LHK No. 20 tahun 2018 tentang Penetapan Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Populasi monyet ini diperkirakan kurang dari 100.000 ekor sejak tahun 1998.

Monyet yang dikenal dengan nama “yaki” ini merupakan satu dari delapan jenis Macaca endemik Sulawesi yang dapat dijumpai di wilayah Sulawesi Utara, antara lain di Cagar Alam Dua Saudara, Pulau Bacan, Menembo Nembo, Kota Mobagu dan Modayah (Supriyatna dan Wahyono, 2000).

Saat ini jumlah monyet hitam sulawesi semakin berkurang bahkan menghadapi kepunahan. Aktivitas perburuan liar menjadi faktor terbesar berkurangnya populasi monyet jenis ini di alam. Daftar merah IUCN telah lama memasukkan monyet hitam sulawesi dalam daftar status konservasi Critically Endangered (kritis). CITES juga memasukkan satwa endemik ini dalam Apendix II, yang artinya spesies ini tidak segera terancam punah tetapi akan terancam punah bila perdagangan terus berlanjut tanpa adanya pengaturan.

Secara morfologi, tinggi monyet hitam sulawesi sekitar 44-60 cm dengan berat badan 7-15 kg. Tubuh dan wajah monyet ini berwarna hitam kecuali bokongnya yang berwarna merah muda. Bulu di punggungnya lebat dan mempunyai tekstur yang halus. Ia juga memiliki jambul di depan kepalanya.

monyet hitam sulawesi

Mengutu (grooming) adalah salah satu cara monyet hitam sulawesi bersosialisasi. Foto: flickr

Monyet hitam sulawesi merupakan primata yang hidup berpasangan dan berkelompok (multimale-multifemale). Pendekatan sosial monyet ini dilakukan dengan cara mengutu (grooming). Cara berinteraksi monyet ini dengan mengeluarkan suara, menonjolkan postur tubuh dan berekspresi lewat mimik muka. Biasanya monyet jenis jantan akan berkelahi untuk memperebutkan wilayah, pakan dan betina (Cawthon, 2006).

Satwa ini aktif di pagi sampai sore hari (diurnal). Di alam, kawanan monyet ini dapat dijumpai pada hutan primer dan sekunder. Wilayah jelajahnya berkisar antara 114 hingga 320 hektare dengan jangkauan jelajah harian mencapai 6 km.

Monyet ini termasuk pemakan buah-buahan atau menjadikan buah sebagai makanan utamanya. Mereka akan memakan buah sebanyak 60-90% dari total konsumsi pakannya. Selain buah, monyet ini kadang-kadang memangsa serangga kecil. Beberapa jenis serangga yang dimakan antara lain tawon, rayap, ulat dalam gulungan daun (Pongamia sp.), lebah, semut, dan belalang.

Monyet hitam sulawesi banyak diperdagangkan di sejumlah pasar seperti di Minahasa dan Tomohon. Dilansir pada laman rappler.com, warga setempat sangat menyukai daging monyet hitam sulawesi. Meski pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Daerah yang melarang konsumsi daging tersebut namun warga tetap mengonsumsi karena sudah menjadi bagian dari tradisi.

Saat ini semakin banyak lembaga-lembaga konservasi yang mengedepankan perlindungan monyet hitam sulawesi dengan tujuan menjaga populasi satwa ini di alam. Upaya konservasi yang dilakukan antara lain dengan memelihara satwa ini di alam (insitu) dan di luar habitatnya (exsitu). Disamping itu, penguatan hukum terhadap pelaku kejahatan satwa liar menjadi poin tambah untuk mengurangi kepunahan monyet hitam di alam.

monyet hitam sulawesi

 

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/monyet-hitam-sulawesi-si-hitam-berjambul/feed/ 0
Pengamat Temukan Anak Orangutan Tapanuli Kembar https://www.greeners.co/berita/pengamat-temukan-anak-orangutan-tapanuli-kembar/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pengamat-temukan-anak-orangutan-tapanuli-kembar https://www.greeners.co/berita/pengamat-temukan-anak-orangutan-tapanuli-kembar/#respond Fri, 13 Jul 2018 05:30:30 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=20853 Seekor orangutan Tapanuli betina dengan dua bayi terlihat di hutan Batang Toru, Tapanuli, Sumatera Utara. Bayi orangutan tersebut nampak sangat mirip dan berukuran hampir sama.]]>

Medan (Greeners) – Seekor orangutan Tapanuli betina dengan dua bayi terlihat di hutan Batang Toru, Tapanuli, Sumatera Utara. Bayi orangutan tersebut nampak sangat mirip dan berukuran hampir sama.

Keberadaan satwa ini terlihat oleh dua orang staf Sumatran Orangutan Conservation (SOCP), Andayani Oerta G dan Ulil Amri Silitonga, yang melakukan pengamatan sekitar satu kilometer di sebelah barat laut pos pemantauan hutan Batang Toru pada 20 Mei 2018 lalu.

“Saya baru mulai mengelola kamp beberapa bulan yang lalu dan sedang melakukan misi pencarian rutin. Tiba-tiba kami melihat ibu orangutan Tapanuli dengan dua bayi pada saat yang bersamaan terasa sangat menakjubkan. Si kembar tampak sangat mirip dan berukuran hampir sama, tetapi salah satunya cukup berani sementara yang lainnya tampak sangat pemalu dan selalu ingin dekat dengan ibunya,” ujar Andayani.

BACA JUGA: Perlindungan Orangutan, KLHK Sediakan “Call Center Quick Response”

Orangutan betina bersama anaknya ini pertama kali terlihat oleh Andayani dan Ulil pada pukul 14.30 WIB, sekitar 15 meter di atas pohon hingga sekitar pukul 15.40 WIB ketika ibu orangutan mulai pindah dengan bayi yang menempel di setiap sisinya.

Andayani mengatakan, saat ditemukan orangutan betina dewasa bersama kedua bayinya sedang makan buah sampinur tali (Dacrydium beccarii), salah satu buah kesukaan orangutan di sekitar hutan Batang Toru. Selang beberapa menit, orangutan berpindah ke cabang pohon lainnya, yaitu pohon mayang merah (Madhuca laurifolia) dan duduk masih menggendong kedua bayinya sambil mengeluarkan suara kiss squeak.

Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Hotmauli Sianturi mengatakan bahwa perlu dilakukan kajian lebih lanjut terkait penemuan orangutan ini. Selain itu, mengingat populasi orangutan Tapanuli saat ini kecil maka perlu segera dilakukan upaya-upaya konservasi yang melibatkan semua pihak.

BACA JUGA: Orangutan Tapanuli Dipublikasikan di Jurnal Internasional

Terkait penemuan ini pula, Direktur Konservasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indra Eksploitasia menilai bahwa penemuan ini menarik perhatian karena biasanya orangutan hanya melahirkan satu individu anak. Kesimpulan sementara, kedua individu bayi orangutan tersebut merupakan anak kembar yang terlihat di gendong induknya pada saat mencari makan.

“Orangutan hanya melahirkan satu anak, sehingga dipastikan kembar ketika induknya menggendong dua anak orangutan dengan ukuran tubuh yang sama. Foto orangutan kembar yang dihasilkan oleh SOCP pun saat ini masih dalam pengamatan dan penelitian,” ujar Indra saat dihubungi Greeners, Jumat (13/07/2018).

Indra menyatakan bahwa saat ini populasi orangutan hanya ada 800 ekor dan betina yang aktif bereproduksi pun sangat sedikit, hanya setiap 8-9 tahun sekali. Sebarannya pun hanya di hutan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Selatan.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/pengamat-temukan-anak-orangutan-tapanuli-kembar/feed/ 0
Babirusa, Fauna Endemik Sulawesi yang Semakin Langka https://www.greeners.co/flora-fauna/babirusa-fauna-endemik-sulawesi-yang-semakin-langka/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=babirusa-fauna-endemik-sulawesi-yang-semakin-langka https://www.greeners.co/flora-fauna/babirusa-fauna-endemik-sulawesi-yang-semakin-langka/#respond Fri, 18 May 2018 09:01:31 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=20610 Babirusa mempunyai ciri khas pada bentuk tubuhnya yang menyerupai babi namun mempunyai taring panjang pada moncongnya. Ia juga memiliki sistem pencernaan dengan ruang perut ganda yang kompleks menyerupai rusa atau ruminansia lain.]]>

Di Indonesia, tepatnya di Sulawesi dan pulau-pulau sekitarnya seperti pulau Togian, Sula, Buru, Malenge, dan Maluku, memiliki fauna endemik yang keberadaannya mulai langka. Fauna tersebut adalah babirusa. Penamaan ini karena mereka mempunyai ciri khas pada bentuk tubuhnya yang menyerupai babi namun mempunyai taring panjang pada moncongnya. Ditambah lagi, babirusa memiliki sistem pencernaan dengan ruang perut ganda yang kompleks menyerupai rusa atau ruminansia lain.

Babirusa termasuk binatang penyendiri namun sering terlihat dalam kelompok-kelompok kecil dengan satu babirusa jantan yang paling kuat sebagai pemimpinnya. Perilaku sosial satwa ini yakni berkelompok hingga 13 ekor, umumnya betina dengan anaknya. Umunya pejantan dewasa akan menyendiri. Usia harapan hidup babirusa mencapai 24 tahun dengan jumlah anakan yang lahir hanya 2 anakan dengan masa mengandung sekitar 161 hari. Jarangnya frekuensi kelahiran membuat fatwa endemik ini semakin langka.

Secara morfologi babirusa mempunyai panjang tubuh 85-105 cm. Tingginya sekitar 65-80 cm dengan berat tubuh sekitar 90-100 kg. Ia mempunyai ekor yang panjangnya sekitar 20-35 cm. Satwa ini memiliki kulit yang kasar berwarna keabu-abuan dan hampir tak berbulu. Pada taringnya, satwa ini memiliki taring atas yang tumbuh menembus moncongnya dan melengkung ke belakang ke arah mata. Taring ini berguna untuk melindungi matanya dari duri rotan.

Berbeda dengan babi hutan (Sus scrofa), babirusa merupakan fauna jenis omnivora. Mereka mencari makan tidak menyuruk tanah layaknya babi hutan, melainkan mereka memakan buah seperti mangga, jamur, biji-bijan, dedaunan dan membelah kayu-kayu mati untuk mencari larva lebah.

sulawesi

Babirusa (Babyrousa babyrussa). Foto: wikimedia

Berdasarkan Jurnal Ilmiah Kedokteran Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan Unair (2011), selain kerusakan habitat dan perburuan liar yang masih terus berlangsung, penurunan populasi salah satunya disebabkan oleh penyakit cacing (helmintiasis). Babirusa sangat berpotensi terkena helmintiasis dikarenakan sifat dan perilakunya yang mempunyai kebiasaan berkubang, memakan buah dan hijauan yang jatuh atau berada di tanah. Satwa ini juga seringkali membongkar batang kayu pepohonan yang lapuk untuk memperoleh larva. Tanah juga berperan sebagai transmitter/perantara helmintiasis.

Saat ini populasi satwa ini semakin menurun. Keadaan ini dibuktikan dengan semakin sulitnya menemukan babirusa yang hidup bebas di hutan pulau Sulawesi dan Halmahera. Dilansir pada laman asianwildcattle.org, semua jenis babirusa terancam oleh berkurangnya habitat dan perburuan.

Babirusa Sulawesi (Babyrousa celebensis) dan Babirusa Buru (Babyrousa babyrussa) dikategorikan sebagai satwa “Rentan” punah. Sementara itu Babirusa Togian (Babyrousa togeanensis) dikategorikan “Terancam Punah” oleh IUCN yang berarti satwa ini beresiko sangat tinggi untuk punah di alam. Perburuan liar merupakan ancaman yang paling tinggi terhadap populasi satwa ini, pemburu mengincar daging dan gadingnya. Ditambah lagi hilangnya habitat akibat alih fungsi lahan, penebangan dan penambangan liar dan deforestasi hutan.

sulawesi

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/babirusa-fauna-endemik-sulawesi-yang-semakin-langka/feed/ 0
Simakobu, Monyet Ekor Babi Khas Mentawai https://www.greeners.co/flora-fauna/simakobu-monyet-ekor-babi-khas-mentawai/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=simakobu-monyet-ekor-babi-khas-mentawai https://www.greeners.co/flora-fauna/simakobu-monyet-ekor-babi-khas-mentawai/#respond Fri, 09 Feb 2018 14:22:45 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=19960 Simakobu atau monyet ekor babi merupakan salah satu primata endemik Kepulauan Mentawai. Primata ini bisa mengeluarkan suara keras yang terdengar hingga 500 meter jauhnya.]]>

Perburuan liar dan rusaknya habitat akibat deforestasi dan perambahan hutan lagi-lagi menjadi masalah utama yang membuat jumlah habitat fauna khas Indonesia khususnya primata menjadi semakin berkurang. Simakobu (Simias concolor) adalah salah satu dari banyak jenis primata yang mengalami ancaman tersebut.

Simakobu atau dalam penamaan lokal monyet ekor babi merupakan salah satu primata endemik Kepulauan Mentawai. Simakobu memiliki dua subspesies yaitu Simias concolor concolor dan Simias concolor ssp. siberu. Subspesies Simias concolor concolor mendiami pulau Pagai Selatan, Pagai Utara, dan Sipora. Sedangkan subspesies Simias concolor ssp. siberu hanya dapat ditemui di pulau Siberut.

Simakobu merupakan spesies yang menghadapi risiko kepunahan sangat tinggi di alam dalam waktu dekat (critically endangered) dibandingkan primata endemik Mentawai lainnya. Hal ini terkait dengan menurunnya jumlah populasi simakobu sebesar 22-75 persen dari tahun 1980 hingga saat ini (Whittaker, 2006).

Simakobu mendiami habitat hutan di lereng bukit di pedalaman pulau maupun di hutan hujan dataran rendah, hutan daerah rawa air payau dan tawar. Primata ini hidup dalam kelompok kecil yang terdiri dari satu pejantan, satu atau lebih betina dan anakan (dilansir pada laman himakova.lk.ipb.ac.id,). Simakobu jantan biasanya mengeluarkan ‘loud call’ yaitu rangkaian suara keras yang terdengar hingga 500 meter jauhnya. Suara ini akan sering terdengar pada pagi dan sore hari.

Melihat dari prilakunya, primata ini merupakan satwa diurnal (hidup pada siang hari) dan bersifat arboreal (melakukan aktivitas diatas pepohonan). Makanan utama satwa ini adalah dedaunan (leaf monkeys) dan buah-buahan. Menurut para ahli, makanan yang terdiri dari daun-daun muda banyak mengandung selulosa yang dibutuhkan satwa pemakan tumbuhan.

simakobu

Simakobu sedang beristirahat di dahan pohon. Foto: indonesianendemicanimals.blogspot.co.id

Secara morfologi simakobu memiliki cirri-ciri berupa tubuh yang ditumbuhi rambut berwarna coklat kehitaman dengan wajah ditumbuhi rambut berwarna kehitaman. Warna rambut pada jambul kepala dan bahu lebih gelap, kaki dan tangannya berwarna kehitam-hitaman, wajah hitam layaknya beruk (Macaca nemestrina).

Bentuk badan simakobu pendek dan gemuk, serta anggota-anggota badannya sama panjang. Panjang tubuh primata ini berkisar antara 45-52,5 cm dengan berat badan lebih kurang 6-9 kg (WWF, 1980; Khatimah 2010). Simakobu memiliki ekor yang memang menyerupai ekor babi. Ekornya lumayan pendek sekitar 15 cm dan ditumbuhi sediki rambut. Hidungnya pesek dan terkesan menghadap ke atas.

Agak sulit untuk membedakan antara simakobu jantan dan betina karena mereka tidak mempunyai perbedaan warna. Baik jantan maupun betinanya memiliki warna kelabu tua ataupun keemasan. Sedikit membedakan antara jenis jantan dan betina adalah dari ukuran tubuhnya, dimana jenis jantan dewasa memiliki ukuran tubuh lebih besar dibandingkan betina dewasa. Kemudian pada gigi taringnya, jantan memiliki taring yang lebih panjang daripada gigi taring betina.

Status simakobu menurut IUCN (2009) adalah kritis (critically endangered). Selain itu, primata ini juga terdaftar dalam Appendix I CITES. Di Indonesia, simakobu telah dilindungi secara hukum melalui peraturan perlindungan binatang liar no. 266 Th. 1931, SK MenHut 10 Juni 1991 no. 30/Kpts-TT/1991 (Khatimah 2010).

Sebagai informasi, organisasi Protection Forest and Fauna (Profauna) Indonesia menggelar kampanye bertajuk ‘Jangan Beli Primata’ kepada masyarakat Indonesia. Kampanye ini merupakan bagian dari peringatan Hari Primata yang diperingati setiap tanggal 30 Januari. Lebih dari 80 persen primata di Indonesia berada dalam kondisi terancam punah. Bahkan, dalam daftar “25 Primata Paling Terancam Punah di Dunia Periode 2014-2016”, Indonesia mempunyai 3 wakil yaitu Tarsius Siau, Simakobu, dan Orangutan Sumatera (Greeners.co, edisi 19 Januari 2017).

Juru kampanye Profauna, Swasti Prawidya Mukti, mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama beraksi meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian primata Indonesia. Sebab, Indonesia yang juga merupakan negara tropis mempunyai keanekaragaman jenis primata yang tinggi.

Beberapa faktor yang menyebabkan primata-primata ini terancam punah antara lain karena kerusakan habitat akibat alih fungsi lahan, perburuan, dan perdagangan. Menurut Asti, semua faktor tersebut saling berkaitan satu dengan lain. Namun, masalah yang tak kalah penting saat ini adalah masih banyaknya perdagangan satwa jenis primata yang dijadikan hewan peliharaan dan koleksi.

simakobu

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/simakobu-monyet-ekor-babi-khas-mentawai/feed/ 0
Kawin, Upaya Menyelamatkan Populasi Badak Sumatera dari Kepunahan https://www.greeners.co/berita/kawin-upaya-menyelamatkan-populasi-badak-sumatera-kepunahan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kawin-upaya-menyelamatkan-populasi-badak-sumatera-kepunahan https://www.greeners.co/berita/kawin-upaya-menyelamatkan-populasi-badak-sumatera-kepunahan/#respond Sun, 28 Jan 2018 05:26:08 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=19900 Masa reproduksi badak sumatera yang lama membuat populasi spesies ini menuju kepunahan. Diperlukan upaya untuk mempertemukan badak jantan dan badak betina dalam waktu yang tepat agar proses kawin dapat terjadi.]]>

Jakarta (Greeners) – Selain perburuan liar dan penyempitan habitat, masa reproduksi badak sumatera yang lama membuat populasi spesies ini menuju kepunahan. Diperlukan upaya untuk mempertemukan badak jantan dan badak betina dalam waktu yang tepat agar proses kawin dapat terjadi.

“Maka sekarang gagasannya bahwa badak harus dipersatukan supaya efektif untuk perkawinan. Jadi ini memerlukan pendekatan dan sebenarnya terpaksa juga harus diatur seperti ini supaya bisa menghasilkan anak dan mengurangi (tingkat) kepunahan badak sumatera itu,” ujar Ketua Pengurus Yayasan Badak Indonesia (YABI) Widodo S Ramono kepada Greeners, Jakarta, Minggu (28/01/2018).

Upaya ini menurut Widodo bahkan baru menghasilkan dua anak badak di Suaka Rhino Sumatera (Sumatran Rhino Sanctuary/SRS). Populasi badak Sumatera di Indonesia saat ini terdapat di Taman Nasional (TN) Gunung Leuser, TN Way Kambas, dan TN Bukit Barisan Selatan.

BACA JUGA: Penyakit Ancam Populasi Badak Sumatera dan Jawa

Berdasarkan Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) tahun 2015, populasi badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) diperkirakan sekitar 100 individu. Keberadaan satwa ini terancam punah akibat perambahan, perubahan fungsi hutan menjadi areal perladangan, pemukiman, perkebunan, tekanan inbreeding dan perburuan.

“Sekarang ini jumlah populasinya ada tujuh badak dipelihara oleh YABI dan itu di Sumatera semua, kalau liar masih ada beberapa di hutan kurang dari 100 ekor. Coba bandingkan dengan jumlah penduduk di Indonesia banding berapa itu. Maka itu perlu untuk memilki pemahaman tidak memburu dan merusak habitat Badak,” ujar Widodo.

Ia juga mengatakan bahwa hingga saat ini tidak sedikit masyarakat yang masih memburu badak dan merusak habitat badak. Diperlukan kesadaran dan pemahaman dari masyarakat luas bahwa upaya konservasi badak tidak mudah, dan agar badak bisa berkembang biak di alam liar dengan baik.

“Sulit sekali mendapatkan anak badak. Perlu beberapa tahun badak betina baru bisa mengandung saat umurnya 9 tahun, setelah itu baru bisa kawin dan mengandung bayi selama 15-16 bulan. Kalau sudah melahirkan anaknya dipelihara 2 sampai 3 tahun. Jadi perlu berapa tahun itu bisa mendapatkan badak tapi kalau orang mau bunuh badak itu sebentar saja. Pemahamannya harus ke arah situ,” katanya.

BACA JUGA: Peneliti Sarankan Pembangunan Habitat Baru bagi Badak Jawa

Dihubungi terpisah, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK Wiratno mengatakan bahwa pemerintah telah menargetkan adanya peningkatan sebesar sepuluh persen terhadap populasi badak selama empat tahun.

“Kondisi badak sumatera telah menjadi fokus pemerintah Indonesia dengan memasukan badak sumatera sebagai spesies dilindungi, dan target peningkatan populasi badak sebesar 10 persen selama tahun 2015-2019. Berbagai kerjasama dengan mitra dan masyarakat, upaya perlindungan, program pengembangbiakan, serta penelitian, telah dilaksanakan untuk melestarikan spesies ini,” ujar Wiratno.

Selain mengawinkan badak, upaya konservasi juga dilakukan melalui pameran seni. Belum lama ini juga digelar Pameran Seni dan Lelang Amal oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama Tim Badak dan didukung The Walt Disney Company, PNRI. Pameran yang berlangsung pada 19 hingga 21 Januari 2018 ini di bertema “Harta Karun Tersembunyi Indonesia”.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/kawin-upaya-menyelamatkan-populasi-badak-sumatera-kepunahan/feed/ 0
Harapan Bertambahnya Populasi Anoa dari Anoa Breeding Center https://www.greeners.co/berita/harapan-bertambahnya-populasi-anoa-anoa-breeding-center/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=harapan-bertambahnya-populasi-anoa-anoa-breeding-center https://www.greeners.co/berita/harapan-bertambahnya-populasi-anoa-anoa-breeding-center/#respond Sun, 14 Jan 2018 08:42:46 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=19816 Berbagai upaya untuk meningkatkan populasi spesies satwa yang terancam punah terus dilakukan dan kini kabar gembira datang dari Anoa Breeding Center (ABC) Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Manado.]]>

Jakarta (Greeners) – Berbagai upaya untuk meningkatkan populasi spesies satwa yang terancam punah terus dilakukan, dan kini kabar gembira datang dari Anoa Breeding Center (ABC) Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Manado dengan lahirnya seekor bayi anoa. Bayi anoa ini merupakan bayi kedua yang lahir dari fasilitas tersebut. Namun demikian, upaya pelestarian satwa masih dihadang sejumlah masalah.

Kepala Badan Penelitian, Pengembangan, dan Inovasi (BLI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dr. Agus Justianto menyatakan, masalah keterancaman biodiversitas tidak bisa dilihat secara tunggal dan linear karena masalahnya yang kompleks. Terkait anoa, kelangkaan satwa ini menurutnya disebabkan oleh lingkungan yang tidak memungkinkan anoa berkembang dengan baik. Selain itu, kondisi ekosistem, ekologi, bahkan sosial, ekonomi dan budaya juga menjadi bagian dari permasalahan.

“Daging anoa ini biasa diburu dan dimakan oleh manusia. Mereka tidak peduli karena mereka tidak memikirkan ekosistem. Jadi, itu tantangan kita, bagaimana selain meningkatkan populasi juga harus mengatur tata kelola lingkungannya. Kalau tidak, ya, percuma saja dilepas nanti diburu lagi,” katanya.

BACA JUGA: Semua Pihak Harus Peduli pada Keberlangsungan Satwa Liar Indonesia

Salah satu bentuk upaya dari pemerintah meningkatkan populasi anoa, lanjut Agus, adalah dibangunnya fasilitas ABC. Fasilitas yang diresmikan oleh Menteri LHK Siti Nurbaya pada tanggal 5 Februari 2015 lalu tersebut, saat ini dihuni oleh sembilan ekor anoa. Kesembilan satwa tersebut diberi nama Rambo, Rocky, Rita, Denok, Ana, Manis, Stela, Maesa, dan Anara, nama bayi anoa yang baru lahir yang diberikan oleh Menteri LHK Siti Nurbaya pada tanggal 10 Januari 2018.

“Untuk meningkatkan populasi anoa, kita membuat ABC. Dari situ kita berharap (ABC) bisa meningkatkan populasi. Kita juga berharap instansi lain, entah itu melalui CSR (corporate social responsibility) perusahaan bisa membantu. Karena masalah terancamnya populasi flora dan fauna sudah global,” ujar Agus.

BACA JUGA: Indonesia Targetkan Peningkatan 10 Persen Populasi Gajah Pada 2019

Sebagaimana diketahui, anoa (Bubalus sp.) merupakan hewan langka endemik Sulawesi yang saat ini masuk dalam kategori terancam punah dalam Daftar Merah IUCN (The International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources) dan dilindungi oleh Undang-Undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Anoa juga digolongkan sebagai satwa terancam punah dan masuk dalam Appendix I CITES (The Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna).

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/harapan-bertambahnya-populasi-anoa-anoa-breeding-center/feed/ 0
Tapir Asia, Satwa Pemalu dari Sumatera https://www.greeners.co/flora-fauna/tapir-asia-satwa-pemalu-dari-sumatera/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tapir-asia-satwa-pemalu-dari-sumatera https://www.greeners.co/flora-fauna/tapir-asia-satwa-pemalu-dari-sumatera/#respond Fri, 29 Dec 2017 06:05:04 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=19719 Tapir sudah ada sekitar 20 juta tahun lalu dan selama kurun waktu itu ia tidak mengalami evolusi perubahan tubuh yang berarti.]]>

Kegiatan pembalakan dan konversi lahan hutan menjadi perkebunan dan pemukiman telah menyebabkan berkurangnya luas tutupan hutan di Pulau Sumatera. Karena banyaknya pembukaan lahan secara ilegal, maka spesies satwa liar yang ada di pulau ini pun menjadi semakin terdesak bahkan di ambang kepunahan, salah satu diantaranya adalah tapir. Baru-baru ini diberitakan oleh media nasional, dua ekor tapir sering muncul di sekitar permukiman di Labuhan Batu Selatan (Labusel), Sumatera Utara.

International Union for Conservation of Nature (IUCN) sejak tahun 2008 menyatakan bahwa spesies satwa ini terancam punah sehingga diperlukan berbagai upaya konservasi untuk mempertahankan keberadaannya, terutama dalam hutan-hutan alam yang menjadi habitat aslinya. Secara alamiah tapir sebenarnya tersebar di hampir seluruh Pulau Sumatera. Meski demikian, mengingat banyaknya tutupan hutan alam yang telah mengalami kerusakan atau hilang sama sekali, maka sekarang satwa ini hanya dapat ditemukan di kawasan-kawasan tertentu.

Menurut penelitian FMIPA Universitas Riau bersama WWF, spesies tapir yang terdapat di Sumatera adalah tapir asia (Tapirus indicus, Desmarest 1819). Tapir berperan sebagai penebar biji dan penting untuk menjaga ekosistem hutan.

Tapir merupakan hewan yang hidup sendiri (soliter). Tapir sudah ada sekitar 20 juta tahun lalu dan selama kurun waktu itu ia tidak mengalami evolusi perubahan tubuh yang berarti. Oleh karena itu, tak heran jika tapir termasuk kategori mamalia paling primitif di dunia (dikutip pada laman viva.co.id).

tapir asia

Tapir asia (Tapirus indicus). Foto: wikemedia commons

Tinggi Tapir Asia mencapai 90 hingga 107 cm dengan bobot rata-rata 250 hingga 320 kg. Diperkirakan bobot terberat dari tapir asia adalah 500 kg. Dikutip pada laman gembiralokazoo.com, secara morfologi tapir asia memiliki tubuh yang gempal besar dengan hidung menonjol menyerupai belalai atau moncong trenggiling.

Tapir dewasa memiliki pola warna yang unik, dimana setengah tubuh depan berwarna hitam dan bagian belakangnya berwarna putih. Bagian kakinya keseluruhan berwarna hitam. Kaki depan memiliki empat kuku, namun hanya ujung kuku keempat (belakang) yang tidak menyentuh tanah, sehingga jika sedang berjalan maka jejak kaki yang muncul adalah jejak tiga kuku. Pada umumnya, ukuran antara tapir jantan dan betina tidaklah sama. Tapir Asia jantan cenderung lebih kecil daripada yang betina.

Tapir termasuk satwa yang aktif mencari makan pada malam hari. Umumnya, spesies-spesies satwa liar yang terdapat dalam ekosistem hutan tropis bersifat elusive (tidak suka menampakkan diri) dan berpenampilan cryptic (tersamar) sehingga sulit dilihat secara lansung (Novarino et al. 2005).

Tapir merupakan hewan pemakan tumbuhan yang bukan tergolong ke dalam hewan ruminansia (hewan pemamah biak, seperti sapi, domba, kambing dan rusa). Tapir biasanya mencari makan pada rute yang sama. Pakannya sendiri antara lain berbagai macam rumput, daun tumbuhan, air dan ranting. Satwa ini sering menggunakan hidungnya untuk menarik ranting dan daun untuk dimasukan ke dalam mulut.

Cara komunikasi satwa ini pun terbilang unik. Tapir-tapir asia berkomunikasi satu sama lain dengan cicitan dan siulan bernada tinggi. Mereka juga tergolong satwa yang pemalu, jika ada hewan lain ataupun manusia maka mereka akan bersembunyi di semak-semak. Meski pemalu, mereka memiliki kemampuan berlari, mendaki dan berenang yang baik. Untuk menandai teritorinya, satwa ini akan menggunakan urin.

tapir asia

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/tapir-asia-satwa-pemalu-dari-sumatera/feed/ 0
Rangkong Gading, Materi Culanya Setara Gading Gajah https://www.greeners.co/flora-fauna/rangkong-gading-materi-culanya-setara-gading-gajah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=rangkong-gading-materi-culanya-setara-gading-gajah https://www.greeners.co/flora-fauna/rangkong-gading-materi-culanya-setara-gading-gajah/#respond Fri, 15 Dec 2017 10:40:28 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=19661 Rangkong gading (Rhinoplax vigil) merupakan satu-satunya jenis rangkong yang memiliki balung/cula (casque) penuh berisi, bahkan 13 persen berat tubuhnya terdapat pada balung tersebut.]]>

Salah satu kekayaan burung yang ada di Indonesia adalah burung-burung dari famili Bucerotidae, yang dikenal dengan sebutan Rangkong, Julang dan Kangkareng. Terdapat 45 jenis burung rangkong yang tersebar luas di seluruh dunia. Di Indonesia terdapat 13 jenis yang terdiri dari 7 genus, yaitu Annorhinus, Penelopides, Berenicornis, Rhyticeros, Anthracoceros, Buceros, dan Rhinoplax yang tersebar luas di hutan-hutan Sumatera (9 jenis), Jawa (3 jenis), Kalimantan (8 jenis), Sulawesi (2 jenis) dan Irian Jaya (1 jenis) (Sukmantoro dkk, 2007).

Rangkong gading (Rhinoplax vigil) merupakan satu-satunya jenis rangkong yang memiliki balung/cula (casque) penuh berisi, bahkan 13 persen berat tubuhnya terdapat pada balung tersebut dimana struktur materinya setara dengan gading gajah (dilansir pada laman rangkong.org). Oleh sebab itu, penamaan rangkong jenis Rhinoplax vigil terinspirasi dari balungnya yang memiliki kemiripan dengan gading gajah.

Umumnya burung rangkong memiliki ukuran tubuh yang besar. Menurut informasi yang di dapat, panjang total badan burung rangkong bervariasi antara 65-170 cm dengan berat tubuh 290-4200 gram (Kemp 1995). Umumnya, semua jenis burung ini mempunyai paruh panjang dan ringan, bekerja seperti sepasang penjepit untuk menangkap atau mengambil makanan dengan cepat menggunakan ujungnya, kemudian memasukkannya ke dalam tenggorokan.

Burung rangkong lebih memilih makanan yang ada di atas pohon (arboreal) di hutan, jarang dijumpai burung rangkong memakan buah-buahan di atas tanah. Rangkong gading di Indonesia sebagian besar pakannya berupa buah ficus atau ara, namun terkadang ia juga memakan binatang kecil. Kegemarannya menebar biji membuat spesies ini dijuluki sebagai ‘petani hutan yang tangguh’.

rangkong gading

Rangkong gading (Rhinoplax vigil). Foto: wikemedia commons

Seluruh tubuh satwa ini tertutup bulu berwarna hitam, abu-abu, dan putih, dengan sedikit variasi warna pada bagian kulit leher, kepala, dan lingkar mata. Tiap jenis burung rangkong berbeda-beda dan perbedaannya ada pada warna bulu, warna balung, bentuk dan ukuran balung.

Jenis kelamin burung rangkong dewasa dapat diketahui berdasarkan perbedaan warna balung, warna sayap, paruh, mata dan ukuran tubuh. Burung rangkong jantan memiliki ukuran tubuh lebih besar dibandingkan betina.

Keistimewaan burung ini juga diidentifikasi dari suara dan kepakan sayapnya yang cukup keras. Suara rangkong gading menyerupai orang tertawa dan dapat terdengar hingga jarak 3 kilometer. Kemampuan tersebut dikarenakan balung pada rangkong gading memiliki struktur berongga yang disinyalir sebagai ruang resonansi suara (Haimoff, 1987).

Burung rangkong gading berada dalam ambang kepunahan karena tingginya pembukaan lahan (deforestasi) dan perburuan yang sangat tinggi dalam beberapa dekade terakhir. Seperti dilansir tribunnews.com, data yang dihimpun KLHK bersama Rangkong Indonesia dan Wildlife Conservation Society Indonesia Program (WCS-IP), sepanjang 2011 hingga 2017, penegak hukum telah berhasil menyita 1.347 paruh rangkong gading.

Spesies ini juga masuk ke dalam daftar Appendiks I Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Tumbuhan dan Satwa Liar Terancam (CITES) dan dikategorikan sebagai spesies dengan status ‘Kritis’ oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Dalam berbagai pemberitaan di media massa disebutkan bahwa rangkong gading merupakan salah satu satwa liar yang paling dicari pemburu untuk dijadikan obat atau awetan karena harga jualnya yang tinggi. Selain itu, sejak abad ke-17 tepatnya zaman Dinasti Ming, bangsawan Tiongkok sudah menginginkan cula rangkong gading untuk dijadikan hiasan. Di Cina, harga balung rangkong tersebut mencapai lima kali lipat lebih mahal daripada gading gajah, karena pada bagian cula tersebut lebih lembut dan lebih mudah dipahat dari gading gajah, sehingga bisa digunakan untuk mengembangkan ornamen yang lebih rumit dan kemudian dijual sebagai simbol status.

Untuk menyelamatkan populasi rangkong gading, pemangku kebijakan yang terdiri dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kejaksaan Agung, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) berkumpul untuk menyusun Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) rangkong gading di Jakarta, pada tanggal 23 November 2017 lalu.

SRAK rangkong gading akan mencakup empat strategi utama. Pertama, perlindungan populasi dan habitat rongkong gading; kedua, pengawasan dan penegakan hukum dalam kerangka hukum terpadu; ketiga, kerjasama dengan negara yang menjadi habitat dan tujuan perdagangan rangkong gading, seperti Malaysia, Vietnam dan Cina; dan keempat, pendidikan penyadartahuan masyarakat. Hasil dari perumusan SRAK ini akan diteruskan ke dalam bentuk surat keputusan Menteri LHK.

rangkong gading

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/rangkong-gading-materi-culanya-setara-gading-gajah/feed/ 0
Bekantan, Perjuangan Melawan Kepunahan https://www.greeners.co/gaya-hidup/bekantan-perjuangan-melawan-kepunahan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bekantan-perjuangan-melawan-kepunahan https://www.greeners.co/gaya-hidup/bekantan-perjuangan-melawan-kepunahan/#respond Wed, 13 Dec 2017 09:15:14 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=19585 Buku berjudul "Bekantan, Perjuangan Melawan Kepunahan" menjadi salah satu alternatif penyajian informasi yang berharga mengenai bekantan. Ditambah lagi karya ilmiah ini ditulis oleh belasan peneliti yang peduli akan eksistensi bekantan di alam liar.]]>

Judul: Bekantan, Perjuangan Melawan Kepunahan
Editor: Prof. Hadi Sukadi Alikodra, Dr. Efransjah, M. Bismark
Penulis: Hadi S. Alikodra, M. Bismark, M. Arief Soendjoto, Reni Srimulyaningsih, Tri Atmoko, Chairul Saleh, Jojo Ontarjo, dkk.
Penerbit: PT Penerbit IPB Press
Jumlah Halaman: 266 + 18 halaman romawi
Cetakan 1, Agustus 2015

Tidak banyak penelitian yang mengangkat bekantan sebagai objek penelitian. Kalaupun ada, publikasinya biasanya hanya sebatas jurnal ilmiah yang akan beredar di kalangan para ilmuwan dan peneliti. Sangat jarang hasil penelitian mengenai primata ini dibukukan. Buku berjudul “Bekantan, Perjuangan Melawan Kepunahan” menjadi salah satu alternatif penyajian informasi yang berharga mengenai bekantan. Ditambah lagi karya ilmiah ini ditulis oleh belasan peneliti yang peduli akan eksistensi bekantan di alam liar.

Bekantan (Nasalis larvatus) merupakan primata endemik Kalimantan yang sedang menuju kepunahan. Meijaard dan Nijman (2000) melaporkan bahwa bekantan di Pulau Kaget Muara Sungai Barito telah mengalami kepunahan lokal karena hutan mangrove habitatnya terus dikonversi menjadi lahan pertanian.

Satwa yang dikenal sebagai kera belanda ini hidup di ekosistem tepi sungai, terutama di bagian muara sungai. Mereka menempati habitat sampai mencapai 60 – 300 kilometer jauhnya ke arah pedalaman. Ia senang hidup di rawa gelam, yaitu ekosistem hutan rawa yang didominasi pohon gelam (Melaleuca cajuputi) dan rumput rawa. Disanalah bekantan memanfaatkan pohon gelam untuk beristirahat dan mencari makan.

Status perlindungan bekantan berdasarkan IUCN termasuk dalam kategori endangered species (spesies terancam punah). Sedangkan dalam CITES, bekantan terdaftar sebagai Appendix I, artinya spesies yang terancam punah. Di Indonesia sendiri, bekantan sudah termasuk sebagai satwa yang dilindungi undang-undang sejak tahun 1931.

Dalam buku ini dibahas dengan cukup rinci mengenai sumber pakan, habitat, populasi, perilaku, hingga penyebaran bekantan di Kalimantan Timur. Para penulis juga memaparkan upaya penyelamatan bekantan, diantaranya melalui ekowisata bekantan, pengembangan bioprospeksi dan pengelolaan plasma nutfah.

Menurut Hadi dan Jojo Ontarjo di halaman 229, Bab 14 Prinsip-prinsip Ekowisata Bekantan, wisata global telah berkembang menjadi industri raksasa dunia dengan pertumbuhannya yang sangat pesat. Sejak tahun 1999, perkembangannya telah mencapai 12 persen world gross national product (US Dept of Commerce 1990). Namun perkembangan wisata dunia yang pesat ini telah mengancam kelestarian bumi karena banyak memberikan dampak negatif di daerah tujuan wisata.

Meski demikian, banyak pihak yang tertarik untuk mengembangkan pariwisata berkelanjutan yang tidak merusak lingkungannya yang dikenal sebagai ekowisata. Pembangunan ekowisata bekantan harus dirancang secara terintegrasi dengan pembangunan daerah sehingga kekhawatiran terhadap gangguan lingkungan hidup dapat diatasi, bahkan kelestarian bekantan semakin terjamin. Masyarakat juga mendapat keuntungan dari kegiatan wisata dan dukungan program peningkatan usaha pertanian pemerintah daerah setempat.

Penyajian fakta dan data dalam buku ini membuat buku “Bekantan, Perjuangan Melawan Kepunahan” dapat menjadi referensi yang cukup akurat bagi para peneliti dan pemerhati keanekaragaman hayati, khususnya terkait bekantan. Buku ini juga dapat menjadi masukan berharga bagi pemangku kepentingan (stakeholders) baik pemerintah maupun swasta untuk mengambil langkah nyata menyelamatkan primata endemik Kalimantan yang nyaris punah dari hutan Indonesia.

Penulis: Renty Hutahaean

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/bekantan-perjuangan-melawan-kepunahan/feed/ 0
Orangutan Tapanuli Dipublikasikan di Jurnal Internasional https://www.greeners.co/berita/orangutan-tapanuli-dipublikasikan-jurnal-internasional/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=orangutan-tapanuli-dipublikasikan-jurnal-internasional https://www.greeners.co/berita/orangutan-tapanuli-dipublikasikan-jurnal-internasional/#respond Mon, 06 Nov 2017 09:46:03 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=19281 Hasil penelitian populasi Pongo tapanuliensis atau Orangutan Tapanuli di habitat terisolir ekosistem Batang Toru akhirnya dilaporkan dan dipublikasikan pada salah satu jurnal internasional terkemuka, Current Biology.]]>

Jakarta (Greeners) – Hasil penelitian populasi orangutan Sumatera di habitat terisolir ekosistem Batang Toru yang tersebar di tiga kabupaten Tapanuli, Sumatera Utara dan diakui sebagai spesies baru dari kelompok genus Orangutan, pada Jumat (03/11) ini akhirnya dilaporkan dan dipublikasikan pada salah satu jurnal internasional terkemuka, Current Biology. Jenis Orangutan baru dengan nama ilmiah Pongo tapanuliensis atau Orangutan Tapanuli ini juga dinobatkan sebagai spesies orangutan ketiga setelah Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) dan Orangutan Sumatera (Pongo abelii).

Hasil penelitian ini berawal dari kerjasama antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Nasional (Unas), Forum Orangutan Indonesia (Forina), Yayasan Ekosistem Lestari-Program Konservasi Orangutan Sumatera (YEL-SOCP), beberapa universitas di mancanegara serta peneliti-peneliti yang bergerak di bidang genomik-genetika konservasi, morfologi, ekologi, dan perilaku primata yang akhirnya menyimpulkan bahwa populasi orangutan di Batang Toru tersebut merupakan spesies baru.

BACA JUGA: Balitbang KLHK Bangun Pusat Penelitian Orangutan

Peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr. Puji Rianti menceritakan bahwa orangutan tapanuli sebelumnya telah dianggap sebagai populasi orangutan paling selatan dari orangutan sumatera, yaitu Pongo abelii. Namun berdasarkan penelitian secara mendalam oleh kelompok peneliti Indonesia dan mancanegara dalam bidang genetika, morfologi, ekologi dan perilaku, ternyata orangutan tapanuli secara taksonomi malah lebih dekat dengan orangutan kalimantan, yaitu Pongo pygmaeus.

“Ada indikasi juga kalau orangutan tapanuli ini merupakan moyang dari ketiga kera besar tersebut. Spesies baru orangutan itu kan ditemukan pada 1997, dan penelitian dilanjutkan pada 2007 mengenai jumlah populasi dan genetika. Selanjutnya baru pada 2016, KLHK bersama tim peneliti menyelesaikan semua penelitian terhadap orangutan tapanuli,” jelasnya di Jakarta, Jumat (03/10).

Spesies baru

Bukti pertama yang mengukuhkan primata yang hanya tersisa kurang dari 800 individu ini sebagai spesies baru bisa dilihat dengan terpaparnya perbedaan genetik yang sangat besar di antara ketiga jenis orangutan. Orangutan Tapanuli diduga merupakan keturunan langsung dari nenek moyang orangutan yang bermigrasi dari dataran asia pada masa Pleistosen atau kurang lebih sejak 3,4 juta tahun silam.

Perbedaan lain terlihat dari ukuran tengkorak dan tulang rahang yang lebih kecil dibandingkan dengan kedua spesies orangutan lainnya. Rambut orangutan tapanuli pun lebih tebal dan keriting. Berdasarkan studi perilaku dan ekologi, orangutan tapanuli juga diketahui memiliki jenis panggilan jarak jauh atau long call yang berbeda dengan dua spesies orangutan yang lain. Satwa ini juga memakan jenis tumbuhan yang belum pernah tercatat sebagai jenis pakan, termasuk biji aturmangan (casuarinaceae), buah sampinur tali/bunga (Podocarpaceae) dan agatis (Araucariaceae).

Ekosistem Batang Toru sendiri memiliki luas 150.000 hektar, namun wilayah yang didiami oleh orangutan tapanuli kurang dari 110.000 hektar (1.100 km persegi). Sekitar 85 persen dari wilayah persebaran orangutan tapanuli ini berstatus Hutan Lindung dan 15 persen hutan primernya masih berstatus Areal Penggunaan Lain (APL). Populasi mereka terpecah dalam dua kawasan utama (blok barat dan blok timur) oleh lembah patahan Sumatera, dan juga ada populasi kecil di Cagar Alam Sibual-bual di sebelah tenggara blok barat.

Belum terlindungi

Proses berkembangbiakannya pun tergolong lambat. Sang betina baru akan memiliki anak pertama di umur 15 tahun, dengan jarak antar melahirkan anak sekitar 8 atau 9 tahun. Harapan hidupnya sendiri antara 50 sampai 60 tahun.

“Orangutan Tapanuli ini juga akan dimasukkan ke dalam daftar spesies sangat terancam punah (Critically Endangered) berdasarkan daftar merah IUCN (International Union for Conservation of Nature),” terangnya.

Peneliti dari Forum Orangutan Indonesia (Forina), Suci Utami Atmoko mengatakan bahwa orangutan pada dasarnya bereproduksi secara lambat dengan jangka waktu 5 hingga 7 tahun antar tiap kelahiran. Artinya, jika kehilangan beberapa individu saja dalam suatu populasi akan sangat mengancam kelangsungan hidup orangutan jangka panjang. Misalnya, kehilangan hanya 1 persen dari populasi setiap tahun dapat dapat berakibat fatal bagi keberlangsungan populasi orangutan di masa depan.

Untuk orangutan tapanuli ini, lanjutnya, sangat beruntung karena hidup di dataran tinggi yang terjal dan tidak sesuai untuk pengembangan pertanian dan perkebunan. Namun meski demikian, tetap masih ada potensi ancaman terhadap habitatnya dari proyek pembangunan seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), geotermal, pertambangan serta perambahan hutan. Apalagi saat ini, areal terpenting populasi orangutan tapanuli tertinggi hanya berstatus APL sehingga tidak mendapat perlindungan dari pemerintah. Padahal melindungi areal APL ini sangat penting untuk membangun kembali wilayah yang dapat menghubungkan populasi orangutan tapanuli yang telah terfragmentasi.

“Hubungan antara populasi ini sangat penting untuk menghindari kawin silang (inbreeding) yang dapat mengancam keberlangsungan hidup orangutan tapanuli yang hanya tersisa 800 ekor,” tuturnya.

BACA JUGA: 71.820 Orangutan Masih Tersisa di Pulau Sumatera dan Kalimantan

Direktur Jendral Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Wiratno mengaku akan segera mengunjungi lokasi untuk meninjau seberapa besar ancaman yang dihadapi oleh kera besar tersebut. Saat ini, katanya, ancaman terhadap ekosistem Batang Toru memang banyak berasal dari pembangunan industri, perambahan dan perburuan liar, hutan primer yang masih berstatus APL, pembangunan infratsruktur PLTA besar bahkan hingga pertambangan emas,

“Nanti sudah direncakan juga Presiden akan berkunjung ke Tapanuli sana. Kita mau lihat dulu, kita mau cek pembangunan yang ada di sana. Kita mau mengingatkan kalau keberadaan orangutan juga harus dijadikan bagian dalam proses pengambilan keputusan dan mitigasi dari dampak pembangunan proyek apapun di sana. Efektif manajemen di lapangan untuk memastikan tidak ada perburuan, memastikan ada bentuk community patrol juga karena masyarakat bisa membantu menjaga habitat itu. Dan kalau udah lindung, pasti tidak akan ada penebangan pohon, yang APL itu akan saya lihat juga kemungkinannya jadi fungsi lindung,” pungkasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/orangutan-tapanuli-dipublikasikan-jurnal-internasional/feed/ 0
Semua Pihak Harus Peduli pada Keberlangsungan Satwa Liar Indonesia https://www.greeners.co/berita/pihak-harus-peduli-keberlangsungan-satwa-liar-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pihak-harus-peduli-keberlangsungan-satwa-liar-indonesia https://www.greeners.co/berita/pihak-harus-peduli-keberlangsungan-satwa-liar-indonesia/#respond Thu, 29 Jun 2017 10:16:59 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=17510 Fotografer alam liar, Riza Marlon, mengakui ada banyak faktor yang menyebabkan satwa-satwa masuk dalam daftar Critically Endangered (Kritis) oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN).]]>

Jakarta (Greeners) – Menjaga keberlangsungan flora dan fauna di alam liar harus dilakukan oleh semua pihak, baik pemerintah, aktivis lingkungan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), akademisi hingga masyarakat. Setidaknya begitulah yang diyakini oleh seorang fotografer alam liar, Riza Marlon. Berdasarkan pengalamannya keluar masuk hutan untuk mengambil gambar satwa-satwa yang hampir tidak pernah ditemui oleh sembarang orang, ia mengakui ada banyak faktor yang menyebabkan satwa-satwa yang masuk dalam daftar Critically Endangered (Kritis) oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Penulis buku “Living Treasures of Indonesia” mengatakan, salah satu faktor keterancaman satwa-satwa di alam liar adalah ketidaktahuan masyarakat setempat tentang pentingnya keberadaan satwa di lingkungan mereka. Ia memberi contoh soal keberadaan Elang Flores. Keberadaan burung pemangsa endemik flores (Nusa Tenggara) ini seringkali dimangsa karena dianggap sebagai hama oleh masyarakat. Padahal, IUCN telah memasukkannya dalam Daftar Merah IUCN (IUCN Redlist) sebagai satwa yang kritis dan terancam punah.

BACA JUGA: BBKSDA Jawa Barat Amankan 12 Ekor Satwa Liar Dilindungi

“Dua tahun saya mencari info soal sarang Elang Flores ini dengan target untuk saya masukkan dalam buku saya tapi tidak dapat. Hingga akhirnya saya mendapat informasi tentang keberadaan satwa ini di Taman Nasional Kelimutu. Sulitnya menemukan satwa liar ini ternyata karena telah banyak dijerat oleh masyarakat karena dianggap hama yang sering memangsa ayam warga. Padahal IUCN sudah mencatat jumlah mereka itu sudah kurang dari 100 pasang,” ceritanya kepada Greeners, Jakarta, Rabu (28/06).

Selain Elang Flores, ia juga memberi contoh tentang keberadaan Gagak Banggai yang juga masuk dalam daftar merah IUCN. Burung bernama latin Corvus enca ini sudah sulit ditemui karena pohon-pohon tempat mereka bersarang telah banyak ditebangi oleh masyarakat. Padahal sifat burung ini, dikatakannya, hanya akan bersarang di pohon-pohon tertentu yang dianggap memenuhi kebutuhannya. Namun, ketika pohon-pohon tersebut ditebang, burung-burung ini pun menghilang dan sulit untuk kembali ditemukan.

“Padahal burung itu cuma bersarang di satu pohon. Bisa dibayangkan kalo pohon itu ditebang dia akan nyari lagi kan pohon yang aman sesuai kebutuhan mereka,” tambah pria yang akrab disapa Om Caca ini.

BACA JUGA: Banyak Jaksa yang Belum Paham Konservasi Satwa Liar

Untuk mengatasi permasalahan ini, ia meyakini kalau kepedulian dan pengetahuan dari semua pihak sangat dibutuhkan. Menurutnya, pemahaman tentang konservasi milik bersama harus benar-benar diterapkan agar setiap lembaga, instansi, pemerintah maupun masyarakat tidak saling menyalahkan. Termasuk dirinya yang memiliki latar belakang Biologi juga harus menjadi perantara untuk menyebarkan pengetahuan dan informasi terkait satwa liar Indonesia yang dilindungi kepada masyarakat.

“Menurut saya konservasi itu adalah milik bersama. Jadi bukan milik pemerintah, LSM, teman-teman peduli lingkungan saja atau masyarakat saja. Artinya konservasi itu milik bersama kita harus jaga sama-sama, bukan artinya kita main salah-salahan. Pengetahuan tentang satwa-satwa yang sudah terancam punah dan masuk daftar IUCN itu juga kan enggak sampai ke masyarakat. Tugas kita bersama juga untuk menyampaikannya,” kata Om Caca.

Sebagai informasi, tahun 2016, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sendiri telah menetapkan 25 satwa prioritas yang harus dilindungi. Penetapan satwa langka dan harus dilindungi sangat dibutuhkan mengingat bisnis satwa langka ilegal di Indonesia adalah bisnis yang menjanjikan. Ke 25 satwa prioritas yang dimaksud antara lain harimau sumatera, gajah sumatera, badak jawa (Rhinoceros sondaicus), badak sumatera (Dicherorhinus sumatrensis), banteng jawa, owa jawa, orangutan dan bekantan.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/pihak-harus-peduli-keberlangsungan-satwa-liar-indonesia/feed/ 0