satwa yang dilindungi - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/satwa-yang-dilindungi/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Tue, 19 Jan 2021 02:31:26 +0000 id hourly 1 Pecuk-Ular Asia, Si Leher Panjang yang Mampu Menyelam https://www.greeners.co/flora-fauna/pecuk-ular-asia-si-leher-panjang-yang-mampu-menyelam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pecuk-ular-asia-si-leher-panjang-yang-mampu-menyelam https://www.greeners.co/flora-fauna/pecuk-ular-asia-si-leher-panjang-yang-mampu-menyelam/#respond Mon, 25 Jan 2016 09:44:41 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=12638 Pecuk-ular Asia (Anhinga melanogaster) memiliki leher yang panjang serupa ular. Burung yang masuk dalam kategori hampir terancam punah ini mampu menyelam dalam waktu lama untuk mencari ikan.]]>

Pecuk-ular Asia (Anhinga melanogaster) atau oriental darter atau snakebird merupakan salah satu jenis burung air yang mudah dikenali. Dinamakan Pecuk-ular Asia karena memiliki leher yang panjang dan ramping menyerupai ular.

Pecuk-ular Asia memiliki kepala dan leher berwarna coklat, terdapat strip berwarna putih pada bagian dagu sampai leher. Bagian tubuh, sayap dan ekor berwarna hitam, bagian paruh runcing berwarna kuning kecoklatan. Pada bagian kakinya terdapat selaput dan berwarna hitam.

Pecuk-ular Asia mampu menyelam dan tinggal dibawah air dalam waktu yang lama serta mampu mereduksi daya apung sehingga hanya bagian kepalanya yang terlihat pada saat berenang dan mencari makan.

Pecuk-ular Asia dapat dijumpai di hutan mangrove, danau, sungai besar, daerah tambak, rawa dan muara. Pecuk-ular Asia menghabiskan waktu yang lama untuk mengeringkan bulu di tempat ia bertengger. Burung ini berkumpul dalam kelompok kecil (2-5 individu) maupun dalam kelompok besar di atas pohon tinggi yang gundul.

Burung yang lehernya menyerupai ular ini tersebar luas di India, Asia Tenggara, Sulawesi, Sumbawa, Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Di Jakarta, tercatat satwa ini berkembang biak di Suaka Margasatwa Pulau Rambut, Kepulauan Seribu pada Bulan Desember – Juni. Mencari makan di pesisir Jakarta seperti di Suaka Margasatwa Muara Angke dan Hutan Lindung Angke Kapuk.

Berdasarkan IUCN ((International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources) Pecuk-ular Asia masuk dalam kategori hampir terancam (near threatened). Hal ini dikarenakan semakin menyempit dan menurunnya kualitas habitat burung air ini akibat alih fungsi lahan. Selain itu, perburuan untuk jenis burung ini juga cukup tinggi.

Pecuk-ular Asia termasuk dalam burung yang dilindungi oleh Undang-Undang Republik Indonesia, yaitu UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Terdapat hukuman bagi yang melanggar peraturan tersebut yaitu tindak pidana penjara selama 5 tahun dan denda sebesar Rp 100.000.000,- (Seratus Juta Rupiah).

Pengamatan burung air ini biasanya dilakukan setiap bulan Januari di seluruh belahan dunia. Di Jakarta, pengamatan burung air ini biasa dilakukan di daerah pesisir Jakarta seperti Suaka Margasatwa Muara Angke dan Hutan Lindung Angke Kapuk, Jakarta Utara. Cukup banyak burung air yang teramati di kawasan tersebut, salah satunya burung Pecuk-ular Asia. Kehadiran Pecuk-ular Asia di suatu kawasan mengindikasikan bahwa kualitas perairan pada kawasan tersebut masih terbilang baik.

Mari bersama-sama menjaga dan melestarikan lingkungan agar seluruh keanekaragaman hayati didalamnya tetap lestari.

Fauna_Pecuk_Ular_Asia_Si_Leher_Panjang_yang_Mampu_Menyelam_02

Penulis: Ahmad Baihaqi/Indonesia Wildlife Photography

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/pecuk-ular-asia-si-leher-panjang-yang-mampu-menyelam/feed/ 0
Cekakak Batu, Si Lincah Penuh Warna https://www.greeners.co/flora-fauna/cekakak-batu-si-lincah-penuh-warna/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=cekakak-batu-si-lincah-penuh-warna https://www.greeners.co/flora-fauna/cekakak-batu-si-lincah-penuh-warna/#respond Mon, 23 Nov 2015 07:19:51 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=11998 Sebagai salah satu komponen ekosistem, avifauna memiliki hubungan timbal balik dan saling ketergantungan dengan lingkungannya. Sampai saat ini, Indonesia diketahui memiliki sekitar 1.598 jenis avifauna yang pernah tercatat atau sekitar […]]]>

Sebagai salah satu komponen ekosistem, avifauna memiliki hubungan timbal balik dan saling ketergantungan dengan lingkungannya. Sampai saat ini, Indonesia diketahui memiliki sekitar 1.598 jenis avifauna yang pernah tercatat atau sekitar 17 persen dari yang ada di dunia.

Jumlah jenis avifauna tersebut dapat berkurang jika ada perubahan lingkungan yang semakin memburuk. Salah satu jenis avifauna yang terancam keberadaannya akibat rusaknya hutan sebagai rumah mereka adalah jenis avifauna yang masuk ke dalam keluarga raja udang (Alcedinidae).

Di seluruh dunia, terdapat 90 jenis burung raja udang yang tersebar di daerah tropis di Afrika, Asia, dan Australasia, dimana 45 jenis diantaranya dapat dijumpai di Indonesia. Kelompok burung raja udang terdiri atas raja udang, pekaka, dan cekakak. Salah satunya adalah jenis cekakak batu.

Cekakak batu (Lacedo pulchella) memiliki ukuran tubuh sekitar 20 sentimeter, bagian iris mata berwarna abu keunguan dan bagian paruh berwarna merah. Tubuh bergaris-garis mencolok. Pada individu jantan, bagian mahkota dan tubuh bagian atas berwarna biru dengan garis-garis hitam putih, tubuh bagian bawah keputih-putihan dan sisi dada kemerahan.

Pada individu betina, tubuh bagian atas berwarna merah karat bergaris hitam dan tubuh bagian bawah berwarna putih. Terdapat garis hitam pada bagian dada dan sisi tubuh serta bagian kaki berwarna hijau pucat.

Burung ini tersebar luas di Asia tenggara, Kalimantan, pulau-pulau di sebelah timur Sumatera, dan Jawa. Satwa ini umum dijumpai pada ketinggian 1.000 m di Sumatera, tidak umum di hulu sungai sampai ketinggian 1.300 meter di Kalimantan, dan agak jarang ditemukan di Jawa.

Cekakak batu hidup di hutan dan hutan perbukitan, bahkan di hutan submontan. Lebih sering terdengar daripada terlihat. Burung ini berburu dari tenggeran tinggi dan rendah, memangsa ikan, udang, serangga besar dan sesekali memakan kadal kecil.

Gerakan burung cekakak batu sangat lincah dengan akselerasi tinggi saat menukik untuk menyambar ikan di bawah permukaan air. Hal itu dikarenakan paruh cekakak batu memiliki bentuk yang mendukung seluruh gerakan berburu dan akselerasinya. Bentuk paruh cekakak batu inilah yang menjadi inspirasi insinyur Jepang dalam membuat kereta peluru cepat yang diberi nama Shinkansen, yang kecepatannya mencapai lebih dari 300km/jam.

Semua jenis burung yang masuk ke dalam keluarga raja udang merupakan jenis burung yang dilindungi oleh Peraturan Indonesia, yaitu Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Bagi oknum yang melanggar peraturan tersebut akan dikenakan tindak pidana penjara 5 tahun dan denda sebesar Rp 100.000.000,- (seratus juta rupiah).

Maka dari itu, keberadaan cekakak batu di alam harus dilestarikan agar anak cucu mendatang dapat menikmati keindahannya di habitat alaminya.

Fauna_Cekakak_Batu_Si_Lincah_Penuh_Warna_02

Penulis: Ahmad Baihaqi/Indonesia Wildlife Photography

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/cekakak-batu-si-lincah-penuh-warna/feed/ 0
Tiga Anak Badak Baru Ditemukan di Ujung Kulon https://www.greeners.co/berita/tiga-anak-badak-baru-ditemukan-di-ujung-kulon/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tiga-anak-badak-baru-ditemukan-di-ujung-kulon https://www.greeners.co/berita/tiga-anak-badak-baru-ditemukan-di-ujung-kulon/#respond Fri, 25 Sep 2015 12:01:33 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11239 Jakarta (Greeners) – Tim Rhino Monitoring Unit atau RMU Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) berhasil menemukan tiga anak badak jawa baru di Semenanjung Ujung Kulon dalam periode waktu antara […]]]>

Jakarta (Greeners) – Tim Rhino Monitoring Unit atau RMU Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) berhasil menemukan tiga anak badak jawa baru di Semenanjung Ujung Kulon dalam periode waktu antara Maret hingga Agustus 2015.

Atas temuan ketiga anak badak ini, Bambang Dahono Adji, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH), Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengaku sangat bahagia karena penemuan ini telah membuka harapan baru terhadap populasi badak yang mana sebelumnya para peneliti tidak pernah menemukan keberadaan badak secara fisik.

“Ini luar biasa, saya sangat bahagia karena ini berarti terget kita untuk peningkatan spesies langka bisa terwujud,” ujar Bambang kepada Greeners, Jakarta, Jumat (25/09).

Anak badak jawa yang pertama sendiri berjenis kelamin betina. Pertama kali terekam kamera video pada tanggal Sembilan April 2015, pukul 17.29 WIB di Blok Citengah (bagian timur Semenanjung Ujung Kulon). Anak badak ini merupakan anak dari induk yang bernama Desy. Pada tahun 2012, Desy pernah punya anak jantan yang bernama Arjuna yang pada akhir tahun 2013 telah disapih. Sedangkan selama tahun 2014 Desy terekam selalu sendiri, dan terakhir pada tanggal 13 Agustus 2014 pukul 19.22 WIB di Blok Cigenter, Desy terekam dalam kondisi perut besar (hamil).

Lalu, anak badak jawa kedua berjenis kelamin jantan. Pertama kali terekam kamera video pada tanggal 25 Mei 2015 pukul 18.24 WIB di Blok Cijengkol, kaki Gunung Kendeng (bagian barat Semenanjung Ujung Kulon). Anak badak ini merupakan anak dari induk yang bernama Siti. Pada tahun 2011, Siti pernah punya anak jantan yang bernama Dwipa dan pada tahun 2013 Dwipa sudah di sapih. Selama tahun 2014 Siti terekam selalu sendiri, dan terakhir terekam pada tanggal tiga Desember 2014 pukul 06.13 WIB di Blok Hulu Cidatahan, yang berjarak sekitar 3 Km dari Blok Cijengkol dalam kondisi perut besar.

Terakhir, anak badak jawa yang ketiga juga berjenis kelamin jantan. Pertama terekam kamera video pada tanggal Delapan Juli 2015 pukul 13.16 WIB di Blok Rorah Daon, Cikeusik (bagian selatan Semenanjung Ujung Kulon). Anak badak ini merupakan anak dari induk yang bernama Ratu. Pada tahun 2011, Ratu pernah punya anak betina yang bernama Suci dan pada tahun 2012 Suci sudah di sapih. Selama tahun 2014 Ratu terekam sendiri, dan terakhir terekam pada tanggal 13 September 2014 pukul 03.48 WIB di Blok Citadahan dalam kondisi perut besar.

“Dengan ditemukannya tiga anak badak jawa tersebut, maka populasi satwa langka yang kini hanya ada di Taman Nasional Ujung Kulon tersebut sekarang meningkat menjadi 60 ekor yang sebelumnya berdasarkan hasil monitoring tahun 2014 jumlah badak jawa di TN Ujung Kulon sebanyak 57 ekor, terdiri dari 31 ekor jantan dan 26 ekor betina,” tambah Bambang.

Terkait target peningkatan populasi spesies hewan langka di Indonesia seperti harimau sumatera (Phantera tigris sumatrae), gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus), dan jalak bali (Leucopsar rothchildi), Bambang mengatakan kalau pihaknya telah menargetkan peningkatan jumlah 25 spesies terancam punah sebesar 10 persen hingga tahun 2019. Untuk memenuhi target tersebut, selain melalui penangkaran dan pelepasliaran satwa, kebun binatang juga wajib melakukan breeding.

“Kami juga sangat berterimakasih pada teman-teman NGO (non-goverment organization) yang sangat banyak membantu kami dalam hal melindungi dan menjaga hewan-hewan langka ini,” tutupnya.

Sebagai informasi, berikut 25 spesies terancam punah yang diprioritaskan meningkat populasinya sebesar 10 persen pada tahun 2019 sesuai kondisi biologis dan ketersediaan habitat :
1. Harimau sumatera
2. Gajah sumatera
3. Badak jawa
4. Owa (Owa jawa, Bilou)
5. Banteng
6. Elang (elang jawa dan elang flores)
7. Jalak bali
8. Kakatua (kakatua jambul kuning, kakatua jingga, kakatua alba)
9. Orangutan (orangutan kalimantan dan orangutan sumatera)
10. Komodo
11. Bekantan
12. Anoa
13. Babirusa
14. Maleo
15. Macan tutul
16. Cendrawasih
17. Rusa bawean
18. Tarsius
19. Surili
20. Macaca maura
21. Julang sumba
22. Nuri kepala hitam
23. Kangguru pohon
24. Penyu (penyu sisik dan penyu belimbing)
25. Celepuk rinjani

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/tiga-anak-badak-baru-ditemukan-di-ujung-kulon/feed/ 0
Tulus, Pelajaran Berharga Dari Gajah https://www.greeners.co/gaya-hidup/tulus-pelajaran-berharga-dari-gajah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tulus-pelajaran-berharga-dari-gajah https://www.greeners.co/gaya-hidup/tulus-pelajaran-berharga-dari-gajah/#respond Mon, 17 Nov 2014 12:11:57 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_green_carpet&p=6445 (Greeners) – Pada bulan April lalu, upaya pelestarian gajah sempat digagas oleh model ternama Nadya Hutagalung dengan program Let Elephants Be Elephant. Program ini untuk menyadarkan publik luas bahwa perdagangan […]]]>

(Greeners) – Pada bulan April lalu, upaya pelestarian gajah sempat digagas oleh model ternama Nadya Hutagalung dengan program Let Elephants Be Elephant. Program ini untuk menyadarkan publik luas bahwa perdagangan gading gajah yang tinggi di kawasan Asia berimbas pada tingginya angka kematian gajah karena perburuan liar.

Ternyata, situasi ini juga menjadi perhatian bagi penyanyi solo, Tulus. Pria dengan perawakan tinggi besar ini mengungkapkan kalau dulu dirinya pernah dijuluki “gajah”. Rasa kesal sempat menghinggapi hatinya. Namun, setelah mengetahui perilaku gajah, ia justru membuat sebuah lagu berjudul “Gajah” berdasarkan pengalamannya itu.

“Gajah itu sosok makhluk yang penyayang dan setia. Kayaknya menyenangkan juga jadi gajah,” ujarnya sambil tertawa.

Pria bernama asli Muhammad Tulus ini menyatakan prihatin dengan populasi gajah Sumatera yang terus menyusut. Ia juga mengaku mengikuti isu gajah setelah menyelesaikan pembuatan video klip untuk lagunya yang berjudul “Gajah”.

“Untuk video musik “Gajah”, saya didukung oleh WWF Indonesia sehingga saya bisa mendapatkan tempat ke situs-situs atau tempat yang tidak boleh dikunjungi manusia sebelumnya,” ujar pria bersuara khas ini saat dijumpai usai mengadakan jumpa pers terkait konser tunggalnya bertajuk “Konser Gajah Tulus” beberapa waktu lalu.

Tulus bercerita bahwa selama satu bulan lebih, ia harus tinggal di barak di dalam hutan untuk mengerjakan video klipnya. Selama itu pula ia mengaku mendapat banyak pelajaran berharga tentang alam dan hewan yang berkeliaran di sana.

“Hubungan kita dengan makhluk (hewan liar, Red) yang kita pikir enggak ada pengaruhnya dengan kita, ternyata bisa menentukan bumi ini bisa jalan atau enggak,” ujarnya.

Pelantun lagu “Teman Hidup” ini pun menyatakan bahwa dirinya sangat terpukul ketika mengetahui bahwa populasi gajah Sumatera menuju kepunahan.

“Jumlah gajah di Sumatera tinggal empat ribu ekor di dunia dan itu mengkhawatirkan. Kalau ada sesuatu yang bisa saya lakukan untuk membuat keadaan itu bisa menjadi lebih baik, saya akan lakukan,” katanya.

Tulus mengingatkan bahwa meskipun banyak orang tidak bersentuhan atau merasakan efek langsung dengan hewan-hewan yang hidup di alam liar seperti gajah, namun keberadaan makhluk tersebut turut menentukan keberlangsungan bumi.

“Kalau kita sayang sama mereka (hewan yang hidup di alam liar), mereka akan menjaga kita. Kalau kita ganggu mereka, mereka akan mengganggu balik. Saat mereka kalah, kita akan hancur pelan-pelan bersama alam,” pungkasnya.

(G08)

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/tulus-pelajaran-berharga-dari-gajah/feed/ 0
Penyu Hijau di Tanimbar Terancam Punah https://www.greeners.co/berita/penyu-hijau-di-tanimbar-terancam-punah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=penyu-hijau-di-tanimbar-terancam-punah https://www.greeners.co/berita/penyu-hijau-di-tanimbar-terancam-punah/#respond Mon, 07 Jul 2014 10:00:46 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=5107 Jakarta (Greeners) – Di tengah upaya pemerintah melakukan kampanye dan perlindungan penyu, faktanya pada beberapa wilayah perairan Indonesia, aktivitas dan ekspolitasi terhadap spesies ini masih marak dilakukan. Salah satunya di […]]]>

Jakarta (Greeners) – Di tengah upaya pemerintah melakukan kampanye dan perlindungan penyu, faktanya pada beberapa wilayah perairan Indonesia, aktivitas dan ekspolitasi terhadap spesies ini masih marak dilakukan.

Salah satunya di wilayah perairan Maluku, tepatnya di Kepulauan Tanimbar (KT), Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Masyarakat di Kepulauan Tanimbar secara terang-terangan memanfaatkan penyu hijau menjadi bahan konsumsi.

Penyu hijau yang bernama latin Chelonia mydas ini umumnya digunakan dalam acara-acara adat, mulai dari acara pernikahan, syukuran, hingga upacara kematian. Penyu hijau masih sering dijadikan salah satu menu hidangan.

Tidak hanya itu, di beberapa pulau kecil telur-telur penyu hijau juga terkadang menjadi santapan masyarakat setempat sehingga generasi penyu hijau baru berkurang. Padahal sebenarnya, ketersediaan jenis pangan lainnya seperti ikan dan udang di Kepulaaun Tanimbar masih terbilang tinggi, sehingga mereka tidak seharusnya mengekspolitasi penyu hijau sebagai bahan konsumsi.

Selain itu juga, ada segelintir masyarakat yang menangkap penyu hijau untuk dijual karapas atau tempurungnya secara diam-diam kepada orang Tiongkok, Taiwan, Singapura, serta Hongkong. Tempurung penyu tersebut dijual dengan harga yang tinggi dan tidak dalam jumlah yang pasti. Diperkirakan sekitar 400-500 ekor penyu per tahun menjadi korban akibat eksploitasi oleh masyarakat setempat.

Maluku dikenal memiliki budaya dengan kearifan lokal yang tinggi terhadap lingkungan, yaitu budaya ‘sasi‘. Menurut kepercayaan masyarakat Maluku, sasi memberlakukan sanksi langsung dari Tuhan terhadap siapapun agar tidak mengeksploitasi suatu jenis sumber daya alam secara lokal sehingga jumlahnya bisa dipertahankan bahkan surplus.

Sayangnya, sasi tidak pernah diberlakukan untuk penangkapan penyu hijau. Di samping itu, nampaknya program konservasi yang dijalankan oleh pemerintah daerah di Kabupaten Maluku Tenggara Barat juga belum bisa menjangkau upaya peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya perlindungan terhadap fauna langka seperti penyu hijau serta pentingnya peran penyu hijau dalam ekosistem.

Pada tahun 1987, melalui sidang internasional di Kanada, IUCN (International Union for Conservation of Nature) melaporkan bahwa penangkapan penyu di Indonesia mencapai 30.000 ekor per tahun dan Pemerintah Indonesia merespon dengan diberlakukannya undang-undang pelarangan pemanfaatan penyu secara nasional melalui UU nomor 5 tahun 1990. Namun, sosialisasi dan penerapan peraturan ini belum maksimal sehingga masih banyak warga yang hidup di pulau-pulau terluar Indonesia memburu satwa yang dilindungi ini.

(G34)

]]>
https://www.greeners.co/berita/penyu-hijau-di-tanimbar-terancam-punah/feed/ 0