sekolah berbudaya lingkungan - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/sekolah-berbudaya-lingkungan/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Thu, 23 Mar 2023 05:57:10 +0000 id hourly 1 Sensasi Sekolah Tanpa Sampah, Pendingin Ruangan dan Lampu https://www.greeners.co/berita/sensasi-sekolah-tanpa-sampah-pendingin-ruangan-dan-lampu/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sensasi-sekolah-tanpa-sampah-pendingin-ruangan-dan-lampu https://www.greeners.co/berita/sensasi-sekolah-tanpa-sampah-pendingin-ruangan-dan-lampu/#respond Thu, 23 Mar 2023 05:57:10 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=39438 Jakarta (Greeners) – Mengusung konsep bangunan net zero emission, sekolah ramah lingkungan SDN 08 Ragunan, Jakarta Selatan memberikan sensasi belajar tanpa lampu dan sampah bagi peserta didiknya. Konsep ramah lingkungan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Mengusung konsep bangunan net zero emission, sekolah ramah lingkungan SDN 08 Ragunan, Jakarta Selatan memberikan sensasi belajar tanpa lampu dan sampah bagi peserta didiknya. Konsep ramah lingkungan ini bertujuan mengurangi emisi karbon.

Sebagian besar aktivitas sekolah ini seminimal mungkin menghasilkan emisi rendah karena memiliki banyak ruang terbuka hijau, panel surya untuk listrik, dan pohon.

Pada awalnya, sekolah ini merupakan gabungan dari beberapa SD yakni SDN Ragunan 08 Pagi, SDN Ragunan 09 Pagi, dan SDN Ragunan 11 Petang. Sebelum menjadi bangunan net zero emission, bangunan ini awalnya adalah bangunan tua yang mengutamakan bangunan saja, bukan tempat bermain anak.

Kepala Sekolah SDN 08 Ragunan Ariyanto mengatakan, dulu bangunannya melebar ke samping berbentuk U, jadi udara ketutup tembok. Tempat bermain anak juga kurang dan tidak sesuai dengan jumlah siswanya.

“Tapi, dengan adanya penggabungan dan konsep ramah lingkungan, sekolah kami sekarang memiliki tempat bermain anak serta punya sirkulasi udara yang baik,” katanya saat Greeners temui di lokasi sekolah, baru-baru ini.

Penerapan Net Zero Emission di Sekolah

Dalam mengimplementasikan net zero emission di SDN Ragunan 08, ada beberapa komponen yang sekolah terapkan di antaranya tidak menyalakan lampu selama kegiatan pembelajaran. Sebab, ada sinar matahari yang membantu penerangan ke dalam ruangan.

Selain itu, SDN Ragunan 08 ini juga menciptakan paru-paru sekolah dengan menanam pohon dan tanaman di lingkungan sekolah. Siswa pun sekolah libatkan untuk menanam sehingga mereka pun ikut bertanggung jawab merawatnya.

“Empat siswa menjaga setiap tanaman ini dengan cara menyiram, memupuk, dan merawat sehingga ada yang bertanggung jawab, karena mereka sudah merasa memiliki,” ucapnya.

Panel surya juga menjadi salah satu komponen yang sekolah gunakan untuk sumber energi listrik. Penggunaan PLN hanya pada malam hari, karena sekolah ini menggunakan energi matahari pada siang hari.

Kepala Pembangkit Listrik Tenga Surya (PLTS) SDN 08 Ragunan Sutino mengatakan, panel surya ini adalah sumber energi terbarukan. Sumber energi ini hemat dan mengurangi emisi. Konsep dan cara ini juga mengajarkan siswa memanfaatkan sumber daya alam yang tidak akan habis salah satunya sinar matahari.

Panel surya di SDN 08 Ragunan. Foto: Greeners/Apriohansyah

Tidak Ada Tempat Sampah

Hal menarik lainnya, SDN 08 Ragunan tidak menyiapkan tempat sampah di sekolah. Tujuannya agar tidak ada sampah yang penghuni sekolah hasilkan. Pasalnya, dengan adanya tempat sampah, justru akan menimbulkan banyak sampah.

Sekolah mensosialisasikan kebijakan tersebut kepada anak-anak dan orang tua murid. Sebagi solusinya, sekolah mengimbau orang tua membawakan wadah guna ulang untuk anak-anaknya gunakan di sekolah.

Sekolah juga memiliki kantin sehat yang tidak menghasilkan sampah dengan melarang pedagang di kantin menggunakan bungkus makanan.

Ruang terbuka hijau mendominasi di sekitar bangunan sekolah ini. Foto: Greeners/Apriohansyah

Libatkan Siswa Terapkan Ramah Lingkungan

Konsep net zero emission tidak sekadar pada konstruksi bangunan dan fasilitas. Sekolah juga memiliki berbagai kegiatan yang mendukung siswa menerapkan sikap ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu kegiatannya, siswa membuat pot dari botol plastik bekas untuk menanam tanaman hidroponik. Pihak sekolah juga mendukung kegiatan ini dengan menyiapkan sarana penunjang seperti pupuk dan tanaman.

Kegiatan lainnya Selasa Bersih, siswa dilibatkan bersih-bersih sekolah. Harapannya berbagai kegiatan ini juga berdampak bagi siswa saat di luar sekolah.

“Menurut cerita dari beberapa orang tua, mereka mengatakan di rumah anaknya suka menanam, menyiram tanaman, dan ketika melihat sampah langsung dibuang,” Ungkap Ariyanto.

Ke depannya, pihak sekolah berencana untuk melakukan kegiatan pelestarian lingkungan seperti pengomposan daun, penanaman buah, dan membuat kolam ikan di sela-sela selokan sekolah.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/sensasi-sekolah-tanpa-sampah-pendingin-ruangan-dan-lampu/feed/ 0
Tak Sekadar Green Building Sekolah, Perlu Ubah Laku Juga https://www.greeners.co/berita/tak-sekadar-green-building-sekolah-perlu-ubah-laku-juga/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tak-sekadar-green-building-sekolah-perlu-ubah-laku-juga https://www.greeners.co/berita/tak-sekadar-green-building-sekolah-perlu-ubah-laku-juga/#respond Sat, 01 Oct 2022 05:40:05 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=37510 Jakarta (Greeners) – Pembangunan green building sekolah di Jakarta berdampak signifikan terhadap pengurangan emisi. Namun, keberhasilan pembangunan green building sekolah ini harus diikuti oleh perubahan perilaku penghuni sekolah secara berkelanjutan. […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pembangunan green building sekolah di Jakarta berdampak signifikan terhadap pengurangan emisi. Namun, keberhasilan pembangunan green building sekolah ini harus diikuti oleh perubahan perilaku penghuni sekolah secara berkelanjutan.

Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti Nirwono Joga menilai, penerapan green building pada bangunan publik seperti sekolah, kantor pemerintahan, rusun, pasar memiliki dampak signifikan terhadap pengurangan emisi karbon. Program ini bukanlah hal baru karena pernah Gubernur DKI Jakarta sebelumnya Fauzi Bowo inisiasi.

“Namun penerapan green building tidak akan berhasil tanpa ada perubahan perilaku penghuni sekolahnya,” katanya kepada Greeners, Sabtu (1/10).

Misalnya, kebiasaan hemat air (green water), memilah dan mengolah sampah (green waste), hemat energi (green energy). Kemudian memastikan datang ke sekolah dengan jalan kaki atau naik sepeda dan angkutan umum (green transportation). Serta pemeliharaan taman atau kebun sekolah (green open space).

Langkah tersebut, sambungnya sekaligus sebagai edukasi gaya hidup ramah lingkungan yang bisa berlaku di jenjang pendidikan TK, SD, SMP, hingga SMA. Serta melibatkan semua penghuni sekolah.

“Mulai dari guru pengajar, kepala sekolah, petugas sekolah, hingga edukasi ke seluruh orang tua siswa,” imbuhnya.

Pembangunan green building sekolah-sekolah di Jakarta tak sekadar mengurangi emisi karbon. Tapi juga ke depan mampu melahirkan generasi muda yang mampu mendorong perubahan gaya hidup hijau di masyarakat.

Pergub Atur Green Building di Jakarta

Pembangunan green building mengacu pada Peraturan Gubernur Nomor 38 Tahun 2012 Tentang Bangunan Gedung Hijau. Pemprov DKI Jakarta dapat mensyaratkan seluruh bangunan baru wajib menerapkan bangunan gedung hijau dalam memberikan perizinannya. Selain itu juga melakukan retrofit untuk bangunan lama agar sesuai standar bangunan gedung hijau.

Sebelumnya, sebagai komitmen mewujudkan kegiatan beremisi rendah, Pemprov DKI Jakarta meresmikan empat sekolah sebagai pilot project berkonsep green building.

Dalam peresmian Sekolah Net Zero Carbon, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyampaikan, bangunan sekolah merupakan bangunan paling banyak yang Pemprov DKI Jakarta miliki. Bangunan berkontribusi sebesar 39 % emisi karbon global dan mengkonsumsi 36 % dari total energi global.

“Kita sering kali kalau melihat dekarbonisasj yang dipandang adalah kendaraan bermotor saja. Tidak, sesungguhnya bangunan itu menyedot energi 36 % kontribusi kepada emisi karbon global 39 %,” kata Anies dalam keterangannya, baru-baru ini.

Adapun empat bangunan sekolah tersebut yaitu SDN Duren Sawit 14 Jakarta Timur, SDN Grogol Selatan 09 Jakarta Selatan, SDN Ragunan 08 Pagi, 09 Pagi, 11 Petang Jakarta Selatan dan SMAN 96 Jakarta, Jakarta Barat.

Sekolah berkonsep green building bisa beri pemahaman tentang perilaku ramah lingkungan ke siswa. Foto: Shutterstock

Memahami Bangunan Ramah Lingkungan

Anies meresmikan Sekolah Net Zero Carbon ini sekaligus menyerahkan Sertifikat Greenship Net Zero Healthy dari Green Building Council (GBC) Indonesia kepada empat sekolah tersebut belum lama ini.
Menurutnya, bangunan sekolah berkonsep green building ini menjadi media edukasi anak memahami bangunan ramah lingkungan.

Ke depan, rehabilitasi bangunan sekolah negeri di Jakarta secara keseluruhan mengarah ke konsep bangunan hijau. Mulai dari transisi energi dengan solar panel, penggunaan lampu hemat energi, hingga pengelolaan air limbah.

“Kita berharap, pembangunan Sekolah Net Zero Carbon ini juga dapat mendorong Jakarta mencapai target net zero emission atau nol emisi karbon pada tahun 2050. Kita sedang berupaya menjadikan kota ini sebagai kota yang berkelanjutan di masa depan,” tandasnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/tak-sekadar-green-building-sekolah-perlu-ubah-laku-juga/feed/ 0
Bike To School “Pupuk” Karakter Cinta Lingkungan Pelajar Kota Bandung https://www.greeners.co/aksi/bike-to-school-pupuk-karakter-cinta-lingkungan-pelajar-kota-bandung/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bike-to-school-pupuk-karakter-cinta-lingkungan-pelajar-kota-bandung https://www.greeners.co/aksi/bike-to-school-pupuk-karakter-cinta-lingkungan-pelajar-kota-bandung/#respond Thu, 04 Aug 2022 04:32:15 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=36926 Jakarta (Greeners) – Bersepeda ke sekolah (bike to school) di kalangan pelajar tak sekadar menyehatkan. Akan tetapi juga mampu menumbuhkan nilai-nilai karakter seperti kesabaran, manajemen waktu, disiplin, solidaritas dan cinta […]]]>

Jakarta (Greeners) – Bersepeda ke sekolah (bike to school) di kalangan pelajar tak sekadar menyehatkan. Akan tetapi juga mampu menumbuhkan nilai-nilai karakter seperti kesabaran, manajemen waktu, disiplin, solidaritas dan cinta lingkungan. Atas dasar ini, komunitas Bike To Work (B2W) Bandung mulai membumikan sosialisasi gerakan bersepeda di SMP Negeri 55 Kota Bandung, Rabu (3/7).

Guru asal Bandung Rahmat Suprihat mengatakan, gerakan bersepeda ke sekolah (bike to school) ini merupakan alternatif paling ideal. Apalagi seiring regulasi sistem zonasi penerimaan peserta didik baru (PPDB) yang memprioritaskan kedekatan jarak rumah siswa ke sekolah.

Selain menyehatkan, ia menyebut gerakan bersepeda efektif untuk menanamkan nilai karakter seperti kesabaran, manajeman waktu, disiplin, solidaritas serta cinta lingkungan.

“Artinya bila tak bersepeda, anak-anak tidak akan menerima nilai-nilai kebaikan itu,” kata penggiat bike to school ini kepada Greeners, Rabu (3/8).

Menurutnya, bike to school juga memicu antusiasme pelajar untuk menggunakan sepeda ke sekolah.

Bersepeda ke sekolah tumbuhkan kecintaan pelajar pada lingkungan. Foto: Rahmat Suprihat

Pelajar Antusias Ikuti Gerakan Bike to School

Ketua Bike To Work Bandung Wildan Fachdiansyah mengungkapkan, antusiasme pelajar sekolah terhadap program ini cukup baik. Bahkan, tambahnya pelajar yang belum punya sepeda atau selama ini hanya menyimpan sepedanya kemudian tertarik bersepeda lagi.

“Bahkan ada anak berboncengan dengan temannya ke sekolah, padahal sepedanya kurang layak dipakai. Ini menjadi indikator bahwa anak-anak sudah mulai antusias memulai bersepeda lagi,” ungkap Wildan.

Tak hanya itu, gerakan bike to school ini juga menekankan pentingnya basic safety riding yang mencakup, baik sebelum, saat dan setelah bersepeda. “Ini perlu agar mereka lebih memperhatikan keamanan, kenyamanan dan ketertiban selama bersepeda,” imbuhnya.

Selain itu, Wildan juga menyebut pentingnya fasilitas pendukung yang harus tersedia, seperti penyediaan tempat parkir yang layak dan aman. Hal ini penting untuk memastikan pelajar tak kehilangan motivasinya selama bersepeda ke sekolah.

Terakhir, ia berharap agar program ini tak sekadar menjadi rutinitas bersepeda ke sekolah. Akan tetapi mampu mengubah mindset pelajar yang sedianya mengandalkan kendaraan bermotor beralih ke sepeda.

Dampak dari bersepeda pun harapannya dapat lingkungan sekitar rasakan. Misalnya, berkurangnya kemacetan di lingkungan sekolah, meningkatkan kualitas udara dan membuat lingkungan sekolah semakin asri dan hijau.

“Jadi kami berharap agar gaya hidup yang ramah lingkungan ini dapat pelajar mulai dari bersepeda ke sekolah,” ucapnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/aksi/bike-to-school-pupuk-karakter-cinta-lingkungan-pelajar-kota-bandung/feed/ 0
421 Sekolah di Indonesia Raih Adiwiyata Tahun 2021 https://www.greeners.co/aksi/421-sekolah-di-indonesia-raih-adiwiyata-tahun-2021/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=421-sekolah-di-indonesia-raih-adiwiyata-tahun-2021 https://www.greeners.co/aksi/421-sekolah-di-indonesia-raih-adiwiyata-tahun-2021/#respond Tue, 28 Dec 2021 04:43:27 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=34823 Jakarta (Greeners) – Penghargaan Adiwiyata bagi sekolah yang giat dan peduli lingkungan kembali digelar. Di tahun ini, sebanyak 344 sekolah mendapatkan penghargaan Adiwiyata Nasional. Sedangkan 77 sekolah lainnya meraih penghargaan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Penghargaan Adiwiyata bagi sekolah yang giat dan peduli lingkungan kembali digelar. Di tahun ini, sebanyak 344 sekolah mendapatkan penghargaan Adiwiyata Nasional. Sedangkan 77 sekolah lainnya meraih penghargaan sekolah Adiwiyata Mandiri. Adiwiyata menjadi program yang membangun kesadaran lingkungan pada generasi muda sejak dini.

Tahun 2021 ini terdapat 932 sekolah dari 150 kabupaten, 34 kota dan 24 provinsi yang Dinas Lingkungan Hidup usulkan untuk mendapatkan penghargaan Adiwiyata Nasional dan Adiwiyata Mandiri.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya menyerahkan penghargaan Adiwiyata Nasional dan Mandiri. Penghargaan ini diberikan kepada sekolah yang secara konsisten menerapkan Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (PBLHS).

“Dari berbagai aktivitas yang mereka lakukan, kita bisa melihat optimisme bangsa Indonesia dari generasi muda melalui kepeduliannya terhadap kelestarian lingkungan,” kata Menteri Siti dalam keterangannya, di Jakarta baru-baru ini.

Dalam kaitan pendidikan kesadaran lingkungan sejak dini, sekolah-sekolah formal harapannya dapat menjadi magnet pengembangan gerakan peduli dan berbudaya lingkungan hidup di sekolah.

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) hingga saat ini ada 4.726 sekolah dari 34 provinsi yang telah meraih penghargaan Adiwiyata Nasional dan Adiwiyata Mandiri.

Sesuaikan Adiwiyata dengan Dinamika Terkini Masyarakat

Sebagai bagian dari penyiapan sumber daya manusia (SDM) untuk lingkungan dan kehutanan, Menteri Siti menginstruksikan agar PBLHS dan penghargaan Adiwiyata dapat disesuaikan dengan perkembangan dan dinamika di sekitar masyarakat.

Pertama, sesuai arahan Presiden Joko Widodo, pola pendidikan ke depan di antaranya melalui konsep Pendidikan Merdeka Belajar. Kedua, digitalisasi menjadi bagian penting dalam membangun efisiensi dan efektifitas pembangunan, serta kemudahan jangkauan terutama di daerah-daerah. Ketiga, atensi dan aspirasi publik yang makin luas tentang aspek lingkungan.

“Saya meminta jajaran di KLHK dan Kemendikbud, serta Dewan Pertimbangan dan Tim Pembina Gerakan PBLHS, kita diskusikan lagi apa yang harus segera kita sesuaikan. Supaya di lapangannya yang sudah berjalan baik ini menjadi lebih menarik lagi bagi remaja dan generasi muda,” ungkap Siti.

Selain itu, tujuannya harus berdampak bagi lingkungan, termasuk mengantisipasi perubahan iklim. Lebih jauh lagi, demi berkontribusi dan membawa reputasi Indonesia di mata dunia.

Pendidikan Lingkungan Penting Bagi Generasi Muda

Menurutnya, pendidikan lingkungan hidup bagi generasi muda sangatlah penting. Sebab pendidikan lingkungan dapat mengubah pandangan dan perilaku seseorang terhadap lingkungannya. Oleh karenanya, pendidikan kepada generasi muda penting dan patut mendapatkan apresiasi dan dukungan.

Di antara inisiatif membangun kesadaran lingkungan khususnya di kalangan generasi muda, datang dari Institut Hijau Indonesia, dalam mitra bersama WALHI, KTNI dan Huma, dalam program Green Leader Indonesia. Kementerian LHK dan para mitra kerja akan terus mengembangkan langkah lanjutan untuk memperkuat program ini.

Sekretaris Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM (BP2SDM) KLHK Ade Palguna, mewakili Plt. Kepala BP2SDM mengungkapkan, program ini telah berhasil mendorong adanya peningkatan upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup di sekolah.

Dalam kurun waktu tahun 2006 – 2021, Sekolah Adiwiyata telah memberi kontribusi berupa pengurangan timbulan sampah melalui pengelolaan sampah dengan reduce, reuse dan recycle (3R) sejumlah 42.534 ton per tahun. Kemudian penanaman dan pemeliharaan 354.450 pohon/tanaman, 70.890 lubang biopori, 14.178 sumur resapan dan penghematan listrik dan air rata-rata 10-40 % per sekolah.

Penulis : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/aksi/421-sekolah-di-indonesia-raih-adiwiyata-tahun-2021/feed/ 0
Sekolah Tahan Gempa dari Peti Kemas Bekas https://www.greeners.co/ide-inovasi/sekolah-tahan-gempa-peti-kemas-bekas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sekolah-tahan-gempa-peti-kemas-bekas https://www.greeners.co/ide-inovasi/sekolah-tahan-gempa-peti-kemas-bekas/#respond Sun, 10 Jul 2016 15:04:59 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=14196 Saat ini penggunaan peti kemas bekas menjadi tren yang semakin berkembang di bidang arsitektur dan konstruksi dengan berbagai alasan. Salah satunya menjadi bangunan bagi Taman Kanak-Kanak di Jepang.]]>

Saat ini penggunaan peti kemas bekas menjadi tren yang semakin berkembang di bidang arsitektur dan konstruksi dengan berbagai alasan. Kotak logam yang menjadi bahan pembentuk peti kemas sangatlah kuat. Ketahanan materialnya juga dapat memangkas ongkos konstruksi dan mempersingkat waktu pembangunan. Selain itu, peti kemas ini bisa diubah menjadi bangunan yang sama sekali berbeda, tak terlihat seperti peti kemas.

Alasan-alasan ini menjadi latar belakang penggunaan peti kemas sebagai “bangunan” untuk sekolah taman kanak-kanak di Jepang.

Foto: inhabitat.com

Foto: inhabitat.com

Bangunan Taman Kanak-Kanak OA di Prefektur Saitama sudah terlalu tua. Umur bangunan TK tersebut mencapai 50 tahun. Para arsitek yang menangani bangunan tersebut memutuskan bahwa bangunan lama tidak akan bertahan bila terjadi gempa besar. Karena berkaitan dengan keselamatan anak-anak yang bersekolah di tempat itu, dibutuhkan sebuah struktur bangunan baru yang tahan gempa.

Arsitek dibalik peti kemas yang menjadi bangunan sekolah tersebut adalah Hibino Sekkei dan Youji no Shiro. Mereka menumpuk peti kemas bekas dalam posisi yang sama dengan struktur bangunan lama.

Mereka berdua telah memiliki catatan kerjasama dalam merancang ruang-ruang terbuka yang dipenuhi cahaya untuk fasilitas anak-anak di Jepang. Karya mereka di Taman Kanak-Kanak OA adalah salah satu karya terkini mereka. Dalam karya ini, ruang-ruang yang dirancang memberi kenyamanan yang diperlukan untuk proses pendidikan dan juga proses bermain anak-anak.

Foto: inhabitat.com

Foto: inhabitat.com

Sebagai tambahan terhadap kekuatan strukturnya, bagian dalam peti kemas didesain untuk hemat energi dan mengurangi jejak karbon. Dengan bangunan ini, para arsiteknya berharap anak-anak yang belajar di tempat ini bisa terhubung kepada alam dengan belajar pentingnya mengurangi emisi karbon dioksida.

Bangunan TK ini dirancang dengan tidak mengganggu pohon-pohon yang sudah ada di lokasi tersebut. Uniknya lagi, para arsitek menyertakan keberadaan pepohonan itu ke dalam desain mereka sehingga menjadi titik perhatian bagi anak-anak. Diharapkan cara ini bisa mendorong anak-anak agar semangat melindungi lingkungan hingga mereka dewasa nanti.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/sekolah-tahan-gempa-peti-kemas-bekas/feed/ 0
Pemprov Jabar Berikan Penghargaan Raksa Prasada https://www.greeners.co/berita/pemprov-jabar-berikan-penghargaan-raksa-prasada/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pemprov-jabar-berikan-penghargaan-raksa-prasada https://www.greeners.co/berita/pemprov-jabar-berikan-penghargaan-raksa-prasada/#respond Sun, 14 Jun 2015 06:01:30 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=9662 Pemerintah Provinsi Jawa Barat memberikan penghargaan Raksa Prasada kepada 167 sekolah kategori sekolah berbudaya lingkungan.]]>

Bandung (Greeners) – Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup 2015, Pemerintah Provinsi Jawa Barat memberikan penghargaan Raksa Prasada, yaitu penghargaan di bidang lingkungan hidup kepada 167 sekolah kategori sekolah berbudaya lingkungan. Selain itu, lima pemerintah Kabupaten/Kota juga menerima penghargaan yang sama dengan kategori penyusun status lingkungan hidup daerah.

Kegiatan yang diadakan di pelataran Gedung Sate dan dihadiri oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar ini bertujuan untuk menegaskan kembali komitmen dan aksi pengelolaan dan perlindungan lingkungan hidup.

Dalam sambutannya, Siti mengapresiasi pemerintah Provinsi Jawa Barat yang menegaskan kembali komitmennya untuk mengelola dan melindungi lingkungan hidup. Hal ini bisa dilihat dari penanganan Daerah Aliran Sungai (DAS) setelah ditetapkannya rencana aksi perbaikan DAS Citarum sepanjang 20 kilometer sebagai solusi mengurangi beban pencemaran air di DAS Citarum.

“Dalam pengendalian pencemaran udara, Pemprov Jawa Barat juga telah memasang alat pemantau kualitas udara atau Continuous Air Quality Monitoring System (CAQM) di beberapa kota. Ini bagus karena dapat dengan mudah dan cepat melakukan pengendalian pencemaran udara sesuai dengan kondisi setempat,” ujarnya di Gedung Sate Bandung, Sabtu (13/06/2015).

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar mengapresiasi pemerintah Provinsi Jawa Barat yang menegaskan kembali komitmennya untuk mengelola dan melindungi lingkungan hidup melalui pemberian penghargaan Raksa Prasada. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar mengapresiasi pemerintah Provinsi Jawa Barat yang menegaskan kembali komitmennya untuk mengelola dan melindungi lingkungan hidup melalui pemberian penghargaan Raksa Prasada. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Wakil Gubernur Jawa Barat, Dedy Mizwar juga menyatakan bahwa saat ini Jawa Barat juga tengah mengejar program pengelolaan lingkungan yang salah satunya adalah green province atau provinsi hijau. Targetnya adalah mengembalikan jumlah tutupan hutan minimal 45 persen.

“Oleh karena itu, sangat dibutuhkan peran masyarakat dalam memenuhi target ini karena ini adalah upaya yang sangat besar yang harus dipenuhi untuk keberlangsungan hidup kita juga,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala BPLHD Jawa Barat, Anang Sudarna juga menyampaikan laporan bahwa kondisi lingkungan hidup di Jawa Barat sebenarnya masih sangat memprihatinkan. Hal tersebut disebabkan oleh perubahan tataguna lahan dan pencemaran lingkungan.

“Banyak yang masih harus dilakukan dan ini tidak bisa kalau hanya bergerak sendiri. Dibutuhkan kerjasama dari semua pihak dan elemen masyarakat,” ujar Anang.

Anang juga berharap Pemerintah Pusat dan Daerah, Lembaga Swadaya Masyarakat dan komunitas masyarakat dapat meningkatkan edukasi yang berfokus pada efektifitas dan efisiensi dalam pemanfaatan sumberdaya alam, pola hidup hemat sumberdaya seperti kegiatan pengurangan timbunan sampah, pemanfaatan sampah yang bernilai ekonomi dan menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat.

“Serta ya tentu saja pola pengembangan kebijakan alokasi dan eksplorasi serta pemanfaatan sumberdaya lahan, hutan, dan tambang yang tepat dan dalam keseimbangan prinsip-prinsip ekosistem sangat diperlukan,” tukasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/pemprov-jabar-berikan-penghargaan-raksa-prasada/feed/ 0